You are on page 1of 7

PERATURAN

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: 18 TAHUN 2008
TENTANG

PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI DOSEN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

Menimbang :
a. bahwa untuk pemberian tunjangan profesi bagi dosen yang
memiliki sertifikasi pendidik dan memiliki nomor regristasi
dosen perlu mekanisme penyaluran tunjangan profesi dosen;
b. bahwa sehubungan hal tersebut pada huruf a, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penyaluran
Tunjangan Profesi Dosen.

Mengingat :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005, Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4586);
2. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan, Organisasi Dan Tata Kerja
Kementrian Negara Republic Indonesia sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden
Nomor 94 tahun 2006;
3. Keputusan Presiden Nomor 187/M tahun 2004 mengenai
pembentukan cabinet Indonesia bersatu, sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden
Nomor 31/P Tahun 2007;
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 42 Tahun 2007 tentang sertifikasi dosen sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 17 Tahun 2008.

1
MEMUTUSKAN

Menetapkan PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG


PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI DOSEN

Pasal 1

(1) Tunjangan profesi dosen diberikan kepada dosen dengan jenjang jabatan
akademik asisten ahli, lector, lector kepala dan guru besar atau professor yang
telah memiliki sertifikat pendidik dan nomor regristasi dosen.
(2) Dosen yang memiliki lebih dari satu sertifikasi dosen hanya berhak mendapat
satu tunjangan profesi.

Pasal 2

(1) Tunjangan profesi bagi dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan
dan/atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat
diberikan sebesar 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang diangkat oleh Pemerintah
pada tingkat masa kerja dan kaulifikasi yang sama.
(2) Tingkat, masa kerja dan kaulifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan berdasarkan inpassing pangkat oleh pejabat yang berwenang.
(3) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi dosen bukan PNS
diberikan sesuai penetapan inpassing pangkat.

Pasal 3

Tunjangan profesi dosen dialokasikan pada anggaran pendapatan dan belanja


Negara (APBN)

Pasal 4

(1) Mekanisme penyaluran tunjangan profesi sebagai berikut:


1) Rektor universitas/institute, ketua sekolah tinggi atau direktur
politeknis/akademi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh
Pemerintah memeriksa data dosen penerima tunjangan profesi dan
mengirimkannya kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.
2) Rektor universitas/institute, ketua sekolah tinggi atau direktur
politeknis/akademi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh
masyarakat memeriksa data dosen DPK atau dosen tetap penerima
tunjangan profsi dan mengirimkannya kepada Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi melalui Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta setempat.
3) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi memeriksa data dosen penerima
tunjangan profesi.
(2) Data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
a. Fotokopy atau salinan sah SK pangkat terakhir dan fotokopi sertifikat
pendidik bagi dosen PNS atau

2
b. Fotokopi atau salinan sah SK penetapan inpassing pangkat dosen dan
fotokopi sertifikat pendidik bagi dosen bukan PNS

Pasal 5

(1) Keputusan dosen penerima tunjangan profesi ditetapkan oleh Direktur


Jenderal Pendidikan Tinggi
(2) Pembayaran tunjangan profesi berikutnya bagi dosen yang naik pangkat
ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan kenaikan pangkat dan
inpassing.

Pasal 6

(1) Dosen yang diangkat dalam jabatan akademik Guru Besar atau Professor
sampai dengan 31 Desember 2007 mendapat tunjangan profesi terhitung
mulai 1 Januari tahun 2008
(2) Dosen yang diangkat dalam jabatan akademik Guru Besar atau Professor
pada tahun 2008 mendapat tunjangan profesi terhitung mulai 1 Januari
tahun 2009
(3) Dosen yang telah lulus sertifikasi dosen tahun 2008 mendapat tunjangan
profesi terhitung mulai 1 Januari tahun 2009

Pasal 7

(1) Pembayaran tunjangan profesi dihentikan apabila :


a. Meninggal duniaJenderal Pendidikan Tinggi.
b. Mencapai batas usia pensiun 65 tahun
c. Perpanjangan batas usia pensiun bagi dosen PNS dengan jabatan akademik
guru besar atau professor telah berakhir atau.
d. Mengundurkan diri sebagai dosen atas permintaan sendiri atau alih tugas
bukan sebagai dosen

(2) Pembayaran tunjangan profesi dapat dihentikan apabila dosen:

a. Melalaikan kewajiban dengan tidak melaksanakan tugas secara terus


menerus selama 12 (dua belas) bulan sejak sakit jasmani dat/atau rohani;
b. Melalaikan kewajiban dalam melaksanakan tugas selama 1 (satu) bulan atau
lebih secara terus menerus;
c. Melakukan pelanggaran peraturan disiplin PNS tingkat sedang dan/atau
berat;
d. Berakhirnya perjanjian kerja atau kesepatan kerja bersama antara dosen dan
penyelenggara satuan pendidikan;
e. Melanggar perjanjian kerja atau kesepatakan kerja bersama;

3
f. Dibebaskan sementara dari jabatan akademik sebagai dosen karena
melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman diatas 3 (tiga) tahun;
atau
g. Beban kerja dosen kurang dari yang dipersyaratkan.

Pasal 8

(1) Pembayaran tunjangan profesi dihentikan sementara bagi dosen yang


menduduki jabatan structural dan/atau sebagai pejabat Negara.
(2) Pembayaran kembali tunjangan profesi bagi dosen yang tidak lagi menduduki
jabatan structural atau sebagai pejabat Negara dilakukan berdasarkan
permohonan pemimpin Perguruan Tinggi.

Pasal 9

(1) Rektor universitas/institute, ketua sekolah tinggi atau direktur


politeknis/akademi menyampaikan laporan paling lambat 15 hari sejak terdapat
perubahan data dosen dan /atau kejadian yang dapat mengakibatkan terjadinya
penghentian atau pembatalan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam
pasal 6.
2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi dosen tetap pada perguruan
tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah disampaikan oleh Rektor
universitas/institute, ketua sekolah tinggi atau direktur politeknik/akademi
tempat dosen bertugas kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.
3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi dosen DPK dan dosen tetap
pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat disampaikan oleh
Rektor universitas/institute, ketua sekolah tinggi atau direktur
politeknik/akademi tempat dosen bertugas kepada Direktur Jenderal
Pendidikan Tinggi dengan tembusan kepada Koordinator Perguruan Tinggi
Swasta setempat

Pasal 10

Peraturan Menteri ini berlaku pada tanggal ditetapkan

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 6 Juni 2008
Salinan sesuai aslinya
Biro Hukum dan Organisasi MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
Departemen Pendidikan Nasional
Kepala Bagian Penyusunan Rancangan ttd
Peraturan Perundang-undangan
Dan bantuan Hukum

Banbang Haryadi SH BAMBANG SUDIBYO


NIP 131 597 936

4
5
TATA CARA PENGAJUAN KETUA DAN SEKRETARIS LEMBAGA
Pasal 3

(1) Rektor mengajukan Calon Ketua dan Calon Sekretaris Lembaga masing-masing
sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang untuk dimintakan pertimbangan dalam Rapat
Senat;
(2) Ketua Senat mengadakan Rapat Senat untuk memberikan pertimbangan terhadap
Calon Ketua dan Sekretaris Lembaga yang diusulkan oleh Rektor.

RAPAT SENAT UNIVERSITAS


Pasal 4

(1) Rapat Senat Universitas diselenggarakan dengan prinsip demokrasi, terbuka, jujur,
adil, bertanggung-jawab dan mempertimbangkan jejak rekam Calon Ketua dan
Sekretaris Lembaga;
(2) Rapat Senat Universitas dibuka Ketua Senat Universitas dan menjelaskan maksud
dan tujuan rapat;
(3) Pertimbangan Calon Ketua dan Sekretaris Lembaga dilakukan secara musyawarah
dan mufakat;
(4) Dalam hal musyawarah dan mufakat tidak tercapai maka pertimbangan Senat
Universitas dilakukan dengan pemungutan suara berdasarkan prinsip satu orang
satu suara;
(5) Anggota Senat Universitas yang diusulkan sebagai Calon Ketua dan Sekretaris
Lembaga berhak memberikan suara;
(6) Rapat Senat Universitas memberikan pertimbangan kepada Rektor sebanyak 2
(dua) orang untuk masing-masing Calon Ketua dan Sekretaris Lembaga sesuai
urutan perolehan suara;
(7) Hasil pertimbangan Senat Universitas tentang Calon Ketua dan Sekretaris Lembaga
dituangkan dalam bentuk berita acara Rapat Senat Universitas dan diserahkan
kepada Rektor.

TATA CARA PERTIMBANGAN


CALON KETUA DAN SEKRETARIS LEMBAGA
Pasal 5

Rektor menetapkan Ketua dan Sekretaris Lembaga sesuai dengan mempertimbangkan hasil
Rapat Senat Universitas.

KELENGKAPAN PENETAPAN
Pasal 6

Kelengkapan penetapan Ketua dan Sekretaris Lembaga dilampiri dengan lampiran rangkap
3 (tiga) terdiri atas:
a. Surat pernyataan kesediaan sebagai Ketua dan Sekretaris Lembaga;
b. Surat pernyataan untuk melepaskan jabatan struktural lain apabila terpilih;
c. Berita Acara Rapat Senat Universitas;
d. Daftar Riwayat Hidup;

6
e. Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) Pegawai Negeri Sipil tiga tahun
terakhir;
f. Copy Kartu Pegawai (Karpeg);
g. Copy Surat Keputusan dalam pangkat terakhir;
h. Copy Surat Keputusan dalam jabatan terakhir;
i. Copy Ijasah terakhir.

KETENTUAN PENUTUP
Pasal 7

Hal-hal yang belum diatur dalam keputusan ini akan diatur lebih lanjut dengan ketentuan
tersendiri.

Pasal 8

Dengan berlakunya Keputusan ini, Keputusan Rektor Universitas Brawijaya Nomor


016/SK/2003 tentang Tata Cara Pemilihan Calon Ketua dan Sekretaris Lembaga di
lingkungan Universitas Brawijaya, dan semua ketentuan yang tidak sesuai dengan
keputusan ini dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 9

Keputusan ini berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Malang
Pada tanggal Mei 2008

Ketua Senat

Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito


NIP. 130 704 136
Tembusan:
1. Para Pembantu Rektor Universitas Brawijaya.
2. Para Dekan Fakultas di Lingkungan Universitas Brawijaya.
3. Para Ketua/Sekretaris Komisi A, B, dan C Senat Universitas Brawijaya.
4. Para Ketua Lembaga/Kepala Biro Universitas Brawijaya.