You are on page 1of 36

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Telah genap 4 acara dilewati oleh para praktikan kristalografi dan mineralogy, mulai dari acara praktikum kristalografi sampai pada acara terakhir, asosiasi mineral dalam batuan, namun, tidaklah terasa lengkap apabila tidak ada aplikasi secara langsung dari pembelajaraan di praktikum-praktikum tersebut, oleh karena itu, diadakanlah field trip kristalografi dan mineralogy, guna mengamati kondisi sesunguhnya di lapangan apa yang kita telah pelajari selama ini.

I.2 Maksud dan Tujuan Mempelajari materi tanpa mengetahui kondisi sesunguhnya adalah suatu hal yang salah, maksud dari fieldtrip kali ini ialah memperkenalkan kondisi fisik dari suatu mineral di alam, sembari mempelajari kondisi geologi lingkungannya, dan lingkungan pembentukan mineral itu sendiri, selain itu, sebagai suatu ajang pengaplikasian materi yang telah diberikan, tentu dengan tujuan agar dapat menunjang dan melengkapi ilmu yang telah di dapat pada praktikum-praktikum sebelumnya.

I.3 Lokasi dan Waktu Pengamatan Fieldtrip Kristalografi dan Mineralogi dilaksanakan di daerah Kulon Progo, dan sekitarnya, yang berjarak 30 km dari kota Yogyakarta, dengan tata urutan perjalanan Yogyakarta (kampus teknik) - Kenteng Dengok Congot Pantai Glagah Yogyakarta, dengan menggunakan bus, sedangkan untuk mencapai lokasi lokasi pengamatan dilakukan dengan berjalan kaki. Perjalanan dimulai pada sabtu pagi, tanggal 6 Desember 2008, dan diakhiri pada hari yang sama pukul 18.00 WIB, adapun letak dari stasiun dan lokasi pengamatan yaitu,

1. Stasiun pengamatan 1, terletak pada tepi jalan di wilayah Kenteng, dengan lokasi pengamatan yang berdekatan diantara jalan raya di daerah tersebut. 2. Stasiun pengamatan 2, terletak pada daerah Dengok, dengan 2 lokasi pengamatan yang berdekatan. 3. Stasiun pengamatan 3, terletak pada daerah Congot, dengan sebuah lokasi pengamatan. 4. Stasiun pengamatan 4, terletak pada pantai Glagah. I.4 Alat alat yang digunakan dan Metode Pendekatan Peralatan yang dibawa mempunyai fungsi tersendirim sehingga menjadi prasyarat untuk mengikuti field trip ini. Adapun perlengkapan yang dibawa terbagi 2 yaitu peralatan pribadi dan peralatan kelompok. I. Perlengkapan kelompok, yaitu: 1. Lup Fungsi: Untuk melihat kenampakan mineral dalam batuan pada singkapan dengan jelas 2. Kompas Geologi Fungsi: Untuk mengukur strike, kelerengan, dip dan untuk menentukan posisi obyek dan pengamat dalam peta 3. HCL 0,1 M Fungsi: Untuk mengeuji apakah suatu batuan mengandung karbonatan 4. Palu Geologi Fungsi: Untuk membuka singkapan, mengambil sampel batuan, mengetahui kekompakan batuan, dan sebagai pembanding dalam mengambil foto singkapan batuan 5. Kamera Fungsi: Untuk mengambil kenampakan yang ada selama dilapangan 6. Spidol Anti Air

Fungsi: Untuk memberi keterangan dan nomor pada plastik sample 7. Plastik Sampel Fungsi: Untuk menempatkan sample batuan dari lapangan II. Perlengkapan perorangan, yaitu: 1. Alat tulis / gambar Pensil Pensil warna Sepasang mistar segitiga Busur derajat Karet penghapus Ball point Buku catatan lapangan (field note) Clip Board

2. Peta topografi 3. Topi 4. Tas lapangan 5. Minuman dan makanan 6. Obat obatan bagi yang memerlukan 7. Payung atau jas hujan Dalam melakukan penyusunan laporan fieldtrip Kristalografi dan Mineralogi praktikan menggunakan metode penyusunan laporan dengan tahap tahap sebagai berikut: 1. Studi Pustaka daerah pengamatan. 2. Melakukan pengamatan lansung pada lapangan, mengambil sampel dan membuat sketsa daerah pengamatan. 3. Mengkaji data yang diperoleh dari pengamatan di lapangan 4. Studi Pustaka dan korelasi data. 5. Menyusun laporan fieldtrip.

BAB II TINJAUAN GEOLOGI REGIONAL

II.1 Geomorfologi Regional Van Bemmelen (1948), berdasarkan penelitiannya secara fisiografis dapat membagi Jawa Tengah menjadi 3 zona, yaitu: 1. Zone Jawa Tengah bagian utara yang merupakan Zone Lipatan 2. Zone Jawa Tengah bagian tengah yang merupakan Zone Depresi 3. Zone Jawa Tengah bagian selatan yang merupakan Zone Plato. Menurut letaknya, daerah Kulon Progo merupakan bagian dari zona Jawa Tengah bagian selatan sehingga daerah ini merupakan suatu plato. Plato ini sangat luas yang terkenal dengan nama Plato Jonggrangan (Van Bemmelen, 1948). Bagian utara dan timur Kulon Progo ini dibatasi oleh dataran pantai Samudera Indonesia dan bagian barat laut berhubungan dengan Pegunungan Serayu Selatan. Daerah Kulon Progo ini merupakan daerah uplift yang membentuk dome yang luas. Dome tersebut terbentuk relatif persegi panjang dengan diameter berarah utara selatan dengan panjang mencapai 32 km dan pada arah barat timur diperkirakan mencapai 15 20 km. Dengan demikian puncak dari dome tersebut berupa dataran yang sangat luas yang disebut dengan Plato Jonggrangan. Sehingga dengan demikian Van Bemmelen memberikan nama pada dome yang terdapat pada pegunungan Kulon Progo ini dengan nama Oblong Dome. Berdasarkan relief dan genesanya, daerah kabupaten Kulon Progo dibagi menjadi beberapa satuan geomorfologi , diantaranya adalah : A. Satuan Pegunungan Kulon Progo Pegunungan Kulon Progo ini memiliki ketinggian berkisar antara 100 1200 meter di atas permukaan laut dan besar kelerengannya berkisar antara 15 600. Penyebaran dari satuan pegunungan Kulon Progo ini memanjang dari selatan ke utara dan menempati bagian barat DI Yokyakarta yang meliputi kecamatan Kokap, Girimulyo dan Samigaluh.

Daerah yang berada pada kawasan Pegunungan Kulon Progo ini umumnya digunakan sebagai kebun campuran, sawah, tegalan dan pemukiman. B. Satuan Perbukitan Sentolo Perbukitan Sentolo ini memiliki ketinggian yang berkisar antara 50 150 m di atas permukaan laut dengan besar rerata kelerengan 15%. Satuan perbukitan Sentolo ini meliputi daerah kecamatan pengasih dan Sentolo. Satuan perbukitan ini memiliki penyebaran yang sempit dan terpotong oleh sungai yang memisahkan wilayah kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul. C. Satuan Teras Progo Satuan teras Progo ini terletak di sebelah utara satuan perbukitan Sentolo dan di sebelah timur pegunungan Kulon Progo. Satuan teras Progo ini meliputi daerah kecamatan Nanggulan daerah tepi Kulon Progo. D. Satuan Dataran Aluvial Penyebaran satuan dataran aluvial ini memanjang dari barat ke timur yang meliputi kecamatan Panjatan, Temon, Wates, Galuh, Panjatan dan sebagian daerah Lendah. Daerah dataran aluvial ini relatif landai sehingga sebagian besar digunakan pemukiman penduduk. E. Satuan Dataran Pantai 1. Subsatuan Gumuk Pasir Subsatuan Gumuk Pasir ini memiliki penyebaran di sepanjang pantai selatan Yokyakarta, yaitu pantai Glagah dan Congot. Sungai yang bermuara di pantai selatan ini adalah kali Serang dan kali Progo yang membawa material material berukuran pasir dari hulu ke muara. Oleh sebab itu aktivitas angin material tersebut terendapkan di sepanjang pantai dan kemudian membentuk gumuk gumuk pasir. 2. Subsatuan Dataran Aluvial Pantai Subsatuan dataran pantai terletak di sebelah utara subsatuan gumuk pasir yang tersusun oleh material berukuran pasir halus yang berasal sebagai lahan persawahan dan dan Kali Bawang, terutama di

dari subsatuan gumuk pasir oleh kegiatan angin. Pada subsatuan dataran aluvial pantai ini tidak dijumpai gumuk gumuk pasir namun sebagian dari daerah ini digunakan sebagai daerah persawahan dan pemukiman penduduk.

II.2 Stratigrafi Regional Di bagian timur mandala Serayu adalah cekungan Kulon Progo yang secara stratigrafis mempunyai susunan litologi yang berbeda dari daerah di sekitarnya. Susunan stratigrafi Kulon Progo dari tua ke muda adalah: 1. Formasi Nanggulan Formasi Nanggulan menempati daerah dengan morfologi perbukitan bergelombang rendah hingga menengah dan tersebar merata di daerah nanggulan (bagian timur Pegungungan Kulon Proga). Secara setempat formasi ini juga dijumpai di daerah Sermo, Gandul dan Kokap yang berupa lensa lensa atau blok xenolith dalam batuan beku andesit. Formasi nanggulan mempunyai tipe lokasi di daerah Kalisongo, Nanggulan. Formasi ini tersingkap di bagian timur Kulon Progo, di daerah Sungai Progo dan Sungai Puru. Terbagi menjadi 3, yaitu: a. Axinea Beds yaitu formasi yang terletak paling bawah dengan ketebalan 40 meter, merupakan tipe endapan laut dangkal yang terdiri dari batupasir, batuserpih dengan perselingan napal dan lignit yang semuanya berfasies litoral. Axinea Beds ini banyak mengandung fosil Pelecypoda. b. Yogyakarta Beds yaitu formasi yang terendapkan secara selaras di atas Axinea Beds dengan ketebalan 60 meter. Terdiri dari napal pasiran berselang seling dengan batupasir dan batulempung yang mengandung Nummulities djogjakartae. c. Discocyclina Beds yaitu formasi yang diendapkan secara selaras di atas Yogyakarta Beds dengan ketebalan 200 meter. Terdiri dari napal dan batugamping berselingan dengan batupasir dan serpih. Semakin ke atas bagian ini berkembang kandungan foraminifera planktonik yang melimpah.

Secara keseluruhan ketebalan formasi ini diperkirakan mencapai 300 m dengan umur Eosen Tengah Oligosen Akhir (P14 P16) (Suyanto dan Roskamil, 1975). 2. Formasi Andesit Tua Secara tidak selaras di atas formasi Nanggulan diendapkan Formasi Andesit Tua. Formasi ini tersusun atas breksi andesit, tuf, lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit. formasi ini tersingkap baik di bagian tengah, utara dan barat daya daerah Kulonprogo yang membentuk morfologi pegunungan bergelombang sedang hingga terjal. Ketebalan formasi ini diperkirakan hingga mencapai 600 meter. Berdasarkan fosil foraminifera planktonik yang dijumpai dalam napal ditentukan umur Formasi Andesit Tua yaitu Oligosen Atas. 3. Formasi Jonggrangan Di atas formasi andesit tua diendapkan Formasi Jonggrangan secara tidak selaras. Formasi ini secara umum, bagian bawah terdiri dari konglomerat, napal tufan, dan batupasir gampingan dengan kandungan Moluska serta batulempung dan sisipan lignit. Di bagian atas komposisi Formasi ini berupa batu gamping berlapis dan batugamping koral. Morfologi yang terbentuk dari batuan penyusun formasi ini berupa pegunungan dan perbukitan kerucut dan tersebar di bagian utara pegunungan Kulonprogo. Ketebalan batuan penyusun formasi ini 250 - 400 meter dan berumur Miosen Bawah Miosen Tengah.

4. Formasi Sentolo Di atas Formasi Andesit Tua, selain Formasi Jonggrangan, diendapkan juga secara tidak selaras Formasi Sentolo. Hubungan Formasi Sentolo dengan Formasi Jonggrangan adalah saling menjari. Formasi sentolo mempunyai tipe di daerah sentolo. Bagian bawah berupa batu gamping, batu pasir napalan, napal pasiran dan napal tufan. Sementara semakin ke atas berkembang menjadi batugamping berlapis dengan kandungan fosil foraminifera dan fragmen koral. Umur formasi ini berkisar N8 N15 (Miosen Awal Pliosen). Penyebaran Formasi Sentolo meliputi daerah bagian tenggara dari pegunungan Kulonprogo

dengan kenampakan morfologi berupa perbukitan bergelombang rendah hingga perbukitan bergelombang tinggi. 5. Formasi Wates dan Formasi Yogyakarta Di atas batuan batuan yang lebih tua diendakan Formasi Wates dan Formasi Yogyakarta sebagai formasi termuda yang berumur resen (holosen). Formasi Wates terdiri dari material lepas hasil transportasi permukaan dan sedimentasi sungai saat ini seperti Sungai Progo dan Sungai Bogowonto. Formasi Wates tersebar di bagian selatan dan baratdaya Pegunungan Kulonprogo hingga berbatasan dengan Samudra Indonesia. Formasi Yogyakarta mempunyai penyebaran di bagian timur pegunungan Kulonprogo dengan kenampakan morfologi berupa daratan. Komonen penyusun formasi ini berupa material lepas produk Gunung Merapi Tua dan Merapi Muda.

II.3 Struktur Geologi Regional Secara struktur, Pegunungan Kulonprogo merupakan tinggian yang dicirikan oleh adanya kompleks gunungapi purba yang berada di atas batuan berumur Paleogen dan ditutup oleh batuan karbonat yang berumur Neogen. Van Bemmelen (1949) menyatakan bahwa pegunungan Kulonprogo telah mengalami beberapakali tektonik. Tektonik pertama terjadi setelah pembentukan Formasi Nanggulan yaitu opada kala Oligo Miosen. Saat itu terbentuk Gunungapi Ijo, Gadjah dan Menoreh yang merupakan inti kubah Pegunungan Kulonprogo. Setelah itu terbentuk Formasi Andesit Tua. Pada awal Miosen Atas terjadi penurunan yang mengakibatkan terjadi penggenangan. Pada saat itu terendapkan Formasi Jonggrangan dan Formasi Sentolo yang saling menjari. Pada awal Pleistosen, semua daerah Kulonprogo mengalami pengangkatan sehingga terbentuk morfologi tinggian dan terbentuk beberapa lipatan. Menurut suroso (1986) di kulonprogo dijumpai sesar sesar normal yang menunjukan pola radier disekitar tubuh kubah terobosan yang masih cukup ideal. Secara garis besar struktur geologi daerah Kabupaten Kulon Progo dapat dibagi menjadi dua yaitu Struktur Dome dan Struktur Unconfirmity.

1. Struktur Dome Kabupaten Kulon Progo termasuk ke dalam daerah dome yang puncaknya berupa daratan yang luas, biasa disebut Plato Jonggrangan. Proses geologi yang banyak terjadi yakni orogenesis. Struktur dome ini membuat batuan yang tersingkap mempunyai kemiringan yang relatif landai karena adanya pengangkatan setelah pengendapan batuan di bawahnya. Dome ini berasal dari kala Meiosen. Karena tidak ditemukannya perlapisan pada kala Pleiosen sampai kala Pleistosen van Bemmelen menyebut dome ini sebagai Oblong Dome. 2. Struktur Unconfirmity Pada perbatasan antara Eosen atas dari Formasi Nanggulan dengan Formasi Andesit Tua yang berumur Oligosen terdapat ketidakselarasan berupa disconfirmity, karena lapisan lebih muda dengan lapisan lebih tua terpaut umur yang sangat jauh walaupun lapisannya sejajar.

BAB III PEMBAHASAN KONDISI GEOLOGI DAERAH PENGAMATAN

III.1 Stasiun Pengamatan 1 Stasiun pengamatan in terletak pada jalan raya di Kenteng, antara Kenteng dan Watumurah, disekitar kali bawang, pada stasiun pengamatan ini terdapat dua buah Lokasi Pengamatan (LP), di tiap lokasi pengamatan pengunaan kompas geologi mulai diaplikasikan untuk mengukur posisi dua buah LP di sepanjang jalan, dengan cara menembak Gunung Mudjil dan Gunung Prau. Satuan geomorfologi yang dapat teramati dari stasiun pengamatan ini ialah adanya topografi perbukitan, topografi bergelombang serta topografi dataran, dengan morfogenesis ialah bentang alam fluvial. Pada daerah ini terdapat dataran ialah sebelah timur dari stasiun pengamatan dan sebelah barat dari stasiun pengamatan adalah topografi perbukitan, dengan morfogenesis bentang alam struktural. Deskripsi lebih lanjut ada pada pembahasan tiap Lokasi Pengamatan.

III.1a Lokasi Pengamatan 1 Letak lokasi pengamatan ini ialah N 250 E dari Gunung Prau, dan N 342 E dari gunung Mudjil, yang berada pada pinggir jalan raya daerah Kenteng di sebelah irigasi buatan manusia yang tidak terdapat pada peta. Daerah ini mempunyai geomorfologi berupa dataran bergelombang, namun kearah barat merupakan perbukitan. Bentuk divide dari LP 1 ini ialah cembung. Daerah dataran bergelombang mempunyai materi penyusun (litologi) berupa batu lempung pasiran, yang merupakan endapan alluvial di zaman kuarter ini (menurut peta geologi regional tahun 1995 ialah endapan kolovium, namun ternyata berbeda pada keadaan sesunguhnya), sedangkan Gunung Mudjil dan Prau memiliki litologi berupa batu Breksi andesit, gunung Mudjil dan Gunung Prau merupakan isolated hill in layer, karena perbukitan yang mempunyai litologi yang lebih tua dikelilingi oleh yang lebih muda, serta daerah perbukiatan disini

10

dikelilingi oleh dataran disekelilingnya yang umumnya merupakan daerah persawahan. Litologi di daerah persawahan berupa batu lempung pasiran dengan deskripsi sebagai berikut: Nama batuan Warna Tekstur batuan Struktur Komposisi Mineral : Batulempung pasiran : Coklat tua : Klastik : Laminasi : Mineral mineral berukuran lempung dan pasir Deskripsi fisik mineral mineral berukuran lempung: Berwarna coklat, kilap tanah, cerat coklat, kekerasan tidak dapat diuji, belahan tidak ada, pecahan tidak rata, bentuk amorf, sifat dalam fleksibel, kemagnetan diamagnetik, sifat lain opak.

Pada lokasi pengamatan ini didapati beberapa jenis mineral yaitu : Limonit, Kuarts, Gipsum, dan Hematit, mineral mineral ini di dapat pada daerah sebelah selatan dari lokasi pengamatan, dimana tempat penemuannya ialah pada sebuah kali kecil (Kuarts) dan berasosiasi dengan mineral lempung (Gipsum, Limonit, Hematit).

(a)

(b)

11

Gambar 1, Mineral Limonit (a) dan Mineral Gipsum (b) (lensa kamera menghadap utara)

Kuarts yang ditemukan bukanlah terbentuk pada tenpat dia ditemukan, kuarsa terbentuk pada proses magmatism. kuarsa yang terdapat disini telah dibawa oleh aliran air, bentuk dari kuarsa sendiri mengindikasikan hal tersebut.

(a) Gambar 2, Lokasi penemuan Kuarts

(b)

(kepala palu menunjuk arah barat (a) lensa kamera menghadap selatan (b))

Berikut ini ialah deskripsi fisik dari mineral yang di dapat : 1. GYPSUM (CaSO4.2H2O) Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Struktur Berat jenis : tidak berwarna : kaca : 2 : Putih : Sempurna : berserat : amorf : Menyerat : 2.32
Gambar 3, GYPSUM

12

Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan

: Sectile : diamagnetik : Opaque : Termasuk ke dalam golongan sulfat karena mengandung gugus anion SO42-

Sistem kristal : Monoklin Kegunaan Genesa : Digunakan dalam bidang kedokteran, dekorasi interior, penggosok papan dan karet untuk konstruksi : Alterasi dari anhydrite atau endapan dari larutan ( Krauss, 1951 : 334 )

2. QUARTZ(SiO2): Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Struktur Berat jenis Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan : Putih : Kaca : 7 : Putih : Tidak menentu : Konkoidal : Amorf : Nodular : 2.65 : rapuh : diamagnetik : translucent : Termasuk ke dalam golongan silikat karena mengandung unsur Si yang berikatan dengan unsur O. Sistem kristal Kegunaan Genesa : Hexagonal : Sebagai perhiasan, bahan baku pembuatan kaca : proses Magmatis
Gambar 4, QUARTZ

13

( Klein, 2002 : 545 )

3. HEMATITE (Fe2O3): Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Struktur Berat jenis Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan Sistem kristal Kegunaan Genesa : Merah : tanah : 5.5 6.5 : merah : Tidak menentu : uneven : Amorf : nodular : 2.65 : rapuh : diamagnetik : Opaque : Termasuk ke dalam golongan oksida karena mempunyai anion O: rombhohedral : bijih besi : Oksidasi dari batuan yang banyak mengandung besi
Gambar 5, HEMATITE

LIMONITE (FeOOH.nH2O): Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk : Coklat Kekuningan : tanah : 5.5 : kuning kecoklatan : Tidak menentu : Konkoidal : Amorf

14

Struktur Berat jenis Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan Sistem kristal Kegunaan Genesa

: Nodular : 4 : rapuh : diamagnetik : Opaque : Termasuk ke dalam golongan oksida karena mempunyai anion O: Orthorombic : Sebagai perhiasan, bahan baku pembuatan kaca : Dekomposisi dari pyrite, atau hidrasi batuan yang mengandung besi
Gambar 6, LIMONITE

Litologi batuan lempung pasiran bukanlah material baik sebagai penopang jalan, sehingga didapati jalan yang rusak diatas batuan lempung pasiran tersebut, kerusakan ini berupa amblesnya jalan aspal tersebut dan juga terjadi retakan retakan.

(a)

(b)

Gambar 7, Kerusakan jalan yang terjadi Tampak adanya retakan retakan dan amblesan dari jalan, sebagai akibat dari batuan penopang jalan yang kurang baik (lensa kamera menghadap utara)

15

III.1b Lokasi Pengamatan 2 Letak lokasi pengamatan ini ialah N 317 E dari gunung Mudjil, yang berada pada pinggir jalan raya daerah Kenteng, dan sebelah timur dari LP 1. Daerah ini mempunyai geomorfologi berupa dataran, namun kearah barat merupakan perbukitan. Bentuk divide dari LP 2 ini ialah cekung. Daerah ini ialah daerah endapan Quartenary Alluvium, Dikatakan bentang alam aluvial karena pada daerah ini terdapat endapan aluvial yaitu endapan yang dihasilkan oleh erosi sungai dan proses proses fluvial masih terjadi pada daerah ini. Endapan Fluvial yang terbentuk berasal dari anak Sungai Progo, dilihat dari stratigrafinya merupakan endapan alluvium karena terbentuk pada kala holosen. Di sebelah barat banyak terdapat perbukitan dan pegunungan sehingga disebut bentang alam structural. Pada LP 2 ini, padi menjadi vegetasi yang dominan, karena pengunnaan lahan secara garis besar untuk persawahan. Daerah dataran yang ber-divide cekung ini merupakan daerah yang berpotensi tinggi terkena banjir akibat luapan dari kali-kali disekitarnya.

Gambar 8, Lokasi Pengamatan 2 (tampak gunung Mudjil)

16

III.2 Stasiun Pengamatan 2 Stasiun ini terletak pada daerah Dengok, dengan 2 Lokasi pengamatan, lokasi pertama menunjukan Formasi Andesit Tua, sedangkan pada Lokasi Pengamatan kedua dijumpai formasi sentolo serta kontak antar 2 formasi tersebut. Pada stasiun ini, kompas geologi digunakan untuk menghitung kemiringan lereng, dengan perbandingan antara 2 orang yang memiliki tinggi sama, serta dilakukan pengukuran dip dan strike dari perlapisan batuan. Palu geologi pun akhirnya terpakai untuk memecah batuan sebagai sampel.

III.2a Lokasi Pengamatan 1 Lokasi pengamatan ini terletak agak kedalam dari arah jalan, posisinya ialah sebelah utara dari jalan, dan satuan geomorfologi daerah ini ialah perbukitan, dengan morfogenesis structural dan fluvial. Daerah ini merupakan daerah cakupan dari Formasi Andesit Tua, dimana batuan yang ada pada LP 1 ini ialah batuan breksi andesit yang merupakan endapan epiklastik dengan fragmen berupa batu andesit berukuran bongkah sampai kerakal dan matrik pengikat berupa mineral berukuran pasir sampai lempung, dengan kemas dan sortasi yang buruk. Van Bemmelen, 1948, mengatakan bahwa daerah ini (formasi andesit tua khususnya) tersusun atas breksi andesit, tuf lapili, aglomerat dan sisipan aliran lava andesit, namun batuan yang teramati ialah breksi andesit.

17

Gambar 9, Sampel Sampel, berupa batuan sedimen berlapis Batu andesit yang telah mengalami pelapukan

Berikut ialah deskripsi mineralogy dari fragmen batu andesit tersebut : Nama batuan Warna batuan Tekstur batuan Struktur batuan Mineral : : QUARTZ (SiO2) : Silikat : Tectosilicates : : Andesit : Hijau muda : porfiro aphanitic : masif

1. Nama mineral Kelompok mineral Sub kelompok Deskripsi fisik

Mineral kuarsa berwarna putih (colorless) memiliki cerat putih dan kilap kaca dengan kekerasan 7, belahan tidak ada, pecahan tidak rata, bentuk kristalin granular, struktur kriptokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain translucent, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 2,6. Genesa mineral : Mineral kuarsa terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang rendah, merupakan mineral yang terbentuk paling akhir dari Bowens Reaction Series. Asosiasi mineral Keterdapatan : Orthoklas, plagioklas, muskovit, hornblende : Batuan beku, sedimen, dan metamorf

2. Nama mineral Kelompok mineral Sub kelompok Deskripsi fisik

: PLAGIOKLAS (CaAl2Si2O8) : Silikat : Tectosilicates :

Mineral plagioklas berwarna putih, kilap kaca, cerat putih, kekerasan 6 (skala Mohs), bentuk kristalin prismatik, struktur tabular, belahan baik 2 arah, pecahan uneven, sifat dalam rapuh, sifat lain translucent, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 2,7 2,8.

18

Genesa mineral Asosiasi mineral Keterdapatan

: Mineral plagioklas terbentuk dari kristalisasi magma. : Orthoklas, kuarsa, hornblende, muskovit : Batuan beku, sedimen, dan metamorf

3. Nama mineral Kelompok mineral Sub kelompok Deskripsi fisik

: HORNBLENDE (Ca2Mg5Si6Al2O22(OH)2) : Silikat : Inosilicates :

Mineral hornblende berwarna coklat - hitam memiliki cerat hitam kecoklatan dan kilap kaca dengan kekerasan 5 - 6, belahan sempurna 2 arah, pecahan tidak rata (uneven), bentuk kristalin prismatik, struktur fanerokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain opaque, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 3 3,4 Genesa mineral : Mineral hornblende terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang sedang, merupakan mineral yang terbentuk dari kristalisasi magma pada Bowens Reaction Series. Asosiasi mineral : Kuarsa, plagioklas, augite, magnetite, mika

4. Nama mineral Kelompok Mineral Deskripsi fisik

: PYROXENE ( RSiO6) : Silikat :

Berwarna hijau - hitam, kilap kaca, cerat putih, kekerasan 5 6 (skala Mohs), bentuk kristalin euhedra, belahan baik 2 arah, pecahan uneven, sifat dalam rapuh, kemagnetan diamagnetik, sifat lain opaque, berat jenis 3,2 4,4. Genesa mineral Asosiasi mineral Keterdapatan : Mineral piroksin terbentuk dari kristalisasi magma : Olivin, garnet, nepelin : Batuan beku

5. Mineral Berwarna Hijau Genesa mineral 6. Mineral karbonat : Hasil pelapukan mineral lain

19

Genesa mineral

: Hasil alterasi dari plagioklas.

Pelapukan terjadi pada fragmen dari batuan sedimen yang ada di LP ini, dengan tingkat pelapukan antara agak lapuk lapuk, hal ini dibuktikan dengan adanya alterasi dari mineral plagioklas menjadi kalsit (mineral karbonat) pada fragmen yang berupa batu andesit, dan juga adanya mineral klorit yang

merupakan hasil pelapukan dari Hornblende, sedangkan pada fragmen berupa batu andesit berukuran bongkah (fragmen), sisi dalam dari batuan tersebut merupakan bagian yang masih segar karena belum mengalami pelapukan.

Gambar 10, Sampel Batu Andesit pada fragmen berukuran bongkah

Berikut ialah deskripsi mineralogy dari fragmen berupa batu andesit yang berukuran bongkah : Nama batuan Warna batuan Tekstur batuan Struktur batuan : Andesit : Abu abu kecoklatan : porfiro aphanitic : masif

Mineral

: : QUARTZ (SiO2) : Silikat : Tectosilicates

1. Nama mineral Kelompok mineral Sub kelompok

20

Deskripsi fisik

Mineral kuarsa berwarna putih dan tidak berwarna memiliki cerat putih dan kilap kaca dengan kekerasan 7, belahan tidak ada, pecahan tidak rata, bentuk kristalin granular, struktur kriptokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain translucent, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 2,6. Genesa mineral : Mineral kuarsa terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang rendah, merupakan mineral yang terbentuk paling akhir dari Bowens Reaction Series. Asosiasi mineral Keterdapatan : Orthoklas, plagioklas, muskovit, hornblende : Batuan beku, sedimen, dan metamorf

2. Nama mineral Kelompok mineral Sub kelompok Deskripsi fisik

: PLAGIOKLAS (CaAl2Si2O8) : Silikat : Tectosilicates :

Mineral plagioklas berwarna putih, kilap kaca, cerat putih, kekerasan 6 (skala Mohs), bentuk kristalin prismatik, struktur tabular, belahan baik 2 arah, pecahan uneven, sifat dalam rapuh, sifat lain translucent, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 2,7 2,8. Genesa mineral Asosiasi mineral Keterdapatan : Mineral plagioklas terbentuk dari kristalisamagma. : Orthoklas, kuarsa, hornblende, muskovit : Batuan beku, sedimen, dan metamorf

3. Nama mineral Kelompok mineral Sub kelompok Deskripsi fisik

: HORNBLENDE (Ca2Mg5Si6Al2O22(OH)2) : Silikat : Inosilicates :

Mineral hornblende berwarna coklat - hitam memiliki cerat hitam kecoklatan dan kilap kaca dengan kekerasan 5 - 6, belahan sempurna 2 arah, pecahan tidak rata (uneven), bentuk kristalin prismatik, struktur fanerokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain opaque, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 3 3,4

21

Genesa mineral

: Mineral hornblende terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang sedang, merupakan mineral yang terbentuk dari kristalisasi magma pada Bowens Reaction Series.

Asosiasi mineral

: Kuarsa, plagioklas, augite, magnetite, mika

4. Nama mineral Kelompok Mineral Deskripsi fisik

: PYROXENE ( RSiO6) : Silikat :

Berwarna hijau - hitam, kilap kaca, cerat putih, kekerasan 5 6 (skala Mohs), bentuk kristalin euhedra, belahan baik 2 arah, pecahan uneven, sifat dalam rapuh, kemagnetan diamagnetik, sifat lain opaque, berat jenis 3,2 4,4. Genesa mineral Asosiasi mineral Keterdapatan : Mineral piroksin terbentuk dari kristalisasi magma : Olivin, garnet, nepelin : Batuan beku

Pada kedua deskripsi tersebut di dapat perbedaan, hal ini terjadi karena tingkat pelapukan yang berbeda, sehingga komposisi mineralnya pun berbeda.

III.2b Lokasi Pengamatan 2 Lokasi LP 2 masih berada di wilayah dengok, tidak jauh dari LP 1, posisinya ada di sebelah barat daya dari LP 1, pada daerah ini, dijumpai kontak antara Formasi Andesit Tua dan Formasi Sentolo, dimana formasi Sentolo terletak di atas formasi Andesit Tua, dan terendapkan secara tidak selaras (Van Bemmelen, 1948), jenis ketidak selarasan tidak teramati secara langsung karena minimnya waktu untuk pengamatan, namun dilihat dari tipe batuan, maka ketidakselarasan ini dapat dibilang sebagai disconformity (sedimen dengan sedimen), atau dapat juga sebagai paraconformity jika ternyata bidang erosiny tidak jelas terlihat, dan hanya dapat diidentifikasi dengan fosil antar lapisan, dilihat dari posisi antara formasi Sentolo dan formasi Andesit Tua,dan menurut hokum superposisi, formasi Andesit Tua terbentuk lebih dahulu.

22

Gambar 11, Singkapan batuan sedimen pada Formasi Sentolo (kepala palu menghadap utara)

Pada lokasi ini, praktikan mengukur Dip dan Strike dari perlapisan batuan sedimen, yang mendapatkan hasil yaitu Strike N 138 E dan Dip sebesar 35.

(a)

(b)

Gambar 12, Material berukuran kerikil (a) dan material berukuran pasir (b) (kepala palu menghadap utara) Endapan sedimen yang dijumpai mempunyai ketebalan sekitar 2 2,5 meter (relative dari permukaan tanah disekitarnya), ialah endapan sedimen klastik yang

23

memiliki 10 perlapisan, kelompok kami mengambil beberapa contoh perlapisan dengan besar butir yang berbeda-beda, dari sampel yang diteliti, seluruhnya mengandung kalsium karbonat. Pada formasi ini terdapat batu lempung karbonatan (napal) berwarna coklat, tekstur klastik, struktur laminasi, terdiri dari mineral mineral karbonatan berukuran lempung. Berikut ini merupakan urutan perlapisannya :

1. Pasir karbonatan (paling bawah) 2. Lempung dengan fragmen andesit 3. Pasir karbonatan 4. Lempung dengan fragmen andesit 5. Pasir karbonatan 6. Lempung karbonatan 7. Lempung dengan fragmen andesit 8. Pasir karbonatan 9. Lempung 10. Tanah (paling atas)

Gambar 13, Sampel, berupa batuan sedimen berlapis

24

Berikut ialah deskripsi batu pasir tersebut : Nama batuan Warna Tekstur batuan Struktur Komposisi Mineral : Batupasir : Coklat : Klastik : Berlapis : Kuarst, Hornblen, Feldspar, mineral karbonat. Deskripsi fisik mineral : 1. Nama mineral Kelompok mineral Deskripsi fisik : QUARTZ (SiO2) : Silikat :

Mineral kuarsa berwarna putih dan colorless memiliki cerat putih dan kilap kaca dengan kekerasan 7, belahan tidak ada, pecahan tidak rata, bentuk kristalin granular, struktur kriptokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain translucent, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 2,6. Genesa mineral : Mineral kuarsa terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang rendah, merupakan mineral yang terbentuk paling akhir dari Bowens Reaction Series. Asosiasi mineral Keterdapatan : Orthoklas, plagioklas, muskovit, hornblende : Batuan beku, sedimen, dan metamorf

2. Nama mineral Kelompok mineral Sub kelompok Deskripsi fisik

: HORNBLENDE (Ca2Mg5Si6Al2O22(OH)2) : Silikat : Inosilicates :

Mineral hornblende berwarna coklat - hitam memiliki cerat hitam kecoklatan dan kilap kaca dengan kekerasan 5 - 6, belahan sempurna 2 arah, pecahan tidak rata (uneven), bentuk kristalin prismatik, struktur fanerokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain opaque, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 3 3,4

25

Genesa mineral

: Mineral hornblende terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang sedang, merupakan mineral yang terbentuk dari kristalisasi magma pada Bowens Reaction Series.

Asosiasi mineral

: Kuarsa, plagioklas, augite, magnetite, mika

Di Daerah ini pada umumnya digunakan oleh penduduk setempat sebagai areal perladangan dibuktikan dengan adanya ladang ketela di LP 2. Hal ini didukung oleh tersedianya tanah yang subur karena proses pelapukan yang aktif. Vegetasi terdiri dari rumput, semak, pohon yang tumbuh alami dan tumbuhan ketela hasil budidaya. Ditinjau dari bencana geologi maka bencana yang mungkin dapat terjadi adalah gerakan massa. Karena kemiringan lereng yang cukup curam. Gerakan massa berjalan lambat dan dibuktikan dengan adanya tiang tiang listrik yang miring.

III.3 Stasiun Pengamatan 3 Stasiun pengamatan 3 terletak pada daerah Congot, satuan geomorfologi yang teramati pada daerah ini ialah topografi perbukitan, dengan morfogenesisnya ialah bentang alam struktural, karena dijumpai sesar, kekar dan lipatan yang terbentuk karena proses endogenik, pada stasiun 3 yang juga merangkap sebagai lokasi pengamatan ini, kami mengamati sebuah bukit breksi andesit, mengukur Dip dan Strike dari perlapisan batuan, menemukan sebuah sesar geser kanan, dan mengamati sebuah kekar pada batuan breksi andesit tersebut. Daerah ini tersusun atas batuan sedimen yang tersusun oleh breksi andesit (epiklastik), ada dua perlapisan breksi andesit yang berbeda, perlapisan atas merupakan breksi andesit dengan komposisi cenderung kasar, sedangkan

perlapisam kedua (di bawah perlapisan pertama) merupakan breksi andesit dengan komposisi material yang cenderung halus.

26

Gambar 14, Batas bidang perlapisan

Sampel diambil dari kedua perlapisan tersebut, berupa batuan beku andesit, namun tidak ada perbedaan komposisi dari kedua sampel tersebut, Horblende tampak dominan sebagai fenokris dalam batu andesit tersebut, perbedaan komposisi secara makroskopis terlihat pada matriks pengikatnya.

Gambar 15, Andesit, perhatikan komposisi hornblende yang melimpah ( fragmen lapisan atas (a), fragmen lapisan bawah (b))

Berikut ialah deskripsi mineralogy dari fragmen batuan tersebut: Nama batuan Warna batuan : Andesit : Abu abu kecoklatan

27

Tekstur batuan Struktur batuan Komposisi mineral

: porfiro aphanitic : masif : Hornblende, Kuarts, Feldspar, Mineral Mafic

Mineral 1. Nama mineral Kelompok mineral Deskripsi fisik

: : HORNBLENDE (Ca2Mg5Si6Al2O22(OH)2) : Silikat :

Mineral hornblende berwarna coklat - hitam memiliki cerat hitam kecoklatan dan kilap kaca dengan kekerasan 5 - 6, belahan sempurna 2 arah, pecahan tidak rata (uneven), bentuk kristalin prismatik, struktur fanerokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain opaque, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 3 3,4, kelimpahan amat melimpah. Genesa mineral : Mineral hornblende terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang sedang, merupakan mineral yang terbentuk dari kristalisasi magma pada Bowens Reaction Series. Asosiasi mineral : Kuarsa, plagioklas, augite, magnetite, mika

2. Nama mineral Kelompok mineral Deskripsi fisik

: QUARTZ (SiO2) : Silikat :

Mineral kuarsa berwarna putih memiliki cerat putih dan kilap kaca dengan kekerasan 7, belahan tidak ada, pecahan tidak rata, bentuk kristalin granular, struktur kriptokristalin, sifat dalam rapuh (brittle), sifat lain translucent, kemagnetan diamagnetik, berat jenis 2,6. Kelimpahan sedikit melimpah. Genesa mineral : Mineral kuarsa terbentuk dari kristalisasi magma pada suhu yang rendah, merupakan mineral yang terbentuk paling akhir dari Bowens Reaction Series. Asosiasi mineral Keterdapatan : Orthoklas, plagioklas, muskovit, hornblende : Batuan beku, sedimen, dan metamorf

28

III.4 Stasiun Pengamatan 4 Stasiun ini terletak pada tepi Pantai Glagah, merupakan bentang alam marin. Pada tepi pantai ini terdapat endapan pasir besi, yang merupakan hasil rombakan dari batuan beku yang kemudian dibawa oleh sungai , lalu diendapkan pada pantai selatan pulau jawa, persebarannya sampai pada Pantai Cilacap. Pasir pantai

Glagah tersebut mengandung komposisi mineral (yang teramati) Kuarts, Hematit, Magnetit, Hornblende dan Plagioklas.

Berikut ialah deskripsi mineral-mineral tersebut :

1. QUARTZ (SiO2): Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Struktur Berat jenis Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan : Putih : Kaca : 7 : Putih : Tidak menentu : Konkoidal : Amorf : Nodular : 2.65 : rapuh : diamagnetik : translucent : Termasuk ke dalam golongan silikat karena mengandung unsur Si yang berikatan dengan unsur O. Sistem kristal Kegunaan Genesa : Hexagonal : Sebagai perhiasan, bahan baku pembuatan kaca : proses Magmatis ( Klein, 2002 : 545 )

29

2. HEMATITE (Fe2O3): Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Struktur Berat jenis Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan Sistem kristal Kegunaan Genesa : Merah : Tanah : 5.5 6.5 : Merah : Tidak menentu : uneven : Amorf : Nodular : 5.26 : rapuh : paramagnetik : translucent : Termasuk ke dalam golongan oksida karena memiliki anion O-. : Hexagonal : Sebagai Bijih besi, untuk pembuatan berbagai produk logam : hasil dari pelapukan dan oksidasi dari batuan yang mengandung unsur besi ( Klein, 2002 : 381 )

3. PLAGIOCLASE (CaAl2Si2O8) : Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk : abu-abu : Kaca : 6 : Putih : baik : Konkoidal : Amorf

30

Struktur Berat jenis Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan

: Nodular : 2.7 2.8 : rapuh : diamagnetik : translucent : Termasuk ke dalam golongan silikat karena mengandung unsur Si yang berikatan dengan unsur O.

Sistem kristal Kegunaan Genesa

: Tricline : Batuan ornamental : proses Magmatis ( Klein, 2002 : 554 )

4. HORNBLENDE (Ca2Mg5Si6Al2O22(OH)2) : Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Struktur Berat jenis Sifat dalam Kemagnetan Sifat lain Kesimpulan : Hitam : Kaca : 5-6 : Hitam : baik : even : Amorf : Nodular : 3.0-3.4 : rapuh : diamagnetik : Opaque : Termasuk ke dalam golongan silikat karena mengandung unsur Si yang berikatan dengan unsur O. Sistem kristal : Monocline

31

Kegunaan Genesa

: ornamental dan Gemstone : proses Magmatis ( Klein, 2002 : 526 )

5. MAGNETITE (Fe3O4): Warna Kilap Kekerasan Cerat Belahan Pecahan Bentuk Struktur Berat Jenis Kemagnetan Sifat Lain Kesimpulan Sistem kristal Kegunaan Genesa : Putih : Logam :6 : Hitam : baik : Konkoidal : Amorf : Nodular : 5.18 : Feromagnetik : Opaque : Termasuk ke dalam golongan oksida karena memiliki anion O-. : Isometric : Sebagai Bijih besi, untuk pembuatan berbagai produk logam : aksesori mineral pada batuan beku ( Klein, 2002 : 389 )

32

b c d

e a

Gambar 16, Butiran pasir besi pantai Glagah, Kuarst (a), Magnetit (b), Hematit (c), Hornblende (d), dan Plagioklas (e). Selama perjalanan juga teramati adanya lagun lagun pada sebelah timur kali kamal, lagun ini kaya akan endapan Halit, dan mungkin Gipsum (pada teorinya) yang terbentuk karena proses evaporasi air laut dengan vegetasi

dominan berupa pohon kelapa, terdapat pula perkebunan buah naga pada wilayah pesisir. Pasir besi menutup wilayah pantai dan pesisir, yang merupakan litologi dominan pada daerah pantai Glagah, pada muara Kali Serang teramati adanya anomali, dimana ujungnya dibelokan oleh pematang pasir, kali serang mempertahankan alirannya, sehingga tampak seperti sekarang.

33

Gambar 17, Pasir besi di pantai Glagah.

Pasir besi pada pantai Glagah mengandung kadar besi yang tinggi, sehingga layak untuk di ekploitasi dari segi geologi, namun sampai saat ini hal tersebut belumlah dilakukan, karena dari aspek lain tidaklah memenuhi, kedepannya diharapkan ekploitasi ramah lingkungan diikuti oleh pembangunan aspek sosial dapat dilakukan di daerah ini. Aspek geologi lingkungan yang negatif ialah terkait dengan posisi pantai Glagah yang terletak di pantai selatan pulau jawa, sehingga rawan terhadap ancaman tsunami yang ditimbulkan gempa di laut lepas (Samudra Hindia).

Gambar 18, Pantai Glagah dan Samudra Hindia, terbayangkah akan tsunami dengan kondisi pantai seindah ini? (kamera menghadap selatan)

34

BAB IV KESIMPULAN

Formasi Nanggulan, Formasi Sentolo, Formasi Andesit Tua. Formasi Jonggrangan, dan Endapan Aluvial dan gumuk gumuk Pasir merupakan formasi yang menyusun kabupaten Kulon Progo dan sekitarnya ( Van Bumellen, 1949 ), pada field trip kali ini didapati 3 formasi batuan pada daerah tersebut, yaitu Endapan Aluvial, Formasi Sentolo, dan Formasi Andesit Tua. Dimana ketiga formasi batuan tersebut ialah batuan sedimen dan Formasi Andesit Tua ialah batuan sedimen epiklastik dengan fragmen batuan beku andesit. Dari beberapa bukti dapat dinyatakan bahwa kulon progo pernah menjadi dasar laut, salah satu bukti diantaranya ialah adanya lapisan batu napal pada daerah dengok. Litologi yang umum dijumpai pada field trip ini adalah batuan beku yaitu andesit, dan batulempung pasiran, selain itu ditemukan batuan sedimen, diantaranya, batuan breksi, batulempung. Mineral mineral yang dijumpai pada stasiun stasiun pengamatan adalah kuarsa, hornblende, plagioklas, orthoklas, gipsum, limonit, kalsit, magnetit, klorit, mineral lempung. Gypsum, terbentuk dari proses presipitasi, kuarsa berasal dari proses magmatism, limonit merupakan hasil hidrasi dari batuan beku yang mengandung unsur besi, hematite merupakan hasil oksidasi, dari batuan beku yang mengandung unsur besi.

35

DAFTAR PUSTAKA

Bemmelen, Van. 1948. The Geologi of Indonesia. Batavia. Hulburt, C. S. JR. 1959. Danas Manual of Mineralogy. John Wiley & Sons,Inc : London.

Hulburt, C. S. JR. and Klein, C. 1977. Manual of Mineralogy. John Wiley & Sons,Inc : New York.

Kraus, Hunt, & Ramsdell. 1951. Mineralogy. McGraw-Hill Book Company, Inc : New York.

Soetoto. Ir. 2003. Geologi. Yogyakarta : Tidak dipublikasikan.

Staff Asisten Geologi Fisik dan Dinamik. 1994. Panduan Praktikum Geologi Dasar. Yogyakarta : Tidak dipublikasikan.

36