KELOMPOK 7 Nama Anggota : 1. Immanuel Teguh P 2. Julfriner Sitopu 3. Lia Sandri 4. Liza Isnaini 5. Yohana C. 6. Albertus Febriyan B.Y 7.

Devi Henry W 8. Ikang Adji S.W Topik : 1. Pendekatan Neo-marxis dalam definisi masalah publik dan agenda settimg 2. Pendekatan kekuasaan dalam formulasi kebijakan publik Pembahasan 1: • Apa itu Neo-Marxis : Menurut Baran & Davis (2000) Neo-Marxism adalah sebuah aliran yang berkembang di abad ke 20 yang mengingatkan kepada awal tulisan Marx sebelum dipengaruhi oleh Engels. Aliran ini memusat pada idealisme dialektika dibanding fahaman materialisme dialektika yang menolak determinisme ekonomi awal Marx. Fahaman Neomarxist tidak mengamalkan perubahan secara evolusi. Menurut teori ini, transformasi boleh berlaku secara perlahan. Fahaman neomarxist memusatkan pada suatu revolusi psikologis bukan fizik, yang bermakna bahawa perubahan idea yang datang dari jiwa seseorang lebih penting daripada perubahan secara fisik. Neo Marxisme adalah aliran pemikiran Marx yang menolak penyempitan dan reduksi ajaran Karl Marx oleh Engels. Ajaran Marx yang dicoba diinterpretasikan oleh Engels ini adalah bentuk interpretasi yang kemudiannya dikenali sebagai “Marxisme” rasmi. Marxisme Engels ini adalah versi interpretasi yang digunakan oleh Lenin. Interpretasi Lenin nanti pada akhirnya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme (atau yang lebih dikenal dengan Komunisme). D0107065 D0107069 D0107071 D0107073 D0107105 D0107027 D0107007 D0107063

Di kalangan neo marxis dari Universitas Frankfurt Jerman timbul pemikiran baru yng dinamakan Teori Kritis. Sekolah Frankfurt menjadikan pemikiran Marx sebagai titik tolak pemikiran sosialnya. Tapi yang perlu harus diingat adalah bahwa Sekolah Frankfurt tetap mengambil semangat dan alur dasar pemikiran filosofis idealisme Jerman, yang dimulai dari pemikiran kritisisme ideal Immanuel Kant sampai pada puncak pemikiran kritisisme historis dialektisnya Georg William Friederich Hegel. Dengan sangat cerdas, sebagian besar pemikir dalam sekolah Franfurt berdialog dengan Karl Marx, Hegel dan I. Kant. (menekankan pada aspek komunisme tanpa kekerasan dan juga tidak mendukung kapitalisme) (http://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_internasional) • Asumsi Dasar Neo Marxis

Asumsi dasar dari neomarxisme itu sendiri adalah dunia ini bukanlah terpilah berdasarkan sovereignity yang dimiliki oleh negara sehingga menentukan batasbatasnya dalam sistem internasional. Tetapi yang diasumsikan oleh neomarxisme adalah sistem internasional yang terpilah berdasarkan kelas. Yaitu kelas kapitalis-eksploiter (dalam marxisme adalah borjuis) dan kelas negara dunia ketiga atau negara periphery (dalam marxisme adalah proletar) yang menjadi obyek eksploitasi karena memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara bermodal (kapital). (http://robinmandagie.blogspot.com/2009/05/critical-theory-asumsi-neomarxisme.html) • Perbedaan neo-marxisme dengan Marxis ortodoks dalam beberapa hal sebagai berikut:  Marxis ortodoks melihat imperialisme dari sudut pandang negara-negara utama (core countries), sebagai tahapan lebih lanjut dari perkembangan kapitalisme di Eropa Barat, yakni kapitalisme monopolistic, neo-marxisme melihat imperialisme dari sudut pandang negara pinggiran, dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperilalisme pada negara-negar dunia ketiga.  Marxis ortodoks cenderung berpendapat tentang tetap perlu berlakunya pelaksanaan dua tahapan revolusi. Revolusi borjuis harus terjadi lebih dahulu sebelum revolusi sosialis. Marxis ortodoks percaya bahwa borjuis progresif akan

terus melaksanakan revolusi borjuis yang tengah sedang berlangsung dinegara Dunia Ketiga dan hal ini merupakan kondisi awal yang diperlukan untuk terciptanya revolusi sosialis dikemudian hari. Dalam hal ini neo Marxisme percaya, bahwa negara Dunia Ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis.  Terakhir, jika revolusi soaialis terjadi, Marxisme ortodoks lebih suka pada pilihan percaya, bahwa revolusi itu dilakukan oleh kaum proletar industri di perkotaan. Dipihak lain, neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Cina dan Kuba. Ia berharap banyak pada kekuatan revolusioner dari para petani di pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat. (http://prari007luck.wordpress.com/2008/10/08/teori-dependensi/) • Kelemahan Neo Marxis

terjadi ketergantugan antara negara yang kuat (leading sector) dengan negara yang miskin (legging sectors) dimana perspektif ini cenderung untuk berfokus pada masalah pusat dan modal internasional sebagai penyebab kemiskinan dan keterbelakangan, daripada masalah pembentukan klas-klas lokal. (http://one.indoskripsi.com/node/8190) • Kelebihan Neo Marxis

Perspektif Neo-Marxis/ Depedencia , Bertujuan untuk mengupayakan pertumbuhan, pemerataan dan juga otonomi nasional. Peran negara dalam perspektif Neo Marxis ini bersifat primer, dan usaha ditujukan untuk menghadapi kapitalis dunia. Sifat dari sistem internasional lebih cenderung merugikan si lemah. (http://one.indoskripsi.com/node/8190) • Tokoh Dalam Neo Marxis

Tokoh neomarxisme adalah Georg Lukacs dan Karl Korsch, Ernst Bloch, Leszek Kolakowski dan Adam Schaff. (http://araslaode.blogdetik.com/2009/07/29/teori-kritis-dalam-komunikasi-politik/)

Definisi Masalah Publik : Masalah publik adalah suatu kondisi atau situasi yang menimbulkan kebutuhan

atau ketidakpuasan pada sebagian orang yang menginginkan pertolongan atau perbaikan. (Winarno, Budi. 2007. Kebijakan Publik : Teori dan Proses. Yogyakarta: Media Pressindo, halm: 70 ) • Definisi Agenda setting :

Agenda setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam realitas kebijakan publik. Dalam proses inilah ruang untuk memaknai apa yang disebut sebagai masalah publik dan prioritas dalam agenda publik dipertarungkan. Dalam proses ini, jika sebuah isu berhasil mendapatkan status sebagai masalah publik, dan mendapatkan prioritas dalam agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih daripada isu lain. (agenda setting adalah proses kompetisi antara isu-isu tertentu untuk mendapatkan perhatian atau prioritas dari pembuat kebijakan).

Pembahasan 2 : • Pengertian Kekuasaan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi (Ramlan

 Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan Surbakti,1992).  Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia utk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yg mempunyai kekuasaan (Miriam Budiardjo 1984 :35).  Jadi kekuasaan merupakan hasil dari suatu hubungan, antara seorang atau sekelompok orang yang satu terhadap yg lainnya. Seseorang dapat memiliki sebuah kekuasaan jika ia memiliki pengaruh yang lebih besar daripada yang

dimiliki orang lain. Biasanya besarnya pengaruh atau kekuasaan yang dimiliki seseorang atau kelompok dilihat dari kuantitas sumber daya politik yang dimiliki serta luas wilayah kekuasaannya. Sumber daya politik sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat mempengaruhi orang lain, dapat berupa kekayaan, kedudukan, kekuatan dan lainlain yang tidak dimiliki orang lain.  Kekuasaan dalam politik dapat diartikan sebagai kewenangan yaitu kemampuan untuk membuat orang lain melakukan suatu hal dengan dasar hukum atau mandat yang diperoleh dari suatu kuasa.  Kekuasaan politik dapat dirumuskan sebagai kemampuan menggunakan sumbersumber pengaruh untuk mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik sehingga keputusan itu menguntungkan dirinya, kelompoknya ataupun masyarakat pada umumnya. (http://www.ahmadheryawan.com/kolom/94-kolom/3840-kekuasaan-politik.html) • • • Konsep-konsep yang berkaitan dengan kekuasaan : Influence (pengaruh), kemampuan untuk memengaruhi orang lain agar orang tersebut mau mengubah sikap dan perilakunya secara sukarela. Force, penggunaan tekanan nonfisik guna bertindak sesuai dengan kehendak yang memerintah, seperti rasa takut ataupun membatasi pemenuhan kebutuhan biologis (makan dan minum) terhadap pihak lain. • Persuasion (persuasi), yaitu kekuasaan yang bersinggungan dengan kemampuan pemberi-perintah dalam meyakinkan orang lain dengan argumentasi logisrasional untuk melakukan sesuatu. • Manipulation (manipulasi), penggunaan pengaruh, di mana orang yang dipengaruhi tidak menyadari bahwa tingkah lakunya sebenarnya sedang mematuhi keinginan pemegang kekuasaan. • Coercion/coercive, peragaan kekuasaan atau ancaman paksaan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok (biasanya menyertakan tindakan fisik/kekerasan)terhadap pihak lain agar bersikap dan berperilaku sesuai dengan kehendak pihak pemilik kekuasaan, termasuk sikap dan perilaku yang bertentangan dengan kehendak yang dipengaruhi.

Authority (kewenangan), atau dalam bahasa Max Weber sebagai otoritas legalformal, di mana seseorang m.emiliki kekuasaan oleh karena legalitas yang melekat dalam dirinya

(Kuliah Pengantar Ilmu Politik oleh Dwi Wahyu Handayani,S.IP.,M.Si. “Kekuasaan, Pengaruh dan Legitimasi”) • ADA 2 SIFAT KEKUASAAN YAITU : Merupakan Kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada individu sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang dapat mempengaruhi dan merubah pemikiran orang lain atau kelompok untuk melakukan suatu tindakan yang diinginkan oleh pemegang kekuasaan dengan sungguh-sungguh dan atau bukan karena paksaan baik secara fisik maupun mental. 2. Kekuasaan bersifat Negatif Merupakan sifat atau watak dari seseorang yang bernuansa arogan, egois, serta apatis dalam mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan tindakan yang diinginkan oleh pemegang kuasa dengan cara paksaan atau tekanan baik secara fisik maupun mental. Biasanya pemegang kekuasaan yang bersifat negatif ini tidak memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang baik,mereka hanya berfikir pendek dalam mengambil keputusan tanpa melakukan pemikiran yang tajam dalam mengambil suatu tindakan, bahkan mereka sendiri terkadang tidak dapat menjalankan segala perintah yang mereka perintahkan kepada orang atau kelompok yang berada di bawah kekuasannya karena keterbatasan daya pikir tadi. dan biasanya kekuasaan dengan karakter negatif tersebut hanya mencari keuntungan pribadi atau golongan di atas kekuasannya itu. karena mereka tidak memiliki kemampuan atau modal apapun selain kekuasaan untuk menghasilkan apapun, dan para pemegang kekuasaan bersifat negatif tersebut biasanya tidak akan berlangsung lama karena tidak akan mendapatkan dukungan sepenuhnya oleh rakyatnya. (http://faridatulistibsaroh-ums.blogspot.com/2009/03/kekuasaan-pembagian-danalokasinya.html) • PENDEKATAN KEKUASAAN (AUTHORITY APPROACH) DALAM

1. Kekuasaan bersifat positif

FORMULASI KEBIJAKAN Kekuasaan dipandang sebagai gejala yang selalu terdapat dalam proses politik. Hasrat untuk memiliki kekuasaan merupakan keadaan alamiah manusia, persis seperti yang dimaksudkan oleh Sartre dan Nietsche. Bagi Sartre, kebutuhan dasar manusia adalah dianggap penting dan dihargai. Sementara bagi Nietsche, manusia pada dasarnya selalu didorong oleh hasrat untuk menjadi manusia super, manusia yang berkuasa. Dalam konteks kedudukan politis, boleh jadi hasrat manusia alamiah inilah yang mendorong seseorang mengejar kekuasaan politik. Dalam pendekatan kekuasaan para pelakunya menggunakan kekuasaan (power) untuk saling memberikan pengaruh satu sama lain agar dapat mencapai tujuan masingmasing. Pendekatan kekuasaan cenderung tidak memberi ruang lingkup lawan politik untuk mengungkapkan aspirasinya (di dalamnya terdapat kepentingan). Pendekatan itu cenderung berusaha memenangkan “pertempuran” secara mutlak. Hanya boleh ada satu pemenang dalam sebuah pertempuran (zero sum game). Kelebihan dari pendekatan kekuasaan adalah ketika dalam membuat kebijakan para atasan langsung dapat menyusun kebijakan tersebut tanpa harus meminta pertimbangan dari para bawahan sehingga dalam membuat formulasi kebijakan waktunya lebih efisien. Kelemahan dari pendekatan kekuasaan adalah bawahan tidak dapat menolak perintah dari atasan karena kebijakan-kebijakan hanya dibuat oleh para atasan sedangkan bawahan hanya melaksanakan perintah tanpa diberi kesempatan untuk memberikan pendapat. Seperti halnya dengan sistem administrasi di Indonesia. Para politikus sebagai pihak atasan dan administrator atau PNS sebagai bawahan. Segala keputusan dan kebijakan misalnya tentang HAM, demokrasi, dan lain-lain, dibuat oleh para politikus. Sedangkan para administrator hanya menjalankan segala keputusan tersebut tanpa bisa membantah apa yang diperintahkan. Namun, jika para politikus dalam membuat kebijakan dirasa seperti diktator, maka akan menimbulkan gesekan-gesekan antara para administrator dengan politikus itu sendiri yang dapat memicu ke arah unjuk rasa para administrator atau birokrat. (http://www.unisosdem.org/article_fullversion.php? aid=7433&coid=3&caid=31&gid=2)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful