You are on page 1of 35

Laporan Kuliah Geologi Lapangan "Daerah Waturranda

"
BAB I PENDAHULUAN Karangsambung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Di Kecamatan Karangsambung terdapat Lokasi Cagar Alam Geologi Nasional yang dikelola oleh Balai Informasi Dan Konservasi Kebumian Karangsambung-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Cagar Alam Geologi Nasional-Karangsambung merupakan laboratorium alam untuk mempelajari geologi pada khususnya dan kebumian pada umumnya. Terdapat berbagai batuan yang berumur antara 125 - 65 juta tahun yang lalu. Pada zaman tersebut kawasan Karangsambung merupakan dasar samudera. Akibat tumbukan antara tiga lempeng bumi, maka kawasan Karangsambung sekarang terangkat ke permukaan. Karangsambung telah dikenal sebagai wahana pembelajaran geologi sejak tahun 1854. Jung Huhn adalah salah satunya. Kemudian dilanjutkan oleh peneliti belanda lainnya sampai tahun 1933. Semenjak ilmu geologi mulai berkembang di Indonesia sekitar tahun 1964, mulailah peneliti-peneliti Indonesia melakukan penelitian di kawasan ini. Mengingat begitu pentingnya kawasan ini maka pada tahun 1964 dibangun sebuah Kampus Lapangan Geologi. Kampus ini dibangun dan terletak right on the spot, bukan saja pada titik yang menampilkan keindahan kemanapun mata memandang, tetapi ia juga berada pada pusat hamparan aneka ragam batuan. Pencetus berdirinya Kampus Lapangan Geologi ini adalah Prof. Dr. Sukendar Asikin, (Guru Besar Departemen Teknik Geologi ITB yang pada tahun 2003 memasuki masa purna bakti). Ide pendirian kampus ini adalah berawal ketika Sukendar Asikin pada tahun 1958 melanjutkan memperdalam „metoda geologi lapangan‟ di kampus lapangan geologi di Rocky Mountains, Montana dan „geologi struktur‟ di Indiana University, USA. Sekembalinya dari Amerika Serikat , dengan dukungan dari LIPI dan Departemen Urusan Research Nasional (DURENAS), beliau merealisasikan cita-citanya membangun Kampus Lapangan Geologi di Indonesia, di Karangsambung ini. Pada musim panas tahun 1965 mengawali penggunaan kampus ini, tercatat 22 orang mahasiswa dididik di Kampus Karangsambung yang berasal dari ITB, UGM, PTPN Veteran dan Asisten Geologi Akademi Perminyakan Pertamina.

1.1 Maksud dan Tujuan Maksud penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas matakuliah geologi

lapangan dan mengumpulkan data-data geologi daerah Waturanda, Karangsambung yang dapat diperoleh baik dari peta topografi maupun dari lapangan. Tujuan dari penulisan laporan ini adalah : 1. Mempelajari karakteristik geologi daerah Waturanda, Karangsambung, 2. Mengetahui proses-proses geomorfologi yang telah ataupun sedang berkembang di daerah 3. Menentukan dan mengelompokkan satuan batuan daerah Waturanda,Karangsambung, 4. Memahami fenomena-fenomena tektonik, stratigrafi, struktur geologi yang terdapat di daerah Waturanda Karangsambung 5. Merekonstruksi sejarah pembentukan atau keadaan stratigrafi dan menganalisa sejarah geologi di daerah Waturanda, Karangsambung.

1.2 Lokasi Penelitian Secara administratif daerah penelitian adalah daerah Waturanda dan sekitarnya Kecamatan Karangsambung Kabupaten Kebumen Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis daerah penelitian terletak koordinat 07° 30‟ 00‟‟ – 07° 45‟ 00‟‟ LS dan 109° 15‟ 00‟‟ – 109° 30‟ 00‟‟dan termasuk dalam lembar kebumen skala 1 : 25.000. dengan luas daerah 30 x 10 km.

1.3 Pencapaian Lokasi Karangsambung berlokasi 20 kilometer utara Kota Kebumen. Secara administratif masuk wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa tengah. merupakan daerah pegunungan. Bisa ditempuh melalui

jalan darat menggunakan beberapa alternatif kendaraan. Untuk pengunjung bisa menggunakan fasilitas mobil jemputan, tentu saja dengan tarif khusus. Jalur kereta api Dari stasiun kota kebumen bisa langsung menuju Karangsambung dengan menggunakan jasa ojek dengan tarif antara Rp 20.000 – Rp 25.000. Dari Stasiun kota kebumen bisa menggunakan jasa angkutan umum becak atau ojek menuju Mertokondo, kemudian naik angkutan umum Bus menuju karangsambung dengan tarif Rp 5000. Perjalanan ditempuh lebih kurang selama 45 menit.

-

Jalur Bus Dari terminal bus antarkota kota kebumen bisa langsung menuju Karangsambung dengan menggunakan jasa ojek dengan tarif antara Rp 20.000 – Rp 25.000.

-

Kendaraan Pribadi Dari kota Kebumen langsung menuju Karangsambung melewati jalan karangsambung. Gerbang masuk jalan ini berada di Mertokondo, persis di persimpangan pasar mertokondo. Perjalanan sejauh 20 kilometer bisa di tempuh kurang lebih 45 menit, mengingat jalan yang sempit namun mulus.

1.4 Geografi Kondisi Geografis Kondisi daerah pemetaan merupakan dataran rendah berupa wilayah endapan sungai(alluvial) dan berupa lembah di sebelah utara dan dataran tinggi berupa bukit dan punggungan di sebelah selatan, di daerah pemetaan banyak ditemukan beberapa sungai besar dan kecil yang keberadaanya bermanfaat bagi penduduk sekitar dan memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari , dengan adanya keberadaan sungai terebut memberikan manfaat juga berupa banyak ditemukan singkapan batuan yang segar yang ada di sekitar sungai

-

Kondisi Sosial Ekonomi

buruh dan para pegawai sipil pemerintahan. BAB II STUDI PUSTAKA 1. Lele. Peneliti Terdahulu . Prabu. jagung. dan kawan-kawan Teknik Geologi UNSOED. Kelompok “D‟Young Gun” (Purwadi. biasanya mereka melakukan aktivitas dengan menanam padi. karena banyak limbah tercemar disekitar sungai besar yang jadi pasokan utama dalam hal kebutuhan air penduduk sekitar. singkong.Ir. Seluruh dosen pembimbing baik dari ITB maupun UNSOED. pendidikan mereka mayoritas hanya sampai tingkat SMP-SMA Untuk sistem sanitasi bagi masyarakat sekitar belum berkembang dengan baik. Semoga laporan ini dapat bermanfaat menjadi referensi bagi yang akan melakukan pemetaan dan menambah pengetahuan kita tentang bumi. 3. Same). Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyusun laporan pemetaan ini. 2. masyarakat masih menggunakan kebutuhan air lewat sungai tanpa adanya sistem filterisasi yang memenuhi standar kesehatan. dan tanaman palawija lainya.Kondisi sosial ekonomi penduduk disekitar daerah pemetaaan banyak bermata pencaharian dibidang agrarian. mayoritas penduduk asli daerah pemetaan masih rendah. 4.5 Ucapan Terimakasih Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1.Bambang Priadi selaku Koordinator selama kegiatan “field camp” dan pemetaan. Kelompok Kacung. perdagangan. tetapi mayoritas para penduduk sekitar bermata pencaharian sebagai petani dan penambang pasir di sekitar sungai luk ulo. Ambon. Bapak Dr. 1. untuk yang bekerja sebagai petani. kelapa. Asisten dosen ITB & UNSOED atas inspirasinya. sedikit dari penduduk yang melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi. Indar. Untuk tingkat pendidikan.

struktur lipatan yang berkembang pada satuan endapan olistostrom berhubungan dengan sesar-sesar minor. Harsolumakso et al(1995) Secara khusus meneliti karakteristik satuan mélange dan olistostrom di daerah Karangsambung dengan menggunakan tahapan deskripsi. namun karena pengaruh dari jejak tektonik yang lebih tua mengontrol struktur batuan dasar khususnya yang lebih muda maka terdapat perbedaan antara daerah Jawa Barat. Harsolumakso et al(1995). Geomorfologi daerah Waturanda 2.Daerah Karangsambung telah mengundang banyak penelitian untuk mendiskusikan. Asikin(1974) Menganggap bahwa daerah ini memiliki tatanan geologi yang rumit. Harsolumakso dan Noeradi(1996) lebih lanjut membahas deformasi pada formasi Karangsambung. dengan urutan stratigrafi yang sulit di tata karena tidak mengikuti kaidah superposisi. dan Jawa Timur. dan turbidit pada endapan olistostrom dan kemudian campuran tersebut terlihat dalam deformasi tektonik yang kuat. .1 Fisiografi Regional Jawa Secara regional seluruh pulau Jawa memiliki perkembangan tektonik yang sama. Kapid dan Harsolumakso(1996). kesinambungan lapisan dan “faunal assemblage” yang berlaku. Determinasi fauna dari beberapa lintasan terpilih menunjukkan umur endapan olistostrom berkisar antara Eosen Awal-Miosen Tengah. Penulis ini menyimpulkan proses deformasi pada endapan olistostrom terjadi setelah sedimentasi dan tidak berhubungan dengan gejala pelengseran atau penggerusan yang sejalan dengan sedimentasi. Menurut mereka. Harsolumakso dan Noeradi(1996). slump. Untuk daerah Jawa Tengah terbagi menjadi empat zona fisiografi yaitu : Dataran Pantai Selatan. Umumnya satuan batuan yang berbeda dipisahkan oleh rekahan dan sesar yang terkadang ukurannya sering tidak dapat dipetakan. umumnya dapat diamati pada sisipan batupasir dan batulanau. penelitipeneliti terdahulu antara lain Asikin(1974). Jawa Tengah. Kapid dan Harsolumakso(1996) melakukan studi lebih detail dalam penentuan umur endapan olistostrom tersebut dengan pendekatan nannofosil. Penulis ini manafsirkan adanya mekanisme longsoran.

Paleosen. dan Dataran Pantai Utara (Van Bemmelen. 1985). dan Zone Bogor (Martodjojo.3 Letak Administratif Daerah pemetaan Waturanda berada pada wilayah Karangsambung (Kebumen. Pegunungan Serayu Utara. Sungai Lok Ulo ini menjadi muara bagi sungai-sungai yang memiliki hulu di dataran tinggi bukit.Australia dengan Tepi Benua Erasia selama Zaman Tersier adalah merupakan “Wilayah Retro Arc Fold Thrust Belt”. Daerah Waturanda terletak pada 7034‟00‟‟ .Pegunungan Serayu Selatan. 2. 1949). Sungai ini mengalir dari utara menuju selatan atau dari perbukitan Gunung Prahu-Paras hingga melewati Perbukitan Waturanda. Jawa Tengah). Letak daerah Karangsambung pada pulau Jawa) Daerah dataran rendah merupakan areal persawahan yang subur karena banyak dialiri aliran air permukaan. Fisiografi zona ini sama dengan Zone Kendeng (Pringgoprawiro. Zona ini pada sistem konvergensi antara Lempeng Hindia . Daerah ini memiliki kemiringan lereng dari 100 hingga 450 di dataran rendah dan lebih dari 450 pada dataran tinggi. Dataran ini memiliki tanah berjenis lempung dan pada sisi sungai merupakan dataran .7036‟30‟‟ Lintang Selatan dan 109037‟00‟‟109044‟00‟‟ Bujur Timur merupakan daerah dengan topografi yang beragam. 1976). Gambar 1. 2. Zona tersebut berperan dalam pembentukan dan proses Melange Lok Ulo pada umur Kapur .2 Fisiografi Regional Karangsambung Karangsambung berada pada zona fisiografi Pegunungan Serayu Selatan. Sungai Lok Ulo merupakan sungai utama pada wilayah ini.

Daerah Utara merupakan dataran rendah atau Aluvial. Air sungai yang melimpah dan tanahnya yang subur menjadikan penduduk banyak bermukim di daerah ini. penduduk bercocok tanam di sekitar sungai.aluvial. Satuan Lembah Antiklin Kedungjati 3. Sungai utama di daerah ini diantaranya : Kali Welaran. Desa Semampir. Daerah dataran tinggi memiliki batuan yang resisten dan pola aliran sungai yang khas yaitu pola dendritik. Jenis sungai ini sama dengan bagian utara yaitu. Desa Sumbersari. dan kenampakan di lapangan terdapat kelokan bersudut besar hasil erosi vertikal-lateral. Satuan Perbukitan Homoklin Selaranda Pembagian satuan-satuan tersebut didasarkan pada prinsip dasar dari geomorfologi itu sendiri. Daerah ini rentan longsor karena tanah lempung berada di atas batuan yang resisten. Daerah Selatan merupakan Perbukitan.5 Satuan Geomorfologi Waturanda. Daerah pemetaan Waturanda terbagi menjadi 5 satuan geomorfologi. Kali Klepoh. KaliKudu Kulon dan kali krembeng. Satuan Dataran Aluvial Luk Ulo 2. Penduduk pada daerah ini banyak menanam padi dan bercocok tanam. Satuan tersebut adalah : 1. Sungai tersebut umumnya dewasa ditandai dengan bentuk lembah “U”. Daerah ini berada pada Desa Tlepok. Sedangkan untuk . 2. paralel dan rectangular. yaitu geologi dan morfologi. dan Desa Sumbermaya. Desa Dukuh Wetan. Satuan Bukit Basalt Luk Ulo 5. dan Kali Sangga. sungai yang berada pada tahap dewasa.4 Geografi fisik Terdapat morfologi yang beragam dari Utara hingga Selatan. Sungai utama di daerah ini diantaranya Kali Jaya. Satuan Bukit Gamping Jatibungkus 4. Geologi disini merupakan struktur yang terdapat pada satuan tersebut dan morfologi adalah bentukan permukaan dari satuan tersebut. Daerah ini berada pada desa Kali Gending hingga desa 2.

Satuan ini memiliki ketinggian 20-40 m dpl. Sungai yang mengalir di satuan ini bertipe sungai yang memotong struktur. Satuan ini menempati 7 % dari total luas daerah pemetaan Waturanda. Penamaan satuan ini didasarkan pada bentukan morfologi satuan yang berupa lembah dan terdapat struktur antiklin. perbandingan lebar penampang dengan kedalaman adalah < 10 dan > 3. memiliki teras sungai. 2. Sehingga atas dasar data-data tersebut. satuan ini dinamakan satuan dataran aluvial Luk Ulo. Sungai Luk Ulo telah mencapai tahap dewasa menuju tua dengan ditandai oleh telah tidak adanya jeram dan didominasi oleh aluvial. Material yang menyusun satuan ini adalah material lepas (aluvial) berupa pecahan batuan berdiameter 3-15 cm. bentukan struktur antiklin akan menghasilkan bentukan morfologi perbukitan dan hal ini bertentangan dengan realita yang ada di satuan ini yang bentukannya berupa lembah. lumpur dan air sungai Luk Ulo yang melewati satuan ini. bermeander. pasir. Satuan Dataran Aluvial Luk Ulo Satuan dataran aluvial Luk Ulo memiliki ciri dataran yang memiliki ketinggian maksimum 20 m dpl dan titik terendah adalah 0 m dpl. Pembahasan satuan geomorfologi berisi tentang :       Alasan penamaan satuan geomorfologi Data ketinggian satuan geomorfologi Tipe genetik dan aliran sungai yang mengalir pada satuan geomorfologi Luasan (%) satuan geomorfologi dari total luas daerah pemetaan Waturanda Tahapan geomorfik sungai yang mengalir pada satuan geomorfologi Batuan penyusun satuan geomorfologi 1. Namun pada umumnya. Satuan Lembah Antiklin Welaran Satuan lembah antiklin Welaran menempati 35 % dari total luas daerah pemetaan Waturanda. Sungai yang mengalir di satuan ini adalah sungai Luk Ulo. sehingga dapat dikatakan tipe sungainya adalah insekuen atau dalam artian alirannya tidak dipengaruhi oleh adanya struktur.penamaan didasarkan pada bentuk geometri. proses geologi (struktur) dan nama daerah terdapatnya satuan tersebut. lempung. sehingga .

sungai Sangga. sungai Sadang. maka satuan ini pada mulanya merupakan daerah perbukitan. Sungai Welaran memiliki tipe genetik subsekuen. sungai Curug. Sungai yang melewati bukit Jatibungkus tersebut adalah sungai Susu. Sungai-sungai tersebut adalah sungai Welaran. sungai Susu. Selain hal tersebut. sungai Klepoh. Untuk tipe alirannya. Warna air sungai yang mengalir melewati bukit Jatibungkus relatif berwarna putih susu karena diindikasikan melarutkan batugamping yang menyusun bukit Jatibungkus. Sedangkan untuk sungai yang lainnya berwarna coklat yang mengindikasikan proses erosi oleh sungai-sungai tersebut sedang terjadi.5 m dan terdapatnya jeram. sungai Depok dan sungai Sangga. sungai Sadang. Atas dasar hal tersebut. lipatan (antiklin) untuk sungai Welaran dan kekar (sekitar Jatibungkus) untuk sungai Depok. sungai Susu. sedangkan untuk sungai Sadang. sedangkan dikatakan bertahap dewasa adalah karena mulai hilangnya jeram dan terdapatnya beberapa endapan aluvial walaupun endapan aluvial tersebut tidak terlalu banyak. Tahapan sungai di satuan ini baik untuk sungai Curug. satuan ini dapat pula dinamakan sebagai satuan lembah tererosi Welaran. sungai Depok. Sungai di satuan ini memiliki tipe genetik yang berbeda-beda. data lapangan pun mengatakan bahwa apabila dilakukan rekontruksi arah kemiringan. sungai Susu. Sedangkan untuk sungai Sadang. Sedangkan untuk sungai Welaran bertahap sungai dewasa. Dikatakan memiliki tahapan muda adalah karena lebar sungai yang hanya mencapai maksimal lebar 1. Terdapat beberapa sungai yang mengalir pada satuan ini. sungai Welaran dan sungai Depok bertipe aliran rektangular karena aliran sungai ini dikontrol adanya struktur di daerah tersebut. sungai Susu. sungai Klepoh dan sungai Curug bertipe aliran tralis karena merupakan satu rangkaian yang kesemua aliran sungainya berhilir ke sungai Welaran. sungai Klepoh. sungai Klepoh dan sungai Curug bertipe genetik resekuen. Batuan penyusun .dimungkinkan daerah ini pada awalnya merupakan perbukitan yang kemudian tererosi menjadi lembah. Hal ini diperkuat pula dengan data peta kontur yang menyatakan adanya dip slope di satuan terdekatnya sehingga satuan ini merupakan daerah back slope yang mengindikasikan bahwa satuan ini pada mulanya merupakan morfologi perbukitan yang kemudain tererosi. sungai Depok dan sungai Sangga bertahap muda di bagian hulu dan bertahap muda menuju dewasa di daerah hilir.

yaitu bersisik. Tahap sungai yang melewati satuan ini bertahap muda karena letak sungainya tidak terlalu jauh dari hulu. Satuan Bukit Basalt Luk Ulo Satuan ini letaknya disebelah K. sehingga ketinggian pada satuan ini terlihat sangat mencolok tersebut karena sifat batugamping yang lebih resisten terhadap pelapukan dibandingkan dengan batulempung yang ada didaerah sekitarnya. Satuan bukit ini merupakan satuan yang merupakan fragmen dalam satuan batulempung. mengkilat dan memiliki fragmen. 4. lebar sungai yang sempit dan berjeram. sehingga tipe genetik sungainya adalah resekuen. Batulempung disatuan ini memiliki ciri yang khas. Satuan ini terdiri dari beberapa puncak tinggian. 312 m dpl (gunung Gedog) dan 337 m dpl (gunung Bulukuning). Pada satuan ini. Terlihat setidaknya 3 air terjun dengan ketinggian 1-3 m yang terletak di batas satuan bukit terisolir Jaribungkus dengan satuan lembah antiklin Welaran. Satuan bukit terisolir Jatibungkus memiliki ketinggian maksimum 151 m dpl. bukit Selaranda dan gunung Bulukuning. 3. Batuan penyusun satuan ini adalah breksi yang berselingan dengan batupasir. Seperti dikatakan sebelumnya. Satuan ini tersusun dari batugamping. 263 m dpl (bukit Selaranda). Ketinggian puncak tinggian tersebut adalah 200 m dpl (bukit Waturanda). Luk Ulo yang merupakan batuan basalt yang memiliki struktur bantal. sehingga satuan ini digolongkan menjadi satuan tersendiri dan dikatakan sebagai satuan bukit terisolir. sungai yang mengalir melewati satuan ini relatif berwarna putih karena melarutkan batugamping yang berwarna putih. antara lain puncak bukit Waturanda. mudah hancur. gunung Gedog.satuan ini adalah batulempung bersisipan batupasir. Satuan Bukit Gamping Jatibungkus Satuan bukit terisolir Jatibungkus merupakan satuan yang memiliki ketinggian yang mencolok dibanding dengan daerah sekitarnya. 5. Satuan bukit basalt ini menempati ± 3 % dari total keseluruhan daerah pengamatan Waturanda. Satuan Perbukitan Homoklin Selaranda Satuan perbukitan homoklin Selaranda menempati 40 % dari total luas daerah pemetaan Waturanda. . Satuan bukit terisolir Jatibungkus ini menempati ± 5 % dari total luas daerah pemetaan Waturanda. sungai mengalir mengelilingi bukit Jatibungkus dan mengalir sejajar jurus batuan penyusun satuan ini.

Sungai-sungai yang mengalir di satuan ini memiliki beberapa tipe aliran yang berbeda antar satu sungai dengan sungai lainnya. sungai daerah gunung Gedog dan sungai daerah gunung Bulukuning. Selain itu daerah ini dialiri sejumlah sungai yang memiliki pola aliran dendritik. Penamaan satuan perbukitan homoklin Selaranda didasarkan pada bentukan morfologi berupa perbukitan yang memiliki dip homogen berarah relatif keselatan dan mempunyai nilai kemiringan kurang dari 450 dan lebih dari 200 (homoklin). Stratigrafi daerah Waturanda 3. Daerah Waturanda terbagi menjadi lima satuan geomorfologi. Satuan Lembah Antiklin Kedungjati. Untuk sungai yang mengalir di daerah bukit Selaranda. sungai Gending. sungai Gumarang.6 Kesimpulan Geomorfologi Berdasarkan topografi. Satuan Perbukitan Homoklin Selaranda. Kelurusan ini menunjukkan adanya kesamaan pola maupun terjadinya suatu erosi sehingga memisahkan daerah tersebut. Karangsambung tersusun dari berbagai formasi dan menunjukkan umur yang berbeda. Sungai-sungai tersebut bermuara pada sungai utama Lok Ulo yang merupakan sungai tua. satuan tersebut diantaranya : Satuan Dataran Aluvial Luk Ulo. gunung Gedog dan gunung Bulukuning bertipe aliran radial. Sungai yang ada umumnya merupakan sungai dewasa dicirikan dengan kelokan-kelokan dengan sudut besar. Sungai Gumarang dan sungai Bawang bertipe aliran rektangular. 1987). sedangkan untuk sungai Gending bertipe aliran dendritik. Satuan Bukit Gamping Jatibungkus. sungai daerah bukit Selaranda.Sungai yang mengalir di satuan ini adalah sungai Bawang (Prumpung). Satuan Bukit Basalt Luk Ulo. radial dan parallel.1 Stratigrafi regional Wilayah karangsambung berada pada zona Pegunungan Serayu selatan dan termasuk dalam stratigrafi Kebumen (Sukendar Asikin. . daerah Waturanda terdiri dari dataran landai dan dataran tinggi. Terdapat pula satuan mélange yang berumur pra tersier. sungai daerah Eragombong. 2. Interpretasi pada peta geomorfologi menunjukkan adanya pola kelurusan bukit maupun sungai.

gabro. Hubungan tidak selaras dengan batuan Pra Tersier. terjadi akibat pelongsoran karena gaya berat di bawah permukaan laut. rijang. batugamping merah. Kelompok batuan ini disimpulkan sebagai kompleks melange yang terdiri dari graywacky. (Gambar 3. Formasi Daerah Karangsambung pada stratigrafi zona pegunungan Serayu selatan) Batuan Pra Tersier Merupakan batuan tertua yang tersingkap di Zone Pegunungan Serayu Selatan mempunyai umur Kapur Tengah s/d Paleosen (Sukendar Asikin 1974). Merupakan sedimen pond dan diendapkan di atas bancuh Luk-Ulo. serpih dan beberapa lensa batugamping foraminifera besar. lava basalt berstruktur bantal. lempung abu-abu. terdiri dari konglomerat polimik. Semuanya merupakan campuran yang bersifat tektonik. Formasi Karangsambung Merupakan kumpulan endapan olisthostrom. skiss. Formasi Totogan . berlangsung pada lereng parit di bawah pengaruh endapan turbidit. melibatkan endapan sedimen yang belum mampat. lempung hitam yang bersifat serpihan.1.

tufa dan sisipan breksi. Formasi Peniron Peneliti terdahulu menamakan sebagai Horizon Breksi III.Miosen Tengah. Formasi ini mempunyai Anggota Tuff. Formasi Panosogan Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Waturanda. Mempunyai umur Oligosen . Sukendar Asikin menamakan sebagai Formasi Breksi II dan berjemari dengan Formasi Penosogan. Merupakan kumpulan sedimen turbidit bersifat distal sampai proksimal. Formasi Peniron menindih selaras di atas Formasi Halang dan merupakan sedimen turbidit termuda yang diendapkan di Zone Pegunungan Serayu Selatan. dan berkedudukkan selaras di atas Formasi Karangsambung Formasi Waturanda Formasi ini terdiri dari batuan . napal. litologinya terdiri dari perselingan batupasir. batulempung. dengan litologi terdiri dari perselingan batupasir. selaras di atas Formasi Totogan. napal dan tufa. dimana Harloff (1933) menyebutnya sebagai Eerste Merger Tuff Horizon. Anggota Breksi Halang.Miosen Awal. sedangkan Suyanto &Roskamil (1974) menyebutnya sebagai lempung breksi.Miosen Tengah.batuan batupasir vulkanik dan breksi vulkanik. batugamping. berumur Miosen Awal . Litologinya terdiri dari breksi aneka . Namun Sukendar Asikin (1974) meralat bahwasanya Anggota Breksi ini menjemari dengan Formasi Halang.Pliosen. napal dan kalkarenit. batulempung. Ketebalan formasi ini 1000 meter. pada bagian bawah dan tengah kipas bawah laut. Formasi Halang Menindih selaras di atas Formasi Penosogan.Harloff (1933) dan Tjia HD (1966) menamakan sebagai Tufa Napalan I. berumur Miosen Awal . batupasir. tufa. Litologinya berupa breksi dengan komponen batulempung. mempunyai umur Miosen Awal .

batulempung. 1949) . Komponen tersebut merupakan aliran lahar pada lingkungan darat. Pegunungan Serayu Selatan c. Pegunungan Serayu Utara. Untuk daerah Jawa Tengah zona fisiografinya dibagi menjadi empat bagian (gambar 4). Batuan Vulkanik Muda Mempunyai hubungan yang tidak selaras dengan semua batuan yang lebih tua di bawahnya. Litologi terdiri dari breksi dengan sisipan batupasir tufan. dari selatan ke utara masing – masing : a. Berdasarkan pada ukuran komponen yang membesar ke utara.Van Bemmelen. napal dan batulempung. dengan komponen andesit dan batupasir. Struktur Geologi daerah Waturanda 4. hal ini menunjukkan arah sumber di utara yaitu Gunung Sumbing berumur Plistosen. dan d.bahan (polimik) dengan komponen andesit. Dataran Pantai selatan b.1 Struktur geologi regional Pulau Jawa oleh Van Bemmelen (1949) dibagi menjadi beberapa zona fisiografi. batupasir. Dataran Pantai Utara (Gambar 5. batupasir dengan masa dasar batupasir sisipan tufa. Letak Pegunungan serayu selatan pada fisiografi Jawa Tengah .

Posisi Zone Pegunungan Serayu Selatan pada sistem konvergensi antara Lempeng Hindia Australia dengan Tepi Benua Erasia selama Zaman Tersier adalah merupakan “Wilayah Retro Arc Fold Thrust Belt”. lingkungan pengendapan telah berubah dari endapan laut dalam menjadi laut dangkal pada jaman berikutnya. Pola yang berarah barat-timur terdiri dari perlipatan dan sesar. merupakan jejak tektonik Kapur-Paleosen yang berbentuk jalur subduksi akibat interaksi antara lempeng Indo Australia dan lempeng Mikro Sunda. dapat dibedakan adanya dua pola struktur utama. dan Zone Bogor (Martodjojo. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola yang arahnya timur laut . Wilayah tersebut sama dengan Zone Kendeng (Pringgoprawiro. Menurut Paltrinieri dkk. 1976). Pola yang berarah timur laut – barat daya merupakan batuan pra tersier yang terdiri dari kompleks mélange yang berumur Kapur Atas – Paleosen (Sukendar Asikin. Hubungan antara satu batuan dengan yang lainnya memiliki lingkungan dan genesa pembentukan berbeda yang terdapat di mélange. poros-poros perlipatan mengarah ke barat laut-tenggara sedangkan sebelah timurnya berarah barat-timur. Ini menunjukkan bahwa sebelum Miosen daerah Lok Ulo dan sekitarnya merupakan suatu jalur pengangkatan. 1974). Jalur pemisah tersebut terbentang dari Semarang. umumnya berupa sesar yang berarah timur laut-barat daya atau ke arah Meratus. yaitu Eosen Akhir sampai Oligosen. . Di sebelah barat dari batas tektonik ini. Wonosobo-Banjarnegara-Cilacap. dan membentuk suatu jalur pemisah antara daerah pengendapan (cekungan) utara dan selatan. dan umumnya melibatkan batuan berumur tersier. di daerah Lok Ulo pada jaman Eosen Tengah. Jalur tersebut juga merupakan kelanjutan dari jalur subduksi yang tersingkap di Ciletuh Jawa barat. (1976). yaitu yang arahnya timur lautbarat daya dan barat timur.Daerah Karangsambung merupakan bagian dari zona pegunungan Serayu Selatan. 1985) Di daerah Lok Ulo (Karang Sambung) dimana batuan Pra-tersier dan tersier tersingkap.barat daya sangat dominan di bagian timur Jawa Tengah ini. dan merupakan batas tektonik penting antara bagian barat dan timur pulau Jawa (Utung dan Sato. 1978).

Satuan Aluvial berada pada lingkungan fluvial. Sesar Naik Krembeng (diperkirakan) Sesar naik Krembeng hanya bisa diperkirakan karena tidak dilakukan perhitungan yang berkaitan dengan gaya yang terdapat pada sesar. 1. Pada interpretasi struktur. Sumbu ini diperkirakan terletak sepanjang aliran sungai Welaran yang diperkuat dengan kelurusan sungai Welaran dan ditemukannya singkapan sumbu antiklin di sungai Welaran. daerah ini merupakan salah satu sayap Antiklin cekungan “Amphitheater” Karangsambung. Sesar Naik Krembeng (diperkirakan) Sedangakan struktur kecil didaerah pemetaan yang hanya diperkirakan tanpa adanya perhitungan adalah kekar dan kenampakan sesar secara lokal pada singkapan. Daerah ini mempunyai trend kemiringan ke arah Selatan. seperti perhitungan shear facture. Lingkungan pengendapan tiap satuan kecuali satuan Aluvial berada pada laut dalam. Struktur antiklin ini diketahui dari adanya arah dip yang berlawanan dan saling bertolak belakang.3 Kesimpulan Struktur Waturanda Daerah Waturanda berada formasi Waturanda berumur Eosen Awal. Mikrofold merupakan salah satu penanda adanya gaya kompresional dan gaya kompresional tersebut pada umumnya terjadi pada sesar naik. Sumbu dari struktur antiklin ini terletak di daerah sungai Welaran. 4. Struktur Antiklin Welaran Struktur antiklin Welaran ini merupakan struktur salah satu anggota dari rangkain antiklin (antiklinorium) yang membentuk antiklin besar Karangsambung. Struktur Antiklin Kedungjati 2. dip yang satu berarah relatif kearah utara. karena besar sudut kemiringannya yang kurang dari 450 dan lebih dari 200 yang sebagian besar mendominasi arah dan besar sudut kemiringan lapisan di daerah pemetaan Waturanda. sedangkan dip yang lainnya berarah selatan. Sesar naik didaerah Krembeng diinterpretasikan dari adanya kelurusan yang terdapat pada sungai Krembeng yang terlihat pada peta dan adanya daerah hancuran di daerah sungai Krembeng. Disimpulkannya jenis sesar yang ada di daerah sungai Krembeng menjadi sesar naik adalah karena adanya mikrofold di daerah tersebut.4. Struktur besar tersebut adalah : 1. . 2. Dip yang berarah selatan inilah yang akhirnya membentuk homoklin.2 Struktur Geologi Daerah Waturanda Terdapat 2 struktur besar dan beberapa struktur kecil di daerah pemetaan Waturanda. arah breksiasi dan hal lain sebagainya.

maka lingkungan pengendapannya adalah laut. 1. Perselingan dengan batupasir kasar karena ada perubahan .BAB III Sejarah Geologi Waturanda 1. Karena diketahuai fragmen breksi dominan basalt.1 Pembentukan Satuan Batulempung A Sejarah geologi daerah waturanda dimulai dengan pengendapan batulempung A pada lingkungan laut dalam. Secara umum fragmen breksi tersebut adalah batuan basalt. Batugamping dikatakan sebagai fragmen pada satuan batulempung A ini karena kontak antara batugamping dengan batulempung tidak menerus. Satuan ini merupakan satuan berfragmen yang dicirikan oleh adanya fragmen batugamping dan fragmen lava basalt di lapisan batulempung tersebut. Untuk pengendapan breksi dibutuhkan arus yang kuat dan material yang diendapkan tidak jauh dari sumbernya dengan transportasi yang singkat. satuan breksi ini berselingan dengan batupasir kasar dan berangsur menjadi batu pasir halus.2 Pembentukan Satuan Breksi Satuan batuan berikutnya adalah satuan breksi. Hal ini mungkin terjadi mungkin akibat terjadinya transportasi yang dialami batugamping dari lokasi tertentu sehingga tertransportasikan ke satuan batulempung.

3 Pembentukan Satuan Batupasir Selanjutnya adalah pengendapan satuan batupasir dengan dicirikan adanya perlapisan batupasir sisipan lempung. 1.5 Pembentukan Satuan Batulempung B . Pembentukan satuan breksi ini dapat dijelaskan secara detail dengan menggunakan teori arus turbidit. Dengan kata lain bahwa lingkungan pengendapan satuan ini adalah dilaut. 1. Batupasir pada satuan ini berangsur dari batupasir breksian menjadi batupasir halus. Satuan ini juga dapat terbentuk dengan skema turbidit dengan dicirikan adanya struktur parallel laminasi di suatu lapisan dan cross laminasi pada batupasir.kuat arus dalam proses pembentukannya.

kemudian terangkat kepermukaan yang diakibatkan oleh proses tektonik. strukturstruktur geologi kemudian dengan seiring waktu dan telah tersingkap ke permukaan maka proses pelapukan dan erosi pun turut serta membentuk sehingga batuan yang resisten maupun tidak resisten terbentuk menjadi perbukitan. dan lain-lain. Akibat proses tektonik yang berpengaruh pada batuan batuan tersebut maka terbentuklah pola kemiringan. Setelah perselingan tersebut kemudian terbentuklah perselingan batupasir dengan batulempung.6 Pembentukan daerah Waturanda Setelah endapan-endapan tersebut terjadi atau terbentuk.Berikutnya menuju lingkungan pengendapan yang lebih dangkal dengan ditemukannya perselingan batulempung dengan batugamping kalkarenit. sungai. sehingga disimpulkan bahwa lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. 1. hal ini dapat terjadi dikarenakan suplai bahan pembentuk lapisan gamping telah habis karena lingkungannya pengendapannya menuju kearah daratan dengan dicirikan adanya karbon pada sebagian lapisan batupasir. . Kemudian kembali lagi kelingkungan pengendapan batugamping sehingga terbentuk lagi perselingan batupasir dengan batulempung. lembah.

Luk Ulo : Pra pemetaan : 3 Oktober 2010 : Cerah Catatan . Luk Ulo yang dinamakan dengan Satuan Dataran Aluvial K. Satuan ini tidak selaras dengan satuan-satuan yang sebelumnya karena satuan-satuan sebelumnya telah mengalami proses deformasi yang dikontrol oleh proses tektonik sehingga menghasilkan kemiringan perlapisan satuan batuan yang sudah tidak mendatar dan kemudian diendapkan lagi endapan Aluvial yang mendatar. terbentuklah endapan baru yang berada di K. Daerah Tujuan Tanggal Cuaca L okasi : K.7 Pembentukan Satuan Dataran Aluvial Kemudian setelah proses-proses pelapukan serta erosi yang membentuk geomorfologi daerah Waturanda tersebut. Luk ulo.Welaran – K.1. Sehingga hubungan antara satuan batuan disebut tidak selaras.

Batupasir halus. kemas terbuka.2 . Batulempung. abu-abu. N 110° E / 63° SW. kemas tertutup.7 1 . abu-abu. terpilah buruk. coklat. putih kekuningan. abu-abu kecoklatan. kemas terbuka. Breksi . zeolit.8 . ada spot-spot merah.3 Breksi. non klastik. porositas baik. Batulempung. Batugamping. paralel laminasi.besar butir krikil. abu-abu kecoklatan. N240 E / 48° NW. pilah buruk. kompak. kompak. 1 N 110° E / 21° SW. terpilah baik. kompak. mineral sedikit kwarsa. non karbonatan. olivin. kompak. N 155° E / 45° SW. N 152° E / 58° SW. struktur lava bantal. kemas tertutup. permeabilitas baik. putih kekuningan. plagioklas. porositas baik. Gamping. amigdaloidal. semen lempung. membundar.4 . fragmen pasir. kemas terbuka. membundar. fosil. fragmen : 1 batupasir. permeabilitas baik. kompak. Lava basalt. karbonatan lemah. kemas tertutup. terpilah buruk. porositas baik. porositas baik. permeabilitas baik. 1 . kompak. hornblend.6 Batupasir halus. batuan beku ( 30 – 50 cm andesit ). porositas baik.5 1 .1 Batupasir . membundar. fragmen . coklat kehitaman. 1 . membundar. terpilah baik. abu-abu kehitaman. klastik kasar. N 242° E / 55° NW. terpilah buruk. mineral . kompak. ukuran butir lempung. Batupasir kasar. kemas terbuka. andesit. 1 . kemas terbuka.1 . porositas baik. porositas baik. warna hitam. abu-abu. Singkapan batulempung sisipan batupasir kasar & batupasir halus. matrix pasir. abu-abu kehitaman. Batupasir kasar. N 192° E / 43° SW. pasir kasar. kompak. afanitik porviritik.

Sadang : Pra pemetaan : 4 Oktober 2010 : Cerah Catatan .Daerah Tujuan Tanggal Cuaca L okasi : Semampir – K.

kemas tertutup. Batupasir kasar. 2 N 104° E / 67° NW. N 309° E / 35° SW. tidak kompak. 2 . batupasir. non karbonatan. terpilah buruk. porositas baik. porositas baik. porositas baik. Breksi . kemas terbuka. kemas tertutup. fragmen . permeabilitas sedang. kompak.2 Batulempung. non karbonatan. abu-abu kehitaman. terpilah baik. membundar. kemas tertutup. kemas tertutup. Batupasir.5 2 . matrix pasir kasar. . Jaya : Pemetaan .1 Batulempung. tidak kompak. N 110° E / 19° SW. porositas buruk. porositas baik. permeabilitas baik. abu-abu kehitaman. tidak kompak. tidak kompak ( lembek ). Batulempung. tidak kompak. abu-abu. kemas tertutup.3 2 . coklat kehitaman. pasir kasar. non karbonatan. porositas baik.4 Batulempung. abu-abu. non karbonatan. abu-abu. porositas baik. batuan beku.2 . kemas tertutup. . Batulempung. besar butir halus. permeabilitas sedang. kompak. abu-abu kehitaman.6 Daerah Tujuan : Prumpung – K. porositas 2 baik. kemas tertutup. kompak. besar butir halus. abu-abu.

Tanggal Cuaca L okasi : 5 Oktober 2010 : Cerah Catatan .

Batupasir. kemas tertutup. kemas terbuka. kemas tertutup. porositas sedang. nonkarbonatan. batuan beku. terpilah baik. kemas terbuka. Batupasir. N 115° E / 57° SW. matriks pasir. batupasir. non karbonatan. terpilah buruk. matriks pasir. kemas tertutup. kemas tertutup. batuan beku. fraamen . bentuk fragmen 3 menyudut. Perselingan batupasir dan breksi. batupasir. karbonatan. N 100° E / 35° SW. batupasir. batuan beku. porositas baik. non karbonatan. bentuk butir membundar. N 110° E / 55° SW. kemas terbuka. bentuk butir membundar. Breksi perselingan batupasir. porositas sedang. 3 Batulempung. non karbonatan. permeabilitas sedang. Breksi. non karbonatan. bentuk butir membundar. Batupasir. Daerah Tujuan : Prumpung – K. abu-abu. Batupasir. abu-abu kehitaman. abu-abu kehitaman. porositas baik. non karbonatan. fraamen . Breksi.5 . matriks pasir. batupasir. terpilah baik. fraamen . non karbonatan. matriks pasir. fraamen . matriks pasir. 3 . Jaya :Pemetaan . non karbonatan. non karbonatan. kemas tertutup. batupasir. fraamen . kemas tertutup. batuan beku. terpilah baik. N 100° E / 35° SW.3 . porositas sedang. Batupasir sisipan lempung. abu-abu kehitaman. terpilah 3 buruk. kemas terbuka. abu-abu. abu-abu. bentuk fragmen menyudut. tidak kompak. porositas baik.3 . abu-abu.1 Breksi. terpilah 3 buruk. abu-abu kehitaman. N 140° E / 48° SW.2 Breksi.6 Breksi. abu-abu kehitaman. kemas tertutup. .4 . N 98° E / 39° SW. abu-abu. porositas baik. abu-abu kehitaman. karbonatan. kemas terbuka. Batupasir. berangsur menjadi batupasir. terpilah buruk. batuan beku. terpilah buruk. abu-abu. bentuk fragmen menyudut. non karbonatan.

Tanggal Cuaca L okasi : 5 Oktober 2010 : Cerah Catatan .

abu-abu.8 Batupasir. kemas tertutup. terpilah 3 baik. bentuk butir membundar. tidak kompak. abu-abu kehitaman. bentuk butir membundar.3 . karbonatan. Batupasir. non karbonatan. kemas tertutup. Batupasir. porositas sedang. Daerah Tujuan : K. kemas tertutup. Batulempung. terpilah baik. abu-abu gelap. porositas baik. non karbonatan. porositas baik. kompak. abu-abu terang. non karbonatan. dominan batulempung. Gumarang : Pemetaan . terpilah baik. karbonatan. Batulempung. abu-abu terang. porositas baik. kemas tertutup. . Jaya – K. kemas tertutup. bentuk butir membundar. N 104° E / 55° SW. porositas sedang.7 Perselingan batulempung dengan batupasir.

Tanggal Cuaca L okasi : 6 Oktober 2010 : Cerah Catatan .

Krembeng : Pemetaan . abu-abu kehijauan. N 107° E / 62° SW. N 74° E / 30° SW. N 292° E / 34° NE. abu2 gelap. N 62° E. karbonatan lemah.1 ). Perselingan batulempung dengan batupasir ( dominan batulempung Batulempung. karbonatan. bentuki butir agak membulat.8 4 . batupasir. kwarsa. karbonatan. cross laminasi.4 . ukuran butir pasir halus. terpilah baik. dominan batulempung. parallel laminasi.4 . 4 N 75° E / 29° SW. load cast.3 Dominan Batupasir. cross laminasi. non karbonatan. kemas terbuka.9 Kontak breksi dengan batupasir kasar. N 198° E / 67° N 270° E / 67° Daerah Tujuan : K. 4 parallel laminasi. karbonatan. butir kasar. 4 . Batupasir. N 96° E / 30° SW. N 105° E / 30° SW. Batulempung. kompak.7 4 . abu-abu terang. ukuran butir pasir halus. karbonatan. kwarsa. Batupasir. bentuki butir agak membulat. ripple mark.2 Batugamping. porositas sedang.5 4 . Batupasir. Antiklin N 65° E / 33° SE . . kompak sedang. 19°. 4 Batulempung N 85° E / 25° SE.6 4 . Perselingan batupasir batulempung. dengan batulempung dan dominan . abu-abu keputihan.

Tanggal Cuaca L okasi : 7 Oktober 2010 : Mendung Catatan .

Batupasir perselingan dengan batulempung.4 . 5 . N 80° E / 30° SW. 5 Perselingan batupasir kasar dengan batulempung. N 75° E / 41° SE. kompak. . kompak. karbonatan.7 5 . kuning kecoklatan. hampir membundar. N 92° E / 12° NW.8 Daerah Tujuan : K. Perselingan batupasir kasar dengan batulempung. porositas sedang. 5 Batulempung. kompak sedang. Batupasir halus. terpilah sedang. kemas terbuka.5 5 . kompak sedang. Perselingan batupasir halus dengan batulempung. coklat. kuning kecoklatan.5 .3 . porositas baik. Gamping pasiran ( kalkarenit ) N 293° E / 13° NE. N 80° E / 20° SE. Susu – K. kuning kecoklatan. kompak sedang. karbonatan. abu-abu terang.2 Perselingan batupasir halus dengan batulempung. 5 karbonatan.1 Batupasir. N 95° E / 25° SW. kemas terbuka. porositas baik. Gamping pasir kasar (kalkarenit). N 95° E / 32° NE. 5 Batupasir halus.6 . karbonatan. Depok : Pemetaan . karbonatan. Perselingan gamping dengan batulempung. N 118° E / 40° NW. permeabilitas sedang.

Tanggal Cuaca L okasi : 8 Oktober 2010 : Cerah Catatan .

kompak sedang.3 6 . kompak. agak membulat. abu-abu. kompak sedang. N 110° E / 50° SE. Perselingan batupasir dengan batulempung. kompak sedang. nonklastik.6 .1 Batupasir. coklat kekuningan. non karbonatan. Batugamping. Daerah Tujuan : K.2 6 .4 Singkapan batulempung. N 244° E / 6° SE. Batulempung. N 120° E / 65° SW. Curug : Pemetaan . 6 . putih kekuningan. abu-abu.

Tanggal Cuaca L okasi : Oktober 2010 : Cerah Catatan .

Batulempung . fragmen 3 – 10 7 cm.3 http://ferdinansiburian. abu-abu. sedang. 7 . Singkapan batulempung berfragmen. abu-abu gelap. N 235 E / 54 NW. karbonatan. kompak sedang. mikrofold.7 . Batulempung sisipan batupasir. Batupasir halus.blogspot. .com/2011/04/laporan-kuliah-geologi-lapangan-daerah.1 N 31 E / 55 SE. membundar. karbonatan. karbonatan lemah.html .2 Batulempung berfragmen sisipan pasir. kompak.