You are on page 1of 23

1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari sejauh mana cerminan moral para generasinya. Meskipun teknologi dan ilmu pengetahuan cukup berkembang pesat, tapi jika tidak didukung dengan perilaku yang luhur, tetap saja bangsa tersebut tidak layak dijadikan panutan. Dunia saat ini tengah berada dalam gempuran hegemoni tertentu. Globalisasi membawa dampak buruk dalam melunturkan identitas suatu bangsa. Indonesia pun tidak lepas dari pergeseran arus di dunia saat ini. Indonesia tengah berada dalam cengkraman globalisasi yang membuat generasinya seakan kehilangan identitas. Lunturnya nilai-nilai moral, seperti maraknya kekerasan dan kriminalitas di kalangan pelajar, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, narkoba dan perilaku-perilaku negatif lainnya membuat bangsa semakin kehilangan jati diri dan mengalami mengalami kemunduran moralitas Dunia pendidikan adalah gudang melahirkan generasi cerdas dan berakhlak. Pendidikan adalah tumpuan dan filterisasi untuk membentuk karakter mulia. Tujuan pendidikan nasional kita sebagaimana yang tertuang dalam UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang."1 Pasal 31, ayat 5 menyebutkan: "Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia."2)
1.(http://www.putra-putri-indonesia.com/tujuan-pendidikan-nasional.html diakses 19 April 2012 2. ibid

2

Berdasarkan undang-undang tersebut, pendidikan di

Indonesia

idealnya

menghasilkan pribadi yang bertakwa, berakhlak baik, dan bermoral. Pada kenyataanya, generasi bangsa ini semakin rusak. Riset yang dipublikasikan Yayasan Kita dan Buah Hati pada tahun 2010 menemukan sebanyak 83,7 persen anak sekolah dasar kelas IV dan V, sudah kecanduan pornografi. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat dari tahun 2008 sampai 2010 terjadi 2,5 juta kasus aborsi, sebanyak 62,6 persen dilakukan anak di bawah umur 18 tahun. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional pada 2008, sebanyak 1,5 persen atau sekitar 3,2 juta penduduk Indonesia adalah pengguna narkoba. Sebanyak 78 persen di antaranya adalah remaja atau penduduk usia 20-29 tahun3. Munculnya wacana pendidikan karakter adalah respon dari kacaunya moralitas pelajar bangsa ini. Pendidikan karakter ini diharapakan akan menghasilkan output yang bermoral tinggi. Pendidikan karakter juga mengajarkan peserta didik untuk lebih mengutamakan nilai-nilai kebaikan sehingga didapatkan sebuah karakter yang dapat menghasilkan generasi cemerlang. Pendidikan karakater dianggap sebagai solusi untuk mengatasi mandulnya sistem pendidikan bangsa ini. Pendidikan karakter dianggap mampu menciptkan individu yang berakhlak baik dan bermoral tinggi. Di universitas pun sudah mulai digencarkan pengembangan karakter ini. Berbicara mengenai karakter berarti kita berbicara mengenai sebuah nilai-nilai. Entah itu nilai baik atau buruk. Sastra adalah sumber nilai. Dalam sebuah karya sastra kita bisa memetik nilai-nilai. Menurut Horace, fungsi sastra itu Dulce et Utile. Indah dan berguna. Bahasa sastra adalah bahasa yang estetis yang mampu menghaluskan dan membangkitkan jiwa dan perasaan. Di sinilah fungsi keindahan sastra. Sastra mampu mengungkapkan ide yang rumit menjadi lebih estetis dan memahaminya dengan menggunakan cita rasa. Karena struktur kata yang digunakan lebih estetis, pembaca merasa tidak digurui. Sastra

mentransformasi pesan, nilai-nilai, dan menunjukkan karakter melalui sebuah cerita dan kata-kata indah.
3

Majalah Al Wa‟ie No. 138 Tahun XII Februari 2012

Oleh karena itu gagasan kreatif dari karya tulis ini ialah menghadirkan metode pembelajaran sastra sebagai solusi alternatif dalam pendidikan karakter yang dapat mempengaruhi karakter seseorang dengan cara mengajarkan pelajar membaca dan menulis karya sastra yang bermutu. Manfaat Penulisan. 1. maka penulis mengajukan judul Peran Pembelajaran Sastra dalam Pendidikan Karakter.Gagasan Kreatif Sastra memiliki peran dalam membentuk atau mengembangkan karakter seseorang. sastra adalah media positif untuk mengungkapkan pikiran. Seorang pembaca sastra tentu akan mampu memetik nilai-nilai sehingga memengaruhi karakter pembacanya.4. dan keadaan yang sedang terjadi di kehidupan sosialnya.1.2. Sastra mengandung pesan yang bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat.4. Untuk menjelaskan pembelajaran sastra sebagai alternatif dalam pendidikan karakter 1. Tujuan Penulisan 1. maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut : 1. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dan untuk memfokuskan penulisan ini. Sastra membawa nilai-nilai yang mampu memperbaiki tatanan kehidupan sosial masyarakat. Untuk menjelaskan peran sastra dalam pengembangan karakter pelajar. Bagaimana peran sastra dalam pengembangan karakter pelajar? Bagaimanakah upaya pembelajaran sastra dalam pendidikan karakter? 1.Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. yaitu berguna. . Jika mereka seorang penulis.2.4.3 Fungsi yang kedua. 1. perasaan.3. Oleh karena itu salah satu langkah untuk mengatasi masalah tersebut. 2.

Diharapkan dapat memberikan solusi baru dalam mengaplikasikan pendidikan karakter di kalangan pelajar.4 1. . Diharapkan dapat memberikan gambaran tentang peran sastra dalam pengembangan karakter pelajar 2.

yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”. Aristoteles Sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama.1. 4. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Taum (1997: 13) Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif atau sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain7. Ibid diakses 7 April .net/_mdc.1. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan)5. Teori Kesusastraan 2.Ibid 6.1. 5.mutiarasukma. Pengertian Sastra Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta „Sastra‟.4 Beberapa pengertian sastra menurut para ahli Mursal Esten (1978 : 9) Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. Ibid 7.http://www. dari kata dasar „Sas‟ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan „Tra‟ yang berarti “alat” atau “sarana”.5 BAB 2 TELAAH PUSTAKA 2.php?module=view&id_berita=944blog 2012. ilmu pengetahuan dan filsafat6.

Kesenangan yang diperoleh dari sastra bukan seperti kesenangan fisik lainnya. misalnya lewat para penafsirnya. 2. Sedang manfaatnya.2 Fungsi Sastra Menurut Horace. melainkan kesenangan yang lebih tinggi. menulis yang masing-masing erat hubungannya. kedua segi tadi (kesenangan dan manfaat) harus saling mengisi. . para pembaca akan mendapatkan kesenangan dan kegunaan yang diberikan oleh karya sastra itu. fungsi sastra ialah Dulce et Utile. Maka. Prinsip-prinsip kritik sastra. wicara.27 10 http://apandin. keseriusan bersifat didaktis adalah keseriusan yang menyenangkan. (Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Melani Budianta. dan keseriusan persepsi.3. 1995. 8 seperti dikutip oleh Rachmat Djoko Pradopo. Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu. Peran Sastra dalam Pengajaran Menurut B. dalam membaca karya sastra yang baik. Indah dan berguna.3.6 2. Rahmanto dalam bukunya Metode Pengajaran Sastra (1988) ada 4 peran sastra dalam pendidikan. baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal. keseriusan estetis.1. Teori Kesusastraan. Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih keterampilan membaca dan menyimak.com/2011/05/31/kategori-baru-sastra/ blog diakses tanggal 7 April 2012 11 Ibid.1.8 Jika suatu karya sastra berfungsi sesuai dengan sifatnya. yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan.wordpress.9 Sesuatu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra" (Buya Hamka)10. Austin Warren.1. karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar bin Khattab ra)11 2. Gramedia. Jakarta. Membantu Keterampilan Berbahasa Ada 4 keterampilan berbahasa: (i) menyimak (ii) wicara (iii) membaca (iv) menulis. yang berupa keindahan dan pengalaman-pengalaman jiwa yang bernilai tinggi. 1994) 9 Rene Wellek.1.

2. tidak seperti halnya ilmu kimia atau sejarah. atau pita rekaman. siswa dapat melatih keterampilan menyimak dengan mendengarkan suatu karya yang dibacakan oleh guru. Apabila kita merangsang siswa untuk memahami fakta-fakta dalam karya sastra.7 Dalam pengajaran sastra. Siswa dapat melatih keterampilan wicara dengan ikut berperan dalam suatu drama. lama-kelamaan siswa itu akan sampai pada kenyataan yang akhirnya disadari oleh para siswa bahwa fakta-fakta yang perlu dipahami bukan hanya sekadar fakta-fakta tentang benda. Sebagai contoh.3. Karena sastra itu menarik. tidaklah menyuguhkan ilmu pengetahuan dalam bentuk jadi. teman. sastra sering berfungsi untuk membangun kesenjangan pengetahuan dari sumber-sumber yang berbeda itu dan menggalangnya menjadi suatu gambaran yang lebih berarti. . siswa dapat mendiskusikannya dan kemudian menuliskan hasil diskusinya sebagai latihan keterampilan menulis. tempat-tempat ibadah maupun lewat pelajaran-pelajaran tertentu di sekolah. tetapi fakta-fakta tentang kehidupan.1. Dengan berbagai cara. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia. Pemahaman budaya dapat menumbuhkan rasa bangga. Setiap karya sastra selalu menghadirkan „sesuatu‟ dan kerap menyajikan banyak hal yang apabila dihayati akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya. 2. Meningkatkan Pengetahuan Budaya Sastra. Bagaimanapun. kita dapat menguraikan dan mencerap pengetahuan semacam itu dalam karya sastra. Beberapa pengetahuan seperti ini dapat diberikan pada keluarga. banyak fakta yang yang diungkapkan dalam karya sastra. Yang dimaksud pengetahuan dalam hal ini mengandung suatu pengertian yang luas. rasa percaya diri dan rasa ikut memiliki. alam dengan keseluruhannya. Setiap sistem pendidikan kiranya perlu disertai usaha untuk menanamkan wawasan pemahaman budaya bagi setiap anak didik. Siswa dapat juga meningkatkan keterampilan membaca dengan membacakan puisi atau prosa cerita.

siswa akan diantar untuk mengenali berbagai pengertian dan mampu membedakan satu hal dengan yang lain. a) Indra Pengajaran sastra dapat digunakan untuk memperluas pengungkapan apa yang diterima oleh panca indra seperti indra penglihatan. Dengan memahami kepekaan alat perasa.3. Oleh karena itu penting sekali kiranya memandang pengajaran sebagai proses pengembangan individu secara keseluruhan.8 2. kemampuan. pengajaran sastra yang dilakukan dengan benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain. sehingga pengajaran sastra tersebut dapat lebih mendekati arah dan tujuan pengajaran dalam arti yang sesungguhnya. Oleh karenanya dapatlah ditegaskan. bising dengan menggemparkan.3. terutama nampak jelas dalam bidang drama. Dengan mengikuti tafsiran serta makna kata-kata yang mereka ungkapkan. Pengungkapan diri lewat aktivitas fisik ini juga dibina dalam pengajaran sastra. Setiap guru hendaknya selalu menyadari bahwa setiap siswa adalah seorang individu dengan kepribadiannya yang khas. dan indra peraba. Para pengarang itu sebenarnya manusia-manusia yang peka dan berbudi halus dan berusaha menyampaikan kepada pembaca apa yang merek hayati. sosial. misalnya: kuning dengan keemasan. Karya sastra sebenarnya dapat memberikan peluang-peluang untuk memberikan kecakapan seperti itu.1. indra pendengaran. Mengembangkan Cipta dan Rasa Dalam melaksanakan pengajaran kita tidak boleh berhenti pada penguraian pengertian keterampilan ataupun pengetahuan. kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra. . lebih lanjut kita akan berusaha memahami berbagai aktivitas fisik yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh manusia untuk mengungkapkan dirinya. harum dengan busuk serta masih banyak yang lain. masalah dan kadar perkembangannya masing-masing yang khusus. afektif. Dalam hal pengajaran sastra. dan bersifat religius. penalaran.

tetapi karena tradisi yang kompleks. c) Perasaan Kepekaan rasa dan emosi sering dikaitkan erat dengan pengajaran sastra dan barangkali masalah ini perlu terus dipertahankan. Sampai batas-batas tertentu masyarakat sering mempermasalahkan kepekaan perasaan dari anggota-anggotanya. bayi atau anak kecil mengundang rasa simpati hampir pada semua orang di dunia ini. serta terkendali ketat. di samping sarat dengan kecakapan berpikir logis itu. ketepatan interpretasi kebahasaan. serta formulasi rangkaian tindakan yang tepat. logis. pengajaran sastra juga meliputi kecakapan-kecakapan pilihan seperti dugaan. Tapi hendaknya kita sadari bahwa bukan matematika saja yang menuntut proses berpikir demikian. serta mengenal metode argumentasi yang betul. latihan kepekaan dimaksudkan agar anggota-anggotanya menyenangi apa yang harusnya mereka senangi dan mencegah mereka menyenangi apa yang seharusnya tidak mereka senangi. dan sebagainya.9 b) Penalaran Pembinaan kecakapan berpikir sering dianggap termasuk bidang khusus seperti matematika atau fisika yang ada di luar jangkauan pengajaran sastra. sesat. memberikan bukti tentang suatu pendapat. barangkali dapat kita tegaskan di sini bahwa sastra dengan jelas dapat menghadirkan berbagai problem atau situasi yang merangsang tanggapan perasaan atau tanggapan emosional. Situasi dan problem itu oleh sastrawan diungkapkan dengan cara-cara . Proses berpikir logis banyak ditentukan oleh hal-hal seperti ketepatan pengertian. Meski benar bahwa pelajaran matematika itu menuntut proses berpikir tepat. perasaan manusia itu kemudian menunjuk pada hal-hal yang lebih khusus dalam setiap budaya. Pengajaran sastra jika diarahkan dengan tepat akan sangat membantu siswa latihan memecahkan masalah-masalah berpikir logis semacam itu. Sehubungan dengan perasaan ini. Dalam masyarakat. Misalnya. Anggapan semacam ini hendaknya sekarang disingkirkan. Bahkan. klasifikasi dan pengelompokkan data. Meski perasaan itu bersumber pada naluri manusia. penentuan berbagai pilihan. Perasaan jelas merupakan suatu elemen yang sangat rumit dalam tingkah laku manusia.

ekonomi. misalnya: sejarah. putus asa. e) Rasa Religius Tentu saja kita akan berusaha mendasarkan hidup kita pada fundamen yang kuat daripada fundamen yang lemah.10 yang memungkinkan kita tergerak untuk menjelajahi dan mengembangkan perasaan kita sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita. Dari semua itu. kalah. Beberapa mata pelajaran lain dalam kurikulum juga telah memberikan pendidikan nilai kesadaran sosial. Para pengarang modern telah banyak berusaha merangsang minat dan menumbuhkan rasa simpati kita terhadap masalah-masalah yang dihadapi orang-orang tertindas. Meski demikian. d) Kesadaran Sosial Pemahaman yang efektif atas orang lain. gagal. seorang pengajar sastra hendaknya bijaksana memilih bahan pengajarannya dengan tepat sehingga membantu siswa memahami dirinya dalam rangka memahami orang lain. dan menerobos suatu masalah serta mengenali intinya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan anak-anak muda brandalan di negara modern yang mencampakkan pencapaian budaya yang telah mapan dan mencoba kembali hidup tak teratur meniru “hewan di lading penggembalaan”. Oleh karena itu. Tak perlu diragukan lagi bahwa sastra memang dapat digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan kesadaran pemahaman terhadap orang lain. kiranya tidak berlebihan bila kita tegaskan lagi bahwa sastra merupakan pengayaan yang tak ternilai untuk menunjang pendidikan kesadaran sosial ini. dan ilmu-ilmu sosial yang lain. Para penulis kreatif biasanya memiliki daya imajinasi dan kesanggupan yang luar biasa untuk mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain. Misalnya. geografi. sikap sebagian masyarakat negara berkembang yang terburu-buru membuang tradisi sendiri dan mengganti dengan tradisi asing jelas menunjukkan sikap yang kurang dewasa. hanya dapat dicapai dengan bertitik tolak dari pemahaman diri. yang perlu kita tambahkan adalah .

Yogyakarta. toleransi dan rasa simpati yang lebih mendalam.3. perceraian dan kematian. 2. Itulah sebabnya orang dapat kita kenal wataknya dengan pasti. kekalahan. wawasan. yang dinamakan “budipekerti” atau watak atau dalam bahasa asing disebut “karakter” yaitu “bulatnya jiwa manusia” sebagai jiwa yang “berasas hukum kebatinan”. Seseoran yang telah banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai. Perlu digarisbawahi bahwa kedalaman itu merupakan satu kualitas yang dibutuhkan masyarakat berkembang dimana pun tanpa terkecuali.1. kebencian.1. hal. pengajaran sastra hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam.11 bahwa hampir semua pengarang yang mempunyai daya imajinasi tinggi biasanya berusaha menghadirkan masalah-masalah yang hakiki dalam karya-karya mereka.12 12 Haryanto.2. lebih lanjut dia akan mampu menghadapi masalah-masalah hidupnya dengan pemahaman. UNY. Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. yaitu karena watak atau budipekerti itu memang bersifat tetap dan pasti. Dibanding pelajaran-pelajaran lainnya. Secara umum. Menunjang Pembentukan Watak Dalam nilai pengajaran sastra ada dua tuntutan yang dapat diungkapkan sehubungan dengan watak ini.4. Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara. Orang yang memiliki kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran. keputusasaan.2. 2. 5 . Pengertian Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara mengatakan. kebanggaan diri. Pendidikan Karakter 2. Pertama. dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. kebebasan. kesetiaan. kelemahan. sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengenal seluruh rangkaian kemungkinan hidup manusia seperti misalnya: kebahagiaan. timbangan.

dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. it is clear that we want them to be able to judge what is right.2. 2004: 145-147 . Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara. care about. Yogyakarta.3. and act upon core ethical values. Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. hal. pendidikan karakter “character education is the deliberate effort to help people understand. sesuai standar kompetensi lulusan13. menaruh perhatian yang besar terhadap apa yang baik. 13 utuh. 4 14 Ratna Megawangi. Pendidikan Karakter. and then do what they believe to be right. 2. (2004). dan seimbang.12 Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph. peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. Haryanto mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal. Pendidikan Karakter yang Melibatkan Aspek Thomas Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. (Pendidikan karakter dimaknai sebagai usaha untuk memahamkan pengertian. kesadaran atau kemauan.D. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pembentukan sistem penanaman nilai-nilai tertentu yang kita inginkan dan meliputi komponen pengetahuan. yaitu nilai-nilai sehingga dapat melakukan apa-apa yang baik. even in the face of pressure from without and temptation from within”. Di mana kita berpikir tentang jenis karakter apa yang kita ingin tanamkan dengan jelas. dimana tujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara terpadu. Haryanto. UNY. care deeply about what is right. perhatian dan tindakan terhadap sebuah nilai-nilai tertentu (nilai etik). moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral14. walaupun berhadapan dengan tantangan dari luar maupun godaan dari dalam). When we think about the kind of character we want for our children. dan kemudian mereka akan menjadi baik.

5) self-control (mampu mengontrol diri). 2) knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral). 4) loving the good (mencintai kebenaran). Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya. 5) decision making. 6) humility (kerendahatian). 6) self-knowledge. 3) kebiasaan (habit). - Moral Feeling adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan kepada anak yang merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral. 3) emphaty (merasakan penderitaan orang lain). Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan baik (act morally) maka harus dilihat 3 aspek lain dari karakter yaitu: 1) kompetensi (competence). . - Moral Action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. 2) self-esteem (percaya diri). 4) moral reasoning. 2) keinginan (will). Terdapat 6 hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni: 1) conscience (nurani). 3) perspective talking.13 - Moral Knowing terdiri dari 6 hal: 1) moral awareness (kesadaran moral).

yang meliputi teori kesusastraan dan pendidikan karakter dan pengertian istilah berkaitan dengan sastra dan pendidikan karakter Bab 3 : Metode Penulisan. 3. Disamping itu. Data yang diperoleh biasa disebut data sekunder. dan analisis data.3. berisi kesimpulan dan saran atau rekomendasi yang diselaraskan dengan kerangka pemikiran sebelumnya. Bab 2 : Tinjauan Pustaka.2. dan berbagai artikel dari situs internet. penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui metode penelitian kepustakaan (library research). Bab 5 : Penutup. rumusan masalah. serta tujuan dan manfaat penulisan. berisi analisis permasalahan berdasarkan data dan telaah pustaka yang diuraikan secara runtun. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan karya tulis ilmiah ini disusun sebagai berikut : Bab 1 : Pendahuluan. sistematika penulisan. Bab 4 : Pembahasan. Kemudian data tersebut diolah dengan teknik content analysis untuk menghasilkan kesimpulan. karya tulis ini juga mengajukan beberapa tawaran ilmiah .1 Teknik Pengumpulan Data Dalam penulisan ini. disajikan dengan menggunakan teknik pengumpulan data. yang menguraikan latar belakang masalah. yaitu pengumpulan data yang didapat dari buku-buku. jurnal-jurnal ilmiah. 3. Analisis Data Dalam karya tulis ini.14 BAB 3 METODE PENULISAN 3. penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menganalisis data dengan maksud menjelaskan peran sastra dalam pendidikan karakter. media massa.

.15 mengenai solusi atas rusaknya moralitas bangsa yang diwujudkan dengan pendidikan karakter berbasis pembelajaran sastra dalam institusi pendidikan.

Sastra mentransformasi pesan. Seperti yang diungkapkan oleh Buya Hamka. Karena struktur kata yang digunakan lebih estetis. Sebagai contohnya. Fungsi Sastra sendiri menurut Horace adalah Dulce el Utile. hal tersebut dapat merangsang kita untuk memasuki dan mendalami karya sastra tersebut. Kita menjadi terbiasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan keindahan dan kelembutan. atau kisah maka secara tidak langsung. Bahasa sastra adalah bahasa yang estetis yang mampu menghaluskan dan membangkitkan jiwa dan perasaan. nilai-nilai. dongeng. tidak seperti halnya ilmu-ilmu pasti. kita menjadi tahu makna kehidupan. bahwa sastra dapat menghaluskan jiwa.1. dan menunjukkan karakter melalui sebuah cerita dan kata-kata indah. Di sinilah fungsi keindahan sastra. Setiap karya sastra selalu menghadirkan „sesuatu‟ dan kerap menyajikan banyak hal yang apabila dihayati akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya. Sastra. Dengan demikian Sastra mengajarkan kita untuk peduli dan empati.16 BAB 4 PEMBAHASAN 4. pembaca merasa tidak digurui. Sastra mampu mengungkapkan ide yang rumit menjadi lebih estetis dan memahaminya dengan menggunakan cita rasa. tidaklah menyuguhkan ilmu pengetahuan dalam bentuk jadi. Dengan mengajarkan sastra. Pengaruh Sastra terhadap Pengembangan Karakter Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu. Hal ini justru akan membuat pembaca bersikap selektif untuk menganalisis tindakan-tindakan moral yang dapat berdampak positif bagi kehidupannya. ketika kita membaca sebuah novel. . Indah dan berguna. alam dengan keseluruhannya. pembaca mampu memetik nilai-nilai apa saja yang baik dan tidak baik yang tercermin dalam karya sastra tersebut. Ketika kita menghayati karya sastra. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia. karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar bin Khattab ra) Petuah Umar Bin Khattab di atas cukup menggambarkan kaitan erat antara sastra dan pembentukan karakter seseorang.

sastra pada akhirnya mampu mengubah karakter seseorang. perasaan. Aristoteles pun menambahkan bahwa sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama. Melakukan perlawanan damai. moral. berarti mereka mampu memetik nilai-nilai sehingga memengaruhi karakter pembacanya. sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif” atau “sastra adalah . Mursal Esten mengungkapan bahwa sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. Sastra mengandung pesan yang bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat. Mempelajari sastra mampu menyentuh bahkan menggerakkan perasaan kita hingga mengubah pola sikap dan membentuk karakter. 1988: 25). Hal ini tentu saja memberikan pelajaran untuk menghadapi persoalan kehidupan. toleransi dan rasa simpati yang lebih mendalam (Rahmanto.17 Fungsi yang kedua. Sehingga transformasi nilai-nilai agama. Jika mereka pembaca sastra. akhlak mampu terterima secara lebih soft dan mendalam. Mereka mampu mecermati peristiwa-peristiwa sosial. (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). ilmu pengetahuan dan filsafat. sastra adalah media positif untuk mengungkapkan pikiran. Jadi sastra adalah sumber nilai yang dapat memberikan kesan religius. Pembelajaran karakter dalam sastra tidak memberikan kesan menggurui. pesan yang dibungkus dalam cerita yang merefleksikan kehidupan sosial. Melalui pembacaan yang mendalam.Rahmanto mengatakan seseorang yang telah banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak bernilai. dan keadaan yang sedang terjadi di kehidupan sosialnya. konflik cerita. Sastra membawa nilai-nilai yang mampu memperbaiki tatanan kehidupan sosial masyarakat. Dalam karya sastra terkandung nilai-nilai. serta cara-cara tokoh mengelola konflik. Jika mereka seorang penulis. Mereka memiliki kedalaman berpikir yang tinggi hingga mampu memediasi pemikirannya dalam ungkapan-ungkapan yang lebih halus. Seorang sastrawan biasanya lebih bijak bertindak. wawasan. Taum mengemukakan. B. Secara umum lebih lanjut dia akan mampu menghadapi masalah-masalah hidupnya dengan pemahaman. yaitu berguna.

18 penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain (Taum: 1997). dan kemudian mereka akan menjadi baik. Di mana kita berpikir tentang jenis karakter apa yang kita ingin tanamkan dengan jelas. Lickona (1992) memaparkan 3 aspek yang penting dalam pendidikan karakter yaitu moral knowing. Orang yang memiliki kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasakan serta selalu memakai ukuran. Hal ini memungkinkan jika kita membaca karya sastra dengan penuh penghayatan. 4. Sebagaimana sastra yang mampu masuk ke dalam hati para pembacanya. dan moral action (pemikiran. drama terdapat banyak nilai-nilai yang ditawarkan melalui pengungkapan kisah atau alur cerita dan dari karakter yang dipersembahkan oleh setiap tokohnya. dongeng. ungkapan katakatanya menimbulkan kesan estetis. akan memberikan pengaruh pada pembacanya. kita bisa memilih jenis karakter apa yang diinginkan dan yang akan mereka tanamkan untuk dapat menentukan mana yang baik dan tidak baik dalam bertingkah laku. Dengan membaca karya sastra kita akan menemukan dan . timbangan. David Elkind & Freddy Sweet Ph. dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Dalam membaca karya sastra aspek pendidikan karakter yang paling penting jika ditinjau dari pendapat Lickona adalah moral knowing dan moral feeling. menaruh perhatian yang besar terhadap apa yang baik. Sastra mampu membangkitkan perasaan dan jiwa seseorang. Menggiatkan Membaca dan Menulis Karya Sastra sebagai Alternatif Pendidikan Karakter Sebagaimana yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara bahwa “karakter” yaitu “bulatnya jiwa manusia” sebagai jiwa yang “berasas hukum kebatinan”. pengalaman). moral feeling. Dalam karya sastra seperti novel. walaupun berhadapan dengan tantangan dari luar maupun godaan dari dalam12. Di dalamnya terkandung pesan-pesan moral. perhatian dan tindakan terhadap sebuah nilai-nilai tertentu (nilai etik). yaitu nilai-nilai sehingga dapat melakukan apa-apa yang baik.2. (2004) mengemukakan pendidikan karakter adalah usaha untuk memahamkan pengertian. perasaan.D.

Selain itu menulis karya sastra adalah media positif untuk mengungkapkan pikiran. Kemampuan empati atau merasakan apa yang dirasakan orang lain adalah hal yang mesti dimiliki oleh seseorang yang menulis karya sastra. seperti Bahasa Inggris. Salah satu aspek emosi (moral feeling) yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter menurut Lickona ialah emphaty (merasakan penderitaan orang lain). maupun matematika. guru Bahasa Indonesia atau mahasiswa fakultas sastra. Mereka mengetahui dengan jelas karya yang mereka ciptakan.19 mengetahui nilai-nilai moral yang baik dan buruk. Tapi. Untuk lebih membudayakan solusi ini. sumber inspirasi dan pengalaman terciptanya karya itu yang berasal dari pengalaman batin pengarang maupun orang di sekeliling pengarang. dan kondisi sosial yang terjadi di sekeliling pengarang. seperti pengarang. Penerapan budaya membaca dan menulis karya sastra ini . sastra perlu digaungkan. Hal ini tentu saja membawa dampak yang baik bagi jiwa pegarang. dan menerobos suatu masalah serta mengenali intinya. Teori aspek pendidikan karakter menurut Lickona yang melibatkan moral knowing and feeling secara lebih mendalam akan mampu dicapai ketika seseorang menulis karya sastra. Pembaca mampu memetik setiap karakter yang positif untuk dapat diterapkan dalam kehidupannya. Menulis karya sastra akan mengantarkan seseorang pada pendalaman perasaan yang kuat. sastra tidak dikhususkan bagi orang-orang mendalami sastra saja. Rahmanto mengemukakan para penulis kreatif biasanya memiliki daya imajinasi dan kesanggupan yang luar biasa untuk mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain. perasaan. Karya sastra yang mereka tulis adalah inspirasi dari kenyataan. Sastra perlu diangkat sebagai ilmu pengetahuan dasar dan umum. Para pengarang itu sebenarnya manusia-manusia yang peka dan berbudi halus dan berusaha menyampaikan kepada pembaca apa yang mereka hayati (Rahmanto: 1988). Sehingga ketika seseorang menulis karya sastra tentu saja melibatkan aspek perasaan maupun pemikiran yang lebih dalam. sastra perlu digiatkan. Menulis sastra pada akhirnya mampu menumbuhkan kesadaran sosial kita secara lebih mendalam terhadap orang lain dan realita sosial di masyarakat.

20 perlu didukung oleh pemerintah. . instansi pendidikan. Serta dibutuhkan sinergi semua elemen pendidikan di negara ini. seperti sekolah bahkan universitas.

Pendidikan karakter diharapkan mampu menghasilkan generasi yang berakhlak baik.2. . Dalam konsep pendidikan karakter dibutuhkan nilai-nilai moral yang akan membentuk karakter seseorang. Pemerintah menggiatkan program pengajaran sastra. dari sekolah dasar hingga universitas. 5.1. seperti membaca dan menulis karya sastra. tidak hanya mengajarkan bahasa Indonesia secara struktur. 2. Karya sastra berisi nilai-nilai dan cerminan karakter-karakter yang ada di muka bumi yang direfleksikan oleh tokoh-tokoh cerita dalam karya sasrta. Membiasakan menulis karya sastra akan memberikan dampak bagi perkembangan jiwa. seorang pelajar akan lebih merasakan penghayatan yang lebih. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan diatas. maka kami merekomendasikannya menjadi beberapa hal yaitu : 1. sehingga menghasilkan empati terhadap apa yang dialami orang lain atau berempati terhadap kondisi sosial masyarakat. dan action akan tercapai ketika pelajar melibatkan dirinya dalam membaca dan menulis karya sastra. feeling. Sehingga dengan mempelajari karya sastra seseorang tentu mampu memetik dan memilih karakter-karakter positif untuk diterapkan dalam kehidupannya. dengan membiasakan menulis karya sastra.21 BAB 5 PENUTUP 5. bermoral tinggi dan cerdas. Pemerintah yang diwakili oleh departemen pendidikan telah melakukan berbagai upaya agar pendidikan karakter terlaksana di setiap instansi pendidikan. Guru bahasa Indonesia sebaiknya lebih fokus kepada pembelajaran sastra di sekolah. Pendidikan karakter yang melibatkan aspek knowing. Selain itu. Sastra memiliki peranan dalam membentuk karakter seorang pelajar. Kesimpulan Munculnya wacana pendidikan karakter adalah respon dari semakin rusaknya moral generasi bangsa ini.

Universitas menjadikan pengajaran sastra masuk dalam mata kuliah umum mahasiswa.22 3. . Fakultas Sastra lebih mengembangkan pembelajarannya dengan lebih banyak membaca dan menulis karya sastra. 4. Tidak sekadar mengeritik karya sastra.

Jakarta: Gramedia.putra-putri-indonesia.wordpress. Warren.23 Daftar Pustaka Megawangi. Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara. UNY. http://apandin. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. (http://www. Yogyakarta: Pegangan Guru Pengajar Sastra. Teori Kesusastraan. B. Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Rahmanto.mutiarasukma. Bogor: Indonesia Heritage Foundation Wellek. blog diakses blog diakses .html 19 April 2012 Majalah Al Wa‟ie No. Ratna. 1988. 1995. 138 Tahun XII Februari 2012 http://www. Pradopo. Rachmat Djoko.com/tujuan-pendidikan-nasional.php?module=view&id_berita=944 diakses 7 April 2012. Rene dan Austin.net/_mdc. Metode Pengajaran Sastra. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta.com/2011/05/31/kategori-baru-sastra/ tanggal 7 April 2012 Haryanto. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. 1994. Pendidikan Karakter. 2004.