Jurnal Jurnal Jurnal Jurnal

BISNIS & MANAJEMEN
Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 7 No.2, Januari 2011

KAJIAN ELEMEN-ELEMEN PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI
BIOETANOL BERBASIS BAHAN BAKU POTENSIAL
DI PROVINSI LAMPUNG

Erlina, Endang Gumbira Sa’id, Machfud, Sukardi, Zainal Mahmud

PENGUKURAN EFISIENSI KINERJA DENGAN METODE STOCHASTIC
FRONTIER APPROACH PADA PERBANKAN SYARIAH
Ivan Gumilar SP, Siti Komariah

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM
(STUDI PADA SUB SEKTOR PERBANKAN
DI BURSA EFEK INDONESIA)
Sendi Gusnandar Arnan, Shinta Dewi Herawati

KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI,
DAN INTENSI TURNOVER
Habibullah Jimad

ANALISIS MENGAPA SEBUAH USAHA MENGGUNAKAN
SISTIM BAGI HASIL
Heru Wahyudi



PENGARUH HUMAN RELATIONS TERHADAP MOTIVASI KERJA
KARYAWAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKADANA
Yuningsih

TINJAUAN KEMBALI LEADERSHIP IN ADMINISTRATION: A
SOCIOLOGICAL INTERPRETATION (Selznick, 1957)
Ayi Ahadiat

JURNAL BISNIS
dan
MANAJEMEN
Vol. 7 No.2 Hal. 79-222
Bandarlampung
Januari 2011
ISSN
1411 - 9366


JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

TIM REDAKSI


Penanggung Jawab : Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.Sc.
(Rektor Universitas Lampung)

Pembina : Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.Sc.
(Pembantu Rektor I Universitas Lampung)
: Dr. Eng. Admi Syarif
(Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung)
: Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si.
(Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung)

Pemimpin Umum : Hj. Aida Sari, S.E., M.Si.
Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Lampung

Dewan Editor
Ketua : Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si.
Anggota : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si.
Dr. Sri Hasnawati, S.E.. M.M.
Iban Sofyan, S.E., M.M.
Aripin Ahmad, S.E., M.Si.
Zulkarnain, S.E., M.B.A.
Dariyus, S.E., M.M.
Ribhan, S.E., M.Si.
Ernie Hendrawaty, S.E., M.Si.

Redaksi Pelaksana
Ketua : Hj. Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M.
Wakil Ketua : Rinaldi Bursan, S.E., M.Si.
Sekretaris : Prakarsa Pandjinegara, S.E., M.E.
Bendahara : Hi. Habibullah Jimad, S.E., M.Si.
Tata Usaha dan Kearsipan : Prayugo
Distribusi dan Sirkulasi : Nasirudin
Alamat Redaksi : Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi Unila
Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1
Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145
Telp. : (0721) 773465
Email : manajemen@unila.ac.id
Website : http://fe-manajemen.unila.ac.id/jbm

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga
kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung,
berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.
Volume 7 No. 2, Januari 2011 ISSN 1411 - 9366


JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI

KAJIAN ELEMEN-ELEMEN PENGEMBANGAN
AGROINDUSTRI BIOETANOL BERBASIS BAHAN BAKU
POTENSIAL DI PROVINSI LAMPUNG................................................... 79
Erlina, Endang Gumbira Sa’id, Machfud, Sukardi, Zainal Mahmud

PENGUKURAN EFISIENSI KINERJA DENGAN METODE
STOCHASTIC FRONTIER APPROACH PADA PERBANKAN
SYARIAH ......................................................................................................... 93
Ivan Gumilar SP, Siti Komariah

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP HARGA
SAHAM (STUDI PADA SUB SEKTOR PERBANKAN DI
BURSA EFEK INDONESIA) ...................................................................... 123
Sendi Gusnandar Arnan, Shinta Dewi Herawati

KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI, DAN
INTENSI TURNOVER ................................................................................. 155
Habibullah Jimad

ANALISIS MENGAPA SEBUAH USAHA MENGGUNAKAN
SISTIM BAGI HASIL .................................................................................. 167
Heru Wahyudi

PENGARUH HUMAN RELATIONS TERHADAP MOTIVASI
KERJA KARYAWAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
SUKADANA .................................................................................................. 191
Yuningsih

TINJAUAN KEMBALI LEADERSHIP IN ADMINISTRATION: A
SOCIOLOGICAL INTERPRETATION (Selznick, 1957) ........................ 207
Ayi Ahadiat




Volume 7 No. 2, Januari 2011
ISSN 1411 - 9366
KAJIAN ELEMEN-ELEMEN PENGEMBANGAN
AGROINDUSTRI BIOETANOL BERBASIS BAHAN
BAKU POTENSIAL DI PROVINSI LAMPUNG
1

Erlina
2
, Endang Gumbira Sa’id
3
, Machfud
3
, Sukardi
3
, Zainal
Mahmud
4



ABSTRACT

In general, this study aims to determine key elements of agro-industry
development of bioethanol in Lampung Province. The results showed that based
on MPE analysis, the raw material of superior agro-industry development of
bioethanol in Lampung Province is cassava. Based on the results of the study
elements from development using ISM analysis, obtained four key elements of
agro-industry development of bioethanol in Lampung Province, namely: (1)
supporting element development system with 7 (seven) sub key elements of
development, (2) inhibiting element development system with 7 (seven)
inhibiting the development of key sub-elements, (3) elements of the development
system actors with 3 (three) sub-elements of the key development actors, and (4)
elements need development system with 3 (three) sub-elements of the key
development needs.

Key Words : bioethanol, agro-industry, interpretative struktural modelling (ISM)


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi bahan
baku bioetanol (Ubikayu, Tebu, Sorgum manis dan Jagung ) yang sangat
baik. Lampung merupakan provinsi penghasil ubikayu dan tebu
terbesar di Indonesia, dengan produksi pada tahun 2007 mencapai
6.394.906 ton (BPS 2008). Pada tahun yang sama produksi jagung
1.340.821 ton dan tebu sebesar 35.730 ton.

Kelebihan tanaman sebagai sumber bahan bakar nabati dapat
mengimbangi produksi rumah kaca, mengurangi pencemaran udara dan

1
Bagian dari disertasi untuk Seminar Hasil Disertasi IPB
2
Mahasiswa S3 Program Studi Teknologi Industri Pertanian SPs IPB
3
Staf Pengajar Departemen Teknologi Industri Pertanian Fateta IPB
4
Peneliti Balitro, Bogor

80
bahan bakar tersebut dapat diproduksi secara lokal sehingga diharapkan
dapat memperbaiki ekonomi pedesaan, menciptakan lapangan pekerjaan
dan meningkatkan pendapatan petani serta mengurangi potensi
ketergantungan minyak impor (Gumbira-Sa’id , 2007).

Hasil penelitian Hasanuddin et al., (2006) menunjukkan bahwa
pengembangan agroindustri berbasis ubi kayu di Lampung
menunjukkan bahwa, agroindustri bioetanol menduduki peringkat
tertinggi untuk dikembangkan dibandingkan jika dikembangkan
menjadi industri tapioka, tepung cassava dan industri makanan ringan.
Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar yang cukup penting setelah
biodiesel untuk dikembangkan di Indonesia. Untuk mengimplemen-
tasikan hal tersebut perlu dilakukan kajian-kajian terhadap
permasalahan yang ada di dalam proses pengembangan agroindustri
bioetanol. Beberapa penelitian sudah dilakukan mengenai strategi
pengembangan bioetanol yaitu oleh Kurniawan et al., (2005) Bustaman
(2008), Nurwidyastuti (2006) mengenai strategi pengembangan bioetanol
berbasis tebu, dimana strategi yang diperlukan adalah perlu adanya
upaya perluasan areal tanam untuk meningkatkan ketersediaan bahan
baku tebu agar tidak bersaing dengan kebutuhan gula nasional.

Berdasarkan kajian-kajian pustaka yang telah dilakukan, terdapat
permasalahan pokok yang harus dikaji dalam usaha pengembangan
agroindustri bioetanol di Lampung yaitu belum adanya penetapan dan
penerapan strategi yang tepat untuk mampu memaksimalkan potensi
sumberdaya yang ada, yang memungkinkan agroindustri menjadi
industri yang kompetitif dan mewujudkan revitalisasi pertanian.
Lampung merupakan salah satu sentra pertanian yang memiliki potensi
yang tinggi sebagai penyedia bahan baku untuk bioetanol, tetapi masih
diperlukan penelitian yang mengkaji strategi pengembangan
agroindustri bioetanol agar kepentingan pemanfaatan bahan baku untuk
bioetanol tidak berbenturan dengan kebutuhan bahan baku terutama
untuk pangan, pakan, maupun industri lain yang terkait. Diharapkan
pengembangan bioetanol di Lampung tidak hanya sesuai dengan
prinsip pengembangan pada pemenuhan pasokan energi saja tetapi juga
untuk mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan,
menciptakan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan
mendukung aksi penyelamatan bumi dari efek pemanasan global.





Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

81
Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan bahan baku unggulan untuk pengembangan
agroindustri bioetanol di Provinsi Lampung;
2. Menentukan elemen-elemen kunci pengembangan agroindustri
bioetanol.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pemilihan bahan baku untuk pengembangan agroindustri bioetanol
di Provinsi Lampung.
2. Penentuan elemen kunci pengembangan agroindustri bioetanol di
Provinsi Lampung.

Manfaat Penelitian

Elemen-elemen kunci sistem pengembangan yang ditetapkan dalam
penelitian diharapkan berguna untuk mengkaji strategi pengembangan
agroindustri bioetanol berdasarkan pendekatan bahan baku di Provinsi
Lampung

METODE PENELITIAN

Kerangka Penelitian

Penelitian ini mengkaji tentang elemen-elemen pengembangan
agroindustri bioetanol yang terdiri dari pokok kajian, 1) penentuan
elemn kunci pendukung pengembangan agroindustri bioetanol, 2)
penentuan elemen kunci penghambat pengembangan agroindustri
bioetanol, 3) penentuan elemen kunci pelaku pengembangan dan 4)
penentuan elemen kunci kebutuhan pengembangan. Metode yang
digunakan untuk menggali informasi dan pengetahuan adalah dengan
melakukan wawancara mendalam sesuai dengan kecukupan informasi
yang diperlukan. Penggunaan teknik yang sesuai akan membantu dalam
menetapkan elemen-elemen kunci pengembangan, klasifikasi hubungan
pengaruh/ketergantungan dan tingkatan strukturalnya. Kerangka Pikir
Penelitian untuk menentukan elemen-elemen kunci dalam
pengembangan agroindustri bioetanol di Provinsi Lampung
diperlihatkan pada Gambar 1



82

































Gambar 1. Diagram Alir Strukturisasi Sistem Pengembangan
Agroindustri menggunakan ISM-VAXO (diadopsi dari
Machfud,2001)


Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Penelitian ini didahului dengan survei pakar, yang berjumlah 14
responden yang berasal dari perguruan tinggi, instansi pemerintah,
pengusaha bioetanol, ketua kelompok tani, dan asosiasi bioetanol. Data
Mulai
Nama Elemen
Nama Sub-
elemen
Pakar
Penilaian Hubungan Kontekstual
(VAXO) antar Sub-Elemen pada
setiap Elemen untuk setiap Pakar
Matrik Self Structural
Interpretive (SSIM) Untuk setiap
Pakar dan pada setiap Elemen
Pembentukan Matrik Reachability (RM) untuk
setiap Pakar dan pada setiap Elemen
Modifikasi menjadi Matrik
Transitif
Transitif ?
Pembentukan RM
Pendapat Gabungan Pakar
Matrik Reachability Pendapat
Gabungan Pakar
Strukturisasi Elemen Sistem
Penetapan Sub-elemen Kunci
Kategorisasi Sub-Elemen
Strukturisasi Sistem Pengembangan
Kelompok Sub-Elemen
Selesai
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

83
yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan sekunder.
Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran atau studi pustaka
dari dokumen-dokumen yang dipublikasikan oleh institusi terkait.
Pengumpulan data primer dilakukan melalui cara survey. Dalam
penelitian ini digunakan dua metode analisis yaitu, Metode
Perbandingan Eksponensial (MPE) (Marimin, 2004) dan Analisis ISM
(Saxena, 1992 )

Untuk kepentingan analisis MPE, fokus pertanyaan adalah tentang jenis
bahan baku dengan kriteria yang mempengaruhinya, berikutnya pakar
menilai elemen dan sub elemen struktur sistem pengembangan
agroindustri bioetanol, dengan analisis ISM.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan dan Penetapan Bahan Baku Unggulan

Tahap penentuan bahan baku unggulan untuk pengembangan
agroindustri bioetanol diseleksi dari beberapa alternatif ketersediaan
bahan baku yang tersedia di lokasi penelitian. Penentuan bahan baku
unggulan menggunakan pendekatan Metode Perbandingan
Eksponensial (MPE). Terdapat enam bahan baku potensian untuk
produksi bioetanol di Provinsi Lampung yakni, (A). Ubi kayu, (B). Tebu,
(C). Jagung, (D). Ubi jalar, (E). Sorghum dan (F). Nira Aren Hasil
analisis disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Perhitungan MPE Untuk Penentuan Bahan Baku
Unggulan

Prioritas Alternatif Bahan Baku Terpilih Nilai MPE
Bahan Baku Unggulan 1 Ubi Kayu 601.80
Bahan Baku Unggulan 2 Tebu 425.78
Bahan Baku Unggulan 3 Jagung 425.19
Bahan Baku Unggulan 4 Ubi Jalar 184.89
Bahan Baku Unggulan 5
Bahan Baku Unggulan 6
Nira Aren
Sorgum manis
145.76
144.38

Berdasarkan hasil perhitungan di atas (Tabel 1) diperoleh enam
alternatif bahan baku untuk pengembangan agroindustri bioetanol di
Provinsi Lampung, urutan enam pilihan bahan baku yakni: (1) Ubi kayu
dengan nilai MPE 601.80 ; (2) Tebu, nilai MPE 425.78; (3) Jagung, nilai
MPE 425.19; (4) Ubi Jalar, nilai MPE 184.89; (5) Nira Aren. Nilai MPE
145.76 dan (6) Sorgum Manis nilai MPE 144.38. Mengingat ubi kayu

84
memiliki nilai MPE yang tertinggi, maka strategi pengembangan
agroindustri bioetanol yang dikaji selanjutnya adalah yang berdasarkan
bahan baku ubikayu.

Pengembangan Agroindustri Bioetanol di Provinsi Lampung

Kajian elemen-elemen pengembangan agroindustri bioetanol di Provinsi
Lampung dengan menggunakan metode analisis ISM memperoleh 4
(empat) elemen kunci pengembangan agroindustri bioetanol, yaitu (1)
elemen pendukung pengembangan, (2) elemen penghambat
pengembangan ; (3) elemen pelaku pengembangan; dan (4) elemen
kebutuhan pengembangan. Hasil analisis ISM-VAXO terhadap keempat
elemen pengembangan, diperoleh hasil sebagai berikut.

1. Elemen pendukung pengembangan agroindustri bioetanol
Hasil ISM-VAXO menunjukan struktur hirarki hubungan antar sub-
elemen pendukung terdiri dari 5 level (Gambar 2) dengan asumsi
hubungannya bahwa sub elemen pendukung yang satu mempengaruhi
manfaat sub-elemen pendukung yang lain. Hirarki model mengartikan
bahwa sub elemen pada satu level didukung oleh terpenuhinya sub-
elemen pada level dibawahnya. Hasilnya menunjukan kesesuaian dan
ketersediaan lahan untuk bahan baku industri bioetanol di Provinsi
Lampung (P2), sarana dan prasaran produksi pendukung (P3), dan
Dukungan pemerintah dalam pengembangan agroindustri bioetanol (P4)
sebagai elemen kunci pendukung pengembangan agroindustri bioetanol
di Provinsi Lampung yang menempati level 5, dengan total DP terbesar
yakni 14.

Keluaran ISM-VAXO untuk klasifikasi sub elemen pendukung
berdasarkan tingkat driver power (DP) dan tingkat dependency (D) (gambar
3), menunjukan bahwa tidak ada sub elem pendukung pengembangan
yang tidak berkaitan dengan sistem (sektor 1 Autonomous =0), dan tidak
ada hubungan antar peubah pada sektor ini yang tidak stabil (sektor 3
linkage ) Sub elemen P1,P6,P7,P9,P13 dan P14 berada pada sektor dua
(Dependent), peubah pada sektor ini sangat tergantung dari input dan
tindakan yang diberikan terhadap peubah dari independen dan terutama
linkage dan P2,P3,P4,P5,P10,P11 dan P12 berada pada sektor 4 Independent
elemen pada sektor ini memiliki daya dorong yang tinggi dengan tingkat
ketergantungan yang rendah peubah pada sektor ini disebut sebagai
beubah bebas.

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

85



Gambar 2. Struktur hirarki sub-elemen Pendukung pengembangan

1
2, 3, 4
5, 10, 11, 12
6, 7, 9
8, 13, 14
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15


Gambar 3. Diagram klasifikasi sub-elemen pendukung pengembangan

Level 1
Level 2
Level 3
Level 4
Level 5
1) Ketersediaan bahan baku untuk industri bioetanol
di Provinsi lampung (P-1)
2) Kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk bahan
baku di Provinsi Lampung (P-2)
3) Sarana dan prasarana produksi mendukung (P-3)
4) Dukungan pemerintah dalam pengembangan
agroindustri bioetanol (P-4)
5) Kemampuan masyarakat dalam menerima inovasi
baru (P-5)
6) Sifat kepemilikan lahan pertanian sebagai petani
pemilik lahan (P-6)
7) Motivasi Petani (P-7)
8) Ketersediaan teknologi proses (P-8)
9) Peningkatan kesejahteraan masyarakat dari nilai
tambah yang diperoleh dari pengembangan agro
industri bioetanol (P-9)
10) Agroindustri bioetanol skala pabrik dapat
dikembangkan di Provinsi Lampung (P-10)
11) Penunjukan Provinsi Lampung sebagai lumbung
bahan bakar nabati nasional (P-11)
12) Peningkatan permintaan BBN (Bahan Bakar
Nabati), khususnya bioetanol yang diprediksi akan
terus meningkat (P-12)
13) Peluang peningkatan pendapatan daerah di sektor
pertanian (P-13)
14) Potensi pasar lokal, regional dan global (P-14)
D
A
Y
A




D
O
R
O
N
G

KETERGANTUNGAN
Linkage
Dependent
Independen
Autonomous

86
2. Elemen penghambat sistem pengembangan
Matriks SSIM-VAXO (elemen penghambat) ditranformasi menjadi matrik
RM. Klasifikasi sub-elemen dilakukan berdasarkan tingkat driver power
dan dependence , dan penyusunan hirarki struktural berdasarkan
rangking sub-elemen (Gambar 4 dan 5). Sesuai dengan asumbi
hubungannya bahwa sub-elemen penghambat yang satu menyebabkan
sub-elemen penghambat yang lain, maka hirarki menunjukkan bahwa
sub-elemen pada level ditentukan oleh terpenuhinya pada sub elemen
pada level dibawahnya. Hasil ISM-VAXO menunjukan kedudukan sub-
elemen keterbatasan modal bagi pengembangan dioetanol skala kecil (K-
1), produktivitas bahan baku rendah (K-2) dan kontinuitas bahan baku
tidak terjamin (K-9) menempati level tertinggi dengan total nilai DP
terbesar yakni 14, sehingga ke tiga sub-elemen tersebut dinyatakan
sebagai sub-elemen kunci penghambat pengembangan agroindustri
bioetanol di Provinsi Lampung.




Gambar 4. Struktur hirarki sub-elemen Penghambat pengembangan



Level 1
Level 2
Level 3
Level 4
Level 5
Level 6
1. Keterbatasan modal bagi pengembangan
bioetanol skala kecil (K-1)
2 Produktivitas bahan baku rendah (K-2)
3. Biaya produksi masih tinggi untuk skala industri
kecil (K-3)
4. Harga bioetanol per liter berada di atas harga
BBM subsidi (K-4)
5. Keterbatasan sumber daya manusia dalam
penguasaan teknologi (K-5)
6. Minimnya sosialiasi penggunaan bioetanol yang
ahli di bidang agroindustri bioetanol (K-6)
7. Masih Terbatasnya Sumber daya manusia yang
ahli di bidang agroindustri bioetanol (K-7)
8. Bahan baku bersaing dengan industri pangan (K-
8)
9. Kontinuitas bahan baku tidak terjamin (K-9)
10. Hambatan kelembagaan (perijinan, birokrasi) (K-
10)
11. Hambatan perdagangan internasional (K-11)
12. Pesaing internasional yang telah lebih dahulu
mengembangkan bioetanol (K-12)
13. Kekuatan pesaing pada basis bahan baku yang
sama (K-13)
14. Belum adanya jaminan harga bioetanol yang
stabil (K-14)

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

87
Hasil klasifikasi menunjukan bahwa tidak ada sub-elemen penghambat
yang tidak terkait dengan sistem (sektor Autonomous =0), dan tidak ada
hubungan antar peubah pada sektor ini yang tidak stabil (sektor 3
linkage). Sub-elemen keterbatasan sumberdaya manusia dalam
penguasaan teknologi (K-5), minimnya sosialisasi penggunaan
penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif untuk kendaraan
(K-6), masih terbatasnya sumber daya manusia yang ahli di bidang
agroindustri bioetanol (K-7), adanya hambatan perdagangan
internasional (K-11), persaingan internasional yang telah lebih dahulu
mengembangkan bioetanol (K-12), kekuatan pesaing pada basis bahan
baku yang sama dan belum adanya jaminan harga bioetanol (K-14)
berada pada sektor dua, peubah pada sektor ini sangat tergantung dari
input dan tindakan yang diberikan terhadap peubah dari independen dan
terutama linkage. dan (K1,K2,K9,K3,K4,K8 dan K10) berada pada sektor
4 Independent elemen pada sektor ini memiliki daya dorong yang tinggi
dengan tingkat ketergantungan yang rendah peubah pada sektor ini
disebut sebagai beubah bebas.

1, 2, 9
3, 4, 8, 10
5
6
7, 11, 12, 13
14
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15


Gambar 5. Diagram klasifikasi sub-elemen penghambat
pengembangan

D
A
Y
A

D
O
R
O
N
G
KETERGANTUNGAN
Linkage
Dependent
Independen
Autonomous

88
3. Elemen pelaku pengembangan
Hirarki struktural (Gambar 6), menunjukan kedudukan sub-elemen
Pemerintah Daerah (m5) berada pada level tertinggi dengan total DP
terbesar yakni 7, diikuti pelaku industri bioetanol (m3) dan perguruan
tinggi (m7) dengan nilai DP 6, Pemerintah Daerah dinyatakan sebagai
sub elemen kunci pelaku pengembangan.


Gambar 6. Struktur Hirarki Antar Sub-Elemen Pelaku
Pengembangan Agroindustri Bioetanol di Provinsi
Lampung

Gambar 7 menampilkan klasifikasi sub elemen berdasarkan tingkat driver
power dan dependence. Hasil klasifikasi menunjukan bahwa tidak ada sub-
elemen pelaku pengembangan yang tidak terkait antar elemen (sektor
Autonomous = 0). Sub elemen M6,M2 dan M4 masuk pada sektor
dependent yang merupakan peubah tidak bebas dan sangat tergantung
pada sektor independent dan linkage, dan M5,M3,M7 dan M1 masuk pada
sektor 4 Independent, elemen pada sektor ini memiliki daya dorong yang
tinggi dengan tingkat ketergantungan yang rendah peubah pada sektor
ini disebut sebagai beubah bebas.
Level 1
Level 2
Level 3
Level 4
Level 5
1) Masyarakat (M-1)
2) Asosiasi Bahan Bakar Nabati (M-2)
3) Pelaku Industri Bioetanol (M-3)
4) Industri terkait bahan pangan (industri
gula & tapioka) (M-4)
5) Pemerintah Daerah (M-5)
6) Balai Penelitian (M-6)
7) Perguruan Tinggi (M-7)


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

89
1
2, 4
3, 7
5
6
0
1
2
3
4
5
6
7
8
0 1 2 3 4 5 6 7 8




Gambar 7. Matriks Driver Power-Dependence Elemen Pelaku
Pengembangan Agroindustri Bioetanol di Provinsi
Lampung

4. Elemen Kebutuhan Sistem Pengembangan.
Hirarki struktural kebutuhan pengembangan (gambar8) menunjukan sub
elemen intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian (U-3), berada pada level
tertinggi dengan total nilai DP terbesar yakni 8 dan sehingga dinyatakan
sebagai sub elemen kunci kebutuhan pengembangan agroindustri
bioetanol di provinsi Lampung, diikuti peningkatan sumberdaya
teknologi (U-6) dan subsidi dan kemudahan dari pemerintah (U-8)
dengan nilai DP 7.

Gambar 8. Struktur hirarki sub-elemen kebutuhan pengembangan
1) Peningkatan kualitas sumber daya manusia (U-1)
2) Peningkatan infrastruktur (U-2)
3) Intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian (U-3)
4) Kebijakan penetapan ekspor (U-4)
5) Jaminan keamanan investasi (U-5)
6) Peningkatan sumber daya teknologi (U-6)
7) Jaminan pasar bioetanol dan kestabilan harga
bioetanol (U-7)
8) Subsidi, insentif dan kemudahan-kemudahan dari
pemerintah (U-8)

KETERGANTUNGAN
D
A
Y
A
D
O
R
O
N
G
Linkage
Dependent
Independent
Autonomous
Level 1
Level 2
Level 3
Level 4
Level 5

90
Gambar 9 menunjukan bahwa tidak ada sub-elemen kebutuhan yang
tidak terkait dengan sistem (sektor Autonomous =0), juga tidak ada sub
elemen yang sifat hubungannya tidak stabil (sektor Linkage =0). Pada
umumnya sub elemen tersebar pada sektor Independent ( U3,U6 dan
U8),dan sebagian lainnya pada sektor Dependent ( U2,U5,U4 dan U7)
yang sifatnya sangat tergantung dari input dan tindakan yang diberikan
pada pengembangan dan peubah bebas.

1
2, 5
3
4, 7
6, 8
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9




Gambar 9. Diagram klasifikasi sub–elemen kebutuhan
pengembangan agroindustri Bioetanol di Provinsi
Lampung

Tabel 2. Sub – Elemen Kunci Sistem Pengembangan Agroindustri
bioetanol di Provinsi Lampung

Nama Elemen Sub Elemen Kunci
Pendukung
Pengembangan
Kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk bahan baku industri bioetanol di
Provinsi Lampung (P2), Sarana dan prasarana produksi pendukung (P3),
Dukungan pemerintah dalam pengembangan agroindustri bioetanol(P-4),
Kemampuan masyarakat dalam menerima inovasi baru (P5), Agroindustri
bioetanol skala pabrik dapat dikembangkan (P-10), Penunjukan Provinsi Lampung
sebagai lumbung bahan bakar nabati nasional (P-11) dan peningkatan permintaan
BBN, khususnya yang diprediksi akan terus meningkat (P-12)
Penghambat
Pengembangan
Keterbatasan modal bagi pengembangan bioetanol skala kecil (K-1), Produktivitas
bahan baku rendah (K-2),Kontinuitas bahan baku yang tidak terjamin (K-9), Biaya
produksi masih tinggi untuk skala industri kecil (K-3), Harga bioetanol per liter
berada diatas harga BBM subsidi (K-4), Bahan baku bersaing dengan industri
pangan (K-8) dan Hambatan Kelembagaan (K-10)
Pelaku
Pengembangan
Pemerintah Daerah (M-5), Pelaku Industri Bioetanol (M-3) dan Perguruan tinggi
(M-7)
Kebutuhan
Pengembangan
Intensifikasi dan Ekstensifikasi pertanian (U-3), Peningkatan sumber daya
teknologi (U-6), Subsidi dan kemudahan – kemudahan dari pemerintah (U-8) dan
Peningkatan kualitas sumberdaya manusia (U-1)
KETERGANTUNGAN
D
A
Y
A


D
O
R
O
N
G
Linkage
Dependent
Independent
Autonomous
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

91
Hasil analisis faktor kunci dengan ISM akan di jadikan sebagai landasan
dalam analisis Internal dan eksternal dalam menentukan strategi
pengembangan agroindustri bioetanol di provinsi Lampung. Dari hasil
analisis ISM terlihat bahwa pengembangan agroindustri bioetanol di
provinsi Lampung sangat terkait dengan Kesesuaian dan ketersediaan
lahan untuk bahan baku industri bioetanol di Provinsi Lampung , Sarana
dan prasarana produksi pendukung, Dukungan pemerintah dalam
pengembangan agroindustri bioetanol, Kemampuan masyarakat dalam
menerima inovasi baru, Agroindustri bioetanol skala pabrik dapat
dikembangkan, Penunjukan Provinsi Lampung sebagai lumbung bahan
bakar nabati nasional dan peningkatan permintaan BBN (Bahan Bakar
Nabati), khususnya yang diprediksi akan terus meningkat, dan dengan
ketersediaan bahan baku, teknologi, pasar tujuan dan dukungan
finansial.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Analisis unggulan bahan baku menggunakan Metode Perbandingan
Eksponensial (MPE) menunjukkan bahwa tanaman ubi kayu
menempati unggulan teratas.

2. ISM-VAXO maka didapatkan Sub – Elemen Kunci Sistem Pengembangan
Agroindustri bioetanol di Provinsi Lampung sebagai berikut: 1). Elemen
pendukung pengembangan, dengan sub elemen kunci pendukung
pengembangannya adalah: kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk
bahan baku industri bioetanol di Provinsi Lampung (P2), sarana dan
prasaran produksi pendukung (P3), dan Dukungan pemerintah
dalam pengembangan agroindustri bioetanol (P4) sebagai elemen
kunci pendukung pengembangan agroindustri bioetanol di Provinsi
Lampung. 2) Elemen penghambat pengembangan agroindustri
bioetanol , dengan sub elemen kunci penghambat pengembangan
adalah keterbatasan modal bagi pengembangan dioetanol skala kecil
(K-1), produktivitas bahan baku rendah (K-2) dan kontinuitas bahan
baku tidak terjamin (K-9). 3) Elemen Pelaku pengembangan dengan
sub elemen kunci pelaku pengembangan adalah : Pemerintah Daerah
(m5) berada pada level tertinggi, diikuti pelaku industri bioetanol (m3) dan
perguruan tinggi (m7). 4) Elemen Kebutuhan Pengembangan dengan sub
elemen kuncikebutuhan pengembangan adalah sebagai berikut:
Intensifikasi dan ekstensifikasi (U3), Peningkatan sumberdaya
teknologi (U6) dan Subsidi dan kemudahan kemudahan dari
pemerintah ( U8)


92
Saran

1. Pemerintah Provinsi Lampung harus lebih membina kelompok tani
yang sudah ada.
2. Menerapkan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, khususnya
untuk pertanian ubi kayu
3. Memberikan pelatihan yang terpadu bagi industri bioetanol dan
memberikan penyuluhan tentang mutu bioetanol

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2008. Provinsi Lampung Dalam Angka. 2008. Bandar Lampung: CV.
Lima Saudara.
Bustaman S. 2008. Strategi Pengembangan Bio-etanol Berbasis Sagu di
Maluku. Perspektif Vol. 7 No. 2 / Desember 2008. Hlm 65 – 79.
Gumbira-Sa’id E. 2007. Bisnis Global Bioenergi Versus Ketahanan
Pangan dan Energi Nasional Tantangan dalam Mengisi Visi
Indonesia 2030. Materi Orasi Ilmiah pada Wisuda ke-7
Universitas Paramadina Jakarta, Minggu 9 September 2007.
Hassanudin, U. 2006. Strategi Pengembangan Agroindustri Ubi Kayu di
Propinsi Lampung. Laporan Pengabdian kepada Masyarakat.
LPM Unila.
Kurniawan , Y, A. Susmiadi dan A.Toharisman. 2005. Potensi
Pengembangan Industri Gula Sebagai Penghasil Energi di
Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI),
Pasuruan.
Machfud. 2001. Rekayasa Model Penunjang Keputusan Kelompok
dengan Fuzzy-logic untuk Sistem Pengembangan Agroindustri
Minyak Atsiri [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan, PT
Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta,2004.
Nurwidyastuti, I. 2006. Teknologi Proses Produksi Bio-Ethanol. Prospek
Pengembangan Bio-fuel sebagai Substitusi Bahan Bakar Minyak.
Saxena, J.P. et al, 1992. Hierarchy and Classification of Program Plan
Element Using Interpretative Struktural Modelling. Systems
Practice, Vol 12 (6), 651 : 670.
PENGUKURAN EFISIENSI KINERJA DENGAN
METODE STOCHASTIC FRONTIER APPROACH PADA
PERBANKAN SYARIAH

Ivan Gumilar SP
5
, Siti Komariah
6



ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengukur dan menganalisis
tingkat efisiensi pada Perbankan Syariah di Indonesia dengan
menggunakan Stochastic Frontier Approach (SFA) melalui pendekatan
Alternative Profit Efficiency, dimana efisiensi perbankan syariah pada
dasarnya adalah bagi-hasil yang dipengaruhi oleh fungsi 2 variabel input
yaitu Dana Pihak Ketiga, Modal disetor dan 3 variabel output seperti
Penempatan pada Bank Indonesia, Penempatan pada Bank Lain,
Pembiayaan yang diberikan. Menggunakan metode desktiptif untuk 6
Bank Syariah di Indonesia saat ini beroperasi sebagai sampel selama
rentang waktu 32 bulan (2007-2009) didapatkan bahwa secara umum
industri perbankan syariah di Indonesia selama periode yang diteliti
mengalami peningkatan efisiensi.

Kata kunci: Efisiensi Kinerja, Stochastic Frontier Approach.




I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejarah perkembangan perbankan syariah di Indonesia secara formal
dimulai dengan Lokakarya MUI mengenai perbankan pada tahun 1990,
yang kemudian diikuti dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 7
tahun 1992 tentang perbankan yang mengakomodasi kegiatan
operasional perbankan dengan prinsip bagi-hasil (Maghfirah;2005).
Namun selama periode 1992-1998 menurut Biro Perbankan Syariah Bank
Indonesia (2009) hanya terdapat satu Bank Umum Syariah dan beberapa
Bank Perkreditan Rakyat Syariah sebagai pelaku industri perbankan

5
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Bisnis dan Manajemen, Universitas Widyatama
Bandung
6
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Bisnis dan Manajemen, Universitas Widyatama
Bandung

94
syariah. Hal ini disebabkan selama enam tahun beroperasi, praktis tidak
ada peraturan perundang-undangan lainnya yang mendukung sistem
beroperasinya Perbankan Syariah. Ketiadaan perangkat legalitas
pendukung ini mengharuskan perbankan Syariah menyesuaikan
produk-produknya seperti produk bank konvensional, akibatnya ciri-ciri
syariah menjadi tersamar seperti layaknya bank konvensional, selain itu
mengenai rendahnya pengetahuan dan kesalahpahaman masyarakat
mengenai bank syariah terutama mengenai riba dengan bagi-hasil, belum
tersedianya ketentuan pelaksana terhadap operasional bank syariah,
terbatasnya jaringan kantor perbankan syariah, dan kurangnya SDM
khususnya keahlian dalam bidang perbankan syariah (ekonomi Islam).

Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah melakukan langkah-
langkah strategis dalam pengembangan perbankan syariah yaitu dengan
pemberian izin kepada bank umum konvensional untuk membuka
kantor cabang Unit Usaha Syariah (UUS) atau konversi dari sebuah bank
konvensional menjadi bank syariah (Atmawardhana;2006). Langkah
strategis ini menurut Hatifuddin (2004) merupakan respon dan inisiatif
dari perubahan Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998
sebagai pengganti UU No. 7 tahun 1992, yang secara tegas Sistem
Perbankan Syariah ditempatkan sebagai bagian dari sistim perbankan
nasional. Pada tahun 2008 Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang
Perbankan Syariah No. 21 tahun 2008, diharapkan akan memberikan
dasar hukum yang lebih kokoh dan peluang yang lebih besar dalam
pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia sehingga setara dan
sejajar dengan bank konvensional.

Dampak UU Perbankan Syariah memberikan hal yang positif, terbukti
hingga akhir tahun 2009, pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan
syariah sebesar 41,7%, dengan angka Rp.52,3 triliun. Angka
pertumbuhan 41,7% ini merupakan yang tertinggi sejak 2005. Begitupula
jika dibandingkan dengan perbankan konvensional yang hanya tumbuh
19,6%. Tetapi market share perbankan syariah terhadap bank
konvensional masih 6,4% (Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia;2009).
Lebih lanjut menurut Biro Perbankan Syariah BI menjelaskan bahwa
perkembangan jumlah kantor bank syariah hingga akhir 2009 antara lain
6 Bank Umum Syariah, 138 BPR Syariah. Dari sisi institusional
penyebaran jaringan kantor perbankan syariah juga mengalami
pertumbuhan pesat. Pada tahun 2009, outlet pelayanan mengalami
penambahan sebanyak 199 kantor. Dengan demikian, kini bank syariah
telah memiliki sekitar 3134 jaringan, dengan rincian 6 kantor Pusat Bank
Umum Syariah, 25 kantor UUS (Unit Usaha Syariah), 1223 Kantor
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

95
Cabang, 1742 office channeling (layanan bank syariah di bank
konvensional) dan 138 BPRS, hal ini terlihat pada gambar 1.


1990

1992

1998

1999

2000

2001

2002-2009
MUI
Workshop
Founding the
First Islamic
Banking
Allowed Dual
Banking
System
Monetary
Policy based on
Islamic Sharia
Principles
Issued The Law
of Operation
and Institution
Founding
BPS in
Central
Bank
Progress and
Launch
Islamic
Banking
























Gambar 1. Sejarah Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia
Sumber: Hasbi, 2010

Data Bank Indonesia (2009) menunjukkan jumlah pembiayaan yang
disalurkan oleh perbankan syariah mencapai Rp.46,9 triliun, hanya
tumbuh 22,8%, lebih rendah dari tahun 2008 sebesar 36,9%. Hal ini
dikarenakan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara
itu pertumbuhan Dana Pihak Ketiga perbankan syariah 41,7% yaitu 52,3
triliun. FDR (Financing to Deposit Rasio sebesar 89.7%, ROA perbankan
syariah mencapai 1,5%, ROE mencapai 26,1%, CAR 10,77% dan NPF
4,0%. Terlihat bahwa dari laporan keuangan Perbankan syariah tahun
2009 memiliki nilai ratio yang baik, Pembiayaan tumbuh diatas 20%, FDR
dibawah 100%, CAR dan NPF diatas ketentuan. Baiknya kinerja
perbankan syariah ini dikarenakan dilakukannya sistem manajemen tata
kelola dan melaksanakan prinsip kehati-hatian serta
mengimplementasikan manajemen risiko dengan baik (Susilo;2000).


The
Participants
agree to
found Islamic
Banking
Immediately
• Bank
Muamalat
Indonesia
found as a
first
Islamic
Bank
• Issued
Banking
Act
No.7/1992
• Banking
Act
No.10/199
8: Central
Bank
recognize
Islamic
and
Conventio
nal
Banking
• Conventio
nal Bank
allowed
open UUS
Government Law
No.10 of 1999:
• BI have
responsible on
development
and
supervisory
Islamic Bank
• BI determine
monetary policy
in Islamic
Principles
BI has research
team and Islamic
banking
arrangement
• BI create
and
determine
the law of
Islamic
banking
institution
• Develop
PUAS &
SWBI
• The Era of
progress
Islamic Banking
in Indonesia
• Many variety
and Innovation
of Islamic
Banking
Products

96
Menyadari bahwa pertumbuhan perbankan syariah nasional yang relatif
cepat setelah dikeluarkannya peraturan yang mengatur tentang
perbankan syariah, maka Biro Perbankan Syariah-Bank Indonesia sejak
tahun 2001 telah melakukan kajian dan menyusun Cetak Biru
Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia untuk periode 2002-2011.
Pada cetak biru ini terlihat jelas bahwa perbankan syariah harus
memegang teguh prinsip syariah, prinsip kehati-hatian, memberikan
manfaat bagi masyarakat dan mengembangkan sistem perbankan yang
kompetitif. Untuk menciptakan hal-hal tadi salah satu tugas berat bagi
perbankan syariah adalah harus melakukan efisiensi.

Efisiensi dalam Atmawardhana (2006) merupakan salah satu parameter
kinerja yang secara teoritis merupakan salah satu kinerja yang mendasari
seluruh kinerja sebuah organisasi. Kemampuan menghasilkan output
yang maksimal dengan input yang ada merupakan ukuran kinerja yang
diharapkan. Pada saat pengukuran efisiensi menurut Astiyah dan Jardine
(2006) bank dihadapkan pada kondisi bagaimana mendapatkan tingkat
output yang optimal dengan tingkat input yang ada, atau mendapatkan
tingkat input yang minimum dengan tingkat output tertentu.

Dengan diidentifikasikannya alokasi input dan output, dapat dianalisa
lebih jauh untuk melihat penyebab ketidakefisiensian (Iswardono dan
Darmawan;2000). Menurut mereka efisiensi dalam dunia perbankan
adalah salah satu parameter kinerja yang cukup populer, banyak
digunakan karena merupakan jawaban atas kesulitan-kesulitan dalam
menghitung ukuran-ukuran kinerja perbankan. Sering kali, perhitungan
tingkat keuntungan menunjukkan kinerja yang baik, tidak masuk dalam
kriteria “sehat” atau berprestasi dari sisi peraturan. Sebagaimana
diketahui, industri perbankan adalah industri yang paling banyak diatur
oleh peraturan-peraturan yang sekaligus menjadi ukuran kinerja dunia
perbankan (Sunendar;2005, Sudarsono;2003). Capital Adequacy Ratio
(CAR), Reserve Requirement, Legal Lending Limit dan kredibilitas para
pengelola bank adalah contoh peraturan-peraturan yang sekaligus
menjadi kriteria kinerja di dunia perbankan. Selain itu menurut Piesse
(2000), Habib dan Alexander (2000), Muhammad (2004) pengukuran
efisiensi perbankan dapat dilakukan dengan 3 pendekatan lainnya yaitu;
Data Envelopment Analysis (DEA), Stochastic Frontier Approach (SFA), dan
Distribution Free Approach (DFA).





Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

97
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk menganalisa :
1. Apakah Dana Pihak Ketiga, Modal Disetor, Penempatan pada Bank
Indonesia, Penempatan pada Bank Lain, dan pembiayaan yang
diberikan berpengaruh terhadap efisiensi perbankan syariah di
Indonesia selama ini ?
2. Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap efisiensi tersebut ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengukur tingkat
efisiensi pada Perbankan Syariah di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Perbankan Syariah, Bank Indonesia dan Pemerintah adalah
memberikan informasi tentang kinerja khususnya tingkat efisiensi
Bank Syariah di Indonesia

2. Bagi Peneliti dan peneliti selanjutnya, dengan penelitian ini
diharapkan menjadi wahana pengetahuan dan pengalaman
mengenai perbankan syariah dan diharapkan penelitian ini menjadi
pioner untuk penelitian selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perbankan Syariah

Setelah diterbitkannya Undang-Undang Perbankan No.10 tahun 1998
yang secara tegas menempatkan sistem perbankan syariah sebagai
bagian dari sistem perbankan nasional barulah terdapat perkembangan
pada perbankan syariah di Indonesia, terlebih dengan diterbitkannya
Undang-Undang Perbankan Syariah No. 21 tahun 2008, diharapkan akan
memberikan dasar hukum yang lebih kokoh dan peluang yang lebih
besar dalam pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia sehingga
setara dan sejajar dengan bank konvensional.

Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya
memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta
peredaran uang yang beroperasi disesuaikan prinsip-prinsip syariah.
(Sudarsono; 2003) Selain itu Susilo(2000) juga mendefinisikan bahwa

98
Bank Syariah adalah bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan
dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan
mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual-beli dan bagi
hasil.

Antonio dan Perwaatmadja membedakan bank syariah menjadi dua
pengertian, yaitu Bank Islam dan Bank yang beroperasi dengan prinsip
syariah Islam. Bank Islam adalah (1) bank yang beropeasi sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah Islam; (2) adalah bank yang tata cara
beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al Quran dan
Hadis. Sementara bank yang beroperasi sesuai prinsip syariah Islam
adalah bank yang dalam beroperasinya itu mengikuti ketentuan-
ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara
bermuamalat secara Islam. Dalam tata cara bermuamalat ini
menghindari praktek yang dikhawatirkan mengandung unsur riba dan
diisi dengan kegiatan-kegiatan investasi atas dasar bagi-hasil dan
pembiayaan perdagangan. (Muhammad;2005)

Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam
antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau
pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan lainnya yang dinyatakan
sesuai dengan syariah. Prinsip utama yang digunakan dalam kegiatan
perbankan syariah adalah:
1. Larangan riba dalam berbagai bentuk transaksi.
2. Melakukan kegiatan usaha perdagangan berdasarkan perolehan
keuntungan yang sah.
3. Memberikan zakat.

Oleh karena dalam operasional perbankan syariah tidak menerapkan
sistem bunga seperti bank konvensional, namun menerapkan sistem
bagi-hasil. Hal ini sesuai dengan fatwa MUI tanggal 16 Desember 2003
yang menggolongkan bunga bank termasuk riba, dan menurut Al-
Qur`an riba adalah haram. Pernyataan ini ditegaskan oleh ayat-ayat
dalam Al-Qur`an antara lain sebagai berikut:

Ajaran yang mendasar dalam islam mengenai perdagangan yang
dijelaskan dalam Al Qur'an and Hadith as follows:
• 'َ +´ ,َ أ'َ , َ ¸,ِ -´ 'ا ا,ُ -َ -اَ ء 'َ ' ا,ُ 'ُ آْ'َ - ْ»ُ ´َ 'اَ ,ْ -َ أ ْ»ُ ´َ -ْ ,َ - ِ .ِ ='َ -ْ ''ِ -
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil.” (An-Nisa: 29)

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

99
• ا,ُ 'ِ -ْ =َ 'َ · ¸ِ · ِ -َ '´ ='ا: َ -َ =َ أ َ ل'َ 'َ =ْ 'ا َ كَ ¸َ -َ و َ ماَ ¸َ =ْ 'ا
”Perbaikilah dalam mencari rezeki, dengan mengambil yang halal dan
meninggalkan yang haram. (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi dari
Jabir bin Abdullah radhiyallahuanhu.” (Al-Albani, 6/2607)

• ٍ »ْ 'ُ =ِ -َ · َ ¸ِ - َ ¸,ِ -´ 'ا اوُ د'َ ه 'َ -ْ -´ ¸َ = ْ»ِ +ْ ,َ 'َ = ٍ ت'َ - ,َ = ْ-´ 'ِ =ُ أ ْ»ُ +َ ' ْ»ِ ه -َ -ِ -َ و ْ¸َ = ِ .,ِ -َ - ِ -ا
اً ¸,ِ `َ آ. ُ »ِ هِ -ْ =َ أَ و ا'َ - ¸' ْ-َ ·َ و ا,ُ +ُ - ُ ªْ -َ = ْ»ِ +ِ 'ْ آَ أَ و َ لاَ ,ْ -َ أ ِ س'´ -'ا ِ .ِ ='َ -ْ ''ِ - 'َ -ْ-َ -ْ =َ أَ و َ ¸,ِ ¸ِ ·'َ ´ْ 'ِ '
ْ»ُ +ْ -ِ - 'ً -اَ -َ = 'ً -,ِ 'َ أ
”Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas
mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi
mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,
dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah
dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang
batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka
itu siksa yang pedih.” (An-Nisa:160-161)

• 'َ 'َ و ا,ُ 'ُ آْ'َ - ْ»ُ ´َ 'اَ ,ْ -َ أ ْ»ُ ´َ -ْ ,َ - ِ .ِ ='َ -ْ ''ِ -
”Dan jangan kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil.”
(Al-Baqarah: 188)

• ْ¸َ -َ و ِ ¸´ -َ , َ -ا ْ.َ ·ْ =َ , ُ ªَ ' 'ً =َ ¸ْ =َ -. ُ ªْ ·ُ زْ¸َ ,َ و ْ¸ِ - ُ -ْ ,َ = 'َ ' ُ -ِ -َ -ْ =َ , ْ¸َ -َ و ْ.´ آَ ,َ -َ , َ =_َ '
ِ -ا َ ,ُ +َ · ُ ªُ -ْ -َ =
”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-
sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Ath-Thalaq:2-3)

Untuk menghindari perbuatan yang dilarang dalam Al-Qur`an maupun
Al-Hadis, maka bank-bank yang menganut prinsip syariah menerapkan
prinsip bagi-hasil yang sesuai dengan syariah, inilah yang membedakan
dengan bank konvensional seperti pada Tabel 1.







100
Tabel 1. Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Conventional Banks Islamic Banks
1. The functions and operating modes of
conventional banks are based on fully
manmade principles.
1. The functions and operating modes of Islamic
banks are based on the principles of Islamic
Shariah.
2. The investor is assured of a predetermined
rate of interest.
2. In contrast, it promotes risk sharing between
provider of capital (investor) and the user of funds
(entrepreneur).
3. It aims at maximizing profit without any
restriction.
3. It also aims at maximizing profit but subject to
Shariah restrictions.
4. It does not deal with Zakat. 4. In the modern Islamic banking system, it has
become one of the service-oriented functions of
the Islamic banks to be a Zakat Collection Centre
and they also pay out their Zakat.
5. Lending money and getting it back with
compounding interest is the fundamental
function of the conventional banks.
5. Participation in partnership business is the
fundamental function of the Islamic banks. So we
have to understand our customer's business very
well.
6. It can charge additional money (penalty and
compounded interest) in case of defaulters.
6. The Islamic banks have no provision to charge any
extra money from the defaulters. Only small
amount of compensation and these proceeds is
given to charity. Rebates are give for early
settlement at the Bank's discretion.
7. Very often it results in the bank's own
interest becoming prominent. It makes no
effort to ensure growth with equity.
7. It gives due importance to the public interest. Its
ultimate aim is to ensure growth with equity.
8. For interest-based commercial banks,
borrowing from the money market is
relatively easier.
8. For the Islamic banks, it must be based on a
Shariah approved underlying transaction.
9. Since income from the advances is fixed, it
gives little importance to developing
expertise in project appraisal and
evaluations.
9. Since it shares profit and loss, the Islamic banks
pay greater attention to developing project
appraisal and evaluations.
10. The conventional banks give greater
emphasis on credit-worthiness of the clients.
10. The Islamic banks, on the other hand, give greater
emphasis on the viability of the projects.
11. The status of a conventional bank, in relation
to its clients, is that of creditor and debtors.
11. The status of Islamic bank in relation to its clients is
that of partners, investors and trader, buyer and
seller.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

101
Conventional Banks Islamic Banks
12. A conventional bank has to guarantee all its
deposits.
12. Islamic bank can only guarantee deposits for
deposit account, which is based on the principle of
al-wadiah, thus the depositors are guaranteed
repayment of their funds, however if the account is
based on the mudarabah concept, client have to
share in a loss position..
Sumber: Zaharuddin;2007
2.2 Efisiensi

Efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output)
dengan masukan (input), atau jumlah yang dihasilkan dari satu input
yang dipergunakan (Iswardono;2000). Efisiensi juga bisa diartikan
sebagai rasio antara output dengan input. Ada tiga faktor yang
menyebabkan efisiensi, yaitu (1) apabila dengan input yang sama dapat
menghasilkan output yang lebih besar, (2) input yang lebih kecil dapat
menghasilkan output yang sama, dan (3) dengan input yang lebih besar
dapat menghasilkan output yang lebih besar lagi. (Atmawardhana;2006)

Astiyah dan Jardin (2006) menyebutkan ada empat faktor yang
menyebabkan efisiensi dalam lembaga keuangan. Faktor utama adalah
efisiensi karena arbitrase informasi, kedua efisiensi karena ketepatan
penilaian asset-asetnya, ketiga adalah efisiensi karena lembaga keuangan
bank mampu mengantisipasi resiko yang muncul, dan yang keempat
adalah efisiensi fungsional, yaitu berkaitan dengan administrasi dan
mekanisme pembayaran yang dilakukan oleh sebuah lembaga keuangan.
Termasuk didalam efisiensi fungsional ini adalah risk pooling, general
insurance, administrasi, dan mobilisasi dana masyarakat.
(Sudarsono;2003)

Efisiensi bank merupakan salah satu indikator penting untuk
menganalisa performance suatu bank dan juga sebagai sarana untuk lebih
meningkatkan efektifitas kebijakan moneter. Efisiensi dapat dilihat dari 2
sisi, yaitu dari sisi biaya (cost efficiency) dan keuntungan (profit efficiency).
Profit efficiency sendiri dibedakan menjadi 2 yaitu Standard profit efficiency
dan Alternative profit efficiency

Secara umum terdapat 3 pendekatan konsep dasar model efisiensi sektor
finansial (Habib;2000) termasuk industri perbankan yaitu Cost Efficiency,
Standard Profit Efficiency, dan Alternatif Profit Efficiency.



102
(1) Cost Efficiency pada dasarnya mengukur tingkat biaya suatu bank
dibandingkan dengan bank yang memiliki biaya operasi terbaik (best
practice bank`s cost) yang menghasilkan output yang sama dengan
teknologi yang sama. Rasio cost efficiency dari suatu bank dirumuskan
sebagai berikut:


Dimana Cn adalah biaya aktual dari bank n. Cost efficiency ratio (CEFF)
adalah proporsi dari biaya atau resources yang digunakan secara efisien.
Misalnya cost efficiency ratio suatu bank sebesar 80%, hal ini menunjukkan
bahwa bank tersebut beroperasi secara efisien sebesar 80% atau terdapat
20 % biaya yang terbuang.

(2) Standard Profit Efficiency pada dasarnya mengukur tingkat efisiensi
suatu bank didasarkan pada kemampuan bank untuk menghasilkan
profit maksimal pada tingkat harga output tertentu dibandingkan
dengan tingkat keuntungan bank yang beroperasi terbaik (best practice
bank) dalam sampel. Model ini seringkali dikaitkan dengan suatu kondisi
pasar persaingan sempurna dimana harga input dan output ditentukan
oleh pasar. Dengan kata lain tidak satupun bank yang dapat menentukan
harga input maupun harga output sehingga bank bertindak sebagai price-
taking agent. Karena dalam model ini terkait bentuk pasar persaingan
sempurna (prefect market competition) maka hal ini mengindikasikan
bahwa maksimum profit hanya merupakan fungsi dari eksogen harga
output. Sehubungan dengan pendekatan cost efficiency, maka fungsi
standard profit dalam natural logarithm adalah seperti berikut:
Log π = ƒ (w,y) + log u + log v
Maka standard profit efficiency untuk bank menjadi:



Dimana ̟n adalah profit pada bank Z. standard profit efficiency merupakan
rasio dari keuntungan yang dapat diperoleh suatu bank, misalnya bank
Z dibandingkan dengan keuntungan dari bank yang paling efisien.
Misalnya dari perhitungan diatas didapatkan standard profit efficiency
sebesar 80%, hal ini berarti bahwa bank Z kehilangan 20% dari
keuntungan yang seharusnya dapat diperoleh kalau beroperasi secara
efisien. Atau dengan kata lain terdapat inefisiensi sebesar 20%.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

103
(3) Alternative Profit Efficiency seringkali dikaitkan dengan suatu kondisi
pasar persaingan tidak sempurna (imperfect market competition), dimana
bank diasumsikan memiliki market power dalam menentukan harga
output namun tidak pada harga input. Karena perbedaan jenis pasar
tersebut maka perbedaan yang paling menonjol antara kedua model ini
(standard profit efficiency dan alternative profit efficiency) adalah pada
penentuan variabel eksogen didalam pencapaian keuntungan maksimum
yaitu tingkat output. Dalam pendekatan ini bank akan memaksimalkan
keuntungan dengan memilih harga output (p), jumlah input (x), untuk
sejumlah output (y), dan harga input (r) yang telah ditetapkan. Fungsi
indirect profit yang sesuai disebut sebagai fungsi indirect profit alternative
yang dapat dituliskan sebagai berikut :

Max ̟ = P.Q = ( p, r)( y,− x)

Sejalan dengan hal ini, misalkan fungsi alternative profit sebagai berikut:

Log π = ƒ (w,y) + log u + log v

Maka alternative profit efficiency dapat dituliskan sebagai berikut:


Terdapat 2 pendekatan untuk menghitung efisiensi jika menggunakan
metode parametrik yaitu Stochastic Frontier Approach (SFA) dan
Distribution Free Approach (DFA). Metode SFA ini dikembangkan oleh
Aigner, Lovell, Schmidt (1977). Pada metode ini, profit dari suatu bank
dimodelkan untuk terdeviasi dari profit efficient frontier-nya akibat
adanya random noise dan inefisiensi. Fungsi standar Stochastic Profit
Frontier memiliki bentuk umum (log) sebagai berikut:
Log π
i
= ƒ (log Xi, log y
i
) + ei
Dimana :
πi = Total profit bank i
Xi = Input pada waktu i
Yi = Output pada waktu i
ei = error

Perhitungan efisiensi menurut Habib (2000) dengan menggunakan
metode parametrik membutuhkan suatu pendugaan fungsi biaya sebagai
frontier untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu bank, tetapi sebelum

104
menentukan fungsi biaya yang digunakan, input dan output dari bank
harus ditentukan terlebih dahulu seperti pada Gambar 2.


Gambar 2. Sistem dan Prosedur Operasional Syariah
Sumber : Muhammad, Sistem & Prosedur Operasional Bank Syariah,
2005:4

Beberapa pendekatan dalam penentuan variabel input dan output dari
bank antar lain Intermediary Approach, User-Cost Approach, dan Value
Added Approach. (Astiyah dan Jardine A. Husman;2006). Intermediary
Approach adalah penentuan variabel input dan variabel output dengan
memperhatikan fungsi bank sebagai lembaga intermediasi. User-Cost
Approach adalah penentuan variabel input dan variabel output bank
berdasarkan fungsi bank sebagai penentu harga dipasar perbankan, dan
Value Added Approach adalah penentuan variabel input dan output bank
berdasarkan tujuan bank untuk menghasilkan nilai tambah (keuntungan)
yang maksimal.

Dalam penelitian ini penentuan variabel input dan outputnya
menggunakan pendekatan Value Added Approach yang dilatarbelakangi
oleh tujuan bank yaitu selalu meningkatkan efisiesi kinerjanya secara
berkesinambungan, Variabel input dan output yang ditentukan
berdasarkan Suswadi (2007) adalah sebagai berikut:
a. Variabel Input (X) : Dana Pihak Ketiga (DPK), Modal Disetor
(MDS).
b. Variabel Output (Y) : Penempatan pada Bank Indonesia (PBI),
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

105
Penempatan pada bank lain (PBL), Pembiayaan yang diberikan
(PD).

Dijelaskan bahwa variabel-variabel input pada perbankan syariah terdiri
dari (1) Dana pihak pertama adalah berasal dari dana yang berasal dari
para pemodal, pemegang saham. (2) Dana pihak kedua adalah dana yang
berasal dari pinjaman lembaga keuangan (bank dan bukan bank),
pinjaman dari Bank Indonesia. (3) Dana pihak ketiga adalah dana yang
berasal dari dana simpanan, tabungan, dan deposito. Setelah input
terkumpul di bank, selanjutnya bank syariah dapat menghasilkan
output. Output tersebut berupa penyaluran dana kepada pihak yang
membutuhkan dalam bentuk pembiayaan, kredit dan jasa.

2.3 Hipotesis

Dalam penelitian ini, Efisiensi perbankan dengan pendekatan alternative
profit efficiency, pada dasarnya adalah bagi-hasil yang dipengaruhi oleh
fungsi variabel input dan variabel output. Karena metode SFA
merupakan fungsi log dari variabel input dan variabel output.
Berdasarkan perihal diatas, peneliti melakukan rumusan hipotesa
sebagai berikut:

H1 : Dana Pihak Ketiga, Modal Disetor, Penempatan pada Bank
Indonesia, Penempatan pada Bank Lain, dan Pembiayaan yang
Diberikan secara parsial berpengaruh terhadap Efisiensi
Perbankan Syariah di Indonesia

H2 : Secara simultan Dana Pihak Ketiga, Modal Disetor, Penempatan
pada Bank Indonesia, Penempatan pada Bank Lain, dan
Pembiayaan yang Diberikan berpengaruh terhadap Efisiensi
Perbankan Syariah di Indonesia

III. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yaitu memberikan
gambaran umum dan menjelaskan tentang data yang telah diperoleh,
dimana gambaran dan penjelasan ini bisa menjadi acuan untuk melihat
karakteristik data yang kita peroleh dan diakhiri dengan menarik
kesimpulan (Cooper;2009)





106
3.1 Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek psikologis yang dibatasi oleh kriteria
tertentu (Sekaran;2003). Pada penelitian ini populasi ditentukan pada
perbankan syariah yang terdaftar pada Bank Indonesia sebagai Bank
Sentral sekaligus sebagai pengawas perbankan di Indonesia.

Sampel penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling, yaitu
penentuan sampel dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu
(sekaran,2003), adapun yang dijadikan pertimbangan dalam penentuan
sampel penelitian ini antara lain:

1. Bank-bank Syariah yaitu Bank Umum Syariah dan Unit Usaha
Syariah
2. Telah menerbitkan laporan keuangan selama 3 tahun berturut-turut
secara bulanan dari periode pengamatan 2007-2009 (32 bulan)
3. Bank-bank tersebut tidak merger dalam periode pengamatan.

3.2 Definisi Operasional

Tabel 2. Operasionalisasi Variabel

Variabel
Penelitian
Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala
Dana Pihak
Ketiga (DPK)
Penjumlahan dari Giro
Wadiah, Tabungan
Mudharabah, dan Deposito
Mudharabah
Giro Wadiah
Tabungan Mudharabah
Deposito Mudharabah
Rupiah
(Rp)
Rasio
Modal disetor
(MDS)
Modal yang telah efektif
diterima bank sebesar nilai
nominal saham
Modal disetor
Harga Pasar Saham
Rupiah
(Rp)
Rasio
Penempatan
Pada Bank
Indonesia (PBI)
Saldo rekening giro bank
syariah dalam rupiah
maupun valuta asing di Bank
Indonesia.
Giro Wajib Minimum Rupiah
(Rp)
Rasio
Penempatan
Pada Bank
Lain (PBL)
Penanaman dana pada bank
syariah lain baik di dalam
maupun di luar negeri dalam
bentuk antara lain Sertifikat
Investasi Mudharabah Antar
Bank, deposito mudharabah,
tabungan mudharabah, giro
Sertifikat Investasi
Mudharabah
Deposito Mudharabah
Tabungan
Mudharabah
Giro Wadiah
Tabungan Wadiah
Rupiah
(Rp)
Rasio
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

107
Variabel
Penelitian
Konsep Variabel Indikator Ukuran Skala
wadiah, dan tabungan
wadiah yang dimaksud untuk
optimalisasi pengelolaan
dana.
Pembiayaan
yang
diberikan
(PD)
Penyediaan dana dan/atau
tagihan berdasarkan akad
udharabah dan/atau
musyarakah dan/atau
pembiayaan lainnya
berdasarkan prinsip bagi
hasil
Pembiayaan Rupiah
(Rp)
Rasio
Efisiensi
Kemampuan perbankan
syariah dalam menghasilkan
bagi-hasil dengan input dan
output yang telah ditetapkan
dan diukur secara relative
menurut waktu.


BOPO
ROA
Rupiah
(Rp)
Rasio
(Suswadi;2007)


3.3 Metode Analisa Data

Dalam penelitian ini digunakan perhitungan alternative profit efficiency
bank syariah dengan menggunakan metode pendekatan stochastic frontier
approach (SFA) yang menghitung deviasi dari fungsi profit yang
diestimasi terlebih dahulu dengan profit frontiernya.

Alasan peneliti menggunakan pendekatan profit efficiency dengan metode
pendekatan stochastic frontier approach (SFA) mengikuti Hadad (2003)
adalah karena pendekatan profit efficiency lebih superior dibanding
pendekatan cost efficiency.

Selain alasan diatas, pemilihan metode ini terkait dengan jenis pasar
perbankan di Indonesia yang tidak dapat diklasifikasikan dalam pasar
persaingan sempurna tetapi lebih cenderung pada pasar persaingan
tidak sempurna. Metode SFA ini dikembangkan oleh Aigner, Lovell,
Schmidt (1977). Pada metode ini, profit dari suatu bank dimodelkan
untuk terdeviasi dari profit efficient frontier-nya akibat adanya random
noise dan inefisiensi. Fungsi standar stochastic profit frontier memiliki
bentuk umum (log) sebagai berikut :


108
log ̟
i
= f (log X
i
, log Y
i
) + e
i


Dimana :
̟ = Total profit bank n
X.i = Input j pada pada bank n
Y. i = Output k pada bank n
ei = error
ei terdiri dari 2 fungsi yaitu:

e
i
= u
i
+ v
i

dimana :
ui = faktor error yang dapat dikendalikan
vi = faktor error yang bersifat random yang tidak dapat dikendalikan.
Diasumsikan bahwa v terdistribusi normal N(0,σv
2
) dan
u terdistribusi half-normal, |N(0,σv
2
)| dimana uit= (uiexp(−h(t − T )))
3

dan h adalah parameter yang akan diestimasi.

Dalam pendekatan alternative profit efficiency bank akan memaksimalkan
keuntungan dengan memilih harga output (y) dan jumlah input (X),
untuk sejumlah output (Y) dan harga input (r) yang telah ditetapkan.
Fungsi indirect profit yang sesuai disebut sebagai fungsi indirect profit
alternative yang merupakan solusi dari masalah optimasi berikut:
(Astiyah;2006)
MAX̟ = P`Q = ( p, r)( y,− x)

Sejalan dengan hal tersebut, misalkan fungsi alternative profit sebagai
berikut:
log ̟ = f(x,y) + logu + logv

dimana :
̟ = Bagi-hasil atau Efisiensi
x = Jumlah Input
y = Jumlah Output
u dan v = error

Maka alternative profit efficiency dapat dituliskan sebagai berikut :


Dimana:
Variabel Input (X) : Dana Pihak Ketiga (DPK), Modal Disetor (MDS).
Variabel Output (Y) : Penempatan pada Bank Indonesia (PBI), Penempatan pada
Bank Lain (PBL), Pembiayaan yang Diberikan (PD).
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

109
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada penelitian ini digunakan data bulanan perbankan syariah di
Indonesia (tidak termasuk BPRS) periode Januari 2007 sampai dengan
Desember 2009. Dengan metode pendekatan Stochastic Frontier Approach
(SFA) melalui alternative profit efficiency untuk menghitung tingkat
efisiensi pada perbankan syariah di Indonesia, profit dari bank syariah
dimodelkan untuk terdeviasi dari profit efficient frontier-nya akibat adanya
random noise dan inefisiensi. Sedangkan penentuan input dan outputnya
menggunakan pendekatan Value Added Approach.

Dalam penelitian ini, efisiensi bank syariah didasarkan pada kemampuan
bank syariah menghasilkan profit (bagi-hasil) dari input dan output yang
digunakan, sehingga istilah bagi-hasil ataupun efisiensi didalam
penelitian ini adalah memiliki makna yang sama. Sedangkan output (Y)
yang digunakan pada penelitian ini adalah penempatan pada Bank
Indonesia, penempatan pada bank lain, pembiayaan yang diberikan.
Sedangkan input (X) yang digunakan adalah Dana Pihak Ketiga (DPK)
terdiri dari giro wadiah, tabungan mudharabah, dan deposito
mudharabah dan modal disetor. Dengan meregresi model SFA yang
dirumuskan sebagai berikut :

log ̟
i
= f (log X
i
, log Y
i
) + e
i


Dimana ̟i adalah total profit untuk waktu ke i, Xi adalah input pada
waktu ke i, Yi adalah output pada waktu ke i, ei adalah error. Sedangkan
untuk perhitungan efisiensi, peneliti menggunakan pendekatan
alternative profit efficiency yang dirumuskan sebagai berikut:




4.1.1 Uji Asumsi Ordinary Least Square (OLS)

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan
pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi
klasik. Hasil pengujian hipotesis yang baik adalah pengujian yang tidak
melanggar empat asumsi klasik dengan menggunakan metode ordinary

110
least square (OLS) yang mendasari model regresi linier (Gujarati;1995),
hasil perhitungan ke empat asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

A. Autokorelasi

Untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi dalam penelitian ini,
digunakan uji DW dengan melihat koefisien korelasi DW test
(Cooper;2009).

Tabel 3. Tingkat Autokorelasi (Durbin Watson)
DWg Kesimpulan

< 1,10
1,10 – 1,54
1,55 – 2,46
2,47 – 2,90
> 2,91

Ada Autokorelasi
Tidak Ada Kesimpulan
Tidak Ada Autokorelasi
Tidak Ada Kesimpulan
Ada Autokorelasi


Hasil perhitungan uji autokorelasi pada industri perbankan syariah
dapat diikhtisarkan nilai Durbin Watson sebesar 1,757 yang berada pada
tingkat 1,550 – 2,460 dapat disimpulkan sesuai dengan tabel 3. bahwa
tidak ada autokorelasi pada data ini.

B. Heteroskedastisitas

Untuk menguji apakah data mengalami heteroskedastisitas atau tidak,
dilakukan dengan melihat apakah:
1. Terdapat pola tertentu seperti titik-titik, yang ada membentuk
suatu pola tertentu yang beraturan seperti bergelombang, melebar,
menyempit, diartikan bahwa data telah terjadi heteroskedastisitas.
2. atau tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar ke atas dan
dibawah 0 (nol) pada sumbu Y, diartikan tidak terjadi
heteroskedastisitas.

Pada gambar 3, titik-titik menyebar ke atas dan di bawah 0 (nol) pada
sumbu Y serta tidak tampak adanya suatu pola tertentu pada sebaran
data tersebut. Berdasarkan analisis ini disimpulkan bahwa data tidak
terdapat heteroskedastisitas.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

111
2 1 0 -1 -2
Regression Standardized Predicted Value
3
2
1
0
-1
-2
R
e
g
r
e
s
s
i
o
n

S
t
u
d
e
n
t
i
z
e
d

D
e
l
e
t
e
d
(
P
r
e
s
s
)

R
e
s
i
d
u
a
l
Dependent Variable: Log_LR
Scatterplot

Gambar 3. Hasil Uji Heteroskedastisitas

C. Multikolinearitas

Cooper (2009) mengemukakan bahwa multikolinearitas dapat di deteksi
dengan cara:
1. Nilai deskriminasi yang sangat tinggi dan diakui dengan nilai F
test yang sangat tinggi, serta tidak atau hanya sedikit nilai t test
yang signifikan.
2. Meregresikan model analisis dan melakukan uji korelasi antar
variable dependent dengan menggunakan Variance Inflating
Factor (VIF) dan Tolerance Value (TV). Batas VIF adalah 10 dan TV
adalah 0,1 jika nilai VIF lebih besar dari 10 dan nilai Tolerance
Value lebih kecil dari 0,1 maka terjadi multikolinearitas.

Hasil perhitungannya terlihat pada Tabel 5. dimana kelima variable
dependent tersebut memiliki Variance Inflating Factor (VIF) < 10 dan
Tolerance Value (TV) > 0,1 maka dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat gejala multikolinearitas pada data penelitian ini.

Tabel 4. Ikhtisar Uji Multikolinearitas

Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
Log_PBI
Log_PBL
Log_PD
Log_DPK
Log_MDS
,843
,401
,249
,310
,715
1,856
4,907
7,301
6,078
5,830
a. dependent varoables: P_Saham1

112
D. Normalitas

Uji normalitas adalah menguji apakah model regresi, variabel
independen, dan variabel dependen memiliki distribusi data normal atau
tidak. Uji normalitas dilakukan dengan uji kolmogorov-smirnov satu
arah atau analisis grafis. Jika residual berasal dari distribusi normal,
maka nilai-nilai sebaran data akan terletak disekitar garis lurus, dalam
penelitian ini menggunakan analisis grafis.

Gambar 4. memperlihatkan bahwa sebaran data bisa dikatakan tersebar
disekeliling garis lurus (tidak terpencar jauh dari garis lurus) sehingga
dapat dikatakan bahwa persyaratan normalitas terpenuhi.


Gambar 4. Hasil Uji Normalitas

Dari hasil uji keempat analisis Ordinary Least Square (OLS) ini, cukup
menyimpulkan bahwa data penelitian ini berdistribusi normal dan dapat
dilanjutkan untuk mendapatkan model keuangan melalui analisis regresi
berganda dan menguji hipotesis penelitian ini.

4.1.2 Hasil Pengujian Regresi Berganda

Dengan memasukkan variabel input dan variabel output yang telah
ditentukan ke dalam model regresi, persamaan SFA dapat dituliskan
kembali menjadi:

log LR = β0 + β1 log DPK + β2 log MDS + β3 log PBI + β4
log PBL + β5 log PD + ei

Dimana:
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

113
LR = Bagi-hasil/Rugi Perbankan
DPK = Dana Pihak Ketiga yang terdiri atas Giro Wadiah,
Tabungan Mudharabah, Deposito Mudharabah
MDS = Modal Disetor
PBI = Penempatan pada Bank Indonesia
PBL = Penempatan pada bank lain
PD = Pembiayaan diberikan
ei = error

Hasil perhitungan data yang terdiri dari: Dana Pihak Ketiga, Modal
Disetor, Penempatan pada Bank Indonesia, Penempatan pada Bank Lain
dan Pembiayaan Diberikan periode 2007-2009 dengan menggunakan
program SPSS seperti pada Tabel 5 dan Tabel 6.

Tabel 5. Rumusan Regresi Berganda & Pengujian Hipotesis
Coefficients
a
165,402 ,014 ,101 ,040 -,031 -,288
68,707 ,032 ,156 ,015 ,017 ,106
,171 ,363 ,612 -1,977 -,738
2,407 2,444 ,649 1,730 -1,948 -2,726
,022 ,046 ,621 ,049 ,025 ,011
25,085 -,079 -,421 -,034 -,003 -,504
305,720 ,051 ,218 ,027 ,066 -,072
,345 ,522 ,652 ,639 ,343
,081 ,118 ,342 -,320 -,446
,050 ,073 ,226 -,207 -,306
,843 ,401 ,249 ,310 ,715
1,856 4,907 7,301 6,078 5,830
B
Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta Standardized Coefficients
t
Sig.
Lower Bound
Upper Bound
95% Confidence Interval
for B
Zero-order
Partial
Part
Correlations
Tolerance
VIF
Collinearity Statistics
(Constant) Log_PBI Log_PBL Log_PD Log_DPK Log_MDS
1
Model
Dependent Variable: Log_LR
a.

Hasil regresi pada Tabel 5. dapat dituliskan kembali dalam suatu model
keuangan, yaitu sebagai berikut:

log LR = 165,4024 + 0,1713 log PBI + 0,3631 log PBL + 0,6122 log PD
– 1,9771 log DPK – 0,7384 log MDS + ei

Dalam persamaan regresi di atas, konstanta LR adalah sebesar 165,4024.
Hal ini berarti apabila variabel input dan variabel output (dana pihak
ketiga, modal disetor, penempatan pada Bank Indonesia, penempatan
pada bank lain, pembiayaan diberikan) dianggap konstan (tetap atau
dianggap 1) maka perbankan syariah akan mengalami bagi-hasil sebesar
Rp. 346736,850 milyar (anti log 165,4024 = 346736,850).


114
Tabel 6. Korelasi dan Kontribusi antar Variabel
Model Summary
b
,789
a
,623
,560
90,408
,623
9,914
5
30
,000
1,757
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
R Square
Change
F Change
df1
df2
Sig. F Change
Change Statistics
Durbin-Watson
1
Model
Predictors: (Constant), Log_MDS, Log_PBI,
Log_PD, Log_PBL, Log_DPK
a.
Dependent Variable: Log_LR
b.

Jika persamaan di atas ditulis kembali dalam persamaan antilog maka
akan menjadi:

LR = 165,402 . PBI
0,171
. PBL
0,363
. PD
0,612
. DPK
– 1,977
. MDS

0,738


Dengan memasukkan persamaan antilog di atas ke dalam persamaan di
bawah ini (pendekatan alternative profit efficiency) maka dapat dituliskan
kembali menjadi:

Dengan memasukkan data-data ke dalam rumus di atas, didapatkan
efisiensi perbankan seperti pada Tabel 7.

Tabel 7. Efisiensi Perbankan Syariah Nasional Periode 2007-2009

Periode 2007 2008 2009
Januari 93,3054 82,3282 87,2043
Februari 92,8436 80,8523 86,9023
Maret 94,2018 81,3956 85,3428
April 94,7253 81,7495 90,2311
Mei 95,5396 82,6382 90,8664
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

115
Periode 2007 2008 2009
Juni 93,7935 80,8942 91,1869
Juli 92,5392 80,2146 90,9824
Agustus 90,4283 79,6928 91,7243
September 89,8355 79,1734 92,0462
Oktober 92,8454 82,4728 92,5881
Nopember 93,5683 82,8946 92,7937
Desember 95,2341 84,4854 93,2016
Rata2 93,2383 81,5660 90,4225
Sumber: data diolah kembali

Telihat bahwa secara umum rata-rata efisiensi perbankan syariah
mengalami fluktuasi tiap tahunnya, hal ini dikarenakan adanya krisis
ekonomi di Amerika dan Eropa yang sedikit banyak mempengaruhi
perekonomian dunia juga Indonesia karena 90% lalu lintas pembayaran
di dunia menggunakan Dollar Amerika (USD) dan Euro Eropa (EUR) .
rata-rata efisiensi perbankan syariah nasional pada tahun 2007 sebesar
93,238% namun turun 13% di tahun 2008 dengan rata-rata sebesar
81,566% karena pengaruh krisis dunia, dan selanjutnya di tahun 2009
mengalami kenaikan efisiensi kembali sebesar 11% di tahun 2009 dengan
rata-rata sebesar 90,423%. Namun sesungguhnya dengan efisiensi rata-
rata di atas 80% tersebut dapat disimpulkan Perbankan Syariah dalam
menjalankan operasionalnya sudah sangat efisien sesuai dengan ukuran
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu 80%.

4.1.3 Pengujian Variabel

A. Uji Koefisien Determinasi (R
2
)

Pada Tabel 6 menunjukkan besarnya koefisien determinasi (Adjusted R
2
)
adalah 0,560 yang menunjukkan variabel bebas secara bersama-sama
mempengaruhi variabel tidak bebas sebesar 56% sisanya sebesar 44%
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model
penelitian. Artinya variabel input dan output yang dimasukkan (Dana
Pihak Ketiga, Modal Disetor, Penempatan pada BI, Penempatan pada
Bank Lain, dan Pembiayaan yang Diberikan) secara bersama-sama
mempengaruhi bagi-hasil perbankan syariah sebesar 56% dan sisanya
sebesar 44% dipengaruhi variabel lain yang tidak dimasukkan dalam
model persamaan regresi diatas.



116
B. Uji Keseluruhan (Uji F)

Hasil uji F diperoleh Fhitung sebesar 9,914 lebih besar dari Ftabel 2,69
dengan N1 (k-1) = 4 dan N2 (n-k) = 31. Karena Fhitung lebih besar dari
Ftabel maka H0 ditolak dan H1 diterima, atau dapat diartikan bahwa
secara bersama-sama variabel input dan output (Dana Pihak Ketiga,
Modal Disetor, Penempatan pada BI, Penempatan pada Bank Lain, dan
Pembiayaan Diberikan) berpengaruh terhadap efisiensi perbankan
syariah di Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh nilai probabilitas (sig.)
sebesar 0,00 yang lebih kecil dari tingkat signifikansinya (α) sebesar 5%.

Uji Parsial (Uji t)

Pada Tabel 8. terlihat bahwa secara parsial (individu) terdapat 3 variabel
yang signifikan terhadap efisiensi perbankan syariah yaitu Pembiayaan
yang Diberikan, Dana Pihak Ketiga dan Modal Disetor, serta 2 variabel
yang tidak signifikan yaitu Penempatan pada Bank Indonesia dan
Penempatan pada Bank Lain, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 8. Hasil Pengujian Hipotesis (Uji t dan Uji F)

Model Koef. Reg t_hitung t_tabel Sig. Kriteria #1 Kriteria #2 Kesimpulan
Constant 165,402 2,407 1,697 0,022
Log_PBI 0,171 1,444 1,697 0,460 t_hitung < t_tabel Sig. > 5% Ho Diterima
Log_PBL 0,363 0,649 1,697 0,521 t_hitung < t_tabel Sig. > 5% Ho Diterima
Log_PD 0,612 1,730 1,697 0,020 t_hitung > t_tabel Sig. < 5% H1 Diterima*
Log_DPK -1,977 -1,948 -1,697 0,025 t_hitung > t_tabel Sig. < 5% H1 Diterima*
Log_MDS -0,738 -2,726 -1,697 0,011 t_hitung > t_tabel Sig. < 5% H1 Diterima*

Sumber: data diolah kembali

1. Penempatan pada Bank Indonesia; terlihat bahwa nilai thitung lebih
kecil dari ttabel (1,444 < 1,697) disimpulkan bahwa secara statistik
Penempatan Dana pada Bank Indonesia tidak signifikan
berpengaruh terhadap efisiensi perbankan syariah. Hal ini mungkin
disebabkan karena bunga SBI yang selama ini selalu konstan dilevel
6,25, sehingga bank menjadi kurang tertarik lagi dan lebih
mengoptimalkan pengucuran dananya dalam bentuk pembiayaan
yang lebih memberikan bagi-hasil yang lebih besar dan tentu saja
masih dalam rambu-rambu yang berprinsip kehati-hatian.

2. Penempatan pada Bank Lain; jika dilihat dari perbandingan nilai
thitung terhadap ttabel didapati bahwa nilai thitung lebih kecil dari
ttabel (0,649 < 1,697), disimpulkan bahwa penempatan dana pada
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

117
bank lain tidak berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi
perbankan syariah di Indonesia. Hal ini mungkin disebabkan karena
dana yang ditempatkan pada bank lain tersebut tidak produktif,
tidak diinvestasikan pada jangka waktu pendek atau menengah, atau
disebabkan sedikitnya jumlah dana yang ditempatkan pada bank
lain sehingga bagi hasil yang didapat tidak berpengaruh signifikan
terhadap bagi-hasil bank syariah.

3. Pembiayaan yang Diberikan; jika dilihat dari sisi statistik, bahwa
variabel ini berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi pada
perbankan syariah di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai
thitung terhadap ttabel, dimana nilai thitung lebih besar dari ttabel
(1,730 > 1,697). Variabel ini berpengaruh positif terhadap bagi-hasil
sebesar 0,612 artinya apabila pembiayaan yang diberikan bertambah
1% maka bagi-hasil perbankan syariah juga bertambah sebesar
0,612% dan sebaliknya apabila pembiayaan yang diberikan turun
sebesar 1% maka bagi-hasil perbankan syariah juga akan turun
sebesar 0,612%. Penyebab dari adanya pengaruh yang signifikan
terhadap bagi-hasil perbankan syariah di Indonesia karena
Perbankan syariah berhasil dalam melakukan pembiayaan yang
tepat dan berprinsip kehati-hatian kepada debiturnya, sehingga
memberikan bagi-hasil yang besar bagi bank.

4. Dana Pihak Ketiga; dilihat dari nilai thitung terhadap ttabel dimana
nilai thitung lebih besar dari ttabel (-1,948 > -1,697) disimpulkan
bahwa variabel ini secara statistik berpengaruh signifikan terhadap
efisiensi perbankan syariah. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
hampir semua dana pihak ketiga yang dapat disalurkan kepada
debitur dalam bentuk Pembiayaan dan dikarenakan tepat sasaran
memberikan tingkat pengembalian yang lancar yang berdampak
pada besarnya bagi-hasil yang menguntungkan kedua belah pihak
umumnya, dan bagi perbankan syariah khususnya sehingga secara
signifikan mempengaruhi bagi-hasil perbankan syariah.

5. Modal Disetor; dilihat dari nilai thitung terhadap ttabel dimana nilai
thitung lebih besar dari ttabel (-2,726 > -1,697) disimpulkan bahwa
variabel modal disetor secara statistik berpengaruh signifikan
terhadap efisiensi perbankan syariah. Variabel ini berpengaruh
negatif terhadap bagi-hasil perbankan syariah di Indonesia sebesar
0,738. Artinya apabila modal disetor bertambah 1%, maka bagi-hasil
perbankan syariah akan turun sebesar0,738% dan sebaliknya apabila
modal disetor berkurang 1% maka bagi-hasil perbankan syariah akan
bertambah sebesar 0,738%.

118
4.2 Pembahasan Penelitian

Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa dengan metode pendekatan SFA
dan alternative profit efficiency, secara umum Perbankan Syariah selama
tahun 2007-2009 telah mengalami efisiensi rata-rata sebesar 88,41%. Hal
ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Astiyah (2006)
yang menyebutkan bahwa secara rata-rata efisiensi untuk tahun 2001-
2004 adalah sebesar 91,4% dan 92,4% juga penelitian Suswadi (2007)
untuk rentang 2003-2006 dengan efisiensi sebesar 90,12%, 94,45%, 94,62%,
dan 98,29%. Pada tahun 2007 hingga 2009 rata-rata efisiensi pertahunnya
sebesar 93,24%, 81,57% dan 90,42%, terlihat adanya penurunan efisiensi
di tahun 2008 dikarenakan adanya krisis ekonomi di dunia yang melanda
amerika dan eropa yang secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi
perekonomian di dalam negeri, namun hal tersebut tidak lama, karena
ditahun 2009 perekonomian Indonesia sudah pulih kembali terlihat
dengan meningkatnya efisensi di tahun tersebut sebesar 90,42%.
Perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Astiyah, Suswadi dan
peneliti lainnya adalah variabel input dan output yang digunakan serta
penekanan pada fungsi intermediasi perbankan. Dalam penelitian
Astiyah (2006) lebih menekankan efisiensi setiap bank dan penekanan
fungsi intermediasi, Suswadi (2007) lebih menekankan pada efisiensi
yang diteliti lebih bersifat umum pada perbankan syariah (keseluruhan
perbankan syariah yang beroperasi di Indonesia tetapi tidak termasuk
BPRS) dan pada penelitian ini menekankan pada efisiensi funding dan
lending yag menyangkut pada inflow dan outflow dari suatu
operasionalisasi perbankan syariah.

Tabel 9. Rata-rata Efisiensi yang terjadi pada Perbankan Syariah
Nasional Periode 2007-2009

2007 2008 2009 Rata2
93,2383 81,5660 90,4225 88,4089


Terlihat pada Tabel 10. Pertumbuhan efisiensi pada tahun 2008 terjadi
perlambatan dengan rata-rata 12,51% terhadap tahun 2007, dimana
perlambatan tertinggi terjadi pada bulan Juni sebesar 13,75% dan
perlambatan terendah pada bulan Oktober sebesar 11,17%. Pada tahun
2009 terjadi perbaikan efisiensi setelah dihantam krisis ekonomi dunia
dengan kenaikan rata-rata sebesar 10,88% dengan kenaikan tingkat
efisiensi tertinggi januari 5,92%. Hal ini menunjukkan perekonomian kita
secara umumnya sudah pulih dari gangguan krisis dunia dan lebih
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

119
spesifik lagi bahwa efisiensi Perbankan Syariah Nasional sudah baik
terlihat dari rata-rata efisiensi operasional diatas 80%.

Tabel 11. Pertumbuhan Efisiensi yang terjadi pada Perbankan
Syariah Nasional Periode 2007-2009

P e r i o d e 2 0 0 8 20 0 9 R a t a 2
J a n u a ri - 1 1, 7 6 % 5, 9 2 % - 2 , 92 %
F e b ru a r i - 1 2, 9 2 % 7, 4 8 % - 2 , 72 %
M a r et - 1 3, 5 9 % 4, 8 5 % - 4 , 37 %
A pr i l - 1 3, 7 0 % 1 0, 3 8 % - 1 , 66 %
M e i - 1 3, 5 0 % 9, 9 6 % - 1 , 77 %
J u n i - 1 3, 7 5 % 1 2, 7 2 % - 0 , 51 %
J u l i - 1 3, 3 2 % 1 3, 4 2 % 0 , 05 %
A gu s t u s - 1 1, 8 7 % 1 5, 1 0 % 1 , 61 %
S ep t e m b er - 1 1, 8 7 % 1 6, 2 6 % 2 , 20 %
O k t ob e r - 1 1, 1 7 % 1 2, 2 7 % 0 , 55 %
N op e m b er - 1 1, 4 1 % 1 1, 9 4 % 0 , 27 %
D es e m b e r - 1 1, 2 9 % 1 0, 3 2 % - 0 , 48 %
R at a 2 - 1 2, 5 1 % 1 0, 8 8 % - 0 , 81 %

Sumber: data diolah kembali

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisa efisiensi perbankan syariah di Indonesia khususnya
Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) dengan
metode pendekatan SFA periode bulan Januari 2007 sampai dengan
Desember 2009 dengan menggunakan variabel input dan otput secara
berurutan adalah dana pihak ketiga (DPK), modal disetor (MDS),
penempatan pada Bank Indonesia (PBI), penempatan pada bank lain
(PBL), dan pembiayaan yang diberikan (PD) dapat disimpulkan sebagai
berikut:

1. Selama periode Januari 2007 sampai dengan Desember 2009
Perbankan Syariah di Indonesia telah mengalami efisiensi yang
berfluktuatif dikarenakan adanya krisis ekonomi dunia di awal tahun
2008. Total rata-rata efisiensi sebesar 88,41% tiap tahunnya. Dengan
efisiensi rata-rata tahun 2007, 2008 dan 2009 sebesar 93,24%, 81,57%
dan 90,42%.

2. Hipotesis secara simultan menyatakan bahwa semua variabel input
dan output berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi
perbankan syariah. Artinya variabel yang digunakan pada penelitian
ini berpengaruh terhadap bagi-hasil pada perbankan syariah di

120
Indonesia. Besarnya pengaruh variabel yang digunakan terhadap
bagi-hasil perbankan syariah adalah sebesar 56%.

3. Berdasarkan hasil uji parsial dapat diketahui bahwa variabel-variabel
yang digunakan ada yang tidak berpengaruh terhadap efisiensi
perbankan syariah. Variabel tersebut antara lain Penempatan pada
Bank Indonesia dan Penempatan pada Bank Lain, sedangkan variabel
yang berpengaruh terhadap efisiensi pada perbankan syariah antara
lain Modal Disetor, Dana Pihak Ketiga dan Pembiayaan yang
Diberikan.

4. Meskipun Modal Disetor, Dana Pihak Ketiga dan Pembiayaan yang
Diberikan dalam penelitian ini berpengaruh terhadap efisiensi
perbankan syariah, namun variabel Modal Disetor dan DPK
berpengaruh negatif pada perbankan syariah di Indonesia. Sedangkan
Penempatan pada Bank Indonesia dan Pembiayaan yang Diberikan
sama-sama berpengaruh positif terhadap efisiensi pada perbankan
syariah di Indonesia.

5. Secara umum efisiensi perbankan syariah di Indonesia selama periode
yang diteliti mengalami peningkatan kualitas, kecuali tahun 2008.

5.2. Saran

Dari kesimpulan di atas ada beberapa saran yang penulis ingin
sampaikan, diantaranya:

1. Dana Pihak Ketiga dan Modal Disetor hendaknya dapat dikendalikan,
karena kedua variabel ini dalam operasional perbankan syariah
selama ini memiliki hubungan yang negatif terhadap efisiensi
perbankan syariah. Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya dana
pihak ketiga dan modal yang masuk tetapi tidak diimbangi dengan
penyaluran pembiayaan kepada debitur, sehingga bagi-hasil yang
diterima perbankan tidak seimbang dengan biaya bagi-hasil yang
harus diberikan kepada debitur yang akhirnya dapat mengurangi
bagi-hasil yang akan diperoleh oleh perbankan syariah.

2. Penempatan pada Bank Indonesia dan Penempatan pada Bank Lain
seharusnya dikurangi karena tidak memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap penerimaan bagi-hasil, atau penempatan dana ke
bank lain harus melihat bank mana yang mampu memberikan potensi
bagi-hasil yang paling optimal.

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

121
3. Untuk mendapatkan efisiensi yang optimal, perbankan syariah di
Indonesia seharusnya lebih meningkatkan pembiayaan kepada
debitur yang berpengaruh besar terhadap bagi-hasil yang diperoleh
perbankan syariah selama ini namun tetap berprinsip prudent.

DAFTAR PUSTAKA

Astiyah, Siti, and Jardine A. Husman, (2006), “Fungsi Intermediasi Dalam
Efisiensi Perbankan di Indonesia: Deviasi Fungsi Profit,” Buletin
Ekonomi Moneter dan Perbankan, Volume 8, No. 4, Hal 529-
543,Bank Indonesia, Jakarta
Atmawardhana, Angga., (2006), ”Analisis Efisiensi Bank Umum Syariah dan
Bank Konvensional yang Memiliki Unit Usaha Syariah di Indonesia,
setelah pemberlakuan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan (Pendekatan Data Envelopment Analysis),” Fakultas
Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Bader, M. K., Shamsher, M. and Taufiq, (2007). “Cost, Revenue, and Profit
Efficiency of Conventional versus Islamic Banks: Evidence from the
Middle East”. Paper Accepted for Presentation in the IIUM
International Conference on Islamic Banking and Finance, April
23-25 in Kuala Lumpur, Malaysia
Bank Indonesia, (2001), “Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah
Indonesia,” Bank Indonesia, Jakarta
Bank Indonesia, (2009), ”Laporan Perkembangan Perbankan Syariah Tahun
2009,” Bank Indonesia, Jakarta
Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia, (2009), ”Statistik Perbankan
Syariah; Januari 2007-Desember 2009,” Bank Indonesia, Jakarta
Cooper, Donald R. and Pamela S. Schindler, (2009), Business Research
Methods. 10th Ed. HD 30.4 E47. Tata McGraw-Hill Publising
company Ltd., New Delhi
Habib, Michel A. and Alexander P. Ljungqvist., (2000), “Firm Value and
Managerial Incentives: A Stochastic Frontier Approach,”
www.finance.ox.ac.uk
Hatifuddin, (2004), “Pengaruh kebijakan Bank Indonesia Terhadap Perkembangan
Syariah di Indonesia,” Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta
Iswardono S, Permono and Darmawan, (2000), “Analisis Efisiensi Industri
perbankan di Indonesia” (studi kasus Bank-Bank Devisa di Indonesia
Tahun 1991-1996), Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Universitas
Gajah Mada, Yogyakarta

122
Maghfirah, Ester Dwi, (2005), “Prospek Perbankan Syariah Pasca Fatwa
MUI,” Jakarta
Muhammad, (2004), “Manajemen Dana Bank Syariah,” Ekonisia,
Yogyakarta
Nachrowi, D. Nacrowi and Hardius Usman, (2006), ”Pendekatan Populer
dan Praktis EKONOMETRIKA Untuk Analisis Ekonomi dan
Keuangan,” Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta
Piesse, Jennifer dan Colin Thirtle (2000), “A Stochastic Frontier Approach to
Firm Level Efficiency, Technological Change and Productivity During
the Early Transition in Hungary,” Journal of Comparative Economics
Sekaran, Uma, (2003), Research Method for Business, Wiley and Son,
New York
Sudarsono, Heri, (2003), Bank dan Lembaga Keuangan Syariah; Deskripsi
dan Ilustrasi, Ekonesia, Yogyakarta
Sunendar, Anen, (2005), ”Analisa Kesehatan Finansial pada PT. Bank
Muamalat Indonesia Periode Tahun 1998-2003,” Fakultas Ekonomi,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta
Susilo, Sri., at all, (2000),Bank & Lembaga Keuangan Lain, Salemba
Empat, Jakarta
Suswadi, (2007), “Analisis Efisiensi Perbankan Syariah di Indonesia
(Metode Stochastic Frontier Approach),” UMM, Malang
Yudistira, D., (2003), “Efficiency in Islamic Banking: An empirical analysis of
18 Banks.” Unpublished paper, Leicestershire: Department of
Economics, Loughborough University, UK

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP
HARGA SAHAM (STUDI PADA SUB SEKTOR
PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA)

Sendi Gusnandar Arnan
7
, Shinta Dewi Herawati
8



ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kinerja
keuangan perbankan yang diukur dengan metode CAMEL yang
diproksikan dengan Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Risked Assets
(RORA), Net Profit Margin (NPM), Return On Assets (ROA), Operating
Expense to Operating Income (OEOI) dan Loan to Deposits Ratio (LDR) serta
pengaruhnya terhadap harga saham sub sektor perbankan yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia. Dengan menggunakan metode desktiptif untuk
23 perusahaan perbankan sebagai sampel dan menganalisis item-item
dari laporan keuangan per bulannya selama rentang waktu 32 bulan
(periode 2007 sampai dengan 2009) didapatkan hasil penelitian dimana
secara parsial CAR, RORA dan LDR berpengaruh secara signifikan
terhadap perubahan harga saham perbankan dan secara simultan
variabel: CAR, RORA, NPM, ROA, OEOI, dan LDR berpengaruh secara
signifikan terhadap harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia.

Kata kunci: Kinerja Keuangan, CAMEL, Harga Saham.



I. LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang

Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsinya berasaskan prinsip
kehati-hatian (prudent). Menurut UU Perbankan No. 10 Tahun 1998 Bab II
Pasal 3, fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun
dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan
pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas
nasional ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak (pasal 4).


7
Dosen Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Widyatama Bandung
8
Dosen Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Widyatama Bandung

124
Perjalanan industri perbankan Indonesia selama tahun 2001-2004
menurut Komatsu (2005), Okuda dan Yasushi (2005) mengalami
perbaikan kinerja yang signifikan setelah berakhirnya krisis ekonomi
yang melanda Indonesia pada tahun 1997-2000, dimana puncak dari
semuanya ditandai dengan keberhasilan beberapa bank besar
mencatatkan sahamnya di bursa dengan permintaan oversubscribed yang
berarti kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan telah pulih
kembali. Hal ini tercermin pada laba perbankan secara nasional pada
tahun 2004 mencapai Rp. 29,4 triliun dengan tingkat NPL hanya sebesar
4,50%. Kondisi yang kondusif tersebut didukung oleh stabilitas nilai
rupiah dan suku bunga SBI yang sangat rendah (sekitar 5%-6%),
sehingga ekspansi kredit di tahun 2004 mencapai 27% dan LDR
perbankan menjadi 49,95% dibandingkan LDR tahun 2000 yang hanya
33,41%.

Meski di goyang krisis kembali pada tahun 2008 oleh krisis global yang
diawali oleh sub-prime mortgage di Amerika yang berakibat
bangkrutnya Lehman Brothers, salah satu lembaga keuangan terbesar di
dunia yang harus ikut dipertanggungjawabkan oleh Citibank, JP
Morgan, dan Earns & Young (Kompas, Sabtu, 13 Maret 2010). Sepanjang
tahun 2009 sektor perbankan menunjukkan kinerja yang sangat baik,
terlihat dari indikator rasio kecukupan modal (CAR) per akhir Agustus
2009 sebesar 17,12% jauh di atas syarat CAR minimum 8%, walau
indikator lainnya seperti Loan to Deposit Ratio (LDR) menurun, jika di
bulan Agustus 2008 LDR Bank Umum sebesar 79,02%, pada Juli 2009
turun menjadi 73,20%. Hal ini tercermin pada pertumbuhan penyaluran
kredit yang melambat dari 38% pada Oktober 2008 menjadi hanya 9,6%
pada September 2009. Berdasarkan hasil riset Morgan Stanley
menunjukkan bahwa peran perbankan Indonesia hanya sebesar 26
persen dari PDB nasional, dibandingkan negara-negara Asia seperti Cina
dan India bisa berperan hingga 60% dari PDB negaranya, masalah ini
adalah akibat indikasi masih tinggginya risiko pasar dari krisis global,
dan sikap kehati-hatian pelaku perbankan di Indonesia yang tercermin
masih sangat tingginya suku bunga pinjaman sehingga kurangnya minat
debitur untuk meminjam dana dari perbankan walau spread dengan BI
rate sudah sangat besar.

Uraian ini menjadi cerminan bahwa dinamika bank-bank dalam
menjalankan fungsinya sebagai intermediasi dan dalam rangka
meningkatkan kinerja perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, diharapkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat
sebagai pihak ke-3. Data pada Tabel 1 memperlihatkan fungsi perbankan
sebagai intermediasi serta perkembangan kinerjanya dari sisi:
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

125
penyaluran dana kepada masyarakat, penempatan dana di SBI,
pertumbuhan aset perusahaan, jumlah bank serta pertumbuhan jumlah
kantor cabang. Penyaluran dana kepada masyarakat oleh bank umum
pada tahun 2005 terhadap tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar
22,2%, dan simpanan bank pada surat berharga di Bank Indonesia
berkurang 42,3%, sumber dana dari pihak ke-3 naik 16,1% begitu pula
dengan aset perusahaan meningkat 15,5% dikarenakan penambahan
kantor cabang sebanyak 4,1% walau ada 2 Bank Umum yang dilikuidasi
pada tahun 2005 ini. Hal serupa dengan BPR terjadi kenaikan dan
penurunan seperti Bank Umum, hanya pada tahun 2005 ini sebanyak 149
BPR yang dilikuidasi, jumlah likuidasi BPR terbanyak hingga 2009.

Pada tahun-tahun berikutnya (2006-2009) kredit yang disalurkan oleh
bank umum tumbuh positif rata-rata 19,1%, namun pada lelang SBI
tahun 2006 terjadi aksi beli yang sangat signifikan dibandingkan tahun
sebelumnya, 2005 yaitu sebesar 230,1% hal ini dimungkinkan karena
biaya modal untuk pihak ke-3 cukup rendah, sehingga memberikan
spread yang tinggi terhadap SBI, namun ditahun 2008 hal ini normal
kembali sejalan dengan mulai naiknya suku bunga pihak ke-3, dan
pelaku perbankan mulai mengurangi pembelian SBI. Sumber dana pihak
ke-3 juga tumbuh dari tahun ke tahun dikarenakan kepercayaan
masyarakat terhadap dunia perbankan yang meningkat, selain dari
iming-iming hadiah dan suku bunga yang cukup tinggi serta service/jasa
yang diberikan sangat baik dan memadai.

Tabel 1. Kegiatan Usaha Perbankan
Dalam Miliar Rp.
2004 2005 2006 2007 2008 2009
Penyaluran Dana
Bank Umum 932.971 1.140.278 1.380.373 1.702.520 2.015.221 2.282.179
Bank Perkreditan Rakyat 15.145 18.096 21.904 26.549 31.313 36.076
SBI dan SBIS 94.068 54.256 179.045 203.863 166.518 212.116
Sumber Dana
Bank Umum 1.105.769 1.283.480 1.468.369 1.718.965 1.990.345 2.180.934
Bank Perkreditan Rakyat 12.911 15.453 18.733 22.629 26.345 30.367
Jumlah Aset
Bank Umum 1.272.081 1.469.827 1.693.850 1.986.501 2.310.567 2.534.106
Bank Perkreditan Rakyat 16.707 20.393 23.045 27.741 32.533 37.554
Jumlah Bank
Bank Umum 133 131 130 130 124 121
Bank Perkreditan Rakyat 2.158 2.009 1.890 1.817 1.772 1.733
Jumlah Kantor
Bank Umum 7.939 8.236 9.110 9.690 12.010 12.837
Bank Perkreditan Rakyat 3.472 3.110 3.173 3.250 3.367 3.644
Indikator

Sumber: Bank Indonesia; 2010

126
Gambaran ini menandakan bahwa perbankan Indonesia mulai menapaki
kembali fungsinya setelah krisis moneter, dan terlihat kembalinya tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan, sebagai akibat
dari performa atau kinerja perbankan yang bagus sehingga respon dari
masyarakat juga bertambah baik (Martono;2002).

Dari sisi pasar modal, industri perbankan merupakan salah satu sub
sektor dari sektor keuangan selain lembaga pembiayaan, perusahaan
efek, asuransi dan institusi keuangan lainnya. Menurut Siamat (2003)
Industri perbankan memainkan peran penting dalam perekonomian
yaitu sebagai lembaga finansial yang menyalurkan dana dari pihak-
pihak yang kelebihan dana ke perusahaan yang memerlukan dana
untuk pengembangan usahanya. Bank yang dapat selalu menjaga
kinerjanya dengan baik, maka nilai saham dari bank yang bersangkutan
di pasar sekunder dan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil
dikumpulkan akan naik. Kenaikan nilai saham dan jumlah dana pihak
ketiga ini merupakan salah satu indikator naiknya kepercayaan
masyarakat kepada bank yang berkinerja baik.

Informasi mengenai kinerja perusahaan (analisis fundamental) dapat
diperoleh investor melalui analisis terhadap laporan keuangan yang
dipublikasikan perusahaan. Jogianto (1998) menambahkan bahwa
berbagai pengumuman dapat mempengaruhi harga dari sekuritas di
antaranya (1) pengumuman yang berhubungan dengan laba (earnings
related announcements dan (2) pengumuman terkait dengan pendanaan
(financing announcement) yang berhubungan dengan ekuitas, utang, sewa-
guna, persetujuan standby credit. Baik buruknya kinerja perusahaan dapat
dijadikan sebagai tolok ukur bagi investor dalam menentukan pembelian
saham perusahaan. Tentunya investor akan menjatuhkan pilihannya
pada saham yang memiliki reputasi yang baik karena investor ingin
memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi dari investasinya.

Helfert, (1999) mengemukakan bahwa dalam menilai kinerja perusahaan
yang paling berkepentingan adalah pihak-pihak yang berhubungan
dengan perusahaan tersebut dalam hal ini investor, manajer, kreditor,
pemerintah dan masyarakat umum. Mereka akan menilai perusahaan
dengan ukuran keuangan tertentu sesuai dengan tujuannya, begitu pula
khalayaknya di industri perbankan yang memerlukan kepercayaan yang
tinggi oleh masyarakat guna mempertahankan dan meningkatkan
kelangsungan bisnisnya. Ketentuan tingkat kinerja bank dimaksudkan
agar dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi pihak-pihak yang
berkepentingan tersebut.

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

127
Kinerja bank berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004
tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Umum, pada dasarnya adalah menilai berbagai aspek yang berpengaruh
terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank, yaitu: Permodalan
(capital), Aktiva produktif (assets), Manajemen (management), Rentabilitas
(earning), dan Likuiditas (likuidity) yang biasa disebut CAMEL. Kelima
aspek tersebut menggunakan rasio keuangan.

Tabel 2. Kinerja Bank Umum

Dalam %
Indikator 2004 2005 2006 2007 2008 2009
CAR 19,42 19,30 21,27 19,30 16,76 17,42
KAP 3,05 4,30 3,91 3,03 2,95 2,83
ROA 3,46 2,56 2,64 2,78 2,33 2,60
BOPO 76,64 89,50 85,98 84,05 88,59 86,63
LDR 49,96 59,66 61,56 66,32 74,58 72,88

Sumber: Bank Indonesia; 2010

Kinerja Bank Umum dalam Tabel 2, memperlihatkan CAR dari tahun ke
tahun (2004-2008) cenderung menurun (rata-rata sebesar 3,2%) dan mulai
meningkat kembali di tahun 2009 sebesar 17,42%, Aktiva Produktif yang
Disesuaikan (APYD) cenderung menurun hingga 2009 (rata-rata sebesar
4,2%), begitu pula ROA dan BOPO di tahun 2004-2008 menurun
(berkinerja kurang baik dengan rata-rata 4%) namun di tahun 2009 ke
dua rasio itu mulai membaik (ROA meningkat 11,6% dan BOPO turun
menjadi 2,2%), yang berarti kinerja perbankan di tahun 2009 mulai
membaik, rasio LDR cenderung meningkat dari tahun 2004-2009 yang
berarti bank-bank mengambil risiko kekurangan likuiditas, namun di sisi
lain fungsi menyalurkan dana kepada masyarakat (landing/pemberian
kredit) berjalan sangat signifikan, disimpulkan bahwa kinerja Bank
Umum selama periode 2004-2008 mengalami penurunan kinerja dan
mulai pulih kembali di tahun 2009.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan rencana penelitian ini
guna menjawab permasalahan penelitian pada latar belakang di atas,
antara lain:

1. Bagaimana hubungan kinerja perbankan yang diukur melalui
metode CAMEL yang diproksikan dengan: CAR, RORA, NPM, ROA,
BOPO, dan LDR terhadap harga saham sub sektor perbankan di
Bursa Efek Indonesia (BEI) baik secara parsial maupun simultan?

128
2. Bagaimana pengaruh kinerja perbankan yang diukur melalui metode
CAMEL yang diproksikan dengan: CAR, RORA, NPM, ROA, BOPO,
dan LDR terhadap harga saham sub sektor perbankan di Bursa Efek
Indonesia (BEI) secara simultan?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui dan menjawab hubungan kinerja perbankan yang
diukur dengan metode CAMEL yang diproksikan dengan CAR,
RORA, NPM, ROA, OEOI dan LDR baik secara parsial maupun
simultan, serta pengaruhnya terhadap harga saham sub sektor
perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia.

2. Diharapkan dapat memberikan kontribusi hasil literatur sebagai
bukti empiris di bidang akuntansi, keuangan dan pasar modal serta
memberi masukan kepada regulator dalam pembuatan keputusan
mengenai kinerja sub sektor perbankan.

1.4 Kerangka Pemikiran

Bank sebagai lembaga keuangan yang menganut dasar falsafah
kepercayaan, harus mampu mengelola seluruh aspek usahanya agar
dapat menunjukkan kinerja yang dikategorikan sehat dan dapat terus
menjaganya. Salah satu metode yang ditetapkan oleh bank Indonesia
dalam pengukuran kesehatan suatu bank adalah menggunakan rasio
CAMEL. Penilaian kesehatan bank ini pada prinsipnya merupakan
kepentingan pemilik dan pengelolaan bank, masyarakat pengguna jasa
bank maupun pengawas dan pembina bank (Kuncoro, 2002).

Menurut Siamat (1993), ketentuan penilaian tingkat kesehatan bank
dimaksudkan untuk dapat digunakan sebagai:

a. Standar bagi manajemen bank untuk menilai apakah pengelolaan
bank telah dijalankan sesuai dengan asas-asas perbankan yang sehat
dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
b. Standar untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan
bank baik secara individual maupun untuk industry perbankan
secara keseluruhan.

Tingkat kesehatan bank pada dasarnya dinilai pendekatan kualitatif dan
kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan
perkembangan suatu bank. Rasio CAMEL yang diterapkan pada
penelitian ini tidak sepenuhnya sama dengan Ketentuan tentang Tata
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

129
Cara Pengukuran Kesehatan Bank yang telah ditetapkan oleh Bank
Indonesia, mengingat laporan keuangan yang dipublikasikan oleh pihak
bank tidak sepenuhnya memuat data-data yang diperlukan dalam
perhitungan.

Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia
No.6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian
Tingkat Kesehatan Bank Umum, ketentuan ini merupakan
penyempurnaan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia melalui
Surat Edaran 26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993. Sistem penilaian tingkat
kesehatan bank tersebut diatas kemudian dikenal dengan CAMEL.

Penilaian kesehatan bank meliputi 5 aspek yaitu:

1. Capital, untuk rasio kecukupan modal
2. Assets, untuk rasio kualitas aktiva
3. Management, untuk menilai kualitas manajemen
4. Earning, untuk rasio-rasio rentabilitas bank
5. Liquidity, untuk rasio-rasio likuiditas bank

Pentingnya penelitian tentang rasio keuangan perbankan dalam
kaitannya dengan harga saham karena rasio keuangan perbankan sedikit
berbeda dengan rasio keuangan jenis perusahaan lain (Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan No. 31/2009), khususnya rasio CAMEL.
Dengan menggunakan metode CAMEL maka kinerja keuangan
perusahaan dapat diketahui sehingga para investor juga bisa melihat
kondisi perusahaan. Dengan mengetahui kondisi perusahaan maka
dapat mengambil keputusan menyangkut investasinya pada perusahaan
yang lebih memberikan keuntungan dengan tingkat resiko yang rendah.
Selain itu perusahaan dapat mengetahui seberapa besar kinerja yang
telah dihasilkan sehingga tujuan untuk kemakmuran pemegang saham
dapat dicapai.

Secara umum Adnyani (2004) mengatakan semakin baik keuangan
perusahaan dan semakin banyak keuntungan yang dinikmati oleh
pemegang saham, kemungkinan harga saham akan naik. Tetapi saham
yang memiliki tingkat keuntungan yang baik juga bisa mengalami
penurunan harga. Hal ini dapat disebabkan oleh keadaan pasar saham.






130
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kinerja Keuangan

Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 87/KMK.01/2009
tanggal 24 Maret 2009, bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah
prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam periode tertentu yang
mencerminkan tingkat kesehatan dari perusahaan tersebut.

Ada 2 (dua) macam ukuran kinerja yang dapat digunakan secara
kuantitatif menurut Hanafi (2003), yaitu:

a. Ukuran kriteria tunggal; Ukuran kriteria tunggal (single criteria)
adalah ukuran kinerja yang hanya menggunakan satu ukuran untuk
menilai kinerja manajer. Kelemahan apabila kriteria tunggal
digunakam untuk mengukur kinerja yaitu orang akan cenderung
memusatkan usahanya pada kriteria pada usaha tersebut sehingga
akibatnya kriteria lain diabaikan, yang kemungkinan memiliki arti
yang sama pentingnya dalam menentukan sukses atau tidaknya
perusahaan.
b. Ukuran kriteria beragam; Ukuran kriteria beragam (multiple criteria)
adalah ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran
untuk memperhitungkan bobot masing-masing ukuran dan
menghitung rata-ratanya sebagai ukuran yang menyeluruh kinerja
manajer. Kriteria gabungan ini dilakukan karena perusahaan
menyadari bahwa beberapa tujuan lebih penting dibandingkan
dengan tujuan yang lain, sehingga beberapa perusahaan
memberikan bobot angka tertentu pada beragam kriteria untuk
mendapatkan ukuran tunggal kinerja manajer.

Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu aspek yang
fundamental mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dapat
dilakukan berdasarkan analisis rasio keuangan perusahaan dalam suatu
periode. Dalam penelitian Zainuddin dan Jogiyanto (1999) juga Sudayasa
(2003) menyatakan bahwa beberapa rasio keuangan yang biasa
digunakan dalam melakukan analisis fundamental adalah Price Earning
Ratio (PER), Return On Investment (ROI), Current Ratio (CR), Debt to
Equity Ratio (DER), dan Total Assets Turnover.

Khusus untuk lembaga keuangan, dalam rangka melakukan analisis
fundamental perlu dipertimbangkan rasio-rasio keuangan CAMEL, yaitu
Capital, Asset Quality, Management, Earning Ability, Liquidity. Rasio-rasio
keuangan CAMEL merupakan faktor-faktor keuangan yang dipakai
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

131
dasar menilai tingkat kesehatan bank oleh Bank Indonesia (SK Bank
Indonesia No.30/12/KEP/DIR, tanggal 30 April 1997 junto SE Bank
Indonesia No. 6/23/DPNP, tanggal 31 Mei 2004 (Budisantoso;2006).
Tujuan penilaian ini adalah (1) untuk memastikan bahwa pengelolaan
bank telah dilakukan sejalan dengan asas-asas perkreditan yang sehat
dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan (2) untuk menetapkan
dasar arah pembinaan dan pengembangan, baik secara individual
maupun industri perbankan secara menyeluruh. Bila lembaga keuangan
bank meningkat kesehatannya diharapkan kinerjanya juga meningkat
sehingga menunjang reputasinya, terutama bagi bank yang terdaftar di
pasar modal. Kinerja bank yang baik tentu akan memberikan keyakinan
investor untuk bisa memperoleh return saham yang memadai.

Perhitungan rasio keuangan dengan menggunakan metode CAMEL
(Siamat, 1993), dapat dijabarkan sebagai berikut:

A. Capital

Capital dapat dihitung dengan menggunakan CAR (Capital Adequacy
Ratio). Rasio ini digunakan sebagai indikator terhadap kemampuan bank
menutupi penurunan aktiva akibat terjadinya kerugian-kerugian atas
aktiva bank dengan menggunakan modalnya sendiri. CAR merupakan
perbandingan antara modal sendiri dengan Aktiva Tertimbang Menurut
Resiko (ATMR).


B. Assets

Kinerja keuangan dari segi asset diukur melalui kualitas aktiva
produktifnya. Salah satu rasio yang digunakan adalah RORA (Return On
Risked Assets). RORA adalah rasio yang membandingkan antara laba
kotor dengan besarnya risked assets yang dimiliki. Laba kotor adalah hasil
pengurangan pendapatan terhadap biaya sedangkan risked assets terdiri
atas surat berharga dan kredit yang disalurkan. Nilai RORA yang tinggi
mengindikasikan bahwa pendapatan yang diterima besar sehingga laba
yang diperoleh juga optimal dan berpengaruh pada kenaikan harga
saham.




132
C. Management

Untuk mengukur tingkat kinerja manajemen, dapat dilakukan dengan
perhitungan NPM (Net Profit Margin). NPM merupakan rasio keuangan
yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari
kegiatan operasional pokok bank. Rasio ini menggambarkan tingkat
keuntungan (laba) yang diperoleh bank dibandingkan dengan
pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya (Payamta dan
Machfoedz, 1999:87). NPM ini berfungsi untuk mengukur tingkat
kembalian keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya. Menurut
Ang, 1997 semakin besar nilai NPM berarti semakin efisien biaya yang
dikeluarkan yang berarti semakin besar tingkat kembalian keuntungan
bersih. Nilai NPM berada pada rentang 0 sampai 1, semakin mendekati 1
maka semakin efisien penggunaan biaya, yang berarti bahwa besar
tingkat kembalian keuangan (return) yang akan diikuti tingginya harga
saham.



D. Earning

Terdapat dua rasio yang dapat menjelaskan kinerja keuangan bank dari
segi earning atau rentabilitasnya, yaitu:

1) ROA (Return On Asset)

ROA atau rasio laba bersih terhadap total aktiva. Menurut Susilo
(2000:37) ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui
kemampuan bank menghasilkan keuntungan secara relatif
dibandingkan dengan nilai total assetnya. Rasio ini sangat
penting, mengingat keuntungan yang memadai diperlukan
untuk mempertahankan sumber-sumber modal bank.



2) BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional)
BOPO merupakan perbandingan antara biaya operasional
terhadap pendapatan operasional.

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

133


E. Liquidity

Rasio liquidity dapat diukur dengan menggunakan rasio salah satunya
LDR (Loan to Deposit Ratio). LDR merupakan rasio antara kredit dengan
dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, maka akan memberikan
indikasi rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal
ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai
kredit semakin besar.



Yang termasuk dalam pos dana pihak ketiga antara lain Giro, Deposito
berjangka, Sertifikat deposito, Kewajiban jangka pendek lainnya.

2.2 Harga Saham

Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan berbentuk
Perseroan Terbatas. Harga suatu saham sangat erat kaitannya dengan
harga pasar suatu saham. Harga dasar suatu saham merupakan harga
perdananya. Indigo (2009) menyatakan bahwa harga saham yang sering
dipergunakan dalam suatu penelitian umumnya menggunakan harga
penutupan (closing price) hari yang sama dan sangat jarang sekali
menggunakan harga pembukaan (opening price), harga yang sedang
berjalan (spot), harga tertinggi maupun harga terendah. Perubahan harga
saham dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran yang
terjadi di pasar sekunder. Semakin banyak investor yang ingin membeli
atau menyimpan suatu saham, maka harganya akan semakin naik. Dan
sebaliknya jika semakin banyak investor yang menjual atau melepaskan
maka akan berdampak pada turunnya harga saham (Bawazier). Harga
saham merupakan nilai suatu saham yang mencerminkan kekayaan
keuangan perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut.

Faktor- faktor yang mempengaruhi perubahan harga saham menurut
Kasmir (2002) selain faktor eksternal yang dipengaruhi oleh kekuatan
permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar sekunder juga
dipengaruhi faktor internal, beliau menambahkan bahwa faktor yang
mempengaruhi perubahan harga saham secara internal adalah kinerja

134
keuangan perusahaan yang dicerminkan dalam rasio-rasio keuangan,
antara lain:

1. Rasio Likuiditas
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa likuid suatu bank.
Dalam rasio ini terdiri dari beberapa jenis rasio yaitu: Banking ratio,
Asset to loan ratio, Loan to deposit ratio, Quick ratio, Investing policy ratio,
Investment portfolio ratio, cash ratio, Investment risk ratio, liquidity risk
ratio, credit risk ratio, deposit risk ratio.

2. Rasio Solvabilitas
Rasio ini bertujuan untuk mengukur efisiensi bank dalam
menjalankan aktivitasnya. Dalam rasio ini terdiri dari berberapa jenis
yaitu: capital adequacy ratio, primary ratio, risk assets ratio, secondary risk
ratio, capital ratio.

3. Rasio Rentabilitas
Rasio rentabilitas bertujuan untuk mengukur efektivitas bank dalam
mencapai tujuannya. Dalam rasio ini terdiri dari: Net profit margin,
gross profit margin, leverage multiplier, return on equity, return on assets,
net income on total assets, interest margin on loan, assets utilization, rate
return on loan, interest expense ratio.

Secara umum Adnyani (2004) mengatakan semakin baik keuangan
perusahaan dan semakin banyak keuntungan yang dinikmati oleh
pemegang saham, kemungkinan harga saham akan naik. Tetapi saham
yang memiliki tingkat keuntungan yang baik juga bisa mengalami
penurunan harga. Hal ini dapat disebabkan oleh keadaan pasar saham.

Penelitian-penelitian sebelumnya yang didukung dalam penelitian ini
mengenai pengaruh variabel keuangan terhadap harga saham di Bursa
Efek Indonesia telah banyak dilakukan. Astuti (2002) dalam Jurnal
Ekonomi dan Akuntansi (2002) melakukan penelitian tentang analisis
CAR, ROA, Net Profit Margin (NPM) dan Loan to Deposit Ratio (LDR)
terhadap harga pasar saham perusahaan perbankan di BEI, hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa LDR secara signifikan
mempengaruhi harga pasar saham namun untuk ROA hasilnya tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap harga pasar saham. Selain itu
menurut Sari (2004) melakukan penelitian variabel CAR, ROA, LDR dan
BOPO. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa variabel-variabel
tersebut secara signifikan berpengaruh terhadap harga saham. Silalahi
(1991) menunjukkan bahwa rate of return on assets, devidend pay out ratio,
volume perdagangan saham dan tingkat suku bunga deposito secara
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

135
bersama-sama mempengaruhi harga saham. Sulaiman (1995)
menunjukkan bahwa return on assets, devidend pay out ratio, leverage,
tingkat pertumbuhan, likuiditas, struktur modal dan tingkat bunga
deposito secara simultan berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan
secara parsial ROA, tingkat pertumbuhan, likuiditas, tingkat bunga
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

Leki (1997) menunjukkan hasil bahwa variabel fundamental dan teknikal
secara bersama-sama mempengaruhi harga saham, variabel tersebut
adalah return on invesment, devidend pay out ratio, tingkat bunga,
likuiditas, volume penjualan saham, harga saham masa lalu, dan capital
gain on loss. Sparta (2000) dengan menggunakan sampel 13 bank yang go
publik tahun 1992-1996 menunjukkan hasil bahwa secara simultan rasio
ROA, DPR, dan debt to equity (DE) mempunyai pengaruh signifikan
terhadap price to book value (PBV), namun apabila pengujian secara
parsial hanya ROA yang memiliki pengaruh 10% terhadap PBV.

Pentingnya penelitian tentang rasio keuangan perbankan dalam
kaitannya dengan harga saham karena rasio keuangan perbankan sedikit
berbeda dengan rasio keuangan jenis perusahaan lain (Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan No. 31/2009), khususnya rasio CAMEL.
Dengan menggunakan metode CAMEL maka kinerja keuangan
perusahaan dapat diketahui sehingga para investor juga bisa melihat
kondisi perusahaan. Dengan mengetahui kondisi perusahaan maka
dapat mengambil keputusan menyangkut investasinya pada perusahaan
yang lebih memberikan keuntungan dengan tingkat resiko yang rendah.
Selain itu perusahaan dapat mengetahui seberapa besar kinerja yang
telah dihasilkan sehingga tujuan untuk kemakmuran pemegang saham
dapat dicapai.

III. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yaitu untuk
memberikan gambaran umum dan menjelaskan tentang data yang telah
diperoleh, dimana gambaran dan penjelasan ini bisa menjadi acuan
untuk melihat karakteristik data yang kita peroleh dan diakhiri dengan
menarik kesimpulan (Cooper;2009)

3.1 Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek psikologis yang dibatasi oleh kriteria
tertentu (Rasyid, 1994). Pada penelitian ini populasi sektor perbankan
yang listing di Bursa Efek Indonesia sebanyak 29 bank, dimana proses

136
identifikasi populasinya adalah perusahaan perbankan yang termasuk
dalam sub sektor perbankan yang telah terdaftar selama periode 2007
sampai dengan 2009.

Sampel penelitian ini ditentukan dengan metode purposive sampling, yaitu
penentuan sampel dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu
(Sugiyono;2007), adapun yang dijadikan pertimbangan dalam penentuan
sampel pada penelitian ini antara lain:

1. Sampel yang digunakan adalah bank-bank pada sub sektor
perbankan yang terdaftar sejak tahun 2007 -2009 di Bursa Efek
Indonesia (BEI)
2. Telah menerbitkan laporan keuangan selama 3 tahun berturut-
turut dari periode pengamatan
3. Bank-bank tersebut tidak merger dalam periode pengamatan
4. Tidak delisting selama periode tersebut untuk menghindarkan
survivorship bias dalam hasil penelitian
5. Tersedia closing price saham bulanan

Berdasarkan populasi penelitian yang terdiri dari 29 bank yang listed,
yang memenuhi seluruh kriteria dalam penelitian ini sebanyak 23 bank
sebagai sampel.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari berbagai sumber, antara lain:
1. Bank Indonesia
2. Bapepam-LK
3. Bursa Efek Indonesia

3.3 Operasionalisasi Variabel

Tabel 3. Operasionalisasi Variabel

Variabel
Penelitian
Konsep Variabel Indikator & Formulasi Ukuran Skala
Permodalan
diproksikan
dengan:


Kemampuan bank
menutupi penurunan
aktiva akibat terjadinya
kerugian-kerugian atas
aktiva bank dengan
menggunakan modalnya
sendiri
Perbandingan antara jumlah
modal sendiri dengan total
aktiva

Persen (%) Rasio
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

137
Variabel
Penelitian
Konsep Variabel Indikator & Formulasi Ukuran Skala
Capital Adequacy
Ratio (CAR)
X1
(SE BI No. 6/23DPNP
tanggal 31 Mei 2004)

Aset diproksikan
dengan:
Return on Risked
Assets (RORA)
X2
Kemampuan bank dalam
berusaha
mengoptimalkan aktiva
yang mengandung risiko
untuk memperoleh laba
(SE BI No. 6/23DPNP
tanggal 31 Mei 2004)
Perbandingan antara laba
sebelum pajak dengan aktiva
produktif

Persen (%) Rasio
Manajemen
diproksikan
dengan:
Net Profit Margin
(NPM)
X3
Mengukur tingkat
kembalian keuntungan
bersih terhadap
penjualan bersihnya
(SE BI No. 6/23DPNP
tanggal 31 Mei 2004)
perbandingan antara laba
bersih dengan
pendapatan/laba operasi

Persen (%) Rasio
Earnings
diproksikan
dengan:
Return on Assets
(ROA)
X4
Mengukur efektivitas
perusahaan dalam
memanfaatkan seluruh
sumber daya guna
mengukur kemampuan
menghasilkan
keuntungan
(SE BI No. 6/23DPNP
tanggal 31 Mei 2004)
Perbandingan antara laba
bersih dengan total aktiva

Persen (%) Rasio
Earnings
diproksikan
dengan:
Beban
Operasional
terhadap
Pendapatan
Operasional
(BOPO)
X5
Mengukur tingkat dan
distribusi bank dalam
melakukan kegiatan
operasinya

(SE BI No. 6/23DPNP
tanggal 31 Mei 2004)

perbandingan antara operation
expense dengan operation
income


Persen (%) Rasio
Likuiditas
diproksikan
dengan:
Kemampuan bank
membayar kembali
penarikan-penarikan
Perbandingan antara jumlah
kredit yang diberikan dengan
jumlah dana pihak ke tiga
Persen (%) Rasio

138
Variabel
Penelitian
Konsep Variabel Indikator & Formulasi Ukuran Skala

Loan to Deposit
Ratio (LDR)
X6
yang dilakukan oleh
nasabah dan deposan
dengan mengandalkan
kredit yang diberikan
sebagai sumber
likuiditasnya
(SE BI No. 6/23DPNP
tanggal 31 Mei 2004)


Harga Saham
Perusahaan
Perbankan
Y
Data yang telah terjadi
dan mencerminkan
keadaan keuangan
(SE BI No. 6/23DPNP
tanggal 31 Mei 2004)
Harga Penutupan
(closing price)
Pt
Persen (%) Rasio

3.4 Metode Analisis

Pengujian terhadap hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis
regresi berganda yang dibantu SPSS 13.0 for Windows . Analisis regresi
berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara harga saham
sebagai variabel dependen dengan variabel kinerja perbankan (CAR,
RORA, NPM, ROA, BOPO, LDR) sebagai variabel independen.

Hasil regresi berganda memberikan suatu bentuk model keuangan yang
diharapkan dapat memprediksi antara variabel dalam penelitian ini
dengan lebih baik, yang dituliskan sebagai berikut:


Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + β5 X5 + β6 X6 + e7

Dimana:
Y : Harga Saham
α : Konstanta
β1 …β6 : Koefisien regresi masing-masing variabel independen
X1 : CAR
X2 : RORA
X3 : NPM
X4 : ROA
X5 : BOPO
X6 : LDR

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

139
Sebelum dilakukan pengujian dengan menggunakan regresi berganda,
data terlebih dahulu di uji normalitas, autokorelasi, heteroskedastisitas
dan multikolinearitas untuk memenuhi asumsi klasik regresi.

3.5 Hipotesis

Dari latar belakang permasalahan dan beberapa penelitian sebelumnya
serta kerangka pemikiran yang digambarkan pada rencana penelitian ini,
penulis merumuskan 7 hipotesis penelitian untuk di uji, yaitu sebagai
berikut:
H1 : CAR berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham Perbankan
H2 : RORA berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham
Perbankan
H3 : NPM berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham Perbankan
H4 : ROA berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham Perbankan
H5 : BOPO berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham Perbankan
H6 : LDR berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham Perbankan
H7 : Kinerja Perbankan yang diukur melalui metode CAMEL yang
diproksikan dengan: CAR, RORA, NPM, ROA, BOPO, dan LDR
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Perusahaan yang digunakan sebagai sampel pada penelitian ini sebanyak
23 perusahaan perbankan yang berada pada subsektor keuangan di
Bursa Efek Indonesia periode 2007 sampai dengan 2009, antara lain:

Tabel 4. Perusahan Perbankan sebagai Sampel

No Ticker Nama Perusahaan
1 BABP Bank Bumiputera Indonesia Tbk.
2 BACA Bank Capital Indonesia Tbk.
3 BAEK Bank Ekonomi Raharja Tbk
4 BBKP Bank Bukopin Tbk
5 BBNI Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
6 BBNP Bank Nusantara Parahyangan, Tbk.
7 BBRI Bank Rakyat Indonesia Tbk.
8 BCIC Bank Century Tbk.
9 BDMN Bank Danamon Tbk.

140
No Ticker Nama Perusahaan
10 BEKS Bank Eksekutif InternasionalTbk.
11 BKSW Bank Kesawan Tbk.
12 BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk.
13 BNBA Bank Bumi Arta Tbk.
14 BNGA Bank CIMB Niaga Tbk.
15 BNII PT Bank Internasional Indonesia Tbk.
16 BNLI Bank Permata Tbk.
17 BSWD Bank Swadesi Tbk.
18 MAYA Bank Mayapada International Tbk.
19 MCOR Bank Windu Kentjana Int'l Tbk.
20 MEGA Bank Mega Tbk.
21 NISP Bank OCBC NISP Tbk.
22 PNBN Bank Pan Indonesia Tbk.
23 SDRA Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk.


4.1.1 Deskripsi Variabel Penelitian

a. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Rasio ini digunakan sebagai indikator terhadap kemampuan bank
menutupi penurunan aktiva akibat terjadinya kerugian-kerugian atas
aktiva bank dengan menggunakan modalnya sendiri. Hasil deskriptif
CAR diketahui bahwa dari 23 perusahaan perbankan rata-rata (mean)
CAR tahun 2007 sebesar 20,09% begitu pula dengan 2008 sebesar 16,72%
dan 20,72% ditahun 2009, ini menandakan rata-rata perbankan telah
mengikuti ketentuan CAR dari Bank Indonesia minimum 8%. CAR
terkecil pada tahun 2008 sebesar 0,2% oleh Bank Mayapada International
Tbk. dan CAR terbesar pada tahun 2009 oleh Bank Bumi Artha Tbk.
sebesar 44,34%.

Tabel 5. Deskripsi CAR

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
CAR_07 23 ,03 47,29 20,0904 10,10298
CAR_08 23 ,02 41,98 16,7261 7,68085
CAR_09 23 ,02 44,34 20,7265 14,98587
Valid N (listwise) 23


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

141
b. Return On Risked Assets (RORA)

RORA adalah rasio yang membandingkan antara laba kotor dengan
besarnya risked assets yang dimiliki. Laba kotor adalah hasil
pengurangan pendapatan terhadap biaya sedangkan risked assets terdiri
atas surat berharga dan kredit yang disalurkan. Hasil deskriptif RORA
diketahui bahwa dari 23 perusahaan perbankan rata-rata (mean) RORA
tahun 2007 sebesar 23,23% begitu pula dengan 2008 sebesar 20,46% dan
17,98% ditahun 2009, ini menandakan rata-rata RORA perbankan
memberikan kontribusi gross income rata-rata 20% dari asset
berisikonya. RORA terkecil pada tahun 2009 sebesar 0,6% oleh Bank
Mayapada International Tbk. dan terbesar pada tahun 2007 oleh Bank
Danamon Tbk. sebesar 36,30%.

Tabel 6. Deskripsi RORA

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
RORA_07
23 ,09 36,30 23,2330 7,17562
RORA_08
23 ,07 30,92 20,4674 7,09956
RORA_09
23 ,06 28,50 17,9804 6,08536
Valid N (listwise)
23

c. Net Profit Margin (NPM)

Net Profit Margin digunakan untuk mengukur tingkat kinerja manajemen.
Rasio ini mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income
dari kegiatan operasional pokok bank. Hasil deskriptif NPM diketahui
dari 23 perusahaan perbankan rata-rata NPM tahun 2007 sebesar 7,40%
di tahun 2008 sebesar 6,59% dan 6,62% ditahun 2009. NPM terkecil pada
tahun 2008 sebesar 0,27% oleh Bank Bumiputera Indonesia Tbk. dan
terbesar pada tahun 2009 oleh Bank Ekonomi Raharja Tbk. sebesar
15,34%.

Tabel 7. Deskripsi NPM

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
NPM_07
23 1,97 14,83 7,4000 4,21738
NPM_08
23 ,27 15,29 6,5974 4,30362
NPM_09
23 ,96 15,34 6,6278 4,73119
Valid N (listwise)
23



142
d. Return On Assets (ROA)

ROA merupakan indikator yang menggambarkan bukan hanya
kemampuan manajemen memperoleh laba, tapi juga mengukur
kemampuan untuk mengendalikan seluruh biaya-biaya operasional dan
non operasional. Hasil deskriptif ROA diketahui dari 23 perusahaan
perbankan rata-rata (mean) ROA tahun 2007 sebesar 1,03% di tahun 2008
sebesar 0,84% dan 0,71% ditahun 2009. ROA terkecil pada tahun 2009
sebesar 0,05 oleh Bank Eksekutif Internasional Tbk. dan terbesar pada
tahun 2007 oleh Bank Danamon Tbk. sebesar 2,37%.

Tabel 8. Deskripsi ROA

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
ROA_07
23 ,05 2,37 1,0365 ,67099
ROA_08
23 ,07 2,05 ,8409 ,86343
ROA_09
23 ,06 1,92 ,7187 ,85785
Valid N (listwise)
23

e. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Diketahui dari 23 perusahaan perbankan rata-rata BOPO tahun 2007
sebesar 72,01% pada tahun 2008 sebesar 74,13% dan 75,31% ditahun 2009,
terilihat dari rata-rata ini operasional perbankan Indonesia sudah efisien
seperti yang diharapkan oleh Bank Indonesia maksimum 80%.

Efisiensi terkecil oleh Bank Rakyat Indonesia Tbk. pada tahun 2007
sebesar 47,71% dan yang paling tidak efisien terbesar terjadi pada tahun
2009 oleh Bank Internasional Indonesia Tbk. sebesar 95,66%.

Tabel 9. Deskripsi BOPO

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
BOPO_07
23 47,71 90,92 72,0135 11,80632
BOPO_08
23 49,88 92,06 74,1313 11,54945
BOPO_09
23 52,63 95,66 75,3191 12,74615
Valid N (listwise)
23

f. Loan To Deposits Ratio (LDR)

LDR merupakan rasio antara kredit yang diberikan dengan dana pihak
ketiga. Rasio ini menunjukkan kemampuan likuiditas bank untuk
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

143
menjadikan kreditnya sebagai sumber likuiditas. Hasil deskriptif LDR
dari 23 perusahaan perbankan rata-rata (mean) LDR 2007 sebesar 58,38%
di tahun 2008 sebesar 66,01% dan 83,54% di tahun 2009. LDR terkecil
pada tahun 2009 sebesar 29,63% oleh Bank Capital Indonesia Tbk. dan
terbesar pada tahun 2008 oleh Bank Mayapada International Tbk.
sebesar 97,97%.
Tabel 10. Deskripsi LDR

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
LDR_07
23 35,82 92,05 58,3865 13,46539
LDR_08
23 47,20 97,97 66,0087 12,16207
LDR_09
23 29,63 83,54 63,3965 13,06181
Valid N (listwise)
23

g. Harga Saham (Ps)

Harga saham terbentuk dari kekuatan permintaan dan penawaran yang
terjadi di bursa (pasar sekunder). Hasil deskriptif harga saham dari 23
perusahaan perbankantahun 2007 rata-rata senilai Rp. 1.316,- tahun 2008
senilai Rp. 1.183,- dan Rp. 1.238,- di tahun 2009. Harga saham terkecil
senilai Rp. 50,- terjadi pada tahun 2009 oleh Bank Century Tbk. dan
Harga saham terbesar terjadi pada tahun 2007 oleh Bank Danamon Tbk.
senilai Rp. 7.370,-

Tabel 11. Deskripsi Harga Saham

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
PSaham_07
23 71,17 7370,83 1316,6522 1929,57224
PSaham_08
23 65,33 5510,42 1183,7461 1541,19578
PSaham_09
23 50,00 6280,42 1238,5804 1591,90909
Valid N (listwise)
23


4.1.2 Hasil Uji Asumsi Dasar Regresi

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan
pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi
klasik. Hasil pengujian hipotesis yang baik adalah pengujian yang tidak
melanggar tiga asumsi klasik yang mendasari model regresi linier, ketiga
asumsi tersebut adalah sebagai berikut (Gujarati;1995) :



144
A. Autokorelasi

Autokorelasi adalah korelasi antar anggota sampel yang diurutkan
berdasarkan waktu Autokorelasi menunjukkan adanya kondisi yang
berurutan antara gangguan atau distribusi yang masuk dalam regresi
(Algifari;1997). Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah
terjadi korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang
diurutkan menurut waktu (time series). Untuk mendeteksi terjadinya
autokorelasi dalam penelitian ini maka digunakan uji DW dengan
melihat koefisien korelasi DW test (Algifari;1997).

Tabel 12. Tingkat Autokorelasi (Durbin Watson)
DW Kesimpulan

< 1,10
1,10 – 1,54
1,55 – 2,46
2,47 – 2,90
> 2,91

Ada Autokorelasi
Tidak Ada Kesimpulan
Tidak Ada Autokorelasi
Tidak Ada Kesimpulan
Ada Autokorelasi


Untuk selengkapnya hasil perhitungan uji autokorelasi pada industri
perbankan dapat diikhtisarkan pada tabel 16 sebagai berikut:

Tabel 13. Ikhtisar Hasil Uji Autokorelasi
Variabel DW Kesimpulan

1,55 – 2,46


1,865

Tidak Ada
Autokorelasi


B. Heteroskedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dalam sebuah model regresi,
dengan tujuan bahwa apakah suatu regresi tersebut terjadi
ketidaksamaan varians dari residual dari setiap pengamatan
kepengamatan lainnya berbeda, maka disebut heteroskedastisitas Gejala
heteroskedastisitas terjadi apabila disturbance terms untuk setiap
observasi tidak lagi konstan tetapi bervariasi.


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

145
Ada beberapa cara untuk menguji ada tidaknya situasi
heteroskedastisitas dalam varian error terms untuk model regresi. Selain
dilihat dari korelasi Pearson (> 5%) dalam penelitian ini digunakan
metode chart (Diagram Scatterplot), dengan dasar pemikiran bahwa
(Singgih, 2001):

1. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik (poin-poin), yang ada
membentuk suatu pola tertentu yang beraturan (bergelombang,
melebar, kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar ke atas dan di
bawah 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Terlihat pada gambar 1 bahwa titik-titik menyebar ke atas dan di bawah
0 (nol) pada sumbu Y serta tidak tampak adanya suatu pola tertentu
pada sebaran data tersebut. Berdasarkan analisis ini maka variable tidak
terdapat heteroskedastisitas.
4 2 0 -2 -4
Regression Standardized Predicted Value
4
3
2
1
0
-1
-2
-3
R
e
g
r
e
s
s
i
o
n

S
t
u
d
e
n
t
i
z
e
d

D
e
l
e
t
e
d
(
P
r
e
s
s
)

R
e
s
i
d
u
a
l
Dependent Variable: P_Saham1
Scatterplot

Gambar 1. Analisis Heteroskedastisitas

C. Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana satu atau lebih variable
dependent dinyatakan sebagai kombinasi linier dengan variable
dependent lainnya. Jika suatu model regresi mengandung
multikolinearitas maka kesalahan standar estimasi akan cenderung
meningkat dengan bertambahnya variable dependent.




146
Multikolinearitas dapat dideteksi dengan :

1. Nilai deskriminasi yang sangat tinggi dan diakui dengan nilai F test
yang sangat tinggi, serta tidak atau hanya sedikit nilai t test yang
signifikan.
2. Meregresikan model analisis dan melakukan uji korelasi antar
variable dependent dengan menggunakan Variance Inflating Factor
(VIF) dan Tolerance Value (Gujari,1995). Batas VIF adalah 10 dan
Tolerance Value adalah 0,1 jika nilai VIF lebih besar dari 10 dan
nilai Tolerance Value lebih kecil dari 0,1 maka terjadi
multikolinearitas dan harus dikelompokkan dari model.

Hasil perhitungan korelasi industri perbankan diihtisarkan pada tabel 14
dibawah ini:

Tabel 14. Ikhtisar Uji Multikolinearitas
Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
CAR
RORA
BOPO
NPM
ROA
LDR
,491
,320
,470
,422
,301
,433
2,036
3,124
21,26
2,368
3,327
2,312
a. dependent varoables: P_Saham1

Berdasarkan tabel 12, keenam variable dependent tersebut memiliki VIF
< 10 dan Tolerance Value > 0,1 maka tidak terdapat adanya gejala
multikolinearitas pada data penelitian ini.

D. Normalitas

Uji normalitas adalah untuk menguji apakah model regresi, variabel
independent, dan variabel dependent memiliki distribusi data normal
atau tidak. Uji normalitas dilakukan dengan uji kolmogorov-smirnov
satu arah atau analisis grafis. Dalam penelitian ini menggunakan analisis
grafis, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

147
1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0
Observed Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
E
x
p
e
c
t
e
d

C
u
m

P
r
o
b
Dependent Variable: P_Saham1
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual


Gambar 2. Analisis Normalitas

Jika residual berasal dari distribusi normal, maka nilai-nilai sebaran data
akan terletak disekitar garis lurus. Terlihat bahwa sebaran data pada
gambar di atas bisa dikatakan tersebar disekeliling garis lurus (tidak
terpencar jauh dari garis lurus) sehingga dapat dikatakan bahwa
persyaratan normalitas bisa terpenuhi.

4.1.3 Hasil Pengujian Hipotesis

Secara Parsial, hipotesis penelitian yang menilai pengaruh capital, assets,
management, earning, dan liquidity secara parsial dirangkum pada table
15.

Tabel 15. Pengujian Hipotesis secara Parsial

Model Koef. Reg t sig. Kesimpulan
Constant 540 0,222 0,825
CAR -0,337 -2,577 0,012 Sig. < 5%; H1 diterima*
RORA 0,363 2,241 0,029 Sig. < 5%; H1 diterima*
BOPO -0,203 -1,521 0,133 Sig. < 5%; H1 ditolak
NPM 0,505 3,585 0,001 Sig. < 5%; H1 diterima*
ROA -0,133 -0,796 0,429 Sig. < 5%; H1 ditolak
LDR 0,113 0,81 0,421 Sig. < 5%; H1 ditolak



148
Berdasarkan Tabel 15, dijelaskan sebagai berikut :

1. Variabel CAR mempunyai koefisien regresi sebesar -0,337 dengan
tingkat signifikansi 0,012 lebih kecil dari 5%. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, berarti variable CAR secara
parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham perbankan.
2. Variabel RORA mempunyai koefisien regresi sebesar 0,363 dengan
tingkat signifikansi 0,029 lebih kecil dari 5%. Disimpulkan bahwa
H1 diterima, artinya variable RORA secara parsial berpengaruh
signifikan terhadap harga saham perbankan.
3. Variabel BOPO mempunyai koefisien regresi sebesar -0,203 dengan
tingkat signifikansi 0,133 lebih besar dari β=5%. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, berarti variable BOPO secara
parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan harga
saham perbankan.
4. Variabel NPM mempunyai koefisien regresi sebesar 0,505 dengan
tingkat signifikansi 0,001 lebih kecil dari 5%. Disimpulkan bahwa
H1 diterima, artinya variable NPM secara parsial berpengaruh
signifikan terhadap harga saham perbankan.
5. Variabel ROA mempunyai koefisien regresi sebesar -0,133 dengan
tingkat signifikansi 0,429 lebih besar dari β=5%. Dengan demikian
disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variable ROA secara parsial
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan harga saham
perbankan.
6. Begitu pula dengan Variabel LDR yang memiliki koefisien regresi
sebesar 0,113 dengan tingkat signifikansi 0,421 lebih besar dari
β=5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya
variable LDR secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap perubahan harga saham perbankan.

Secara simultan, dari hasil pengolahan data pada Tabel 16 diketahui
bahwa variabel independent (CAR, RORA, NPM, BOPO, ROA, LDR)
mempunyai nilai F hitung sebesar 9,520 dengan nilai signifikansi yang
lebih kecil dari β =5% yaitu 0,000. Dengan demikian, maka H1 diterima,
berarti variabel independent secara bersama-sama berpengaruh secara
signifikan terhadap harga saham perbankan. Untuk lebih jelasnya hasil
perhitungan dapat dilihat pada tabel 16.






Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

149
Tabel 16. Uji Hipotesis secara Simultan
ANOVA
b
91169818 6 15194969,67 9,520 ,000
a
98954965 62 1596047,815
2E+008 68
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), LDR, ROA, CAR, NPM, BOPO, RORA
a.
Dependent Variable: P_Saham1
b.

4.1.4 Financial Modelling yang Terbentuk

Model keuangan yang terbentuk dari hasil perhitungan regresi berganda,
adalah sebagai berikut:

Y = 540 – 0,337 X1 + 0,363 X2 + 0,505 X3 – 0,133 X4
- 0,203 X5 + 0,113 X6 + e7

Dimana:
Y : Harga Saham
α : Konstanta
β1 …β6 : Koefisien regresi masing-masing variabel independen
X1 : CAR X4 : ROA
X2 : RORA X5 : BOPO
X3 : NPM X6 : LDR

4.2 Pembahasan Penelitian

Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis diketahui bahwa CAR,
RORA dan NPM berpengaruh signifikan terhadap harga saham
perbankan yang go public di BEI. Rasio CAR digunakan untuk mengukur
sejauh mana kemampuan permodalan bank dalam mengantisipasi
penurunan aktiva. Menurut Kasmir (2003:76) CAR merupakan rasio
keuangan yang mengukur kemampuan bank menanggung risiko yang
mungkin timbul atas aktiva. Pada dasarnya semakin tinggi CAR maka
akan semakin tinggi pula harga saham karena bank yang mempunyai
CAR yang tinggi berarti bank tersebut mempunyai modal yang cukup
untuk melakukan kegiatan usahanya dan cukup pula menanggung
resiko apabila bank tersebut dilikuidasi. Semakin tinggi CAR juga dapat
menggambarkan bahwa bank tersebut semakin solvabel. Variabel NPM
mencerminkan tingkat kembalian ekonomi dapat dipersamakan dengan

150
penghasilan diatas rata-rata. Penghasilan ini merupakan kelebihan
penghasilan yang diharapkan seorang investor dari investasi lain dengan
jumlah resiko yang serupa. Hal tersebut karena dengan besarnya kualitas
manajemen yang diukur dengan besarnya perbandingan laba bersih
terhadap pendapatan operasional. Hasil ini menunjukkan bahwa
investor dalam pengambilan putusan investasi mempertimbangkan
tingkat harga saham, tingkat pengembalian yang akan diperoleh dan
juga mempertimbangkan kemampuan alat-alat likuid (dana dari pihak
ketiga, pinjaman yang diterima dan modal inti ) terhadap kewajiban
(hutang lancar) perusahaan. Pandangan ini dapat diterima karena usaha
pokok perbankan adalah menghimpun dana masyarakat dan kemudian
menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit.

Variabel yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham
perbankan adalah: BOPO, ROA dan LDR. Variabel BOPO tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan
perbankan disebabkan adanya kebijakan yang mengarah pada ekspansi
perusahaan yang membutuhkan biaya besar. Variabel ROA yang
mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba,
disebabkan karena terjadinya penurunan pada laba perusahaan dan rata-
rata jumlah asset bank. Padahal untuk dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya, perusahaan memerlukan laba. Mengenai
variabel LDR yang mencerminkan kegiatan usaha atau operasi sehari-
hari perbankan. Investor akan lebih memilih bank-bank yang mampu
membiayai operasinya dengan modal atau apabila harus dibiayai dengan
hutang, maka bank tersebut harus bisa mengembalikannya dengan asset
yang dimiliki dengan likuiditas bank yang tinggi maka hal tersebut akan
dapat meningkatkan kepercayaan konsumen pada bank tersebut,
sehingga membuat para investor melirik perusahaan tersebut untuk
menanamkan modalnya dan akan berdampak pada kenaikan harga
saham.

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :

1. Secara parsial CAR, RORA dan LDR berpengaruh secara signifikan
terhadap perubahan harga saham perbankan, sedangkan untuk
BOPO, ROA dan LDR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

151
2. Secara simultan variabel: CAR, RORA, BOPO, ROA, LDR dan NPM
berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perbankan di
Bursa Efek Indonesia

5.2 Saran

Penelitian ini hanya terbatas pada kajian empiris tentang analisis
pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham perbankan di Bursa
Efek Indonesia (BEI), namun tidak bagaimana pemecahan masalah dan
jalan keluar mengenai dampak kinerja keuangan perusahaan terhadap
perubahan harga saham setiap periodenya. Diharapkan peneliti lain
dapat melakukan pengembangan penelitian ini pada sub sektor, sektor
atau bahkan seluruh sektor lainnya di BEI, atau dapat berkolaborasi
dengan peneliti dari negara lain untuk membandingkan kinerja sub
sektor atau sektor yang sama antar negara peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyani, Widya. 2004, Pengaruh Earnings Per Share dan Return On
Investment terhadap Stock Return Saham-saham Blue-Chip di Bursa Efek
Jakarta Tahun 1998–2002, Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana,
Denpasar.
Ardiani, Anita. 2007, Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap
Perubahan Harga Saham pada Perusahaan Perbankan di Bursa Efek
Indonesia (BEI), Jurnal Akuntasi Fakultas Ekonomi Universitas
Negeri Semarang.
Astuti, Puji. 2002, Analisis CAR, ROA, Net Profit Margin (NPM) dan Loan to
Deposit Ratio (LDR) terhadap harga pasar saham perusahaan perbankan
di BEI, Jurnal Ekonomi dan Akuntansi.
Artana, Budi. 2004, Analisis Perbedaan Rasio-rasio CAMEL Dalam Menilai
Tingkat Kesehatan Bank Sebelum dan Sesudah Krisis Ekonomi Pada PT
BPR ”Ubudmas Dharmasentana” di Sukawati, Gianyar. Fakultas
Ekonomi, Universitas Udayana, Denpasar.
Bank Indonesia. 2004, Peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004
tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan
Bank Umum.
Cooper, Donald R. and Pamela S. Schindler. 2009, Business research
methods. 10th Ed. HD 30.4 E47. Tata McGraw-Hill Publising
company Ltd., New Delhi.


152
Departemen Keuangan. 1990, Surat Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 729 Tahun 1990 tentang Perbankan.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 87/KMK.01/2009 tanggal 24
Maret 2009 tentang Kinerja Perusahaan.
Leki, Rofinus. 1997, Analisis Pengaruh Variabel Fundamental dan Teknikal
terhadap Perubahan Harga Saham (Studi Kasus Industri
Berat/Automotif & Allied Product yang Go Publik di Pasar Modal
Indonesia), Program Pascasarjana, Universitas Brawijaya Malang.
Merkusiwati, Lely Aryani. 2007, Evaluasi Pengaruh CAMEL Terhadap
Kinerja Perusahaan. Buletin Studi Ekonomi. Volume 12 Nomor 1.
Sudayasa. 2003, Penilaian Kinerja Keuangan Bank-bank yang Go Public Di
Bursa Efek Jakarta Tahun 2001 (Melalui Pendekatan CAMEL), Program
Studi Magister Manajemen, Program Pasca Sarjana Universitas
Udayana Denpasar.
Suwarno. 2003, Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat TAPA,
Kuta (dengan Pendekatan CAMEL), Fakultas Ekonomi, Universitas
Udayana, Denpasar.
Santoso, Singgih. 2001, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik Aplikasi
dengan SPSS, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.
Santoso, Budi. Totok dan Sigit Triandaru. 2006, Bank dan Lembaga
Keuangan Lain. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Sari, Aini. dan Yuyun Nurul. 2004, Analisis Pengaruh CAR, LDR, ROA dan
Besaran Perusahaan Terhadap Perubahan Laba Perusahaan Perbankan
yang Terdaftar di BEJ, Jurnal Manajemen Universitas Negeri
Semarang.
Silalahi. 1991, Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Saham
(Studi pada Pasar Modal Indonesia), Program Pascasarjana
Universitas Airlangga.
Sulaiman. 1995, Analisis return on assets, devidend pay out ratio, leverage,
tingkat pertumbuhan, likuiditas, struktur modal dan tingkat bunga
deposito terhadap harga saham.
Sparta. 2000, Analisis Rasio ROA, DPR, dan debt to equity (DER) terhadap
price to book value (PBV).
Suardana, Ketut Alit. 2007, Pengaruh Rasio Camel Terhadap Return Saham,
Jurnal Akuntansi, Universitas Udayana.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

153
Sugiyono. 2007, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta,
Bandung.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1988 tentang
Perbankan.
Zainuddin dan Jogianto Hartono. 1999, Manfaat Rasio Keuangan dalam
Memprediksi Pertumbuhan Laba: Suatu Studi Empiris pada Perusahaan
Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia, Volume 2 No. 1, Januari 1999.

KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI, DAN
INTENSI TURNOVER

Habibullah Jimad
9



ABSTRAK

Intensi turnover sampai saat ini masih menjadi masalah yang menyita
perhatian berbagai pihak, terutama pihak manajemen suatu organisasi.
Hal ini berkaitan kerugian yang diakibatkan oleh turnover, seperti
hilangnya tenaga kerja potensial dan berbakat, berkurangnya
keunggulan kompetitif suatu perusahaan serta memberikan pengaruh
yang kurang baik terhadap karyawan.

Keinginan untuk meninggalkan suatu organisasi umumnya didahului
oleh niat karyawan yang dipicu antara lain oleh ketidakpuasan
karyawan terhadap pekerjaan serta rendahnya komitmen karyawan
untuk mengikatkan diri pada organisasi.

Karyawan yang merasa kurang puas serta memiliki komitmen yang
rendah memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk meninggalkan suatu
organisasi. Artikel ini akan membahas keterkaitan antara ketiga variabel
tersebut berdasarkan literatur yang dikaji untuk memperjelas keterkaitan
ketiga ketiga variabel tersebut.

Keyword: Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Intensi turnover.


PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Turnover karyawan merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak
perusahaan. Tingkat turnover yang tinggi berkaitan dengan
berkurangnya kepuasan pelanggan, produktivitas, pertumbuhan
pendapatan yang akan datang, dan profitabilitas (Zimmerman, 2008:309).

Kepuasan kerja dan komitmen memegang peranan kunci pada terjadinya
turnover (Glisson dan Durrick, 1988:65). Komitmen organisasi dan

9
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung

156
kepuasan kerja yang lebih tinggi akan mengurangi intensi turnover
(Falkenburg dan Schyns, 2007:711). Komitmen yang tinggi akan
meningkatkan rasa memiliki pekerja terhadap organisasi sehingga
keinginan untuk meninggalkan organisasi akan berkurang.

Kepuasan kerja juga merupakan faktor penentu yang sangat signifikan
untuk memelihara karyawan agar tetap bertahan dalam suatu organisasi.
Kurangnya semangat kerja karyawan serta ketidakpuasan terhadap
suatu pekerjaan berhubungan dengan meningkatnya turnover dalam
organisasi (Swafford dan Legg, 2009:163). Ketidakpuasan kerja juga
cenderung akan menyebabkan karyawan merasa tidak berguna, tidak
diapresiasi, dan keluar dari suatu organisasi (Shouksmith, 1994 dalam
Tanner, 2007:3).

Mobley et al (1979) dalam Biswas (2009:30) menyatakan bahwa kepuasan
kerja merupakan salah satu variabel penting yang menentukan intensi
turnover. Karyawan yang merasakan kepuasan kerja dalam suatu
organisasi memiliki kecenderungan untuk tetap berada pada organisasi
tersebut, sedangkan karyawan yang merasa tidak puas terhadap suatu
organisasi memiliki kecenderungan untuk meninggalkan organisasi
tersebut.

Kepuasan kerja serta komitmen organisasi memiliki keterkaitan satu
sama lain. Kepuasan kerja mengacu pada keadaan emosional dan
pikiran yang mencerminkan reaksi afektif terhadap pekerjaan dan situasi
pekerjaan, sedangkan fokus dari komitmen organisasi adalah reaksi yang
lebih global (emosional atau non-emosional) ke seluruh organisasi
(Dipboye et al., 1994; Farkas dan Tetrick, 1989; Lance, 1991; Russell dan
Price, 1988). Akibatnya komitmen organisasi kurang dipengaruhi oleh
kejadian sehari-hari, berkembang selama waktu yang lebih lama dan
lebih stabil daripada kepuasan kerja (Sagie, 1998; Dipboye et al, 1994
dalam Falkenburg dan Schyns, 2007:710).

William dan Hazer (1968) dalam Glisson dan Durrick (1988:65) secara
khusus membedakan kepuasan dan komitmen berdasarkan definisi yang
dibentuk dari respon afektif terhadap keyakinan tentang organisasi dan
pengalaman yang diperoleh dari suatu pekerjaan. Komitmen
menekankan pekerjaan suatu organisasi termasuk tujuan serta nilai
organisasi sedangkan kepuasan kerja menekankan pada lingkungan
kerja yang spesifik dimana karyawan melakukan pekerjaaannya
(Mowdays, Porter dan Steers, 1982).


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

157
II. Kajian Pustaka

Kepuasan Kerja

Secara umum kepuasan kerja dinyatakan sebagai beraneka ragam
konstruk yang terdiri dari dua elemen yaitu elemen instrinsik dan
elemen ekstrinsik (Howard dan Frink, 1996 dalam Gould, 2007:19). Baik
perasaan (afeksi) maupun pikiran (kognisi) merupakan hal yang penting,
sebagaimana dikemukakan oleh Saari dan Judge (2004), seseorang
cenderung merasakan tentang apa yang mereka pikirkan dan berfikir apa
yang mereka rasakan. Ketika seseorang mengevaluasi pekerjaan mereka
berfikir tentang proses yang melibatkan perasaan.

Robbins (2001:148) menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan suatu
sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Vroom (1964)
dalam Nair (2007:39) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu sikap
terhadap pekerjaan. Sikap positif terhadap pekerjaan secara konseptual
berhubungan dengan kepuasan kerja. Hal ini berarti jika seseorang
memiliki orientasi positif terhadap pekerjaannya maka ia puas dengan
dengan pekerjaannya, namun jika ia memiliki orientasi negatif terhadap
pekerjaannya maka dia tidak puas dengan pekerjaannya.

Sebagai suatu sikap, kepuasan kerja terdiri dari komponen evaluatif,
komponen afektif, dan komponen kognitif. Komponen evaluatif
berkaitan dengan kesukaan atau keetidaksukaan terhadap organisasi.
Komponen kognitif berkaitan dengan persepsi, pendapat, harapan
mengenai organisasi (Kumar, Bakhshi, dan Rani, 2009:27)

Locke (1976:1319) dalam definisinya tentang kepuasan kerja menjelaskan
bahwa kepuasan kerja disebabkan adanya penilaian suatu pekerjaan
yang dicapai atau dilakukan oleh seseorang yang memberikan nilai yang
dapat memenuhi salah satu kebutuhan dasar (Nair, 2007:40).
Karakteristik utama dari definisi yang dikemukakan oleh Locke (1976)
yaitu orang menilai pekerjaannya berdasarkan bagaimana cara
mengukur nilai pekerjaannya dan nilai pekerjaan berasal dari kebutuhan
dasar. Meskipun proses penilaian diperoleh secara implisit dalam
definisi yang dikemukakan oleh Vroom, Locke menyatakan dua
tingkatan dalam proses kepuasan kerja yaitu nilai pekerjaan yang berasal
dari kebutuhan dasar seseorang dan pencapaian dari nilai pekerjaan
yang setara dengan kepuasan kerja. Dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa kepuasan kerja merupakan penilaian terhadap hasil pencapaian
nilai-nilai pekerjaan yang penting untuk seseorang.


158
Kepuasan kerja dapat didefinisikan tingkat atau petunjuk pernyataan
emosional atau orientasi afektif yang diperoleh dari penilaian satu
pekerjaan atau suatu pengalaman kerja (Kallenberg, 1977; Locke, 1969
dalam Tanner, 2007:25). Berdasarkan definisi tersebut diketahui bahwa
kepuasan ditentukan oleh beberapa komponen atau variabel yang
mempengaruhi perasaan individu tentang lingkungan kerja mereka.

Kepuasan kerja merupakan pengalaman yang menyenangkan atau
perasaan positif yang dihasilkan dari evaluasi terhadap satu pekerjaan
atau pengalaman kerja (Locke, 1976; Shaffer dan Horison, 1998 dalam
Elci dan Alpkan, 2008 : 299). Dengan kata lain kepuasan kerja
menjelaskan reaksi afektif dari suatu pekerjaan serta sikap terhadap
pekerjaan.

Berry (1997) dalam Tanner (2007:25) menyatakan bahwa kepuasan kerja
secara sederhana merupakan reaksi individu terhadap pengalaman
pekerjaan secara keseluruhan. Berdasarkan definisi tersebut dapat
dinyatakan bahwa kepuasan kerja ditentukan oleh berbagai komponen
atau variabel yang mempengaruhi perasaan individu tentang lingkungan
kerja mereka.

Schnake (1983) dalam Biswas (2009:30) mengonseptualisasikan tiga
dimensi kepuasan kerja yang mewakili aspek intrinsik, ekstrinsik dan
aspek sosial dari kepuasan kerja. Sebenarnya dimensi kepuasan kerja
yang dikemukakan oleh Schnake (1983) mencakup respon afektif dan
respon kognitif yang dibuat individu dalam lingkungan kerja mereka.

Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

Jenis kepribadian, keterampilan, keadilan, kepercayaan dan keterlibatan
organisasi akan menpengaruhi kepuasan seseorang (Wesolowski dan
Mossholder, 1997 dalam Tanner, 2007:25). Pekerjaan atau perusahaan
juga berhubungan dengan kepuasan, dan pada beberapa kasus hal ini
menjadi faktor penentu utama yang mempengaruhi kepuasan
karyawan.

Vroom (1964) dalam Nair (2007:42) mengidentifikasi enam faktor yang
memungkinkan terjadinya kepuasan kerja, yaitu supervisor, kelompok
kerja atau seseorang yang ditugaskan untuk bekerja dengan karyawan
tersebut, deskripsi pekerjaan, gaji, kesempatan untuk dipromosikan,
beban kerja. Sedangkan Locke (1976) mengidentifikasi tujuh kondisi
penting yang menentukan kepuasan kerja, yaitu: (1) pekerjaan yang
secara mental menantang dan berhasil dilakukan; (2) kepentingan
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

159
terhadap pekerjaan; (3) pekerjaan yang secara fisik tidak terlalu
melelahkan; (4) imbalan atas kinerja yang adil, transparan dan sejalan
dengan aspirasi pribadi; (5) kondisi kerja yang kompatibel dengan
kebutuhan fisik dan dapat memfasilitasi tujuan kerjanya; (6)
penghargaan terhadap karyawan; dan (7) perubahan di tempat kerja
yang dapat membantu karyawan mencapai nilai-nilai kerja seperti
pekerjaan yang menarik, gaji, dan promosi, serta nilai-nilai dasar yang
dapat meminimalkan konflik dan ambiguitas.

Pendapat yang dikemukakan oleh Vroom (1964) dan Locke (1976)
tersebut lebih menekankan kepada lingkungan kerja sebagai faktor
penentu kepuasan kerja karyawan, sedangkan Wellowski lebh
menekankan kepada aspek pribadi atau kedaan individu yang akan
menentukan kepuasannya dalam bekerja.

Beberapa teori lain menyatakan bahwa kepuasan kerja ditentukan oleh
kombinansi dari berbagai imbalan kerja. Herzberg et al (1957) dalam
Tanner (200:26) menyatakan dua kelompok dasar dari imbalan kerja,
yaitu (1) faktor instrinsik, seperti pencapaian, pengakuan, serta
kemajuan; an (b) faktor ekstrinsik seperti gaji, konsisi kerja dan
keselamatan kerja.

Motazz dan Potts (1986) dalam Tanner (200:26) mengajukan model
imbalan yang dirasakan (perceived reward model) sebagai suatu kerangka
untuk memahami kepuasan kerja secara keseluruhan. Model ini
mengungkapkan lima imbalan ekstrinsik yang dipercaya sangat
berpengaruh terhadap kepuasan kerja, yaitu (1) supervisor, tingkat
dimana supervisor dirasakan mendukung dan membantu (2) rekan kerja,
(3) kondisi kerja, (4) gaji, dan (5) kesempatan untuk dipromosikan.

Dengan mengacu pada beberapa pendapat yang dikemukakan dapat
disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menentukan
kepuasan kerja seseorang, antara lain faktor pribadi, pekerjaan itu
sendiri, lingkungan kerja, serta imbalan yang diperoleh.

Pengukuran Kepuasan Kerja

Penelitian yang dilakukan oleh Biswas (2009:32) mengukur kepuasan
kerja dengan tiga dimensi yang dikemukakan oleh Schnake (1983), yaitu
intrinsik, ekstrinsik dan kepuasan sosial.

Kepuasan juga dapat diukur dengan menggunakan Minnesota Satisfaction
Questionnaire (MSQ). MSQ adalah instrumen yang mengukur kepuasan

160
dengan mengunakan beberapa aspek lingkungan kerja yang berbeda.
MSQ ini didasarkan pada Theory of Work Adjustment yang menyatakan
bahwa penyesuaian dapat diprediksi dengan pencocokan kepribadian
dan lingkungan dalam pengaturan pekerjaan (Swafford dan Legg,
2009:164).

Job Descriptive Index (JDI) banyak digunakan uuntuk mengukur kepuasan
kerja. JDI mengukur lima segi kepuasan karyawan, termasuk kepuasan
kerja itu sendiri, kepuasan terhadap gaji, kepuasan terhadap kesempatan
memperoleh promosi, kepuasan terhadap supervisi, dan kepuasan
terhadap rekan kerja (Gould, 20077:49).

Komitmen Organisasi

Scot, Corman dan Cheney (1998) dalam Popoola (2005:36) menyatakan
bahwa komitmen organisasi merupakan kelompok besar dari konstruk
yang menjelaskan hubungan organisasi dan individu yang terdiri dari
identifikasi organisasi, loyalitas kerja, kesukaan terhadap pekerjaan dan
keterlibatan kerja.

Steers (1977) dalam Kumar, Bakhshi, dan Rani (2009:27) mendefiniskan
komitmen orrganisasi sebagai kekuatan relatif individu dan keterlibatan
dalam organisasi tertentu. Mowday et al (1979) dalam artikel yang sama
menyatakan bahwa komitmen organisasi merupakan respon afektif yang
berpengaruh terhadap loyalitas organisasi.

Banay, Moshe, Reisel dan William (1993) dalam Popoola (2005:37)
menyatakan bahwa komitmen organisasi adalah (1) keyakinan yang
kuat, dan penerimaan terhadap tujuan dan nilai suatu organisasi, (2)
Kemauan untuk berupaya memiliki keterlibatan dalam organisasi, (3)
Keinginan yang kuat untuk loyal terhadap organisasi. Dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa komitmen merupakan rasa keterikatan
karyawan terhadap organisasi serta menjadi faktor penentu seseorang
untuk tetap tinggal dan loyal terhadap organisasi.

Komitmen organisasi dipengaruhi oleh sedikit kejadian harian,
berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga lebih stabil
daripada kepuasan kerja (Sagie, 1998; Dipboye et al, 1994 dalam Bibby,
2008:68).

Meyer dan Allen (1991) dalam Falkenberg dan Schyns (2007:709)
menyatakan bahwa secara garis besar, komitmen terdiri dari tiga dimensi
yaitu dimensi afektif, normatif dan komitmen berkelanjutan. Dimensi
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

161
afektif berkaitan dengan aspek penerimaan tujuan organisasi, nilai-nilai,
serta keinginan untuk tetap berada pada organisasi (Dipboye et., 1994;
McCaul et al, 1995.) Dimensi komitmen berkelanjutan mengacu pada
komitmen karyawan untuk tidak meninggalkan organisasi karena
merasa mereka telah memiliki andil terhadap perusahaan ataupun
karena memiliki alternatif yang terbatas.

Buchanan (1974); Mowday, Porter dan Steer (1982); dan Reichers (1985)
dalam Popoola (2005:37) menyatakan tiga pendekatan yang berbeda
untuk mengonseptualisasikan komitmen organisasi. Pendekatan pertama
yaitu perubahan cara pandang tentang komitmen organisasi sebagai
hasil dari transaksi antara organisasi dan anggotanya. Komitmen dari
perspektif ini dapat dilihat sebagai suatu konstruk yang didasarkan pada
hadiah dan biaya yang berhubungan dengan keanggotaan organisasi
(Alluto, Hrebiniak dan Alonso, 1973; Farrell dan Rusbult, 1981).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa komitmen bersifat
multidimensional yang memiliki komponen sikap dan komponen
perilaku (O’Reily dan Chatman, 1986 dalam Glisson dan Durrick,
1988:66). Salancik (1977) dalam artikel yang sama menjelaskan bahwa
komitmen sebagai perilaku dihasilkan dari hambatan yang dirasakan
dari kemauan pekerja untuk meninggalkan organisasi dan dari pilihan
yang mengikatnya pada organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa
komitmen terhadap suatu organisasi akan menghubungkan seseorang
dengan organisasi tersebut, dapat menimbulkan rasa memiliki terhadap
organisasi, dan pada akhirnya akan membuat seseorang bertahan serta
loyal terhadap organisasi.

Komponen Komitmen Organisasi

Matthew dan Zajac (1980) dalam Popoola (2005:38) mengidentifikasi
beberapa bagian dari komitmen organisasi, yaitu karakteristik personal
(umur, masa jabatan, jenis kelamin dan kemampuan), peran negara
(peran ambiguitas, konflik serta beban kerja), karakeristik pekerjaan
(otonomi tugas, tantangan, cakupan tugas), kelompok pimpinan (inisiatif
pimpinan, kepemimpinan partisipatif) dan karakteristik organisasi
(ukuran dan sentralisasi).

Faktor lain yang mempengaruhi komitmen organisasi adalah sistem
imbalan, kesempatan bagi pekerja,dukungan yang diberikan organisasi
kepada karyawan, kesempatan untuk kemajuan karier, keamanan kerja,
nilai serta tujuan (Bateman dan Strasser, 1984; O’Reily dan Chatman,
1986; Shore dan Wayne, 1993 dalam Popoola, 1995:38).

162
Porter et al (1974) dalam Kumar, Bakhshi, dan Rani (2009:30)
mengidentifikasi tiga faktor yang berhubungan dengan komitmen
organisasi, yaitu (1) keyakinan yang kuat terhadap nilai serta tujuan
organisasi; (2) keinginan untuk membangun organisasi, (3) kemauan
yang kuat untuk menjaga keanggotaan pada suatu organisasi.

Intensi Turnover

Lyons (1971) dalam Bibby (2008:68) mendefinisikan intensi turnover
sebagai kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan. Niat untuk
meninggalkan pekerjaan termasuk berfikir untuk berhenti dari suatu
organisasi, serta pernyataan yang dikeluarkan oleh karyawan untuk
benar-benar meninggalkan organisasi (Park dan Kim, 2009:23).

Diantara banyak faktor yang menyebabkan intensi turnover antara lain
kompensasi yang rendah, manfaat yang diperoleh tidak memadai,
kurangnya penghargaan yang diberikan oleh atasan merupakan alasan
utama karyawan meninggalkan pekerjaannya (Goolsby, 2005 dalam
Bibby, 2008:68).

Turnover umumnya disebabkan oleh empat determinan (Mobley, 1992)
dalam Bibby (2008:68). Kelompok pertama terdiri dari faktor eksternal,
seperti ketersediaan pekerjaan. Determinan kedua adalah faktor
organisasional termasuk gaji, imbalan, penghargaan, gaya pengawasan,
pekerjaan serta lingkungan kerja. Determinan ketiga adalah faktor
individu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti
pertimbangan keluarga dan karier. Determinan keempat adalah faktor
individu yang berhubungan dengan pekerjaan seperti pekerjaan yang
tidak menarrik atau tidak menantang ( Mobley, 1992).

Moynihan dan Pandey (2007) dalam Liu, Liu dan Hu (2010:617)
menyatakan tiga faktor yang mempengaruhi intensi turnover yaitu (1)
lingkungan atau ekonomi, (2) pekerja, dan (3) tingkatan organisasi.

Keterkaitan antara Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi dan Intensi
Turnover

Berbagai analisis data yang dilakukan sebelumnya baik secara empiris
maupun teoritis menunjukkan bahwa kepuasan kerja merupakan bagian
dari komitmen organisasi. Hal ini disebabkan perlu waktu lama untuk
membangun suatu komitmen dan komitmen lebih stabil daripada
kepuasan kerja (Bibby, 2008:68).

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

163
Marsh dan Mannari (1977) dalam Glisson dan Durick (1988:61)
menyatakan bahwa kepuasan merupakan awal terjadinya komitmen
terhadap suatu organisasi. Hal ini berarti bahwa seseorang yang
merasakan kepuasan bekerja dalam suatu organisasi memiliki
kecenderungan untuk mengikatkan diri pada suatu organisasi, merasa
sebagai bagian dari organisasi dan cenderung akan loyal terhadap suatu
organisasi. Loyalitas karyawan terhadap organisasi akan mengurangi
tingkat turnover karyawan yang berarti akan menghemat biaya,
meningkatkan kepuasan konsumen, meningkatkan daya saing
perusahaaan, serta meningkatkan produktivitas karyawan.

Kepuasan kerja dan komitmen memegang peranan kunci pada terjadinya
turnover (Glisson dan Durrick, 1988:65). Komitmen organisasi dan
kepuasan kerja yang lebih tinggi akan mengurangi intensi turnover
(Falkenburg dan Schyns, 2007:711). Dapat dikatakan bahwa karyawan
yang merasakan kepuasan bekerja dalam suatu organisasi akan memiliki
komitmen yang tinggi untuk tetap bertahan dalam organisasi tersebut.

Komitmen yang tinggi akan meningkatkan rasa memiliki pekerja
terhadap organisasi sehingga keinginan untuk meninggalkan organisasi
akan berkurang. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan
oleh Tett dan Mayer (2006) dalam Huning dan Thomson (2010:29) yang
melakukan pengujian meta analisis dan menemukan serta
menyimpulkan bahwa kepuasan kerja berhubungan sangat erat dengan
intensi turnover, dan pengaruh kepuasan kerja lebih besar daripada
pengaruh komitmen organisasi. Dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa faktor terbesar yang menentukan niat karyawan untuk keluar
atau bertahan dalam suatu organisasi adalah kepuasan kerja. Karyawan
yang merasa puas akan memilih bertahan dalam suatu organisasi,
sedangkan karyawan yang merasa tidak puas akan berfikir dan memiliki
niat untuk meninggalkan suatu organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bibby, C. L. 2008. Should I Stay or Should I Leave? Perception of Age
Discrimination, Organizational Justice, and Employee Attitudes on
Intentions to Leave. Vol.13. No. 2. Page 63-86.
Biswas, S. 2009. Job Satisfaction and Job Involvement as Mediators of The
Relationship Between Psychologycal Climate and Turnover Intention.
South Asia Journal of Management. Vol.16. No.1. Page 27-43.

164
Elci, M. & Alpkan, L. 2009. The Impact of Perceived Organizational Ethical
Climate on Work Satisfaction. Journal of Business Ethics. Page 297-
311.
Falkenburg, K & Schyns, B. 2007. Work Satisfaction, Organizational
Commitment and Withdrawal Behaviours. Management Research
News. Vol.30. No.10. Page 708-723.
Glisson, C. & Durick, M. 1988. Predictors of Job Satisfaction and
Organizational Commitment in Human Service Organization.
Administrative Science Quarterly. Vol. 33. No.1. Page 61-81.
Gould, M. 2007. Distance Education: A Measurement Of Job Satisfaction Of
Full-Time Business Faculty In Association Of Collegiate Business
Schools And Programs At Accredited Colleges Of Busines. Dissertation.
US: Capella University.
Huning, T.M. & Thomson, N.F. 2010. Proceeding of The Academy of
Organozational Culture, Communications and Conflict. Page 27-31.
Kumar, K., Bakhshi, A., & Rani, E. 2009. Organizational Justice Perceptions
as Predictor of Job Satisfaction and Organizational Commitment. The
IUP Journal of Management Research. Vol. VIII. No. 10. Page 24-37.
Liu, B., Liu, J.& Hiu, J. 2010. Person-Organization Fit, Job Satisfaction and
Turnover Intention: An Empirical Study in The Chinese Public Sector.
Social Behavior and Personality. Vol.38. No. 5. Page 615-626.
Nair, P.K. 2007. A Path Analysis Of Relationships Among Job Stress, Job
Satisfaction, Motivation To Transfer, And Transfer Of Learning:
Perceptions Of Occupational Safety And Health Administration
Outreach Trainers. Dissetation. Texas A&M University.
Popoola, J.K. 2005. Organizational Identification and Commitment as
Correlates of Job Satisfaction. Dissertation.Washington: Howard
University.
Robbins, S. P. 2002. Perilaku Organisasi. Edisi Kedelapan. Jakarta: PT
Prenhalindo.
Swafford, L. G & Legg, J. S. 2009. Determinant of Job satisfaction Among
Radiation Therapy Faculty. Journal of Allied Health. Vol 38. No. 29.
Page 163-169.
Tanner, Jr & Bobby M. 2007. An Analysis Of The Relationships Among Job
Satisfaction, Organizational Trust, And Organizational Commitment In
An Acute Care Hospital. Dissertation. California: San Fransisco.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

165
Zimmerman, R.D. 2008. Understanding the Impact of Personality Traits on
Individuals’ Turnover Decision: A Meta-Analytic Path Model.
Personnel Psychology. Vol.61. Iss.2. Page 309.

ANALISIS MENGAPA SEBUAH USAHA
MENGGUNAKAN SISTIM BAGI HASIL

Heru Wahyudi
10



ABSTRAK

Upah memiliki peranan penting bagi pekerja, bagi pemilik usaha, dan
bagi pemerintah, oleh karena itu keseimbangan pengupahan harus
diupayakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan mengapa
sebuah usaha menggunakan model bagi hasil dari perspektif pemilik
modal, penggusaha, serta melihat kecocokan diantara keduanya.

Hasil penelitian membuktikan bahwa alasan utama pemilik usaha
menggunakan model bagi hasil yaitu menggunakan bagi hasil karena
dalam rangka mencontoh nabi/alasan agama, memiliki kecocokan
dengan alasan karyawan sebesar 72,32%.

Kata Kunci : Bagi hasil, persepsi.



A. PENDAHULUAN
Masalah pengupahan bukanlah masalah baru di Indonesia, negara kita
ini telah akrab dengan kasus pengupahan, bahkan sampai hari ini
masalah upah buruh tidak kunjung selesai, terlebih setiap tanggal 1 Mei
bertepatan dengan hari buruh dunia, selalu muncul tuntutan perbaikan
upah dan kesejahteraan buruh dan karyawan.
Pemerintah bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya,
dimana setiap berbicara kesejahteraan rakyat tidak terlepas dari masalah
perburuhan. Setiap usaha peningkatan kesejahteraan buruh akan
berdampak pada kesejahteraan penduduk secara keseluruhan, dengan
kata lain kesejahteraan penduduk indonesia tidak akan tercapai tanpa
adanya peningkatan kesejahteraan buruh. Kesejahteraan buruh erat
kaitannya dengan upah yang diterima.

10
Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung

168
Upah memiliki kedudukan yang sangat penting, bagi buruh dan
keluarganya, bagi pengusaha, serta bagi kepentingan nasional secara
luas. Bagi pekerja, upah merupakan sarana untuk meningkatkan
kesejahteraan diri dan keluarga secara langsung. Bagi pengusaha, upah
mempengaruhi biaya produksi dan tingkat harga, yang kemudian akan
mempengaruhi pertumbuhan produksi, perluasan dan pemerataan
kesempatan kerja. Bagi pemerintah, upah merupakan sarana pemerataan
pendapatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu
keseimbangan upah harus diupayakan.
UMR(Upah Minimum Regional) yaitu upah bulanan terendah yang
ditetapkan pemerintah yang diberlakukan untuk satu wilayah,
merupakan batas minimal upah yang harus diberikan kepada pekerja,
yang diharapkan dengan batas minimal tersebut dapat mencukupi
kebutuhan pokok minimal secara layak.
Pengusaha menginginkan ketentuan upah minimum rendah, sedangkan
serikat buruh menghendaki upah minimum yang tinggi, dari kondisi
inilah maka penentuan upah minimum selalu bermasalah. Upah
minimum juga menimbulkan masalah lain yaitu apabila dihadapkan
dengan jumlah penduduk yang besar, maka dengan adanya upah
minimum akan mengakibatkan penurunan permintan tenaga kerja
sehingga pengangguran akan semakin meningkat.
Selain upah minimum, model pengupahan yang selalu timbul
permasalahan dalam penentuannya adalah upah harian. Dengan
permintaan tenaga kerja yang terbatas sedangkan penawaran tenaga
kerja yang tinggi, maka upah harian selalu tidak berpihak kepada
pekerja, tapi pengusahalah yang berkuasa mementukan upah harian
tersebut.
Bagi perusahaan kecil yang terkena regulasi upah minimum ini, akan
berahir fatal yaitu bubarnya perusahaan karena tidak mampu membayar
upah minimum. Disisi lain naiknya upah minimum akan menyebabkan
permintaan tenaga kerja turun, sehingga upah berdampak negatif
terhadap penyerapan tenaga kerja. Selain itu kenaikan upah minimum
akan memicu inflasi, karena upah dan harga saling terkait dan
berhubungan positif. Kemudian yang lebih menakutkan adalah
ketentuan upah minimum akan menyebabkan kesenjangan sektor yang
terkena peraturan dan sektor informal, sehingga disektor yang diregulasi
terjadi penghambatan penciptaan lapangan kerja, dan terjadi penurunan
upah disektor yang tidak diregulasi karena tenaga kerja membanjiri
sektor informal, sehingga supply dan demand berjalan. Akhirnya sektor
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

169
informal, buruh formal dan profesional sangat menonjol perbedaanya.
Posisi upah minimum akan lebih sulit lagi kondisinya bila dihadapkan
globalisasi ekonomi, dimana investor akan memilih negara yang sanggub
memberikan kemudahan dalam investasi termasuk ongkos buruh yang
murah.
Apabila upah buruh dibiarkan mengikuti mekanisme pasar dalam
kondisi jumlah buruh lebih besar daripada jumlah lapangan kerja, maka
upah buruh akan lebih parah, dan buruh akan sulit sejahtera, namun
apabila kebijakan upah minimum dilakukan akan berpengaruh terhadap
penurunan lapangan kerja, yang akhinya akan menurunkan
kesejahteraan penduduk secara keseluruhan. Walau begitu sampai saat
ini, upah minimum masih ditetapkan sebagai dasar acuan pengupahan
yang dianggab ideal, padahal seharusnya dicarikan solusi alternatifnya.
Islam sebagai agama dijamin oleh Allah yang sempurna dan universal
berdimensi dunia dan akherat tentu memiliki solusi mengatasi masalah
kehidupan dunia ini yang diantaranya yaitu masalah pengupahan.
Supaya dapat mencapai keadilan dan terhindar dari kedholiman dalam
bermuamalah, maka islam memperkenalkan 2 konsep yaitu kontrak
ijaroh dan kerjasama berupa musyarokah dan mudhorobah, dengan model
distribusi pendapatan berupa bagi hasil(Profit-loss sharing).
Bagi hasil adalah proporsi pembagian hasil usaha dalam ukuran
prosentase atas kemungkinan keuntungan/kerugian riil yang akan
diperoleh pihak-pihak yang bekerja sama. Jumlah nominal bagi hasil
akan berfluktuasi sesuai dengan keuntungan riil dari pemanfaatan dana.
Model bagi hasil paling sesuai dengan fitrah dalam berusaha yaitu
kondisi untung, rugi, juga brek even point/ pulang pokok, namun model
ini kurang disuarakan.
Salah satu usaha yang menjalankan bisnisnya berdasarkan bagi hasil di
Provinsi Lampung adalah RM. Puti Minang Gruop, didirikan oleh
Bpk.H.Andi Kusnadi, M.T.M.M, setelah usaha didirikan, kemudian
operasional diserahkan kepada pengelola yaitu seluruh karyawan,
sedangkan kebijakan perusahaan ditangan pemilik usaha. Dalam kondisi
perekonomian yang seperti apapun dengan sistim yang digunakan ini,
ternyata membuat Puti Minang Group masih tetap bisa berjalan dengan
baik.



170
Masalah dan tujuan penelitian

Berkaitan dengan ketentuan upah minimum, pengusaha mengiginkan
upah minimum yang rendah, sedangkan buruh menginginkan upah
yang tinggi, sehigga masalah upah tidak terselesaikan, untuk itu perlu
dicari solusi pengupahan yang tepat dan adil.
Berdasarkan rumusan masalah, maka pertanyaan penelitian ini adalah
apakah yang menjadi alasan mengapa sebuah usaha menggunakan
sistim bagi hasil dalam berusaha.
Tujuan Penelitaian ini adalah :
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui alasan yang melatarbelakangi mengapa bagi hasil
digunakan dalam berusaha.?
2. Mengetahui prosentase kesamaan Argumen pengusaha dan
karyawan mengenai alasan menggunakan sistim bagi hasil dalam
usaha.
B. LANDASAN TEORI
Pemerintah bertangung jawab untuk mensejahterakan warganya,
berkaitan dengan hal ini pemerintah dihadapkan dengan permasalahan
jumlah penduduk yang besar dan lapangan pekerjaan yang terbatas,
masalah buruh muncul ketika buruh menuntut upah yang tinggi,
sedangkan pengusaha menginginkan upah yang rendah.
Apabila tuntutan buruh dituruti, maka dalam era globalisasi seperti ini
akan membuat pengusaha tidak tertarik untuk berivestasi, atau inflasi
karena biaya prosduksi yang tinggi, atau PHK (Pemutusan Hubungan
Kerja) untuk menekan biaya agar produk dapat bersaing. Upah apabila
dilepas sesuai mekanisme pasar, maka dengan kondisi jumlah penduduk
yang besar dengan lapangan kerja yang terbatas, maka upah akan lebih
rendah lagi. Sedangkan apabila yang dituruti adalah keinginan
pengusaha berupa upah yang rendah, maka tanggung jawab pemerintah
untuk mensejahterakan rakyat akan sangat sulit.
Dengan segala kondisi yang ada pemerintah membuat peraturan tentang
upah minimum, pengusaha menginginkan upah minimum yang rendah,
sedangkan serikat buruh menuntut upah minimum yang lebih tinggi
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

171
lagi, inilah kondisi sulit berkaitan dengan pengupahan, sehingga perlu
dicari solusi menyelesaikan masalah ini.
Berkaitan dengan penyelesaian masalah ini, Islam memperkenalkan 2
konsep yaitu kontrak ijaroh dan kerjasama berupa musyarokah dan
mudhorobah, dengan model distribusi pendapatan berupa bagi
hasil(profit-loss sharing).
Bagi hasil adalah proporsi pembagian hasil usaha dalam ukuran
prosentase atas kemungkinan keuntungan/kerugian riil yang akan
diperoleh pihak-pihak yang bekerja sama. Jumlah nominal bagi hasil
akan berfluktuasi sesuai dengan keuntungan riil dari pemanfaatan dana.
Dalam Islam, hubungan antara majikan-pekerja idealnya adalah
hubungan antara saudara sesama makluk Allah, seorang pekerja tidak
boleh dibebani dengan tugas yang terlalu berat atau sulit di luar
kemampuannya, namun pekerja juga tidak boleh berbuat dholim
terhadap majikannya dengan menyia-nyiakan pekerjaanya. Model bagi
hasil sangat menghargai nilai manusia dan sesuai dengan fitroh berusaha,
dimana hasil riil yang akan menjadi patokan dalam pengupahan.
Dengan Model bagi hasil pengusaha tidak menjadikan upah sebagai
biaya, karena yang menjadi biaya sesungguhnya adalah biaya-biaya yang
muncul dalam rangka menghasilkan laba. Tanpa menganggung biaya
upah berarti pengusaha akan punya kesempatan bayak untuk
pengembangan usaha/ekspansi usaha.Di sisi lain, model bagi hasil akan
memotivasi karyawan untuk mengasilkan laba yang paling banyak
karena semakin besar laba yang diperoleh akan berdampak pada
besarnya bagi hasil yang diterima, dan semakin kecil laba yang
diperoleh, maka semakin sedikit bagi hasil yang diterima.
Model bagi hasil akan memotivasi, sehingga dengan sistim bagi hasil ini
karyawan dengan pekerjaan yang sama akan dapat memperoleh hasil riil
yang berbeda pada cabang usaha yang berbeda karenanya dengan upah
model bagi hasil karyawan tidak akan begitu peduli dengan jabatan
pekerjaan, tetapi justru akan sangat peduli dengan hasil riil usaha yang
dijalankan karena hasil ini yang akan dibagikan.
Jadi dengan kerangka fikir yang demikian dapat ditarik benang merah
bahwa sistem upah bagi hasil terhindar dari konflik penentuan upah
antara pengusaha dan pekerja. Dengan model upah bagi hasil ini, maka
upah minimum dan upah harian akan sangat mungkin untuk bisa
dipenuhi, bahkan dengan semangat produktivitas maka upah bagi hasil

172
bisa melebihi ketentuan upah minimum dan upah harian. Selain itu
dengan sistem bagi hasil akan memberikan bagi hasil yang berbeda
untuk pekerjaan yang sama apabila dikerjakan ditempat yang berbeda.
Apabila digambarkan pola pikir penulis sebagai berikut:
C. METODA PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan populasi, jadi semua karyawan RM.Puti
Minang akan menjadi objek penelitian. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer diperoleh dari wawancara dan
kuisoner. Untuk menggetahui urutan ke satu sampai ke sepuluh alasan
menggapa RM.Puti Minang Group menggunakan model bagi hasil,
dilakukan dengan kuisoner dan analisis diskriptif dengan bantuan tabel.
D. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Argumen Menggunakan Model Bagi Hasil Dalam Usaha
4.1.1. Alasan Shohibul Maal Menggunakan Model Bagi Hasil Dalam
berusaha.
Pihak yang paling menentukan untuk berlakunya model bagi hasil
adalah kemauan dari pemilik usaha/sohibul maal. Bagi sohibul
maal/pemilik usaha, sesungguhnya akan dirugikan secara materi atau
dari nominal ekonomi, karena nilai nominal bagi hasil yang harus
direlakan untuk karyawan nilainya berkisar 2 sampai 10 kali lipat dari
upah minimum. Oleh karena itu, pembahasan tentang alasan mengapa
shohibul maal mau dengan model bagi hasil layak untuk di dahulukan.
Dari quisoner yang diberikan, pemilik usaha memberikan jawaban
quisoner, berupa urutan alasan mengapa menggukan model bagi hasi
dalam berusaha adalah sebagaimana dalam tabel 4.12 berikut:
Tabel 4.1 Alasan Shohibul Maal Menggunakan Model Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H 1 J
Urutan 1 5 4 3 2 8 10 6 7 9
Sumber ; data Primer ; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

173
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

Berdasarkan jawaban dari pemilik usaha tentang alasan mengapa
menggunakan sistim bagi hasil dalam usaha yang dijalankan terlihat
bahwa alasan pertama : karena mentaati syariah/untuk syiar agama
islam/mencontoh nabi. Alasan kedua adalah bagi hasil akan
menumbuhkan rasa memiliki. Alasan ketiga karena bagi hasil akan
membuat termotivasi kerja. Alasan keempat yaitu bagi hasil lebih
kekeluargaan. Alasan kelima yaitu karena secara ekonomi lebih
menguntungkan. Alasan keenam yaitu bagi hasil akan membuat nyaman
bekerja. Alasan ketujuh karena transparansi. Alasan kedelapan karena
bagi hasil lebih adil. Alasan kesembilan adalah bagi hasil praktis. Dan
alasan terahir mengapa menggunakan bagi hasil adalah karena bagi hasil
sudah menjadi adat kebiasaan.
4.1.2. Alasan Karyawan Menggunakan Model Bagi Hasil
Andai saja karyawan tidak mau dengan model bagi hasil, maka sebaik
apapun sohibul maal maka sistem bagi hasil ini tidak bisa berjalan, oleh
karena itu perlu diteliti sesungguhnya apa yang menjadi alasan
karyawan rekan usaha memilih di upah dengan upah bagi hasil dari
pada upah minimum atau upah harian.
Para karyawan rekan usaha sekiranya tidak mau dengan bagi hasil tentu
mereka akan memilih untuk menjadi karyawan biasa sehingga tidak
perlu bersusah payah mencari bagi hasil yang belum pasti, bukan
menjadi rekan usaha, atau mereka bisa bekerja ditempat lain yang
menggunakan upah selain bagi hasil.
Untuk mengetahui alasan karyawan mengapa menggunakan model bagi
hasil dilakukan dengan penyebaran kuisoner kepada keseluruh
karyawan dengan status rekan usaha karena merekalah yang berhak atas
bagi hasil di Puti Minang Group dan tidak kepada karyawan calon
anggota atau karyawan anggota, para karyawan diminta mengisi alasan
terpenting (1) sampai alasan paling tidak penting (10) mengapa mereka
mau menggunakan sistim bagi hasil untuk menetukan upah mereka.
Berdasarkan quisoner yang dibagikan sebagaimana bentuknya pada
lampiran 3, inilah rekapan jawaban dari karyawn tentang alasan

174
mengapa sistim bagi hasil digunakan karyawan Puti Minang Group
untuk menentukan upah mereka.
Tabel 4.2 Rekap Jawaban Mengapa Karyawan Menggunakan Model
Bagi Hasil

Alasan
A B C D E F G H I J
Jumlah
Rengking
1
81 18 6 1 2 3 - - 1 -
112
2
19 25 26 14 16 5 2 4 1 -
112
3
5 21 26 35 11 2 6 3 2 1
112
4
- 15 27 40 9 8 6 2 4 1
112
5
3 12 7 7 34 33 6 6 1 3
112
6
- 8 3 5 25 25 25 8 10 3
112
7
- 7 10 6 8 23 30 12 11 5
112
8
4 2 1 2 3 10 18 47 25 -
112
9
- 2 6 2 4 - 11 28 50 9
112
10
- 2 - - - 3 8 2 7 90
112
jumlah
112 112 112 112 112 112 112 112 112 112

Sumber : data primer ; diolah 2010
Nb ( - ) berarti tidak ada yang memberi jawaban ( 0 )
1, 2, 3, 4 dan seteruasnya adalah rengking dan A, B, C adalah jenis
alasannya

1. Prioritas Yang Menjadi Alasan Pertama

Pembahasan akan dimulai dari alasan terpenting, bernomor satu,
mengapa karyawan menggunakan sistim bagi hasil, jawaban karyawan
sebagai alasan pertama tertera pada tabel berikut:

Tabel 4.3 Prioritas Yang Menjadi Alasan Pertama Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
1 81 18 6 1 2 3 - - 1 - 112
% 72,32 16,07 5,35 0,89 1,78 2,67 - - 0,89 - 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

175
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

2. Prioritas Yang Menjadi Alasan Kedua

Setelah selesai membahas alasan pertama, maka dilanjutkan dengan
pembahasan alasan kedua mengapa karyawan menggunakan model bagi
hasil untuk menentukan upah mereka, alasan tersebut sebagaimana
termuat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4.4 Prioritas Yang Menjadi Alasan Kedua Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J ∑
2 19 25 26 14 16 5 2 4 1 - 112
% 16,96 22,32 23,31 12,5 14,2 4,46 1,7 3,5 0,8 - 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

3. Prioritas Yang Menjadi Alasan Ketiga

Alasan selanjutnya adalah alasan ketiga, sebagaimana terlihat dalam
tabel di bawah ini

Tabel 4.5 Prioritas Yang Menjadi Alasan Ketiga Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
3 5 21 26 35 11 2 6 3 2 1 112
% 4,46 18,75 23,21 31,25 9,8 1,7 5,4 2,6 1,7 0,8 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/mentaati syariat/untuk syiar agama islam

176
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

4. Prioritas Yang Menjadi Alasan Keempat

Pembahasan selanjutnya yaitu alasan keempat mengapa karyawan
menggunakan model bagi hasil untuk menentukan upah mereka,
berdasarkan quisoner, maka jawaban sebagai alasan ke empat terlihat
pada tabel berikut;

Tabel 4.6 Prioritas Yang Menjadi Alasan Keempat Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
4 - 15 27 40 9 8 6 2 4 1 112
% - 13,39 24,1 35,7 8,03 7,1 5,4 1,7 3,5 0,8 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

5. Prioritas Yang Menjadi Alasan Kelima

Berdasarkan jawaban karyawan mengapa menggunakan model upah
bagi hasil, pada alasan kelima ada hal yang menarik, seperti terlihat
pada tabel berikut ini :


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

177
Tabel 4.7 Prioritas Yang Menjadi Alasan Kelima Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
5 3 12 7 7 34 33 6 6 1 3 112
% 2,6 10,7 6,25 6,25 30,36 29,46 5,4 5,4 0,8 2,6 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

6. Prioritas Yang Menjadi Alasan Keenam

Apabila pada alasan kelima ada hal yang menarik, maka alasan keenam
ini lebih menarik lagi untuk diperhatikan dan dibahas, sebagaimana
tersebut dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4.8 Prioritas Yang Menjadi Alasan Keenam Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
6 - 8 3 5 25 25 25 8 10 3 112
% - 7,1 2,6 4,46 22,32 22,32 22,32 7,1 8,9 2,6 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis


178
7. Prioritas Yang Menjadi Alasan Ketujuh

Tabel 4.9 Prioritas Yang Menjadi Alasan Ketujuh Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
7 - 7 10 6 8 23 30 12 11 5 112
% - 6,25 8,9 5,3 7,1 20,53 26,78 10,7 9,8 4,5 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

8. Prioritas Yang Menjadi Alasan Kedelapan

Tabel 4.10 Prioritas Yang Menjadi Alasan Kedelapan Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
8 4 2 1 2 3 10 18 47 25 - 112
% 3,57 1,7 0,8 1,7 2,67 8,9 16,07 41,96 22,32 - 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010

Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

179
9. Prioritas Yang Menjadi Alasan Kesembilan

Tabel 4.11 Prioritas Yang Menjadi Alasan Kesembilan Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
9 - 2 6 2 4 - 11 28 50 9 112
% - 1,7 5,4 1,7 3,5 - 9,8 25 44,64 8,03 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis

10. Prioritas Yang Menjadi Alasan Kesepuluh

Tabel 4.12 Prioritas Yang Menjadi Alasan Kesepuluh Karyawan
Menggunakan Bagi Hasil

Alasan A B C D E F G H I J jumlah
10 - 2 - - - 3 8 2 7 90 112
% - 1,7 - - - 2,67 7,1 1,7 6,25 80,36 100%
Sumber : Data Pimer Penelitian; 2010
Keterangan:
A. Untuk mencontoh nabi/ mentaati syariat/ untuk syiar agama islam
B. secara ekonomi bagi hasil lebih menguntungkan
C. karena bagi hasil lebih kekeluargaan
D. karena bagi hasil membuat termotivasi kerja
E. karena bagi hasil menumbukan rasa memiliki
F. karena bagi hasil lebih adil
G. karena bagi hasil sudah adat kebiasaan
H. karena bagi hasil membuat nyaman bekerja
I. karena bagi hasil lebih transparan
J. karena bagi hasil praktis




180
4.3. Kecocokan Alasan Sohibul Maal Dengan Alasan Karyawan

Apabila alasan pemilik usaha dicocokan dengan alasan karyawan
mengapa menggunakan model bagi hasil dalam usaha, maka akan
diperoleh informasi yang menarik dan indah untuk dicermati.
Alasan yang memiliki kecocokan paling tinggi adalah menggunakan
model bagi hasil karena mencontoh nabi dengan kecocokan 72,32% dan
alasan bagi hasil membuat termotivasi kerja dengan tingkat kecocokan
31,25%. Sedangkan kecocokan alasan terendah adalah karena alasan adat
dan kenyamanan kerja dengan tingkat kecocokan 7,1%.
Dari kecocokan tertinggi dapat diketahui bahwa baik pemilik maupun
karyawan telah memiliki landasan niatan yang mayoritas sama mengapa
menggunakan model bagi hasil yaitu untuk mencontoh nabi dalam
berbisnis dan dengan model syirkah berpola bagi hasil akan
menimbulkan semangat motivasi.
Sedangkan dari kecocokan terendah yaitu alasan adat istiadat sebagai
alasan terakhir/paling tidak penting ternyata menurut mayoritas
karyawan meduduki alasan ke enam 22,23% alasan ke tujuh 26,78%, jadi
bukan alasan terakhir, hal ini terjadi karena karyawan yang mayoritas
suku Padang masih kental/fanatik dengan kesukuan sedangkan sohibul
maal dengan tingkat pendiddikan yang dimiliki lebih moderat.
Berikutnya kenyamanan kerja memiliki tingkat kecocokan jawaban
terendah karena bagi sohibul maal melihat kenyamanan kerja adalah hal
yang penting sehingga menjadikan urutan alasan ke enam karena sohibul
maal tidak bekerja, tapi justru pekerja telah nyaman dengan model bagi
hasil ini sehingga mayoritas pekerja menjadikan alasan kenyamanan
kerja sebagai alasan yang tidak penting yaitu sebagai alasan ke delapan
41,96% dan ke sembilan 25%.
Alasan utama menurut sohibul maal yaitu menggunakan bagi hasil karena
dalam rangka mencontoh nabi/alasan agama/si’ar islam memiliki
kecocokan sebesar 72,32% dengan alasan karyawan, jadi niat awal
pemilik dan mayoritas karyawan memiliki kesamaan visi dan misi.
Alasan kedua shohibul maal cocok dengan 14,28% alasan karyawan yaitu
bagi hasil menumbuhkan rasa memiliki, hal ini terjadi karena menurut
mayoritas karyawan alasan kedua adalah secara ekonomi lebih
menguntungkan atau rasa kekeluargaan dalam bagi hasil. Jadi dapat
difahami bagi karyawan yang memang pendapatanya dari bagihasil
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

181
yang diterimanya menjadikan alasan keduanya adalah karena ekonomi
yang tidak demikian dengan sohibul maal dimana ekonomi tidak lagi
dianggab urgen karena sumber pendapatannya dari banyak arah.
Alasan ketiga sohibul maal cocok dengan 31,25% karyawan yaitu bagi
hasil membuat termotivasi kerja, jadi mayoritas karyawan dan pemilik
usaha sepakat tentang adanya motivasi kerja yang muncul dari sistem
bagi hasil ini, dimana pekerja termotivasi untuk sebuah harapan bagi
hasil yang akan diraih besar, demikian pula pemilik menyadari akan
pentingnya hal itu untuk menjaga investasinya dari segala kemungkinan
resiko.
Alasan keempat shohibul maal cocok dengan 24,1% pendapat karyawan
yaitu bagi hasil lebih kekeluargaan, jadi berkaitan kekeluargaan yang ada
pada model bagi hasil sangat diperlukan menurut pemilik usaha dan
hampir seperempat pendapat karyawan, karena apabila menggunakan
aturan formal maka dengan rata-rata pendidikan SMA bahkan ada yang
dibawahnya maka akan sulit untuk karyawan maupun pengusaha
mengatasi masalah ini, karena bisnis dengan model bagi hasil bukan
keformalan yang dikedepankan tapi kemampuan dan pengalaman.
Alasan kelima shohibul maal cocok dengan 10,7% karyawan yaitu bagi
hasil menguntungkan secara ekonomi, jadi sangat jelas akan berbeda
secara ekonomi karena bagi pekerja ekonomi sangat penting setelah niat
karenanya menduduki posisi kedua, tapi bagi pengusaha dengan kondisi
ekonomi yang sudah dimiliki tidak lagi memprioritaskan alasan ekonomi
sebagai alasan utama dan cukup untuk menjadi alasan kelima
Alasan keenam cocok dengan 7,1% karyawan yaitu bagi hasil membuat
nyaman bekerja, bagi sohibul maal melihat kenyamanan kerja adalah hal
yang penting sehingga menjadikan urutan alasan ke enam setelah alasan
ekonomi karena sohibul maal tidak bekerja, tapi sebaliknya justru
karyawan/pekerja telah nyaman dengan model bagi hasil ini sehingga
mayoritas pekerja menjadikan alasan kenyamanan kerja sebagai alasan
yang tidak penting yaitu sebagai alasan ke delapan 41,96% dan ke
sembilan 25%.
Alasan ketujuh dari sohibul maal cocok dengan 9,8% karyawan yaitu bagi
hasil lebih transparan, bagi mayoritas karyawan yaitu 30 orang 26,78%
alasan ketujuh mengapa menggunakan bagi hasil adalah karena adat
kebiasaan, jadi menurut mayoritas karyawan adat lebih penting dari
pada transparansi.

182
Alasan kedelapan cocok dengan 8,9 % karyawan yaitu bagi hasil lebih
adil. Bagi mayoritas karyawan alasan adil menduduki posisi ke 5, 6 dan
7, jadi sesungguhnya baik pemilik maupun mayoritas karyawan sepakat
tetang model bagi hasil dan keadilan yang ada dalam model ini.
Alasan kesembilan cocok dengan 8,03% karyawan yaitu bagi hasil
praktis. Kondisi ini jelas akan terjadi karena pemilik usaha dengan gelar
megister manajemen keuangan dan megister teknik yang biasa dengan
RAP perlu mengabaikan keformalan standar akuntansi karena semua
jenis laporan keuangan yang ada di Puti Minang Group dibuat untuk
kemudahan saja sehingg tidak sesuai dengan standar akuntansi, beda
halnya dengan mayoritas karyawan yang rata-rata berpendidikan SMA
bahkah ada yang dibawahnya akan sangat tidak peduli dengan standar
akuntansi yang penting berapa nilai per mato dan berapa bagian mato
mereka tinggal dikalikan maka karyawan akan tahu berapa bagi hasil
mereka. Mayoritas karyawan menganggab praktis sama sekali tidak
penting/tidak masalah lagi dalam model bagi hasil yang digunakan,
praktis sudah dirasakan pada model bagi hasil karena 90 karyawan
80,36% karyawan beralasan praktis sebagai alasan terakhir.
Alasan kesepuluh shohibul maal cocok dengan 7,1% karyawan yaitu
alasan adat kebiasaan, jadi sebagai alasan terakhir/paling tidak penting
ternyata menurut mayoritas karyawan meduduki alasan ke enam 22,23%
alasan ke tujuh 26,78%, jadi bukan alasan terakhir, hal ini terjadi karena
karyawan yang mayoritas suku Padang masih kental/fanatik dengan
kesukuan sedangkan sohibul maal dengan tingkat pendiddikan yang
dimiliki lebih moderat.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Shohibul maal menggunakan model bagi hasil dengan alasan
mencontoh nabi dalam berdagang, sebagai alasan pertama. Alasan
kedua adalah bagi hasil akan menumbuhkan rasa memiliki. Alasan
ketiga karena bagi hasil akan membuat termotivasi kerja. Alasan
keempat yaitu bagi hasil lebih kekeluargaan. Alasan kelima yaitu
karena secara ekonomi lebih menguntungkan. Alasan keenam yaitu
bagi hasil akan membuat nyaman bekerja. Alasan ketujuh karena
transparansi. Alasan kedelapan karena bagi hasil lebih adil. Alasan
kesembilan adalah bagi hasil praktis. Dan alasan terahir mengapa
menggunakan bagi hasil adalah karena bagi hasil sudah menjadi
adat kebiasaan.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

183
2. Karyawan mau menggunakan model bagi hasil karena alasan agama
mencontoh nabi sebagai alasan pertama (72,32%) karyawan
berpendapat demikian. Alasan kedua karena secara ekonomi lebih
menguntungkan menurut 23,31%, dan sedangkan pendapat kedua
yang lain beralasan karena kekeluargaan 22,32%. Bagi hasil membuat
termotivasi kerja menjadi alasan ke tiga bagi 31,25% karyawan.
Alasan keempat yaitu bagi hasil membuat termotivasi kerja 35,7%
karyawan. Alasan kelima sebanyak 30,36% karyawan berpendapat
bahwa dengan bagi hasil menumbuhkan rasa memiliki. Sedangkan
alasan keenam tidak ada yang dominan yaitu karena rasa adil, rasa
memiliki dan adat kebiasaan di sampaikan masing-masing 22.23%
karyawan. Argument ketujuh adalah karena adat kebiasaan
mengapa bagi hasil digunakan menurut 26,78% karyawan. Alasan
kedelapan sebanyak 41,96% karyawan berpendapat bahwa bagi hasil
membuat nyaman bekerja. Alasan yang tidak begitu penting
sehingga menduduki posisi kesembilan adalah karena transparansi
yang ada dalam bagi hasil, pendapat ini mencapai 44,64%. Dan
alasan pamungkas yang menjadi keunggulan bagi hasil yaitu
sederhana, mudah dimengerti praktis, tidak merepotkan untuk
memahami, disampaikan oleh 80,36% karyawan.
3. Alasan Sohibul maal yang menggunakan model bagi hasil dalam
usaha, memiliki kecocokan dengan alasan karyawan, alasan utama
yaitu menggunakan bagi hasil karena dalam rangka mencontoh
nabi/alasan agama/ si’ar islam memiliki kecocokan sebesar 72,32%.
Alasan kedua shohibul maal cocok dengan 14,28% alasan karyawan
yaitu bagi hasil menumbuhkan rasa memiliki, alasan ketiga sohibul
maal cocok dengan 31,25% karyawan yaitu bagi hasil membuat
termotivasi kerja, alasan keempat shohibul maal cocok dengan 24,1%
pendapat karyawan yaitu bagi hasil lebih kekeuargaan. Alasan
kelima shohibul maal cocok dengan 10,7% karyawan yaitu bagi hasil
menguntungkan secara ekonomi, alasan keenam cocok dengan 7,1%
karyawan yaitu bagi hasil membuat nyaman bekerja, alasan ketujuh
cocok dengan 9,8%karyawan yaitu bagi hasil lebih transparan, alasan
kedelapan cocok dengan 8,9 % karyawan yaitu bagi hasil lebih adil,
alasan kesembilan cocok dengan 8,03% karyawan yaitu bagi hasil
praktis, dan alasan kesepuluh shohibul maal cocok dengan 7,1%
karyawan yaitu alasan adat kebiasaan.
5.2 Saran
Atas dasar kesimpulan tersebut maka beberapa saran yang berkaitan
dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :

184
a. Pemerintah sebagai pemilik kebijakan supaya mulai memikirkan
untuk mencoba menerapkan model bagi hasil sebagai penentu upah
karyawan, terutama untuk usaha-usaha yang sangat berat untuk
melaksanakan ketentuan upah minimum.
b. Bagi pengusaha atau colon pengusaha dapat mencoba sistim bagi
hasil untuk pengelolaan usaha
c. Hendaknya dilanjutkan untuk penelitian-penelitian yang berkaitan
dengan pengupahan dengan model bagi hasil, sehingga dapat
diketemukan model bagi hasil yang bernuansa modern/canggih
dan sederhana.
REFERENSI
Departemen Agama.Al-Qur’anul Karim dan Terjemahannya.2007.
Afzalurrahman. 1995. Doktrin Ekonomi Islam Jilid 1. Terjemahan Soeroyo,
Nastangin. PT Dana Bhakti Prima Yasa. Yogyakarta.
____,1997. Muhammad Sebagai Seorang Pedagang. Yayasan Swarna Bhumy.
Jakarta
Antonio, Muhammad Syafi’i. 2003. Bank Syariah (dari Teori ke Praktek).
Jakarta: Gema Insani Press.
Ash Shadr, Muhammad Baqir. 2008. Iqtishoduna Buku Induk Ekonomi
Islam. Zahra Publishing House.Jakarta.
Ash Siddiqieqy, Muhammad. 1996 Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil dalam
Hukum Islam, Dana Bakti Prima Yasa.Yogyakarta
Benham.1940.Economics.jilid II.
BPS. 2008.Lampung Dalam Angka.BPS.Lampung.
Chapra, M.Umer. 2000. Sistim Moneter Islam. Jakarta: Gema Insani Press
Nasution, Mustafa Edwin,dkk. 2006. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam,
Prenada Media Group, Jakarta.
Gamal, Merza,2004. Aktivitas ekonomi Syariah. Unri Press. Riau.
_____,2006. Model Dinamika sosial Ekonomi Islam.Unri Press.Riau.
Haroen, Nasrun, 2007. Fiqih Muamalah, Penerbit Gaya Media Pratama,
Jakarta,
Haritsi Al, Jaribah bin Muhammad. 2008. Fikih Ekonomi Umar bin Al
Khathab, Khalifa ( pustaka Al kaustar), Jakarta
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

185
Hasan, M. Ali. 2004. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada
Huda, Nurul.dkk. 2008. Ekonomi Makro Islam Pendektan Teoritis. Kencana.
Jakarta.
Husin Al, Syahri, 2002, Aplikasi Statistik Praktis Dengan SPSS for Windows,
J&J Learning.Yogyakarta,
Iqbal, Muhaimin.2007.Mengembalikan kemakmuran Islam dengan Dinar dan
Dirham.Spiritual Learning Center dan Dinar Club.Jakarta
Jusmaliani. 2006. Aktivitas Ekonomi Berbasis Bagi Hasil Sektror
Sekunder.Lipi. Jakarta
Karim, Adiwarman, 2007. Bank Islam “Analisis Fiqih dan Keuangan”, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
_____, 2002. Ekonomi Islam Suatu Kajian Makro,III T Indonesia, Jakarta.
_____, 2006. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, PT.Raja Grafindo Persada,
Jakarta
Karomah umi. 2006. Aktivitas Ekonomi Berbasis Bagi Hasil sektror
tersier.LIPI. Jakarta.
Khan, Muhammad Akram.1997.Ajaran Nabi Muhammad SAW Tentang
Ekonomi. BMI. Jakarta
Lewis, Mervyn K, dan Algaoud, Latifa M. 2001. Perbankan Syariah Prinsip,
Praktik, Prospek, Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta.
Mansur, Husaini dan Idat Gunawan Dhani, 2007, Dimensi Perbankan
dalam Al Qur’an.Visi Cita Kreasi. Jakarta.
Mannan,M.A. 1997. Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta: PT Dana
Bhakti Prima Yasa.
Manurung, Mandala.2006.Teori Ekonomi Mikro Suatu pengantar.Lembaga
Penerbit FE UI. Jakarta
____,2006.Teori Ekonomi Makro Suatu pengantar.Lembaga Penerbit FE UI.
Jakarta
Metwally.1995. Teori dan Model Ekonomi Islam.Bangkit Daya
Insana.Cijantung.Jakarta
Muhammad. 2000. Sistem & Prosedur Operasional Bank Syariah.
Yogyakarta:UII Press
_____,2002.Menejemen Bank Syariah. UPP AMP YKPN. Yogyakarta

186
_____,2004. Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam. BPFE. Yogyakarta.
_____,2002. Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Ekonomi Islam. Jakarta:
Salemba Empat.
Munrokhim,dkk. 2008. Ekonomi Islam. Raja Grafindo Persada,Jakarta,
Mushlih Al, Abdullah, dan Shalah ash-Shawi. 2004. Fiqih Ekonomi
Keuangan Islam. Darul Haq. Jakarta
Perwataatmadja, Karnaen, dan M. Syafi,i Antonio. 1992. Apa & Bagaimana
Bank Islam. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa
Pedoman Akuntansi Keuangan Syairiah, 2008, IAI, Jakarta
Qardhawi, Yusuf. 2001. Peran Nilai Dan Moral Dalam Perekonomian Islam.
Robbani press. Jakarta
Qorashi, Syarief Baqir. 2007. Keringat Buruh, Hak dan Peran Pekerja Dalam
Islam. Al-Huda. Jakarta.
Rahardja.Pratama. 2006.Teori Ekonomi Makro. Lembaga Penerbit FE UI.
Jakarta
Sakaran,Uma, 1984. Research Methods for Busines,Southern illionis,
University of Carbondle
Sasono,1994.Perbarun Sistim Upah.Departemen Tenaga Kerja dan CIDES.
Jakarta
Suariasumantri, Jujun S,1985. Filsafat Ilmu, sebuah Pengantar Populer, Sinar
Harapan.Bandung.
Sukirno, Sadono, 2005. Mikro Ekonomi Teori pengantar, Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
_____, 2006. Ekonomi Pembangunan, Prenada Media Group. Jakarta
Simanjuntak, 1996. Teori dan sistim Pengupahan.Harapan Pembina
Sumberdaya Manusia. Jakarta.
Suprayitno,Eko, 2005. Ekonomi Islam Pendekatan Ekonom Makro Islam dan
Konvensional, Graha Ilmu,Yogyakarta
Suhendi, Hendi. 2002. Fiqh muamalah. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Syafe’i, Rahmat. 2006. Fiqih Muamalah. Pustaka Setia. Bandung
Sabiq, Sayyid. 1987. Fiqih Sunnah. Jilid 13. Pustaka, Jawa Barat
____ , 1990. Fiqh al-Sunnah al-Majallad al-Tsalis, Kairo: Dar al-Fath lil I’lam
al-’Arabi.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

187
Sugiono, 2004, Metode Penelitian Bisnis, Alfabet, Bandung.
Sula,M. Syakir, 2004. Asuransi Syariah Konsep dan Sistem Operasional,
Gema Insani, Jakarta.
Taqiyyudin, Abi Bakr Ibn Muhammad.1995. Kifayat Al Ahyar. PT.Al
Ma’arif Press.Bandung
Undang-Undang Ketenagakerjaan.2003.Sinar Grafika. Jakarta.
Widodo, Hertanto , dkk, 1999. PAS (Pedoman Akuntansi Syariah ) Panduan
Praktis Operasional BMT, MIZAN, Bandung
Wiroso. 2005. Jual Beli Murabahah. UII Press. Yogyakarta
_____, 2005. Penghimpunan Dana dan Distribusi Hasil Usaha Bank Syariah.
Grasindo. Jakarta
Zulkifli, Sunarto. 2003. Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah. Zikrul
Hakim. Jakarta.

Artikel, Makalah Seminar, Tesis, Hasil Penelitian
Basu.1999.Household labour Supply, Unemployment, and Minimum Wage.
World Bank Policy Paper 2049. Washington.
Bappenas, 2001, Upah Minimum ; Sebuah Kajian tentang Dampaknya
Terhadap Penciptaan Lapangan Kerja Di Masa Krisis, Bappenas,
Jakarta.
Couch, 1999, Distribution and Employment Infact of Raising The Minimum
Wage.FRBSF Economic Latter.Sanfransisco.CA 94120.
Dwiastuti, Dwi, 2007, Aktivitas Ekonomi Berbasis BagiHasil Dalam Sektor
Tersier: Studi Kasus di sub Perhotelan. P2E LIPI. Jakarta.
Helen, Monica.2008. Perbandingan Efisiensi Perbankan Konvensional
Terhadap Perbankan Syariah di Indonesia.Tesis. UI. Jakarta.
Iskandarsyah, Triyana.1996. Pengaruh Upah Minimum Terhadap
Pengangguran di Indonesia 1988-1993. Tesis. UI. Jakarta.
Jusmaliani.2005, Mengenal kembali Kegiatan Ekonomi Berbasis Bagi Hasil.
P2E LIPI. Jakarta.
____,2006, Pola bagi hasil Dalam Perekonomian. P2E LIPI. Jakarta.
____,2006, Potensi Pengembangan Pola Bagi Hasil. P2E LIPI. Jakarta.
____,2007, Aktivitas Ekonomi Berbasis Bagi Hasil Di Sektor Tersier:
Rekomendasi Kebijakan. P2E LIPI. Jakarta.

188
Kapiantari, Adriatni, 2002. Studi dan Rekomendasi Kebijakan Upah Minimum
bagi Buruh, perkembangan upah minimum 1996 – 1999. UI. Jakarta.
Listiani, Nurlia. 2006. Persepsi Masyarakat Terhadap Aktivitas Ekonomi
Berbasis Bagi Hasil Pada Sektor Manufaktur. P2E LIPI. Jakarta.
Macperson,2002, The Employment Infact Of Acomprehensive Living Wage
Laweridence From Florida. Employmen Policies Institute. Florida
State University.
Mulyaningsih, Yani, 2005, Aktivitas Ekonomi Berbasis Bagi Hasil; Revenue
Sharing. P2E LIPI. Jakarta.
_____,2006, Ekonomi Berbasis BagiHasil Dalam sektor Sekunder Di Daerah
Penelitian; Kasus industri Manufaktur. P2E LIPI. Jakarta.
_____, 2007, Aktivitas Ekonomi Berbasis BagiHasil Dalam Sektor Tersier: Studi
Kasus di sub Sektor Ruman Makan dan Restoran. P2E LIPI. Jakarta.
Muhammad Yasir Yusuf, 2008. Aplikasi Investasi Perbankan Syarih antara
Harapan dan Kenyataan( Suatu Kajian Terhadap praktek Mudharobah
,Musyarokah, dan murabahan). Unair. Surabaya.
Nafiq, Muhammad,2008. Model Perhitungan Nisbah Pada Sistim Bagi Hasil.
Unair. Surabaya.
Ngadi,2003. Pengaruh Upah Minimum Terhadap Kemiskinan Dan Kesempatan
Kerja di Indonesia. UI.Jakarta.
Novian, Muhammad, 2006, Analisis Yuridis Terhadap Perjanjian
Pembiayaan Pada Bank Syariah (murabaha, musyarokah dan
mudhorobah). UI. Jakarta.
Prawira, Hendra, 2001, Perbandingan Kinerja PT.Bank Jabar Syariah Sebelum
dan Sesudah Fatwa MUI Tentang Haramnya Bunga Bank, UI, Jakarta.
Septia, Yeni, 2006, Beberapa Kendala Dalam Pola Kemitraan Usaha Berbasis
Bagi Hasil Di Sektror Sekunder. P2E LIPI. Jakarta.
Saget. 2001.Is The Minimum Wages an Effective Tool to Promote Decen Work
and Reduce Poverty? The experience or selected Developing Countries.
Employmen Paper 2001/13. International Labour Office.
Thoha, Muhammad, 2005, Profit and loss Sharing. P2E LIPI. Jakarta.
Wahdy, afandi. 2007. Perbandingan Resiko dan Imbal hasil sukuk dan obligasi
Konvensional di Pasar Sekunder(Studi kasus di Bursa Efek Surabaya
2004 -2006). UI. Jakarta.
Yuniarti, Irma Putri,2007, Aktivitas Ekonomi Berbasis BagiHasil Dalam
Sektor Tersier: Studi Kasus di sub Telekomunikasi. P2E LIPI. Jakarta.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

189
Yaumudin, Karomah Umi,2007, Aktivitas Ekonomi Berbasis Bagi Hasil Di
Sektor Tersier: Sebuah Pengantar. P2E LIPI. Jakarta.
Yan Orgianus dan Oktofa Yudha Sudrajad, 2008. Rekayasa Model bagi
Hasil Dan Bagi Resiko Usaha Berdasar Pola Bagi Hasil. Unair.
Surabaya.

PENGARUH HUMAN RELATIONS TERHADAP
MOTIVASI KERJA KARYAWAN RUMAH SAKIT
UMUM DAERAH SUKADANA

Yuningsih
11



ABSTRAK

Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana merupakan rumah sakit tipe C
Pemerintah Kab. Lampung Timur yang berlokasi di Jl.Letnan Adnan
Sanjaya Lintas Timur Mataram Marga Sukadana. Untuk mewujudkan
tujuan rumah sakit diperlukan dukungan sepenuhnya dari seluruh
personil yang ada dalam rumah sakit. Masalah yang dihadapi oleh
Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana adalah penerapan pendekatan
human relations yang belum dilaksanakan secara baik dan keseluruhan.

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh human relations
terhadap motivasi kerja karyawan pada Rumah Sakit Umum Daerah
Sukadana. Hipotesis yang diajukan adalah human relations mempunyai
pengaruh yang positif terhadap motivasi kerja karyawan pada Rumah
Sakit Umum Daerah Sukadana.

Berdasarkan hasil perhitungan kuantitatif dengan rumus product moment
diperoleh r hitung sebesar 0,832. Nilai r
2
=0,692 serta besarnya pengaruh
69,2% yang berarti bahwa kemampuan peubah human relations dalam
mempengaruhi setiap pertambahan motivasi kerja adalah 69,2%.
Keywords : human relations, motivasi, kinerja


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap perusahaan atau organisasi memiliki tujuan akhir yaitu
memperoleh keuntungan dan mampu mempertahankan eksistensinya.
Sumber daya manusia adalah salah satu faktor produksi yang paling
dominan dan sangat berperan aktif dalam pencapaian visi dan misi
organisasi.


11
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung

192
Agar suatu perusahaan memiliki daya saing baik nasional maupun
internasional, maka sumber daya manusia atau tenaga kerja perusahaan
yang bersangkutan sebagai faktor produksi utama haruslah mendapat
perhatian yang lebih besar.

Menurut Malayu S.P Hasibuan (2003 : 10), Manajemen Sumber Daya
Manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga
kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan,
karyawan dan masyarakat.

Berdasarkan pengertian di atas tampak bahwa fungsi Manajemen
Sumber Daya Manusia adalah pencapaian tujuan organisasi tanpa
mengabaikan keefektifan dan keefisienan personalianya.

Menurut Sondang P.Siagian (2003:110), inti keberhasilan manajemen
adalah kepemimpinan. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang
mempengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian tujuan
organisasi, sedangkan inti kepemimpinan adalah human relations. Baik
buruknya manajemen tersebut tergantung pada baik buruknya
kepemimpinan, sedangkan baik buruknya kepemimpinan tersebut
tergantung pada baik buruknya human relations yang diterapkan dalam
organisasi atau perusahaan.

Menurut Ig. Wursanto ( 1999: 169 ), definisi Human Relations adalah
Segala hubungan baik yang bersifat formal, maupun yang bersifat
informal yang dijalankan oleh atasan terhadap bawahan, bawahan
terhadap sesama bawahan, atau atasan sesama atasan yang bertujuan
mendapatkan kepuasan hati para karyawan sehingga para karyawan
mempunyai semangat kerja, disiplin dan kerja sama yang tinggi.
Menurut Malayu S.P.Hasibuan ( 2003 : 137 ), “Hubungan antar manusia
(human relations) adalah hubungan kemanusiaan yang harmonis, tercipta
atas kesadaran dan kesediaan melebur keinginan individu demi
terpadunya kepentingan bersama.”

Fungsi Human Relations menurut HR.Danan Djaya ( 1995 : 63 ), yaitu :

1. Mencegah salah pengertian antara pimpinan dan bawahan
2. Mengembangkan kerja sama antara pimpinan dan bawahan
3. Dapat membentuk suatu teamwork yang efektif
4. Mengerahkan individu dalam kelompok pada suatu tujuan

Human relations yang baik sangat dibutuhkan dalam usaha mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, perlu kiranya pihak manajemen
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

193
perusahaan menerapkan prinsip-prinsip human relations dengan baik.
Dalam kegiatan human relations seorang pemimpin perusahaan berusaha
memecahkan masalah-masalah yang menimpa bawahannya secara
individual. Tujuannya untuk menggugah kegairahan dan kegiatan
bekerja dengan semangat kerjasama yang produktif dengan perasaan
bahagia dan hati yang puas, baik kepuasan ekonomis, psikologis
maupun kepuasan sosial. Human relations mempunyai fungsi untuk
memotivasi para karyawan, membangkitkan motif mereka, menggugah
daya gerak mereka, untuk bekerja lebih giat(Effendi, 2009:71).

Menurut Heidjrahman Ranupandojo dan Suad Husnan (2002 :78),
definisi motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tertentu guna mencapai suatu tujuan.

Pemimpin harus berusaha agar karyawan dalam suatu organisasi yang
dipimpinnya mempunyai motivasi kerja yang tinggi untuk
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Pencapaian tujuan
organisasi membutuhkan suatu human relations yang baik.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sukadana merupakan rumah sakit
tipe C Pemerintah Kab. Lampung Timur yang berlokasi di Jl.Letnan
Adnan Sanjaya Lintas Timur Mataram Marga Sukadana. Pada awalnya
fasilitas yang dimiliki adalah rawat inap kelas II dan III sebanyak 9
tempat tidur, rawat jalan terdiri dari poliklinik gigi dan umum.
Penunjang medik terdiri dari laboratorium klinik, farmasi dan gizi.
Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana memiliki karyawan sebanyak 154
orang. Tingkat absensi karyawan dapat dijadikan indikator motivasi
kerja. Tingkat absensi yang tinggi menunjukkan keadaan di mana
semangat dan kegairahan kerja karyawan rendah. Tingkat absensi
karyawan Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana menunjukkan angka
yang berfluktuasi, tingkat absensi yang tertinggi yaitu sebesar 4,68 %
terjadi pada Oktober 2009. Tingkat absensi terendah terjadi pada Juni
2010 sebesar 1,92 %. Rata-rata tingkat absensi yang terjadi selama periode
2009-2010 sebesar 3,30 %, sedangkan tingkat absensi yang ditolerir oleh
Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana adalah 1 % per bulan. Beberapa
hal yang menyebabkan absensi tersebut antara lain, sakit, izin untuk
keperluan keluarga dan sebab lain yang kurang jelas. Hal ini
menunjukkan bahwa motivasi kerja karyawan Rumah Sakit Umum
Daerah Sukadana masih rendah.

Selain itu Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana belum melengkapi
sarana dan prasarana yang dibutuhkan organisasi yang menimbulkan

194
suasana kerja yang menyenangkan, seperti fasilitas kerja belum
memadai, parkir di RSUD tidak memadai, tata letak alat-alat kerja belum
efektif. Pewarnaan ruangannya pudar sehingga karyawan terkadang
bosan lama-lama di dalam ruangan, seta kebersihan di RSUD Sukadana
masih kurang. Hal ini menyebabkan karyawan kurang termotivasi dalam
bekerja, dikarenakan suasana kerja di RSUD Sukadana belum
menyenangkan. Penerapan prinsip-prinsip hubungan manusiawi (human
relations) dalam sebuah organisasi diperlukan agar dapat terjalin
kerjasama yang baik dan selaras guna mencapai tujuan organisasi.

1.2 Permasalahan

Human relations merupakan keseluruhan hubungan, baik secara formal
maupun informal yang perlu diciptakan dan dibina sedemikian rupa
sehingga tercipta suatu kelompok kerja (team work) yang intim dan
harmonis dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Hal-
hal tersebut berpengaruh terhadap semangat dan kegairahan kerja
karyawan yang pada akhirnya berdampak pada motivasi kerja
karyawan. Masalah yang juga terjadi pada RSUD Sukadana adalah masih
tingginya tingkat absensi karyawan (3,3%) di atas batas toleransi
perusahaan 1 % per bulan.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penulisan

• Untuk mengetahui pengaruh human relations terhadap motivasi
kerja karyawan pada RSUD Sukadana.
• Untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada RSUD Sukadana
dalam rangka meningkatkan motivasi kerja karyawan dalam hal ini
berhubungan dengan human relations di masa yang akan datang.
• Sebagai bahan referensi bagi penulis dalam melakukan penelitian
• Sebagai hubungan karakteristik terhadap kinerja karyawan dengan
komitmen sebagai variabel mediasi

1.4 Kerangka Pemikiran

Human relations sangat penting dalam peningkatan motivasi kerja. Tidak
dapat disangkal adanya kenyataan-kenyataan dalam pendekatan bahwa
untuk sebagian kegagalan yang dialami oleh badan usaha baik dalam
instansi pemerintah maupun swasta disebabkan tidak dijalankannya
suatu human relations yang baik. Human relations yang baik dapat
meningkatkan motivasi kerja dan sebaliknya human relations yang buruk
dapat menurunkan motivasi kerja.

Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

195














Gambar 1. Human Relations mempengaruhi Motivasi Kerja Karyawan

Gambar 1. menunjukkan bahwa variabel human relations mempengaruhi
motivasi kerja karyawan. Bila human relations yang diterapkan dalam
organisasi berjalan dengan baik maka motivasi kerja karyawan akan
meningkat.

1.5 Hipotesis

Berdasarkan latar belakang, permasalahan, dan kerangka pemikiran di
atas maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:

“Human relations mempunyai pengaruh yang positif terhadap
motivasi kerja karyawannya.”

11. METODE PENELITIAN

2.1 Jenis Penelitian

Dalam penyusunan skripsi ini jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian explanatory ( penelitian penjelasan ).

2.2 Metode Pengumpulan Data

2.2.1 Penelitian Pustaka

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan dasar teoritis yang akan
dipakai dalam pembahasan. Penelitian ini dilakukan dengan
Human Relations

1. Sinkronisasi Tujuan
Organisasi dan tujuan
individu
2. Suasana Kerja Yang
Menyenangkan
3. Pengakuan dan
penghargaan atas
pelaksanaan tugas dengan
baik
Motivasi Kerja

1. Pekerjaan seseorang
2. Kesempatan yang
bertumbuh
3. Kemajuan dalam karir
4. Hubungan seorang individu
dengan atasannya
5. Hubungan seseorang
dengan rekan-rekan
sekerjanya
6. Kondisi kerja

196
mempelajari buku-buku literatur, karangan ilmiah, dan buku-buku yang
berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

2.2.2 Penelitian Lapangan

Penelitian dilakukan langsung ke Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana.
Metode pengumpulan data dilakukan melalui metode penyebaran
kuisioner yang berkaitan dengan pengaruh human relations dan motivasi.
Dalam penyusunan instrumen seperti kuisioner, indikator yang akan
dijadikan sebagai pertanyaan atau pernyataan dalam kuisioner
dikembangkan dari kerangka pemikiran. Jawaban dari setiap pernyataan
tersebut ditentukan skornya dengan menggunakan skala likert. Indikator
tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item yang
dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.

Skala likert yang digunakan yaitu skala : (1,2,3,4,5) dengan kriteria
umum skor yang digunakan untuk jawaban adalah :
• Sangat setuju, skor (5)
• Setuju, skor (4)
• Netral, skor (3)
• Tidak setuju, skor (2)
• Sangat tidak setuju, skor (1)

2.3 Penelitian sampel

Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 110) :
“Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya
sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi,
selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15
%, 20-25 % atau lebih.”

Berdasarkan keterangan di atas, penulis mengambil sampel secara
random yaitu:

Sampel = 20 % × 154 orang
Sampel = 31 orang

2.4 Definisi Operasional Variabel

Variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah variabel X
dan variabel Y. Variabel X merupakan variabel bebas yaitu human
relations. Indikator variabelnya adalah suasana kerja yang
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

197
menyenangkan, sinkronisasi tujuan organisasi dan tujuan individu,
pengakuan dan penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik.

Variabel Y merupakan variabel terikat yaitu motivasi kerja. Indikator
variabelnya adalah pekerjaan seseorang, kesempatan yang bertumbuh,
kemajuan dalam karir, hubungan seorang individu dengan atasannya,
hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, dan kondisi kerja.

2.5 Metode Pengukuran Data

Teknik pengukuran data yang digunakan adalah dengan skala Likert.
Menurut Hasan (2002: 72) Skala Likert merupakan jenis skala yang
digunakan untuk mengukur variabel penelitian (fenomena sosial
spesifik), seperti sikap, pendapat, persepsi sosial seseorang atau
sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial.

Variabel penelitian yang diukur dengan skala likert ini, dijabarkan
menjadi indikator variabel yang kemudian dijadikan sebagai titik tolak
penyusunan item-item instrumen, bisa berbentuk pertanyaan atau
pernyataan.

2.6 Uji Instrumen Penelitian

2.6.1 Uji Validitas

Menurut Arikunto (2006:144), validitas adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument.
Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar
pernyataan yang disebarkan kepada responden. Instrumen yang dibuat
sebelum disebarkan kepada responden harus diuji kevalidan dan
keriabelannya agar daftar pernyataan yang dibuat tersebut benar-benar
mampu menguak data sehingga mampu menjawab permasalahan
hingga tujuan penelitian tercapai.
Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas yang tinggi,
sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang
rendah. Metode uji validitas yang digunakan pada penelitian ini adalah
metode korelasi product moment dengan menggunakan program SPSS
15.0 for Windows dengan rumus sebagai berikut :

rxy =
( )( )
( ) [ ] ( ) [ ]
2
2
2
2
∑ ∑ ∑ ∑
∑ ∑ ∑
− −

y y n x x n
y x xy n



198
Keterangan :
rxy = Keeratan hubungan (korelasi)
x = Jumlah skor pertanyaan
y = Jumlah skor total pertanyaan
n = Jumlah sampel yang akan diuji

Kriteria keputusan :
rxy hitung > r tabel maka valid atau sahih
rxy hitung < r tabel maka tidak valid atau sahih

Dari pengujian validitas dapat diperoleh hasil yang ditunjukkan Tabel 5
berikut ini:

Tabel 5. Hasil Uji Validitas

P r-hitung X1 r-hitung X2 r-hitung X3 r-hitung Y r-tabel n=31 Keterangan
1 0,72 0,826 0,575 0,617
0,355

Valid
2 0,745 0,693 0,608 0,614 Valid
3 0,632 0,789 0,803 0,738 Valid
4 0,763 0,657 0,758 0,718 Valid
5 0,6 0,724 0,677 0,756 Valid
6 0,687 Valid
Sumber : Data diolah SPSS, 2009

Dari Tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa semua item pernyataan
memiliki nilai r-hitung > r-tabel ( 0,355 ) sehingga dalam hal ini semua
item pernyataan di atas dinyatakan valid.

2.6.2 Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat
pengukur (instrument) yang digunakan dapat dipercaya. Untuk
mengetahui reliabilitas digunakan rumus Spearman Brown dengan
menggunakan program SPSS 15.0 for Windows.

2 (r½½)r 11=
(1 + r½½)

Keterangan :
r11 = Reliabilitas
r½½ = rxy yang disebutkan sebagai koefisien korelasi antara variabel
x dan y
Bila r11≥ rt maka instrumen reliabel
Bila r11≤ rt maka instrumen tidak reliabel
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

199
Dari pengujian reliabilitas dapat diperoleh hasil yang ditunjukkan Tabel
6 berikut ini :

Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas

P r11 X1 r11X2 r11X3 r11Y

r-tabel
n = 31
Keterangan
1
0,623 0,722 0,768 0,811
0,355 Reliabel
2 0,355 Reliabel
3 0,355 Reliabel
4 0,355 Reliabel
5 0,355 Reliabel
6 0,355 Reliabel
Sumber : Data diolah SPSS, 2010

Dari Tabel 6 di atas dapat diketahui bahwa semua item pernyataan
memiliki nilai r 11 ≥ r- tabel (0,355) sehingga dalam hal ini semua item
pernyataan di atas dinyatakan reliabel.

2.7 Alat Analisis

2.7.1 Analisis Kualitatif

Metode ini dilakukan dengan menggunakan konsep-konsep manajemen
sumber daya manusia (personalia) khususnya teori-teori yang berkaitan
dengan human relations dalam rangka meningkatkan motivasi kerja
karyawan.

2.7.2 Analisis Kuantitatif

Untuk mengetahui adanya hubungan human relations terhadap motivasi
kerja karyawan Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana, digunakan
rumus korelasi product moment :

rxy =
( )( )
( ) [ ] ( ) [ ]
2
2
2
2
∑ ∑ ∑ ∑
∑ ∑ ∑
− −

Y Y N X X N
Y X XY N


Keterangan : rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dan Y
X = Nilai skor untuk human relations
Y = Nilai skor untuk motivasi kerja
N = Jumlah responden


200
Untuk mengetahui besarnya pengaruh human relations terhadap motivasi
kerja karyawan dapat dilihat dengan menggunakan rumus koefisien
penentu yaitu :
KP = (rxy)² X 100 %

III. PEMBAHASAN

3.1 Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini diambil 31 orang responden, dengan karakteristik
sebagai berikut :

Tabel 7. Karakteristik Responden

No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1
Jenis Kelamin Laki-laki 8 26

Perempuan 23 74
2
Usia < 25 th 12 39

26-40 tahun 15 48

> 40 tahun 4 13
3
Pendidikan SMA/SMK 3 10

Diploma 26 84

S1 2 6
4
Masa Kerja < 5 tahun 12 39

5 - 10 tahun 12 39

> 10 tahun 7 22
Sumber : Data diolah, 2010

4.2 Analisis Kuantitatif

Untuk mengetahui adanya pengaruh human relations terhadap motivasi
kerja karyawan digunakan pendekatan alat analisis korelasi product
moment, serta dilanjutkan dengan rumus koefisien penentu.

1. Pengaruh Sinkronisasi Tujuan Organisasi dan Individu terhadap
Motivasi Kerja

Untuk mengetahui adanya pengaruh antara sinkronisasi tujuan
organisasi dan tujuan individu terhadap motivasi kerja karyawan
digunakan rumus product moment dengan sinkronisasi tujuan organisasi
dan tujuan individu sebagai variabel X dan motivasi kerja sebagai
variabel Y, serta dilanjutkan dengan rumus koefisien penentu.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

201
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dengan N = 31 diperoleh r
hitung sebesar 0,707. Perolehan r tabel pada tingkat kepercayaan 95 %
atau α= 0,05 sebesar 0,355. Berarti r hitung lebih besar dari r tabel. Hal ini
menunjukkan adanya hubungan yang positif antara sinkronisasi tujuan
organisasi dan individu terhadap motivasi kerja karyawan dengan
tingkat keeratan 0,707.

Nilai r² menunjukkan hasil sebesar 0,50 hal ini berarti sumbangan
variabel X (sinkronisasi tujuan organisasi dan tujuan individu) untuk
berperan dalam mempengaruhi setiap penambahan variabel Y (motivasi
kerja) sebesar 50 %.

2. Pengaruh Suasana Kerja yang Menyenangkan terhadap Motivasi
Kerja

Untuk mengetahui adanya pengaruh antara suasana kerja yang
menyenangkan terhadap motivasi kerja karyawan digunakan rumus
product moment dengan suasana kerja yang menyenangkan sebagai
variabel X dan motivasi kerja sebagai variabel Y, serta dilanjutkan
dengan rumus koefisien penentu.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dengan N = 31 diperoleh r
hitung sebesar 0,789. Perolehan r tabel pada tingkat kepercayaan 95%
atau α = 0,05 sebesar 0,355. Berarti r hitung lebih besar dari r tabel. Hal
ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara suasana kerja
yang menyenangkan terhadap motivasi kerja karyawan dengan tingkat
keeratan 0,789. Nilai r
2
menunjukkan hasil sebesar 0,623 hal ini berarti
sumbangan variabel X (suasana kerja yang menyenangkan) untuk
berperan dalam mempengaruhi setiap penambahan variabel Y (motivasi
kerja) sebesar 62,3 %.

3. Pengaruh Pengakuan dan Penghargaan Atas Pelaksanaan Tugas
dengan Baik terhadap Motivasi Kerja

Untuk mengetahui adanya pengaruh antara pengakuan dan
penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik terhadap motivasi
kerja karyawan digunakan rumus product moment dengan pengakuan
dan penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik sebagai variabel X
dan motivasi kerja sebagai variabel Y, serta dilanjutkan dengan rumus
koefisien penentu.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dengan N =31 diperoleh r hitung
sebesar 0,751. Perolehan r tabel pada tingkat kepercayaan 95% atau α =

202
0,05 sebesar 0,355. Berarti r hitung lebih besar dari r tabel. Hal ini
menunjukkan adanya hubungan yang positif antara pengakuan dan
penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik terhadap motivasi
kerja dengan tingkat keeratan 0,751. Nilai r
2
menunjukkan hasil sebesar
0,564 hal ini berarti sumbangan variabel X ( pengakuan dan
penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik ) untuk berperan
dalam mempengaruhi setiap penambahan variabel Y (motivasi kerja)
sebesar 56,4 %.

4. Pengaruh Human Relations Terhadap Motivasi Kerja Karyawan

Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa dengan N=31
diperoleh r hitung sebesar 0,832. Perolehan r tabel pada tingkat
kepercayaan 95% atau α = 0,05 sebesar 0,355. Berarti r hitung lebih besar
dari r tabel. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara
human relations terhadap motivasi kerja. Nilai r
2
menunjukkan hasil
sebesar 0,692 hal ini berarti sumbangan variabel X ( human relations )
untuk berperan dalam mempengaruhi setiap penambahan variabel Y
(motivasi kerja) sebesar 69,2 %.

V. SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa human relations
mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi kerja karyawan Rumah
Sakit Umum Daerah Sukadana, hal ini didasarkan pada :

1. Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Product Moment
diperoleh r hitung sebesar 0,832. Nilai r
2
=0,692 serta besarnya
pengaruh 69,2% yang berarti bahwa kemampuan peubah human
relations dalam mempengaruhi setiap pertambahan motivasi kerja
adalah 69,2%.

Hal ini juga didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut :

a. Terdapat pengaruh antara tingkat sinkronisasi tujuan organisasi
dan individu terhadap motivasi kerja karyawan, tingkat
keeratannya 0,707 dan nilai r
2
= 0,50 serta besarnya pengaruh 50
% yang berarti bahwa kemampuan peubah sinkronisasi tujuan
organisasi dan individu (X1) dalam mempengaruhi setiap
pertambahan peubah motivasi kerja (Y) adalah sebesar 50 %.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

203
b. Terdapat pengaruh antara suasana kerja yang menyenangkan
terhadap motivasi kerja karyawan, tingkat keeratannya sebesar
0,789 dan nilai r
2
=0,623 serta besarnya pengaruh 62,3 % yang
berarti bahwa kemampuan peubah suasana kerja yang
menyenangkan (X2) dalam mempengaruhi setiap pertambahan
peubah motivasi kerja (Y) adalah sebesar 62,3 %.
c. Terdapat pengaruh antara pengakuan dan penghargaan atas
pelaksanaan tugas dengan baik terhadap motivasi kerja
karyawan, tingkat keeratannya 0,751 dan nilai r
2
= 0,564 serta
besarnya pengaruh 56,4 % yang berarti bahwa kemampuan
peubah pengakuan dan penghargaan atas pelaksanaan tugas
dengan baik (X3) dalam mempengaruhi setiap pertambahan
peubah motivasi kerja (Y) adalah sebesar 56,4 %.

2. Hasil kuisioner mengenai sinkronisasi tujuan organisasi dan tujuan
individu menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan tidak
mengetahui dengan jelas tujuan organisasi. Atasan tidak
memberikan pengarahan sebelum karyawan melakukan pekerjaan.
Atasan tidak meminta ide dari dari karyawan apabila timbul
masalah yang berkenaan dengan tugas, namun atasan tidak
memaksakan pendapat dan keinginannya demi kemajuan RSUD
Sukadana di masa yang akan datang. Atasan tidak meyakinkan
karyawan tentang keberhasilan dan kemajuan RSUD di masa yang
akan datang.

3. Hasil kuisioner mengenai suasana kerja yang menyenangkan
menunjukkan bahwa secara keseluruhan suasana kerja yang
menyenangkan pada RSUD Sukadana belum terwujud seluruhnya.
Fasilitas kerja di RSUD Sukadana belum memadai sehingga belum
menciptakan semangat dan kegairahan kerja.

4. Hasil kuisioner mengenai pengakuan dan penghargaan atas
pelaksanaan tugas dengan baik secara keseluruhan menunjukkan
bahwa masih kurangnya pimpinan memberikan pujian dan
penghargaan atas hasil kerja karyawan sehingga karyawan menjadi
tidak semangat dalam bekerja.

5. Faktor-faktor sinkronisasi tujuan organisasi dan individu, suasana
kerja yang menyenangkan serta pengakuan dan penghargaan atas
pelaksanaan tugas dengan baik akan meningkatkan motivasi kerja
karyawan. Hasil kuisioner mengenai motivasi kerja menunjukkan
bahwa secara keseluruhan motivasi kerja karyawan rendah,
dikarenakan mereka tidak memiliki kesempatan untuk

204
mengembangkan kemampuan, tidak memiliki kesempatan untuk
maju, hubungan kerja dengan pimpinan tidak berjalan baik,
hubungan kerja dengan sesama rekan kerja tidak berjalan dengan
baik, situasi lingkungan kerja tidak baik dan tidak menyenangkan.

6. Berdasarkan analisis kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan maka
hipotesis yang diajukan penulis bahwa human relations mempunyai
pengaruh yang positif terhadap motivasi kerja karyawan RSUD
Sukadana dapat diterima.

Saran

1. Pemimpin RSUD Sukadana hendaknya melakukan kegiatan
memotivasi karyawan dengan memberikan penjelasan, bimbingan,
atau pengarahan mengenai tujuan RSUD, karena seorang karyawan
yang tidak mengetahui dan memahami tujuan RSUD dengan baik
akan sulit bekerja dengan semangat dan kegairahan yang tinggi.

2. Pemimpin RSUD Sukadana hendaknya lebih memperhatikan
fasilitas kerja yang dapat menimbulkan perasaan nyaman pada saat
bekerja dan juga harus menciptakan semangat dan kegairahan kerja
karyawan.

3. Pemimpin RSUD Sukadana hendaknya lebih memberikan
pengakuan dan penghargaan atas kerja dari para karyawan salah
satunya dengan memberikan pujian dan penghargaan sehingga
karyawan dapat termotivasi dalam bekerja.

4. Penerapan human relations di RSUD Sukadana terbukti mempunyai
peranan dalam meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga
baik pemimpin RSUD Sukadana dan karyawan perlu menerapkan
prinsip-prinsip human relations.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Penerbit Asdi Mahasatya.
Jakarta.
Alhadza, Abdullah. 2001. http : // www.depdiknas.go.id/ jurnal
/Pengaruh Motivasi Berprestasi dan Perilaku. htm.
Djaja, H.R. Dhanan. 1995. Peranan Humas Dalam Perusahan. Penerbit
Alumni. Bandung.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

205
Effendy, Onong Uchjana. 2009. Human Relations dan Public Relations dalam
Management. Penerbit CV Mandar Maju. Bandung.
Gibson, Ivancevich, Donelly. 1999. Perilaku, Struktur, Proses 1
(Terjemahan). Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta.
Handoko, T.Hani. 2005. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia.
Penerbit BPFE. Yogyakarta.
Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Metode Penelitian dan Aplikasinya.
Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.
Hasibuan, Malayu S.P. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia dan Kunci
Keberhasilan. Penerbit CV Haji Masagung. Jakarta.
Hasibuan, Malayu S.P. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. PT Bumi
Aksara. Jakarta.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mangkuprawira, Tb.Sjafri. 2001. Manajemen Strategik. Penerbit Ghalia.
Jakarta.
Manullang, M. 2000. Manajemen Personalia. Penerbit Ghalia Indonesia.
Jakarta.
Mondy, R.Wayne and Robert M.Noe. 2005. Human Resources Management
: Ninth Edition. New Jersey : Pearson Education. Inc.
Ranupandojo, Heidjrachman dan Suad Husnan. 2002. Manajemen
Personalia, Edisi Keempat. Penerbit BPFE-UGM. Yogyakarta.
Setiati, A. Dian. 2002. Jurnal Bisnis dan Manajemen. Magister Manajemen
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Siagian, Sondang P. 1999. Teori Motivasi dan Aplikasinya. PT Rineka Cipta.
Jakarta.
Siagian, Sondang P. 2003. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Penerbit Rineka Citra. Jakarta.
Siagian, Sondang P. 2005. Fungsi-Fungsi Manajerial. Penerbit PT Bumi
Aksara. Jakarta.
Wursanto, Ig. 1999. Etika Komunikasi Kantor. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.

TINJAUAN KEMBALI LEADERSHIP IN
ADMINISTRATION: A SOCIOLOGICAL
INTERPRETATION (Selznick, 1957)

Ayi Ahadiat
12



ABSTRACT

Conceptually, leadership, as an on going debatable topic, is becoming a more
elusive and ambiguous research constructs. Therefore, it will always be a “hot
topic” to be studied and discoursed. Core concept of leadership is very
important to be used in critical decision making. Selznick (1957) has been a
classic in leadership elaborates concept of leadership beyond efficiency, beyond
organization, leadership responsibility and creativity. The distinctive
competence concept has inspired various studies in resource-based view
strategic management. In the review section the writer emphasize pros and cons
of leadership that show more contribution to the development of leadership
theory.

Keywords: kepemimpinan institusional, karakter kepemimpinan, dan
pelembagaan.


I. PENDAHULUAN
1.1 Organisasi, Premis Kepemimpinan dan Kegagalam Kepemimpinan
Sifat dan kualitas kepemimpinan, dari segi kenegarawanan, sesuatu yang
elusif atau tidak mudah untuk menjelaskannya namun merupakan topik
yang tetap hangat (hot topic) dalam sejarah perkembangan idenya. Pada
awalnya kepemimpinan merupakan wilayah kajian yang banyak
diperhatikan oleh bidang politik, namun kini juga masuk kewilayah
industri, pendidikan, psikologi, administrasi dan lainnya. Pemahaman
kepemimpinan harusnya menjadi agenda kajian sosial yang penting baik
dalam organisasi publik maupun privat. Studi saintifik tentang
kepemimpinan telah berkembang dalam bidang manajemen industri dan
administrasi publik.

12
Ayi Ahadiat, S.E. MBA: Dosen Tetap FE Unila dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu
Manajemen FEB UGM

208
Pertanyaan yang sering muncul seperti: Bagaimana cara menjadikan
organisasi menjadi lebih efisien? Mendorong berkembangnya logika
efesiensi. Namun ternyata dalam organisasi besar kepemimpinan tidak
hanya efisiensi saja. Kepemimpinan disini menyangkut tanggungjawab
dan kretifitas, serta perubahan organisasi menjadi institusi. Selznick
beragumen: “Seorang eksekutif menjadi negarawan manakala dia
membuat transisi dari manajemen administratif menjadi kepemimpinan
institusional. Untuk itu perlu pemahaman apa arti istilah institusi.
a. Organisasi dan institusi (Organization and Institution)
Istilah organisasi memberikan suatu gambaran keterbukaan, ramping,
bukan sistem “non sense” dari aktifitas yang terkoordinasikan secara
sadar. Merupakan suatu alat yang digunakan (expendable) dalam rangka
mencapai tujuan atau sebagai instrumen yang direkayasa untuk
mengerjakan suatu tugas. Sedangan institusi merupakan sebagai hasil
natural (natural product) dari kebutuhan dan tekanan sosial menjadi
serupa organisme yang adaptif atau responsif. Pembedaan ini hanya
semata dari segi analisisnya saja, bukan pada deskripsinya dan tidak
berarti bahwa suatu perusahaan tergolong pada salah satu diantaranya.
Hal-hal yang perlu diketahui yang berkaitan dengan perubahan adaptif
dari suatu organisasi terhadap lingkungannya adalah: 1) Pengembangan
ideologi adminstratif sebagai perangkat komunikasi dan pertahanan
yang dilakukan baik secara sadar ataupun tidak; 2) Penciptaan dan
perlindungan elit organisasi/institusi, dan; 3) tumbuhnya kelompok
kepentingan yang berpengaruh pada organisasi.
Institusionalisasi adalah suatu proses, yang ada pada setiap organisasi,
memasukan suatu nilai (infusion with values) yang lebih dari aspek teknis.
Uji dari masuknya suatu nilai adalah kemampuan institusi dalam
menggunakan sumberdayanya untuk mencapai tujuan (expandability).
Organisasi adalah instrumen yang expandable, jika tersedia yang lebih
efisien maka dapat digantikan dengan yang baru. Transformasi
organisasi teknis yang expandable ditandai oleh kepedulian pengelolanya
terhadap pemeliharaan diri (self-maintenance).
b. Premis-Premis tentang Kepemimpinan (Some Premises about
Leadership)
Premis 1: Kepemimpinan adalah sejenis pekerjaan yang dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan dari suatu situasi sosial.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

209
Kepemimpinan dapat dilihat sebagai bentuk kegiatan yang
terspesialisasi atau jenis pekerjaan atau fungsi. Karakteristik
kepemimpinan akan sangat tergantung pada situasi tertentu. Secara
fungsional akan menggunakan alat yang sesuai. Ada variasi karakteristik
individu pemimpin untuk situasi yang sama, bahkan variasi itu
bertambah besar jika situasinya berbeda (Jenkins 1947 dalam Selznick,
1957:23). Kepemimpinan adalah hubungan yang terjadi antara orang per
orang dalam situasi sosial, seorang dapat menjadi pemimpin dalam
situasi tertentu namun belum tentu pada situasi lainnya (Stogdill, 1948
dalam Selznick, 1957:23). Teori kepemimpinan sangat tergantung pada
teori organisasi sosial.
Premis 2: Kepemimpinan tidak setara dengan mengelola kantor atau
posisi dengan prestise tinggi atau kewenangan/otoritas atau
pengambilan keputusan.
Dalam mengidentifikasi kepemimpinan dengan melihat apa yang
dikerjakan oleh seseorang dari “tempat” tinggi akan tidak membantu.
Dalam pengembangan teorinya akan berguna untuk didiagnosis bahwa
kepemimpinan tidak cukup pada aspek otoritas saja, namun proses
pengambilan keputusan, baik rutin maupun kritikal.
Premis 3: Kepemimpinan itu dispensable.
Dapat dipastikan bahwa setiap kelompok manusia sepanjang waktunya
memerlukan sebentuk kegiatan kepemimpinan. Jika kepemimpinan itu
bersifat manentukan maka perlu diketahui kapan kepemimpinan itu
harus hadir kapan tidak diperlukan. Teori kepemimpinan (Theory of
Leadership) terkait kegiatan, fungsi, pekerjaan yang dilakukan oleh
pemimpin. Karena kepemimpinan itu dispensable, maka ia dapat
diadministrasikan.
c. Kegagalan suatu Kepemimpinan (The Default of Leadership)
Ketidakberhasilan suatu kepemimpinan lebih disebabkan oleh tidak
adanya pada saat diperlukan bukan karena kesalahannya, sehingga
menjadikan lembaga tidak menentu dan menjadi mudah terpengaruh
dalam kepentingan oportunistik jangka pendek. Tipe default pertama
adalah kesalahan dalam menentukan sasaran (goals). Manakala
organisasi sedang berjalan (going concern) orang sibuk dengan
pekerjaannya dan dengan tidak sengaja lupa menentukan tujuan, kalau
pun ada tujuan itu tidak memberikan panduan secara jelas.

210
Bentuk default lainnya pada saat sasaran, walapun telah diformulasikan
dengan baik, memperoleh penerimaan “basa basi” dan tidak dapat
mempengaruhi struktur perusahaan secara total. Nilai atau value yang
diterima harusnya menginfus pada semua level organisasi, berdampak
pada perspektif dan sikap personil, relatif penting dalam kegiatan staf,
distribusi otoritas, hubungan dengan kelompok eksternal serta banyak
lainnya lagi. Pemimpin disini sebagai agen institusionalisasi (agent of
institutionalization). Kegagalan suatu kepemimpinan dapat tampak dalam
bentuk yang jelas (acute form) manakala beraduknya antara prestasi atau
daya tahan organisasi dengan keberhasilan institusional.
1.2. Keputusan Rutin dan Kritikal (Routine and Critical Decesion)
a. Analogi Psikologikal (Psychological Analogy)
Dapat dipertimbangkan dua psikolog, yang pertama menitik beratkan
pada proses psikologis rutin (routine psychological process) dan yang
lainnya psikolog klinikal (clinical psychologist). Sifat proses rutin adalah
teknikal dalam menjalankan fungsinya. Fungsi rutin bukan saja teknik
yang sudah tua tapi juga melahirkan banyak perspektif baru hubungan
manusia (human relation). Yang menjadi counterpart dari human relation
adalah adaptasi dinamis yang merupakan minat dari psikolog klinikal.
Dinamisme diasosiakan dengan modifikasi dari personalitas, sehingga
akan berdampak pada modus respon yang kemudian akan muncul.
Sedangkan Erich Fromm, dari segi psikoanalitik membedakan antara
adaptasi statis dan dinamis. Adaptasi statis menunjukan struktur
karakter keseluruhan tidak berubah dan yang berubah hanya kebiasaan
baru yang diadopsi saja. Adaptasi dinamis terjadi pada wilayah
bayangan bertemunya administrasi dan kebijakan. Adaptasi
kepemimpinan adalah menginteraksikan kekuatan internal dan eksternal
yang akan memberikan perubahan mendasar pada institusi, ini
merupakan wilayah pengalaman kritikal (critical experience). Wilayah ini
merupakan komitmen “character-defining” yang berdampak pada
perubahan kapasitas organisasi untuk mengendalikan prilaku masa
depannya. Terminologi “kepemimpinan” (“leadership”) mempunyai
konotasi pengalaman kritikal dari pada praktek rutin. Peran dari
kepemimpinan adalah membuat keputusan kritikal.


Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

211
b. Konsep Karakter Organisasi (The Concept of Organization
Character)
Ada empat atribut karakter yang menjadi persetujuan umum: 1) Karakter
adalah produk bersejarah (historical product); 2) Karakter merupakan
bentuk keterpaduan atau struktur karakter (character-structure); 3)
Karakter itu fungsional artinya bukan respon yang terpola secara tidak
sengaja, dan; 4) Karakter bersifat dinamis yang melahirkan upaya baru,
kebutuhan baru dan masalah.
Kita pertimbangkan karakter tersebut dalam konteks organisasi berubah
menjadi institusi memberikan butir butir pemikiran sebagai berikut: 1)
Organisasi sebagai sistem teknikal, rasional, impersonal, berorientasi tugas
terkondisi oleh interaksi responsif dari orang orang dan kelompok; 2)
Sejalan dengan waktu, interaksi responsif dipola secara historis,
fungsional dan dinamis; 3) Organsisasi menjadi institusi manakala telah
dimasuki oleh nilai (infuse with value), dipandang bukan sebagai alat saja,
namun sumberdaya yang mewujudkan kepuasan personal dan
merupakan kendaraan integritas kelompok – pada gilirannya menjadi
integrasi sosial.
c. Karakter Kompetensi Pembeda (The Character as Distinctive
Competence)
Karakter pembeda kompetensi adalah terdapatnya komitmen dalam
mengadaptasikan diri dalam, menghadapi tekanan dalam dan luar
organisasi dalam melaksanakan keputusan untuk mewujudkan tujuan.
d. Keputusan kritis dan Kebijakan (Policy and Critical Decision)
Dalam kajian administrasi publik secara analitikal dibedakan antara
pembuatan kebijakan (policy-making) dan keputusan layanan kebijakan
(policy serving decisions). Hal ini mencerminkan pembedaan antara
“policy” dan “administration”, yang awal menunjukan tujuan dan aturan
diformulasikan oleh pengundang (legislatur) atau badan politik,
sedangkan yang akhir digunakan sebagai fungsi teknikal, eksekutif, dan
layanan kebijakan. Istilah kebijakan (policy) dasar ditujukan kepada
keputusan yang memiliki dampak jangka panjang bagi organisasi
(kritikal). Berikut adalah praktek organisasi yang masuk dalam wilayah
keputusan kritikal dari suatu kepemimpinan: 1) Keputusan berkenaan
dengan rekruitmen personalia, dapat merupakan bagian dari kejadian
kritikal; 2) Pelatihan personil juga dapat masuk dalam wilayah kejadian
kritikal kepemimpinan; 3) pengembangan organisasi dapat dikatakan

212
sebagai kebijakan pembentukan sistem yang mewakili kepentingan
kelompok internal; 4) Kerjasama dengan organisasi lain merupakan
wilayah kegiatan adminsitratif yang sarat dengan implikasi kebijakan.
Contoh praktek ini dapat memberikan nuansa pembeda antara kejadian
kritikal dan rutin, serta adaptasi dinamis dan statis.
e. Fungsi-fungsi Kepemimpinan Institusional (The Functions of
Institutional Leadership)
Hubungan antara kepemimpinan dengan karakter organisasi dapat
dilihat dari tugas yang harus lakukan oleh pemimpin, sebagai berikut: 1)
mendefiniskan misi dan peran; 2) penyatukan tujuan kedalam institusi;
3) mempertahankan integritas institusi, dan; 4) penyelesaikan konflik
internal. Dalam tulisan ini akan diperdalam kajian butir satu sampai
tiga, dan sekilas akan disinggung butir ke empat.
1.3. Definisi Misi dan Peran (The Definition of Mission and Role)
Dalam organisasi sering kita mendengar pertanyaan Apa yang harus
dilakukan? Harus menjadi apa kita (organisasi) ini? Seorang pemimpin
institusional harus memerankan diri dalam penentuan sasaran untuk
menjawab semua pertanyaan tersebut, sesuai dengan aspirasi yang
berkembang.
a. Tujuan dan Komitmen (Purpose and Commitment)
Arah (aims) organisasi yang besar biasanya sangat luas, kabur dan sulit
melihat sasaran yang spesifik secara realistik hal ini menjadi tantangan
bagi pemimpin untuk menspesifikasi dan menulisnya dalam arahan
umum dari organisasi sehingga dapat diadopsi tanpa penyimpangan
serius untuk memenuhi tuntutan daya tahan institusi untuk tetap exist.
Pernyataan ini mendasari definisi misi dan peran institusi. Pernyataan
misi adalah pernyataan tujuan yang secara universal dapat dipahami
untuk menjamin berjalannya adminsitrasi secara efektif. Dalam
mendifinisikan misi pemimpin harus mempertimbangkan kondisi
internal dan eksternal organisasi.
b. Penolakan Teknologi (The Retreat to Technology)
Ancaman terhadap integrasi tujuan dan komitmen, walaupun misi sudah
didefinisikan secara memadai, adalah manakala orientasi terhadap
teknologi terjadi secara prematur atau berlebihan. Penolakan teknologi
muncul manakala kelompok menghidar dari komitmen yang sebenarnya
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

213
dengan menyerahkan tanggungjawab kepada pihak lain, sebagai cara
menutupi bahwa dia mengisolasi diri terhadap teknologi karena ada rasa
kekawatiran tertentu.
c. Peran Organisasi (Organization Roles)
Misi organisasi tidak akan terdefinikan secara memadai jika tidak
menentukan elemen kunci dari pembagian peran dalam organisasi.
Elemen kunci itu adalah: a) metode dasar, yang merupakan alat utama
atau cara menenpuh misi, dan; b) bagian organisasi mana yang akan
mengerjakan misi (pembagian peran). Secara umum peran adalah cara
perprilaku dalam kaitan dengan posisi pada system social. Oleh
karenanya setiap masyarakat, kelompok dalam masyarakat, selalu
menentukan peran bagi anggotanya. Peran ini memberikan ekspektasi
prilaku seperti apa yang diharapkan organisasi terhadap anggotanya.
Peran menjadi anak, ayah, guru, tetangga, juru ketik, penduduk, dll. Ada
yang menerima peran ini secara sadar dan ada yang tidak. Pengambilan
peran ini (role-taking) merupakan proses adaptif dan merupakan modus
strukturisasi diri dalam sistem sosial yang dilakukan secara tidak sadar.
Pengambilan peran adalah efek dari keputusan pribadi seorang
berkenaan dengan apa yang dia harus kerjakan, dan dibentuk oleh
kemampuan dan juga tuntutan organisasi.
1.4. Pelembagaan Tujuan (The Institutional Embodiment of Purpose)
Setelah penentuan misi dan peran tugas berikut seorang pemimpin
adalah membangun tujuan kedalam struktur organisasi usaha atau
dengan kata lain mentransformasikan badan yang netral menjadi
lembaga yang berkomitmen. Hal ini dapat dilakukan dengan komunikasi
ekstensif. Masalahnya adalah bagaimana mengetahui dan menguji
kondisi institusi yang siap mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
a. Kebijakan dan Struktur Sosial (Policy and Social Structure)
Aspek-aspek yang berpengaruh pada pemeliharaan dan perubahan
keputusan kebijakan, adalah: 1) peran yang ditetapkan (assigned role), 2)
kelompok kepentingan internal, 3) kepuasan sosial, 4) keyakinan, 5)
partisipasi, dan 6) ketergantungan. Keenam elemen struktur sosial ini
secara bersamaan membentuk jaringan hubungan komplek antaran
individu dan kelompok. Jaringan ini sebagai filter pada saluran
komunikasi kebijakan dan menjadi sistem akomodasi dari potensi
konflik antara bagian organisasi. Terkadang kebijakan dapat hilang
maknanya pada saat proses filter berlangsung dan munculnya

214
ketidakseimbangan berakibat pada proteksi diri dari unit konstituen.
Untuk menjadi yang berpengaruh dalam organisasi, pemimpin harus
tahu bagaimana cara mengatasi persoalan struktur sosial yang ada dari
berbagai dimensi.
b. Perspektif Sejarah (Histrorical Perspective)
Untuk mencari keterkaitan antara kebijakan dan struktur sosial dapat
dilihat dari sejarah perkembangan organisasi. Menurut Daniel Katz,
karakteristik organisasi dapat diasosiasikan dengan pola
pertumbuhannya. Organisasi yang berkembang dengan cepat karena
tekanan waktu polanya akan berbeda dengan organisasi yang stabil dan
telah melampaui puncak dari kekuasaannya. Untuk kasus organisasi
cepat berkembangnya kepemimpinan menekankan diri pada inisiatif,
kreatifitas, mobilitas, motivasi tinggi dan berani menolak tradisi nilai
lama dalam menentukan tujuan organisasi, bahkan jika tidak sesuai
tujuan itu sendiri yang ditolak. Pada kasus organisasi lambat
berkembang pola konvesional dalam penentuan tujuan, perubahan
ditekankan pada efesiensi, memelihara motivasi pada batas minimum
untuk terjadi stabilitas dibandingkan dengan produktifitas. Berikut
adalah tipe-tipe masalah yang memberikan karakteristik pada
perkembangan organisasi: 1) pemilihan basis sosial, 2) pembangunan inti
institusional, dan 3) formalisasi.
c. Krisis dan Perkembangan Personalia (Personnel Crises and Growth
Stage)
Perubahan-perubahan dari pengembangan sangat jelas terefleksi dari
pergantian personil. Pergantian personil bukan menjadi suatu yang rutin
tapi akan berdampak dari perubahan situasi karena orang yang berubah.
Karena masalah berkembang maka cara responnyapun berkembang,
sesuai dengan pengembangan tugas-tugas baru, maka terkadang
menuntut orangnya pun harus dirubah untuk memerankan tugas yang
baru tersebut. Contoh dalam keorganisasian buruh, semua demontrasi
menjadi alat efektif untuk meningkatkan posisi tawar buruh terhadap
manajemen, namun setelah dirasakan kerugian juga ada pada pihak
buruh merubah cara berjuang organisasi dengan upaya negosisasi.
Perubahan ini menuntut penyesuaian pada kepemimpinan buruh.
Contoh lain ketika orientasi produksi dirubah mejadi orientasi pasar
pada Ford Motor Company, menuntut juga perubahan pada personalia.
Karena titik berat jenis tugas menjadi berubah, dalam hal ini muncul
persoalan pada pemilihan orang kunci yang mengerti tahap perubahan.
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

215
d. Desentralisasi dan Integrasi Sosial (Decentralization and Social
Integration)
Pada desain pengambilan keputusan perlu diperhatikan keseimbangan
antara desentralisasi dan sentralisasi dari pengendalian. Kebutuhan akan
sentralisasi berkurang manakala homogenitas dari personil meningkat.
Kesamaan pandang pada semua tingkat administrasi akan mendukung
terjadinya desentralisasi tanpa merusak policy atau kebijakan. Manakala
kebijakan resmi dapat dimengerti dan diterima secara luas, maka
sentralisasi akan menjadi cocok untuk diterapkan. Pada tahap
perkembangan organisasi biasanya tingkat sentralisasi yang lebih tinggi
dibanding dengan pada tahap perkembangan berikutnya dari suatu
organisasi. Tahap perkembangan selanjutnya sepanjang sudah terwujud
homogenitas pemahaman tujuan akan lebih baik diterapkan
desentralisasi pengambilan keputusan. Desentralisasi perlu persiapan
bahkan training untuk kepemimpinan.
e. Nilai yang tidak mapam dan pertahanan integritas (Precarious
Values and the Defence of Integrity)
Integritas institusi dapat senantiasa terancam, walaupun kondisi internal
yang relative kuat, kalau ada cukup kekuatan besar menggangu.
Umumnya diagnonis berkenaan dengan kelemahan internal, sehingga
dari sudut ini kita melihat organisasi memiliki karakter yang goyah pada
saat nilai yang dianut melemah dan kurang aman/terlindungi (tenuous).
Kemampuan untuk mempertahankan intergritas tegantung pada
beberapa kondisi temasuk pendefinisian tujuan secara memadai.
Berkaitan dengan ini masalah yang mungkin timbul yaitu hubungan
antara nilai precarious dengan otonomi profesional atau elit. Dalam
pembahasan masalah ini akan dilihat kemungkinan kontrbusi analisis
institusi pada teori administrasi. Pembahasan ide-ide yang berkenaan
dengan masalah juga menjadi caru untuk mendekati pemahaman
administrasi yang benar (proper), yaitu elite, nilai sosial, dan otonomi.
Elite adalah adalah kelompok yang ditujukan tanggungjawab kepadanya
untuk melindungi nilai sosial. Elit dapat saja disebut dengan “profesi”
atau “kelompok professional” sepanjang pemahaman perdefinisinya
sama. Nilai sosial adalah objek dari suatu kemauan (hasrat) yang mampu
mempertahankan identitas kelompok. Termasuk didalamnya satuan
tujuan atau standar yang mendasari perspektif bersama dan
kebersamaan kelompok. Otonomi adalah kondisi idenpenden yang
mampu menjadikan kelompok untuk mempertahankan identitas yang
beda. Definisi ketiga faktor tersebut belumlah final namun relasi antar

216
aspek tersebut dapat dinyatakan bahwa pemeliharaan nilai sosial
tergantung pada otonomi elit.
1.5. Kajian Kepemimpinan Institusional
Tulisan ini bertujuan untuk mengekplorasi arti kepemimpinan
institusional pada organisasi skala besar. Wawasan kenegarawanan
(statesmanship) merupakan sosok yang lebih cocok dikembangkan
sekarang ditengah tengah sempitnya cara berfikir para eksekutif. Untuk
memberikan ringkasan dari pemikiran yang berkembang, kepemimpinan
adalah lebih dari sekedar efisiensi, lebih dari sekedar organisasi, dan
kepemimpinan kreatif.
a. Lebih dari sekedar Efisiensi (Beyond Efficiency)
Penekanan yang berlebih pada aspek efisiensi dan mengabaikan
bagaimana kemungkinan hasil akhir dari upaya bisnis terjadi dalam teori
adminsitrasi serta praktek-prakteknya. Efisiensi dapat berjalan secara
ideal jika tujuan telah ditetapkan dan sumberdaya dibutuhkan tersedia.
Persoalannya adalah bagaimana menggabungkan sarana yang ada
dengan tujuan akhir yang akan dicapai. Untuk itu perlu dipahami proses
pengambilan keputusan rutin dan bedakan dengan keputusan kritikal.
Karena organisasi terus berjalan peran keduanya menjadi kabur.
Kepemimpinanlah memberikan petunjuk untuk meminimalkan
kekaburan yang terjadi. Jika manajemen puncak terjebak dalam kegiatan
rutin, teknikal atau adminsitratif dapat digolongkan kedalam manajerial
organisatoris, bukan pemimpin institusional. Biasa orang tersebut
menitik beratkan (concern) hanya pada efesiensi dengan tujuan semua
operasi organisasi berjalan lancar saja.
Padahal dari perspektif pengambilan keputusan kritikal kepemimpinan
tidak bicara hanya aspek efisiensi. Tugas kepemimpinan melebihi
efisiensi manakala 1) kepemimpinan merumuskan misi dasar organisasi
dan 2) menciptakan organisasi sebagai organisme sosial yang mampu
memenuhi tuntutan pencapaian misi. Kepemimpina puncak menentukan
misi dan sasaran organisasi, kemudian semua jajaran (level) administrasi
menjadi bagian dari keputusan kritikalnya.
b. Lebih dari sekedar Organisasi (Beyond Organization)
Dari perspektif engineering, manajemen organisasi pada prakteknya
dilakukan secara rutin, karena desain dan pelaksanaan organisasi sangat
jelas (straightforward). Karena sifat rutinitas dan teknikal orang yang
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

217
bertanggungjawab dalam organisasi lebih dikatakan sebagai engineer
bukan leader. Keterbatasan organisasi dari perspektif engineering
menjadi nyata ketika perlunya mengadaptasikan misi dan peran dalam
organisasi (enterprise). Proses adaptasi dan integritas kelompok terjadi
manakala ada nilai yang dianut (infused by value), dan kejadian ini
menggeser manajemen organisasi menjadi kepemimpinan institusional.
Tanggungjawab pemimpin lebih kepada integritas institusional.
Berbicara integritas berarti lebih dari sekedar efisiensi serta lebih dari
sekedar bentuk dan prosedur organisasi bahkan lebih dari kohesi
kelompok. Karena integritas menggabungkan organisasi dan kebijakan
(policy) serta merupakan upaya dalam mempertahankan kompetensi
pembeda (distinctive competence).
c. Kepemimpinan yang Bertanggungjawab (Responsible Leadership)
Pada saat organisasi menjadi institusi, masalah baru muncul yakni
penentuan orang yang cocok untuk memimpin. Karena tanggungjawab
institusional sebenarnya sama dengan apa yang dimaksud dengan
kenegarawanan (statesmanship). Tanggungjawab institusional harus
diemban oleh pemimpin yang bertanmggungjawab. Kepemimpinan
bertanggungjawab merupakan perbauran (blend) antara komitmen,
pemahaman, dan determinasi. Elemen ini mengungkap secara simultan
kepribadian pemimpin dan identitas institusi. Bagian dari kepribadian
adalah 1) konsepsi diri (self-conception), 2) pengetahuan diri (self-
knowledge), dan 3) asumsi komando yang disebut proses kepatuhan diri
(self-summoning process). Kepemimpinan dikatakan tidak
bertanggungjawab manakala gagal menentukan sasaran dan
membiarkan instutisi bejalan mengambang atau “tidak menentu”.
Dalam kaitan integritas institusional. Kepemimpinan dapat dilihat dari
sudut pandang oportunistik dan utopis. Kepemimpinan oportunistik
menunjukan self- centered-ness yang sempit, senantiasa mengeksploitasi
pihak lain untuk keuntungan jangka pendek. Sementara kepemimpinan
utopis terjebak dalam generalisasi tujuan berlebihan (overgeneralization
of purpose) yang digunakan dasar pengambilan keputusan. Jika salah
satu dari kedua tipe kepemimpinan diterapkan, menjadikan
kepemimpinan tergolong tidak bertanggungjawab (irresponsible).
Kepemimpinan yang bertanggungjawab akan berada pada posisi
mengendalikan situasi oportunistik dan utopis.



218
d. Kepemimpinan Kreatif (Creative Leadership)
Sebagai tambahan dari pandangan konservatif pada ciri kepemimpinan
yang bertanggungjawab ditambahkan unsur peduli terhadap perubahan
dan rekonstruksi. Peran kreatif mengandung dua aspek yaitu penyatuan
tujuan kedalam institusi dan kreativitas yang dipraktekan kedalam
rencana strategis dan taktis, yakni menganalisis lingkungan untuk
menentukan cara terbaik menggunakan sumberdaya dan kemampuan
organisasi.
Membangun berdasarkan tujuan dalam organisasi adalah tantangan bagi
kreativitas, karena menjalankan tranformasi orang dan kelompok yang
semula netral dalam unit teknis menjadi partisipan yang memiliki ciri
khusus, sensitifitas dan komitmen yang dilakukan melalui proses
pendidikan. Oleh karenanya pemimpin sebagai pendidik dituntut
memiliki kemampuan menterjemahkan peran dan karakter enterprise
dengan berbagai modus komunikasi menjadi prilaku dan model dalam
berbagai perspektif.
2. PERDEBATAN KONSEP KEPEMIMPINAN
Dalam mengulas buku leadership in administration yang ditulis oleh Philip
Salznick, akan ditinjau pendapat serta teori-teori yang mendukung
(agreement) dan yang bertentangan (disagreement). Selain itu, pendapat
yang diluar keduanyapun akan diungkapkan dalam rangka untuk
memperkaya proses dialektik pada topik ini.
2.1. Pendapat yang mendukung (agreement)
Meindl, Ehrlich, dan Dukerich (1985:78) satu pendapat dengan Selznick
(1957:1) bahwa topik kepemimpinan sepanjang sejarah pembahasannya
masih elusif. Dikatakan dalam istilah yang agak berbeda bahwa definisi
kepemimpinan masih ambigu seperti pada Pfeffer (1977:104-12) dan
Karmel (1977:480) Kepemimpinan ada karena tekanan faktor lingkungan
dan tuntutan dari dalam organisasi atau institusi. Hal ini sama dengan
yang diungkap oleh Pfeffer (1977:102-4) bahwa kepemimpinan adalah
pengaruh sosial (social influence) sedangkan Meindl, Ehrlich, dan
Dukerich (1985:78) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah hasil dari
konstruksi sosial. Smircich dan Morgan (1982:259) juga menyatakan
kepemimpinan adalah proses sosial yang terjadi melalui interaksi,
dimana kepemimpinan itu sendiri merupakan suatu fenomena. Contoh-
contoh praktis diuraikan pada Vance (1983) dalam buku Corporate
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

219
Leadership dan oleh Fulmer and Goldsmith (2001) dalam bukunya the
Leadership Investment.
Smircich dan Morgan (1982:263-169) menyatakan bahwa kepemimpinan
adalah manajemen makna (management of meaning), dengan kata lain
diungkap oleh Schutz (1969) dengan istilah “bracketing” of experience,
Goffman (1974) dengan istilah “framing” of experience, dan Bateson (1972)
dan Weick (1979) dengan istilah punctuation of context. Dalam konsep-
konsep tersebut memberi pengertian bahwa pengikut akan berbuat
sesuai dengan perbuatan dan perkataan pemimpinnya. Hal ini sama
maknanya dengan apa yang telah dibahas dalam bab definisi misi dan
peran (definition of mission and role) serta pelembagaan tujuan (institutional
embodiment of purpose). Selain itu juga aspek tanggungjawab, peran dan
adaptasi lingkungan dibahas dalam Smircich dan Morgan (1982:268-169)
Peran yang diuraikan oleh Selznick sebagai langkah pelaksanaan misi,
lebih dielaborasi oleh Mintzberg (1973) menjadi peran sebagai figure,
peran sebagai pimpinan, peran sebagai perantara, peran pemantau,
peran disseminator, peran juru bicara, peran wirausaha, peran
pengendali ganguan, peran alokator sumberdaya, dan negosiator dalam
bukunya the Nature of Managerial Work.
Visionary Leadership yang bahas oleh Mintzberg, Ahlstrand dan Lampel
(1998:136-147) memberikan gambaran yang hampir sama dengan
pembahasan Selsznick dalam hal, komitmen, human relation, teknologi
dan disimpulkan juga bahwa kepemimpinan adalah historical product
artinya pemimpin dapat dilahirkan dan dibuat. Visionary leader diungkap
juga oleh Bennis (1997:154) dalam pembahasan leadership attributes. Peter
dan Waterman, Jr (1982:98-90 & 281-190), mengutip dan membahas aspek
Commitment value, organization character dan creative leadership yang
diajukan oleh Selznick, ketiga aspek diuraikan sehingga lebih mudah
penerepannya dalam praktek.
Keputusan kritikal adalah hal terpenting yang dilakukan seorang
pemimpin, karena keputusan ini akan memberikan dampak jangka
panjang. Dalam perspektif yang sama pemimpin itu berperan secara
strategik yaitu sebagai “Change Master” (Grant, 2001:526), dalam
pandangan ini pemimpin mengarahkan perusahaan (direct and redirect)
serta membuat keputusan kunci berkenaan akuisisi, divestasi dan
pemotongan biaya. Keputusan kritikal menuntut dukungan kreatifitas
yang memadai, karenanya pola ini disebut dengan strategic decision
leadership oleh Ansoff (1979:134). Keputusan rutin dan kritikal diungkap
secara berbeda oleh Tichy (1983:90), istilahnya adalah mechanistic

220
management style dan organic management style. Pengertian yang awal
lebih kepada procedural, sdangkan yang terakhir lebih adaptif terhadap
perubuahan lingkungan eksternal dan tuntutan internal.
2.2. Pendapat yang tidak mendukung (disagreement)
Studi yang dilakukan oleh Selznick ini tergolong kedalam non empirical
study, karena pengujian premis (proposisi) tidak didasarkan pada studi
explorative atau confirmatory Analysis. Sangat terasa aromanya karena
tidak begitu banyak dikutip (cited) oleh para functionalist atau empirist
diantaranya seperti Gary Yukl. Selznick tidak memberikan definisi
kepemimpinan yang ternyata masih ambigu atau membingunkan seperti
yang dilakukan oleh Yukl (1989), Pfeffer (1977), dan Karmel (1978).
Kepemimpinan dibahas dalam aspek lebih kepada karakter
kepemimpinan, proses pengambilan keputusan kritikal dan kesetaraan
pemahaman kepemimpinan dengan kenegarawanan. Proses munculnya
atau diseleksinya pemimpin tidak terlihat nyata (Pfeffer, 1977). Variasi
kepemimpinan ditinjau dari segi situasinya oleh Selznick (1957)
sedangkan oleh Pfeffer variasi kepemimpinan tergantung pada level
organisasi Pfeffer, 1977). Dapat dipahami karena Selznick melihat
kepemimpinan lebih pada posisi puncak (top management), yang
diungkap dalam istilah Institusional Leadership. Tugas pemimpin adalah
melembagakan tujuan, terlepas dari apa tujuan institusi (Selznick, 1957,
p. 90-133), namun Karmel (1977, p. 480) melihat pemimpin tidak akan
paham tugasnya jika tujuan belum terdefinisi secara jelas. Karena akan
berakibat pada dimensi dan operasionalisasi yang tidak mengarah
(proposisi ke 2).





Sumber: Karmel, B. (1978) Leadership: A challenge to traditional
research methods and assumptions, Academy of
Management Review, 3: p. 480
General
concept
Purpose
Constuct Dimensionality Operationalization
Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 7 No.2, Januari 2011

221
Terlihat dari aspek yang dibahas, ide Salznick (1957) bukan tergolong
mainstream karena beberapa penulis meneliti dampak kepemimpinan
pada kinerja (performance) Pfeffer (1977), Yukl (1989), Meindl, Ehrlich,
dan Dukerich (1985), dan Thomas (1988) yang tidak dibahas oleh
Salznick. Yukl (1989 & 1994) menulis buku kepemimpinan dengan
kelengkapan yang cukup, sehingga semua aspek yang ada dalam tulisan
Selznick (1957) relatif tercakup didalamnya. Tema-tema yang ada seperti
decision making, mission and role, tanggungjawab (responsibility), dan
kreatifitas.
3. SIMPULAN DAN REKOMENDASI
Konsep kepemimpinan dalam administrasi oleh Selznick (1957) belum
mencakup aspek karakter pemimpin dan proses pengambilan keputusan
oleh pemimpin. Walaupun belum lengkap secara konsep, tulisan
Selznick (1957) telah memberikan kontribusi yang besar dalam
pengembangan konsep visionary leadership dan menjadi sangat
berpengaruh dalam literatur dan studi manajemen strategik terutama
kepemimpinan strategik, terutama yang terkait dengan konsep distinctive
competence. Namun untuk penelitian mendatang konsep yang
dikembangkan Yukl (1994, 2000), serta banyak konsep setelah itu
menunjukan perkembangan konsep yang lebih konvergen. Untuk
penelitian lebih lanjut penulis merekomendasikan topic kepemimpinan
strategic sebagai “avenue” penelitian.
REFERENSI
Ansoff, H. I. 1979. Strategic Management. London: The Macmillan Press
Ltd.
Bennis, W. 1997. Becoming a Leader of Leaders. In Gibson, R. Rethinking
the Future: Business, Principle, Competition, Control, Leadership,
Market and the World: 149-163. London, UK: NB Publishing
Fulmer, R.M. & Goldsmith, M. 2001. The Leadership Investment: How the
World's Best Organization gain Strategic Advantage through
Leadership Development,New York: AMACOM
Grant, R. M. 2002, Contemporary Strategy Analysis: Concept,
Techniques, Application (4th ed.). Massachussetts: Blackwell
Jenkins, W. O. 1947. A Review of Leadership Studies with Particular
Reference to Military Problems. In Selznick, P. 1957. Leadership in
Administration: A Sociological Interpretation. New York: Row,
Petersson and Company.

222
Karmel, B. 1977. Leadership: A Challenge to Traditional Research
Methods and Assumption. Academy of Management Review, 3: 475-
482
Mendl, J. R., Ehrlich, S. B., & Dukerich, J. M. 1985. The Romance of
Leadership. Administrative Science Quarterly, 30:78-102
Miner, J.B. 1982. Theories of Organization Behaviour, IL: The Dryden Press
Peters, T. J. & Waterman, R. H. 1982. In Search of Excellence: Lesson from
America's Best-Run Companies. New York: Warner Books
Pfferer, J. 1977. The Ambiguity of Leadership. Academy of Management
Review, 2: 104-112
Selznick, P. 1957. Leadership in Administration: A Sociological Interpretation.
New York: Row, Petersson and Company.
Smircich, L. & Morgan, G. 1982. Leadership: The Management of
Meaning. Journal of Applied Behavioral Science, 18:257-273
Stogdill, R. M. 1948. Personal Factor Associated with Leadership: A
Survey of the Literature. In Selznick, P. 1957. Leadership in
Administration: A Sociological Interpretation. New York: Row,
Petersson and Company.
Thomas, B. A. 1988. Does Leadership Make a Difference to
Organizational Performance. Administrative Science Quarterly,
33:388-400
Tichy, N. M. 1983. Managing Strategic Change: Technical, Political and
Cultural Dynamics. New York: Wiley
Vance, S. C. 1983. Corporate Leadership: Boards, Directors and Startegy. New
York: McGraw-Hill Book Company
Yukl, G. 1989. Leadership in Organization, (2nd ed.). New Jersey: Prentice
Hall
Yukl, G. 1989. Managerial Leadership: A Review of Theory and Research.
Journal of Management, 15: 251-289

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful