P. 1
Jawaban Terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali Oleh Dokter Muslim

Jawaban Terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali Oleh Dokter Muslim

|Views: 2|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Mar 24, 2014
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2014

pdf

text

original

24/3/2014

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim | henny zainal

henny zainal
"Its All About Informed Choice"

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim
Posted on Oktober 1 7 , 201 1

6

T a h n ik seba g a i im u n isa si A la m i V S V a k sin a si Moder n

Bismillah. Assalamu’alay kum wa rahmatullah. Perdebatan pro – kontra v aksin sepertiny a kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin bany ak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari v aksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK V AKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra v aksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahay a v aksin dan dari segi halal/haramny a produk y ang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentuny a wajar sekali jika isu halal/tidakny a menjadi perhatian khusus para orangtua. Dan hal tersebut pula y ang say a kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen v aksin lokal. Dimana sepengetahuan say a bahwa dalam menentukan halal/tidakny a sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun terny ata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini say a peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi y ang diselenggarakan oleh majalah Ay ahbunda di Jakarta. Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakanny a PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi y ang memojokkan pihak kontra v aksinasi melalui sebuah blog.
http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/ 1/7

24/3/2014

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim | henny zainal

Uraian ini bukan untuk meny udutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak v aksinasi. Say a akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini. Dari sebuah blog y ang say a baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1 001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 1 7 8. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes” Dalam hati, sejujurny a say a terkagum-kagum bahwa begitu hebatny a ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata y ang menarik perhatian say a adalah “ENGRAFTING”. Say a memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ay ah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering say a dengar sejak beranjak remaja. Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainy a. Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka say a telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar say a bahwa ilmu y ang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting. Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut y ah. “Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1 689- 1 7 62), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membaw a system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu. Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: w w w /.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-w ortleymontagucontributor-public-health Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut: “Lady Mary Wortley Montagu w as a pretty girl until she had smallpox at age 26 and w as left w ith many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And w e should remember that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact w as not exactly w hat it w ould be if someone today had the same appearance.) With her husband, w ho w as the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to w hat w as then part of the Ottoman Empire. She w atched w ith interest as Turkish w omen carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks w aited until cool fall
http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/ 2/7

24/3/2014

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim | henny zainal

w eather came after the heat of the summer w as over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person w ho had become infected w ith smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her ow n young son inoculated, accepting the fact that a small number of children w ere harmed by the inoculation, and he recovered w ell— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship w ith the then Princess of Wales, later Queen Caroline, w as a great support to her w ork (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had few er boyfriends, w ho didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public w as prepared to pay attention 30 years later w hen Edw ard Jenner published his evidence about smallpox vaccination.” Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka say a telusuri lebih jauh tentang smallpox , Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirny a membuat say a menemukan link inihttp://www.ncbi.nlm.nih.gov /pmc/articles/PMC1 200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu v aksin cacar air/smallpox . Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat key akinan say a bahwa v aksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahay a tidak hany a bagi orangtua namun juga bagi bay i dan anakanak. Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip v aksinasi alamiah y ang masy arakat lakukan terhadap campak. Tentuny a ay ah bunda pernah mendengar anjuran bany ak pihak bahwa jika ada y ang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap peny akit tersebut dengan sendiriny a. Nah ASHI, memang memaparkan peny akit terhadap orang sehat dengan cara melakukan say atan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamny a. Mirip namun tak sama. Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masy arakat pada link ini eurpub.ox fordjournals.org/content/1 8/4/353.full Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah key akinan say a tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa v aksin modern y ang dipergunakan saat ini memang berbahay a. Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip v aksinasiny a. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia y ang berbahay a didalam v aksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan v aksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/v irus. Bagaimanapun dalam hati kecil say a saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahay a. Dan itu TERBUKTI.
http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/ 3/7

24/3/2014

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim | henny zainal

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium y ang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis y ang digunakan tentuny a disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bay i y ang dilakukan berulang kali? Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini : - http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuv ants-cause-cell-death-andrelease-of-host-cell-dna/ - http://www.sciencedaily .com/releases/201 1 /07 /1 1 07 1 7 20491 0.htm - http://www.nature.com/nm/journal/v 1 7 /n8/full/nm.2403.html - http://www.ncbi.nlm.nih.gov /m/pubmed/21 568886/ Link diatas hany alah mengenai fakta akan bahay a garam alumunium y ang digunakan sebagai bahan adjuv ant di SEMUA v aksin. Untuk bahan v aksin lainny a, silakan ay ah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri y aahh.. Mari dilanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung. Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV , yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK. *menurut penuturan seorang guru ngaji bahw a kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*” Mengenai v aksin meningitis, ay ah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 1 4 Oktober 201 1 . V aksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua v aksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut say a dalam mencari sebuah informasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang y ang ilmuny a terbatas. Alhamdulillah informasi ini say a dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak y ang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI. Kalimat terakhir y ang mendorong say a untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah perny ataan bahwa seseorang y ang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian“apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.” Buat say a, seorang dokter atau bukan – ia puny a kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar
http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/ 4/7

24/3/2014

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim | henny zainal

dan sebagainy a bukan jaminan bahwa indiv idu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci y ang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alay hi wa salam meny uruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungny a, dimana apapun perkataan seseorang y ang dianggap pintar langsung dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi y ang say a terima justru berasal dari sosok-sosok y ang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasy im dari LP POM MUI. Kritikan tajam say a tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahw asanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.” Sebagai seorang dokter, say a memahami dengan baik bahwa jika kuman y ang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan day a tahan tubuh y ang menurun maka kuman/v irus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh y ang menerima v aksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah y ang berjalan-jalan membawa bahan peny akit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainny a y ang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibuny a memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alay hi wasalam? Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang kary awan Biofarma bahwa peny impanan v aksin tersebut di beberapa wilay ah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan v aksin rusak atau terkontaminasi sangat besar. Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh: ّ “ ‫َا‬ ‫ﻪ ﻠﻟ‬ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahw a imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?” Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal y ang say a ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali y ang dilakukanny a adalah MEY AKINI AY AT-AY AT ALLAH dan RASULNY A. Selanjutny a baru kewajiban untuk mengkaji dan telaah. Say a dan barisan orangtua kontra v aksin kimia telah memilih ASI sebagai v aksin alami, karena kami mey akini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ay at tersebut kami kaji lebih jauh. Say a pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk mey akini bahwa inilah maksud dari ay at Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah V AKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia y ang lahir di muka bumi. Bukti ilmiahny a apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan v aksin polio – beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan y ang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum. http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1 /1 05.full.pdf+html
http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/ 5/7

24/3/2014

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim | henny zainal

Pada bagian akhir penulis meny ampaikan, “Silahkan menilai dan menjaw ab sendiri yaaaa” Maka say a menjawab, “Betul sekali. Mari silakan menilai, megkaji dan menjawab sendiri. Kebenaran hany alah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri say a sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahay a kebenaran. Semoga ay ah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti say a dalam mey akini kebenaran tersebut.” Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun bahan kimia didalam v aksin tersebutlah y ang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO V ACCINE”.

Beri rating:
41 1
Mem uat...

79

Rate This

Relat ed

GERAKAN PEDULI ASI In "Dunia Laktasi"

Kesabaran dalam Perjalanan Panjang nan Berliku In "Catatan Hidupku"
Ditandai: ashi, bahaya vaksin, engrafting, vakksin Posted in: Dunia Laktasi

Tips Pemberian ASI Bagi Wanita Bekerja In "Dunia Sehat"

← 1 0 Kekeliruan Dalam Komunikasi

6 Responses “Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim” →
Alhamdulillah…semakin mendpat pencerahan tentang imunisasi sholichin
Ok t ober 2 7 , 2 01 1

Balas Alhamdulillah jika menjadi manfaat Semoga semakin bany ak bay i dan anak y g bisa diselamatkan dr bahay any a v aksin ini

http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/

6/7

24/3/2014

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim | henny zainal

Henny Zainal
Nov em ber 2 , 2 01 1

Balas

Alhamdulillah ^__^ Henny Zainal
Nov em ber 2 , 2 01 1

Balas trims infony a sgt brmnfaat krn mmg sy jg sdg mncri2 informasi mngenai v aksin & imunisasi tp stlh mmbca ini smua,insy aallah sy pun stju dan akan brkata ” No v accination for our baby ”

fetrisia
Nov em ber 2 , 2 01 1

Balas Alhamdulillah.. Sehatkan anak kita cukup dg menggunakan bahan alami dan sehat ^__^

Henny Zainal
Nov em ber 2 , 2 01 1

Balas

1 Trackback For This Post
Seminar IMUN is ASI « Metode Terpadu Pembentukan Karakter Unggulan Sejak Dini →
Desem ber 2 1 st , 2 0 1 1 → 1 0 :2 4 A M

[...] 2. Tanggapan atas link nomor 1 ( kontra imunisasi ) [...]

http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/

7/7

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->