You are on page 1of 24

Wilayah Administrasi

Secara geografis wilayah Kota Balikpapan berada antara 1,0 LS - 1,5 LS dan 116,5 BT - 117,5 yang luasnya sekitar 50.330,57 Ha atau sekitar 503,3 Km � dengan batas-batas sebagai berikut :
o o o o

Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kutai. Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Makassar. Sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pasir.

Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 1996, maka sejak 24 Pebruari 1997 Kota Balikpapan resmi dimekarkan dari 3 (tiga) Kecamatan menjadi 5 (lima) Kecamatan yaitu : 1.Kecamatan Balikpapan Timur 2.Kecamatan Balikpapan Selatan 3.Kecamatan Balikpapan Tengah 4.Kecamatan Balikpapan Utara 5.Kecamatan Balikpapan Barat Sehubungan dengan pemekaran wilayah kecamatan tersebut, maka melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur No. 19 Tahun 1996, maka sejak tanggal 15 Oktober 1996 ditetapkan 7 (tujuh) kelurahan persiapan menjadi kelurahan definitif dan pada tanggal 17 Mei 1996 ditetapkan pula melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur perubahan status Desa Manggar Baru menjadi Kelurahan Manggar Baru secara definitif. Dengan demikian maka pada saat ini wilayah Kota Balikpapan terdiri dari 27 (dua puluh tujuh) Kelurahan yaitu :
1. Manggar 2. Manggar Baru 3. Lamaru 4. Teritip 5. Prapatan 6. Klandasan Ulu 7. Klandasan Ilir 8. Damai 9. Gunung Bahagia 10. Sepinggan 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Gunung Sari Ilir Gunung Sari Ulu Mekar Sari Karang Rejo Sumber Rejo Karang Jati Gunung Samarinda Muara Rapak Batu Ampar Karang Joang 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Baru Ilir Margo Mulyo Marga Sari Baru Tengah Baru Ulu Kariangau BAtu Ampar

Dari 27 kelurahan tersebut terdapat 369 RW dan 1.143 RT. Ini berarti bahwa jumlah RW sebelum dan sesudah pemekaran tidak berubah sedangkan RT mengalami penambahan sebanyak 62 buah sehingga berubah dari jumlah 1.081 menjadi 1.143 buah RT.

Untuk jelasnya, letak geografis Kota Balikpapan dapat dilihat pada peta (1), sedang jumlah kelurahan berikut RW dan RTnya baik sebelum dan sesudah pemekaran serta luasnya dapat dilihat pada tabel (1.) berikut :

TOPOGRAFI
Keadaan Topografi Kota Balikpapan adalah sekitar 85% terdiri dari daerah berbukit-bukit dan hanya sekitar 15% merupakan daerah-daerah datar yang sempit dan terletak di daerah sepanjang pantai dan daerah diantara perbukitan. Struktur tanah di Kota Balikpapan ini terdiri atas tanah podsolik merah kuning, tanah aluvial dan pasir kwarsa. Diantara ketiga jenis yang paling banyak terdapat di daerah ini adalah jenis tanah podsolik merah kuning yang mempunyai tingkat kesuburan yang rendah disebabkan karena lapisan topsolinya yang tipis dan batuannya muda sehingga tanahnya bersifat labil dan terdapat pada daerah perbukitan yang mempunyai kemiringan diatas 15%, apabila curah hujannya tinggi akan mengakibatkan tanah tersebut nudah merosot dan terkikis karena erosi, sehinga daerah ini kurang memungkinkan untuk dapat dikembangkan tanaman pertanian pangan tetapi lebih cocok untuk pengembangan tanaman keras/perkebunan. Sedangkan sebagian kecil lainnya daerah ini terdiri dari tanah alluvial yang mempunyai tingkat kesuburan yang relatif baik dan pasir kwarsa sebagai bahan dasar pembuatan kaca. Kondisi Iklim Kota Balikpapan pada tahun 1990 adalah sebagai berikut : a. Suhu udara minimum rata-rata 24,4� C b. Suhu udara maksimum rata-rata 30,5� c. Kelembaban udara rata-rata 85% d. Kecepatan angin rata-rata 0,6 knots e. Tekanan udara rata-rata 1.009,8 milibar f. Curah hujan rata-rata setiap bulan pada tahun 1989 adalah 169,4 mm, sedangkan rata-rata hari hujan perbulan adalah 12,3 hari Sungai Kota Balikpapan memiliki sungai sebanyak 19 buah, yang mana sebagian dari sungai-sungai ini mempunyai peranan penting disamping sebagai sumber kebutuhan air baku untuk keperluan air minum penduduk juga berfungsi sebagai sarana transportasi. Sungai-sungai yang mempunyai peranan penting dan penggunaanya dapat dilihat di tabel 2 dibawah ini :

Tabel 2 : Sungai-sungai dan Penggunaanya di Kota Balikpapan No 1 2 3 4 5 Nama Sungai Klandasan Besar Sungai Wain Sungai Teritip Sungai Somber Waduk Manggar Penggunaan Sumber Air Baku PDAM Sumber Air Baku Pertamina Pengairan / Bendungan Transportasi (Dermaga Ferry) Sumber Air Baku Keterangan Debit 50 � 150 Lt/detik Debit 165 Lt/detik --Debit 500 Lt/detik

Sumber : Bappeda Kota Balikpapan

Wilayah
1.

Luas Wilayah dan Kecamatan Dengan ditetapkan dan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1996 tanggal 16 Juni 1996 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 26 Tahun 1987 tentang penetapan Batas Wilayah Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai, Kabupaten Pasir, maka secara administrasi Kotamadya Daerah Tingkat II Balikpapan mempunyai luas wilayah seluas 503.3057 km2 yang terbagi atas 5 Kecamatan yaitu : a) b) c) d) e) 2. Kecamatan Balikpapan Utara Kecamatan Balikpapan Barat Kecamatan Balikpapan Timur Kecamatan Balikpapan Selatan Kecamatan Balikpapan Tengah

Letak dan Batas Wilayah Kota Balikpapan merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur dengan posisi diantara 1 derajat LU � 1.5 derajat LS dan diantara 116,5 derajat BT � 117 derajat BT dengan batas-batas sebagai berikut : a) Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai b) c) d) Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Makasar Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Makasar Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pasir

KEMAMPUAN TANAH
Ketinggian Tempat

Kota Balikpapan umumnya berbukit-bukit dan hanya sebagian yang landai yakni didaerah sepanjang pantai serta daerah-daerah yang berada diantara perbukitan yang setempatsetempat berupa dataran yang sempit. Topografi wilayah ini merupakan perbukitan bergelombang dengan kemiringan rata - rata (10 - 15 ) dengan perbedaan antara puncak bukit dan lembah rata-rata kurang dari 100 meter Ketinggian wilayah ini dari permukaan laut berkisar antar 0 - 80 m. Untuk mengetahui keadaan luas daerah berdasarkan ketinggian tempat dalam wilayah Kota Balikpapan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2 : Luas Daerah Berdasarkan Ketinggian Tempat Yang Dirinci Pada Tiap Kecamatan di Kota Balikpapan. N0 Luas Wilayah ( Ha ) Ketinggian ( dp1/Ha ) 0 - 10 M 10 - 20 M > 20 M A Balikpapan 13.715,80 9.690,30 3.525,50 -Timur 1. Manggar 3.525,50 -3.525,50 -2. Manggar 383,60 383,60 --Baru 3. Lamaru 4.855,50 4.355,50 --4. Teritib 4.951,20 4.951,20 --B Balikpapan Selatan 1. Perapatan 2. Telaga Sari 3. Kelandasan Ulu 4. Kelandasan Ilir 5. Damai 6. Gunung Bahagia 7. Sepinggan Balikpapan Tengah 1. Gn. Sari Ilir 2. Gn. Sari 4.795,57 314,12 253,48 89,00 143,50 601,75 891,72 2.502,00 31,00 --31,00 ----47,82 --47,82 ----4.771,25 314,12 253,48 64,68 143,50 601,75 891,72 2.502

C

1.107,38 114,10 182,52

114,10 114,10 --

----

993,28 -182,52

Ulu 3. Mekar Sari 4. Karang Rejo 5. Sumber Rejo 6. Karang Jati. D Balikpapan Utara 1. Gn. Samarinda 2. Muara Rapak 3. Batu Ampar 4. Karang Joang Balikpapan Barat 1. Baru Ilir 2. Margo Mulyo 3. Marga Sari 4. Baru Tengah 5. Baru Ulu 6. Kariangau Kota Balikpapan

128,66 120,50 220,50 341,10

-----

-----

128,66 120,50 220,50 241,50

13.216,62 573,80 352,72 2,980,70 9.309,40

1.515,70 --1.515,70 --

1.912,52 573,80 352,72 986,00 --

------

E

17.995,20 58,90 184,53 66,50 57,04 95,48 17.532,75 50.830,57

25,48 --25,48 ---11.376,58

-------5.485,84

17,969,72 58,90 57,04 70,00 184,53 66,50 17.532,75 23.734,25

Pemerintah Kota Balikpapan, Jl.Jend. Sudirman No. 1 Telp. 0542 - 421500, 421600, 423864, Fax. 425412 - 733711 Email : admin@balikpapan.go.id

Lereng / Kemiringan Tanah
Lereng didefinisikan sebagai hasil beda ketinggian antara dua tempat (kedudukan) dengan jarak datarnya yang dinyatakan dalam persen, oleh karena suatu wilayah dapat dikelaskan berdasarkan lereng. Di Kota Balikpapan, luas wilayah berdasarkan kelas lereng adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 0 - 2 % = 6.976 Ha 2 - 15 % = 5.709 Ha 15 - 40 % = 12.394 Ha > 40 % = 18.171 Ha

Dari data diatas menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Balikpapan mempunyai kelas lereng > 40 % yakni seluas 18.171 Ha. Tingkat

kemiringan/lereng tanah diatas 40% inilah merupakan salah satu kendala bagi pengembangan fisik kota. Hal ini terutama berkaitan dengan tingkat kestabilan lereng dan tatanan keseimbangan debet air permukaan. Kemiringan ini dampak pada topografi Balikpapan yanghampir selurunnya berbukit (85%), terutama dibagian utara wilayah kota. Untuk mengetahui lokasi secara lebih jelas mengenai tingkat kelerengan ini dapat dilihat pada peta berikut ini. Kedalaman Efektif Tanah / Sedimen Tanah. Kedalaman tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, selain itu juga menentukan jumlah unsur hara dan air yang dapat diserap tanaman. Kedalaman efektif tanah adalah suatu kedalaman yang diukur dari permukaan tanah sampai pada lapisan kedap air, yakni ; lapisan pasir, kerikil, batu lignit. Ini sangat ditentukan dari tingkat pelapukan humus yang ada dipermukaan dan jenis batuan induk yang melapuk menjadi soil. Penyebaran kedalaman sedimen tanah di Kota Balikpapan dapat dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu : � � � Kedalaman efektif antara 30 Cm sampai 60 Cm, seluas + 50% dari luas wilayah kota. Kedalaman efektif diatas 60 - 90 Cm, seluas + 40% dari luas wilayah kota. Kedalaman efektif diatas 90 Cm, seluas + 10% dari luas wilayah kota. Lahan Kritis Jumlah lahan di Kota Balikpapan yang bisa dikategorikan lahan kritis selama tahun 1999 atau awal tahun 2000 termasuk cukup luasyaitu sekitar 82,3 Ha. Lahan kritis tersebut terdapat di Kecamatan Balikpapan Selatan. Dari hasil pemantauan dan inventarisasi pada bulan Januari 2000 tercatat + 20 lokasi yang tersebar di Kelurahan Sepinggan dan Damai. Sedangkan untuk Kecamatan lainnya relatif masih kecil. Untuk mengetahui jumlah dan luasan lahan kritis yang ada di Kota Balikpapan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Dari tabel di atas memperlihatkan pengolahan lahan menjadi lahan kritis, disebabkan karena lahan tersebut tidak dikelola lagi akibat kurang biaya/ krisis dan kurang tegasnya Pemerintah Daerah (Instansi terkait) dalam mengambil keputusan dan pengawasan terhadap izin pembukaan lahan. Banyaknya pengusaha dan perorangan yang membuka lahan untuk perumahan menyebabkan terjadinya beberapa kerusakan sarana dan prasarana yang dibangun oleh pemerintah serta menimbulkan banjir dibeberapa kawasan akibat pendangkalan saluran/draninase, baik primer, sekunder maupun tersier.

Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Drainase Daerah Aliran Sungai atau DAS merupakan suatu Topografi Devide (Pemisah Topografi) yang mengalirkan air kedalam dua atau lebih drainase. Pengertian lain DAS adalah sebagai suatu kesatuan wilayah tata air yang juga merupakan ekosistem, dimana keadaan, tindakan dan pengaruh yang berlaku pada salah satu unsur atau bagian didalamnya akan mempengaruhi kumpulan unsur atau wilayah secara keseluruhan. Pesatnya pembangunan Kota Balikpapan yang kurang memperhatikan fungsi suatu ekosistem, maka banyak pula permasalahan lingkungan yang timbul, diantaranya adalah dari segi tata lingkungan maupun pegendalian banjir, serta sistem drainase lingkungan. Seperti adanya perubahan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ampal, sering mengakibatkan banjir di sepnajang Sungai Ampal / Sungai Klandasan Besar. Untuk lebih jelasnya Panjang sungai besar yang ada di Kota Balikpapan adalah sebagai berikut : 1.������ Sungai Ampal / Sungai Klandasan Besar, panjangnya 55.680,7 m. 2.������ Sungai Wain, panjangnya 18.300 m. 3.������ Sungai Manggar Baru, panjangnya 15.000 m. 4.������ Sungai Manggar Kecil, panjangnya 9.500 m. 5. ����� Sungai Sepinggan, panjangnya 4.900 m. 6. ����� Sungai Dam, panjangnya 4.500 m. 7. ���� Sungai Klandasan kecil, panjangnya 2.100 m. Bardasarkan hasil penelitian DAS Sungai Ampal / Sungai Klandasan Besar, keadaan topografi di DAS Sungai Ampal / Sungai Klandasan Besar beragam, yang paling tinggi mencapai kontur 100 meter diatas permukaan laut, berupa bukit-bukit yang berupa hutan haterogen, berupa hutan lindung, perumahan dan kebun rakyat, dengan kondisi yang berbukit-bukit itu dan sebagian lembahlembah berupa cekungan dan hanya sedikit daerah yang datar. Maka saat hujan lebat air permukaan cenderung mengalir kearah lembah-lembah yang berupa tandon, yang pada akhirnya sebagai daerah tampungan air hujan yang semakin luas berupa rawa-rawa karena alur sungai yang berfungsi untuk mengalirkan air tidak bisa menampung air lagi. Mengingat pada DAS tersebut prasarana yang ada saat ini belum tertata dengan baik dan sebagian telah berubah menjadi lahan perumahan sehingga mengakibatkan terjadinya banjir / genangan pada daerah Karang Rejo dan

sekitarnya sampai ke kampung Damai, kondisi drainase di sepanjang DAS Sungai Ampal pada saat ini sebagian masih merupakan drainase alam yang tidak beraturan dan bermender. Secara keseluruhan , DAS Ampal terdiri atas saluran-saluran dan beberapa sub daerah aliran sungai yang menyertainya , yakni :
N0 1 2 3 4 5 Nama SUb DAS ASAK il ASAK i2 ASAT g ASAK al SA Hilir DAS Ampal Luas ( Km ) 2.219 3.478 7.707 7.053 6.075 26.533 Panjang Sungai ( M ) 1.785 5.410 16.156,8 22.205 10.123,5 55.680,3

Dan pada masing-masing Sub Das, terdapat :

1.

Drainase Mayor : Yaitu batang induk Sungai Ampal dan Klandasan yang melintasi Kelurahan-Kelurahan Gunung Sari Ilir, Karang Rejo, Gunung Samarinda, dan Batu Ampar. Keseluruhan Drainase Mayor ini bermuara dilaut Makassar. Drainase Primer : Umumnya juga merupakan alamiah berupa sungai kecil oulet drainase primer menuju drainase mayor. Drainase Sekunder : Umumnya merupakan saluran dan sebagian saluran almiah dan bermuara disaluran primer. Drainase Tersier : Outlet drainase ini pada saluran sekunder. Drainase Lingkungan : Outlet drainase ini pada saluran sekunder.

2.

3.

4. 5.

Drainase Kota. Pengelolaan drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyeluruh dimulai dari tahap perencanaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan, serta ditunjang dengan peningkatan kelembagaan, pembiayaan serta partisipasi masyarakat. Peningkatan pemahaman mengenai drainase kepada pihak yang terlibat baik pelaksana maupun yang perlu dilakukan secara kesinambungan agar penanganan drainase dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan klasifikasi drainase dan tingkat kejenuhan tanah yang dihubungkan dengan kecepatan meresapnya (infiltrasi) air permukaan tanah, maka daerah Balikpapan dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu : 1. Daerah yang tidak pernah tergenang seluas 32.875 Ha atau sekitar 65 % dari luas wilayah Balikpapan. 2. Daerah yang tergenang periodik seluas 83 HA atau 0,16 % dari luas wilayah, disamping itu terdapat pula daerah yang selalu tergenang apabila musim penghujan yaitu pada daerah sekitar sungai dan dataran rendah lainnya. 3. Berdasarkan status pengalirannya maka drainase Kotamadya Balikpapan terdiri atas :

o

o

o

Drainase Primer adalah drainase utama dimana ia berfungsi sebagai daerah tumpahan air dari drainase sekunder dan drainase tersier sebelum ke laut. Drainase Primer juga merupakan aliran-aliran sungai utama yang ada di Balikpapan. Drainase Primer yang ada di Kota Balikpapan adalah Sungai Klandasan Besar, Sungai Klandasan Kecil, Sungai Manggar Besar, Sungai Manggar Kecil, Sungai Batakan, Sungai Sepinggan, Sungai Pandan Sari, Sungai Somber dan Sungai Wain. Drainase Sekunder adalah wadah pengaliran dari drainase tersier sebelum ke drainase Primer. Drainase sekunder tersebut dapat berupa anak-anak sungai dari drainase primer. Drainase Tersier adalah drainase yang merupakan wadah pengaliran yang umumnya merupakan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang berada di lingkungan pemukiman maupun perkotaan.

Tabel 5 : Panjang Drainase Kota Balikpapan. N0 Saluran Tercatat Berdasarkan Program Yang Di Kekurangan (m) Peta ( m ) Laksanakan ( m ) (m) 1 Primer 14.543 32.319 9.935 4.96 2 Sekunder 30.316 35.841 10.485 16.171 3 Tersier 20.690 453.765 18.505 2.188

GEOLOGI Formasi geologi Kota Balikpapan terdiri dari Meosin Atas dan Alluvial Undak Terumbu Koral. Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa Meosin Atas mencapai luas 20.937 Ha, dan Alluvial Undak Terumbu Koral mencapai luas 31.743 Ha. Jenis batuan yang ada terdiri dari endapan permukaan dan batuan sedimen dan gunung api. Endapan permukaan berupa endapan alluvium, terdiri dari kerikil, pasir, lempung dan lumpur, umumnya tersebar disepanjang pantai timur di sekitar Tanah Grogot, Teluk Adang dan Teluk Balikpapan. Sedangkan jenis batuan sedimen dan gunung api, terdiri dari tiga formasi batuan yaitu Formasi Pulau Balang, Formasi Balikpapan dan Formasi Kampung Baru. Mengingat sebagian besar lahan di Kota Balikpapan berjenis podsolik merah kuning dan pasir kwarsa dan bertekstur kasar serta ikatan batuan yang lemah, disebabkan tanah tersebut dibentuk dari jenis batuan yang berumur relatif muda. Sedangkan sifat tanahnya sangat mudah tererosi dan jenuh akan air. Sedangkan pembentukan jenis-jenis tanah ditentukan oleh beberapa faktor batuan induk, topografi, umur, iklim dan vegetasi/biologi serta pengaruh faktor lainnya, sehingga mengalami proses lebih lanjut secara terus menerus. Jenis tanah yang terdapat di Kota Balikpapan adalah sebagai berikut :

Alluvial, terdiri dari material pasir, lempung dan lumpur yang terbentuk dalam lingkungan sungai dan pantai. Jenis tanah ini menempati kira-kira seluas 5% dari wilayah Kota Balikpapan. Pada jenis tanah Alluvial ini tersedia minimal cukup unsur hara yang berguna bagi tumbuh-tumbuhan namun sebagian besar tanah ini dipengaruhi oleh unsur bahan induk sehingga menjadikan kurang subur bagi lahan pertanian. Podsolik Merah Kuning, jenis tanah ini menempati wilayah Kota Balikpapan sekitar 80%, keadaan tekstur tanah liat, porositas jelek dan mudah larut bersama air. Tanah Pasir, sekitar 15% dari wilayah Kota Balikpapan, tanah pasir ini mengandung kuarsa, lempung serta serpih dengan sisipan napal dan batu bara, berwarna kecoklatan agak kelabu, porositas baik, rapuh dan tingkat erosi sangat tinggi.

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah yaitu partikel pasir, debu dan liat. Kasar halusnya tekstur tanah dalam suatu wilayah penggolongan tanah tersebut. Tekstur tanah dapat menentukan tata air dalam tanah berupa kerapatan infiltrasi, penetrasi dan kemampuan pengikatan/sementasi oleh air tanah. Apabila tekstur tanah halus maka tanah tersebut sangat sulit meluluskan air dan apabila tekstur tanah tersebut kasar akan mudah meluluskan air. Kawasan Hutan Lindung / Reboisasi Dalam kebijaksanaan penataan ruang yang tertuang dalam Pola Dasar Pembangunan Kota Balikpapan disebutkan bahwa arah kebijaksanaan pokok tentang pemanfaatan ruang, sesuai dengan kondisi fisik wilayah dan sosial ekonomi masyarakat Kota Balikpapan, berasaskan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan guna mewujudkan keterkaitan keseimbangan antar wilayah. Kebijaksanaan lain menetapkan hutan lindung/kawasan lindung sebagai daerah konservasi lahan kritis yang didasarkan pada kelestarian lingkungan. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat-sifat wilayahnya perlu dibina dan dipertahankan sebagai hutan guna kepentingan hidro-orologi, yaitu mengatur tata air, mencegah banjir dan kesuburan tanah. Faktor-faktor yang duperhatikan dan diperhitungkan didalam penetapan perlunya hutan lindung didalam suatu wilayah adalah lereng lapangan, jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi dan intensitas hujan dari wilayah yang bersangkutan.

Hutan lindung Sungai Wain adalah hutan dataran rendah di Kalimanntan Timur sekitar 15 kilometer sebelah utara Balikpapan. Kawasan hutan ini mulai ditetapkan sebagai hutan tutupan oleh Sultan dari Kerajaan Kutai tahun 1934. Kemudian pada tahun 1983 area didalam Sungai Wain seluas 3.925 Ha dinyatakan sebagai hutan lindung oleh Menteri Pertanian. Pada tahun 1988 Menteri kehutanan menunjuk area lainnya di Sungai Wain yaitu seluas 6.100 Ha sebagai hutan lindung sehingga secara keseluruhan luas hutan lindung Sungai Wain yang ditunjuk sebagai hutan lindung adalah 10.025 Ha. Dalam pengelolaan hutan lindung/kawasan lindung indikasi penyimpangan dan pemanfaatan lahan yang terjadi diwilayah Kota Balikpapan, tidak saja terjadi pada sektor kawasan kota dan sepanjang jalur pergerakan utama kota atau pada kawasan budidaya akan tetapi juga terjadi pada kawasan hinterland kota khususnya pada kawasan non budidaya (kawasan lindung) yang dialih fungsikan menjadi kawasan budidaya. Hal tersebut terjadi pada sebagian kawasan hutan lindung daerah Kota Balikpapan. Baik hutan lindung Sungai Wain maupun hutan lindung DAS Manggar. Di kedua kawasan ini mengalami perambahan dan penebangan liar oleh kelompok masyarakat, hal tersebut dikhawatirkan akan terus merosot kualitas dan daya dukungnya jika tidak segera diamankan untuk kepentingan bersama. Hutan lindung Manggar (DAS) terletak pada koordinat 116o 52' 00' - 166o 56' 60' Bujur Timur dan 01o 05' - 01o 12' 00' Lintang Selatan membentang dan berbatasan langsung dengan tepi jalan sepanjang jalur Soekarno - Hatta dari Km.20 hingga kilometer 25 yang juga merupakan jalur utama transportasi darat Balikpapan ke Samarinda. Sedangkan secara administratif hutan lindung DAS Manggar terletak pada wilayah Kelurahan Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara. Luas hutan manggar (DAS) berdasarkan SK Menteri Kehutanan seluas 4.999 Ha atau 9,8 % dari wilayah Kota Balikpapan dari luas wilayah Kota Balikpapan secara keseluruhan. Berdasarkan laporan Tim Penelitian dari Penyusunan Rencana Penetapan Hutan Lindung Sei Manggar dan Sungai Wain sebagai sumber air baku PDAM Balikpapan dan Pertamina. Sedangkan jumlah penduduk yang bermukim di Sei Manggar kurang lebih 400 KK, sedangkan jumlah penduduk di kawasan hutan lindung Sungai Wain + 147 KK yang bermukim. Pada umumnya mata pencaharian penduduk yang bermukim di kawasan hutan lindung kawasan Manggar (DAS) adalah bertani (Sawah, ladang) dan berkebun (kebun campuran). Berdasarkan kebijaksanaan yang tertuang didalam Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan, peruntukan lokasi perencanaan adalah sebagai hutan lindung yang berfungsi selain untuk melestarikan sumber daya ada juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air (cathment area) bagi kebutuhan air baku PDAM dan sebagai daerah penyangga Kota Balikpapan. Namun hasil pengamatan dilapangan saat ini pada kawasan hutan lindung tersebut telah terdapat permukiman penduduk, kawasan pertanian, perkebunan dan peternakan

serta perambahan dan penembangan liar yang terus berlangsung, akan menyebabkan peralihan fungsi pada kawasan tersebut. Tabel Pemanfaatan Lahan Berdasrakan hasil survey dari inventarisasi yang dilakukan oleh Sub BIPHUT Balikpapan dapat disimpulkan kondisi hutan lindung DAS Manggar yang potensial sudah tidak ada, hanya yang masih tampak adalah seperti semak dan belukar dan padang ilalang. Hal ini disebabkan adanya kegiatan perladangan yang dilakukan oleh masyarakat setempat secara liar. Untuk lebih jelasnya pemanfaatan lahan dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 8 : Pemanfaatan Lahan Eksisting Pada Kawasan Hutan Lindung DAS Manggar N0 Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) % 1 Pemukiman 12,74 0,25 2 Sawah 3,92 0,07 3 Tegalan/Ladang 111,72 2,23 4 Perkebunan 23,52 0,47 5 Kebun Campuran 86,24 1,72 6 Alang-Alang 598,88 11,98 7 Semak Belukar 3.618,65 72,38 8 Penghijauan 125,44 2,50 9 Daerah Genangan 319,62 6,29 10 Taman 13,72 0,27 Total : 4.913,45 100 Sumber : Tim Penelitian Unmul Samarinda. Hutan lindung Sungai Wain terletak di Kalimantan Timur, arah timur laut Balikpapan, antara Km.15 - 24 dekat jalan utama dari Balikpapan menuju Samarinda (166o 47' - 166o 55' BT, 01o 02' 60 - 01o 10' LS). Kawasan ini mencakup areal seluas 10.025 Ha. Hutan lindung Sungai Wain dibatasi oleh lokasi hutan PT. INHUTANI I Batu Ampar disebelah utara.Batas sebelah barat kira-kira 1 - 2 Km dari Teluk Balikpapan, yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang langsung berhubungan dnegan Selat Sulawesi dan dibatasi oleh hutan Mangrove (Bakau) yang tidak dilindungi. Disebelah Selatan dan bagian sebelah Timur kawasan cadangan hayat ini dibatasi oleh lahan pertanian berskala kecil. Pada batas sebelah timur laut dibatasi oleh jalan utama dari Balikpapan menuju Samarinda antara Km.20 -24 dengan jarak sepanjang 4Km.

Tabel Penggunaan Lahan Kedudukan geografis, karakteristik geologis, kelangkaaan daerah dengan tipetipe hutan yang berbeda dan wilayah disekitarnya yang berkaitan dengan

sejumlah nilai-nilai serta fungsi hutan lindung Sungai Wain (HL Sungai Wain). Nilai-nilai tersebut meliputi aspek ekonomi, sosial, pelestarian (konsevasi) dan aspek ilmiah. Berdasarkan hasil survey Departemen Kehutanan dan Tropenbos Kalimantan Proyek Wanariset Samboja terhadap hutan lindung Sungai Wain bahwa pemanfaatan lahannya adalah sebagai berikut ini. Tabel 9 : Penggunaan Lahan Pada Hutan Lindung Sungai Wain. Pemanfaatan Luas % Lahan (Ha) Hutan Primer 5000,47 49,88 Beluber Bekas Ladang 4307,74 42,97 Belukar Rawa 501,00 5,00 Hutan Mangrove 29,79 0,29 Ladang 186,00 1,08 Total : 10,025 100 Sumber : Dephut - Wanariset Samboja Berdasarkan dari tabel tersebut diatas yang menduduki urutan yang masih utama adalah hutan primer, belukar bebas ladang, masing-masing mendapat 49,88% dan 42,97%, sedangkan hutan mangrove untuk hutan lindung Sungai Wain yang terdapat ditabel tersebut sangat sedikit, tapi hal ini disebabkan oleh perambahan/penebang liar khususnya pada kawasan Sungai Wain kiri dan kanan dan terdapat pula banyaknya petambak-petambak liar mungkin ini yang menyebabkan hutan mangrove (bakau) hanya 0,29 % dari jumlah keseluruhan luas hutan lindung Sungai Wain. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka upaya memaksimalkan fungsi kawasan hutan lindung DAS Manggar, tercermin beberapa permasalahan sebagai berikut ini : 1. Terjadinya perambahan dan okurasi dan pengalihan fungsi lahan oleh masyarakat, sebagian lahan dialihkan untuk perkebunan, pertanian dan peternakan. Belum ada batas penegasan hutan lindung dan kawasan penyangga (buffer zone) secara fisik dilapangan, serta masyarakat belum tahu persis keberadaan dan fungsi hutan lindung tersebut. Belum ada jalan inspeksi dan masyarakat yang bermukim disana berbatasan langsung dengan hutan lindung tersebut, jalan inspeksi tersebut untuk pengawasan dan pengendalian, karena penduduk yang berada ditempat tersebut secara sporadis sehingga akan rawan kebakaran hutannya.

2.

3.

4.

Akibat musim hujan erosi terjadi dilihat dari aliran permukaan (run off). Pada musim kemarau lahan dikawasan tersebut kering dan rawan akan kebakaran hutan.

Program Pengamanan Kawasan Hutan Lindung Arahan kebijaksanaan penyusunan rencana penataan kawasan lindung DAS Manggar dapat diuraikan sebagai berikut : 1. 2. 3. Mencegah pemanfaatan lahan yang kurang menguntungkan. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya secara spasial. Mencegah benturan-benturan pemanfaatan lahan yang bertentangan dengan peruntukan dan daya dukung lahan kawasan pencemaran. Menyusun konsep penataan kawasan yang lebih teknis sebagai acuan penataan kawasan tersebut baik untuk saat sekarang maupun dimasa yang akan datang. Melestarikan dan menciptakan kawasan hutan lindung yang sehat sehingga secarafungsional dapat berfungsi maksimal, sesuai dengan fungsi peruntukannya dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan hutan lindung tersebut. Konsep Dasar Perencanaan Konsep dasar perencanaan penataan kawasan hutan lindung kawasan DAS Manggar berdasarkan arahan kebijaksanaan konsep dasar penataan perlu diarahkan kegiatannya sebagai berikut : 1. Penataan kawasan permukiman, Penataan kawasan permukiman diupayakan dapat menampung seluruh aktivitas penduduk, agar masyarakat tetap mempunyai mata pencaharian dalam kawasan yang tertata serta mudah dalam pengawasannya. Relokasi permukiman ini tetap memperhatikan kepentingan penduduk yang akan menempati hunian yang baru sehingga diperlukan pengaturan penggunaan lahan yang dapat digunakan untuk hunian, lahan pertanian, dan penyangga hutan lindung. Penataan dan Penanaman Buffer Zone, Penataan dan Penanaman pada daerah Buffer zone atau kawasan penyangga dimaksudkan untuk lebih menjamin keamanan dan kelestarian fungsi hutan. Penanaman dilakukan pada area seluas kurang lebih 1000 Ha. Jenis tanaman yang ditanam pada kawasan disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis tanaman yang ada.

4.

5.

2.

3.

Pembuatan Jalan Inspeksi, Pembuatan jalan inpeksi/pendekat dimaksudkan untuk lebih mempertinggi tingkat aksesibilitas ke kawasan, dalam rangka pengawasan dan pemeliharaan inspeksi diupayakan dapat akses yang tinggi terhadap daerah-daerah yang rawan, dengan lebar jalan + 3 meter. Relokasi Penduduk, Relokasi penduduk dilakukan terhadap kurang lebih 400 Kepala Keluarga yang bermukim pada kawasan hutan lindung DAS Manggar terutama yang bermukim pada sekitar Waduk Manggar. Reboisasi, Reboisasi dilakukan pada daerah hutan lindung yang telah kritis/tandus, jenis tanaman disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis tanaman yang ada. Pembuatan sumur resapan, dimaksudkan untuk mengurangi aliran atas (run up) pada saat musim hujan. Sumur resapan dibuat sebanyak 6 buah yang ditempatkan pada beberapa bagian kawasan yang dianggap rawan erosi. Penyuluhan, Peyuluhan dimaksudkan untuk masyarakat baik yang bermukim pada lokasi masing-masing hutan lindung maupun penduduk yang bermukim disekitar lokasi masing-masing hutan lindung. Penyuluhan dimaksudkan agar masyarakat tersebut lebih mengetahui tentang keberadaan serta peran atau fungsi hutan lindung. Pembuatan Pagar Pembatas, Pembuatan pagar pembatas dilakukan terhadap masing-masing lokasi hutan lindung agar batas masing-masing hutan lindung terhadap kawasan sekitarnya lebih nyata, sehingga masyarakat tahu persis batas antara kawasan lindung dan kawasan budi daya, sekaligus untuk lebih menjamin keamanan dan kelestarian kawasan. Pembuatan Ilaran Api, Pembuatan ilaran api dilakukan terhadap kawasan hutan lindung, dimaksudkan untuk membatasi gerak api jika terjadi kebakaran. Sebagai media pembatas diupayakan produktif dengan kriteria jenis pohon rendah, tidak mudah terbakar, memberikan hasil (buah) yang disesuaikan dengan jenis tanah pada kawasan.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Wilayah 1. Luas Wilayah dan Kecamatan Dengan ditetapkan dan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1996 tanggal 16 Juni 1996 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 26 Tahun 1987 tentang penetapan Batas Wilayah Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai, Kabupaten Pasir,

maka secara administrasi Kotamadya Daerah Tingkat II Balikpapan mempunyai luas wilayah seluas 503.3057 km2 yang terbagi atas 5 Kecamatan yaitu : a) b) c) d) e) Kecamatan Balikpapan Utara Kecamatan Balikpapan Barat Kecamatan Balikpapan Timur Kecamatan Balikpapan Selatan Kecamatan Balikpapan Tengah

2. Letak dan Batas Wilayah

Kota Balikpapan merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur dengan posisi diantara 1 derajat LU � 1.5 derajat LS dan diantara 116,5 derajat BT � 117 derajat BT dengan batas-batas sebagai berikut : a) Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai b) c) d) Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Makasar Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Makasar Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pasir Iklim Wilayah Kalimantan Timur yang dibelah garis khatulistiwa memiliki iklim tropik basah, termasuk diantaranya adalah Kota Balikpapan. Curah hujan cukup tinggi terjadi merata di hampir sepanjang tahun, meskipun sebenarnya terdapat dua musim, yaitu : musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan biasa terjadi antara bulan Mei sampai dengan Oktober, sedangkan musim kemarau terjadi antara bulan November sampai dengan bulan April. Terjadinya dua musim ini terjadi sebagai pengaruh dari angin muson yang bertiup dari daerah khatulistiwa. Angin Muson Barat bertiup dari Australia terjadi pada rentang November - April, bersifat kering sehingga membawa musim kemarau. Sedangkan angin Muson Timur terjadi pada rentang Mei - Oktober bertiup dari Samudera Pasifik yang membawa uap air dan jatuh di wilayah Indonesia sebagai hujan. Pada bulan-bulan tertentu terjadi musim peralihan antara musim penghujan dan musim kemarau. Suhu dan Kelembaban Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Secara umum daerah Balikpapan beriklim panas dengan suhu udara sepanjang tahun relatif stabil, berkisar antara 22,7°C sampai dengan 34,6°C.

Sedangkan kelembaban udaranya berada pada kisaran kelembaban sedang - tinggi yaitu berkisar antara 81% - 89%. Curah Hujan dan Keadaan Angin Curah hujan di Kota Balikpapan beragam tiap bulannya. Rata-rata curah hujan tertinggi selama tahun 2006 terjadi di bulan Juni 133,4 mm dan terendah pada bulan Oktober 9,0 mm. Keadaan angin di Kota Balikpapan pada tahun 2006 dipantau dari Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika Kota Balikpapan menunjukkan bahwa kecepatan angin berkisar antara 5,00 knot sampai 9,00 knot. Kecepatan angin paling tinggi terjadi pada bulan Juli dan Agustus.

Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pengelolaan lingkungan dalam rangkaian studi AMDAL disebut rencana pengelolaan lingkungan yang didefinisikan sebagai dokumen yang mengandung upaya penanganan dampak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha atau kegiatan. Begitu pentingnya pengelolaan lingkungan yang langsung berhubungan dengan lingkungan masyarakat dan lingkungan alam di sekitar kegiatan sehingga pengelolaan lingkungan harus ditinjau dari berbagai aspek seperti aspek legal, aspek hukum pidana, dan aspek kegiatan pembangunan itu sendiri. Dengan demikian dasar pengelolaan lingkungan yang cukup rinci sehingga melaksanakan pengelolaan lingkungan selalu serius. Lingkup pengelolaan lingkungan mendasari pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Dalam perencanaan pengelolaan lingkungan ada beberapa hal yang perlu dipahami, yaitu: pemilihan teknologi, ketahanan peralatan produksi dan pengelolaan lingkungan, dan penyediaan SDM. Pada pengelolaan lingkungan dilakukan dengan pendekatan teknologi, ekonomi, institusi. Terdapat 2 (dua) dokumen pengelolaan lingkungan yang dibedakan berdasarkan pada penting tidaknya dampak terhadap lingkungan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) disusun berdasarkan evaluasi dampak penting pada studi ANDAL. Sedangkan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UPL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) disusun dari perkiraan dampak terhadap lingkungan tetapi bukan termasuk dampak penting. Kedua pengelolaan lingkungan dilakukan sesuai tahap pada pembangunan, yaitu prakonstruksi, konstruksi, dan operasi. 1. Sumber peraturan dan perundangan mengenai lingkungan hidup dalam tingkat nasional, sektoral maupun regional/daerah dapat dijumpai. a. Nasional: UU 19945; Ketentuan MPR-RI, Keputusan Presiden, Undang-Undang Khusus; Peraturan Pemerintah. b. Sektoral: Peraturan Menteri; SK Menteri; Regional/Daerah 2. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan ditetapkan berdasarkan ketentuan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup dan telah diperbarui di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 yaitu terdiri dari: a. Bab I mengenai ketentuan umum yang terdiri dari pasal 1 sampai dengan pasal 6. b. Bab II mengenai Tata Laksana pada Bagian pertama adalah kerangka Acuan ANDAL, yaitu pada pasal 7. c. Bab II Bagian kedua mengenai Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan karena (RKL) pemantauan lingkungan (RPL) yaitu dari pasal 8 sampai dengan pasal 14. 3. Bab II Bagian ketiga mengenai kadaluwarsa dan gugurnya keputusan persetujuan analisis dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan, dan rencana pemantauan lingkungan, yaitu dari Pasal 15 sampai dengan pasal 16. 4. Bab II bagian ke empat mengenai Komisi AMDAL, yaitu dari pasal 17 sampai dengan Pasal 19. 5. Bab III, Pasal 20 sampai Pasal 21 mengenai pembinaan.

6. Bab IV, Pasal 22 sampai Pasal 25 mengenai pengawasan. 7. Bab V, Pasal 26 sampai Pasal 28 mengenai pembiayaan. 8. Bab VI Pada pasal 29 adalah ketentuan penutup. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) diperlukan karena: a. setiap kegiatan/usaha manusia dan pembangunan akan menimbulkan perubahan lingkungan hidup sebagai hasil sampingan pembangunan; b. pembangunan adalah mutlak diperlukan untuk meningkatkan harkat derajat bangsa, meskipun ada hasil sampingannya yang dipengaruhi kualitas lingkungan hidup; c. AMDAL diperlukan agar kualitas lingkungan hidup tidak rusak karena adanya suatu kegiatan/usaha pembangunan; d. AMDAL harus dilakukan untuk proyek-proyek pembangunan yang akan menimbulkan dampak penting, karena undang-undang atau peraturan menghendaki demikian. 2. Kegunaan AMDAL bagi masyarakat: Sebagai kajian kelayakan lingkungan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang prosesnya melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan, AMDAL sangat berguna dalam: a. memberikan informasi secara jelas mengenai suatu rencana usaha, berikut dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya; b. menampung aspirasi, pengetahuan, dan pendapat penduduk, khususnya dalam masalah lingkungan, akan didirikannya rencana usaha tersebut; c. menampung informasi setempat yang berguna bagi pemrakarsa dan masyarakat dalam mengantisipasi dampak dan mengelola lingkungan. 3. Kelayakan suatu kegiatan atas dasar penyaringan terhadap kelayakan teknologi, kelayakan lingkungan suatu keakraban sosial ekonomi. Kerangka Acuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (KA-AMDAL) 1. Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan (PP Nomor 51 Tahun 1993, Pasal 1). Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL digunakan sebagai acuan bagi penyusunan Pedoman Teknis Penyusunan KA-ANDAL atau sebagai dasar penyusunan KA-ANDAL bilamana Pedoman Teknis Penyusunan KAANDAL usaha atau kegiatan yang bersangkutan belum ditetapkan. 2. Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL berlaku pula bagi keperluan penyusunan AMDAL Kegiatan Terpadu/Multisektor, AMDAL Kawasan dan AMDAL Regional. 3. Tujuan KA-ANDAL adalah: merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL dan mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya, tenaga, dan waktu yang tersedia.

4. Fungsi Dokumen KA-ANDAL adalah: Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa, instansi yang bertanggung jawab yang membidangi rencana usaha atau kegiatan, dan penyusun studi ANDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan dan sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. 5. Dasar Pertimbangan Penyusunan KA-ANDAL, yaitu adanya keanekaragaman, keterbatasan sumber daya dan efisiensi dalam penyusunan KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan yaitu: a. Mengetahui pengumpulan data dan informasi tentang: 1) Rencana usaha atau kegiatan. 2) Rona lingkungan awal. b. Proyeksi perubahan rona lingkungan awal sebagai akibat adanya rencana usaha atau kegiatan. c. Penentuan dampak penting terhadap lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan. d. Evaluasi dampak penting terhadap lingkungan e. Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan, perencana dan pengelola lingkungan berupa: 1) Alternatif usaha atau kegiatan. 2) Rencana Pengelolaan Lingkungan. 3) Rencana Pemantauan Lingkungan Kegiatan Pembangunan yang Berdampak Pada Lingkungan Rencana kerja dan komponen suatu rencana kegiatan pembangunan merupakan deskripsi dari: 1. Penentuan batas-batas lahan yang digunakan dan dapat memperlihatkan hubungannya dengan kegiatan lain sekitarnya. 2. Hubungan antara lokasi rencana usaha atau kegiatan dengan jarak tersedianya sumber daya: air, energi, alam hayati, dan non hayati. 3. Alternatif usaha atau kegiatan pembangunan berdasarkan studi kelayakan. 4. Tata letak usaha kegiatan dilengkapi dengan peta yang berskala memadai yang memuat tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha atau kegiatan. 5. Tahap pelaksanaan rencana usaha atau kegiatan pembangunan Ruang Lingkup Studi 1. Dalam melaksanakan Studi AMDAL perlu membuat ruang lingkungan studinya. Pertamatama harus ditentukan dahulu wilayah studinya/area studi yang kemudian melakukan pengamatan terhadap parameter lingkungan. 2. Ruang lingkup wilayah studi ditetapkan berdasarkan pertimbangan ruang

kegiatan/pembangunan dilaksanakan. 3. Penentuan wilayah studi ditetapkan berdasarkan 4 pendekatan, yaitu pendekatan: teknis, ekosistem, atau dua teknis. 4. Lingkungan terdiri dari komponen-komponen lingkungan dan setiap komponen lingkungan dibagi lagi menjadi parameter lingkungan. Parameter lingkungan sangat membantu dalam menganalisis suatu kegiatan pembangunan terhadap lingkungannya, yaitu antara lain untuk mengetahui tingkat pencemaran terhadap lingkungan. Metode Analisis dalam Studi AMDAL Metode Non-Matriks Beberapa metode pendukung yang dapat melengkapi analisis dampak lingkungan di antaranya adalah metode bagan alir, metode overlay (penumpukan peta), metode cost and benefit, dan metode analisis sistem informasi. 1. Metode bagan alir atau metode analisis jaringan (network analysis) menggambarkan bagan interaksi suatu sebab-akibat dampak yang akan terjadi pada suatu komponen lingkungan dan bagaimana kondisinya setelah terkena dampak. Lewat bagan alir ini secara kronologis dapat dijabarkan interaksi sebab-akibat baik pada tingkat dampak primer, sekunder dan tersier. 2. Metode overlay dapat menggambarkan wilayah-wilayah yang terkena dampak, sedangkan metode analisis jaringan dapat menggambarkan hubungan sebab-akibat suatu kegiatan terhadap dampak. 3. Metode cost and benefit ini merupakan pendekatan secara makro, karena manfaat proyek tidak terbatas pada wilayah di mana proyek itu berada, tetapi manfaat proyek, dapat dinikmati juga oleh wilayah-wilayah lainnya. Kelayakan proyek dinilai dari perbandingan cost and benefit yang berkisar dari 0 – 1. Proyek dikatakan layak bila perbandingan B/C di antara 0,6 – > 1. 4. Metode analisis sistem jaringan merupakan metode yang menggabungkan metode antara fotogrametri dan cartogrametri. Kini metode tersebut banyak dimanfaatkan untuk Sistem Informasi Geografi (SIG) yang sangat mengandalkan kemajuan teknologi di bidang komputer. Metode Matriks Metode matriks adalah metode yang menggunakan daftar uji (checklist) dua dimensi, yaitu daftar horizontal yang memuat acuan kegiatan pembangunan yang potensial menimbulkan dampak dan daftar vertikal yang memuat daftar komponen lingkungan hidup yang mungkin terkena dampak. Beberapa metode matriks interaksi yang sangat terkenal antara lain: matrik interaksi Leopold, Fisher and Davies, Moore, Philips and Defilipi, Welch and Lewis, Lohani and Thank, Ad-hoc, dan checklist. Dari ketiga metode matriks yang sering digunakan pada studi AMDAL tersebut di atas dapat dirangkum sebagai berikut.

1. Metode Ad-Hoc merupakan metode yang sangat sederhana dan tidak menunjukkan keistimewaan di samping tidak mempunyai acuan tertentu sehingga hasilnya tidak konsisten antara satu penelitian dengan penelitian lainnya. Metode ini melibatkan suatu tim dalam pendugaan dampak lingkungan menurut keahliannya masing-masing. 2. Metode Checklist merupakan metode yang lebih baik dibandingkan dengan metode Ad-Hoc karena telah ada susunan aktivitas kegiatan proyek dan komponen lingkungan. Metode ini telah berkembang dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. 3. Metode Leopold merupakan metode matriks yang dapat memberikan informasi yang lebih lengkap. Metode matriks Leopold membagi aktivitas pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak menjadi 100 macam, dan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak menjadi 88 macam. Matriks Leopold menggambarkan pula penilaian terhadap besar dan pentingnya suatu dampak. Metode ini mempunyai keuntungan maupun kesulitan dalam menganalisis dampak, oleh karena itu beberapa pakar memodifikasi metode matriks Leopold ini Teknik Identifikasi dan Pendugaan Dampak Melaksanakan identifikasi dampak merupakan tahap awal dalam analisis dampak lingkungan. Tahapan ini merupakan tahapan analisis yang penting dan sangat menentukan tahap-tahap analisis berikutnya. Bila tahap identifikasi dapat dilakukan dengan baik maka proses analisis berikutnya akan lebih mudah. Teknik yang digunakan dalam analisis identifikasi dampak dapat dilakukan dengan cara “Analogies, profesional judgment, dan delphi”. Adapun untuk kriteria untuk mengidentifikasi dampak penting dapat digunakan 7 (tujuh) kriteria dampak penting seperti yang tertuang dalam keputusan Kepala Bapedal RI Nomor 056 Tahun 1994. Pendugaan dampak sering diartikan dengan prakiraan dampak atau ramalan dampak atau prediksi dampak. Dampak yang diprakirakan adalah selisih kualitas lingkungan tanpa proyek (Qtp) dengan kualitas lingkungan dengan proyek (Qdp) atau Dampak = Qtp – Qdp. 1. Dampak positif bila Qdp > Qtp. 2. Dampak negatif bila Qdp < Qtp. b. Tidak ada dampak bila Qdp = Qtp. Metode pendugaan diklasifikasikan menjadi 2 (dua) metode, yaitu metode formal dan metode informal, metode formal terdiri dari: 1. model prakiraan cepat; 2. model matematik; 3. model fisik; 4. model eksperimental. Sedangkan metode informal terdiri atas: 1. penilaian para ahli; 2. analogi.

Evaluasi dampak dapat mencapai 2 (dua) sasaran yaitu: a. memberikan informasi tentang komponen apa saja yang terkena dampak dan seberapa besar dampak itu terjadi; b. memberi bahan untuk mengambil keputusan terutama komponen apa saja yang terkena dampak. Untuk dapat menafsirkan atau menginterpretasikan suatu hasil evaluasi dampak, perlu suatu kriteria penafsiran atau interpretasi dampak menurut Fandeli (1992) kriteria tersebut didasarkan pada significancy, explicit criteria, uncertamity, risk, alternatifves, aggregation, dan public involvement. Metode evaluasi dampak yang digunakan di antaranya adalah overlay, matrik, cheklist, flowchart, atau bagan alur. Sumber Buku Pengantar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Karya Mimmim Arumi Wardiati