You are on page 1of 3

Dasar teori Rumple leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk

menentukan apakah terkena demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang hematologi dengan melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit. Prosedur pemeriksaan Rumple leed tes yaitu:

Rumple leede test dimaksudkan untuk menguji ketahanan kapiler darah menggunakan pembendungan pada lengan sehingga darah akan menekan dinding kapiler. Jika dinding kapiler kurang kuat ,maka darah dari kapiler keluar dan merembes dalam jaringan sekiternya sehingga tampak bercak petechiae. Petechiae adalah bintik-bintik merah akibat perdarahan didalam kulit,warna terkadang bervariasi dari merah menjadi biru/ungu. Petechiae umumnya muncul pada kaki bagian bawah tetapi bisa muncul diseluruh tubuh. Petechiae mungkin terlihat pada pasien-pasien dengan jumlah platelet yang sangat rendah.Petechiae terjadi kerena perdarahan keluar dan pembuluh – pembuluh darah yang kecil sekali di bawah kulit atau selaput lendir,petechiae umumnya tidak jelas dan menyakitkan. Faktor yang mempengaruhi Rumple leede test 1. Perempuan yang menstruasi 2. Post menstrual dengan sedikit hormon 3. Kulit rusak karena akan meningkatkan kerapuhan kapiler
http://nonasandha.blogspot.com/2012/02/pemeriksaan-rumple-leede-test.html http://ekasyamputra.wordpress.com/2013/02/01/pemeriksaan-rumple-leed-tes-tourniquet-test/ http://agrapuzzy-perfect.blogspot.com/2009/05/pemeriksaan-koagulasi.html http://www.lintas.me/article/eniharyanti.com/kesehatan-pemeriksaan-rumple-leed-tes-tourniquettest/1

Pembahasan
Catatan: Jika ada > 10 petechiae dalam lingkaran bergaris tengah 5 cm kira-kira 4 cm distal dari fossa cubiti test Rumple Leede dikatakan positif. Seandainya dalam lingkaran tersebut tidak ada petechiae, tetapi terdapat petechiae pada distal yang lebih jauh daripada itu, test Rumple Leede juga dikatakan positif. warna merah didekat bekas ikatan tensi mungkin bekas jepitan, tidak ikut diikut sebagai petechiae pasien yg “tek” darahnya tdk diketahui, tensimeter dapat dipakai pada “tek” 80 mmHg pasien tidak boleh diulang pada lengan yang sama dalam waktu 1 minggu

Derajad laporan : (-) = tidak didapatkan petechiae (+1) = timbul beberapa petechiae dipermukaan pangkal lengan (+2) = timbul banyak petechiae dipermukaan pangkal lengan (+3) = timbul banyak petechiae diseluruh permukaan pangkal lengan & telapak tangan muka & belakang (+4) = banyak sekali petechiae diseluruh permukaan lengan, telapak tangan & jari, muka & belakang Ukuran normal: negative atau jumlah petechiae tidak lebih dari 10

1.

emeriksaan Rumple Leed Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kelainan sistem vaskuler dan trombosit. Pada pemeriksaan ini, probandus tidak menunjukkan tanda-tanda keluarnya petachi, setelah vena dibendung selama 5 menit. Pembendungan ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan dari dinding kapiler. Apabila dinding kapiler kurang kuat akan rusak/pecah dan akan terjadi perdarahan dibawah kulit. Pemeriksaan Rumple Leed pada praktikum ini dapat diketahui bahwa RL probandus negatif. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa probandus tidak mengalami gangguan vaskuler atupun gangguan trombosit. Kelainan Vaskuler Berbagai kelainan biasanya dapat terjadi pada tiap tingkat mekanisme hemostatik. Pasien dengan kelainan pada sistem vaskuler biasanya datang dengan perdarahan kulit, dan sering mengenai membran mukosa. Perdarahan dapat diklasifikasikan menjadi purpura alergik dan purpura nonalergik. Pada kedua keadaan ini, fungsi trombosit dan faktor koagulasi adalah normal.

Terdapat banyak puepura nonalergik, yaitu pada penyait-penyakit ini tidak terdapat alergi sejati tetapi terjadi berbagai bentuk vaskulitis. Yang paling sering ditemukan adalah lupus eritematosus sistemik. Kelainan ini merupakan penyakit vaskuler-kolagen, yaitu pasien membentuk autoantibodi. Vaskulitis atau peradangan pembuluh darah, terjadi dan merusak integritas pembuluh darah, mengakibatkan purpura. Jaringan penyokong pembuluh darah yang mengalami perburukan, dan tidak efektif yang terjadi seiring proses penuaan, mengakibatkan purpura senilis. Bentuk purpura vaskuler yang dominan autosomal, telangiektasia hemoragik herediter (penyakit OslerWeer-Rendu), terdapat pada epistaksis dan perdarahan saluran cerna yang intermiten dan hebat. Sindrom Ehlers-Danlos, suatu penyakit herediter lain, meliputi penurunan daya pengembangan (compliance) jaringan perivaskkuler yang menyebabkan perdarahan berat. Purpura alergik atau purpura anafilaktoid, diduga karena disebabkan kerusakan imunologik pada pembuluh darah, ditandai dengan perdarahan petekie pada bagian tubuh yang tergantung dan juga mengenai bokong. Purpura Henoch-Schonlein, suatu trias purpura dan perdarahan mukosa, gejala-gejala saluran cerna, dan artritis merupakan bentuk purpura alergik yang terutama mengenai anak-anak. Mekanisme penyakit ini tidak diketahui dengan baik, gejalagejalanya sering didahului dengan keadaan infeksi. Pasien-pasien mengalami peradangan pada cabangcabang pembuluh darah, kapiler dan vena, mengakibatkan pecahnya pembuluh, hilangnya sel-sel darah merah, dan perdarahan.