You are on page 1of 10

KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya

makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi persyaratan presentasi mata kuliah praktikum elektronika dasar. Tujuan pembuatan makalah ini ialah untuk menambah pengetahuan mengenai Common Emitor. Agar pembaca lebih mengerti apa itu Common Emitor, bentuk dari rangkaian Common Emitter, dan sebagainya. Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang ada. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Indralaya,

Mei 2013

Penyusun

Penguat arus bergantung dari faktor penguat dari masing-masing transistor PNP ataupun NPN. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik. Tegangan yang di satu terminalnya misalnya emitor dapat dipakai untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input basis.BAB II PEMBAHASAN Secara umum transistor mempunyai 3 kaki/elektroda yaitu Emitor. stabilisasi tegangan. Tetapi sering tidak memuaskan karena kestabilan dan . dimana perbedaannya terletak pada cara pemberian polaritas tegangannya. yaitu pada keluaran tegangan dan arus output kolektor. Pada penguat emitor bersama sinyal masukan dikenakan pada basis-emitor dan sinyal keluaran dikenakan pada kolektor-emitor. Dengan kata lain arus basis mengalami penguatan menjadi sebesar arus kolektor. Dalam prakteknya ada dua jenis transistor (untuk bipolar) yang digunkan yaitu jenis PNP (Positif-Negatif-Positif) dan jenis NPN (Negatif-Positif-Negatif). dan Colektor. Konfigurasi dasar dari rangkaian transistor sebagai penguat yaitu Common Base. Tujuan dari membiaskan rangkaian adalah untuk membangun dan mempertahankan transistor dalam keadaan kerja (keadaan DC yang cocok). yaitu Basis (B). Emitor (E) dan Kolektor (C). Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat. transistor memiliki 3 terminal. dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET). Pada umumnya. Basis. nilai tegangan tertentu antara basis dan emitor menjadi transistor dapat di dengan menggunakan konfigurasi rangkaian Darlington. sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching). memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Untuk membuat rangkaian transistor menggunakan sinyal AC. maka sambungan basis-emitor harus dibiaskan (dipanjar maju) atau forward bias dan sambungan basiskolektor dikenai bias mundur (reverse bias). Pada dasarnya transistor ini bekerja berdasarkan prinsip pengendalian arus kolektor dengan memanfaatkan arus basis. Konfigurasi penguat tegangan yang paling banyak digunakan untuk menguatkan sinyal kecil dan frekuensi rendah adalah penguat emitor ditanahkan atau emitor bersama (CE). modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Cara yang paling sederhana disebut bias basis atau bias tetap. Ada beberapa cara untuk mengenakan bias DC.

Percobaan ini hendak menguji penguat emitor bersama satu tingkat ( singlestage). Rangkaian penguat common-emitter adalah yang paling banyak digunakan karena memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitudo dari sinyal masukan. Memungkinkan adanya osilasi akibat feedback. Emitor Bersama (Common-Emitter) Rangkaian emitter bersama (common-emitter) adalah rangkaian BJT yang menggunakan terminal emitor sebagai terminal bersama yang terhubung ke sinyal sasis ground). Bias basis diwujudkan dengan resistor tunggal yang dipasang antara Vcc dan basis. Sifat-sifat Penguat Common Emitor:     Signal output berbeda phasa 180 derajat. sedangkan terminal masukan dan keluarannya terletak masing-masing pada terminal basis dan terminal kolektor. Penguat Common Emitor digunakan sebagai penguat tegangan. Sering dipakai sebagai penguat audio (frekuensi rendah). Impedansi yang tak terlalu besar dan impedansi keluaran yang tak terlalu kecil membuat penguat emitor ditanahkan sangat baik digandengkan dalam beberapa tahap tanpa banyak ketaksesuaian impedansi pada alih tegangan dari satu tahap ke tahap berikutnya.sensitivitas transistor berubah terhadap temperatur. Rangkaian pembias yang paling banyak digunakan adalah bias pembagi tegangan. Faktor penguatan dari transistor dilambangkan dengan simbol beta (β). Gambar dari rangkaian dasar common-emitter adalah sebagai berikut: . Pembias ini tidak sensitive terhadap perubahan temperatur. untuk mencegahnya sering dipasang feedback negatif. Besaran-besaran yang akan diukur meliputi penguatan (gain) tegangan untuk konfigurasi tidak di-swamp maupun di-swamp (hambatan emitor dibegal dengan kapasitor pintas) pergeseran fase penguat. dan respon penguat terhadap pembebanan. Stabilitas penguatan rendah karena tergantung stabilitas suhu dan bias transistor. Penguat emitor ditanahkan mempunyai impedansi masukan lebih besar daripada penguat basis ditanahkan dan impedansi keluaran transistor (1-α) lebih kecil daripada penguat basis ditanahkan.

Pada analisis AC. semua kapasitor kopling. Vcc. yang mana hanya terdiri dari hambatan basis dan hambatan kolektor saja. voltage divider bias dan emitter bias. yang akan dijelaskan kemudian. Rangkaian fixed bias adalah rangkaian yang paling sederhana dalam rangkaian common-emitter. sehingga rangkaian pada Gambar 1 menjadi seperti gambar berikut ini: Gambar 2.Gambar 1. seperti tergambar pada Gambar 1. Rangkaian yang akan dianalisis . Besarnya penguatan ditentukan oleh hambatan basis RB dan hambatan kolektor RC. karena berfungsi sebagai hubungan singkat (short circuit) atau hubungan terbuka (open circuit). Rangkaian dasar common-emitter C1 dan C2 adalah kapasitor kopling yang menentukan dalam analisis DC dan AC. dan sumber DC lainnya dianggap sebagai suatu hubung singkat (short-circuit). Rangkaian common-emitter dapat dibagi menjadi rangkaian fixed bias.

1023 ruangan). Pada kolektor juga terdapat suatu faktor hambatan ro yang mempengaruhi besarnya impedansi output.Dari gambar di atas dapat ditentukan besarnya impedansi masukan (Zi) dan impedansi keluaran (Zo). maka dengan mengacu pada gambar 3 dapat ditentukan besarnya . Model yang umum digunakan adalah model hybrid-π. dapat dihitung sebagai berikut: C). Dengan terlebih dahulu menerapkan analisis DC di mana semua kapasitor dianggap sebagai suatu hubung terbuka. Pada keadaan ideal (suhu rπ =β/ gm Setelah ditentukan faktor transkonduktansi dan besarnya hambatan dalam basis-emitor. T adalah suhu ruangan (dalam satuan kelvin. yang besarnya bervariasi tergantung kepada jenis transistor.62. arus emitor IE dan arus kolektor IC sebagai berikut: Vcc – VBE – IBRB = 0 IB = (VCC . VCCS) yang besarnya diatur oleh perkalian nilai transkonduktansi (gm) dengan nilai tegangan dari hambatan basis-emitor (vπ). Besarnya transkonduktansi (gm) dapat dihitung sebagai berikut: gm = Ic/(kT/q) Nilai k adalah konstanta bahan transistor.VBE)/RB IE = (β+1)IB Ic = βIB Model di atas menggambarkan hubungan basis dengan emitor sebagai sebuah hambatan rπ. dengan menggunakan suatu model yang dapat menggantikan transistor menjadi sumber-sumber dan hambatan-hambatan. dan hubungan antara kolektor dengan emitor digambarkan sebagai sebuah sumber arus terkendali tegangan (voltage controlled current source. nilai kT/q adalah 25 mV. dengan mengacu kepada arus kolektor (IC) sebagai dasar untuk menentukan transkonduktansi (gm) dari transistor. Nilai dari hambatan basis-emitor. dapat ditentukan arus basis IB. K) dan q adalah massa satu elektron (1. rπ.

Jika nilai ro sangat besar . arus basis berbentuk sumbu tegak. . sehingga arus basis mempunyai nilai yang kecil. Dengan demikian kemiringan lengkung 1/(1+ β) kali lebih kecil yang berarti impedansi masukan (1+ β) kali lebih besar pada penguat emitor ditanahkan. makin besar arus basis maka makin besar pula kemiringannya. maka diperoleh hubungan antara Av dengan gm. Jika dibandingkan dengan transistor dalam penguat basis ditanahkan. Arus basis naik dengan cepat dan ini berarti berlawanan dengan yang terjadi pada penguat basis ditanahkan. Jika arus kolektor terdapat dalam orde 1 mA maka arus basis yang masuk adalah orde puluhan mikro amper. maka persamaan penguatan tegangan di atas dapat disederhanakan menjadi: Av = -gm Rc Ciri Statik Transistor dengan Hubungan Emitor Ditanahkan Lengkung ciri statik dari keluaran transistor jika dihubungkan dengan emitor ditanahkan maka arus kolektor berbentuk sumbu tegak.impedansi masukan (Zi) dan impedansi keluaran (Zo). impedansi masukan adalah (1+ β) kali lebih besar daripada penguat emitor ditanahkan. Sedangkan lengkung ciri statik masukan penguat untuk transistor silikon. beda tegangan antara kolektor dan emitor berbentuk sumbu datar. Lengkungan ciri statik masing – masing arus basis mempunyai kemiringan yang benar. Untuk ro sangat besar maka Zo dapat disederhanakan menjadi: Zo = Rc Faktor penguatan tegangan (AV) adalah besarnya penguatan tegangan dari terminal keluaran (Vo) terhadap tegangan dari terminal masukan (Vi) yang dirumuskan sebagaiaberikut: Substitusikan Vo pada persamaan Av. yang berarti impedansi keluaran transistor yang sebanding dengan kebalikan kemiringan lengkungan ciri mempunyai nilai kecil. Nisbah iC/iB = β mempunyai nilai kira – kira 100.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Rangkaian emitter bersama (common-emitter) adalah rangkaian BJT yang menggunakan terminal emitor sebagai terminal bersama yang terhubung ke sinyal sasis ground). sedangkan terminal masukan dan keluarannya terletak masing-masing pada terminal basis dan terminal kolektor. . Rangkaian penguat common-emitter adalah yang paling banyak digunakan karena memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitudo dari sinyal masukan. Penguat Common Emitor digunakan sebagai penguat tegangan.

K. Modul Praktikum Elektronika Dasar.DAFTAR PUSTAKA http://id.html http://komponenelektronika.wikipedia. dan Oktavianus .htm Saleh. Indralaya: Universitas Sriwijaya .blogspot. 2013.org/wiki/Emitor_bersama http://doktertech.net/rangkaian-common-emitor.com/2010/12/common_emitor.

N ( ) LABORATORIUM ELEKTRONIKA dan INSTRUMENTASI JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013 . TAUFIK ( ) FREDDYN SAMOSIR ( ) OLIVIA ( ) SURISTIN A.MAKALAH COMMON EMITOR DISUSUN OLEH: KELOMPOK VII DEWI ANGGRAINI ( ) ARIN GUDESMA ( ) M.