GEMA AJARAN GNOSTIK DALAM AL QUR’AN SURAH 4 (AN NISAA): 157-158

by Teguh Hindarto Islam menyangkal mengenai historitas dan makna kematian Yesus Sang Mesias dikayu salib didasarkan pada dua ayat dalam Qur’an yang berbunyi demikian: “…dan karena ucapan mereka : Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Putera Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang Yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak punya keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, Mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi yang sebenarnya Allah telah mengangkat Isa KepadaNya dan adalah Allah Maha perkasa Lagi Maha Bijaksana” Jika kita menyusun menjadi suatu struktur yang sistematis, maka pernyataan Qur’an tersebut terbagi sebagai berikut : Statement Yahudi : Isa telah di bunuh Negasi Qur’an : Isa tidak dibunuh & tidak disalib Solusi Qur’an : 1. Orang lain yang diserupakan seperti Isa 2. Orang Yahudi tidak mempunyai keyakinan yang pasti tentang siapa yang dibunuh kecuali prasangka 3. Yang banar bahwa Allah telah mengangkat Isa MULTI TAFSIR PARA THEOLOG ISLAM MENGENAI PERNYATAAN DALAM QS 4: 157-158 Sehubungan dengan pernyataan Qur’an diatas, ada banyak tafsir dintara kaum muslim sendiri mengenai realitas historis penyaliban Yahshua. Ali Yasir, dalam bukunya, Mengungkap Misteri Penyaliban Yesus, menyatakan bahwa Isa memang disalibkan namun tidak mati melainkan nampaknya saja. Kelihatannya Isa mengalami kematian . Selanjutnya, dalam buku Syafi R. Batuah, Dari Palestina ke Kashmir, dijelaskan bahwa Isa mengalami mati suri, dirawat oleh para muridnya lalu hijrah ke Kashmir dan mati tua disana dalam usia 120 tahun. Sampai hari ini ada kuburan Isa yang dikenal dengan sebutan Yus Asaf di India . Selain pendapat diatas ada pula yang berpendapat bahwa Isa sama sekali tidak disalib namun orang lain yang diserupakan. Meski demikian, Qur’an tidak menjelaskan siapa yang diserupakan Mengenai tokoh yang diserupakan, diantara orang muslim sendiri tidak ada kata sepakat. Ada yang menyebut Yudas, ada yang menyebut Simon Kirene, dll. Beberapa orang muslim menyakini bahwa Injil Barnabas adalah Injil asli, karena

memberikan informasi tentang Muhamad dan menyebutkan bahwa yang disalibkan adalah Yudas bukan Yesus Iskandeer Jadeed seorang pendeta Kristen mantan Islam, memberi saran kepada kaum muslim demikian, ‘Karena adanya perbedaan pendapat diantara pakar muslim dan perbedaan tafsir mereka dari satu ayat dalam Al Qur’an tentang detik-detik terakhir dari kehidupan Kristus, maka setiap pencari kebenaran yang tulus, harus kembali pada catatan Kitab Injil yang tidak memerlukan lagi tafsiran. Dimana tidak ada pertentangan didalamnya mengenai kematian Kristus, kebangkitan dan kenaikkanNya . Merujuk pada pernyataan Iskandeer Jadeed, kita akan melihat bagaimana Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberi kesaksian yang sinergis. Rasul Paul menjelaskan dengan struktur berita yang sistematis dalam 1 Korintus 15:3-8 mengenai historitas kematian dan kebangkitan Yesus Sang Mesias. Kita akan perhatikan satu demi satu. 1. Yesus telah mati sesuai dengan Kitab Suci Kitab Suci mana yang dimaksud oleh Rasul Paul ? Kitab Perjanjian Lama atau Torah, Neviim dan Kethuvim. Ada ratusan nubuat tentang Mesias dalam Perjanjian Lama. Dalam Yesaya 53: 2-8 dipaparkan mengenai penderitaan yang harus dialami oleh Mashiah yang berujung pada kematianNya. Dikatakan: ’ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan…Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh’ (ay 3,5). Kitab-kitab Injil memberi kesaksian bagaimana Yesus melepaskan nyawa kemanusianNya dengan berseru ‘Eli-Eli lama sabakhtani ?’ (Mat 27:46) Dan Dia menyerahkan nyawaNya (Mat 27:50). 2. Yesus telah dikubur sesuai dengan Kitab suci Selanjutnya, dalam Yesaya 53:9 dikatakan, ‘Orang menempatkan kuburnya diantara orang fasik dan dalam matinya ia ada diantara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya’. Kitab Injil menyaksikan bagaimana saat Yesus disalibkan ada dua orang penyamun dikiri dan kananNya (Mat 27:44, Mrk 15:32). Dan Kitab-kitab Injil menyaksikan bagaimana para murid menurunkan Yesus dari kayu salib dan menguburkanNya (Mrk 15:42-47) 3. Yesus telah bangkit sesuai dengan Kitab Suci Selanjutnya dikatakan, ‘Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hambaKu itu sebagai orang yang benar akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya dan kejahatan mereka dia pikul’ (Yes 53:11). Injil mencatat bahwa pada hari yang pertama, Yesus telah bangkit (Luk 24:1-3). Dalam kubur yang gelap kemudian Yesus bangkit melihat terang.

4. Telah menampakkan diri pada Kefas, dua belas murid, kepada Yakobus, kepada limaratus orang dan kepada Paul Penampakkan Yesus setelah bangkit dari kematian merupakan bukti bahwa Dia adalah Tuan/Junjungan Agung. Dia adalah Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25). Karena Dia berkuasa memberi Hidup (Yoh 5:24), maka Dia dapat mengambil kehidupan untuk diriNya. Rasul Paul menegaskan, ‘Tetapi andaikata Mesias tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu’ (1 Kor 15:14). Penampakkan Yesus selama empat puluh hari sebelum naik kesorga, dilakukannya pada banyak saksi. Dia bukan hantu, karena tangaNya dapat diraba dan berlubang (Yoh 20:26-28). Saksi-saksi yang ditemui Yesus itulah sumber terdekat dan terpercaya bagi penulisan Injil, selain para murid yang dua belas. Dengan demikian, validitas historis peristiwa salib tidak mengalami distorsi karena jarak waktu penulisan dan sumber informasi penulisan. Rasul Paul menerangkan, ‘…kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa diantaranya telah meninggal’ (1 Kor 15:6). Yang menarik, kesaksian tentang peristiwa historis kematian dan kebangkitan Yesus ternyata didukung oleh bukti-bukti diluar kekristenan. Faris Al Qayrawani menjelaskan, ‘ There are many historical documents attesting to the death of Christ. His crucifixion is mentioned in Pagan, Jewish, Gnostic and Christian Literature. The evidence of Chris’t exixtence and mode of death is multiple yet consistent’ artinya, “Ada banyak dokumen sejarah yang mendukung kematian Mesias. Pernyaliban-Nya disebutkan dikalangan orang-orang kafir, orang-orang Yahudi, kaum Gnostik dan literatur kekristenan. Bukti keberadaan Mesias dan kematian-Nya demikian berlimpah” MENGENAI GNOSTISISME Kata “gnostisisme” berasal dari kata Yunani “gnosis” yang bermakna “rahasia”. Istilah “gnostisisme” menunjuk pada (1) sekelompok orang yang memiliki pemahaman rahasia untuk memahami rahasia hidup (2) kumpulan tulisan/ajaran yang merefleksikan pemahaman gnostisisme yang kemudian dianggap sebagai injil oleh para pendiri dan pengikutnya. Untuk menguatkan isi tulisan, nama-nama rasul Yesus dicatut seperti Petrus, Yakobus, Paulus, dll. Kata RAHASIA (gnosis) adalah kata kunci yang menunjukkan karakter kelompok ini. Dalam Injil Maria dikatakan: “Petrus berkata kepada Maria: Saudari, kami tahu bahwa Penyelamat mencintaimu lebih dari perempuan-perempuan yang lain. Katakanlah kepada kami kata-kata penyelamat yang kamu ingat-yang kamu tahu (tetapi) kami tidak, bahkan kami tidak pernah mendengarnya. Maria menjawab dan berkata: Apa yang TERSEMBUNYI bagimu akan aku nyatakan kepadamu” Dalam Injil Yudas dikatakan: “Karena tahu bahwa Yudas memantulkan dalam dirinya sesuatu yang mulia, Yesus berkata kepadanya: Jauhilah yang lain dan aku akan memberitahukan kepadamu MISTERI-MISTERI kerajaan…” Demikianpula kata RAHASIA/MISTERI muncul dalam kutipan Wahyu Petrus di atas. Dikatakan dalam Wahyu Petrus sbb: “Dan Dia berkata kepadaku,

“Kuatkanlah, karena engkau adalah salah seorang dari mereka yang diberi MISTERI-MISTERI ini, agar mengetahuinya melalui wahyu bahwa dia yang mereka salib adalah anak pertama, dan rumah para iblis. Kaum gnostisisme merendahkan hal-hal yang berbau intelektual dan materi dan memfokuskan pada jiwa dan roh. Menurut mereka, jiwa adalah percikanpercikan api Ilahi yang terpenjara dalam tubuh material. Untuk mengalami pembebasan, diperlukan gnosis (pengetahuan, rahasia, misteri) meliputi jampi, rapal, mantra dll. Pandangan memisahkan badan dan roh dan merendahkan yang satu serta meninggikan yang lain dapat pula terbaca dalam Wahyu Petrus sbb: Sang Juru Selamat bersabda kepadaku, “Dia yang engkau lihat di atas pohon, yang bergembira dan tertawa, adalah Yesus yang masih hidup. Namun, orang yang tangan dan kakinya mereka paku adalah BAGIAN DAGINGNYAyang merupakan wujud pengganti yang dibuat sama, seseorang yang sungguh-sungguh mirip dengan-Nya. Tetapi lihatlah ia dan Aku.” NASKAH-NASKAH NAG HAMMADI & GNOSTISISME Nag Hammadi adalah sebuah wilayah reruntuhan di Mesir yang menyimpan 13 koleksi tulisan gnostik yang meliputi lebih dari 50 naskah yang ditemukan sejak tahun 1945 dan selesai dikumpulkan menjadi koleksi kajian pada tahun 1970. Berikut beberapa buku yang sudah diterbitkan berdasarkan naskah-naskah gnostik tersebut al: 1. Writings of creative and redemptive mythology, including Gnostic alternative versions of creation and salvation: The Apocryphon of John; The Hypostasis of the Archons; On the Origin of the World; The Apocalypse of Adam; The Paraphrase of Shem. (For an in-depth discussion of these, see the Archive commentary on Genesis and Gnosis.) 2. Observations and commentaries on diverse Gnostic themes, such as the nature of reality, the nature of the soul, the relationship of the soul to the world: The Gospel of Truth; The Treatise on the Resurrection; The Tripartite Tractate; Eugnostos the Blessed; The Second Treatise of the Great Seth; The Teachings of Silvanus; The Testimony of Truth. 3. Liturgical and initiatory texts: The Discourse on the Eighth and Ninth; The Prayer of Thanksgiving; A Valentinian Exposition; The Three Steles of Seth; The Prayer of the Apostle Paul. (The Gospel of Philip, listed under the sixth category below, has great relevance here also, for it is in effect a treatise on Gnostic sacramental theology). 4. Writings dealing primarily with the feminine deific and spiritual principle, particularly with the Divine Sophia: The Thunder, Perfect Mind; The Thought of Norea; The Sophia of Jesus Christ; The Exegesis on the Soul. 5. Writings pertaining to the lives and experiences of some of the apostles: The Apocalypse of Peter; The Letter of Peter to Philip; The Acts of Peter and the Twelve Apostles; The (First) Apocalypse of James; The (Second) Apocalypse of James, The Apocalypse of Paul. 6. Scriptures which contain sayings of Jesus as well as descriptions of incidents in His life: The Dialogue of the Saviour; The Book of Thomas the Contender; The Apocryphon of James; The Gospel of Philip; The Gospel of Thomas.

Dengan mengurai terminologi “gnostisisme” serta memahami secara singkat penemuan di “Nag Hammadi”, kita dapat simpulkan bahwa sumber-sumber literatur yang mengatasnamakan para rasul Yesus dan menggunakan sebutan “injil” (euanggelion) ternyata merupakan tulisan yang ditolak oleh Kekristenan karena isinya tidak memberikan informasi yang benar dan menggantikan dengan berbagi kisah dongeng, heretik dan mempromosikan gagasan-gagasan kebatinan atau gnostik. Nag Hammadi adalah saksi dari pemikiran-pemikiran gnostik yang menyimpan dalam berbagai literatur yang bertentangan dengan berita Kekristenan yang bersumber dari Injil Kanonik. SUMBER GNOSTIK TENTANG PENYALIBAN Sebuah dokumen Nag Hammadi yang berjudul Apokalipsis Petrus (NHC VII,3; dari abad ketiga), menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedangkan yang satunya lagi sedang berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawakan apa yang sedang berlangsung. Selanjutnya ditulis, “Sang Penyelamat berkata kepadaku, ‘Dia yang engkau lihat ada di atas sebuah pohon, bergembira dan tertawa, adalah Yesus yang hidup. Tetapi yang satunya lagi, yang kaki dan tangannya dipantek paku adalah bagian ragawi dari dirinya. Sosok yang ragawi ini, sosok yang lahir dengan memakai parasnya, sedang dipermalukan menggantikannya’” (81.7-25). Dalam sebuah dokumen Nag Hammadi lainnya, yang berjudul Traktat Kedua Seth Agung (NHC VII,2; dari abad kedua), Yesus menyatakan bagaimana dia bisa ada di dalam dunia: “Aku mengunjungi suatu tempat kediaman ragawi. Aku menyingkirkan penghuni pertama yang ada di dalamnya, lalu aku masuk…. Dan Akulah yang sekarang berada di dalamnya, dan aku tidak sama dengan penghuni pertama yang ada di dalamnya. Sebab penghuni pertamanya adalah seorang manusia bumi, sedangkan Aku, Aku datang dari atas, dari surga” (51.20-52.3). Dengan demikian, bagi kalangan gnostik aliran Basilides yang menyusun traktat ini, ada dua Yesus, yakni Yesus yang ragawi, yang jasmaniah, dan Yesus surgawi atau Yesus rohani. Bahkan dalam dokumen ini dikatakan bahwa Yesus terus-menerus mengubah rupanya, berubah dari satu rupa ke rupa lainnya (56.20-24). Keadaan jati diri ganda Yesus yang semacam ini menimbulkan kebingungan pada diri orang yang berada di luar komunitas gnostik ini khususnya ketika mereka mau memahami kesengsaraan dan penyaliban Yesus. Pada bagian 56.5-20 dari Traktat Kedua Seth Agung, Yesus berkata, “Mereka melihat aku; mereka menghukum aku. Namun orang lainlah, yakni bapak mereka, yang meminum anggur yang dicampur empedu; bukanlah aku… melainkan seorang lain, Simon, yang memikul salib di pundaknya. Orang lainlah yang mengenakan mahkota duri. Sedangkan aku berada di tempat yang maha tinggi, dan menertawakan semua hal berlebihan yang telah dilakukan para penguasa dan buah kekeliruan dan tipu daya mereka. Aku menertawakan kebodohan mereka.” Ketika seorang pemimpin gereja dari abad kedua yang bernama Irenaeus menulis (Adv. haer. 1.24.4) tentang seorang pemimpin Kristen gnostik yang bernama Basilides, dia menyatakan bahwa Basilides memandang bukan Yesus yang disengsarakan, “melainkan seorang yang bernama Simon dari Kirene dipaksa untuk memikul salib Yesus menggantikannya… dan karena ketidaktahuan dan kesalahan, yang disalibkan

bukan Yesus tetapi Simon ini.” Jelas, Irenaeus di sini sedang mengacu secara tidak langsung pada dokumen Traktat Kedua Seth Agung. Jika tradisi tentang penyaliban Simon dari Kirene ini sudah beredar pada abad pertama, bisa jadi inilah alasannya mengapa penulis Injil Yohanes meniadakan Simon dari Kirene dalam tuturan injilnya dan Yesus digambarkan memikul salibnya sendiri (Yohanes 19:17), berbeda dari tuturan dalam injil-injil sinoptik bahwa Simonlah yang menggantikan Yesus memikul salibnya (Markus 15:21 dan par.). TANGGAPAN ATAS “WAHYU PETRUS” Kitab ini merefleksikan gagasan gnostik yang menyebarkan berita dusta bahwa Yesus tidak mengalami kematian fisik. Dan gagasan gnostik ini digemakan kembali oleh Al Qur’an dalam Qs 4:157-158 mengenai ”orang lain yang diserupakan“ (shubiha lahum). Para peneliti Islam dari kalangan Orientalis sudah banyak menuliskan kajiannya bahwa banyak sumber-sumber non Islam yang dimasukkan menjadi referensi Islam. W. St. Clair Tisdall mengulas secara panjang lebar dalam bukunya yang berjudul: THE ORIGINAL SOURCES OF THE QUR’AN. Bahkan dalam Bab IV bukunya, secara panjang lebar dia menuliskan di bawah sub judul: THE INFLUENCE OF CHRISTIANITY AND CHRISTIAN APOCRYPHAL BOOKS. Jika kita membaca Qs 4:157-158 jelas menunjukkan ADA SESEORANG DIHUKUM DENGAN CARA DISALIB. Persoalannya, Qur’an tidak memberikan informasi yang jelas mengenai siapa yang dihukum dengan cara disalibkan. Qur’an hanya memberikan negasi bahwa Isa “tidak disalibkan” dan “tidak dibunuh” “melainkan orang yang diserupakan”. Pertanyaannya, siapa yang diserupakan? Al Qur’an tidak memberikan jawaban. Beberapa ratus tahun kemudian dimunculkanlah nama-nama seperti Yudas, Simon sebagai orang yang menggantikan Yesus disalibkan. Namun jika merujuk pada naskah Injil Kanonik, tidak ada pertentangan bahwa Yesus Sang Mesias disalibkan, mati dan dibangkitkan pada hari yang ketiga (baca kajian saya berjudul PENEMUAN MAKAM TALPIOT: ANCAMAN BAGI KEKRISTENAN ? http://www.facebook.com/note.php?note_id=278521563810). Cat Kaki: Al Qur’an dan Terjemahnya dengan Transliterasi, PT. Karya Toha Putra Semarang Yogyakarta: YABUMI, 1994, hal 18-19 Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1997, hal 4-6, 30-36 DR. Maneh Hammad Al Johani, Yang Benar Tentang Yesus, Qalam 1999, hal 38,40 Rahnip M.BA., Terjemah Injil Barnabas, PT. Bina Ilmu, hal 275-276 Salib dalam Injil dan Al Qur’an, Jalan Al Rahmat, hal 4 Was Christ Really Crucified ?, Light of Life, Villach Austria, p. 40

http://www.gnosis.org/naghamm/apopet.html Apakah Yesus Tidak Mati Disalibkan? Saturday, May 16, 2009 http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/05/apakah-yesus-tidak-matidisalibkan.html

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful