Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang Sebagai Bahan Pengawet Kayu Ramah Lingkungan

Udang adalah komoditas andalan dari sektor perikanan yang umumnya diekspor dalam bentuk beku. Potensi produksi udang di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Selama ini potensi udang Indonesia rata-rata meningkat sebesar 7,4 persen per tahun.< per persen 7,4 sebesar meningkat rata-rata Indonesia udang potensi ini Selama meningkat. terus tahun ke dari di produksi Potensi beku. bentuk dalam diekspor umumnya yang perikanan sektor andalan komoditas> Data tahun 2001, potensi udang nasional mencapai 633.681 ton. Dengan asumsi laju peningkatan tersebut tetap, maka pada tahun 2004 potensi udang diperkirakan sebesar 785.025 ton. Dari proses pembekuan udang untuk ekspor, 60-70 persen dari berat udang menjadi limbah (bagian kulit dan kepala) sehingga diperkirakan akan dihasilkan limbah udang sebesar 510.266 ton. Limbah sebanyak itu, jika tidak ditangani secara tepat, akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, karena selama ini pemanfaatan limbah cangkang udang hanya terbatas untuk pakan ternak saja seperti itik, bahkan sering dibiarkan membusuk. Cangkang udang mengandung zat khitin sekitar 99,1 persen. Jika diproses lebih lanjut dengan melalui beberapa tahap, akan dihasilkan khitosan, yaitu: 1. Dimineralisasi Limbah cangkang udang dicuci dengan air mengalir, dikeringkan di bawah sinar Matahari sampai kering, lalu digiling sampai menjadi serbuk ukuran 40-60 mesh. Kemudian dicampur asam klorida 1,25 N dengan perbandingan 10:1 untuk pelarut dibanding kulit udang, lalu dipanaskan pada suhu 90°C selama satu jam. Residu berupa padatan dicuci dengan air sampai pH netral dan selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 80°C selama 24 jam. 2. Deproteinisasi Limbah udang yang telah dimineralisasi kemudian dicampur dengan larutan sodium hidroksida 3,5 persen dengan perbandingan antara pelarut dan cangkang udang 6:1. Selanjutnya dipanaskan pada suhu 90°C selama satu jam. Larutan lalu disaring dan didinginkan sehingga diperoleh residu padatan yang kemudian dicuci dengan air sampai pH netral dan dikeringkan pada suhu 80°C selama 24 jam. 3. Deasetilisasi khitin menjadi khitosan Khitosan dibuat dengan menambahkan sodium hidroksida (60 persen) dengan perbandingan 20:1 (pelarut dibanding khitin), lalu dipanaskan selama 90 menit dengan suhu 140°C. Larutan kemudian disaring untuk mendapatkan residu berupa padatan, lalu dilakukan pencucian dengan air sampai pH netral, kemudian dikeringkan dengan oven suhu 70°C selama 24 jam.

metode pengawetan dengan tekanan. dalam proses pengawetan harus diperhatikan mengenai kondisi kayu. serta sebagai polimer dalam bidang teknologi polimer. seperti Fusarium oxysporum dan Rhizoctania solani.Khitosan memiliki sifat larut dalam suatu larutan asam organik. perlakuan sebelum pengawetan terhadap kayu. seperti nyatoh kuning. perekat. Bahkan.5. pengawetan dengan khitosan dapat meningkatkan penampilan kayu dalam hal warna kayu menjadi lebih terang. pemanfaatan khitosan dari limbah cangkang udang untuk bahan pengawet kayu sangat menguntungkan karena bahan bakunya berupa limbah dan berasal dari sumber daya lokal (local content). pada dasarnya semua metode pengawetan kayu. Namun. untuk mendapatkan hasil yang bagus. bisa dipakai. Setelah khitosan diperoleh. Dari segi lingkungan. Sedangkan pelarut khitosan yang baik adalah asam asetat. Untuk ke depannya. Ini sesuai dengan sifat khitosan yang dapat membentuk lapisan film yang licin dan transparan. Maka dari itu.56 ton. Hal tersebut menunjukkan bahwa khitosan memiliki potensi sebagah bahan finishing yang mampu meningkatkan tekstur permukaan kayu. Pada saat ini khitosan banyak dimanfaatkan dalam bidang industri. Aplikasi khitosan sebagai bahan pengawet kayu terbukti efektif untuk menghambat pertumbuhan jamur pelapuk kayu dan beberapa jenis jamur lain. penstabil. metode difusi.266 ton. selama ini bahan pengawet yang sering digunakan merupakan bahan kimia beracun yang kurang ramah lingkungan dan unbiodegradable. dan pinus. Jumlah yang sangat besar mengingat sebagian besar bahan pengawet kayu yang digunakan selama ini masih diimpor sehingga akan menghemat devisa negara. sengon. Untuk ekstrasi khitin dari limbah cangkang udang rendemennya sebesar 20 persen. jenis bahan pengawet. sedangkan rendemen khitosan dari khitin yang diperoleh adalah sekitar 80 persen. akan menjadi alternatif bahan . serta meningkatkan derajat proteksi kayu terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah. kayu yang diawetkan dengan khitosan dengan metode perendaman teksturnya menjadi lebih halus. ramin. dan sap replacement method. Dari sisi ekonomi. Untuk kayu-kayu berwarna terang. tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya seperti dimetil sulfoksida dan juga tidak larut pada pH 6.642. akan diperoleh khitosan sebesar 81. dan konsentrasi bahan pengawet. Sebab. dengan mengekstrak limbah cangkang udang sebanyak 510. seperti untuk bahan pelapis. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh zat warna karotenoid yang terdapat pada udang. metode pengawetan. yaitu metode pengawetan tanpa tekanan. penggunaan khitosan sebagai bahan pengawet kayu relatif aman karena sifatnya yang non toxic dan biodegradable. dan kesehatan di luar negeri. perikanan. apabila limbah cangkang udang ini dikelola dengan teknologi yang tepat.

juga menambah masa pakai kayu yang nantinya akan dapat menghemat penggunaan kayu secara nasional sehingga dapat mencegah terjadinya peningkatan kerusakan hutan dan membantu merealisasikan asas pelestarian hutan.lipi. selain ramah lingkungan.pengawet murah. Karena pengawetan kayu dengan bahan pengawet alami.. S. dan bisa mendatangkan devisa negara jika diekspor ke luar negeri.go. Staff Peneliti di UPT Balai Litbang Biomaterial. Artikel ini diterbitkan di harian KOMPAS tanggal 15 Juli 2004.id/?p=162) .biomaterial. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. ramah lingkungan.Hut. – Penulis: Kurnia Wiji Prasetiyo. (http://www. alami.