You are on page 1of 8

Dewan Gereja Dunia Dukung Gereja Malaysia Menggunakan Kata Allah

Kris Hidayat Sabtu, 01 Maret 2014

World Council of Churches mendukung upaya banding Gereja Kat olik di Pengadilan Feder al pada t anggal 5 Maret, dalam mempertahankan penggunaan kata Allah. (Foto: themalaysianinsider.com)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM - Dewan Gereja Sedunia (World Council of Churches/WCC) menyatakan dukungannya untuk u paya banding atas keputusan pengadilan Malaysia pada Oktober 2013 yang melarang penggunaan kata 'Allah' oleh orang non-muslim di Malaysia. Sekjen WCC Rev. Dr. Olav Fykse Tveit mengatakan bahwa hal ini telah membahayakan bagi apa yang disebut 'nilai -nilai fundamental dan sejarah panjang multi -agama yang hidup berdampingan di Malaysia'. Olav Tveit berbagi keprihatinan ini dalam sebuah surat resmi kepada Rev. Dr. Hermen Shastri, sekretaris jenderal Dewan Gereja -gereja di Malaysia dan Uskup Agung John Ha Tiong Hock, Ketua Konferensi Waligereja Malaysia -Singapura-Brunei dalam suratnya pada tertanggal 27 Februari 2014. "Kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi semua orang, dan dialog antar -agama dan kerjasama antara komunitas agama, merupakan dasar penting untuk kohesi sosial," demikian kata Olav Tveit. Olav Tveit menegaskan bahwa orang Kriste n di negara-negara yang penduduknya beragama muslim mayoritas di seluruh dunia - termasuk di Malaysia itu sendiri, serta di negara-negara tetangga seperti Indonesia, telah menggunakan kata serapan "Allah" untuk menyebut Tuhan selama berabad-abad, seperti yang tercantum dalam surat sebelumnya untuk gereja -gereja Malaysia pada bulan Januari 2010. "Penggunaan bersama kata 'Allah' ini oleh Muslim dan Kristen sama -sama, telah berperan sebagai jembatan penting bagi dialog antar - agama ketika berbicara tentang ketuhanan," kata Olav Tveit.

Tveit menambahkan bahwa dalam dialog -dialog yang berlangsung antara Kristen dan Muslim di seluruh dunia dimana WCC terlibat, penggunaan kata 'Allah' tidak pernah diperebutkan. WCC menyatakan solidaritasnya dengan gereja -gereja di Malaysia, ketika mereka mengatasi masalah ini dan bekerja untuk "mengembalikan contoh masyarakat multi agama di Malaysia." Gereja Katolik Roma di Malaysia berencana mengajukan banding atas keputusan pengadilan dijadwalkan akan didengar pada tanggal 5 Mar et 2014. Dalam suratnya Tveit mengatakan kepada gereja -gereja, "Saya berdoa agar rencana banding dan argumen yang mendukung itu akan dapat diterima dengan baik di pengadilan, dan bahwa usaha Anda terus -menerus bersaksi untuk keadilan dan martabat manusia a kan berguna bagi keamanan masa depan bersama semua orang di Malaysia." Surat dari Sekjen WCC Rev. Dr. Olav Fykse Tveit 27 Februari 2014 Saudara-saudara dalam Kristus, Kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi semua orang, dan dialog antar -agama dan kerjasama antar komunitas agama, merupakan dasar penting untuk kohesi sosial dan martabat manusia dan hak -hak di semua negara. Karena itu World Council of Churches sangat prihatin dengan perkembangan terakhir yang membahayakan nilai nilai fundamental dan sejarah p anjang multi - agama ko-eksistensi di Malaysia. Pada Oktober 2013 keputusan Pengadilan Banding Malaysia telah melarang penggunaan kata "Allah" oleh non-Muslim adalah ekspresi simbol ysng menggsnggu perkembangan. Seperti yang saya sebutkan dalam surat saya p ada 13 Januari 2010 dimana mayoritas Kristen di negara -negara Muslim di seluruh dunia - termasuk di Malaysia itu sendiri, serta di negara tetangga Indonesia - telah menggunakan selama berabad-abad kata Arab "Allah" untuk menyebut Tuhan. Memang, penggunaan bersama kata ini oleh Muslim dan Kristen sudah sebagai jembatan penting bagi dialog antar-agama ketika berbicara tentang yang ilahi, dan dalam dialog yang sedang berlangsung antara Kristen dan Muslim di tingkat global di mana WCC telah terlibat, dimana pen ggunaan kata Allah tidak pernah diperebutkan. Sebagai anggota keluarga dari agama Ibrahim, Muslim dan Kristen berbagi kepercayaan umum dalam kesatuan Allah, dan benang teologis umum dari kasih Allah dan kasih kepada sesama telah menjadi pusat hubungan anta r-agama dalam masyarakat di mana agama ini hidup berdampingan. Sayangnya, pengakuan dari warisan bersama dan kebutuhan saat ini dikaburkan oleh preseden hukum dan wacana politik yang mengelilinginya. Saya berbagi keprihatinan seperti yang diungkapkan oleh Pelapor Khusus PBB tentang kebebasan beragama dan kepercayaan, Heiner Bielefeldt, bahwa kasus ini mungkin memiliki implikasi yang luas bagi agama minoritas di Malaysia. Oleh karena itu, saya menulis (ekspresi dari WCC) solidaritas dan dukungan Gereja' dalam upaya Anda untuk mengatasi tantangan ini dan untuk mengembalikan masyarakat multi - agama di Malaysia, melalui permohonan untuk mengajukan banding terhadap keputusan pengadilan, yang akan digelar pada tanggal 5 Maret. Resolusi konstruktif permasalahan ini akan menjadi penunjuk penting di sepanjang jalan 'ziarah keadilan dan perdamaian' kita di dunia yang lebih luas.

Saya berdoa agar permohonan dan argumen yang mendukung itu akan diterima pengadilan, dan bahwa usaha Anda dan saksi berkelanjutan untuk keadil an dan martabat manusia akan membantu mengamankan masa depan bersama seluruh Malaysia. Salam dalam kasih Kristus, Rev. Dr Olav Fykse Tveit Sekjen WCC

Umat Islam dan Kristen Malaysia Berebut Kata Allah


Yan Chrisna Dwi Atmaja Sunday, 05-January-2014

Umat Muslim memba wa spanduk selama prot es atas peng gunaan kat a Allah oleh gereja gereja Kat olik di Malaysia, di Kuala Langat Sabt u (4/1). Koalisi kelompok Melayu Muslim merencanakan unjuk rasa di G ereja Our Lad y of Lourdes di Klang pada Minggu (5/1) memprot es desakan Kristen menggunakan Allah dan memberika n memorandum unt uk mengekspresikan ketidakpuasan mereka. (F oto -f oto: dari t hemalaysiainsider.com)

Umat Kristen di Sara wak mengucapkan doa - doa khusus pada misa di gereja -gereja di Selangor. Jemaat gereja O ur Lady of Lourdes di Klang hari ini Minggu (5/ 1) tet ap menggunakan kata Allah. Menurut pastor paroki Michael Chua, orang harus bebas memili h bahasa mereka unt uk T uhan.

Kepala penghubung Selangor UMNO Datuk Seri Noh Omar (kemeja merah) berbicara di gedung UMNO di Shah Alam Sabt u (4/1) bah wa Selangor UMN O akan unjuk rasa di gereja di Klang pada Minggu (5/ 1). Datuk Seri Noh Omar mengecam Pastor La wr ence Andrew, edit or mingguan Katolik Herald. Dia mengatakan, Pastor La wrence, jangan kasar... Jika Anda ingin menunjukkan kepala besar, jangan t erkejut jika org anisasi non - pemerint ah Mela yu melakuka n mega demonstrasi.

Pimpinan organisasi Muslim Mohd Khairil Husin berbicara kepada wa rta wan pada Minggu (5/1), memperingatkan bah wa akan ada protes besar jika Past or Andre w, t idak memint a maaf atas pernyat aann ya bahw a gereja- gereja Kat olik di Selangor akan t etap menggunakan kat a Allah.

Pastor La wrence Andrew memberi salam pada jemaat gereja di Port Klang, Selangor pa da misa pekan pert ama t ahun 2014 pada Minggu (5/ 1) pagi. Dia mengat akan pada jemaat untuk mengabaikan rasa takut atas insiden baru - baru ini yang mempengaruhi orang - orang Kristen di Malaysia.

Aktivis sosial Datin Paduka Marina Mahathir datang bersama kelompok Sisters in Islam (SIS) memberi dukungan pada jemaat di gereja Our Lady of Lourdes di Klang pada Minggu (5/1).

Jemaat gereja Kat olik O ur Lady of Lourdes Klang mendapat dukungan aktivis sosial Datin Paduka Marina Mahathir, yang memba wa bunga dan memberikan dukungan moral. Marin a adalah anak sulung mantan Perdana Ment eri Malaysia Dr. Mahat hir Muhamad.

MALAYSIA, SATUHARAPAN.COM - Penggerebekan kantor Bible Society of Malaysia (BSM) di Selangor yang disertai penyitaan Alkitab dan menahan pimpinan BSM menimbulkan aksi protes dari umat Kristen Malaysia dan umat Muslim. Umat Kristen tidak dapat mener ima alasan penyitaan sedangkan umat Muslim bersikukuh demi menjaga kemurnian agama Islam.

Pada Kamis (2/1) Jabatan Agama Islam Selangor (Jais) Malaysia mendatangi kantor BSM menyita 300an Alkitab yang berisi kata Allah dan menahan dua pimpinan BSM, Lee Min Choon dan stafnya Simon Wong.

Jais menuduh BSM melanggar dekrit yang dikeluarkan oleh Sultan Selangor yang melarang non Muslim menggunakan kata Allah dalam Alkitab Bahasa Malaysia dan melanggar keputusan pengadilan banding dengan menerbitkan Alkitab d alam Bahasa Malaysia.

Pengadilan banding Malaysia pada 14 Oktober menyatakan bahwa mingguan Herald milik Katolik Malaysia tidak boleh menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan.

Editor mingguan Herald, Pastor Lawrence Andrew menanggapi keputusan bandi ng itu, dia mengatakan keputusan itu cacat hukum dan bera rgumen bahwa kata "Allah" telah digunakan secara luas dalam Alkitab Bahasa Melayu selama beberapa dekade tanpa kesulitan.