Broadband for Creativity, mungkinkah ?

Dewasa ini, kita memasuki suatu era perekonomian, yang biasa disebut dengan globalisasi ekonomi, yang ditandai dengan kaburnya batas-batas administrasi antar negara, integrasi ekonomi regional dan meningkatnya persaingan. Faktor-faktor yang mendorong globalisasi ekonomi adalah perkembangan teknologi informasi, teknologi perhubungan, teknologi finansial Salah satu fenomena yang muncul seiring dengan globalisasi ekonomi ini adalah dalam perdagangan internasional. Salah satu poin penting dalam sektor perdagangan di era globalisasi ekonomi ini adalah industri kreatif (produk kreatif dan jasa-jasa kreatif), yang sekarang ini mencapai 3,4 % dari total perdagangan internasional.1 Industri kreatif merupakan perpaduan antara ide baru, dan sebuah aplikasi dari ide ini untuk memproduksi kerja seni dan produk kultural, kreasi fungsional, sains, dan inovasi teknologi. (Creative industry refers to the formulation of new ideas and to the application of these idea to produce original works of art and cultural products, functional creations, scientific invention, and technological innovation (UNCTAD 2008)). Dalam hal ini, industri kreatif lebih merupakan perpaduan antara daya cipta dan teknologi. Dan juga, Industri kreatif adalah proses peningkatan nilai tambah hasil dari eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreatifitas, keahlian, dan bakat individu menjadi menjadi suatu produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan orang yang terlibat (Perpres 28/2008). Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, industri telematika (industri perangkat / devices, infrastruktur / jaringan dan aplikasi / content dicantumkan menjadi salah satu dari industri-industri andalan masa depan. Di dalam Peraturan Presiden ini, dua kelompok industri, yaitu Kelompok Industri Elektronika dan Telematika; (meliputi Industri Elektronika, Industri Perangkat Keras Telekomunikasi dan Pendukungnya, Industri Perangkat Penyiaran dan Pendukungnya, Industri Komputer dan Peralatannya, Industri Perangkat Lunak dan Content Multimedia, Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)); dan Kelompok Industri Penunjang Industri Kreatif dan Industri Kreatif Tertentu; (yang meliputi industri perangkat lunak dan content multimedia, fashion, dan kerajinan dan barang seni), ditetapkan menjadi dua kelompok industri yang diarahkan pada penguatan, pendalaman dan penumbuhan klaster kelompok industri prioritas.2

                                                             1  Makalah keynote speaker seminar Industri Kreatif (daya dorong kebangkitan ekonomi bangsa), Pos M. Hutabarat, PhD Universitas Indonesia Jakarta, 30 Maret 2009. 
2

 lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2008 Halaman 15 

   

Selain itu, tujuan jangka menengah dalam Peraturan Presiden ini untuk dua kelompok industri ini antara lain adalah : mengembangkan aliansi strategis dalam rangka pengembangan industri perangkat lunak dan multimedia; Meningkatkan kemampuan industri kreatif teknologi informasi dan komunikasi; Mengakselerasi tumbuhnya industri kreatif teknologi informasi dan komunikasi; dan Mendirikan UPT Industri Teknologi Informasi dan Komunikasi. 3 Untuk mencapai tujuan dan pengembangan kedua kelompok industri tersebut di atas (Kelompok Industri Elektronika dan Telematika; dan Kelompok Industri Penunjang Industri Kreatif dan Industri Kreatif Tertentu), tidak dapat dipungkiri bahwa infrastruktur telekomunikasi memegang peranan yang sangat penting. Infrastruktur ini dibutuhkan untuk menghubungkan para pelaku kreatif dengan pasar dan untuk penyediaan sarana yang dibutuhkan dalam mendorong pengembangan industri kreatif ini.Kembali, infrastruktur telekomunikasi memegang peranan penting dalam hal ini. Salah satu contoh pusat pengembangan industri kreatif yang paling menonjol adalah di Queensland University of Technology, Australia. Lembaga-lembaga yang beraliansi untuk pengembangan industri kreatif itu antara lain : Queensland Creative Industries Academy, yang dikembangkan melalui kemitraan dengan Queensland University of Technology, menawarkan program khusus untuk kemampuan di bidang seni visual, drama, media, film dan musik. Kemudian Queensland University of Technology’s Creative Industries Precinct, adalah tempat bagi pembelajaran, riset dan pengembangan komersial dalam industri kreatif. Juga Pusat Seni, Budaya dan Industri Kreatif Southbank Institute meliputi bidang-bidang seperti seni pertunjukan, musik kontemporer, keramik, desain grafik dan fotografi. Dan terakhir, QANTM College adalah salah satu educator media digital dengan spesialisasi kursus di bidang pembuatan program mainan, animasi, multimedia, desain grafik dan pembuatan film digital. 4 Infrastruktur yang dibutuhkan, di komunitas kreatif di Queensland University of Technology, Australia, adalah yang mampu memfasilitasi kegiatan-kegiatan pelatihan streaming, baik audio (musik), teks (cerita digital, jurnal), dan visual (video, fotografi, karya seni). Di sini dituntut bagaimana teknologi informasi dan komunikasi dapat memfasilitasi untuk berinteraksi, meningkatkan kreatifitas, dan berinovasi. Arsitektur internet untuk komunikasi data kecepatan tinggi, atau yang lebih dikenal dengan broadband, mutlak diperlukan dalam komunitas ini. 5 Arsitektur internet untuk komunikasi data kecepatan tinggi, mempunyai konfigurasi dalam 3 bagian besar. Ketiga bagian itu adalah core, distribution, dan access6 . Core lebih kepada backbone, distribution ke pengaturan lalu lintas data, dan access adalah jaringan akses dari backbone ke user. Kembali ke industri kreatif, ciri- ciri industri kreatif adalah : industri yang berdasarkan kreasi, daya cipta, keahlian dan talenta ; Siklus waktunya singkat ; Sangat
                                                             3  lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 28 tahun 2008 Halaman 41  4  www.studyqueensland.qld.edu.au
 
5

 The creative potential of new media technologies: Youth Internet Radio Network, Tanya Notley, Research Associate for the Youth Internet Radio Network Project, Queensland University of Technology, Jo Tacchi, Senior Research Fellow, Creative Industries Research and Application Centre, Queensland University of Technology   6  Campus Network Multilayer Architecture, Cisco System inc. 2005
 

   

beragam dan mudah ditiru ; Margin usaha tinggi tetapi risiko juga tinggi ; Persaingan tinggi. Selain itu, beberapa hal yang yang harus dicatat adalah : Peranan industri kreatif terus meningkat (dalam GDP, Penyerapan tenaga kerja, perdagangan internasional) sejalan dengan perkembangan globalisasi ekonomi. ; Industri kreatif memberikan nilai tambah yang signifikan serta menyerap tenaga kerja yang cukup besar. ; Industri kreatif merupakan potensi ekspor yang sangat besar ; sehingga, Pemerintah harus mendorong pengembangan industri kreatif melalui peningkatan pasar, promosi dan capital. 7 Beberapa hal ini sepertinya sudah layak untuk dijadikannya alasan pengimplementasian infrastruktur telekomunikasi yang memadai dalam mendorong perkembangan industri kreatif di Indonesia. Seperti yang telah disampaikan terdahulu, Infrastruktur telekomunikasi yang dapat memfasilitasi industri kreatif ini adalah jaringan untuk komunikasi data kecepatan tinggi, atau yang lebih dikenal dengan istilah broadband. Untuk implementasi jaringan transmisi untuk komunikasi data dengan kecepatan tinggi (broadband) di Indonesia, dari ketiga infrastruktur tersebut di atas, yang masih menjadi persoalan utama adalah di level access. Di level access ini, ada dua bagian penting yang harus menjadi perhatian. Yang pertama adalah jaringan akses ke pelanggan (dari pelanggan ke sentral terdekat untuk kabel dan dari pelanggan ke BTS terdekat, dan yang kedua adalah jaringan transmisi antar sentral. Mari kita kaji satu per satu untuk kedua bagian utama ini. Untuk jaringan akses ke pelanggan, dengan perkembangan teknologi ADSL untuk kabel dan 3G untuk selular, penyaluran transmisi broadband relatif tidak menjadi masalah krusial. Kedua teknologi tersebut relatif sudah memadai untuk transmisi komunikasi data kecepatan tinggi. Terlebih lagi, untuk beberapa daerah tertentu, sudah tersedia jaringan optik yang langsung ke pelanggan. hal ini akan lebih memadai untuk memfasilitasi kebutuhan komunikasi broadband ini. Yang kedua adalah untuk jaringan transmisi antar sentral atau antar BTS, yang lebih dikenal dengan istilah backbone. Bagian ini mempunyai tingkat kompleksitas yang tinggi, dan relatif sulit untuk diketahui tingkat ketersediannya untuk transmisi broadband. Faktor-faktor seperti routing, pengaturan traffik, dan tipe jaringan transmisi menjadi kunci utamanya. Dapat disimpulkan, secara teknis, untuk implementasi di sisi infrastruktur dan teknologi sudah bukan merupakan masalah. Untuk industri kreatif di Indonesia, ada 5 kota yang dinilai potensial dalam mengembangkan nindustri kreatif. Kota-kota itu antara lain Jakarta (film, periklanan, seni musik pertunjukan), Bandung (design, animasi, arsitektur, seni musik), Jogya (design, arsitektur, seni lukis), Denpasar (design, antik, seni lukis, budaya), dan Medan (seni musik). 8 Kelima kota ini sudah selayaknya untuk dibangun sebuah infrastruktur telekomunikasi yang mampu memfasilitasi kebutuhan sebuah komunitas untuk menuju ke pengembangan industri kreatif, seperti yang diamanatkan juga oleh Peraturan Presiden no 28 tahun 2008.Infrastruktur telekomunikasi ini idealnya merupakan jaringan terpadu yang menginterkoneksikan ke 5 kota ini. Dengan konsep jaringan terpadu, kebutuhan kreatif, yang berkaitan dengan teknologi
                                                             7  Makalah keynote speaker seminar Industri Kreatif (daya dorong kebangkitan ekonomi bangsa), Pos M. Hutabarat, PhD Universitas Indonesia Jakarta, 30 Maret 2009.  8  idem     

informasi dan komunikasi, akan dapat lebih terakomodir. Garis besar konsep desain sebuah jaringan untuk kebutuhan ini adalah sebagai berikut. Sebuah jaringan (network), secara garis besar, seperti dikemukakan terdahulu, terdiri dari 3 layer, yaitu core layer, distribution layer, dan access layer. Core layer berfungsi sebagai backbone untuk jaringan (network), dan terdapat perangkat yang mengatur utilisasi bandwidth secara efisien. Distribution layer berfungsi sebagai interkoneksi antara backbone dalam core layer dengan access layer, dan bertugas untuk load balancing, Quality of Services (QoS), dan traffic management. Access layer berfungsi ke pengaturan dan interkoneksi jaringan dengan user, apakah itu melalui jaringan DSL (untuk kabel tembaga), 3G (untuk selular, atau cable modem . 9 Dari sisi ketersediaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, kondisinya adalah sebagai berikut : ketersediaan backbound internasional, ada beberapa operator yaitu PT. Telkom Indonesia, PT. Indosat, PT. Mora Telematika Indonesia untuk jalur Jakarta Singapura. Mengenai ketersediaan backhaul dan akses, maka dalam hal backhaul kota- kota yang sudah dihubungkan dalam bentuk Ring menggunakan fiber optik meliputi Jakarta, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta. Sebagian besar kota – kota lainnya menggunakan radio terestrial. Untuk kedepan, selain didorong untuk mengunakan fiber optik, juga akan digunakan teknologi BWA. 10 Sebuah data center, jaringan backbone, minimal berkapasitas 500 MBps, yang menghubungkan 5 kota potensial untuk industri kreatif ini, dan saluran langsung yang menginterkoneksikannya ke pusat industri kreatif dunia (Australia atau Singapura), menjadikan sebuah breakthrough dalam perkembangan industri kreatif di indonesia. Kemudian akan diikuti oleh munculnya komunitas-komunitas kreatif, yang tentu saja berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi, yang saling berinteraksi satu sama lain. Dengan adanya interaksi-interaksi ini, akan menjadi sebuah bola salju yang akan terus meng generate pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Dalam implementasi penggelaran infrastruktur untuk memfasilitasi industri kreatif ini, kendala yang paling mengemuka adalah masalah investasi. Seperti diketahui, industri kreatif ini tergolong sebuah industri dengan resiko tinggi. Dibutuhkan sebuah keberanian yang tinggi untuk melakukan langkah bisnis dalam infrastruktur telekomunikasi untuk industri kreatif ini. Permasalahan teknis, seperti ketersediaan backbone yang terbatas, sambungan langsung ke pusat-pusat kreatif dunia, yang pasti berbiaya tinggi, merupakan sebuah resiko yang harus dihadapi. Hampir dapat dipastikan, tidak ada pelaku bisnis yang berani mengambil resiko ini, dan terbukti dengan tidak adanya pemain di sektor telekomunikasi yang mempunyai keberanian untuk memasuki ke bisnis ini, secara langsung dengan konsep integrasinya. Sebagai perbandingan, PT. Telkom, sebagai barometer raksasa bisnis telekomunikasi di indonesia, hanya meluncurkan program indigo dalam partisipasinya di industri kreatif. 11
                                                             9  Designing a Campus Network for High Avaibility, Cisco System Inc. 2004  Siaran Pers No. 17/DJPT.1/KOMINFO/3/2008, Rapat Dengar Pendapat Komisi 1 DPR-RI Dengan Dirjen Postel, ATSI, ASSI dan ASKITEL Tentang Masalah Regulasi dan Bisnis Telekomunikasi   Makalah PT. Telkom sebagai pembicara seminar Industri Kreatif (daya dorong kebangkitan ekonomi bangsa), Universitas Indonesia Jakarta, 30 Maret 2009.    
11 10

Sekarang kita coba menengok ke negara tetangga, Singapura. Pada tahun 2000, industri kreatif mempunyai total value-added (VA) sebesar S$2.98 milyar, atau sekitar 1.9 percent of GDP. Industri distribusi yang berhubungan langsung dengan industri ini menyumbang sebesar S$2.02 milyar, dan copyright sebesar S$5.00 atau 3.2 per cent GDP. Dari sektor tenaga kerja, industri kreatif ini secara langsung menyerap 47.000 orang atau sekitar 2,2 % dari tenaga kerja nasional, dengan 32.000 orang di industri distribusi yang berkaitan langsung dengan industri kreatif.. Jumlah total dari kluster industri kreatif ini sebesar 79.000 atau 3,8 % dari total tenaga kerja di tahun 2000.12 Di Indonesia, dengan kondisi geografis yang demikian menyebar, dan ketersediaan backhaul antar kota yang terbatas, diperlukan satu langkah terobosan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang efektif dan efisien, serta mampu menyalurkan kebutuhan komunikasi data kecepatan tinggi (broadband) yang akan menjadi pendobrak dalam pengembangan industri kreatif ini. Konsep klusterisasi, dan pengembangan kota-kota kreatif, niscaya akan dapat menjadi langkah pertama, yang tentu saja akan disambung dengan langkah-langkah berikutnya. Konsep kreativitas yang dipadu dengan dukungan infrastruktur telekomunikasi untuk komunikasi data kecepatan tinggi, merupakan sebuah paduan yang strategis dalam membangkitkan kembali industri kreatif di Indonesia. Broadband for creativity, sepertinya bukan hal yang tidak mungkin untuk dikembangkan. Dua tetangga terdekat Indonesia, Singapura dan Australia, sudah memulai, dan bahkan sudah menjadi pusat industri kreatif dunia. Adalah suatu hal yang mengherankan, bahwa negara kita, Indonesia, dengan keberagaman dan kekayaan budaya yang sedemikian besarnya, tidak mampu, atau bahkan belum memulai langkah breakthrought dalam dunia kindustri kreatif ini. Bukankah, kreatifitas, disamping inisiatif, merupakan tolok ukur utama dalam sebuah bangsa ? Dengan berbagai tinjauan yang sudah dikemukakan, baik dari analisa ekonomis, bisnis, dan bahkan inisiatif kuat dari pemerintah (dengan dikeluarkannya peraturan presiden), sudah selayaknya konsep kota kreatif, dengan infrastruktur telekomunikasi pendukungnya, diwujudkan. Potensi bangsa dengan keberagaman dan kekayaan budaya bangsa, harus segera diarahkan untuk lebih memperkuat jati diri bangsa, dan memperdalam jiwa kebangsaan indonesia.

Damai negeriku, kreatifkan bangsaku. Majulah Indonesia ku. Sekali lagi, broadband, for creativity.

                                                                                                                                                                                         
 
12

 Economic Survey of Singapore First Quarter 2003