You are on page 1of 43

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sistem mastikasi merupakan unit fungsional dalam pengunyahan yang mempunyai komponen terdiri dari gigi – geligi, sendi temporomandibula (STM), otot kunyah, dan sistem syaraf. Otot digerakan oleh sistem impuls syaraf karena ada tekanan yang timbul dari gigi bawah berkontak dengan gigi atas sehingga mandibula dapat melaksanakan aktifitas fungsional dari sistem mastikasi. Keharmonisan antara komponen – komponen ini sangat penting dipelihara kesehatan dan kapasitas fungsionalnya. Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak ditemukan sistem mastikasi yang bermasalah yang sering dijumpai dalam praktek dokter gigi. Salah satu dari sistem mastikasi yang bermasalah dan berpengaruh terhadap penyakit periodontal yaitu kebiasaan mengunyah dengan satu sisi. Dimana dengan keadaan seperti ini dapat menimbulkan beberapa gangguan pada kesehatan rongga mulut, terutama mengenai dari sendi-sendi yang ada dalam rongga mulut. Sendi-sendi pada rahang yang mendukung dalam proses pengunyahan pada rongga mulut manusia yaitu sendi temporo mandibula atau temporomandibular joint (TMJ) yang mungkin belum banyak dikenal oleh masyarakat awam. Pada pasien yang memiliki kebiasaan mengunyah satu sisi dapat terjadi gangguan sendi rahang pada rongga mulutnya, yang bila tidak cepat dilakukan perawatan pada kasus ini akan berkembang menjadi penyakit yang lebih parah sehingga dapat mengenai jaringan periodonsium. Sehingga dengan kebiasaan mengunyah satu sisi dapat sebagai penyebab dari penyakit periodontal. Dan perawatan yang dapat dilakukan oleh para praktisi dental terhadap kelainan STM yang disebabkan oleh kebiasaan mengunyah satu sisi ini bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, mengurangi beban yang merusak, serta merestorasi

1

fungsi dan aktivitas normal sehari – hari. Dan lebih diutamakan lagi bahwa perawatan yang dilakukan dapat meminimalisirkan bahkan memberhentikan kebiasaan untuk mengunyah pada satu sisi. Pilihan perawatan yang dapat dilakukan pada pasien yang mengalami masalah dari sistem mastikasi yaitu dengan oerawatan secara konservatif meliputi mengistirahatkan rahang, obat- obatan, latihan ,perawatan faktor pendorong yang lain, perawatan psikososial, dan lain – lain

2

1.2 Rumusan masalah Dalam laporan praktikum ini terdapat beberapa rumusan yang di muat, yaitu: 1. Bagaimana pergerakan normal yang di lakukan oleh sendi temporo mandibular? 2. Bagaimana prosedur pemeriksaan sendi temporo mandibular? 3. Bagaimana kelainan yang dapat di timbulkan oleh sendi temporo mandibula? 1.3 Manfaat Dalam laporan praktikum ini terdapat beberapa rumusan yang di muat, yaitu: 1. mahasiswa dapat mengerti pergerakan normal yang dilakukan oleh sendi temporo mandibular. 2. mahasiswa dapat mengerti prosedur pemeriksaan sendi temporo mandibular. 3. mahasiswa dapat mengerti kelainan yang dapat di timbulkan oleh sendi temporo mandibular.

3

BAB II DASAR TEORI

2.1 ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULA Sendi rahang atau Temporomandibular Joint (TMJ) belum banyak dikenal orang awam, padahal bila sendi ini terganggu dapat memberi dampak yang cukup besar terhadap kualitas hidup (Pedersen, 1996). TMJ adalah sendi yang kompleks, yang dapat melakukan gerakan meluncur dan rotasi pada saat mandibula berfungsi. Mekanismenya unik karena sendi kiri dan kanan harus bergerak secara sinkron pada saat berfungsi. Tidak seperti sendi pada bagian tubuh lain seperti bahu, tangan atau kaki yang dapat berfungsi sendiri-sendiri. Gerakan yang terjadi secara simultan ini dapat terjadi bila otot-otot yang mengendalikannya dalam keadaan sehat dan berfungsi dengan baik (Pedersen, 1996). Istilah Temporomandibular Disorders (TMD) diusulkan oleh Bell pada tahun 1982, yang dapat diterima oleh banyak pakar. Gangguan sendi rahang atau TMD adalah sekumpulan gejala klinik yang melibatkan otot pengunyahan, sendi rahang, atau keduanya (Pedersen, 1996). 2.1.1 Prosesus kondiloideus Kondiloideus mandibula adalah bagian yang menonjol dari mandibula yang meluas ke arah superior dan posterior, berbentuk cembung dengan panjang 20mm medio-lateralis dan 8-10mm ketebalan anterior-porterior4. Permukaan artikulasi tulang temporal terdiri dari dua bagian yaitu fosa artikularis dan eminensia artikularis. Fosa artikularis cekung dalam arah anteroposterior medio-lateral. Eminensia artikularis membentuk batas anterior dari fosa mandibularis yang meluas ke posterior dan dibatasi oleh linggir meatus akustikus eksternus4,5. Meniskus berbentuk oval yang membagi sendi menjadi dua bagian yang terpisah, yaitu bagian atas antara meniskus dan permukaan artikularis tulang temporal dan bagian bawah di antara meniskus dan permukaan kondiloideus. Bentuk permukaan atasnya cekung-cembung dari depan ke belakang yang

4

Ligamen ini berhubungan dengan muskulus pterigoideus eksternus di bagian atas. Meniskus ini terbentuk dari kolagen avaskuler yang berfungsi untuk menstabilisasi kondilus terhadap permukaan artikularis tulang temporal. Ligamen Sendi Temporomandibula 3.6. Fungsi lapisan lemak yang terdapat di muskulus pterigoideus lateralis adalah untuk memungkinkan terjadinya gerakan rotasi pada saat membuka mulut. Di sebelah medial berhubungan dengan muskulus pterigoideus internus3.1 Ligamen Sendi Temporomandibula Ligamen temporomandibula lebih luas di bagian atasnya dari pada di bagian bawahnya. Kapsul ini diperkuat oleh ligamen temporomandibula di sebelah lateral sedangkan bagian depan diperkuat oleh muskulus pterigoideus4. sedangkan di sebelah medial dengan ligamen kapsular5. Di bagian depan dan belakang tebal sedangkan tipis di antara ke dua penebalan ini. lobus kelenjar parotis dan ramus mandibula. melekat di bagian bawah sebelah lingual dari foramen mandibula. di bagian bawah dengan arteri dan vena alveolaris inferior. Prosesus kondiloideus 2. 5 . Persarafan pada Sendi Temporomandibula mandibula. Ligamen kapsular melekat ke sekeliling meniskus ini. Suplai Darah pada Sendi Temporomandibula 4. melekat ke spina angularis os sphenoidalis pada bagian atas. melekat ke bawah kolum mandibula. Daerah ini mengandung pleksus vena sehingga didapati jaringan lunak yang fleksibel4. Perlekatannya ke permukaan lateralis dari arkus zigomatikus dan ke tuberkulum artikularis pada bagian atas.beradaptasi dengan permukaan artikulasi tulang temporal sedangkan bentuk permukaan bawahnya cekung yang beradaptasi dengan kondiloideus 1. Ligamen sphenomandibula bentuknya tipis dan pipih. muskulus maseter dan muskulus temporalis melekat ke pinggir depan dari meniskus ini melalui ligamen kapsular3. Di bagian bawah melekat ke kolum mandibula. Kapsul sendi di sebelah luar membentuk ligamen kapsular yang terdiri dari jaringan ikat berserat putih yang melekat ke atas pada bagian pinggir fosa artikularis dan tuberkulum artikularis.4. tendon muskulus pterigoideus eksternus. Ligamen ini berhubungan dengan kelenjar parotis dan kulit di sebelah lateral.2. 2.

2. Suplai darah yang utama pada sendi ini oleh arteri maksilaris interna terutama melalui cabang aurikular. Saraf lain yang berperan adalah nervus maseterikus dan nervus temporal. Daerah sentral meniskus. Suplai Darah pada Sendi Temporomandibula Di belakang meniskus ada suatu kelompok jaringan ikat longgar yang banyak berisi pembuluh darah dan saraf. Ligamen ini berhubungan dengan muskulus maseter dan kelenjar parotis pada bagian lateral.24.Ligamen stylomandibula bentuknya bulat dan panjang. Persarafan pada Sendi Temporomandibula Persarafan sensorik pada sendi temporomandibula yang terpenting dilakukan oleh nervus aurikulotemporal yang merupakan cabang pertama posterior dari nervus mandibularis. Awalnya berada di kelenjar parotis. Arteri maksilaris merupakan abang terminal dari arteri karotis eksterna yang mensuplai struktur di bagian dalam wajah dan sebagian wajah luar.3. lapisan fibrous dan fibrokartilago umumnya tidak memiliki suplai darah sehingga metabolismenya tergantung pada difusi tulang yang terletak di dalam dan cairan sinovial3. berjalan ke depan di antara ramus mandibula dengan ligamen sphenomandibula. Pars pterigoideus yang berada di dalam fosa infratemporalis. 2. Pars pterygopalatinus yang berada di dalam fosa pterigopalatina.6. Ligamen ini melekat ke prosesus stiloideus os temporalis di bagian atas. kemudian ke sebelah dalam dari muskulus pterigoideus eksternus menuju fosa pterigoideus3. 2. Nervus maseterikus bercabang lagi di depan kapsul dan meniskus. Di bagian medial dengan muskulus pterigoideus internus dan kelenjar submandibularis3. Di bagian bawah melekat ke angulus mandibula dan margo posterior dari ramus mandibula. Nervus aurikulotemporal dan nervus maseterikus merupakan serabut-serabut proprioseptif dari impuls sakit nervus temporal 6 . Arteri ini terbagi atas 3 bagian yaitu: Pars mandibularis yang berjalan mulai dari bagian belakang kolum mandibula sampai ke fosa infratemporalis.

ditahan pada tempatnya oleh muskulus infrahyoidei. Pterygoideus Externa et Interna M.5Otot-otot yang berperan di Temporo Mandibulae Joint · · · · · · M. gerak membuka maksimal umumnya lebih kecil daripada kekuatan gigitan maksimal (menutup). 1996). gerak mandibula dalam hubungannya dengan rahang atas dapat diklasifikasikan sebagai berikut yaitu : 2. muskulus geniohyoideus dan muskulus mylohyoideus yang berkontraksi terhadap os hyoideum yang relatif stabil. Gerak membuka Seperti sudah diperkirakan. Geniohyoid M. Masseter M. Permukaan fibrous artikular. 2. Pada saat bersamaan.3. Temporalis M. serabut anterior muskulus temporalis dan muskulus pterygoideus medialis yang berlangsung cepat dan lancar. 1996). fibrokartilago. daerah sentral meniskus dan membran sinovial tidak ada persarafannya. Mylohyoid M. saluran spinal dari nervus trigeminus. keadaan ini berlangsung dengan dibantu gerak membuka yang kuat dari muskulus digastricus. Digastricus Venter anterior et posterior (Pedersen.2.3 Fisiologi Pergerakan Sendi Temporo Maandibula Berdasarkan hasil penelitian elektromiografi. serabut posterior muskulus temporalis harus relaks dan keadaan ini akan diikuti dengan relaksasi muskulus masseter. 2. Muskulus pterygoideus lateralis berfungsi menarik prosessus kondiloideus ke depan menuju eminensia artikularis. sehingga prosessus kondilus akan bergerak ke depan sedangkan angulus mandibula bergerak ke belakang.anterior dan posterior melewati bagian lateral muskulus pterigoideus. Keadaan ini akan memungkinkan mandibula berotasi di sekitar sumbu horizontal.1. 7 . Sumbu tempat berotasinya (Pedersen. Dagu akan terdepresi. yang selanjutnya masuk ke permukaan dari muskulus temporalis.

2. Keadaan ini berhubungan dengan fakta bahwa sumbu rotasi mandibula akan melintas di sekitar ramus. 1996).a. c. Pada gerak menutup cavum oris.3. yaitu dengan sedikit mendepresi caput selama gigi geligi menggeretak. e. serabut posterior muskulus temporalis akan bekerja bersama dengan muskulus masseter untuk mengembalikan prosesus kondiloideus ke dalam fosa glenoidalis. namun akan bergerak ke bawah dan ke depan di sepanjang garis yang ditarik (pada keadaan istirahat) dari prosessus kondiloideus ke orifisum canalis mandibularis (Pedersen. b. Muskulus pterygoideus lateralis dan serabut posterior muskulus temporalis cenderung menghilangkan tekanan dari caput mandibula pada saat otot-otot ini berkontraksi. dan muskulus pterygoideus medialis. sehingga gigi geligi dapat saling berkontak pada oklusi normal (Pedersen. d. muskulus temporalis. dari menutup pada posisi protrusi penuh sampai menutup pada keadaan prosesus kondiloideus berada pada posisi paling posterior dalam fosa glenoidalis. 1996). Rahang dapat menutup pada berbagai posisi. Caput mandibula akan tetap pada posisi ke depan pada eminensia artikularis. kekuatan yang dikeluarkan otot pengunyahan akan diteruskan terutama melalui gigi geligi ke rangka wajah bagian atas. di daerah manapun di dekat orifisum canalis mandibular. Walaupun demikian masih diperdebatkan tentang apakah articulatio temporomandibula merupakan sendi yang tahan terhadap stres atau 8 . yang dibantu oleh muskulus pterygoideus medialis. Pada gerak menutup retrusi. Gerak membuka Gerak menutup Protrusi Retusi Gerak lateral mandibula tidak dapat tetap stabil selama gerak membuka. Gerak menutup pada posisi protrusi memerlukan kontraksi muskulus pterygoideus lateralis.2 Gerak menutup Penggerak utama adalah muskulus masseter.

Daerah perlekatan fibroelastik posterior dari diskus ke fissura tympanosquamosa dan ligamen capsularis akan berfungsi membatasi kisaran gerak protrusi ini (Pedersen. muskulus pterygoideus medialis dan serabut anterior muskulus temporalis akan berupaya mempertahankan tonus kontraksi untuk mencegah gerak rotasi dari mandibula yang akan memisahkan gigi geligi.3. kedua prosesus kondiloideus bergerak ke depan dan ke bawah pada eminensia artikularis dan gigi geligi akan tetap pada kontak meluncur yang tertutup. Serabut posterior muskulus temporalis merupakan antagonis dari kontraksi muskulus pterygoideus lateralis. Kontraksi muskulus pterygoideus lateralis juga akan menarik discus artikularis ke bawah dan ke depan menuju eminensia artikularis. Muskulus pterygoideus lateralis adalah otot antagonis dan akan relaks pada keadaan tersebut (Pedersen. kaput mandibula bersama dengan discus artikularisnya akan meluncur ke arah fosa mandibularis melalui kontraksi serabut posterior muskulus temporalis.3. Otot-otot pengunyahan lainnya akan berfungsi mempertahankan tonus kontraksi dan menjaga agar gigi geligi tetap pada kontak meluncur. 2. Elastisitas bagian posterior discus articularis dan capsula articulatio temporomandibularis akan dapat menahan agar diskus tetap berada pada hubungan yang tepat terhadap caput mandibula ketika prosesus kondiloideus bergerak ke belakang (Pedersen. 2. 1996). 1996).tidak. 1996). Hasil-hasil penelitian mutakhir dengan menggunakan model fotoelastik dan dengan cahaya polarisasi pada berbagai kondisi beban menunjukkan bahwa artikulasio ini langsung berperan dalam mekanisme stress (Pedersen. 1996).3 Protrusi Pada kasus protrusi bilateral. 9 . Penggerak utama pada keadaan ini adalah muskulus pterygoideus lateralis dibantu oleh muskulus pterygoideus medialis.5 Retrusi Selama pergerakan. Muskulus masseter.

4 Keabnormala pada proses TMJ diantara: 2. dalam hubungannya dengan relaksasi serabut posterior muskulus temporalis. Akibatnya. yang juga berperan dalam gerak protrusi dan retrusi Pada gerak lateral.2. tetapi melintas sedikit di belakangnya. Jadi. gigi geligi tidak beroklusi dan akan terlihat adanya celah atau freeway space diantara arkus dentalis superior dan inferior (Pedersen. Selain menimbulkan pergerakan aktif. Kontriksi otot dan spasme yang terjadi selanjutnya akan mengunci processus 10 . akan tetap ditahan dalam fosa mandibularis. dalam gerakan yang dikenal sebagai gerak Bennett (Pedersen.4. prosesus kondiloideus pada sisi tujuan arah mandibula yang bergerak akan ditahan tetap pada posisi istirahat oleh serabut posterior muskulus temporalis sedangkan tonus kontraksinya akan tetap dipertahankan oleh otot-otot pengunyahan lain yang terdapat pada sisi tersebut.1 Dislokasi misalnya luksasi terjadi bila kapsul dan ligamen temporomandibula mengalami gangguan sehingga memungkinkan processus condylaris untuk bergerak lebih kedepan dari eminentia articularis dan ke superior pada saat membuka mulut. Pada sisi berlawanan prosesus kondiloideus dan diskus artikularis akan terdorong ke depan ke eminensia artikularis melalui kontraksi muskulus pterygoideus lateralis dan medialis. caput mandibula pada sisi ipsilateral. Bila mandibula berada pada posisi istirahat. 1996).6 Gerak lateral Pada saat rahang digerakkan dari sisi yang satu ke sisi lainya untuk mendapat gerak pengunyahan antara permukaan oklusal premolar dan molar. ke arah sisi gerakan.3. caput ipsilateral akan bergerak sedikit ke lateral. 2. gerak mandibula dari sisi satu ke sisi lain terbentuk melalui kontraksi dan relaksasi otot-otot pengunyahan berlangsung bergantian. Pada saat bersamaan. Mandibula akan berotasi pada bidang horizontal di sekitar sumbu vertikal yang tidak melintas melalui caput yang „cekat‟. caput mandibula dari sisi kontralateral akan bergerak translasional ke depan. 1996). otot-otot pengunyahan juga mempunyai aksi postural yang penting dalam mempertahankan posisi mandibula terhadap gaya gravitasi.

atau bisa juga bersifat permanen. misalnya pada saat makan atau mengunyah. Dislokasi dapat bersifat kronis dan kambuh.condylaris dalam posisi ini. Closed lock merupakan akibat dari pergeseran discus ke anterior yang terus bertahan. yang mendorong terbentuknya konfirgurasi cembung-cembung (Pedersen. Sumber ”kliking”sendi ini berhubungan dengan pergeseran prosescus condylaris melewati pita posterior meniscus yang tebal. akan terbentuk barier mekanis untuk pergeseran processus condylaris yang normal. dimana pasien akan mengalami serangkaian serangan yang menyebabkan kelemahan abnormal kapsul pendukung dan ligamen(subluksasi kronis) (Pedersen. yang akan terjadi bila jarak antara insisal meningkat. tidak terjadi translasi. 1996). 1996). Dengan memendeknya pergeseran anterior dari meniscus. Dislokasi dapat juga ditimbulkan oleh trauma saat penahanan mandibula waktu dilakukan anestesi umum atau akibat pukulan.2 Kelainan internal jika perlekatan meniscus pada kutub processus condylaris lateral mengendur atau terputus. Pada kondisi parsisten. terjadi ”kliking” berikutnya. maka stabilitas sendi akan terganggu. atau jika zona bilaminar mengalami kerusakan atau degenerasi akibat trauma atau penyakit sendi ataupun keduanya. Dislokasi dapat terjadi satu sisi atau dua sisi. Closed lock dapat terjadi sebentar-sebentar dengan disela oleh “clicking” dan “locking”. Berkurangnya pergeseran kearah anterior yang spontan dari discus ini akan menimbulkan ”kliking” yang khas. Jarak antar insisial jarang melebihi 25 mm. jarak antar insisal secara bertahap akan meningkat akibat peregangan dari perlekatan posterior discus. Bila pita posterior dari discus yang mengalami deformasi tertahan di anterior processus condylaris.4. dan kadang terjadi secara sepontan bila mulut dubuka lebar. Akibatnya akan terjadi pergeseran discus kearah anteromedial akibat tidak adanya penahanan terhadap pergerakan musculus pterygoideus laterralis superior. Keadaan ini dapat berkembang 11 . dan fenomena “clicking” hilang. 2. Pada tahap inilah discus akan bersifat fibrokartilagenus. sehingga mengakibatkan gerakan menutup. dan bukannya oleh karena pengurangan pergeseran yang terjadi.

Miospasme atau kekejangan otot. 2. Pada saat membuka mulut mengunyah dan menutupkan gerakan akan timbul rasa nyeri ekstraartikular. Devisiasi mandibula saat membuka mulut dan berbagai macam gangguan/keterbatasan pergerakan merupakan tanda obyektif dari miospasme.5. Keradanga sendi temporomandibula yang disebabkan oleh trauma.a musculus pterygoideus lateralis inferior mengalami spasme akan terjadi maloklusi akut.ke arah perforasi discus yang disertai dengan osteoarthritis pada processus condylaris dan eminentia articularis (Pedersen. Bil.4 4. 1996). Trauma. rasa sakit yang timbul hilang dan keterbatasan luas pergerakan sendi yang terlibat (Pedersen. baik akut atau pun kronis.3. 2. Nyeri akibat spasme pterygoideus lateralis kadang terasa pada sendi itu sendiri. yaitu kontraksi tak sadar dari satu atau kelompok otot yang terjadi secara tiba-tiba. 2. maka pergerakan membuka dari mandibula akan tertahan. Bila terjadi kekejangan pada musculus 12 . Bila musculus maseter dan temporalis mengalami kekejangan satu sisi. dan infeksi disebut sebagai artritis. yang ditunjukkan dengan tidak beroklusinya gigi-gigi posterior pada sisi yang sama dengan musculus tersebut.4. Discitis ini lebih menggambarkan keradangan pada perlekatan discus daripada keadaan discus yang avaskular/aneural (Pedersen. Closed lock akut Keadaan closed lock yang akut biasanya diakibatkan oleh trauma yang menyebabkan processus condylaris terdorong ke posterior dan akibat terjadi cedera pada perlekatan posterior. 1996). atritis tertentu. dan terjadi kontak prematur gigi-gigi anterior pada sisi yang berlawanan. menyebabkan suatu keadaan progresif yang ditandai dengan pembekaan. Rasa sakit atau tidak enak yang ditimbulkan dapat sangat parah. Artritis. biasanya nyeri dan sering kali dapat menimbulkan gangguan fungsi. 1996).4. Spasme otot. dan keadaan ini kadang disebut sebagai discitis. dan akan terjadi deviasi mandibula ke arah sisi yang kejang.

maka dapat timbul maloklusi akut (Pedersen.masseter.6. 2. Abrasi ekstrem dan aus karena pemakain seringakali merupakan tanda khas penderita bruxism. Walaupu sters dikatakan memiliki peranan etiologis yang penting dalam dialami penderita atau reaksi penderita dalam menghadapinya. semua pergerakan STM harus dipenuhi tanpa rasa sakit dan bunyi pada sendi. baik unilateral ataupun bilateral. kelainan fungsi tubuh. Pemeriksan gigi secara menyeluruh dengan memperhatikan khususnya faktor oklusi. yaitu misalnya gigitan silang. gigitan dalam. Sters. 13 .4. Beberapa penderita akan mengalami kualitas tidurnya menjadi rendah dengan mulai timbulnya bruxism dengan keadaan sters (Pedersen.4. Gangguan oklusi secara umum bisa langsung diperiksa. Protesa yang digunakan diperiksa stabilitas. temporalis. atau kedua-keduanya.7. 1996). 1996). 1996). STM yang diberikan beban berlebihan akan menyebabkan kerusakan pada strukturnya ataun mengganggu hubungan fungsional yang normal antara kondilus. gigi supraerupsi dan daerah tak bergigi yang tidak direstorasi. Oklusi. fungsi dan abrasi/aus pada oklusal (Pedersen. 2. yang bisa langsung dikenali. Idealnya. merupakan awal yamg tepat. Kelainan STM akibat kelainan struktural jarang dijumpai dan terbanyak dijumpai adalah disfungsi. diskus dan eminensia yang akan menimbulkan rasa sakit. 2. Kelainan sendi temporomandibula Kelainan STM dapat dikelompokkan dalam 2 bagian yaitu : gangguan fnsi akibat adanya kelainan struktural dan dangguan fungsi akibat adanya penyimpangan dalam aktifitas salah satu komponen fungsi sistem mastikasi (disfungsi). dan musculus pterygoideus lateralis inferior terjadi secara berurutan.5.

Perubahan di dalam artikular juga dapat terjadi kerena variasi dari tekanan emosional. 14 . Cacat dapat disebabkan karena trauma pada rahang bawah. Gangguan pertumbuhan konginetal berkaitan dengan hal-hal yang terjadi sebelum kelahiran yang menyebabkan kelainan perkembangan yang muncul setelah kelahiran. peradangan. pada umumnya pasien mengalami pembengkakan pada daerah STM . Jika trauma belum menyebabkan fraktur mandibula. maka tekanan pada artikular berlebihan. trauma eksternal. ketika tekanan emosional meningkat. menyebabkan terjadinya perubahan pergerakan. Pasien yang mengalami dislokasi tidak dapat menutup mulut dan terjadi open bite anterior. Umumnya gangguan tersebut terjadi pada kondilus yang menyebabkan kelainan selain pada bentuk wajah yang menimbulkan masalah estetika juga masalah fungsional Cacat juga dapat terjadi pada permukaan artikular. serta dapat tekanan pada satu atau dua saluran pendengaran. sakit bila digerakaan dan pergerakan sendi berkurang. Konsekuensi yang mungkin terjadi adlah dislokasi.1. Kondisi ini kadang kadang dikenal sebagai radang sendi traumatis. Tekanan yang berlebihan pada sendi dapat mengakibatkan penipisan pada diskus. Tekanan berlebihan yang terus menrus pada akhirnya menyebabkan perforasi dan keausan sampai terjadi fraktur pada diskus yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada permukaan artikular Kelainan trauma akibat perubahan pada STM dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan. Kelainan struktural akibat trauma STM juga dapat menyebabkan edema atau hemorage di dalam sendi. dan kelainan struktural.5. hemartrosisi dan fraktur kondilus.2. kelainan struktural Kelainan struktural adalah kelainan yang disebabkan oleh perubahan struktur persendiana akibat gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu. yang maana cacat ini dapat menyebabkan masalah pada saat sendi berputar yang dapat pula melibatkan permukaan diskus. kondilus ataupun keduanya. penyakit infeksi atau neoplasma dan umumnya jarang dijumpai.

penyakit-penyakit tersebut antara lain yaitu osteoarthritis dan reumatoid arthritis adalah suatu penyakit peradangan sistemik yang melibatkan sekililing STM 2. 2.Kelainan struktural yang dipengaruhi penyakit infeksi akan melibatkan sistem muskuluskeletal yang banyak terdapat pada STM. Keluhan dirasakan pada otot-otot pergerakan mandibula.2 Gangguan Fungsional Gangguan fungsional adalah masalah-masalah STM yang timbul akibat fungsi yang menyimpang kerena adanya kelainan pada posisi dan fungsi gigigeligi. atau otot-otot kunyah. atau dapat pula pada sendi temporo mandibula. Disini terjadi perubahanperubahan adaptif pada jaringan yang terlibat sebagai upaya menerima rangsangan yang menyimpang tersebut contoh dari perubahan adaptif adalah ausnya permukaan oklusal gigi. Apabila ada rangsangan yang menyimpang dari biasanya akibat oklusi gigi yang menimbulkan kontak prematur. dan dipengaruhi oleh keadaan patologi. timbulnya perubahan membran periodontal. Sakit atau perih di sekitar sendi rahang Rasa sakit di sekitar telinga 15 . resorbsi alveolar setempat. Periode oklusi ini akan jalan terus menerus sampai batas toleransi fisiologis otoy-otot atau jaringan sekitar telah terlampaui. Tanda-tanda dan gejala gangguan TMJ adalah : 1. respon yang timbul berfariasi akibat biologis yang umumnya merupakan respon adaptif atau periode adaptasi. 2. Berapa lama adatasi ini akan berlangsung berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Istilah keadaan ini dikenal dengan zona toleransi fisiologik.6 Tanda dan gejala gangguan sendi rahang A.5. Setelah batas psikologis ini terlampaui respon jaringan mengalami perubahann yang bersifat lebih patologis. Suatu keadaan fisiologis atau yang biasa disebut orthofunction yakni batas toleransi tiap individu saat melakukan pergeseran mandibula saat melakukan pergeseran mmandibula tanpa menimbulakan keluhan otot ditandai dengan adanya keserasian antara morfologi oklusi dan fungsi neuromuskular.

degenerasi jaringan di sekitar sendi rahang. Clicking rahang sering juga terjadi pada rahang normal dan belum tentu menandakan sebuah masalah. rasa sakit baru terasa ketika rahang mulai digerakkan. Hal ini membuat otot mulut terganggu.3. Rahang terkunci. Kebiasaan lain yang mungkin juga mengganggu kondisi otot rahang adalah suka menggigit-gigit pulpen atau permen karet. 5. Jika tidak ada nyeri atau kekakuan yang membatasi pergerakan rahang. sehingga mulut sulit dibuka atau ditutup. 16 . akan memberi tekanan yang tidak ideal pada otot dan rangka tubuh yang percaya atau tidak juga berkaitan erat dengan otot rahang dan sendi rahang. Tapi pada kebanyakan kasus. Kebanyakan kasus gangguan TMJ. misalnya mendorong badan ke depan saat di depan komputer atau membaca sambil tiduran. B. kaku. 7. Jika anda sering menggemertakkan rahang anda ketika stress. reumatoid artritis atau inflamasi. 9. Bisa saja anda merasakan sakit ketika tidak menggerakkan rahang anda sekalipun. leher dan bahu yang tidak bagus. Beberapa ahli percaya respon terhadap stress dan kecemasan adalah hal utama yang berkontribusi terhadap terjadinya gangguan TMJ. Penyebab Beberapa kasus TMJ ditelusuri lewat trauma yang dialami rahang. 4. Posisi kepala. merasa sakit atau sedang berkonsentrasi. Kesulitan menelan atau perasaan tidak nyaman ketika menelan Rasa sakit di wajah Suara clicking atau perasaan tidak mulus ketika mengunyah atau membuka mulut anda. Sakit kepala Gigitan yang rasanya tidak pas Gigi-gigi tidak mengalami perlekatan yang sama karena ada sebagian gigi yang mengalami kontak prematur (lebih awal dari yang lain. osteoartritis. otot-otot TMJ tetap dalam keadaan berkontraksi. 6. bisa jadi anda memang tidak mengalami gangguan TMJ. belum jelas penyebabnya. 8.

6. namun akhir-akhir ini banyak diperdebatkan 2. Trauma Trauma dapat dibagi menjadi dua : 1. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan microtrauma pada jaringan yang terlibat seperti gigi. Macrotrauma : Trauma besar yang tiba-tiba dan mengakibatkan perubahan struktural. 2. 5.7 ETIOLOGI 1.C. gigi yang tanggal sebelum waktunya dan lain-lain yang bisa menimbulkan gangguan pergerakan rahang. Mendengarkan pergerakan rahang anda dan merasakan pergerakannya saat membuka atau menutup mulut. Memeriksa tanda-tanda bruxism pada gigi anda Menekan-nekan daerah sekitar rahang anda untuk menemukan lokasi ketidaknyamanan. Seperti berapa lama anda merasakan sakit pada rahang. seperti pukulan pada wajah atau kecelakaan. Memeriksa kondisi tambalan gigi apakah terlalu tinggi. atau apakah anda pernah mendapatkan perawatan gigi baru-baru ini. Dulu oklusi selalu dianggap sebagai penyebab utama terjadinya TMD. Microtrauma : Trauma ringan tapi berulang dalam jangka waktu yang lama. 2. apakah anda pernah mengalami cedera di rahang. 4. gigi yang miring. Diagnosis Beberapa tes yang dilakukan untuk menetapkan bahwa anda mengalami gangguan TMJ adalah : 1. Kondisi oklusi. 17 . 2. 8. 7. atau otot. Menanyakan apakah anda sedang stress atau mengalami anxietas (kecemasan) Dokter anda juga akan memerintahkan foto rontgen kepala anda untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi di rahang. Mengamati seberapa besar pergerakan rahang anda. 3. Riwayat kesehatan anda. seperti bruxism dan clenching. Menguji pengunyahan anda untuk melihat apakah ada sesuatu yang abnormal. sendi rahang.

dan/atau peningkatan tonus otot kepala dan leher. Deep pain input (Aktivitas parafungsional) Aktivitas parafungsional adalah semua aktivitas di luar fungsi normal (seperti mengunyah. termasuk clenching dan grinding. asma. Banyak 18 . dan menelan). Beberapa literatur membedakan antara bruxism dan clenching. 2. gejala Gangguan Sendi Rahang Kelainan-kelainan sakit sendi rahang umumnya terjadi karena aktivitas yang tidak berimbang dari otot-otot rahang dan/atau spasme otot rahang dan pemakaian berlebihan. pensil. dan kebiasaankebiasaan lain seperti menggigit-gigit kuku. Stress emosional Keadaan sistemik yang dapat mempengaruhi fungsi pengunyahan adalah peningkatan stres emosional. Contohnya adalah bruxism. Bruxism adalah mengerat gigi atau grinding terutama pada malam hari. bibir. energi yang timbul akan disalurkan ke seluruh tubuh. mengunyah satu sisi. Pusat emosi dari otak mempengaruhi fungsi otot. bicara. sedangkan clenching adalah mempertemukan gigi atas dan bawah dengan keras yang dapat dilakukan pada siang ataupun malam hari. Gejala-gejala bertendensi menjadi kronis dan perawatan ditujukan pada eliminasi faktor-faktor yang mempercepatnya. Pelepasan secara internal dapat mengakibatkan terjadinya gangguan psikotropik seperti hipertensi. dan sistem limbic adalah yang paling bertanggung jawab terhadap tingkat emosional individu. Hipotalamus. dan bertopang dagu. Stres sering memiliki peran yang sangat penting pada TMD.8. sakit jantung. Dapat juga terjadi peningkatan aktivitas otot nonfungsional seperti bruxism atau clenching yang merupakan salah satu etiologi TMD 4. sistem retikula. Aktivitas yang paling berat dan sering menimbulkan masalah adalah bruxism.3. Stres adalah suatu tipe energi. Bila terjadi stres. tongue thrust. dan tidak mempunyai tujuan fungsional.

Karena sakit telinga terjadi begitu umum. secara medis diistilahkan crepitus. Berikut adalah gejala-gejala yang umum: 1. Mereka dapat merasakan kepenuhan telinga dan sakit sewaktu pesawat terbang berangkat (takeoffs) dan mendarat (landings). 3. klik ( clicking) dan meletus (popping). Gejala-gejala ini umumnya disebabkan oleh kelainan fungsi dari tabung Eustachian (Eustachian tube). Dari pasien-pasien itu. Sakit Kepala: Hampir 80% pasien dengan gangguan sendi rahang mengeluh tentang sakit kepala. pasienpasien dirawat berulangkali untuk penyakit yang dikirakan infeksi telinga. tersumbat (clogged) atau penuh (full). Kepenuhan Telinga: Kira-kira 30% pasien dengan gangguan sendi rahang menggambarkan telinga-telinga yang teredam (muffled). Bunyi-bunyi ini dapat atau tidak disertai dengan sakit yang meningkat. dan 40% melaporkan sakit muka. separuhnya akan hilang tinnitusnya setelah perawatan TMJnya yang sukses. 33% pasien dengan gangguan sendi rahang mengalami suara bising (noise) atau dengung (tinnitus). 5. struktur yang bertanggung jawab untuk pengaturan tekanan ditelinga tengah. Sakitnya seringkal menjadi 19 . spesialis-spesialis kuping sering diminta bantuannya untuk membuat diagnosis dari gangguan sendi rahang. Sakit telinganya umumnya digambarkan sepertinya berada di muka atau bawah telinga. Sakit Telinga: Kira-kira 50% pasien dengan gangguan sendi rahang merasakan sakit telinga namun tidak ada tanda-tanda infeksi. yang seringkali dapat dibedakan dari TMJ oleh suatu yang berhubungan dengan kehilangan pendengaran (hearing loss) atau drainase telinga (yang dapat diharapkan jika memang ada infeksi telinga). Dengung Dalam Telinga (Tinnitus): Untuk penyebab-penyebab yang tidak diketahui. 2. Diperkirakan pasien dengan gangguan sendi rahang mempunyai aktivitas hiper (spasme) dari otot-otot yang bertanggung jawab untuk pengaturan pembukaan dan penutupan tabung eustachian.gejala-gejala mungkin terlihat tidak berhubungan dengan TMJ sendiri. 4. adalah umum pada pasien-pasien dengan gangguan sendi rahang. Seringkali. Bunyi-Bunyi: Bunyi-bunyi kertakan (grinding).

Temporalis muscle. Pusing: Dari pasien-pasien dengan gangguan sendi rahang. d. sendi rahang dan otot pada wajah serta kepala dan wajah. media. Zygomatic arch (arkus zigomatikus). pemeriksaan 2.lebih ketika membuka dan menutup rahang. Paparan kepada udara dingin atau udara AC dapat meningkatkan kontraksi otot dan sakit muka.Pemeriksaan klinis 1. Inspeksi Untuk melihat adanya kelainan sendi temporomandibular perlu diperhatikan gigi. Penyebab dari tipe pusing ini belum diketahui. 40% melaporkan pusing yang samar atau ketidakseimbangan (umumnya bukan suatu spinning type vertigo). yang terbagi atas 3 segmen yaitu anterior. e. a. 6. Penelanan : Kesulitan menelan atau perasaan tidak nyaman ketika menelan Rahang Terkunci : Rahang terasa terkunci atau kaku. Palpasi : Masticatory muscle examination: Pemeriksaan dengan cara palpasi sisi kanan dan kiri pada dilakukan pada sendi dan otot pada wajah dan daerah kepala. 7. c. 8. dan posterior. Gigi: Gigi-gigi tidak mengalami perlekatan yang sama karena ada sebagian gigi yang mengalami kontak prematur dan bisa d sebabkan karena maloklusi atau merasa gigitan tidak pas 2. Apakah pasien menggerakan mulutnya dengan nyaman selama berbicara atau pasien seperti menjaga gerakan dari rahang bawahnya.1.9. 2. b. Terkadang pasien memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik selama interview seperti bruxism.9. sehingga sulit membuka atau menutup mulut 9. Masseter muscle Digastric muscle 20 .

pterigoideus lateral) 5.f. Menyuruh pasien mengangkat kepala ke atas (ekstensi) dan ke bawah (fleksi). dimana pasien seharusnya mampu untuk memutar kepala sekitar 80 derajat ke setiap sisi. Resistive opening (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada ruang inferior m. Menyuruh pasien berdiri pada posisi yang relaks. Menyuruh pasien untuk memutar (rotasi) kepalanya ke setiap sisi. Lateral pterygoid muscle Medial pterygoid muscle Coronoid process Muscular Resistance Testing: Tes ini penting dalam membantu mencari lokasi nyeri dan tes terbagi atas 5. l. Evaluasi pada cervikal dilakukan dengan cara : a. pterigoideus medial) 3. j. temporalis. Menyuruh pasien untuk menghadap kesamping untuk melihat postur leher yang terlalu ke depan c. merupakan Muscular trigger point serta menjalarkan nyeri ke dasar tengkorang dan bagian temporal i. Pada kecelakaan kendaraan bermotor kenyataannya menunjukkan kelainan pada cervikal maupun TMJ. kemudian dokter menilai apakah terdapat asimetris kedua bahu atau deviasi leher b. yaitu : 1. temporalis) 3. masseter. Resistive lateral movement (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. d. pterigoideus lateral dan medial yang kontralateral) 4. g. m. Sternocleidomastoid muscle Cervical spine Trapezeus muscle. Resistive retrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada bagian posterior m.pterigoideus lateral) 2. dan m. h. Resistive closing (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. Pemeriksaan tulang belakang dan cervical : Dornan dkk memperkirakan bahwa pasien dengan masalah TMJ juga memperlihatkan gejala pada cervikal. k. Resistive protrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. normalnya pergerakan ini sekitar 60 derajat 21 .

pergerakan dari TMJ normalnya lembut tanpa bunyi atau nyeri. pemeriksaan penunjang 1. c. “Clicking” dapat terjadi pada awal. 5. Menyuruh pasien menekuk kepala kesamping kiri dan kanan. 2. dapat digunakan untuk melihat hampir seluruh regio maxilomandibular dan TMJ. Auskultasi : Joint sounds Bunyi sendi TMJ terdiri dari “clicking” dan „krepitus‟. Mandibular range of motion diukur dengan : a. Bunyi “click” yang terjadi pada akhir membuka mulut menandakan adanya suatu pergeseran yang berat. b. rata. “Clicking” adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau menutup mulut. pertengahan. yang biasanya berupa suara yang dirasakan menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut bahkan keduanya. Maximal interticisal opening (active and passive range of motion) Lateral movement Protrusio movement 2. Persendian tidak terlihat karena bersifat radiolusen.5.2. Kelemahan dari pemeriksaan ini antara lain : 22 . pinggiran kortex rata. “Krepitus” menandakan perubahan dari kontur tulang seperti pada osteoartrosis. c. lipping. Transcranial radiografi : Menggunakan sinar X. Struktur condyle mulus. d. Perubahan patologis yang dapat terlihat pada condyle diantaranya flattening. Range of motion: Pemeriksaan pergerakan ”Range of Motion” dilakukan dengan pembukaan mulut secara maksimal. Condyle pada TMJ dan bagian pinggir kortex harus diperhatikan Garis kortex dari fossa glenoid dan sendi harus dilihat. TMJ „clicking‟ sulit didengar karena bunyinya halus. yang harus diperhatikan antara lain: a. dan bulat. untuk dapat menilai kelainan. Panoramik Radiografi : Menggunakan sinar X.e. maka dapat didengar dengan menggunakan stetoskop. normalnya pergerakan ini 45 derajat 4. dan akhir membuka dan menutup mulut. bahkan keduanya. “Krepitus” adalah bersifat difus. e. b.

4. atau steroids dapat membantu mengontrol peradangan. segera setelah suatu luka pada sendi rahang. kenyal (chewy) dan garing (crunchy).6. Terapi Panas dan Dingin Terapi ini membantu mengurangi tegangan dan spasme otot-otot. Perawatan Ganggguan Sendi Rahang Dukungan utama dari perawatan untuk sakit sendi rahang akut adalah panas dan es. Adalah juga sangat penting mengenali jika kertak gigi (grinding) terjadi dan menggunakan metode-metode untuk mengakhiri aktivitas-aktivitas ini. Perelaksasi otot seperti diazepam (Valium). CT Scan : Menggunakan sinar X. 2009 ). membantu dalam mengurangi spasme-spasme otot ( Suryonegoro H. osteoatritis. seperti hamburger. b. permen-permen atau kacang-kacangan. Bagaimanapun. Jaw Rest (Istirahat Rahang) Sangat menguntungkan jika membiarkan gigi-gigi terpisah sebanyak mungkin. 2.a. perawatan dengan penggunaan dingin adalah yang terbaik. Bungkusan dingin (cold packs) dapat membantu meringankan sakit (Suryonegoro H. Makanan-makanan yang memerlukan pembukaan mulut yang lebar. Obat-obatan Obat-obatan anti peradangan seperti aspirin. neoplasma. Terapi Fisik 23 . makanan lunak (soft diet) dan obat-obatan anti peradangan ( Suryonegoro H. 2. kelainan pertumbuhan pada TMJ. 1. Gambar yang kurang tajam. 2009 ). 3. Fenomena distorsi. 3. seperti sayuran mentah. 2009 ). merupakan pemeriksaan yang akurat untuk melihat kelainan tulang pada TMJ. dislokasi. Terdapatnya bayangan atau struktur lain pada foto X ray. c. ibuprofen (Advil dan lainnya). Pasien dianjurkan untuk menghindari mengunyah permen karet atau makan makanan yang keras. tidak dianjurkan ( Suryonegoro H. dimana terjadi penyimpangan bentuk yang sebenarnya yang terjadi akibat goyang saat pengambilan gambar. 2009 ). Kelainan yang dapat dilihat antara lain fraktur. naproxen (Aleve dan lainnya).

dan penggantian rahang (joint replacement) dipertimbangkan pada kebanyakan kasus yang berat dari kerusakan rahang atau perburukan rahang (Suryonegoro H. 9. urut (massage) dan stimulasi listrik membantu mengurangi sakit dan meningkatkan batasan pergerakan dan kekuatan dari rahang ( Suryonegoro H. 2009 ). Di antaranya : a. TMJ arthroscopy. ditetapkan untuk malam hari namun mungkin diperlukan sepanjang hari. 2009 ). Ini dilakukan sebagai jalan terakhir. Operasi Operasi diindikasikan pada kasus-kasus dimana terapi medis gagal. 2009 ). Restorasi gigi membantu menciptakan suatu gigitan yang lebih stabil. Dokter gigi anda akan mengingatkan anda untuk lebih memperhatikan kebiasaan-kebiasaan anda sehari-hari. Misalnya kebiasaan 24 . 2009 ). Perawatan Tanpa bedah Beberapa kasus gangguan TMJ akan berakhir dengan perawatan biasa yang bahkan mungkin tidak membutuhkan kehadiran dokter gigi di samping anda. mungkin diperlukan untuk mengkoreksi gigitan yang abnormal. Umpanbalikbio (biofeedback) membantu pasien mengenali waktu-waktu dari aktivitas otot yang meningkat dan spasme dan menyediakan metode-metode untuk membantu mengontrol mereka ( Suryonegoro H. Ia bertindak untuk mengimbangi gigitan dan mengurangi atau mengeliminasi kertakan gigi (grinding) atau bruxism ( Suryonegoro H. 6. konsultasi psikologi. Koreksi Kelainan Gigitan Terapi koreksi gigi. Penyesuaian dari bridges atau crowns bertindak untuk memastikan kesejajaran yang tepat dari gigi-gigi ( Suryonegoro H. restrukturisasi rahang (joint restructuring). 5. Managemen stres Kelompok-kelompok penunjang stres. 2009 ). 8. Mengubah kebiasaan buruk. Terapi Occlusal Pada umumnya suatu alat acrylic yang dibuat sesuai pesanan dipasang pada gigi-gigi. 7. ligament tightening. dan obatobatan juga dapat membantu mengurangi tegangan otot. seperti orthodontics.Pembukaan dan penutupan rahang secara pasiv.

atau menggigit-gigit sesuatu. Jika TMJ anda mengalami gangguan karena stress atau anxietas. Penggunaan night guard. Contohnya jangan tertawa berlebihan. memperbaiki tambalan atau membuat mahkota tiruan baru. Peregangan dan pijatan. Dokter gigi akan memberikan latihan bagaimana caranya meregangkan atau memijat otot rahang anda. misalkan ibuprofen (Advil. lidah menyentuh langit-langit dan berada tepat di belakang gigi atas anda. h. Terapi kognitif. Dokter gigi anda akan memperbaiki gigitan dengan menyeimbangkan permukaan gigi anda. 25 . b. Untuk mengurangi inflamasi (peradangan) dan rasa sakit. Dokter gigi anda akan meminta anda tidak membuka mulut terlalu lebar dalam berbagai kesempatan. Sebagai tambahan juga mungkin akan diberikan petunjuk bagaimana posisi kepala. Biteplate. Biteplate dipasang di gigi untuk menyesuaikan rahang atas dengan rahang bawah. Kebiasaan ini harus digantikan dengan kebiasaan baik seperti membiarkan otot mulut dalam kondisi rilex dengan gigi atas dan bawah tidak terlalu rapat. Mengurangi kelelahan otot rahang. Dengan mengompress kedua sisi wajah anda baik dengan kompres panas atau dingin akan membantu relaksasi otot rahang. d. Perawatan lanjutan Jika perawatan non bedah tidak berhasil mengurangi gejala gangguan TMJ. Kompres panas atau dingin. Perawatan gigi. bruxism. dokter gigi anda mungkin akan menyarankan aspirin atau obat anti inflamasi nonsteroid lainnya. dan bahu yang tepat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. dokter gigi anda akan menyarankan untuk menemui psikiater untuk mengatasinya. g. c. Jika TMJ anda mengalami kelainan pada posisi mengunyah. Caranya bisa dengan mengganti gigi yang hilang atau tanggal. Motrin.menggemertakkan gigi. dll) f. Obat anti inflamasi. Dengan posisi mengunyah yang benar tentunya akan membantu mengurangi tekanan di struktur sendi. e. dokter gigi anda akan merekomendasikan perawatan berikut : a. Alat ini berguna untuk mengatasi kebiasaan bruxism di malam hari. 10. sebuah biteplate (pemandu gigitan) akan diberikan. leher.

Arthrocentesis. 26 . c. obat kortikosteroid akan diinjeksikan ke dalam sendi. Untuk sakit dan peradangan pada sendi. dokter gigi akan merujuk anda ke dokter gigi spesialis bedah mulut. d.b. Jika semua perawatan tidak berhasil juga. Prosedur ini dilakukan dengan jalan menyuntikan cairan ke dalam sendi untuk membuang kotoran atau sisa peradangan yang mengganggu rahang. Obat kortikosteroid. Pembedahan.

pertengahan atau akhir gerak buka dan tutup mulut. Biasanya ditemukan pada pasien dengan kelainan sendi temporo-mandibula jangka panjang .BAB III HASIL PENGAMATAN 3. dan popping? Krepitus adalah bunyi mengeret atau gemeretak menunjukan adanya perubahan degenerasi. kedudukan kepala kondil berada pada bagian tengah diskus yaitu pada bagian yang tipis. Bagaimana pola pergerakan kondil pada saat membuka dan menutup mulut? Pada saat membuka mulut. Clicking adalah bunyi tunggal dalam waktu yang singkat. Bunyi tersebut dapat berupa bunyi berdebuk yang perlahan. dan fungsi dari komponen sendi temporomandibular. samar sampai bunyi retak yang tajam dan keras. Apa perbedaan krepitus. Mengapa dapat timbul gerakan inkoordinasi mandibula? 27 . 2. bentuk. Bunyi yang dihasilkan dapat bervariasi mulai dari bunyi yang lemah dan hanya terasa oleh si penderita sampai yang keras dan tajam. diskus artikularis dan kondil bersama-sama meluncur ke bawah sepanjang emenensia artikularis dan diskus artikularis berputar pada kepala kondil ke arah posterior sedangkan pada saat menutup mulut. Apa yang menyebabkan bunyi sendi? Terjadinya bunyi pada sendi karena adanya perubahan letak. 3. clicking.1 Pertanyaan dan Jawaban 1. Popping adalah bunyi letupan karena adanya keterbatasan gerakan rahang atau atau gerakan rahang yang biasanya asimetri. 4. Bunyi ini dapat terjadi pada awal.

6. Karena setelah dipijat. Bagaimana pengaruh pemijatan pada kelelahan? Jelaskan mekanismenya! Pemijatan mampu memberikan banyak manfaat bagi tubuh. 7. Apalagi bila tidur dilakukan selama berjam-jam dan kebiasaan itu terbawa sejak lama. aliran darah ke otot akan lebih lancar sehingga pasokan oksigen akan lebih banyak dari sebelumnya. bila seseorang memiliki kebiasaan tidur yang salah maka akan dapat mempengaruhi kondisi dari mandibular itu sendiri. dapat menyebabkan perubahan posisi ataupun kemiringan dari mandibular yang nantinya akan berpengaruh pula pada susunan gigi geliginya. Apakah posisi tidur dapat berpengaruh pada kondisi mandibula? Jelaskan mekanismenya! Tidur dilakukan kurang lebih selama 6 jam. Perbaikan sirkulasi darah dan getah bening di otot akan menghasilkan 28 . Kegiatan pijat mampu mengendurkan dan meregangkan otot dan jaringan-jaringan lunak dalam tubuh. dimana sendi rahang "keluar" dari lokasi normalnya. sehingga setelah dipijat energi meningkat dan otot dapat bekerja lebih lama. pembuluh darah. 5. Misalnya kebiasaan tidur dengan memiringkan tubuh ke salah satu sisi saja dapat menyebabkan tekanan mandibular yang berat pada salah satu sisi. sehingga mengurangi ketegangan otot dan kram. Oksigen berguna dalam proses pembakaran untuk menghasilkan energi. Efek pijat pada syaraf mampu memberikan rangsangan dan meningkatkan aktivitas otot.Dapat terjadi karena hilangnya kontinuitas mandibula sehingga menyebabkan kehilangan keseimbangan dan akhirnya menyebabkan inkoordinasi gerakan mandibular. dan kelenjar yang diatur oleh otot-otot tersebut. Sehingga menyebabkan rasa sakit dan lelah bila terus menerus dilakukan gerakan membuka mulut secara maksimal. Mengapa membuka mulut maksimal menimbulkan kelelahan dan nyeri? Membuka mulut maksimal dapat menimbulkan nyeri karena sendi temporomandibula mengalami dislokasi.

akan mengurangi kelelahan yang dirasakan.1. Hal tersebut yang akan menyebabkan rasa lelah menjadi berkurang. sehingga suplai oksigen dari darah mengalir lancar. Sendi yang tegang dan rasa sakit yang diakibatkan oleh kondisi-kondisi seperti arthritis. bisa dikurangi sehingga tercipta rasa nyaman dan kemudahan dalam bergerak. Sirkulasi darah menjadi lancar. dan tidak terjadi hambatan Gerakan tidak simetris. 3. Hal ini dapat terjadi karena sinar infra red akan menghasilkan panas yang menyebabkan pembuluh kapiler darah membesar (vasodilatasi). normal.. yaitu kliking 3 Pemeriksaan Gerakan Mandibula 3. normal Ada.. Gerakan Membuka Mulut Maksimal 29 ..sirkulasi yang lebih baik dalam tulang-tulang yang terkait.) Gerakan simetris. Bagaimana pengaruh infra red pada kelelahan? Jelaskan mekanismenya! Pemberian infra red pada bagian tubuh tertentu setelah mengalami kelelahan. 8..) Tidak sakit.. tidak normal..2 Data Percoban 1 Pemeriksaan Gerakan STM Secara Palpasi Jenis kelamin orang coba Laki-laki Perempuan Gerakan STM (simetri/normal/terjadi hambatan/. dan ada terjadi hambatan 2 Pemeriksaan Bunyi STM Secara Auskultasi Jenis kelamin orang coba Laki-laki Perempuan Gerakan STM (sakit/krepitasi/kliking/poping/.

Perempuan pada keadaan gerakan (C) Antero-posterior posterior. Laki-laki 2. (D) Lateral kondil akan menonjol ke kanan dan sebaliknya 1. 2. 1. terjadi gerakan yang 1. Perempuan (E) Koordinasi gerakan simetris 2.Jenis kelamin orang coba Laki-laki perempuan (A) Jarak maksimal (mm) 60 mm 45 mm (B) Waktu maksimal (menit) 1 menit 23 detik 1 menit 35 detik 3. Pada kondil hanya sedikit gerakan ke anterior daripada gerakan kondil 1.2. laki-laki 2. gerakan kondil lebih kedepan padagerakan anterior daripada gerakan di posterior. Gerakan Membuka dan Menutup Mulut Jenis kelamin orang coba Gerakan mandibula Perubahan kondil 1. laki-laki 2. tidak terjadi gerakan yang simetris 30 . Perempuan Pada gerakan lateral ke kiri.

Gerakan STM Pada Beberapa Posisi Kepala Pengaruh Posisi Kepala Terhadap Gerakan Mandibula (menunduk. menengadah. dan istirahat) Jenis kelamin orang coba Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Posisi kepala Tegak lurus Menunduk Menengadah Terlentang Kesamping Istirahat Jarak kondil – tragus (mm) dan apa yang dirasakan 20 mm 20 mm 22 mm 25 mm 25 mm 20 mm 31 . X menit) Istirahat 10 menit ⁄ Waktu sampai timbul kelelahan (menit) 2 menit 16 detik dari waktu maksimal 2 menit 48 detik (0. Kelelahan pada Gerakan Mandibula Menutup Mulut Jenis kelamin orang coba Laki-laki Lamanya membuka mulut secara maksimal Waktu maksimal (ex.5 dari X 1 menit 39 detik menit + pajanan sinar infra merah) 5.5 dari X menit + pemijatan) Istirahat 10 menit ⁄ dari waktu maksimal (0. kesamping. terlentang.4.

1 Gerak membuka Gerak membuka maksimal umumnya lebih kecil daripada kekuatan gigitan maksimal (menutup). Caput mandibula akan tetap pada posisi ke depan pada eminensia artikularis. Rahang dapat menutup pada berbagai posisi. Gerak menutup pada posisi protrusi memerlukan kontraksi muskulus pterygoideus lateralis. Gerak lateralmandibula tidak dapat tetap stabil selama gerak membuka.BAB IV PEMBAHASAN 4. Keadaan ini akan memungkinkan mandibula berotasi di sekitar sumbu horizontal. dari menutup pada posisi protrusi penuh sampai menutup pada keadaan prosesus kondiloideus berada pada posisi paling posterior dalam fosa glenoidalis. yang dibantu oleh muskulus pterygoideus medialis.1 Fisiologi Pergerakan Sendi Temporomandibula Berdasarkan hasil pengamatan pergerakan mandibula. serabut posterior muskulus temporalis harus relaks dan keadaan ini akan diikuti dengan relaksasi muskulus masseter. Pada gerak menutup retrusi. muskulus temporalis. Sumbu tempat berotasinya 1. serabut posterior muskulus temporalis akan bekerja bersama dengan muskulus masseter 32 . namun akan bergerak ke bawah dan ke depan di sepanjang garis yang ditarik (pada keadaan istirahat) dari prosessus kondiloideus ke orifisum canalis mandibularis8. Muskulus pterygoideus lateralis berfungsi menarik prosessus kondiloideus ke depan menuju eminensia artikularis. muskulus geniohyoideus dan muskulus mylohyoideus yang berkontraksi terhadap os hyoideum yang relatif stabil. ditahan pada tempatnya oleh muskulus infrahyoidei.2 Gerak menutup Penggerak utama adalah muskulus masseter. keadaan ini berlangsung dengan dibantu gerak membuka yang kuat dari muskulus digastricus. sehingga prosessus kondilus akan bergerak ke depan sedangkan angulus mandibula bergerak ke belakang. 3. Gerak membuka 2.1. kamu memperoleh hasil seperti berikut ini 4. dan muskulus pterygoideus medialis. Protrusi 4. Dagu akan terdepresi. Gerak menutup 3. serabut anterior muskulus temporalis dan muskulus pterygoideus medialis yang berlangsung cepat dan lancar. Pada saat bersamaan. Retusi 5.

Keadaan ini berhubungan dengan fakta bahwa sumbu rotasi mandibula akan melintas di sekitar ramus. Pada gerak menutup cavum oris. sehingga gigi geligi dapat saling berkontak pada oklusi normal8. kedua prosesus kondiloideus bergerak ke depan dan ke bawah pada eminensia artikularis dan gigi geligi akan tetap pada kontak meluncur yang tertutup. 3. muskulus pterygoideus medialis dan serabut anterior muskulus temporalis akan berupaya mempertahankan tonus kontraksi untuk mencegah gerak rotasi dari mandibula yang akan memisahkan gigi geligi. kaput mandibula bersama dengan discus artikularisnya akan meluncur ke arah fosa mandibularis melalui kontraksi serabut posterior muskulus temporalis. Muskulus pterygoideus lateralis adalah otot antagonis dan akan relaks pada keadaan tersebut. 3. Muskulus masseter.4 Retrusi Selama pergerakan. Otot-otot pengunyahan lainnya 33 . Hasil-hasil penelitian mutakhir dengan menggunakan model fotoelastik dan dengan cahaya polarisasi pada berbagai kondisi beban menunjukkan bahwa artikulasio ini langsung berperan dalam mekanisme stres8. Walaupun demikian masih diperdebatkan tentang apakah articulatio temporomandibula merupakan sendi yang tahan terhadap stres atau tidak. Kontraksi muskulus pterygoideus lateralis juga akan menarik discus artikularis ke bawah dan ke depan menuju eminensia artikularis. Muskulus pterygoideus lateralis dan serabut posterior muskulus temporalis cenderung menghilangkan tekanan dari caput mandibula pada saat otot-otot ini berkontraksi. Penggerak utama pada keadaan ini adalah muskulus pterygoideus lateralis dibantu oleh muskulus pterygoideus medialis.3 Protrusi Pada kasus protrusi bilateral. Serabut posterior muskulus temporalis merupakan antagonis dari kontraksi muskulus pterygoideus lateralis. kekuatan yang dikeluarkan otot pengunyahan akan diteruskan terutama melalui gigi geligi ke rangka wajah bagian atas. di daerah manapun di dekat orifisum canalis mandibular. yaitu dengan sedikit mendepresi caput selama gigi geligi menggeretak.untuk mengembalikan prosesus kondiloideus ke dalam fosa glenoidalis. Daerah perlekatan fibroelastik posterior dari diskus ke fissura tympanosquamosa dan ligamen capsularis akan berfungsi membatasi kisaran gerak protrusi ini8.

caput mandibula dari sisi kontralateral akan bergerak translasional ke depan. caput mandibula pada sisi ipsilateral. caput ipsilateral akan Universitas Sumatera Utara 34 . Jadi. akan tetap ditahan dalam fosa mandibularis. yang juga berperan dalam gerak protrusi dan retrusi8. ke arah sisi gerakan. prosesus kondiloideus pada sisi tujuan arah mandibula yang bergerak akan ditahan tetap pada posisi istirahat oleh serabut posterior muskulus temporalis sedangkan tonus kontraksinya akan tetap dipertahankan oleh otot-otot pengunyahan lain yang terdapat pada sisi tersebut. Elastisitas bagian posterior discus articularis dan capsula articulatio temporomandibularis akan dapat menahan agar diskus tetap berada pada hubungan yang tepat terhadap caput mandibula ketika prosesus kondiloideus bergerak ke belakang8.5 Gerak lateral Pada saat rahang digerakkan dari sisi yang satu ke sisi lainya untuk mendapat gerak pengunyahan antara permukaan oklusal premolar dan molar. Pada sisi berlawanan prosesus kondiloideus dan diskus artikularis akan terdorong ke depan ke eminensia artikularis melalui kontraksi muskulus pterygoideus lateralis dan medialis. Pada saat bersamaan. Mandibula akan berotasi pada bidang horizontal di sekitar sumbu vertikal yang tidak melintas melalui caput yang „cekat‟. gerak mandibula dari sisi satu ke sisi lain terbentuk melalui kontraksi dan relaksasi otot-otot pengunyahan berlangsung bergantian. Akibatnya. tetapi melintas sedikit di belakangnya. 3. dalam hubungannya dengan relaksasi serabut posterior muskulus temporalis. Pada gerak lateral.akan berfungsi mempertahankan tonus kontraksi dan menjaga agar gigi geligi tetap pada kontak meluncur.

5-1 cm di depan meatus acusticus externus (lubang telinga) kiri dan kanan pada posisi membuka dan menutup mulut.bergerak sedikit ke lateral.2 Pemeriksaan Bunyi STM Secara Auskultasi Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan stetoskop. Namun dalam membuka dan menutup mulut tidak terjadi hambatan maupun rasa nyeri. Otot otot pada mandibula3 Gambar 5.1 Pemeriksaan Gerakan Mandibula A. maupun popping yang muncul. gerakan STM normal. Pada orang coba kedua. Bila mandibula berada pada posisi istirahat. kemudian mendengarkan bunyi yang timbul saat masing-masing membuka dan menutup mulut.2. dalam gerakan yang dikenal sebagai gerak Bennett8. Pada orang coba pertama diketahui bahwa gerakan STM asimetris. dua orang coba berjenis kelamin berbeda melakukan pemeriksaan bergantian dengan cara membuka mulut semaksimal mungkin. Pemeriksaan ini dilakukan secara bergantian. atau popping yang muncul. Kemudian dihitung panjang jarak maksimal mandibula dengan 35 . Palpasi dilakukan secara bergantian. clicking. otot-otot pengunyahan juga mempunyai aksi postural yang penting dalam mempertahankan posisi mandibula terhadap gaya gravitasi. clicking. dua orang berjenis kelamin perempuan melakukan palpasi dengan jarak 0. gigi geligi tidak beroklusi dan akan terlihat adanya celah atau freeway space diantara arkus dentalis superior dan inferior8.1 Pemeriksaan Gerakan STM Secara Palpasi Pada pemeriksaan gerakan STM secara palpasi. Gerakan Membuka Mulut Maksimal Pada pemeriksaan kali ini. apakah ada bunyi krepitasi. 4. 4. diketahui bahwa gerakan STM terjadi secara simetris dan normal. Perubahan posisi mandibula pada saat menutup dan membuka mulut9 Universitas Sumatera Utara 4. Kemudian dilakukan pencatatan. Selain menimbulkan pergerakan aktif. dan hasilnya tidak ada bunyi krepitasi. Gambar 4. juga tidak terjadi hambatan pergerakan STM dan tidak ada rasa nyeri. Dua orang coba meletakkan stetoskop pada daerah STM.

yaitu membuka mulut secara maksimal sampai timbul kelelahan. Sedangkan panjang jarak maksimal mandibula orang coba laki-laki adalah 55 mm dengan waktu maksimal 1 menit 21 detik. Sedangkan (E) koordinasi gerakan masing-masing arah pergerakan mandibula adalah simetris. Orang coba diistirahatkan selama 10 menit. 36 . Gerakan Membuka dan Menutup Mulut Pemeriksaan ini dilakukan oleh satu orang coba berjenis kelamin perempuan. selanjutnya menggerakkan mandibula ke arah (C) antero-posterior dan (D) lateral. Kelelahan baru timbul pada waktu 1 menit 55 detik.menggunakan penggaris dan dicatat berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi pergerakan maksimal mandibula untuk bertahan. Pada detik ke-35 dilakukan pemajanan dengan sinar infra-red pada otot pembuka mulut. Dari pemeriksaan yang diperoleh. Didapatkan bahwa rasa lelah timbul pada waktu 1 menit 9 detik. operator melakukan pemijatan pada otot pembuka mulut. C. Kelelahan pada Gerakan Mandibula Menutup Mulut Pemeriksaan ini dilakukan oleh satu orang coba berjenis kelamin perempuan. Setelah itu. Namun pada detik ke-35 setelah orang coba diinstruksikan untuk membuka mulut. B. dilanjutkan menutup mulut sampai gigi geligi kedua rahang menyentuh. Orang coba diinstruksikan untuk membuka mulut. kemudian kembali diinstruksikan untuk membuka mulut sampai timbul rasa lelah. Selanjutnya orang coba kembali diistirahatkan selama 10 menit. panjang jarak maksimal mandibula orang coba perempuan adalah 44 mm dengan waktu maksimal 1 menit 39 detik. Orang coba diinstruksikan untuk membuka mulut maksimal sampai timbul rasa lelah. Operator meletakkan jari telunjuk dan jari tengah kedua tangan pada kedua kondil orang coba. orang coba diinstruksikan untuk melakukan hal yang sama. Perubahan kondil pada saat orang coba menggerakkan mandibula ke arah antero-posterior dan lateral berturut-turut adalah anterior-inferior-posteriorsuperior dan lateral-inferior. dan didapatkan hasil bahwa kelelahan timbul pada waktu 2 menit 15 detik.

7 mm.1 Pengaruh Posisi Kepala Terhadap Gerakan Mandibula (menunduk. terdiri dari keadaan sistemik. inisiasi. bibir. 4. Posisi kondil dipalpasi dan puncak kondil dan tragus diberi tanda dengan spidol. terlentang. menengadah. kebiasaan menggigit pipi.4 Etiologi Disfungsi Sendi Temporomandibula Etiologi disfungsi sendi temporomandibula sampai saat ini masih banyak diperdebatkan dan multifaktorial. orang coba didudukkan dalam posisi kepala tegak dan oklusi sentrik. misalnya kebiasaan parafungsi oral dan trauma yang diterima sendi temporomandibula. penyimpangan oklusal pada saat kontak retrusi yang lebih dari 2 mm dan crossbite unilateral pada maksila. dan 3 mm. kemudian ukur jarak kedunya. Beberapa tipe parafungsi oral seperti grinding. Jarak yang didapatkan adalah 9 mm. dan perpetuasi. terlentang. 12 mm. Jarak antara puncak kondil dan tragus pada posisi kepala menunduk. clenching. dan psikologis. dan istirahat) Pada pemeriksaan pengaruh posisi kepala terhadap gerakan mandibula ini. keadaan yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi oklusi adalah: hilangnya gigi-gigi posterior openbite anterior. dan istirahat adalah 8 mm.3. overbite yang lebih dari 6-7 mm. selanjutnya dilakukan pemeriksaan serupa dengan posisi kepala yang berbeda-beda.8 Berdasarkan studi melalui Electromyography keadaan psikologis yang terganggu dapat meningkatkan aktivitas otot yang bersifat patologis. Penyakit sistemik yang sering menimbulkan gangguan sendi temporomandibula adalah rematik. dan 37 . kesamping. kesamping. struktural.5 Faktor-faktor etiologi disfungsi sendi dibagi menjadi 3 kelompok besar. menengadah.7 Faktor predisposisi merupakan faktor yang meningkatkan resiko terjadinya disfungsi sendi.4 Keadaan struktural yang mempengaruhi disfungsi sendi temporomandibula adalah oklusi dan anatomi sendi. yaitu predisposisi. beberapa penulis menyatakan sebagai berikut: Stress emosional merupakan penyebab utama disfungsi sendi temporomandibula.4. Faktor Inisiasi (Presipitasi): Faktor inisiasi merupakan faktor yang memicu terjadinya gejala gejala disfungsi sendi temporomandibula. Trauma pada dagu dapat menimbulkan traumatik artritis sendi temporomandibula. 13 mm.

3.5 Perawatan Gangguan Sendi Temporomandibula Perawatan untuk gangguan sendi temporomandibula adalah rumit yang disebabkan berbagai faktor.4 4. Fase II yaitu perawatan irreversible. pemeriksaan ekstra oral dan intra oral.1 Banyak tindakan yang dikemukakan dalam literatur. Gejala-gejala berhubungan dengan faktor psiko fisiologis sehingga perawatannya juga harus secara fisik dan psikologis dan menggunakan dulu metode reversible sebelum yang irreversible. dan ahli neurologi. antara lain terapi Fase I dan fase II. termasuk perawatan ortodontik. dan perawatannya harus multidisipliner antara dokter gigi (ahli prostodonsia. dan pembedahan. meliputi tingkah laku sosial. rontgen foto TMJ transkranial juga panoramik seluruh rahang. salah pengertian terhadap etiologi. kondisi emosional. karena seluruh fascia di dalam tubuh saling memiliki keterkaitan maka adanya kelainan pada salah satu organ tubuh mengakibatkan kelainan pada organ yang lainnya.10 Berbagai terminologi dalam melakukan perawatan gangguan sendi temporomandibula. ahli terapi fisik. pemakaian gigi tiruan cekat. Faktor Perpetuasi: Faktor ini merupakan faktor etiologi dalam gangguan sendi temporomandibula yang menyebabkan terhambatnya proses penyembuhan sehingga gangguan ini bersifat menetap. dan respon yang tidak spesifik. ahli farmasi. yang pada garis besarnya dapat disimpulkan sebagai berikut: Perawatan fase I terdiri dari: 38 .1. psikologik. keausan gigi-gigi. dan pengaruh lingkungan sekitar. nyeri wajah. dan perawatan dengan splin. dan ahli ortodonsia). ahli psikiatri. teramsuk perawatan yang reversible seperti perawatan dengan obat. posisi duduk atau berdiri/berjalan dengan kepala lebih ke depan (postur tubuh). seperti salah diagnosa. kemudian melakukan diagnosa banding. Kebiasaan menerima telepon dengan gagang telepon disimpan antara telinga dan bahu. Fase I yaitu perawatan simptomatik.kuku dapat menimbulkan kelelahan otot. ahli psikologi. penyesuaian oklusal. terapi fisik. dapat mengakibatkan kelainan fungsi fascia otot. Untuk menegakkan diagnosa maka diperlukan anamnesa yang teliti. ahli bedah mulut.

menerus sekurang-kurangnya 3 minggu. yaitu Naproxen dan Ibuprofen. sehingga pasien lebih percaya diri dan timbul kerjasama yang baik antara dokter dengan pasien.13 Infrared: berguna untuk menghilangkan nyeri. Permukaan yang berkontak dengan gigi lawan datar dan halus. Lokal Anastetik: Lidokain dan Mapivakain. Caranya: di atas lap diletakan botol berisi air panas. TENTS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation]. menaikan sirkulasi darah. Ultra Sound: menghilangkan oedema. mencegah perlekatan jaringan. Merelaksasi otot. menaikan aliran darah superfisial. Menstabilkan hubungan gigi dan sendi. untuk mengurangi nyeri.11'12 Latihan membuka-menutup mulut secara perlahan tanpa terjadi deviasi. relaksasi otot superfisial.14 Permukaan oklusal splin sesuai dengan gigi lawan. lalu pasien disuruh membuka-menutup mulut di depan cermin tanpa terjadi penyimpangan garis median. Setelah mendapat informasi dari dokter yang merawatnya diharapkan pasien dapat menghilangkan kebiasaan-kebiasaan seperti clenching atau parafungsi. Caranya: garis median pasien ditandai. sebelumnya dengan krim mengandung metil salisilat. mengurangi nyeri. Memakai alat di dalam mulut Splin oklusal atau Michigan splin. dilakukan di depan cermin. serta mengurangi spasme.16 Fungsi splin oklusal adalah sebagai berikut:1 Menghilangkan gangguan oklusi.15. dan relaksasi otot. Muscle Relaxants: Cyclobenzaprine (Flexeril). 39 . vasodilatasi pembuluh darah. memobilitasi jaringan ikat kolagen. Asetaminophen. EGS (Electro Galvanie Stimulation]'. Dijelaskan kepada pasien bahwa gejalagejalanya bukan disebabkan oleh kelainan struktur atau penyakit organik tetapi suatu kelainan yang reversible yang mungkin berhubungan dengan pola hidup pasien.Komunikasi dengan pasien.11 Pemijatan sekitar sendi. dengan maksud untuk menghindari hipermobilitas rahang bawah. Fisioterapi dengan alat. lama terapi 10-15 menit dilakukan terus. stimulasi saraf sensorik dan motorik. Perawatan sendiri/fisioterapi/terapi fisik: Pasien dapat melakukan sendiri kompres dengan lap panas. Antianxiety: Diazepam. Anti inflamasi: NSAID (Non SteroidAntiInflamasi Drugs). Perawatan dengan Obat Analgetik: Aspirin. Ibuprofen. Splin ini terpasang dengan cekat pada seluruh permukaan oklusal gigi gigi rahang atas atau rahang bawah.

Menghilangkan rasa nyeri akibat disfungsi sendi temporomandibula berikut otot-ototnya. adanya kliking sendi yang diindikasikan adanya inkoordinasi diskus-kondilus (interkoral derangement) maka diperlukan splin reposisi dengan maksud mereposisi rahang bawah ke posisi normal dan mengembalikan keseimbangan tonus otot-otot pengunyahan. Splin Stabilisasi. Sebagai alat diagnostik untuk memastikan bahwa oklusi lah yang menyebabkan rasa nyeri dan gejalagejala yang sulit diketahui sumbernya. Splin dipasang sesaat sebelum kliking resiprokal ketebalannya tidak boleh melewati Freeway Space. dan kliking waktu menutup mulut terjadi sebelum mencapai oklusi maksimal. dan fossa glenoidalis menjadi 9 bagian. adanya degeneratif sendi. keadaan nyeri sendi dan otot tanpa dapat didiagnosa dengan tepat. yaitu: 1. Splin ini dipakai 4-6 bulan dipakai setiap waktu kecualimakan.18 Splin reposisi bertujuan untuk menghilangkan gejala pergeseran diskus dengan reduksi kliking resiprokal. Hubungan antara diskus. juga pada keadaan dimana untuk mencapai keadaan treatment position pada kasus internal derangement menyebabkan nyeri. Ada 2 tipe splin oklusal. kliking waktu membuka mulut terjadi saat gerak translasi kondilus dimulai. dan ia menganjurkan mengembalikan kondilus ke posisi 4/7 dapat mengurangi dan menghilangkan berbagai keluhan dan gejala disfungsi sendi temporomandibula. Pembuatan splin dengan hubungan rahang atas dan rahang bawah pada posisi sentrik. Melindungi abrasi terhadap gigi.17 2. otot-otot pengunyahan 40 .11 Kriteria untuk pemakaian splin ini apabila masalahnya murni dari otot tapi sendi dalam keadaan normal. maka dibuat splin ini. dan dibuat pada rahang bawah.6 Bila gejala-gejala gangguan sendi temporomandibula sudah hilang pada pasien dan posisi kondilus sudah stabil pada tempatnya. splint Bila atau gejala MORA: yang Mandibular pasien OrthopaedicRepositioning diderita diantaranya ada deviasi (rahang yang menyimpang).Menghilangkan kebiasaan parafungsi. juga menghilangkan kliking. kondilus. Splin Reposisi (Repositioning Appliance}. Mengurangi beban sendi temporomandibula.

pencabutan. pembuatan gigi tiruan cekat. 41 . postur tubuh sudah normal maka dapat dilakukan perawatan fase kedua. yaitu perawatan ortodontik. pembuatan gigi tiruan lepasan (overlap. dan bedah tergantung dari kebutuhan pasien. kondisi psikologik pasien sudah stabil. penyesuaian oklusal.sudah normal.

dan fungsi dari komponen sendi temporo-mandibula. Pemberian infra red akan mengurangi kelelahan yang dirasakan karena sinar infra red akan menghasilkan panas yang menyebabkan pembuluh kapiler darah membesar (vasodilatasi). Bunyi pada sendi terjadi karena adanya perubahan letak.   Pemijatan menyebabkan energi meningkat dan otot dapat bekerja lebih lama. bentuk. sehingga menimbulkan rasa sakit.BAB V KESIMPULAN     TMJ adalah sendi yang kompleks. Adanya kelainan intrakapsular memungkinkan terjadinya hambatan dan rasa sakit ketika sendi temporo-mandibula bergerak.  Posisi kepala saat sedang beristirahat adalah saat dimana antara puncak kondil dan tragus memiliki jarak yang paling pendek. Membuka mulut maksimal dapat menimbulkan nyeri karena sendi temporo-mandibula mengalami dislokasi. 42 . yang dapat melakukan gerakan meluncur dan rotasi pada saat mandibula berfungsi.

Fisiologi Kedokteran Ed. 43 . 1983. 11. Jakarta: EGC. Guyton. Jakarta: EGC. 2007.BAB V DAFTAR PUSTAKA   Ganong WF. Fisiologi Kedokteran Ed. 10. Arthur C.