You are on page 1of 11

SR4203ANTROPOLOGI SENI

ETNOGRAFI DAN KARYA SENI RUPA SUKU ACEH
Oleh :

Soraya Rizka Keumala
(15410051)

Dosen:

Dr. Ira Adriati Winarno,M.Sn

PROGRAM STUDI SENI RUPA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

1.

KERANGKA ETNOGRAFI SUKU ACEH Menurut Koenjaraningrat, kerangka etnografi dibagi menjadi delapan. Berikut adalah penjelasan kedelapan kerangka etnografiyang dimiliki oleh suku Aceh:  Lokasi, Lingkungan Alam, dan Demografi

Suku Aceh mayoritas tinggal di Provinsi Aceh, provinsi paling barat di pulau Sumatera sekaligus ujung barat Indonesia.Topografi tempat tinggal Suku Aceh bermacam-macam, mulai dari daerah pesisir sampai daerah pegunungan.Iklim daerah Aceh termasuk tropis panas, dengan temperatur harian 30-32 celcius.Daerah pegunungan bertemperatur sedikit lebih rendah daripada daerah pesisir.

Gambar 1Persebaran Suku Aceh di Provinsi Aceh

Sumber: http://id.wikipedia.org

Jumlah populasi Suku Aceh berjumlah 3,6 juta, atau 77% dari penduduk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Mata pencaharian masyarakat Aceh mayoritas adalah petani padi, jagung, ubi, kelapa, kopi, dan cengkeh.Masyarakat Aceh yang tinggal di wilayah pesisir juga menggantungkan hidup mereka kepada hasil laut dengan berprofesi sebagai nelayan.Perdagangan di Aceh juga mulai berkembang sejak kedatangan para pedagang dari Arab, Gujarat dan Hindia, sehingga perdagangan juga merupakan mata pencaharian utama masyarakat Aceh di wilayah pesisir.

Asal Mula dan Sejarah Suku Bangsa

Orang-orang Aceh sering mengatakan bahwa kata ‘Aceh’ sendiri merupakan akronim dari sukusuku yang pernah menetap dan bercampur dengan penduduk lokal, yaitu suku Arab, Cina, Eropa, dan Hindia (India).Leluhur Suku Aceh yang sebenarnya berasal dari Semenanjung Malaysia, Cina, dan Kamboja. Setelah masuknya para pedagang Arab ke Indonesia, keturunan-keturunan dari masyarakat Aceh pun bercampur dengan darah Arab.Para pedagang Arab tersebut juga menyebarkan agama Islam yang sekarang menjadi agama mayoritas Suku Aceh.Tidak hanya Arab, orang-orang Cina juga masuk ke Indonesia untuk berdagang.Pada awal zaman kolonialisme, orang-orang Eropa dari Portugis masuk ke pantai utara Aceh, yaitu daerah Lamno.Orang-orang Eropa tersebut sebagian ada yang menetap dan berhubungan penduduk lokal, sehingga menghasilkan keturunan berkulit putih dan bermata biru.

Bahasa

Bahasa yang digunakan oleh Suku Aceh ialah bahasa Aceh.Bahasa Aceh memiliki banyak pengaruh dari bahasa-bahasa yang dibawa oleh para pendatang Arab, Cina, Eropa, dan India.Bahasa Aceh termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia. Logat Bahasa Aceh tidak terlalu banyak perbedaan, meskipun terdapat perbedaan cara pengucapan antarmasyarakat di beberapa kabupaten. Bahasa Aceh identik dengan hurup vokalnya yang sangat beragam. Berikut contoh kata dengan huruf vokal berbeda:

Huruf Vokal e eu è ö ô o ‘a ‘i ‘u è 'o Le Keu Pèh

Kata

Arti Banyak Untuk Pukul Masih Mengeluarkan Buah Maaf Busuk Bajak Main Hantu

Contoh Cara Pengucapan dalam Bahasa lain Dekat (Indonesia) Ieu(Ini, Sunda) Oleh (Indonesia Loro (Sakit, Jawa) Soto (Indonesia) Tolong (Indonesia) Maaf (Indonesia) Angin (Indonesia) Pamer (Indonesia) -

Mantöng Tôh Boh Meu’ah Kh’iëng meu'uë meu‘èn ma’op

Sistem Teknologi Perdesaan

Sebelum era teknologi modern, perdesaan di Aceh menggunakan sistem tadah hujan.Para petani membajak sawah dengan kerbau dan orang-orangan sawah masih digunakan untuk menghalau burung.Penanaman padi dilakukan pada musim hujan. Sebelum menanam padi biasanya dilakukan Khanduri Blang, sebuah upacara doa bersama agar diberi kesuburan tanaman dan panen yang melimpah.Untuk memanen padi, para petani menggunakan arit atau sabit.Kemudian padi tersebut ditumbuk dengan alu besar. Di rumah tangga masyarakat Aceh, alat-alat masak yang digunakan masih bersifat tradisional. Diantaranya tungku api sebagai kompor, panci yang dibuat dari logam, arang untuk memanggang, dan periuk (tempat nasi). Sebelum dikenalnya piring, masyarakat Aceh menggunakan batok kelapa yang sudah dibersihkan atau lembaran daun pisang. Penggunaan tangan kanan ketika makan juga termasuk norma kesopanan yang sangat fundamental. Rumah tradisional Aceh (rumoh Aceh) berbentuk panggung dengan tiga bagian.Tinggi kaki rumoh Acehadalah 9 kaki, disanggah dengan pilar-pilar yang berjumlah sekitar 20an buah.Rumah panggung dibuat sedemikian rupa untuk menghindari serangan binatang buas.Dinding rumah terbuat dari kayu ataupun bambu, sedangkan atap dilapisi dengan sabut kelapa.

Gambar 2 Rumoh Aceh

Sumber: http://www.tslr.net

Para wanita Aceh biasanya menggunakan perhiasan yang dibuat dari emas dan perak.Sebagian besar perhiasan berupa kalung, gelang, anting-anting, dan gelang kaki. Perhiasan-perhiasan tersebut

hanya digunakan dalam acara-acara formal seperti pernikahan atau sebagai mas kawin. Perhiasan emas dan perak juga dapat digunakan sebagai alat perdagangan yang bernilai tinggi. Senjata khas masyarakat Aceh adalah rencong, yaitu belati berbentuk L dengan gagang melengkung.Rencong biasanya diikatkan di sabuk bagian kanan atau kiri, tergantung kemampuan tangan pemiliknya. Sebagaimana belati lainnya, rencong digunakan sebagai alat pertahanan diri dengan cara menikam.

Gambar 3Rencong dalam Ilustrasi Laksamana Keumalahayati

Sumber: http://id.wikipedia.org

Sistem Ekonomi Pedesaan

Pada zaman prakemerdekaan, mata uang yang berlaku di masyarakat Aceh adalah emas, perak, dinar dan dirham.Hal ini dikarenakan oleh pedagang Arab yang menggunakan dinar dan dirham dalam bertransaksi. Sebelum kedatangan pedagang Arab, sistem barter juga sudah berlaku dalam ekonomi masyarakat Aceh. Komoditas hewan ternak yang paling banyak dipelihara di masyarakat Aceh ialah ayam, sapi pedaging, dan kambing.Selain karena mudah dalam mengurusnya, ketiga hewan ternak tersebut juga cocok dengan iklim Aceh yang panas.Di samping ternak darat, pertambakan air tawar juga berkembang di sebagian masyarakat.

Organisasi Sosial

Masyarakat Aceh tergolong masyarakat yang tinggal menetap dan tidak nomaden.Keluarga Aceh jaman dahulu tinggal serumah dalam skala besar, biasanya berada pada satu keturunan nenek.Satu rumah biasanya ditempati oleh 10-25 orang. Karena pergeseran budaya dan gaya hidup, sekarang

sangat jarang ditemui rumah yang ditempati secara bersama-sama seperti pada zaman dahulu.Dalam suatu gampong (desa), hubungan kekerabatan cukup dekat.Tidak jarang sesama penduduk desa bertalian darah, atau setidaknya bersaudara dari satu nenek buyut.Karena kekerabatan ini, organisasi sosial dan persaudaraan dalam satu gampong sangat erat.

Sistem Pengetahuan

Karena berprofesi sebagai petani, peternak, dan nelayan, masyarakat Aceh zaman dahulu sangat tergantung pada alam.Seluruh hasil alam merupakan nikmat dari Allah SWT yang harus disyukuri.Namun terkadang alam juga dapat menjadi sumber bahaya.Masyarakat Aceh yang tinggal di pesisir terkadang dengan pasang-surut dan badai. Bencana besar seperti gempa bumi dan tsunami beratus-ratus tahun lalu telah mengajarkan masyarakat Aceh di Pulau Simeulue bagaimana gejala datangnya tsunami dan cara evakuasi diri dengan lari ke daerah pegunungan. Sayangnya, tidak semua masyarakat Aceh di Provinsi Aceh mengetahui hal ini, sehingga tsunami 2004 kemarin memakan ratusan ribu korban jiwa.

Sistem Religi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masyarakat Aceh adalah Muslim.Nilai-nilai Islam dalam masyarakat Aceh sudah seperti darah dan daging.Tidak hanya dalam ibadah, nilai-nilai Islam juga diterapkan dalam pergaulan sehari-hari. Contohnya norma adab, sistem pemerintahan dan peradilan. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, hukum-hukum Islam yang ada dalam AlQur’an dan Hadits dituangkan dalam sebuah peraturan daerah yang disebut Qanun.Konsep Qanun sekarang diadopsi oleh pemerintah Provinsi Aceh sebagai ciri khas keistimewaan dan penerapan Syari’at Islam di provinsi tersebut. Pemuka agama Islam di Aceh disebut dengan namaTeungku. Para Teungku ini merupakan seorang mu’alim (ahli agama) sekaligus abid (ahli ibadah).Masyarakat Aceh mengirimkan anakanaknya kepada Teungku atau pesantren miliknya untuk belajar tentang agama.Gelar Teungku ini masih ada sampai sekarang.

Kesenian

Hampir semua jenis seni rupa berkembang di masyarakat Aceh, kecuali seni patung. Seni patung tidak berkembang karena adanya hadits yang melarang pembuatan patung, karena ditakutkan akan menjadi berhala sembahan. Seni rupa yang berkembang di Aceh antara lain seni lukis, seni kaligrafi, dan seni ukir. Seni lukis merupakan bentuk seni rupa yang tergolong modern di masyarakat Aceh.Seni kaligrafi tidak hanya dibuat di atas media kertas atau kanvas, namun juga dipadukan dengan seni ukir sehingga sering digunakan sebagai hiasan rumah, masjid, atau hiasan mimbar musholla.

Gambar 4 UkiranKaligrafi Ayat Kursi

Sumber: http://www.id.all.biz

Lagu daerah dari Aceh yang terkenal antara lain Bungong Jeumpa, Bungong Seulanga, Do da Idi, dan Panglima Prang.Sampai saat ini, beberapa penyanyi Aceh masih tetap menyanyikan lagu-lagu tersebut dengan komposisi musik dan instrumen yang lebih beragam. Sedangkan untuk tarian, Suku Aceh memiliki beberapa tarian antara lain:

Tabel 1 Tarian Suku Aceh Nama Tari Rapai Geleng Deskripsi Biasanya ditarikan oleh 7-10 orang laki-laki. Tarian ini diiringi oleh pukulan rebana yang energik, cepat, dan tangkas. Gambar

Ranup Lampuan

Tari penyambutan tamu dan pembukaan suatu acara. Para penari terdiri dari perempuan yang membawa sirih dalam puan yang pada akhir tarian akan disajikan kepada para tamu kehormatan.

Tarek Pukat

Dilakukan oleh perempuan dengan property tali yang akan dibentuk menjadi jala. Tari ini bercerita tentang kehidupan masyarakat nelayan.

Ratoh Duek

Tari ini sering disalahartikan sebagai Tari Saman yang berasal dari Suku Gayo. Tari Ratoh Duek ditarikan oleh perempuan sambil duduk. Lirik lagunya berisi hikayat rakyat Aceh dan pesan-pesan agama.

Likok Pulo

Dilakukan oleh laki-laki. Sama seperti Ratoh Duek, tarian ini berisi hikayat Aceh dan pesan-pesan agama.

Perubahan Masyarakat dan Kebudayaan

Masuknya para pendatang dari Arab, Cina, dan Eropa sendiri sudah merubah kehidupan sosial masyarakat Aceh, seperti memeluk agama Islam, menemukan perdagangan sebagai mata pencaharian, dan berbagai pemberontakan untuk mengusir para penjajah. Setelah tahun 2000an, banyak nilai-nilai masyarakat Aceh yang sudah luntur seperti gampong yang tidak lagi dihuni oleh sebuah keluarga, acara adat istiadat yang telah memudar, bentuk rumah yang dipengaruhi oleh arsitektur Eropa, mata pencaharian yang sudah sangat beragam (kerja kantoran, dokter, insinyur, dll), sistem pendidikan, dan sebagainya. Perubahan masyarakat dan kebudayaan ini juga didukung oleh sistem pemerintahan Indonesia yang mengeneralisir sistem pemerintahan dan pendidikan di semua provinsi. Namun setelah diterapkannya otonomi daerah, Aceh berusaha membangun kembali nilai-nilai budaya yang sudah

hilang dengan pembentukan Qanun, konservasi barang-barang bersejarah, promosi pariwisata, pengembalian kedudukanWali Nanggroe (secara harafiah berarti Wakil Negeri, dalam hal ini seseorang yang ditunjuk sebagai wakil rakyat Aceh), bahkan isu terbaru yaitu bendera dan lambing Aceh.

2.

PRODUK SENI RUPA SUKU ACEH

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, seni rupa suku Aceh yang menonjol adalah seni ukir dan seni kaligrafi.Pengaruh Islam yang sangat kental membatasi berkembangnya seni patung sehingga para seniman lebih cenderung mengembangkan kesenian yang bernafaskan Islam.Seni ukir dan seni kaligrafi sering kali dipadukan dan dipergunakan sebagai pajangan atau penghias perabot rumah.

Gambar 5Lemari dengan Ukiran Aceh

Sumber: http://www.bukalapak.com

Tidak hanya dalam ukiran, seni kaligrafi Aceh juga dapat dipadukan dalam lukisan atau ilustrasi.Kaligrafi Aceh yang dilukis di atas kanvas sering kali berisi pesan-pesan atau ilustrasi yang menggambarkan kekuasaan Allah.

Gambar 6Kaligrafi Aceh Karya Kurnia Agung Robiansyah

Sumber: http://www.noqtahcalligraphy.com

Selain seni ukir dan seni kaligrafi, seni bordir juga merupakan salah satu produk seni rupa terapan yang berkembang di Aceh. Para pengrajin souvenir menggunakan sering menggunakan motif-motif Aceh dalam pakaian, seperti tas, baju koko, kopiah, dan pakaian wanita. Motif yang paling terkenal ialah Pinto Aceh. Motif Pinto Aceh sering ditemui di pakaian, perhiasan, tas, maupun ukiran-ukiran. Motif Pinto Areh berasal dari sebuah monumen peninggalan Sultan Iskandarmuda yang bernama Pinto Khoh.

Gambar 7Pinto Aceh dalam Kopiah

Sumber: http://acehdesain.wordpress.com&http://acehpusaka.blogspot.com

Secara umum, perkembangan seni rupa dalam Suku Aceh sangat dipicu oleh pengaruh Islam dan Kerajaan Aceh.Seni rupa diciptakan tidak sebagai penghias rumah atau masjid, namun jugasebagai media penyebaran agama.Pesan yang ditimbulkan oleh seni kalirafi Aceh ialah megah, kokoh, agung, yang mengingatkan penikmatnya kepada Sang Khalik.

3.

SUMBER

Said, Mohammad. 1985. Aceh Sepanjang Abad. Medan: PT. Percetakan dan Penerbitan Waspada http://artscraftindonesia.com/ind/index.php?option=com_content&task=view&id=34http://www.noqta hcalligraphy.com/2010/05/lukisan-kaligrafi.html http://seuramoe.acehprov.go.id/about/kependudukan http://deutromalayan.blogspot.com/2012/10/suku-aceh_20.html http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Aceh