You are on page 1of 7

OD ULKUS KORNEA SUSPEK BAKTERI Laporan Kasus Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Suku Bangsa Agama

Pekerjaan : Tn. R : 29 Tahun : Laki-laki : Bugis : Islam : wiraswasta

Tanggal Pemeriksaan : 26 Juli 2013 No. Rekam Medik Pemeriksa : 620570 : dr. D

ANAMNESIS Keluhan utama: Nyeri pada mata kanan Anamnesis terpimpin : dialami sejak 1 bulan yang lalu akibat terkena serpihan besi (gurinda) sewaktu bekerja, nyeri memberat 2 minggu terakhir. Mata merah (+), air mata berlebih (+), sekret (+), penglihatan menurun (+), kelopak mata sulit dibuka, silau saat melihat cahaya (+), gatal (-).Riwayat keluar darah (-), riwayat keluar cairan seperti gel pada mata (-),Riwayat berobat ke dokter mata di RSUD Pangkep diberikan obat C.Repithel, C.LFX, Ketokonazol tab, Na diklofenak tab, Ciprofloxacin tab. Riwayat DM (-), riwayat HT (-). Riwayat alergi (-). TANDA VITAL Status Generalis TD Nadi Pernapasan Suhu : Sakit sedang/ Gizi baik/ Composmentis : 120/80 mmHg : 80x/menit : 20x/menit : 36,8 C

Foto Klinis

Pemeriksaan A. Inspeksi OD Palpebra Apparatus Lakrimalis Silia Konjungtiva Edema (+) Lakrimasi (+) Sekret (+), Mukopurulen Hiperemis Konjungtiva pericornea(+) Mekanisme muscular - ODS Normal ke segala arah : Normal ke segala arah: (+), (+), OS Edema (-) Lakrimasi (-) Sekret (-)

inj. Hiperemis (-) inj

Kornea

Keruh, ukuran

tampak 5x5

ulkus Jernih di

mm

sentral, flourescein (+) Bilik mata depan Iris Pupil Lensa Kesan dangkal Cokelat Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi normal Cokelat krypte (+) Bulat, sentral Jernih

B. Palpasi OD Tensi ocular Nyeri tekan Massa tumor Glandula pre-aurikuler Tn Tidak ada pembesaran OS Tn Tidak ada pembesaran

C. Tonometri Tidak dilakukan pemeriksaan

D. Visus VOD :1/300 +

+ + +

VOS : 6/6

E. Campus visual Tidak dilakukan pemeriksaan

F. Color sense Tidak dilakukan pemeriksaan

G. Light sense Tidak dilakukan pemeriksaan

H. Penyinaran optik `OD Konjungtiva Hiperemis Konjungtiva pericornea(+) (+), (+), OS inj. Hiperemis (-) inj

Kornea

Keruh, ukuran

tampak 5x5

ulkus Jernih di

mm

sentral, flourescein (+) BMD Iris Pupil Lensa Kesan dangkal Cokelat, kripte (+) Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi normal Cokelat, kripte (+) Bulat, sentral , RC (+) jernih

I. Diafanoskopi Tidak dilakukan pemeriksaan

J. Oftalmoskopi Tidak dilakukan pemeriksaan

K. Slit Lamp SLOD : konjungtiva hiperemis (+), injeksio konjungtiva (+), injeksio siliar(+), kornea keruh (+), tes Fluoresense (+), tampak ulkus dengan ukuran diameter 5x5mm, letak disentral, BMD kesan dangkal,iris coklat kripte (+), detail yang lain sulit di evaluasi oleh karena terhalang kekeruhan kornea. SLOS : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD normal, iris coklat kripte (+), pupil bulat, sentral, Refleks Cahaya (+) lensa jernih

L. Resume Laki-laki 25 tahun datang ke poliklinik RSWS dengan keluhan nyeri pada mata kanan dialami sejak 1 bulan yang lalu akibat terkena serpihan besi (gurinda) sewaktu bekerja, nyeri memberat 2 minggu terakhir. Mata merah (+), air mata berlebih (+), sekret (+), penglihatan menurun (+), kelopak mata sulit dibuka, silau saat melihat cahaya (+), gatal (-).Riwayat keluar darah (-), riwayat keluar cairan seperti gel pada mata (-),Riwayat berobat ke dokter mata di RSUD Pangkep diberikan obat C.Repithel, C.LFX, Ketokonazol tab, Na diklofenak tab,

Ciprofloxacin tab. Riwayat DM (-), riwayat HT (-). Riwayat alergi (-).

Pada pemeriksaan oftalmologi pada inspeksi tampak kelopak mata kanan edema, pada pemeriksaan visus VOD 1/300 dan VOS 6/6. Pada palpasi tidak ditemukan kelainan. Penyinaran oblik dan Slit lamp pada OD didapatkan pada konjungtiva tampak hiperemis, kornea: Keruh, tampak ulkus ukuran 5x5 mm di sentral, flourescein (+), BMD kesan normal, iris cokelat, kripte (+). Pada OS tidak ditemukan kelainan, kesan normal. . M. Prognosis Qua ad vitam Qua ad visam Qua ad sanam Qua ad cosmeticam : Dubia : Dubia : Dubia : Dubia

N. Penatalaksanaan : Oral : Meloxicam 7,5 mg B com C tab 2 x1 tab 3x1 tab

Topikal : Cravit ED 6x1 gtt OD 1 gtt/jam (selama 3 hari) selanjutnya 1 gtt/2 jam 2x1 gtt OD 6x1 gtt OD

C. Hyalub EDMD C.Atropin 1% ED SA 20% ED

VIII. DISKUSI Laki-laki 29 tahun datang ke poliklinik RSWS dengan keluhan nyeri pada mata kanan dialami sejak 1 bulan yang lalu akibat terkena serpihan besi (gurinda) sewaktu bekerja, nyeri memberat 2 minggu terakhir. Mata merah (+), air mata berlebih (+), sekret (+), penglihatan menurun (+), kelopak mata sulit dibuka, silau saat melihat cahaya (+), gatal (-).Riwayat keluar darah (-), riwayat keluar cairan seperti gel pada mata (-),Riwayat berobat ke dokter mata di RSUD Pangkep diberikan obat C.Repithel, C.LFX, Ketokonazol tab, Na diklofenak tab,

Ciprofloxacin tab. Riwayat DM (-), riwayat HT (-). Riwayat alergi (-)..


5

Pada pemeriksaan oftalmologi pada inspeksi tampak kelopak mata kanan edema, pada pemeriksaan visus VOD 1/300 dan VOS 6/6. Pada palpasi tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan slit lamp SLOD : konjungtiva hiperemis (+), injeksi konjungtiva(+), injeksio siliar (+), kornea keruh, tes fluoresense (+), tampak ulkus dengan ukuran diameter 5x5 mm disentral, BMD normal, iris coklat kripte (+), pupil dan lensa sulit dinilai karena kornea keruh. Pada pasien adanya keluhan nyeri dikarenakan pada kornea terdapat banyak serabut saraf nyeri sehingga setiap lesi pada kornea baik superficial maupun dalam akan memberikan rasa sakit, dan rasa sakit ini akan diperberat oleh adanya gesekan palpebra pada kornea. Fotofobia yang terjadi adalah akibat gangguan pembiasan cahaya pada retina tidak pada satu titik dikarenakan adanya kekeruhan pada kornea sebagai media refrakta, hal ini juga menyebabkan terjadinya penurunan visus pada pasien disebabkan oleh karena adanya defek pada kornea sehingga menghalangi refleksi cahaya yang masuk ke media refrakta, terutama jika letaknya disentral. Pada pasien ini terjadi lakrimasi karena yang mempersarafi sama dengan yang mempersarafi kornea yaitu N.Trigeminus cabang I sehingga apabila terjadi inflamasi dikornea maka berpengaruh pada apparatus lakirimalis. Injeksi perikorneal yang merupakan pelebaran pembuluh darah perikorneal atau a.siliaris anterior serta injeksi konjungtiva yang merupakan pelebaran a. konjungtiva posterior yang terjadi akbat adanya infeksi. Ulkus kornea terjadi akibat adanya reaksi radang pada epitel karena yang kemudian dapat masuk kelapisan bawahnya, bisa juga intoksikasi dari bakteri sehingga terjadi reaksi imun yang mengeluarkan sitokin. Edema pada kornea dikarenakan infiltrat sel radang pada lapisan kornea, khususnya pada lapisan epitel dan stroma. Ulkus kornea akan memberikan kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek pada lapisan stroma yang bila diberi pewarna flouresen akan berwarna hijau ditengahnya. Iris sukar terlihat karena akibat edema dan infiltrasi sel radang pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea bertujuan menghalangi hidupnya bakteri dengan antibotika. Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah : Topikal, diberikan : 1. Cravit ED 6 x 1 tts OD

2. C hyalub EDMD 6 x 1 tts OD Cravit merupakan antibiotik spektrum luas golongan fluoroquinolon karena penyebab pasti belum diketahui. Diberikan tiap 2 jam (loading dose) untuk mendapatkan efek maksimal dari obat. Hyalub merupakan pelumas yang mengandung vitamin A. Diberikan untuk mengurangi perforasi Oral yang diberikan: 1.ofloxacin 2x200mg, diberikan antibiotik spektrum luas golongan fluoroquinolon karena penyebab pasti dari ulkus kornea masih belum diketahui. 2.Renadinac berisi Na diklofenac yaitu untuk mengurangi reaksi radang. 3.Vitamin C diberikan untuk regenerasi epitel. Kultur, tes sensitivitas dan KOH merupakan anjuran pada penderita ulkus kornea dilakukan untuk menegakkan diagnosis mikroorganisme penyebab dari ulkus kornea yaitu bakteri, jamur, ataupun virus. serta untuk mengetahui resistensi obat-obat yang diberikan. Sehingga pengobatan yang diberikan tepat yang nantinya akan memberikan hasil yang baik untuk penyembuhan pasien. Namun pada pasien ini karena telah mendapatkan pengobatan sebelumnya maka pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas tidak dilakukan karena ditakutkannya hasil negatif palsu.