Clinical Pathways: Apa, Mengapa dan Bagaimana Membuatnya#
Dr. Dody Firmanda, Sp.A, MA Ketua Komite Medik RSUP Fatmawati, Jakarta. Pendahuluan Dalam melakukan evaluasi kebijakan dan sistem layanan kesehatan (healthcare system and policies evaluation) ada 3 kriteria kunci yakni kriteria efektifitas, efisiensi, dan keberadilan/ekuiti (effectiveness, efficiency and equity)1 yang merupakan suatu rangkaian sistematik dalam suatu sistem. Melakukan suatu analisis ekonomi dalam pelayanan kedokteran profesi adalah tidak mudah, mengingat banyak faktor yang harus dipertimbangkan dari berbagai dimensi termasuk cara pendekatan dari jenis analisis ekonomi yang akan digunakan, batasan terminologi ekonomi itu sendiri mengenai utilization, productivity, benefit, efficiency, effectiveness, value for money, kebijakan fiskal dan tingkat inflation rate yang sering kali berubah. Disamping keterbatasan sumber daya dan kebijakan ekonomi yang dipengaruhi politis, sehingga tidak jarang 'resources' tersebut telah dipagu menjadi 'fixed'.2 Sedangkan di sisi dimensi lain profesi itu sendiri dituntut untuk meningkatkan mutu pelayanannya dan keprofesiannya dalam koridor etik-sosio-budaya serta berbagai peraturan dan perundangan hukum.2 Sedangkan istilah, definisi dan dimensi akan efisiensi juga belum ada kesepakatan yang jelas dan eksplisit – tergantung dari berbagai perspektif. Efisiensi dapat digolongkan kepada efisiensi tehnik (technical efficiency), efisiensi produksi/hasil (productive efficiency) dan efisiensi alokatif
# 1

Disampaikan pada Workshop Clinical Pathways di RSUP Sanglah Denpasar Bali 14 -15 Desember 2011. Aday LA, Begley CE, Lairson DR. Evaluating the healthcare system: effectiveness, efficiency and equity. 3rd ed. Washington DC: Health Administration Press, 2004. 2 Firmanda D. Aplikasi integrasi sinergis antara Evidenve-based Medicine, Evidence-based Healthcare dan Evidence-based Policy dalam satu sistem peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan kedokteran (Clinical Governance): suatu tantangan profesi IDAI di masa mendatang.II.Cost Effectiveness Analyses (CEA) Standar Pelayanan Medis (SPM) Kesehatan Anak IDAI Disampaikan pada Acara Pertemuan Perhimpunan Organisasi Profesi dengan Ditjen Yan Medik Depkes RI di Bogor September 2005. http://www.scribd.com/doc/12827936/Dody-Firmanda-2005-042-Aplikasi-integrasi-sinergisEvidenvebased-Medicine-Evidencebased-Healthcare-dan-Evidencebased-Policy-dalam-Clinical-Gove

1

(allocative/societal efficiency) termasuk didalamnya bidang market dan kesehatan.1,3 (Tabel 1)
Tabel 1. Berbagai definisi dam dimensi tingkat analisis tentang efektifitas, efiensi dan keberadilan/ekuiti.1

Evolusi sistem layanan kesehatan di sarana kesehatan (rumah sakit) secara prinsipnya mulai dari yang bercirikan ’doing things cheaper’ dalam hal ini efficiency pada tahun 1970an pada waktu krisis keuangan dan gejolak OPEC, kemudian ekonomi mulai pulih dan masyarakat menuntut layanan kesehatan
3

Firmanda D. Pengendalian mutu dan efisiensi pembiayaan layanan kesehatan. Disampaikan dalam rangka evaluasi Program Pelayanan Askes Terpadu Rumah Sakit (PPATRS) diselenggarakan oleh Kantor Pusat PT Askes (Persero) di Hotel Panorama Batam 10 Desember 2008. http://www.scribd.com/doc/9800878/Dody-Firmanda-2008-Pengendalian-Mutu-Dan-Efisiensi-Biaya-RS10-Desember-2008

2

akan tetapi juga diperlukan prinsip manajemen ‘doing the right things’ sehingga kombinasi keduanya disebut sebagai prinsip manajemen layanan modern ‘doing the right things right’. Selama dua dekade tersebut manajemen bercorak ’doing things right’ (dikenal sebagai increasing effectiveness) yang merupakan kombinasi ’doing things cheaper’ dan ’doing things better’. dan prinsip manajemen ‘doing things right’ tersebut telah ketinggalan zaman dan dianggap sebagai prinsip dan cara manajemen kuno. Pada abad 21 ini masa era globalisasi dibutuhkan tidak hanya ’doing things right’.5 Pada Undang Undang RI Nomor 44 Tahun 2010 tentang Rumah Sakit pada pasal 33 menerangkan tentang organisasi rumah sakit yang efektif. efisien.7. 4 Landasan Hukum Dalam Undang Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada pasal 45 menerangkan tentang kewajiban menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya.scribd. Ternyata prinsip ’doing things right’ tidak memadai mengikuti perkembangan kemajuan teknologi maupun tuntutan masyarakat yang semakin kritis. dan akuntabel.Disampaikan pada Hospital Management 3 yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI di Grand Angkasa Hotel International. http://www. Medan 11 Agustus 2008.com/doc/9813111/Dody-Firmanda-2008Peran-Efektivitas-Klinis-Dalam-PATH 5 Undang Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 6 Undang Undang RI Nomor 44 Tahun 2010 tentang Rumah Sakit 7 Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum 8 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah 3 . 6 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah pada pasal 1 ayat 1 menyebutkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Peran Efektifitas Klinis dalam rangka mewujudkan keselamatan/keamanan (safety) dan berorientasi kepada pasien (patient centredness).8 4 Firmanda D.bercirikan ’doing things better’ dalam hal ini quality improvement.

11 Contoh: Berikut hasil penelitian penerapan Clinical Pathways Pneumonia (Gambar 1 dan 2) yang dilakukan dalam rangka membuktikan adanya efisiensi biaya.maka Cost-Weight nya adalah (450 000/250 000 = 1.9. Dari Gambar 1 dan 2 di bawah untuk kasus pneumonia biaya perawatan sampai sembuh (dengan tarif rumah sakit) mempergunakan Clinical Pathways Pneumonia adalah sekitar Rp 495 000. 9 Firmanda D. Srie Enggar KD dkk. efektifitas layanan dan keberadilan/ekuiti bagi semua pasien tanpa memandang latar belakang keadaan sosial ekonomi. RSUP Hasan Sadikin Bandung 23 Desember 2005 dan Evaluasi Penyusunan Clinical Pathways dalam rangka penyempurnaan Pedoman DRGs Casemix Depkes RI. Maka secara matematik dengan mempergunakan Clinical Pathways untuk kasus pneumonia tersebut menghemat (2 707 663 – 495 000 = Rp 2 212 663.-. 11 Firmanda D.untuk kelas VIP. contoh untuk kasus pneumonia di atas rerata sumberdaya (resources) rumah sakit (obat obatan.Clinical Pathways Clinical Pathways (CP) adalah suatu konsep perencanaan pelayanan terpadu yang merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar pelayanan medis dan asuhan keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yang terukur dan dalam jangka waktu tertentu selama di rumah sakit. Sedangkan bila dihitung berdasarkan klaim Jamkesmas untuk kasus yang sama adalah Rp 2 707 663. Nuraini Irma Susanti... 4 .10.untuk kelas III..8).untuk kelas II. Clinical Pathways Kesehatan Anak dalam rangka implementasi Sistem DRGs Casemix di RS Fatmawati. Rp 1 480 000.-). Hotel Grand Cempaka Jakarta 29 Desember 2005. Dengan demikian terlihat jelas dari segi ekonomi/pembiayaan rumah sakit tersebut sangat efisien dan menguntungkan bila menggunakan Clinical Pathways. 10 Firmanda D. Disampaikan dalam Sidang Pleno Komite Medik RS Fatmawati. Rp 1 120 000. Dengan mempergunakan Clinical Pathways dapat menghitung Cost Weight setiap kelompok kasus. Pratiwi Andayani.. pendidikan maupun gender..untuk kelas I dan Rp 2 150 000. Jakarta 2006. Pedoman Penyusunan Clinical Pathways dalam rangka implementasi Sistem DRGs Casemix di rumah sakit. bahan dan alat dll) yang terpakai adalah Rp 250 000. Jakarta 7 Oktober 2005. Clinical Pathways: Peran profesi medis dalam rangka menyusun Sistem DRGs Casemix di rumah sakit. Disampakan pada kunjungan lapangan ke RSUP Adam Malik Medan 22 Desember 2005.

Contoh hasil penelitian implementasi salah satu Clinical Pathways untuk kasus pneumonia 5 .Gambar 1.

Gambar 2. Contoh analisis hasil implementasi salah satu Clinical Pathways pada tahun 2006 untuk kasus pneumonia 6 .

Contoh perhitungan berdasarkan data hasil implementasi Clinical Pathways dalam mencari Relative Weight (cost weight).Tentang cara langkah langkah perhitungan cost weight. Gambar 3. Case Mix Index dan Base Rate. base rate rumah sakit dan alokasi anggaran dapat dilihat dalam Gambar 3 berikut. casemix index. 7 .

pada umumnya dapat diadopsi dari Panduan Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) yang telah dibuat oleh organisasi profesi masing masing. Dengan terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1348/MENKES/PER/IX/2010 – yang digunakan adalah istilah Standar Pelayanan Kedokteran (SPK) yang terdiri dari Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) dan Standar Prosedur Operasional (SPO). Standar Prosedur Operasional untuk profesi medis di rumah sakit dalam bentuk Panduan Praktik Klinis12 .profesi medis memberikan pelayanan keprofesiannya secara efektif (clinical effectiveness) dalam hal menegakkan diagnosis dan memberikan terapi berdasarkan pendekatan evidence-based 12 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1348/MENKES/PER/IX/2010 8 . Namun bila PNPK tersebut belum ada atau tidak sesuai dengan kondisi rumah sakit atau dalam PNPK belum mencantumkan jenis penyakit yang sesuai dengan keadaan epidemiologi penyakit di daerah/rumah sakit tersebut – maka profesi di rumah sakit tersebut wajib membuat Panduan Praktik Klinis (PPK) untuk rumah sakit tersebut dan disahkan penggunaannya di rumah sakit oleh direktur rumah sakit. Dalam menyusun PNPK dari organisasi profesi maupun PPK untuk rumah sakit . sedangkan SPO dibuat di tingkat rumah sakit oleh profesi medis dengan koordinator Komite Medis dan ditetapkan penggunaannya di rumah sakit tersebut oleh pimpinan (direktur). PNPK dibuat oleh organisasi profesi dan disahkan oleh Menteri Kesehatan RI. Bila PNPK yang telah dibuat oleh organisasi profesi tersebut dan telah disahkan oleh Menteri Kesehatan RI serta sesuai dengan kondisi rumah sakit – maka tinggal disepakati oleh anggota profesi (SMF) terkait sebagai Panduan Praktik Klinis (PPK) dan disahkan penggunaannya di rumah sakit oleh direktur rumah sakit tersebut. tinggal dicocokkan dan disesuaikan dengan kondisi sarana dan kompetensi yang ada di rumah sakit. maka implementasi Clinical Pathways sebaiknya terpadu dengan tatakelola manajamen (corporate governance) dan tatakelola klinis (clinical governance) yang telah berlaku sesuai misi rumah sakit dalam bidang pelayanan.Strategi Pelaksanaan Clinical Pathways Agar tidak tumpang tindih serta sinergis dengan kenyataan di lapangan (rumah sakit). pendidikan dan penelitian.

Gambar 4.medicine. Ringkasan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1348/MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran – PNPK. SPO dan PPK. Proses selanjutnya setelah menyusun Panduan Praktik Klinis (PPK) Rumah Sakit adalah membuat Clinical Pathways sebagai salah satu komponen dari Sistem Casemix (INA CBG) yang saat ini dipergunakan untuk Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jamkesmas) di rumah sakit . Secara sederhana peraturan tersebut dapat dilihat sebagaimana dalam Gambar 4 berikut.maka INA CBG akan lebih disempurnakan dengan menghitung DRG Relative Weight dan Casemix 9 .

2005. Cost-Effectiveness in a flat world — Can ICDs help the United States get rhythm? N Engl J Med 2005. 353(14): 1439-41. After 12 years of Casemix in Ireland. 18 Firmanda D.13. Hospital competition. Bamezai A. 16 Greally C. resource allocation and quality of care. 23 Juni 2011.secara ringkasnya terdiri dari 3 komponen utama – yakni kodefikasi diagnosis (ICD 10) dan prosedur tindakan (ICD 9 CM). Disampaikan pada “Workshop Implementasi INA-CBG Percepatan Transformasi di Rumah Sakit Daerah (RSD)” diselenggarakan oleh Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA) Jawa Barat di Hotel Aston Tropicana Bandung.353(14 ):1513-5. Sebagai sistem yang baru lahir INADRG akan terus bergulir dan berkembang sesuai tuntutan perkembangan layanan kesehatan baik nasional maupun regional. dan melalui Clinical Pathways. Upaya tersebut memang belum sempurna dan belum mencerminkan realitas keadaan seluruh pelosok tanah air – namun sebagai titik tonggak awal.15. 17 Casemix Unit Department of Health and Children. Sistem Casemix adalah suatu cara mengelola sumber daya rumah sakit seefektif mungkin dalam memberikan layanan kesehatan yang terjangkau kepada masyarakat berdasarkan pengelompokkan spektrum diagnosis penyakit yang homogen dan prosedur tindakan yang diberikan . 2(10): 1472-81.Index serta Base Rate setiap pengelompokkan jenis penyakit dan selanjutnya dapat membandingkan (benchmarking) cost efficiency antar rumah sakit dalam memberikan layanan kesehatan berdasarkan keadaan sebenarnya diberikan melalui Clinical Pathways. 10 . 15 Diane Rowland D. pembiayaan (costing) yang dapat berupa top-down approach. Casemix Measurement in Irish Hospitals.18 Dengan berakhirnya lisensi 13 Goldman L. Ireland Department of Health.17 INA-DRG adalah variasi sistem casemix versi Kementerian Kesehatan RI untuk Indonesia yang disusun berdasarkan data dari 15 rumah sakit vertikal.14. BMC Health Services Research 2002. Medicaid — Implications for the health safety net.16. a major review leading to its modernisation and expansion as a central pillar in hospital funding policy. hal tersebut merupakan suatu keberhasilan dalam membuat suatu sistem pembiayaan layanan kesehatan rumah sakit dan usaha baik menuju kepastian dan dapat diperbaiki serta ditingkatkan kualitas maupun validitas datanya yang representatif untuk Indonesia. Ireland Department of Health.N Engl J Med 2005. 14 Dana B Mukame DB. 2004. Zwanziger J. activity based costing dan atau kombinasi keduanya. Analisis Pembayaran kepada Pemberi Layanan Kesehatan (PPK) menggunakan INA-CBG mendekati harapan semua pihak sesuai Clinical Pathways. mempergunakan ICD 10 untuk diagnosis dan ICD 9 CM untuk prosedur tindakan serta biaya berdasarkan tarif yang berlaku pada waktu tersebut.

Namun setelah itu tidak ada tindak lanjut seterusnya. Rencana pertemuan lanjutan tanggal 22 Januari 2010 diundur dan terealisasi pada tanggal 7-9 April 2010 di Batam dengan pembahasan kembali mengenai Standar Pelayanan Kedokteran setiap perhimpunan profesi. 2. 19 Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan RI Nomor IR. Terlepas dari kendala penggunaan Clinical Pathways sebagai pelengkap INACBG. Kesepakatan dan komitmen bersama seluruh perhimpunan profesi dan Kolegium – setiap perhimpunan profesi membuat 10 penyakit terbanyak Standar/Pedoman Pelayanan Medis (S/PPM) dan Clinical Pathways untuk melengkapi INA-DRG dalam Program Jaminan Kesehatan.01/ I/570710 Tanggal 18 Oktober 2010. Pertemuan selanjutnya tanggal 22 Januari 2010 diselenggarakan oleh Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (P2JK) Sekretariat Jenderal Depkes RI – membahas seluruh SPM dan CP. pendidikan maupun penelitian di rumah sakit sebagaimana dapat dilihat dalam gambar 5 sampai 7 berikut. P2JK Kementerian Kesehatan RI telah mengadakan pertemuan dengan seluruh perhimpunan profesi dan kolegium di Denpasar Bali pada tanggal 23 November 2009 dan menghasilkan keputusan sebagai berikut: 1.03.grouper INA-DRG terhitung tanggal 30 September 2010. 11 . implementasi Clinical Pathways sangat bermanfaat bagi profesi dalam memberikan pelayanan. maka nama sitem Casemix INA-DRG berubah menjadi INA-CBG19.

Implementasi Clinical Pathways dalam bidang pelayanan di rumah sakit. 12 .Gambar 5.

Gambar 6. 13 . Implementasi Clinical Pathways untuk penelitian di rumah sakit.

Gambar 7. 14 . Implementasi Clinical Pathways dikaitan dengan asesmen penilaian untuk peserta didik mahasiswa dan peserta program dokter spesialis di rumah sakit maupun rumah sakit jejaring pendidikan.

Merupakan suatu rangkaian sistem yang dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk memenuhi persyaratan penilaian Akreditasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) versi baru maupun dari Joint Commission International for Hospital (JCI) versi 2011 untuk standar standar dalam Section I. konstruksi maupun model implementasi Clinical Pathways secara tidak langsung sebagaimana diutarakan diatas bahwa: Clinical Pathways sebagai instrumen pelayanan berfokus kepada pasien (patient-focused care). Patient Centered Standard maupun dalam Section II. penulusuran kinerja (performance) individu profesi maupun kelompok (team-work). jelas akan dokter/perawat penanggung jawab pasien (duty of care). antisipasi kemungkinan terjadinya medical errors (laten dan aktif. terintegrasi. Healthcare Organization Management Standard sebagaimana ilustrasi Gambar 8 sampai 10 berikut. rencana pemulangan pasien (patient discharge) . utilitas pemeriksaan penunjang. upaya peningkatan mutu layanan berkesinambungan (continuous quality improvement) baik dengan pendekatan tehnik TOC (Theory of Constraints) untuk sistem maupun individu profesi.Konsep. 15 . mendeteksi dini titik titik potensial berisiko selama proses layanan perawatan pasien (tracers methodology) dalam rangka manajemen risiko (risks management). nyaris terjadi maupun kejadian tidak diharapkan/KTD) dan pencegahan kemungkinan cedera (harms) serta infeksi nosokomial dalam rangka keselamatan pasien (patient safety). prosedur tindakan operasi. penggunaan obat obatan termasuk antibiotika. berkesinambungan dari pasien masuk dirawat sampai pulang sembuh (continuous care).

Gambar 8. Clinical Pathways dan JCI 2011 Accreditation Standards 16 .

Gambar 9. Sistematika dalam JCI 2011 Hospital Standards dan Penilaiannya 17 .

Clinical Pathways dan tehnik Tracer Methodology yang digunakan oleh surveyor dalam rangka Akreditasi JCI 2011 18 .Gambar 10.

semoga bermanfaat. sehingga pelayanan efektif disamping tidak membedakan latar belakang pasien karena fokus kepada pasien dan penyakitnya (keberadilan/ekuiti) dan sekaligus memenuhi seluruh tiga tujuan dari Undang Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 dan empat tujuan Undang Undang RI Nomor 44 Tahun 2009. pendidikan dan penelitian maupun akreditasi serta bila ditinjau dari segi ekonomi kesehatan – dapat melaksanakan efisiensi pembiayaan dengan memanfaatkan seoptimal mungkin hari rawat pasien.scribd. casemix index dan base-rate secara lengkap (untuk micro-system) akan dapat disusun suatu National Health Accounts sehingga Universal Coverage akan lebih mudah tercipta dan Undang Undang RI Nomor 40 Tahun 2004 untuk bidang kesehatan terwujud (secara macro-system). http://www. Denpasar 14 Desember 2011 Dody Firmanda Ketua Komite Medik RSUP Fatmawati Jakarta.com/Komite%20Medik 19 . menggunakan obat obataan (terutama antibiotik) sesuai evidencebased. Terima kasih.Kesimpulan: Dari uraian singkat diatas – dengan hanya selembar Clinical Pathways merupakan suatu instrumen yang komprehensif merangkum secara terpadu bidang pelayanan. mengeliminasi pemeriksaan penunjang/laboratorium/tindakan yang tidak diperlukan. Bahkan bila dilaksanakan Clinical Pathways secara konsisten dimana akan didapatkan data data cost-weight.

.... 5.. 4. Anamnesis …………………………………………………………………………………………………………………... 3... 3.. 3....... ………………………………………………………………………………………………………………….. Diagnosis Banding ………………………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………………………....... ……………………………………………………………………………………………………...... Terapi 20 . …………………………………………………………………………………………………………………. 2... 2. 1.. ……………………………………………………………………………..... Diagnosis 6... 2. ………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………. 2. …………………………………………………………………………………………………………………. Denpasar 2012 – 2014 ……………………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………………………………………… 1.... Pemeriksaan Penunjang 8.. Pengertian (Definisi) 2. …………………………………………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………………………... ………………………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 7.. Kriteria Diagnosis 5. …………………………………………………………………………………………………………………... 1..... 4.. …………………………………………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………………………………………. 1. …………………………………………………………………………………………………………………. 1. …………………………………………………………………………………………………………………...LAMPIRAN: Panduan Praktik Klinis SMF : ………………………………………………………… RSUP Sanglah..... ………………………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………………………………………..... 3... 5.. Pemeriksaan Fisik 4.

…………………………………………………………………………………… 2.... .. Indikator Medis 15.. 9..................... Direktur Utama RSUP Sanglah.............. …………………………………………………………………………………… 5. 1.... 21 .............. Tingkat Evidens 12..3............ …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………….. 5..... 3... …………………………………………………………………………………… 4............ …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………................... .. Tingkat Rekomendasi 13..................... 4.. 4..... 2. 5.. …………………………………………………………………………………… 3.. Denpasar.. Edukasi 1... ..................... Penelaah Kritis Ad vitam : dubia ad bonam/malam Ad sanationam : dubia ad bonam/malam Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam I/II/III/IV A/B/C 1...... 3..... 2. 10...... …………………………………. ……………………………………………………………………………………………...2012 Ketua Komite Medik Ketua SMF............ Kepustakaan ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………... Prognosis 11.. …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 14........ 4.....

. ………………... ………………... R.... HS ...CLINICAL PATHWAYS RSUP SANGLAH DENPASAR. ……….. …………… HR 3 HR 4 HR 5 HR 6 HR 7 HR 8 HR 9 HR HR HR 10 11 12 HS . Verifikator: …………………… Diagnosis Akhir:    Utama Penyerta Komplikasi ……………………… ……………………… ………………………. ……………….. ……………………… ……………………….. HS .... Nama Pasien: …………………………………………………… Diagnosis Awal: ………………………………. HS .....          Jenis Tindakan: …………... HS . HS . Rawat …………….. …………... Pendidikan/Rencana Pemulangan: Varians: Perawat (PPJP) …………………… PPDU: …………… PPDS: …………… Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP): .. ………. ………………..... hari ……. ………………. ………. …………. …………. Jumlah Biaya …………. BALI ……………………………………………………………... ……………….... HS .  ………………………….. HS . ………….....cm ……………………………..  ………………………….. ………... Kode ICD 9 – CM ……………….. Diagnosis:  Penyakit Utama  Penyakit Penyerta  Komplikasi Asessmen Klinis:  Pemeriksaan dokter  Konsultasi Pemeriksaan Penunjang: Tindakan: Obat obatan:  ……………………………  ……………………………  …………………………. Nutrisi: Mobilisasi: Hasil (Outcome):  …………………………... Kode ICD 10 : …………………… Rencana rawat : …… hari Tgl/Jam masuk: Tgl/Jam keluar: Lama Rwt Kelas: Tarif/hr (Rp): Biaya (Rp) ………………. …………. ……………………… Kode ICD 10 ………...... HS ... ……………….. ………..... …….. HS ... ……………… ……………… ……………… …………. ……………….. ………………. ……………………… ……………………… ………………………. ………. ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… 22 .. HR 1 HR 2 HS . ………. Aktivitas Pelayanan Umur: Berat Badan: Tinggi Badan: Nomor Rekam Medis: ……………… ……………. ……….kg …………. HS ...

………………. ……….. ……………….cm ……………………………... Jumlah Biaya ……….. ………………. ……………………… ……………………… ………………………. hari ……. Nutrisi: Mobilisasi: Hasil (Outcome):  …………………………. Rawat ………………. ……………….. ……….. ……………….. Nama Pasien: …………………………………………………… Diagnosis Awal: ……………………………….... ………..CLINICAL PATHWAYS RSUP SANGLAH DENPASAR. ………... …………… …………… …………… ………. ………...... Aktivitas Pelayanan Umur: Berat Badan: ……………… ……………...... ……………………… Kode ICD 10 ………... ………. ………. ……….. ……….. ………... ………………. ……………….kg Kode ICD 10 : …………………… Tgl/Jam masuk: Tgl/Jam keluar: R. …………….  …………………………..          Jenis Tindakan: ………... BALI …………………………………………………………….... HR HR HR HR HR HR HR HR 1 2 3 4 5 6 7 8 HS HS HS HS HS HS HS HS Tinggi Badan: Nomor Rekam Medis: …………. ……………………… ………………………. ………………... …………… HR HR HR HR HR HR 9 10 11 12 13 14 HS HS HS HS HS HS Diagnosis:  Penyakit Utama  Penyakit Penyerta  Komplikasi Asessmen Klinis:  Pemeriksaan dokter  Konsultasi Pemeriksaan Penunjang: Tindakan: Obat obatan:  ……………………………  ……………………………  …………………………..... Rencana rawat : …… hari Lama Rwt Kelas: Tarif/hr (Rp): Biaya (Rp) ……. Verifikator: …………………… Diagnosis Akhir:    Utama Penyerta Komplikasi ……………………… ……………………… ……………………….. ………….. ………. Pendidikan/Rencana Pemulangan: Varians: Perawat (PPJP) …………………… PPDU: …………… PPDS: …………… Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP): .... ………………... Kode ICD 9 – CM ……………….  …………………………..... ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… 23 ... ……….

…………. ……………………… ……………………… ………………………..    Utama Penyerta Komplikasi ……………………… ……………………… ………………………... ……………… Diagnosis Akhir: …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… ……………….. ……………… ……………… ……………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… Jenis Tindakan: …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… ………….. ………………. ……………….. hari …….. ……….... ………………. Nutrisi: Mobilisasi: Hasil (Outcome):  ………………………….....  …………………………. ………………. …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… ………………... …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… ……………….. ……. ………………. ………………. ……………….cm ……………………………... ………………..... ……………. Aktivitas Pelayanan Umur: Berat Badan: Tinggi Badan: Nomor Rekam Medis: ……………… …………….... ……….. ……………….. Kode ICD 10 : …………………… Rencana rawat : …… hari Tgl/Jam masuk: Tgl/Jam keluar: Lama Rwt Kelas: Tarif/hr (Rp): Biaya (Rp) R. ………….. ………. Hari Rawat 1 Hari Rawat 2 Hari Rawat 3 Hari Rawat 4 Hari Rawat 5 Hari Sakit: … Hari Sakit: … Hari Sakit: … Hari Sakit: … Hari Sakit: … Diagnosis:  Penyakit Utama  Penyakit Penyerta  Komplikasi Asessmen Klinis:  Pemeriksaan dokter  Konsultasi Pemeriksaan Penunjang: Tindakan: Obat obatan:  ……………………………  ……………………………  …………………………. …………. ………………... ………………. ………………. Nama Pasien: …………………………………………………… Diagnosis Awal: ………………………………... Verifikator: …………………… Kode ICD 10 ……….. ………………...... ………………..  …………………………. …………. BALI ……………………………………………………………. ………………. ………………. ……………….          Jumlah Biaya ………. ………………. ………………... …………… ……………. …………… …………… …………… …………… …………… …………… …………… ………………..... ………………. ………. ………………. ………………. ……………………… ………………………. Perawat (PPJP) …………………… PPDU: …………… PPDS: …………… Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP): . ……………….kg …………. ………………. ……………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… 24 .... Pendidikan/Rencana Pemulangan: Varians: ……………….. ………………. ……………….. ……………….. Kode ICD 9 – CM ………………. ………………... ………….. ………………. ………………. ……….. ………. …………. ……….. ……………….. ……………….. ……….....CLINICAL PATHWAYS RSUP SANGLAH DENPASAR.. Rawat ………………...

... ………………. ………. BALI ……………………………………………………………. Verifikator: …………………… Diagnosis Akhir:    Utama Penyerta Komplikasi ……………………… ……………………… ………………………. Hari Rawat 1 Hari Sakit: … Diagnosis:  Penyakit Utama  Penyakit Penyerta  Komplikasi Asessmen Klinis:  Pemeriksaan dokter  Konsultasi Pemeriksaan Penunjang: Tindakan: Obat obatan:  ……………………………  ……………………………  …………………………. ……………………… ……………………… ……………………….......... ………………..  …………………………. Nama Pasien: …………………………………………………… Diagnosis Awal: ………………………………. Pendidikan/Rencana Pemulangan: Varians: Perawat (PPJP) …………………… PPDU: …………… PPDS: …………… Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP): ..CLINICAL PATHWAYS RSUP SANGLAH DENPASAR. ………………..          ………….cm ……………………………... ………….. …………. Kode ICD 10 : …………………… Rencana rawat : …… hari Tgl/Jam masuk: Tgl/Jam keluar: Lama Rwt Kelas: Tarif/hr (Rp): Biaya (Rp) ……………….... ………... hari …….. …………... ……………… ………………..... …………… Hari Rawat 2 Hari Rawat 3 Hari Rawat 4 Hari Rawat 5 Hari Rawat 6 Hari Sakit: … Hari Sakit: … Hari Sakit: … Hari Sakit: … Hari Sakit: … R... ………………. ………….. ………………. Rawat …………….. Nutrisi: Mobilisasi: Hasil (Outcome):  …………………………. ……. ……………….. ……………….. ………………... ………. ………. 25 .. Jenis Tindakan: Kode ICD 9 – CM ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ………………... …………. ………………. ………. ………….... ……………………… Kode ICD 10 ……….. ……………………… ………………………...  ………………………….kg …………. ………………. ……….. Jumlah Biaya …………... Aktivitas Pelayanan Umur: Berat Badan: Tinggi Badan: Nomor Rekam Medis: ……………… …………….... ………. ………..

………. ………...... Nama Pasien: …………………………………………………… Diagnosis Awal: ………………………………... Verifikator: …………………… Diagnosis Akhir:    Utama Penyerta Komplikasi ……………………… ……………………… ……………………….. Hari Sakit. ……. Hari Sakit. ……….  …………………………. ……………….. Hari Rawat Hari Rawat Hari Rawat Hari Rawat Hari Rawat Hari Rawat Hari Rawat 1 2 3 4 5 6 7 Hari Sakit.. hari ……... ………. ……………….. ………..... ……….. ……………….. ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… ……………………………………… 26 .. BALI …………………………………………………………….          Jenis Tindakan: ………... Kode ICD 10 : …………………… Rencana rawat : …… hari Tgl/Jam masuk: Tgl/Jam keluar: Lama Rwt Kelas: Tarif/hr (Rp): Biaya (Rp) R.. ………………. Pendidikan/Rencana Pemulangan: Varians: Perawat (PPJP) …………………… PPDU: …………… PPDS: …………… Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP): ....... ……….. Aktivitas Pelayanan Umur: Berat Badan: Tinggi Badan: Nomor Rekam Medis: ……………… ……………. ……………….... ……………………… ……………………… ………………………. ……………………… ………………………....  …………………………... …………… …………….cm …………………………….... Hari Sakit.. Diagnosis:  Penyakit Utama  Penyakit Penyerta  Komplikasi Asessmen Klinis:  Pemeriksaan dokter  Konsultasi Pemeriksaan Penunjang: Tindakan: Obat obatan:  ……………………………  ……………………………  …………………………. ………………. Nutrisi: Mobilisasi: Hasil (Outcome):  …………………………... ……….. Jumlah Biaya ……… Kode ICD 9 – CM ………………. ………………. ……….. ……….. …………... Hari Sakit... ………......CLINICAL PATHWAYS RSUP SANGLAH DENPASAR.. ……….. Hari Sakit....... ………. ………. ……………………… Kode ICD 10 ………. ………………. …….. ………. Hari Sakit.. ………………..kg …………. Rawat ……………….

27 .

INSTRUMEN PENILAIAN MONITORING DAN EVALUASI DALAM PENYUSUNAN DAN IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAYS (C P) RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR. BALI 28 .

manajemen risiko klinis 4. terdiri dari: 1. Clinical Governance (CG) adalah satu kerangka konsep sistem mutu dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan mutu di sarana/fasilitas pelayanan kesehatan yang terdiri dari: 1. adil dan akauntabel 2.DAFTAR ISTILAH Clinical Pathways adalah suatu konsep perencanaan pelayanan terpadu yang merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar pelayanan medis dan asuhan keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yang terukur dan dalam jangka waktu tertentu selama di rumah sakit. Identifikasi dan manajemen risiko 3. pengelolaan secara transparan. audit medis 5. pengembangan dan penelitian profesi Keselamatan Pasien (Patient Safety) adalah proses pelayanan pasien yang aman. Pelaporan dan analisis insiden 4. pendidikan. activity based atau kombinasi keduanya dari setiap langkah dalam Clinical Pathways (CP). Asesmen risiko 2. clinical effectiveness 3. Tindak lanjut dan solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko 29 . Sistem DRG Casemix adalah sistem pembiayaan berdasarkan pengelompokan dan pembauran penatalaksanaan pasien dalam hal diagnosis (utama. pnyakit penyerta/komorbid dan komplikasi) dan prosedur tindakan dengan menggunakan kodefikasi ICD 10 dan ICD 9 – CM serta penghitungan biaya secara pendekatan top-down.

2 Telah ada organisasi dan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 755/Menkes/Per/IV/2011. akan tetapi belum/tidak sesuai dengan yang dianjurkan sebagaimana dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 755/Menkes/Per/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit. fungsi dan wewenang serta tanggung jawabnya. 5 Telah melakukan evaluasi dan revisi dari organisasi Komite Medik dan SMF. akan tetapi belum melaksanakan tugas. fungsi dan wewenang serta tanggung jawabnya dari organisasi tersebut dan ada bukti tertulis akan kegiatan tersebut. akan tetapi belum disahkan oleh pimpinan rumah sakit dalam bentuk Surat Keputusan (SK). 4 Telah melaksanakan tugas. 30 .S1 Profesi Medis S1 P1 Komite Medik dan Kelompok Staf Medis (SMF) Nilai Kriteria 0 Belum ada organisasi profesi dalam bentuk Komite Medik dan Kelompok Staf Medis (SMF) 1 Telah ada organisasi profesi dalam bentuk Komite Medik dan Kelompok Staf Medis (SMF). 3 Organisasi tersebut telah ada SK pimpinan rumah sakit.

31 .S1 P2 Standar Pelayanan Kedokteran (SPK). 2 Telah ada SPK/SPO/PPK. 3 4 Telah melakukan implementasi SPK/SPO/PPK tersebut dan ada bukti tertulis telah melakukan audit medis. akan tetapi belum disahkan penggunaanya oleh pimpinan rumah sakit dalam bentuk Surat Keputusan (SK). akan tetapi belum seluruh SMF membuat SPK/SPO/PPK sesuai profesinya masing masing. akan tetapi belum sosialisasikan kepada seluruh staf medis sesuai dengan bidang profesinya masing masing. Standar Prosedur Operasional (SPO) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) dari profesi medis Nilai Kriteria 0 Belum ada Format SPK/SPO/PPK dari Komite Medik untuk seluruh Kelompok Staf Medis (SM F) 1 Telah ada Format SPM/SPO dari Komite Medik untuk seluruh Staf Medis Fungsional (SMF). 5 Telah melakukan evaluasi dan revisi dari SPK/SPO/PPK tersebut. SPK/SPO/PPK tersebut telah disahkan penggunaannya dalam bentuk SK pimpinan rumah sakit.

32 . 3 Asuhan Keperawatan tersebut telah disahkan penggunaannya dalam bentuk SK pimpinan rumah sakit. akan tetapi belum seluruh Kelompok Staf Keperawatan dan Penata Asuhan Keperawatan sesuai bidang masing masing.S2 Profesi Keperawatan S2 P1 Asuhan Keperawatan Nilai Kriteria 0 Belum ada Format Asuhan Keperawatan dari Komite/Bidang Keperawatan untuk seluruh Kelompok Staf Keperawatan dan Penata sesuai dengan bidangnya masing masing 1 Telah ada Format Asuhan Keperawatan dari Komite/Bidang Keperawatan. 2 Telah ada Asuhan Keperawatan. akan tetapi belum sosialisasikan kepada seluruh staf perawat dan penata sesuai dengan bidangnya masing masing. akan tetapi belum disahkan penggunaanya oleh pimpinan rumah sakit dalam bentuk Surat Keputusan (SK). 4 Telah melakukan implementasi Asuhan Keperawatan tersebut dan ada bukti tertulis telah melakukan PSBH. 5 Telah melakukan evaluasi dan revisi dari Asuhan Keperawatan tersebut.

akan tetapi tidak melibatkan seluruh perwakilan dari SMF dan profesi apoteker/farmasis dalam penyusunan Daftar Formularium Rumah Sakit. Ada bukti tertulis telah melakukan monitoring penggunaan dan laporan (feed back) Daftar Formularium Rumah Sakit .S3 Profesi Apoteker/Farmasis S3 P1 Daftar Formularium Rumah Sakit Nilai 0 1 Kriteria Belum ada Format Daftar Formularium Rumah Sakit dari Panitia/Komite/Tim Farmasi dan Terapi. akan tetapi belum disahkan penggunaanya oleh pimpinan rumah sakit dalam bentuk Surat Keputusan (SK). Telah melakukan evaluasi dan revisi Daftar Formularium Rumah Sakit . 2 3 4 5 33 . akan tetapi belum sosialisasikan kepada seluruh staf profesi medis dan apoteker/farmasis. Telah ada Daftar Formularium Rumah Sakit. Telah ada Format Daftar Formularium Rumah Sakit. Daftar Formularium Rumah Sakit tersebut telah disahkan penggunaannya dalam bentuk SK pimpinan rumah sakit.

Telah ada Unit Dose Daily (UDD). Telah melakukan evaluasi dan revisi Unit Dose Daily (UDD). akan tetapi belum disahkan penggunaanya oleh pimpinan rumah sakit dalam bentuk Surat Keputusan (SK). Unit Dose Daily (UDD) telah disahkan penggunaannya dalam bentuk SK pimpinan rumah sakit. akan tetapi tidak melibatkan seluruh perwakilan dari SMF dan profesi apoteker/farmasis dalam penyusunan format Unit Dose Daily (UDD). Ada bukti tertulis telah melakukan monitoring penggunaan dan laporan (feed back) Unit Dose Daily (UDD) . akan tetapi belum sosialisasikan kepada seluruh staf profesi medis dan apoteker/fa rmasis.S3 P2 Unit Dose Daily (UDD) Nilai 0 1 Kriteria Belum ada format Unit Dose Daily (UDD) Rumah Sakit dari Panitia/Komite/Tim Farmasi dan Terapi. Telah ada Unit Dose Daily (UDD). 2 3 4 5 34 .

akan tetapi tidak melibatkan seluruh perwakilan dari KSM/SMF dan profesi apoteker/farmasis dalam penyusu nan format Stop Ordering (SO). Stop Ordering (SO)telah disahkan implementasinya dalam bentuk SK pimpinan rumah sakit. Telah ada Stop Ordering (SO). Telah ada Stop Ordering (SO). Telah melakukan evaluasi dan revisi format Stop Ordering (SO). akan tetapi belum disahkan implementasinya oleh pimpinan rumah sakit dalam bentuk Surat Keputusan (SK). Ada bukti tertulis telah melakukan monitoring implementasi Stop Ordering (SO) . 2 3 4 5 35 . akan tetapi belum sosialisasikan kepada seluruh staf profesi medis dan a pote ke r/f a rmas is.S3 P3 Stop Ordering (SO) Nilai 0 1 Kriteria Belum ada format Stop Ordering (SO) dari Panitia/Komite/Tim Farmasi dan Terapi.

Ada bukti tertulis telah melaksanakan evaluasi/audit uji coba pelaksaan sekurangnya 5 (lima) jenis Clinical Pathways (CP). staf perawat/penata dan apoteker/farmasis. Telah melakukan uji coba pelaksaan sekurangnya 5 (lima) jenis Clinical Pathways (CP) akan tetapi belum melaksanakan evaluasi/audit.S4 Clinical Pathways (CP) S4 P1 Format Clinical Pathways (CP) tingkat Rumah Sakit Nilai 0 1 Kriteria Belum ada Format Clinical Pathways (CP) dari Komite Medik Telah ada Format Clinical Pathways (CP) Rumah Sakit. 2 3 4 5 6 7 36 . akan tetapi tidak melibatkan seluruh perwakilan dari SMF.. Ada bukti tertulis telah membuat sekurangnya 5 (lima) jenis Clinical Pathways (CP) yang berbeda berdasarkan prioritas dan disusun sesuai dengan SPK/SPO/PPK dan Asuhan Keperawatan serta Daftar Formularium Rumah Sakit. Komite/Bidang Keperawatan dan profesi apoteker/farmasis dalam penyusunan format tersebut. Telah ada Format Clinical Pathways (CP). Ada bukti tertulis telah melakukan revisi atas uji coba format Clinical Pathways (CP). akan tetapi belum sosialisasikan kepada seluruh staf profesi medis. Format Clinical Pathways (CP) tersebut telah disahkan penggunaannya dalam bentuk SK pimpinan rumah sakit. akan tetapi belum disahkan penggunaanya oleh pimpinan rumah sakit dalam bentuk Surat Keputusan (SK).

Seluruh SMF telah melakukan audit terhadap 3 Clinical Pathways (CP) masing masing. Telah ada sekurangnya setengah dari jumlah SMF dengan minimal 3 Clinical Pathways (CP) yang berbeda sesuai prioritas dan disusun sesuai dengan SPK/SPO/PPK dan Asuhan Keperawatan serta Daftar Formularium Rumah Sakit. Ada bukti tertulis telah melaksanakan evaluasi/audit terhadap Clinical Pathways (CP) di atas.S4 P2 Clinical Pathways (CP) tingkat SMF Nilai 0 1 Kriteria Belum ada SMF Departemen/Bagian yang membuat Clinical Pathways (CP) sesuai format dari Komite Medik RS. Telah melakukan Clinical Pathways (CP) tersebut di atas akan tetapi belum melaksanakan evaluasi/audit. Ada bukti tertulis telah melakukan revisi atas Clinical Pathways (CP) di atas. Seluruh SMF dengan minimal 3 Clinical Pathways (CP) yang berbeda sesuai prioritas dan disusun sesuai dengan SPK/SPO/ PPK dan Asuhan Keperawatan serta Daftar Formularium RS. 2 3 4 5 6 7 37 . Ada bukti tertulis Seluruh SMF telah melakukan revisi terhadap 3 Clinical Pathways (CP) masing masing.

Ada bukti tertulis telah melaksanakan monitoring kodefikasi terhadap Clinical Pathways (CP) di atas. Seluruh SMF dengan minimal 3 Clinical Pathways (CP) yang berbeda sesuai prioritas dan disusun sesuai dengan SPK/SPO/PPK dan Asuhan Keperawatan serta Daftar Formularium Rumah Sakit telah melaksanakan kodefikasi sesuai ICD 10 dan ICD 9 . Bagian Rekam Medik telah melakukan monitoring dan memberikan feed back kepada seluruh SMF 1 2 3 4 5 6 38 .S4 P3 Kodefikasi Clinical Pathways (CP) tingkat SMF berdasarkan ICD 10 dan ICD 9 – CM. Telah ada kodefikasi sekurangnya setengah dari jumlah SMF dengan minimal 3 Clinical Pathways (CP) yang berbeda sesuai prioritas dan disusun sesuai dengan SPK/SPO/PPK dan Asuhan Keperawatan serta Daftar Formularium Rumah Sakit.CM. Ada bukti tertulis telah melakukan feed back tentang kodefikasi Clinical Pathways (CP) di atas. Telah melakukan kodefikasi Clinical Pathways (CP) tersebut di atas akan tetapi belum melaksanakan evaluasi/audit. Nilai 0 Kriteria Belum ada KSM/SMF/Departemen/Bagian yang membuat kodefikasi sesuai ICD 10 dan ICD 9 – CM dalam Clinical Pathways (CP) sesuai format dari Komite Medis RS.

Ada bukti tertulis telah melaksanakan revisi Clinical Pathways (CP) atas varians di atas. Nilai 0 1 2 3 4 Kriteria Tidak ada catatan tentang varians dalam Clinical Pathways sesuai format dari Komite Medik RS.S4 P5 Varians Clinical Pathways (CP) tingkat SMF . 39 . Ada bukti tertulis telah melakukan feed back tentang varians dalam Clinical Pathways (CP) di atas. Ada catatan dan pelaporan tenatng varians Ada tindak lanjut atas varians yang ditemukan/dilaporkan.

. ……... ……. ……... ……. ……. ……. ……. S4 Clinical Pathways  S4P1 Tingkat RS …….... ……... ……. ……. …….. ……... …….. …….. ……. ……........ ……... …….... ……. ……. …….. …….. ……..... …….. ……. …….. …….. ……. ……. ……. ……. ……. ……. ……. ……. …….. ……... ……. ……... …….. ……... Jumlah Clinical Pathways ……... ……. …….. ……... …….. …….. ……. ……. ……... …….... ……. …….. …….. ……. …….... ……. …….... ……... …….... …….... …….  S4P4 Varians …….... ……. …….. ……... ……... ……. ……. ……. ……. ……. …….. ……. …….. ……. ……... ……. ……... ……. ……....  S4P2 Tingkat SMF ……. ……. …….. …….FORMAT PENILAIAN SELF-ASSESSMENT: MONITORING DAN EVALUASI PENYUSUNAN DAN IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAYS RSUP SANGLAH DENPASAR BALI Tahun : …………………………………… Nilai Standar dan Parameter Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jun Ags Sep Okt Nov Des S1 Profesi Medis     S1P1 Komite Medik/SMF S1P2 SPM/PPK/SPO S2P1 Asuhan Keperawatan S3P1 Formularium RS ……... .. ……. …….. ……. ……... diimplementasikan: Jumlah Clinical Pathways direvisi: …….. …….  S3P3 Stop Ordering (S0) ……. ……...... ……. …….. …….. ……. …….. …….... …….. ……...... ……. …….. ……. ……... …….. ……. ……. …….. Jumlah Clinical Pathways disusun: …….. ……... ……... …….. ……. ……. …….  S3P2 Unit Dose Daily (UDD) ……. ……. …….. ……. …….... ……..... ……... …….. …….. ……. …….. …….  S4P3 Kodefikasi ……. …….. ……. ……. ……. …….... ……. ……. ……. ……. ……... ……. ……. ……... …….. ……. ……. ……. 40 S2 Profesi Keperawatan S3 Profesi Apoteker ……. ……. …….... …….. ……... ……... …….. …….

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful