You are on page 1of 14

BAB I Pendahuluan

Demam Tifoid merupakan penyakit yang sering terjadi di negara-negara tropis, terutama seperti di Indonesia.Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang no 6 tahun 1962 tentang wabah. Menurut Departemen Kesehatan RI, frekuensi kejadian demam tifoid di Indonesia pada tahun 1990 sebesar 9,2 dan tahun 1994 terjadi peningkatan menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Insidens demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan, di daerah rural (Jawa Barat) 157 kasus per 100.000 penduduk, sedangkan di daerah urban ditemukan 760-810 kasus per 100.000 penduduk. Mengingat banyaknya kasus demam tifoid, maka penulis bermaksud memasukannya sebagai salah satu laporan kasus yang juga merupakan salah satu kewajiban dokter muda di dalam kepaniteraanklinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih.

1

Os juga mengeluh ada mual tapi tidak muntah. Os juga mengeluh nafsu makan berkurang. lemas. batuk. nyeri terutama dirasakan saat perut ditekan. mual. Jawa Barat 7. Pasien juga mengeluh pusing terutama saat berdiri. TTL : Brebes. Riwayat Penyakit Dahulu 2 . Pasien mengeluh demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Nama : Tn A 2. 3. Keluhan Utama Demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit 2. Usia : 22 tahun 4. BAK normal 5. ingus berwarna bening. pilek. Agama : Islam 6. nafsu makan berkurang.gangguan pendengaran disangkal. Pekerjaan : Karyawan 5. Pasien juga mengeluh badannya terasa lemas sejak demam muncul tapi masih bisa beraktivitas sehari-hari. nyeri perut. tapi suhu tidak pernah diukur. Pasien juga mengeluh nyeri perut sebelah kiri sejak 3 hari smrs. demam dirasakan semakin tinggi saat sore menjelang malam hari. Os mengeluh ada pilek sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan Tambahan Pusing. Riwayat Penyakit Sekarang 4. No Rekam Medis : 00827692 ANAMNESIS 1.BAB II Status Pasien IDENTITAS 1. Gangguan penglihatan disangkal. pasien juga mengeluh ada batuk dengan sedikit dahak berwarna putih susu. BAB normal. Alamat : Bekasi. 20-03-1992 3.

Riwayat Penyakit Keluarga Anggota keluarga juga belum pernah menderita penyakit dengan gejala seperti ini. DM disangkal 7.pernapasan .Belum pernah menderita penyakit dengan gejala seperti ini. Riwayat Pengobatan Pernah berobat ke RS di Bekasi tapi tidak merasakan perubahan 8. Hipertensi disangkal.tekanan darah .status gizi : 56 kg : 165 cm : Normal : 130/80mmHg : 36 C : 80 x/menit : 20 x/menit : 39°C : Os tampak sakit sedang : Compos Mentis Status generalisata 3 .nadi .suhu  Antropometri . merokok dan minum alkohol disangkal.BB . PEMERIKSAAN FISIK  Keadaan umum  Kesadaran  Tanda vital . Hipertensi disangkal.TB . DM disangkal 6.suhu . Riwayat Psikososial Pola makan tidak teratur.

Gallop (-) : supel : BU + : nyeri tekan pada abdomen kiri (+).auskultasi  Abdomen .palpasi . hepatospenomegali (-) : timpani di seluruh kuadran abdomen 4 .auskultasi ronkhi =/=. Sekret -/: bibir tidak kering.perkusi : BJ 1& BJ 2 normal.perkusi : normocephal.  Jantung .palpasi .inspeksi . ronki -/- : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis tidak teraba : Batas atas  ICS 3 mid clavicula sinistra : Batas kanan  ICS 4 pars sternalis sinistra : Batas kiri  ICS 5 aksillaris anterior . isokor 3 mm pada kedua pupil.auskultasi . tidak terlihat retraksi dinding dada : vokal fremitus kanan dan kiri sama : sonor (+) pada semua lapang paru : vesikular pada kedua lapang paru. konjungtiva anemis -/-.perkusi .inspeksi . simetris. Kepala  Mata  Hidung  Telinga  Mulut  Leher  Paru . murmur (-). Otorhea -/-.inspeksi . septum deviasi (+) : Normotia. wheezing -/-. lidah tidak kotor : pembesaran KGB (–) : Normochest. stomatitis -. refleks cahaya +. rambut hitam panjang lurus : skera ikterik -/-.palpasi . : sekret -/-.

2 – 17. akral hangat.6 103/µL HEMATOKRIT 41.7x103/µL 3. akral hangat. Ekstremitas : atas  CRT <2 detik +/+.4 % 40 – 52 % TROMBOSIT 156x 103/µL 150 – 440 103/µL IMUNOSEROLOGI WIDAL (+) 1/160 SALMONELLA TYPHI O (-) SALMONELLA TYPHI H (-) SALMONELLA PARATYPHI AH (-) 5 . udem -/ - HASIL LABORATORIUM 17-02-2014 PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL HEMATOLOGI RUTIN HEMOGLOBIN 14.8 – 10. udem -/ bawah CRT <2 detik +/+.3 gr/dL LEUKOSIT 4.9 gr/dL 13.

nausea dan nyeri pada abdomen sinistra PF: TD : 130/80 mmHg Suhu : 39°C Pernafasan : 20x/m Nadi : 80x/m Nyeri tekan abdomen sinistra (+) Tes Widal Salmonella typhi (+) 1/160 6 .SALMONELLA PARATYPHI AD (-) SALMONELLA PARATYPHI BO (-) SALMONELLA PARATYPHI CO (-) RESUME Tn A usia 21 tahun datang dengan keluhan febris sejak 5 hari sebelum masuk RS.anoreksia.terus-menerus dan semakin tinggi terutama saat sore menjelang malam. fatigue. Os juga mengeluh pusing terutama saat berdiri.

000 penduduk.2 dan tahun 1994 terjadi peningkatan menjadi 15. motil. Antigen Vi. frekuensi kejadian demam tifoid di Indonesia pada tahun 1990 sebesar 9.4 per 10. memproduksi asam dari fermentasi glukosa dan manosa. Bakteri ini mempunyai antigen permukaan yang penting untuk diagnosis secara serologis. Antigen H. Antigen O. 3.typhi. Epidemiologi Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. sedangkan di daerah urban ditemukan 760-810 kasus per 100. berhubungan dengan kapsul dari bakteri 7 . Menurut Departemen Kesehatan RI. Etiologi Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella enterica serovar typhii. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang no 6 tahun 1962 tentang wabah. Insidens demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan. 2. Definisi Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi dan ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi kotoran atau urin yang terinfeksi S. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif. Bakteri ini ditransmisikan melalui air dan makanan yang terkontaminasi feses. fakultatif anaerobik. merupakan protein yang berhubungan dengan flagel dari bakteri 3. merupakan lipopolisakarida dari membran luar bakteri 2.yaitu : 1. di daerah rural (Jawa Barat) 157 kasus per 100.000 penduduk. Kebanyakan bakteri ini memproduksi hidrogen sulfida (H2S) dan bisa bertahan pada pembekuan dalam waktu yang panjang.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 1.000 penduduk.

gangguan mental dan koagulasi. Gejala-gejala klinis yang muncul bervriasi dari ringan sampai berat. Proses yang sama terulang kembali. instabilitas vaskular. dari asimtomatik hingga gambaran penyakit 8 .enterica serotipe typhii dan akan dibawa menuju jaringan limfoid. Manifestatsi Klinis Masa inkubasi demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari.enterica serotipe typhii bervariasi antara 1000-1. mialgia. merupakan suatu sel epitelial khusus yang melapisi plak peyeri yang merupakan tempat masuknya S.bakteri masuk ke dalam kandung empedu dan bersama cairan empedu dieksresikan secara “intermittent” ke dalam lumen usus.berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagistosis bakteri Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam. Di usus halus bakteri akan menempel pada sel-sel mukosa dan dan kemudian menginvasi mukosa.000 organisme. Patogenesis Dosis infeksi dari S. Selanjutnya melalui duktus torakikus bakteri didalam makrofag ini akan masuk ke sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. sakit kepala.enterica harus bertahan dari asam lambung untuk mencapai usus halus. Di dalam plak peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasia jaringan.Di organ-organ ini bakteri akan bermultiplikasi kembali dan akhirnya akan masuk kembali ke pembuluh darah dan akan terjadi bakteremia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit sistemik. Di dalam hati. Sebagian bakteri masuk kembali ke dalam sirkulasi darah namun sebagian dikeluarkan bersama feses. mikroorganisme ditranslokasikan ke nodus limfatikus usus halus dan dialirkan menuju nodus limfatikus mesentri. malaise. S. 5. sakit perut. Perdarahan saluran cernadapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar plak peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia akibat akumulasi sel-sel mononuklear di dinding usus. Setelah penetrasi. Sel M.4.000.

Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya.typhii dari darah. sumsum tulang atau lesi anatomik spesifik lain. ditandai dengan nyeri abdomen. tepi dan ujung merah disertai tremor). Awal terjadinya bakteremia ditandai dengan demam dan malaise. Sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore dan malam hari. biasanya terdapat di abdomen dan dinding dada). Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain :    Perdarahan saluran cerna Perforasi usus. Kultur darah adalah alat diagnosis paling penting dalam demam tifoid. splenomegali. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam. Komplikasi biasanya terjadi pada pasien yang menderita demam tifoid lebih dari 2 minggu. typoid tongue (lidah kotor di bagian tengah. penurunan tekanan darah Tifoid ensepalopati 6. Diagnosis Diagnosis definitif dari demam tifoid adalah ditemukannya S. Adanya gejala klinis yang mengkarakteristikkan demam tifoid atau deteksi respon antibodi spesifik bukan merupakan diagnosis definitif. yaitu :          Demam Nyeri kepala tumpul pada bagian frontal Nyeri otot Anoreksia Mual Tidak nyaman pada abdomen Malaise Batuk kering Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu badan meningkat. hepatomegali.yang khas disertai komplikasi hingga kematian. rose spot (lesi makulopapular eritema dengan diameter kurang lebih 24mm. 9 . peningkatan denyut nadi.bradikardia relatif.

Pada orang dewasa 5-10 ml darah dari venepuncture ditanam didalam 50100 ml media cair empedu. c. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Selain itu dapat ditemukan anemia ringan dn trombositopenia. Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen bakteri S. Maksud uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita yang dicurigai menderita demam tifoid. Pada fase akut mula-mula timbul aglutinin O. karena mungkin disebabkan beberapa hal berikut telah mendapat terapi antibiotik  pertumbuhan bakteri dalam media biakan terhambat dan hasil mungkin negatif. Titer aglutinin H ≥ 1:160 menandakan infeksi lampau atau setelah vaksinasi. Kultur Darah Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid. dan positif jika : a. Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia.7. Titer aglutinin O ≥ 1:160 atau peningkatan lebih dari 4 kali menandakan infeksi akut. dan riwayat vaksinasi. volume darah yang kurang. dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukosistosis. Titer aglutinin Vi yang tinggi terjadi pada beberapa karier demam tifoid. dan kemudian meningkat secara cepat dan mencapai puncak pada minggu keempat dan tetepa tinggi selama beberapa minggu. 10 .typhii. Pemeriksaan Penunjang Walaupun pada pemeriksaan darah perifer sering ditemukan leukopenia. Kultur darah positif dalam :     Minggu pertama  90% Minggu kedua  75% Minggu ketiga  60% Minggu keempat dan selanjutnya 25% Uji Widal Uji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap bakteri S. akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid. LED dapat meningkat. Pembentukan aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam. b.typhii dengan antibodi yang disebut aglutinin.

Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti makan. dan strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen. Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif) Penderita demam tifoid diberi bubur saring. Posisi pasien perlu diawasi untuk mencegah dekubitus dan pneumonia ortostatik.kemudian diikuti dengan aglutinin H. sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9-12 bulan. kemudian ditingkatkan menjadi bubur kasar dan akhirnya diberikan nasi. Pengobatan dengan antibiotik b. Gangguan pembentukan antibodi dan pemberian kortikosteroid c. Pemberian antimikroba  Kloramfenikol 11 . Waktu pengambilan darah d. c. serta menjaga pola kebersihan pasien b. Beberapa faktor yang memepengaruhi uji widal : a. BAB akan membantu dan mempercepat penyembuhan. Pada orang yang telah sembuh aglutinin O masih tetap dapat dijumpai setelah 4-6 bulan. Faktor teknik pemeriksaan antara laboratorium. Istirahat dan Perawatan Tirah baring dan perawatan profesional untuk mencegah komplikasi. mandi. BAK. Pemberian bubur saring tersebut ditujukan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna dan perforasi usus. Tatalakasana Demam Tifoid Penatalaksanaan Trilogi pelaksanaan demam tifoid : a. Riwayat vaksinasi f. 8. Daerah endemik dan non endemik e. akibat aglutinasi silang.

 Kotrimoksazol Efektivitas obat ini hampir sama dengan kloramfenikol. Diberikan sampai dengan 7 hari bebas panas. lebih cepat dan efektif dalam mengatasi demam tifoid dibandingkan first line drug sebelum-sebelumnya. diberikan selama 3-5 hari. dosis yang dianjurkan adalah antara 3-4 gr dalam dekstrosa 100cc diberikan selama setengah jam perinfus sekali sehari. Dosis yang diberikan adalah 4x500 mg perhari. ofloxacin.Di Indonesia kloramfenikol masih merupakan obat pilihan utama untuk demam tifoid. Golongan ini relatif murah. ditoleransi dengan baik.  Sepalosporin golongan ketiga Yang terbukti efektif untuk demamtifoi adalah ceftriaxone.  Golongan Fluorokuinolon Siprofloksasin dosis 2x500mg/hari selama 6 hari Ofloksasin dosis 2x400mg/hari selama 7 hari Norfloksasin dosis 2x400mg/hari selama 14 hari Fluorokuinolon telah diterima luas sebagai terapi yang optimal dalam demam tifoid. dosis yang dianjurkan berkisar antara 50-150 mg/kgBB dan digunakan selama 2 minggu.  Ampisilin dan Amoxisilin Kemampuan obat ini menurunkan demam lebih rendah dibandingkan dengan kloramfenikol. 15 5-7 Chloramphenicol Days Alternative Effective Drugs Antibiotic Daily Dose 50-75 14-21 Days 12 . dapat diberikan secara oral atau intravena. Optimal Therapy Susceptibility Antibiotic Daily Dose Fully Sensitive Fluoroquinolone e.g. Dosis untuk orang dewasa adalah 2x2 tablet (1 tablet mengandung sulfametoksazol 400mg dan 80mg trimetroprim) diberikan selama 2 minggu.

ciprofloxacin Amoxicillin TMP-SMX 75-100 8-40 8-10 15-20 20 14 14 7 7-14 7-14 Multidrug Resistance Fluoroquinolone or Cefixime 15 15-20 8-10 75 5-7 7-14 7 10-14 Azithromycin Cefixime Cefixime Quinolone Resistance Azithromycin or Ceftriaxone Komplikasi  Komplikasi Intestinal  Perdarahan Intestinal Perforasi usus Komplikasi Ekstra-Intestinal Komplikasi Hematologi : trombositopenia. Pengobatannya diberikan kombinasi kloramfenikol 4x400mg ditambah ampisilin 4x1gr dan deksametason 3x5mg Pencegahan Demam Tifoid 1. delirium. peningkatan protrambin time Hepatitis Tifosa : Pembengkakan hati ringan sampai sedang Pankreatitis Tifosa Miokarditis Tifoid Toksik : Terkadang gejala demam tifoid diikuti suatu sindrom klinis berupa gangguan atau penurunan kesadaran akut (apatis.typhii akut maupun karier Proteksi pada orang yang berisiko tinggi tertular dan terinfeksi a.Typhii pada pasien Tifoid Asimtomatik Karier dan Akut Pencegahan transmisi langsung dari penderita terinfeksi S. Daerah Non-Endemik 13 . somnolen. Preventif dan Kontrol Penularan Identifikasi dan Eradikasi S. sopor atau koma).

14 . Daerah Endemik Memasyarakatkan pengelolaan bahan makanan dan minuman yang memenuhi standar prosedur kesehatan Pengunjung ke daerah ini harus minum air yang telah melalui pendidihan.- Sanitasi air dan kebersihan lingkungan Penyaringan dan pengelola pembuatan/distibutor/penjualan makanan minuman Pencarian atau pengobatan kasus tifoid karier b. menjauhi makanan segar Vaksinasi menyeluruh pada masyarakata setempat maupun pengunjung.