MP3EI: Desain Pembangunan yang Menumpuk dan

Melanjutkan Ketimpangan dan Masalah Agraria Indonesia
Oleh: Dian Yanuardy - Sajogyo Institute
Dían Yanuardy
Sa|ogyo Instítute
MP3EI: Desaín Pembangunan
yang Menumpuk dan
Meían|utkan Ketímpangan
dan Masaíah Agraría
Indonesía
Ketímpangan Agraría Indonesía: Dua Lensa
Pertama, ketímpangan antara penguasaan ruang meíaíuí
konsesí pertambangan, kehutanan, perkebunan (dan
beíakangan----untuk ínfrastruktur atau restorasí ekosístem)
untuk perusahaan-perusahaan raksasa dengan ketímpangan
penguasaan íahan yang tersísa bagí aktíñtas produksí rakyat.
Iní beíum termasuk penguasan tanah untuk beragam macam
kawasan índustrí, paríwísata, dan índustrí propertí yang
kebanyakan dí|aíankan bukan meíaíuí konsesí, tetapí meíaíuí
transaksí tanah (íand deaís).
Kedua, ketímpangan penguasaan tanah dí antara
keíompok-keíompok masyarakat sendírí

Konsesi Hutan: Konsesí-konsesí berupa Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan
Hak Pengusahaan Hutan untuk Tanaman Industrí (HPHTI), yang merupakan dua
bentuk konsesí kehutanan terutama untuk ekstrasí kayu. Mísaínya, pada tahun
2005, íuas areaí konsesí kehutanan yang tersísa sekítar 28 |uta hektar yang
díkuasaí hanya oíeh 285 unít. Dengan íaín kata, setíap unít menguasaí sekítar
98.000 hektar íahan.
Konsesi Pertambangan: Kontak Karya (KK) pertambangan, Kuasa
Pertambangan (KP), dan Izín Usaha Pertambangan adaíah bentuk konsesí bagí
beroperasínya índustrí tambang skaía besar. Híngga tahun 1999 sa|a,
Departemen Pertambangan mengaíokasíkan sekítar 264,7 |uta hektar íahan
untuk 555 perusahaan pertambangan, baík perusahaan modaí daíam negerí
(swasta dan BUMN) dan perusahaan asíng, untuk kegíatan ekspíorasí dan
ekspíoítasí barang tambang. (Lebíh íuas darí wííayah Indonesía yang hanya 190
|uta ha?!) Dengan kata íaín, rata-rata setíap perusahaan menguasaí sekítar 0,5
|uta hektar tanah meíaíuí ízín konsesí pertambangan.
Konsesi Perkebunan: bíasa berupa Hak Guna Usaha (HGU) atau Izín Usaha
Perkebunan untuk berbagaí macam usaha perkebunan. Data tahun 2013 sa|a,
mísaínya, íebíh darí 13,5 |uta hektar díperuntukkan hanya untuk perkebunan
sawít. Lebíh darí separuhnya adaíah perkebunan mííík koorporasí (asíng,
domestík, perusahaan negara).


Beberapa Gambaran (1)
Penguasaan Tanah untuk industri Perumahan dan Pariwisata: Perusahaan yang
menguasai tanah untuk pengembangan kota-kota baru dan fasilitas pariwisata juga
berada dalam daftar tertinggi penguasaan tanah berskala besar dalam keseluruhan
struktur agraria di Ìndonesia pada saat ini. Data kuno, tahun 1994-95, menurut REÌ
(Real Estate Ìndonesia), 418 pengembang terlibat dalam pembangunan perumahan
dan pemukiman baru di atas lahan seluas 1,3 juta hektar.
Penguasaan Tanah untuk Kawasan Industri: ada beragam macam kawasan
industri: Kawasan Berikat, Kawasan Ìndustri, Kawasan Perhatian Ìnvestasi, dan
Kawasan Ekonomi Khusus. Di Bekasi saja, misalnya, terdapat sekitar 7.200 hektar
hanya untuk 23 kawasan industri utama.
Beberapa Gambaran (2)
Sementara, belum ada kebijakan yang secara efektif berhasil mengoreksi apalagi mengubah
struktur ketimpangan penguasaan sumber agraria tersebut..
Justru, pemerintah meluncurkan suatu desain pembangunan MP3EI (Master Plan untuk
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang berpotensi memperluas dan
memperdalam ketimpangan tersebut.
Kerangka InternasionaI atas Ketimpangan
2 Kata Kunci = Production block dan service link.
Konsepsi ini diinspirasi oleh praktik jaringan produksi
internasional yang dirancang oleh korporasi multinasional ]epang,
Korea, Taiwan, Amerika, Eropa, Australia, dll.
CADP (Comprehensive Asia
Development Plan)
sebagai lbu Kandung
MP3El: "Desain spasial
untuk infrastruktur
ekonomi dan penempatan
industri untuk
memperdalam integrasi
ekonomi dan
mempersempit gap
pembangunan"
CADP mendorong pembentukan koridor -koridor ekonomi:
GMS (Great Mekong Subregion): China, Vietnam, Kamboja, Laos,
Myanmar, dan Thailand
lMT: lndonesia, Malaysia , Thailand.
BlMP: Brunei Darussalam, lndonesia, Malaysia, Philippina.
WorId DeveIopment Report 2009: Reshaping Economic Geography
Mendorong aggIomerasi; mengarahkan bisnis ke Asia Timur
Dari CADP ke MP3El,
Melalui Berbagai lnisiatif
lnfrastruktur

Inisiatif FinaIisasi Badan
PeIaksana
WiIayah
Kerja
CADP Oktober 2010 East Asia
Summit
WiIayah
ASEAN
MPAC Oktober 2010 ASEAN ASEAN
IEDCs ApriI 2011 Indonesia Indonesia
MPA Desember
2010
Indonesia-Je
pang
Jakarta
MetropoIitan
Area
Dari CADP ke MP3EI
Sejak tahun 2010, pada level Asia, terdapat berbagai inisiatif
pembangunan, yang disuarakan sebagai "pembangunan
infrastruktur". lni dimulai sejak Oktober 2010, ERlA
mempublikasikan CADP dan Master Plan on Asean Connectivity
untuk kerangka inisiatif pembangunan infrastruktur.
Pada tahun 2009, ERlA melalui Boston Consulting Group
menyelesaikan penelitian tentang lndonesia Economic Development
Corridors (lEDCs). Kata kunci "konektivitas" dan hasil riset lEDCs
akhirnya diadopsi dan digunakan oleh Koordinator Kementerian
Urusan Ekonomi untuk menyusun MP3El.

II.
Bagaímana Organísasí
Negara Membuat MP3EI
Beker|a?
Koridor Ekonomi: Menggambar UIang Peta
Indonesia
MENGAKTIFKAN KORIDOR EKONOMI
Peta 41 KPI dari 160 KPI yang telah aktif
"Untuk mempercepat pembangunan, pada Mei 2011, kami meluncurkan
Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi lndonesia
2011 - 2025 (MP3El). Dalam waktu 14 tahun ke depan, kami menargetkan
460 miliar US $ untuk investasi di 22 kegiatan ekonomi utama, yang
terintegrasi dalam delapan program, yang mencakup pertambangan, energi,
industri, kelautan, pariwisata dan telekomunikasi.
(Pidato Pembukaan Presiden Republik lndonesia pada pertemuan Chief
Executife Omcer ]CEO| APEC, Nusa Dua, Bali 6 Oktober 2013)
Mendaku sebagai
Chief Salesperson
of lndonesia lnc.
"Akhirnya, dalam kapasitas saya sebagai Kepala
Pemasaran Perusahaan lndonesia (chief
salesperson of lndonesia lnc.), saya mengundang
anda untuk memperbesar bisnis dan kesempatan
investasi di lndonesia."
(Pidato Pembukaan Presiden Republik lndonesia pada
pertemuan Chief Executife Omcer ]CEO| APEC, Nusa Dua,
Bali 6 Oktober 2013)
MENJADI "KOMITE EKSEKUTIF" DARI
KELAS BORJUASI
STRUKTUR KP3EI
KETUA: PRESIDEN
WAKIL KETUA : WAKIL PRESIDEN
KETUA HARIAN: MENKO EKONOMI
WAKIL KETUA HARIAN 1: KEPALA BAPENAS
WAKIL KETUA 2: KETUA KOMITE EKONOMI NASIONAL
KP3EI disusun segaris dengan struktur pemerintahan.
Artinya, setiap pejabat negara secara Iangsung
merupakan para panitia peIaksana MP3EI. Ketua
Harian KP3EI, mengkoordinasikan Tim ReguIasi, Tim
Konektivitas, Tim SDM dan IPTEK, serta Tim Kerja di
Enam Koridor dan Sekretariat KP3EI.
MENYUSUN DAFTAR MEGA PROYEK
MELAYANI PENGUSAHA DENGAN INFRASTRUKTUR,
MEMERAS KERINGAT RAKYAT DENGAN MEMANGKAS SUBSIDI
III.
Darí Ketímpangan ke Krísís Sosíaí-Ekoíogís
(C) WALHÌ Kalsel 2013
Kasus 1: Tumpukan Konsesi, Dimana Ruang Hidup
Rakyat?

Saat ini ada 625 izin usaha
pertambangan (ÌUP), dan 19
PKP2B luas seluruh perizinan
mencapai 1.2 juta hektar

Ada 669 ribu ha ijin perkebunan
kelapa sawit, 210 ribu ha di
lahan rawa dari rencana realisasi
1,1 juta ha perkebunan

HPH sebesar 261.966,67 hektar,
ijin konsesi HTÌ seluas
383.683,46 ha.

Total perijinan 2,5 juta Ha (luas
daratan Kalsel 3,7 juta Ha)
HL = 433.677 Ha
(11,65%)
HL yg teIah dirambah oIeh
tambang = 142.523 Ha (33%)
.6777 Haa
ah diraammbbah oIeh
= 1142..5 5233 Haa (333%)
Sub DAS
Tabalong
Kerusakan Sistem Sub
Das :

Tabalong

Barito

Tapin

Riam Kiwa

Maluka

Tabonto

Kintap

Satui

Kusan

Sebamban

Cantung
Sub DAS
Satui
Sub DAS Riam
Kiwa
Krisis Manusia dan Lingkungan
KASUS 2:
Booming Nikel dan Percepatan Penghancuran Ekonomi
Rakyat
Andika (]aringan Advokasi Tambang)
Perampasan Tanah
Perampasan tanah terjadi di
Kabupaten Morowali berlangsung
karena:
Satu konsesi melalui penetapan
kontrak dalam wilayah tanah
pertanian warga
Melalui mekanisme ganti rugi
tanah. Masyarakat yang berada
dalam konsesi KK menjual tanah
mereka pada pemilik lUP.
Melalui penerbitan surat-surat
tanah dalam kawasan hutan
MP3El : Cerita di
Balik Hilirisasi
Penyerapan Tenaga Kerja pada masa Konstruksi
SmeIter , VaIe
Penyerapan Tenaga kerja seteIah smeIter VaIe
dibangun
HiIirisasi, yang artinya
adaIah menambahkan
kapitaI konstan,
mengakibatkan
pengusiran tenaga
kerja.
Memagari Laut dan Menyingkirkan Petani yy
Sejak tahun 2011, produksi
Keramba ikan nelayan
Kelurahan Bahoue
bangkrut total sejak PT
Mulia Paciñk Resources
membuang limbah tailing
ore ke Teluk Tolo
Kolonedale. Sebelumnya
kegiatan produksi keramba
ikan nelayan, dalam sehari,
mereka dapat meraup hasil
hingga 90 ribu rupiah dan
perbulan mencapai 2 juta
sembilan ratus ribu rupiah.
Selain itu, sebanyak 400
orang terkena penyakit
gatal-gatal akibat
mengkonsumsi ikan yang
telah tercemar oleh
limpasan limbah galian PT
MPR.
Kasus 3: BaIik HiIirisasi Sawit di KEK Sei Mangkei: EkspIoitasi Buruh
Kebun Sawit
HotIer P. Sitorus (Hutan Rakyat Institute)
Kehadiran KEK Sei Mangkei tidak
terIepas dari sejarah panjang
perkebunan keIapa sawit di
Sumatera Utara.
Paska pemberIakukan UU Agraria
1870, investasi asing di perkebunan
masuk secara massif. Di PuIau
Jawa, investasi asing bergerak di
sektor perkebunan tebu, sementara
di Sumatera Timur,
perusahaan-perusahaan asing ini
bergerak di sektor perkebunan
tembakau.
Pembukaan perkebunan tembakau
miIik swasta di Sumatera Timur
pada akhir abad ke-18 menandai
sebuah era baru daIam usaha
perkebunan tidak hanya tembakau,
tetapi juga komoditas karet dan
keIapa sawit di wiIayah Indonesia.
Infrastruktur untuk meIayani KEK Sei Mangkei
Kondisi-kondisi Buruh Perkebunan
Siapa Buruh Perkebunan Di Sumut?
Pada perkebunan Iama, buruh perkebunan
merupakan keturunan ketiga atau keempat dari
kuIi kontrak pada jaman BeIanda.
Pemilik tanah yang dirampas perkebunan
menjadi buruh untuk kelangsungan hidup
Saat ini, buruh untuk berbagai perkebunan
sawit di Sumatera Utara berasaI dari Nias.
Buruh Di Perkebunan
Perkebunan tidak mengaIami kendaIa daIam
memenuhi kebutuhan buruh karena keIimpahan
tenaga kerja terampiI dan murah hasiI
"peternakan".
Anak-anak buruh perkebunan merupakan
keIompok yang memiIiki kerbatasan mengakses
jaIan keIuar dari situasi ketertindasan. Mereka
iniIah yang menjadi sumber tenaga kerja yang
murah dan sudah terampiI.
Proses rekruitmen diIakukan secara tertutup,
hanya menerima tenaga kerja keturunan buruh atau
yang berasaI dari Iingkungan sekitar perkebunan.
Ketersediaan tenaga kerja terampiI ini dikondisikan
meIaIui rekruitmen warisan dimana karena
terbatasnya upah yang diterima buruh, sementara
beban kerja harus tercapai sesuai target kerja ,
maka cara yang ditempuh buruh adaIah
mengikutsertakan anak-anak bekerja "magang"
digaji oIeh bapaknya dan seteIah mencapai umur
kerja akan menggantikan bapaknya (pewarisan
kerja).
Pewarisan pekerjaan juga diIatarbeIakangi
oIeh kebijakan perkebunan "mengusir"
buruh yang pensiun dari pondokan.
Mengantisipasi "pengusiran" ini, maka
pekerjaan diwariskan kepada keturunannya
untuk menjamin adanya tempat tinggaI.
Status kerja buruh di Perkebunan
SKU (Syarat Kerja Umum/Utama) atau buruh
tetap. Mendapatkan fasiIitas Jamsostek,
perumahan, upah sesuai dengan PKB
(Perjanjian Kerja Bersama antara perkebunan
dengan SPSI) diterima 1.416.000/buIan. Upah
bisa berkurang jika kena denda.
BHL (Buruh Harian Lepas), terbagi menjadi 3
macam: (1) "BHL permanen", sistem &
beban kerja sama seperti SKU; tetapi kerja
20 hari/buIan. Upah harian sebesar 30-35
ribu/hari, tanpa jaminan sosiaI; (2) BHL semi
permanen, yaitu upahnya tergantung pada
fIuktuasi pencapaian kerja atau borongan,
tanpa jaminan sosiaI; (3) Outsourcing, yaitu
buruh yang bekerja hanya 4 jam/hari. Upah
12.000-15.000, tanpa jaminan sosiaI.
WaIaupun status mereka SKU atau BHL.
Sebagian besar tidak memiIiki bukti perikatan
kerja. Bukti perikatan kerja hanya berbentuk
sIip gaji atau kartu jamsostek
Kasus 4. Kehancuran PuIau-peuIau
KeciI dan Pesisir
Fahrudin MaIoko (WALHI MaIuku
Utara)
Di PuIau HaImahera teIah dibangun
dua pabrik FeronikeI
(PT. Antam di TeIuk BuIi, dan PT.
WBN di TeIuk Weda)
Babakan Tambang NikeI di HaImahera
Tahun 1978 - 2003 kegiatan pertambangan di Pulau Gebe
Tahun 1988 - ljin Pertambangan untuk PT. Weda Bay Nikel
untuk menambang dan membangun pabrik feronikel
Tahun 2000 - kegiatan Pertambangan di teluk Buli
Desentralisasi hingga 2009 - 2010, lUP keluar hingga 148
Struggle to Halt and Recover
Social-Ecological Crises
Radical
Reconñguration
of
State Function
Framing the Critique For The Coming Capitalist
Expansion
MP3El :
Production
of
Space Economy
Agrarian Changes
Property
relations
Labour
Regimes
Land use
and
ecosystem
services
Pertama, mungkinkah ketimpangan dan krisis
sosial-eokologis diselesaikan dengan moda pembangunan
yang berbasis-kapital7
Kedua, bagaimana memikirkan moda pembangunan yang
bertumpu pada tiga poros sekaligus: keselamatan
rakyat-produktiñtas sosial rakyat dan keselamatan layanan
alam7

RefIeksi

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful