You are on page 1of 10

ANALISA KEBUTUHAN TURBIN UNTUK PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA SURYA 10 KW



Agung Setiadi
1
,Nanang Ruhiyat
2
,
Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Mercu Buana Jakarta


ABSTRAK

Saat ini masyarakat memerlukan adanya pembangkit alternatif , yaitu turbin.
Dengan adanya sumber daya alam seperti energi matahari dapat dimanfaatkan untuk
mengatasi permasalahan listrik. Untuk itu dengan mengkaji turbin sebagai bagian dari
pembangkit listrik diperlukan juga perencanaan yang baik dengan perhitungan yang
sistematis.
Turbin adalah mesin penggerak dimana energi fluida kerja dipergunakan
langsung untuk memutar roda turbin. Jadi, berbeda dengan yang terjadi pada mesin
torak, pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi. Bagian turbin
yang berputar dinamai rotor atau roda turbin, sedangakan bagian yang tidak berputar
dinamai stator atau rumah turbin.
Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mencari daya turbin yang dihasilkan
dari masing-masing laju aliran sehingga tidak terjadi pemborosan energi . Dari hasil
perhitungan secara teoritis diperoleh data-data sebagai berikut :
- Untuk 3 LPM dapat menghasilkan daya turbin sebesar 148 , 5 kW
- Untuk 5 LPM dapat menghasilkan daya turbin sebesar 8,42 kW
- Untuk 8 LPM dapat menghasilkan daya turbin sebesar 7205 , 12 kW

Kata kunci: Turbin, parabolic solar concentrator


PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pasokan listrik dalam kehidupan
masyarakat menjadi salah satu faktor
penting. Karena perannya yang sangat
penting , maka kenaikan tarif dasar listrik
yang terjadi di Negara Indonesia menjadi
kendala atau permasalahan untuk semua
sektor. Dampak permasalahan tersebut
dirasakan oleh sektor rumah tangga
maupun sektor industri yang memiliki
skala besar dalam penggunaan energi
listrik.
Pemanfaatan energi alternatif telah
banyak dilakukan untuk memasok energi
penghasil listrik, sumber-sumbernya tidak
lain adalah apa yang ada di alam seperti
angin , air dan panas matahari. Semua
energi yang terdapat di alam merupakan
energi yang ramah lingkungan dan murah.
Dengan adanya semua energi itu, maka
diperlukan cara bagaimana kita dapat
memanfaatkannya untuk menjadi energi
listrik.
Untuk mengatasi masalah tersebut
maka diperlukan usaha-usaha untuk
mencari sumber energi alternatif seperti
energi tenaga air, batu bara, gas alam,
solar cell, dan sel bahan bakar seperti
penggunaan biomassa dan lain-lain (Jurnal
Nutrino.2009).
Keunggulan dari energi matahari
(solar cell) ini dibandingkan dengan
sumber energi alternatif lainnya adalah
tidak bersifat polutif, berlimpah, bersifat
terbarukan, gratis, tidak pernah habis, dan
dapat dimanfaatkan baik secara langsung
maupun tidak langsung dan merupakan
sumber energi sepanjang masa, potensi
penggunaan energi matahari ini dapat kita
manfaatkan untuk penyinaran, pemanas
air, pengering hasil pertanian dan
perikanan, perkembangan tumbuhan,
sebagai bahan bakar, penghasil tenaga
listrik dan lain-lain.
Salah satu pemanfaatan sumber
energi matahari adalah untuk sistem PLTS
dengan media kolektor, dimana cairan
yang dipanaskan akan menghasilkan uap,
dan uap tersebut akan dimanfaatkan untuk
memutar turbin generator sehingga
menghasilkan listrik.
Oleh karena itu diperlukan suatu
proses untuk mencapai ke arah itu. Untuk
mendukung proses ini diperlukan suatu
alat yang bisa menaikan temperatur air
dari normal ke temperatur yang lebih
panas dan menjadikannya uap. Untuk
keperluan ini, dibutuhkan suatu alat
pemanas air yang dinamakan kolektor.
Kolektor disini berfungsi sebagai penyerap
dan penyimpan panas dari radiasi sinar
matahari.
Latar belakang dari tugas akhir
kami adalah usaha mengkonversi energi
matahari sebagai sumber energi alternatif
dan penghematan bahan bakar fosil. Tugas
akhir kami membahas tentang analisa
kebutuhan turbin untuk PLTS 10 kW.
Dengan dibuatnya perencanaan dalam
skripsi membantu para pembacanya dalam
mengembangkan pemanfaatan energi
matahari sebagai energi alternatif.
1.2 Tujuan
Tujuan masalah yang diambil:
1. Mendapatkan daya turbin yang
dihasilkan dari masing-masing laju
aliran.
2. Mendapatkan perhitungan
kebutuhan turbin yang akurat
sebagai dasar perencanaan.
3. Mendapatkan karakteristik turbin
uap yang tepat untuk sistem PLTS
10kW

1.3 Pembahasan Masalah
Pembahasan penulisan dari tugas
akhir:
1. Prinsip dasar turbin sebagai alat
sumber tenaga listrik
2. Perhitungan rumus perencanaan
desain turbin untuk mendapatkan
data yang akurat
3. Menganalisa kebutuhan turbin
sebagai alat pendayagunaan energi
uap untuk pembangkit tenaga
listrik.
1.4 Metodologi Penelitian
Metodologi yaitu digunakan dalam
penulisan tugas akhir ini adalah :
a. Metode kepustakaan
Dengan metode ini penulis
mendapatkan materi penulis
dengan dasar-dasar teori dari buku
sebagai bahan refrensi.
b. Metode diskusi
Metode ini dilakukan dengan
mahasiswa teknik mesin yang lain
dan dosen pengajar.
c. Metode studi lapangan
Metode ini dilakukan dengan
mengambil langsung data yang
diperlukan di lokasi penelitian
1.5 Waktu Dan Tempat
Penulisan tugas akihir tentang
analisa kebutuhan turbin untuk PLTS 10
kW dilakukan pada saat semester 8 dan
bertempat di Universitas Indonesia
Fakultas Teknik Jakarta.
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Tenaga Uap
Pada mesin uap dan turbin uap, air
sebagai benda kerja mengalami deretan
peubahan keadaan. Untuk merubah air
menjadi uap digunakan suatu alat
dinamakan boiler menerima panas dari
sumber panas atau dapur, panas tersebut
digunakan untuk memanaskan air dalam
boiler agar diperoleh uap. Kadang kadang
uap yang keluar dari boiler dipanaskan lagi
dengan superheater agar diperoleh uap
dengan temperatur yang lebih tinggi.
Panas untuk superheater diambil dari
dapur dan superheater dihubungkan
langsung dengan boiler.
Uap yang keluar dari superheater
kemudian mengalir ke mesin uap atau
turbin uap dan tenaga uap dirubah
menjadi kerja poros mesin atau turbin.
Pada waktu yang bersamaan, uap
mengalami penurunan temperatur dan
tekanan sebagaian uap mengalami
condensasi. Kemudian campuran uap dan
cairan jenuh mengalir ke condenser dan
pada condenser semua uap dan cairan
jenuh diembunkan menjadi cairan.
Panas dari condenser (panas
pengembunan) dibuang ke sink (sungai,
kolam atau laut) yang dapat berupa aliran
air pendingin dari sungai, kolam atau laut.
Cairan yang keluar dari condenser
kemudian dipompakan kembali ke boiler.
Diagram aliran uap dan cairan terlihat
pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 skema diagram aliran
uap dan cairan pada mesin/ turbin uap
(sumber: buku Thermodinamika Teori
Dan Soal Penyelesaian)
2.2 Rankine cycle
Pertama-tama ditinjau dengan uap
tidak superheater (uap tidak dipanaskan
kembali)

Gambar 2.2a. skema diagram aliran uap
pada rankine cycle
(sumber: buku Thermodinamika Teori
Dan Soal Penyelesaian)

Gambar 2.2c. diagram T-S rankine cycle
(sumber: buku Thermodinamika Teori
Dan Soal Penyelesaian)

Gambar 2.2d. diagram n-s rankine cycle
(sumber: buku Thermodinamika Teori
Dan Soal Penyelesaian)
Diagram p-v , diagram T-S dan
diagram h-s untuk rankine cycle terlihat
pada gambar 2.2. Cairan jenuh (titik a)
masuk ke Parabolic solar concentrator dan
diubah menjadi uap jenuh pada temperatur
T
2
dan tekanan P
2
secara reversible (titik
b). uap kemudian berexpansi secara
reversible adiabatic dalam turbin tekanan
p
1
dan temperatur T
1
(titik c).
Campuran uap dan cairan yang
keluar dari turbin diembunkan di
condenser (titik d), kemudian cairan dari
condenser dikompressi secara reversible
adiabatic ke tekanan boiler p
2
secara
reversible adiabatic ke tekanan Parabolic
solar concentrator p
2
(titik e). cairan yang
dikompresi (dipompa) ini tidak dapat
mencapai titik a (temperatur T
2
), maka
untuk itu panas disupply untuk menaikkan
temperatur cairan tersebut agar dicapai
titik a. oleh sebab itu effisiency Rankine
cycle lebih kecil dari Carnot cycle.
Dari diagram h-s, panas Q
2
disupply sepanjang lintasan eab dan panas
Q
1
dibuang sepanjang lintasan cd. Jadi ,
e b
h h =
2
Q
dan
d c
h h =
1
Q
Kerja output ,

c b out
h h = W
2.1
Kerja pompa,

d e i
h h =
n
W
.2.2
Effisiency thermis,

2
Q
W W
th
in out

=
q


( ) ( )
e b
d e c b
h h
h h h h


=
. 2.3

( ) ( )
e b
d c e b
h h
h h h h


=
................... 2.4

2
1 2
Q
Q Q
=
.. 2.5
Pada tekanan rendah, kerja pompa
menjadi kecil dan dapat diabaikan
dibandingkan dengan besaran lain, maka
effisiency thermis menjadi

e b
c b
h h
h h
th

=
q
...... 2.6
2.3 Turbin
Turbin adalah mesin penggerak
dimana energi fluida kerja dipergunakan
langsung untuk memutar roda turbin. Jadi,
berbeda dengan yang terjadi pada mesin
torak, pada turbin tidak terdapat bagian
mesin yang bergerak translasi. Bagian
turbin yang berputar dinamai rotor atau
roda turbin, sedangakan bagian yang tidak
berputar dinamai stator atau rumah turbin.
Roda turbin terletak didalam rumah turbin
dan roda turbin memutar poros daya yang
menggerakkan atau memutar bebanya
(generator listrik, pompa, kompresor,
baling-baling atau mesin lainnya).
Didalam turbin fluida kerja mengalami
proses ekspansi, yaitu proses penurunan
tekanan dan mengalir secara kontinu.
Fluida kerjanya dapat berupa air , uap air,
atau gas. Contoh sebuah turbin dapat
dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Sebuah Turbin Air
(KAPLAN)
(sumber: buku Turbin Air)
Ada beberapa kesamaan teori dari
turbin air dan pompa air, dengan
perbedaan utama energi transfer yang
berbalikan. Turbin air mengubah energi
potensial dari air menjadi energi mekanis
putaran poros. Sedangkan pompa air
mengubah energi mekanis putaran poros
menjadi gerak aliran air.
Turbin air bertujuan terutama
untuk mendapatkan unjuk kerja optimum
dalam pemanfaatan energi air pada suatu
kondisi operasi tertentu. Formula yang
digunakan kebanyakan diperoleh secara
empiris, berdasarkan pengalaman,
eksperimen atau analisis dimensi.
Dasar kerja turbin air yang sangat
sederhana ini sudah diketemukan sebelum
dimulai tahun . masehi. Teknologi turbin
air merupakan pengembangan dari kincir
air (water weel). Perbedaan utama dari
kincir air dan turbin air adalah bahwa
kincir air hanya mengubah kecepatan
aliran, sedangkan turbin mengubah arah
dan kecepatan aliran.
2.4 Prinsip Kerja Turbin
Pada roda turbin terdapat sudu dan
fluida kerja mengalir melaui ruang
diantara sudu tersebut. Apabila kemudian
ternyata bahwa roda turbin dapat berputar,
maka tentu ada gaya yang bekerja pada
sudu. Gaya tersebut timbul karena
terjadinya perubahan momentum dari
fluida kerja yang mengalir diantara sudu.
Jadi, sudu haruslah dibentuk sedemikian
rupa sehingga dapat terjadi perubahan
momentum pada fluida kerja tersebut. Hal
ini akan dijelaskan dengan
mempergunakan gambar 2.5. Pada gambar
2.6 diperlihatkan irisan melintang sudu
pada suatu jarak tertentu dari sumbu roda
turbin. Kemudian dibeberkan diatas
bidang datar, seperti terlihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 2.5 Sebuah Roda Turbin
(sumber: buku Penggerak Muka
Turbin)
PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dalam penulisan
skripsi ini adalah berupa pengambilan
data-data eksperimen berupa besarnya
radiasi matahari pada waktu pengujian,
besarnya temperatur refigeran yang
megalir pada pipa kolektor berdasarkan
variasi dari besarnya laju aliran refrigeran
yang mengalir.
3.1 Presedur Pengujian
Pengujian ini menggunakan 2 unit
parabolic solar concentrator yang
dirangkai secara seri. Untuk mengetahui
temperatur masuk dan keluar dari pipa
kolektor selama pengujian, maka dipasang
3 termometer raksa di ujung-ujungnya.
Termometer lain juga digunakan untuk
mengukur temperatur refrigeran dalam
tangki dan temperatur ambient (udara).
Data-data hasil pengujian dicatat
setiap 5 menit dengan lamanya pengujian
kurang lebih 6 jam setiap harinya selama
pengujian berlangsung. Data-data yang
didapatkan berupa data hasil pengukuran
temperatur dan radiasi dari masing-masing
waktu pengujian. Pengujian dilakukan
beberapa kali untuk mendapatkan data
dengan variasi debit aliran refrigeran.
3.2 Komponen Pengujian
1. Panel Parabolic Solar Concentrator
2. Termkopel
3. Termometer
4. Tangki Air
5. Katup dan Bypass
6. Pompa Air
7. Flowmeter
8. Pyranometer
3.3 Instalasi Pengujian
Kami melakukan 3 variasi debit
aliran yaitu 8, 5, & 3 liter/menit. Lamanya
proses pengambilan data untuk masing-
masing debit refrigeran yaitu selama 3
hari. Proses pengambilan data dilakukan
pada satu harinya selama 6 jam, pada
pukul 9 pagi sampai 3 sore. Interval
pengambilan data masing-masing harinya
diambil selama 5 menit sekali. Sebelum
pengambilan data pada awal pengujian,
pompa di jalankan kurang lebih selama 10
sampai 5 menit. Langkah ini bertujuan
agar sistem menjadi stabil karena terdapat
sisa-sisa air didalam pipa yang mengalir
aliran.
PENGOLAHAN & ANALISA
DATA
Setelah dilakukan pengambilan
data dari pengujian selama kurang lebih 6
jam, dengan selang waktu pengambilan
selama 5 menit, maka diperoleh Data
temperatur yang diperoleh merupakan data
besarnya temperatur di bagian dalam pipa
sebelum dan sesudah melewati panel
parabolic solar concentrator.
Berikut merupakan hasil data
teknis yang diperoleh dari pembacaan alat
dan tabel saturated refrigerant-134a untuk
debit aliran 3 LPM, 5LPM dan 8LPM.
4.1 Data Teknis
4.1.1 Debit 3 LPM :
- Asumsi : Efisiensi turbin
0
0
90 ) ( =
T
q

- Data tabel saturated refrigerant-
134a:
Entalpi (h) =
kg
kj
82 , 27 4

Sat. liquid (h
f
) =
kg
kj
35 . 9 7

Evap. (h
fg
) =
kg
kj
35 . 3 8


Entropy (S) =
k kg
kj

1,6993

Sat. liquid (S
f
) =
k kg
kj

0,48920

Sat. liquid (S
fg
) =
k kg
kj

0,41749

uap m
.
=
s
kg
05 , 0

Temperatur rata-rata (T) = 65
0
C
4.1.2 Debit 5 LPM :
- Asumsi : Efisiensi turbin
0
0
90 ) ( =
T
q

- Data tabel saturated refrigerant-
134a:
Entalpi (h) =
kg
kj
426,63

Sat. liquid (h
f
) =
kg
kj
35 . 9 7

Evap. (h
fg
) =
kg
kj
35 . 3 8


Entropy (S) =
k kg
kj

1,7024

Sat. liquid (S
f
) =
k kg
kj

0,48920

Sat. liquid (S
fg
) =
k kg
kj

0,41749

uap m
.
=
s
kg
08 , 0
Temperatur rata-rata (T) =
60,40
0
C
4.1.3 Debit 8 LPM :
- Asumsi : Efisiensi turbin
0
0
90 ) ( =
T
q

- Data tabel saturated refrigerant-
134a:
Entalpi (h) =
kg
kj
421,52

Sat. liquid (h
f
) =
kg
kj
35 . 9 7

Evap. (h
fg
) =
kg
kj
35 . 3 8


Entropy (S) =
k kg
kj

1,7092

Sat. liquid (S
f
) =
k kg
kj

0,42302

Sat. liquid (S
fg
) =
k kg
kj

0,49012

uap m
.
=
s
kg
133 , 0
Temperatur rata-rata (T) = 46
0
C
4.2 Perhitungan
performance/kebutuhan turbin
pada PLTS
4.2.1 Dengan mengggunakan debit
sebesar 3LPM

Gambar 4.1. skema balance energi
turbin 3 LPM

Gambar 4.2. diagram proses 3
LPM
4.2.1.1 Persamaan balance energi
di turbin:
( ) ( )
t
T
W E E
dt
dE
+ =
|
.
|

\
|
4 3

- Asumsi : - aliran
~stasioner
- 0 , 0 ~ A ~ A EP EK


- Maka:

4 3
E E W
T
=
4 3
h h W
T
=


- Kerja turbin isentropik:
s
h h Wts
4 3
=

4.2.1.2. Estimasi h
4s
:
fg s f s
S X S S S + = =
4 4 3 4

fg
f
s
S
S S
X
4 3
4

=
k kg
kj
k kg
kj
k kg
kj
X
s

=
0,41749
0,48920 1,6993
4

k kg
kj
k kg
kj
X
s

=
0,41749
2101 , 1
4

kg
kj
X
s
898 , 2
4
=

Maka:
4 4 4 4 fg s f s
h X h h + =


kg
kj
kg
kj
kg
kj
h
s
35 , 83 898 , 2 35 . 9 7
4
+ =

kg
kj
h
s
60 , 316
4
=

4.2.1.3 Estimasi h
4
:
s Ts
T
T
h h
h h
W
W
4 3
4 3

= = q
Jadi: ( ) | |
s t
h h h h
4 3 3 4
= q


(

|
.
|

\
|
=
kg
kj
kg
kj
kg
kj
h 60 , 316 82 , 427 9 . 0 82 , 427
4

kg
kj
kg
kj
h 96 , 102 82 , 427
4
=

kg
kj
h 86 , 324
4
=

4.2.1.4 Kerja yang dihasilkan
turbin:
4 3
h h Wt =
kg
kj
kg
kj
86 , 324 82 , 427 =

kg
kj
96 , 102 =
kg
j
102960 =

4.2.1.5 Daya yang dihasilkan
turbin:

uap m Wt Wt
- -
=
s
kg
kg
j
05 , 0 102960 =
s
j
5148 = = 5148 W
= 148 , 5 kW
4.2.2 Dengan mengggunakan debit
sebesar 5 LPM

Gambar 4.3. skema balance energi
turbin 5 LPM

Gambar 4.4. diagram proses 5
LPM
4.2.2.1 Persamaan balance energi
di turbin:
( ) ( )
t
T
W E E
dt
dE
+ =
|
.
|

\
|
4 3

- Asumsi : - aliran
~stasioner
- 0 , 0 ~ A ~ A EP EK


- Maka:

4 3
E E W
T
=
4 3
h h W
T
=


- Kerja turbin isentropik:
s
h h Wts
4 3
=

4.2.2.2 Estimasi h
4s
:
fg s f s
S X S S S + = =
4 4 3 4

fg
f
s
S
S S
X
4 3
4

=
k kg
kj
k kg
kj
k kg
kj
X
s

=
0,41749
0,48920 1,7024
4

k kg
kj
k kg
kj
X
s

=
0,41749
1,2132
4

kg
kj
X
s
905 , 2
4
=
Maka:
4 4 4 4 fg s f s
h X h h + =


kg
kj
kg
kj
kg
kj
h
s
35 , 83 905 , 2 35 , 79
4
+ =

kg
kj
h
s
73 , 309
4
=

4.2.2.3 Estimasi h
4
:
s Ts
T
T
h h
h h
W
W
4 3
4 3

= = q
Jadi: ( ) | |
s t
h h h h
4 3 3 4
= q


(

|
.
|

\
|
=
kg
kj
kg
kj
kg
kj
h 73 , 309 63 , 426 9 . 0 63 , 426
4

kg
kj
kg
kj
h 25 , 105 63 , 426
4
=

kg
kj
h 38 , 321
4
=

4.2.2.4 Kerja yang dihasilkan
turbin:
4 3
h h Wt =
kg
kj
kg
kj
38 , 321 63 , 426 =

kg
kj
25 , 105 =
kg
j
105250 =

4.2.2.5 Daya yang dihasilkan
turbin:

uap m Wt Wt
- -
=
s
kg
kg
j
08 , 0 105250 =

s
j
8420 = = 8420
W
= 8,42 kW
4.2.3 Dengan mengggunakan debit
sebesar 8 LPM

Gambar 4.5. skema balance energi
turbin 8 LPM

Gambar 4.6. diagram proses 8
LPM
4.2.3.1 Persamaan balance energi
di turbin:
( ) ( )
t
T
W E E
dt
dE
+ =
|
.
|

\
|
4 3

- Asumsi : - aliran
~stasioner
- 0 , 0 ~ A ~ A EP EK


- Maka:

4 3
E E W
T
=
4 3
h h W
T
=


- Kerja turbin isentropik:
s
h h Wts
4 3
=

4.2.3.2 Estimasi h
4s
:
fg s f s
S X S S S + = =
4 4 3 4

fg
f
s
S
S S
X
4 3
4

=
k kg
kj
k kg
kj
k kg
kj
X
s

=
0,49012
0,42302 1,7092
4

k kg
kj
k kg
kj
X
s

=
0,49012
28618 , 1
4

kg
kj
X
s
624 , 2
4
=
Maka:
4 4 4 4 fg s f s
h X h h + =


kg
kj
kg
kj
kg
kj
h
s
35 , 83 624 , 2 35 , 79
4
+ =

kg
kj
h
s
45 . 375
4
=

4.2.3.3 Estimasi h
4
:
s Ts
T
T
h h
h h
W
W
4 3
4 3

= = q
( ) | |
s t
h h h h
4 3 3 4
= q


(

|
.
|

\
|
=
kg
kj
kg
kj
kg
kj
h 45 , 375 52 , 421 9 . 0 52 , 421
4

kg
kj
kg
kj
h 64 . 95 52 , 421
4
=

kg
kj
h 877 , 325
4
=

4.2.3.4 Kerja yang dihasilkan
turbin:
4 3
h h Wt =
kg
kj
kg
kj
877 , 325 52 , 421 =

kg
kj
643 , 95 =
kg
j
95643 =

4.2.3.5 Daya yang dihasilkan
turbin:

uap m Wt Wt
- -
=
s
kg
kg
j
133 , 0 95643 =
s
j
5 , 12720 = = 5 , 12720 W
= 7205 , 12 kW
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Setelah melalui proses panjang,
mulai dari pengujian, pengambilan data,
dan pengolahan data ada beberapa
kesimpulan yang dapat dikemukakan oleh
penulis, secara umum isi kesimpulan yang
akan disajikan dibawah ini cenderung
bersifat analisis dan terfokus pada unit
turbin .
Dari hasil perhitungan secara
teoritis dan pengolahan data maka
diperoleh performance /kebutuhan untuk
masing-masing laju aliran sebagai berikut:
1. Untuk debit sebesar 3 LPM :
Uap yang keluar dari turbin
kg
kj
86 , 324 =

Kerja yang dihasilkan
turbin
kg
j
102960 =

Daya yang dihasilkan
turbin= 148 , 5 kW
2. Untuk debit sebesar 5 LPM:
Uap yang keluar dari turbin
kg
kj
38 , 321 =

Kerja yang dihasilkan
turbin
kg
j
105250 =

Daya yang dihasilkan
turbin= 8,42 kW
3. Untuk debit sebesar 8 LPM:
Uap yang keluar dari turbin
kg
kj
877 , 325 =

Kerja yang dihasilkan
turbin
kg
j
95643 =

Daya yang dihasilkan
turbin= 7205 , 12 kW
Dari data perhitungan secara
teoritis dapat disimpulkan bahwa semakin
besar debit yang digunakan maka semakin
besar pula daya yang dihasilkan.
5.2 Saran
Dari hasil pengujian parabolic solar
collector, berdasarkan analisa turbin dapat
disarankan beberapa hal :
- Perlu diperhatikan kondisi pipa
di parabolic solar collector,
terutama sebelum melakukuan
pengujian.
- Untuk mengurangi heat loss,
sebaiknya gunakan pipa
absorber dengan selubung
trasparan.
- Periksa Kondisi sambungan
secara rutin jika kurang sesuai
kemungkinan besar akan terjadi
kebocoran yang mengakibatkan
volume fluida kerja didalam
sistem berkurang.
- Perlu pengembangan lebih
lanjut untuk mendapat
performa yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Arismunandar, Wiranto. Penggerak
Muka Turbin, ITB, Bandung, 1988.
2. Dietzel, FritzSriyono Dakso.
Turbin Pompa Dan Kompresor,
Erlangga, Jakarta, 1990
3. Paryatmo, Wibowo. Turbin Air,
Graha Ilmu, Jakarta, 2007.
4. Saad, Michel A. Termodinamika
Prinsip Dan Aplikasi, Prenhallindo,
Jakarta, 2000.
5. William C Reynolds, Henry C.
Perkins, Filiono Harahap.
Thermodinamika Teknik,
Erlangga, Jakarta,1991