You are on page 1of 34

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I.

Pengertian Wiknjosastro, 2006; Hecker, 2001; Kasdu, 2003 menyatakan bahwa seksio caesaria atas indikasi cefalopelvik disproporsi adalah persalinan atau lahirnya janin dan plasenta melalui sayatan dinding abdomen dan uterus, karena disebabkan antara ukuran kepala dan panggul atau ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami. II. Jenis jenis operasi sectio caesarea 1. Abdomen (sectio caesarea abdominalis) a. Sectio caesarea transperitonealis SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : Mengeluarkan janin dengan cepat Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan

SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum Perdarahan tidak begitu banyak Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi b. SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal 2. Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion )

III. Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) Fetal distress His lemah / melemah Janin dalam posisi sungsang atau melintang Bayi besar ( BBL 4,2 kg ) Plasenta previa Kalainan letak Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) Rupture uteri mengancam Hydrocephalus Primi muda atau tua Partus dengan komplikasi Panggul sempit Problema plasenta

IV. Mekanisme Persalinan Seksio Caesaria dengan CPD

Menurut Winknjosastro (2006) ada beberapa mekanisme persalinan yang berkaitan dengan posisi panggul yaitu : a. Kesempitan pada pintu panggul atas : apabila konjugata vera kurang dari 10 cm, atau diameter trasversa kurang dari 12 cm. Panggul sempit mungkin menyebabkan kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini mengakibatkan inersia uteri serta lamanya pendataran dan pembukaan serviks. b. Kesempitan panggul tengah : apabila ukuran panggul kurang dari 9,5 cm, perlu kita waspadai terhadap kemungkinan kesulitan pada persalinan, biasanya pada posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap. c. Kesempitan pintu bawah panggul : pintu bawah panggul bukan merupakan bagian yang datar, tetapi terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama, yakni distansia tuberum. Apabila ukuran yang terakhir ini lebih kecil dari pada biasa, maka sudut arkus pubis mengecil (<> V. Dampak Persalinan Cefalopelvik Disproporsi Wiknjosastro (2006) Apabila persalinan dengan disproporsi

sefalopelvik dibiarkan berlangsung sendiri tanpa ada tindakan yang tepat, dapat timbul bahaya bagi ibu dan janin. a. Bahaya bagi ibu dapat menyebabkan partus lama yang sering kali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil sehingga menimbulkan dehidrasi, asidosis dan infeksi intrapartum, rupture uteri, persalinan tidak maju dan mengalami tekanan lebih lama dapat menimbulkan gangguan sirkulasi akibatnya terjadi iskemia dan nekrosis.

b. Janin dapat menyebabkan partus lama dapat meningkatkan kematian, moulase kepala janin, terjadi robekan tentorium dan perdarahan intrakranial. VI. Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : 1. Infeksi puerperal ( Nifas ) Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik

2. Perdarahan Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka Perdarahan pada plasenta bed

3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi 4. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya VII. POST PARTUM A. DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)

B. PERIODE Masa nifas dibagi dalam 3 periode: 1. Early post partum Dalam 24 jam pertama. 2. Immediate post partum Minggu pertama post partum. 3. Late post partum Minggu kedua sampai dengan minggu keenam.

C. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN 1. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. 2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,

mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. 3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. 4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

D. TANDA DAN GEJALA 1. Perubahan Fisik a. Sistem Reproduksi Uterus Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil.

No 1.

Waktu Segera setelah lahir

TFU Pertengahan simpisis dan umbilikus Umbilikus

Konsistensi

After pain Terjadi

Kontraksi

2.

1 jam setelah lahir

Lembut

3.

12 jam setelah lahir

1 cm di atas pusat

4.

setelah 2 hari

Turun 1 cm/hari

Berkurang

Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. Lochea Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe. Tahap a. Rubra (merah) : 1-3 hari. b. Serosa (pink kecoklatan) c. Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal.

Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah.

Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi.

Perineum Episiotomi Penyembuhan dalam 2 minggu. Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot

TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal b. Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. c. Sistem Endokrin Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum.

d. Sistem Kardiovaskuler Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 500 cc, sesaria : 600 800 cc. Perubahan hematologik Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat. Jantung Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu. e. Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. f. Sistem Gastrointestinal Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. Nafsu makan kembali normal. Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.

g. Sistem Urinaria Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam. Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.

h. Sistem Muskuloskeletal Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum. i. Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang.

j. Sistem Imun Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.

VIII. CPD/PANGGUL SEMPIT Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : 1. Kesempitan pintu atas panggul 2. kesempitan bidang bawah panggul 3. kesempitan pintu bawah panggul 4. kombinasi kesempitan pintu atas pangul, bidang tengah dan pintu bawah panggul. Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul dianggap sempit kalau conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang 9 cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm, maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10cm dapat menimbulkan kesulitan. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : 1. Kelainan karena gangguan pertumbuhan a. Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil b. Panggul picak melintang biasa c. Panggul sempit picak muka belakang d. Panggul corong sempit :pintu atas panggul biasa,pintu bawah panggul : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran : ukuran muka belakang sempit, ukuran

e. Panggul belah

: symphyse terbuka

2. kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya a. Panggul rachitis : panggul picak, panggul sempit, seluruha

panggul sempit picak dan lain-lain b. Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang

c. Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring 3. kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang a. kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong b. sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring 4. kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah coxitis, luxatio, atrofia. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. Disamping itu mungkin pula ada exostase atau fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul. Pengaruh panggul sempit pada kehamilan dan persalinan Panggul sempit mempunyai pengaruh yang besar pada kehamilan maupun persalinan. 1.Pengaruh pada kehamilan Dapat menimbulkan retrafexio uteri gravida incarcerata Karena kepala tidak dapat turun maka terutama pada primi gravida fundus atau gangguan peredaran darah Kadang-kadang fundus menonjol ke depan hingga perut menggantung Perut yang menggantung pada seorang primi gravida merupakan tanda panggul sempit Kepala tidak turun kedalam panggul pada bulan terakhir Dapat menimbulkan letak muka, letak sungsang dan letak lintang. Biasanya anak seorang ibu dengan panggul sempit lebih kecil dari pada ukuran bayi pukul rata. 2.Pengaruh pada persalinan Persalinan lebih lama dari biasa.

a. Karena gangguan pembukaan b. Karena banyak waktu dipergunakan untuk moulage kepala anak Kelainan pembukaan disebabkan karena ketuban pecah sebelum waktunya, karena bagian depan kurang menutup pintu atas panggul selanjutnya setelah ketuban pecah kepala tidak dapat menekan cervix karena tertahan pada pintu atas panggul Pada panggul sempit sering terjadi kelainan presentasi atau posisi misalnya : a. Pada panggul picak sering terjadi letak defleksi supaya diameter bitemporalis yang lebih kecil dari diameter biparietalis dapat melalui conjugata vera yang sempit itu. Asynclitismus sering juga terjadi, yang diterapkan dengan knopfloch mechanismus (mekanisme lobang kancing) b. Pada oang sempit kepala anak mengadakan hyperflexi supaya ukuran-ukuran kepala belakang yang melalui jalan lahir sekecilkecilnya c. Pada panggul sempit melintang sutura sagitalis dalam jurusan muka belang (positio occypitalis directa) pada pintu atas panggul. Dapat terjadi ruptura uteri kalau his menjadi terlalu kuat dalam usaha mengatasi rintangan yang ditimbulkan oleh panggul sempit Sebaiknya jika otot rahim menjadi lelah karena rintangan oleh panggul sempit dapat terjadi infeksi intra partum. Infeksi ini tidak saja membahayakan ibu tapi juga dapat menyebabkan kematian anak didalam rahim. Kadang-kadang karena infeksi dapat terjadi tympania uteri atau physometra. Terjadi fistel : tekanan yang lama pada jaringan dapat menimbulkan ischaemia yang menyebabkan nekrosa. Nekrosa menimbulkan fistula vesicovaginalis atau fistula recto vaginalis. Fistula vesicovaginalis lebih sering terjadi karena kandung kencing tertekan antara kepala anak dan symphyse

sedangkan rectum jarang tertekan dengan hebat keran adanya rongga sacrum. Ruptur symphyse dapat terjadi , malahan kadang kadang ruptur dari articulatio scroilliaca. Kalau terjadi symphysiolysis maka pasien mengeluh tentang nyeri didaerah symphyse dan tidak dapat mengangkat tungkainya. Parase kaki dapat menjelma karena tekanan dari kepala pada uraturat saraf didalam rongga panggul , yang paling sering adalah kelumpuhan N. Peroneus. 3.Pengaruh pada anak - Patus lama misalnya: yang lebih dari 20 jam atau kala II yang lebih dari 3 jam sangat menambah kematian perinatal apalagi kalau ketuban pecah sebelum waktunya. - Prolapsus foeniculli dapat menimbulkan kematian pada anak - Moulage yang kuat dapat menimbulkan perdarahan otak. Terutama kalau diameter biparietalis berkurang lebih dari cm. selain itu mungkin pada tengkorak terdapat tanda-tanda tekanan. Terutama pada bagian yang melalui promontorium (os parietal) malahan dapat terjadi fraktur impresi. Persangkaan Panggul sempit Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau : 1. Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36 2. Pada primipara ada perut menggantung 3. pada multipara persalinan yang dulu dulu sulit 4. kelainan letak pada hamil tua 5. kelainan bentuk badan (Cebol, scoliose,pincang dan lain-lain) 6. osborn positip Prognosa Prognosa persalinan dengan panggul sempit tergantung pada berbagai faktor Bentuk panggul Ukuran panggul, jadi derajat kesempitan

Kemungkinan pergerakan dalam sendi-sendi panggul Besarnya kepala dan kesanggupan moulage kepala Presentasi dan posisi kepala His Diantara faktor faktor tersebut diatas yang dapat diukur secara pasti

dan sebelum persalinan berlangsung hanya ukuran-ukuran panggul : karena itu ukuran ukuran tersebut sering menjadi dasar untuk meramalkan jalannya persalinan. Menurut pengalaman tidak ada anak yang cukup bulan yang dapat lahir dengan selamat per vaginam kalau CV kurang dari 8 cm. Sebaliknya kalau CV 8 cm atau lebih persalinan pervaginam dapat diharapkan berlangsung selamat. Karena itu kalau CV < 8 cm dilakukan SC primer ( panggul demikuan disebut panggul sempit absolut ) Sebaliknya pada CV antara 8,5-10 cm hasil persalinan tergantung pada banyak faktor : 1. Riwayat persalinan yang lampau 2. besarnya presentasi dan posisi anak 3. pecahnya ketuban sebelum waktunya memburuknya prognosa 4. his 5. lancarnya pembukaan 6. infeksi intra partum 7. bentuk panggul dan derajat kesempitan karena banyak faktor yang mempengaruhi hasil persalinan pada panggul dengan CV antara 8 - 10cm (sering disebut panggul sempit relatip) maka pada panggul sedemikian dilakukan persalinan percobaan. Persalinan percobaan Yang disebut persalinan percobaan adalah untuk persalinan per vaginam pada wanita wanita dengan panggul yang relatip sempit. Persalinan percobaan dilakukan hanya pada letak belakang kepala, jadi

tidak dilakukan pada letak sungsang, letak dahi, letak muka atau kelainan letak lainnya. Persalinan percobaan dimulai pada permulaan persalinan dan berakhir setelah kita mendapatkan keyakinan bahwa persalinan tidak dapat berlangsung per vaginam atau setelah anak lahir per vaginam. Persalinan percobaan dikatakan berhasil kalau anak lahir

pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forcepe atau vacum) dan anak serta ibu dalam keadaan baik. Kita menghentikan presalianan percobaan kalau: 1. Pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuaannya Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik Kalau ada lingkaran retraksi yang patologis 2. Setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban,kepala dalam 2 jam tidak mau masuk ke dalam rongga panggul walaupun his cukup kuat Forcepe gagal Dalam keadaan-keadaan tersebut diatas dilakukan SC. Kalau SC dilakukan atas indikasi tersebut dalam golongan 2 (dua) maka pada persalinan berikutnya tidak ada gunanya dilakukan persalinan percobaan lagi Dalam istilah inggris ada 2 macam persalinan percobaan : 1. Trial of labor : serupa dengan persalinan percobaan yang diterngkan diatas 2. test of labor : sebetulnya merupakan fase terakhir dari trial of labor karena test of labor mulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam sesudahnya. Kalau dalam 2 jam setelah pembukaan lengkap kepala janin tidak turun sampai H III maka test of labor dikatakan berhasil. Sekarang test of labor jarang dilakukan lagi karena: 1. Seringkali pembukaan tidak menjadi lengkap pada persalinan dengan panggul sempit

2. kematian anak terlalu tinggo dengan percobaan tersebut kesempitan bidang tengah panggul bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah symphysis dan spinae ossis ischii dan memotong sacrum kira-kira pada pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5

Ukuran yang terpenting dari bidang ini adalah : 1. Diameter transversa ( diameter antar spina ) 10 cm

2. diameter anteroposterior dari pinggir bawah symphyse ke pertemuan ruas sacral ke 4 dan ke 5 11 cm

3. diameter sagitalis posterior dari pertengahan garis antar spina ke pertemuan sacral 4 dan 5 dikatakan bahwa bidang tengah panggul itu sempit : 1. Jumlah diameter transversa dan diameter sagitalis posterior 13,5 atau kurang ( normal 10,5 cm + 5 cm = 15,5 cm) 2. diameter antara spina < 9 cm ukuran ukuran bidang tengah panggul tidak dapat diperoleh secara klinis, harus diukur secara rontgenelogis, tetapi kita dapat menduga kesempitan bidang tengah panggul kalau : Spinae ischiadicae sangat menonjol Kalau diameter antar tuber ischii 8 cm atau kurang 5 cm

Prognosa Kesempitan bidang tengah panggul dapat menimbulkan gangguan

putaran paksi.kalau diameter antar spinae 9 cm atau kurang kadangkadang diperlukan SC. Terapi Kalau persalinan terhenti karena kesempitan bidang tengah panggul maka baiknya dipergunakan ekstraktor vacum, karena ekstraksi dengan forceps memperkecil ruangan jalan lahir.

Kesempitan pintu bawah panggul: Pintu bawah panggul terdiri dari 2 segi tiga dengan jarak antar tuberum sebagai dasar bersamaan Ukuran ukuran yang penting ialah : 1. Diameter transversa (diameter antar tuberum ) 11 cm

2. diameter antara posterior dari pinggir bawah symphyse ke ujung os sacrum 11 cm

3. diameter sagitalis posterior dari pertengahan diameter antar tuberum ke ujung os sacrum 7 cm

pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7,5 cm = 18,5 cm ) Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC bisanya dapat diselesaikan dengan forcepe dan dengan episiotomy yang cukup luas.

IX. Pengkajian 5. Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung, udema pulmonal, penyakit vaskuler perifer atau stasis vaskuler ( peningkatan resiko pembentukan thrombus ) 6. integritas ego

perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis 7. Makanan / cairan Malnutrisi, membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM, predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis 8. Pernafasan Adanya infeksi, kondisi yang kronik/ batuk, merokok 9. Keamanan Adanya alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan larutan Adanya defisiensi imun Munculnya kanker/ adanya terapi kanker Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan/ reaksi anestesi Riwayat penyakit hepatic Riwayat tranfusi darah Tanda munculnya proses infeksi X. Proritas Keperawatan Mengurangi ansietas dan trauma emosional Menyediakan keamanan fisik Mencegah komplikasi Meredakan rasa sakit Memberikan fasilitas untuk proses kesembuhan Menyediakan informasi mengenai proses penyakit

XI. Diagnosa Keperawatan Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk penyembuhan luka, penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri, mual, muntah ) XII. Intervensi DP Ansietas b.d Ansietas pengalaman setelah Tujuan berkurang diberikan dengan Intervensi - Lakukan pendekatan diri Rasional Rasa akan menumbuhkan rasa tidak bahwa serta kepercayaan jalan pada perawat. tenang, cemas nyaman

pembedahan perawatan dan hasil kriteria hasil :

pada pasien supaya pasien nyaman - Yakinkan pembedahan merupakan merasa

tidak dapat - Tidak diperkirakan

menunjukkan

traumatik pada saat membicarakan pembedahan - Tidak tampak gelisah - Tidak merasa takut untuk pembedahan sama - Pasien merasa tenang dilakukan yang

terbaik yang harus ditempuh untuk

menyelamatkan bayi dan ibu

Resti infeksi Infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri

tidak

terjadi

- Berikan

nutrisi -

Nutrisi adekuat

yang akan

setelah perawatan selama 24 jam pertama dengan kriteria hasil : - Menunjukkan kondisi luka yang jauh dari kategori infeksi - Albumin keadaan normal - Suhu dalam tubuh pasien keadaan dalam

yang adekuat - Berikan untuk penkes menjaga

menghasilkan daua tubuh

daya tahan tubuh, kebersihan serta luka, -

yang optimal Dengan adanya partisipasi dari pasien, maka

tanda-tanda

infeksi dini pada luka

kesembuhan luka lebih dapat mudah

normal, tidak demam

terwujud

Nyeri b.d flatus

akut Nyeri dapat berkurang insisi, setelah perawatan 1x 24 dan jam dengan kriteria : - Pasien tidak mengeluh nyeri / mengatakan bahwa nyeri sudah

- lakukan pengkajian nyeri - lakukan managemen nyeri - monitoring keadaan insisi luka post operasi - ajarkan yang mobilitas -

Setiap

skala

nyeri memiliki managemen yang berbeda Antisipasi nyeri luka operasi Antisipasi akibat post

mobilitas

berkurang

memungkinkan tiap jam sekali

nyeri luka operasi -

akibat post

Mobilitas dapat merangsang peristaltik usus sehingga mempercepat flatus

Resti perubahan nutrisi

Mendemontrasikan berat badan stabil atau

- kaji status nutrisi secara continue

Memberi kesempatan untuk mengobservasi penyimpangan dari dasar dan mempengaruhi pilihan intervensi norma/ pasien

b.d penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan normalisasi nilai

selama perawatan tiap hari,

peningkatan kebutuhan

perhatikan tingkat energi, kulit, rambut, mulut - tekankan pentingnya trasnsisi pada kondisi, kuku, rongga

tubuh untuk laboratorium dan bebas penyembuh an luka,penuru nan masukan (sekunder dari tanda malnutrisi

Trasnsisi

akibat nyeri, mual, muntah

pemberian makan per tepat - beri mengunyah, menelan, sosialisasi bantuan sesuai indikasi beri dan makan dengan waktu oral dengan

pemberian makan oral

lebih disukai Pasien perlu

bantuan untuk menghadapi masalah anoreksia, kelelahan, kelemahan otot

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L. J, 2001, Diagnosa keperawatan, Jakarta : EGC Doengoes, M E, 2000, Rencana Askep pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Jakarta : EGC Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Jakarta : EGC Winkjosastro, Hanifa, 2006, Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

DEPARTEMEN KEPERAWATAN MATERNITAS PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

FORMAT PENGKAJIAN INTRANATAL Rumah sakit Ruangan Tgl/Jam MRS Dx. Medis Pengkajian oleh Tgl/Jam Pengkajian I. BIODATA Nama Klien Umur Suku/Bangsa Pendidikan Pekerjaan Agama Penghasilan Gol. Darah Alamat : : : : : : : : : Ny. L 28 tahun Madura SMA Ibu Rumah Tangga Islam Jumpong, Wonosari Nama Klien Umur Suku/Bangsa Pendidikan Pekerjaan Agama Penghasilan Gol. Darah Alamat : : : : : : : : : Tn. U 30 tahun Madura SMA Petani Islam Jumpong, Wonosari : : : : : : RSU dr. Koesnadi Bondowoso Nifas 15 Januari 2014/17.00 WIB GIII P10011 hamil 40-41 Minggu indikasi CPD M.Rusdi Bahtiar 16 Januari 2014/10.00 WIB

II. RIWAYAT KESEHATAN 1. Keluhan Utama Klien mengatakan nyeri perut saat kenceng-kenceng datang. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan hamil 9 bulan, kenceng-kenceng dibawa ke puskesmas tgl 15 januari 2014 jam 14.00 Wib kemudian di rujuk ke RSU Dr. H. Koesnadi jam 17.00 Wib lalu dibawa ke ruang Mawar. 3. Riwayat Penyakit Dahulu Ibu mengatakan tidak pernah punya riwayat penyakit hipertensi, asma, diabetes. 4. Riwayat Kesehatan Keluarga Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi, diabetes, asma. 5. Riwayat Psikososial Klien mengatakan masih takut operasinya tidak lancar.

6. Pola Pola Fungsi Kesehatan a. Pola persepsi & tata laksana hidup sehat Klien mengatakan rutin memeriksakan kandungannya ke polindes selama hamil. b. Pola nutrisi & metabolisme Klien mengatakan kadang-kadang minum susu, klien slalu makan 3xsehari sedikit dan minum 6 gelas sehari, klien mengatakan mempunyai alergi makan ikan asin. c. Pola aktivitas SMRS : klien mengatakan meski hamil klien slalu beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. MRS : klien hanya tidur bedrest dirumah sakit. d. Pola eliminasi SMRS : klien sering BAK 200cc, kuning, bau khas amoniak, BAB 2x sehari, lunak, bau khas MRS : klien terpasang kateter, belum BAB e. Pola persepsi sensoris Penglihatan : klien tidak mengalami gangguan penglihatan Pendengaran : klien dapat mendengar ucapan perawat Penciuman : klien dapat membedakan bau minyak dan alkohol Perasa : klien dapat merasakan yang manis-manis f. Pola konsep diri Gambaran diri : klien ingin segera operasi Ideal diri : klien ingin bayinya segera keluar Peran diri : klien sebagai ibu rumah tangga Harga diri : klien tidak malu dengan kondisinya sekarang g. Pola hubungan & peran Hubungan klien dengan keluarga harmonis, ditandai dengan adanya keluarga yang menemani klien saat dirumah sakit, ibu berperan sebagai ibu rumah tangga. h. Pola reproduksi & seksual Klien mengatakan pada waktu hamil klien tidak berhubungan seksual i. Pola penanggulangan stres / Koping Toleransi Stres Klien mengatakan jika ada masalah selalu menceritakan kepada suami.

7. Riwayat Pengkajian Obstetri, Prenatal dan Intranatal a. Riwayat penggunaan kontrasepsi Klien mengatakan menggunakan KB suntik 3 bulan b. Riwayat menstruasi Menarche : umur 12 tahun Lamanya : 7 hari Siklus : 28 hari Hari pertama haid terakhir : 08-04-2013 Dismenorhoe : iya Fluor albus : tidak ada c. Riwayat kehamilan dahulu Klien mengatakan pernah mengalami keguguran pada kehamilan pertama usia kehamilan 16 minggu dan klien pernah SC pada kehamilan kedua d. Riwayat kehamilan sekarang ANC sejak awal kehamilan, tempat periksa di Polindes. Imunisasi TT yang didapatkan : TT1, TT2 e. Riwayat persalinan dahulu Anak pertama keguguran UK 16 minggu anak kedua lahir dengan operasi SC. f. Riwayat persalinan sekarang Ibu mengatakan mulai kenceng-kenceng kemarin tgl. 15/1/2014 jam. 14.00, periksa di PKM Wonosari kemudian di rujuk ke RSU dr. Koesnadi bondowoso jam 17.00 Wib. 8. Pemeriksaan Fisik (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi) a. Keadaan Umum KU : baik b. Tanda Tanda Vital Suhu Tubuh : 36,7 oc Denyut Nadi : 86x/menit Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Respirasi

: 22x/menit

c. Kepala & Leher Kepala : rambut hitam, tidak rapi, sklera putih, konjungtiva tidak anemis, bibvirv lembab, pernafasan cuping hidung negativ, Leher : Pembesaran kelenjar tyroid tidak ada. d. Thorax / Dada I: pergerakan dada simetris P: tidak ada massa P: sonor A: whezing (-) e. Pemerisaan Payudara Bentuk simetris, puting menonjol, hiperpigmentasi aerola mamae, colostrum (-), payudarah lembek.

f. Abdomen Adanya garis-garis perut (strie), terdapat bekas luka SC 10 cm. Pemeriksaan leopold : L1 : TFU 28cm L2: bagian keras memanjang punggung kiri L3: let kep His : 2x dalam 10 menit Djj : 146x/menit g. Genetalia Genetalia bersih, anus bersih, hemoroid (-), perinium tidak ada luka hecting h. Punggung Simetris, tidak ada lesi, lordosis maupun kifosis. i. Ekstremitas Akral hangat, CRT 2 detik, terpasang infus di tangan kiri. 1. Homan Sign 2. Varises : Tidak ada : Tidak ada.

j. Integumen Kulit sawo matang, turgor kulit <2detik

Bondowoso, 16 Januari 2014 Mahasiswa

M.Rusdi Bahtiar NIM. 13 0103 1066

No

Data

ANALISA DATA Masalah Nyeri

Etiologi Kontraksi uterus dalam kehamilan

Paraf

DS : Klien mengatakan nyeri Saat kontraksi. DO: klien tampak meringis saat terjadi kontraksi, TD : 120/80 N: 86x/menit S: 36,70C RR: 22x/menit His: 2x dalam 10 menit Djj: 146x/menit Ds: klien mengatakan takut operasi tidak lancar Do: klien diem dan gelisah TD : 120/80 N: 86x/menit S: 36,70C RR: 22x/menit Ds: klien mengatakan tidak mengetahui dioperasi Do: klien sering bertanya kepada kenapa klien

Ansietas

Kurangnya informasi prosedur operasi

Kurangnya pengetahuan

CPD

tentang perawat

persalinan

MASALAH KEPERAWATAN/ DIAGNOSA KEPERAWATAN N0 1. Tgl/Jam 20/2/2012 Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaboratif 1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang Paraf

berhubungan dengan kontraksi uterus dalam kehamilan 2. Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya informasi prosedur operasi 3. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan

dengan pengetahuan tentang CPD

Diagnosa Keperawatan Masalah/Kolaboratif 16/01/14 Gangguan rasa 10.00 nyaman (nyeri) yang berhubungan dengan kontraksi uterus dalam kehamilan Tgl Jam

Tujuan & Kriteria Hasil Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24jam nyeri berkurang. KH : 1. Ibu dapat menerima rasa nyaeri sebagai proses fisiologis kehamilan 2. Ibu dapat menerapkan distraksi yang di ajarkan oleh perawat, 3. Klien tampak rileks 4. TD dalam batas normal (110140/60-90mmhg) 5. Nadi60100x/menit Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan cemas berkurang selama

Rencana Tindakan 1. Tentukan sifat dan durasi nyeri 2. Berikan lingkungan yang kondusif dan aktifitas untuk menghilangkan nyeri 3. Ajarkan pada klien untuk menggunakan relaksasi nafas dalam 4. Kaji TTV klien

Rasional 1. Dapat membantu dalam menentukan diagnosa dan tindakan keperawatan 2. Dapat memberikan kenyamanan dan dapat merilekskan ketegangan 3. Dapat menurunkan respon nyeri 4. Merupakan parameter yang mencerminkan kondisi aktual klien

TTD

Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya informasi prosedur operasi

1. Berikan informasi pada klien dan keluarga tentang prosedur operasi 2. Beri informasi tentang

1. Informasi yang aktual dapat menurunkan tingkat ansietas 2. Informasi yang akurat

proses persalinan KH: Klien rileks dan tenang

perubahan respon psikologis dan fisiologis pada persalinan 3. Kaji tingkat dan penyebab ansietas 4. Mempertahankan kontak sering dengan klien 5. Berikan lingkungan yang nyaman dan aman

dapat memberikan pengetahuan dan menurunkan ansietas 3. Dapat memberikan informasi dasar tentang kemungkinan dasar 4. Meyakinkan klien kalau klien tidak sendiri 5. Memebrikan rileks pada klien 1. Mengoreksi tentang pengetahuan klien 2. Memberikan pengetahuan yang lebih tinggi kepada klien 3. Mengukur tingkat pemahaman klien

Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang CPD

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien mampu memahami tentang CPD KH: Klien mampu menjelaskan tentang informasi yang sudah diberikan.

1. Kaji tentang pengetahuan klien tentang CPD (panggul sempit) 2. Jelaskan tentang CPD (panggul sempit) 3. Minta klien untuk menjelaskan kembali tentang informasi yang diberikan.

PELAKSANAAN Masalah Keperawatan Kolaboratif Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang berhubungan dengan kontraksi uterus dalam kehamilan 16/01/14 1. Menentukan sifat dan durasi nyeri R/nyeri perut saat his 2. Memberikan lingkungan yang kondusif untuk menghilangkan nyeri R/ keluarga kooperatif 3. Mengajarkan klien tehnik relaksasi nafas dalam R/ klien mempraktekkan nafas dalam 4. Mengkaji TTV klien R/ TD: 120/80 mmhg , N : 86x/menit, RR: 22x/menit, S: 36,70C 1. Memerikan informasi pada klien dan keluarga tentang prosedur operasi R/ klien dapat menerima masukan dari perawat 2. Memberikan informasi tentang perubahan respon psikologis dan fisiologis R/ klien memahami 3. Mengkaji tingkat dan penyebab ansietas R/ klien mengatakan takut kalau operasinya tidak lancar 4. Mempertahankan kontak sering dengan klien R/ klien dapat menerima kedatangan klien 5. Memberikan lingkungan yang nyaman dan aman R/ klien meraasa nyaman 1. Mengkaji tentang pengetahuan klien kenapa persalinan SC R/ klien tidak mengetahui 2. Menjelaskan tentang panggul sempit R/ klien mendengarkan perawat 3. Meminta klien untuk menjelaskan kembali tentang informasi yang diberikan R/ klien memahami informasi perawat Tgl/Jam Tindakan Paraf

Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya informasi prosedur operasi

16/01/14

Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang CPD

16/01/14

EVALUASI Masalah Kep/Kol Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang berhubungan dengan kontraksi uterus dalam kehamilan Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya informasi prosedur operasi Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang CPD Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang berhubungan dengan kontraksi uterus dalam kehamilan Tgl/Jam 16/01/14 Catatan Perkembangan S: klien mengatakan nyeri saat kontraksi O: klien nampak meringis saat his, skala nyeri 4, TD: 120/80 mmhg , N : 86x/menit, RR: 22x/menit, S: 36,70C A: masalah belum teratasi P : lanjutkan interverensi Paraf

16/01/14

16/01/14

S : klien mengatakan masih takut operasinya tidak lancar O: klien lebih tenang, klien memahami prosedur operasi A: masalah teratasi P: lanjutkan interverensi S : klien mengatakan tidak tau kenapa persalinannya cesarea O : klien mampu menjelaskan informasi perawat A : masalah teratasi P: hentikan interverensi

17/01/14

S : klien mengatakan sudah lega habis operasi O : telah dilakukan operasi sectio cesarea, tampak luka bekas operasi 10cm, skala nyeri 6 A : timbul masalah baru nyeri yang berhubungan dengan luka bekas operasi, resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan luka bekas operasi P : lanjutkan intervverensi I : -. mengkaji tentang nyeri, lokasi, frekuensi -. Mengobservasi respon non verbal -. Mengajarkan tehnik nafas dalam -. Mengontrol faktor lingkungan dari ketidaknyamanan -. Kolaborasi dalam pemberian analgetik -. Kaji tanda infeksi -. Inspeksi pada balutan pada perut bawah apa ada rembeesan Kolaborasi dalam pemberian antibiotik Pantau TTV E : masalah belum teratasi S: klien mengatakan nyeri bekas luka operasi O : -. Tampak luka bekas operasi 10 cm -. Klien tampak meringis -. Klien memegangi bagian yang nyeri -. Terdapat balutan abdomen

Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang berhubungan dengan

17/01/14

kontraksi uterus dalam kehamilan

-. Skala nyeri 5 -. Tanda infeksi (-) -. Tidak ada rembesan -. Injeksi cefotaxim 1 gr, ketorolak 30 mg A : masalah belum teratasi P : lanjutkan interverensi 1. Mengajarkan nafas dalam 2. Mengontrol faktor lingkungan 3. Kaji tanda infeksi 4. Inspeksi balutan 5. Pantau TTV 6. Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotik I: 1. Mengkaji rentang nyeri, skala, frekuensi R/skala nyeri 4 2. Mengajarkan teknik nafas dalam R/ klien kooperatif 3. Menontrol faktor lingkungan R/ keluarga kooperatif 4. Mengkaji tanda infeksi R/ infeksi (-) 5. Inspeksi balutan R/tidak ada rembesan 6. Memantau TTV R/ TD : 120/80 mmhg, N : 84x/menit, RR : 20x/menit, S : 360C 7. Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotik R/ cefotaxim 1 gr, keterolak 30 mg E: nyeri abdomen berkurang, tanda infeksi(-), masalah belum teratasi