You are on page 1of 36

TK 2102

Komputasi Proses
KETAK-TERHUBUNGAN LINIER VEKTOR-
VEKTOR, MARTABAT DAN NORMA
Dr.Ir. Johnner Sitompul
Dr. Ir. IGBN. Makertiharta
Definisi
Sehimpunan vektor v
1
, v
2
, ,v
n
yang masing-masing
berdimensi m disebut terhubungkan secara linier (TSL
:liniearly dependent) jika dapat ditemukan sehimpunan
skalar (=bilangan o
1
, o
2
,., o
n
yang tidak semuanya
nol, sehingga :
1 1 2 2
...
n n
v v v o o o + + + = 0
Definisi
Jika himpunan skalar yang dimaksud tidak dapat ditemukan,
maka vektor-vektor tersebut tak terhubungkan secara linier
(TTSL :liniearly independent)


Contoh
1 2
1 1 2 2
1 0
2 0
3 0
v v
v v o o
( (
( (
= =
( (
( (

+ = 0
TSL
Contoh Himpunan Vektor TSL
1 2 3 1 2 3
1 1 2
1 , 2 , 3 1
1 1 0
v v v o o o
( ( (
( ( (
( ( (
( ( (

= = = = = =

1 2 3 1 2 3
1 2 1
2 , 1 , 4 3 , 2 , 1
1 1 1
v v v o o o
( ( (
( ( (
( ( (
( ( (


= = = = = =

Keterhubungan Linier Vektor-vektor


Jika sehimpun dari n buah vektor
berdimensi m bersifat TSL, maka
sembarang satu vektor dari himpunan
tersebut dapat diungkapkan sebagai
kombinasi linier dari (n-1) buah vektor
lainnya.
Beberapa Dalil ttg Keterhubungan
Linier Himpunan Vektor
Keterhubungan linier (atau ketak-hubungan linier)
kolom-kolom sebuah matriks tidak berubah jika baris-
barisnya dipertukarkan.
Untuk tiap bilangan bulat positif r, (n + r) buah
vektor berdimensi n selalu bersifat TSL.
Jika A adalah matriks bujur sangkar yang wajar maka
baris-baris (kolom-kolom) dari A bersifat TTSL.
Matiks TTSL tidak akan menghasilkan elemen
diagonal 0
Ortogonalitas
Sehimpunan dari n buah vektor berdimensi m (v
1
, v
2
,
. , v
n
) disebut himpunan ortogonal/tegak-lurus jika:
( )

= =
=
= =
j i
n j i
j i
j
V
T
i
V
0
...., , 2 , 1 ,
0
Contoh
1
2
3
3
1
1
v
v
(
=
(

(
=
(

1 2
1 1
2 1
2 2
0
18
0
2
T
T
T
T
v v
v v
v v
v v
=
=
=
=
Catatan ttg Ortogonalitas
Sehimpunan vektor-vektor yang
Ortogonal pasti TTSL
TTSL belum tentu ortogonal
| |
| |
1
2
1 2
3 1 2
2 0 2, 99
6 0 5, 98 0, 02
T
T
T
v
v
v v
=
=
= + + =
Dalam praktik komputasi:
5
10 ;
T
i j
v v i j

s =
Uji Keterhubungan-linier Himpunan
Vektor
Salah satu jalan untuk menguji keterhubungan linier
sehimpunan vektor :
Tegakkan/kontruksi sehimpunan vektor yang ortogonal
dari vektor-vektor yang diuji tersebut.
Jika dari salah satu vektor yang ditegakkan praktis
nol ( 0 ) maka himpunan yang diuji TSL.
Ortogonalisasi Gram-Schmidt
Menegakkan sehimpunan vektor-vektor
ortogonal y
1
,y
2
,...,y
n
dari suatu himpunan
vektor-vektor x
1
,x
2
,,x
n
.
Proses Ortogonalisasi Gram-Schmidt
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
1
1 1
1
1
1 1
1
2
2 2
3 2
1
1 1
3 1
3 3
1
1 1
2 1
2 2
1 1
.
. 3
. 2
. 1

(
(


(
(

=
(
(

(
(

=
(
(

=
=
i
i
T
i
i
T
i
T
i
T
i i
T
T
T
T
T
T
y
y y
x y
y
y y
x y
x y i
y
y y
x y
y
y y
x y
x y
y
y y
x y
x y
x y

Catatan ttg Ortogonalisasi
jika suatu vektor y
j
memiliki (y
j
)
T
y
j
= 0 (atau
mendekati nol), maka pada penentuan y
j
sampai
y
n
, suku yang mengandung vektor y
j
ini
diabaikan.
Vektor-vektor y
1
, y
2
, , y
n
saling tegak lurus
satu sama lain dan y
1
juga tegak lurus pada x
1
, x
2
,
, x
n
.

Sistem Persamaan Linier
Konsep TTSL
Gram Schmidt
Eliminasi Gauss-Yordan
Quiz 1
Latihan/Quiz 1
Tegakkan vektor-vektor berikut dan periksa ke TTSL-
annya dengan metoda Gram-Schmidt:
1 2 3 4
1 1 1 0
1 1 3 3
2 0 4 1
v v v v

( ( ( (
( ( ( (
= = = =
( ( ( (
( ( ( (

Norma-norma Vektor dan Matriks
x Vektor kolom / baris berdimensi n
A Matriks bujur sangkar berdimensi n x n

Norma ke-1
(first norm,L
1
-norm)

kolom) (norma
1
1
2 1
1
1

=
=
=
+ + + = =
n
i
ij
j
n
n
i
i
a maks A
x x x x x
Norma ke-2
(second norm,L
2
-norm,Euclid norm)

( )
1
2
2
2
1

Panjang Vektor
n
i
i
x x
=
(
=
(
(

frobenius norma digunakan gantinya sebagai


komputasi dalam digunakan jarang sehingga
sederhana yang matematis ungkapan mempunyai tidak namun
A dan A pada dari baik lebih yang teoretik sifat memiliki
Spektral Norma
1
2

A
Norma Frobenius




Norma
(Infinity norm, uniform norm)

( )
2
1
1 1
2
(
(

=

= =
n
i
n
j
i j
F
a A
- ke
baris norma
1

=
=

n
j
i j
i
i
i
a maks A
x maks x
Contoh:
1.




2.
| |
( )
7 7
25 49 4
14 5 7 2
5 7 2
2
1
2
1
= =
+ + =
= + + =
=

x
x
x
x
T
( ) ( )
2
1
2
1
195 1 4 25 36 9 36 16 64 4
11 1 6 4
15 8 2 3 8
13 13 5 6 2

8 1 2 5
15 6 3 6
14 4 8 2
1 2 5
6 3 6
4 8 2
1
= + + + + + + + + =
= + +
= = + +
= = + +
= + +
= + +
= + +
(
(
(

F
A
A
A
A
Sifat-sifat Norma :
2 2
. 4
. 3
. 2
0 x 0 x
jika kecuali 0 . 1
y x y x
y x y x
x x
x
T
p p p
p p
p
p
s
+ s +
=
= =
)
o o
p p p
p p p
p p
p
p
B A AB
B A B A
A A
A
s
+ s +
=
= =
)
. 4
. 3
. 2
0 A 0 A
jika kecuali 0 . 1
o o
p p p
x A Ax + s . 5
Jika kita menggunakan beberapa norma, kita melabelkannya dengan
sebuah subscript (biasanya p-norm), dimana p adalah bilangan tetap .
Dalam praktek, p = 1 atau 2, dan norma ke-3 ,,x,,
Martabat Matriks
(ranks, r)
Martabat dari suatu matriks adalah banyak maksimum
kolom-kolom TTSL dari matriks tersebut.
Dalil:
Banyak maksimum kolom TTSL = banyak maksimum
baris TTSL (Ingat reaksi menhasilkan elemen/ atom)



Contoh:




Martabat tertinggi yang bisa dimiliki oleh sebuah matriks
berdimensi (mxn) adalah min(m,n)
Matriks bujur sangkar yang martabatnya (r) lebih kecil dari
dimensinya (n) adalah matriks tak wajar
2 r(A)
1 2 1
1 0 0
1 0 0
1 2 1
=
(
(
(
(

= A
Studi Kasus
Keterhubungan Linier Reaksi-Reaksi Kimia
Langkah pertama dalam menyelesaikan
masalah perhitungan komposisi
kesetimbangan campuran reaksi
kompleks:
1. Mengetahui zat-zat yang terdapat dalam campuran
reaksi

2. Menentukan dan mengenali reaksi-reaksi TTSL untuk
keperluan perhitungan komposisi kesetimbangan
Kasus:
Menganalisa reaksi pada saat
kesetimbangan dalam proses reformasi
kukus
Langkah 1
Campuran hasil reaksi reformasi metana-
kukus dengan nisbah awal H
2
O/CH
4
yang
tinggi diketahui terdiri atas:
H
2

CO
CO
2

CH
4
dan
H
2
O.
Langkah 2
Identifikasi reaksi-reaksi yang mungkin terjadi:
CH
4
+ H
2
O CO + 3H
2
CO + H
2
O CO
2
+ H
2
CH
4
+ CO
2
2CO + 2H
2
CH
4
+ 2H
2
O CO
2
+ 4H
2
CH
4
+ 3CO
2
4CO + 2H
2
????

Atau susun dalam bentuk yang lebih mudah untuk digarap
secara aljabar:
4 2 2
2 2 2
4 2 2
4 2 2 2
4 2 2
3 0
0
2 2 0
2 4 0
3 4 2 0
CH H O CO H
CO H O CO H
CH CO CO H
CH H O CO H
CH CO CO H
+ + =
+ + =
+ + =
+ + =
+ + =
Langkah 3
Memeriksa Reaksi
2
TTSL
(1) Susun Matriks Atom A
4 2 2 2
1 0 1 0 1
4 2 0 2 0
0 1 1 0 2
CH H O CO H CO
C
H
O
a
ij
banyaknya atom unsur ke i dalam senyawa ke j
(2) Tentukan martabat r(A) dari matriks A
Dengan pemeriksaan langsung ataupun
dengan proses Gram-Schmidt

R(A) = 3
(3) Banyak maksimum reaksi TTSL (n
r
) adalah
banyaknya zat dikurangi martabat matriks atom
n
r
= Z r(A)

n
r
= 5 3 = 2, artinya ada dua reaksi yang independent
(4) Susun matriks vektor koefisien stoikiometri reaksi S
4
2
2
2
Reaksi ke: 1 2 3 4 5
CH -1 0 -1 -1 -1
H O -1 -1 0 -2 2
CO 1 1 2 0 4
H 3 1 2 4 0
CO 0 1 1 1 3


s
ij
adalah koefisien reaksi zat ke i dalam reaksi ke j
(5) Tentukan kolom-kolom (reaksi) TTSL dalam matriks S
Dengan proses Eliminasi Gauss-Jordan atau
ortogonalisasi Gram-Schmidt:

CH
4
+ H
2
O CO + 3H
2
CH
4
+ H
2
O CO
2
+ 4H
2

Untuk pengujian (validasi) Lakukan pengujian dengan

a
ij
s
j
= 0? Untuk setiap reaksi, untuk praktis,
(6) Uji TTSL dalam matriks S

a
ij
s
j
= 0 dengan j= 1,2..S Gunakan Matlab/Excel agar cepat
Untuk setiap reaksi, reaksi 5 tak bisa nol. Dalam kuliah Neraca
Massa akan diberikan lebih detail (2 persamaan independent),
vektor [-1 -1 1 3 0]
T
dan [-1 -2 0 4 1]
T

4 2 2 2
1 0 1 0 1
4 2 0 2 0
0 1 1 0 2
CH H O CO H CO
C
H
O
4
2
2
2
Reaksi ke: 1 2 3 4 5
CH -1 0 -1 -1 -1
H O -1 -1 0 -2 2
CO 1 1 2 0 4
H 3 1 2 4 0
CO 0 1 1 1 3


CH4 + H2O CO + 3H2
CH4 + 2H2O CO2 + 4H2