You are on page 1of 30

BAB I PENDAHULUAN

Cedera kepala tertutup

(Closed Head Injury) mempunyai insidensi yang

masih sangat tinggi, di Amerika pada tahun 2003 didapatkan 570.000 kasus cedera kepala per tahun dan merupakan 40% dari seluruh kematian akibat cedera akut. Di Eropa 91 dari 100.000 penduduk per tahun dirawat di Rumah Sakit (RS) dengan cedera kepala. Di Spanyol pada tahun 1988 terdapat 313 dari 100.000 penduduk. Di China melalui survey door to door tahun 1983 didapatkan angka 56 per 100.000 penduduk per tahun. Di Negara-negara berkembang berkisar antara 200-300/100.000 populasi per tahun.1,2,3,4 Data dari Traumatic Coma Data Bank (TCDB) didapatkan bahwa kematian akibat cedera kepala lebih kurang 17 per 100.000 orang pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit, dan lebih kurang 6 per 100.000 orang pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Cedera primer otak berupa hematoma subdural sekitar 20-40% 1,2,5,6 Adanya massa intrakranial menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan intrakranial (TIK).4,7,8 Kenaikan TIK ini dapat mengakibatkan pengurangan suplai darah ke otak yang akan mengakibatkan serangkaian iskemia sehingga akan terjadi kerusakan otak. Monitoring terjadinya iskemia otak sangat diperlukan, sampai saat ini belum ada yang paling tepat, beberapa prosedur monitoring iskemia otak dengan pengukuran TIK dengan menggunakan kateter intraventrikuler selain mahal, tidak praktis juga invasif.9 Saat ini berkembang pengukuran iskemia otak dengan biomarker plasma darah. Pengukuran salah satu biomarker iskemia otak yang Intracranial Space

Occupying Lession yaitu hematoma, baik hematoma epidural (EDH) maupun

terakhir ditemukan adalah Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP). GFAP ini telah diuji dan didapatkan kadar yang lebih tinggi dari konsentrasi plasma biomarker yang telah ada yaitu protein S-100β, . pada keadaan otak yang mengalami iskemia.10

1

BAB II LAPORAN KASUS

2.1

Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Alamat Bangsa : An. Siti Wisa Marselaha : 7 tahun : Perempuan : : Jambi : Indonesia

2.2

Anamnesis

2.2.1 Keluhan utama Sakit Kepala

2.2.2 Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang Sehari sebelumnya Os mengalami kecelakaan lalu lintas. Dari anamnesis didapatkan bahwa Os merasakan mual (+) dan muntah (+) sehari setelah kejadian, Riw. pingsan (+), Os juga mengeluh penglihatannya menjadi kabur untuk mata kiri dan akhirnya dibawa ke UGD RSUD Raden Mattaher.

2.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu Tidak ada riwayat alergi, sesak, asma batuk, penyakit hipertensi, dyspepsia, DM maupun vertigo.

2.2.4 Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Tidak ada riwayat alergi, sesak, asma batuk, penyakit hipertensi, dyspepsia, DM maupun vertigo dalam keluarga.

2

2.3

Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Tampak sakit sedang : Tampak somnolen, GCS 10 : Tekanan darah Nadi Respiratory Rate Suhu Kepala 130/90 mmHg (N=120/80 mmhg) 48 x/menit (N=80-100 x/menit) 14 x/menit (N=18-24x/menit) 36,2C (N=36,6-37,2C)

: Didapatkan adanya bengkak pada regio temporoparietal kiri dengan ukuran kira-kira panjang 4 cm dan lebar 1 cm

Mata

: Pupil anisokor/ka 2 mm-ki 2,5 mm, Refleks cahaya (+/+), sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-)

Telinga Hidung Tenggorokan Leher Thoraks

: Bentuk normal, deformitas (-), sekret (-) : Bentuk normal, deformitas (-), sekret (-) : Hiperemis (-), pembesaran tonsil (-) : Pembesaran KGB (-), tiroid dbn : Paru Inspeksi Palpasi Perkusi => Simetris, retraksi (-), sikatriks (-) => nyeri tekan (-) => Sonor

Auskultasi => vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-) Jantung Inspeksi => Ictus cordis tampak di ICS 5 linea midclavicularis sinistra Palpasi => Ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra, lebar 1 jari

3

tidak ada kelainan kulit Auskultasi => BU (+) normal Palpasi Perkusi Ekstremitas : Superior => nyeri tekan (-). akral dingin.Perkusi => batas jantung tidak melebar. hepar dan lien tidak teraba => Timpani (+) => Edema (-). sianosis (-). jari tabuh (-) Inferior => Edema (-). sianosis (-). akral dingin. bising (-) Abdomen : Inspeksi => supel. batas jantung kiri ICS 5 di linea midclavicularis sinistra Auskultasi => S1 dan S2 normal. batas jantung kanan di ICS 5 linea sternalis sinistra. simetris. iram regular. jari tabuh (-) 4 .

4 Pemeriksaan Penunjang 2.2.4.1 Pemeriksaan CT-Scan kepala CT-Scan Kepala tanpa kontras 5 .

CT-Scan Kepala CT-Scan tulang tengkorak 6 .

2. Trombosit. hipovolemi. Ht.6 Penatalaksanaan Untuk persiapan operasi Craniotomy: 1. b. Lakukan pemeriksaan Laboratorium seperti Hb. posisi leher netral tdk hiperflexy c. KGDad. Operasi untuk : a.Cl. PT/APTT/TT/INR. Leukosit. Perdarahan : Hindari hemodilusi. ETT bebas. Pertahankan MAP > 60 mmHg d. Posisi head up 40 derajat. Na/K. 3.Ekspertise : CT-Scan kepala dengan dan tanpa kontras o o o o o o o Tampak lesi hiperdens bikonveks pada regio temporoparietal sinistra Tampak Subgaleal hematom dibawah kulit region temporoparietal sinistra Midline struktur tidak tampak bergeser ke kontra lateral Grey and white matter diferensiasi baik Sulci dan system ventrikel tidak menyempit Tidak tampak diskontinuitas patologis/fraktur pada tulang tengkorak Mastoid air cell dan Sinus Para Nasal jelas Kesan : Epidural Hematom dan subgaleal dengan volume kira-kira 4 cc di lobus temporo-parietal sinistra Usul : Lakukan rontgen thorax dan pemeriksaan labor untuk persiapan operasi 2. sedia darah 7 .5 Diagnosa Kerja Hematoma Epidural (EDH) dan subgaleal dengan volume kira-kira 4 cc di lobus temporo-parietal sinistra 2. Mengeluarkan darah yang terperangkap dalam epidural dan menurunkan TIK. Monitoring ventilasi dgn pulse oximetri dan AGDA e. Lakukan pemeriksaan X foto Thorax.

AGDA.0 cuff (+) i. Bed rest . Diet MB e. Ketorolac 30 mg/8jam (IV) g. O2 nasal canul 2 L/i c. SP ka = ki – Fiksasi j. Inj. Inj. Lidocain 60 mg e. Fentanyl 100 ug d. nj. Inj. Inj Fentanyl 50 ug/30 – 45 menit (maintenance) Terapi Post op di Pasca Bedah : a. f. Intubasi ETT no 5. Inj. Cek Darah Rutin. Roculax 40 mg – Sleep apnoe h. Head up 400 b. Inhalasi Anestesi Sevofluran 1 %. Infeksi Antibiotik Adekuat b. O2 : Air = 2 L/I : 2 L/i k. Post operasi : a.4. Inj. IVFD R Sol15 gtt/menit d. Ceftriaxone 1 gr/12 jam (IV) h. Oksigenasi 8 l/i f. Propofol 100 mg – Sleep non apnoe g. KGD ad random /jam via syringe pump 8 . Roculax 10 mg/20 menit (maintenance) l. Elektrolit. Head up 400 b. Midazolam 5 mg c. Nyeri  Analgetik Adekuat Teknik anestesi : a.

terutama arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara duramater dan tulang di permukaan dalam os temporale. Lucid interval (+) 2. Babinsky (+) kontralateral lesi 6. Kesadaran makin menurun 3. Tanda Diagnostik Klinik Epidural Hematoma : 1. Fraktur tulang kepala dapat merobek pembuluh darah. Pupil anisokor 5. Prognosis epidural hematoma biasanya baik.2. 9 .7 Kesimpulan Epidural hematoma adalah perdarahan akut pada lokasi epidural. Fraktur daerah temporal Diagnosis epidural hematoma didasarkan gejala klinis serta pemeriksaan penunjang seperti foto Rontgen kepala dan CT scan kepala.32%. Mortalitas pasien dengan epidural hematoma yang telah dievakuasi mulai dari 16% . Late hemiparese kontralateral lesi 4.

1 Anatomi Kepala 10 .BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.

Fosa anterior adalah tempat lobus frontalis. Perikranium Jaringan penunjang longgar memisahkan galea aponeurotika dari perikranium dan merupakan tempat tertimbunnya darah (hematoma subgaleal). Kalvaria khususnya di regio temporal sangat tipis. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar 5.1. 3. 11 . fosa media adalah tempat lobus temporalis dan fosa posterior adalah ruang untuk bagian bawah batang otak dan serebelum.3. fosa media dan fosa posterior. Kulit kepala banyak memiliki pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan akibat laserasi kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan darah.2 Tulang Tengkorak Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii.1. namun disini dilapisi oleh otot temporalis. Skin atau kulit 2.1 Kulit Kepala Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP yaitu : 1. terutama pada bayi dan anak-anak. Aponeuresis atau galea aponeurotika 4. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior. Connective tissue atau jaringan penyambung 3. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi.

Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dapat menyebabkan perdarahan epidural.3 Meningen Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu : dura mater. Karena tidak melekat pada selaput arakhnoid di bawahnya. Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural).1. terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dari cranium.3. Dura mater adalah selaput yang keras. Cairan serebrospinal bersirkulasi dalam ruang subarachnoid. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media). dimana sering dijumpai perdarahan subdural. 12 . arakhnoid. Dibawah dura mater terdapat lapisan kedua dari meningen yang tipis dan tembus pandang disebut selaput arakhnoid. Lapisan ketiga adalah pia mater yang melekat erat pada permukaan korteks serebri. dan pia mater. maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdural) yang terletak antara dura mater dan arakhnoid.

13 . serebelum dan batang otak. lobus temporal kiri bertanggung jawab dalam kemampuan penerimaan rangsang dam integrasi bicara. dan juga pada lebih dari 85% orang kidal. fungsi motorik dan pada sisi dominan mengandung pusat ekspresi bicara (area bicara motorik). Pada semua orang yang bekerja dengan tangan kanan dan sebagian besar orang kidal.1.3. Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dipisahkan oleh falks serebri. yaitu lipatan dura mater dari sisi inferior sinus sagitalis superior. Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses penglihatan.4 Otak Otak manusia terdiri darii serebrum. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Hemisfer otak yang mengandung pusat bicara sering disebut sebagai hemisfer dominan. Pada hemisfer serebri kiri terdapat pusat bicara manusia yang bekerja dengan tangan kanan. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu.

CSS mengalir dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III akuaduktus dari Sylvius menuju ventrikel IV. Adanya darah dalam CSS dan menyebabkan kenaikan tekanan intrakranial (hidrosefalus komunikans pasca trauma) 14 .1. CSS akan di reabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior.3.5 Cairan Serebrospinal Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh pleksus khoroideus (terletak di atap ventrikel) dengan kecepatan produksi sebanyak 20ml/jam. Selanjutnya CSS keluar dari sistim ventrikel dan masuk ke dalam ruang subarachnoid yang berada diseluruh permukaan otak dan medulaa spinalis.

Serabut-serabut parasimpatik yang berfungsi melakukan konstriksi pupil mata berjalan pada sepanjang permukaan nervus okulomotorius. umumnya di akibatkan oleh adanya massa supratentorial atau edema otak. dan saraf ini dapat tertekan bila terjadi herniasi lobus temporal. 15 .6 Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior).3. Mesensefalon (midbrain) menghubungkan hemisfer serebri dengan baatang otak (pons dan medulla oblongata) dan berjalan melalui celah lebar tentorium serebeli yang disebut incisura tentorial. Paralisis serabut-serabut ini yang disebabkan oleh penekanan nervus III akan mengakibatkan dilatasi pupil oleh karena tidak adanya hambatan aktivitas serabut simpatik.1. Nervus okulomotorius (Nervus III) berjalan di sepanjang tepi tentorium.

2.2 Doktrin Monro-Kellie Adalah suatu konsep sederhana yang dapat menerangkan pengertian dinamika TIK.2. tidak mungkin mekar. TIK normal pada keadaan istirahat sebesar 10 mmhg.3. TIK lebih tinggi dari 20 mmhg. terutama bila menetap.1 Tekanan Intrakranial Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat menyebabkan kenaikan tekanan intracranial (TIK). Kenaikan TIK dapat menurunkan perfusi otak dan menyebabkan atau memperberat iskemia. TIK secara cepat akan meningkat. Segera setelah trauma. Hal ini jelas karena rongga cranium pada dasarnya merupakan rongga yang rigid.2 Fisiologi 3. Saat pengaliran CSS dan darah intravascular mencapai titik dekompensasi. 3. berhubungan langsung dengan hasil akhir yang buruk. Konsep utamanya adalah bahwa volume intracranial harus selalu konstan. massa seperti gumpalan darah dapat terus bertambah sementara TIK masih dalam batas normal. 16 .

Cedera otak berat sampai koma dapat menurunkan 50% dari ADO dalam 6-12 jam pertama sejak trauma. dan hipokapnia sebagai akibat hiperventilasi agresif yang kita lakukan. semua tindakan ditujukan untuk meningkatkan aliran darah dan perfusi otak dengan cara menurunkan TIK. Oleh karena itu. CPP sebesar 50-150 mmHg diperlukan untuk memelihara aliran darah otak tetap konstan (autoregulasi tekanan).3. tetapi pada penderita yang tetap koma. Terdapat bukti bahwa ADO yang rendah tidak dapat mencukupi kebutuhan metabolisme otak segera setelah trauma. ADO biasanya akan meningkat dalam 2-3 hari sebelumnya. sehingga akan mengakibatkan iskemi otak fokal ataupun menyeluruh. memelihara kecukupan volume intrakranial. mempertahankan tekanan darah arteri rata-rata (MAP= Mean Arterial Blood Pressure) dan memperbaiki oksigenasi serta mengusahakan normokapnia. Konsekuensinya. yang secara klinis didefinisikan sebagai tekanan darah arteri rata-rata dikurangi tekanan intracranial.3 Aliran Darah ke Otak (ADO) ADO normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100 gr per menit.2. dan secara gradual akan menurun sebesar ADO dewasa saat mencapai pertengahan sampai akhir masa remaja. ADO tetap dibawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah trauma. Pada usia 1 tahun ADO hamper sebesar dewasa. Keadaan iskemi awal tersebut akan dengan mudah diperberat oleh adanya hipotensi. Pada anak. 17 . ADO bias lebih besar bergantung pada usianya. hipoksia. Pembuluh darah prekapiler normal memiliki kemampuan untuk berkonstriksi ataupun dilatasi sebagai respon terhadap perfusi otak/TPO (CPP= Cerebral perfusion pressure). tapi pada usia 5 tahun ADO bisa mencapai 90 ml/100gr/menit. otak yang cedera akan mengalami iskemia dan infark sehubungan dengan penurunan ADO sebagai akibat cedera itu sendiri.

terutama pada pasien yang mengalami hipotensi.Perdarahan dan lesi lain yang meningkatkan volume intrakranial harus segera dievakuasi. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang. keadaan inlah yang di kenal dengan sebutan epidural hematom. maka perfusi otak akan terganggu. Fungsinya untuk melindungi otak. sehingga menimbulkan perdarahan. dan kemudian peningkatan TIK yang menetap dan mengakibatkan kematian. Otak juga di kelilingi oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang di sebut dura. Sekali mekanisme kompensasi terlewati dan terdapat peningkatan eksponensial TIK. Venous epidural hematom berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan.3 Definisi Epidural Hematoma (EDH) Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak. pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura. Otak di tutupi olek tulang tengkorak yang kaku dan keras. menutupi sinussinus vena. dan membentuk periosteum tabula interna. dan pembengkakan jaringan otak. Proses patofisiologi tersebut ditandai oleh proses inflamasi progresif. Akhirnya akan berkontribusi pada terjadinya cedera sekunder yang dapat terjadi pada jaringan otak yang masih bertahan pada beberapa hari pertama setelah cedera otak berat. 18 . Mempertahankan tekanan perfusi otak diatas 60 mmHg sangat membantu untuk memperbaiki ADO (namun tekanan yang sangat tinggi dapat memperburuk keadaan paru-paru). permeabilitas pembuluh darah. 3. ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak. Arterial hematom terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal.15 Epidural hematom sebagai keadaan neurologist yang bersifat emergency dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang lebih besar.

Sekitar 60 % penderita hematoma epidural adalah berusia dibawah 20 tahun. Chronic hematoma (11%) perdarahan dari vena 3. Orang yang beresiko mengalami EDH adalah orang tua yang memiliki masalah berjalan dan sering jatuh. bila terjadi perdarahan arteri maka hematom akan cepat terjadi.Perdarahan masuk ke dalam ruang epidural. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan perbandingan 4:1. dan jarang terjadi pada umur kurang dari 2 tahun dan di atas 60 tahun. Epidural hematoma akut (58%) perdarahan dari arteri 2.tipe : 1. 3. 2% dari kasus trauma kepala mengakibatkan hematoma epidural dan sekitar 10% mengakibatkan koma. Secara Internasional frekuensi kejadian hematoma epidural hampir sama dengan angka kejadian di Amerika Serikat. Tipe. terutama arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara duramater dan tulang di permukaan dalam os temporal. 19 . Angka kematian meningkat pada pasien yang berusia kurang dari 5 tahun dan lebih dari 55 tahun. Subacute hematoma (31%) 3.5 Etiologi Hematoma Epidural (EDH) Kebanyakan hematoma epidural ini disebabkan oleh adanya fraktur tulang kepala yang dapat merobek pembuluh darah.4 Insiden dan Epidemiologi Di Amerika Serikat.

Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media robek.1 Dengan makin membesarnya hematoma. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. menyebabkan tekanan intracranial yang besar. Ketika kepala terbanting atau terbentur mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale. Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan. maka darah akan terpompa terus keluar hingga makin lama makin besar. refleks hiperaktif atau sangat cepat. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis. Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini. maka seluruh isi otak akan terdorong kearah yang berlawanan. perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan dura meter.1 Karena perdarahan ini berasal dari arteri. Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural. dan tanda babinski positif.3. Di tempat ini terdapat nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau oksipital. menyebabkan kelemahan respons motorik kontralateral. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di daerah bersangkutan. 20 .8 Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak kearah bawah dan dalam.6 Patofisiologi EDH Pada hematom epidural. desakan oleh hematoma akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar.1 Tekanan dari herniasi unkus pda sirkulasi arteria yang mengurus formation retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata.

Duramater (3). diploica dan vena diploica Hematom epidural akibat perdarahan arteri meningea media. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya hamper selalu berat atau epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar.Dalam waktu beberapa jam. kemudian kesadaran berangsur menurun.8 Os Temporale (1). Hematom Epidural (2).8 Sumber perdarahan :8  Artery meningea ( lucid interval : 2 – 3 jam )  Sinus duramatis  Diploe (lubang yang mengisis kalvaria kranii) yang berisi a. Fenomena lucid interval terjadi karena cedera primer yang ringan pada Epidural hematom. Otak terdorong kesisi lain (4) 21 . penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat.terletak antara duramater dan lamina interna tulang pelipis. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan di sebut interval lucid.

Sering juga tampak cairan yang keluar pada saluran hidung atau telinga. Banyak gejala yang muncul bersaman pada saat terjadi cedera kepala. Pasien dengan kondisi seperti ini seringkali tampak memar di sekitar mata dan di belakang telinga.8. 22 . Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala yang mengeluh nyeri kepala yang berlangsung lama. Mual Pusing Berkeringat Pucat Pupil anisokor. bisa sampai koma Bingung Penglihatan kabur Susah bicara Nyeri kepala yang hebat Keluar cairan darah dari hidung atau telinga Nampak luka yang adalam atau goresan pada kulit kepala.7 Gambaran Klinis Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran menurun secara progresif.3 Setiap orang memiliki kumpulan gejala yang bermacam-macam akibat dari cedera kepala.10 3. Pasien seperti ini harus di observasi dengan teliti. harus segera di rawat dan diperiksa dengan teliti.8             Penurunan kesadaran.Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah saraf karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada sutura sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah herniasi trans dan infra tentorial. yaitu pupil ipsilateral menjadi melebar. Gejala yang sering tampak : 3. apalagi progresif memberat.

Dengan proyeksi Antero-Posterior (A-P).8.10 Fraktur impresi dan linier pada tulang parietal.11 Gejala-gejala respirasi yang bisa timbul berikutnya.7 23 . frontal dan temporal. pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya pada permulaan masih positif menjadi negatif.11 3. Jika Epidural hematom di sertai dengan cedera otak seperti memar otak. interval bebas tidak akan terlihat. Pada tahap akhir. Foto polos Pada foto polos kepala. bisa dijumpai hemiparese atau serangan epilepsi fokal. lateral dengan sisi yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya fraktur tulang yang memotong sulcus arteria meningea media. Inilah tanda sudah terjadi herniasi tentorial.Pada tahap kesadaran sebelum stupor atau koma. sedangkan gejala dan tanda lainnya menjadi kabur. pupil kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian. mencerminkan adanya disfungsi rostrocaudal batang otak. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan bradikardi.8.8 Pemeriksaan Penunjang a. Pada perjalannya. kesadaran menurun sampai koma dalam. kita tidak dapat mendiagnosa pasti sebagai epidural hematoma.

dan potensi cedara intracranial lainnya. volume.9 24 .16 Gambar 1. Densitas darah yang homogen (hiperdens). Densitas yang tinggi pada stage yang akut (60 – 90 HU). Gambaran CT-Scan Hematoma Epidural di Lobus Fronal kanan.8. berbentuk bikonfeks.6.b. midline terdorong ke sisi kontralateral. Terdapat pula garis fraktur pada area epidural hematoma. efek.9 Gambar 2. berbatas tegas. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral). Gambaran CT-Scan fraktur tulang frontal kanan di anterior sutura coronalis. CT Scan Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi. ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah. paling sering di daerah temporoparietal.

4 3. tampak penumpukan cairan ekstraaksial yang hiperdens berbentuk bulan sabit.9. berada diantara tulang tengkorak dan duramater.9 Diagnosa Banding a. Biasanya di sertai dengan perdarahan jaringan otak. MRI MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang menggeser posisi duramater. Gambaran MRI Hematoma Epidural. MRI merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis. Bisa di sebabkan oleh trauma hebat pada kepala yang menyebabkan bergesernya seluruh parenkim otak mengenai tulang sehingga merusak a. MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi.16 Gambar 3. Hematoma subdural Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara dura mater dan arachnoid. Secara klinis hematoma subdural akut sukar dibedakan dengan hematoma epidural yang berkembang lambat.10. Gambaran CT-Scan hematoma subdural.10 25 .c. kortikalis.

Hematoma Subarachnoid Perdarahan subarakhnoid terjadi karena robeknya pembuluh-pembuluh darah di dalamnya. 4 26 .10 Kepala panah menunjukkan hematoma subarachnoid. panah hitam menunjukkan hematoma subdural dan panah putih menunjukkan pergeseran garis tengah ke kanan.Hematoma Subdural Akut 4 b.

Barbiturat dapat dipakai unuk mengatasi tekanan inrakranial yang meninggi dan mempunyai efek protektif terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa diterapkan adalah diawali dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/ kgBB setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam unuk mencapai kadar serum 3-4mg%.3. Trihidroksimetil-amino-metana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat masuk ke susunan saraf pusat dan secara teoritis lebih superior dari natrium bikarbonat. dalam hal ini untuk mengurangi tekanan intracranial. Dianjurkan untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic dan untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin.8 27 . Terapi medikamentosa Elevasi kepala 300 dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal atau gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan intracranial dan meningkakan drainase vena. mannitol 20% (dosis 1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana yang terbaik. Penanganan darurat :   Dekompresi dengan trepanasi sederhana Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom b.9 Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan dexametason (dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam).10 Penatalaksanaan EDH a.

c. Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif. Terapi Operatif Operasi di lakukan bila terdapat : 15    Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml) Keadaan pasien memburuk Pendorongan garis tengah > 3 mm Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsional saving. Biasanya keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi desak ruang. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi operasi emergenci. 28 .8 Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume :       > 25 cc  desak ruang supra tentorial > 10 cc  desak ruang infratentorial > 5 cc  desak ruang thalamus Sedangakan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan : Penurunan klinis Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif.

karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi. Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum operasi.14 29 . Jika ditangani dengan cepat.11 Prognosis EDH Prognosis tergantung pada :8    Lokasinya (infratentorial lebih jelek) Besarnya Kesadaran saat masuk kamar operasi.2. Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus.3. prognosis hematoma epidural biasanya baik.

30 .