You are on page 1of 21

Buku Ajar Silvikultur

BAB IV. PERLINDUNGAN HUTAN


A. Pendahuluan

Deskripsi Singkat Pembahasan tentang peraturan perlindungan hutan, bentuk gangguan hutan, dampak gangguan hutan dan strategi perlindungan hutan yang akan menjadi dasar pemikiran tentang budidaya tanaman kehutanan, pengelolaan hutan dan sistem-sistem silvikultur yang berlaku dalam bidang kehutanan.

Relevansi dengan Bab Lain Dengan mengetahui peraturan perlindungan hutan, bentuk gangguan hutan, dampak gangguan hutan dan strategi perlindungan hutan berhubungan erat dengan metode perbanyakan tanaman hutan/ regenerasi (Bab 2), teknik pemeliharaan dan pengelolaan hutan (Bab 3), metode penebangan/reproduksi (Bab 5) dan sistem-sistem silvikultur yang diterapkan dalam bidang kehutanan (Bab 6).

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) a. Setelah mengikuti kuliah ini, mahasiswa mampu menjelaskan tentang peraturan perlindungan hutan. b. Setelah mengikuti kuliah ini mampu menjelaskan bnetuk-bentuk gangguan hutan. c. Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa mampu menjelaskan dampak dari gangguan hutan. d. Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa mampu menjelaskan tentang strategi perlindungan hutan.

B. Penyajian Uraian 4.1. Peraturan Pelindungan Hutan 4.2. Bentuk Gangguan Hutan 4.3. Dampak Gangguan Hutan 4.4. Strategi Perlindungan Hutan Ringkasan Bab IV C. Penutup a. Latihan b. Tes Formatif c. Umpan Balik d. Tindak Lanjut e. Kunci jawaban tes formatif

74

Buku Ajar Silvikultur

4.1. Peraturan Perlindungan Hutan Berdasarkan Undang-Undang Pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967 Pasal 15 Bab V dan UU No. 41 Tahun 1999 pasal 46 dan pasal 47 yang memuat tentang perlindungan hutan, dijelaskan bahwa penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam bertujuan menjaga hutan, kawasan hutan dan lingkungannya, agar fungsi lindung, fungsi konservasi dan fungsi produksi terjadi secara optimal dan lestari. Dari pasal tersebut dijelaskan usaha-usaha yang dilakukan dalam perlindungan hutan. Adapun usaha-usaha tersebut yaitu mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama dan penyakit ; dan mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, invesasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa tercakup dalam perlindungan hutan adalah ketentuan-ketentuan tentang tindakan-tindakan yang perlu diambil bila terjadi kerusakan hutan yang disebbakan karena perladangan serta penggembalaan liar dan kebakaran yang menimbulkan tanah-tanah kosong dan padang alang-alang/rumput terutama di luar Jawa dan di Jawa yang banyak mengakibatkan bencana alam. Selanjutnya, mengenai perlindungan hutan dijabarkan dalam Peraturan

Pemerintah No. 28 Tahun 1985. Berdasarkan peraturan ini dijelaskan bahwa usaha-usaha perlindungan hutan dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu : a. usaha pengamanan teknis kehutanan b. usaha pengamanan polisionil terhadap hutan Sebagian besar pasal-pasal dalam PP No. 28 tahun 1985 mencakup hal-hal yang berkaitan dengan usaha pengamanan polisionil tersebut, yaitu mengenai perlindungan kawasan hutan, perlindungan tanah hutan dan perlindungan terhadap kerusakan hutan serta hasil hutan. Dalam PP ini dirinci pula pelaksanaan perlindungan hutan yang berkaitan dengan pengamanan polisionil. Penggunaan kawasan hutan harus sesuai dengan fungsi dan peruntukannya dan penyimpangan dari ketentuan ini dapat dilakukan hanya dengan persetujuan Menteri. Kawasan hutan dan hutan cadangan dilarang dikerjakan atau diduduki tanpa izin Menteri. Di dalam kawasan hutan dan hutan cadangan dilarang dilakukan pemungutan hasil dengan menggunakan alat-alat yang tidak sesuai dengan kondisi tanah dan lapangan atau dilakukan perbuatan lain yang dapat menimbulkan kerusakan tanah dan tegakan. Setiap orang dilarang menebang pohon dalam hutan dan mengambil atau memungut hasil-hasil hutan lainnya tanpa izin pejabat yang berwenang. Setiap orang dilarang membakar hutan kecuali dengan kewenangan yang sah. Juga penggembalaan ternak dalam hutan, pengambilan rumput dan makanan ternak lainnya serta seresah dari dalam hutan hanya dapat dilakukan di tempat-tempat yang ditunjuk khusus untuk keperluan tersebut oleh pejabat yang berwenang.

75

Buku Ajar Silvikultur

Sejak pengusahaan hutan secara besar-besaran mulai dilakukan di luar P. jawa, pemerintah telah menyadari pentingnya perlindungan dalam pelaksanaan eksploitasi. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.76/Kpts/UKKU/1969 tentang Pedoman Umum Eksploitasi Hutan disebutkan beberapa hal yang wajib diperhatikan oleh para pengusaha hutan, yang berkaitan dengan penebangan, termasuk pohon yang boleh ditebang, dan pelaksanaan penebangan demikian rupa hingga dapat menjamin hasil kayu yang maksimal serta membatasi kerusakan-kerusakan terhadap pohon-pohon yang ditinggalkan dan terhadap tanah. Dalam penebangan perlu diperhatikan juga arah rebah. Pembagian batang juga sejauh mungkin dilakukan di tempat rebah pohon untuk memperkecil kerusakan-kerusakan terhadap tanah, permudaan dan pohon-pohon yang ditinggalkan, yang dapat terjadi pada waktu penyaradan. Agar kerusakan terhadap permudaan serta pohon-pohon lain dan tanah seminimal mungkin, penyaradan dari tempat rebah sampai ke tempat pengumpulan, dilarang dilasanakan seluruh pohon serta sejauh mungkin tidak digunakan high lead yarding. Pembuatan jalan angkutan untuk keperluan eksploitasi juga diwajibkan dilakukan dengan membatasi kerusakan-kerusakan terhadap tanah, aliran sungai dan hutan.

4.2. Bentuk gangguan hutan Bentuk-bentuk gangguan terhadap hutan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu bentuk gangguan karena perbuatan manusia/gangguan fisik, bentuk ganggguan karena faktor biologis, dan bentuk gangguan karena daya alam. Bentuk-bentuk gangguan tersebut secara singkat adalah : 1. Karena perbuatan manusia a. perladangan b. penyerobotan kawasan c. pencurian kayu d. penggembalaan ternak e. kebakaran hutan f. pencemaran lingkungan 2. Karena faktor biologis a. hama hutan b. penyakit hutan c. gulma 3. Karena daya alam a. keadaan cuaca yang ekstrim b. petir c. banjir Penggembalaan Ternak Penggembalaan yang dilakukan di dalam atau di sekitar kawasan hutan dapat menimbulkan ancaman bagi kelestarian hutan. Hal ini karena dapat mengakibatkan terjadinya pemadatan tanah, memperbesar kemungkinan hilangnya spesies tumbuhan dan memperbesar kerusakan vegetasi hutan.

76

Buku Ajar Silvikultur

Dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan penggembalaan di dalam kawasan hutan dapat berupa : a. Rusaknya tumbuhan hutan disebabkan pelukaan batang tumbuhan karena gesekan dari bagian tubuh hewan ternak, dan hilangnya tumbuhan hutan muda akibat kegiatan hewan ternak dalam mencari makan. b. terjadinya pemadatan tanah yang disebabkan oleh bekas pijakan kaki hewan ternak, sehingga vegetasi hutan menjadi terhambat dan terganggu pertumbuhan dan perkembangannya. c. Semakin besar kemungkinan terjadinya erosi oleh karena adanya pemadatan terhadap permukaan tanah dan pemadatan terhadap seresah sebagai lantai dasar hutan, sehingga tidak adanya sumber penahan air yang mengakibatkan peningkatan aliran permukaan (run off). d. Dapat mempengaruhi terhadap perkembangan biji-biji tumbuhan sehingga resiko kehilangan spesies atau jenis tumbuhan semakin besar. e. Akibat pelukaan pada batang tumbuhan disebabkan kegiatan hewan ternak dapat menimbulkan serangan hama dan penyakit bagi tumbuhan hutan. Kegiatan penggembalaan ternak juga menimbulkan beberapa dampak positif terhadap hutan dan masyarakat sekitar hutan, yaitu : a. adanya kotoran yang dihasilkan hewan ternak dapat membantu perolehan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan hutan. b. dapat menghilangkan atau mengurangi populasi tumbuhan pengganggu (gulma). c. bagi masyarakat sekitar hutan mendapatkan areal atau lahan peruntukan bagi kegiatan penggembalaan ternaknya. d. mengurangi resiko kebakaran. e. dapat mempercepat penghancuran seresah sehingga proses dekomposisi berlangsung cepat. Kawasan hutan yang dijadikan oleh masyarakat untuk areal penggembalaan sangat berpotensi dalam penyediaan pakan ternak karena keanekaragaman spesies tumbuhan untuk makanan ternak masih tersedia, sehingga hal ini dapat menguntungkan bagi masyarakat, baik masyarakat sekitar hutan atau masyarakat di sekitar hutan. Tetapi hal ini mejadi dilematis karena dampak negatif yang ditimbulkannya berupa ancaman terhadap kelestarian hutan. Untuk mencegah timbulnya kerusakan hutan yang lebih besar, maka Pemerintah c.q. Departemen Kehutanan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.28 Tahun 1985 mengatur hal-hal yang berkenaan dengan penggembalaan dan menunjuk tempattempat khusus untuk kepentingan penggembalaan, pengambilan rumput dan makanan ternak, agar pemanfaatan hutan tidak merusak fungsi pokok hutan itu sendiri. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 196 Tahun 1986 mengatur tentang pengendalian penggembalaan yang berupa rambu-rambu terhadap penggembalaan, yaitu :

77

Buku Ajar Silvikultur

a. membuat batas atau sekat-sekat yang membatasi hutan dengan kawat-kawat ataupun dengan tanaman yang tidak disukai oleh hewan ternak. b. membuat papan merk di areal hutan yang memberitahukan tentang larangan penggembalaan di daerah kawasan hutan tersebut. c. untuk ternak yang terlanjur masuk ke dalam kawasan hutan, ternak tersebut diusahakan keluar dari kawasan hutan. d. diadakan pendekatan dengan masyarakat sekitar hutan agar tidak terjadi

penggembalaan liar. e. membuat sanksi bagi masyarakat yang melanggar aturan tersebut. f. mengadakan penyuluhan dan pemberian informasi tentang penggembalaan dan dampaknya terhadap kelangsungan hidup kawasan hutan. Kebakaran Hutan Kebakaran hutan merupakan faktor perusak yang cukup potensial karena kebakaran sangat sukar dikendalikan. Penyebab terjadinya kebakaran hutan secara garis besar dapat digolongkan menjadi 3 faktor, yaitu : a. faktor manusia b. faktor alam c. faktor lain Davis (1959) menyatakan bahwa 90 % dari 125.000 peristiwa kebakaran, penyebabnya adalah manusia. Sedangkan faktor alam dan lain-lain penyebab yang belum diketahui secara pasti hanya mengambil bagian yang sangat kecil. Dari sekian banyak kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kebakaran hutan, sebagian merupakan kegiatan yang tidak disengaja misalnya aktivitas perkemahan, rekreasi dan juga aktivitas yang menyangkut pemungutan hasil hutan, dan sebagian lagi adalah kegiatan yang sengaja membakar hutan tersebut. Berapa besar perbandingan yang disengaja dan tidak disengaja belum diketahui secara pasti. Chandler (1983) menyebutkan bahwa kebakaran banyak memberikan pengaruh terhadap areal tersebut terhadap : a. tanah b. udara c. iklim/terutama iklim setempat d. vegetasi (tegakan hutan, anakan, tumbuhan bawah, semak belukar dan rerumputan) e. margasatwa f. ekosistem Terhadap tanah proses kebakaran hutan dengan intensitas tinggi dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, air tanah dan juga mikroorganisme tanah. Terhadap udara proses kebakaran akan memperbanyak kandungan air dan zat asam arang yang berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup yang ada di sekitarnya.

78

Buku Ajar Silvikultur

Terhadap iklim terutama iklim setempat (iklim mikro, dapat mempengaruhi suhu, kelembaban dan pergerakan angin). Terhadap vegetasi dapat menimbulkan kerusakan dari bagian-bagian pohon atau dapat mematikan seluruh bagian tanaman. Terhadap margasatwa, sifatnya dapat langsung dan tidak langsung. Secara langsung, kebakaran hutan dapat mematikan atau mengusir margasatwa dari areal yang dilanda kebakaran sehingga jumlah dan jenisnya berkurang. Sedangkan secara tidak langsung dapat berhubungan dengan makanan. Dari hal-hal di atas, kebakaran hutan dapat mempengaruhi ekosistem, baik terhadap lingkungan fisik maupun biotiknya. Bentuk/Tipe Kebakaran Hutan Melihat cara penjalaran dan bahan bakar yang terbakar dapat digolongkan dalam 3 tipe kebakaran hutan, yaitu : a. kebakaran bawah, penjalaran api berbentuk bulat, bahan bakar yang dibakar adalah seresah, humus dan bahan bakar organik yang ada di lantai hutan. b. kebakaran permukaan, penjalaran api sudah dipengaruhi angin walaupun kurang besar, jadi penjalaran berbentuk agak lonjong dan bahan bakar yang terbakar adalah seresah, tumbuhan bawah, anakan dan semak belukar. c. kebakaran atas/tajuk, bahan bakar yang terbakar adalah pohon/tegakan hutan. Angin sudah sangat berpengaruh sehingga penjalaran berbentuk elip dan sangat cepat. Cara pengendalian Pengendalian akan berhasil bila kita melihat penyebab terjadinya proses tersebut dan penyebab yang mengakibatkan terjadinya proses tersebut. Chandler (1983) dan Davis (1959) menyebutkan bahwa dalam pengendalian juga harus melihat faktor ekonomi, teknis, organiasasi dan administrasi. Dengan demikian pengendalian harus direncanakan secara matang berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Pada dasarnya, usaha pengendalian kebakaran ditujukan kepada dua hal adalah : a. mencegah/mengurangi terjadinya nyala api adalah dengan menghilangkan sumbersumber api dan memodifikasi bahan bakar sehingga sukar untuk terbakar. b. memberantas/memusnahkan nyala api. Usaha pencegahan merupakan kegiatan yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan usaha pemberantasan, biaya akan lebih murah, lebih mudah dan memerlukan lebih sedikit tenaga. Usaha pencegahan dapat dilakukan melalui : a. praktek-praktek silvikultur b. perundang-undangan c. patroli dan penyuluhan Sedangkan usaha pemberantasan dapat dilakukan melalui : a. pemadaman langsung terhadap api yang sedang menyala b. pembentukan jalur-jalur kebakaran
79

Buku Ajar Silvikultur

c. penggunaan bahan-bahan kimia Pada dasarnya tidak semua areal hutan di Indonesia mudah terbakar. Bahruni (1986) mendapatkan bahwa kelas kebakaran di hutan hujan tropis sangat rendah ialah kelas satu. Dengan demikian untuk tipe hutan ini pada dasarnya sukar sekali untuk terbakar. Kebakaran yang terjadi umumnya karena dukungan musim kemarau yang sangat panjang sehingga bahan bakar di hutan semakin banyak dan semakin kering dan adanya El Nino. Indonesia mempunyai berbagai jenis hutan hutan dari mulai hutan dataran rendah hingg dataran tinggi. Untuk hutan dataran rendah karena pengaruh tiupan angin, suhu dan kelembaban, proses pengeringan bahan bakar akan terjadi lebih cepat dibandingkan hutan dataran tinggi. Bila melihat jenis tanaman, Indonesia juga mempunyai berbagai jenis hutan diantaranya yang mempunyai luasan yang cukup besar, seperti hutan Pinus sp. yang ada di Sumatera Utara, Aceh, sebagian besar areal reboisasi dan sebagian dari areal Perhutani, hutan jati untuk areal Perhutani, hutan sengon untuk hutan-hutan rakyat dan hutan tanaman induastri, dll. Melihat jenis-jenis tanaman yang ada akan dapat ditentukan apakah hutan-hutan tersebut akan mudah terbakar atau tidak. Untuk hutan daun jarum, yang seresahnya sukar untuk membusuk akan menjadi timbunan bahan bakar yang sangat peka terhadap api, dengan demikian kebakaran hutan akan mudah terjadi. Untuk daun lebar pada dasarnya seresah mudah membusuk akan tetapi ada jenis-jenis tertentu yang sangat peka terhadap kebakaran, misalnya jati. Pada musim kemarau jati akan menggugurkan daun, terjadi penggundulan yang mengakibatkan terbukanya areal, dengan demikian sinar matahari dapat langsung mengenai seresah dan ini akan mempercepat pengeringan. Bahan bakar yang kering akan sangat mudah terbakar. Kecuali daun jarum banyak jenis tanaman yang tahan terhadap api dan juga ada yang sangat peka terhadap api. Erison (1985) mendapatkan bahwa jenis-jenis Shorea spp sangat peka terhadap kebakaran hutan. Sedangkan jenis-jenis pohon yang tahan terhadap kebakaran diantaranya adalah : Gluta renghas, Canarium apertum, Durio spp. Hama/serangga Hampir semua bagian pohon termasuk biji yang masih berada pada pohon, dapat terserang oleh serangga. Sesudah perkecambahan bneih, selama berkembang sampai masak tebang, tumbuhan sesuai dengan tingkat perkembangannya, dapat mengalami serangan secara beruntun oleh berbagai jenis serangga. Beberapa jenis serangga terbatas penyerangannya pada tanaman sampai umur-umur tertentu, pada anakan, tingkat tiang, pancang, pohon muda ataupun tua. Bagian-bagian pohon yang terserang termasuk akar, tunas, biji, daun, kambium, kulit, kayu gubal dan kayu teras dan untuk tiap bagian biasanya jenis-jenis serangga tertentu yang dapat menyerangnya. Satu jenis pohon umumnya juga terserang serangga

80

Buku Ajar Silvikultur

tertentu, sedang satu jenis serangga umumnya dapat menyerang lebih dari satu jenis tumbuhan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh serangga bisa bersifat fisologis atau lebih secara mekanis. Kerusakan fisiologis misalnya adalah berkurangnya atau habisnya daundaun, penghisapan sari tanaman atau penerasan yang dapat mengganggu proses-proses fisiologis pohon. Yang menimbulkan kerusakan mekanis antara lain adalah penggerek kayu yang dapat menyebabkan nilai kayu dalam batang turun atau hilang tetapi tidak mengganggu pertumbuhan pohon. Kematian pohon karena serangan serangga dapat menambah bahan yang gampang terbakar di dalam hutan dan dengan demikian membuat hutan menjadi lebih gampang terbakar. Sebaliknya, hutan yang sudah terbakar akan menjadi mangsa yang lebih menarik bagi banyak serangga. Pohon-pohon yang tidak mati menjadi lebih lemah dan lebih menderita bila terserang oleh serangga, serta luka-luka yang terbakar menjadi tempat yang menarik untiuk serangga. Kehidupan bersama antara serangga dan jamur penting untuk diketahui. Terdapat beberapa kemungkinan dalam kehidupan bersama antara jamur dan serangga, yaitu : a. serangga sebagai penyebar jamur yang dapat menyebabkan penyakit pada pohon. b. luka yang dibuat serangga dapat menjadi tempat jamur mulai menyerang pohon hingga menjadi sakit atau kayu terasnya menjaddi lapuk. c. serangga membawa jamur dan secara tidak sengaja menginokulasikannya pada batang pohon, serta kemudian jamur merupakan makanannnya d. pohon yang terserang serangga menjadi lemah dan pohon kemudian menjadi sangat rentan terhadap serangan jenis jamur tertentu yang lemah sekalipun. Di dalam hutan alam terdapat pula jenis-jenis serangga yang menguntungkan, yaitu yang dapat menjadi parasit atau predator serangga yang menjadi hama. Disamping itu terdapat pula jenis-jenis serangga netral, yang tidak merugikan dan tidak pula menguntungkan. Agar kerugian karena serangga dapat ditekan dan agar kelestarian hasil dalam pengusahaan hutan alam dapat tercapai, upaya perlu dilakukan untuk memberikan kondisi agar peledakan populasi serangga yang merugikan dapat ditekan. Menghilangkan sama sekali serangga hama di dalam hutan alam tidaklah mungkin. Tindakan yang dapat dilakukan adalah mengembangkan teknik silvikultur untuk menciptakan kondisi dalan hutan yang tidak memacu peningkatan jumlah serangga hingga mencapai tingkat yang merugikan. Dalam SK Menteri Kehutanan No. 280/Kpts-II/1986 ditegaskan bahwa pohon yang mati oleh daya alam, hama dan penyakit serta faktor lingkungan lainnya, harus segera ditebang dan dikeluarkan dari tegakan hutan, sedang hama dan penyakit yang terdapat di dalamnya harus segera dimusnahkan secara fisik, mekanis dan atau kimiawi. Di persemaian pada areal yang terbatas, bila perlu dapat menggunakan pestisida untuk perlindungan bibit yang diproduksi, tetapi di dalam hutan pemakaian pestisida tidak dianjurkan.

81

Buku Ajar Silvikultur

Penyakit hutan Hutan bagaimana yang dikatakan sakit ? Hutan dikatakan sakit apabila pohon-pohon yang ada di dalamnya mengalami tekanan secara terus-menerus oleh faktor-faktor biotik (hidup) atau oleh faktor-faktor abiotik (fisik atau kimia) lingkungannya sedemikian rupa, sehingga menimbulkan kerugian. Kerugian tersebut dapat dalam bentuk kualitas dan atau dalam bentuk kuantitas produksinya. Tekanan terjadi karena adanya interaksi yang terus-menerus antara pohon dan faktor-faktor tersebut yang dapat berakibat terbentuknya gambaran yang dapat tampak dengan jelas dari luar, yang biasa kita sebut gejala, dan dapat pula tidak jelas karena interaksi berjalan sangat lambat. Seringkali gejala tersebut yang memberi petunjuk kepada kita apakah pohon di dalam hutan sehat, merana atau cacat pada sebagian atau seluruh tubuhnya, sehingga kualitas dan atau kuantitas produksi yang dapat kita pungut menjadi berkurang. Disamping gejala, kadang-kadang dapat kita jumpai tanda penyakit pada pohon, yaitu bagian-bagian tertentu penyebab penyakit seperti jamur yang menempel pada batang pohon atau tepung berwarna putih atau hitam atau hitam yang terbentuk pada permukaan daun. Penyebab Penyakit Pohon menjadi sakit karena akvitas yang terus menerus dari penyebab penyakit pada pohon tersebut, dan tidak hanya dalam waktu singkat ataupun terhenti. Akibat aktivitas penyebab penyakit yang terus menerus itu, sebagian atau seluruh bagian pohon pohon merana, cacat atau bahkan ada pula yang sampai mati. Berbagai macam penyebab penyakit yang dapat menular, yaitu bakteri, jamur, virus, mikoplasma, tanaman tingkat tinggi. Kekhasan penyakit yang menular adalah terjadinya interaksi yang terus menerus itu. Proses interaksi itulah dalam banyak hal yang dapat menyebabkan timbulnya gejala yang dapat kita lihat dari luar. Pohon-pohon dalam hutan umumnya menjadi sakit karena serangan jamur dan tanaman tingkat tinggi. Di persemaian diketahui penyakit pada bibit yang juga disebabkan oleh nematoda. Walaupun relatif jarang terjadi, ada pula jenis-jenis pohon hutan yang sakit disebabkan oleh bakteri, virus atau mikoplasma. Penyebab penyakit yang tidak menular berbagai macam, antara lain karena pH tanah, kurang tersedianya unsur-unsur hara tertentu di dalam tanah, kandungan air dalam tanah, limbah serta bahan-bahan kimia yang keluar dari industri serta dari mesin-mesin pembangkit tenaga, dan sebagainya yang bisa menjadi penyebab polusi. Tanaman menderita penyakit kemungkinan tidak hanya karena satu macam penyebab, tetapi karena beberapa penyebab yang daang secara bersama atau yang datang secara beruntun, yang satu mengikuti yang lain. Pohon yang terbakar pada sebagian pangkal batangnya dapat menderita lebih berat karena serangan jamur yang datang dan berkembang melalui bagian yang luka bakar tersebut. Demikian pua banyak jenis jamur yang dapat mulai menyerang bagian pohon sesudah terserang oleh serangga atau
82

Buku Ajar Silvikultur

nematoda. Seringkali pohon yang telah terserang oleh suatu jenis patogen (penyebab penyakit yang menular) akan menjadi lebih rentan atau lebih tahan terhadap jenis patogen yang lain. Penyebaran Penyebab Penyakit Cara penyebaran penyebab suatu penyakit dari suatu pohon/pertanaman ke pohon/pertanaman yang lain ditentukan pertama oleh identitas penyebabnya, apaka ia menular atau tidak. Bila penyebabnya adalah faktor-faktor fisik atau kimia maka faktorfaktor itu tidak dapat berpindah atau dipindahkan. Kurang tersedianya suatu unsur hara di dalam tanah, pH tanah yang rendah serta terlalu banyak atau terlalu sedikit ketersediaan air di dalam tanah, merupakan beberapa contoh penyebab penyakit yang tidak dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Akibat serangan penyebab yang tidak menular bila terlihat secara menyeluruh atau secara sporadik tersebar seluas lahan faktor penyebab yang bersangkutan. Penyebab penyakit semacam ini tidak menyebar dari satu pohon/tanaman ke pohon/tanaman yang lain. Lain halnya dengan penyebab yang menular. Jasad penyebab penyakit dapat berkembang dan menyebar secara aktif dari satu pohon ke pohon lain melalui tanah, pertautan akar, pertautan daun, atau menyebar secara pasif dari satu pohon ke pohon lain karena terbawa oleh angin atau oleh aliran air pada permukaan tanah, selokan atau sungai. Beberapa jenis patogen dapat terbawa oleh serangga, nematoda atau burung. Daya tahan hidup serta jarak yang dapat ditempuh oleh unit-unit penyebaran beragam dan sangat tergantung pada jenis patogen yang bersangkutan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit Bila penyebab penyakit adalah faktor lingkungan fisik atau kimia maka biasanya penyakit menjadi makin berat dengan pertambahan waktu, sedangkan kecepatan perkembangan tersebut beragam menurut jenis pohon, jenis faktor penyebab penyakit serta seberapa jauh penyimpangan kondisi faktor penyebab tersebut dan kondisi yang cukup baik untuk perkembangan pohon yang bersangkutan. Makin besar penyimpangan jenis pohon tetentu, makin cepatlah dan makin beratlah penyakit yang ditimbulkannya. Tiap jenis pohon memerlukan syarat mengenai faktor-faktor fisik dan atau kimia tertentu untuk pertumbuhannya yang optimal, dan oleh karen itu suatu kondisi lingkungan fisik dan atau kimia tertentu mungkin sekali cukup baik untuk pertumbuhan jenis pohon yang satu tetapi tidak baik untuk pertumbuhan jenis pohon yang lain. Demikian pula pada suatu kondisi lingkungan fisik dan atau kimia tertentu, suatu jenis pohon yang semula pada umur-umur tertentu tidak menunjang gejala suatu penyakit, pada umur-umur lebih lanjut dapat menjadi sakit. Bagi penyakit yang disebabkan oleh faktor yang dapat menular, berhasil atau tidaknya suatu macam penyakit dapat berkembang pada suatu pohon atau pertanaman tergantung pada tiga faktor yaitu sifat genetik pohon, keganasan (virulens) patogen dan keadaan lingkungan
83

Buku Ajar Silvikultur

a. Sifat Genetik Pohon Dalam populasi tiap jenis terdapat ketahanan pohon terhadap suatu jenis patogen. Beberapa individu, galur atau tanaman yanmg berasal dari tempat tumbuh tertentu mungkin lebih tahan terhadap suatu jenis patogen, dibandingkan dengan individu, galur atau yang berasal dari tempat tumbuh yang lain. Ketahanan ini dapat terjadi karena kemampuan pohon untuk membentuk struktur-struktur tertentu yang tidak

menguntungkan perkembangan patogen pada pohon tersebut, seperti kurangnya jumlah stomata per satuan luas daun, pembentukan lapisan kutikula yang tebal, pembentukan jaringan dengan sel-sel yang berdinding gabus tebal segera setelah patogen memasuki jaringan tanaman atau produksi bahan-bahan toksik di dalam jaringan yang cukup banyak sebelum atau sesuadah patogen memasuki jaringan tanaman, sehingga patogen mati sebelum dapat berkembang lebih lanjut dan gagal menyebabkan penyakit pada pohon. Ketahanan suatu jenis pohon terhadap serangan suatu jenis patogen tidak selalu sama pada semua umur. Contoh yang khas adalah penyakit lodoh yang disebabkan oleh Phytium spp, Phytopthora spp, Fusarium spp dan Rhizoctonia spp yang hanya terjadi pada kecambah. Suatu macam penyakit kadang-kadang memerlukan waktu yang cukup lama untuk berkembang sebelum dapat meninggalkan gejala yang dapat terlihat dari luar. Pertanaman suatu jenis pohon yang semua tampak sehat sampai pada umur tertentu, akhirnya sakit juga sesudah lebih tua. b. Keganasan Patogen Kriteria berat atau ringannya serangan penyakit yang disebabkan oleh faktorfaktor lingkungan fisik dan atau kimia biasanya ditentukan berdasarkan luas areal pertanaman yang sakit. Berat serangan penyakit yang disebabkan oleh suatu faktor lingkungan fisik dan atau kimia tertentu, biasanya kurang beragam dari satu pohon ke pohon lain dalam pertanaman yang sama dan dari suatu pertanaman ke pertanaman yang lain. Suatu macam faktor penyebab penyakit lingkungan fisik dan atau kimia tidak beragam kemampuannya untuk menimbulkan penyakit. Yang mungkin beragam adalah gejala yang ditimbulkannya dari suatu jenis pohon ke pohon yang lain. Tidak demikian halnya dengan penyakit yang disebabkan oleh patogen seperti jamur, bakteri, virus, mikoplasma, nematoda dan sebagainya. Tiap jenis patogen dapat beragam sifat-sifat fisiologisnya termasuk kemampuannya dalam menyebabkan penyakit pada suatu jenis pohon. Tiap jenis patogen memiliki ciri-ciri khas dalam bentuk serta cara perkembangbiakannya, sedang tiap jenis patogen dapat beragam dalam sifat fisiologisnya termasuk kemampuannya untuk menimbulkan penyakit pada suatu jenis pohon. Berbagai galur atau asal (isolat) suatu jenis patogen dapat beragam keganasannya (virulensinya) tergantung pada gen yang terkandung di dalam inti atau bahan yang bertindak sebagai inti. Mengingat susunan gen karena berbagai proses dapat berubah, maka demikian pula virulensi suatu heterokariosis dan paraseksualisme. Pada bakteri dikenal pula adanya

84

Buku Ajar Silvikultur

konjugasi, tranfusi dan transduksi. Disamping itu perubahan keganasan virulensi dapat terjadi karena nutrisi dan adaptasi sitoplasmik. Itulah sebabnya mengapa suatu jenis patogen yang sama dan yang memiliki bentuk serta cara perkembangbiakan yang sama, tetapi berasal dari berbagai daerah atau dari berbagai jenis pohon, dapat berlainan keganasannya. c. Keadaan Lingkungan Faktor lingkungan dapat dipisahkan antara yang biotik dan abiotik. Untuk yang biotik adalah jasad-jasad renik yang ada di sekitar patogen. Pengaruh faktor lingkungan biotik yang jelas adalah pada patogen yang bertahan hidup dan berkembang di dalam tanah, yang biasa menyerang akar. Jasad yang berkembang di sekitar patogen adalah yang secara langsung berpengaruh terhadap daya tahah hidup patogen dengan bertindak sebagai parasit, vektor, saingan dalam memperoleh makanan, atau dengan melalui antibiosis. Unsur-unsur biotik yang lain dapat berpengaruh secara tidak langsung terhadap patogen. Hal ini karena adanya interaksi antara jasad renik di sekitar patogen. Interaksi dapat mengakibatkan berkembangnya atau turunnya populasi jasad renik yang menguntungkan atau merugikan patogen. Dengan demikian maka unsur-unsur biotik lingkungan dapat berpengaruh secara lansung atau tidak langsung terhadap

perkembangan penyakit pohon. Kelompok faktor lingkungan yang lain adalah unsur-unsur abiotik, seperti suhu, kadar air tanah, kelembaban udara, pH tanah dan bahan-bahan kimia di dalam tanah. Faktor lingkungan abiotik berpengaruh baik terhadap pohon maupun terhadap patogen yang bersangkutan dan dengan demikian terhadap interaksi antara keduanya. Suatu faktor abiotik tetentu dapat menyebabkan pohon mengalami tekanan hingga penyakit yang ditimbulkan oleh patogen menjadi lebih berat dibanding bila pohon terserang hanya oleh patogen. Dengan demikian, faktor lingkungan fisik dan atau kimia dapat berkerja sendiri dan menyebabkan pohon menjadi sakit tanpa adanya serangan suatu patogen, dan dapat pula mempengaruhi perkembangan penyakit yang ditimbulkan oleh patogen. Upaya silvikultur dalam perlindungan hutan terhadap penyakit Kegiatan-kegiatan dalam pembangunan dan pengelolaan hutan sangat

menentukan bagaimana struktur hutan yang dihasilkan, antara lain melalui penyediaan benih, pemilihan jenis dan asalnya, pembangunan persemaian, jumlah jenis yang ditanam di suatu unit pertanaman, jarak tanam, pemeliharaan, waktu dan kekerasan penjarangan, serta penentuan daur. Keragaman dalam cara pembangunan dan pengelolaan hutan ini dapat menentukan berapa besar beda antara bentuk hutan tanaman dan hutan alam. Besar perbedaan ini pula yang menentukan bagaimana pemyimpangan kondisi HTI dari keseimbangan yang terdapat dalam hutan alam, khususnya dalam kaitannya dengan kemungkinan timbul serta perkembangan hama dan penyakit. Berikut merupakan usaha ataupun tindakan silvikultur yang dapat dilakukan dalam usaha pencegahan dan penanggulangan berkembangnya penyakit hutan :
85

Buku Ajar Silvikultur

1. Penyediaan Benih Satu di antara berbagai sebab hilangnya viabilitas benih adalah serangan jamur. Jamur perusak benih pada umumnya tumbuh dan berkembang baik pada suhu kamar. Penyimpanan benih cukup lama pada suhu kamar memungkinkan jamur perusak benih seperti Aspergillus sp., Penicillium sp. untuk tumbuh dan berkembang dengan cepat. Oleh karena itu perawatan, penyimpanan, pengepakan serta pengiriman benih dari tempat pengumpulan sampai ke tempat penanaman perlu memperoleh perhatian khusus untuk tiap jenis pohon, dalam upaya kita adgar daya berkecambah benih tidak cepat hilang karena serangan jamur. Pengangkutan stek atau bibit untuk jenis-jenis yang harus didatangkan dari lain tempat kurang menguntungkan mengingat kemungkinan terbawanya inokulum bersama bahan tanaman tersebut. Beberapa jenis inokulum patogen dapat terbawa oleh stek atau bibit tanaman tanpa kelihatan jelas menunjukkan gejala penyakit. Oleh karena itu benih yang didatangkan dari tempat/pulau lain hendaknya diberi perlakuan (pembunuhan jasad yang mungkin terdapat pada permukaan benih, pencampuran dengan fungisida) sedemikian rupa, hingga tidak rusak dalam penyimpanan, pengepakan dan pengangkutan. Untuk penyediaan benih jenis-jenis lokal seyogyanya mulai dicari pohon-pohon dalam hutan yang terlihat baik pertumbuhannnya, sehat serta memiliki sifat-sifat lain yang diinginkan. Disamping itu perlu pula dimulai dibangun kebun-kebun benih yang diperlukan untuk produksi benih di kemudian hari. 2. Pemilihan jenis dan asalnya Untuk penanaman pada suatu kawasan hutan, disamping kita perlu mencari jenisjenis pohon yang diperkirakan dapat tumbuh baik sesuai dengan kondisi tempat tumbuh, juga perlu kita cari jenis yang selama pertumbuhannya, yaitu sejak benih atau bibit ditanam sampai saat hutan tanaman ditebang, tidak terganggu oleh hama dan penyakit. Jenis-jenis tersebut dapat dipilih yang mempunyai daerah penyebaran alami setempat dan/atau yang berasal dari tempat lain di dalam atau dari negeri lain. Pada umumnya yang berasal dari tempat lain dipilih jenis yang tumbuh secara alami di tempat tumbuh yang memiliki kondisi lingkungan fisik yang lebih kurang sama dengan kondisi lingkungan fisik hutan yang akan dibangun. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pertumbuhan serta ketahanannya terhadap berbagai gangguan hama dan penyakit, dapat dipilih jenis pohon yang paling sesuai untuk produksi kayu pertukangan, serat atau energi bagi tiap tempat tumbuh.

3. Pembangunan Persemaian. Untuk memproduksi bibit yang akan ditanam di lapangan kita perlu membuat persemaian. Di dalam areal yang terbatas ini terkumpul sejumlah besar bibit beberapa jenis seumur, sedang dalam pengelolaam hutan alam keadaan semacam itu tidak kita jumpai. Dalam hutan alam anakan dari berbagai umur tercampur dengan berbagai jenis pohon yang lain.

86

Buku Ajar Silvikultur

Keadaan lingkungan fisik dalam persemaian biasanya berbeda dengan keadaan dalam hutan alam, hal ini dimungkinkan karena pengaruh perlindungan terhadap sinar matahari, penambahan bahan ke dalam dan pada permukaan tanah, atau karena terbentuknya iklim mikro, penyiraman dan sebagainya. Kadang-kadang dilakukan pula pemupukan, atau untuk jenis-jenis tertentu, pemberian mikroorganisme ke dalam tubuh tanah. Pengelolaan persemian biasanya dilakukan secara intensif. Hanya saja berbagai kegiatan itu bila tidak dilakukan secara tepat dapat mengakibatkan terciptanya lingkungan yang baik pula untuk timbul dan berkembangnya penyakit. 4. Pembuatan Hutan Tanama Sejenis dan Seumur pada Lahan yang Luas Dalam hutan tanaman, patogen memperoleh kesempatan untuk dapat menyerang jenis-jenis pohon pada umur-umur tetentu. Contoh yang perneh dilaporkan adalah penyakit busuk akar pada Acacia mangium pada pertanaman di Sesayap dan powder mildew di persemaian di beberapa tempat di Kalimantan Timur. Pertanaman sejenis dan seumur yang meliputi areal yang luas memungkinkan patogen dan juga hama untuk berkembang serta menyebar tanpa rintangan jenis-jenis pohon yang lain. Oleh karena itu pertanaman campuran antar berbagai jenis pohon perlu dicoba dan diharapkan berkembangnya penyakit secara luas dapat ditekan. 5. Penggunaan Pestisida Di persemaian, pestisida memang biasa dipakai bila cara-cara lain tidak mungkin lagi diharapkan untuk pengendalian hama dan penyakit. Penggunaan pestisida di persemaian pada umumnya secara ekonomis masih dapat dipertanggungjawabkan. Di beberapa negara maju pestisida kadang-kadang juga dipakai untuk penanggulangan hama dan penyakit yang menyerang hutan. Di Selandia Baru misalnya fungisida disemprotkan dari udara dengan menggunakan pesawat terbang untuk menanggulangi Dohistima pini yang meyerang tajuk Pinus radiata. Latar belakang penyebab gangguan hutan Latar belakang terjadinya gangguan pada hutan dapat dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu : 1. Kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat a. tingkat pendapatan yang rendah b. tingkat pengetahuan yang rendah c. adat-istiadat/kebiasaan dalam cara bertani dan kegiatan lain d. sulitnya lapangan pekerjaan e. ingin memperoleh keuntungan dengan cara yang mudah f. kepadatan penduduk yang tinggi 2. Kondisi/tingkat pengelolaan hutan a. perencanaan perlindungan hutan yang tidak dilakukan sejak awal b. kegiatan perlindungan hutan yang hanya menekankan pada satu atau beberapa faktor c. tidak adanya atau lemahnya organisasi perlindungan hutan d. personil, sarana dan prasarana perlindungan hutan yang tidak memadai

87

Buku Ajar Silvikultur

e. tidak atau kurang dipahaminya kaitan-kaitan pengelolaan hutan lainnya dengan perlindungan hutan 3. Kondisi lingkungan hutan a. letak tegakan hutan yang terpencar-pencar b. tingkat aksesibilitas hutan yang rendah c. kondisi bio-fisik hutan yang menguntungkan bagi perkembangan organisme pengganggu d. kondisi tempat tumbuh yang tidak sesuai dengan persyaratan tumbuh jenis pohon yang diusahakan e. keadaan cuaca yang ekstrim Ketiga kelompok latar belakang terjadinya gangguan tersebut adalah saling berkait dan dapat digambarkan sebagai berikut : Pengelolaan Hutan

Gangguan

Kondisi Lingkungan Hutan Masyarakat

Kondisi Sosekbud

Gambar 7. Latar Belakang Terjadinya Gangguan Hutan

4.3. Dampak dari gangguan hutan Terjadinya gangguan hutan dapat menimbulkan dampak ekonomis, ekologis dan sosial. Dampak ekonomis akan berupa penurunan tingkat rentabilitas perusahaan, dampak ekologis berkaitan antara lain dengan masalah hidrologis, erosi dan cuaca, sedangkan dampak sosial antara lain berkaitan dengan masalah estetika dan lapangan kerja Di samping dampak-dampak tersebut di atas, perlu pula dipahami tentang adanya hubungan sebab-akibat di antara faktor pengganggu hutan. Sebagai contoh terjadinya kebakaran hutan dapat menimbulkan terjadinya hama, dan sebaliknya adanya serangan hama secara tidak langsung dapat merangsang terjadinya kebakaran hutan. Secara singkat hubungan sebab akibat tersebut diperlihatkan pada Gambar 8 berikut : Hama Penyakit

Kebakaran

Penggembalaan Liar

88

Buku Ajar Silvikultur

Pencurian

Perladangan

Gambar 8. Hubungan Sebab-Akibat Gangguan Hutan

4.4. Strategi perlindungan hutan Strategi perlindungan hutan harus didasarkan pada ketiga faktor yang melatarbelakangi terjadinya gangguan hutan. Secara singkat kegiatan-kegiatannya dapat dilakukan pada Gambar 9 berikut.

Penggolongan Hutan

Kondisi Lingkungan Hutan

Kondisi Sosekbud Masyarakat

P e n g e n d a l i a n

Gambar 9. Strategi Perlindungan Hutan Perlindungan hutan mencakup kegiatan pencegahan dan pemberantasan. Dalam rangka pengelolaan hutan, kegiatan pencegahan merupakan prinsip yang penting dan harus dipegang teguh. Pelaksanaan pencegahan ini harus dilakukan secara menyeluruh. Pencegahan dilakukan tidak hanya terhadap satu atau beberapa faktor pengganggu, tetapi secara simultan terhadap semua faktor pengganggu. Dalam kegiatan perlindungan hutan sering dijumpai bahwa tindakan pencegahan dan pemberantasan yang dianjurkan untuk suatu faktor pengganggu lain. Dalam hal ini perlu dicari jalan tengah yang paling baik. Perlindungan hutan di areal pengusahaan hutan dapat dilaksanakan melalui pendekatan yuridis, pendekatan sosial ekonomi dan pendekatan teknis. Persiapanpersiapan yang perlu dilakukan antara lain pembentukan organisasi perlindungan hutan pada tingkat unit pengusahaan hutan, pengadaan personil, latihan personil, pengadaan sarana dan prasarana perlindungan hutan, pembuatan peraturan-peraturan dan petunjuk kerja pelaksanaan perlindungan hutan.

Ringkasan Bab IV Berdasarkan Undang-Undang Pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967 Pasal 15 Bab V dan UU No. 41 Tahun 1999 pasal 46 dan pasal 47 yang memuat tentang perlindungan

89

Buku Ajar Silvikultur

hutan, dijelaskan bahwa penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam bertujuan menjaga hutan, kawasan hutan dan lingkungannya, agar fungsi lindung, fungsi konservasi dan fungsi produksi terjadi secara optimal dan lestari. Dari pasal tersebut dijelaskan usaha-usaha yang dilakukan dalam perlindungan hutan. Adapun usaha-usaha tersebut yaitu mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama dan penyakit ; dan mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, invesasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan. Bentuk-bentuk gangguan terhadap hutan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu bentuk gangguan karena perbuatan manusia/gangguan fisik, bentuk ganggguan karena faktor biologis, dan bentuk gangguan karena daya alam. Bentuk-bentuk gangguan yang umumnya terjadi adalah berupa penggembalaan ternak, kebakaran hutan, hama dan penyakit tanaman. Terjadinya gangguan hutan dapat menimbulkan dampak ekonomis, ekologis dan sosial. Dampak ekonomis akan berupa penurunan tingkat rentabilitas perusahaan, dampak ekologis berkaitan antara lain dengan masalah hidrologis, erosi dan cuaca, sedangkan dampak sosial antara lain berkaitan dengan masalah estetika dan lapangan kerja Perlindungan hutan mencakup kegiatan pencegahan dan pemberantasan. Dalam rangka pengelolaan hutan, kegiatan pencegahan merupakan prinsip yang penting dan harus dipegang teguh. Pelaksanaan pencegahan ini harus dilakukan secara menyeluruh. Pencegahan dilakukan tidak hanya terhadap satu atau beberapa faktor pengganggu, tetapi secara simultan terhadap semua faktor pengganggu. Perlindungan hutan di areal pengusahaan hutan dapat dilaksanakan melalui pendekatan yuridis, pendekatan sosial ekonomi dan pendekatan teknis. Persiapanpersiapan yang perlu dilakukan antara lain pembentukan organisasi perlindungan hutan pada tingkat unit pengusahaan hutan, pengadaan personil, latihan personil, pengadaan sarana dan prasarana perlindungan hutan, pembuatan peraturan-peraturan dan petunjuk kerja pelaksanaan perlindungan hutan.

90

Buku Ajar Silvikultur

Latihan 1. Jelaskan konsep perlindungan hutan menurut undang-undang yang berlaku ! 2. Jelaskan bentuk-bentuk ganguan hutan ! 3. Jelaskan dampak positif dan dampak negatif dari adanya penggembalaan ternak

dalam kawasan hutan ! 4. Jelaskan tindakan yang dapat dilakukan untuk menatasi penggembalaan ternak ! 5. Jelaskan bentuk/tipe kebakaran hutan ! 6. Jelaskan konsep keterkaitan antara hama/serangga dengan penyakit/jamur dalam menimbulkan gangguan terhadap hutan ! 7. Jelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit hutan ! 8. Jelaskan upaya-upaya silvikultur dalam perlindungan hutan terhadap penyakit ! 9. Jelaskan konsep hubungan sebab-akibat dari faktor penyebab gangguan hutan ! 10. Jelaskan konsep dari tiga faktor dalam strategi perlindungan hutan !

Test Formatif Hanya ada satu jawaban benar : 1. Berkaitan dengan kegiatan penggembalaan ternak dalam kawasan hutan, tindakan ini menimbulkan dampak negatif berupa : a. meningkatnya aliran permukaan c. meningkatnya jumlah tumbuhan bawah b. meningkatnya jumlah seresah d. meningkatnya jenis gulma 2. Peraturan yang mengatur tentang penggembalaan ternak dalam kawasan hutan : a. Peraturan Pemerintah No.28 Tahun 1985 b. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.76/Kpts/UKKU/1969 c. UU No. 5 tahun 1967 Pasal 23 d. UU No. 41 tahun 1999 pasal 33 3. Penyebab terjadinya kebakaran hutan sebagian besar disebabkan faktor : a. daya alam c. manusia b. mekanis d. hama/penyakit 4. Berdasarkan bentuk penjalaran api dalam kebakaran hutan, pada kebakaran permukaan, bentuknya adalah : a. bulat c. lonjong b. elips d. tidak beraturan 5. Berdasarkan bentuk penjalaran api dalam kebakaran hutan, pada kebakaran bawah , bentuknya adalah : a. bulat c. lonjong b. elips d. tidak beraturan 6. Jenis tanaman hutan yang peka terhadap resiko kebakaran hutan adalah dari jenis : a. daun lebar c. toleran b. konifer d. intoleran 7. Penyebab penyakit pada tanaman yang tidak menular diakibatkan oleh : a. kekurangan mineral tertentu c. hama/penyakit b. nematoda d. virus 8. Istilah yang menunjukkan pengertian keganasan penyakit disebut : a. viabilitas c. isolat b. virulensi d. symptom

91

Buku Ajar Silvikultur

9. Hama/penyakit lebih cepat berkembang pada kondisi tegakan : a. sejenis c. rapat b. campuran d. jarang/renggang 10. Berdasarkan hubungan sebab-akibat penyebab gangguan hutan, berikut ini yang tidak mempunyai keterkaitan adalah : a. hama - pencurian c. kebakaran - perladangan b. hama - penyakit d. perladangan - penyakit

Umpan Balik Daya serap materi kuliah dapat diketahui oleh mahasiswa dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Daya serap = Jumlah jawaban benar ------------------------------ x 100% Jumlah total soal

Tindak Lanjut Bagi mahasiswa yang mempunyai nilai daya serap di bawah 70% diharapkan untuk mengulangi sub bab atau materi bab ini, sedangkan yang mempunyai nilai daya serap 70% atau lebih dapat melanjutkan membaca bab berikutnya dengan seksama sambil memperluas cakrawala cakupan materi dan memperkaya wawasan dengan menambah bahan pustaka dan informasi dari sumber-sumber lain untuk melengkapi materi dan pustaka yang ada.

Kunci Jawaban Test Formatif 1. a 2. a 3. c 4. c 5. a 6. b 7. a 8. b 9. a 10. d

92

Buku Ajar Silvikultur

93

Buku Ajar Silvikultur

94