You are on page 1of 9

Etika Bisnis Etika dalam Bisnis Internasional

Disusun Oleh: Tommy Sudrajat S/ 3103011103 Yulius Liemantoro/ 3103011130 Anton Aris S / 3103011175

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Jurusan Manjement 2014

Bab 11 Etika dalam Bisnis Internasional
Pendahuluan Sejak dahulu kala bisnis – atau pada waktu itu masih terbatas pada “perdagangan” – menjadi sarana penting untuk mendekatkan negara-negara dan bahkan kebudayaan-kebudayaan yang berlain-lainan. Kalau dilihat dari perspektif sejarah, perdagangan merupakan faktor penting dalam pergaulan antara bangsa-bangsa. Bertentangan dengan ekspansi politik yang terusmenerus membawakan peperangan dan penderitaan bagi negara-negara bersangkutan, maka perdagangan justru sempat menyebarkan perdamaian dan persaudaraan. Sejarawan besar dari Skotlandia, William Robertson (1721-1793), menegaskan bahwa “perdagangan memperlunak dan memperhalus cara pergaulan manusia”. Hubungan perdagangan dengan pengertian “asing” rupanya masih membekas dalam bahasa Indonesia, karena salah satu arti “dagang” adalah “orang dari negeri asing”. Dengan saran transportasi dan komunikasi yang kita miliki sekarang, bisnis internasional bertambah penting lagi. Berulang kali dapat kita kita dengar bahwa kini kita hidup dalam era globalisasi ekonomi: kegiatan ekonomi mencakup seluruh dunia, sehingga hampir semua negara tercantum dalam “pasar” sebagaimana dimengerti sekarang dan merasakan akibat pasang surutnya pasar ekonomi. Gejala globalisasi ekonomi ini berakibat positif maupun negatif. Internasionalisasi bisnis yang semakin mencolok sekarang ini menampilkan juga aspek etis yang baru. Tidak mengherankan jika terutama tahun-tahun terakhir ini diberi perhatian khusus kepada aspek-aspek etis dalam bisnis internasional. Dalam bab ini kita akan membahas beberapa masalah moral yang khusus berkaitan dengan bisnis pada taraf internasional. Norma-norma moral yang umum pada taraf internasional Salah satu masalah besar yang sudah lama disoroti serta didiskusikan dalam etika filosofis adalah relatif tidaknya norma-norma moral. Kami berpendapat bahwa pandangan yang menganggap norma-norma moral relatif saja tidak bisa dipertahankan. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa norma-norma moral bersifat absolut atau tidak mutlak begitu saja. Jadi, pertanyaan yang tidak mudah itu harus bernuansa. Masalah teoritis yang serba kompleks ini kembali lagi pada

taraf praktis dalam etika bisnis internaasional. Richard De George memberikan tiga jawaban untuk pertanyaan tersebut. Jawaban tersebut adalah : 1. Menyesuaikan Diri bisnis harus menyesuaikan dengan norma – norma yang berlaku ditempat itu. Norma norma moral penting berlaku di seluruh dunia. Sedangkan norma non moral untuk perilaku manusia bisa berbeda di berbagai tempat. Penipuan di suatu tempat lebih banyak dipraktekan daripada di tempat lain contoh konkret adalah diskriminasi terhadap wanita khususnya di bidang penggajian .suatu perusahaan di negara A mempunyai usaha di negara B dimana terdapat kebiasaan untuk membayar gaji lebih rendah kepada wanita daripada priabagi prestasi kerja yang sama . di negara hal itu dilarang menurut hukum dari segi ekonomis bagi pimpinan perusahaan tersebut lebih menguntungkan mengikuti kebiasaan di negara B karena dapat membantu menekan biaya produksi wanita-wanita tersebut tidak akan protes karena hal ynag sama di praktekkan di seluruh negara 2. Rigorisme Moral Pandangan kedua memilih arah terbalik. Pandangan ini dapat disebut “rigorisme moral”, karena mau mempertahankan kemurnian etika yang sama seperti di negerinya sendiri. Mereka mengatakan bahwa perusahaan di luar negeri hanya boleh melakukan apa yang boleh dilakukan di negaranya sendiri dan justru tidak boleh menyesuaikan diri dengan norma etis yang berbeda di tempat lain. Mereka berpendapat bahwa apa yang dianggap baik di negerinya sendiri, tidak mungkin menjadi kurang baik di tempat lain. Kebenaran yang dapat ditemukan dalam pandangan regorisme moral ini adalah bahwa kita harus konsisten dalam perilaku moral kita. Norma-norma etis memang bersifat umum. Yang buruk di satu tempat tidak mungkin menjadi baik dan terpuji di tempat di tempat lain. Namun para penganut rigorisme moral kurang memperhatikan bahwa situasi yang berbeda turut mempengaruhi keputusan etis.
3. imoralisme naif

dalam bisnis internasional kita perlu berpegang teguh pada norma etika jika suatu perusahaan terlalu etika ia berada dalam posisi yang merugikan karena daya saingnya akan terganggu

sehingga perusahaan lain yang tak begitu scrupolis debgan etika maka akan menduduki posisi yang menguntungkan contoh : pemberian suap kepada pegawai pemerintah / karyawan perusahaan, hal ini sudah umum dilakukan bahkan kalo tidak dilakukan akan merugikan. Dalam etika jarang prinsip – prinsip moral bisa diterapkan dengan mutlak karena situasi konkret seringkali sangat kompleks. Kasus Bisnis dengan Afrika Selatan yang rasistis Tiga jawaban yang diberikan oleh George harus ditolak karena tidak mungkin bisa bertahan. Jawaban “imoralisme naif’ harus kita tolak begitu saja. Sedangkan untuk “menyesuaikan diri” kita harus menghrgai perhatian George untuk peranan institusi. Sedangkan untuk “rigorisme moral” dianggap Bertenz terlalu ekstrem dalam menolak pengaruh situasi, namun ada sedikit kebenaran yang tertuang, yaitu bahwa seharusnya kita tidak meninggalkan norma-norma moral di rumah apabila berangkat bisnis ke luar negeri. Dalam etika, prinsip moral hampir tidak bisa diterapkan secara mutlak, karena situasi konkret seringkali sangat kompleks. Seringkali yang dilakukan adalah dengan cara mencari jalan tengah dari beberapa solusi ekstrem. Salah satu contoh adalah bisnis internasional dengan Afrika Selaran sampai Negara itu meninggalkan politiknya yang rasistis. Disini kita mencari jalan tengah dari dua pilihan ekstrim “menyesuaikan diri “ dengan “rigorisme moral”. Afrika selatan mempunyai system politik yang didasarkan atas diskrimasi ras (apartheid) kulit hitam dengan kulit putih. Sistem politik ini didasarkan pada Undang-Undang Afrika Selatan sejak tahun 1948. Saat itu, banyak perusahaan yang menghadapi dilemma antara menhentikan hubungan bisnis dengan Afrika Selatan atau menyesuaikan diri dalam suatu keadaan yang tidak etis (diskriminasi ras). Dalam mencari jalan keluar dari masalah ini, banyak perusahaan Barat brpegang pada prinsipprinsip Sulivan, dimana perusahan-perusahaan tidak akan menerapkan undang-undang apartheid, karena dinijlai tidak adil, dan juga perusahaan akan berusaha agar undang-undang apartheid dihapus.

Masalah “Dumping” dalam Bisnis Internasional Dumping adalah menjual produk dalam kuantitas besar di suatu Negara lain dengan harga di bawah harga pasar dan kadang-kadang malah di bawah biaya produksi. Motif dibalik terjadinya transaksi dumping sangat banyak, antara lain adalah sebagai berikut :   Penjual mempunyai persediaan terlalu besar sehingga memutuskan untuk menjual produk yang bersangkutan di bawah harga saja Produsen berusaha merebut monopoli dengan membanting harga

Dumping dianggap tidak etis karena melanggar etika pasar bebas. Kelompok bisnis yang ingin terjun ke dalam bisnis internasional, dengan sendirinya melibatkan diri untuk menghormati keutuhan system pasar bebas. Dumping sangat sulit untuk ditentukan dalam bisnis internasinal karena banyak alas an. Yang dibutuhkan tidak hanya kesadaran etis saja, tetapi juga suatu pengertian jelas yang diterima secara internasional dan suatu prosedur objektif yang menerapkannya. Kita membutuhkan suatu instansi supranasional yang sanggup bertindak dan sekaligus diakui sebagai wasit yang objektif. Namun untuk saat ini, instansi seperti tersebut diatas masih sulit untuk dibentuk. Dalam rangka Organisasi Perdagangan Perdagangan Dunia (WHO) telah dibuat sebuah dokumen tentang dumping, tetapi hanya sebagai model untuk membuat peraturan hokum di Negara-negara anggotanya. Aspek-Aspek etis dari Korporasi Multinasional Korporasi multinasional adalah perusahaan yang mempunyai investasi langsung dalam dua Negara atau lebih. Karena memiliki kekuatan ekonomis yang sering kali sangat besar dank arena beroperasi di berbagai tempat yang berbeda dan sebab itu mempunyai mobilitas tinggi, korporasi multinasional menimbulkan masalah-masalah etis sendiri. Hal-hal yang dilakuakn oleh Negara berkembang untuk melindungi diri dari cengkeraman korporasi multinasional antara lain adalah :   tidak mengizinkan masuk korporasi multinasional yang bisa merusak atau melemahkan suatu industry dalam negeri. mengizinkan korporasi multinasinal membuka usaha di wilayahnya, jika dan hanya jika mayoritas saham (sekurang-kurangnya 51%) dimiliki oleh warga Negara setempat.

Selain itu, terdapat pula usaha internasional yang dibentuk untuk membuat kode etik bagi kegiatan korporasi-korporasi multinasional dunia ketiga seperti “Guidelines for Multinational Enterprises” dari OECD. Menurut George, ada sepuluh aturan etis yang terpenting bagi korporasi multinasional dalam hubungan bisnisnya dengan Negara berkembang. Aturan-aturan tersebut adalah : 1. Koorporasi multinasional tidak boleh dengan sengaja mengakibatkan kerugian langsung. Dengan sengaja mengakibatkan kerugian bagi orang lain selalu merupakan tindakan yang tidak etis. Norma pertama ini mengatakan bahwa suatu tindakan tidak etis, bila KMN dengan tahu dan mau mengakibatkan kerugian bagi negara biarpun tidak dengan sengaja atau langsung- menurut keadilan kompensatoris ia wajib memberi ganti rugi. 2. Koorporasi multinasional harus menghasilkan lebih banyak manfaat daripada kerugian bagi negara dimana mereka beroperasi. Hampir semua kegiatan manusia mempunyai akibat jelek,bisnis tidak tekecuali. Norma kedua menuntut secara menyeluruh akibat- akibat baik melebihi akibat- akibat jelek. Norma ini tidak membatasi diri pada segi negatif, tapi memerintahkan sesuatu yang positif da ditegasakan lagi bahwa yang positif harus melebihi yang negatif. 3. Dengan kegiatannya korporasi multinasional itu harus memberi kontribusi kepada pembangunan negara dimana dia beroperasi. KMN harus menghasilkan lebih banyak hal yang baik daripada hal yang jelek bagi Negara berkembang ini, tetapi KMN harus menyumbangkan juga pada pembangunan negara berkmbang. KMN harus bersedia melakukan alih teknologi dan alih keahlian. 4. Koorporasi multinasional harus menghormati HAM dari semua karyawannya. Norma ini perlu disebut secara eksplisit. Terutama tentang upah dan kondisi kerja, di banyak Negara berkembang HAM para pekerja dilrang dengan membayar upah dibawah upah minimum, mempekerjakan anak, atau mempraktekkan diskriminasi karena alasan agama, ras, gender, atau sebagainyaKMN harus memperhatikan tentang upah dan kondisi kerja di negara berkembang.

5. Sejauh

kebudayaan

setempat

tidak

melanggar

norma-norma

etis,

korporasi

multinasional harus menghormati kebudayaan lokal itu dan bekerja sama dengannya, bukan menantangnya. KMN akan merugikan negara dimana ia beroperasi, jika ia tidak menghormati kebudayaan setempat.KMN harus menyesuaikan diri dengan nilai- nilai budaya stempat dan tidak memaksakan nilai-nilainya sendiri. 6. Koorporasi multinasional harus membayar pajak yang “fair” Setiap perusahaan multinasional harus membayar pajak menurut tarif yang telah ditentukan dalam suatu negara. KMN akan mendukung dibuatnya dan dilaksanakannnya peraturan internasional untuk menentukan pembayaran pajak oleh perusahaan- perusahaan internasional. 7. Koorporsi multinasional harus bekerja sama dengan pemerintah setempat dalam mengembangkn dan menegakkan “backgroud institutions” yang tepat. Yang dimaksud “background institutions” adalah lembaga- lembaga yang mengatur serta memperkuat kegiatan ekonomi dan industri suatu negara. Lembaga- lembaga yang mengatur serta memperkuat kegiatan ekonomi dan industry di suatu Negara seperti dinas bea cukai, instansi pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja, serikat buruh, perlindungan hak asasi, peraturan pemerintah yang tepat, dan sebagainya. 8. Negara yang memiliki mayoritas sham sebuah perusahaan harus memikul tanggung jawab moral atas kegiatan dan kegagalan perusahaan tersebut. Sebuah KMN sering dimiliki orang-orang dari beberapa Negara, terutama Negara asal dan Negara dimana sebuah pabrik atau perusahaan berdiri. Kalau terjadi kecelakaan dalam sebuah perusahaan nasional, tidak akan timbul masalah tentang siapa yang harus bertanggung jawabNorma 8 ini mengatakan bahwa tanggung jawab moral harus dipikul oleh pemilik mayoritas saham. 9. Jika suatu korporasi multinasional membangun pabrik yang berisiko tinggi, ia wajib menjaga supaya pabrik itu aman dan dioperasikan dengan aman. Yang membangun pabrik- pabrik berisiko tinggi harus juga merundingka prosedur- prosedur keamanan bagi mereka yang menjalankan pabrik tersebut. KMN bertanggung jawab untuk

membangun pabrik yang aman dan melatih serta membina secara sebaik mungkin mereka yang akan mengoperasikan pabrik itu. 10. Dalam mengalihkan teknologi berisiko tinggi kepada negara berkembang,

korporasi multinasional wajib merancang kembali sebuah teknologi demikian rupa, sehingga dapat dipakai dengan aman dalam negara yang belum berpengalaman. Menurut norma ini prioritas harus diberikan kepada keamanan. Kalau mungkin, teknologi harus dirancang sesuai dengan kebudayaan dan kondisi stempat, sehingga terjamin keamanan optimal. Masalah korupsi pada taraf internasional Korupsi dalam bisnis tentu tidak hanya terjadi pada taraf internasional, namun perhatian yang diberikan kepada masalah korupsi dalam literatur etika bisnis terutama diarahkan kepada konteks internasional. Skandal Suap Lockheed dan usaha mencegah terjadinya kasus serupa Sekitar tahun 1970-an, produsen pesawat terbang Amerika Seikat “Lockheed”, terlibat dalam sejumlah kasus suap ketika mengusahakan pemasaran beberapa pesawatnya. Setelah ketahuan, semua kasus ini menimbulkan reaksi cukup hebat, baik di Negara tempat kejadian maupun di Amerika Serikat tempat produksi perusahaan Lockheed. Di Amerika Serikat, kasus suap Lockheed ini menjadi salah satu skandal bisnis paling menggemparkan yang dikenal dalam sejarah Amerika Serikat dan diperiksa oleh instansi kehakiman Amerika sampai detail-detail terkecilnya. Menurut sebuah laporan, antara tahun 1974 sampai 1976, sekurang-kurangnya 435 perusahaan di Amerika diketahui terlibat dalam pembayaran tidak regular kepada pejabat-pejabat atau partai politik di luar negeri. Dalam artian tertentu, Lockheed adalah kambing hitam dalam menentang suatu praktek yang tidak terbatas pada satu dua perusahaan saja. Untuk memberantas korupsi pada taraf internasional, perlulah peraturan yang disetujui secara internasional pula. Usaha-usaha PBB dalam rangka membuat peraturan anti-korupsi yang akan diterima oleh semua korporasi multinasional samapai saat ini selalu gagal.

Mengapa pemakaian uang suap bertentangan dengan etika? Ada beberapa alasan mengapa mengetahui pemakaian uang suap bertentangn dengan etika. Alasan pertama dan paling penting adalah bahwa praktek suap itu melanggar etika pasar. Denagan adanya praktek suap,daya – daya pasar dilumpuhkan dan para pesaing yang sedikit pun dapat mempengaruhi proses penjualan. Alasan kedua mengapa praktek itu tidak etis adalah bahwa orang yang tidak berhak, mendapat imbalan juga. Alasan ketiga, banyak kasus lain di mana uang suap diberikan dalam keadaan kelangkaan. Pembagian barang langka dengan menempuh praktek suap mengakibatkan bahwa barang itu diterima oleh orang yng tidak berhak menerimanya, sedangkan orang lain yang berhak tidak kebagian. Alasan keempat adalah bahwa praktek suap mengundang untuk melakukan perbuatan tidak etis dan ilegal lainnya. Baik perusahaan yang memberi uang suap maupun orang atau instansi yang menerimanya tidak bisa membukukkan uang suap itu seperti mestinya.