You are on page 1of 160

ISBN No.

978-979-96964-3-9


Prosiding

Seminar Nasional Teknoin 2012


“Pengembangan Teknologi Manufaktur untuk Menunjang
Penguatan Daya Saing Bangsa”




Yogyakarta, 10 November 2012







Bidang Teknik Elektro








diselenggarakan oleh:


Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
i
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN: 979-978-96964-9-8


Diterbitkan oleh:

Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia
J l. Kaliurang Km 14,5 Yogyakarta 55584
T. 0274-895287, 0274-895007 Ext 110/200
F. 0274-895007
E. seminarteknoin@yahoo.com, teknoin@uii.ac.id
W. seminarteknoin.fit.uii.ac.id


Hak Cipta ©2012 ada pada penulis
Artikel pada prosiding ini dapat digunakan, dimodifikasi, dan disebarkan secara bebas untuk tujuan
bukan komersil (non profit), dengan syarat tidak menghapus atau mengubah atribut penulis. Tidak
diperbolehkan melakukan penulisan ulang kecuali mendapatkan izin terlebih dahulu dari penulis.



























Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
ii
Organisasi Penyelenggara


Penanggung Jawab : Ir. Gumbolo Hadi Susanto, M.Sc. Dekan

Pengarah : Wahyudi Budi Pramono, ST., M.Eng Wakil Dekan
Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., MT. Direktur Pascasarjana MTI
Dra. Kamariah, MS. Ketua Jurusan Teknik Kimia
Drs. Mohammad mastur, MSIE Ketua Jurusan Teknik Industri
Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom Ketua Jurusan Teknik Informatika
Tito Yuwono, ST., M.Sc Ketua Jurusan Teknik Elektro
Agung Nugroho Adi, ST., MT. Ketua Jurusan Teknik Mesin

Ketua Pelaksana : Risdiyono, ST., M.Eng., D.Eng.
Bendahara : 1. Yustiasih Purwaningrum, ST., MT.
2. Erawati Lestari, A.Md.

Reviewer : 1. Prof. Dr. Ir. Mauridhi Hery Purnomo, M.Eng.
2. Dr. Ir. Rila Mandala, M.Eng.
3. Ir. Muhammad Waziz Wildan, M.Sc., Ph.D.
4. Risdiyono, ST., M.Eng., D.Eng.
5. Dr. Ir. Paryana Puspaputra, M.Eng.
6. Ir. Erlangga Fausa, M.Cis
7. Ridwan Andi Purnomo, ST., M.Sc., Ph.D.
8. Asmanto Subagyo, M.Sc.
9. Izzati Muhaimmah, ST., M.Sc. Ph.D.
10. Hendra Setiawan, ST., MT. D.Eng.
11. Muhammad Ridlwan, ST., MT.

Makalah & Prosiding:
Koordinator Purtojo, ST., M.Sc.
1. Khamdan Cahyari, ST., M.Sc.
2. Firdaus, ST., MT.
3. Hanson Prihantoro, ST., MT.
4. Jerri Irgo, SE., MM.
5. Heri Suryantoro, A.Md.
6. Bagus Prabawa Aji, ST.
7. Adi Swandono, A.Md.
Sekretariat:
Koordinator M. Faizun, ST., M.Sc.
1. Indah Kurniasari, SP
2. Muhammad Susilo Atmodjo
3. Pangesti Rahman, SE.

Sie. Acara dan Publikasi:
Koordinator Arif Hidayat, ST., MT.
1. Dyah Retno Sawitri, ST.
2. Agus Sumarjana, ST.
3. Suwati, S.Sos.




Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
iii


Kata Pengantar


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji dan syukur hanyalah milik Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
Seminar Nasional Teknoin 2012 dapat terselenggara.

Seminar Nasional Teknoin merupakan seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Industri
Universitas IslamIndonesia Yogyakarta bekerja sama dengan Jurnal Teknologi Industri (TEKNOIN). Sejak pertama
kali diselenggarakan pada tahun 2004, seminar ini telah menjadi sarana terjalinnya kerjasama, transfer pengalaman
dan pengetahuan di antara berbagai pihak dari kalangan akademisi, peneliti, pelaku industri dan elemen masyarakat
lainnya baik dari unsur pemerintah maupun swasta. Sejalan dengan visi Universitas Islam Indonesia yang
berkomitmen pada kesempurnaan (keunggulan) serta risalah Islamiyah di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian
masyarakat dan dakwah, seminar ini diharapkan mampu memberikan manfaat dan kontribusi nyata bagi kemajuan
bangsa.

Di usianya yang ke 9, Seminar Nasional Teknoin 2012 kali ini mengambil tema : “Pengembangan Teknologi
Manufaktur untuk Menunjang Penguatan Daya Saing Bangsa”. Tema ini dipilih berdasarkan pertimbangan
bahwa peningkatan daya saing bangsa merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan dalammenghadapi era
globalisasi. Usaha ini akan berhasil jika seluruh elemen masyarakat memberikan kontribusi yang optimal sesuai
bidangnya masing-masing. Di sektor industri, parameter-parameter yang sering dipakai dalam mengukur daya saing
bangsa biasanya lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) daripada kualitas sumber daya alam
(SDA) sebuah negara. Kerjasama multidisiplin yang melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta
mutlak diperlukan. Untuk itu, Seminar Nasional Teknoin dikemas menjadi forumdiseminasi berbagai disiplin ilmu
diantaranya bidang ilmu Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Informatika, Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

Dalamseminar ini, alhamdulillah terdapat 143 buah makalah (dari 260 abstrak yang diterima) dan yang telah
direview oleh timserta layak untuk masuk ke dalamProsiding Seminar Nasional Teknoin 2012 (ISBN No. 978-979-
96964-3-9) dan dipresentasikan. Adapun tiap bidang ilmu terdiri atas : 21 makalah bidang Teknik Kimia dan
Tekstil, 35 makalah bidang Teknik Industri, 29 makalah bidang Teknik Informatika, 20 makalah bidang Teknik
Elektro, serta 38 makalah bidang Teknik Mesin.

Pada kesempatan ini, kami selaku ketua pelaksana menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada Pimpinan Fakultas Teknologi Industri UII, segenap Pimpinan Jurusan dan Pimpinan Program
Pascasarjana di lingkungan FTI UII, tim reviewer, dan seluruh panitia pelaksana yang telah berusaha maksimal dan
bekerjasama dengan baik hingga terlaksananya acara ini.

Ucapan terima kasih kami sampaikan juga kepada Assoc. Prof. Dr. Pisut Komsaap yang telah berkenan menjadi
keynote speaker dalam seminar ini. Kepada seluruh peserta dan pemakalah serta semua pihak yang telah
berpartisipasi, kami sampaikan terima kasih dan permohonan maaf atas kekurangsempurnaan kami.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh


Yogyakarta, 10 November 2012
Ketua Panitia,



Risdiyono, ST, M.Eng, D.Eng
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
iv

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
v
Sambutan
Dekan Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Rendahnya daya saing bangsa Indonesia akibat belumkondusifnya kinerja perekonomian nasional merupakan salah
satu persoalan yang perlu dicermati bersama. Di sektor industri, berbagai hal yang berkaitan dengan sistem
produksi, pemanfaatan tenaga kerja, akses ke sumber daya keuangan, manajerial, infrastruktur, teknologi,
standarisasi, perlindungan konsumen dan analisa pasar merupakan contoh faktor yang mempengaruhi daya saing
suatu bangsa.

Tidak bisa dipungkiri bahwa peningkatan daya saing merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan dalam
menghadapi era globalisasi. Usaha ini akan berhasil jika seluruh elemen masyarakat memberikan kontribusi yang
optimal sesuai bidangnya masing-masing. Daya saing bangsa biasanya lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya
manusia (SDM) daripada kualitas sumber daya alam (SDA) sebuah negara. Kerjasama multidisiplin yang
melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta mutlak diperlukan.

Berkenaan dengan hal itu, Fakultas Teknologi Industri Universitas IslamIndonesia Yogyakarta menyelenggarakan
Seminar Nasional Teknoin yang pada kesempatan ini telah menginjak usia yang ke 9. Di seminar ini kami
mengundang para akademisi, peneliti, pelaku industri dan seluruh elemen masyarakat untuk berperan serta baik
sebagai pemakalah maupun peserta. Beragam konsep, hasil pemikiran, dan hasil riset tentang teknologi akan
disajikan dan dibahas pada Seminar Nasional ini.

Sebagai sebuah forumilmiah, seminar ini diharapkan menjadi media diseminasi informasi hasil penelitian dan
perkembangan mutakhir antar pihak dengan berbagai latar belakang, mulai dari kalangan perguruan tinggi, lembaga
penelitian, pemerintah/pengambil kebijakan, dan pihak industri. Diskusi antarpihak dengan berbagai perspektif ini
diharapkan dapat memperluas social networking dan menghadirkan visualisasi yang lebih lengkap atas berbagai
perkembangan penelitian di bidang teknologi industri, dan pada gilirannya diharapkan dapat memberikan kontribusi
bagi perkembangan teknologi dan pemanfaatannya di Indonesia.

Atas nama Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, saya menyampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi atas terselenggaranya Seminar Nasional Teknoin
2012 ini. Seminar ini dapat berlangsung karena usaha terbaik dari panitia pelaksana.

Akhir kata, selamat berseminar.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh


Dekan,



Ir. Gumbolo Hadi Susanto, M.Sc.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
vi


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
vii
Executive Summary of Keynote Speech


Manufacturing Technology Development for Customer Involvement in Value Creation

Assoc. Prof. Dr. Pisut Koomsap
A-Cube Research Group,
Industrial and Manufacturing Engineering,
School of Engineering and Technology,
Asian Institute of Technology,
Km. 42 Paholyothin Rd. Klong Luang, Pathumthani 12120, Thailand,
Tel: (662) 524-5678; Fax: (662) 524-5697; Email: pisut@ait.ac.th


Advancement of technology has opened up a competitive market that led to the change of product development
fundamental from manufacturer-oriented to customer-oriented. The competitive environment has powered
customers to demand for better responsiveness, and has forced manufacturers to timely deliver quality products and
service to satisfy customer expectations. Design of manufacturer in the early days has been replaced by design for
customer at the present time.
However, customer involvement has been limited to expressing their voices until the debut of mass customization
concept which each product is aimed to be made to meet a specific customer’s need. Customers can take a proactive
role in their needs and negotiate to meet their requirements. Manufacturers allow themto involve reconfiguring
products during assembly stage. They can mix and match parts to formtheir own products. Nevertheless, the
concept has some limitations when it comes down to implementation. To serve individual needs that quite vary from
one person to another, exponential increase of variety will occur and lead to high cost and long lead time. With rigid
manufacturing system, manufacturers are required to build up the inventory of variety of components to be ready.
As a result, mass customization, in practice, remains at a group of customers with similar preference, not yet reached
to individual customer.
Recently, we have proposed design by customer concept to satisfy individual customers by letting themto flexibly
involve in defining product of their personal requirements at any stages of value chain, and framework has been
established to assist manufacturers on realizing the concept. To encourage customer involvement, maximum
possible channels in the value chain should be opened for ease of access, but the level of involvement that can vary
from design from scratch to select available items is depended upon customer’s interests as well as manufacturer’s
readiness. Therefore, product attribute analysis that takes key customer needs, manufacturer’s capability and
constraints has been developed as a tool for determining the level of involvement, and crowd screening process has
also been introduced to manage product variety.
Presented in this talk is our ongoing research on manufacturing technology development to support customer
involvement in design by customer concept. The research includes the development of hardware, software,
algorithm, and their integration to forman intelligent manufacturing systemthat allows manufacturers to respond
rapidly to individual customers. The systemis customer-oriented. It has been developed to accommodate customer
interest which maybe expressed in various formats such as CAD model, drawing, physical object, sketch or
photograph. The system composes of three parts: input transformation, toolpath generation and fabrication
technology, and can serve both 2D and 3D applications. It transforms these inputs to be a general formof contour
images for 2D product or a stack of contour images for 3D product. Topological hierarchy contour tracing algorithm
has been developed for automatic toolpath generation. This algorithmcan trace a set of one-pixel wide closed
contours that may appear as nested contours, interconnected contours or their combination. It is applied on the
images to obtain coordinates on all contours. The ordered sequences of coordinates are then used to generate
commands for fabrication a product.
Contour cutting and screen printing are examples of 2D application. Zero G-code two axes servo table has been
developed for abrasive waterjet machining. It allows inexperience users to complete cutting any complicated
contours in very short period of time without writing a single G-code. Its integration with contour tracing algorithm
makes it possible for rapid contour cutting from a contour image. Multi-color screen printing system has also been
developed to illustrate design by customer concept. The systemis capable of creating screen quickly fromcustomer
design and used on a flat screen printing machine that is capable of adjusting screen automatically for multi-color
printing.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
viii
Additive manufacturing has been our focus on 3D application. A few rapid prototyping techniques have been
developed in house. Direct slicing approach has been researched for transforming 3D CAD model to be a stack of
contours. However, it is quite often that customers do not come with 3D CAD models; instead they may bring
physical objects, or rough sketches. Therefore, interfacing between rapid prototyping (RP) with reverse engineering
(RE), geometric reconstruction (GR), and 3D sketch-based modeling have been researched also to transformrapidly
those inputs to be physical prototypes.
For RE-RP interface, unlike all existing interface approaches which acquire entire surface data from an object and
performdata reduction, our adaptive reverse engineering acquires data selectively and locally layer by layer
according to the complexity of the object. Structure light systemhas been applied to induce feature on the object
surface to appear explicitly for selective data acquisition algorithmthat applies image processing to analyze the
complexity of the object before recommending the scanning positions. The output is a stack of contours that can be
used directly for toolpath generation. Similarly, GR-RP interface has been developed for direct fabrication of a
physical prototype froman orthographic views drawing without reconstruction of its 3D CAD model. This success
has led us to another development on direct fabrication of a prototype froma paper-based freehand sketch which is a
natural communication channel used for expressing idea.
In conclusion, several manufacturing technologies have been being developed to support customer involvement in
our design by customer concept but the development has not been completed yet. There is still big room for
improvement to make these technologies more robust. Also, full implementation of design by customer is still
waiting to be explored.


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
ix
Daftar Isi

Organisasi Penyelenggara ………………………………..………………………… i
Kata Pengantar …………………………………………………………………… iii
Sambutan Dekan FTI UII ………………………………………………………… v
Executive Summary of Keynote Speech ………………………………………… vii
Daftar Isi …………………………………………………………………………… ix

Makalah Bidang Teknik Elektro ………………………………………………… D-1

01
Studi Penjadwalan Beban Puncak pada PT.PLN Cabang Manokwari dengan
Metode Iterasi Lamda ………………………………………………………………. D-3
Adelhard Beni Rehiara


02
Perancangan Prototype Telemetri Suhu dan Kelembaban Udara Berbasis
Arduino Menggunakan Xbee ……………………………………………………….. D-9
Andi Adriansyah


03 Supervisory Control for Hybrid Power System Using Smart Relay …………….. D-15
Aryuanto Soetedjo, Yusuf Ismail Nakhoda, Abraham Lomi, Misbahul Huda Yulinda


04
Aplikasi Penampil Parameter Cuaca pada Stasiun Cuaca Berbasis Embedded
PC dengan Menggunakan Java ……………………………………………………. D-21
Bambang Sugiarto, Akbari Indra Basuki


05 Maximum Power Point Tracker Melalui Deteksi daya dan Tegangan …………. D-29
Damar Budi Laksono , Leonardus. H. Pratomo


06
Simulasi PLTS dan PLTA (Hybrid) Berbasis Sistem Otomasi untuk
Penanggulangan Kekurangan Daya Listrik di Daerah Pesisir …………………... D-37
Doddy Irawan, Endi Sahrial


07 Desain dan Implementasi Maximum Power Point Tracker Melalui Deteksi Arus D-43
Edoe Arieska Aprilyanto, Leonardus. H. Pratomo


08 Transmisi Video Telemedicine Menggunakan H.264/SVC dan IEEE 802.11e …. D-51
Emansa Hasri Putra


09 Mobile Cloud Berbasis Virtual Smartphone Over IP ……………………………. D-59
Ferrianto Gozali dan Rizki Abrar


10
Perancangan Sensor Gas Co Berbasis Zno dengan Metode Solgel Menggunakan
Teknologi Thick Film ………………………………………………………………. D-65
I Dewa Putu Hermida, Parlindungan Sinaga, Yuyu R. Tayubi, Untung H. Pramono


11
Optimasi Kontroler PID pada Pengaturan Suhu Heater Pabrik Gula
Menggunakan Algoritma Genetika Berbasis Scilab ………………………………. D-79
Muhammad Aziz Muslim, Retnowati, Riski Tri Rosana



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
x
12
Metoda Pembacaan Lebar Pulsa Sinyal PWM Motor Servo dengan Timer 16 bit
pada Mikrokontroler AVR ………………………………………………………… D-85
Oka Mahendra


13
Purwarupa Kontrol Temperatur Ruang Pembakaran Tegel Menggunakan
Metode Fuzzy Logic ………………………………………………………………… D-91
Richa Watiasih, Ahmad Nurhuda


14
Sistem Pengisi Baterai Berbasis Daya Maksimal Melalui Deteksi Arus dan
Tegangan …………………………………………………………………………….. D-103
Ronal C. Manik, Leonardus. H. Pratomo


15
Rancang Bangun Sistem Pelabelan Botol Kemasan Oval Terotomatisasi Dengan
Programmable Logic Control ……………………………………………………… D-111
Slamet Pambudi, Rahmat, Tri Rahayu K.L.


16 Analisis Kointegrasi Trafik Internet Spasial ……………………………………… D-119
Sis Soesetijo


17
Perancangan dan Implementasi Pengendali Beban Elektronik Generator
Induksi Split Phase Eksitasi Sendiri dengan Metoda Logika Fuzzy …………….. D-125
Sofian Yahya, Dedi Nono Suharno


18
Penanganan Noise Pada Perancangan Prototipe Alat Penangkap Sinyal
Mioelektrik Menggunakan “Surface Electrode” tanpa “External Electric
Stimulator” …………………………………………………………………………... D-133
Susy Susmartini, Azizah Aisyati, IlhamPriadythama


19
Perancangan dan Pembuatan Sistem Pendeteksi Suhu Menggunakan Arduino
dan Visual Basic …………………………………………………………………….. D-137
Yudhi Gunardi


20
Korektor Faktor Daya Otomatis Sebagai Alat Untuk Mengoptimalkan
Pemakaian Energi Listrik Pada Instalasi Listrik Rumah Tangga ………………. D-145
Yuniarto, Priyo Sasmoko


21 Analisa Sistem Scada Pada Sinkronisasi 2 Unit Genset Dengan Trafo PLN D-149

Agus kiswantono, Sugiyantoro



Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-1
Makalah
Bidang Teknik Elektro


Seminar Nasional Teknoin 2012

“Pengembangan Teknologi Manufaktur untuk Menunjang Penguatan Daya
Saing Bangsa”

Yogyakarta, 10 November 2012
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-2

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-3

Studi Penjadwalan Beban Puncak pada PT.PLN Cabang Manokwari dengan Metode Iterasi
Lamda

Adelhard Beni Rehiara
J urusan Teknik, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Papua
J l. Gunung Salju Amban Manokwari
E-mail : adelhard.rehiara@fmipa.unipa.ac.id
Abstract
Economic dispatch has been used in many power plants to optimize these power plants
operation. As one of method in economic dispatch, lambda iteration method has been utilized
for calculating the economic operation of peak load in power system of PT. PLN branch
Manokwari which is the electrical company working in area of Manokwari. Based on the
investigation in the time of peak load which had been calculated with Lambda iteration method,
diesel power plant units in the company system had not worked in optimal operation while
handle the peak load. This condition has increased the operation cost of the generating system.

Keywords : Economic dispatch; lambda iteration; diesel power plant; optimize; peak load.

Pendahuluan
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) merupakan salah satu jenis pembangkit listrik yang mengkonversikan bahan
bahan bakar diesel menjadi energi listrik. Sebagaimana diketahui, efisiensi terbaik dari sebuah mesin konversi kira-kira
sebesar 60% [12]. Hal ini menunjukkan bahwa proses konversi energi pada sebuah PLTD mungkin tidak akan mencapai
efisiensi sebesar 60% dan sebagai akibat dari proses tersebut akan dihasilkan polusi. Walaupun demikian, karena mudah
untuk dipindahkan dan juga mudah untuk di pasang, PLTD seringkali dijadikan pilihan untuk memenuhi kebutuhan
listrik secara mudah dan cepat. Kekurangan PLTD dapat terletak pada biaya operasi yang tinggi untuk bahan bakar dan
untuk perawatan.
Beban puncak merupakan beban tertinggi yang harus disuplai oleh unit-unit pembangkit. Waktu beban puncak dapat
berlangsung mulai sore sampai tengah malam, dimana pada saat tersebut pemakaian energi listrik meningkat secara
signifikan. Menurut PLN [13], waktu beban puncak dimulai sejam jam 18.00 – 22.00 waktu setempat, walaupun pada
kenyataannya mungkin dapat terjadi dan selesai lebih cepat berdasarkan pada perilaku konsumen. Untuk meningkatkan
efisiensi dan untuk mereduksi biaya pembangkitan, PLN akan mengoperasikan mesin PLTD yang paling ekonomis dan
seiring dengan semakin meningkatnya beban, mesin PLTD yang kurang efisien dan yang tidak efisien mulai di
operasikan secara bertahap. Dengan mengoperasikan PLTD secara ekonomis, sebuah PLTD dapat menjadi optimal
dalammembangkitkan energi sehingga polusi dan biaya operasi dapat direduksi.
Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengoptimalkan unit pembangkit listrik dalam bentuk yang berbeda [1-
9], tetapi penelitian-penelitian tersebut hampir selalu mengacu pada formulasi economic dispatch (ED) yang merupakan
metode pembagian pembebanan pada pembangkit-pembangkit pada suatu sistemsecara optimal. Dalam tulisan ini akan
di bahas optimalisasi mesin pembangkit yang digunakan pada beban puncak di PT. PLN (Persero) Cabang Manokwari
dengan metode iterasi lamda.
Metodologi Penelitian
Beberapa tahapan yang dikerjakan pada penelitian ini adalah pengambilan data, pemodelan biaya bahan bakar,
penentuan biaya bahan bakar tambahan dan analisis data.

Pengambilan data
Data yang diperoleh merupakan data sekunder yang diperoleh dari PT. PLN (Persero) cabang Manokwari. Data bahan
bakar serta keluaran sistem diperlukan untuk memodelkan sistemdengan metode regresi kuadratik, sedangkan data
beban puncak dibutuhkan sebagai studi kasus yang diambil pada tanggal 12 April 2012.

Pemodelan biaya bahan bakar
Biaya bahan bakar sistem diperoleh dengan memodelkan unit-unit pembangkit berdasarkan data bahan bakar serta
keluaran sistem. Model matematis biaya bahan bakar akan diformulasikan pada persamaan kuadratis seperti pada
persamaan berikut[1-10]:
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-4
) ( ) (
2
c P b P a P F
i i i i i i
+ + = (1)
dengan mengacu pada


R
n
i
i
P P =
¿
=1

(2)
dan batasan


i i i
P P P max min s s (3)

Penentuan biaya bahan bakar tambahan
Biaya bahan bakar tambahan dapat diperoleh dengan menentukan biaya bahan bakar yang meningkat untuk suatu selang
waktu tertentu saat keluaran daya ditingkatkan. Saat keluaran pembangkit dinaikkan, biaya bahan bakar tambahan pada
masing-masing unit yang bekerja juga akan naik. Biaya bahan bakar merupakan turunan pertama dari fungsi biaya
bahan bakar sehingga biaya bahan bakar tambahan setiap unit adalah [9-11] :

i i i
i
i
b P a
P
F
+ =
c
c
= 2 

(4)
Analisis data
Data di analisis dengan menggunakan metode iterasi lamda dengan diagramalir sebagaimana disajikan pada gambar 1.



Gambar 1. Diagramalir
Hasil dan Pembahasan
Unit Pembangkitan
Beban pada jala-jala PLN di wilayah Manokwari terhubung langsung dengan sistempembangkitan yang terpusat pada
sebuah lokasi yang berkedudukan di Sanggeng. Sistempembangkitan di PT. PLN (persero) cabang Manokwari terdiri
dari unit-unit PLTD milik sendiri dengan daya maksimum7610 kW dan unit rental swasta sebesar maksimum 10000
kW. Unit PLTD milik PLN terdiri dari 9 unit mesin pembangkit dengan spesifikasi sebagaimana pada tabel 1.

Tabel 1. Spesifikasi unit pembangkit
NO TIPE MESIN NO. SERI
DAYA KELUARAN (kW)
MINIMUM MAKSIMUM
1 DEUTZ BV8M 628 180 1100
2 DEUTZ BV8M 628 180 1100
3 MAN 6L 26/32 H 150 900
4 MAN 6L 26/32 H 150 900
5 DAIHATSU 6DL - 28 180 1000
6 MITSUBISHI S12 R -PTA 150 800
7 MITSUBISHI S12 H -PTA 120 600
8 MITSUBISHI S16 R -PTA 150 900
9 KOMATSU SAA 6D 170-P800 75 460
i
i
i
a
b
P
2
÷
=

R beban
P P ÷ = 
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-21
Aplikasi Penampil Parameter Cuaca pada Stasiun Cuaca Berbasis Embedded PC dengan
Menggunakan Java

Bambang Sugiarto
1)
, Akbari Indra Basuki
2)

Pusat Penelitian Informatika LIPI
1,2)

J l. Sangkuriang Komplek LIPI Bandung 40135
Telepon (022) 2504711 Fax (022) 2504712
bambang@informatika.lipi.go.id
1)
, akbari@informatika.lipi.go.id
2)
Abstrak
Pada penelitian sebelumnya telah dikembangkan metode komunikasi single master-multi slave
dengan menggunakan mikrokontroler. Sebagai kelanjutan penelitiannya, paper ini akan
menjelaskan aplikasi perangkat lunak penampil parameter cuaca dengan menggunakan
Embedded PC pada master dalam sebuah sistem stasiun cuaca. Embedded PC yang digunakan
sebagai master dalam pembangunan stasiun cuaca ini adalah NISE 103 dari Nexcom. Pada
penelitian ini parameter cuaca yang digunakan adalah suhu, kelembaban, kecepatan angin, arah
angin, tekanan udara, radiasi matahari dan curah hujan. Aplikasi ini mempunyai fungsi sebagai
penampil hasil monitoring parameter cuaca secara on-line yang dilakukan oleh setiap sensor
cuaca pada setiap slave melalui port RS-232. Selain fungsi tersebut, aplikasi ini juga bertugas
menangani komunikasi single master-multi slave khususnya untuk pertukaran data. Dengan
menggunakan perancangan berorientasi objek dengan pemodelan visual Unified Modelling
Language (UML) dan pemograman java, maka dihasilkan suatu aplikasi perangkat lunak yang
dapat menampilkan parameter cuaca dari setiap slave pada stasiun cuaca tersebut.

Kata Kunci : embedded PC, master, slave, stasiun cuaca, RS-232, java.

Pendahuluan
Pemantauan cuaca baru dapat dilaksanakan jika tersedia banyak data dari berbagai macamparameter cuaca sehingga
keberadaan stasiun pemantau sangat diperlukan untuk mendapatkan data-data pemantauan cuaca. Untuk menunjang
keberadaaan stasiun pemantau tersebut maka telah dirancang dan diimplementasikan sebuah stasiun cuaca pada
penelitian sebelumnya dengan menggunakan metode komunikasi single master-multi slave [1][2]. Dalam sebuah stasiun
cuaca terdapat sebuah Remote Terminal Unit (RTU) yang berfungsi untuk mengambil data-data parameter cuaca dari
sensor dan peralatan lain di lokasi, mengubah data tersebut menjadi format yang diinginkan dan mengirim data tersebut
ke bagian stasiun pusat. Gambar 1 merupakan sebuah blok diagramdari sebuah RTU pada stasiun cuaca.



Gambar 2. Blok diagramRTU pada stasiun cuaca

Dari Gambar 1 terlihat bahwa data parameter cuaca yang diambil dari sensor diakuisisi datanya di slave SBC dengan
menggunakan mikrokontroler ATMega8535 [2]. Data hasil akuisisi ini kemudian dikirimkan melalui port komunikasi
RS-232/RS-485 ke bagian master. Karena bagian master mempunyai kinerja yang lebih tinggi dibanding slave SBC,
maka digunakan embedded PC sebagai pengganti dari master SBC. Pada dasarnya embedded PC adalah sebuah PC,
tetapi perangkat ini telah tertanam dalam peralatan yang akan kita gunakan. Berbeda dengan PC desktop, embedded PC
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-22
ini disesuaikan dan digunakan khusus untuk perancangan mekanik tertentu, konsumsi power, product lifetime,
kustomisasi perangkat lunak dan dukungan profesional [3]. Agar data-data parameter cuaca yang dikirimkan oleh slave
SBC dapat diterima dengan baik maka di bagian master perlu adanya suatu perangkat lunak antar muka (user interface)
yang memperlihatkan bagaimana data tersebut diterima dan ditampilkan agar dapat diketahui oleh pengguna.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membangun sebuah aplikasi penampil parameter cuaca yang bersifat on-line
pada bagian master. Diharapkan dengan adanya aplikasi penampil parameter ini data-data parameter cuaca yang
dikirimkan oleh setiap slave dapat ditampilkan melalui port serial RS-232/485. Pada penelitian ini parameter cuaca
yang digunakan adalah suhu, kelembaban, kecepatan angin, arah angin, tekanan udara, radiasi matahari dan curah
hujan. Agar aplikasi ini dapat dibangun maka digunakan pemograman Java sebagai bahasa pemograman perangkat
lunaknya, sedangkan perancangan aplikasi menggunakan pemodelan visual Unified Modelling Language (UML).

Analisis dan Perancangan Sistem

Perancangan Perangkat Lunak
Dalammembangun sebuah aplikasi perangkat lunak antar muka, prinsip-prinsip perancangan yang harus diperhatikan
adalah sebagai berikut [4]:
- User compatibility, artinya kita harus mengetahui siapa yang menjadi pengguna. Akan ada perbedaan antar muka
untuk tipe pengguna yang berbeda.
- Product compatibility, ada beberapa antar muka yang sama melewati beberapa produk yang berbeda atau dirilis
pada saat yang berbeda.
- Task compatibility, struktur dan aliran sistem harus sesuai dan mendukung terhadap task (tugas) yang akan
dikerjakan
- Work flow compatibility, sistemharus dapat diorganisasikan untuk memfasilitasi masa transisi diantara task dan
memudahkan untuk pen-switching-an diantara task.
- Consistency, beberapa antar muka yang sama untuk beberapa aksi atau objek yang sama pula.
- Familiarity, artinya konsep, terminologi dan perjanjian ruang bagi pengguna harus bersifat familiar sehingga akan
tergabung dalamsatu antar muka.
- Simplicity, membuat suatu fungsi yang kompleks melalui antar muka yang simple.
- Direct manipulation, merupakan antar muka yang secara langsung pengguna dapat menampilkan aksinya pada objek
yang terlihat.
- Control, pengguna dapat memilih dan mengendalikan banyak perangkat sesuai dengan keinginannya.
- What you see is what you get (WYSIWYG), hal ini umumnya berhubungan dengan apa yang dilihat dan apa yang
akan didapatkan.
- Flexibility, aplikasi harus fleksibel memberikan beberapa pilihan.
- Responsiveness, harus ada umpan balik ke pengguna.
- Invisible technology, pengguna harus mengetahui tentang bagaimana sistemdiimplementasikan dan dioperasikan
dengan tujuan untuk kontruksi kembali.
- Robustness, sistemtidak pernah crash.
- Protection, melindungi pengguna dari hasil drastis terhadap kesalahan-kesalahan umum.
- Ease of learning and ease of use, mudah dalampembelajaran serta mudah dalam pemakaiannya.

Sesuai dengan prinsip-prinsip di atas, maka dalam membangun sebuah perangkat lunak antar muka untuk aplikasi
penampil parameter cuaca maka langkah awalnya adalah melakukan analisis sistem. Langkah selanjutnya adalah
bagaimana membangun perangkat lunak dari hasil analisis sistemtadi, menjadi sebuah perangkat lunak yang siap untuk
menerima data dan menampilkan hasilnya di monitor display.

Analisis merupakan tahapan penting dalam pembuatan aplikasi perangkat lunak ini karena pada tahap ini akan
dilakukan pemrosesan awal ide dasar yang telah dikemukakan sebelumnya melalui data fisik, melakukan percobaan dan
akhirnya menggabungkan bagian-bagian tersebut menjadi suatu rangkaian program. Dengan menggunakan
pemograman berorientasi objek maka dihasilkan kegiatan-kegiatan yang berkonsentrasi untuk menghasilkan model-
model solusi terhadap masalah yang akan diselesaikan. Perancangan perangkat lunak aplikasi penampil parameter
cuaca dengan menggunakan metode perancangan berorientasi objek dan pemodelan UML adalah sebagai berikut:

1. Diagram use case memperlihatkan fungsi-fungsi sistem dan interaksinya dengan lingkungan. Dalam kasus stasiun
cuaca yang dirancang, lingkungan adalah pengguna yang berada di bagian master. Gambar 2 menunjukkan diagram
use case bagian master yang disusun berdasarkan daftar spesifikasi yang telah dibuat sebelumnya. Pada bagian
master terdapat tiga kasus penggunaan yaitu membuka port, melihat data on-line dan melihat data historis.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-23




Gambar 2. Diagramuse case untuk aplikasi penampil parameter cuaca


2. Diagramsekuen merupakan salah satu diagraminteraksi yang menjelaskan bagaimana suatu operasi itu dilakukan,
pesan apa yang dikirimdan kapan pelaksanaannya. Diagram ini diatur berdasarkan waktu. Objek-objek yang
berkaitan dengan tahap simulasi diurutkan dari kiri ke kanan berdasarkan waktu terjadinya dalampesan yang
terurut. Bentuk-bentuk interaksi antara objek-objek yang terlibat dalamsistemdigambar oleh tiga buah diagram
sekuen sesuai dengan Gambar 3 sampai Gambar 5 di bawah ini.





Gambar 3. Diagramsekuen untuk membuka port serial




Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-24



Gambar 4. Diagramsekuen untuk melihat data on-line




Gambar 5. Diagramsekuen untuk melihat data historis


3. Diagramkelas dilakukan dengan menganalisisi dan mengidentifikasi objek-objek yang diperlukan oleh sistem
dengan memperhatikan konteks sistem dan fungsi sistem. Dari hasil identifikasi objek-obyjk yang terlibat dalam
sistem melalui lima diagram sekuen, maka dapat dibentuk kelas diagramnya. Kelas-kelas ini diakses secara tidak
langsung oleh pengguna melalui kelas-kelas antar muka (kelas-kelas GUI), seperti yang digambarkan pada ketiga
diagram sekuen di atas. Gambar 6 merupakan diagram kelas dari aplikasi perancangan perangkat lunak penampil
parameter cuaca.



Gambar 6. Diagramkelas untuk aplikasi penampil parameter cuaca


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-25
Perancangan Perangkat Keras
Agar data pemantauan cuaca dapat diterima oleh aplikasi penampil parameter cuaca ini, maka diperlukan suatu
masukan data yang berasal dari perangkat keras stasiun cuaca. Data ini berupa paket data yang berupa deretan karakter-
karakter hasil pengiriman dari slave SBC sebagai berikut :
a;I D;SUHU;KECEPATAN ANGI N;KELEMBABAN;ARAH ANGI N;TEKANAN UDARA;RADI ASI MATAHARI ;CURAH HUJ AN;b
Karakter ID menyatakan identitas untuk setiap slave SBC sedangkan karakter a dan b merupakan karakter sebagai tanda
paket data dimulai dan diakhiri. Paket data tersebut kemudian dikirimkan oleh slave SBC melalui komunikasi RS-232.

Dalamkomunikasi data secara serial, ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan antara lain :
- Port name, yaitu nama pembacaan port serial. Pada perangkat komputer biasanya tersedia beberapa port serial
misalnya COM1, COM2 dan seterusnya.
- Baud rate, merupakan kecepatan pengiriman data. Pada komunikasi data serial, baud rate dari kedua alat yang
berhubungan harus diatur pada kecepatan yang sama agar terjadi komunikasi yang selaras sehingga menghasilkan
pengiriman data yang diinginkan.
- Data bit, merupakan panjang data dimana ketika pengiriman data terjadi harus diawali dengan bit yang paling
rendah sampai bit yang tertinggi.
- Parity, yaitu pengecekan pengiriman data dimana bit parity disisipkan sebagai bit yang terakhir. Biasanya bernilai
none, odd atau even.
- Stop bit, menunjukkan pulsa stop bit. Transmisi serial asynchronous untuk pulsa stop bit umumnya mempunyai
lebar 1,5 bit, tidak seperti kode ASCII menggunakan 1 atau 2 bit.
- Flow control, merupakan pengontrolan jalur pengiriman data. Jika kecepatan transfer data dari Data Terminal
Equipment (DTE) ke Data Comunication Equipment (DCE) lebih cepat dari pada transfer data dari DCE ke DCE,
cepat atau lambat kehilangan data akan terjadi karena buffer pada DCE akan mengalami overflow. Untuk itu
diperlukan flow control untuk mengatasi masalah tersebut.

Dalampenelitian ini akan dirancang bahwa bagian master akan mempunyai kinerja yang lebih tinggi dibanding slave
SBC maka digunakan embedded PC sebagai pengganti dari master SBC. Embedded PC yang digunakan adalah NISE
103 dari Nexcom. Gambar 7 merupakan wujud dari NISE 103 ini.








Gambar 7. Embedded PC NISE 103 [5]

Adapun fitur dari Embedded PC NISE 103 adalah sebagai berikut [5]:
- On-board Intel®Atom™ D425 Processor, 1.8 GHz.
- Intel®ICH8M chipsets.
- Dual Intel 10/100/1000 Mbps LAN Ports.
- Mempunyai 4 x USB2.0
- Mempunyai 1 x RS232/ 422/ 485 dan 3x RS232.
- Mempunyai 1 x Mini PCIe dengan dua Antenna Holes dan satu SIM Card Holder.
- Mempunyai 1 x DB15 Digital Input dan Output.
- Mendukung Power Input +12V DC.
- Mendukung ATX Power Mode, WOL, LAN Teaming dan PXE Function.

Dengan adanya fitur-fitur di atas maka PC NISE 103 cocok digunakan sebagai embedded PC sebagai bagian dari master
terutama pada bagian input untuk komunikasi serial RS-232.

Agar pengiriman data terjadi maka dilakukan instalasi kedua bagian perangkat keras antara slave SBC dan bagian
master dengan melalui sebuah komunikasi serial RS-232 seperti pada Gambar 8 di bawah ini. Adapun setting
komunikasi yang digunakan menggunakan COM1, baud rate sebesar 9600 Kbps, Data Bit sebesar 8, Parity bernilai
none dan Stop Bit sama dengan 1.



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-26



Gambar 8. Instalasi perangkat keras untuk pengujian


Hasil dan Implementasi
Aplikasi penampil parameter cuaca ini dibuat dengan menggunakan pemograman J ava. Salah satu keunggulan
menggunakan Java adalah tidak bergantung pada platform. Artinya, Java dapat dijalankan pada sebarang komputer dan
bahkan pada sebarang sistem operasi. Java juga merupakan bahasa pemograman berorientasi objek dimana pada
pemograman Java digunakan kelas untuk membentuk sebuah objek dan konsep pewarisan yang memungkinkan sifat-
sifat suatu objek diturunkan dengan mudah ke objek lain [6].

Sesuai dengan perancangan di atas maka contoh implementasi dari aplikasi penampil parameter cuaca untuk membuka
port serial dapat dilihat pada Gambar 8. Pada gambar tersebut terlihat bahwa kita dapat memilih port serial yang telah
diaktifkan oleh embedded PC. Pada tampilan tersebut terlihat ada dua menu yang dapat kita pilih yaitu refresh dan
connect. Refresh berfungsi untuk menampilkan port serial yang diaktifkan oleh komputer, sedangkan connect
digunakan untuk membuka port serial yang telah dipilih sebelumnya.




Gambar 8.Contoh tampilan untuk membuka port serial






Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-27
Sedangkan contoh implementasi untuk melihat data cuaca secara on-line dapat dilihat pada Gambar 9 berikut ini.



Gambar 9. Contoh tampilan untuk melihat data cuaca on-line

Pada Gambar 9 terlihat bahwa tampilan ketujuh parameter cuaca telah menampilkan nilai-nilai hasil pengukuran sensor
secara on-line. Terlihat juga bahwa terdapat ID Stasiun menampilkan suatu nilai yang artinya menunjukkan alamat
slave SBC. Sedangkan status Serial Port diperlukan untuk melihat bahwa komunikasi antara slave SBC dengan
embedded PC berjalan dengan baik melalui komunikasi RS-232.

Contoh implementasi untuk melihat data cuaca secara historis dapat dilihat pada Gambar 10 berikut ini.



Gambar 10. Contoh tampilan untuk melihat data cuaca historis

Agar terlihat data-data hasil pengukuran sensor cuaca sebelumnya, maka digunakan data-data cuaca historis sehingga
akan terlihat grafik yang menggambarkan bagaimana pengukuran cuaca berlangsung dalam satuan waktu tertentu. Pada
Gambar 9 terlihat juga nilai maksimumdan minimumdata hasil pengukuran cuaca dalam satuan waktu tersebut
sehingga memudahkan kita dalampengamatan cuaca lebih lanjut.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan implementasi dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Karena data-data parameter cuaca yang dikirimkan oleh setiap slave dapat ditampilkan di bagian master melalui port
serial RS-232 maka informasi yang dihasilkan dapat membantu pengguna dalammemantau cuaca sehingga dapat
membantu proses selanjutnya terutama di bagian stasiun pusat cuaca.
2. Dengan menggunakan pemodelan visual Unified Modelling Language (UML) maka akan memudahkan kita dalam
melakukan perancangan perangkat lunak sehingga akan dihasilkan aplikasi yang sesuai dengan keinginan kita.
Dan dengan menggunakan pemograman Java, aplikasi penampil parameter cuaca dapat dibangun sesuai dengan
perancangan yang berorientasi objek.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-28
Daftar Pustaka
[1] Krisnandi, Dikdik, Perancangan dan Analisa Output Rangkaian Signal Conditioning Analog Melalui
Mikrokontroler ATMega8535 untuk Stasiun Cuaca. Jurnal INKOM, Volume V Nomor 1 tahun 2011, ISSN : 1979-
8059, 2011.
[2] Khotimah, P. Husnul, Dikdik Krisnandi, Bambang Sugiarto, Design and Implementation of Remote Terminal Unit
On Mini Monitoring Weather Station Based On Microcontroller, Proceeding International Conference on
Telecommunication Systems, Services, and Applications (TSSA), Denpasar Bali, ISBN : 978-1-4673-0180-0,
2011.
[3] DSP Design, What is Embedded PC, Diakses dari : http://www.dspdesign.com/products/
product_detail?product_id=95, 2012.
[4] Mayhew, Deborah J., Principles and Guidlines in Software User Interface Design, PTR Prentice Hall, New Jersey,
1992.
[5] _______, Datasheet : NISE103 Intel® Atom™ D425 1.8 GHz Fanless System, Nexcom, 2012
[6] Kadir, Abdul, Dasar Pemograman Java 2, Yogyakarta, Penerbit Andi, 2005.






Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-29
Maximum Power Point Tracker Melalui Deteksi daya dan Tegangan

Damar Budi Laksono
1)
, Leonardus. H. Pratomo
2)

Prog.Di Teknik Elektro- Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranana Semarang
1,2)

J l. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Duwur Semarang
E-mail : boy_damz@yahoo.com
1)
, leonardus_hp@yahoo.com
2)
Abstrak
Energi matahari yang terpancar setiap hari belum dimanfaatkan secara maksimal. Modul
surya adalah alat yang merubah besaran energi sinar matahari ke energi listrik dalam besaran
arus searah. Modul surya memiliki karakteristik yang unik untuk mendapatkan daya maksimal.
Dalam merancang sistem kendali untuk memaksimalkan daya ini harus sesuai dengan kurva
karakteristikya. Pada makalah ini dikaji suatu teknik kendali untuk memaksimalkan daya pada
modul surya dengan teknik deteksi daya dan tegangan sumber. Konverter yang dipakai dalam
percobaan ini adalah DC-DC tipe step down yang dianggap sebagai variable resistor untuk
mendapatkan daya maksimal. Berdasarkan hasil dari percobaan laboratorium alat dapat
bekerja dengan baik dan memiliki effisiensi 94%.

Kata Kunci : Maksimum Power Point Tracker, Daya, Tegangan dan Modul Surya.

Pendahuluan
Pemanfaatan energi listrik dewasa ini berkembang sangat pesat, hal ini terlihat makin berkembangnya
perumahan, industri dan perkantoran. Di sisi lain, terjadinya krisis bahan bakar fossil secara global telah mempengaruhi
penyediaan energi listrik secara nasional. Sektor industri dan perkantoran sebagai penopang perekonomian bangsa juga
terpengaruh. Pemerintah telah menekankan usaha penghematan dan pencarian sumber energi alternatif.
Modul surya adalah suatu alat yang mengubah sinar matahari menjadi energi listrik dalambentuk tegangan
searah sehingga hanya peralatan-peralatan yang memiliki spesifikasi tertentu yang dapat disuplai. Modul surya juga
dapat dikombinasikan dengan suatu konverter untuk menghasilkan tegangan bolak-balik sehingga mampu mensuplai
peralatan dengan spesifikasi sama seperti peralatan pada umumnya setuai dengan sistem kelistrikan milik PT. PLN.
Indonesia yang secara geografis terletak di katulistiwa memiliki keuntungan dalampemanfaatan modul surya.
Dewasa ini, pemakaian modul surya di Indonesia masih terbatas di daerah yang belumterjangkau oleh listrik dari PLN.
Aplikasinya masih secara langsung dengan tegangan searah yang dihasilkan. Sedangkan di daerah di mana tersedia
energi listrik dari PLN, masyarakat masih sepenuhnya menggantungkan kebutuhan energi listrik dari suplai PLN.
Modul surya memiliki kurva karakteristik yang unik sehingga perlu penanganan yang unik pula untuk
mendapatkan daya maksimal. Pada aplikasi sederhana modul surya dapat langsung dihubungkan dengan baterai, tetapi
hal ini tidak akan terjadi konversi energi yang maksimal. Penelitian lain menyebutkan untuk mendapatkan daya
maksimal dapat dilakukan dengan cara manual tracker. Terlebih cara-cara modermmenggunakan alogaritma fuzzy
logic[7] untuk mentelesaikan masalah ini, tetapi alogaritma ini sangat susah dan membutuhkan implementasi perangkat
keras yang mahal. Penyelesaian yang laian yaitu dengan sistem kendali korelasi riak[3], hal ini juga membutuhkan
alogaritma yang sulit dan implementasi yang mahal.
Pada makalah ini dikembangkan suatu metode konversi energi dengan deteksi daya dan tegangan untuk
mendapatkan Maxcimum Power Point Tracker sesuai kurva karakteristiknya. Besaran daya didapatkan dengan cara
mengalikan besaran arus masukan dan tegangan masukan. Besaran daya ini dideferensialkan kemudian dibagi dengan
diferensial tegangan sebagai referensi kurva. Besaran ini kemudian dimodulasi untuk mendapatkan sinyal kendali
lereng daya dan tegangan.
Sistem Maxcimum Power Point Tracker ini menggunakan suatu sistempengkonversi DC-DC konverter tipe step
down yang digunakan untuk mengkompensasi besaran beban yang terpasang, sehingga beban yang terpasang akan
dilihat oleh suatu seumber bebagai beban yang akan mengakhibatkan kurma memiliki daya maksimal.
Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan studi literatur, analisis, simulasi
komputasi dan implementasi skala laboratorium. Berikut ini akan diuraikan tentang analisis modul surya, konverter
DC-DC tipe step down.



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-30
A. Modul Surya
Modul surya merupakan alat yang dapat mengkonversi energi sinar matahari secara langsung. Solar cell adalah
suatu sambungan bahan semikonduktor jenis P (positif) dan N (negatif) akan menghasilkan tegangan jika ada suatu
energi foton yang mengenai sambungan tersebut, dan jika dihubungkan ke beban akan menghasilkan suatu aliran
arus listrik. Berikut adalah gambar 1 illustrasi fenomena perubahan energi

Gambar 1. Ilustrasi fenomena perubahan energi [www.ece.rochester.edu]
Modul surya memiliki karakteristik arus terhadap tegangan, maka untuk mempermudah dibuat suatu model
rangkaian ekivalen. Suatu sel modul surya dapat digantikan dengan photodioda dan dengan adanya radiasi cahaya
akan mengahkibatkan arus yang mengalir I
ph
(photo current). Arus bercabang menuju dioda, tahanan shunt (I
sh
) dan
keluar ke beban (I
L
), seperti pada gambar 2.

Gambar 2. Rangkaian ekivalen sel modul surya

Besarnya persamaan arus adalah :

sh d ph L
I I I I ÷ ÷ =
(1)
Jika
( )
|
|
.
|

\
|
÷
+
= 1 exp
c
s
o d
T k m
R I V e
I I

dan
sh
s
sh
R
I R V
I
+
=


Maka :
( )
sh
s
c
s
o ph d
R
I R V
T k m
R I V e
I I I
+
÷
|
|
.
|

\
|
÷
+
÷ = 1 exp
(2)

Keterangan :
m=Idealizing fagtor
k =Konstanta Boltzman (1.381 x 10
-23
)
R
s
=Tahanan seri
R
sh
=Tahanan parallel
irradiance
Rs
L
O
A
D
Rsh
IL
Iph
Ish
Id

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-31
I
ph
=Arus akhibat photon
e =Muatan elektron (1.602 x 10
-19
)
I
D
=Arus dioda normal
I
o
=Arus saturasi pada saat gelap

Modul surya memiliki kurva karakteristik seperti pada gambar 3.

Gambar 3. Kurva karakteristik modul surya
Sedangkan kurva pembebanan suatu modul surya seperti pada gambar 4.


Gambar 4. Kurva pembebanan modul surya

B. Konverter DC-DC
Suatu besaran DC dapat diubah kedalamsuatu besaran DC yang lain, hal ini dikenal dengan konverter DC ke
DC, jika tegangan keluaran lebih kecil dari tegangan masukan disebut sebagai buck (step down) chopper, jika
tegangan keluaran lebih besar dari tegangan masukan dikenal dengan boost (step up) chopper, dan jika sistem
keduanya digabungkan, maka dinamakan buck-boost (step up-down) chopper. Metoda pengubahan besaran
tegangan DC konstan menjadi tegangan DC variabel dilakukan dengan menggunakan saklar elektronik (dapat
berupa BJ T, MOSFET, IGBT dll). Pada Gambar 5 ditunjukkan suatu konverter jenis step down dengan
mengimplementasikan BJ T sebagai saklar elektroniknya

Gambar 5. Konverter jenis step down

LOAD
C
L
D
T
Vs
+
Vo
-
i-L
i-c
i-o
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-32
Konverter DC-D tipe step down ini memiliki dua mode operasi, yaitu pada mode pertama saklar elektronik
yang diiplementasi dengan transistor BJT menutup, maka akan mengalir arus seperti pada gambar 6.

Gambar 6. Mode pertama
Maka akan memiliki persamaan :

( )
on o s
t V V Ldi ÷ =
(3)
Mode yang kedua adalah saat saklar elektronik yang diiplementasi dengan transistor BJ T membuka, akan
memiliki rangkaian ekivalen seperti pada gambar 7.


Gambar 7. Mode kedua
Maka akan memiliki persamaan :
off o
t V Ldi =
(4)
jika persamaan (3) dan (4) dieliminasi, maka diperoleh

T
t
V
V
on
s
o
=

d
V
V
s
o
=
(5)



Berikut adalah gelombang arus terhadap waktu suatu konverter DC-Dc tipe step down :
Vs
D
L
C
R
IL
IC
IO

Vs
D
L
C
R
IL
IC
IO

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
V
( ) G G
dV
P d
A = = 0
( ) G G
dV
P d
A > >0
( ) G G
dV
P d
A < < 0
P

Gambar 8. Gelombang arus dan tegangan terhadap waktu
Hasil dan Perancangan
Perancangan suatu kendali berdasarkan kurva karakteristik dan daya akan maksimum jika memenuhi suatu
persamaan sebagai berikut :

0 =
|
|
.
|

\
|
MPP
dV
dP
(6)

Sehinga proses kendali yang dibuat berdasarkan kurva adalah sebagai berikut :













Gambar 9. Kurva kendali daya maksimal

Sehingga di dapat sistemkendali sebagai berikut :

1. G G jika
dV
dP
A > > , 0
2. G G jika
dV
dP
A = = , 0
3.
G G jika
dV
dP
A < < , 0
(7)

Berikut ini adalah struktur kendali yang dibuat dan diimplementasi, gambar 10.

V(be)
V(D)
i(L)
i(T)
i(D)
t
t
t
t
t

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
L
O
A
D
Persamaan daya
maksimum
Modulator














Gambar 10. Diagram blok kendali daya maksimal
Berikut ini akan disajikan beberapa pengujian antara lain kurva karakteristik modul surya, pengujian kendali secara
simulasi dengan menggunakan software Psim.












Gambar 11. Pengujian parameter modul surya 50 WP










Gambar 12. Pengujian sistemkendali dengan modul surya 50 WP

Berikut adalah pengujian yang dilakukan pada saat matahari bersinar terang, tabel 1.

Tabel 1. Pengujian sistemmkendali
Loads V
pv
I
pv
P
pv
V
out
I
out
P
out
%
2,5 12,7 2,6 33,02 12,5 2,5 31,25 94,6
3 12,75 2,6 33,15 12,5 2,5 31,25 94,3
3,5 12,8 2,6 33,28 12,6 2,5 31,5 94,7
4 12,8 2,6 33,28 12,6 2,47 31,122 93,5
4,5 12,8 2,6 33,28 12,6 2,45 30,87 92,8

Dari pengujian yang telah dilakukan sistemmemiliki effisiensi konversi energi sebesar 94%

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-35
Ucapan Terima Kasih
Kami ucapkan terima kasih kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional,
karena telah membiayai penelitian dalamskema penelitian hibah bersaing 2011/2012

Kesimpulan
Dari hasil ujicoba yang dilakukan dengan simulasi komputasi menggunakan software Psimdan implementasi
skala laboratoriumsistemyang dirancang dapat berjalan dengan baik dan memiliki effisiensi sebesar 94%.

Daftar Pustaka
[1] Dedy. P, Pratomo H.L dan Tejo. Y, 2010 “ Pemanfaatan Mikrokontroler Tipe AT89S52 Sebagai
Pengendalian Daya MaksimumPada” CITEE, UGM Yogyakarta
[2] Eridanus dan Pratomo H.L, 2010, “ Metode Pengendali Daya Panel Surya dengan Kendali Adaptif”,
CITEE, UGM Yogyakarta
[3] Felix. Y dan Pratomo, H. L, 2009 “Memaksimalkan Daya Photovoltaic dengan Korelasi Riak”, IES-ITS
Surabaya
[4] Pratomo, H. L, 2009 “Implementasi Multilevel Inverter Jenis DC Terpisah dengan Kendali Hysterisis
sebagai Antarmuka Photovoltaic Module”, SITIA, ITS Surabaya
[5] Pratomo, H. L, 2009 “Pemanfaatan Mikrokontroller Tipe 89S52 sebagai Pengendali Multilevel Inverter”,
CITEE, UGM Yogyakarta
[6] Pratomo, H. L, 2005 , “Buck DC-DC Konverter Dengan Kendali One Cycle”, MILLENIUM, Vol 1. No 3
[7] Rinovi. A. D , Pratomo H.L dan Tejo. Y, 2010 “Maximum Power Point Tracker pada Photovoltaic
Module dengan Menggunakan Fuzzy Logic Controller”, , CITEE, UGM Yogyakarta



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-36





Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-37
Simulasi PLTS dan PLTA (Hybrid) Berbasis Sistem Otomasi untuk Penanggulangan
Kekurangan Daya Listrik di Daerah Pesisir

Doddy Irawan
1)
Endi Sahrial
2)

ProgramStudi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Pontianak
1,2)

J l. Ahmad Yani No.111 Pontianak Kal-Bar
Telepon (0274) 764571
E-mail : dodi.unmuhpnk@gmail.com
1)

Perencanaan PLTA atau PLTS sebelumnya hanya memanfaatkan energi dari satu arah saja. Dari masing
masing alat pembangkit energi listrik tersebut, PLTA misalnya, itu hanya mengandalkan angin dari satu
arah saja sebagai sumber pembangkitnya. Sedangkan untuk PLTS dibuat dalam bentuk tidak bergerak
sehingga hanya bisa mensuplai energi matahari secara maksimal hanya jika berhadapan dengan
matahari. Melihat permasalahan diperlukan komponen pendukung untuk memaksimalkan kerja dari
kedua pembangkit tersebut yaitu dengan menambahkan komponen elektronik dan microcontroller. Panel
surya yang ada akan kita buat mengikuti kemana arah sinar matahari sehingga bisa mendapatkan lebih
banyak suplai panas dan cahaya matahari, dalam hal ini akan mengunakan microcontroller serta sensor
cahaya. Sedangkan untuk PLTA kita akan memanfaatkan angin darat dan angin laut, dimana ketika pada
siang hari baling-baling akan menghadap ke laut sedangkan pada malam hari menghadap ke darat, dan
tetntunya dengan bantuan sistem otomasi berupa microcontroller dan sensor tekanan. Kedua pembangkit
ini akan di gabung (combine) agar suplai listrik lebih besar., untuk mengatur aliran listrik dari PLN dan
kedua pembangkit akan dipasang swicth controller yang fungsinya mengganti secara otomatis aliran
listrik apabila salah satu dari sumber listrik (PLN atau kedua pembangkit) mati.

Kata kunci : PLTS, Energi alternatif, PLTA, Microcontroller, Sensor cahaya


1. Pendahuluan
a. Latar belakang
Minyak mentah yang ada di bumi semakin hari kian menipis hal ini disebabkan penggunaan bahan bakar yang
tidak henti-hentinya. Sehingga pada akhirnya akan menimbulkan dampak yang yang sangat krusial bagi kelanjutan
hidup manusia jika tidak di imbangi dengan penanggulangan terhadap alam. Salah satu akibat yang ditimbulkan yaitu
masalah global warming. Selain itu banyak lagi bencana alamyang akan ditimbulkan oleh pengaruh global warming.
Pada gas buang hasil pembakaran terdapat dua gas berbahaya jika jumlahnya sangat besar dan tidak seimbang dengan
jumlah gas yang lainnya di udara gas itu adalah CO
2
(karbondioksida) dan CO (karbonmonoksida).
Selain masalah di atas pengaruh pemakaian bahan bakar tidak henti-hentinya akan mengakibatkan krisis
minyak bumi pada suatu hari nanti, bahkan akan menimbulkan kekosongan minyak mentah di bumi apabila tidak
sesegera mungkin ilmuan di bidang sains bergerak untuk menemukan sumber energi baru.
Seiring dengan merosotnya minyak mentah yang ada di bumi maka harga jual untuk minyak jadi akan terus
meningkat. Masalah inilah yang dihadapi oleh perusahaan listrik Negara (PLN). Ketidak setabilan bahan bakar untuk
pengoperasian mesin diesel, mengakibatkan PLN mengambil langkah dengan melakukan pemadaman bergilir.
Maka dari itu melihat permasalahan di atas penulis memiliki sebuah ide untuk menanggulangi permasalahan
tersebut, yaitu dengan memanfaatkan beberapa energi alternatif yang ada. Seperti halnya energi matahari dan energi
angin. Energi tersebut akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik yaitu berupa PLTA (pembangkit listrik teanaga
Angin) dan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya). Kemampuan kedua pembangkit energi tersebut akan ditambah,
yaitu dengan cara menambah sistemotomasi dan generator modifikasi. Untuk PLTA akan memanfaatkan hembusan
angin darat dan angin laut. Pada siang hari baling-baling akan menghadap ke pantai untuk menangkap angin laut,
sedangkan pada malamhari akan menghadap ke darat untuk memperoleh hembusan angin darat, maka dari itu perlu
bantuan microcontroller dan beberapa sensor dan timer. Sedangkan pada PLTS sistemyang sama akan digunakan hanya
saja panel surya akan digerakkan sesuai dengan gerakan matahari. Arus listrik yang dihasilkan akan disimpan di sebuah
batre dan selanjutnya akan disalurkan ke pelanggan.

b. Tujuan penelitian/teknologi
Ada dua macamtujuan yang diharapkan bisa tercapai dengan terealisasinya teknologi ini yaitu tujuan untuk
masyarakat dan konsep pengembangan teknologi.
1) Tujuan untuk masyarakat.
Melihat kondisi real di lapangan yaitu masih banyaknya daerah-daerah pesisir yang belumtersentuh
listrik serta memiliki potensi sumber energi surya dan angin yang cukup melimpah. Maka diharapkan dengan
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-38
terciptanya pembangkit listrik energi alternatif dengan sistemmicrocontroller ini. Potensi tersebut bisa diolah
menjadi listrik yang tentunya sangat menguntungkan bagi masyarakat sekitar.
2) Tujuan untuk pengembangan konsep teknologi alat
Pembangkit listrik energi angin dan surya sebelumnya dirancang dengan memaksimalkan keadaan
energi setempat tanpa komponen-komponen pendukung untuk memaksimalkan efisiensi kedua pembangkit
tersebut. Maka dari itu dalampenelitian ini akan dilakuan penambahan komponen berupa sistemotomasi
menggunakan microcontroller dengan tujuan untuk memaksimalkan kerja dari kedua pembangkit sehingga
keluaran listrik yang dihasilkan akan lebih besar. Untuk pembangkit listrik energi surya (panel) akan
dirancang agar beroperasi dalamdetektor sensor cahaya untuk mengikuti pergerakan matahari. Sistemyang
sama juga akan dipasang pada komponen pemangkit listri energi angin, dengan menambahkan sensor tekanan,
dimana pembangkit listrik energi angin akan mencari secara otomatis arah pergerakan angin.
c. Review penelitian terdahulu
Pengembangan teknologi pemanfaatan energi alternatif khususnya untuk pembangkit listrik energi surya
dan angin telah banyak dilakukan, mulai dari pengembangan komponen dasar, material penyuusun komponen, dan
ketelitian perancangan komponen demi mendapatkan efisiensi yang maksimal dari alat pembangkit tersebut.
Adapaun pengembangan pembangkit listrik energi surya (solar cell) dari segi proses dan bahan seperti yang
telah dilakukan oleh Ika Ismet, Erlita Septa Rosa dan Shobih (Puslit Elektronika dan Komunikasi, LIPI) dengan
melakukan proses teksturing isotrofik yang dilanjutkan dengan pembersihan wafer silicon (Si) dalam larutan asam
flourida (HF). Proses tersebut dilakukan dalamtahap pra difusi dan pra oksidasi.
Untuk pengembangkit listrik energi angin telah dikembangkan menggunakan metode modifikasi komponen
yaitu baling-baling yang dilakukan oleh Hery Alamsyah (Treknik Elektro, UNS) dengan menggunakan dua sudu,
adapun momen yang dihasilkan digunakan untuk memutar alternator.

2. Metodeologi penelitian
Ada beberap tahap yang dilakukan dalamproses penelitian ini yaitu:
a. Perencanaan komponen mekanik
Pembangkit listrik energi angin
Perencanaan komponen mekanik pembangkit listrik energi angin (PLTS) meliputi
- Perencanaan baling-baling (bahan, dimensi,)
- Perencanan tiang
- Perencanaan ketinggian
- Pemilihan gear box

Gambar 1. Perencanan pembangkit listrik energi angin
Dalamperencanan pembangkit listrik energi angin, ada beberapa point yang harus di perhatikan yaitu:
1) Daya yang terdapat di dalamangin dapat ditentukan dengan rumus :
P =½.v
2
.R
2
(1)

2) Energi kinetik dari satu m
2
udara yang bergerak, ditentukan dengan rumus :
E=½.v
2
(2)

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-39
Pembangkit listrik energi surya

Gambar 2. Perencanan pembangkit listrik energi surya
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalamperencanaan PLTS antara lain.
1) Pada umumnya PLTS hanya mampu mensuplai energi sebesar 30 % dari energi keseluruahan. Maka
- Maka besar energi yang harus di suplai oleh PLTS adalah
E
A
=30%. E
B (3)

- Sedangkan untuk rugi-rugi sistemnya yaitu
Asumsi rugi-rugi (losses) pada sistem dianggap sebesar 15%, karena keseluruhan komponen
sistemyang digunakan masih baru :
Et =EA+rugi −rugi sistem (4)
2) Perhitungan daya modul sel surya
Kapasitas daya modul =
ET
InsoIasI mataharI
x Faktor penyesuaian (5)
3) Perhitungan kapasitas baterai
AE =
Lt
vs
(6)
4) Besarnya deep of discharge pada baterai adalah 80 % (Mark Hankins, 1991)
Cb =
AH.d
Ð0Ð
(7)
5) Perhitungan BCR (battery charge regulator)
I moks =
P muks
vs
(8)
6) Inverter
Berfungsi untuk meningkatkan tegangan listrik yang berasal dari baterai

7) Baterai
Kapasitas baterai yang digunakan adalah 290 AH atau sesuai dengan jumlah heliostat yang dipakai.
8) Beban yang mampu disuplai
Et =
kupusìtus du¡u x ìnsoIusì mutuhu¡ì
]ukto¡ pcn¡csuuìun
(9)
9) Energi yang dihasilkan oleh heliostat
E out =Ei x insolosi motoℎori (10)


b. Perencanaan komponen elektronika
Perencanaan komponen elektronika meliputi
1) Pembuatan rangkaian elektronika dalambentuk PCB
2) Pemasangan swithcontroller
3) Pemrograman microcontroller
4) Download program menggunakan microcontroller fort USB
5) Uji coba

Berikut merupakan gambaran umumsistemelektronika
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012

Gambar 3. Gambaran umumsistemelektronika
Sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa kedua pembangkit akan digabungkan dengan komponen elektronika
dan control untuk memaksimalken kerja dari kedua pembangkit.
- Untuk pembangkit listrik energi angin (PLTA) akan dipasang komponen elektronika dengan sensor
cahaya agar panel surya mengikuti pergeakan matahari sehingga akan memperbesar suplai listrik.
- pembangkit listrik energi angin akan dipasang sensor tekanan untuk megarahkan secara otomatis kemana
arah sudu sesuai dengan arah tekanan angin.
- Hasil keluaran kedua pembangkit akan digabungkan dalam satu baterai sharger dan dipasangkan
swithcontroller untuk mengatur daya listrik yang masuk ke beban (load). Adapun fungsi dari
swithcontroller adalah mengganti secara otomatis ketika sumber daya listrik yang lain mati. Dalam hal ini
bisa dari pembangkit listrik energi surya yang tidak bisa berkerja pada malamhari dan sumber dari PLN
yang terkadang mengalami gangguan.






Gambar 4. Bagan sistemaliran listrik kebeban
BATER
AI
Swithcontroller
Beban
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9

Gambar 5. Diagramblok sistemaliran listrik menuju ke beban
3. Hasil dan rancangan

Gambar 6. Hasil rancangan PLTS dan PLTA dengan systemmicrocontroller dan dynamo modifikasi

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:
Table 1. Pengukuran tegangan dan arus kedua pembangkit dengan penggabungan
komponen Elektronika
Pembangkit Tegangan (V) Arus (A)
PLTA 0.50 0.020
PLTS 0.10 0.016

Table 2. Pengukuran tegangan dan arus kedua pembangkit tanpa penggabungan
komponen Elektronika
Pembangkit Tegangan (V) Arus (A)
PLTA 0.30 0.013
PLTS 0.08 0.010

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-42
Table 3. Pengukuran tegangan dan arus kedua pembangkit dengan penggabungan komponen elektronika dan
dynamo modifikasi pada PLTA
Pembangkit Tegangan (V) Arus (A)
PLTA 0.80 0.05
PLTS 0.10 0.016

Table 4. Pengukuran tegangan dan arus kedua pembangkit dengan dynamomodifikasi pada PLTA dan tanpa
penggabungan komponen Elektronika

Pembangkit Tegangan (V) Arus (A)
PLTA 0.20 0.011
PLTS 0.08 0.010

4. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
a. Panel surya dapat beroperasi sesuai dengan yang direncanakan yaitu mampu mengikuti gerakan matahari
terhadap permukaan dengan bantuan sensor cahaya.
b. Baling-baling secara otomatis dapat mencari arah angin dengan bantuan sensor tekanan.
c. Switchcontroller dapat mengatur suplai listrik yang masuk kebeban, apabila listrik dari PLN mati maka
secara otomatis akan menghubungkan kesumber pembangkit yang terdapat arus, dengan bantuan sensor arus.
d. Terjadi perbedaan arus dan tegangan antara PLTS atau PLTA yang digabungkan dengan komponen
elektronika dan tanpa penggabungan.
e. Bila diaplikasikan ke skala normal pembangkit listrik dengan sistemkombinasi, dapat mensuplai listrik
secara kontinyu yaitu siang dan malamselama 24 jam.
Daftar pustaka
[1]. Elex Media Komputindo 2008. Membuat robot sederhana. http://www. robot pintar/co.html diakses pada
tanggal 14 Juni 2012
[2]. Geg P. Smestad, 2002, “Optoelectronics of Solar Cells”, SPIE PRESS.
[3]. Green, M. A., 2001, “Solar Cell Efficiency Tables (Version 18)”, Prog.Photovolt. Res. Appl., 9, 287-93
[4]. Hery Alamsyah, 2007. Turbin Angin Dua Sudu , Universitas Negeri Semarang
[5]. Shah, A., et al., 1999, “Photovoltaic Technology: The Case for Thin-FilmSolar Cells”, Science, 30 July, 285,
692-8
[6]. Sudjadi, 2005, Teori dan Aplikasi Mikrokontroler. Graha Ilmu Yogyakarta.
[7]. Suharismi, arikunto, 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta :Rineka Cipta.
[8]. Sutrisno, 1986, Elektronika Teori dan Penerapannya 1, Penerbit ITB, Bandung
[9]. Tokheim, R., 1995, Elektronika Digital, Erlangga, Jakarta




Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-43
Desain dan Implementasi Maximum Power Point Tracker Melalui Deteksi Arus

Edoe Arieska Aprilyanto
1)
, Leonardus. H. Pratomo
2)

Prodi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranana Semarang
1,2)

J l. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Duwur Semarang
E-mail : edoeaa@gmail.com
1)
, leonardus_hp@yahoo.com
2)

Abstrak
Krisis Energi yang melanda Indonesia perlu diperhatikan dan dicarikan solusinya. Energi
matahari sebagai salah satu jawabanya. Tetapi energi jenis ini memerlukan penanganan yang
baik sesuai dengan karakteristiknya. Pada makalah ini dikaji suatu teknik kendali untuk
memaksimalkan daya pada modul surya dengan teknik deteksi arus hubung pendek yang
diimplementasi dengan DC-DC konverter tipe step down. Tahap penelitian dilakukan dengan
memodelkan konverter sebagai suatu penyesuai impedansi sehingga didapat pembebanan dan
konverter akan dilihat sumber sebagai R
MPP
. Berdasarkan hasil dari percobaan laboratorium
alat dapat bekerja dengan baik dan memiliki effisiensi 84%.

Kata Kunci : Modul Surya, Arus hubung singkat, energi, DC DC konverter, R
MPP


Pendahuluan
Pemanfaatan energi sinar matahari menjadi energi listrik berkembang sangat pesat dengan menggunakan modul
surya, hal ini di dukung oleh adanya penelitian-penelitian modul surya yang memiliki nilai konversi energi yang tinggi.
Energi sinar matahari merupakan sumber energi yang ramah lingkungan, tersedia dalamjumlah yang besar, di dapat
dengan cuma-cuma, dan bersih. Pemanfaaan modul surya kebanyakan digunakan secara langsung dengan nilai keluaran
listrik arus searah dan membutuhkan baterai untuk menyimpannya. Kenyataanya konversi energi modul surya yang
digunakan secara langsung memiliki efisiensi yang rendah.
Metoda untuk mendapatkan nilai konversi energi maksimal suatu modul surya di dapat dilakkan dengan teknik
mendeteksi suatu tegangan dan atau arus yang dikenal dengan nama alogaritma tegangan terbuka dan alogaritma arus
hubung pendek[4,6]. Sistemkendali tegangan memiliki keuntungan antara lain pemakaian sensor lebih sedikit, tidak
menggunakan sistempengali yang rumit. Kendali daya dan tegangan membutuhkan sensor arus dan tegangan kemudian
dikalikan untuk membentuk besaran daya. Sistemini lebih rumit walaupun menghasilkan nilai konversi yang baik.
Pengendalian untuk mendapatkan daya maksimal modul surya dilakukan dengan beberapa teknik antara fuzzy
logic, lembah dan bukit, korelasi riak, dan kendali PI (proporional integral) dan lain-lain.Kekurangngan dari sistemini
adalah banyaknya sensor, alogaritma yang sulit, sehingga rangkaian menjadi rumit, maka dijual dengan harga yang
mahal[3,9,10,12].
Pada makalah ini akan dibahas suatu teknik memaksimalkan konversi daya sinar matahari menjadi energi listrik
dengan menggunakan deteksi arus yang dikendalikan dan menggunakan sistem pengkonversi besaran DC ke DC tipe
step down. Dengan teknik yang dikembangkan ini struktur rangkaian kendali konversi daya maksimal menjadi
sederhana dan mampu menghasilkan daya maksimal yang baik. Sistem ini diturunkan berdasarkan karakteristik
hubungan arus dan tegangan keluaran yang ada.

Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan studi literatur, analisis, simulasi
komputasi dan implementasi skala laboratorium. Berikut ini akan diuraikan tentang analisis modul surya, konverter
DC-DC tipe step down.

C. Modul Surya
Modul surya memiliki karakteristik arus terhadap tegangan, maka untuk mempermudah dibuat suatu
model rangkaian ekivalen. Suatu sel modul surya dapat digantikan dengan photodioda dan dengan adanya radiasi
cahaya akan mengahkibatkan arus yang mengalir I
ph
(photo current). Arus bercabang menuju dioda, tahanan shunt
(I
sh
) dan keluar ke beban (I
L
), seperti pada gambar 1.



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-44
irradiance
Rs
L
O
A
D
Rsh
IL
Iph
Ish
Id









Gambar 1.Rangkaian ekivalen sel modul surya

Besarnya persamaan arus adalah :

sh d ph L
I I I I ÷ ÷ =
(1)
Besarnya arus dioda adalah

( )
|
|
.
|

\
|
÷
+
= 1 exp
c
s
o d
T k m
R I V e
I I
(2)

Jika potensial modul surya dihubung singkat akan mengakhibatkan tegangan sebesar nol volt, sedangkan arus
hubung singkat yang terjadi memenuhi persamaan

sh
s
sh
R
I R V
I
+
=
(3)


Maka :


( )
sh
s
c
s
o ph d
R
I R V
T k m
R I V e
I I I
+
÷
|
|
.
|

\
|
÷
+
÷ = 1 exp
(4)

Maka hubungan arus hubung singkat dan arus photon dapat diturunkan sebagai berikut :
( )
sh s
Ph
sh
R R
I
I I
/ 1+
= =

Jika arus keluaran sama dengan arus yang dihasilkan photon, maka

Ph sh
I I I = =
(5)

Keterangan :
m=Idealizing fagtor
k =Konstanta Boltzman (1.381 x 10
-23
)
R
s
=Tahanan seri
R
sh
=Tahanan parallel
I
ph
=Arus akhibat photon
e =Muatan elektron (1.602 x 10
-19
)
I
D
=Arus dioda normal
I
o
=Arus saturasi pada saat gelap

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
LOAD
C
L
D
T
Vs
+
Vo
-
i-L
i-c
i-o
Vs
D
L
C
R
IL
IC
IO
Sehingga karakteristik arus tegangan hubung singkat terhadap tegangan oleh karena faktor sehu seperti pada
gambar 2.










Gambar 2. Kurva karakteristik modul surya arus hubung singkat dan tegangan karena faktor suhu

D. Konverter DC-DC
Konverter DC-DC digunakan untuk membentuk nilai variable tegangan keluaran sehingga beban yang
terpasang dan konverter ini akan dilihat oleh modul surya sebagai Rmpp, sehingga dayanya menjadi maksimal. Pada
Gambar 3 ditunjukkan suatu konverter jenis step down dengan mengimplementasikan BJT.








Gambar 3. Konverter jenis step down
Pada saat saklar pada kondisi, maka arus dari sumber tegangan DC masukan Vs akan mengalir melalui induktor
L lalu bercabang pada kapasitor C (arus riak) dan beban (arus dc). Karena pada durasi ini energi dari sumber diserap
induktor L, maka arus pada indukstor L akan naik (bertambah), gambar , Pada kondisi ini persamaan yang dapat
diturunkan adalah sebagai berikut :








Gambar 4. Mode 1, saklar konduksi
o L s
V V V + =


o s L
V V V ÷ =

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-46
Vs
D
L
C
R
IL
IC
IO

o s
V V
dt
di
L ÷ =


( )dt V V Ldi
o s
÷ =

karena durasi waktu dt adalah selama saklar pada kondisi konduksi, maka
( )
on o s
t V V Ldi ÷ = (6)
Sedangkan pada saat saklar dalam kondisi tidak konduksi, maka sumber tidak akan terhubung ke beban, tetapi karena
arus yang mengalir pada induktor L tidak dapat berubah secara mendadak, arus akan mengalir melalui induktor L,
beban dan kapasitor C serta dioda freewheeling D. Pada kondisi ini energi yang tersimpan pada induktor L akan dilepas
sehingga arus induktor L akan turun (berkurang), gambar 5. Persamaan pada saat saklar membuka adalah sebagai
berikut







Gambar 5. Mode 2, saklar tidak konduksi

o L
V V =
o
V
dt
di
L =
dt V Ldi
o
=
karena durasi waktu pada kondisi ini sama dengan waktu saklar membuka (off), maka
off o
t V Ldi = (7)
jika persamaan (6) dan (7) dieliminasi, maka diperoleh
( )
off o on o s
t V t V V = ÷
( ) ( )
off on o on s
t t V t V + =
( ) T V t V
o on s
=
T
t
V
V
on
s
o
=
d
V
V
s
o
=
(8)
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-47
Is
Vs
R o
d
2

Dengan memperhatikan hukumkesetaraan daya maka dapat diperoleh suatu persamaan :

i o
P P =


i i o o
I V I V =


s
o
R
d
R
=
2
(9)

Sehingga rangkaian ekivalen konverter diilustrasikan sebagai berikut :











Gambar 6. Rangkaian ekivalen konverter


Hasil dan Perancangan
Tegangan keluaran modul surya memiliki persamaan :

C S
L
L d ph
c
o
I R
I
I I I
q
T K A
V ÷
|
|
.
|

\
| ÷ +
=
(10)

Keterangan :
Q : Muatan elektron (1.602 ×10-19 C).
K : Konstanta Boltzmann (1.38 ×10-23 J/0K).
I
L
: Arus keluaran, A.
I
ph
: Arus photon(5 A).
I
d
: arus dioda (0.0002 A).
Rs : resistansi seri (0.001 _).
Tc : temperatur operasi (25 °C).
V
o
: Tagangan Keluaran, V.

Jika dimodelkan dalambentuk koefisien temperatur


| |
x A T TV
T T C ÷ + =  1

| |
A x
t
TI
T T
sc
C ÷ + =

1
(11)

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-48
Start
Pengukuran Isc
dan nilai K
Perhitungan
Impp =K Isc
Is
Impp =Isc
Stop
Yes
No
Keterangan :
C
TV
: Koefisien temperatur tegangan
C
TI
; Koefisien temperatur arus
Β : 0.004
γ : 0.06
T : Temperatur

Sehingga sistem memiliki faktor koreksi sebesai :

| |
C x S T SV
S S C ÷ + =   1

| |
C x SI
S S
sc
C ÷ + =
1
1

(12)
Keterangan :
α
S
: Slope
S
C
: Referensi benchmark
Sx : Kenaikan panas akhibat irradiation

Sehingga :

ph SI CI ph
I V V I =

SC MPP
I K I =

(13)

Dimana nikai K lebih kecil dari pada satu, atau nilai k bervariasi antara nilai 0.78 sampai 0.92. Sehingga alogaritma
kendali adalah sebagai berikut, gambar 7 dan diagramblok sistemseperti gambar 8:























Gambar 7. Alogaritma kendali arus



Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
K Modulator
Beban



Berikut ini adalah struktur kendali yang dibuat dan diimplementasi, gambar 9.















Gambar 8. Blok kendali kendali arus

Berikut ini akan disajikan beberapa pengujian antara lain kurva karakteristik modul surya, pengujian kendali secara
simulasi dengan menggunakan software Psim.













Gambar 9.Pengujian parameter modul surya 50 WP











Gambar 10.Pengujian sistemkendali dengan modul surya 50 WP







Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-50



Berikut adalah pengujian yang dilakukan pada saat matahari bersinar terang, tabel 1.

Tabel 1. Pengujian sistemmkendali
Load V
pv
I
pv
P
pv
V
out
I
out
P
out
%
1,5 12,8 2,6 33,28 12,65 2,25 28,4625 85,5
2 12,8 2,6 33,28 12,65 2,25 28,4625 85,5
2,5 12,9 2,6 33,54 12,7 2,2 27,94 83,3
3 12,9 2,6 33,54 12,75 2,2 28,05 83,6
3,5 12,9 2,6 33,54 12,75 2,2 28,05 83,6
4 13 2,6 33,8 12,8 2,2 28,16 83,3
4,5 13 2,6 33,8 12,8 2,2 28,16 83,3

Dari pengujian yang telah dilakukan sistem memiliki effisiensi konversi energi sebesar 84%

Ucapan Terima Kasih

Kami ucapkan terima kasih kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional,
karena telah membiayai penelitian dalamskema penelitian hibah bersaing 2011/2012

Kesimpulan

Dari hasil ujicoba yang dilakukan dengan simulasi komputasi menggunakan software Psimdan implementasi
skala laboratoriumsistem kendali dengan teknik arus hubung singkatyang dirancang dapat berjalan dengan baik dan
memiliki effisiensi sebesar 84%.

Daftar Pustaka
[1] A.K. Mukerjee, Nivedita Dasgupta, “ DC power supply used as photovoltaic simulator for testing mppt
algorithms.”, Renewable Energy, vol. 32, no. 4, pp. 587-592, 2007
[2] Dedy. P, Pratomo H.L dan Tejo. Y, 2010“ PemanfaatanMikrokontrolerTipe AT89S52
SebagaiPengendalianDayaMaksimumPada” CITEE, UGM Yogyakarta
[3] Eridanus dan Pratomo H.L, 2010,“ MetodePengendaliDaya Panel Surya denganKendaliAdaptif”,CITEE, UGM
Yogyakarta
[4] Felix. Y dan Pratomo, H. L, 2009“MemaksimalkanDaya Photovoltaic denganKorelasiRiak”, IES-ITS Surabaya
[5] Jonathan W. Kimball and Philip T. Krein, Digital Ripple Correlation Control for Photovoltaic Applications. IEEE
Power Elec. Conf., pp. 1690-1694, 2007.
[6] M.A.S. Masoum, H. Dehbonei, “Theoretical and experimental analysis of photovoltaic systems with voltage and
current based maximum power point trackers”, IEEE Transactions on Energy Conversion, vol. 17, NO. 4, pp. 514-
522, Dec 2002
[7] N. Femia, et. Al. “Optimization of Perturb and observe Maximum Power Point tracking Method,” IEEE Trans.
Power Electron., Vol. 20, pp. 963-973, July 2005
[8] Pratomo, H. L, 2005 , “Buck DC-DC Konverter Dengan Kendali One Cycle”, MILLENIUM, Vol 1. No 3
[9] Rinovi. A. D , Pratomo H.L dan Tejo. Y, 2010“Maximum Power Point Tracker padaPhotovoltaic Module
denganMenggunakanFuzzy Logic Controller”, , CITEE, UGM Yogyakarta
[10] TrishanEsram, J onathan W. Kimball, Philip T. Krein, Patrick L. Chapman, and PallabMidya, Dynamic Maximum
Power Point Tracking of Photovoltaic Arrays Using Ripple Correlation Control. IEEE Trans. on Power Elec., vol.
21, no. 5, pp.1282-1291, Sept. 2006.
[11] V. Salas, E. Olias, A. Barrado, and A. Lazaro, “Review of maximum power point tracking algorithms for stand
alone photovoltaic systems” Solar Matter, Solar Cells, vol. 90, no. 11, pp. 1555-1578, July 2006



Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-51
Transmisi Video Telemedicine Menggunakan H.264/SVC dan IEEE 802.11e

Emansa Hasri Putra
1)

J urusan Teknik Elektro, Politeknik Caltex Riau
1)

J l. Umban Sari No 1 Rumbai, Pekanbaru
Telepon (0761) 53939
E-mail : emansa@pcr.ac.id
1)
Abstrak
Sistem telemedicine memerlukan kualitas layanan jaringan dan biaya yang handal dan murah.
Teknologi Wireless Local Area Network (WLAN) IEEE 802.11 dapat dipertimbangkan untuk
memenuhi keperluan jaringan yang murah. Tapi untuk aplikasi telemedicine, teknologi WLAN
ini belum memenuhi keperluan untuk kualitas jaringan yang handal. Karena itu, konsep reka
bentuk lapisan silang dari WLAN telah diusulkan untuk mengatasi masalah ini. Reka bentuk
lapisan silang yang berdasarkan H.264/SVC dan EDCA IEEE 802.11e, telah dilakukan dengan
menggunakan simulasi Network Simulator 2 (NS2) dan pembuatan prototipe telemedicine
EDCA. Simulasi NS2 tersebut bertujuan untuk menghantarkan empat aliran trafik telemdicine
dengan prioritas yang berbeda-beda dan untuk menetapkan transmisi video telemedicine
berdasarkan kualitas layanan jaringan yang handal. Prototipe telemedicine juga bertujuan
untuk menghantarkan video telemedicine dengan jaminan kualitas layanan jaringan handal
melalui reka bentuk lapisan silang dari WLAN. Hasil simulasi NS2 menunjukkan bahwa reka
bentuk lapisan silang dari WLAN mampu menghantarkan sebesar 99,68 persen dari
keseluruhan paket video yang dihantar dengan rata-rata delay sebesar 10,66 milidetik. Selain
itu, hasil pengujian prototipe telemedicine juga menunjukkan reka bentuk lapisan silang dari
WLAN mampu menghasilkan rata-rata delay sebesar 0,5 milidetik. Jadi, reka bentuk lapisan
silang dari WLAN ini mempunyai potensi untuk dimanfaatkan dalam sistem telemedicine.

Kata Kunci : Telemedicine, Reka bentuk lapisan silang, WLAN, H.264/SVC, IEEE 802.11e.


1.Pendahuluan
Saat ini Wireless Local Area Network (WLAN) telah digunakan secara luas untuk mendukung aplikasi-aplikasi yang
berhubungan dengan video seperti video streaming, multimedia messaging, teleconference, voice over IP, dan video
telemedicine. Hal ini karena WLAN merupakan suatu solusi teknologi wireless yang mudah penyebarannya dan
implementasinya pun tidak rumit di dalamhal konfigurasi perangkat WLAN. WLAN juga memiliki karakteristik
unggul dibandingkan dengan solusi wireless lainnya, yaitu mobilitas, data rate yang tinggi, dan biaya infrastruktur yang
murah.
Transmisi aplikasi yang berhubungan dengan video seperti video telemedicine akan mengalami hambatan-hambatan
meliputi low throughput, delays, jitter dan packet lost selama proses transmisinya melalui WLAN. Hal ini karena
WLAN memiliki karakteristik spesifik yang dapat mempenagruhi proses transmisi tersebut meliputi time-varying
channel, transmission error, dan fluctuating bit rate, yang disebabkan oleh noise, interferensi, dan multiple fading. Jadi
sistem pengkodean video yang dipergunakan untuk transmisi tersebut perlu untuk beradaptasi terhadap karakteristik
WLAN tersebut.
Baru-baru ini, standar Scalable Video Coding (SVC) [1] yang merupakan perkembangan dari standard H.264/AVC
telah memungkinkan suatu aliran bit video untuk beradaptasi terhadap time-varying channel, transmission error, dan
fluctuating bit rate. SVC juga menyediakan dukungan skalabilitas terhadap perangkat-perangkat sisi penerima yang
memiliki keanekaragaman dalam hal display resolution dan processing power. Dan tambahan, SVC dapat mendukung
throughput yang lebih rendah dan memperbaiki efisiensi pengkodean lebih baik dibandingkan dengan teknik
pengkodean video sebelumnya seperti H.262/MPEG-2, H.263, MPEG-4, dan H.264/AVC.
Standar IEEE 802.11e telah mengeluarkan suatu metode akses saluran baru yaitu Enhanced Distributed Channel
Access (EDCA) di lapisan datalink dari protokol OSI. Metode ini bertujuan untuk mendukung Quality of Service (QoS)
melalui penyediaan kelas-kelas prioritas yang dibagi kedalam empat kategori akses (access categories, ACs). Kategori
akses ini memungkinkan aliran-aliran suara dan video untuk memperoleh prioritas pertama dan kedua berturut-turut
untuk dilayani oleh lapisan media access control (MAC) [2]. Jadi EDCA ini akan meningkatkan kehandalan terhadap
transmisi aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan video seperti video telemedicine yang melalui wireless LAN.
Terdapat paper sebelumnya yang juga mengusulkan konsep reka bentuk lapisan silang di jaringan wireless. Di
paper [3], fokusnya adalah pada optimasi cross layer diantara lapisan aplikasi, data link, dan fisik untuk memperoleh
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-52
quality of service terhadap aplikasi wireless streaming video. Suatu algoritma cross layer scheduling digunakan di [4]
untuk peningkatan throughput di WLAN yang mempertimbangkan metode scheduling dan informasi lapisan fisik.
Penulis [5] menggunakan standar H.264/AVC di lapisan aplikasi melalui jaringan wireless IEEE 802.11e EDCA.
Pengkodean video MPEG-4 FGS and FEC digunakan di lapisan aplikasi untuk mengirimkan aplikasi video melalui
WLAN IEEE 802.11a [6]. Di [7], penulis menggunakan pengkodean video MCTF di lapisan aplikasi melalui jaringan
wireless IEEE 802.11 a/e HCCA.
Di paper ini, suatu pendekatan baru dalamhal transmisi aplikasi video telemedicine yang melalui wireless LAN
dilaksanakan untuk memberikan garansi bandwidth (QoS) terhadap permintaan koneksi dari aplikasi video
telemedicine. Pendekatan ini menggunakan konsep reka bentuk lapisan silang yang berdasarkan pada H.264/SVC dan
jaringan wireless LAN IEEE 802.11e untuk mengoptimalkan standar protokol wireless LAN yang sudah ada sekarang.
Dari hasil-hasil data yang diperoleh, aplikasi video telemedicine dapat memperoleh bandwidth yang dibutuhkan
berdasarkan syarat Quality of Service (QoS) selama proses transmisinya melalui wireless LAN.
Paper ini diorganisasikan sebagai berikut. Konsep umum dari sistem telemedicine mencakup Telemedicine,
H.264/SVC, dan jaringan wireless IEEE 802.11e dijelaskan di bagian II. Bagian III menjelaskan konsep reka bentuk
lapisan silang dari wireless LAN untuk transmisi video telemedicine. Bagian Hasil yang terdiri dari model simulasi dan
prototipe telemedicine dijelaskan di bagian IV. Kemudian hasil dan analisa disimpulkan di bagian V.

2. Sistem telemedicine
2.1 Telemedicine
Telemedicine merupakan layanan kesehatan yang dilaksanakan menggunakan infrastruktur jaringan seperti LAN,
WLAN, ATM, MPLS, 3G, dan lain-lain, untuk menyediakan kualitas layanan kesehatan di daerah pedesaan, kota kecil,
atau daerah terisolasi [8]. Selanjutnya, telemedicine melibatkan interaksi diantara dokter spesialis di satu station dan
pasien di station lainnya dan menggunakan aplikasi kesehatan yang dapat dibagi kedalamkategori video image, image,
clinical equipment, dan radiographic image.
Penulis di [9] telah mempresentasikan satu contoh dari keuntungan telemedicine yaitu ambulatory patient care
untuk remote area. Aplikasi lain telah dilaksanakan di [10] untuk cancer care di rural area. Aplikasi telemedicine
teknologi tinggi juga telah dikembangkan di [11].
Saat ini, aplikasi telemedicine menggunakan infrastruktur jaringan kabel dan wireless. Infrastruktur telemedicine
dengan jaringan kabel telah diusulkan menggunakan Integrated Service Digital Network (ISDN) [12], Asynchronous
Transfer Modes (ATM) [13], Very Small Aperture Terminal (VSAT) [14], dan Asymmetric Digital Subscriber Line
(ADSL) [15]. Telemedicine juga telah dilaksanakan di jaringan wireless menggunakan Wireless LAN (WLAN) [16],
Worldwide Interoperability for Microwave Access (WIMAX) [17], Code Division Multiple Access (CDMA) 1X-EVDO
[18], dan General Packet Radio Switch (GPRS) [19].
Tiap-tiap infrastruktur memiliki hambatannya sendiri, terutama ketika dilaksanakan di suatu remote area. Sebagai
contoh, Asynchronous Transfer Mode (ATM) dan Multi Protocol Label Switching (MPLS) memiliki hambatan di sisi
mobilitas dan skalabilitas, meskipun kedua kedua jaringan tersebut memiliki Quality of Service (QoS) yang baik dan
stabilitas dalamhal mengirimkan data [20]. Kerapuhan dari jaringan 3G UMTS telah dieksplorasi di [21], dimana biaya
implementasinya tinggi dan tidak mendukung QoS.
Untuk saat ini belumada aturan spesifik yang mendefinisikan syarat Quality of Services (QoS) untuk aplikas
telemedicine. Dan tambahan, QoS adalah batasan QoS yang secara jelas diekspresikan dalamnilai kuantitatif yaitu data
rate, delay bounds, jitter, dan packet loss [22]. Jadi, kami mengacu kepada [23] untuk mendapatkan syarat QoS untuk
aplikasi telemedicine.
Tabel 1 menunjukkan keluaran data rate yang dibutuhkan untuk sistemtelemedicine yang terdiri dari tujuh
perangkat medis. Tabel 2 menunjukkan batasan QoS yang dibutuhkan untuk aplikasi telemedicine meliputi throughput,
delay, jitter dan packet loss.

Tabe1 1 Keluaran data rate yang dibutuhkan [23]
Devices
Data Rates
Good Excellent
ECG 2 kbps 12 kbps
Doppler Instrument 40 kbps 160 kbps
Blood Pressure Monitor 1 kbps 1 kbps
Ultrasound Machine 100 kbps 400 kbps
Camera 100 kbps 2,000 kbps
Stethoscope 40 kbps 160 kbps
Microphone 40 kbps 160 kbps
Total 323 kbps 2,893 kbps

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-53

Tabel 2 Batasan QoS untuk aplikasi telemedicine [23]
Parameter Definition Requirement
throughput packet arrival rate min 323 kbps
delay the time taken by a packet to reach its destination max 100 ms
jitter time of arrival deviation between packets max 50 ms
packet loss percentage of non-received data packets max 5 %

2.2. Standar H.264/SVC
Jaringan wireless atau WLAN memiliki karakteristik spesifik yang dapat mempengaruhi transmisi video terdiri dari
time-varying channel, transmission error, dan fluctuating bit rate yang disebabkan oleh noise, interferensi, dan multiple
fading. Jadi suatu teknik pengkodean video seharusnya beradaptasi dengan karakteristik jaringan wireless tersebut [24].
Standar Scalable Video Coding (SVC) merupakan perkembangan dari H.264/AVC yang secara luas digunakan
untuk transmisi video seperti multimedia messaging, video telephony, video conference, Mobile TV, dan aplikasi mobile.
SVC menyediakan kemampuan skalabilitas untuk meningkatkan fitur-fitur dari sistempengkodean video sebelumnya
seperti H.262/MPEG-2, H.263, MPEG-4, dan H.264/AVC. Dan tambahan, SVC memiliki kemampuan adaptasi
terhadap kondisi-kondisi jaringan wireless dan keanekaragaman dari perangkat penerima.
Bentuk-bentuk umum dari skalabilitas meliputi temporal, spatial, dan quality scalability. Spatial scalability
merupakan suatu teknik pengkodean video dimana ukuran gambar (spatial resolution) dari sumber video dikurangi.
Temporal scalability berarti beberapa bagian dari aliran bit video dikurangi dalam hal frame rate (temporal resolution).
Kemudian quality scalability merupakan suatu teknik pengkodean video dimana resolusi spatio-temporal dari sumber
video masih tetap, tetapi ketepatan (fidelity) dikurangi. Gambar 1 menunjukkan konsep dasar dari SVC yang merupakan
kombinasi dari temporal, spatial, dan quality scalability. Untuk penjelasan lengkap tentang konsep SVC dapat dirujuk
di [25].



Gambar 1. Struktur SVC encoder [25]

2.3. Jaringan Wireless IEEE 802.11e
Standar IEEE 802.11e telah mengeluarkan suatu metode akses saluran baru yaitu Enhanced Distributed Channel
Access (EDCA) di lapisan datalink dari protokol OSI. Metode ini bertujuan untuk mendukung Quality of Service (QoS)
melalui penyediaan kelas-kelas prioritas yang dibagi kedalam empat kategori akses (access categories, ACs). Access
Point (AP) dan wireless station yang telah mendukung standar IEEE 802.11e dinamakan QoS-enhanced AP (QAP) dan
QoS-enhanced station (QSTA) [22].



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-54
Gambar 2. Model IEEE 802.11e EDCA [26]
EDCA terdiri dari empat kategori akses, mulai dari prioritas tertinggi sampai prioritas terendah untuk mendukung
trafik voice (AC_VO), video (AC_VI), best effort (AC_BE), dan background (AC_BK) berturut-turut, seperti
diperlihatkan di Gambar 2. Tabel 3 menunjukkan hubungan antara prioritas user dan kategori akses, mulai dari
prioritas terendah sampai prioritas tertinggi.

Tabel 3 Hubungan antara prioritas user dan kategori akses [26]
Priority User
Priority
802.1D
Designation
Access
Category
Designation
Lowest 1 BK AC_BK Background
2 - AC_BK Background
0 BE AC_BE Best Effort
3 EE AC_BE Video
4 CL AC_VI Video
5 VI AC_VI Video
6 VO AC_VO Voice
Highest 7 NC AC_VO Voice

Tiap-tiap kategori akses di EDCA memiliki nilai Arbitrary Interframe Space (AIFS), Minimum Contention Windows
(CW
min
), Maximum Contention Windows (CW
max
), dan Transmission Opportunity (TXOP) tersendiri dimana prioritas
tertinggi akan diberikan nilai terendah untuk AIFS, CW
min
, CW
max
, dan nilai tertinggi untuk TXOP sehingga
memperoleh kesempatan pertama untuk akses saluran, sedangkan untuk prioritas terendah adalah proses kebalikannya
seperti digambarkan di Gambar 2 [26].

3. Konsep reka bentuk lapisan silang
Reka bentuk lapisan silang adalah paradigma baru untuk mengoptimasi arsitektur OSI yang ada. Tiap-tiap lapisan
dari protokol OSI memiliki tugas dan layanan yang bebas satu sama lain dan tidak ada komunikasi langsung diantara
lapisan yang berdekatan. Reka bentuk lapisan silang memungkinkan untuk menyediakan ketergantungan dan
komunikasi diantara lapisan untuk memilih solusi yang optimal. Optimasi ini diperlukan untuk adaptasi terhadap
lingkungan wireless dan mendukung QoS untuk aplikasi video telemedicine [28].
Konsep Reka bentuk lapisan silang dapat dibagi kedalam tiga ide utama yang terdiri dari:
 Parameter abstraction: Informasi yang perlu dikumpulkan dari lapisan aplikasi, datalink, dan fisik melalui suatu
proses parameter abstraction. Proses parameter abstraction memilih parameter spesifik dari lapisan protokol yang
ada kedalam parameter yang mungkin untuk dilaksanakan cross-layer optimizer, sehingga dinamakan cross-layer
parameters.
 Cross-layer optimization: Parameter yang diperoleh dari parameter abstraction kemudian dilaksanakan proses
optimasi untuk mendapatkan suatu objektif tertentu.
 Decision distribution: Hasil dari cross-layer optimization kemudian didistribusikan kembali ke lapisan-lapisan yang
berhubungan.
Seperti diperlihatkan di Gambar 3, simulasi NS2 yang dilaksanakan terdiri dari satu expert station dihubungkan ke
sebuah access point WLAN IEEE 802.11g, dan wireless patient station yang akan mengakses expert station di sisi
lainnya. Seorang dokter spesialis di sisi expert station akan melakukan aplikasi telemedicine yang melibatkan data,
video, dan voice untuk memeriksa pasien di sisi patient station melalui infrastruktur WLAN.

Gambar 3. Reka bentuk lapisan silang dari Wireless LAN untuk transmisi video telemedicine

Untuk memberikan jaminan bandwidth terhadap permintaan koneksi dari aplikasi telemedicine dari patient station
ke expert station dan sebaliknya, kami melaksanakan reka bentuk lapisan silang dari protokol WLAN yang ada. tiga
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-55
lapisan OSI dipertimbangkan tiga lapisan OSI, yaitu lapisan aplikasi, datalink, dan fisik. Informasi penting dari tiga
lapisan tersebut dikumpulkan melalui suatu proses parameter abstraction. Kemudian, informasi tersebut dioptimasi
untuk memenuhi syarat QoS dari aplikasi telemedicine. Hasil dari optimasi diimplementasikan kembali ke lapisan
aplikasi, datalink, dan fisik.
H.264/SVC digunakan sebagai teknik pengkodean video di lapisan aplikasi karena standar ini memiliki kemampuan
untuk mendukung teknologi yang ada sekarang seperti digital television, animated graphics, dan aplikasi multimedia.
Dan selanjutnya, implementasinya menggunakan bit rate yang rendah di jaringan wireless sehingga dapat diakses
dengan mudah oleh perangkat penerima yang beranekaragam. Di lapisan datalink, kami menggunakan standar IEEE
802.11e yang telah mengeluarkan suatu metode akses saluran baru yaitu Enhanced Distributed Channel Access (EDCA)
di lapisan datalink dari protokol OSI. Di lapisan fisik, kami menggunakan standar IEEE 802.11g yang saat ini banyak
tersedia di perangkat-perangkat wireless LAN. Standar ini beroperasi di frekuensi 2,4 GHz dan mendukung standar
WLAN sebelumnya seperti 802.11a and 802.11b [29].
Prototipe Telemedicine IEEE 802.11e EDCA terdiri dari Access Point nirkabel (AP) dan sebuah stasiun nirkabel
(STA). Sebuah Access Point nirkabel (AP) merupakan komputer pribadi (PC) yang dilengkapi dengan kartu nirkabel
TP-LINK TL-WN551G, dan Debian Linux OS 4, dan dikonfigurasi sebagai Access Point nirkabel (AP) menggunakan
perangkat lunak madwifi di PC. Sebuah stasiun nirkabel juga merupakan PC yang dilengkapi dengan kartu nirkabel TP-
LINK TL-WN551G, dan Debian Linux OS 4, dan dikonfigurasi sebagai stasiun nirkabel (STA) melalui perangkat lunak
madwifi di PC.

4. Simulasi Dan Hasil
Simulasi ini dilaksanakan menggunakan software simulasi NS2 [30] yang terdiri dari tiga cara. Pertama, video SVC
“Sony Demo” [31] dikirimkan melalui WLAN yang menggunakan konsep reka bentuk lapisan silang . Kemudian,
video “Sony Demo” tersebut juga dikodekan menggunakan single layer H.264/AVC, temporal scalability, dan spatial
scalability [32] berturut-turut dan dikirimkan melalui WLAN yang menggunakan konsep reka bentuk lapisan silang .
Selanjutnya, kami juga menggunakan video MPEG4 “Jurassic Park 1” [33] yang dikirimkan melalui WLAN yang
menggunakan konsep reka bentuk lapisan silang . Terakhir, hasil simulasi video SVC tersebut dibandingkan dengan
simulasi video lainnya. Disini hanya menggunakan satu QSTA dan satu QAP.
Kedua, ada empat jenis aliran trafik diantara QSTA dan QAP yang dikirimkan melalui WLAN yang menggunakan
konsep reka bentuk lapisan silang . Aliran pertama adalah trafik VoIP dengan data rate 64 Kbps menggunakan
protokol UDP dan merupakan prioritas tertinggi. Aliran kedua adalah trafik video yang menggunakan video SVC “Sony
Demo” dan protokol UDP dan merupakan prioritas tertinggi kedua. Aliran ketiga adalah trafik CBR dengan data rate
125 Kbps menggunakan protokol UDP dan merupakan prioritas tertinggi ketiga. Aliran keempat adalah trafik FTP
dengan data rate 512 Kbps menggunakan protokol TCP dan merupakan prioritas terendah. Di cara kedua ini lima
QSTA dan satu QAP untuk meningkatkan trafik di wireless LAN.
Ketiga, empat jenis aliran trafik diantara QSTA dan QAP yang dikirimkan melalui wireless LAN IEEE 802.11b.
Aliran pertama adalah trafik VoIP dengan data rate 64 Kbps dan menggunakan protokol UDP. Aliran kedua adalah
trafik video yang menggunakan video SVC “Sony Demo” dan protokol UDP. Aliran ketiga adalah trafik CBR dengan
data rate 125 Kbps dan menggunakan protokol UDP. Aliran keempat adalah trafik FTP dengan data rate 512 Kbps dan
menggunakan protokol TCP. Di cara ketiga ini lima QSTA dan satu QAP untuk meningkatkan trafik di wireless LAN.
Gambar 4 menunjukkan nilai throughput untuk lima aliran video berbeda ketika melalui jaringan wireless IEEE
802.11e EDCA. Video SVC “Sony Demo” memiliki throughput paling rendah dibandingkan dengan video-video
lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa H.264/SVC memiliki kemampuan untuk mereduksi bit rate yang dibutuhkan
untuk kualitas video yang sama, dimana video-video lainnya membutuhkan throughput yang lebih tinggi.



Gambar 4. Nilai throughput untuk lima aliran video berbeda ketika melalui jaringan wireless IEEE 802.11e EDCA
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-56

Gambar 5 menunjukkan nilai throughput dari empat aliran dengan prioritas berbeda ketika melalui WLAN yang
menggunakan konsep reka bentuk lapisan silang . Aliran voice dan video memperoleh throughput yang ditetapkan,
yaitu 64.13 Kbps dan 309.59 Kbps berturut-turut. Di gambar 5, aliran yang memiliki prioritas tinggi kelihatan stabil
selama transmisinya melalui wireless LAN. Hal ini karena skema EDCA menghubungkan paket-paket voice dan video
dengan kategori akses 1 (AC1) dan kategori akses (AC2) sehingga memperoleh kesempatan akses saluran yang lebih
besar. Di skema EDCA, AC1 dan AC2 memiliki prioritas lebih tinggi, dan AC1 dan AC2 ditetapkan dengan nilai
CWmin, CWmax, dan AIFS yang lebih kecil, dan nilai TXOP yang lebih besar untuk mempengaruhi kesempatan
transmisi yang berhasil.
Gambar 6 menunjukkan nilai throughput dari empat aliran dimana tidak ada prioritas ketika melalui wireless LAN
IEEE 802.11b. Aliran VoIP memiliki throughput sama dengan aliran FTP. Ini menunjukkan bahwa aliran VoIP yang
dibatasi oleh delay akan bersaing dengan dengan aliran FTP yang tidak dibatasi oleh delay untuk memperoleh
bandwidth yang tersedia. Hal ini dapat terjadi karena tidak ada prioritas di media jaringan wireless, sehingga tiap-tiap
aliran trafik akan bersaing satu sama lain untuk mengakses media jaringan wireless tersebut.


Gambar 5. Nilai throughput dari empat aliran dengan prioritas berbeda ketika melalui WLAN
yang menggunakan konsep reka bentuk lapisan silang .


Gambar 6. Nilai throughput dari empat aliran dimana tidak ada prioritas ketika melalui wireless LAN IEEE 802.11b

Tabel 4 menunjukkan nilai throughput rata-rata, delay dan packet loss dari aliran video untuk tiap-tiap teknik
pengkodean video yang melalui WLAN yang menggunakan konsep reka bentuk lapisan silang. Konsep reka bentuk
lapisan silang dapat mengirimkan 99,68% paket video dengan rata-rata delay adalah 10,66 milidetik. Kemudian,
konsep reka bentuk lapisan silang memiliki nilai packet loss paling rendah dibandingkan dengan solusi-solusi
sebelumnya seperti Static Mapping dan Adaptive Cross Layer Mapping [34].




Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-57

Tabel 4 Nilai throughput rata-rata, delay dan packet loss dari aliran video
untuk tiap-tiap teknik pengkodean video
Average
Throughput (Kbps)
Delay
(ms)
Packet
Loss (%)
H.264/SVC 309.59 10.66 0.32
H.264/AVC 1,314.51 11.30 52.17
Temporal Scalability 1,482.63 11.32 54.34
Spatial Scalability 1,600.53 11.42 52.46
MPEG4 731.24 10.27 0.38

Hasil pengujian prototipe telemedicine pada Gambar 7 menunjukkan delay yang dialami oleh aliran video SVC melalui
prototipe telemedicine 802.11e IEEE EDCA adalah rata-rata 0,5 ms. Dan aliran video SVC melalui prototipe
telemedicine 802.11e IEEE EDCA memiliki throughput rata-rata adalah 41.15 KBps.


Gambar 7. Hasil pengujian prototipe telemedicine

5. Kesimpulan
Suatu konsep reka bentuk lapisan silang dari wireless LAN telah digunakan untuk mengirimkan empat aliran
trafik dari aplikasi video telemedicine dengan prioritas berbeda dan untuk menetapkan video telemedicine dengan
jaminan QoS. Konsep ini telah disimulasikan di lingkungan software simulasi NS2 dan diimplementasikan di prototipe
telemedicine IEEE 802.11e EDCA. Hasil-hasil menunjukkan bahwa konsep reka bentuk lapisan silang dapat mencapai
kinerja lebih baik dalam hal throughput, delay, dan packet loss dibandingkan dengan wireless LAN standar. Jadi desain
baru ini berpotensi untuk digunakan di sistemtelemedicine.

6. Referensi
[1] T. Schierl, T. Stockhammer, and T. Wiegand, “Mobile Video Transmission Using Scalable Video Coding”, IEEE
Transactions on Circuits and Systems for Video Technology, Vol 17 No 9, September, 2007.
[2] H. Kim, J. C. Hou, C. Hu, and Y. Ge, “QoS Provisionings in IEEE 802.11-complaint Networks”, Elsevier, 2006.
[3] L.U. Choi, W. Kellerer, E. Steinbach, “On Cross-Layer Design for Streaming Video Delivery in Multiuser Wireless
Environments”, EURASIP Journal on Wireless Communications and Networking, 2006.
[4] S. W. Kim, “Cross-Layer Scheduling Algorithm for WLAN Throughput Improvement”, Springer-Verlag Berlin
Heidelberg, 2006.
[5] A. Ksentini, M. Naimi, and A. Gueroui, “Toward an Improvement of H.264 Video Transmission over IEEE 802.11e
through A Cross-Layer Architecture”, IEEE Comm. Magazine, 2006.
[6] M. van der Schaar, S. Krishnamachari, S. Choi, and X. Xu, “Adaptive Cross-Layer Protection Strategies for Robust
Scalable Video Transmission Over 802.11 WLANs”, IEEE Journal on Selected Areas in Communication, 2003.
[7] M. van der Schaar, Y. Andreopoulus, and Z. Hu, “Optimized Scalable Video Streaming over IEEE 802.11a/e HCCA
Wireless Networks under Delay Constraints”, IEEE Transaction on Mobile Computing, 2006.
[8] H S Ng, M L Sim, C M Tan and C C Wong, “Wireless Technologies for Telemedicine”, BT Technology J ournal,
Vol 24 No 2, April, 2006.
[ 9] S. Pav l opoul os, E. Ky r i acou, A. Ber l er , S. Dembey i ot i s, D. Kout sour i s, “ A nov el emer genc y
t el emedi c i ne s ys t em based on wi r el es s c ommuni c at i on t ec hnol ogy - Ambul anc e” , IEEE Transactions
on Technology in Biomedicine, v ol . 2, no. 4, p. 261 – 267, 1998.
Delay Plot for SVC/EDCA
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
6
.
6
7
6
.
7
3
6
.
7
5
6
.
7
9
6
.
8
1
6
.
8
3
6
.
8
6
6
.
8
8
7
.
0
6
7
.
6
8
8
.
8
8
9
.
7
2
1
1
Time (second)
D
e
l
a
y

(
m
s
)
SVC Video Flow
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-58
[ 10] S. Sudhamony, K. Nandak umar , P. Bi nu, and S. Ni was , “ Tel emedi ci ne and t el e- heal t h s er vi c es
f or c ancer - car e del i v er y i n I ndi a” , IET Communications, v ol . 2, no. 2, p. 231 – 236, 2008.
[ 11] X. Xi aohui , D. Rux u, S. Li ni ng, and D. Zhi j i ang, “ I nt er net based t el esur ger y wi t h a bone-
s et t i ng s y s t em” , Pr oc . IEEE International Conference on Integration Technology, Shenzhen, 2007.
[ 12] M. Al - Taei , “ Tel emedi ci ne needs f or mul t i medi a and i nt egr at ed s er vi c es di gi t al net wor k
( I SDN) ” , Proc. ICSC Congress on Computational Intelligence Methods and Applications, I EEE, Amman,
J or dan, 2005.
[ 13] J . J. Cabr al , and Y. Ki m, “ Mul t i medi a s yst ems f or t el emedi c i ne and t hei r c ommuni c at i ons
r equi r ement s” , IEEE Communications Magazine, 1996.
[ 14] P. S. Pandi an, K. P. Saf eer , D. T. Shak unt hal a, V. C. Padak i , “I nt er net Pr ot oc ol Bas ed
St or e and For war d Wi r el es s Tel emedi c i ne Sy s t em f or VSAT and Wi r el es s Local Ar ea Net wor k” ,
Pr oc. International Conference on Signal Processing, Communications and Networking, I EEE,
Chennai , 2007.
[ 15] L. Li ng, Y. Dez hong, L. J i anqi g, L. Bi n, W. Li ng, “ A mul t i medi a t el emedi ci ne sy s t em” ,
Pr oc. 27th Annual International Conference of the Engineering in Medicine and Biology Society, I EEE,
2005.
[ 16] C. Kugean, S. M. Kr i s hnan, O. Chut at ape, S. Swami nat han, N. Sr i ni v asan, and P. Wang,
“ Des i gn of a mobi l e t el emedi c i ne sys t em wi t h WLAN, Pr oc . Asia-Pacific Conference on Circuits and
Systems’, I EEE, Si ngapor e, 2002.
[ 17] I . Chor bev , M. Mi haj l ov, I . J ol ev s k i , “ Wi MAX suppor t ed t el emedi ci ne as par t of an
i nt egr at ed s y st em f or e- medi c i ne” . Proc. 30
th
International Conference on Information Technology
Interfaces, I EEE, Dubr ov ni k, 2008.
[ 18] S. K. Yoo, S. M. J ung, B. S. Ki m, H. Y Yun, S. R. Ki m, D. K. Ki m, “ Pr ot ot y pe Des i gn of
Mobi l e Emer gency Tel emedi c i ne Sy st em” , Pr oc. Computational Science and Its Applications,
Spr i nger , Ber l i n, 2005.
[ 19] O. J. Gi bson, W. R. Cober n, P. M. Hay t on, and L. Tar as senk o, “ ‘ A GPRS mobi l e phone
t el emedi c i ne s ys t em f or s el f - management of t ype 1 di abet es” , Pr oc. 2
nd
IEEE EMBSS
Conference on Biomedical Engineering and Medical Physics, Bi r mi ngham, 2003.
[20] P. Nanda, and R. Fernandes, “Quality of Service in Telemedicine”, Proc. First International Conference on the
Digital Society, IEEE, 2007.
[21] Y. E. Tan, N.P. and R.S.H.Istepanian, “Fragility Issues of Medical Video Streaming over 802.11e-WLAN m-health
Environments”, Proc. the 28th IEEE EMBS Annual International Conference, 2006.
[22] Q. Ni, T. Turletti, “QoS Support for IEEE 802.11 Wireless LAN”. http://www-sop.inria.fr/planete/qni/ 802.11
QoS_qni.pdf
[23] E. Supriyanto, H. Satria, I. H. Mulyadi, E. H. Putra, “A Novel Low Cost Telemedicine System Using Wireless
Mesh Network”, 3
rd
SEATUC Symposium, 2009.
[24] W. Li, “Overview of Fine Granularity Scalability in MPEG-4 Video Standard”, IEEE Transaction on Circuits and
Systems for Video Technology, 2001.
[25] H. Schwarz, D. Marpe, and T. Wiegand, “Overview of Scalable Video Coding Extension of The H.264/AVC
Standard”, IEEE Transactions on Circuits and Systems for Video Technology, Vol 17 No 9, September, 2007.
[26] H. Kim, J. C.Hou, C. Hu, and Y. Ge, “QoS Provisionings in IEEE 802.11-complaint Networks”, Elsevier, 2006.
[27] C. Cicconetti, L. Lenzini, E. Mingozzi, G. Stea, “A Software Architecture for Simulating IEEE 802.11e HCCA”,
Proc. 3rd Internet Performance, Simulation, Monitoring and Measurement IPS-MoMe 2005 March 14-15, Warsaw
(Poland), 2005.
[28] Y. Chen, J . Feng, K. T. Lo, X. Zhang, “Wireless Multimedia Systems: Cross Layer Considerations”, Taylor &
Francis Group, LLC, 2008.
[29] H. Labiod, H. Afifi, and C. Santis, “Wi-Fi Bluetooth Zigbee WiMAX”, Springer, 2007
[30] C. H. Ke, http://140.116.72.80/~smallko, 2006.
[31] G. Auwera, and M. Reisslein, “Implications of Smoothing on Statistical Multiplexing of H.264/AVC and SVC
Video Streams” IEEE Transactions on Broadcasting, 55(3):541-558, September, 2009.
[32] G. Auwera, P. T. David, and M. Reisslein, “Traffic and Quality Characterization of Single-Layer Video Streams
Encoded with H.264/MPEG-4 Advanced Video Coding Standard and Scalable Video Coding Extension”. IEEE
Transactions on Broadcasting, 54(3):698-718, September, 2008.
[33] Trace Files, http://trace.eas.asu.edu/TRACE/ltvt.html, 1993.
[34] C.-H.Lin, C.-K.Shieh, C.-H.Ke, N. K. Chilamkurti, and S. Zeadally, “An adaptive cross-layer mapping algorithm
for MPEG-4 video transmission over IEEE 802.11e WLAN”, Telecommunication Systems, 42, 223-234. Springer
Netherlands, 2009.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-59
[35] P. Ansel, Q. Ni, and T. Turletti, “ FHCF: A Simple and Efficient Scheduling Scheme for IEEE 802.11e Wireless
LAN”, Mobile Networks and Applications, 11, 391-403, Springer Netherlands, 2006.
[36] A. A. Bourawy, “Scheduling in IEEE 802.11e Networks with Quality of Service Assurance”, Master of Science,
Queen’s University, Canada, 2008


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-60
Mobile Cloud Berbasis Virtual Smartphone Over IP

Ferrianto Gozali
1)
dan Rizki Abrar
2)

J urusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti
J alan Kiai Tapa, Grogol, J akarta, Indonesia
ferrianto@trisakti.ac.id
1)
, rizkiabrar@gmail.com
2)


Abstrak
Pengguna Smartphone umumnya dihadapi oleh masalah cepatnya perkembangan serta variasi
program aplikasi dengan spesifikasi yang semakin tinggi. Akibatnya, pengguna terpaksa
mengganti perangkat keras yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhannya akan aplikasi
tersebut. Mobile cloud berbasis Virtual Smartphone over Internet Prtocol (IP) adalah suatu
sistem yang dirancang sedemikian rupa sehingga sistem operasi smartphone dapat
memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh Komputer Personal (PC) dengan menggunakan
mesin virtual dan dikendalikan secara remote. Dengan demikian, program aplikasi dengan
spesifikasi yang relatif lebih tinggi dapat digunakan oleh pengguna smartphone tanpa dibatasi
oleh hardware smartphone yang mereka miliki. Dalam hal ini, VMware ESXi digunakan
sebagai aplikasi virtualisasi yang diinstall pada komputer host dan dikonfigurasikan dengan
menggunakan aplikasi VSphere Client yang terdapat pada komputer yang berbeda dengan host.
Dalam sistem ini, sistem operasi Smartphone yang digunakan adalah Android. Hal ini
disebabkan oleh kemampuan Android untuk dapat berjalan pada Arsitektur x86 yang
merupakan syarat untuk sistem operasi agar dapat berjalan pada mesin virtual. Untuk aplikasi
remote, digunakan aplikasi Virtual Network Computing (VNC). VNC adalah aplikasi remote
desktop yang dapat mengendalikan desktop suatu komputer dari jauh jika terdapat VNC server
didalamnya, yang nantinya akan diakses menggunakan VNC viewer oleh komputer lainnya.
Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan dari host yang dijadikan server untuk
mobile cloud dan juga perbandingan kemampuan komputasi antara Smartphone fisik dengan
Virtual Smartphone. Berdasarkan hasil pengukuruan, spesifikasi host sangatlah dibutuhkan
untuk memberikan performance yang bagus terhadap services-services yang akan diberikan.
Virtual Smartphone sendiri memiliki kemampuan komputasi yang jauh diatas Smartphone fisik

Kata kunci: Mobile Cloud, Virtualisasi, Smartphone, Virtual Network Computing, Android.

1. Pendahuluan
Aplikasi Smartphone berkembang dengan cepat seiring dengan perkembangan hardware smartphone itu sendiri.
Perkembangan Smartphone pun sering diharapkan dapat memberikan kemampuan layaknya sebuah Personal Computer
(PC). Namun kemampuan Smartphone pada saat ini masih terbatas dibandingkan dengan kemampuan PC yang
memiliki kemampuan komputasi lebih tinggi dan power yang tahan lama. Oleh karena itu perlu adanya cara agar
Smartphone dapat menggunakan sumber daya yang dimiliki PC dari jarak jauh untuk menjalankan suatu aplikasi. Salah
satu solusi dalammengatasi ini adalah menggunakan Virtual Smartphone over IP.
Virtual Smartphone over IP merupakan pemanfaatan sistemvirtualisasi pada server atau PC. PC membuat
sebuah lingkungan virtual untuk menjalankan sistem operasi Smartphone yang nantinya dapat diakses melalui
Smartphone. Virtualisasi Smartphone tersebut dapat menggunakan sumber daya PC seperti kemampuan processor,
memori dan power yang selama ini menjadi keterbatasan Smartphone. Virtualisasi Smartphone yang terdapat pada PC
dapat dikendalikan secara remote dari Smartphone sehingga pengguna dapat menggunakan virtualisasi Smartphone
tersebut dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Dengan menggunakan Virtual Smartphone over IP, dapat dikembangkan
sebuah lingkungan cloud computing yang dibangun khusus untuk memperluas kemampuan sebuah Smartphone dimana
cloud computing menyediakan infrastructure untuk Virtualisasi Smartphone tersebut.
2. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitan ini adalah mengembangkan sistem mobile cloud untuk para pengguna
Smartphone sehingga aplikasi-aplikasi yang ingin digunakan tidak terbatasi oleh hardware Smartphone semata namun
dengan memanfaatkan VMware ESXi untuk mendukung virtualisasi dari virtual smartphone berbasis Android x86 serta
menggunakan Virtual Network Computing (VNC) sebagai koneksi antara smartphone dengan virtual smartphone.




Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-61
3. Teori Pendukung
Cloud Computing
Cloud computing atau yang dikenal dengan sebutan komputasi awan pada dasarnya adalah suatu sistem yang berbasis
Internet-based Service untuk mendukung proses bisnis dari penggunanya. Kata-kata “Cloud” sendiri merujuk kepada
simbol awan yang di dunia TI digunakan untuk menggambarkan jaringan internet (internet cloud), sehingga cloud
computing dapat diartikan sebagai gabungan pemanfaatan teknologi komputer (‘komputasi’) dan pengembangan
berbasis Internet (‘awan’).

Virtualisasi
Pengertian Virtualisasi dalamlingkungan IT secara esensial melakukan isolasi terhadap satu sumber daya komputasi
dengan yang lainnya. Dengan memisahkan layer-layer yang berbeda dalamlogic stack dimungkinkan fleksibilitas yang
lebih tinggi karena tidak diperlukan lagi konfigurasi tiap-tiap elemen untuk dapat bekerja bersama-sama. Salah satu
jenis virtualisasi adalah Para Virtualization atau sering disebut sebagai Hypervisor. Hypervisor adalah layer software
yang bekerja diatas hardware dan dibawah satu atau lebih operating system. Dengan ini, lebih responsible dalam meng-
akses hardware karena menggunakan partition untuk mengisolasikan eksekusi ke hardwarenya.

Android
Android adalah sebuah kumpulan perangkat lunak perangkat mobile yang mencakup sistem operasi, middleware dan
aplikasi utama mobile. Android adalah platformyang bersifat terbuka dan yang pertama kali memisahkan antara
hardware dengan software yang berjalan diatasnya. Hal ini dapat membuat device yang berbeda dapat menjalankan
suatu aplikasi yang sama dan dapat membangun ekosistemyang lebih kaya untuk para developer dan konsumen.
Android juga merupakan platformyang bersifat comprehensive atau luas, yang berarti bahwa android hanya setumpuk
software untuk sebuah mobile device. Bagi para developer atau pengembang, android menyediakan segala tools dan
framework untuk membuat ataupun mengembangkan suatu aplikasi secara mudah dan cepat.

Remote Desktop
Apliksi remote desktop adalah aplikasi yang berfungsi untuk kontrol jarak jauh yang memungkinkan seorang pengguna
komputer dapat berinteraksi ataupun mengontrol secara penuh sebuah komputer baik itu desktop maupun server melalui
komputer atau peralatan (device) lain melalui koneksi internet ataupun intranet menggunakan TCP/IP. Salah satu
aplikasi tersebut adalah Virtual Network Computing (VNC) yang melibatkan VNC Viewer, VNC Server serta
sekumpulan VNC protocol untuk mengatur proses pengendalian tersebut.

4. Metodologi
Perancangan Sistem
Perancangan SistemVirtual Smartphone over IP mengadopsi arsitektur yang sangat mirip dengan sistemyang sering
digunakan oleh provider dalammelakukan server hosting. Gambar.1. menunjukkan secara garis besar tahapan kegiatan
yang dikelompokkan dalam 3 (tiga) fase konfigurasi sistemhardware, fase instalasi sistemdan aplikasi serta phase
koneksi.

Gambar.1. Perancangan sistem

Phase konfigurasi khususnya penentuan perangkat keras yang nantinya akan menjadi server bagi mesin virtual
merupakan sebuah masalah tersendiri karena tidak semua perangkat keras dapat menjalankan teknologi virtualisasi
hypervisor. setelah berhasil memilih perangkat dan melakukan instalasi, berikutnya adalah men-konfigurasi mesin
virtual agar dapat menjalankan sistemoperasi Android. setelah dilakukan konfigurasi dan sistemoperasi Android
berhasil dijalankan, maka dilakukan instalasi aplikasi remote desktop diatas sistemoperasi android yang sudah berjalan.





Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
Implementasi Sistem


Gambar 2 : Implementasi Sistem

Uji coba sistem
Topologi jaringan yang digunakan untuk uji coba sistemdapat dilihat pada Gambar.3.


Gambar.3. Topologi Jaringan Ujicoba Sistem
5. Pengujian Sistem
Pengujian Performance Host terhadap Berbagai Services
Pengujian yang pertama adalah pengkuran dan analisa host dengan spesifikasi yang telah dijelaskan sebelumnya
sebagai server dari mobile cloud yang menyediakan Services untuk client. Services yang diberikan disini adalah
infrastruktur sistem operasi smartphone beserta aplikasi-aplikasi bawaan yang sudah terdapat didalamnya.


Gambar.4. Grafik CPU host


Dari hasil pengujian terhadap CPU yang dimiliki oleh host, peningkatan mulai terjadi saat client ke-4 mulai mengakses
Virtual Smartphone dan mulai menjalankan beberapa aplikasi didalamnya, hal ini terus berlanjut hinggal client ke-5
mulai mengakses Virtual Smartphone seperti terlihat pada tabel.1. dan Grafik hubungan pada Gambar 5.



Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
Tabel.1.Jumlah client vs CPU Usage
Jumlah Client CPU dalamMhz CPU dalam%
1 370 12%
2 750 25%
3 750 25%
4 1125 37,5%
5 1500 50%




Gambar 5. Grafik client vs CPU Usage

Pengujian Performance Mesin Virtual terhadap Aplikasi-aplikasi Sistem Operasi Smartphone
Pada pengujian, akan dilihat performance dari mesin virtual terhadap client yang sedang mengakses virtual smartphone
dan menjalankan beberapa aplikasi didalamnya. Pada pengujian sebelumnya, terdapat 5 virtual smartphone yang ada
pada host dengan 2 sistem operasi yang berbeda seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Maka disini akan dilihat
performance 2 dari 5 Virtual Smartphone yang ada pada host dengan sistemoperasi yang berbeda. Berikut adalah hasil
pengujian untuk 2 mesin virtual tersebut. Untuk Performance CPU dari mesin virtual, tidak terjadi perbedaan yang
signifikan kecuali perbedaan yang terjadi karene perbedaan waktu saat menggunakan aplikasi.

Gambar 6. Grafik CPU mesin virtual untuk ICS

Gambar 7. Grafik CPU mesin virtual untuk Froyo
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1 2 3 4 5
Jumla…
CPU …
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-64

Perbandingan kemampuan komputasi Virtual Smartphone dengan Physical Smartphone
Pada pengujian berikut, kita akan mengetahui kemampuan dari Virtual Smartpone dalam melakukan komputasi.
Pengujian berikut bertujuan agar kita dapat mengetahui kemampuan Virtual Smartphone dalammelakukan komputasi-
komputasi yang dilakukan oleh sebuah Sistem Operasi lalu membandingkannya dengan Sistem Operasi yang terdapat
pada Smartphone fisik.
Aplikasi yang akan digunakan adalah 0xBenchmark. Aplikasi tersebut dapat mengukur kemampuan perangkat salah
satunya seperti menampilkan gambar 2D dan 3D dalamsatuan Frame Per Second (FPS). Perangkat lunak tersebut akan
melakukan pengujian dengan cara mengeluarkan gambar secara terus menerus sebanyak jumlah yang telah ditentukan
dan menghitung berapa banyak yang gambar/frame yang dapat ditampilkan dalamsatu detik, atau biasa disebut dengan
satuan Frame Per Second (FPS). Berikut adalah hasil pengujian beserta tabel.


Gambar 8. Hasil Pengujian terhadap gambar 2D pada smartphone fisik


Gambar 9. Hasil Pengujian terhadap Gambar 2D pada Virtual Smartphone

Pada kedua hasil pengujian diatas, Virtual secara konstan melampaui kemampuan dari smartphone fisik secara drastis.
Untuk mengeluarkan Image, Virtual Smartphone memiliki kecepatan yang sediki diatas dari smartphone fisik yaitu
lebih cepat 14 Frame Per Second (FPS), namun untuk Text, virtual smartphone memiliki kecepatan 4 kali lebih cepat
dari pada Smartphone fisik. Begitu juga untuk Circle, kecepatan yang dihasilkan oleh Virtual Smartphone 6 kali lebih
cepat dibandingkan smartphone fisik. Hasil tersebut membuktikan bahwa sistemyang dikembangkan sangat cocok
untuk menjalankan aplikasi yang dieksekusi secara remote pada virtual smartphone dimana hanya gambar atau frame
yang dikirimkepada smartphone fisik.

6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian dari sistem mobile cloud berbasis virtual smartphone over IP, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Pada pengujian Host sebagai server dari mobile cloud, terjadi peningkatan sebesar 50% dari keseluruhan pemakain
CPU sistemsaat terjadi koneksi dari client dengan Virtual Smartphone, hal ini membuktikan bahwa spesifikasi Host
sangatlah penting untuk mendukung sistem agar tidak terjadi Lag dikarenakan penggunaan sumber daya Host yang
terlalu tinggi.
2. Pada pengujian Mesin virtual, sistem operasi yang dijalankan tidak terlalu mempengaruhi performance mesin
virtual. Yang menjadi hal penting dalamperformance mesin virtual adalah konfigurasi dari Virtual device saat
membuat mesin virtual, seperti Virtual CPU, Virtual Memory, dan Virtual Network.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-65
3. Pada pengujian komputasi menggunakan aplikasi 0xBenchmark, Virtual Smartphone memiliki kemampuan yang
cukup tinggi dibandingkan dengan Smartphone fisik dalam hal menghasilkan gambar dalam satuan Frame Per
Second (fps). dalammenghasilkan image, Virtual Smartphone memiliki kecepata 14 fps lebih cepat dibandingkan
dengan Smartphone fisik, dan untuk text lebih cepat 4 kali lipat.


Daftar Pustaka

[1]. Eric Y. Chen, Mistutaka Itoh, Virtual smartphone over IP, wowmom, pp.1-6, 2010 IEEE International
Symposiumon A World of Wireless, Mobile and Multimedia Networks (WoWMoM), 2010/
[2]. Mitsutaka Itoh, Eric Y. Chen, and Tetsuya Kusumoto, Virtual Smartphone over IP, NTT Technical Review
July 2010 Vol. 8 No. 7, NTT Technical Review, July 2010.
[3]. Gargenta, Marko, Learning Android, United States of America : O’Reilly Media, Inc., 1005 Gravenstein
Highway North, Sebastopol, CA 95472. 2011.
[4]. Richardson, Tristan, “Virtual Network Computing” IEEE internet computing January 1998 Vol. 2 No. 1, IEEE
internet computing, January 1998.
[5]. http://www.android-x86.org (diakses 20 Maret 2012).
[6]. http://code.google.com/p/android-vnc-server (diakses 2 April 2012)
[7]. http://novit.groja.info/?q=content/virtualisasi-di-windows-system&page=1 (diakses 3 April 2012)
[8]. http://www.vavai.biz/product-services/vmware/belajar-teknologi-virtualisasi-2-instalasi-vmware-vsphere-
hypervisor%E2%84%A2-esxi/(diakses 10 April 2012)



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-66
Perancangan Sensor Gas Co Berbasis Zno dengan Metode Solgel Menggunakan Teknologi
Thick Film

I Dewa Putu Hermida
1)
, Parlindungan Sinaga
2)
, Yuyu R. Tayubi
2)
, Untung H. Pramono
2)

Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi – LIPI
1)

J l. Cisitu 21/154D, Bandung-40135, Telp. (022) 2504661, Fax. (022) 2504659
Email: putu@ppet.lipi.go.id, idewaputu@gmail.com
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA - UPI
2)

J l. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154 J awa Barat-Indonesia
Telp/Fax. (022) 2001108, 2013163 Pes. 4632-4635
Email: fpmipa@upi.edu

Abstract
Characterization studies of ZnO-based CO gas sensor with sol gel method using technology
thick films have been successfully performed. In the present study has been made ZnO-based
CO gas sensor. Thick ZnO films prepared by screen printing and firing method performed at a
temperature of 400
O
C. Testing XRD, EDS, and SEM to determine the crystal structure,
constituent composition, and morphology of the sensor. Sensor testing conducted to determine
the effect of temperature, concentration, and the printing parameters of the sensor resistance,
as well as determine the effect of concentration on the sensor response. Obtained from tests
made of the influence of printing parameters (layer thickness), whereas for thicker layers have a
smaller resistance rates than smaller-sensitive layer. The sensor was tested to determine the
influence of the concentration of CO gas sensor resistance. Sensor resistance tends to decrease
for CO gas concentration is higher. Found also the influence of temperature on ZnO sensor
resistance to temperature rise when the price of the ZnO sensor resistance tends to decrease as
a logarithmic. Also found the influence of concentration on the sensitivity of the sensor, where
most of the sensor sensitivity to concentrations of 0-500 ppm is 2.8 Ω / ppm.

Key words: CO Gas Sensor, ZnO, Thick Film, SolGel

ABSTRAK
Studi karakterisasi sensor gas CO berbasis ZnO dengan metode solgel menggunakan teknologi
thick film telah berhasil dilakukan. Dalam penelitian ini telah dibuat sensor gas CO berbasis
ZnO. Film tebal ZnO dibuat dengan metode screen printing dan firing dilakukan pada
temperatur 400
o
C. Pengujian XRD, EDS, dan SEM untuk mengetahui struktur kristal, komposisi
penyusun, dan morfologi dari sensor. Pengujian sensor dilakukan untuk mengetahui pengaruh
temperatur, konsentrasi, dan parameter printing terhadap resistansi sensor, serta mengetahui
pengaruh konsentrasi terhadap respon sensor. Dari pengujian yang dilakukan didapatkan
adanya pengaruh paramater printing (ketebalan lapisan), dimana untuk lapisan yang lebih
tebal memiliki harga resistansi yang lebih kecil dibandingkan lapisan sensitif yang lebih kecil.
Pengujian sensor juga mengetahui adanya pengaruh konsentrasi gas CO terhadap resistansi
sensor. Resistansi sensor cenderung menurun untuk konsentrasi gas CO yang semakin tinggi.
Didapatkan pula pengaruh temperatur terhadap resistansi sensor ZnO dimana untuk kenaikan
temperatur maka harga resistansi sensor ZnO cenderung menurun secara logaritmik. Juga
didapatkan adanya pengaruh konsentrasi terhadap sensitivitas sensor, dimana sensitivitas
sensor paling besar untuk konsentrasi 0–500 ppm yaitu 2,8 Ω/ppm.

Kata kunci : Sensor Gas CO, ZnO, Thick Film, SolGel

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada penelitian kali ini dibuat sensor gas CO dengan teknologi thick filmdari bahan ZnO sebagai lapisan sensitif. Suatu
sensor gas CO dan dilapiskan diatas permukaan elektroda dan heater, dimana ZnO bersifat material chemoresistive atau
perubahan resistansi akibat adanya unsur–unsur kimia (dari gas) yang bekerja pada lapisan penyensor (dikutip dari
Investigation of sol-gel Synthesized CdO-ZnO Nanocomposite for CO Gas Sensing. Hassan Karami).
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9

Sensor Gas CO Teknologi Thick Film
Karena sifat yang berbeda itu (khususnya secara kimia), prinsip kerja dari sensor gas juga berbeda, hal ini dapat
dilihat dalam Gambar 1. Sensor gas teknologi filmtebal yang dikembangkan sekarang ini menggunakan sepasang
elektrode berbentuk interdigital transducers yaitu sepasang elektroda pararel yang masing masing mempunyai
semacamjari sisir periodik yang keduanya saling berhadapan dan saling bertaut yang dicetak pada keping substrat
alumina planar menggunakan teknologi screen printing (Mamishev,2004:809). Adapun material sensornya dicetak
diatasnya, juga dengan menggunakan metode screen printing. Sedangkan heater yaitu pemanas berupa sirkuit yang
umumnya berbentuk spiral dari bahan konduktor (pasta), biasanya dicetak tepat dibelakang elektrode di sisi yang
berlawanan.


Gambar 1 DiagramPembagian Sensor Gas Menurut Prinsip Dasarnya (Sumber : Hunter,2004:25)

Prinsip Dasar
Sensor gas dengan menggunakan teknologi thick film adalah sensor gas yang bekerja memakai prinsip
chemoresistor, dimana konduktiftas sensor akan berubah dengan adanya unsur–unsur kimia yang bekerja pada lapisan
sensor ZnO. Reaksi yang terjadi antara material sensor dan gas reaktan itu adalah reaksi Oksidasi–Reduksi (Redoks).
Secara umumreaksi oksidasi – reduksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Oksidasi : 1/2 O
2
g
+e
-
 O
ad-

Reduksi : CO
g
+O
ad -
 CO
2
g
+e
-
(Hann,2002:21)
Pada umumnya, perubahan resistivitas material sensor ketika bereaksi dengan gas dipengaruhi oleh reaksi atom–
atomoksigen di udara dengan atom–atomoksigen di permukaan lapisan sensor. Reaksi ini merubah potential barrier
antar ikatan atom. Sensitive layer sensor merupakan bagian yang berinteraksi langsung dengan gas, yang reaksi
elektrokimia terjadi di permukaannya. Lapisan ini terbuat dari bahan ZnO, yaitu bahan metal oxide tipe-n yang sensitif
terhadap molekul–molekul gas pereduksi.


Gambar 2. Jenis–jenis Sensor Gas (Sumber : Hann,2002:1)

Material ZnO (Seng Oksida)
ZnO merupakan material semikonduktor tipe-n dengan lebar pita energi (band gap) 3,3 - 3,7 eV, mempunyai
karakteristik transmitasi yang tinggi, konduktivitas elektrik yang baik, sifat adhesi dan kekerasan yang baik, sensitive
terhadap gas ambien atau pencemar udara seperti CO serta mempunyai kestabilan kimia dan mekanik yang baik. ZnO
sudah digunakan dalam berbagai jenis aplikasi.
Metode Solgel
Metode sol-gel (C. J. Brinker and G. W. Scherer, Sol-Gel Science) dikenal sebagai salah satu metode sintesis
nanopartikel yang cukup sederhana dan mudah. Metode ini merupakan salah satu “wet method” karena pada prosesnya
melibatkan larutan sebagai medianya. Pada metode sol-gel, sesuai dengan namanya larutan mengalami perubahan fase
menjadi sol (koloid yang mempunyai padatan tersuspensi dalamlarutannya) dan kemudian menjadi gel (koloid tetapi
mempunyai fraksi solid yang lebih besar daripada sol).



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-68
Tabel 1. Zinc oxide
Other names Zinc white
Calamine
Identifiers
CAS number 1314-13-2
PubChem 14806
EC number 215-222-5
RTECS number
ZH4810000
Properties
Molecular formula : ZnO
Molar mass : 81.408 g/mol
Appearance White solid
Odor odorless
Density 5.606 g/cm
3

Melting point 1975 °C
(decomposes)
Boiling point 2360 °C
Solubility in water 0.16
mg/100 mL (30 °C)
Band gap 3.3 eV
Refractive index (n
D
)
2.0041


Bahan-bahan yang biasanya digunakan sebagai katalis adalah urea, polyvinyl alcohol atau asam sitrat. Secara
sederhana proses metode sol gel dapat dilihat dalambagan diatas.

Gas CO
Karbon monoksida merupakan senyawa yang sangat penting, sehingga banyak metode yang telah dikembangkan
untuk produksinya. Gas produser dibentuk dari pembakaran karbon di oksigen pada temperatur tinggi ketika terdapat
karbon yang berlebih. Dalam sebuah oven, udara dialirkan melalui kokas. CO
2
yang pertama kali dihasilkan akan
mengalami kesetimbangan dengan karbon panas, menghasilkan CO. Reaksi O
2
dengan karbon membentuk CO disebut
sebagai kesetimbangan Boudouard. Di atas 800°C, CO adalah produk yang predominan:

O
2
+2 C → 2 CO
ΔH = -221 kJ/mol

Kerugian dari metode ini adalah apabila dilakukan dengan udara, ia akan menyisakan campuran yang terdiri dari
nitrogen. Gas sintetik atau gas air diproduksi via reaksi endotermik uap air dan karbon:

H
2
O +C → H
2
+CO
ΔH = 131 kJ/mol

CO juga merupakan hasil sampingan dari reduksi bijih logamoksida dengan karbon:
MO +C → M + CO
ΔH = 131 kJ/mol

Oleh karena CO adalah gas, proses reduksi dapat dipercepat dengan memanaskannya. DiagramEllinghammenunjukkan
bahwa pembentukan CO lebih difavoritkan daripada CO
2
pada temperatur tinggi. CO adalah anhidrida dari asam
format. Oleh karena itu, adalah praktis untuk menghasilkan CO dari dehidrasi asamformat.

Zn +CaCO3 → ZnO + CaO + CO

Sensitivitas
Salah satu masalah dalampembuatan sebuah sensor adalah sensor harus mempunyai sensitivitas yang cukup
memadai. Dalam sensor gas sensitivitas dinyatakan melalui perbandingan perubahan resistansi pada udara normal dan
ketika ada gas pereduksi (dalamhal ini gas CO) :
- Untuk material sensor tipe–n dan gas berupa pereduksi :
g
o
R
R
S = atau
g o
o
R R
R
S
÷
=
- Untuk material sensor tipe–p dan gas berupa pereduksi :
o
g
R
R
S = atau
o
o
R
R Rg
S
÷
=
dengan :
- S : Sensitivitas
- Ro : Resistansi sensor pada udara normal (tidak ada gas)
- Rg : Resistansi sensor pada saat ada gas (Sumber:Cirera,2000:8)
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-69
Penulis menggunakan semikonduktor tipe-n dimana pembawa muatannya elektron memiliki mobilitas lebih
besar dibandingkan hole atau pembawa muatan semikonduktor tipe-p (Sumber: Ahmad Saefudin,2009:10). Berdasarkan
penelitian sebelumnya diketahui pula bahwa semikonduktor tipe-n banyak digunakan sebagai bahan sensor gas karena
memiliki sensitivitas terhadap gas ambien atau pencemar udara lebih baik dibandingkan tipe-p (Sumber:Agung
Samadi,1998).

Resistor Film Tebal
Resistans resistor berbanding lurus dengan resistivitas bahan (ρ) dan panjang (l) serta berbanding terbalik dengan
luas penampang (A) yang tegak lurus arah aliran arus. Secara matematis dapat dituliskan sebagai:
A
l
R  =
dengan:
ρ : resistivitas (Omm)
l : panjang resistor (mm)
A : luasan yang tegak lurus arah aliran arus (mm
2
)
R : resistans (O)

Luas penampang (A) yang tegak lurus arah aliran arus resistor merupakan perkalian ketebalan film(t) dengan lebar (w).
Pernyataan tersebut dapat ditulis dengan persamaan:
w t A × =
dengan:
A : luasan yang tegak lurus arah aliran arus (mm
2
)
t : tebal resistor (mm)
w : lebar resistor (mm)

Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:
w t
l
R
×
=  , dengan :

t
Rs

=

Maka persamaan diatas menjadi:
w
l
Rs R =
dengan:
R : resistans resistor(Ω)
ρ : resistivitas dari pasta (Omm)
Rs : resistivitas (Omm)
t : ketebalan (mm)
l : panjang resistor (mm)
w : lebar resistor (mm)

Metode Penelitian
Dalammelaksanakan penelitian ini digunakan beberapa metode dalam melakukan penelitian dan penyusunan
laporan, yaitu: studi literatur, serangkaian proses pengujian, pengambilan data, pengolahan data percobaan, hingga
pengambilan kesimpulan. Penulis mengambil material ZnO karena termasuk salah satu semikonduktor tipe-n dimana
memiliki sensitivitas yang sangat baik untuk sensor gas yang bersifat ambien seperti gas CO, semikonduktor tipe-n juga
memiliki karakteristik dimana resistansi menurun seiring dengan penambahan konsentrasi. Filmtebal ZnO di firing
pada temperatur 400
o
C, kemudian sensor diujikan pada temperatur 150-250
o
C karena diharapkan pada temperatur
tersebut sensor memiliki sensitivitas yang baik dan dapat berinteraksi dengan gas CO, hal ini merujuk pada literatur
yang ada pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan. Secara sistematis dapat dilihat dalamGambar 3.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012


Gambar 3. DiagramAlir Metode Penelitian

Langkah – Langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

Perancangan
Perancangan yang dilakukan meliputi perancangan dimensi sensitive layer yaitu lapisan ZnO, heater, dan
elektroda. Perancangan dilakukan dengan mengacu pada spesifikasi sensor yang akan dibuat dan berdasar pada aturan–
aturan pada teori dasar.

Tahapan Perancangan dan Fabrikasi
Untuk mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan, proses pabrikasi sensor ini dilakukan dalambeberapa
tahap. Tahapan–tahapan ini bisa dilihat dalamGambar 4.


Gambar 4. DiagramAlir Langkah-langkah penelitian

Spesifikasi Sensor
Dalamproses perancangan suatu devais, sebagai langkah awal adalah menentukan spesifikasi dari devais yang
akan dibuat. Adapun spesifikasi umumyang diharapkan peneliti dari sensor ini adalah sebagai berikut :
- Dimensi : ≤10 mm x 25 mm
- Suhu operasi : 25
o
C – 300
o
C
- Daya Kerja heater : 3W
- Jangkauan Pengukuran : 0 ~1000 ppm

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9


Gambar 5. Tahapan Proses Perancangan dan Pabrikasi Sensor Gas

Perancangan Lapisan Sensor (Sensitive Layer)
Perubahan resistivitas material sensor ketika bereaksi dengan gas dipengaruhi oleh reaksi atom–atomoksigen di
udara dengan atom–atomoksigen di permukaan lapisan sensor. Reaksi ini merubah potential barrier antar ikatan atom.
Dimensi dari lapisan molekul ZnO menentukan jangkauan pengukuran sensor. Langkah pertama yang dilakukan
dalammerancang lapisan sensor adalah menentukan jangkauan pengukuran maksimal dari dari sensor dalam satuan
ppm, dalamperancangan ini jangkauan maksimal yang diharapkan adalah 1000 ppm (dalamhal ini 1000 ppm CO).
Karena pada proses ini yang terjadi adalah reaksi gas, maka satuan ppm dirubah menjadi mol/L. Dengan
menganggap gas adalah gas pada kondisi ideal, persamaan yang digunakan adalah persamaan sebagai berikut :

L mol
L
mol
ppm
L
mol
/ 10 . 14 , 4
15 , 24
1
5 ÷
= × =

(3.1)

Dengan mengacu pada persamaan reaksi kesetimbangan antara gas CO dan ZnO, yang merupakan reaksi antara
atom–atomO
2
di permukaan dengan molekul–molekul CO dari udara, yaitu :

2ZnO+2CO  2Zn
+
+2CO
2
+2e

Maka dapat diketahui perbandingan molaritas antara gas-gas pereduksi dan ZnO, yaitu molaritas ZnO adalah 1 kali
molaritas CO, sehingga :

mol molCO molZnO 00004 , 0 = =

Dengan menentukan tebal lapisan, maka luas dari lapisan sensor akan diperoleh.
Secara umumbentuk dari lapisan sensor adalah seperti dalamGambar 6.


Gambar 6. Konstruksi Lapisan Sensor

Dari Gambar 6. dapat diketahui bahwa :
t A V × =
dengan :
A : luas permukaan lapisan sensor (cm
2
)
t : tebal permukaan lapisan sensor (50Ωm=5.10
-3
cm).

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
Sehingga dapat diketahui luas permukaan lapisan sensor A = 0.428 cm
2
. Dengan luas permukaan lapisan sensor 0,428
cm
2
, bisa diasumsikan sebagai (0,65 x 0,65) cm. Sehingga, dimensi dari lapisan sensor diasumsikan menjadi (6.5 x 6.5)
mm. Sehingga dihasilkan desaian layout seperti dalamGambar 7.


Gambar 7. Desain Layout Lapisan Sensor

Perancangan Elektroda
Elektroda yang digunakan pada thick film gas sensor pada umumnya adalah sepasang elektroda berbentuk
interdigital fingers dari bahan nobel metal misalnya Au atau Ag. Struktur tersebut dimaksudkan untuk meminimalisasi
ruang namun dapat mengoptimalkan daerah sensing, serta memudahkan dalampenentuan nilai resistansi.
Penentuan nilai resistans pada elektrode ini sama dengan penentuan nilai resistans resistor teknologi filmtebal
pada umumnya. Selanjutnya untuk melakukan perhitungan nilai resistans elektroda dalampenelitian ini, yaitu gambar 8.

Gambar 8. Perhitungan Resistans Elektroda

Nilai resistansi efektif masing – masing elektroda sebagai berikut:
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
+ + × = Rs
w
l
w
l
R
el
56 . 0
2
4
1

dengan:
R
el
adalah nilai resistans elektroda efektif (Ω)
l
1
adalah panjang jalur konduktor horisontal (mm)
l
2
adalah panjang jalur konduktor vertikal (mm)
w adalah lebar jalur konduktor (mm)
Rs adalah nilai lembar resistans (mΩ/square)

Dalampenelitian ini pasta yang digunakan adalah pasta Ag (perak) dari Dupont (Dupont 8352) dengan Rs =
20mΩ/square.
Dari perancangan dalamGambar 8 diketahui bahwa l
1
=4.8mm, l
2
=1.2mm, dan w=0.4mm, maka dari persamaan diatas
didapatkan nilai resistans efektif R
el
elektroda sebagai berikut:

O =
(
¸
(

¸

O
|
.
|

\
|
+ + × = m
square
m
R
el
8 , 1244 20 56 . 0
4 . 0
2 . 1
4 . 0
8 . 4
4
Jadi dari perhitungan diatas didapatkan nilai resistans efektif masing – masing elektroda sebesar 1244.8 mΩ.
Dengan juga mengacu pada spesifikasi sensor yang disebutkan di awal yaitu ukuran panjang dari sensor yang
tidak lebih dari 25 mm, maka perlu penambahan kaki dan pad. Untuk menyesuaikan dengan substrat yang tersedia dan
mengoptimalkan area maka dalam penelitian ini panjang sensor ditentukan sepanjang 23 mm. J adi dengan ukuran
elektroda aktif 6 mm, maka dibutuhkan kaki sepanjang 17 mm. Sehingga bentuk elektroda menjadi seperti dalam
Gambar 9.

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9

Gambar 9. Perhitungan Nilai Resistans

Kaki – Kaki dan Pad elektroda
Dari Gambar 3.12 dapat diketahui nilai resistans dari kaki dan pad, yaitu :
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
+ + + + = Rs
w
l
w
l
R
p
1 56 . 0 56 . 0
2
2 1
1

dengan:
R
p
: nilai resistans kaki dan pad elektroda (Ω)
l
1
: panjang jalur konduktor fingers (mm)
l
2
: panjang jalur konduktor kaki (mm)
w
1
: lebar jalur konduktor fingers (mm)
w
2
: lebar jalur konduktor kaki (mm)
Rs : nilai lembar resistans (mΩ/square)

Dengan mengacu pada nilai (l/w) maka persamaan menjadi:

( ) | | O = + + + + = m Rs R
p
4 , 502 1 56 . 0 56 . 0 17 6

Sehingga dapat diketahui nilai resistansi total masing – masing elektroda, yaitu :

O = + = 1750
p el
R R R


Keterangan dari Gambar 9. dijelaskan pada Tabel 2.

Tabel 2. Keterangan Dimensi Layout Elektroda


Perancangan Pemanas (Heater)
Temperatur adalah salah satu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan dari sensor gas teknologi film
tebal ini. Distribusi temperatur yang sesuai akan mempengaruhi tingkat selektifitas dan sensitifitas dari elemen sensor
ini. Pemanas ini dirancang terletak tepat di sisi belakang substrat.
Untuk menentukan karakteristik dari heater, parameter yang harus diperhatikan diantaranya adalah: suhu yang
diinginkan, daya yang dibutuhkan, dan luasan daerah yang ingin dipanasi, serta karakter dari bahan heater itu sendiri
(TCR, disipasi arus maksimum yang mampu melewati, dll). Untuk itu, langkah pertama yang dilakukan adalah
menentukan karakteristik heater yang diinginkan, yaitu :

- Th : Temperatur kerja (300°C)
- Tc : Temperatur awal (25°C)
- P : Daya pada temperatur kerja (3W)
- TCR :Temperature Coefficient Resitance (3600)

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-74
Langkah selanjutnya adalah menentukan nilai resistans heater pada temperatur kerja (R
H
). Perhitungan nilai R
H

diawali dengan menentukan tegangan sumber, sumber tegangan yang digunakan adalah sebesar 3V. Tegangan sumber
sebesar 3 V dipilih dengan pertimbangan dengan daya 3 W maka nantinya bisa dihasilkan arus kerja yang cukup yang
sesuai dengan karakteristik bahan yang digunakan. Selain itu juga mempertimbangkan segi kepraktisan karena sumber
tegangan 3V sudah banyak tersedia di pasaran dengan berbagai macamtipe ( seperti misalnya battery ).
Dengan sumber 3V dan daya yang diinginkan 3W, maka arus kerja heater adalah :
Amp
V
P
I 1 = =
Dengan demikian sesuai persamaan nilai resistans heater pada suhu operasi (
H
R ) adalah: O = = 3
I
V
R
H

Jadi nilai resistans heater pada suhu operasi (
H
R ) adalah 3Ω.
Selanjutnya dengan menentukan nilai TCR dari data sheet (TCR=3600 ppm/°C), temperatur awal (T
C
=25°C),
dan temperatur operasi (T
H
=300°C), serta memasukkan nilai R
H
maka akan didapat nilai resistans heater pada suhu
acuan (R
C
).
( ) | |
( ) | |
C H C
C H
T T R
R R
TCR
÷ ×
× ÷
=
6
10

dengan :
TCR : Temperature Coefficient Resitance
R
H
: Resistans pada suhu operasi (Ω)
R
C
: Resistans pada suhu acuan (Ω)
T
H
: Suhu operasi (
o
C)
T
C
: Suhu acuan (
o
C)

Maka nilai resistans heater pada suhu acuan (R
C
), adalah sebagai berikut:
( ) | |
( ) | | C C R
R
o o
C
C
25 300
10 3
3600
6
÷ ×
× ÷ O
=
=

O = 50 . 1
C
R
Setelah nilai R
C
didapat, maka dapat ditentukan dimensi dari heater dengan mengacu pada persamaan
w
l
R R
S C
=
dengan :
R
S
: nilai lembar resistans =1.6 mΩ/sq,
l : panjang koduktor heater (mm), dan
w : lebar konduktor heater diasumsikan =0.4 mm,

Maka panjang konduktor heater (l) = 12 cm.

Jadi heater yang dibuat memiliki panjang 12 cm, dibentuk menyerupai spiral dalamluas area maksimum1
cm
2
. Ditentukan 1 cm
2
dimaksudkan supaya heater dapat mencakup seluruh bagian elektroda di sisi baliknya.
Dihasilakn nilai Rc = 1.5, nilai ini hanya nilai resistansi dari elemen heater (bagian yang berbentuk spiral
seperti dalam Gambar 10.



Gambar 10. Perhitungan Nilai R Heater

Dari Gambar 3.10, perhitungan nilai R heater menjadi :
Rc R =
( ) | | O = E × + O = 68 . 1 2 5 . 1 Rs square R
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
Sehingga dihasilkan desain layout seperti dalamGambar 3.11.



Gambar 11. Desain LayOut Heater

Adapun dimensi heater dalamGambar 11 dijelaskan pada Tabel 3. berikut.
Tabel 3. Keterangan Dimensi Layout Heater


Selanjutnya, untuk menghasilkan panas heater yang optimal, permukaan heater dilapisi dengan sejenis bahan
dielektrik tahan panas yang disebut juga coating. Lapisan ini dibuat menutupi daerah efektif heater, dimaksudkan
supaya panas yang dihasilkan tidak terlalu cepat terbuang, melainkan terus mengalir ke elektroda di sisi sebaliknya.
Bentuk rancangan lapisan coating ini dapat dilihat dalamGambar 12.

Gambar 12 Lapisan Coating Heater

Pengujian Sensor
Pengujian terhadap sensor (tanpa rangkaian) dilakukan untuk:
- Mengetahui pengaruh perubahan konsentrasi gas CO terhadap resistansi sensor ZnO.
- Mengetahui pengaruh temperatur operasional (150-250
o
C) terhadap resistansi sensor.
- Mengetahui pengaruh parameter printing (ketebalan film) terhadap resistansi sensor.

ProsedurPengujian



Gambar 13. Pengujian Perubahan Resistansi Sensor Terhadap Perubahan Temperatur Heater
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012

Rangkaian pengujian disusun seperti dalamGambar 13. Sumber arus searah diberikan untuk menghasilkan panas pada
heater yang selanjutnya merubah resistansi sensor. Nilai temperatur awal (Tc) diukur pada temperatur ruangan saat
pengujian, dan pada udara bersih (tanpa gas CO).

PENGUJIAN DAN ANALISA DATA
Karakterisasi Menggunakan XRD
Untuk mengetahui struktur dilakukan pengujian XRD, sensor CO berbasis ZnO yang digunakan diuji dengan
menggunakan XRD sebagai berikut :

Gambar 14. XRD Sensor berbasis ZnO

Gambar 14. adalah pola Difraksi Sinar-X dari sensor pada temperatur firing 400
o
C (penulis mendapatkan
lapisan sensitif ZnO untuk temperatur firing tersebut). Dari hasil XRD dapat diketahui bahwa pada lapisan sensitif yang
digunakan terbentuk kristal ZnO. Dari pola terlihat ZnO dengan puncak-puncak orientasi kristal 100, 002, dan 101.
Puncak-puncak yang dihasilkan yaitu pola orientasi kristal 100, 002, dan 101 menunjukan bahwa Kristal ZnO yang
terbentuk yaitu hexagonal. Dari pola difraksi yang terbentuk terlihat puncak-puncak yang menunjukan bahwa pada
sensor terbentuk Kristal ZnO hexagonal (hal ini didapatkan sesuai dengan literatur dimana Kristal ZnO yang terbentuk
hexagonal).

Karakterisasi Menggunakan EDS
Untuk mengetahui komposisi material dilakukan pengujian EDS lihat gambar 15.
Dari hasil EDS dapat diketahui bahwa material yang digunakan mengandung senyawa ZnO murni tanpa zat pengotor
lain, dimana semakin murni bahan yang digunakan akan semakin baik harga sensitivitasnya. Dimana bahan yang
digunakan mengandung persentasi massa Seng (Zn) 80.34% dan Oksigen 19.66% untuk mendapatkan 100% ZnO atau
perbandingan massa nya adalah Zn : O =4 : 1.

Karakterisasi Menggunakan SEM
Untuk mengetahui ukuran partikel-partikel ZnO hasil sintesis maka dilakukan pengambilan gambar dengan SEM
untuk film ZnO dengan temperatur firing 400
o
C.
Hasil karakterisasi menggunakan SEM memperlihatkan struktur morfologi ZnO dengan pembesaran 20000 kali.
Dari foto dengan perbesaran 20000 kali dengan skala garis tebal putih mewakili 1µm, terlihat banyak terdapat pori dan
partikel ZnO yang terbentuk. Partikel ZnO terlihat sangat kecil sekali dengan banyak pori disekitarnya. Dari gambar
dengan perbesaran 20000 kali untuk mengetahui ukuran partikel dari ZnO dengan menggunakan metode Hein. Dari foto
SEM juga dapat diketahui orientasi butir adalah random atau acak

Gambar 15. EDS material ZnO

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9



Gambar 16. Hasil SEM perbesaran 20000X

Dari hasil SEM terlihat banyaknya pori untuk berbagai perbesaran. Untuk sensor gas, semakin banyak pori akan
semakin meningkatkan sensitivitas sensor. Interaksi permukaan sensor dengan gas CO akan menghasilkan elektron
konduksi yang meningkatkan harga konduktivitas seiring dengan menurunnya harga resistansi serta peningkatan
sensitivitas sensor. Untuk ukuran butir yang semakin kecil maka sensor memiliki sensitivitas yang lebih besar, karena
lebih banyak lagi gas CO yang berinteraksi dengan lapisan sensor. Dari hasil XRD, EDS, dan SEM filmtebal ZnO
memenuhi kriteria sebagai material untuk aplikasi sensor gas.

Pengujian Sensor
Data Hasil Pengujian
Dari hasil pengujian perubahan resistansi sensor terhadap temperatur, diperoleh data seperti dalamTabel 4.

Tabel 4. Data Pengujian Perubahan Resistansi Sensor Terhadap Perubahan Temperatur Operasional
No V (Volt) T (
o
C) R (K Ω)
1 0,01 150 109,1
2 0,015 160 108,3
3 0,2 170 107,5
4 0,25 180 106,7
5 0,3 190 105,9
6 0,35 200 104,2
7 0,4 210 103,1
8 0,45 220 102,4
9 0,5 230 101,2
10 0,55 240 100,2
11 0,6 250 99,4

Dari data dalam Tabel 4., dapat dibuat grafik perubahan resistansi sensor terhadap perubahan temperatur operasional
seperti berikut :


Gambar 17. Grafik Tanggapan Perubahan R Sensor
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012

Dari hasil pengujian perubahan resistansi sensor ZnO terhadap konsentrasi gas CO, diperoleh data seperti dalamTabel 5

Tabel 5. Data Pengujian Perubahan Resistansi Sensor Terhadap Perubahan Konsentrasi gas CO

Resistansi
(KΩ)
Konsentrasi
gas CO (ppm)
3.7 0
2.66 250
2.405 500
2.085 750
1.815 1000
1.636 1250

Dari data dalamTabel 5, dapat dibuat grafik perubahan resistansi sensor terhadap perubahan konsentrasi gas seperti
berikut :


Gambar 4.7 Grafik Tanggapan Perubahan Resistansi Sensor terhadap Perubahan Konsentrasi Gas CO

Dari harga sensitivitas yang didapatkan memiliki harga yang lebih baik pada range konsentrasi gas 0 – 500 ppm
yaitu 2,8 tiap 1 ppm. Dari hasil SEM terlihat banyak pori pada bidang sentuh antara gas CO dan permukaan sensor
dimana chemisorption oksigen terjadi. Untuk sensor gas, semakin banyak pori akan semakin meningkatkan sensitivitas
sensor. Pori-pori itu akan menangkap oksigen sehingga pori-pori itu akan tertutup sehingga semakin banyak elektron
konduksi ditingkatkan sehingga konduktifitasnya semakin besar dan nilai hambatannya akan semakin menurun.
Semakin hambatan menurun maka sensitivitasnya akan semakin tinggi. Untuk memperbanyak.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada pendahuluan, dasar teori, hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
1. Pengaruh temperatur terhadap resistansi sensor ZnO untuk tiap kenaikan temperatur yaitu harga resistansi sensor
ZnO menurun secara logaritmik.
2. Pengaruh konsentrasi gas CO terhadap resistansi sensor adalah resistansi sensor menurun untuk konsentrasi gas CO
yang semakin tinggi.
3. Sensitivitas sensor meningkat untuk konsentrasi gas CO yang semakin tinggi. Dan sensitivitas terbesar didapatkan
untuk konsentrasi gas CO 0 – 500 ppm yaitu 2,8 tiap 1 ppm.

Daftar Pustaka

[1]. JAIN,P. SAGAR, R.M. MEHRA, Changes of structural, optical and electrical properties of sol-gel derived ZnO
films with their thickness, New Dehli 21, Material Science-Poland,Vol. 25, No.1, 2007.
[2]. A.V. Patil, C. G. Dighavkar, S. K. Sonawane, S. J. Patil, R. Y. Borse, Effect of Firing Temperature on Electrical
and Structural characteristic of Screen Printed ZnO Thick Film, Journal of Optoelectronic and Biomedical
Materials, Vol. 1,2009.
[3]. J. Brinker and G. W. Scherer, Sol-Gel Science - The Physics and Chemistry of Sol-Gel Processing, New York,
Academic Press, 1990.
[4]. Hayt, WilliamH. 1992. Elektromagnatika Teknologi Edisi Kelima. Erlangga : Jakarta.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-79
[5]. Hayt, WilliamH. 1992. Elektromagnatika Teknologi Edisi Kelima. Erlangga : Jakarta.
[6]. Karami, Hassan.2010.Investigation of sol-gel Synthesized CdO-ZnO Nanocomposite for CO Gas Sensing.Int. J.
Electrochem. Sci., 5 (2010) 720 – 730.
[7]. Meisel, L., dan Glang, R., 1970, Hand Book of Thin Film Technology, M Graw Hill, inc, New York, USA.
[8]. Nugraha E.R., 2006, Preparasi p-n junction CuInSe2 multilayer – ZnO dengan metode rf Sputtering dan
karakterisasi arus –tegangan, Skripsi S-1, FMIPAUGM.
[9]. S Roy And S Basu. Improved zinc oxide film for gas sensor applications. Materials Science Centre, Indian Institute
of Technology, Kharagpur 721 302, India.
[10]. Setyawati, Ika .2009.Pengaruh Variasi Suhu Sintering Terhadap Konduktivitas Senyawa Termistor Zn0,95 Mn0,05
Fe2o4.Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang.
[11]. Sze, S.M. 1981. Physics of Semicunductor devices. John Wiley & Sons Inc. : NewYork.
[12]. Van Vlack.H lawrence.1992.Ilmu dan Teknologi Bahan (Ilmu Logam dan bukan Logam (Terjemahan Sriati
Djaprie).edisi kelima.Jakarta.Erlangga.



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-80
Optimasi Kontroler PID pada Pengaturan Suhu Heater Pabrik Gula Menggunakan
Algoritma Genetika Berbasis Scilab

Muhammad Aziz Muslim
1)
, Retnowati
2)
, Riski Tri Rosana
3)

J urusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
1,2,3)

J l. MT. Haryono 167, Malang
Telepon (0341) 554166
E-mail : muh_aziz@ub.ac.id
1)

Abstrak
Penelitian ini merupakan studi kasus pengontrolan suhu Heater II di Pabrik Gula Kebon Agung
Malang. Heater merupakan salah satu plant utama pada stasiun pemurnian gula. Plant tersebut
berfungsi memanaskan nira dari suhu 60-70
0
C hingga 105
0
C. Pemanasan berlebih hingga
melebihi 110
0
C akan menyebabkan nira terurai sehingga gagal menjadi gula. Dalam situasi riil
di lapangan, heater tidak dilengkapi dengan kontrol otomatis. Dalam penelitian ini akan
dirancang suatu kontroler PID bagi proses tersebut. Agar didapatkan kontroler PID dengan
performa yang optimal, maka digunakanlah Algoritma Genetika untuk menala parameter
kontroler. Simulasi sistem keseluruhan dilakukan dengan menggunakan program SCILAB.
Langkah pertama untuk melakukan simulasi sistem adalah dengan membangun model dari
plant dalam bentuk fungsi alih. Pemodelan sistem pada heater II dalam penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan hukum I Termodinamika. Langkah selanjutnya adalah membangun
Algoritma Genetika yang akan digunakan untuk menemukan parameter kontroler PID (Kp, Ki
dan Kd) yang optimal. Dari hasil pengujian didapatkan nilai parameter-parameter PID yaitu
Kp=5,0000 ; Ki=0,4273 dan Kd=5,0000. Dari parameter-parameter kontroler PID yang
dihasilkan dari algoritma genetik tersebut memberikan memberikan performansi sistem, time
rise (tr ) sebesar 22,95 detik, settling time (ts ) sebesar 52,5 detik, error stady state sebesar
0,952% dan memiliki kestabilan sistem (akar-akar persamaan karateristiknya berada di sebelah
kiri sumbu imajiner) serta sistem memiliki ketahanan terhadap perubahan suhu nira yang
masuk.

Kata Kunci : Heater, kontroler PID, algoritma genetik, performansi sistem, SCILAB.

Pendahuluan
Tanaman tebu merupakan bahan baku utama dalam proses produksi gula di pabrik gula. Di dalamtanaman tebu
terdapat komponen penyusun yang paling penting yaitu saccharosa (C
12
H
22
O
11
). Saccahrosa dapat terurai menjadi
monosaccharida yaitu glukosa dan fruktosa. Terurainya saccharosa ini dapat disebabkan oleh organisme yang
megeluarkan enzim/asam (tebu ditimbun terlalu lama), proses pemurnian yang lama dengan suhu yang melebihi 110
0
C,
jenis tebu, susunan tanah dan iklim. Terurainya saccharosa ini harus dicegah karena nira dalambentuk monosaccharida
tidak dapat diolah menjadi gula.

Untuk bisa menjadi gula, tanaman tebu melalui beberapan tahapan proses dalam produksi, mulai dari penggilingan,
pemurnian, penguapan, masakan, puteran hingga pengepakan gula. Nira hasil dari gilingan adalah nira kotor, dan masih
bersifat asam dengan pH sekitar 5,6 – 6 karena mengandung zat-zat organik, seperti kaliumoksida, besi oksida, asam
phospat, asam sulfat. Tujuan dari stasiun pemurnian adalah untuk mendapatkan nira murni dengan kadar gula
semaksimal mungkin dan untuk menghilangkan zat-zat atau bahan organik yang terbawa oleh nira mentah sehingga
diperoleh gula yang berkualitas tinggi. Dengan cara memberikan zat kimia pada nira (asamphospat atau H
3
PO
4
dan
susu kapur atau Ca(OH)
2
) yang dapat mengikat zat organik menjadi endapan garamhalus.

Agar nira di stasiun pemurnian, selama proses pemisahan dengan kotoran atau zat-zat organik dan saccharosa tidak
terurai, maka nira yang masih mentah ini, membutuhkan kondisi suhu pemanasan yang tepat. Kondisi yang tepat
tersebut yaitu dengan mengatur suhu pada heater II agar berada diatas suhu 105
0
C dan tidak melebihi 110
0
C. Dan
karena plant di pabrik tersebut tanpa kontroler, maka dapat terjadi error steady state (e
SS
) yang besar, settling time
(t
S
) dan rise time (t
r
) yang lama serta overshoot. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dirancang suatu sistem
kontroler PID (Proposional, Integral dan Diferensial) dengan menggunakan algoritma genetik untuk pengaturan suhu
pada heater II melalui valve untuk mengalirkan uap/steam sebagai pemanas di stasiun pemurnian PG. Kebon Agung
Malang. Pemilihan kontroler PID dikarenakan masing-masing kontroler tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
Kontroler P memiliki kelebihan segera mengoreksi manipulated variable tapi tidak dapat menghilangkan offset error,
sedangkan kontroler I memiliki kelebihan menghilangkan offset error, tapi cenderung lambat dan timbul overshoot.
Serta kontroler D yang memilki kelebihan untuk mempercepat respon awal suatu sistemdan mengurangi overshoot
[1]. Dari penggabungan kontroler-kontroler tersebut tujuannya untuk mendapatkan aksi kontrol yang mempunyai
kriteria performansi sistem yang sesuai tujuan. Penerapan Algoritma Genetik dalam penelitian ini adalah untuk
mengatasi kesulitan dalam penentuan parameter kontroler PID (Kp, Ki dan Kd ). Dalamhal ini dimaksudkan untuk
memilih nilai-nilai terbaik dari parameter- parameter tersebut sehingga akan menghasilkan kriteria performasi sistem
yang optimal.
Metodologi Penelitian
Penelitian diawali dengan penentuan model sistemyang diperoleh dari observasi lapangan dan penggunaan hukum
Termodinamika. Model yang didapat disimulasikan dalam bentuk sistem loop tertutup menggunakan kontroler
proporsional untuk melihat karakteristik sistem. Selanjutnya akan didesain kontoler PID yang memiliki parameter
optimal dengan bantuan Algoritma Genetika.
Perancangan Sistem dan Analisis
Pemodelan Sistem
Heater II merupakan salah satu plant yang terdapat di stasiun pemurnian yang fungsinya untuk memanaskan nira
hingga mencapai suhu 105
0
C. Pemanasan ini betujuan agar reaksi antara susu kapur (Ca(OH)
2
dengan gas SO
2
di
dalamnira mentah menjadi lebih sempurna dan juga bertujuan untuk menciptakan kondisi yang optimumpada proses
berikutnya yaitu preftoc tower. Gambar 1 merupakan diagramproses pada heater II.













Gambar 1. Proses pada Heater II
Proses pemanasan di heater II dipengaruhi oleh laju aliran uap dan suhu nira yang masuk ke heater II. Pemodelan
matematis sistemdidasarkan pada Hukum I Termodinamika, dan pemodelan pada heater II digunakan asumsi
sebagai berikut:
1. Di dalam sistem heater II sistem adalah isokoris dan isobaris, tidak ada perubahan volume atau pemuaian
pada nira, dan sistemtidak mengalami dan tidak dikenai usaha
2. Distribusi temperatur (panas) di dalam dianggap seragam dan merata serta rugi-rugi panas ke lingkungan
diabaikan
3. Suhu uap yang memanaskan nira di heater II stabil, sehingga panas yang pindahkan berasal dari energi
panas uap (Q
U
)
4. Laju aliran nira yang masuk dan keluar konstan serta kapasitas panas (C
n
) nira konstan
5. Laju perpindahan panas dianggap konstan.

Hukum I Termodinamika menyatakan bahwa perubahan energi dalam sistem (ΔU) adalah sama dengan energi panas
(Q) sistem dikurangi dengan usaha (W) yang dilakukannya atau dapat dirumuskan sebagai berikut:

(1)

Pada sistemini diasumsikan bahwa W =0. Q dari nira yang keluar dapat dinyatakan dalampersamaan (2):


(2)
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
karena Q
n
dan C
n
konstan, maka
(3)

Laju energi panas yang diberikan oleh uap (steam) ditunjukkan pada persamaan (4)
(4)

Karena nira diasumsikan tidak memuai atau tidak terjadi perubahan volum(isokoris dan isobaris), maka usaha sistem
(W) sama dengan nol atau sistemtidak melakukan usaha. Sedangkan perubahan energi dalam(ΔU) sistem berasal dari
perubahan panas nira, sehingga ΔU dapat diselesaikan sebagaimana pada persamaan (5)-(6):

(5)
(6)

Substitusi (3), (4) dan (6) ke (1) akan menghasilkan persamaan (7):

(7)

Dengan menggunakan Transformasi Laplace dan serangkaian manipulasi matematis didapatkan model paling sedernaha
dari Heater II pada persamaan (8):

(8)

Dari data-data teknis di lapangan [2], didapatkan hasil akhir pemodelan sistem pada persamaan (9):
(9)

Control valve yang dipergunakan dalamsistemdiasumsikan merupakan sistem berorde satu. Dari data-data di lapangan
diperoleh transfer function dari control valve sebagai berikut:
(10)



Perancangan Sistem Kontrol
Skema kontrol yang dirancang adalah sistem kontrol dalambentuk loop tertutup. Blok diagram keseluruhan sistem
kontrol loop tertutup untuk pengendalian suhu nira pada Heater II diperlihatkan pada Gambar 2. Pada Gambar 2, R(s)
adalah suhu nira yang diharapkan (T
sp
), D(s) adalah suhu nira yang masuk (T
ni
), Y(s) adalah suhu nira yang keluar (T
no
),
H(s) adalah transduser suhu-arus, G
p
(s) adalah plant heater II dan PID adalah kontroler PID yang akan dirancang.

Gambar 2. Blok Diagram SistemKontrol Pemanasan Nira
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-83
Dengan menggunakan prinsip superposisi pada blok diagram Gambar 2, didapatkan transfer function sistem
keseluruhan sebagai berikut:


(11)


Penentuan Parameter Kontroler PID dengan Algoritma Genetika

Algoritma Genetika adalah teknik pencarian solusi optimal secara heuristik yang didasarkan atas konsep evolusi, yaitu
konsep pewarisan sifat (heredity) dan seleksi alam(natural selection). Langkah-langkah penyelesaian dalamAlgoritma
Genetika dapat diringkas sebagai berikut [3][4]:

1. Penentuan Populasi awal. Populasi terdiri dari sekumpulan individu. Tiap individu merepresentasikan bakal
solusi yang akan dipilih.
2. Evaluasi kebugaran (fitness). Tiap individu akan dievaluasi kebugarannya untuk menentukan apakah akan
diikutkan dalam proses selanjutnya ataukah tidak. Fungsi kebugaran menunjukkan seberapa dekat individu
tersebut dengan solusi terbaik yang diharapkan
3. Penggunaan operator genetika. Ada 2 operator dasar yang seringkali digunakan, yaitu operator kawin silang
(cross over) dan operator mutasi (mutation). Dari proses genetika ini akan dihasilkan individu-individu baru
(keturunan/offspring) yang kemungkinanlebih baik dari induknya.
4. Kembali ke langkah 1. Dari keturunan yang diperoleh, akan dievaluasi individu mana yang akan dipertahankan
atau digantikan sehingga populasi baru yang didapat lebihbaik dari populasi sebelumnya. Langkah 1-4 akan
berulang terus hingga didapatkan individu dengan tingkat kebugaran yang diharapkan.

Dalampenelitian ini tiap kromosom merepresentasikan parameter Kp, Ki dan Kd dari kontroler PID. Parameter-
parameter tersebut dibuat dalambilangan biner dengan panjang bit masing-masing adalah 13 bit. Sehingga panjang total
dari tiap individu adalah 13 bit. Berdasarkan eksperimen awal, dipilih besar populasi adalah 50 buah individu yang
diseleksi berdasarkan fungsi fitness yang dimiliki tiap individu. Fungsi fitness yang dipilih berdasarkan kriteria Integral
of Absolute Error (IAE), yaitu:


(12)

Dengan fungsi fitness sebagai berikut:

(13)


dengan A adalah bilangan bulat kecil untuk menghindari pembagian dengan bilangan nol.

Individu-individu yang telah diseleksi berdasarkan fungsi fitness-nya akan mengalami proses genetika. Untuk memilih
individu yang akan dikawin silangkan, digunakanlah teknik roulette wheel [4]. Individu yang terpilih akan mengalami
proses crossover. Pada penelitian ini digunakanlah teknik one cut point crossover. Berdasarkan eksperimen, nilai fitness
terbaik dicapai dengan menggunakan probabilitas crossover sebesar 0.7. Proses genetika selanjutnya adalah mutasi.
Probabilitas mutasi, berdasarkan eksperimen, dipilih sebesar 0.001.

Setelah generasi yang ke-100, diperoleh hasil tuning parameter PID yang menyebabkan respon sistemdalam kondisi
steady, sehingga proses algoritma genetika dihentikan pada generasi yang ke-100. Hasil akhir dari proses tuning
kontroler PID diperlihatkan pada Gambar 3. Besaran nilai parameter PID terbaik adalah: Kp=5, Ki=0.4273, dan Kd=5.









Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012

Gambar 3. Hasil Akhir Tuning Parameter Kontroler PID
Dengan menggunakan parameter kontroler PID hasil penalaan, didapatkan respon sistemyang diperlihatkan pada
Gambar 4. Pada gambar tersebut, diperoleh settling time dan error steady state masing-masing sebesar 52.5 detik dan
0.952%. Hal ini jauh memperbaiki kondisi riil di lapangan yang memiliki settling time dan error steady state masing-
masing sebesar 2 menit dan 10%.

Gambar 4. Simulasi Pengontrolan Sistemdengan Kontroler PID yang ditala dengan Algoritma Genetika

Untuk menguji ketangguhan sistemterhadap gangguan (dalamhal ini adalah perubahan suhu nira yang masuk),
disimulasikan kinerja kontroler terhadap gangguan. Gambar 5 memperlihatkan kemampuan kontroler untuk menjaga
suhu output tetap dibawah 110
o
C saat diberi gangguan.


Gambar 5. Simulasi Pengontrolan Sistemdengan Kontroler PID yang ditala dengan Algoritma Genetika
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-85
Kesimpulan
1. Pemodelan sistem pada heater II, didapatkan fungsi alih model plant yaitu :





2. Perancangan kontroler PID di heater II dengan menggunakan algoritma genetik didapatkan nilai parameter,
Kp=5,0000 ; Ki=0,4273 dan Kd=5,0000.

3. Pengendalian suhu nira dengan kontroler PID dari hasil algoritma genetik tersebut didapatkan respon sistem
yang baik dan tahan terhadap gangguan perubahan suhu nira yang masuk.
Daftar Notasi
ΔU : perubahan energi dalam sistem
Q : energi panas
W : usaha
I
no
: suhu nira yang keluar dari heater II (
o
C)
µ
n
: laju aliran nira yang masuk (kg/s)
C
n
: kapasitas panas nira (J/kg
o
C)
I

: suhu nira yang masuk ke heater II (
o
C)
I
u
: panas laten uap (J/kg)
µ
u
: laju aliran uap yang memanaskan heater II (kg/s)
m : massa nira (kg)
Daftar Pustaka
[1] Ogata, Katsuhiko, Modern Control Engineering (3
rd
edition). USA: Prentice Hall, 1997.
[2] Wirahadi, M. Denny, Rosana, Riski Tri, “SistemInstrumentasi Pada Stasiun Ketel di PG Kebon Agung
Malang,” Laporan KKN-P Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Tidak Diterbitkan, 2010.
[3] M. Aziz M, Goegoes D.N, Jefri Wijaya, “Desain dan Uji Performasi Kontroler PID yangDitala dengan Algoritma
Genetika Berbasis ITAE pada Pengaturan Posisi Motor DC Servo,” in Conference on Information Technology and
Electrical Engineering (CITEE), Yogyakarta, 2010, pp. 97 –102.
[4] David E. Goldberg, Genetic Algorithms in Search, Optimization and Machine Learning. Canada: Addison-
Wesley, 1989


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-86
Metoda Pembacaan Lebar Pulsa Sinyal PWM Motor Servo dengan Timer 16 bit pada
Mikrokontroler AVR

Oka Mahendra
Pusat Penelitian Informatika LIPI
Kompleks LIPI Gd 20 Lt 3 J l. Cisitu Sangkuriang No.21/154D Bandung 40135
E-mail : anakwisnu@yahoo.com
Abstrak
Makalah ini membahas mengenai metoda pembacaan lebar pulsa sinyal PWM motor servo
dengan timer 16 bit pada mikrokontroler AVR. Metoda ini dapat diaplikasikan pada
mikrokontroler yang mendukung timer 16 bit, seperti ATMega8535, ATMega16, ATMega128,
atau mikrokontroler lain. Prosedur diawali dengan pengecekan ada tidaknya sinyal PWM dan
kestabilan sinyal PWM. Hasil pengecekan ini ditampilkan pada LCD penampil. Jika sinyal
PWM ada,, maka timer mulai dijalankan sebegai counter internal untuk menghitung lebar pulsa
PWM dengan resolusi sebesar 1/frekuensi kristal. Timer berhenti pada saat pulsa PWM
berubah dari tinggi ke rendah. Lebar pulsa dihitung berdasarkan nilai counter yang ada pada
register timer dan selanjutnya ditampilkan pada LCD. Pada penelitian ini, dibangun prototype
dengan menggunakan mikrokontroler ATMega8535. Dengan kristal eksternal sebesar 4Mhz
diperoleh resolusi pembacaan sebesar 0,25µs. Pengujian akurasi dilakukan dengan
membandingkan hasil pembacaan dengan sinyal PWM referensi yang dihasilkan oleh
transmitter Futaba 8 kanal. Pada pengujian ini diperoleh persentase error sebesar 0,8%. Pada
pengujian kedua, hasil pembacaan dibandingkan dengan sinyal PWM referensi yang dihasilkan
oleh mikrokontroler ATMega8535 lain, diperoleh persentase error sebesar 0,28%.

Kata Kunci : PWM, motor servo, timer, counter, mikrokontroler, AVR.

Pendahuluan
Motor servo sering digunakan untuk mengontrol gerak piranti elektronika seperti mobil mainan yang menggunakan
radio kontrol, helikopter atau pesawat terbang RC (Remote Control), serta robot-robot seperti yang bertanding di kontes
robot cerdas. Pada motor servo tanpa dimodifikasi, lengan servo tidak bergerak berputar kontinyu, tetapi menghasilkan
sudut putaran yang presisi, yang umumnya dibatasi maksimal 180
0
[1]. Pada pembuatan animasi film, puluhan motor
servo digunakan untuk mengontrol objek bergerak seperti robot raksasa, dinosaurus, dan sebagainya[1]. Beberapa
motor servo dapat saling bekerjasama untuk menggerakkan kaki-kaki robot, seperti pada robot laba-laba[2]. Bentuk
motor servo DC diperlihatkan pada Gambar 1. Motor servo ini umumnya memiliki tiga pin, yaitu dua buah terminal
tegangan (positif dan negatif), serta sebuah pin untuk input sinyal PWM.



Gambar 1. Motor servo DC yang sering digunakan pada aplikasi robotika
Modulasi lebar pulsa (Pulse Width Modulation) atau PWM sering digunakan untuk mengontrol prianti analog dan
digital. Aplikasi PWM digunakan luas, misalnya untuk pengukuran, komunikasi, serta kontrol dan konversi daya[3].
Penggunaan PWM untuk pengukuran misalnya pada sensor kalorimeter yang menghasilkan output PWM[4]. Jika PWM
digunakan untuk mengontrol piranti analog, lebar pulsa sebanding dengan daya yang dihasilkan. Aplikasi PWM untuk
mengontrol piranti analog misalnya pada pengontrolan kecepatan motor DC[5]. PWM yang digunakan pada aplikasi
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-87
kontrol dapat berupa gelombang kotak atau sinusoidal[6]. Untuk mengontrol motor servo DC, digunakan sinyal PWM
dalambentuk gelombang kotak secara digital, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.


Gambar 2. Sinyal PWM untuk mengontrol posisi lengan motor servo[1]
Pada gambar 2 diperlihatkan metoda pengontrolan motor servo secara digital. Sinyal PWM dengan lebar duty (high
level) sebesar 0,9 ms – 2,1 ms diperlukan untuk mengontrol posisi lengan servo pada sudut 0
0
–180
0
. Periode sinyal
PWM standar (high dan low) adalah 20 ms. Agar lengan motor servo membentuk sudut 0
0
, maka motor servo perlu
diberi sinyal terkecil, yang besarnya sekitar 0,9 – 1,0 ms, tergantung spesifikasi motor servo yang digunakan. Posisi
tengah atau 90
0
terjadi ketika motor servo mendapat sinyal PWM dengan lebar 1,5 ms. Posisi terakhir atau 180
0
terjadi
ketika motor servo diberi sinya PWM dengan lebar 2,0 – 2,1 ms, tergantung spesifikasi motor servo yang digunakan.
Untuk motor servo yang beroperasi pada PWM 1,0 – 2,0 ms, maka setiap µs akan memberikan resolusi sebesar 0,18
0
.
Pada aplikasi gerak helikopter RC, resolusi ini sangat penting, kesalahan sekitar 1
0
dapat menghasilkan helikopter
bergerak tidak stabil atau jatuh. Pada aplikasi-aplikasi yang membutuhkan ketelitian tinggi tersebut, presisi dari sinyal
PWM sangat diperlukan.

Untuk mengukur lebar duty (high level) sinyal PWM secara akurat, diperlukan alat pembaca sinyal PWM yang teliti
dengan resolusi dan akurasi yang tinggi. Praktisi aeromodelling biasanya menggunakan motor servo untuk mengukur
sinyal PWM. Penggunaan motor servo untuk mengukur sinyal PWM ini hanya menggambarkan posisi secara kasar dan
tidak mendetail. Saat makalah ini ditulis, alat pembaca PWM digital yang akurat belumada di pasaran Indonesia. Untuk
menyelesaikan masalah ini, perlu dibuat alat pembaca sinyal PWM digital yang akurat. Pada makalah ini, dibahas
metoda, perancangan, dan pengujian alat pembaca sinyal PWM digital menggunakan timer 10 bit pada mikrokontroler
AVR.
Desain Perangkat Keras
Mikrokontroler ATMega8535 dipilih untuk membangun alat pembaca sinyal PWM ini. Mikrokontroler ini dipilih
karena memiliki timer 16 bit[7], sehingga dapat menghasilkan pengukuran yang akurat. Selain itu, mikrokontroler ini
juga tersedia luas di pasaran Indonesia. Mikrokontroler ATMega8535 ini terpasang pada sistem minimum yang
dilengkapi dengan power supply 5V menggunakan IC7805, kristal 4Mhz, dan RS-232 UART. Sistemminimum yang
digunakan pada prototype penelitian ini adalah modul Innovative Electronics DT-AVR Low Cost Micro Sistem. Modul
sistem minimum ini diperlihatkan pada Gambar 3.



Gambar 3. Sistemminimum ATMega8535
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-88
Mikrokontroler ATMega8535 memiliki 3 buah timer/counter, yaitu 8 bit timer 0, 16 bit timer 1, dan 8 bit timer 2. Timer
1 digunakan untuk mendapatkan resolusi pengukuran yang tinggi. Timer ini bekerja dengan counter internal, yang
besarnya sama dengan frekuensi kristal yang digunakan, yaitu sebesar 4Mhz. Pada perancangan alat pembaca PWM ini,
digunakan salah satu pin pada mikrokontroler ATMega8535 sebagai input sinyal PWM. Pin yang digunakan ini bisa
memakai pin mana saja. Pada prototype yang diujicoba, dipilih PINC.0.

Mikrokontroler ATMega835 pada dasarnya bisa digantikan dengan mikrokontroler lain yang memiliki timer 16 bit, baik
dari jenis AVR, PIC, atau yang lain. Mikrokontroler lain yang bisa digunakan untuk menghasilkan performa yang sama
antara lain ATMega16, ATMega32, ATMega128, dan sebagainya.

Sebagai output untuk menampilkan hasil pembacaan PWM, digunakan LCD karakter 16x2 baris. LCD ini cukup
ekonomis dan mudah didapat di pasaran Indonesia. Bentuk LCD ini diperlihatkan pada Gambar 4.


Gambar 4. LCD karakter 16x2 baris
LCD ini diletakkan pada salah satu port di mikrokontroler ATMega8535. Pada percobaan prototype, LCD diletakkan
pada PORTA. Prototype diperlihatkan pada gambar 5. Prototipe ini membuhkan catu daya sebesar 9-12V untuk
beroperasi. Sinyal PWM dapat dibaca pada level TTL (5V) diumpankan pada PINC.0.




Gambar 5. Prototype alat pembaca sinyal PWM motor servo
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-89
Desain Perangkat Lunak
Pada permulaan desain perangkat lunak, dipilih timer dengan frekuensi clock yang sesuai dengan kebutuhan
pengukuran. Pada mikrokontroler ATMega8535, frekuensi clock timer dapat diset sama dengan frekuensi clock sistem
atau dengan skala 1/8, 1/64, 1/256, atau 1/1024. Frekuensi clock sistem dipilih sebesar 4Mhz menggunakan kristal
eksternal. Penggunakan kristal yang lebih besar akan memberikan resolusi yang lebih baik. Frekuensi clock timer
dipilih yang tercepat, yaitu sama dengan frekuensi clock sistem, yaitu sebesar 4Mhz.

Selanjutnya ditentukan algoritma program. Prosedur diawali dengan pengecekan ada tidaknya sinyal PWM dan
kestabilan sinyal PWM. Hasil pengecekan ini ditampilkan pada LCD penampil. Pengecekan ini dapat menggunakan
metode polling, yaitu dengan jalan menunggu sinyal PWM apakah berubah sesuai dengan jangkauan sinyal PWM untuk
motor servo (0,9 ms – 2,1 ms). Di lihat pula kestabilan sinyal dengan membandingkan pengukuran terkini dengan
pengukuran sebelumnya.

Jika sinyal PWM ada, maka timer mulai dijalankan sebagai counter internal untuk menghitung lebar pulsa PWM
dengan resolusi sebesar 1/frekuensi kristal. Timer berhenti pada saat pulsa PWM berubah dari tinggi ke rendah. Lebar
pulsa dihitung berdasarkan nilai counter yang ada pada register timer dan selanjutnya ditampilkan pada LCD.
Algoritma program diperlihatkan pada gambar 6. Program ditulis dengan bahasa C menggunakan compiler dan
downloader CodeVisionAVR. Alternatif tool pemrograman lain adalah WinAVR. Pada prototype sistem, board
mendukung in-system-programming sehingga penulisan program, debugging, dan downloading dapat dilakukan tanpa
harus membuka dan memasang IC mikrokontroler.



Gambar 6. Algoritma program
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-90
Hasil dan Pembahasan
Untuk frekuensi clock timer tertentu (f), maka setiap counter (internal) akan menghasilkan delay (T) sebesar :

T=1/f (2)

Dengan frekuensi clock timer sebesar 4 Mhz, diperoleh delay counter sebesar 0,25 µs. Artinya setiap satuan counter
merepresentasikan delay selama 0,25 µs. Jika frekuensi clock dipilih sebesar 16 Mhz, maka setiap satuan counter
merepresentasikan delay selama 0,0625 µs. Pada prototipe digunakan frekuensi clock timer sama dengan frekuensi
clock sistem, yaitu sebesar 4 Mhz.

Pada saat sinyal PWM pada level tinggi (high atau 5V), timer mulai dijalankan dan ditunggu sampai dengan sinyal
berubah dari tinggi ke rendah. Proses ini diperlihatkan seperti pada kode berikut ini:

while (PINC.0 ==1)
{
TCCR1B=0x01; //timer 1 aktif
}
TCCR1B=0x00; //timer 1 berhenti
nilai_timer =TCNT1;
TCNT1 =0;

Nilai timer adalah sebesar counter internal yang telah berjalan selama Timer 1 ON, yaitu untuk setiap satuan counter
merepresentasikan nilai delay selama 0,25 µs. Dengan delay ini, maka perioda 1µs akan direpresentasikan dengan
counter =4. Nilai 4 ini adalah konstanta pembagi counter agar menghasilkan nilai pulsa PWM dalamsatuan µs.

Agar menghasilkan nilai pulsa PWM dalamµs, nilai counter internal (c) dibagi dengan konstanta pembagi (K) yang
besarnya K ini adalah sama frekuensi clock timer (f) dalamMhz, atau dirumuskan:

PWM =c/K (2)

PWM (µs) =c /f (MHz) (3)

Nilai counter internal diperoleh dengan langsung membaca register timer 16 bit, yang pada ATMega8535 diletakkan
pada register TCNT1. Setelah diperoleh nilai PWM, nilai PWM ini ditampilkan pada LCD. Besarnya resolusi
pembacaan ini adalah sebesar delay pada satu satuan counter, yaitu sebesar 1/f. Untuk f sebesar 4 Mhz maka resolusi
pembacaan adalah sebesar 0,25 µs.

Pengujian akurasi dilakukan dengan dua buah metoda. Metoda yang pertama adalah dengan perbandingan pengukuran
dengan sinyal tengah yang dihasilkan oleh transmitter Futaba 8ch T8FG. Transmitter ini diperlihatkan pada gambar 7.
Pengujian ini mengambil asumsi nilai PWM yang dihasilkan oleh transmiter ini pada titik tengah adalah tepat sebesar
1500 ms.

Gambar 7. Transmitter Futaba 8ch
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-91
Akurasi alat dinyatakan dalampersentase error dapat dirumuskan :


Persentase error =| nilai terukur – nilai sebenarnya | / nilai sebenarnya * 100 %

(4)

Sinyal PWM pada posisi center yang dihasilkan oleh transmitter terbaca oleh prototype sebesar 1512 ms (nilai terukur).
Dengan asumsi sinyal ini adalah sebesar 1500 ms (nilai sebenarnya), maka diperoleh persentase error sebesar 0,8%.

Pada pengujian kedua, sinyal PWM yang diukur adalah sinyal PWM yang dihasilkan oleh mikrokontroler ATMega8535
dalamboard yang terpisah. Dengan menggunakan compiler CodeVisionAVR dibuat delay dengan menggunakan fungsi
yang disediakan oleh compiler, yaitu delay_us. Enambuah pin diujicobakan dalam percobaan ini, yaitu PORTA.0,
PORTA.1, PORTA.2, PORTA.3, PORTA.4, dan PORTA.5. Masing-masing pin diprogram agar menghasilkan sinyal
PWM dengan lebar pulsa seperti terlihat pada tabel 1. Nilai PWM yang terbaca ditunjukkan pada kolom berikutnya di
tabel yang sama. Hasil rata-rata persentase error yang diperoleh dari pengujian ini adalah sebesar 0,28%.

Tabel 1. Perbandingan nilai pembacaan dengan nilai yang dihasilkan oleh mikrokontroler lain

No. Pin Nilai PWM
yang di-generate (ms)
Nilai PWM
yang terbaca (ms)
Selisih
(mutlak)
Persentase
Error (%)
1. PORTA.0 1000 1004 4 0,40
2. PORTA.1 1200 1202 2 0,17
3. PORTA.2 1400 1404 4 0,29
4. PORTA.3 1500 1504 4 0,27
5. PORTA.4 1600 1605 5 0,31
6. PORTA.5 2000 2005 5 0,25
Rata-rata 0,28

Error pengukuran pada pengujian pertama, selain disebabkan oleh error alat pembaca (alat ukur) juga disebabkan oleh
error yang dihasilkan oleh transmitter Futaba. Error pada pengukuran kedua, disebabkan oleh error alat pembaca yang
muncul akibat waktu yang diperlukan mikrokontroler untuk membaca perubahan nilai level pin dan memproses intruksi.
Kesimpulan
Metoda pembacaan sinyal PWM motor servo dengan timer 16 bit pada mikrokontroler AVR menunjukkan resolusi dan
akurasi yang tinggi. Metoda ini dilakukan dengan menjalankan timer pada saat sinyal PWM pada level tinggi (5V)
kemudian menghentikannya pada saat sinyal berubah menjadi rendah. Nilai PWM dihitung berdasarkan frekuensi clock
yang digunakan. Dengan metoda ini, resolusi pembacaan untuk frekuensi clock 4 MHz adalah sebesar 0,25 µs. Nilai ini
cukup detail untuk dapat mengukur apakah sinyal PWM yang dihasilkan oleh piranti akurat atau tidak. Akurasi
pengukuran dinyatakan dalam persentase error, dan pada pengujian prototype alat pembaca ini, diperoleh persentase
error sebesar 0,8% dengan pembanding transmitter Futaba 8 kanal, dan persentase error sebesar 0,28% dengan
pembanding mikrokontroler sejenis pada board lain.
Daftar Pustaka
[1] Nathaniel Pinkney, “Pulse-width modulation for microcontroller servo control”, IEEE POTENTIALS,
J anuary/February, 2006.
[2] Chin-Pao Hung, et al, “PIC-Based Multi-Channel PWM Signal Generation Method and Application to Motion
Control of Six Feet Robot Toy”, International Journal of Circuits, Systems, and Signal Processing, Issue 2
Volume 3, 2009, pp. 73-81.
[3] Michael Barr, “Pulse Width Modulation for microcontroller servo control”, Embedded System Programming,
Beginners Corner's, September 2001.
[4] AI Klimov, et al, “A Calorimeter for High Power Microwave Pulse Measurement”. High Power Microwaves,
2008, pp. 422-424.
[5] J efri Efendi Mohd Salih, et al, “Designing Omni-Directional Mobile Robot with MecanumWheel”, American
Journal of Applied Sciences, (3)5, 2005, pp. 1831-1835.
[6] T Antonakopoulos and V. Makios, “A New Microcontroller Based Technique for Generating Variable
Voltage/Frequency Sinusoidal PWM Signals”, International Journal of Electronics, Vol. 88 No.5, 2001, pp. 615-
624.
[7] Atmel corp. (2012, October 1), ATMega8535 datasheet [online], Available: www.atmel.com


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-92
Purwarupa Kontrol Temperatur Ruang Pembakaran Tegel Menggunakan Metode Fuzzy
Logic

Richa Watiasih, Ahmad Nurhuda
Prodi Teknik Elektro Universitas Bhayangkara Surabaya
Email : richa@ubhara.ac.id, achmad_n.h_86@yahoo.com

Abstrak
Sistem pengontrolan temperatur ruang pembakaran tegel masih menggunakan cara satu modul
kontrol untuk satu ruang, dalam pengoperasiannya terdapat kendala ketika diterapkan pada
banyak ruang pembakaran sehingga diperlukan banyak modul kontrol temperatur yang harus
dioperasikan dan dimonitor secara kontinyu. Dalam penelitian ini dibuat purwarupa kontrol
temperatur ruang pembakaran tegel yang berupa delapan kontrol temperatur dalam satu
modul yang bekerja dengan menggunakan metode Fuzzy Logic. Thermocouple tipe K
digunakan sebagai detektor temperatur ruang pembakaran tegel, sedangkan pengontrolan
temperatur dilakukan dengan memanfaatkan mikrokontroler ATMega 8535 dan secara remote
menggunakan PC melalui koneksi serial RS 485 yang bersifat multipoint dan program
interfacing menggunakan Delphi 7.0, secara umum program delphi ini digunakan untuk
memantau kerja dari mikro sebagai otak plan, sehingga semua aktifitas dari mikrokontroler
dalam hal pengambilan data dan pengontrolan secara fuzzy logic didalamya, semuanya dapat
termonitor dalam satu tampilan saja. Dari hasil pengujian yang dilakukan saat diberi setting
point temperatur pada purwarupa ruang pembakaran tegel, memiliki respon buka tutup katup
aliran udara panas yang cukup baik. Dengan fluktuasi naik turun aktual temperatur sekitar -
3
o
C hingga +3
o
C dari kondisi setting point yang diberikan, kondisi fluktuasi tersebut
merupakan respon dari kontrol Fuzzy Logic dalam mencapai setting point.

Kata kunci : Thermocouple Tipe K, ATMega 8535, RS 485, Ruang Pembakaran Tegel,
Fuzzy Logic

1. Pendahuluan
Sistem pengontrol temperatur merupakan hal yang sering ditemui dalam dunia industri, banyak yang dapat
diaplikasikan pada suatu proses industri menggunakan kontrol temperatur tersebut. Salah satunya pada PT. PLATINUM
Ceramics Industri, perusahaan ini menggunakan lebih dari lima belas kontrol temperatur dalamsatu sistempembakaran
saja. Tiap control temperatur akan memonitor area ruang dengan temperatur yang berbeda-beda, sehingga dapat
dipastikan bahwa pemantauan secara berkala tidak efisien dalampenggunaannya, apalagi dalam area produksi terdapat
empat sistempembakaran yang harus selalu dipantau.
Supaya pemantauan lebih efisien dapat digunakan PC (Personal Computer) untuk bisa mendapatkan data dari masing-
masing kontrol temperatur tersebut, yang kemudian data tersebut dapat disimpan dalam database, menggunakan
Microsoft Access untuk recording data secara otomatis, terhadap sistem yang berjalan. Dari sebuah tampilan di PC
tersebut, User mampu memonitor dan mengontrol semua control temperatur dalamsatu sistempembakaran, hanya
dalam satu tampilan saja. Sehingga user dapat merubah Setpoint temperatur, memonitor, dan mengetahui
ketidaknormalan aktuator pada tiap control temperatur dalam satu kendali.
Dengan memanfaatkan interfacing serial UART antara mikrokontroler dengan komunikasi serial RS232 komputer
akan menghasilkan Purwarupa Kontrol Temperatur Ruang Pembakaran Tegel menggunakan Borland Delphi dan
Mikrokontroler, sehingga diciptakan suatu efisiensi kendali dan monitoring beberapa pengontrol temperatur dari jarak
tertentu dengan menggunakan PC.

1. Teori dan Metodologi
Thermocouple
Thermocouple merupakan sistempengukuran temperatur. Thermocouple terdiri dari sambungan (junction) dari dua
logamyang berbeda. Pada sambungan ini terdapat tegangan listrik yang nilainya dipengaruhi oleh temperature junction.
Elemen sensor temperatur (measuring junction) menghasilkan beda tegangan atau electromotive force (emf), yang
kemudian emf yang dihasilkan dibandingkan dengan skala konversi tertentu menjadi unit temperatur. Pada
thermocouple terdapat 3 efek yang saling berkaitan yaitu :
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-93
- Efek Seebeck Bila dua logam yang berbeda dan dihubungkan maka akan timbul tegangan listrik antara kedua
terminal yang besarnya tergantung pada temperatur pada junctionnya (temperatur pada titik hubung antara kedua
logamtersebut).
- Efek Peltier Bila pada junction tersebut mengalir arus listrik maka tegangan listrik yang terjadi tadi akan berubah
naik atau turun tergantung dari arah arus listrik yang mengalir pada junction tersebut.
- Efek Thomson Bila sepanjang logamtersebut terdapat gradient temperatur, maka besarnya tegangan juga akan
berubah.

Jika dipasang voltmeter dapat dibaca beda potensial listriknya. Rangkaian dasar thermocouple dapat dilihat seperti
gambar 1 berikut:

Gambar 1. Rangkaian Dasar Thermocouple.

Tipe K Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy)
Thermocouple type K merupakan thermocouple yang paling umum digunakan. Thermocouple ini menggunakan
type base metal, tersedia untuk rentang suhu −200 °C hingga +1200 °C dan diperpanjang hingga 1300 °C untuk
pembacaan pendek. Thermocouple ini tahan terhadap oksidasi atmosfer tetapi dipengaruhi oleh penurunan dan sulfur
yang berisi gas pada temperatur yang tinggi.

Fuzzy Logic
Fuzzy Logic adalah suatu metodologi kendali digital yang menggunakan bahasa manusia dari sistemfisik dan
strategi kendali yang diperlukan untuk disimulasikan secara alami. Suatu fuzzy logic Control dapat dipandang sebagai
suatu expert system yang menggunakan fuzzy logic untuk memanipulasi variabel-variabel kualitatif. Fuzzy Logic
mernberikan suatu cara mengubah strategi pengendalian secara bahasa (lingustic control strategy) yang diturunkan dari
pengetahuan pakar ke dalamstrategi pengendalian otornatis (Automatic Control Strategy).
Untuk mengerti sistem fuzzy, harus dikenal konsep dasar yang berhubungan dengan logika fuzzy, yaitu :

Gambar 2. Konsep dasar logika fuzzy
- Scope/domain himpunan fuzzy adalah keseluruhan nilai yang diijinkan dalamsemesta pembicaraan dan boleh
dioperasikan dalamsuatu himpunan fuzzy.
- Derajat keanggotaan (Degree of membership) ini adalah derajat dimana nilai crisp compatible dengan fungsi
keanggotaan ( dari 0 sampai 1 ), juga mengacu sebagai tingkat keanggotaan, nilai kebenaran, atau masukan fuzzy.
- LABEL adalah nama deskriptif yang digunakan untuk mengidentifikasikan sebuah fungsi keanggotaan
- Fungsi keanggotaan(Membership Function) Suatu bentuk bangun yang merepresentasikan suatu batas dari
scope/domain.
- Variabel fuzzy merupakan variabel yang hendak dibahas dalam suatu sistemfuzzy. Contoh: kecepatan, tegangan,
temperatur, dan sebagainya.
- Daerah batasan crips adalah jangkauan seluruh nilai yang mungkin dapat diaplikasikan pada variabel sistem.
Menggunakan logika fuzzy untuk mencapai penyelesaian crisp pada masalah khusus biasanya melibatkan tiga
langkah : fuzzyfikasi, evaluasi rule, dan defuzzyfikasi.
- Semesta pembicaraan (universe of discourse) adalah keseluruhan nilai yang diperbolehkan untuk dioperasikan
dalamsuatu variabel fuzzy.
- Crisp Input / Nilai input analog yang kita berikan untuk mencari derajat keanggotaan.

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-94
Menggunakan Fuzzy Logic untuk mencapai penyelesaian crisp pada masalah khusus biasanya melibatkan tiga
langkah :
a. Fuzzification : Proses ini berfungsi untuk merubah suatu besaran analog menjadi fuzzy input. Prosesnya adalah
sebagai berikut: suatu besaran analog dimasukkan sebagai input (crisp input), lalu input tersebut dimasukkan pada
batas scope / domain sehingga input tersebut dapat dinyatakan dengan label (dingin, panas, cepat, dll) dari
membership function. Membership function ini biasanya dinamakan membership function input. Dari membership
function bisa diketahui berapa degree of membership function-nya.

Gambar 3. DiagramBlok Proses Fuzzification.

b. Rule Evaluation : Proses ini berfungsi untuk untuk mencari suatu nilai fuzzy output dari fuzzy input. Prosesnya
adalah sebagai berikut: suatu nilai fuzzy input yang berasal dari proses fuzzification kemudian dimasukkan kedalam
sebuah rule yang telah dibuat untuk dijadikan sebuah fuzzy output. Ini merupakan bagian utama dari fuzzy, karena
disinilah sistem kontrol akan menjadi pintar atau tidak. Jika tidak pintar dalammengatur rule maka sistemyang
akan dikontrol menjadi kacau.

Gambar 4. Diagram Blok Proses Rule Evaluation.

c. Defuzzification : Proses ini berfungsi untuk menentukan suatu nilai crisp output. Prosesnya adalah sebagai berikut:
suatu nilai fuzzy output yang berasal dari rule evaluation diambil kemudian dimasukkan ke dalam suatu
membership function output. Bentuk bangun yang digunakan dalam membership function output adalah bentuk
singleton yaitu garis lurus vertikal ke atas. Besar nilai fuzzy output dinyatakan sebagai degree of membership
function output. Nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalamsuatu rumus yang dinamakan COG (Center Of Gravity)
untuk mendapatkan hasil akhir yang disebut crisp output. Crisp output adalah suatu nilai analog yang akan
dibutuhkan untuk mengolah data pada sistemyang telah dirancang.

Gambar 5. DiagramBlok Proses Defuzzification.

Rumus yang digunakan dalam proses ini adalah :
.(1)

Perancangan Hardware
Perancangan Hardware Secara umumblok diagram yang dikerjakan adalah sebagai berikut :
PC USER sebagai master untuk monitoring dan controlling banyak kontrol suhu, dengan masing-masing slave mikro
sebagai plannya, pada PC dibuat suatu software menggunakan Borland Delphi yang berfungsi untuk mengotrol
pemberian SetPoint mikrokontroller dan penyimpanan data-datanya dalam DataBase untuk Report. RS 232 to RS485
sebagai konverter merubah sistemtegangan siyal pada RS232 menjadi level tegangan TTL dengan sistem Deferensial
RS485. Data BUS RS 485 (MultiDrop) sebagai kabel transmisi terdiri dari 2 kabel penghubung, yang digunakan untuk
mengakses semua slave kontrol temperatur pada masing-masing mikrokotroler. Jalur BUS dapat digunakan hingga
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-95
maksimal 32 slave sekaligus, dengan jarak jangkauan sekitar 4000 feed atau setara 1,2 km jauhnya, komunikasi yang
digunakan secara Half Duplex
(komunkasi seria satu arah secara bergantian). RS 485 to TTL sebagai konverter level teganagan RS485 yang bersifat
deferensial, menjadi level tegangan TTL pada mikrokontroler untuk di proses oleh Rx dan Tx data dengan sistem
komunikasi USART. Mikro ATMega 8535 sebagai plan penggerak utama yang mengontrol control temperatur pada
masing-masing slavenya. Pada masing-masing slave atau satu modul perangkat, terdapat delapan kontrol temperatur
yang dikontrol sekaligus secara fuzzy pada mikrokontroller. Gambar 6. merupakan blok diagram sistem secara
keseluruhan.


Gambar 6. Blok diagramsistemsecara keseluruhan.



Gambar 7. Blok diagramsistempada mikrokontroler.

Untuk rancangan sistem yang terkoneksi dengan mikrokontroler yang diperlihatkan pada gambar 7 dapat dijelaskan
fungsi dari setiap blok sebagai berikut: H.Bridge servo sebagai driver aktuator untuk menggerakkan katup udara dari
DC Blower, berapa drajat dibukanya katup ini akan mempengaruhi besar kecilnya udara panas yang masuk ke ruang
drayer. Terdiri dari 8 driver H.Bridge dengan masing-masing output potesio sebagai feedback. 8 Channel ADC 0808
merupakan IC (Integrated Circuit) Adc 8 channel 8 bit tambahan untuk membaca feedback dari potensio masing-
masing katup valve H.Bridge Servo. DC Motor blower sebagai aktuator menghasilkan udara yang digunakan untuk
mensuplay man mensirkulasi udara panas yag masuk ke ruang drayer. Heater sebagai penghasil suhu panas,
menggunakan filamen atau elemen pemanas, terdiri dari 8 heater untuk 8 ruangan. Ruang Drayer merupakan 8 ruang
yang akan di kontrol temperaturnya. ThermoCouple Output digunakan sebagai sensor suhu ruang sebagai masukan
feedback pada Mikro 8535, yang nantinya akan diproses mengunakan FUZZY Logic. 8x RPS Thermocouple
merupakan 8 buah rangkaian pengkondisi sinyal Themocouple, sebelumdata analog diproses dengan Adc Mikro, sinyal
akan dikuatkan.

Perancangan Fuzzy Logic Pada Mikrokontroler
Dalamperancangan fuzzy logic pada mikrokontroler terdapat proses normalisasi dan Fuzzy Inference Unit (FIU)
yang terdiri dari: fuzifikasi, evaluasi aturan (if then rule), dan defuzifikasi. Proses perancangan pengendali
menggunakan logika fuzzy telah dilakukan dengan prosedur sebagai berikut.
1. Crisp input. Pada penelitian ini digunakan dua kelompok crisp input yaitu: (1) Error dan turunan errornya
(D_error).
2. Daerah kerja untuk percobaan pada mikrokontroler adalah temperatur 50C s/d 120C. Sinyal error dan Derror
memiliki daerah kerja -30C s/d 30C. Dibuat daerah kerja dengan rentang tidak terlalu lebar untuk meningkatkan
akurasi.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-96
3. Input Membership Function (MF). Input MF untuk sinyal Error dan Derror memiliki jumlah label lima buah yaitu
label Minus Big (NB), Minus Small (NS), Zero (Z), Positive Small (PS), dan Positive Big (PB). Pembagian nilai
Membership Function juga memiliki nilai yang sama antara input Error temperatur dengan input Derror
temperatur. Terlihat seperti pada gambar 8 (a) dan (b).

Gambar 8 (a) MF Input Error Temperatur

Gambar 8 (b) MF Input Derror Temperatur.

4. Output Tegangan. Cristp output berjumlah 1 buah dengan nama “Tegangan”. Output membership function
memiliki jangkauan 0 s/d 80 Derajat yang dibagi menjadi 5 bagian yang sama besar. Untuk crisp Output, MF yang
digunakan berbentuk singleton untuk memudahkan dalam perhitungan COG (Center Of Grafity) seperti pada
gambar 9.

Gambar 9. MF Output Derajat Servo.

5. Proses pembuatan rules dilakukan dengan menerapkan kemampuan atau pengalaman manusia dalam
mengendalikan suatu sistem, dengan memperhitungkan kedua input membership function, didapat respon sistem
yang sesuai dengan penalaran rules tersaebut. Tabel 1 berikut merupakan pembagian rule berdasarkan input MF
Error dan MF Derror.

Tabel 1. Perencanaan Rule Base
Error DErr
NB
DErr
NS
DErr
Z
DErr
PS
DErr
PB
Err NB Close Close Close Close_
T
Tengah
Err NS Pb Close_
T
Close_
T
Tengah Tengah
_O
Err Z Close Close_
T
Tenga
h
Tengah
_O
Open
Err PS Close_T Tengah Tenga
h_O
Tengah
_O
Close
Err PB Tengah Tengah
_O
Open Open Open





Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-97
2. Pembahasan Hasil Dan Analisa

Pengujian Rangkaian RPS Thermocouple
Untuk menguji rangkaian ini dengan memberikan input tegangan pada masukan thermocuople, karena tegangan
input skalanya mili Volt, maka cukup memberikkan resistor variable atau potensio pada input positif dan negatifnya,
tidak perlu lagi menggunakan tegangan referensi lagi, karena dilihat
dari rangkaian input dari thermocouple sudah di pull up dengan resistor 20M, penggunaan resistor Pull up tersebut
dipergunakan untuk memberikan tegangan referensi pada Op.Amp apabila rangkaiaan iniu tidak terkoneksi dengan
thermocouple yang menyebabkan penguatan Op.Amp jadi tak terhingga, tabel 2 merupakan hasil pengujiannya.

Tabel 2 Hasil pengukuran RPS dan perhitungan RPS
Input (mV)
RPS
Output
(mV)
RPS
Perhitungan
RPS
Nilai
Konversi
0.0 mV 141,5 mV Offset141,5 mV 29
o
C
0.1 mV 150,8 mV 153,7 mV 31
o
C
0.2 mV 166,6 mV 165,9 mV 35
o
C
0.3 mV 186,2 mV 1785 mV 39
o
C
0.4 mV 192,1 mV 190,3 mV 40
o
C
0.5 mV 206,3 mV 202,5 mV 44
o
C
0.6 mV 212,5 mV 214,7 mV 46
o
C
0.7 mV 234,9 mV 226,9 mV 50
o
C
0.8 mV 246,2 mV 239,1 mV 52
o
C
0.9 mV 260,1 mV 251,3 mV 55
o
C
1 mV 266,7 mV 263,5 mV 57
o
C
2 mV 395 mV 385,5 mV 83
o
C
3 mV 513 mV 507,5 mV 106
o
C
4 mV 645 mV 629,5 mV 135
o
C
5 mV 766 mV 751,5 mV 158
o
C
6 mV 900 mV 873,5 mV 185
o
C
7 mV 1.028 V 995,5 mV 212
o
C
8 mV 1.153 V 1.118 V 238
o
C
9 mV 1.270 V 1.240 V 262
o
C
10 mV 1.389 V 1.362 V 284
o
C
15 mV 2.03 V 1.972 V 419
o
C
20 mV 2.66 V 2.582 V 543
o
C
25 mV 3.29 V 3.192 V 675
o
C
30 mV 3.95 V 3.802 V 807
o
C
35 mV 4.57 V 4.412 V 935
o
C
40 mV 5.04 V 5.022 V 1023
o
C

Pada tabel 2 juga terdapat nilai pengukuran dengan cara perhitungan, karena desain RPS yamg telah dirancang
sebelumnya memiliki penguatan sekitar 122 kali penguatan maka dapat dihitung dengan rumus :

{ Nilai RPS = ( Input RPS * 122 ) + Tegangan Off Set Op.Amp } (2)

*** Tegangan Off Set Op.Amp = 141,5 mV ***

Tegangan Off Set Op.Amp merupakan tegangan yang dihasilkan karena tuning posisi Zero pengukuran, bisa dilihat
dari urutan tabel pertama ketika input 0V maka Output dari penguatan ada hasilnya yaitu 141,5 mV, dengan nilai
konversi 29
o
C. Apabila nilai OffSet tersebut di tuning sebesar 0V maka Output konversi bukan lagi 29
o
C melainkan 0
o
C, sehingga setiap perhitungan perkalian penguatan harus ditambah tegangan OffSet tersebut agar hasil bisa sesuai
antara pengukuran dan perhitungan karena pengaruh tuning OffSet Op.Amp tersebut. Selisih antara pengukuran dan
perhitungan tidak jauh berbeda sekitar 0 – 30 mV, range jarak sebesar itu tidak begitu berpengaruh, karena jika setelah
dikonversi, selisih temperatur hanya terpaut 1
o
C – 3
o
C saja.

Pengujian 8 Channel ADC 0808
ADC 0808 ini bisa terbaca jika input Multplexer ADC harus dipilih, atau diberi inputan sesuai channel ADC mana
yang akan dipilih. Awal programyang dijalan pada PORTD adalah nilai dari multiplexer ADC yang dipilih, kemudian
data yang keluar dari ADC akan dibaca pada PORTB, data-data tersebutlah yang nanti diolah dalamprogram mikronya.
Tabel 3 berikut merupakan kondisi multiplexer untuk mengakses ADC sesuai pilihan Channel.



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-98
Tabel 3. Kondisi Akses ADC setiap Channel
Channel
Pilihan
Jalur Akses
Hexadesimal C B A
IN 0 LOW LOW LOW 0x00;
IN 1 LOW LOW HIGH 0x10;
IN 2 LOW HIGH LOW 0x20;
IN 3 LOW HIGH HIGH 0x30;
IN 4 HIGH LOW LOW 0x40;
IN 5 HIGH LOW HIGH 0x50;
IN 6 HIGH HIGH LOW 0x60;
IN 7 HIGH HIGH HIGH 0x70;

Setelah melakukan ujicoba dengan memberikan input ADC_0 dengan menggunakan variable resistor 100k dan
ditampilkan di LCD mendapatkan range pembacaan tegangan seperti tabel dibawah ini, dengan tegangan minimum0V,
dan tegangan maximal 5,04V.

Tabel 4. Nilai ADC dengan variable tegangan input
Tegangan
Input Potensio
Nilai Konversi
ADC Terbaca
Nilai ADC
Perhitungan
0V 0 0
0,50V 24 25,29
1,00V 50 50.59
1,50V 76 75,89
2,00V 102 101,19
2,50V 127 126,49
3,00V 153 151,78
3,50V 178 177,08
4,00V 204 202,38
4,50V 229 227,67
5,00V 254 252,98
5,03V 255 254,49

Rumus perhitungan konversi ADC :
……………….(3)


Dilihat dari hasil uji coba tabel 4 dengan menggunakan channel 0, kenaikan nilai ADC naik secara liniar, hampir
sesuai dg persentase kenaikan inputnya, begitu juga bila nilai tersebut dibandingkan secara perhitungan, hasil yang
ditampilkan hampir sama. Ini menunjukkan bahwa ADC 0808 dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan, untuk
konversi dari channel lain hasil yang diberikan hampir sama, tidak banyak perubahan yang terlihat.

Pengujian Rangkaian H.Bridge Motor Drives
Rangkaian H.Bridge Motor Drives yang telah dibuat, terdiri dari delapan rangkaian yang sama, penggunaan Power
Suplay dibedakan antara power untuk kontrol mikro dengan power untuk penggerak H.Bridge ini. Pengontrolan driver
dilakukan menggunakan pemisah OptoCoupler, sehingga rangkain bersifat terisolasi namun dapat dikendalikan ,
penggunaan OptoCoupler ini bertujuan agar Output dari mikro tidak mendapat beban terlalu berat jika harus
menggerakkan 8 driver ini sekaligus.
Satu Driver dapat menggerakkan satu motor, berputar kekanan dan kekiri, semisal DIR A dan DIR B, sehingga
akan terdapat 16 kontrol dari mikro yang mengakses rangkaian ini. PORT X Expansion akan menggerakkan 4 driver, 1
driver memiliki 2 kontrol yaitu DIR A dan DIR B. begitu juga PORT Y Expansion juga menggerakkan 4 driver. Bisa
disimpulkan data output dari PORTC mikro digunakan 16 pengontrolan sekaligus. Tabel 5 adalah listing program
pengaksesan H.Bridge.








Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-99
Tabel 5. Akses Motor H.Bridge motor drives
Akses PORTD Kondisi Motor
{PORTD.2=1;PORTC=1;}
//Akses Port X motor 1 DIR A
Motor 1 berputar kekiri
{PORTD.2=1;PORTC=2;}
//Akses Port X motor 1 DIR B
Motor 1 berputar kekanan
{PORTD.2=1;PORTC=4;}
//Akses Port X motor 2 DIR A
Motor 2 berputar kekiri
{PORTD.2=1;PORTC=8;}
//Akses Port X motor 2 DIR B
Motor 2 berputar kekanan
{PORTD.2=1;PORTC=16;}
//Akses Port X motor 3 DIR A
Motor 3 berputar kekiri
{PORTD.2=1;PORTC=32;}
//Akses Port X motor 3 DIR B
Motor 3 berputar kekanan
{PORTD.2=1;PORTC=64;}
//Akses Port X motor 4 DIR A
Motor 4 berputar kekiri
{PORTD.2=1;PORTC=128;}
//Akses Port X motor 4 DIR B
Motor 4 berputar kekanan
{PORTD.3=1;PORTC=1;}
//Akses Port Y motor 5 DIR A
Motor 5 berputar kekiri
{PORTD.3=1;PORTC=2;}
//Akses Port Y motor 5 DIR B
Motor 5 berputar kekanan
{PORTD.3=1;PORTC=4;}
//Akses Port Y motor 6 DIR A
Motor 6 berputar kekiri
{PORTD.3=1;PORTC=8;}
//Akses Port Y motor 6 DIR B
Motor 6 berputar kekanan
{PORTD.3=1;PORTC=16;}
//Akses Port Y motor 7 DIR A
Motor 7 berputar kekiri
{PORTD.3=1;PORTC=32;}
//Akses Port Y motor 7 DIR B
Motor 7 berputar kekanan
{PORTD.3=1;PORTC=64;}
//Akses Port Y motor 8 DIR A
Motor 8 berputar kekiri
{PORTD.3=1;PORTC=128;}
//Akses Port Y motor 8 DIR B
Motor 8 berputar kekanan

Pengujian Rangkaian switching Motor Blower dan Heater
Rangkaian Switching ini dalampemakaiannya berfungsi untuk menggerakkan motor blower sirkulasi dan motor
blower heater dengan tegangan 12 V, dan menggerakkan relay 5 V dengan beban heater filamen 220V sebagai
pemanas. Rangkaian ini dilengkapi rangkain pengunci, pengaplikasian dari D Flip-Flop, karena kerja dari motor dan
heater haruslah selalu dalamkeadaan On setelah dipicu, tidak terpengaruh interupsi dan proses scanning dari mikro.
Untuk mengoperasikannya dikontrol dari program interfacing yang digunakan di PC. Tabel 6 berikut merupakan listing
programakses Switching.
Tabel 6. Akses Port Switching
Akses Port Switching Kondisi Pensaklaran
PORTD=12;PORTC=3;PORTD=0; Motor dan Heater 1;
ON;
PORTD=12;PORTC=1;PORTD=0; Motor dan Heater 1;
OFF;
PORTD=12;PORTC=12;PORTD=0; Motor dan Heater 2;
ON;
PORTD=12;PORTC=4;PORTD=0; Motor dan Heater 2;
OFF;
Karena kontrol pensaklaran motor dan heatear ini pada PORTZ expansion, maka untuk mengaktikan portd sebagai
Enable IC buffer harus diaktifkan dahulu, kemudian baru data pada PORTC dikeluarkan, pada kondisi ini rangkaian
switching sudah dalamkeadaan mensaklar tergantung perintahnya. Setelah rangkain terpicu barulah enable oktal buffer
PORTZ dinon aktifkan lagi, sehingga apapun yang terjadi pada mkro tidak tepengaruh pada pensaklaran.

Pengujian Sistem keseluruhan
Untuk cara kerja rangkaian secara keseluruhan, hal utama yang harus diperhatikan adalah proses komunikasi antara
mikrokontroller dengan PC, sebab semua kontrol setting point temperatur, mengaktifkan motor, dan seluruh kerja dari
mikro, termonitor pada PC, agar komunikasi antara master dan slave tersebut dapat berkomunikasi tanpa menggangu
kerja dari mikro kontroller tersebut, digunakanlah fasilitas Interrupt receiver USART pada mikronya.
Maksud dari interupsi USART ini adalah apabila ada perintah pengambilan data yang datang dari PC masuk ke
mikro, data tersebut secara otomatis akan terbuffer pada fungsi USART Receiver interrupt service routine. Fungsi ini
terpisah dari program utama, program utama secara otomatis akan berhenti sementara untuk membaca data yang
terbuffer tersebut. Disinilah program kontrol komunikasi dilakukan, data dari PC berupa kode tersebut diubah dahulu
menjadi data berbentuk integer, karena data yang terkirimMelalui komunikasi serial ini berupa data bentuk string.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-100
Data yang telah diubah kemudian dimasukkan pada fungsi switch, data akan dicocokkan dengan sejumlah case, jika
data tersebutt cocok, maka secara otomatis listing program sesuai pemilihan case tersebut akan di eksekusi, semisal
perintah untuk menghidupkan motor, meminta data setting point, nilai aktual temperatur, nilai COG fuzzy, dan nilai
derajat servo, semua akan tereksekusi secara cepat. Dan setelah kondisi eksekusi ini selesai maka programutama akan
dirunning kembali.
Semua perintah pemilihan case merupakan pilihan perintah yang berasal dari PC, nilai dari ketiga digit angka dari
case merupakan suatu alamat dari masing-masing perintah pengambilan data, maupun eksekusi fungsi tertentu,
sehingga jika dijumlahkan masih ada 63 perintah eksekusi Case yang digunakan untuk mengontrol komunikasi data
mulai dari ruang 1 slave 1, hingga ruang 8 slave1. Digit pertama dari Case tersebut merupakan code untuk slave yang
digunakan, digit kedua merupakan type pengambilan data dari apa yang diminta, misal sv atau cog, sedangkan digit
ketiga merupakan alamat guna menentukan perintah yang digunakan untuk ruang pembakaran berapa diproses. Jika
semua di jumlahkan terdapat 72 perintah Case dengan alamat yang berbeda-beda, untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada
lampiran.
Rangkaian kontrol temperatur yang telah dibuat, dapat digunakan untuk komunikasi multi slave, maksudnya
dengan memanfaatkan input dari PORTD.7, dapat digunakan untuk modifikasi nilai dari perintah digit pertama dari
opsi-opsi case sebelumnya tadi. Sehingga jika PORTD.7 berlogika 0 maka Unit mikro sebagai slave 1, namun jika
PORTD.7 berligika 1 maka Unit mikro sebagai slave 2.
Begitu juga pada programinterfacing delphi, disini juga terdapat sebuah fungsi untuk menerima data yang dikirim
dari mikro. Fungsi ini bukan berbentuk interupsi namun lebih bersifat polling data, maksudnya programakan selalu
menunggu dan mengecek keadaan buffer dari penerimaan data Usart, ketika tidak ada data masuk, programakan
berhenti dan terus menungu sampai ada data yang masuk, jika ada data masuk, barulah program akan menerimanya dan
menempatkan data pada posisi yang ditentukan. Setelah satu proses itu selesai, program akan menjalankan instruksi
selanjutnya. Disinilah data dari mikro mudah diterima dan diproses secara Half Duplex atau komunikasi satu arah
secara bergantian, sehingga tidak akan terjadi data OverRun atau data saling tumpang tindih antara data yang akan
dikirim kemikro dengan data yang diterima dari mikro.
Pengendali fuzzy dalamsistemini menggunakan dua masukan Err dan DErr (kesalahan dan perubahan kesalahan)
Dimana :
Err(n) = SP(n) – PV(n) ......................................(4)
DErr(n) = Err(n) – Err(n-1)..............................(5)

Sedangkan fungsi keanggotaan Output yang berupa garis vertikal (singleton) mempunyai label yang sama dengan
Err dan DErr. Output FLC (Fuzzy Logic Controller) menuju driver motor buka tutup servo adalah :
Output(n)=Output(n-1)+DOutput……………….(6)

Derajat dari masing-masing rule diperoleh dari nilai Minimum antara label Err atau label DErr. Nilai minimum
diambil karena bagian kondisi dihubungkan dengan logika ‘AND’ sehingga semua bagian harus terpenuhi secara
serentak. Untuk tabel map perancangan rule-rule yang dipergunakan seperti yang ditunjukkan pada pembahasan
sebelumnya, dipergunakan 25 rule dalampengontrolan pembakaran secara fuzzy logic ini.
Setelah seluruh percobaan dilakukan, selanjutnya adalah pengujian kontroller fuzzy logicnya, pertama yang
dilakukan adalah pemberian setting temperatur pada mikro, karena posisi mikro akan dalamkeadaan defauld untuk
pertama kali dinyalakan. Pada pengujian ini akan dilakukan 2 kali pemberian setting pada ruang pembakaran 1, dengan
temperatur setting point yang berbeda. Untuk Setting point pertama diberikan temperatur 80
o
C dan berikut merupakan
hasil tampilan respon yang diberikan oleh mikro dalamkendali fuzzy logicnya.
Dari tampilan data base yang secara otomatis melakukan record setiap satu menit, didapatkan hasil respon yang
mendekati setting temperatur yang diberikan. Bisa dilihat pada gambar 10 dengan nomor record 472 hingga 477 posisi
Setting Point 80
o
C (1SV1), respon fuzzy kontrolnya menunjukkan Aktual Temperatur 78
o
C (1AT1), nilai COG hasil
DeFuzzyfikasi pada saat itu 78 (1COG1), nilai ini yang diumpankan ke fungsi Motion Control buka tutup katup aliran
udaranya, sehingga didapatkan Derajat Servo yang merikan respon mendekati nilai COG tersebut yaitu 78 (1DS1).
Begitu juga hasil record beberapa kali setelah itu, terlihat nilai aktual temperatur yang terpaut tidak terlalu jauh dari
nilai setting point.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-101

Gambar 10. Respon FLC terhadap setting point 80
o
C.

Untuk Setting point kedua diberikan temperatur 90
o
C dan berikut merupakan hasil tampilan respon yang diberikan
oleh mikro dalamkendali fuzzy logicnya

Gambar 11. Respon FLC terhadap setting point 90
o
C.

Dari gambar 11 data base yang terecord setiap satu menit, respon fuzzy yang diberikan jika setting point 90
o
C
(1SV1) didapatkan sejumlah nilai Aktual Temperatur (1AT1) yang juga mendekati nilai setting Point temperatur 90
o
C,
mulai nomor record 498 hingga 505. Untuk nilai COG yang dihasilkan proses DeFuzzyfikasi erlihat fluktuasi nilai yang
berbeda-beda disetiap recordnya, ini menunjukkan bahwa sistem berusaha melakan respon sesuai rule yang telah
ditentukan terhadap nilai error yang terbaca, untuk nilai derajat servo secara otomatis akan selalu merespon untuk
mendekati nilai COG yang dihasilkan, dengan pergerakan buka tutup servonya.
Tabel record untuk data base untuk record secara otomatis tersebut juga terkoneksi dengan Microsoft Access,
sehingga semua data yang terecord di situ akan terecord di FormMicrosoft Access yang telah didesain. Gambar 12
merupakan tampilan Record pada Microsoft Access.


Gambar 12. Tampilan Record Data Base secara otomatis pada Microsoft Access.

Analisa Sistem Kerja Kontrol Temperatur Ruang Pembakaran
Secara keseluruhan programinterfacing dapat berkomunikasi dengan baik, data yang terkirimdari PC dan diterima
dari Mikro tidak mengalami gangguan. Begitu juga pada programmikro mulai dari pembacaan ADC mikro, ADC 0808,
rangkaian RPS, H.Bridge Motor drive, dan rangkaian switching motor blower setelah di running, berfungsi dengan
normal. Sehingga seluruh data dari mikro mulai setting Point temperatur, Aktual Temperatur, nilai COG, dan Derajat
Servo dapat ditampilkan pada PC, mulai dari scanning dataruang pembakaran tegel slave 1 hingga scanning data untuk
ruang pembakaran tegel slave 2.
Untuk cara kerja sistem dengan metode fuzzy logic dari beberapakali percobaan pemberian Setting Point
temperatur yang berbeda, didapatkan respon mendekati setting yang diberikan, ini merupakan hasil dari pengaturan rule
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-102
yang di tentukan sebelumnya, dengan beberapa kali perubahan rule untuk mendapatkan respon kerja sistemyang sesuai
dengan Purwarupa Kontrol Temperatur Ruang Pemakaran Tegel ini.
Fluktuasi nilai Aktual temperatur yang berusaha mendekati setting point berkisar antara -3
o
C hingga +3
o
C dari
setting point yang diberikan, fluktuasi naik turun temperatur ini dimungkinkan respon dari pembacaan ADC yang
fluktuatif tidak stabil karena mikro bekerja dengan scanning delapan kontrol ruangan dengan metode fuzzy sekaligus,
belumlagi sistemharus merespon interupsi komunikasi serial yang bekerja secara kontinyu untuk pengambilan data,
dan bisa juga pengaruh dari RPS yang terpengaruh nois sehingga data yang terbaca terkadang fluktuatif.
Penggunaan data base dengan fasilitas auto record sangat membantu untuk monitoring sistemsecara berkala,
dengan begitu semua data akan secara otomatis akan tersimpan pada Microsoft Access dengan penggunaan komponen
ADOconnection, tool yang sudah tersedia pada Borland Delphi. Secara keseluruan mulai dari interfacing secara serial,
respon sistem menggunakan Fuzzy Logic, dan integrasi seluruh bagian Hardware bekerja normal sesuai fungi-
fungsinya. Gambar 13 merupakan tampilan Purwarupa Kontrol Temperatur Ruang Pembakaran Tegel Menggunakan
Metode Fuzzy Logic secara keseluruhan.

Gambar 13. Purwarupa Kontrol Temperatur Ruang Pembakaran Tegel Secara Keseluruhan

3. Kesimpulan
Setelah melakukan tahap-tahap perencanaan, pembuatan, pengujian, dan analisa hasil pengujian dapat diambil
beberapa kesimpulan, antara lain :
1. Pengujian programinterfacing menggunaan RS 485 dapat bekerja dengan baik dalampengontrolan dan monitoring
purwarupa kontrol temperatur ruang pembakaran tegel.
2. Pengujian hardware yang sudah terintegrasi secara keseluruhan dapat bekerja dengan baik, meliputi rangkaian
RPS, ADC 0808, Oktal buffer 74541, Switching motor Blower, H.Bridge motor Drive, dan Mikrokontroller 8535.
3. Sistem pengontrolan temperatur sacara Fuzzy Logic pada mikrokontroller memberikan respon sesuai dengan
pengaturan Rule yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Fluktuasi naik dan turun temperatur dalammencapai mendekati Setting Point berkisar antara -3
o
C hingga +3
o
C dari
Setting Point yang diberikan.

Daftar Pustaka
[1]. Ardi Winoto, 2008, “Mikrokontroler AVR Atmega 8 / 32 / 16 /8535 ”, Yogyakarta : Informatika.
[2]. Wahana Kompute, 2009, “Delphi 2009”, Yogyakarta : Penerbit Andi.
[3]. Irwan Sahli, Irwan Kristanto, Tony Chandra Thali, “Perancangan RS 232 to RS 485 Converter
Sistem Network Multidrop”.
[4]. Resmana, Hany Ferdinando, Thiang, Agus Suryo Widagdo, “Implementasi Fuzzy Logic Pada
Microcontoller Untuk Kendali Putaran Motor DC “.
[5]. Anna Widya Kusuma. “Rancang Bangun Prototype Node dan Protokol Komunikasi untuk Pengambilan
Data Pada SistemPenyelamatan Korban Kebakaran Gedung Bertingkat”.
[6]. Taufik Adi Sanjaya. “ Mengakses Database Microsoft Access dengan Delphi “
[7]. Radiolocman. “ RS232 - RS485 Converter with Automatic RX - TX Control “
[8]. Oktaliani. “ Konsep Bahan Thermocouple “ http://oktaliani.blogspot.com/2010/09/konsep-bahan-
thermocouple.html (Diakses tanggal 31 mei 2011)
[9]. Sonoku. “ Merancang Kendali Fuzzy Sederhana “
http://sonoku.com/education/lectureseducation/merancang-kendali-fuzzy-sederhana/ (Diakses tanggal 31
mei 2011)
[10]. Indra EHM “Fuzzy Logic - part 5 “ Artificial Intelligence Indra EHM « Fuzzy Logic – part 5.htm(Diakses
tanggal 31 mei 2011)All Datasheed.Com



Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-103




Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-104
Sistem Pengisi Baterai Berbasis Daya Maksimal Melalui Deteksi Arus dan Tegangan

Ronal C. Manik
1)
, Leonardus. H. Pratomo
2)

Prog.Di Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranana Semarang
1,2)

J l. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Duwur Semarang
E-mail : abbangz.nnix@gmail.com
1)
,leonardus_hp@yahoo.com
2)

Abstrak
Energi matahari yang terpancar setiap hari belum dimanfaatkan secara maksimal. Modul
surya adalah alat yang merubah besaran energi sinar matahari ke energi listrik dalam besaran
arus searah. Modul surya memiliki karakteristik yang unik untuk mendapatkan daya maksimal.
Dalam merancang sistem kendali untuk memaksimalkan daya ini harus sesuai dengan kurva
karakteristikya. Pada makalah ini dikaji suatu teknik kendali untuk memaksimalkan daya pada
modul surya dengan teknik deteksi arus dan tegangan sumber sebagai sistem pengisi baterai.
Konverter yang dipakai dalam percobaan ini adalah DC-DC tipe step down yang dianggap
sebagai variable resistor untuk mendapatkan daya maksimal sedangkan tegangan keluaran
akan selalu mengunci di tegangan baterai. Berdasarkan hasil dari percobaan laboratorium alat
dapat bekerja dengan baik dan memiliki effisiensi 94%.

Kata Kunci : Modul Surya, Lereng Arus, Lereng Tegangan, Energi, DC-DC konverter.

Pendahuluan
Pemanfaatan energi sinar matahari menjadi energi listrik berkembang sangat pesat, hal ini di dukung oleh adanya
penelitian-penelitian modul surya yang memiliki nilai konversi energi yang tinggi. Energi sinar matahari tersedia dalam
jumlah yang besar, di dapat dengan cuma-cuma dan bersih. Pemanfaaan modul surya kebanyakan digunakan secara
langsung dengan nilai keluaran listrik arus searah dan membutuhkan baterai untuk menyimpannya.
Perkembangan sistem kelistrikan di Indonesia kurang sepadan dengan perkembangan kebutuhan listrik. Hal ini
disebabkan karena permintaan kebutuhan listrik yang terus meningkat terutama di sektor industri, perkantoran dan
perumahan. Sebenarnya Indonesia memiliki potensi energi alternaif yang sangat banyak antara lain adalah energi sinar
matahari dan belum dimanfaakan dengan maksimal. Modul surya yang ada sekarang ini memiliki efisiensi yang jauh
lebih baik.
Modul surya adalah suatu instrumen konversi dari energi sinar matahari menjadi energi listrik. Kenyataan di
lapangan sistem ini tidak dapat dimanfaatkan secara langsung karena modul surya memiliki kurva karakteristik yang
unik. Untuk memaksimalkan konversi ini harus sesuai dengan kurva karakteristik yaitu bisa berbasis lereng yang ada.
Metode untuk mendapatkan daya maksimal ada beberapa cara antara lain berbasis fuzzy logic, korelasi riak, kendali P
dan O, fractional open voltage, fractional short circuit, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan antara lain
fuzzy logic[7] memiliki alogaritma yang sulit dan implementasi yang rumit dan mahal, walaupun teknik ini
menghasilkan konversi yang baik. Korelasi riak[3,4,8] memiliki persamaan yang rumit serta implementasi yang mahal,
walaupun teknik ini menghasilkan konversi yang baik, fractional open voltage struktur sederhana dan implementasi
mudah tetapi hasil kurang baik. Fractional short circuit memiliki struktur sederhana tetapi hasil kurang baik[9].
Pada makalah ini dikembangkan suatu metode konversi energi dengan deteksi arus dan tegangan untuk
mendapatkan Maxcimum Power Point Tracker sesuai kurva karakteristiknya. Kedua besaran tersebut kemudian di bagi
untuk mendapatkan nilai transkonduktannya. Hasil dari proses ini kemudian dikendalikan dan dimodulasi untuk
mendapatkan konversi daya maksimal.
SistemMaxcimum Power Point Tracker ini menggunakan suatu sistempengkonversi DC-DC konverter tipe
step down yang digunakan untuk mengisi baterai sehingga yang diharakan sistempengisian baterai dapat berlangsung
cepat karena yang digunkan adalah ternik konversi nilai daya maksimal.





Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
irradiance
Rs
L
O
A
D
Rsh
IL
Iph
Ish
Id
Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan studi literatur, analisis, simulasi
komputasi dan implementasi skala laboratorium. Berikut ini akan diuraikan tentang analisis modul surya, konverter
DC-DC tipe step down.

E. Modul Surya
Modul surya merupakan alat yang dapat mengkonversi energi sinar matahari secara langsung. Solar cell adalah
suatu sambungan bahan semikonduktor jenis P (positif) dan N (negatif) akan menghasilkan tegangan jika ada suatu
energi foton yang mengenai sambungan tersebut. Suatu solar cell akan terhubung seri dan parallel membentuk suatu
modul yang terintegrasi satu sama lain membentuk suatu modul dinamakan modul surya sedangkan modul akan
terintegrasi satu sama lain akan membentuk suatu array, seperti pada gambar 1.








Gambar 1. Sel, modul dan array [www.ece.rochester.edu]

Modul surya memiliki karakteristik arus terhadap tegangan, maka untuk mempermudah dibuat suatu model
rangkaian ekivalen. Suatu sel modul surya dapat digantikan dengan photodioda dan dengan adanya radiasi cahaya akan
mengahkibatkan arus yang mengalir I
ph
(photo current). Arus bercabang menuju dioda, tahanan shunt (I
sh
) dan keluar ke
beban (I
L
), seperti pada gambar 2.









Gambar 2. Rangkaian ekivalen sel modul surya

Besarnya persamaan arus adalah :

sh d ph L
I I I I ÷ ÷ =
(1)
Jika

( )
|
|
.
|

\
|
÷
+
= 1 exp
c
s
o d
T k m
R I V e
I I

dan
sh
s
sh
R
I R V
I
+
=



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
0 =
dV
P d
MPP
R
G
dV
I d 1
= = ÷
Maka :

( )
sh
s
c
s
o ph d
R
I R V
T k m
R I V e
I I I
+
÷
|
|
.
|

\
|
÷
+
÷ = 1 exp
(2)
Keterangan :
m=Idealizing fagtor
k =Konstanta Boltzman (1.381 x 10
-23
)
R
s
=Tahanan seri
R
sh
=Tahanan parallel
I
ph
=Arus akhibat photon
e =Muatan elektron (1.602 x 10
-19
)
I
D
=Arus dioda normal
I
o
=Arus saturasi pada saat gelap

Modul surya memiliki kurva karakteristik daya terhadap tegangan dan kurva arus terhadap tegangan serta
sistempembebanan yang unik seperti pada gambar 3.
















Gambar 3. Kurva karakteristik modul surya
Modul surya terpengaruh oleh suhu disekitar artinya terpengaruh oleh kondisi lingkungan yang dipengaruhi
oleh intensitas matahari, sesuai kurva karakteristik terhadap suhu, gambar 4













Gambar 4. Kurva karakteristik terhadap suhu
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
Baterai
L
D
T
Vs
+
Vo
-
Baterai
L
D
T
Vs
+
Vo
-
Parameter operasi modul surya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, hal ini memiliki pengaruh daya yang
dihasilkan modul surya. Beberapa istilah dikenal dengan nama Fill Factor (FF) parameter ini mempengaruhi
karakteristik tak linier dari modul surya parameter yang lain dinamakan faktor efisiensi energi, berikut ini parameter
fill factor yang memiliki pengaruh terhadap kurva aeus dan tegangan, gambar 5.














Gambar 5. Hubungan Fill Factor pada kurva I-V pada modul surya

F. Konverter DC-DC
Suatu besaran DC dapat diubah kedalamsuatu besaran DC yang lain, hal ini dikenal dengan konverter DC ke
DC, jika tegangan keluaran lebih kecil dari tegangan masukan disebut sebagai buck (step down) chopper. Metoda
pengubahan besaran tegangan DC konstan menjadi tegangan DC variabel dilakukan dengan menggunakan saklar
elektronik (dapat berupa BJ T, MOSFET, IGBT dll). Pada Gambar 6 ditunjukkan suatu konverter jenis step down
dengan mengimplementasikan BJ T sebagai saklar elektroniknya yang digunakan untuk pengisi baterai








Gambar 6. Konverter jenis step down
Konverter DC-D tipe step down ini memiliki dua mode operasi, yaitu pada mode pertama saklar elektronik
yang diiplementasi dengan transistor BJ T menutup, maka akan mengalir arus menuju ke baterai, seperti pada
gambar 7.










Gambar 7. Mode pertama
Maka akan memiliki persamaan :

( )
on o s
t V V Ldi ÷ =
(3)

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-108
Baterai
L
D
T
Vs
+
Vo
-
MPP
R
G
dV
I d 1
= = ÷
) ( 0 G G
dV
I d
A > > ÷
G G jika
dV
dI
A < < ÷ , 0
Mode yang kedua adalah saat saklar elektronik yang diiplementasi dengan transistor BJ T membuka, akan
memiliki rangkaian ekivalen seperti pada gambar 8.









Gambar 8. Mode kedua
Maka akan memiliki persamaan :

off o
t V Ldi =
(4)
jika persamaan (3) dan (4) dieliminasi, maka diperoleh

T
t
V
V
on
s
o
=

d
V
V
s
o
=
(5)

Hasil dan Perancangan
Perancangan suatu kendali berdasarkan kurva karakteristik dan daya akan maksimum jika memenuhi suatu
persamaan sebagai berikut :

( )
dV
I V d
dV
dP
MPP
=
|
|
.
|

\
|


0 = +
dV
dI
V
dV
dV
I


0 = +
dV
dI
V I

MPP
R
G
V
I
dV
dI
1
÷ = ÷ = ÷ =
(6)


Sehinga proses kendali yang dibuat berdasarkan kurva adalah sebagai berikut :









Gambar 9. Kurva kendali daya maksimal


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
Persamaan daya
maksimum
Modulator
Baterai
Sehingga di dapat sistemkendali sebagai berikut :

4. G G jika
dV
dI
A > > ÷ , 0
5. G G jika
dV
dI
A = = ÷ , 0
6. G G jika
dV
dI
A < < ÷ , 0
(7)

Berikut ini adalah struktur kendali yang dibuat dan diimplementasi, gambar 9.

















Gambar 10. Diagram blok kendali daya maksimal
Berikut ini akan disajikan beberapa pengujian antara lain kurva karakteristik modul surya, pengujian kendali secara
simulasi dengan menggunakan software Psim.












Gambar 11. Pengujian parameter modul surya 50 WP










Gambar 12. Pengujian sistemkendali dengan modul surya 50 WP

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-110
Berikut adalah pengujian yang dilakukan pada saat matahari bersinar terang, tabel 1.

Tabel 1. Pengujian sistemmkendali
Waktu V
pv
I
pv
P
pv
V
out
I
out
P
out
%
1 12,7 2,6 33,02 12,6 2,48 31,248 94,6
2 12,75 2,6 33,15 12,6 2,48 31,248 94,3
3 12,8 2,6 33,28 12,65 2,48 31,372 94,3
4 12,8 2,6 33,28 12,65 2,45 30,9925 93,1
5 12,8 2,6 33,28 12,65 2,45 30,9925 93,1
6 12,8 2,6 33,28 12,65 2,45 30,9925 93,1
7 12,8 2,6 33,28 12,65 2,45 30,9925 93,1
8 12,8 2,6 33,28 12,7 2,5 31,75 95,4
9 12,8 2,6 33,28 12,7 2,45 31,115 93,5
10 12,8 2,6 33,28 12,7 2,5 31,75 95,4

Dari pengujian yang telah dilakukan sistemmemiliki effisiensi konversi energi sebesar 94%

Ucapan Terima Kasih
Kami ucapkan terima kasih kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional,
karena telah membiayai penelitian dalamskema penelitian hibah bersaing 2011/2012

Kesimpulan
Dari hasil ujicoba yang dilakukan dengan simulasi komputasi menggunakan software Psimdan implementasi
skala laboratoriumsistem pengisi baterai yang dirancang dapat berjalan dengan baik dan memiliki effisiensi sebesar
94%.

Daftar Pustaka
[1] Dedy. P, Pratomo H.L dan Tejo. Y, 2010 “ Pemanfaatan Mikrokontroler Tipe AT89S52 Sebagai Pengendalian
Daya MaksimumPada” CITEE, UGM Yogyakarta
[2] Eridanus dan Pratomo H.L, 2010, “ Metode Pengendali Daya Panel Surya dengan Kendali Adaptif”, CITEE,
UGM Yogyakarta
[3] Felix. Y dan Pratomo, H. L, 2009 “Memaksimalkan Daya Photovoltaic dengan Korelasi Riak”, IES-ITS
Surabaya
[4] Jonathan W. Kimball and Philip T. Krein, Digital Ripple Correlation Control for Photovoltaic Applications. IEEE
Power Elec. Conf., pp. 1690-1694, 2007.
[5] N. Femia, et. Al. “Optimization of Perturb and observe Maximum Power Point tracking Method,” IEEE Trans.
Power Electron., Vol. 20, pp. 963-973, July 2005
[6] Pratomo, H. L, 2005 , “Buck DC-DC Konverter Dengan Kendali One Cycle”, MILLENIUM, Vol 1. No 3
[7] Rinovi. A. D , Pratomo H.L dan Tejo. Y, 2010 “Maximum Power Point Tracker pada Photovoltaic Module
dengan Menggunakan Fuzzy Logic Controller”, , CITEE, UGM Yogyakarta
[8] Trishan Esram, J onathan W. Kimball, Philip T. Krein, Patrick L. Chapman, and Pallab Midya, Dynamic Maximum
Power Point Tracking of Photovoltaic Arrays Using Ripple Correlation Control. IEEE Trans. on Power Elec., vol.
21, no. 5, pp.1282-1291, Sept. 2006.
[9] V. Salas, E. Olias, A. Barrado, and A. Lazaro, “Review of maximum power point tracking algorithms for stand
alone photovoltaic systems” Solar Matter, Solar Cells, vol. 90, no. 11, pp. 1555-1578, July 2006




Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-111



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-112
Rancang Bangun Sistem Pelabelan Botol Kemasan Oval Terotomatisasi Dengan
Programmable Logic Control

Slamet Pambudi
1)
, Rahmat
2)
, Tri Rahayu K.L.
3)
1,2,3)
ProgramStudi Teknik Elektro Akademi Teknologi Warga Surakarta
J l. Raya Solo Baki Km2 Kwarasan Solo Baru Sukoharjo Tlp. 0271-621176,621178
E-mail : pam_atw@yahoo.co.id; rahmat@atw.ac.id; kuwat_lestari@yahoo.co.id
Abstrak
Dunia industri dituntut untuk tepat waktu, tepat produk sesuai standar untuk memenuhi tuntutan pasar
(pengguna produk). Industri menghasilkan produk yang memerlukan kemasan yang aman, menarik
dan memberikan informasi produk yang memudahkan konsumen untuk mengenali produk sebagai
hasil proses pabrikasi yang mempunyai nilai guna. Sistem Pelabelan Botol memerlukan tingkat
kepresisian yang sangat tinggi. Untuk merealisasikan sistem yang akurat memerlukan perangkat yang
dapat melakukan proses yang terotomatisasi. Kajian ini menjelaskan proses perancangan perangkat
sistem pelabelan botol kemasan oval terotomatisasi dengan Programable Logic Control (PLC) untuk
mengotrol Sistem Penggerak Servo (Servo drive System)sebagai pemutar botol dan pelabelan serta
pneumatik untuk menggerakkan posisi urutan botol yang diberi label. Pengisian parameter kontrol ke
PLC dilakukan melalui HMI.
Kajian diawali dengan mengidentifikasi keperluan perangkat yang diperlukan untuk dapat
menghasilkan sistem yang akurat. Sistem dibuat dengan pengontrol PLC melalui HMI dikoordinasikan
dengan Servo Drive , Pneumatik dan beberapa proximity sensor. Perancangan dimulai dengan
memprogram PLC untuk mensinkronkan antara gerakan botol yang akan diberi label dengan proses
pelabelan. Tahapan percobaan dengan menset parameter PLC lewat HMI, menginstalasi PLC, servo
Drive, Sensor, Encoder dan perangkat Pneumatic. Dari hasil percobaan dan ujicoba alat, telah
dihasilkan alat pelabelan botol dengan kapasitas produksi 1200 botol per jam dan sudah
diimplementasikan dalam proses produksi di industri.

Kata Kunci : Sistem pelabelan botol kemasan oval , Otomatisasi, Servo Drive, Encoder, PLC,
HMI, Pneumatik

PENDAHULUAN
Dunia industri dituntut untuk tepat waktu, tepat produk sesuai standar untuk memenuhi tuntutan pasar
(pengguna produk). Industri menghasilkan produk yang memerlukan kemasan yang aman, menarik dan memberikan
informasi produk yang memudahkan konsumen untuk mengenali produk sebagai hasil proses pabrikasi yang
mempunyai nilai guna. Sistem Pelabelan Botol memerlukan tingkat kepresisian yang sangat tinggi. Untuk
merealisasikan sistemyang akurat memerlukan perangkat yang dapat melakukan proses yang terotomatisasi.
Tujuan rancang bangun ini untuk melakukan perancangan alat yang dapat melakukan proses pelabelan yang
akurat dan mudah dalam pengoperasian, karena seluruh kendali dilakukan menggunakan Programmable Logic Control
(PLC).
Pada percobaan ini lebih menggambarkan urutan proses pembuatan alat dari mulai proses pemilihan dan
pengecekan perangkat yang digunakan, pembuatan program di HMI dan Programmable Logic Control untuk
menggendalikan Valve Pneumatic, servo drive, inverter. Sensor proximity, reed switch, encoder dan sensor label
sebagai masukan pada Programmable Logic Control.
Dalamproses perancangan ini memerlukan beberapa perangkat standar berupa HMI, PLC, Servo Drive, Valve,
Pneumatic, Encoder, Proximity Sensor, Reed Switch dan sensor label. Hasil kajian ini menghasilkan suatu perangkat
sistem pelabelan yang dikontrol Programmable Logic Control dengan pengerak Servo Drive.
Human Machine Interface(HMI) dalam perancangan alat ini digunakan untuk pengisian parameter PLC sebagai
controller untuk mengendalikan kecepatan servo motor, waktu gerakan Pneumatic dan mengolah input Proximity
Sensor.

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-113

Gambar 1. HMI (Human Machines Interface)/ Programmable Terminal
PLC (Programmable Logic Controller) adalah sebuah alat yang digunakan untuk menggatikan rangkaian
sederetan relai yang djumpai pada sistemcontrol konvensional[1]. PLC ( Programable Logic Controller ) yaitu kendali
logika terprogrammerupakan suatu piranti elektronik yang dirancang untuk dapat beroperasi secara digital dengan
menggunakan memori sebagai media penyimpanan instruksi –instruksi internal untuk menjalankan fungsi-fungsi
logika, seperti fungsi pencacah, fungsi urutan proses, fungsi pewaktu, fungsi aritmatika dan fungsi lainnya dengan cara
memprogrammnya. Program-programdibuat kemudian dimasukkan dalamPLC melalui Programmer/Monitor.
PLC banyak digunakan pada aplikasi-aplikasi industri, misalnya pada proses pengepakan, penanganan bahan,
perakitan otomatis dan lain sebagainya. Dengan kata lain, hampir semua aplikasi memerlukan kontrol listrik atau
elektronik membutuhkan PLC[1].
Programmable Logic Control dalam percobaan ini digunakan sebagai pusat pengonrolan utuk membaca
perintah data yang dikirimdari HMI dan mengaktifkan valve pneumatic, mengaktifkan inverter, kecepatan servo serta
membaca data encoder, proximity sensor dan reed switch.




Gambar 2. Bagian-bagian dari PLC[1]

Servo Drive dalampercobaan ini digunakan sebagai pemutar botol pada proses pelabelan.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-114

Gambar 3. Koneksi Motor servo dan drive kontrolnya

Rotary encoder adalah divais elektromekanik yang dapat memonitor gerakan dan posisi. Rotary encoder umumnya
menggunakan sensor optik untuk menghasilkan serial pulsa yang dapat diartikan menjadi gerakan, posisi, dan arah.
Sehingga posisi sudut suatu poros benda berputar dapat diolah menjadi informasi berupa kode digital oleh rotary
encoder untuk diteruskan oleh rangkaian kendali. Rotary encoder umumnya digunakan pada pengendalian robot, motor
drive, dsb.[2]

Gambar 4. Rotary Encoder

Poximity sensor merupakan pendeteksi yang tidak kontak secara langsung pada objek yang dideteksi jika dibandingkan
seperti limit switch yang mendeteksi objek kontak langsung secara phisik dengan objek yang dideteksi. Sensor
proximity mengubah informasi untuk setiap perubahan atau keberadaan dari sebuah objek ke sebuah sinyal[3].
Proximity Sensor digunakan untuk mendeteksi botol untuk siap dilakukan proses pelabelan

Gambar 5. Proximity Sensor


METODOLOGI PENELITIAN

Racangan sistempelabelan botol ini terdiri dari beberapa blok adapun blok rancang bangun alat yang dibuat seperti
ditunjukan pada gambar


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-115

Gambar 6. Blok diagramMesin/Alat pelabelan botol terotomasi dengan PLC

Tahapan rancang bangun dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Penyiapan/ menata kembali perangkat yang digunakan, karena perancangan ini dilakukan pada mesin pelabel botol
yang sudah ada yang mengalami kerusakan pada sisem kendali/kontrolnya. Sehingga proses perancangan ini
bersifat redesign. Karena perangkat lainya seperti pneumatic beserta kelengkapannya, sensor reed swith, proximity
sensor, sensor label, servomotor, inverter, conveyor, dan komponen lainnya untuk mesin label botol oval ini sudah
ada. Yang dilakukan dalam perancangan ini adalah pembuatan programdan penginstalasian ulang dari perangkat
yang sudah ada.
2. MemprogramPLC sebagai pengontrol utama untuk proses kerja dari mesin label dimana PLC menerima instruksi
dari HMI dan menanggapi perubahan data dari sensor-sensor.
3. Membuat program di HMI untuk digunakan mengisi parameter kecepatan servo, waktu tundaan solenoid, counter
botol dan tombol start/stop.
4. MemprogramInverter dengan memberikan parameter yang diperlukan oleh inverter untuk menjalankan konveyer
sebagai penggerak ban berjalan membawa botol untuk proses pelabelan.
5. Menginstalasi PLC, HMI, Servo Drive, Encoder, Inverter dan sensor proximity.
6. Pengujian programHMI, PLC dan Servo.
7. Ujicoba menjalankan semua perangkat yang sudah diprogramdengan semua perangkat systempelabelan untuk
melakukan uji prose pelabelan botol.

Adapun tahapan proses digambarkan dalamalur proses bisa dilihat pada gambar 7.

HASIL DAN PERANCANGAN

PERANCANGAN
Setelah tahap persiapan peralatan dilakukan selanjutnya tahap perancangan, meliputi perancangan program PLC,
programHMI, programInverter, wiring Servo Drive, Encoder, Proximity Sensor, dan wiring keseluruhan perangkat
yang digunakan dalammesin labeling ini.

Perancangan Program PLC
Program PLC dibuat untuk mensinkronkan masukan/sinyal perintah dari HMI, Proximity Sensor, dan inputan lainnya
untuk memberikan sinal perintah ke perangkat Inverter, Servo Drive, dan Valve Pneumatik. Tahapan perancangan
programdi PLC dilakukan dengan tahapan :
- Penentuan masukan dan keluaran dari PLC
- Pembuatan diagram waktu (timing Chart) program yang menggambarkan alur proses urutan program
kontrol/kendali mesin pelabelan botol yang dirancang.
- Pembuatan programdengan software sesuai dengan perangkat PLC yang digunakan meliputi perintah program
a. Pneumatic program
b. RST First Cycle
c. Hand Close Delay Setting
d. Speed Turntable Setting
e. Speed Tag Setting
f. Set Out Tag
g. Time Kick Bottle


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-116

Gambar 7. Tahapan proses perancangan Mesin/Alat

Cuplikan salah satu sub program perancangan programPLC sebagai controller dari mesin/alat pelabel botol ditunjukan
dibawah ini. ProgramSpeed Tag Setting


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-117
Tahapan awal perancangan HMI sebagai masukan PLC sebgai control utama. Beberapa menu pembaca dari suatu
alamat di PLC dan menuliskan data ke alamat terstentu di PLC dibuat di tampilan HMI. Halaman depan (Scene 1)
menunjukan tampilan awal terdiri dari menu manual, auto, dan seting. Menu manual di lik ke scene seperti terlihat
pada gambar menunjukan beberapa menu: Conveyor, Tag, Turntable, Manipulator Close Release, Manipulator Left-
Right, Manipulator Back-Front, Press Botle, dan Press Tag, Kick Bottle


Gambar 8. Tampilan Awal HMI
sebagai menu utama

Gambar 9. Tampilan menu manual proses


Menu Manual
Menu manual di link ke scene Manual Process seperti terlihat pada gambar menunjukan beberapa menu: Conveyor,
Tag, Turntable, Manipulator Close Release, Manipulator Left-Right, Manipulator Back-Front, Press Botle, dan Press
Tag, Kick Bottle. Menu yang tertampil dilayar HMI/ Programmable Terminal ini untuk memberikan atau menerima
data dari perangkat yang terkoneksi ke HMI/Programmable Terminal. Sub Program yang ada di HMI untuk
memberikan perintah / menulis data pada alamat memory di PLC.

Setting HMI dan Programdi PLC untuk menu Kick Bottle.



Gambar 10. Property dari tombol tekan Kick Bottle pada layar HMI


Gambar 11. Programdi PLC untuk perintah Kick Bottle


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-118
Menu Auto
Menu Auto HMI terdiri dari Penampil Cacahan Botol, Set Pencacah, Reset Cacahan, dan tombol tekan mulai cacahan,
serta tombol tekan Keluar, seperti pada gambar 12. Setting HMI dan Program di PLC untuk pencacahan Botol terlihat
pada gambar 13.

Gambar 12. Tampilan Menu Auto Process

Gambar. 13 Property Count Bottle



Gambar 14. ProgramPLC untuk Counter Bottle

Menu Setting
Menu Set Process terdiri dari Turntable Speed, Tag Length, Out Tag Speed, Out Tag, Hand Close Delay, dan Test Tag
Length, serta Menu Keluar.


Gambar 15. Tampilan Menu Set Process

HASIL
Percobaan ini menghasilkan mesin/alat pelabelan botol terotomatisasi dengan PLC. Mesin/alat hasil rancangan alat ini
mempunyai unjuk kerja yang baik ditunjukan dengan hasil proses pelabelan yang akurat dan nilai gunanya tinggi jika
dibandingkan dengan proses labeling secara manual, dengan alat ini proses pelabelan botol bisa menghasilkan kapasitas
produksi yang tinggi dengan tingkat keakuratan yang tinggi pula.
Hasil perancangan ditunjukan pada gambar dibawah ini, gambar dibawah menggambarkan alat hasil perancangan yang
sedang dilakukan pengecekan akhir. Sebelum alat ini digunakan dilakukan beberapa langkah setting dan pengujian
untuk menghasilkan performa mesih secara optimal. Adapun langkah pengujian dan setting alat sebelumalat digunakan
meliputi
1. Uji komunikasi antara HMI yang sudah diprogram dengan PLC untuk melihat sudah sesuai dengan perancangan
awal dan kebutuhan yang diinginkan dengan programyang sederhana tetapi menghasilkan performa mesin yang
maksimal.
2. Uji Programmable Logic Control untuk menerima sinyal perintah dari HMI, Encoder, Proximity Sensor untuk
memberikan sinyal kendali pada Servo Drive dan Inverter.
3. Setting penempatan sensor untuk menghasilkan gerakan mekanis proses pelabelan untuk mengsinkronkan
data/sinyal masukan dari proximity sensor yang dikirimke PLC yang selanjutnya memberikan sinyal instruksi
pada servo drive.
4. Uji proses pelabelan untuk melihat hasil proses pelabelan botol dari mesin/alat yang dibuat.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-119

Dari hasil uji coba dengan tahapan seperti disebutkan diatas, dari hasil pengambilan sampel botol dari proses pelabelan
dengan menggunakan alat yang di rancang ini hasilnya sangat baik artinya menghasilkan pelabelan botol yang akurat
dengan tingkat produksi yang tinggi.

Gambar 16. Setting Proximity sensor untuk mencari
penempatan posisi sensor yang paling tepat

Gambar 17. Uji coba sinkronisasi penggerak servo
sebagai pemutar botol dengan label botol

Hasil dari proses perancangan sistemlabeling botol terotomatisasi PLC ditunjukan seperti pada gambar dibawah.
Gambar dibawah menunjukan proses uji pelabelan botol kemasan dari alat yang sudah dibuat.

Gambar 18.Proses pengambilan sampel hasil proses
pelabelan saaat dilakukan uji coba

Gambar 19. Proses pelabelan dengan perangkat hasil
rancang bangun alat yang dibuat.

KESIMPULAN
1. Dihasilkan alat pelabelan botol oval yang presisi dengan kapasitas produksi 1200 botol per jamdan sudah
diimplementasikan dalamproses produksi di industri.
2. Untuk pendeteksian posisi yang akurat diperlukan perpaduan sensor , rotary encoder, servo drive dan PLC
sebagai pusat kendali serta Inverter sebagai pembawa botol yang akan diberi label.
3. Pemrograman melalui HMI lebih mudah pengoperasiannnya bagi operator untuk melakukan perubahan data
sesuai dengan yang dikehendaki.
4. Mesin/Alat pelabelan botol terotomasi PLC dalamproses perawatan dan perbaikannya lebih mudah karena
sistem pengawatan kelistrikan dan kontrolnya lebih ringkas jika dibandingkan dengam mesin yang
menggunakan sistemkontrol biasa.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Agfianto Eko Putra, PLC Konsep Pemrograman dan Aplikasi, Penerbit Gava Media, Yogyakarta,2004
[2] http://konversi.wordpress.com/2009/06/12/sekilas-rotary-encoder/
[3] http://www.omron-ap.co.th/technical_guide/proximity_sensor/index.asp
[4] Operation Instructions Profile Automatic Labeling Machine, http://www.0769xb.com.cn
[5] Catalog autonics, http://www.autonics.comn
[6] _____, Programmable Terminal NP-Designer User’s Manual, April 2009
[7] _____, CP1E CPU Unit Software User’s Manual, Desember 2009


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-120
Analisis Kointegrasi Trafik Internet Spasial

Sis Soesetijo
J urusan Teknik Elektro, Universitas Surabaya
J l. Raya Kalirungkut, Surabaya 60293
e-mail : ssoesetijo@ubaya.ac.id
Abstrak
Analisis kointegrasi ini digunakan untuk mengetahui hubungan jangka panjang dan
ketergantungan antar trafik internet. Apakah trafik internet dari satu lokasi akan saling
mempengaruhi trafik internet pada lokasi lain. Pengukuran trafik internet dilakukan secara
spasial selama satu hari pada 4 lokasi yang berbeda di kampus Universitas Surabaya. Ke-
empat lokasi pengukuran trafik tersebut adalah Fakultas Teknik, Fakultas Bisnis dan
Ekonomika, Perpustakaan dan Kampus Ubaya Ngagel. Pengukuran dilakukan secara agregat
yaitu pengukuran dilakukan pada sisi downstream tanpa membedakan protokol dan aplikasi
yang melalui jaringan internet. Analisis kointegrasi menggunakan metoda uji kointegrasi
Johansen. Hasilnya membuktikan bahwa terdapat hubungan linier antar trafik spasial yang
tidak berubah tergantung waktu dan juga menunjukkan sifat stasioner terhadap ruang.

Kata Kunci : trafik internet, spasial, uji kointegrasi Johansen, agregat, stasioner
Pendahuluan
Analisis kointegrasi banyak digunakan dalambidang ekonometrik untuk mengetahui hubungan jangka panjang antar
variabel ekonomi, apakah sebuah variabel ekonomi akan saling mempengaruhi variabel ekonomi yang lain dan melihat
ketergantungan antar variabel ekonomi. Beberapa makalah yang terkait bidang ekonomi yang dianalisis dengan metoda
kointegrasi disampaikan pada makalah [1][2]. Bidang yang terkait dengan bidang teknik dan bidang ekonomi seperti
disampaikan pada makalah [3] yang membahas analisis hubungan konsumsi listrik dengan variabel ekonomi, dari
makalah ini diketahui terdapat hubungan jangka panjang yang bersifat linier di mana konsumsi listrik di China
dipengaruhi variabel ekonomi seperti pertumbuhan jumlah penduduk dan Gross Domestic Product (GDP). Bidang
telekomunikasi yang menganalisis menggunakan metoda kointegrasi dan kausalitas Granger disampaikan pada makalah
[4] yaitu analisis hubungan antar curah hujan pada satu lokasi dengan curah hujan di lokasi berbeda terhadap propagasi
gelombang milimeter.

Dengan menggunakan metoda kointegrasi yang sama, pada penelitian ini digunakan untuk menganalisis hubungan antar
trafik internet yang diukur secara spasial pada 4 lokasi berbeda di kampus Universitas Surabaya. Trafik internet yang
dimaksud adalah bandwidth sesungguhnya (throughput) atau dikenal juga dengan volume trafik. Penggunaan metoda
ini dapat diketahui dampak perubahan trafik internet pada satu lokasi karena adanya pemakaian trafik pada lokasi yang
berbeda. Analisis kointegrasi akan menghasilkan hubungan linier antar variabel trafik pada lokai berbeda sehingga
perubahan trafik pada satu lokasi dengan trafik pada lokasi yang berbeda akan dapat diketahui. Perubahan trafik yang
dimaksud dapat diartikan kenaikan atau penurunan trafik internet pada satu lokasi akan berdampak pada penurunan atau
kenaikan trafik pada lokasi berbeda. Situasi ini sangat penting bagi seorang administrator jaringan untuk dapat
mengatur pengelolaan trafik yang seimbang antar lokasi trafik. Bahkan untuk perencanaan jaringan di masa depan
membutuhkan pengetahuan tentang beban dan kinerja trafik antar lokasi router. Penggunaan analisisi kointegrasi akan
memperjelas besaran perubahan atau penurunan volume trafik dan dampaknya besaran perubahan atau penurunan pada
trafik lokasi berbeda. Hal ini akan memperkuat hasil pada makalah [5] yang menganalisis hubungan kausalitas antar
trafik berbeda lokasi menggunakan metoda kausalitas Granger, hasilnya bahwa trafik internet lokasi mana yang
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh trafik internet yang lain namun besaran perubahan atau penurunan tidak diketahui.

Pada penelitian ini pengukuran dilakukan secara spasial pada 4 lokasi berbeda di kampus Universitas Surabaya yaitu
lokasi router di Fakultas Teknik (disimbolkan dengan E), router di Fakultas Bisnis dan Ekonomika (disimbolkan dengan
M), router di gedung Perpustakaan (disimbolkan dengan S) dan router di kampus Ubaya Ngagel (disimbolkan dengan
N). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SNMP dengan sampel waktu setiap 5 menit dari
pukul 03.00 sampai 23.59 WIB pada tanggal 3 Nopember 2010. Data trafik internet yang terukur merupakan data trafik
downstreamagregat yaitu trafik downstreamyang digunakan dalampenelitian ini tidak membedakan protokol, aplikasi
dan jenis trafik yang lewat.

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-121
Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan linier jangka panjang (tidak tergantung waktu) antar trafik internet yang
berbeda lokasi dan terdapat ketergantungan trafik spasial. Hubungan ini dinyatakan dalampersamaan kointegrasi dan
bersifat stasioner terhadap ruang atau lokasi.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini mempunyai 4 tahapan metode yaitu pengukuran trafik internet harian pada 4 lokasi trafik yang berbeda di
kampus Universitas Surabaya yaitu di Fakultas Teknik (E), Fakultas Bisnis dan Ekonomika (M), Perpustakaan (S) dan
kampus Ubaya Ngagel (N), pengujian data trafik apakah stasioner atau tidak, penentuan orde lag p dengan metode AIC
dan tahapan yang terakhir adalah perhitungan model kointegrasi.

Sistem Pengukuran
Pada penelitian ini dilakukan pengukuran trafik internet pada 4 (empat) lokasi trafik. Pencatatan dan pengukuran trafik
internet menggunakan perangkat lunak Simple Network Management Protocol (SNMP). Pengukuran trafik telah
dilakukan sebelumnya yaitu pada tanggal 3 Nopember 2010. Trafik yang diukur merupakan trafik internet harian yang
diukur pada jam 03.00 WIB sampai jam 23.59 WIB dengan sampel waktu setiap 5 menit. Trafik hasil pengukuran ini
merupakan trafik internet agregat di mana trafik yang terukur merupakan trafik gabungan dari beberapa protokol dan
aplikasi internet yang melewati masing-masing router. Topologi jaringan internet yang diukur ditampilkan pada gambar
1. Sedangkan gambar 2 menunjukkan grafik runtun-waktu trafik internet hasil pengukuran dengan sampel pengukuran
setiap 5 menit. Pengukuran volume trafik dinyatakan dalam satuan bit/detik. Data trafik internet yang terukur
merupakan data trafik downstream agregat yaitu trafik downstream yang digunakan dalam penelitian ini tidak
membedakan protokol dan jenis trafik yang lewat.
































Gambar 1. Topologi Pengukuran Trafik Internet di Kampus Universitas Surabaya


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-122













Gambar 2. Grafik Runtun Waktu Trafik Internet Harian diukur pada 3 Nopember 2010

Konsep Kointegrasi Johansen
Gagasan dibalik kointegrasi adalah menemukan kombinasi linier antara data runtun-waktu nonstasioner I(d) yang
menghasilkan orde yang lebih rendah [6]. Secara formal kointegrasi dapat terjadi jika antara komponen-komponen
vektor
x
t
merupakan komponen yang nonstasioner atau dapat disimbolkan sebagai I(d) dengan d ≠ 0. Teori
kointegrasi bertujuan untuk menemukan hubungan keseimbangan antara data-data (variabel) yang nonstasioner dan
membedakan apakah terdapat hubungan keseimbangan jangka panjang. Sebelum dilakukan analisis kointegrasi,
kombinasi variabel-variabelnya harus nonstasioner [3].
Model Vector Autoregression (VAR) dengan lag p dapat dinyatakan dengan

y
t

1
y
t− 1

2
y
t − 2
+...+β
p
y
t − p

t
(1)
Dengan asumsi semua
y
t
adalah I(1), persamaan (1) dapat ditransformasikan menjadi persamaan model Vector Error
Corection (VECM) sehingga diperoleh persamaan berikut

Δy
t
=Πy
t − p
+

i=1
p−1
Γ
i
Δ
t−i

i
(2)
di mana :

Π=

j=1
p
β
j
− I
g
dan
Γ
i
=

j=1
i
β
j
− I
g
dengan I
g
merupakan matrik identitas dengan g tahapan.
Matrik Π merupakan matrik koefisien yang menunjukkan variabel hubungan jangka panjang. Jika variabel dalam
kondisi keseimbangan jangka panjang, maka turunan pertama dari persamaan (2) merupakan vektor nol dan E(μ
t
) =0
sehingga Π y
t-p
=0.
Jika semua variabel endogen adalah I(1), dan jika semua varibel-variabel dari Π y
t-p
=I(0), eror stokastiknya merupakan
proses stasuioner. Maka dengan demikian

0<Rank (Π)=m<g

terdapat matrik α dan β, sehingga

Π=αβ'


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-123
Persamaan (2) dapat ditransformasikan menjadi persamaan (3) berikut

Δy
t
=αβ'y
t − p
+

i=1
p−1
Γ
i
Δ
t − i

i
(3)
Setiap komponen dari β' y
t-p
merupakan variabel stasioner dan membentuk kombinasi variabel stasioner sehingga
variabel-variabel y
1, t-1
, y
2, t-1
, ... , y
g, t-1
merupakan kointegrasi. Bentuk dan nilai dari hubungan kointegrasi ditentukan
oleh matrik β'.
Hasil dan Pembahasan
Pada makalah ini, semua perhitungan dan analisis data trafik internet menggunakan perangkat lunak pengolah statistik
opensource R versi 2.15.0 pada sistemoperasi Ubuntu 12.04. Untuk data trafik internet harian tanggal 3 Nopember
2010, pengukuran dilakukan antara jam 03.00 sampai 23.59 WIB dengan waktu sample setiap 5 menit dengan
menggunakan SNMP. Trafik internet antara jam 00.00 – 03.00 WIB untuk keempat lokasi pengukuran hampir
semuanya dapat dikatakan tidak terdapat volume trafiknya. Hasil pengukuran trafik internet spasial 3 Nopember 2010
ditampilkan pada gambar 2. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji stasioner terhadap data trafik menggunakan
metoda Augmented Dickey Fuller (ADF) dan hasilnya ditunjukkan pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Hasil Uji Stasioner dengan metoda ADF

Lokasi Pengukuran
Trafik
Statistical Test
Value
Confidences
Interval
99 % 95 %
Fak. Teknik (E) - 2.58
- 3.99 - 3.34
Fak. Bisnis & Ekonomika (M) - 3.63*
Kampus Ngagel (N) - 2.62
Gedung Perpustakaan (S) - 1.72

Tabel 1 merupakan hasil uji stasioner terhadap data trafik internet tanggal 3 Nopember 2010 dan menunjukkan bahwa
data trafik merupakan data nonstasioner. Data nonstasioner ditunjukkan dengan nilai nilai uji statistik (statistical test
valeu) lebih besar dari nilai kritisnya (critical value) baik pada 1% (confidence interval 99%) dan 5% (confidence
interval 95%) kecuali data trafik pada lokasi Fakultas Bisnis dan Ekonomika (M) yang stasioner hanya pada tingkat
kepercayaan 95% saja.
Setelah data trafik teruji nonstasioner maka dilakukan perhitungan orde lag p dengan menggunakan metoda Akaike
Information Criterion (AIC). Nilai orde p ini akan digunakan untuk menghitung model kointegrasi. Hasil perhitungan
ditampilakan pada gambar 3 berikut.







Gambar 3. Hasil Perhitungan Orde lag p dengan metoda AIC

Nampak pada gambar 3 bahwa orde lag p menggunakan metoda AIC dengan nilai yang terkecil adalah p =4, dengan
demikian nilai ini akan digunakan untuk menghitung model kointegrasi Johansen.

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-124
Salahsatu syarat utama terjadinya kointegrasi adalah data bersifat nonstasioner telah terpenuhi, maka uji data trafik
untuk model kointegrasi dapat dihitung dengan menggunakan orde p =4. Hasil uji kointegrasi J ohansen ditampilkan
pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Hasil Uji Kointegrasi Johansen

H
0

Trace
Value
Confidence Interval
99 % 95 %
r = 0 65.21 70.05 62.99
r  1 30.39 48.45 42.44
r  2 16.96 30.45 25.32
r  3 7.88 16.26 12.25

Tabel 2 di atas menunjukkan hasil bahwa nilai Trave-Value lebih besar dibandingkan dengan nilai kritisnya untuk
tingkat kepercayaan 95% pada H
0
: r = 0. Dengan demikian dapat ditunjukkan bahwa terdapat hubungan keseimbangan
jangka panjang antar lokasi trafik yang diukur secara spasial. Hubungan keseimbangan jangka panjang ini berupa
persamaan linier yang dimodelkan dalampersamaan kointegrasi sebagai berikut ini :

E+568.12=1.92N+0.46S− 15.47M
(4)
Persamaan (4) menunjukkan bahwa apabila ada kenaikan 1% volume trafik dari kampus Ngagel (N) akan menaikkan
volume trafik 1.92% dari Fakultas Teknik (E) dengan asumsi trafik dari 2 lokasi yang lain tidak berubah (S dan M).
Sedangkan dengan asumsi trafik dari lokasi N dan S adalah tetap, maka apabila ada kenaikan volume trafik 1% saja dari
trafik Fakultas Bisnis dan Ekonomika (M) akan berdampak penurunan volume trafik 15.47% dari trafik Fakultas Teknik
(E). Persamaan (4) merupakan model kointegrasi untuk trafik internet harian tanggal 3 Nopember 2010 yang
mempunyai hubungan linier yang tidak berubah tergantung waktu dan juga dapat menunjukkan bahwa terdapat sifat
stasioner tehadap ruang.
Kesimpulan
Analisis kointegrasi J ohansen menghasilkan model hubungan linier antar trafik internet harian yang diukur secara
spasial di kampus Universitas Surabaya yang bersifat tidak berubah tergantung waktu dan juga dapat menunjukkan
bahwa terdapat sifat stasioner tehadap ruang/lokasi dan saling ketergantungan antar besaran trafiknya. Hubungan linier
ini hanya berlaku untuk trafik internet harian untuk tanggal 3 Nopember 2010 saja dan tidak berlaku untuk data trafik
yang lain.
Daftar Pustaka
[1] Xiufang Du, Xiaofei Yan (2008),” Cointegration Analysis on The Relationship of China's Industrial
Structure Change and The Oil Demand”, 4
th
International Conference on Wireless Communications,
Networking and Mobile Computing, WiCOM '08.
[2] Bernhard Pfaff (2008), “VAR, SVAR and SVEC Models: Implementation Within R Package vars”, Journal of
Statistical Software. 2008; Vol. 27. Issue 4.
[3] Zhang Xing-ping, Niu Yu-qin, Ji Jian-jun (2007),” Multivariate Cointegration Analysis of The Relationship
between Electricity Comsumption and Economic Growth in China”, 14
th
International Conference on
Management Science & Engineering, August 20-22, 2007
[4] Sis Soesetijo, Achmad Mauludiyanto, Gamantyo Hendrantoro (2009), “Analisa Kointegrasi dan Kausalitas
Pada Data Spasial Curah Hujan di Surabaya”, Electronics Seminar, IES 2009 PENS ITS Surabaya, Oktober
2009
[5] Sis Soesetijo, Febrianto Budimulyono, Lukas Hadi Purnama, Welly Wellandow Santoso, Hendrik
Setiawan (2011), “Analisis Spasial Trafik Internet Agregat “, 13
th
IES 2011 PENS ITS Surabaya, 26
Oktober 2011
[6] Bernhard Pfaff (2008), “Analysis of Integrated and Cointegrated Time Series with R”, Springer, Second
Edition

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-125



Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-126
Perancangan dan Implementasi Pengendali Beban Elektronik Generator Induksi
Split Phase Eksitasi Sendiri dengan Metoda Logika Fuzzy

Sofian Yahya
1)
, Dedi Nono Suharno
2)
ProgramStudi Teknik Listrik J urusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Bandung
1,2)
J l. Gegerkalong Hilir, Ds. Ciwaruga Kotak Pos 1234 Bandung 40012
E-mail : sofianyahya@polban.ac.id
1)
, dedinsp3d@yahoo.co.id
2)

Abstrak
Generator induksi eksitasi sendiri (Self Excited Induction Generators-SEIG) dapat digunakan
untuk menghasilkan energi listrik dari sumber energi konvensional terutama untuk mensuplai
energi listrik di daerah terpencil dan pedesaan. Generator induksi memiliki banyak keuntungan
seperti harga yang relatif murah, pemeliharaannya mudah , kokoh, dan konstruksi sederhana.
Kelemahan utama dari SEIG adalah regulasi tegangannya yang jelek, dan nilai tegangannya
tergantung pada kecepatan penggerak utama, kapasitansi, beban arus dan faktor daya beban.
Pengendali Beban Elektronik (Electronic Load Controller-ELC) dapat digunakan untuk
mempertahankan agar tegangan dan frekuensi SEIG tetap konstan meskipun beban konsumen
bersifat variabel dengan SEIG diputar oleh penggerak mula dengan kecepatan konstan.
Tulisan ini menyajikan perancangan dan implementasi dari ELC yang dikendalikan secara
digital dengan menggunakan metode logika fuzzy berbasis mikrokontroler untuk SEIG jenis
generator induksi split phase yang digunakan untuk suplai beban satu fasa . ELC ini terdiri
dari penyearah, MOSFET sebagai saklar chopper, mikrokontroler ATMega32, sensor
tegangan, optocoupler, dan dummy load resistif. ELC terdiri dari sistem elektronik yang secara
umum, memiliki model nonlinear dan memerlukan pengendalian yang sangat cepat. Pengendali
berbasis logika fuzzy mampu mengendalikan sistem nonlinear dengan respon yang cepat dan
hampir tidak ada overshoot. Untuk mengetahui perfoma ELC yang diusulkan telah diuji
dengan perubahan beban konsumen secara bertahap.

Kata Kunci : Generator Induksi Satu Fasa, Motor Induksi Split Phase, Pengendali Beban
Elektronik (ELC), Logika Fuzzy, Mikrokontroler

I. Pendahuluan

Saat ini hampir sebagian besar energi listrik yang dibangkitkan berasal dari bahan bakar fosil ( batu bara, minyak bumi,
dan gas alam). Bahan bakar fosil terbatas dan akan habis di masa depan. Bahan bakar fosil adalah sumber energi non-
terbarukan dan mereka terus terdegradasi kondisi lingkungan. Dalamsituasi seperti ini peneliti didorong untuk me-
lakukan upaya untuk memanfaatkan sumber energi baru dan terbarukan dalamcara yang ekonomis dan aman. Di antara
pembangkit listrik menggunakan sumber yang terbarukan, sistem pembangkit mikrohidro merupakan alternatif yang
menarik untuk digunakan pada lokasi terpencil di mana jaringan listrik tidak tersedia. Selain itu, hal penting yang
menjadi bahan pertimbangan bahwa sistemtersebut harus ekonomis, kuat, membutuhkan perawatan minimal dan ke-
mungkinan akan dikelola oleh operator yang tidak terlalu terampil, karena sistem biasanya dipasang jauh dari fasilitas
pemeliharaan.
Mesin induksi rotor sangkar dengan menggunakan kapasitor sebagai eksitasi sendiri, dikenal generator induksi penguat-
an sendiri (SEIG) dianggap sebagai alternatif untuk dikembangkan selain dari generator sinkron. Generator induksi ba-
nyak digunakan untuk pembangkit listrik mikrohidro, terutama di daerah terpencil dan terisolasi, karena generator
induksi tidak memerlukan catu daya eksternal untuk menghasilkan medan magnet eksitasi. Selain itu, generator induksi
memiliki keunggulan lebih seperti harga relatif murah, pemeliharaannya mudah, kokoh dan konstruksi sederhana, dan
tanpa sikat [4].
Untuk menjaga tegangan dan frekuensi SEIG konstan meskipun terjadi perubahan beban, dapat dilakukan dengan cara
menentukan nilai kapasitansi atau dengan mengendalikan kecepatan dari penggerak utama. Salah satu alternatif untuk
mensuplai beban satu fasa yang digunakan secara luas di daerah terpencil dan pedesaan dengan menggunakan generator
induksi satu fasa. Pengendali beban elektronik (ELC-Electronic load controller) dapat digunakan untuk mempertahan-
kan agar daya keluaran SEIG tetap konstan, untuk itu dummy load harus terhubung secara paralel dengan beban
konsumen sehingga beban daya total yang dihasilkan oleh SEIG adalah konstan. Jumlah daya yang mengalir ke dummy
load dikendalikan oleh pengendali beban elektronik (ELC) [1-7].
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-127
Berbagai macam alat pengendali tegangan SEIG telah banyak ditulis pada literatur-literatur, T. Chandra Sekhar dkk. [8]
mengusulkan skema regulasi tegangan seperti pengendali elektronika daya, pengendali beban elektronik dan penguat
magnetik (saturable core reactor). Bhim Singh dkk [6] telah mengembangkan ELC untuk SEIG satu fasa dengan dua
kumparan. DK. Palwalia dkk [3] merancang dan mengimplementasikan Digital Signal Processor (DSP) sebagai
pengendali generator induksi (IGC) untuk SEIG satu fasa. Sarsing Gao [2] menganalisis dan merancang mikrokontroler
(PIC 18F252) untuk SEIG-ELC dengan metoda PI digunakan supaya pada saat pengendalian tidak terjadi steady state
error atau ketidakstabilan.
Tulisan ini menyajikan perancangan dan implementasi Pengendali Beban Elektronik (ELC) untuk Generator Induksi
Eksitasi Sendiri (SEIG). SEIG menggunakan Motor Induksi Split Phase sebagai generator induksi satu fasa. Teknik
pengendalian yang akan digunakan dengan metoda fuzzy berbasis mikrokontroler ATMega32. Alasan utama meng-
gunakan pengendali logika fuzzy adalah untuk mengendalikan generator yang mempunyai karakteristik nonlinear dan
diharapkan diperoleh respon yang cepat tanpa mengalami overshoot setiap terjadinya perubahan beban pada generator.
Generator dengan pengendali beban elektronik yang dirancang akan diuji dengan beban resistif satu fasa.

II. Deskripsi Sistem

Diagram skematik dari ELC yang diusulkan untuk SEIG menggunakan logika fuzzy berbasis metode mikrokontroler
ditunjukkan pada Gambar 1 dan Gambar 2 untuk mensuplai beban satu fasa. ELC ini dirancang untuk mengoperasikan
sebuah motor induksi split phase dengan spesifikasi sebagai berikut 0,25 kW, satu fasa, 220 Volt, 1460 Rpm, 50 Hz.
Satu buah kapasitor dihubungkan seperti yang ditunjukkan pada gambar 1, untuk suplai beban satu fasa. ELC terdiri
dari penyearah tidak terkontrol dengan parallel-resonant filter, MOSFET, mikrokontroler ATMega32, sensor tegangan,
opto-coupler, dan dummy load (resistor) yang terhubung seri. Penyearah dioda satu fasa tak terkendali yang diusulkan
ditunjukkan pada gambar 2, yang merupakan konversi daya ac (dari generator) untuk daya dc. Penyearah dengan
parallel-resonant dengan topologi ini mampu meningkatkan faktor daya masukan dan power density bila dibandingkan
dengan penyerah dioda konvensional [9]. MOSFET digunakan sebagai saklar chopper. Ketika gerbang pulsa MOSFET
tinggi, arus mengalir ke dummy load dan daya dikonsumsi. Sebuah pengendali logika fuzzy digunakan pada ELC,
pengendali mengatur lebar pulsa atau duty cycle dari chopper ditentukan oleh perbedaan daya yang dibangkitkan ke
beban konsumen. Mikrokontroler ATMega32 digunakan untuk membangkitkan lebar pulsa yang cocok sesuai dengan
kebutuhan beban konsumen. Karena kecepatan dan frekuensinya konstan, maka daya keluaran tetap konstan ketika
tegangan dipertahankan pada nilai nominalnya.

Gambar 1 . Diagramskematik generator induksi satu fasa eksitasi sendiri

Gambar 2. Skema pengendali beban elektronik

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-128
III. Implementasi

Untuk mengimplementasikan motor sebagai generator, terminal motor dipasang kapasitor secara paralel yang berfungsi
sebagai eksitasi. Kapasitansi eksitasi harus memberikan tegangan yang dibutuhkan pada kondisi berbeban pada kece-
patan operasi untuk mengoperasikan mesin induksi sebagai SEIG, sehingga menghasilkan nilai tegangan terminal pada
beban penuh. Daya keluaran SEIG dijaga konstan walaupun beban konsumen yang berubah-ubah. Untuk menjaga daya
keluaran SEIG konstan, dummy load terhubung secara paralel dengan beban konsumen sehingga daya total yang diha-
silkan tetap konstan, yaitu:
P
keluaran
=P
dummy
+P
konsumen

dimana P
keluaran
adalah daya yang dibangkitkan oleh generator (yang harus dijaga konstan.

Gambar 3. Ilustrasi pengendalian beban generator induksi
Tegangan AC dari terminal SEIG disearahkan dengan penyearah tak terkendali parallel-resonant filters. Dummy load
dirancang sehingga ketika duty cycle dari saklar adalah unity, daya operasi 0,25 kW dialihkan ke dummy load. Tega-
ngan terminal untuk umpan balik di sensing dengan sensor tegangan dengan nilai tegangan DC proporsional dengan
tegangan keluaran SEIG. Tegangan DC analog diberikan ke port masukan ADC dari mikrokontroler ATMega32. Tega-
ngan yang terukur dibandingkan dengan tegangan referensi, yang nilainya sebanding dengan tegangan terminal SEIG
dan dapat diubah bila diperlukan. Mikrokontroler ini diprogramsedemikian rupa sehingga tegangan umpan balik diban-
dingkan dengan nilai refrensi sebesar 220 V untuk setiap 50 milidetik, dan menghasilkan sinyal error. Sinyal PWM
diumpankan ke optocoupler, yang berfungsi sebagai isolasi dari rangkaian daya dan rangkaian kendali. Aspek
perancangan dari ELC satu fasa dijelaskan dalambagian berikut ini:

A. Kapasitansi Minimum

Supaya generator induksi bisa membangkitkan tegangan maka diperlukan kapasitor. Nilai kapasitor yang dipasang ha-
rus lebih besar dari nilai kapasitor minimumyang diperlukan untuk proses eksitasi [5]. Nilai kapasitor yang diperlukan
adalah:

dimana:
C
min
=nilai kapasitor eksitasi (μf); ω =2.π.f; a =perbandingan frekuensi keluaran dengan frekuensi dasar (p.u);
b=N
s
/N
r
yang disesuaikan dengan frekuensi dasar (p.u); X
1
=nilai reaktansi stator (Ω); Xm= nilai reaktansi magnetisasi
(Ω). Nilai X
1
dan X
m
diperoleh berdasarkan hasil perhitungan yang didasari oleh percobaan beban nol dan hubung
singkat terhadap motor induksi split phase. Nilai kapasitor yang digunakan pada percobaan ini adalah 50 uF.

B. Rangkaian Penyearah

Penyearah dengan dioda dirancang menggunakan jembatan parallel-resonant filter satu fasa, penyearah yang akan
dirancang memiliki spesifikasi sebagai berikut:
E
i
=220 Vrms P
r
=250 Watt
Hz 50 Frek =

% 5 Ripple=

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-129


Gambar.4 Penyearah dengan topologi parallel-resonant filter

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai-nilai komponen sebagai berikut [9]:
L
r
=0,529 H ; C
r
= 5,84 uF ; C
0
=96,92 uF

C. Spesifikasi MOSFET dan Dummy Load

Nilai tegangan penyearah tak terkendali dan saklar chopper (MOSFET) dihitung berdasarkan nilai rms tegangan
masukan ac (VL) ke jembatan dioda dan nilai rata-rata tegangan dc. Nilai rata-rata keluaran dc dihitung berdasarkan
persamaan berikut:
V 198 220 x 9 , 0 V 9 , 0 V 2
2
V
L L dc
= = =
t
=

Dengan perkiraan tegangan lebih sebesar 10% dari rating tegangan saat transien, tegangan rms adalah
242 V =(220 +22)V dan tegangan puncak dapat dihitung :
V 2 , 342 242 x 2 V
dc
= =

Rating arus dari penyearah satu tak terkontrol dan saklar chopper dihitung sebagai seberikut:
I
ac
=
P
V
L
=
250
220
=1,136 A
I
pcak
=
I
ac
x 2
0,9
=
1,136 x 2
0,9
=2,52 A

Dari hasil perhitungan di atas, tegangan maksimum adalah 342,2 V dan arus maksimum 2,52 A.
Rating resistansi dummy load, Rd dihitung sebagai berikut:
R
D
=
(V
dc
)
2
P
=
(198)
2
250
=156,816 ohm

D. Rangkaian Opto-coupler

Rangkaian opto-coupler yang juga berfungsi sebagai driver gate menggunakan TLP 250, dengan konfigurasi seperti
diperlihatkan pada gambar 5.


Gbr.5 Rangkaian opto-coupler dengan TLP 250




Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-130
E. Pengendali Logika Fuzzy

Sisteminferensi fuzzy yang akan digunakan pada pengendali beban elektronik adalah metoda Mamdani. Pada metode
Mamdani, untuk memperoleh keluaran diperlukan 4(empat) tahapan, yaitu pembentukan himpunan fuzzy (fuzzifikasi),
aplikasi fungsi implikasi , komposisi aturan (rule base), dan penegasan (defuzzifikasi) [10]. Skema ELC yang diusulkan
seperti diperlihatkan pada gambar. 2, ada dua masukan dan satu keluaran dari pengendali fuzzy. Masukan pertama
adalah error antara nilai referensi yang diinginkan nilai keluaran dari generator. Masukan kedua adalah turunan dari
error. Masukan diberikan oleh:
e(k) =r(k) – y(k)
∆e(k) = e(k) – e(k-1)

Pembentukan himpunan fuzzy dilakukan berdasarkan pada pengujian awal pada generator induksi tanpa kendali dengan
nilai kapasitor 50 uF dengan putaran konstan sebesar ± 1550 rpm. Dari hasil pengujian ini diperoleh rentang tegangan
yang dibangkitkan antara 144 Volt s.d 240 Volt.
Fungsi keanggotaan masukan untuk error dan delta error ke pengendali fuzzy, posisi semesta pembicaraan dibagi
menjadi tujuh domain yaitu negatif besar (NB), negatif sedang (NS), negatif kecil (NK), zero (ZE), positif kecil (PK),
positif sedang (PS), dan positif besar (PB).
Fungsi keanggotaan keluaran diproses oleh algoritma logika fuzzy menghasilkan PWM singleton yang digunakan untuk
mengendalikan daya ke dummy load. Fungsi himpunan keluaran merupakan nilai PWM yang merupakan hasil proses
defuzzifikasi yang berupa nilai desimal antara 0 – 255, himpunan fuzzy keluaran terdiri dari SK (Sangat kecil), KC
(Kecil), AK (Agak kecil), SD (Sedang), AB (Agak besar), BS (Besar), dan SB (sangat besar). Perancangan fungsi
keanggotan masukan dan keluaran memanfaatkan perangkat lunak Fudge.



Gambar.6 Fungsi keanggotaan error dan delta error


Gambar.7 Fungsi keanggotaan keluaran

Masukan dan keluaran fuzzy dihubungkan berdasarkan aturan-aturan yang disebut if-then rules. Aturan-aturan ini dipe-
takan ke dalamsuatu tabel FAM (Fuzzy Associative Memories) seperti terlihat pada tabel 1.

Tabel 1. Fuzzy Associative Memories (FAM


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-131
Gambar 8, memperlihatkan hubungan perubahan nilai error yang terjadi dengan nilai PWM berdasarkan tabel FAM.

Gambar 8. Grafik Control Surface berdasarkan FAM
F. Perancangan Program Logika Fuzzy

Perangkat lunak yang digunakan untuk program mikrokontroler ATMega32 adalah CodeVisionAVR yang
menggunakan bahasa C. Program ini telah dirancang berdasarkan diagram alir seperti yang ditunjukkan
pada gambar 9.



Gambar. 9 Diagramalir dari programlogika fuzzy
IV. Hasil Pengujian

Pengujian telah dilakukan pada generator induksi split phase eksitasi sendiri yang digunakan untuk mensuplai beban sa-
tu fasa dengan menggunakan ELC yang berbasis mikrokontroler ATMega32, pengujian dilakukan di laboratorium de-
ngan berbagai kondisi beban. Mesin induksi satu fasa rotor sangkar 0,25 kW, 220 V, 4 kutub, 50 Hz, 1460 rpm digu-
nakan sebagai generator induksi penguatan sendiri. Generator diputar oleh Mesin DC 220 V, 1,5 kW, 1500 rpmyang
berfungsi sebagai penggerak utama. Untuk menghasilkan daya sebesar 0,250 kW pada tegangan 220 V saat kecepatan
1500 rpm, kapasitor 50 μF/400 V dihubungkan secara paralel pada generator tersebut.
Pengendali dirancang untuk menjaga agar tegangan keluaran generator konstan. Dummy load ditetapkan sebesar 0,25
kW untuk menyerap seluruh beban yang seharusnya di salurkan ke beban konsumen ketika duty cycle chopper 100 %,
saat beban konsumen adalah nol.
Pengujian pertama adalah respon transien pembangkitan tegangan generator, hasilnya ditunjukkan pada Gambar 10, ge-
nerator diputar oleh penggerak mula dengan kecepatan konstan 1500 rpm.

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012

Gambar 10. Respon transien pembangkitan tegangan generator

Pengujian kedua adalah pengujian generator tanpa alat pengendali dengan beban lampu pijar dengan tegangan awal 240
volt saat tanpa beban, tegangan menjadi 188 Volt saat beban 249,0 Watt seperti diperlihatkan pada Tabel 2. Frekuensi
menurun dari 50 Hz menjadi 47,8 Hz.

Tabel 2. Pembebanan generator tanpa alat pengendali


Pengujian ketiga adalah pengujian generator dengan pengendali beban elektronik (ELC) dengan hasil seperti diperlihat-
kan pada Tabel 3, tujuannya adalah untuk menguji kinerja induksi yang dikendalikan menggunakan metoda logika
fuzzy berbasis mikrokontroler ATMega 32. Pengujian dilakukan dengan menambahan beban secara bertahap. Tegangan
set point untuk pengujian ini adalah 230 Volt, atau 4,5% dari tegangan refrensi yang direncanakan sebesar 220 Volt.

Tabel 3. Pembebanan generator dengan alat pengendali


Dari tabel terlihat bahwa frekuensi generator konstan sebesar 50 Hz, sedangkan tegangan masih mengalami penurunan
dari 230 Volt saat beban 0 Watt, menjadi 194 Volt pada saat beban 255 Watt. Jika tingkat kesalahan perubahan
tegangan yang diharapkan sebesar ±5% ( 11 Volt) dari tegangan refrensi sebesar 220 Volt, maka generator hanya bisa
dibebani s.d 173 Watt.
Gambar 11, memperlihatkan contoh respon transien lup tertutup saat generator dibebani 24 Watt, settling time adalah
2,5 detik dengan nilai tegangan 228,3 Volt.

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-133

Gambar 11. Respon transien lup tertutup dengan beban 24 Watt
V. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian, pengendali beban elektronik untuk generator induksi split phase eksitasi
sendiri menggunakan logika fuzzy berbasis mikrokontroler telah diperoleh kesimpulan. Ketika pengujian generator
dilakukan tanpa pengendali, tegangan generator mengalami penurunan yang cukup besar dan frekuensi mencapai 47,8
Hz saat diberi beban 70% dari daya nominal. Dengan menggunakan ELC, generator dapat mensuplai beban resistif satu
fasa sampai 255 Watt dengan tegangan 194 Volt dan frekuensi 50 Hz. Untuk daerah pengaturan tegangan ±5% dari
tegangan refrensi 220 Volt, generator mampu dibebani sampai 173 Watt atau 70% dari rating daya sebagai motor
dengan frekuensi konstan sebesar 50 Hz. Rata-rata settling time yang dibutuhkan generator untuk setiap perubahan
beban adalah 2,5 detik dan tidak mengalami overshoot dalam responnya.

Ucapan Terimakasih
Terimakasih kami sampaikan kepada Bpk Sarjono W.J dan Bpk Heru Kiswanto yang telah memberikan masukan saat
perancangan alat dan membantu dalam melakukan pengujian di Laboratorium Pengendalian Daya dan Mesin
Listrik(Lab PDML) -Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Bandung (Polban).
Daftar Pustaka
[1] Sofian Yahya dan Iyas Munawar,2011, Design of Electronic Load Controller for a Self excited Induction
Generator Using Fuzzy Logic Method Based Microcontroller, International Conference on Electrical Engineering
and Informatics Proceedings, ITB Bandung, 2011.
[2] Sarsing Gao, S. S. Murthy, G. Bhuvaneswari, and M. Sree Lalitha Gayathri, “Design of a Microcontroller Based
Electronic Load Controller for a Self Excited Induction Generator Supplying Single-Phase Loads,” Journal of
Power Electronics, Vol. 10, No. 4,pp.444-449, 2010.
Ahshan, R and M.T. Iqbal, “Voltage Controller of a Single Phase Self-Excited Induction Generator”, The Open
Renewable Energy J ournal, 2, 84-90,2009
[3] Palwalia, D.K.; Singh, S.P.; , “Design and implementation of induction generator controller for single phase self
excited induction generator,” Industrial Electronics and Applications, 2008. ICIEA 2008. 3rd IEEE Conference
on , vol., no., pp.400-404, 3-5 June 2008.
[4] Simoes,M.Godoy dan Farret,Felix.A.,”Alternative Energy System : Design and Analysis with Induction
Generator,”, 2nd ed, CRC Press,2008
[5] Sofian Yahya & Toto Tohir ,”Motor Induksi Split Phase Sebagai Generator Induksi Satu Fasa”, Seminar Nasional
Teknoin 2008, UII Yogyakarta, 2008
[6] BhimSingh, S.S. Murthy & Sushma Gupta ,”An Electronic Voltage and Frequency Controller for Single-Phase
Self-Excited Induction Generators for Pico Hydro Applications”,IEEE PEDS, pp 240-245,2005
[7] Bhim Singh, S.S. Murthy & Sushma Gupta, "Transient Analysis of Self-Excited Induction Generator with
Electronic Load Controller (ELC) Supplying Static and Dynamic Loads", IEEE Transactions on Industry
Applications , pp .1194-1204,Sept-Oct. 2005.
[8] Chandra, T.S., Bishnu, P.M., Voltage Regulators for Self Excited Induction Generator, IEEE Transactions on
Energy Conversion, Vol.20, no. 4, , pp 460÷463,April 2004.
[9] A.R. Prasad, P.D. Ziogas and S.N. Manias, “A Novel Passive Wave shaping method for single phase Diode
Rectifiers”, IEEE Transactions on Industrial Electronics, Vol. IE-37, No.6, pp. 521-530,Dec. 1990.
[10] L. Zadeh, “Outline of a new approach to the analysis of complex systems and decision processes,” IEEE Trans.
Syst., Man Cybem., vol. 28, pp.28-44, 1978.


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-134
Penanganan Noise Pada Perancangan Prototipe Alat Penangkap Sinyal Mioelektrik
Menggunakan “Surface Electrode” tanpa “External Electric Stimulator”

Susy Susmartini
1)
, Azizah Aisyati
2)
, Ilham Priadythama
3)


Lab. Perencanaan & Perancangan Produk (P3), Jurusan Teknik Industri – UNS
1,3)
Pusat Kajian & Pengembangan Teknologi & Kolaborasi Industri (PKPTKI) LPPM-UNS
2)

Telepon (0271) 632110
E-mail : susysus2011@gmail.com
1)

Abstrak
Alat penangkap sinyal mioelektrik dirancang untuk menangkap sinyal mioelektrik pada proses
kontraksi otot, yang besarnya berkisar antara 30-40 mVolt. Elektroda penangkap yang
dikembangkan oleh Susmartini (2011) menggunakan surface electrode tanpa external electric
stimulator, dengan pembesaran/amplifikasi sebesar 150 kali, masih rentan terhadap noise yang
berasal dari jaringan listrik dan peralatan-peralatan elektronik di lingkungan sekitar. Ketidak
mampuan mengatasi noise secara optimal akan mengakibatkan kekacauan hasil penangkapan,
karena amplifikasi yang dilakukan di dalam sistem tidak hanya terhadap sinyal mioelektrik
yang berhasil ditangkap, tetapi juga terhadap noise dari lingkungan sekitar yang tidak/belum
teredam tersebut. Sampai sejauh ini, alat penangkap sinyal mioelektrik tersebut pada ruangan
khusus telah berhasil mendeteksi sinyal mioelektrik dari partisipan normal maupun partisipan
dengan tangan teramputasi di bawah siku. Keberhasilan tersebut terdeteksi melalui putaran
motor DC yang memerlukan daya untuk berputar sebesar 5 Volt. Namun ketika pengamatan
dilakukan di dalam ruang yang tidak dipersiapkan secara khusus, kinerja alat tidak dapat
optimal, putaran motor DC tetap terjadi, meskipun tidak dilakukan kontraksi otot (tidak ada
sinyal mioelektrik yang signifikan).Alat penangkap sinyal mioelektrik ini dirancang untuk dapat
diaplikasikan dalam beberapa macam produk alat bantu bagi penderita yang memerlukan,
seperti alat bantu fisioterapi, myoelectric artificial hand dan myoelectric wheelchair bagi
penderita kelumpuhan tubuh. Oleh karena itu, kemampuan sistem alat penangkap sinyal
mioelektrik secara optimal dalam mengatasi noise, menjadi suatu kebutuhan mutlak.
Eksperimen dilakukan terhadap 20 responden orang sehat/normal dan 2 orang penderita
tangan teramputasi di bawah siku. Surface electrode ditempatkan di atas permukaan kulit,
tepat di atas flexi carpi radialis muscle (otot penggerak jari tangan ke arah
fleksi/menggenggam). Pada awalnya, hanya dengan menggunakan ruangan khusus, alat
penangkap sinyal mioelektrik dapat berfungsi dengan baik, dan tidak dapat berfungsi dengan
baik ketika ruang pengamatan tidak dipersiapkan secara khusus. Dari beberapa kali
eksperimen, akhirnya ditemukan suatu metoda yang dapat meredam noise dari lingkungan
sekitar, sehingga sistem alat penangkap sinyal mioelektrik dapat berfungsi dengan baik sesuai
harapan. Indikator keberhasilan ini adalah motor DC akan berputar hanya ketika dilakukan
kontraksi otot, dan tidak akan berputar (berhenti tidak bergerak) ketika tidak dilakukan
kontraksi otot. Dengan bantuan program AUDACITY, tergambar puncak grafik sinyal
mioelektrik yang tertangkap berkisar antara 12.53 mVolt sampai dengan 37.53 mVolt. Metoda
tersebut adalah penambahan aluminium foil pada sistem penangkap sinyal mioelektrik.

Kata kunci : sinyal mioelektrik, alat penangkap sinyal mioelektrik, noise, aluminium foil,
surface electrode, flexi carpi radialis muscle

Pendahuluan
Sinyal mioelektrik adalah sinyal listrik yang muncul ketika terjadi proses kontraksi otot manusia. Sinyal listrik sangat
berperan dalam setiap gerak tubuh. Sinyal mioelektrik yang tidak cukup, akan dapat mempengaruhi kualitas gerak yang
diharapkan. Sebagai contoh kualitas kuat genggam.
Ketidakmampuan/kelemahan anggota tubuh untuk bergerak sesuai keinginan, dapat terjadi akibat menderita suatu
penyakit, seperti lumpuh dan pada masa pemulihan setelah sembuh dari sakit. Kelemahan gerak pada anggota tubuh,
dapat dipulihkan melalui serangkaian latihan fisioterapi. Dalamdunia kedokteran, indikator kekuatan otot dapat
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-135
diketahui antara lain melalui pengukuran kekuatan/kondisi otot, yang diukur dengan suatu alat yang dikenal sebagai
mesin EMG. Peralatan tersebut menggunakan dua macam elektrode sebagai alat penangkap sinyal mioelektrik, yaitu
needle electrode dan surface electrode.
Needle electrode adalah sejenis elektrode yang berbentuk jarum. Dalam penggunaannya, elektrode ini ditusukkan ke
dalamanggota tubuh, untuk mendapatkan informasi kekuatan otot pada anggota tubuh tersebut. Sedangkan surface
electrode pada peralatan EMG ini, dilekatkan di atas permukaan kulit di atas otot yang akan diukur. Namun untuk
mendapatkan sinyal mioelektrik dengan menggunakan jenis elektrode ini, diperlukan kejutan terlebih dahulu dengan
menggunakan external electric stimulator.
Fisioterapi yang dilakukan, biasanya merupakan serangkaian latihan yang sangat melelahkan dan menjemukan bagi
penderita lemah otot. Sehingga latihan fisioterapi harus dilakukan dalam kondisi yang nyaman, tidak menyakitkan dan
tidak membosankan. Dengan demikian diperlukan suatu alat bantu fisioterapi yang dapat merepresentasikan kekuatan
otot melalui kekuatan sinyal mioelektrik penderita, yang nyaman dan tidak menyakiti, sekaligus dapat memberikan
semangat kepada penderita untuk selalu mendapatkan hasil latihan yang terus meningkat.
Sinyal mioelektrik yang terbanyak, terdapat pada muscle belly, yaitu bagian tengah otot. Letak otot/muscle tidak
langsung di bawah permukaan kulit, karena di antaranya masih terdapat lapisan-lapisan yang lain. Selain itu, kekuatan
sinyal mioelektrik di dalamotot, tepatnya pada bagian yang disebut sebagai post-synapsis, hanya berkisar antara 30 –
40 mVolt (Subowo, 1993; dan Hobbie, 1978).
Suatu alat penangkap sinyal dapat menangkap sinyal mioelektrik dengan baik, ketika alat penangkap tersebut cukup
sensitive untuk menangkap sinyal mioelektrik di muscle belly, serta dapat mengatasi noise yang cukup besar, yang
berasal dari gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh jaringan listrik di dalambangunan dan peralatan-
peralatan elektrik, seperti lampu, televisi, radio, hand phone, kabel listrik dan sebagainya.
Sementara itu, sinyal mioelektrik yang telah dapat ditangkap, harus diperbesar agar dapat mengoperasikan suatu alat
indikator kekuatan otot, serta dapat diaplikasikan sebagai sumberdaya pada beberapa jenis produk mioelektrik, seperti
alat bantu fisioterapi, myoelectric artificial hand, myoelectric wheelchair dan lain-lain. Ketika alat penangkap sinyal
mioelektrik ini belumdapat mengatasi noise dari lingkungan sekitar, maka noise yang jauh lebih besar daripada sinyal
mioelektrik akan ikut diperbesar.
Oleh karena itu, agar sistem alat penangkap sinyal mioelektrik dapat berfungsi dengan baik maka sistem tersebut mutlak
harus dapat mengatasi noise yang berasal dari gelombang elektromagnetik di lingkungan sekitar.
Hasil penelitian sebelumnya (Susmartini, 2011) menunjukkan bahwa sistemalat penangkap sinyal mioelektrik yang
berhasil dibangun, telah mampu menangkap sinyal mioelektrik dengan menggunakan surface electrode tanpa external
electric stimulator, serta dapat menggerakkan motor DC 5 Volt. Sistemalat penangkap sinyal tersebut dapat bekerja
baik pada ruang pengamatan yang telah dikondisikan. Namun alat tersebut masih rentan terhadap noise yang berasal
dari jaringan listrik dan peralatan-peralatan elektronik di lingkungan sekitar, sehingga mengakibatkan kekacauan hasil
penangkapan.
Oleh karena itu, sebelumdiaplikasikan pada produk-produk alat bantu yang dibutuhkan oleh penderita, sistemalat
penangkap sinyal mioelektrik tersebut harus dikembangkan terlebih dahulu secara optimal agar dapat mengatasi noise.
Sehingga hasilnya menjadi lebih optimal, sesuai dengan kebutuhan, meskipun di ruang yang tidak dikondisikan terlebih
dahulu (ruang yang tidak bebas gelombang elektromagnetik).
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan sistem alat penangkap sinyal mioelektrik agar dapat
mengatasi noise berupa gelombang elektromagnetik yang berasal dari jaringan listrik gedung maupun peralatan
elektronik lainnya.

Metodologi Penelitian
Pengembangan dilakukan terhadap alat penangkap sinyal mioelektrik serta metoda penempatan elektrode penangkap
sinyal di permukaan kulit. Sementara itu, ruang pengamatan yang digunakan selama penelitian adalah ruang yang tidak
dikondisikan bebas gelombang elektromagnetik.
Rangkaian di dalam sistempenangkap sinyal dirangkai ulang, termasuk dilakukan penambahan operational amplifier
untuk menguatkan hasil sinyal output. Pada metoda penempatan elektroda penangkap sinyal, dicobakan beberapa
material pendukung yang diyakini dapat meredamnoise.

Pengamatan hasil melibatkan responden dengan tangan sehat serta responden dengan tangan teramputasi. Lokasi
penangkapan sinyal mioelektrik dilakukan pada permukaan kulit di atas flexi carpi radialis muscle. Sinyal mioelektrik
diambil dari proses kontraksi otot tersebut, dengan cara menggenggamkan jari-jari tangan (gerakan fleksi).

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
Hasil dan Perancangan

Hasil Penelitian
Ketika telah dilakukan penambahan komponen amplifikasi sinyal, serta perangkaian ulang sistempenangkap sinyal,
kemudian diujicobakan kembali pada responden. Hasil penangkapan sinyal menunjukkan hasil yang lebih baik, namun
masih belumdapat mengatasi noise secara optimal.

Setelah beberapa material pendukung dicobakan untuk meredamnoise, maka aluminiumfoil dipilih sebagai material
pendukung yang akan digunakan selanjutnya pada sistem penangkap sinyal mioelektrik. Aluminium foil tersebut
digunakan untuk membungkus area penempatan elektroda penangkap sinyal, termasuk area penempatan neutral probe
berupa kawat yang dililitkan di atas siku responden, seperti terlihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Penempatan Elektroda Penangkap Sinyal Mioelektrik
Tanpa dan Dengan AluminiumFoil

Dengan menggunakan program AUDACITY, sinyal mioelektrik yang tertangkap oleh sistempenangkap sinyal, dapat
digambarkan pada Gambar 2.


0 15 30 0 15 30
detik detik
(b)
Gambar 2. Sinyal Mioelektrik yang Tertangkap Sebelum(a) dan Setelah (b)
Penyempurnaan Alat Penangkap Sinyal

Dari pengamatan yang dilakukan terhadap responden setelah dilakukan penyempurnaan sistem penangkap sinyal
mioelektrik (amplifikasi 150 kali) dan penggunaan aluminiumfoil, diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Puncak grafik sinyal mioelektrik yang tertangkap berkisar antara 12.53 mVolt sampai dengan 37.53 mVolt.
2. Motor DC akan berputar hanya ketika dilakukan kontraksi otot, dan tidak akan berputar (berhenti tidak
bergerak) ketika tidak dilakukan kontraksi otot (pada posisi relaks), meskipun dilakukan di ruang yang tidak
dipersiapkan secara khusus.

Pembahasan
Ketika aluminiumfoil tersebut hanya dililitkan sedemikian rupa pada sekitar tempat elektroda ditempatkan, sehingga
masih ada ruang pada permukaan kulit lengan yang terbuka antara satu elektroda dengan elektroda yang lain, maka
pengaruh elektromagnetik pada alat penangkap sinyal mioelektrik tersebut masih terasa. Tetapi ketika sepanjang lengan
(permukaan kulit lengan) di atas neutral probe sampai dengan di atas kedua elektroda terlindungi tanpa putus oleh
lapisan yang dipilih, yaitu aluminium foil, maka pengaruh elekromagnetik dari lingkungan sekitar terhadap alat
penangkap sinyal mioelektrik ini dapat diminimalkan, serta motor aktuator berputar sesuai dengan harapan. Kenyataan
ini menggambarkan dua hal yang menarik, yaitu bahwa aluminium foil ternyata dapat dijadikan sebagai salah satu
alternative bahan/material yang dapat digunakan untuk mengisolasi tubuh (anggota tubuh) dari radiasi elektromagnetik.
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-137
Keuntungan dari jenis material ini adalah cukup mudah diperoleh, ringan, kuat dan lentur (cukup mudah untuk
“membungkus” anggota tubuh), tahan karat dan relative murah.

Hal yang kedua adalah bahwa kulit manusia merupakan konduktor yang baik untuk gelombang elektromagnetik.
Kenyataan lain dalam penelitian ini yang mendukung pendapat tersebut adalah, bahwa ketika sepanjang lengan
(permukaan kulit lengan) antara penempatan satu elektroda dengan elektroda lain juga dilindungi oleh aluminiumfoil,
maka pengaruh radiasi elekromagnetik dari lingkungan sekitar terhadap alat penangkap dan pengolah sinyal mioelektrik
ini dapat diminimalkan, dan motor aktuator berputar sesuai dengan harapan. Sementara sebelumnya, ketika terdapat
ruang terbuka (yang tidak dililiti aluminiumfoil) antara satu elektroda dengan elektroda lainnya, Meskipun setiap lokasi
penempatan elektroda telah dililiti oleh aluminium foil, motor aktuator tetap berputar Meskipun otot tidak sedang
berkontraksi. Temuan lain dalam penelitian ini adalah bahwa radiasi elektromagnetik yang secara nyata sangat
mengganggu proses penangkapan sinyal mioelektrik, tidak sama besar kekuatannya dari satu lokasi/ruang dengan
lokasi/ruang lainnya. Di dalam ruang yang tidak banyak terdapat peralatan/kabel listrik, lampu TL/neon maupun alat-
alat/Mesin yang bersumber daya listrik, penangkapan SME dengan alat pengolah sinyal mioelektrik hasil rancang-
bangun ini relative mudah dilakukan (motor aktuator berputar sesuai harapan).

Kesimpulan
Noise yang berasal dari gelombang elektromagnetik yang terpancar dari jaringan listrik gedung dan peralatan elektronik
lain, dapat diatasi dengan :
Perangkaian ulang sistempenangkap sinyal mioelektrik, yaitu antara lain dengan penambahan operational amplifier.
Pelapisan dengan menggunakan aluminium foil di area penangkapan sinyal mioelektrik, yaitu di atas neutral probe
sampai dengan area di atas dua elektrode penangkap sinyal (surface electrodes)

Ucapan Terima Kasih
1. LPPM UNS dengan dana DIPA BLU UNS memberikan skimHibah Fundamental lewat Pusat Studi PKPTKI
LPPM UNS.
2. Pusat Studi PKPTKI yang telah mendukung terlaksananya kegiatan penelitian ini.
3. LaboratoriumP3 Jurusan Teknik Industri UNS yang telah memfasilitasi kegiatan penelitian ini.

Daftar Pustaka
[1] A.B.M. Tulaar, the Role of Doctor Physical and Rehabilitation for Developing Society in Health, Productive, and
Quality. the supplement of professor oration, University of Indonesia, Indonesia, 2010.
[2] N. M. L. Celani, C. M. Soria, E. C. Orosco, F.A. Sciascio, and M.E. Valentinuzzi, “Two-Dimentional
Myopelectric Control of a Robotic Armfor Upper Limb Amputees,” in Proc. 16th Argentine Bioengineering
Congress and the 5th Conference of Clinical Engineering, Argentine, 2007.
[3] C. J. De Luca, “The Use of Surface Electromyography in Biomechanics”, Journal of Applied Biomechanics, vol.
13, no.1, pp. 135-164, Jan. 1997.
[4] P. Kampas, The Optimal Use of Myo-Electrodes, http://kampas@ottobock.at (Accessed on 03 Aug. 2010), 2010.
[5] T. Kishi and W. Yu, “Finger Motion Recognition by Skin Surface Vibration Patterns,” International Journal of
Bioelectromagnetism, vol. 9, no. 2, 2007.
[6] T. Swaby, “Myoelectric Prosthesis”, in Proc. Ele 282 Biomedical Engineering Seminar I, February 2002.
[7] R. S. Hobbie, Intermediate Phisics for Medicine and Biology, New York: John Wiley & Sons, Inc, 1978.
[8] H. Yahya H., The Miracle of Electricity in the Body, http://www.microsoft.com/isapi/redir (Accessed on 03 Aug.
2010), 1978.
[9] R. F. Coughlin and F. F. Driscoll, Operational Amplifier and Linear Integrated Circuits, Jakarta: Erlangga Press,
edisi kedua, Penerbit, Jakarta (In Bahasa Indonesia translated by H. W. Soemitro), 1992.

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-138




Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-139
Perancangan dan Pembuatan Sistem Pendeteksi Suhu Menggunakan Arduino dan Visual
Basic

Yudhi Gunardi
ProgramStudi Teknik Elektro Universitas Mercu Buana
J l. Meruya Selatan Kembangan J akarta Barat
yudhiyg@gmail.com

Abstrak
Sistem Pengkondisian Udara /Air Conditioner (AC) merupakan hal yang sangat penting disaat ini.
Keberadaannya saat ini banyak digunakan di kantor, di sekolah dan dirumah. Penggunaan Air
Conditioner yang sering dan kontinyu harus dilakukan perawatan yang rutin untuk monitoring
terhadap sistem pengkondisian udara agar kenyamanan ruangan didapat semaksimal mungkin.Pada
penelitian ini dibuat perancangan dan pembuatan sistem pendeteksi suhu dimana input sensor suhu
mengunakan LM 35 yang diproses menggunakan processor Arduino dan di displaykan menggunakan
komputer menggunakan program visual basic. Hasil akhir dari penelitian ini adalah mendeteksi
keadaan indoor AC, Apakah AC dalam keadaan ON/OFF dan perubahan suhu pada evaporator oleh
LM35 dan disimulasikan dengan tampilan pada komputer dengan program visual Basic 6.0 disertai
dengan tanda kondisi AC berupa perubahan warna pada frame kondisi AC. Pada frame kondisi AC
telah disetting batas referensi suhu yang dikeluarkan Indoor dengan ketentuan Suhu <19° AC dalam
kondisi Dingin indikator berwarna kuning, <23°AC dalam kondisi Kurang dingin indikator berwarna
biru dan Suhu >23°AC dalam kondisi Tidak dingin indikator berwarna merah. Dengan adanya alat
pendeteksi perubahan suhu dan pendeteksi kerusakan pada Sistem pengkondisian udara diharapkan
terciptanya kenyamanan di ruangan dan segera di selesaikan semua masalah pada Sistem
Pengkondisian Udara

Kata kunci : Air Conditioner, Arduino, LM35, visual basic 6.0, arduino, suhu


1. Pendahuluan
Sistem Pengkondisian udara atau yang lebih dikenal dengan Sistem pendingin adalah suatu perangkat yang digunakan
untuk proses pendingin,dengan cara menyerap dan memindahkan sejumlah panas. Pengkondisian udara selain
membutuhkan perawatan rutin juga perlu adanya pengawasan langsung, karena kenyamanan ruangan akan sangat
mempengaruhi pengguna pada ruangan tersebut. Pengawasan mulai dilakukan pada saat sistempengkondisian udara
diaktifkan sehingga segala bentuk kerusakan dapat dengan cepat diselesaikan.

2. Komponen sistem pendingin ruangan
Mekanik sistem pendingin terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing dihubungkan dengan menggunakan
pipa-pipa tembaga atau selang pada akhirnya merupakan sebuah system yang bekerja secara serempak ( simultan ).
Komponen-komponen sistempendingin yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Kompresor
b. Kondensor
c. Flow Control
d. Evaporator
e. Refrigerant
f. Fan Motor

2.1 Arduino
Arduino adalah kit elektronik atau papan rangkaian elektronik open source yang di dalamnya terdapat
komponen utama yaitu sebuah chip mikrokontroler dengan jenis AVR dari perusahaan Atmel. Mikrokontroler itu
sendiri adalah chip atau IC (integrated circuit) yang bisa diprogram menggunakan computer. Tujuan menanamkan
programpada mikrokontroler adalah agar rangkaian elektronik dapat membaca input, memproses input tersebut dan
kemudian menghasilkan output sesuai yang diinginkan. Jadi mikrokontroler bertugas sebagai otak yang mengendalikan
proses input, dan output sebuah rangkaian elektronik.

2.2 Sensor LM35
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-140
Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran
listrik dalambentuk tegangan.

2.3 Photodioda
Photodioda adalah dioda yang bekerja berdasarkan intensitas cahaya, jika photodioda terkena cahaya maka
photodioda bekerja seperti dioda pada umumnya, tetapi jika tidak mendapat cahaya maka photodioda akan berperan
seperti resistor dengan nilai tahanan yang besar sehingga arus listrik tidak dapat mengalir.

2.4 Komparator (IC LM339)
IC LM339 biasa disebut sebagai komparator gunanya adalah untuk meng-compare (membandingkan). Dengan
kata lain, sesuatu yang berbentuk analog harus dikonversi dulu ke dalambentuk digital (deretan biner) pada dunia
elektronika. Hal ini bertujuan untuk mempermudah processing

2.5 Visual Basic 6.0

Visual Basicn6.0 adalah salah suatu developement tools untuk membangun aplikasi dalam lingkungan Windows. Dalam
pengembangan aplikasi, Visual Basic menggunakan pendekatan Visual untuk merancang user interface dalambentuk
form, sedangkan untuk pemrogramannya menggunakan dialek bahasa Basic yang cenderung mudah dipelajari.

3. Perancangan

Gambar 3.1 Diagramblok rangkaian

Keterangan Gambar 3.1 :
1. AC : Objek
2. Sensor cahaya: Mendeteksi ON/OFF AC
3. Sensor suhu: Mengukur suhu yang dikeluarkan AC
4. Arduino : Sebagai pengolah data dari sensor
5. USB: Sebagai pengirimdata Arduino dengan PC
6. PC : Sebagai user interface

3.1. Perancangan komparator dengan sensor Photodioda
Sinyal keluaran dari photo dioda dihubungkan dengan komparator LM 33 . Tegangan masukan kemudian di
komparasi. Tegangan masuk =>3V

Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-141
Gambar 3.2 Rangkaian Komparator dengan Photodioda

3.2 Perancangan Pin Arduino
Pin-pin yang digunakan pada pin Arduino Deumilanove
- Pin Analog A0 : digunakan sebagai pin input dari sensor LM35 Evaporator.
- Pin GND : untuk grounding.
- Pin 5V : digunakan untuk Vcc LM35.
- Pin digital 2 : digunakan untuk pin input dari photodioda.

3.3 Perancangan perangkat lunak Visual Basic
Visual Basic mempunyai program dengan aplikasi grafichal user interface (GUI) yang dapat menjadikan pemakai
komputer dapat berkomunikasi langsung dengan komputer tersebut menggunakan grafik atau gambar. Beberapa objek
yang digunakan :
 Form
 8 Label
 7 Shape
 1 Mscomm
 2 Frame
Klik komponen Label di dalamToolBox kemudian “gambar” object Label1 di dalamFormdengan cara drag-drop.
Lakukan langkah yang sama untuk object Lainnya. Object Mscomm jika tidak ada pada komponen Toolbox, pada
kolom Tolbar pilih
Project=>Components=>controls=>Microsoft CommControl 6. 0.
Frame Kondisi AC akan menentukan apakah AC dalamkondisi dingin atau tidak,
1. Suhu <19° AC dalamkondisi Dingin indikator berwarna kuning
2. Suhu <23°AC dalam kondisi Kurang dingin indikator berwarna biru.
3. Suhu >23°AC dalam kondisi tidak dingin indikator berwarna merah.


Gambar 3.3 Rancangan tampilan GUI

4. Pengujian Alat
Setelah perancangan sistem tahap selanjutnya adalah pengujian, pengujian dilakukan apakah sistemsudah berjalan
sesuai dengan perencanan.

Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-142


Gambar 4.1 Kondisi AC OFF


Gambar 4.2 Kondisi AC Tidak Dingin ditandai dengan warna merah


Gambar 4.3 Kondisi AC Kurang Dingin
ditandai dengan warna biru


Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-143
Gambar 4.4 Kondisi AC Dingin ditandai dengan warna Kuning

5. Kesimpulan
Dari hasil perancangan, pengamatan dan pengujian alat pendeteksi dini kerusakan pada Sistem Pengkondisian
Udara/AC menggunakan LM35, Photodioda, dan Arduino Duemilanove yang ditampilkan dalamProgramVisual Basic
6.0 maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Sensor Lm35 sebagai pendeteksi suhu berfungsi dengan baik ketika ada perubahan suhu
2. Sensor Photodioda sebagai pendeteksi lampu indikator ON/OFF AC berfungsi dengan baik dapat mendeteksi
nyala indukator LED pada AC.
3. Arduino Duemilanove dapat berfungsi dengan baik saat diuji dengan LED pada setiap pin yang digunakan dan
saat menjalankan program.
4. Program Visual Basic 6.0 berfungsi dengan baik, dapat menampilkan suhu yang dikeluarkan AC,
menampilkan kondisi AC dingin dengan warna kuning, kurang dingin dengan warna biru, tidak dingin dengan
warna merah dan indikator ON/OFF AC warna kuning saat AC ON dan warna merah saat AC OFF.
5. Secara keseluruhan dari pengujian-pengujian tersebut, di dapatkan masing-masing modul bekerja dengan baik
dan bekerja sesuai dengan yang dirancang. Tidak dingin, suhu >23°C. Kurang dingin , suhu <23°C. Dingin,
Suhu <19°C

DAFTAR PUSTAKA
[1]. E. Karyanto Dipl, Dkk. 2009. Penuntun praktikumperawatan Air Conditioner (Tata Udara). Jakarta. RESTU
AGUNG.
[2]. Juni Handoko. 2009. Merawat & Memperbaiki AC. Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kawan Pustaka
[3]. LM35 Precision Centigrade Temperatur Sensor National Semiconductor Corporation
[4]. Mike McRoberts.Arduino Staters Kit Manual 2010
[5]. Oxer J onathan, Blemings Hugh, 2009, Practical Arduino, Published by Apress,








Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-144




Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-145
Korektor Faktor Daya Otomatis Sebagai Alat Untuk Mengoptimalkan Pemakaian Energi
Listrik Pada Instalasi Listrik Rumah Tangga

Yuniarto, Priyo Sasmoko
ProgramStudi Diploma III Teknik Elektro UNDIP Semarang,
J alan. Prof. Soedarto, SH, Semarang
Abstrak
Lampu TL, motor listrik, Air Conditioner (AC), dan lain-lain merupakan peralatan listrik
yang banyak digunakan untuk kalangan industri maupun rumah tangga. Dimana semua
peralatan listrik tersebut merupakan beban yang bersifat induktif. Akibat dari pemakaian
beban induktif, menyebabkan turunnya nilai faktor daya listrik yang terpasang pada
pelanggan, yang mengakibatkan pemakaian energi listrik tidak optimal.Untuk mengatasi hal
tersebut, telah dilakukan sebuah penelitian untuk membuat suatu alat yang berfungsi untuk
mengoreksi nilai faktor daya secara otomatis. Untuk memperbaiki nilai faktor daya,
digunakanlah kapasitor yang dipasang secara paralel terhadap beban. Dengan
menggunakan alat hasil dari penelitian ini, maka dapat diperoleh besar kapasitor yang dapat
menyesuaikan dengan faktor daya yang setiap saat berubah.

Kata kunci: faktor daya, kapasitor, beban induktif, integrator


I. Pendahuluan
Pemakaian beban induktif oleh pelanggan listrik untuk rumah tangga memang tidak bisa terhindarkan, karena banyak
peralatan listrik semisal AC, kipas angin, lampu TL, pompa air dan lain-lain merupakan beban induktif. Akibat dari
pemakain beban induktif ini akan membuat turunnya nilai faktor daya, sehingga dapat membuat kapasitas daya listrik
yang terpasang pada pelanggan tidak dapat digunakan secara optimal. Banyak pelanggan listrik melakukan penambahan
daya jika kapasitas daya yang terpasang dirasa kurang mencukupi kebutuhan. Padahal jika kapasitas daya yang
terpasang dapat optimal, opsi penambahan daya tidak perlu dilakukan. Banyak cara yang digunakan untuk
memperbaiki faktor daya, salah satunya adalah dengan menambahkan kapasitor. Di kalangan industri perbaikan faktor
daya dengan menggunakan kapasitor ini telah banyak digunakan. Akan tetapi jarang digunakan pada kalangan rumah
tangga. Pada umumnya faktor daya yang dijual dipasaran untuk keperluan rumah tangga hanya terdiri dari sebuah
kapasitor dan faktor daya yang dihasilkan berubah-ubah, hal ini disebabkan karena beban listrik pada rumah tangga
juga berubah-ubah pula.
Penelitian ini bertujuan untuk mendesign, sebuah alat yang dapat memperbaiki faktor daya secara otomatis
sesuai beban induktif yang berubah-ubah dengan menggunakan integrator untuk menentukan besarnya kompensasi
(kapasitor) yang harus dipasang paralel mengikuti terjadinya perubahan beban induktif.

II. Metode Penelitian
Dalammelakukan penelitian ada beberapa tahapan yang dilakukan yaitu :
1. Studi literatur yang mencakup konsep dan teori yang mendukung rencana penelitian tentang faktor daya yang
dapat bekerja secara otomatis.
2. Membuat desain rancangan alat/prototype korektor faktor daya yang dapat bekerja secara otomatis
berdasarkan blok diagramsebagai berikut.

III. Hasil Perancangan.
Berdasarkan blok diagram pada gambar 1, maka prinsip kerja dari perancangan alat yang akan dibuat adalah
sebagai berikut. Sinyal kondisioner dari jala-jala listrik masuk ke sensor arus dan sensor tegangan. Sinyal kondisioner
ini berupa gelombang sinus. Sinyal keluaran dari sensor tegangan berupa gelombang sinus terpenggal, dengan
amplitudo tetap. Selanjutnya kedua sinyal dari sensor tegangan dan arus diubah menjadi gelombang kotak agar bisa
diterima oleh rangkaian pembanding fasa. Untuk mengubah gelombang sinus menjadi gelombang kotak dibutuhkan
rangkaian zero crossing detector yaitu rangkaian yang mengubah sinyal sinusoida menjadi gelombang kotak.
Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
Rangkaian pembanding fasa mempunyai dua input dan dua output. Masukan dari rangkaian pembanding fasa
berupa gelombang kotak dari sensor arus dan sensor tegangan. Karena beban cenderung induktif atau arus ketinggalan
berarti sinyal dari sensor arus ketinggalan dari sinyal sensor tegangan. Sinyal sensor tegangan akan menset satu dari
rangkaian pembanding fasa dan output akan direset apabila disusul masukan dari sinyal sensor arus.



Gambar 1. Blok diagramrancangan alat Penelitian

Sinyal output rangkaian pembanding fasa akan menuju integrator. Integrator ini membuat beda waktu antara
sinyal dari sensor arus dan sensor tegangan. Semakin lama sinyal dari sensor arus maka tegangan output pembanding
fasa akan tinggi, begitu juga sebaliknya. Dan apabila sefasa maka tegangan output akan konstan.
Tegangan output integrator akan diproses dengan komparator untuk menentukan besar kompensasi yang
diberikan. Apabila tegangan masukan komparator lebih tinggi dari tegangan referensi maka tegangan keluaran akan
bernilai high dan menyalakan driver relay, begitu juga sebaliknya, apabila tegangan input lebih rendah dari tegangan
referensi maka output komparator akan bernilai low. Driver relay ini akan menghubungkan kapasitor pada jala-jala
listrik sehingga faktor daya beban akan terkoreksi karena adanya kapasitor.

Dari blok diagramtesebut di atas, untuk selanjutnya dibuat rangkain listriknya sebagai berikut :


Driver Beban
Kompensasi
(Kapasitor)
Beban
Kompensasi
(Kapasitor)
Komparator
Sensor
Arus
Pembanding
Fasa
Sensor
Tegangan
Zero Crossing
Detector
Zero Crossing
Detector Integrator
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012
ISBN No. 978-979-96964-3-9
D-147
Gambar 2. Gambar Rangkaian Listrik


IV. Hasil Pengukuran
Dari alat dibuat yang telah dibuat kemudian dilakukan uji coba menggunakan beban lampu TL dengan besar
beban yang bervariasi yaitu 1 x 15 W, 2 x 15 W, 3 x 15 W, dan 4 x 15 W. Dari hasil pengukuran didapatkan data-data
sebagai berikut :
Tabel 1. Pengukuran Sinyal Sensor

No Beban Sebelum Dipasang Kapasitor Setelah Dipasang Kapasitor
1 Tanpa beban


2 1 x 15 Watt

3 2 x 15 Watt

4 3 x 15 Watt


5 4 x 15 Watt


Bidang Teknik Elektro
Yogyakarta, 10 November 2012
D-148

Tabel 2. Pengukuran Arus dan Faktor Daya

No Beban
Sebelum Dipasang C Setelah Dipasang C
Arus (A) Cosphi Arus (A) Cosphi
1
1 x 15 Watt
0,22 0,35 0,08 0,95
2 2 x 15 Watt 0,44 0,34 0,15 0,90
3 3 x 15 Watt 0,66 0,35 0,22 0,92
4 4 x 15 Watt 0,88 0,36 0,30 0,91

Hasil pengukuran diatas didapat bahwa arus listrik yang mengalir sebelum dipasang kapasitor lebih besar
daripada arus listrik pada saat dipasang kapasitor. Sedangkan untuk faktor daya terjadi kenaikan nilai faktor daya
yang semula 0,34 – 0,36 menjadi 0,90 – 0,95.

Kesimpulan
1. Sensor fasa tegangan dan fasa arus dapat bekerja dengan baik seperti yang terlihat di tabel 4.1.
2. Alat yang dibuat bisa bekerja dengan baik, yang ditandai dengan cos phi yang cenderung tetap meskipun beban
berubah.
3. Perubahan cos phi cukup significant yang diikuti juga dengan perubahan arus yang cukup significant pada saat
sebelumdiberi kapasitor dan sesudah diberi kapasitor.
Saran
Untuk hasil yang lebih bagus, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan alat yang memakai kapasitor variabel.


Daftar Pustaka
[1]. Bishop, Owen. 2004. Electronics a first Course. (diterjemahkan oleh: IrzamHarmein). Jakarta: Erlangga
[2]. Calyton, George, Steve winder. 2005. Operational Amplifiers. Edisi Kelima. (diterjemahkan oleh: Wiwit
Kastawan). Jakarta: Erlangga.
[3]. Coughlin, Robert F., Frederick F. Driscoll. 1983. Operational Amplifiers and Linear Integrated Circuits. Edisi
Kedua. (diterjemahkan oleh: Herman Widodo Soemitro). Jakarta: Erlangga.
[4]. Fauzan. Pembuatan dan Pengujian Modul Beban Tak Seimbang.
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/51083740.pdf