You are on page 1of 55

Materi Patologi Sistemik HEPAR Merupakan Kelenjar terbesar dalam tubuh yang mempunyai daya regenerasi yang besar

Vena porta & art. Hepati a!darah ampuran" # !sinusoid"HEPAR!$ sublobularis%$ lobularis" # $ena hepati a% $ena a$a audalis &arah portal berasal dari ' lambung ( intestin( lien( pankreas( omentum( mesenterium Hepar lobus sinister' darah portal berasal dari olon dan lien Hepar lobus de)ter' darah portal dari intestinum tenue !radang pada salah satu organ akan mempengaruhi masing* lobus hepar" +ungsi Hepar ,. Sekresi empedu% garam* empedu!tauro holat( gli o holat natrium"( pigmen* empedu!bilirubin( bili$erdin"( lemak( kholesterol( lesitin dan garam* mineral!kalsium karbonat dan kalsium -os-at" # kerusakan hepar akan menyebabkan urobilinogen tidak dapat diubah kembali menjadi bilirubin !hiperbilirubinemia.ikhterus *. Metabolisme /emak% mengubah lemak netral menjadi emulsi%hidrolisis%asam lemak&gliserol Kerusakan hepar!empedu tidak dihasilkan" menyebabkan lemak melalui usus dalam keadaan tidak di emulsi !-eses ber ampur lemak #steatorrhea" 0. Metabolisme asam amino% hepar menggunakan asam amino untuk membentuk protein plasma !albumin( globulin( -ibrinogen( protrombin( ester kholin" dan protein jaringan serta protein adangan !tidak ada depo protein dalam hepar" bila -ungsi hati terganggu akan terjadi perubahan kadar nitrogen pada plasma darah 1. Metabolisme karbohidrat 2. metabolisme besi% sel%sel R.E.S menghan urkan eritrosit tua dan menyimpan +e untuk digunakan pada pembentukan sel darah baru 3. &etokasi%gangguan -ungsi hepar dapat timbul gejala intoksikasi 4. Pembentukan sel darah merah%khususnya unggas 5. metabolisme dan penyimpanan $itamin%kelainan -ungsi hati akan menyababkan gangguan penyerapan $it K( $it larut lemak !A(&(E" dan $it 6 kompleks -ungsi hepar yang terganggu menyebabkan' hiperbilirubinemia disertai ikhterus( bilirubinuria( emasiasi( intoksikasi( hipoglikemi( gangguan pembekuan darah( anemia( edema Perubahan post mortem ,. Perubahan 7arna %persenya7aan H*S dengan +e%+eS *. Autolisis%mirip nekrosis tanpa in-iltrasi sel radang Hal 8 ,

0. Aplasia.hipoplasia 1. dislokasi hepar 2. ruptur hepar % bisa terjadi se ara spontan karena dipermudah dengan keadaan in-iltrasi lemak( amiloidosis( lim-adenosis( tumor( tubrkulosis 3. per-orasi hepar 4. pembendungan hati%dimulai dari $ena entralis 5. anemi% .parasit( gangguan keseimbangan jaringan( -ungsi lien terganggu 9. pigmentasi hati%pigmen endogen dan eksogen ikhterus a. ikhterus resorpsi.post hepati .ikhterus pembendungan.ikhterus mekanik%terhalangnya aliran empedu dari hepar ke intestin b. ikhterus retensi.intra hepati %kerusakan sel hati .perlemakan hati( toksin . ikhterus super-ungsi. pre hepati %terjadi karena super-ungsi sel* hati ikhterus hemolitik !super-ungsi sel RES"( ikhterus toksik( ikhterus septik !piroplasmosis( leptospirosis" ,:. hepatitis% Menurut tersebarnya radang' hepatitis di--usa !meluas". hepatitis sir ums ripta !setempat" Menurut tingkatannya' hepatitis a uta.hepatitis hroni a Menurut ausanya' hepatitis spesi-ik. hepatitis aspesi-ik a. hepatitis . bakteri %akut' leptospirosis( staphylo o us aureus( hepatitis ne roti ans % kronis' ;6<( a tinoba illosis b. hepatitis . $irus% psitta ossis( hepatitis ontagiosa anis( pes babi . hepatitis . proto=oa' enterohepatis( toksoplasmosis ,,. hirrosis hepatis Akibat hirrosis a. berkurang.hilangnya -ungsi hepar !digantikan ren dan intestin" b. produksi empedu terganggu . R.E.S hepar terganggu -ungsinya digantikan R. E. S lien d. kelainan peredaran darah menjadikan hydrops as ites dan penimbunan airan pada organ tubuh Hal 8 *

e. anemia ,*. ;umor hepar

Perubahan regresi- pada hepar ,. atro-i umum% gangguan gi=i( atro-i lokal% . tekanan oleh tumor( kista( ;6<( a tinomikosis( abses *. degenerasi% perlemakan patologik hati yang disebabkan oleh hipoksemi!hati tidak mampu membakar lemak" akibat dari gangguan peredaran darah( anemi( gangguan gi=i( ;6<( alkohol( -os-or( arsen dan to)in lain menyebabkan hati kekurangan oksigen untuk membakar lemak +aktor* lipotrop !kholin( metionin( kasein( albumin( daging sapi"% -aktor yg menghindarkan penimbunan lemak +aktor* a%lipotrop ! ystine( tiamin( biotin"% -aktor yang memper epat produksi lemak 0. distro-i toksik hati!hepatitis haemorhagi a et ne roti ans.atro-i kuning.belang" 1. nekrosa hepar ;oksopatik%karena agen yg bersi-at toksik ! epat tibul gejala klinis" ;ropo-atik.nekrosa massi-% karena kekurangan -aktor untuk kehidupan sel e)' oksigen a. nekrosa entrolobuler%kerusakan sel hanya pada sentrolobuler .strepto o osis( ankilostomiasis b. nekrosa perilobuler% kerusakan sel pada peri-er lobulus . endotoksin bakteri . nekrosa lokal% . hloro-orm( gangguan sirkulasi kronis( penularan $irus!hepatitis ontagiosa anis( strepto o us( de-isiensi gi=i d. nekrosa merata%de-isiensi gi=i ! ystein"( de- $it E !toko-erol"( gangguan sirkulasi( toksik !;>;( -os-or( arsen"

PA><REAS Kerusakan kelenjar parenkim% pengurangan produksi tripssin( steapsin( amilopsin yang penting untuk pen ernaan asam amino( lemak dan amilum%he7an menjadi kurus( -eses berlemak.berbuih ?ika berlanjut ke kerusakan pulau langerhans%hiperglikemi dan glikosuria !diabetes mellitus" Penyebab kerusakan parenkim ,. radang kronis%jaringan hepar diganti jaringan ikat Hal 8 0

*. atro-i pankreas salah letak pan reas !pan reas e topi " dapat ditemui di ba7ah serosa duodenum( dalam mesenterium( di ba7ah mukosa duodenum &@A6E;ES ME//@;AS !gamparan post mortem" ,. in-iltrasi lemak patologik pada hepar dan ren !hepar mengapung bila di tempatkan di air" *. he7an kurus 0. hepar dan ren membengkak( ber7arna kekuningan dan lunak 1. pan reas menge il Pankreatitis pada anjing sering terjadi dan terbagi menjadi 1 bagian' ,. radang akut disertai nekrosa *. sub akut.kronis!de-isiensi sekresi endokrin dan eksokrin" 0. radang pan reas disertai -ibrosis !de-isiensi sekresi eksokrin" 1. kolaps dan atro-i jaringan asini pan reas !de-isiensi ekskresi eksokrin"

/@E> +ungsi ,. menyimpan darah yang tidak ikut dalam peredaran darah *. pada he7an muda( membantu sutul memproduksi eritrosit 0. membantu sutul dan sel R.E.S hepar mendegradasi eritrosit tua 1. sebagai -ilter bakteri !adanya sel R.E.S." 2. ikut serta dalam metabolisme nitrogen 3. membentuk lim-osit terkait dengan aantobody Pada kasus piroplasmosis dan anthra) lien hiperakti- dan hipertro-i Susunan airan lim-e hampir sama dengan susunan iran plasma darah dengan kadar protein lebih rendah dengan kandungan hlor( urea( asam karbonat lebih tinggi PERA6AHHA> PBS; MBR;EM ,. Radang /ien a. splenitis a uta.hemorrhagi a% .aanthra)( 7hite s ourrs( anemi menular pd kuda b. splenitis hroni a .hyperplasti a% .salmonellosis( trypanosomiasis(

Hal 8 1

. splenitis suppurati$a% . emboli septik pd endo arditis d. splenitis ne roti ans% .penyumbatan a.lienalis oleh jaringan mati dari endo arditis( salmonellosis( ankilostomiasis( anthra) *. leu aemia /impa membesar dan memproduksi lim-osit(granulosit( monosit berlebih hormonal( bahan kimia( $irus !en=ooti bo$ine leu osis( leukosis unggas" 6erdasarkan lamanya' a. leukemia kronis !pada he7an tua" b. leukemia akut 6erdasarkanjumlah leukosit terhitung pada darah tepi' a. leukemik' jumlah leukosit C *) jumlah normal b. subleukemik' jumlah leukositD *) jumlah normalE sel patologik!granulosit( monosit( lim-osit( megakariosit" . aleukemik' jumlah leukositD *) jumlah normal 6erdasarkan jenis sel yang berproli-erasi a. leukemia lim-oblastik.li-ositik ' banyak dijumpai pada he7an( hampir semua kelenjar lim-e membengkak perubahan juga terjadi di bagian mata b. leukemia granulositik.myeloblastik ' tidak semua kelenjar lim-e membengkak 0. amiloidosis%terlihat 7arna keputihan pada bidang sayatan . ;6<( mastitis 1. ruptur lien%traumatis 2. tumor limpa PEM6A/AH /@M+E &A> KE/E>?AR /@M+E PERA6AHA> PBS; MBR;EM ,./im-angitis !radang pembuluh lim-e" Aspesi-ik' e)' pneumoni%terlihat trombosis dan gumpalan* sel radang dalam pembuluh lim-e Spesi-ik' ;6<( pada ;6<( malleus( a tinomikosis( lym-angitis epi=ooti a!sa haromy osis" . radiasi(

*.Perubahan 7arna kelenjar lim-e a. Hemosiderosis%7arna oklat. ooklat merah . distomatosis b. antrakosis% 7arnahijau% hitam . debu yang tertimbun dalm sel R.E.S Hal 8 2

. 7arna merah% adanya kandungan eritrosit pd kelenjar . pendarahan e)F sampar babi d. 7arna keputih%putihan% .resorbsi lemak susu pada pun ak laktasi

0. /im-adenitis !radang elenjar lim-e" %terjadi pada penyakit septik dan akut !anthra)( pasteurellosis" e-ek terlihat sistemik a. lim-adenitis berserum' ditemukan pada stadium a7al penyakit akut dan septikemik b. lim-adenitis berdarah' ditemukan pada septikemik akut e)' anthra)(septikemik hemoragik( pes babi( erisipelas babi . lim-adenitis bernanah' ditemukan pada in-eksi oleh bakteri pyogen !ingus tenang"(arthritis( mastitis suppurati$a d. lim-adenitis kronis' ditemukan pada penyakit menular kronis( orak radang bersi-at lim-adenitis suppurati$a( lim-adenitis granulomatosa atau keduanya e)F radang kelenjar mesentrial( para ;6<( ;6<( bru ellosis( histoplasmosis 1. tumor ' /im-o%sarkoma( leukosis

PATOLOGI NEKROPSI PADA HEWAN

Pendahuluan
Hal 8 3

Nekropsi, disebut juga pemeriksaan post mortem, adalah pemeriksaan yang dilakukan setelah hewan mati. Hal ini dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, meliputi pemeriksaan hewan secara keseluruhan dan juga pemeriksaan setiap organ di dalam tubuh hewan. Pemeriksaan secara lebih teliti dan pengambilan sampel organ dapat membantu menentukan penyebab kematian, apakah disebabkan oleh penyakit atau oleh trauma. Pada beberapa kasus, penyebab kematian pada hewan sudah diketahui, misalnya, terdapat tanda-tanda adanya trauma yang berat. Pada kasus yang lain gejala klinis penyakit merupakan indikasi apa yang terjadi pada hewan tersebut. Seringkali, kejadian penyakit tidak diketahui dan gejala yang timbul bisa disebabkan oleh beberapa macam penyakit yang berbeda. Dalam hal ini, diperlukan pemeriksaan lebih mendalam.

Tujuan dilakukan Nekropsi adalah Identi ikasi penyakit Indikasi tindakan pengobatan untuk penyakit dalam kawanan !engurangi kerugian di masa depan !eningkatkan pengetahuan dampak penyakit pada hewan !enambah diskusi dalam peningkatan program kesehatan dengan para spesialis "program #aksin, pengobatan, managemen pemeliharaan, dll$

Kapan Dilakukan Nekropsi Perubahan jaringan terjadi segera setelah %& menit hewan mati. 'arena perubahan ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan, maka sebaiknya pengambilan sampel jaringan dilakukan segera setelah hewan mati untuk mendapatkan hasil diagnosa yang lebih akurat. Hal ini lebih penting lagi dilakukan pada daerah dengan suhu lingkungan panas, atau hewan mengalami demam, atau apabila gejala penyakit mengarah pada gangguan saluran pencernaan. Pada keadaan tersebut, hewan harus segera diperiksa den sampel jaringan harus diambil dengan benar dan disimpan dalam pendingin sampai diperiksa oleh dokter hewan yang berwenang. Nekropsi memerlukan in ormasi yang menyeluruh tentang hewan yang diperiksa. Hal ini dapat membantu untuk menentukan gambaran menyeluruh penyebab kematian. (atat in ormasi hewan) umur, jenis kelamin, siklus produksi, breed, tanda khusus (atat gejala klinis sebelum kematian, sejarah trauma atau penyakit, dsb
Hal 8 4

*pabila hewan masih hidup, lakukan pemeriksaan dengan memperhatikan keamanan bagi operator, atau terhadap hewan lainnya akan bahaya penyakit menular (atat dimana hewan ditemukan mati *pakah ada tanda-tanda hewan mati ditempat atau hewan meronta-ronta *danya darah dari lubang-lubang tubuh "hidung, rectum, #ul#a, dsb.$ (atat apabila ada hewan lain yang mengalami gejala sama, umur, lokasi Pastikan untuk menggunakan disin ektan yang sesuai +akukan analisa pakan apabila ada dugaan masalah nutrisi *mbil gambar untuk nantinya bisa dilakukan cek ulang atau dikonsultasikan dengan dokter hewan ahli Perhatikan cara memusnahkan karkas yang aman.

Tindakan Post ne!rops" a. Dekontaminasi alat sebelum dicuci dan dibersihkan. b. ,ersihakan dan disin eksi semua permukaan tempat nekropsi c. Dekontaminasi operator "e.g., disin eksi, lepas sarung tangan, apron, jas lab$. d. (atat hasil pemeriksaan nekropsi.

Te#pat Nekropsi *da beberapa syarat yang diperlukan untuk memilih tempat nekropsi. +okasi nekropsi harus mempunyai cahaya yang cukup, sumber air, #entilasi, drainase, tempat pembuangan kada er, dan lokasi yang sekiranya tidak menyebabkan bahaya kontaminasi lingkungan sekitarnya. Hewan yang mati karena dicurigai mati karena penyakit menular atau -oonosis sebaiknya diperiksa di laboratorium. Pada umumnya, diagnosa klinis dapat membantu menentukan lokasi untuk nekropsi. (ontohnya, diagnosa klinis untuk kasus anthra. tidak diberbolehkan dilakukan nekropsi sama sekali karena potensi kontaminasi yang tinggi. *pabila dilakukan di lapangan, tempat untuk nekropsi harus jauh dari sumber pakan, hijauan dan air minum. Hindari tempat yang berdekatan dengan kawanan hewan. /empat nekropsi harus bebas dari bahaya serangga, predator dan #ector biologis. Pe#$uan%an Karkas
Hal 8 5

Pemusnahan cada#er dengan cara insinerasi adalah cara yang terbaik setelah proses nekropsi selesai dilaksanakan. *kan tetapi karena alasan kepraktisan, prosedur ini tidak cocok untuk hewan besar. Pembuangan dengan cara mengubur karkas di dalam tanah, bisa dilakukan untuk hewan kecil maupun hewan besar. 0ang harus diperhatikan adalah lubang yang dibuat harus cukup dalam sehingga hewan liar dan predator lainnya tidak akan mendapatkan akses ke cada#er yang dikubur. Dan juga harus diperhatikan akan bau yang mungkin timbul ke lingkungan apabila lubang yang dibuat tidak cukup dalam dan lebar sehingga menutup keseluruhan karkas. +okasi pembuangan karkas harus jauh dari sumber air tanah dan pakan. Semua bangkai hewan harus dianggap sebagai sumber kontaminasi, sehingga harus dibuang secara benar.

&ERITA A'ARA NEKROPSI Nama Hewan 1enis Hewan23mur 1enis 'elamin Nama pemilik *lamat 2 /lp *N*!N4S* ) ) ) ) ) )

Prosedur euthanasia ) 0a 2 /idak H*SI+ P4!46I'S**N )

keterangan) 555555555555555555555

Hal 8 9

7. SIS/4! DI84S/I a. 9roparhyngeal ) b. 9eso agus c. +ambung d. Duodenum e. 1ejenum ) . Ileum ) g. (olon ) ) ) )

h. (aecum ) i. 6ectum ) j. 'loaka )

%. SIS/4! SI6'3+*SI a. 1antung )

b. Pembuluh darah ) :. SIS/4! 64SPI6*SI a. (honca nasalis ) b. +aryn. c. /rachea d. Pulmo ) ) )

;. SIS/4! 64P69D3'SI a. +abia, #agina ) b. (er#i., uterus ) c. Penis d. /estis ) )

e. 'elenjar asesoris ) <. SIS/4! 36IN*6I* a. 8injal )


Hal 8 ,:

b. =esica urinaria ) c. 3rethra )

>. SIS/4! !3S'3+9S'4+4/*+ a. !usculus b. /ulang ?. +*IN-+*IN a. !ata b. /elinga ) ) ) )

c. ...................... ) DI*8N9S* )

DI*8N9S* ,*NDIN8 )

!alang, drh Penanggung 1awab

"

Hal 8 ,,

PENGA(&ILAN SA(PEL DAN SPESI(EN )NT)K PE(ERIKSAAN LA&ORATORIS

Nekropsi merupakan awal untuk prosedur diagnosa laboratoris lainnya, dan spesimen untuk pemeriksaan laboratoris lanjutan harus secara rutin diambil selama proses nekropsi berjalan. Diusahakan mengambil cukup sampel selama pemeriksaan nekropsi Spesimen yang diambil diberi label yang sesuai untuk identi ikasi In ormasi yang diperlukan untuk identi ikasi spesimen antara lain) 7$ Identi ikasi spesies %$ Detail sejarah atau gejala klinis :$ Hasil nekropsi yang rele#an ;$ 'eadaan pada saat sampel dikoleksi, dan prosedur koleksi serta cara pengawetan sampel. <$ @ormat atau jenis pemeriksaan yang diinginkan. *dalah merupakan tanggung jawab pihak pemeriksa untuk melaporkan kepada pihak berwenang apabila spesipen yang diambil diduga berasal dari hewan dengan penyakit menular, -oonosis atau penyakit eksotik. 3ntuk hal ini, pada label spesimen dicantumkan peringatan untuk biohazard.

Sa#pel untuk pe#eriksaan Histopatolo%i @iksasi sampel untuk pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan bu er ormalin netral 7&A. Potongan organ atau jaringan harus diambil sesegera mungkin, dan tidak boleh lebih tebal dari &.< cm. *mbil jaringan dengan menggunakan pisau tajam atau silet, usahakan agar potongan jaringan tidak hancur atau menjadi kering. 1aringan yang hancur atau kering dapat menyebabkan distorsi pada mor ologi sel dan jaringan. Sebaiknya, potongan jaringan dipilih pada bagian yang mewakili jaringan normal dan abnormal dari suatu organ. +akukan iksasi jaringan segera dalam larutan 7&A ormalin dengan perbandingan 7)7&. (uci spesimen dengan larutan garam isiologis sebelum di iksasi dengan ormalin apabila spesimen mengandung banyak kotoran @iksasi spesimen otak dengan memompakan larutan ormalin melalui arteri carotid sampai cairan yang keluar dari #ena jugularis dan arteri carotid pada sisi lainnya tidak lagi
Hal 8 ,*

mengandung darah. (ara alternati adalah dengan merendam seluruh otak dalam #olume besar larutan ormalin. ,iarkan mengeras selama %; jam, lalu kemudian buat irisan jaringan yang diperlukan. Potongan dari saluran gastrointestinal harus segera dilakukan setelah proses membuka cada#er untuk meminimalkan perubahan post mortem. Potong saluran gastrointestinal sebelum dimasukkan ke dalam larutan iksasi untuk memastikan pengawetan secara benar dan untuk memperluas permukaan penyerapan larutan iksasi. Sa#pel untuk pe#eriksaan #ikro$iolo%i Pengambilan sampel yang bertujuan untuk pemeriksaan mikrobiologi dilakukan secara aseptis. Sebaiknya permukaan jaringan atau organ dipanaskan terlebih dahulu dengan menempelkan spatula panas, kemudian buat irisan dan ambil sampel yang diperlukan dari bagian dalam organ, abses atau massa koagulasi dalam jaringan. Dari tempat irisan ini, bisa diambil sampel dengan swab steril, runtuhan jaringan atau cairan. *mbil swab dan cairan ke dalam transport media, terutama untuk mikro organism yang sulit diisolasi. Pemilihan media transport tergantung pada sangkaan mikroorganisme yang terdapat pada spesimen. Pengambilan sampel mikrobiologi, apakan dari permukaan atau dari dalam rongga tubuh, sebaiknya dilakukan segera sebelum dilakukan proses nekropsi keseluruhan.3ntuk organ berongga seperti saluran gastrointestinal cara terbaik adalah dengan diikat pada ujung-ujungnya dan letakkan pada petridish steril.

Sa#pel untuk pe#eriksaan Toksikolo%i !aterial untuk pemeriksaan toksikologi harus bebas dari kontaminasi bahan kimia selama proses nekropsi. ,ahan kimia yang mungkin mencemari spesimen antara lain bahan iksasi, detergen, disin ektan. !eskipun untuk bahan toksik berbeda memerlukan analisa yag berbeda, beberapa sampel yang harus diambil antara lain) 7$ Bhole blood dan sera %$ Potongan jaringan "sekitar 7&& grams$ dari hepar dan ren :$ 3rine ;$ Isi lambung dan usus Hubungi laboratorium toksikologi tempat sampel akan dikirim untuk memastikan spesimen yang diambil sudah benar dan jumlah yang diambil cukup untuk keperluan pemeriksaan.

Pen%a#$ilan sa#pel Parasitolo%i

Hal 8 ,0

,iasanya, sampel ektoparasit dan endoparasit diambil untuk identi ikasi. Sampel ektoparasit diambil sebelum cada#er dibuka untuk proses nekropsi. (aplak, kutu dan pinjal harus diambil hati-hati dari rambut atau bulu dan di iksasi menggunakan ormalin. 3ntuk memudahkan pengambilan, basahi bulu atau rambut hewan dengan larutan detergen. Pada pengambilan caplak, hindari kerusakan bagian mulut caplak dengan cara mengusap bagian tubuh caplak dengan ether, cara ini akan membunuh caplak sehingga mudah diambil. +akukan iksasi spesimen dengan ethyl alcohol ?&A atau ormalin 7&A. In ormasi tentang tingkat in estasi parasit harus disertakan bersama sampel yang dikirim. 3ntuk in estasi kutu kurap "mange mites$, pengambilan sampel dengan cara melakukan kerokan kulit dan letakkan pada gelas objek dan teteskan mineral oil. (acing gelang yang diambil dari saluran intestinal dapat di iksasi menggunakan ormalin segera setelah koleksi sampel. 3ntuk mencegah spesimen melingkar saat iksasi, teteskan larutan menthol atau air hangat pada spesimen. (acing pita diambil sampel segmen yang meliputi segmen muda dan dewasa, dengan scole. masih utuh. 1angan angkat cacing pita dari prlrkatannya karena dapat merusak scole.. Scole. cacing pita sangat penting untuk proses identi ikasi. 4ksisi bagian dimana scolek melekat dan iksasi dengan ormalin. 3ntuk (estoda, tekan spesimen diantara % gelas objek dan ikat dengan karet gelang atau kawat clip sebelum dimasukkan ke dalam cairan iksasi. 3ntuk penghitungan jumlah cacing pada ruminansia, ikat abomasums pada kedua ujungnya dan ambil semua isi abomasum. Pada unggas, lakukan kerokan pada mukosa usus dan periksa preparat ulas basah untuk mengetahui adanya in estasi koksidia.

Pen%a#$ilan Sa#pel Sitolo%i Sampel ulas "smears$ dari jaringan tumor biasanya dilakukan untuk pemeriksaan sitologis. Preparat ulas diambil dari irisan tumor, biarkan kering segera untuk mengawetkan struktur selnya, iksasi bisa dilakukan dengan api ,unsen, atau dengan merendamnya dalam larutan methanol. ,eberapa ahli menyarankan penggunaan hair spray, karena kandungan alcohol di dalamnya cukup untuk iksasi sel pada preparat ulas. Preparat ulas darah bisa dilakukan dengan meneteskan pada gelas objek. Sentri ugasi Sampel darah untuk memperoleh keeping darah dan lakukan iksasi dengan ormalin atau methanol pada preparat ulas. Sebagai alternati , bisa digunakan gelatin atau albumin untuk mengentalkan keping darah kamudian iksasi campuran dengan ormalin. Preparasi sampel

Hal 8 ,1

ini kemudian bisa diproses dengan teknik para in embedding seperti pada pemrosesan preparat jaringan. Pen%a#$ilan sa#pel !airan dan darah Sampel darah harus segera diambil pada hewan yang sudah moribound. Pada beberapa kasus, sampel darah masih bisa diambil pada hewan yang sudah mati selama :-; jam. Hal ini dapat dilakukan dengan mengambil darah dari jantung pada saat nekropsi dengan seksi pada dinding jantung. Penambahan antikoagulan "mis. 4D/*$ harus dipertimbangkan apabila yang dibutuhkan adalah plasma. 1ika serum yang dibutuhkan, sebaiknya sampel darah dikoleksi ke dalam tabung gelas yang akan mempercepat proses koagulasi. Syarat umum pada pengambilan sampel cairan tubuh adalah sampel harus bebas dari kontaminasi. Sampel cairan tubuh harus diambil pada saat proses pemeriksaan berjalan apabila diantisipasi diperlukan pemeriksaan lanjut. (airan ascites harus diperhatikan jumlah yang diambil, warna dan kekentalannya. Pengambilan sampel urin dilakukan dengan aspirasi dari kandung kemih. (airan cerebrospinal dapat dilakukan sebelum proses membuka otak. Sampel diambil dengan aspirasi dengan bantuan syringe dan jarum pada cisterna magna

!embuat preparat apus darah

Hal 8 ,2

TEKNIK NEKROPSI PADA )NGGAS


Hal 8 ,3

Nekropsi disebut juga seksi, otopsi, abduksi atau bedah bangkai adalah suatu tindakan untuk melakukan pemeriksaan yang cepat dan rinci secara patologik anatomic untuk menentukan sebab-sebab suatu penyakit atau sebab-sebab kematian seekor2sekelompok unggas sehingga dapat dilakukan tindakan penanggulangan. 1adi, nekropsi bertujuan untuk menentukan diagnosis, kemudian melakukan tindakan penanggulangan meliputi pencegahan, pengobatan dan menghilangkan sumber2 actor pendukung terjadinya penyakit. Pemeriksaan patologi didukung oleh pemeriksaan mikrobiologi "bakteriologi, #irology, mikologi$, parasitologi, toksikologi, patologi klinik, analisis pakan dan pemeriksaan air minum. Te#pat Nekropsi 1ika tidak dilakukan di laboratorium, makan harus dipilih tempat yang memenuhi syaratsyarat sebagai berikut) !udah dibersihkan dan disanitasi2didesin eksi Dekat dengan tempat bangkai dan akan dikubur2dimusnahkan. 1auh dari kandang, gudang pakan dan gudang obat dan sumur2sumber air minum

'ara #e#$unuh )n%%as Pada umumnya euthanasia banyak dilakukan pada hewan kesayangan, dan mempunyai tujuan antara lain) !embantu dalam diagnosa penyakit !encegah meluasnya suatu penyakit pada hewan ataupun manusia

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membunuh hewan adalah 6asa sakit yang seminimal mungkin Hindari terjadinya perdarahan yang berlebihan Hindari terjadinya luka yang berlebihan pada tubuh hewan

(ara membunuh unggas adalah sebagai berikut) !ematahkan leher pada persendian atlanto-occipitalis "antara tulang atlas dan tulang cer#icalis I$ 4mboli udara ke dalam jantung menggunakan alat suntik melalui rongga dada 8as (9%
Hal 8 ,4

Persiapan Operator 9leh karena bangkai unggas dan jaringannya dapat menularkan penyakit tertentu pada manusia, maka operator harus selalu mengenakan sarung tangan, jas laboratorium dan sepatu khusus. Hal ini juga berlaku untuk bangkai yang diduga tidak mengandung penyakit menulat oleh karena sering ditemukan adanya organism tertentu dalam jaringan yang dapat masuk melalui kulit dan menyebabkan in eksi lokal. In*or#asi "an% diperlukan pada +aktu #elakukan nekropsi pada un%%as 1ika dimungkinkan sebaiknya mengambil <-> ekor ayam sakit dan sejumlah ayam mati untuk kepentingan diagnosis. 6iwayat kasus yang perlu dicatat2diketahui meliputi) Nama dan alamat pemilik /ipe operasi "komersial2breeder$ /ipe ayam yang dipelihara "layer2broiler$ 'eterangan tentang lok) o Strain ayam o 1umlah ayam dalam lok atau kandang o 3mur ayam o Sumber ayam "nama breeding arm, nama pemelihara pullet$ o !orbiditas dan mortalitas o Baktu timbulnya gejala klinik dari awal o +ama proses penyakit o Saat kematian awal dan proses perkembangan angka kematian o 8ejala klinik yang teramati o Pernapasan, pencernaan, syara , gangguan alat gerak o Penyakit yang pernah diderita oleh ayam dalam lok /ipe kandang "lantai semen, lantai tanah, panggung, battery kawat, battery bamboo, battery kayu$ 1enis litter "sekam, serbuk gergaji, serutan kayu$ 1enis unggas2hewan lain yang dipelihara dalam areal peternakan

Hal 8 ,5

Produksi telur "status produksi, persentase penurunan, kualitas telur$ 6iwayat #aksinasi 6iwayat pengobatan Sumber pakan "komersial atau campur sendiri, sumber bahan baku, kualitas bahan bakar, keadaan gudang pakan, penggunaan eed additi#e, antibiotic, premi.$ Sumber air minum /ingkat konsumsi pakan dan air minum +etak geogra is peternakan meliputi, temperature dan kelembaban "kandang, lingkungan$ 'ondisi manajemen "perubahan pakan, adanya kelompok ayam baru dalam lok, adanya ayam yang dipindah ke lokasi lain, perubahan sumber air, perubahan pengelolaan peternakan secara keseluruhan$

'ARA PE(ERIKSAAN ,ARINGAN PADA WAKT) NEKROPSI Perlu diperhatikan ukuran, warna, konsistensi, bidang irisan dan pemeriksaan khusus untuk organ tertentu, misalnya uji apung untuk pulmo. 1ika terdapat eksudat2transudat harus dicantumkan keterangan tentang #olume, warna, si at dan bau (acing dan parasit lainnya harus dicantumkan keterangan tentang jumlah, ukuran, warna dan lokasi 3ntuk tumor, abses, cyst harus dicantumkan keterangan tentang ukuran, warna, sigat, konsistensi dan lokasi Pengambilan contoh jaringan untuk pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan dengan memotong jaringan yang dicurigai mengalami perubahan dengan ukuran %.7.&,< cm kemudian dimasukkan ke dalam container yang mengandung larutan ormalin 7&A "jika mungkin diberi bu er agar pHC?$. =olume ormalin sebaiknya 7& . #olume jaringan. 1aringan yang mempunyai rongga "usus, trachea, o#iduct$ dapat dipotong dengan ukuran sekitar : cm pada bagian yang mengalami perubahan lalu dimasukkan ke dalam ormalin. (ontainer tersebut hendaklah diberi nomor protocol dan tanggal pengambilan spesimen.

Pe#eriksaan usus dan la#$un%

Hal 8 ,9

Periksalah esophagus, pro#entriculus, #entriculus dan intestinum terhadap keadaan serosa, mukosa penggantung, pembuluh darah dan isi lumen Pe#eriksaan lien dan hepar ,uatlah irisan selebar &,<-7 cm dan amatilah kemungkinan-kemungkinan abnormalitasnya. Perhatikanlah ukuran, warna, konsistensi dan bidang irisan jaringanjaringan tersebut Pe#eriksaan saluran pernapasan Periksalah nares, ca#um nasi, dan sinus terhadap kemungkinan adanya cairan. Periksa juga kantong udara terhadap adanya kekruhan, penebalan atau timbulnya cairan pada permukaannya 9esophagus, pharyn., laryn. dan trachea dibuka sampai ke percabangan bronchus yang masuk ke dalam pulmoD supaya diteliti glandula thyroidea dan parathyroidea yang terletak di percabangan trachea. Periksalah ukuran, warna, konsistensi, bidang irisan dan uji apung pulmo. Irislah pulmo menjadi bagian-bagian kecil selebar &,< E 7 cm dan periksalah kemungkinan adanya abnormalitas tertentu. Pe#eriksaan ,antun% Perhatikan keadaan umum jantung, kemudian guntinglah pericard dengan memegang bagian ape. cordis. 1ika terdapat hydropericard catatlah jumlah, si at, dan warnanya. Pemeriksaan jantung dapat dilakukan secara sederhana dengan cara memotong secara longitudinal melalui atrium dan #entrikel kiri dan kanan. 1antung juga dipotong secara melintang di daerah #entrikel. Periksa ketabalan dinding atrium dan #entrikel, serta keadaan pembuluh darah jantung. Pe#eriksaan Ginjal Periksalah terhadap ukuran, warna, konsistensi dan bidang irisan. *mati juga keadaan ureter Pe#eriksaan saluran reproduksi Perhatikanlah keadaan serosa, mucosa, pembuluh darah, penggantung dan lumen dari o#iduct. *mati juga keadaan o#arium dan olikelnya. Pe#eriksaan Otak Periksalah warna dan pembuluh darah otak dan meninges. Semua bagian otak dimasukkan ke dalam ormalin 7&A dan setelah %; jam baru diperiksa sekali lagi terhadap kemungkinan adanya abnormalitas tertentu. Hal ini dijalankan oleh karena jaringan otak sangat rapuh sehingga mudah hancur.
Hal 8 *:

PROSED)R NEKROPSI Pelajari diagnosa secara klinis "sejarah, pengamatan pemilik$ dan pertimbangkan diagnosaasangkaan yang paling sesuai 1ika unggas dalam keadaan hidup, periksalah tubuh bagian luar dan amati gejala klinis tertentu. Periksa secara seksama kemungkinan adanya parasit eksternal pada bulu dan kulit. *matilah warna pial, bauing dan cuping telinga. Perhatikan juga terhadap kemungkinan adanya kebengkakan dan perubahan warna daerah asial. 1ika unggas masih hidup, maka hewan tersebut dapat dibunuh dengan salah satu dari beberapa cara euthanasia yang sesuai. ,angkai hendaknya dibasahi dengan air yang dicampur detrgen untuk menghindari agar bulu tidak beterbangan dan menyebabkan pencemaran ke lingkungan sekitar. ,angkai dibaringkan pada bagian dorsal dan buatlah suatu irisan pada kulit di bagian medial paha dan abdomen pada kedua sisi tubuh. /arik paha ke bagian lateral dan teruskan irisan dengan pisau sampai persendian co.o emoralis terlepas dari caput emoralis. Irislah kulit pada bagian medial dari kaki2paha dan periksalah otot persendian pada daerah tersebut. ,uatlah irisan melintang pada kulit di daerah abdomen, lalu kulit ditarik ke bagian anterior dan irisan tersebut diteruskan ke daerah thora. sampai mandibula. Irisan pada kulit diteruskan juga ke daerah abdomen. Perhatikan warna, kualitas dan derajat dehidrasi dari jaringan subcutaneous dan otototot dada. ,uatlah irisan pada otot di daerah brachialis "kiri dan kanan$ untuk memeriksa ner#us dan ple.us brachialis ,uatlah irisan melintang pada dinding peritoneum, di daerah ujung sternum "processus .iphoideus$ kea rah lateral. ,uat juga suatu irisan longitudinal ke daerah abdomen melalui linea mediana ke arah posterior sampai daerah cloaca. (ara ini akan membuka ca#um abdominalis. ,uatlah irisan longitudinal melalui musculus pectoralis pada kedua sisi sternum sepanjang persendian costochondral semua costae mulai dari posterior ke anterior. Pada bagian anterior, irisan pada kedua sisi thora. harus bertemu pada daerah pintu

Hal 8 *,

rongga dada. Setelah memotong tulang coracoids dan cal#icula. (ara ini akan membuka rongga dada. Periksalah kantong udara di daerah abdominalis dan thoracalis. Periksa juga letak berbagai organ di dalam ca#um thora. dan abdominalis sesuai posisi aslinya tanpa menyentuh organ-organ tersebut. 1uka akan mengambil sampel untuk isolasi bakteri, jamur dan #irus lakukanlah secara aseptis. Perhatikan kemungkinan terhadap adanya cairan, eksudat, tansudat atau darah di dalam rongga perut dan rongga dada. Periksalah pancreas, saluran pencernaan dapat dikeluarkan dengan memotong oesophagus pada bagian proksimal pro#entriculus. /arik seluruh saluran pencernaan kea rah posterior dengan memotong mesenteriun, sampai pada daerah cloaca. Pada ayam muda, periksalah bursa abricius terhadap kemungkinan adanya abnormalitas tertentu. 'eluarkan hepar dan lien dan periksalah terhadap kemungkinan adanya abnormalitas tertentu ,uatlah irisan secara longitudinal pada pro#entriculus, #entriculus, intestinum tenue, caeca, colon dan cloaca. Periksa terhadap kemungkinan adanya lesi dan parasit. 'eluarkan saluran reproduksi dan irislah o#iduct secara longitudinal. Periksa o#arium meliputi stroma dan olikelnya. Periksalah ureter dan ren pada tempatnya yang asli. 6en dan ureter dapat dikeluarkan untuk melakukan pemeriksaan yang lebih teliti. Periksa mer#us dan ple.us ischiadicus. Ner#us ischiadicus dapat diperiksa setelah otot-otot abductor di bagian medial paha dipisahkan. Ple.us ischiadicus dapat diamati setelah beberapa lobi dari ren diangkat. ,angkai diputar sehingga kepala menghadap operator ,uatlah irisan pada sisi kiri dari sudut mulut, kemudian irisan tersebut diteruskan ke pharyn., oesophagus dan inglu#ies. Periksalah terhadap kemungkinan adanya abnormalitas tertentu pada rongga mulut, oesophagus dan inglu#ies. Periksalah gladula thyroidea dan parathyroidea di daerah trachea ,uatlah irisan longitudinal melalui laryn., trachea, bronchus sampai ke pulmo. +aryn., trachea, bronchus, pulmo dan cor dapat dikeluarkan secara bersamaan setelah pulmo diankat dar perlekatannya dengan rongga dada. Periksalah pulmo terhadap ukuran, warna konsistensi, bidang irisan dan uji apung.

Hal 8 **

Periksa juga jantung terhadap kemungkinan adanya abnormalitas tertentu, meliputi keadaan pericardium, ukuran, warna dan ape. cordis. 1antung padat diperiksa dengan membuat suatu irisan longitudinal melalui atrium dan #entricle kiri dan kanan. 1antung dapat juga diperiksa dengan membuat irisan secara melintang melalui #entricle. Periksa juga aorta dan pembuluh darah jantung lainnya. Potonglah paruh bagian atas secara melintang di dekat daerah mata sehingga ca#um nasi dan sinus in raorbitalis dapat diperiksa terhadap adanya cairan atau abnormalitas tertentu Periksalah semua persendian kaki dan sayap dengan membuat irisan pada kulit diantara caput dan sulcus persendian. Periksa juga tendo, khususnya tendo gastroenemius dan tendo le.or digitalis. Pecahkan emur dengan gunting yang kuat untuk memeriksa sunsum tulang 3ntuk memeriksa otak maka kulit dan tulang leher di daerah persendian atlantooccipitale diiris sehingga oramen magnum dan medulla oblongata kelihatan. 'epala dibiarkan tetap melekat pada tulang leher agar dapat dipegang dengan mudah pada waktu membuka tengkorak. 3ntuk membuka tulang tengkorak biasanya dipergunakan gunting tulang atau gunting yang kuat. 9tak dapat dikeluatkan dengan cara cebagai berikut) kulit di daerah kepala dibuka, kemudian buatlah irisan dengan gunting dari oramen magnum kea rah os rontalis yang membentuk sudut ;&& pada kedua sisi tulang tengkorak. Selanjutnya buatlah irisan tersebut, tulang tengkoran dapat dibuka. Setelah tulang tengkorak dibuka, meninges diiris, kemudian bulbus ol actorius ner#i craniales dipotong sambil mengeluarkan seluruh bagian otak. Hypopysis cerebri yang mesih melekat pada tulang tengkorak dikeluarkan sengan mengiris duramater yang mengelilingi sella tursica. Sinus paranasales dan sinus lainnya diperiksa dengan membuat suatu potongan melalui garis median hidung.

PEN-AKIT A-A( -ANG SE'ARA PRI(ER (EN-ERANG &ER&AGAI ORGAN.SISTE(A

/0 Saluran pernapasan Newcastle Disease "ND$ In ectious ,ronchitis "I,$


Hal 8 *0

In ectious +aryngotracheitis "I+/$ In ectious (ory-a "Snot$ (hronic 6espiratory Disease "(6D$ Swollen Head Syndrome "SHS$ *spergillosis @owl (holera

10 Saluran Pen!ernaan 'olibasillosis Pullorum disease @owl typhoid @owl typhoid @owl paratyphoid 'oksidiosis 4nteritis ulcerati#e 4nteritis necrotican 'andidiasis Histomoniasis ND bentuk pencernaan "==ND$ 20 'NS *#ian 4nchepalomyelitis "*4$ ND !arekFs Disease "!D$ !ycotic 4ncephalitis ,otulismus 30 Or%an tertentu In ectious ,ursal Disease "I,D28umboro$ E bursa abricius dan organ lim oid lainnya
Hal 8 *1

=iral arthritis E persendian dan tendo 8angrenous dermatitis E kulit Staphylococcus arthritis E persendian (olibacillosis E yolk sac, umbilicus, hepar, o#arium, o#iduct *#ian tuberculosis E pencernaan Streptococcosis E persendian 40 Tu#or pada $er$a%ai or%an !D +imphoid leukosis "++$ 50 Kulit @owl Po. !D

TEKNIK NEKROPSI HEWAN LA&ORATORI)(

Hal 8 *2

Nekropsi dan pengambilan jaringan dilakukan dengan alat steril. Setelah bagian luar hewan percobaan diperiksa, kemudian tubuh di iksasi dengan cara memotong persendian pada kedua kaki depan dan kaki belakang. 6ongga perut dibuka melalui sayatan pada garis tengah perut dan tubuh di bagian posterior dibuka dengan membuat sayatan pada otot di bagian dalam paha di dekat persendian pinggul. Pemeriksaan organ dalam dilakukan sesuai dengan kehendak operator berdasarkan pada tujuan utama hewan percobaan sebagai model dalam penelitian. 1aringan untuk pemeriksaan histopatologi di iksasi dengan ormalin, dengan #olume tidak boleh melebihi 727& #olume ormalin 3ntuk jaringan tulang, maka diperlukan dekalsi ikasi sebelum di iksasi ormalin 7&A. *da % teknik untuk dekalsi ikasi Teknik /0 6eagensia Sodium chloride :>A GG.7H g GGGG <& ml *IuadestGGGGGGGGGGGGG. ;% ml (hloride acid :?A GGGGGGGGG. H ml !etode dekalsi ikasi 1aringan dimasukkan ke dalam reagensia selama %; jam. 'emudian, dipindahkan ke dalam alcohol ?&A selama %; jam, yang kemudian dapat langsung diproses untuk sediaan histologist. 3ntuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan, lama waktu jaringan di dalam reagensia dapat diperpanjang lebih dari %; jam dan sering dilakukan penggantian reagensia. Teknik 10 6eagensia (airan *) Sodium citric <& g *Iuadest %<& ml (airan ,) @ormic acid J&A 7%< ml *Iuadest 7%< ml 1ika akan digunakan, cairan * dan , dicampur dalam jumlah yang sama. !etode dekalsi ikasi) 1aringan dimasukkan ke dalam reagensia selama ?-7& hari dan penggantian reagensia dapat dilakukan sampai : kali. Setelah dekalsi ikasi selesai, reagensia dinetralisir menggunakan sodium sul at <A selama >-7& jam, yang dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pewarnaan. 1aringan dicuci air mengalir selama H-%; jam. 'emudian, jaringan dapat dimasukkan lagi ke dalam ormalin 7&A sampai dilakukan pemrosesan jaringanuntuk sediaan histology

Hal 8 *3

Seringkali, diperlukan pemeriksaan otak, dan ini dapat dilakukan dengan cara mebuka kulit diatas tengkora. /ulang tengkorak dipotong dengan gunting yang berujung tajam, dapat dibantu dengan menggunakan haemostatic clamp untuk mempermudah iksasi di bagian tengkorak. 'emudian, batok tengkorak dibuka dan seluruh otak diambil. Pengeluaran otak juga dapat dilakukan secara aseptic, yaitu dengan menggunakan para in panas "7H&& ($ yang diaplikasikan pada rambut dan kulit di bagian tengkorak. Setelah para in dingin, digunakan nyala gas untuk menyulut rambut yang tidak tertutup para in.

LANGKAH (ELAK)KAN NEKROPSI HEWAN

Hal 8 *4

Hewan telah dietanasi Hewan diletakan pada papan nekropsi dengan posisi rebah dorsal "perut menghadap atas$ dan posisi kepala menjauhi operator ,asahi permukaan tubuh dengan etanol atau air Dengan menggunakan forceps angkat kulit abdomen dan buat irisan "gunting$ sepanjang ventral midline- dagu bawah "irisan sub kutan$ Prosedur Nekropsi (e#$uka A$do#en

,uat irisan pada otot dibawah kulit abodomen - terlihat organ pada rongga abdomen 6ongga dada "chest cavity$ dapat dibuka dengan memotong tulang rusuk Dilakukan pengamatan
Hal 8 *5

Prosedur Nekropsi (e#$uka Thoraks

Prosedur Nekropsi (e#$uka Otak

Hal 8 *9

Anato#i Saluran Pen!ernaan

Or%an Dala# Thoraks

Hal 8 0:

Or%an Reproduksi &etina


Hal 8 0,

Or%an Reproduksi ,antan

Pe#an*aataan paska nekropsi


Hal 8 0*

Tujuan 6iksasi !engawetkan mor ologi sel atau jaringan sesuai dengan kondisi pada saat hewan masih hidup "struktur sel yang normal atau abnomal$, hentikan proses autolisis postmortum, organ menjadi keras ,ahan yang digunakan larutan pengawet "fixatives$ Hasil yang optimal - cepat "*S*P$ +arutan pengawet "fixatives$

7&A ormalin "powder) 7 bagian ormaldehyde K J bagian air, cair :&A) 7):$ atau 7&A neutral buffer formalin ",a.ter atau @isher$-- pengecatan jaringan standar HistochoiceL"*mrosco$, aceton, etanol2cold ethanol-- imunohisto2sitokimia, immunofluorescent
%.<A glutaraldehyde --/4!

3ntuk membersihkan sisa nekropsi pada peralatan dapat menggunakan Na(l "larutan garam$ ;,%< gr Na(l2<&& ml air 3ntuk mencuci atau menghilangkan darah dan debris jaringan
Hal 8 00

Note) air "kebengkaan sel dan ruptur - perbedaan osmosis jaringan dan air, cairan iksati " usi debris ke permukaan organ$ Preservatives "pengawet$ disiapkan dalam botol gelas atau botol plastik mulut lebar !embuat mengawetkan jaringan untuk proses pemeriksaan jaringan Containers atau vials yang bagian dasarnya rata - larutan pengawet dapat menjangkau semua bagian dari organ yang diawetkan dan bentuk tetap "hindari conical vials$

PRINSIP &IOETHI'S DALA( PENGG)NAAN HEWAN 'O&A

De*inisi Ethi!s 'ata MethicsF mempunyai arti 7. The principles of honor and morality, prinsip tingkah laku dan moral
Hal 8 01

%. Accepted rules of conduct, peraturan yang diterima secara umum :. The moral principles of an individual, prinsip moral tiap indi#idu. Penelitian menggunakan hewan mengarah juga pada tentangan dari beberapa pihak bahwa hal ini tidak sesuai dengan moral, dan bahwa manusia tidak berhak mengeksploitasi spesies lain, walaupun penelitian itu akan menguntungkan bagi manusia dan hewan. !ereka yang meyakini bahwa pengetahuan yang diperoleh untuk kebaikan manusia dan hewan juga meyakini bahwa penggunaan hewan harus sesuai dengan kode etik yang berlaku.

Artin"a ada peraturan tertentu yang harus dipatuhi untuk memastikan penelitian yang menggunakan hewan harus memenuhi etika yang berlaku. ,anyak studi yang membutuhkan bermacam subyek eksperimen supaya mendapatkan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara statistik. ,agaimanapun, peneliti yang menggunakan hewan percobaan sudah mengurangi penggunaan hewan dalam penelitian. ,eberapa peneliti membuat suatu guideline untuk replacement "penggantian$ atau reduction "pengurangan$ penggunaan hewan dalam penelitian. Prinsip yang paling terkenal adalah 2R oleh 6ussel dan ,urch) 7. Replacement atau penggantian hewan percobaan dengan kultur jaringan atau sel hewan atau dengan model matematis bila memungkinkan. %. Refinement atau perbaikan dari prosedur yang dilakukan sedapat mungkin untuk mengurangi stress atau sakit pada hewan. :. Reduction atau pengurangan sampai dengan jumlah minimal dari hewan percobaan yang digunakan untuk mendapatkan hasil penelitian, tetapi juga mewakili data secara statistik dan menghasilkan hasil yang ilmiah.

Euthanasi ,eberapa cara untuk menyiapkan pemeriksaan nekropsi dengan mematikan hewan sehat untuk pembanding dan hewan sakit antara lain ) Dislokasi cervical Ether atau chloroform "desikator atau anaesthetic jarD perlindungan terhadap operator$ 8as (9%

Hal 8 02

NEKROPSI PADA TERNAK R)(INANSIA

Pada saat melakukan nekropsi, penting untuk memperhatikan biosecurity. /empat yang tepat untuk melakukan nekropsi adalah) 1auh dari hewan yang lain, tempat penyimpanan pakan, dan tempat berkumpul karyawan *rea yang dapat didisin eksi secara menyeluruh dengan mudah. Dapat dengan mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut karkas tanpa harus melewati kandang hewan atau gudang pakan. +ebih baik pada lantai konkret yang bisa dibersihkan dengan desin ektan. Sebaiknya lantai konkret yang kasar, untuk menghindari terjadinya bahaya terpeleset karena air dan2atau darah Dapat juga nekropsi dilakukan di tanah, dengan pertimbangan lokasi jauh dari area hewan dan gudang pakan. /anah tidak dapat didisin eksi, karenanya dipilih lokasi yang terpapar sinar matahari langsung, sehingga panas matahari bisa membantu membunuh kuman pathogen.

4uthanasi dapat dilakukan apabila terjadi suatu outbreak penyakit pada kawanan ternak. Pada kasus ini, penting untuk memilih hewan yang menunjukkan gejala klinis dari penyakit, dan yang mewakili kondisi dalam kawanan ternak. *da beberapa cara euthanasia hewan, akan tetapi hanya beberapa cara saja yang mungkin mewakili dari aspek ekonomis, praktek, legalitas dan kemanusiaan. Setiap tidakan euthanasia mengharuskan hewan dalam keadaan pingsan tanpa rasa takut dan stress sebelum kematian. ,eberapa hal yang harus diperhatikan adalah) 'eamanan operator "Human sa ety$ 'eamanan hewan "animal sa ety$ 'esejahteraan hewan "*nimal wel are$ 6estraint 'epraktisan Skill operator ,iaya

Hal 8 03

'epentingan Diagnostik " contoh, apabila akan mengambil sampel otak, maka penggunaan pistol tidak sesuai$

'ontoh !ara euthanasia 7. (apti#e bolt %. 8unshot :. (hemical ;. 4.sanguination "bleeding out, memotong #ena leher atau arteri utama pada abdomen$ 'apti7e &olt /erdapat % macam pistol capti#e bolt) penetrating dan non-penetrating. Dengan penetrating capti#e bolt, akan terjadi kerusakan otak sedangkan dengan non-penetrating hewan hanya akan pingsan. Dengan kedua cara ini, hewan masih berna as dan tejadi grakan pada kaki-kakinya, oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan tambahan untuk membunuh hewan secara kimia atau dengan eksanguinasi. (apti#e bolt diposisikan tepat pada tengkorak kepala hewan pada garis inajiner diantara mata. 3ntuk #isualisasinya bayangkan % garis penghubung sudut mata bagian dalam dengan dasar tanduk atau pada dasar telinga. /itik persilangannya adalah posisi capti#e bolt ditembakkan.

6estrain yang tepat harus diperhatikan pada penggunaan capti#e bolt. Gunshot Seperti capti#e bolt, gunshot bisa menyebabkan kerusakan jaringan. Senapan diposisikan pada jarak %-7& inchi dari tengkorak hewan. /itip penembakan sama dengan

Hal 8 04

penggunaan capti#e bolt. Penggunaan senapan ini lebih murah dan tidak memerlukan kontak dengan hewan pada jarak dekat.

'he#i!al Sodium pentobarbital intra#ena dapat digunakan untuk membunuh hewan. +arutan Potassium chloride dapat digunakan, tetapi hewan harus dibuat pingsan terlebih dahulu E8san%uination !emotong pembuluh darah utama dapat juga menyebabkan kematian, tetapi, seperti halnya bahan kimia, cara ini dilakukan setelah hewan dipingsankan. 4ksanguinasi bisa dilakukan dengan memotong arteri carotid di leher atau aorta rectal. 6ectal eksanguinasi bisa menyebabkan aliran darah ke rongga abdomen yang dapat mengganngu pemeriksaan nekropsi. Sebelum dilakukan nekropsi, harus dipastikan hewan sudah mati (ara terbaik adalah dengan memeriksa na as dan detak jantung < menit setelah proses euthanasia

Hal 8 05

PENGIRI(AN DAN PEN-I(PANAN SA(PEL Pemeriksaan laboratorium digunakan untuk membantu dokter dalam menentukan diagnosa dan pengobatan , dapat dilakukan oleh teknisi yang terdidik dalam pengawasan dokter. Sedangkan tugas didaerah wabah antara lain ialah memberikan in ormasi dan mengirim sampel dari ternak yang terserang atau tersangka. 3ntuk menjaga keutuhan bahan tersebut maka perlu dilakukan upaya yang harus diketahui oleh petugas lapangan. ,erbagai hal yang harus dilakukan ialah mencantumkan ) 7. Nama dan alamat dokter hewan, pejabat yang ditunjuk, atau alamat kepada +aboratorium Diagnostik penyakit harus jelas. %. (antumkan gejala penyakit dengan tanda-tanda klinis. :. Pemeriksaan yang diinginkan "bakteriologis, pathologi klinis, pathologi anatomi yang lain$ ;. 'eterangan tentang ternak yang terserang, misalnya umur, spesies, kelamin dan bangsa <. 1umlah ternak yang terserang dalam populasi >. 1umlah kematian ?. 1enis bahan yang dikirim H. Pengawet yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pemeriksaan J. ,ila laporan hasil sangat diperlukan, dapat ditulis segera melalui telegram atau telepon ,erita acara tersebut harus disertakan pada saat pengiriman bahan serta beberapa keterangan harus ditempelkan pada botol atau pembungkus bahan tersebut. 4tiket bahan yang ditempel pada botol atau pembungkus bahan tersebut. 4tiket yang ditempel cukup memberikan in ormasi tentang jenis bahan, spesi ikasi ternak dan pemeriksaan yang dikehendaki. Sedapat mungkin pengirim bahan mempertimbangkan bahwa pada hari libur umumnya tidak ada pemeriksaan atau dengan catatan khusus "segera2(I/9$. Pen%a+etan &ahan Pengiriman bahan ke laboratorium diagnostik dapat berupa bahan segar atau bahan yang diawetkan, tergantung pada berbagai kepentingan pemeriksaan. !isalnya untuk keperluan bedah bangkai, maka bangkai yang dikirim secepat mungkin sebelum %; jam agar belum didapatkan perubahan pasca mati yang berarti. 3ntuk pemeriksaan pathologi anatomi dilakukan pengawetan bahan dengan -at yang tidak merusak, tetapi mempertahankan kondisi. *dapun dua macam cara pengawetan ialah ) /0 Pendin%inan ,ahan yang dipakai ) es, es kering Den%an es ) bahan dapat dimasukkan dalam kontainer, kemudian dikelilingi dengan es yang diletakkan pada kontainer yang sedikit lebih besar. 3ntuk memperl lama
Hal 8 09

cairnya es, dapat ditambahkan garam dapur atau serbuk gergaji. ,ahan yang diawetkan dengan cara ini misalnya air susu, serum darah. Den%an es kerin% atau dr" es ) bahan yang dikirim, dibungkus rapi atau dalam kontainer yang dilapisi dengan bahan yang memisahkan antara dry ice dengan bahan. 'eadaan ini dipertahankan agar tidak terjadi pembekuan yang tidak diinginkan. 3ntuk mencegah terjadinya pecanya kontainer maka perlu dipertimbangkan agar tidak ditutup terlalu rapat. 10 (e#per%unakan $ahan ki#ia ,ahan yang dipakai ) alkohol, ormalin, asam borat. Pengiriman contoh untuk pemeriksaan histopahatologi dapat menggunakan larutan *or#alin /9 : atau Para*or#aldeh"da 3: dala# phospat $u**er saline. (aranya ialah dengan memotong jaringan yang dicurugai kira-kira 7 cm %, masukkan kedalam larutan secepat mungkin sejak kematian atau biopsi. 1umlah cairan tersebut dipersiapkan 7& kali #olume potongan jaringan tersebut. ,ahan lain yang dapat digunakan ialah alkohol ;5 : atau <9 :, hanya saja bahan ini kurang baik apabila dibandingkan dengan ormalin, karena dapat mengeraskan jaringan akibat dehydrasi jaringan. Pengiriman contoh bahan untuk pemeriksaan terhadap #irus, dapat digunakan %liserin 49 :. Sedang bahan yang dapat dipakai untuk menghambat pertumbuhan bakteri ialah asa# $orat. Pen%iri#an &ahan Pemilihan bahan contoh yang dikirim sangat tergantung kepada jenis penyakit yang dicurigai, dipertimbangkan pula predileksi dari penyakit atau organ yang diserang. Dengan pertimbangan-pertimbangan itulah dapat dipilih bahan contoh apa yang diperiksa. /0 Tinja atau isi usus /inja dapat dikirim dalam keadaan segar apabila tidak memerlukan waktu yang lama, maka dapat disimpan dalam pendingin dengan termos berisi es. ,ila diperlukan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan, maka bahan pengawet yang digunakan adalah *or#alin 4 /9:. Pemeriksaan tinja pada umumnya digunakan untuk meneliti adanya ) /elur cacing +ar#a (acing dewasa Darah 9ocyst proto-oa Pemeriksaan tinja dapat dilakukan antara lain dengan cara ) Pemeriksaan sederhana atau nati#e Pemeriksaan dengan pewarna Pemeriksaan dengan metode apung atau lotation methode Pemilihan cara ini sangat tergantung pada tujuan pemeriksaan.
Hal 8 1:

10 Air susu Pada umumnya untuk pemeriksaan bakteriologi, air susu harus disimpan dalam botol dan dimasukkan dalam kontainer yang sejuk atau harus dalam keadaan segar, misalnya untuk penyakit mastitis. 20 ,arin%an 1aringan sebagai contoh yang harus diperiksa secara bakteriologis, histopathologis atau parasitologis. Pemilihan jaringan tergantung pada predileksi atau kesukaan organ yang diserang oleh penyebab penyakit tersebut. 3sahakan jaringan tidal lebih dari ; jam harus sudah dipotong secara benar dan dicelupkan kedalam larutan *or#alin /9 : atau Para*or#aldeh"da 3: dala# phospat $u**er saline sebagai pengawet untuk pemeriksaan histophatologis. ,ahan seperti hati, limpa atau ginjal harus dipotong kecil seperti kubus 7 cm tegak lurus pada permukaan untuk melihat struktur anatominya. ,otol atau kontainer yang dipakai lebih baik bermulut lebar tetapi rapat agar mudah untuk mengambil potongan jaringan yang terendam. 30 Parasit Parasit yang berukuran besar dapat dimasukkan dalam botol atau pot bermulut besar dengan pengawet ormalin <-7& A. Sedangkan ektoparasit atau entoparasit yang berukuran kecil dan terikat pada jaringan atau kerokan, lebih baik dikirim bersama keropeng yang diambil dari tepi daerah terserang. 'erokan tersebut dimasukkan ke dalam pot kecil yang berisi larutan '9H 7& A atau Na9H 7& A dengan maksud jaringan tersebut larut.

40 Ternak pas!a #ati Pengiriman sebaiknya kurang dari %; jam sejak kematian, agar sebelum terjadi perubahan yang berarti, yang disebabkan oleh proses kematian. 3ntuk memperlama kemungkinan, dapat disimpan didalam almari es untuk dibekukan.

Hal 8 1,

DA6TAR P)STAKA

*PHIS. 8uidelines or Necropsy. 3SD* National =eterinany Ser#is +aboratory. *mes I*. ,agian Patologi. %&&%. Petunjuk Praktikum Patologi Sistemik dan Nekropsi. 3ni#ersitas 8adjah !ada. 0ogyakarta (abana, 4!. %&&H. =eterinary Necropsy Procedures. (+S3 *lumni *ssosiasion, inc. (entral +u-on State 3ni#ersity. Philiphines. !unson, +inda. 55. Necropsy o Bild *nimals. Bildli e Health (enter , School o =eterinary !edicine 3ni#ersity o (ali ornia, Da#is Se#eridt, 1ulie *, et all. %&&%. Dairy (attle Necropsy !anual. (olorado State 3ni#ersity Integrated +i#estock !anagement Program. (olorado.

Hal 8 1*

La#piran /0 Nekropsi kit Ne!rops" Kit 7. Protecti#e clothing ) 6ubber 8lo#es 6ubber ,oots or Plastic @oot Protectors 6ubber *pron (o#eralls !ask "to co#er mouth and nose$ and 4ye 8oggles or @ace Shield

%. Necropsy documentation (amera and ilm @ield notebook

:. Necropsy eIuipment
Hal 8 10

Sharp kni e "including sharpening stone or steel$ Scissors "small and large$ @orceps String *. or hatchet Hack saw or bone saw Small and large shears (hisel and mallet N(ome-alongO or block and tackle Scalpels and ra-or blades *lcohol lamp or gas burner or sterili-ing instruments Plastic ruler or measuring tape

;. Specimen containers and sampling eIuipment 6igid plastic containers with tight itting lids "appro.imately 7 liter$ Small #ials, tissue cassettes, or tags to identi y speci ic sampels Sterile #ials or blood tubes Plastic bags with closure tops "-ip-lock or whirl-pack$ Para ilm or sealing tape *luminum oil Sterile syringes and needles "%& g$ Sterile swabs in transport tubes +abeling tape or tags, waterproo labeling pens, and pencil !icroscope slides and slide bo.es or transport BH9 rabies kit "or drinking straw in a small jar o glycerin$ /ransport materials
Hal 8 11

Ice coolers +eak-proo , break-proo containers *bsorpti#e packing materials Sealing tape Sterile bu ered glycerin "<&A$ "see *ppendi. I or ormulation$ N4asy bloodO "see *ppendi. I or ormulation$ @i.ati#es 7&A bu ered ormalin "see *ppendi. I or ormulation$ 7&&A acetone or cytologies ?&A ethyl alcohol or parasites

<. Disin ecting materials Pail and brush Disin ectant ,ora. Sodium hypoclorite "&.<A$ "7&A (hloro.$ ?&A ethyl alcohol " or disin ecting instruments$

>. 4Iuipment !icroscope) * microscope with a mirror or a light source or adapted or car batteries "* ield scope will permit assessment or anthra. be ore opening a carcass$. (entri uge) * portable centri uge or spinning blood is optimal. "4g. !obilespin centri uge rom =ulcon /echnologies, ?7H !ain, 8rand#iew, !9 >;&::& 3S*D H7>-J>>-7%7% or @*P H7>-J>>-HH?J

Hal 8 12

Hal 8 13

La#piran 10 Nekropsi )n%%as dan He+an La$oratoriu#

Hal 8 14

Hal 8 15

Hal 8 19

La#piran 20 Nekropsi Ternak Ru#inansia

Hal 8 2:

Hal 8 2,

Hal 8 2*

La#piran 30 Nekropsi Anjin%

Hal 8 20

Hal 8 21

Hal 8 22