1

Edisi Ke 1 Maret 2014







Buku Panduan Clinical Skill Laboratory
CSL SEMESTER 6



Fakultas Kedokteran Univeritas Lampung
Jln. Prof. Soemantri Bojonegoro No. 1
Bandar Lampung-Indonesia
Telp. (0721) 7691197


2

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Edisi 1 : 2014
Cetakan Pertama, Maret 2014





Buku Panduan Clinical Skill Laboratory
csl semester 6
Edisi Ke 1
------ hlm ; 16.5 x 21.59 cm
ISBN :





Diterbitkan pertama kali oleh :
Tim CSL Fakultas Kedokteran Universitas Lampung



Dicetak di Bandar Lampung
Desain muka oleh : dr.Dina Tri Amalia
Sumber: http//fotosearch.com
Dilarang memperbanyak, mencetak dan menerbitkan sebagian isi
atau seluruh isi buku ini dengan cara dan dalam bentuk apapun
tanpa seijin penyusun

3

Tim Penyusun:
dr. Reni Zuraida, M.Si
dr. T.A. Larasati, M.Kes
dr. Oktadoni Saputra
dr. Hanna Mutiara
dr. Dewi Nur Fiana
dr. Dina Tri Amalia
dr. Anggi Setiorini

Editor :
dr. Anggi Setiorini












4

KATA PENGANTAR

ﻢﺴﺑ ﷲ ﻦﻤﺣﺮﻟﺍ ﻢﻴﺣﺮﻟﺍ
َﺪْ ﻤَ ﺤ
ْ
ﻟﺍ ِﱠِ ๡ Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT,
sampai saat ini kita masih diberikan nikmat kesehatan, kesempatan sehingga
penyusun dapat menyelesaikan Buku Panduan CSL tahun ketiga semester
enam. Buku ini dibuat sebagai panduan bagi mahasiswa maupun instruktur
dalam proses pembelajaran Clinical Skill Laboratory (CSL) pada Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
(FK Unila) khususnya semester VI tahun ajaran 2014-2015.
Buku ini merupakan buku edisi pertama di tahun ketiga semester
enam pada pembelajaran KBK di FK Unila. Buku ini tetap mengacu kepada
buku Standar Kompetensi Dokter yang disusun oleh Konsil Kedokteran
Indonesia (KKI). Secara rinci, buku ini berisikan materi keterampilan berupa ;
case report, home visit, penyuluhan massal,resusitasi neonatus, anamnesis
genitourinaria, pemeriksaan fisik genitourinaria, rectal toucher, prosedur
milking uretra,pemasangan dan pelepasan kateter, punksi supra pubis dan
sirkumsisi
Penyusunan buku ini terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak.
Untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
para kontributor yang telah memberikan konsultasi materi, masukan dan saran
guna penyempurnaan buku ini serta rekan-rekan yang telah memberikan
dukungan moriil dan materiil hingga buku ini dapat diselesaikan dengan baik.
Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada, semoga buku
ini dapat menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa serta bermanfaat bagi
kita semua, Amin.
Bandar Lampung, Maret 2014
Editor



5

Daftar Isi

Halaman Judul .............................................................................................. 1
Tim Penyusun & Editor ................................................................................ 3
Kata Pengantar .............................................................................................. 4
Daftar Isi ....................................................................................................... 5
Kontrak CSL ................................................................................................. 6
CSL 1. Case Report ..................................................................................... 14
CSL 2. Home Visite .................................................................................... 24
CSL 3. Penyuluhan Massal ......................................................................... 36
CSL 4. Resusitasi Neonatus ........................................................................ 44
CSL 5. Anamnesis Genitourinaria .............................................................. 63
CSL 6. Pemeriksaan Fisik Genitourinaria ................................................... 83
CSL 7. Colok Dubur ................................................................................. 100
CSL 8. Milking Uretra .............................................................................. 109
CSL 9. Pemasangan dan Pelepasan Kateter .............................................. 110
CSL 10. Punksi Supra pubik ..................................................................... 138
CSL 11. Sirkumsisi ................................................................................... 143




6

KONTRAK BLOK CLINICAL SKILLS LAB (CSL) 6
SEMESTER 6 TAHUN AJARAN 2014/2015
GAMBARAN UMUM
Blok Clinical Skills Lab 5 akan dilaksanakan pada semester 6,
tahun ke 3, dengan beban 2 SKS. Pada CSL 5 ini mahasiswa akan
belajar dan berlatih tentang keterampilan komunikasi, pemeriksaan fisik
dan tindakan prosedural yang terdiri dari case report, penyuluhan
massal, home visite, resusitasi neonatus, anamnesis genitourinaria,
pemeriksaan fisik genitourinaria, prosedur rectal toucher, prosedural
milking uretra, pemasangan dan pelepasan kateter, punksi supra pubis
dan sirkumsisi.
TATA TERTIB :
a. Tata tertib umum
1. Mahasiswa diwajibkan mengikuti semua kegiatan blok CSL 6,
yaitu :
• Latihan keterampilan klinik/ CSL, 2 kali seminggu (
Selasa pukul10.20 – 12.00 WIB dan kamis pukul 13.00-
14.40 WIB kecuali jika ada libur nasional akan
disesuaikan).


7

• Pretest, yang akan diberikan sebelum latihan CSL di
pertemuan pertama.
• Inhal dan tugas, bila mahasiswa tidak lulus pretest.
• Briefing OSCE dan remediasi.
2. Berpakaian rapi
• Tidak diperbolehkan memakai kaus oblong, celana blue
jeans, sandal/sepatu sandal khusus mahasiswi tidak
diperbolehkan berbaju ketat, transparan dan tanpa lengan
atau terlihat ketiak serta harus memakai rok minimal di
bawah lutut.
• Rambut harus rapi, tidak diperbolehkan berambut
gondrong untuk laki-laki.
• Kuku harus pendek, bersih, dan tidak menggunakan cat
kuku.
3. Sopan santun dan etika
• Jujur dan bertanggung jawab
• Disiplin
• Tidak merokok dilingkungan kampus
• Tidak diperbolehkan membawa senjata tajam, NAPZA,
alat-alat yang tidak sesuai dengan tupoksi sebagai
mahasiswa.
• Tidak diperbolehkan membuat kegaduhan.
• Tidak diperbolehkan memalsukan tanda tangan PA atau

8

para dosen.
• Tidak diperbolehkan memalsukan dokumen.
• Tidak diperkenankan melakukan kecurangan dalam
bentuk apapun pada saat CSL dan OSCE.
4. Mentaati peraturan akademik FK Universitas Lampung dan
peraturan akademik Universitas Lampung.

b.Tata tertib Khusus
1. Kehadiran harus 100%
2. Wajib hadir tepat waktu
a. Jika terlambat ≤ 15 menit dan pretest masih berlangsung,
mahasiswa dapat mengikuti pretest tanpa ada tambahan
waktu dan dapat mengikuti latihan CSL.
b. Jika terlambat ≤ 15 menit pada pertemuan 2, mahasiswa
dapat mengikuti CSL dengan persetujuan instruktur yang
bertugas pada CSL tersebut.
c. Jika terlambat 15-30 menit sejak CSL dimulai sesuai jadwal
pada pertemuan 1, dianggap tidak lulus dan wajib melapor
pada PJ CSL, dan diperbolehkan mengikuti CSL.
d. Jika terlambat > 30 menit sejak CSL dimulai sesuai jadwal,
tidak diperkenankan mengikuti CSL pada hari tersebut dan
tidak diperkenankan mengikuti CSL pada pertemuan kedua.
e. Jika terlambat > 15 menit pada pertemuan kedua dimulai

9

sesuai jadwal maka tidak diperkenankan mengikuti CSL
pada hari itu.
f. Pada pertemuan 1 akan dilakukan pretest secara serentak,
dan dikumpulkan di ruang sekretariat CSL dan dikoreksi
oleh PJ CSL.
g. Bila mahasiswa melakukan kecurangan pada saat pretest,
maka langsung dinyatakan tidak lulus pretest dan
diperbolehkan mengikuti CSL pada hari itu.
h. Nilai kelulusan pretest (minimal 70) akan diumumkan pada
akhir pertemuan pertama.
3. Mahasiswa wajib membawa buku panduan CSL dan buku
kegiatan CSL di setiap pertemuan/ sesi.
4. Mengikuti pre test dan latihan CSL
5. Nilai minimal pretest adalah 70, bila kurang dari 70 maka harus
mengikuti inhal dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh PJ
CSL dan dikumpulkan sebelum CSL pertemuan kedua.
6. Bila nilai tugas kurang dari 60, wajib memperbaiki dengan
catatan ceklis rekomendasi OSCE tidak di paraf.
7. Jika tidak mengumpulkan tugas tepat waktu maka tidak
diperbolehkan mengikuti CSL pertemuan 2 dan dianggap tidak
hadir.
8. Nilai minimal latihan CSL per keterampilan adalah 70, bila
salah satu nilai latihan keterampilan kurang dari 70 maka tidak

10

diperkenankan mengikuti OSCE.
9. Bila tidak mengikuti briefing OSCE maka tidak diperkenankan
mengikuti REMED OSCE.


PENILAIAN
1. Penilaian formatif
a. Kehadiran 100%, kecuali dengan alasan yang dibenarkan
oleh institusi
b. Nilai pelaksanaan CSL minimal 70 per keterampilan
c. Nilai sikap profesional (profesional behaviour).
1. Nilai sikap profesional diperoleh dari penilaian
sikap mahasiswa selama blok berlangsung pada
seluruh proses kegiatan pembelajaran. Penilaian
dilakukan menggunakan lembar Penilaian Sikap
Profesional (Professional behaviour) pada buku
log masing-masing mahasiswa. Hasil penilaian
berupa sufficient atau insuffisient.
2. Poin penilaian meliputi kedisiplinan, kejujuran,
sopan santun, penilaian, sikap sesama teman
(Altruism).
d. Telah mengerjakan semua tugas yang diberikan
e. Semua penilaian formatif ini adalah prasyarat untuk

11

mengikuti OSCE
f. Ujian OSCE akan diadakan setiap akhir semester

2. Penilaian Sumatif

Persentase penilaian akhir blok terdiri dari :
Pretest, tugas 10%
OSCE 85%
Sikap 5%
Total 100%









12

3. Nilai Akhir Blok
Huruf Mutu Bobot Skore Nilai
A 4 > 76
B+ 3,5 71- <76
B 3 66 - <71
C+ 2,5 61 - <66
C 2 56 - <61
D 1 50 -<56
E 0 <50

BandarLampung, 2 Maret 2014

Mengetahui,
PJ Blok CSL 6, ,




13

DAFTAR MATERI CLINICAL SKILLS LAB (CSL) SEMESTER
5

No Judul CSL
Jenis Keterampilan CSL
Anamnesis
Pemeriksaan
Fisik
Prosedural Laboratorium
1 Case Report - - - V
2
Penyuluhan
Massal
- - - V
3 Home visite - - - V
4
Resusitasi
neonatus
V V V -
5
Anamnesis
genitourinaria
V - - -
6
Pemeriksaan fisik
genitourinaria
- V - -
7 Colok dubur - - V -
8 Milking uretra - - V -
9
Pemasangan dan
pelepasan kateter
- - V -
10
Punksi supra
pubis
- - V -
11. Sirkumsisi - - V -




CASE REPORT
dr. Dewi N F, dr. Hanna M
A. TEMA
Keterampilan membuat dan menyajikan case report
B. LEVEL KOMPETENSI

No Jenis Kompetensi
1 Formulating orally and in writing
2
Educating, advising and coaching of individuals
and groups
3 Making a management plan
4 Therapeutic consultation
5 Drug prescription
6
Oral and written communication with colleagues
and other health care professional
7 Referral, consultation
8 Reporting and making record
9
Information processing and applying (especially
from scientific literature)


C. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah melalui CSL ini diharapkan mahasiswa mampu untuk:
• Membuat case report berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang, differential diagnosis, diagnosis,
penatalaksanaan dan follow up terhadap pasien sesuai dengan
kompetensi seorang dokter umum

14

Level
Kompetensi
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
Oral and written communication with colleagues
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
Setelah melalui CSL ini diharapkan mahasiswa mampu untuk:
Membuat case report berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang, differential diagnosis, diagnosis,
penatalaksanaan dan follow up terhadap pasien sesuai dengan

15

• Membuat case report dengan mengusulkan pemeriksaan
penunjang lanjutan dan membuat keputusan perujukan.
• Menyajikan dan mempresentasikan case report
• Mendiskusikan case report dengan teman sejawat

D. ALAT DAN BAHAN
• Kasus/skenario
• Alat tulis
• Laptop
• Slide(Microsoft power point)
• In focus
• Sumber Pustaka yang sesuai dengan kasus

E. SKENARIO

Pipit berusia 12 tahun datang ke Rumah Sakit dengan keluhan
sesak nafas berulang sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan hilang
timbul dan semakin parah jika udara dingin. Sebelumnya pasien
juga pernah mengalami keluhan yang sama jika musim hujan. Pada
pemeriksaan di dapatkan RR 30 x per menit. Pasien mengaku
pernah melakukan pemeriksaan darah dan di peroleh hasil eosinofil
tinggi di atas kadar normal. Dan oleh dokter, pasien di katakan
mengalami asma bronkhial dan di berikan obat yang diminum dan
obat di hisap.




16

F. DASAR TEORI

Case report atau Laporan Kasus merupakan suatu perekaman
dokumen atau data klinik pada clinical study. Tujuan dari
pembuatan case report ini adalah untuk mengumpulkan data yang
relevan dalam suatu format yang spesifik sehingga data lengkap
tersaji secara sistematis, efisien, memudahkan dalam melakukan
analisis terhadap data tersebut serta memudahkan pelaporan.
Format penulisan case report meliputi beberapa bagian, yakni :
1. Pendahuluan
Menjelaskan laporan kasus kita dalam satu kalimat singkat. Jika
merupakan kasus yang jarang, dapat juga diutarakan.

2. Melaporkan Kasus
Meringkas informasi yang telah dikumpulkan yaitu berupa
anamnesa singkat padat, temuan-temuan penting dan relevan.
Hasil positif atau negatif yang merupakan rincian dari
penyelidikan pada saat pasien dalam pengobatan ataupun setelah
menjalani perawatan. Jangan menyertakan rincian yang tidak
perlu. Ingat, bagian ini harus terasa seperti cerita yang menarik
bagi pembaca laporan kasus.
Salah satu bentuk umum dari presentasi adalah untuk
membaginya menjadi terpisah dalam paragraf anamnesa

17

umum, pemeriksaan fisik, penyelidikan, terapi dan prognosa
dalam gaya paragraf yang terpisah.
Presentasi kasus harus menjelaskan urutan kronologis kasus
yang cukup detail bagi pembaca agar dapat menyimpulkan
mengenai validitas kasus ini.

3. Pembahasan Kasus
Ingatlah bahwa kemungkinan untuk dapat menuliskan riset yang
dipublikasikan di jurnal terkemuka ditentukan terutama oleh
seberapa baik argumen kita disajikan secara ilmiah- yaitu,
bagaimana laporan kasus kita dibahas.

Paragraf pertama mungkin menjelaskan tujuan pelaporan kasus
ini. Kemudian kita harus dapat menjelaskan kondisi atau fitur-
fitur yang ditulis di laporan kasus yang kita buat. Kita dapat
mengutip banyak literatur tetapi hindari memasukan rincian
yang tidak perlu.

Tahap ketiga dan yang paling penting dalam pembahasan kasus
adalah bahwa pembahasan yang kita buat mendukung pesan
yang ingin kita sampaikan. Para pembaca yang akan meninjau
laporan kasus yang kita buat mengharapkan bukti dari
kelangkaan atau penjelasan ilmiah mengenai kasus yang kita
angkat. Jika kita tidak melakukan ini, para peninjau laporan

18

kasus kita akan cenderung untuk menolak laporan kasus yang
kita buat. Jadi kita harus dapat menjelaskan penyebab kondisi
atau alasan mengapa prosedur atau fitur tertentu dipilih.
Bagaimana prosedur/fitur/terapi yang kita pilih akan
mempengaruhi hasilnya? Apa yang kita rekomendasikan?
Apakah ada pelajaran yang harus dipelajari? Semua (atau
setidaknya, sebagian) dari pertanyaan ini harus dijawab pada
pembahasan kasus.

4. Kesimpulan
Kesimpulan tidak selalu diperlukan dalam laporan kasus (case
report), tetapi jika ada, kesimpulan yang dibuat harus ringkas
dalam beberapa kalimat saja.

5. Daftar Pustaka

6. Sentuhan Akhir
Dalam membuat laporan kasus setidaknya kita harus mengedit
atau memeriksa kembali laporan yang kita buat minimal 3 kali.
Memastikan kita mengecek kosakata dan tata bahasa. Laporan
kasus yang kita buat dapat dikonsulkan ke penulis senior
(biasanya konsulen) untuk meninjau laporan kasus kita. Semua
dokumen-dokumen lainnya, termasuk foto, hak cipta, dan

19

seterusnya, seperti yang disyaratkan dalam setiap jurnal, wajib
dilampirkan ke lampiran.

G. PROSEDUR
I. Pendahuluan
II. Laporan kasus
ο οο ο Jelaskan subjek.
ο οο ο Memberikan demografi pasien (umur, jenis kelamin, tinggi,
berat, ras, pekerjaan).
ο οο ο Hal –hal penting dari anamnesis :
ο Daftar sekarang penyakit pasien.
ο Daftar riwayat medis pasien.
ο Daftar riwayat medis keluarga pasien.
ο Daftar riwayat pengobatan pasien sebelum masuk dan selama
menyusun laporan kasus.
ο Pastikan riwayat pengobatan termasuk herbal, vaksin, penggunaan
obat-obatan bebas.
ο Daftar setiap nama obat, bentuk sediaan, cara pemberian, dan
tanggal pemberian.
ο Kepatuhan pengobatan pasien.
ο Menyebutkan hasil pemeriksaan fungsi organ ginjal dan hati
untuk mengevaluasi penggunaan obat.

20

ο Daftar status alergi obat pasien, termasuk nama obat (Merek atau
generik) dan tanggal dan jenis reaksi.
ο Riwayat reaksi penggunaan obat.
ο οο ο Hal-hal penting dari pemeriksaan fisik
ο οο ο Hal –hal penting dari pemeriksaan penunjang :
ο Memberikan nilai-nilai laboratorium terkait yang mendukung
kasus ini.
ο Memberikan referensi nilai normal laboratorium
ο Memberikan foto histopatologi, rontgen, electrocardiogram,
manifestasi kulit, atau anatomi karena terkait dengan kasus ini.
ο Mendapatkan izin dari pasien untuk menggunakan foto-foto
pasien,
ο Pastikan bahwa deskripsi kasus cukup detail bagi pembaca untuk
menetapkan validitas kasus tersebut.



III. Pembahasan kasus
ο Bandingkan laporan kasus dengan literatur.
ο Menjelaskan persamaan dan perbedaan antara laporan kasus dan
literatur.
ο Menjelaskan hubungan dan keterbatasan laporan kasus.
ο Tetap menjaga rahasia keakuratan rekam medis pada laporan kasus.


21

IV. Kesimpulan
ο Berikan kesimpulan yang sebenarnya.
ο Memberikan bukti-bukti sebgai data pendukung.
ο Daftar kesempatan untuk penelitian.

H. DAFTAR PUSTAKA
1. Gottleib GJ, Rogoz A, Vogel JV et al. A preliminary
communication on extensively disseminated Kaposi’s sarcoma in a
young homosexual man. Am J Dermatopathol.1981; 3:111-4.

2. Douglas J, Munro J, Kitchin A et al. Pulmonary hypertension and
fenfluramine.Br Med J. 1981; 283:881-3.

3. Atanasson P, Weiss B, Schmid E et al.Pulmonary hypertension
and dexfenfluramine.Lancet. 1992; 339:436. Letter.

4. Weir EK, Reeve HL, Huang JM et al. Anorexic agents aminorex,
fenfluramine, and dexfenfluramine inhibit potassium current in rat
pulmonary vascular smooth muscle and cause pulmonary
vasoconstriction. Circulation. 1996; 94:2216-20.

5. Abenhaim L, Moride Y, Brenot F et al. Appetite-suppressant
drugs and the risk of primary pulmonary hypertension. N Engl J
Med. 1996; 335:609-16.

6. DeBakey L, DeBakey S. The case report. I. Guidelines for
preparation. Int J Cardiol.1983; 4:357-64.

7. McCarthy LH, Reilly KE. How to write a case report. Fam Med.
2000; 329:190-5.


22

8. Naranjo CA, Busto U, Sellers EM et al. A method for estimating
the probability of adverse drug reactions. Clin Pharmacol Ther.
1981; 30:239-45.

















23

I. EVALUASI
CEKLIST LATIHAN
No Aspek
Skor
0 1 2
I INTERPERSONAL
1 Sambung Rasa dan Interaksi dengan pasien
2 Informed Consent
II CONTENT (penulisan dan presentasi)
3 Menulis Pendahuluan
4 Melaporkan deskripsi kasus
5 - Berdasarkan Anamnesis
6 - Berdasarkan Pemeriksaan Fisik
7 - Berdasasrkan Pemeriksaan Penunjang
8 Menentukan diagnosis dan differential diagnosis
9 Menentukan penatalaksanaan/ rencana penatalaksanaan
10 Menuliskan Pembahasan
11 Menuliskan Kesimpulan
12 Kemampuan berdiskusi dan menanggapi pertanyaan
III PROFESIONALISM
13 Mampu melakukan dengan percaya diri
14 Mampu melakukan dengan kesalahan minimal
TOTAL
KUNJUNGAN PASIEN OLEH DOKTER KELUARGA
DI RUMAH (HOME VISIT)

24

dr.TA Larasati, M.Kes

A. TEMA
Keterampilan komunikasi dengan pasien dan keluarganya di rumah

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
Mahasiswa mampu memahami fungsi Home visit dan menerapkan
komunikasi pada praktik dokter keluarga

C. ALAT DAN BAHAN
• Ruang tamu (setting rumah pasien)
• Meja
• Kursi

D. SKENARIO
Siang ini, dr. Izzati berencana mengunjungi pasien barunya, Tn.
B,53 tahun di rumahnya kelurahan Rajabasa Raya. dr Izzati ingin
mengunjungi keluarga Tn. B, karena Tn. B terdiagnosa Diabetes
Mellitus tipe 2 bulan lalu, namun tidak melakukan kontro, ke Klinik
Dokter Keluarga. dr Izzati ingin mengetahui lebih jauh latar
belakang keluarga Tn. B, fungsi keluarga, dan kondisi lingkungan
serta sumber daya kaluarga, agar dapat membantu menyelesaikan
masalah kesehatannya.

DASAR TEORI
1. Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga
Prinsip pelayanan Dokter Keluarga adalah pelayanan kesehatan
yang menyeluruh, komprehensif, holistik dan berkesinambungan.
Dalam menerapkan prinsip tersebut, dokter keluarga harus memiliki

25

pemahaman dan pengetahuan yang cukup tentang pasien dan
keluarganya. Untuk itu diperlukan kunjungan rumah oleh dokter di
rumah pasien, agar dapat diketahui bagaimana latar belakang
keluarga tersebut, kondisi rumah, hygiene dan sanitasi, fungsi
keluarga, potensial hazard, juga aspek kehidupan sosial, selain
kondisi kesehatan mereka.

Dalam melakukan home visit, dokter tidak hanya berkomunikasi
dengan pasien, tetapi sedapat mungkin juga berkomunikasi dengan
anggota keluarga yang lain, agar mendapat informasi yang lebih
utuh. Pada dasarnya proses komunikasi dokter dengan keluarga
sama dengan komunikasi dokter- pasien di ruang praktik dokter,
hanya saja, dalam home visit wawancara yang dilakukan di rumah
pasien dan dokter harus memperhatikan beberapa aspek, agar tidak
timbul kesan adanya interogasi dan penggeledahan.

2. Definisi Keluarga
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai
peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga
(Friedman, 1998). Menurut Depkes RI (1988) dalam Johnson et al.
(2009), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan
tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan.

3. Fungsi dan Tugas Keluarga
Menurut Jhonson et al. (2010), ada beberapa fungsi yang dapat
dijalankan keluarga sebagai berikut :
a. Fungsi biologis :

26

1) Meneruskan keturunan
2) Memelihara dan membesarkan anak
3) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
4) Memelihara dan merawat anggota keluarga
b. Fungsi Psikologis
1) Memberikan kasih sayang dan rasa aman
2) Memberikan perhatian di antara anggota keluarga
3) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4) Memberikan identitas keluarga
c. Fungsi sosialisasi :
1) Membina sosialisasi pada anak
2) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan
tingkat perkembangan anak
3) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
d. Fungsi ekonomi :
1) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga
2) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan keluarga
3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
keluarga di masa yang akan datang (pendidikan, jaminan
hari tua, kesehatan keluarga dan sebagainya)
e. Fungsi pendidikan :
1) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan,
ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan
bakat dan minat yang dimilikinya
2) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan
datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang
dewasa

27

3) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat
perkembangannya.

Adapun fungsi keluarga menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia / PP RI nomor 21 tahun 1994 BAB II pasal
4 tentang penyelenggaraan pengembangan kualitas keluarga,
yaitu meliputi fungsi keagamaan, social budaya, cinta kasih,
melindungi, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi,
serta pembinaan lingkungan.

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga
mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami
dan dilakukan, meliputi :
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin
kesehatan keluarga
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya
bagi keluarga (Suprajitno, 2004).
Adapun tujuan home visit mencakup beberapa hal:
a. Mendapatkan informasi yang akurat tentang latar belakang
keluarga, kondisi rumah, hygiene- sanitasi, fungsi keluarga,
potensial hazard, dan aspek kehidupan sosial.
b. Memberikan pelayanan kesehatan pada pasien di rumah karena
alasan mobilitas, misal pasca operasi fraktur tulang, kelumpuhan
.
c. Mengontrol pasien dengan penyakit khusus yang tidak
melakukan pengobatan rutin, misal TBC, hipertensi, DM, dll.


28

Manfaat yang diperoleh dengan home visit antara lain:
a. meningkatnya pemahaman dokter tentang pasien
b. Meningkatnya hubungan dokter pasien
c. Menjamin terpenuhinya kebutuhan dan tuntutan kesehatan
pasien.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan home visit:
a. Kesediaan keluarga / Tuan rumah menerima kunjungan oleh
dokter, sebaiknya dibuat perjanjian sebelumnya
b. Waktu kunjungan dipilih pada waktu senggang, tidak
mengganggu waktu istirahat
c. Diusahakan sebanyak mungkin anggota keluarga yang hadir,
terutama Ayah dan Ibu.
d. Meminta izin pada Tuan rumah sebelum melihat keadaan
rumah seluruhnya, atau bila ingin mengambil gambar
(foto)/m
e. Memanfaatkan waktu kunjungan seefisien mungkin, dan
mempersingkat waktu kunjungan bila Tuan rumah keberatan
atau berhalangan
f. Cepat beradaptasi dengan keadaan / adat istiadat keluarga /
masyarakat setempat, misal duduk di atas tikar, bukan di
atas kursi, melepas sandal/sepatu diluar rumah

E. PROSEDUR HOME VISIT
a. Menanyakan identitas keluarga ( nama kepala dan anggota
keluarga, usia, pendidikan, pekerjaan, aktivitas)
b. Menanyakan hubungan antar anggota keluarga (kualitas :
bagaimana kedekatan ibu-anak, ayah-anak, anak I-anak II;
kuantitas: frekuensi bertemu anggota keluarga dalam sehari,
seminggu; proses pengambilan keputusan dalam keluarga, dll)

29

c. Menanyakan pemenuhan kebutuhan keluarg, yang
menggambarkan fungsi keluarga ( ekonomi, pendidikan,
spiritual, dan kesehatan)
d. Menanyakan gaya hidup keluarga (olah raga yang dilakukan
anggota keluarga sendiri-sendiri atau bersama, pola makan,
meliputi jenis makanan yang dikonsumsi , cara menyiapkan
makanan, menu yang disukai atau sering disajikan, kebiasaan
minum alkohol, merokok)
e. Menanyakan lingkungan pekerjaan anggota keluarga(deskripsi
pekerjaan, potensial hazard, lama kerja,penggunaan APD)
f. Menanyakan lingkungan sosial / masyarakat ( peran keluarga
dalam masyarakat, paparan stress dari masyarakat, perbedaan
sikap dengan tetangga dll)
g. Observasi keadaan rumah ( sanitasi, hygiene, ventilasi,
pencahayaan, sumber air, jenis lantai,ukuran dan jumlah jendela,
penataan dan kebersihan ruangan, ratio luas rumah dengan
jumlah anggota keluarga)
h. Identifikasi masalah kesehatan keluarga berdasarkan wawancara
dan observasi. Bila permasalahan banyak, dibuat prioritas dan
ditentukan yang paling diperlukan untuk diselesaikan dan paling
dimungkinkan untuk dilakukan.
i. Memberikan edukasi kesehatan keluarga berdasarkan
identifikasi masalah (sebaiknya didukung dengan media
promosi kesehatan)
j. Merencanakan kunjungan berikutnya (waktu berkunjung,
anggota keluarga yang secara khusus ingin ditemui)
k. Menutup kunjungan dengan baik.

Referensi :

30

1. Azwar, Azrul, Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga, Jakarta,
2005
2. Gan, Goh Lee, at all, A Primer On Family Medicine Practice,
Singapore International Foundation, Singapore, 2004
3. Johnson, L., Leny, R. 2010. Keperawatan Keluarga. Nuha
Medika, Yogyakarta. 136 hlm.
LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA


1. Identitas
Nama :
……………………………………………………
NIM :
…………………………………………………...
Semester :
……………………………………………………
Blok :
……………………………………………………

2. Lembar ini harus diisi dan dinilai serta ditanda tangani oleh
instruktur saat pelaksanaan skills lab berlangsung sebagai bukti
otentik latihan serta tidak boleh disobek

3. Nilai latihan diperinci sebagai berikut :
• < 70% : Belum terampil
• 70% – 85% : Terampil
• > 85% : Sangat terampil

31


4. Bagi mahasiswa yang belum terampil diwajibkan mengulang sesi
latihan sampai mendapatkan nilai terampil atau sangat terampil
(minimal 70%) sebagai prasyarat untuk dapat mengikuti OSCE
Skills Lab di akhir semester.

32

CHECKLIST
I. Komunikasi Home visit
No Prosedur/ Aspek yang Dinilai
Skor
0 1 2
I ITEM INTERAKSI DOKTER-PASIEN
(KELUARGA)

1 Salam, sapa, perkenalan diri
2 Sambung rasa
3 Memberitahu tujuan kedatangan
4 Meminta kesediaan / persetujuan
II ITEM PROSEDURAL
Menanyakan identitas keluarga (nama kepala dan anggota
keluarga, usia, pendidikan, pekerjaan, aktivitas)

Menanyakan hubungan antar anggota keluarga (kualitas :
bagaimana kedekatan ibu-anak, ayah-anak, anak I-anak II;
kuantitas: frekuensi bertemu anggota keluarga dalam
sehari, seminggu; proses pengambilan keputusan dalam
keluarga, dll)

Menanyakan pemenuhan kebutuhan keluarga (ekonomi,
pendidikan, spiritual, dan kesehatan)

Menanyakan gaya hidup keluarga (olah raga, pola makan,
minum alkohol, merokok)

Menanyakan lingkungan pekerjaan anggota keluarga
(potensial hazard, lama kerja,penggunaan APD)


33

Menanyakan lingkungan sosial / masyarakat (peran
keluarga dalam masyarakat, paparan stress dari
masyarakat)

Observasi keadaan rumah (sanitasi, hygiene, ventilasi,
pencahayaan, sumber air, jenis lantai, ratio luas rumah
dengan jumlah keluarga)

Identifikasi masalah kesehatan keluarga berdasarkan
wawancara dan observasi

Memberikan edukasi kesehatan keluarga berdasarkan
identifikasi masalah (sebaiknya didukung dengan media
promosi kesehatan)

Merencanakan kunjungan berikutnya (waktu berkunjung,
anggota keluarga yang secara khusus ingin ditemui)

Menutup kunjungan
III ITEM PENALARAN KLINIS
Identifikasi masalah dan edukasi pada keluarga sesuai
dengan kondisi keluarga

IV ITEM PROFESIONALISME
Percaya diri, melakukan prosedur dengan memperhatikan
aspek profesionalisme, dan etika dalam masyarakat

TOTAL

Keterangan :
0 = Tidak dilakukan;
1 = Dilakukan tetapi belum sempurna;

34

2 = Dilakukan dgn sempurna

Nilai = Total skor yang diperoleh x 100% = .......%
Total skor maksimal

Lembar Refleksi Paraf
Penilai
.……………………………………………
………..……………………………………
………………………………………..........
................................
Instruktur
……………………………………………
…………
……………………………………………
……………………………..........................
...................


Penilai
…..…………………………………………
……….
………………….…………………………
………..…………………............................
.................
Instruktur



35

.……………………………………………
………..
………………….…………………………
……….......………………….......................
.................

Bandar Lampung, ……………………………… 2014

Mahasiswa Penilai Instruktur



( ) ( )








36

PENYULUHAN MASSAL
dr. Reni Zuraida
A. TEMA
Komunikasi massal (penyuluhan kesehatan masyarakat)
B. TUJUAN PEMBELAJARAN :
a. Tujuan instruksional umum
Mampu melakukan komunikasi massal (penyuluhan kesehatan)
b. Tujuan instruksional khusus
1. Mampu melakukan komunikasi massal dalam lingkup
penyuluhan kesehatan pada masyarakat
2. Mampu memilih metode yang tepat dalam melaksanakan
komunikasi massal
3. Mampu membina hubungan yg terjadi antara dokter dengan
pasien karena adanya tanggung jawab & kewajiban profesi
dokter terhadap pasien

C. ALAT DAN BAHAN
1. Kursi
2. Meja
3. Media penyuluhan (poster, lembar balik, leaflet dsb)



37

D. DASAR TEORI
Komunikasi massal merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan
saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan
secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh
(terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu. Bittner
(Ardianto, 2004).
Penyuluhan kesehatan merupakan bagian dari komunikasi massal,
penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga
masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa
melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.
Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan
kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai
suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat
secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan
melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun
secara kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 1998).
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri
seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan
individu, dan masyarakat.


Tujuan pendidikan kesehatan adalah:

38

1. Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan
masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku hidup
sehat dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
2. Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik
fisik, mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka
kesakitan dan kematian.
3. Menurut WHO tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk
merubah perilaku perseorangan dan atau masyarakat dalam
bidang kesehatan.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan terhadap sasaran dalam
keberhasilan penyuluhan kesehatan adalah:
1. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang
terhadap informasi baru yang diterimanya. Maka dapat
dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin
mudah seseorang menerima informasi yang didapatnya.
2. Tingkat Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin
mudah pula dalam menerima informasi baru.

3. Adat Istiadat

39

Pengaruh dari adat istiadat dalam menerima informasi baru
merupakan hal yang tidak dapat diabaikan, karena masyarakat
kita masih sangat menghargai dan menganggap sesuatu yang
tidak boleh diabaikan.
4. Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang disampaikan
oleh orang–orang yang sudah mereka kenal, karena sudah
timbul kepercayaan masyarakat dengan penyampai informasi.
5. Ketersediaan Waktu di Masyarakat
Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat
aktifitas masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran
masyarakat dalam penyuluhan.
Metode yang dapat dipergunakan dalam memberikan penyuluhan
kesehatan adalah (Notoatmodjo, 2002):
1. Metode Ceramah
Adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan
suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada
sekelompok sasaran sehingga memperoleh informasi tentang
kesehatan.
2. Metode Diskusi Kelompok
Adalah pembicaraan yang direncanakan dan telah
dipersiapkan tentang suatu topik pembicaraan diantara 5–20

40

peserta (sasaran) dengan seorang pemimpin diskusi yang
telah ditunjuk.
3. Metode Curah Pendapat
Adalah suatu bentuk pemecahan masalah di mana setiap
anggota mengusulkan semua kemungkinan pemecahan
masalah yang terpikirkan oleh masing – masing peserta, dan
evaluasi atas pendapat – pendapat tadi dilakukan kemudian.
4. Metode Panel
Adalah pembicaraan yang telah direncanakan di depan
pengunjung atau peserta tentang sebuah topik, diperlukan 3
orang atau lebih panelis dengan seorang pemimpin.
5. Metode Bermain peran
Adalah memerankan sebuah situasi dalam kehidupan
manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua
orang atu lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh
kelompok.

6. Metode Demonstrasi
Adalah suatu cara untuk menunjukkan pengertian, ide dan
prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan
teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan
suatu tindakan, adegan dengan menggunakan alat peraga.

41

Metode ini digunakan terhadap kelompok yang tidak terlalu
besar jumlahnya.
7. Metode Simposium
Adalah serangkaian ceramah yang diberikan oleh 2 sampai 5
orang dengan topik yang berbeda tetapi saling berhubungan
erat.
8. Metode Seminar
Adalah suatu cara di mana sekelompok orang berkumpul
untuk membahas suatu masalah dibawah bimbingan seorang
ahli yang menguasai bidangnya.
Langkah-langkah dalam penyuluhan kesehatan masyarakat:
1. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat.
2. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat.
3. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditangani
melalui penyuluhan kesehatan masyarakat.
4. Menyusun perencanaan penyuluhan
5. Menetapkan tujuan
6. Penentuan sasaran
7. Menyusun materi/isi penyuluhan
8. Memilih metoda yang tepat
9. Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
10. Penentuan kriteria evaluasi.
11. Pelaksanaan penyuluhan
12. Penilaian hasil penyuluhan
13. Tindak lanjut dari penyuluhan

42


















43

CEKLIST PENYULUHAN MASSAL
No Aspek Skor
1 2
INTERPERSONAL
1 Membina rapport (ramah, salam, sikap terbuka)
2 Memperkenalkan diri (nama, asal instansi)
3 Wajah ramah, senyum, posisi tubuh baik, kontak mata, berpakaian
rapi dan sesuai

CONTENT
4 Pendahuluan
- Menjelaskan tujuan penyuluhan
-Menjelaskan definisi ( bila tentang penyakit)
5 Isi
-Menjelaskan latar belakang
-Menjelaskan isi
-Menjelaskan dengan bahasa yang sesuai dengan audiens (tingkat
pendidikan, suku, sosial ekonomi)

-Menggunakan media (alat bantu peraga, media audio visual, dll)
-Menyampaikan informasi dengan lengkap
-Memberikan kesempatan pada audiens untuk bertanya
6 Penutup
-Menyampaikan resume (ringkasan, take home message, persuasif)
-Menutup komunikasi dengan tepat
PROFESSIONALISM
7 Melakukan dengan penuh percaya diri dan kesalahan minimal
8 Memegang kendali selama penyuluhan
TOTAL





44

RESUSITASI NEONATUS (BAYI BARU LAHIR)
Oleh : dr. Oktadoni Saputra

A. Tema Pembelajaran
Keterampilan Prosedur Resusitasi pada Bayi Baru Lahir (Neonatus)

B. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa mampu melakukan prosedur Resusitasi Bayi Baru Lahir
pada model
b. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa mampu melakukan penilaian awal (initial assessment)
pada bayi baru lahir yang memerlukan tindakan resusitasi
Mahasiswa mampu melakukan persiapan resusitasi bayi baru lahir
meliputi persiapan keluarga pasien (informed consent), persiapan alat
dan tempat resusitasi, persiapan diri penolong
Mahasiswa mampu melakukan prosedur langkah awal resusitasi
dengan runtut dan benar.
Mahasiswa mampu melakukan prosedur ventilasi tekanan positif
(VTP) dengan benar
Mahasiswa mampu melakukan prosedur pijat jantung bayi dengan
benar
Mahasiswa mampu melakukan prosedur evaluasi serta mengambil
keputusan klinik dengan baik dan benar
Mahasiswa mampu melakukan prosedur pasca resusitasi


C. Level Kompetensi
Keterampilan Level of expected Ability
Therapeutic skills, examinations and operation of thechild
Intubation -1- -2- -3--4-
Resuscitation -1- -2- -3--4-
Accident and emergency in Surgery : Skills List
Mouth-to-mouth/ nose resuscitation -1- -2- -3- -4-
Mask ventilation -1- -2- -3- -4-




D. Alat dan Bahan
• Manekin infant crisis manekin
• Set resusitasi (Ambu bag/ balon-sungkup dengan atau tanpa reservoir)

45

• Kain kering dan bersih 3
• Meja resusitasi
• Lampu penghangat
• Alat penghisap lender bayi (Suction De Lee)
• Sarung tangan steril
• Set Dekontaminasi; larutan klorin 0,5%, larutan DTT
• Lembar rekam medis
• Spuit injeksi 3 cc
• Adrenaline injeksi 1 Ampul (1:10.000-konsentrasi 0,1mg/ml)
• Volume ekspander ; NaCl 0,9%
• Tabung oksigen, regulator dan selang penghubungnya

E. Skenario
Ny. Risti G1P0A0 melahirkan anak pertama, ketuban sudah pecah sejak 12
jam SMRS. Bayi lahir di bidan per vaginam, bayi tidak menangis, nafas megap-
megap. Anda dokter jaga yang bertugas di rumah sakit tersebut dimintai bantuan oleh
Bidan tersebut untuk resusitasi bayi baru lahir.

F. Dasar Teori
1. Latar Belakang
Secara global di dunia, penyebab kematian bayi baru lahir antara lain Infeksi
(32%), Asfiksia (29%), Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)/prematuritas (24%),
Cacat Bawaan (10%) serta lain-lain (5%). Asfiksia menjadi penyebab kematian
terbanyak ke 2 didunia. Diperkirakan 3% (3,6 juta) dari 120 juta BBL mengalami
asfiksia dan sekitar 1 juta diantaranya meninggal dunia.
Di Indonesia asfiksia juga menjadi penyebab kematian bayi terbanyak kedua
setelah BBLR. Asfiksia seyogyanya bisa ditekan jika tenaga kesehatan yang
membantu persalinan dapat menatalaksananya dengan tepat dan benar. Resusitasi
pada bayi baru lahir seharusnya sudah harus diketahui oleh tenaga kesehatan yang
membantu persalinan termasuk dokter umum. Bahkan di luar negeri Resusitasi
kardiopulmonal tidak hanya diwajibkan bagi tenaga kesehatan bahkan tenaga non-
kesehatanpun yang bertugas di pelayanan publik harus mengetahuinya.
Asfiksia pada bayi baru lahir merupakan suatu kegawatdaruratan medis.
Kadang kala dapat diprediksi sebelum kelahiran namun tidak jarang ditemukan setelah
kelahiran bayi. Kegagalan sirkulasi dalam waktu 3-4 menit dapat menyebabkan
kerusakan permanen pada otak yang akhirnya berujung pada kematian. “Time saving
is life saving”, Waktu adalah nyawa. Oleh karena itu, resusitasi yang cepat dan tepat
sangat diperlukan untuk menyelamatkan nyawa sang bayi.




46

2. Pengertian
Resusitasi merupakan suatu prosedur kegawatdaruratan medis yang
dilakukan untuk mencegah suatu episode henti nafas (respiratory arrest) dan/atau
henti jantung (cardiac arrest) yang dapat menyebabkan kematian biologis untuk
mengembalikan fungsi pernafasan dan/atau sirkulasi tersebut sehingga memungkinkan
untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali. Istilah lain
resusitasi antara lain : reanimasi, Resusitasi Jantung Paru (RJP), Resusitasi Jantung
Paru Otak (RJPO), Resusitasi kardiopulmonal (RKP).
Bayi Baru Lahir (newborn) adalah bayi yang baru dilahirkan sampai dengan
beberapa jam setelah kelahiran, Neonatus (periode neonatal) adalah bayi yang
berumur 1-28 hari dan Bayi (Infant) adalah Bayi dari umur 1 bulan (28 hari) sampai
dengan 1 tahun.
Resusitasi Bayi Baru Lahir adalah Resusitasi yang dilakukan pada bayi baru
lahir yang mengalami kesulitan/kegagalan bernafas (asfiksia). Istilah lain juga
dikenaal sebagai resusitasi neonatus.

3. Indikasi

A. Ventilasi Tekanan Positif (VTP)

1. Apnea; Grasping Respiration
Pada bayi baru lahir, indikasi tersering resusitasi adalah akibat asfiksia.
Asfiksia merupakan kegagalan untuk memulai & melanjutkan pernafasan pada BBL
sehingga Bayi tidak bernafas secara spontan & teratur. Bayi biasanya tidak menangis,
tidak bergerak aktif dan kulit bayi terlihat kebiruan (sianosis). Pada awal kelahiran
sirkulasi bayi masih mengandung O
2
dari sirkulasi maternal, namun dalam beberapa
menit jika bayi tidak bernafas atau bernafas tidak adekuat (megap-megap) maka akan
terjadi terjadi kegagalan sirkulasi. Dalam 3-4 menit kegagalan sirkulasi dapat
menyebabkan kerusakan otak permanen dan akhirnya menyebabkan kematian.
Jika bayi tidak bernafas (apnea)/bernafas megap-megap (grasping
respiration) kenali sebagai suatu gejala asfiksia sehingga memerlukan resusitasi
dengan segera
2. Denyut Jantung < 100 kali per menit
Pada bayi dengan denyut jantung (DJ) < 100 kali per menit juga langsung
dilakukan ventilasi. Yang digunakan adalah Ambu bag/balon-sungkup dengan atau
tanpa reservoir.

3. Sianosis yang menetap setelah pemberian oksigen aliran bebas
Jika bayi bernafas, DJ>100 tetapi sianosis dianjurkan memberikan oksigen aliran
bebas. Tetapi jika masih menetap setelah diobservasi ±90 detik maka lakukan VTP.
(Selengkapnya lihat prosedur/tabel skema resusitasi BBL)


47


B. Kompresi Dada
Kompresi dada tidak selalu dilakukan dalam prosedur resusitasi jika ventilasi dapat
dilakukan dengan baik. Kompresi dada dilakukan jika :
• Denyut Jantung Bayi < 60 kali permenit (setelah minimal 30 detik (1 siklus)
ventilasi yang adekuat)
• Denyut Jantung Bayi 60-80 kali per menit tetapi tidak ada peningkatan

4. Tujuan Resusitasi
Tujuan dilakukan resusitasi adalah untuk mencapai ventilasi adekuat, O
2
dan
Curah Jantung yang cukup untuk menyalurkan O
2
ke otak, jantung, dan alat
vital lainnya sehingga mencegah kegagalan respirasi dan atau sirkulasi, serta
kematian biologis.

5. Fase-fase Resusitasi
Resusitasi jantung paru otak dibagi menjadi 3 fase diantaranya :

1.FASE I : Bantuan/Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support)
Yaitu prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas, henti
nafas dan henti jantung, dan bagaimana melakukan RJP secara benar. Terdiri
dari :
• A (Airway) : menjaga jalan nafas tetap terbuka.
• B (Breathing) : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat.
• C (Circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru.


2.FASE II : Tunjangan hidup lanjutan (Advance Life Support)
Yaitu tunjangan hidup dasar ditambah dengan :
• D (Drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan.
• E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai
KJL, untuk mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole atau agonal
ventricular complexes.
• F (Fibrillation treatment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel.

3.FASE III : Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support).
• G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara
terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.
• H (Head) : Tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf
dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat
dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen. H (Hipotermi) :
Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu

48

pada suhu antara 30° — 32°C. H (Humanization) : Harus diingat bahwa
korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan, karena itu
semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan.
• I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi :
trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung,
pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan, dan tunjangan sirkulasi,
mengendalikankejang


G. PROSEDUR
Prosedur resusitasi meliputi Persiapan, Resusitasi dan Post Resusitasi.
Ventilasi efektif merupakan kunci keberhasilan tindakan resusitasi.


49

Gambar 22. Diagram Alur Resusitasi Neonatal
(Sumber : Neonatal resuscitation, Queensland Government, 2009)

50

Adapun rincian prosedur dalam resusitasi BBL sebagai berikut:
1) Antisipasi kemungkinan bayi yang memerlukan Resusitasi
Hal-hal yang memungkinkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir harus
dapat kita kenali dan kita antisipasi. Adapun asfiksia dapat tejadi akibat faktor-faktor
berikut :
1.Faktor Ibu :
• Preeklampsia/Eklampsia, hipertensi kronik
• Perdarahan pada trimester 2-3
• Pemakaian obat-obatan ; Lithium, Mg, α-blocker, Narkotik
• Diabetes Mellitus
• Penyakit kronis
• Anemia
• Partus lama/macet
• Demam & infeksi maternal
• Pembiusan yang lama
• Riw. Kematian janin/ bayi sebelumnya
2. Faktor Janin
• Kurang bulan
• Janin Kembar
• Kurang Bulan (<35 minggu)
• Post matur (>42 minggu)
• Inkompatibilitas golongan darah rhesus/ABO
• Poli-/Oligohydramnion
• Infeksi intaruterine
• Kelainan bawaan (Anomali congenital)
• Berkurangnya gerakan janin
3.Faktor selama atau sesudah persalinan
• Persalinan Sulit
• Air Ketuban bercampur mekoneum
• Vakum, forsep ekstraksi
• Lilitan Tali Pusat
• Prolaps tali pusat
• Perdarahan antepartum; Plasenta previa, vasa previa, abruptio plasenta
• Pemakaian narkotika atau pembiusan umum misal pada operasi sesar

2) Persiapan
a. Persiapan keluarga
Sebelum melakukan pertolongan persalinan sebaiknya dibicarakan dengan
keluarga mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu dan bayi
dan persiapan persalinan. Serta penolong persalinan harus jeli mengantisipasi
kemungkinan bayi yang memerlukan resusitasi seperti yang sudah dijelaskan

sebelumnya. Untuk itu diperlukan suatu komunikasi yang baik penolong dengan
pasien sangat diperlukan untuk menggali anamnesis riwayat obstetric pasien.

Lakukan Informed-consent pada ibu dan pihak keluarga, Beritahu dan
jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa kemungkinan bayi mengalami masalah
sehingga perlu dilakukan tindakan resusitasi, Minta ibu dan keluarga memahami
upaya ini dan minta mereka ikut membantu serta meminta persetujuan lisan.
b. Persiapan tempat resusitasi :
• Ruangan yang terang, hangat dan dilengkapi dengan jam dinding
• Meja resusitasi yang datar rata dan keras
• Pemancar panas atau lampu 60 watt yang berjarak 60 cm dari bayi
• Kain bersih, kering, hangat 3 buah :
o 1 untuk mengeringkan bayi kemudian dibuang
o 1 alasnya kemudian untuk menyelimuti bayi
o 1 yang terakhir untuk ganjal bahu saat memposisikan kepala sedikit
ekstensi
Gambar 23. Jenis-jenis sungkup ;
anatomis dan bulat
(Sumber : Textbook of Neonatal
Resuscitation 5
th
ed. 2006)
Gambar 24. Meja Resusitasi
(Sumber : Textbook of Neonatal
Resuscitation 5
th

Gambar 25. Balon sungkup
mengembang sendiri (
(Sumber : Textbook of Neonatal
Resuscitation 5
th

c. Persiapan Peralatan Resusitasi
Pastikan semua peralatan sudah tersedia dan siap pakai sebelum membantu
persalinan.
• Balon-Sungkup (dengan pengatur tekanan)
o Mengembang sendiri

51
sebelumnya. Untuk itu diperlukan suatu komunikasi yang baik penolong dengan
pasien sangat diperlukan untuk menggali anamnesis riwayat obstetric pasien.
an pihak keluarga, Beritahu dan
jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa kemungkinan bayi mengalami masalah
sehingga perlu dilakukan tindakan resusitasi, Minta ibu dan keluarga memahami
upaya ini dan minta mereka ikut membantu serta meminta persetujuan lisan.
Ruangan yang terang, hangat dan dilengkapi dengan jam dinding
Pemancar panas atau lampu 60 watt yang berjarak 60 cm dari bayi
kemudian dibuang
1 yang terakhir untuk ganjal bahu saat memposisikan kepala sedikit
Gambar 24. Meja Resusitasi
Textbook of Neonatal
th
ed. 2006)
Gambar 25. Balon sungkup
mengembang sendiri (self inflating bag)
Textbook of Neonatal
th
ed. 2006)
semua peralatan sudah tersedia dan siap pakai sebelum membantu

52

o Tidak mengembang sendiri
• Sungkup yang efektif disesuaikan dengan ukuran bayi. Jenis sungkup ada 2 ;
sungkup bundar dan anatomis (lihat gambar sebelumnya. Sungkup harus
menutupi mulut, hidung dan dagu serta tidak boleh bocor. Ukuran sungkup
bayi :
o Ukuran 1 = untuk bayi dengan berat normal
o Ukuran 0 = untuk bayi dengan berat < 2500 gram
• Alat penghisap lendir bayi; kateter De Lee atau suction kecil

d. Persiapan Penolong
Persiapan diri dimaksudkan untuk melindungi diri dari kemungkinan infeksi
dengan cara : Memakai alat pelindung diri pada persalinan (celemek plastic, sepatu
tertutup); Lepaskan perhiasan, cincin, jam tangan sebelum cuci tangan; Cuci tangan
menurut WHO dengan air mengalir dan sabun atau dengan campuran alcohol dan
gliserin; Keringkan dengan lap bersih; Selanjutnya gunakan sarung tangan DTT/ Steril
sebelum menolong persalinan secara aseptic.

3) Penilaian Sepintas Bayi baru Lahir (Initial Assessment)
Pastikan :
• Apakah bayi cukup bulan?
• Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
• Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan?
• Apaka bayi bergerak aktif ?
Jika salah satu jawaban “TIDAK” lanjut ke langkah resusitasi pada asfiksia bayi baru
lahir
Bila Air Ketuban Bercampur Mekonium :
• Penghisapan lendir dilakukan saat kepala lahir sebelum bahu keluar, isap
lendir dari mulut lalu hidung
• Lakukan penilaian apakah bayi menangis/ bernafas normal/ megap-megap/
tak bernafas
o jika menangis atau bernafas normal, potong tali pusat dengan cepat,
tidak diikat dan dibubuhi apapun, dilanjutkan dengan Langkah Awal
o jika megap-megap atau tidak bernafas, buka mulut lebar, usap mulut
dan ulangi isap lendir, potong tali pusat dengan cepat , tidak diikat &
tidak dibubuhi apapun, dilanjutkan dengan Langkah Awal Resusitasi.
(Lengkapnya lihat Bagan Manjemen Air Ketuban Bercampur
Mekoneum)

4) Langkah Awal Resusitasi (Initial Steps)
Ada 6 langkah awal resusitasi yang kesemuanya harus dilakukan dengan
runtut dalam waktu 30 detik, meliputi :

1. Jaga Kehangatan bayi. Selimuti bayi dengan handuk/selimut kering yang
diletakkan diatas perut ibu, bagian muka dan dada bayi tetap terbuka. Potong
tali pusat dan Pindahkan ke meja resusitasi dengan pemancar panas yang
telah ditentukan
2. Atur Posisi bayi. Letakkan bayi di tempat resusitasi. Posisi penolong di
bagian kepala bayi. Posisikan kepala bayi kepala sedikit ekstensi dengan
memasang dan mengatur kain ganjal bahu bayi yang telah disiapkan
(Membuka airway=A)


Gambar 26. Memposisikan Kepala
bayi yang benar
(Sumber : Textbook of Neonatal
Resuscitation 5

3. Hisap Lendir Bayi. Bersihkan jalan nafas dengan menghisap lendir bayi
menggunakan penghisap lender De Lee. Mulai dari mulut dulu baru hidung,
pada mulut sedalam < 5 cm dan hidung bayi sedalam <
mekoneum, lihat bagan air ketuban bercampur mekoneum. Gunakan kateter
penghisap 12 F atau 14 F.
Catt :
• Ingat Mulut (Mouth) dulu baru Hidung (Nose)
• M dulu baru N
Gambar 27. Cara
menghisap lendir bayi
(Sumber :
Neonat
4. Keringkan dan Stimulasi (rangsang taktil). Keringkan bayi (dengan sedikit
tekanan) dan gosok-gosok dada, perut, punggung bayi sebagai rangsangan
taktil untuk merangsang pernafasan. Ganti kain basah dengan kain yang
bersih dan kering. Biarkan muka dan dada terbuka. Melakukan stimulasi/
rangsang taktil dengan cara Menepuk atau menyentil telapak kaki bayi atau
Menggosok punggung, perut, dada atau ekstremitas bayi

Tabel 4. Hal yang tidak dianjurkan untuk stimulasi bayi :

No Tindakan Berbahaya Akibat Yang Bisa Terjadi
1 Menepuk punggung Perlukaan

53
bayi. Selimuti bayi dengan handuk/selimut kering yang
diletakkan diatas perut ibu, bagian muka dan dada bayi tetap terbuka. Potong
tali pusat dan Pindahkan ke meja resusitasi dengan pemancar panas yang
tempat resusitasi. Posisi penolong di
kepala sedikit ekstensi dengan
memasang dan mengatur kain ganjal bahu bayi yang telah disiapkan


Gambar 26. Memposisikan Kepala
bayi yang benar
Textbook of Neonatal
Resuscitation 5
th
ed. 2006)

Bayi. Bersihkan jalan nafas dengan menghisap lendir bayi
menggunakan penghisap lender De Lee. Mulai dari mulut dulu baru hidung,
3 cm. Jika terdapat
mekoneum, lihat bagan air ketuban bercampur mekoneum. Gunakan kateter
ose)

Gambar 27. Cara
menghisap lendir bayi
(Sumber : Textbook of
Neonatal Resuscitation
5
th
ed. 2006)

. Keringkan bayi (dengan sedikit
gosok dada, perut, punggung bayi sebagai rangsangan
taktil untuk merangsang pernafasan. Ganti kain basah dengan kain yang
dan kering. Biarkan muka dan dada terbuka. Melakukan stimulasi/
rangsang taktil dengan cara Menepuk atau menyentil telapak kaki bayi atau
Tabel 4. Hal yang tidak dianjurkan untuk stimulasi bayi :
Akibat Yang Bisa Terjadi

2 Menekan rongga dada
Patahtulang, pneumotoraks, distress napas,
kematian
3 Menekankan paha keperut Pecahnya hati, limpa
4 Dilatasi sfingter ani Robeknya sfingter ani
5 Kompres dingin,panas Hipotermi, Hipertermi
6
Menggoyang–goyang
tubuh
Kerusakan Otak

Gambar 28. Langkah Awal (initial step) & Stimulasi pada BBL
(Sumber : Textbook of Neonatal Resuscitation 5
th

5. Mereposisikan kepala bayi
6. Nilai bayi : Usaha Nafas, Denyut Jantung dan Warna Kulit bayi

5) Ventilasi
Jika setelah penilaian langkah awal bayi memerlukan ventilasi (lihat Indikasi
VTP diatas) maka Ventilasi Tekanan Positif (VTP) dilakukan dengan Ambu
bayi tidak bernafas atau Denyut Jantung < 100x/menit, Ventilasi dengan oksigen
aliran bebas jika DJ > 100x/menit tetapi bayi sianosis.

54
Patahtulang, pneumotoraks, distress napas,

) & Stimulasi pada BBL
th
ed. 2006)
bayi : Usaha Nafas, Denyut Jantung dan Warna Kulit bayi
Jika setelah penilaian langkah awal bayi memerlukan ventilasi (lihat Indikasi
VTP diatas) maka Ventilasi Tekanan Positif (VTP) dilakukan dengan Ambu-bag jika
Denyut Jantung < 100x/menit, Ventilasi dengan oksigen


Gambar 29. Cara memberikan oksigen aliran bebas
(Sumber : Textbook of Neonatal Resuscitation 5
th
ed.

Frekuensi VTP
Frekuensi Ventilasi 40-60 kali permenit. Atau 20 kali dalam 30 detik. Tekanan awal
30-40 cm H
2
O. Irama memberikan pompaan pada VTP adalah 2 pompaan
detik, sebagai berikut :
Gambar 30. Frekuensi & Koordinasi (Irama) VTP dan Kompresi dada
(Sumber : Resusitasi Bayi Baru Lahir untuk Bidan. 2009)





Cara memegang dan posisi sungkup pada wajah adalah sebagai berikut :
Gambar 31. Cara Memegang
Sungkup dan posisi pemasangan
sungkup pada wajah bayi
(Sumber : Textbook of Neonatal Resuscitation 5
2006)

Hal-hal yang harus diperhatikan saat ventilasi:
• Pilih sungkup dengan ukuran yang sesuai dan Pasang sungkup karet dengan
benar (menutupi hidung, mulut dan dagu bayi dengan rapat/tak ada
kebocoran)
• Memastikan posisi kepala bayi tetap sedikit ekstensi
• Lakukan ventilasi percobaan dengan memperhatikan gerakan dinding dada.
Lakukan 2 kali ventilasi dengan pompaan pada balon atau tiupan dengan
tekanan 30-40 cmH
2
O
o Tekan balon ambu-bag atau tiup pangkal tabung sungkup
O
2
delivered by tubing held in cupped hand
over baby’s face

O2 mask held close to the baby’s
face to give close to 100% O2
55
memberikan oksigen aliran bebas
ed. 2006)
60 kali permenit. Atau 20 kali dalam 30 detik. Tekanan awal
O. Irama memberikan pompaan pada VTP adalah 2 pompaan dalam 3
Gambar 30. Frekuensi & Koordinasi (Irama) VTP dan Kompresi dada
2009)
dan posisi sungkup pada wajah adalah sebagai berikut :

Gambar 31. Cara Memegang
Sungkup dan posisi pemasangan
sungkup pada wajah bayi

Textbook of Neonatal Resuscitation 5
th
ed.
Pilih sungkup dengan ukuran yang sesuai dan Pasang sungkup karet dengan
hidung, mulut dan dagu bayi dengan rapat/tak ada
Lakukan ventilasi percobaan dengan memperhatikan gerakan dinding dada.
Lakukan 2 kali ventilasi dengan pompaan pada balon atau tiupan dengan
bag atau tiup pangkal tabung sungkup
delivered by tubing held in cupped hand
over baby’s face

56

o Sisihkan pakaian/ kain yang menutupi dinding dada bayi
o Naiknya dinding dada mencerminkan mengembangnya paru dan
udara masuk dengan baik
o Bila tidak mengembang koreksi kemungkinan kebocoran pada
perlekatan sungkup, posisi kepala dan jalan nafas ataupun sumbatan
jalan nafas oleh lender
• Ventilasi definitif lanjutan dilakukan dengan frekuensi 20 kali/ 30 detik
Posisi penolong harus melihat ke dada bayi. Ventilasi yang efektif ditunjukkan
dengan naiknya dinding dada bayi bilateral, bayi bernafas dan DJ adekuat
>100x/menit dan warna kulit bayi merah muda.




Gambar 32. posisi penolong
dan Evaluasi pengembangan
paru
(Sumber : Textbook of Neonatal Resuscitation 5
th
ed.

6) Evaluasi
Evaluasi yang dilihat pada resusitasi bayi meliputi : Usaha Nafas, Denyut
Jantung dan Warna Kulit. Setelah ventilasi 30 detik maka dilakukan evaluasi terhadap
ketiga hal di atas.
• Jika setelah 30 detik pertama ventilasi bayi menangis kuat, tidak sianosis DJ>
100x/menit dan bergerak aktif maka hentikan VTP, selimuti bayi dan
serahkan kepada ibunya untuk IMD dan perawatan observasi.
• Jika setelah 30 detik pertama bayi belum bernafas spontan atau megap
megap, DJ >100x/menit dan sianosis maka lanjutkan tindakan ventilasi
• Jika setelah 30 detik pertama bayi belum bernafas spontan atau megap
megap, DJ < 60x/menit dan sianosis maka lanjutkan tindakan ventilasi dan
lihat langkah kompresi dada
• Jika bayi mulai bernafas tetapi disertai dengan tarikan atau retraksi dinding
dada bawah maka segera rujuk ke fasilitas rujukan sambil tetap diberikan
ventilasi

7) Kompresi dada/jantung
Kompresi Jantung dan VTP dilakukan dengan 2 orang penolong. Kompresi
dilakukan jika setelah penilaian terhadap ventilasi setelah 30 detik, Denyut Jantung
(DJ) Bayi < 60x/menit, dan atau 60-80 kali per menit tetapi tidak ada
perbaikan/peningkatan maka selain VTP berikan Kompresi dada (Pijat Jantung Luar)
pada bayi.
Ada 2 cara teknik melakukan kompresi jantung pada bayi :
1. Teknik 2 jari, dengan menggunakan telunjuk dan jari tengah penolong
2. Teknik ibu jari. Dengan menggunakan kedua ibu jari tangan penolong
sedangkan jari-jari lainnya melingkari dada menjadi alas penyangga
resusitasi sebagaimana gambar berikut.

Gambar 33. Teknik Melakukan
VTP&Kompresi Dada BBL
(Sumber : Textbook of Neonatal
Resuscitation 5


57
Gambar 32. posisi penolong
dan Evaluasi pengembangan

ed. 2006)
Evaluasi yang dilihat pada resusitasi bayi meliputi : Usaha Nafas, Denyut
Jantung dan Warna Kulit. Setelah ventilasi 30 detik maka dilakukan evaluasi terhadap
detik pertama ventilasi bayi menangis kuat, tidak sianosis DJ>
100x/menit dan bergerak aktif maka hentikan VTP, selimuti bayi dan
serahkan kepada ibunya untuk IMD dan perawatan observasi.
Jika setelah 30 detik pertama bayi belum bernafas spontan atau megap-
megap, DJ >100x/menit dan sianosis maka lanjutkan tindakan ventilasi
Jika setelah 30 detik pertama bayi belum bernafas spontan atau megap-
megap, DJ < 60x/menit dan sianosis maka lanjutkan tindakan ventilasi dan
bernafas tetapi disertai dengan tarikan atau retraksi dinding
dada bawah maka segera rujuk ke fasilitas rujukan sambil tetap diberikan
Kompresi Jantung dan VTP dilakukan dengan 2 orang penolong. Kompresi
elah penilaian terhadap ventilasi setelah 30 detik, Denyut Jantung
80 kali per menit tetapi tidak ada
perbaikan/peningkatan maka selain VTP berikan Kompresi dada (Pijat Jantung Luar)
melakukan kompresi jantung pada bayi :
Teknik 2 jari, dengan menggunakan telunjuk dan jari tengah penolong
Teknik ibu jari. Dengan menggunakan kedua ibu jari tangan penolong
jari lainnya melingkari dada menjadi alas penyangga
Gambar 33. Teknik Melakukan
VTP&Kompresi Dada BBL
Textbook of Neonatal
Resuscitation 5
th
ed. 2006)

58

Teknik pertama dapat dilakukan oleh satu penolong dengan posisi jari
diletakkan dan tidak boleh diangkat dari lokasi kompresi dada, ventilasi diberikan
dengan tiupan ke sungkup. Sedangkan pada anak yang lebih besar teknik kompresi
dapat menggunakan satu tangan dengan menggunakan tumit salah satu telapak tangan
atau dengan dua tangan seperti pada dewasa.
Lokasi 1/3 bawah tulang sternum. Berbeda pada dewasa, posisi ventrikel bayi lebih
tinggi.

Frekuensi dan Irama Kompresi dada harus terkoordinasi dengan VTP
sebagai berikut : Satu siklus terdiri dari 3 kompresi dada dan 1 VTP dilakukan selama
2 detik (Rasio 3:1). Sehingga dalam satu menit ada 30 kali ventilasi dan 90 kali pijat
jantung
Irama :
Satu-Dua-Tiga-Pompa-Satu-Dua-Tiga-Pompa…dst.


Satu Siklus (2 detik)… Satu Siklus (2 detik)…

Evaluasi kembali setelah 30 detik Kompresi dan VTP efektif :
• Jika belum terjadi perbaikan ; bayi belum bernafas/megap-megap, Denyut
Jantung (DJ) < 60 kali permenit dan masih sianosis berikan
Epinefrin/Adrenalin konsentrasi 1:10.000 dengan dosis 0,01-0,03 mg/kgBB
atau setara dengan 0,1-0,3mL/kgBB secara intra vena (i.v) atau endotrakeal.
Kemudian lanjutkan VTP dan kompresi dada. Catatan :
o Dosis Via endotracheal tube (ETT) lebih tinggi = 1 mL/kgBB
dengan spuit 3 cc (Diberikan lebih awal sementara dosis iv
dipersiapkan)
o Dosis i.v = 0,1 mL/kg lewat Catheterisasi Vena Umbilicalis (spuit 1
ml diikuti 5 ml saline NaCl 0,9% bolus)
(The New NRP Algorithm-canadian NRP-2006 Addendum)
• Pertimbangkan pemberian Volume ekspander jika BBL yang di resusitasi
mengalami hipovolemia dan tidak ada respon dengan resusitasi. Hipovolemia
kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis : pucat, perfusi
buruk, nadi kecil dan lemah Capillary Refill Time > 2detik dan tidak ada
respon dengan resusitasi. Cairan yang dipakai NaCl 0,9% dengan dosis
10ml/kgBB i.v 5-10 menit.
• Jika bayi belum bernafas spontan dan sianosis tetapi DJ > 60x/menit
lakukan ventilasi saja dan selanjutnya lakukan penilaian seperti poin
sebelumnya
• Jika bayi tidak bernafas dan telah di ventilasi lebih dari 2 menit siapkan
rujukan

59

• Hentikan resusitasi sesudah 10 menit bayi tidak bernafas dan tidak ada
denyut jantung (Resusitasi tidak berhasil)

8) Tindakan Pasca Resusitasi
• Bila Resusitasi berhasil (jika bayi sudah bernafas efektif, warna kulit merah
muda, DJ>100x/menit Lakukan perawatan pasca resusitasi
• Bila perlu rujukan ; konseling untuk merujuk bayi beserta ibu dan keluarga,
lanjutkan resusitasi, memantau tanda bahaya, mencegah hipotermi,
memberikan Vitamin K, mencegah infeksi, membuat surat rujukan serta
melakukan pencatatan dan pelaporan kasus
• Bila resusitasi tidak berhasil : melakukan konseling pada ibu dan keluarga,
member petunjuk perawatan payudara serta melakukan pencatatan dan
pelaporan kasus
• Dekontaminasi seluruh peralatan

H. DAFTAR PUSTAKA
Anonim (Statewide Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program ), 2009.
Neonatal resuscitation, Queensland Government.
URLhttp://www.health.qld.gov.au/cpic/documents/mguide_NeonatResv4.p
df
Anonim. 2006. The New NRP Algorithm.NRP 2006 – Western Canada Launch.
Vancouver, BC.Didownload dari :
http://www.rcpals.com/downloads/2007files/march/march18/Neonatal_Res
uscitation_update.ppt
Anonim. 2008 : Buku Panduan Peserta Pelatihan Klinik : Asuhan Persalinan Normal;
Asuhan Esensial, Pencegahan dan Penanggulangan Segera Komplikasi
Persalinan dan Bayi Baru lahir. Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-
Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR). Depkes RI. Indonesia
Kattwinkel, J. 2006. Textbook of Neonatal Resuscitation 5
th
ed. The American
Academy of Paediatrics. Didownload dari :
http://dc161.4shared.com/download/gB6K5IST/AAP_Neonatal_Resuscitaio
n_Text.pdf?tsid=20100817-072042-243637b9
Kosim, M. Sholeh. 2005. Buku Panduan : Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir untuk
Dokter, Perawat, Bidan di Rumah Sakit Rujukan Dasar. MNH-JHPIEGO-
IDAI UKK Perinatologi-Depkes RI.
Kukreja, Sudeep, M.D. 2005. Neonatal Resuscitation. Associate Director, NICU
Children’s Hospital of Orange County Orange, CA 92868
Lily Rundjan. 2006. Resusitasi Jantung Paru pada Neonatus. Divisi Neonatologi.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Jakarta. Indonesia
Lutfia Haksari, Ekawaty. 2009. Resusitasi Bayi Baru Lahir untuk Bidan. Bagian
Perinatologi FK-UGM-RSUP Dr. Sardjito. Yogyakarta.

60

Murphy, Patti MD. FRCPC. 2007. NRP_2006_presentation : Department of
Anesthesiology University of Ottawa. February 14
th
, 2007. Didownload
dari : http://www.ottawa-anesthesia.org/rounds/.ppt
Pusponegoro, Hardiono D. et.al. 2004. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.
Edisi I 2004. : Asfiksia Neonatorum. Badan Penerbit IDAI. Jakarta.
Saugstad, Ola Didrik. 2007. New guidelines for newborn resuscitation. Acta
Pædiatrica 2007 96, pp. 333–337. Didownload dari :
http://www.nacerlatinoamericano.org/_Archivos/_Menu-
principal/08_Guias/reanimaci%F3n%20neonatal.pdf
Siahaan, Oloan SM. 1992. Resusitasi Jantung, Paru, dan Otak.Cermin Dunia
Kedokteran,Edisi Khusus No. 80, 1992 hal 129-137
































61

I. Evaluasi
Cek List OSCE CSL Resusitasi Neonatus
No Aspek yang dinilai
Skor
1 2 3 4 5
1 Melakukan komunikasi interpersonal &informed-
consent

2 Melakukan persiapan alat, tempat resusitasi dan
persiapan diri penolong dengan baik

3 Melakukan penilaian sepintas (initial assessment)
dengan benar

4 Melakukan prosedur langkah awal dengan runtut, benar
dan tepat waktu

5 MenghisapLendir Bayi dengan alat dan cara yang benar
6 Mengeringkan dan Stimulasi (rangsang taktil ) pada bayi
dengan benar serta mereposisikan kembali bayi
dilanjutkan penilaian terhadap assesmen awal : nilai
usaha nafas, warna kulit dan denyut jantung bayi

7 Memberikan ventilasi tekanan positif dengan benar
8 Melakukan evaluasi terhadap usaha nafas, denyut
jantung dan warna kulit

9 Melakukan VTP dan Kompresi dada secara
terkoordinasi dengan frekuensi dan irama yang benar

10 Melakukan evaluasi kembali dan memberikan injeksi
epinefrin per tracheal atau iv

11 Melakukan tindakan pasca resusitasi secara dengan
baik dan benar

12 Melakukan prosedur resusitasi dengan professional
TOTAL

Cek List Latihan Resusitasi Neonatus
No Aspek yang dinilai
Skor
0 1 2
Interaksi Dokter Pasien
1 Melakukan Komunikasi interpersonal dengan keluarga pasien
secara baik (senyum salam sapa)

2 Beritahu dan jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa bayi
mengalami masalah sehingga perlu dilakukan tindakan resusitasi
(informed)

3 Minta ibu dan keluarga memahami upaya ini serta mintalah
persetujuan lisan (consent)


62

PERSIAPAN
4 Melakukan persiapan dan pengecekan alat Ambubag set, sumber
oksigen dan penghubung

5 Mempersiapkan tempat resusitasi
• Meja resusitasi yang datar rata dan keras
• Menghidupkan lampu pemancar/ penghangat bayi
• Kain alas (2) dan ganjal bahu

6 Persiapan penolong; memakai APD sudah dilakukan sebelum
membantu persalinan

Initial assessment
7 Melakukan penilaian sepintas (initial assessment) dengan benar
(Menyebutkan hal apa saja yang dinilai)

LANGKAH AWAL
8 Menjaga kehangatan bayi/termoregulasi
9 Mengatur posisi bayi dengan kepala sedikit ekstensi untuk
membuka jalan nafas (Airway)

10 Menghisap Lendir Bayi dengan alat dan cara yang benar (Mulai
dari mulut dulu baru hidung dengan kedalaman yang benar)

11 Mengeringkan dan Stimulasi (rangsang taktil ) pada bayi dengan
benar

11 Mereposisikan kembali bayi
12 Nnilai usaha nafas, warna kulit dan denyut jantung bayi
Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
13 Memberikan ventilasi tekanan positif percobaan (2x pompaan,
memakai balon sungkup (Ambu bag) ukuran sesuai, cara
memegang benar, posisi kepala bayi/model sedikit ekstensi, dada
model mengembang saat dipompa)

14 Mengevaluasi jika terjadi kebocoran pada pompa percobaan
15 Meneruskan VTP dengan frekuensi 40-60 kali permenit selama
30 detik.

EVALUASI
16 Melakukan Evaluasi terhadap Usaha nafas, denyut Jantung dan
warna kulit

VTP + Kompresi Dada
17 Bila bayi belum bernafas dan Denyut Jantung < 60x/menit,
melanjutkan VTP dan Kompresi dada secara terkoordinasi dengan
frekuensi dan irama yang benar
atau Meneruskan ventilasi dada saja jika DJ>60x/menit

18 Menilai lagi bayi : usaha nafas, denyut jantung warna kulit &
Mengambil keputusan klinis dengan benar


63

Epinephrine
19 • Bila DJ masih < 60x/menit berikan epinefrin dan lanjutkan
VTP dan kompresi dada
• bila DJ>60x/menit kompresi dada dihentikan VTP
diteruskan
• Bayi tidak bernafas dan telah di ventilasi lebih dari 2 menit
siapkan rujukan
• Hentikan resusitasi sesudah 10 menit bayi tidak bernafas
dan tidak ada denyut jantung

Tindakan Pasca Resusitasi
20 Melakukan tindakan pasca resusitasi secara dengan baik dan
benar
• Bila Resusitasi berhasil (jika bayi sudah bernafas efektif,
warna kulit merah muda, DJ>100x/menit Lakukan
perawatan pasca resusitasi
• Bila perlu rujukan ; konseling untuk merujuk bayi beserta
ibu dan keluarga, lanjutkan resusitasi, memantau tanda
bahaya, mencegah hipotermi, memberikan Vitamin K,
mencegah infeksi, membuat surat rujukan serta melakukan
pencatatan dan pelaporan kasus
• Bila resusitasi tidak berhasil : melakukan konseling pada ibu
dan keluarga, member petunjuk perawatan payudara serta
melakukan pencatatan dan pelaporan kasus

21 Dekontaminasi seluruh peralatan
22 Melepas handskoon dan cuci tangan menurut WHO
Profesionalisme
23 Melakukan prosedur resusitasi dengan professional
TOTAL

Keterangan :
0 : Tidak dilakukan
1 : Dilakukan tetapi tidak benar/lengkap/sempurna
2 : Dilakukan dengan benar /lengkap/sempurna




64

ANAMNESIS PENYAKIT GENITOURINARIA
dr. Dina Tri Amalia, dr. Fajriani Damhuri


A. TEMA :
Keterampilan Komunikasi Anamnesis Penyakit Genitourinaria

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan instruksional umum
Mahasiswa mampu melakukan anamnesis penyakit
genitourinaria dengan baik dan benar
2. Tujuan instruksional khusus
• Mahasiswa dapat mengawali dan mengakhiri anamnesis
secara urut
• Mahasiswa mengucapkan salam pembuka di awal dan
penutup di akhir
• Mahasiswa dapat menggali informasi dengan detail, namun
relevan dengan permasalahan terutama masalah penyakit
genitourinaria.
• Mahasiswa dapat menunjukkan penampilan yang baik
• Mahasiswa dapat menjaga suasana proses anamnesis yang
baik
• Mahasiswa dapat memahami dan menggunakan bahasa yang
dipahami responden
• Mahasiswa dapat menghindari sikap interogasi
• Mahasiswa dapat melakukan cross check
• Mahasiswa dapat bersikap netral
• Mahasiswa dapat melaksanakan umpan balik

65

• Mahasiswa dapat mencatat hasil anamnesis dengan jelas serta
menyimpulkan hasil anamnesis.

C. ALAT DAN BAHAN

• Pasien Simulasi
• Meja dan kursi periksa

D. SKENARIO

Seorang pasien laki - laki berumur 67 tahun, datang ke praktek
anda dengan susah buang air kecil sejak 1 bulan terakhir. Lakukan
anamnesis pada pasien tersebut.

E. DASAR TEORI

Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara.
Anamnesis dapat dilakukan langsung kepada pasien, yang disebut
sebagai autoanamnesis, atau dilakukan terhadap orangtua, wali,
orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, yang disebut
sebagai alloanamnesis.

Dalam melakukan anamnesis, pemeriksa harus berupaya agar
tercipta suasana yang kondusif agar orangtua, pengantar, atau
pasiennya dapat mengemukakan keadaan pasien dengan spontan,
wajar, namun tidak berkepanjangan.

Anamnesis biasanya dilakukan dengan wawancara secara tatap
muka, dan keberhasilannya sebagian besar tergantung pada
kepribadian, pengalaman dan kebijakan pemeriksa. Dalam

66

melakukan anamnesis, diperlukan teknik komunikasi dengan rasa
empati yang tinggi dan teknik komunikasi itu terdiri atas
komunikasi verbal dan non verbal yang harus diperhatikan.
Kemudian rahasia harus dipegang kuat karena pasien datang
dengan rasa kepercayaan. Bila anamnesis dilakukan dengan baik
maka lebih kurang 70% diagnosis penyakit sudah dapat ditegakkan.

Dalam penyakit genitourinaria, pasien datang ke dokter mungkin
dengan keluhan : (1) sistemik yang merupakan penyulit dari
kelainan urologi, antara lain gagal ginjal (malaise, pucat) atau
demam disertai menggigil akibat infeksi/urosepsis dan (2) lokal
(urologi) antara lain nyeri akibat kelainan urogenital, keluhan
miksi, disfungsi seksual, atau infertilitas.

Berikut akan kita bahas beberapa keluhan yang disebabkan oleh
penyakit genitourinaria, sehingga diharapkan dengan teknik
anamnesis yang baik dapat membantu dalam menegakkan
diagnosis penyakit tersebut:

1. Nyeri
Nyeri yang disebabkan oleh kelainan yang terdapat pada organ
urogenitalia dirasakan sebagai nyeri lokal yaitu nyeri yang
dirasakan di sekitar organ itu sendiri, atau berupa referred pain
yaitu nyeri yang dirasakan jauh dari tempat organ yang sakit.
Sebagai contoh nyeri lokal pada kelainan ginjal dapat dirasakan
di daerah sudut kostovertebra dan nyeri akibat kolik ureter yang
dirasakan hingga ke daerah inguinal, testis, dan ke tungkai
bawah. Di bidang urologi banyak dijumpai bermacam-macam
nyeri yang dikeluhkan oleh pasien sewaktu datang ke tempat
praktek, yaitu:

67

• Nyeri ginjal : akibat regangan kapsul ginjal yang terjadi
karena pielonefritis akut yang menimbulkan edema,
obstruksi saluran kemih yang mengakibatkan hidronefrosis,
atau tumor ginjal.
• Nyeri kolik : akibat spasme otot polos ureter karena gerakan
peristaltiknya terhambat oleh batu, bekuan darah, dan
lainnya. Nyeri terasa sangat sakit, hilang timbul sesuai
dengan gerakan peristaltik ureter. Pertama-tama dirasakan
di daerah sudut kostovertebra kemudian menjalar ke
dinding depan abdomen, ke regio inguinal, hingga ke daerah
kemaluan. Tidak jarang nyeri kolik diikuti dengan keluhan
pada organ pencernaan seperti mual dan muntah
• Nyeri vesika : dirasakan di daerah suprasimfisis. Terjadi
akibat overdistensi buli-buli yang mengalami retensi urine
atau terdapat inflamasi pad buli-buli. Inflamasi buli
dirasakan sebagai perasaan kurang nyaman di daerah
suprapubik. Nyeri muncul ketika buli terisi penuh dan nyeri
berkurang pada saat selesai miksi. Tidak jarang pasien
sistitis merasa nyeri yang sangat hebat seperti ditusuk-tusuk
pada akhir miksi dan kadang kala disertai dengan hematuri.
• Nyeri prostat : umumnya disebabkan inflamasi yang
mengakibatkan edema kelenjar prostat dan distensi kapsul
prostat. Lokasi nyeri akibat inflamasi ini sulit untuk
ditentukan tetapi pada umumnya dapat dirasakan pada
abdomen bawah, inguinal, perineal, lumbosakral, atau nyeri
rektum. Sering diikuti dengan keluhan miksi berupa
frekuensi, disuria, bahkan retensi urine.
• Nyeri testis / epididimis : nyeri pada daerah kantong
skrotum dapat berasal dari nyeri akibat kelainan di kantong
skrotum (nyeri primer) atau nyeri (refered pain) yang

68

berasal dari organ di luar kantong skrotum. Nyeri testis
dirasakan hingga ke daerah abdomen sehingga dikacaukan
dengan nyeri karena kelainan organ abdominal. Begitu pula
nyeri akibat inflamasi pada ginjal dan inguinal, seringkali
dirasakan di daerah skrotum. Nyeri tumpul di sekitar testis
dapat disebabkan karena varikokel, hidrokel, maupun tumor
testis.
• Nyeri penis : dirasakan pada daerah penis yang sedang tidak
ereksi (flaksid) biasanya merupakan referred pain dari
inflamasi pada mukosa buli-buli atau uretra, yang terutama
dirasakan pada meatus uretra eksternum. Selain itu
parafimosis dan keradangan pada prepusium maupun glans
penis memberikan rasa nyeri yang terasa pada ujung penis.
Nyeri yang terjadi pada saat ereksi mungkin akibat penyakit
Peyronie atau priapismus.

2. Keluhan miksi
Keluhan yang dirasakan oleh pasien pada saat miksi meliputi
Lower urinary tract symptoms (LUTS) dan inkontinentia urine.
LUTS menjadi keluhan kira-kira 40 % orang tua. Gejalanya
dibagi menjadi 2 yaitu gejala iritatif dan gejala obstruksi. Gejala
LUTS dapat kita jumpai pada penyakit Benign Prostattic
Hyperplasia (BPH), kelemahan otot detrusor, infeksi saluran
kencing (ISK), prostatitis, batu pada saluran kencing, keganasan
prostat atau keganasan bulu-buli, penyakit neurologik (multiple
sklerosis, spinal cord injury, cauda equina syndrome).

Berikut akan dijelaskan keluhan yang dirasakan pasien pada saat
miksi, yaitu:


69

Keluhan iritasi meliputi:
• Urgensi: rasa sangat ingin kencing sehingga terasa sakit.
Akibat hiperititabilitas dan hiperaktivitas buli karena
inflamasi, terdapat benda asing di dalam buli, adanya
obstruksi intravesika atau karena kelainan buli nerogen.
• Frekuensi atau polakisuria : frekuensi berkemih lebih dari
normal. Setiap hari orang normal rata – rata berkemih
sebanyak 5 hingga 6 kali dengan volume kurang lebih 300
ml setiap miksi. Akibat poliuria atau karena kapasitas buli
yang menurun sehingga sewaktu buli terisi pada volume
yang belum mencapai kapasitasnya, rangsangan miksi
sudah terjadi.
• Nokturia : polakisuria yang terjadi pada malam hari. Pada
pasien usia tua tidak jarang terjadi peningkatan produksi
urine pada malam hari karena kegagalan ginjal melakukan
konsentrasi (pemekatan urine).
• Disuria : nyeri saat miksi dan terutama disebabkan karena
inflamasi pada buli-buli atau uretra. Sering nyeri dirasakan
paling sakit di sekitar meatus uretra eksternus. Disuria yang
terjadi di awal miksi biasanya berasal dari kelainan utetra
dan jika terjadi pada akhir miksi adalah kelainan pada buli-
buli.

Keluhan obstruksi meliputi:
• Hesitansi : awal keluarnya urine menjadi lebih lama dan
seringkali pasien harus mengejan untuk memulai miksi.
• Pancaran keluarnya urine lemah, tidak jauh dan kecil
(bahkan urine jatuh di dekat kaki pasien)
• Intermitensi : di pertengahan miksi seringkali miksi berhenti
kemudian memancar lagi / miksi terputus-putus

70

• Terminal dribbling : miksi diakhiri dengan perasaan masih
terasa ada sisa urine di dalam buli (BAK tidak puas) dengan
masih keluar tetesan – tetesan urine
• Enuresis : ketidakmampuan menahan miksi

Inkontinensia urine
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk
menahan miksi yang keluar dari buli –buli baik disadari
maupun tidak disadari.

3. Keluhan perubahan warna urine
• Hematuria
Hematuria adalah didapatkannya darah atau sel darah merah
di dalam urine. Hal ini perlu dibedakan dengan bloody
urethral discharge atau perdarahan uretra yaitu keluar darah
dari meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi.
Porsi hematuria yang keluar perlu diperhatikan apakah
terjadi pada saat awal miksi (hematuria inisial), seluruh
proses miksi (hematuria total) atau akhir miksi (hematuria
terminal). Dengan memperhatikan porsi hematuria yang
keluar dapat diperkirakan asal perdarahan. Hematuri dapat
disebabkan oleh berbagai kelainan pada saluran kemih
tetapi mulai dari infeksi hingga keganasan saluran kemih.

• Pneumaturia
Pneumaturia adalah berkemih tercampur dengan udara.
Keadaan ini dapat terjadi karena terdapat fistula antara buli
dengan usus, atau terdapat proses fermentasi glukosa
menjadi gas CO
2
di dalam urine seperti pada pasien diabetes
melitus.

71


• Hematospermia/hemospermia : didapatkannya darah di
dalam cairan ejakulat (semen). Biasanya dialami oleh pasien
pubertas dan paling banyak usia 30-40 tahun.

• Cloudy urine : urine berwarna keruh dan berbau busuk
akibat akibat dari suatu infeksi saluran kemih. Keluarnya
cairan dari uretra pada laki-laki adalah yang paling banyak
menimbulkan keluhan urologi. Oranisme penyebab yang
paling sering adalah Neisseria gonorrhoeaea atau
Chlamydia trachomatis. Cairan yang keluar disertai rasa
terbakar saat miksi atau rasa gatal pada uretra.

Selain akibat infeksi, pasien juga sering mengeluhkan urine
yang berwarna keruh, tetapi ini lebih sering terjadi karena
alkalin, yang menyebabkan presipitasi fosfat. Urinalisis
yang tepat akan memperlihatanya penyebab dari kekeruhan
tersebut.

Pergerakan aliran limfatik atau chyle, ditandai pada pasien
dengan urine putih susu. Hal tersebut menujukkan sistem
fistula limfatik-urinari. Sebagian besar disebabkan oleh
obstruksi kelenjar limfe ginjal, dengan pecahnya forniceal
dan rembesan. Filariasis, trauma, tuberkulosa, dan tumor
retroperitoneal dapat menyebabkan masalah ini.

4. Massa
Pasien mungkin memberitahu adanya massa yang terlihat dan
teraba pada perut bagian atas yang mungkin menunjukkan tumor
ginjal, hidronefrosis, atau polikistik ginjal. Pembesaran kelenjar

72

limfe pada leher mungkin menunjukkan adanya metastase tumor
dari prostat atau testis. Benjolan pada selangkangan dapat
menandakan adanya penyebaran tumor dari penis atau
limfadenitis, chancroid, sifilis, atau limfogranuloma venerum.
Keluhan massa pada skrotum dan isinya meliputi buah zakar
membesar, terdapat bentukan berkelok kelok seperti cacing di
dalam kantong (varikokel), atau buah zakar yang tidak berada di
dalam kantong skrotum (kriptorkismus). Pembesaran pada buah
zakar mungkin disebabkan oleh tumor testis, hidrokel,
spermatokel, hematokel atau hernia skrotalis.

5. Keluhan disfungsi seksual: meliputi libido menurun, kekuatan
ereksi menurun, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd (air mani
tidak keluar pada saat ejakulasi), tidak pernah merasakan
orgasmus atau ejakulasi dini.

6. Luka yang terdapat pada glans penis atau leher penis mungkin
menunjukkan adanya luka sifilis, chancroid, herpes simpleks,
atau karsinoma sel skuamosa. Tampak kelainan berupa kutil
pada penis.

F. PROSEDUR

Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas, keluhan utama,
riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, anamnesis
sistem, riwayat penyakit dalam keluarga, dan riwayat pribadi.

1. Identitas Pasien
Identitas pasien merupakan bagian yang paling penting dalam
anamnesis. Identitas diperlukan untuk memastikan bahwa pasien

73

yang dihadapi adalah memang benar pasien yang dimaksud,
selain itu juga diperlukan untuk data penelitian , asuransi, dan
lain sebagainya.
Identitas meliputi:
• Nama lengkap pasien
• Umur atau tanggal lahir
• Jenis kelamin
• Alamat
• Pendidikan
• Pekerjaan
• Suku bangsa
• Agama.

Usia dan jenis kelamin penting ditanyakan untuk kerentanan
penyakit yang berkaitan dengan usia dan jenis kelamin tertentu,
contohnya BPH. Riwayat pekerjaan juga penting untuk
menganalisis risiko penyakit. Misalnya supir, mempunyai risiko
terkena penyakit batu karena duduk secara statis dan dalam
waktu yang lama.

2. Keluhan Utama
Keluhan utama yaitu keluhan atau gejala yang dirasakan pasien
yang membawanya pergi ke dokter untuk berobat. Keluhan
utama sangat dibutuhkan dalam mengumpulan informasi
masalah. Bahkan untuk pasien yang datang hanya untuk sekedar
pemeriksaan rutin. Perlu diketahui bahwa keluhan utama tidak
selalu keluhan yang pertama disampaikan oleh orangtua pasien;
hal ini terutama pada orangtua yang pendidikannya rendah, yang
kurang dapat mengemukakan esensi masalah.


74



3. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat perjalan penyakit merupakan cerita yang kronologis,
terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak
sebelum keluhan utama, sampai pasien datang berobat. Pasien
diminta menceritakan gejala-gejala yang muncul dengan kata-
katanya sendiri. Informasi tambahan tentang keluhan pasien
dapat diperoleh dengan mengajukan pertanyaan yang spesifik.
Riwayat perjalanan penyakit disusun dalam bahasa Indonesia
yang baik sesuai dengan apa yang diceritakan pasien, tidak
boleh menggunakan bahasa kedokteran, apalagi melakukan
interpretasi dari apa yang dikatakan oleh pasien. Dalam
mewawancarai pasien gunakanlah kalimat terbuka (kata tanya
apa, mengapa, bagaimana, bilamana), bukan kalimat tertutup/
kata tanya yang mendesak sehingga pasien hanya dapat ya dan
tidak, kecuali bila akan memperjelas sesuatu yang kurang jelas.

Dalam melakukan anamnesis , harus diusahakan mendapatkan
data-data sebagai berikut:
1. Waktu dan lama keluhan berlangsung
2. Sifat dan beratnya serangan, misalnya mendadak, perlahan-
lahan, terus-menerus, hilang timbul, cenderung bertambah
berat atau berkurang
3. Lokalisasi dan penyebarannya, menetap, menjalar, atau
berpindah-pindah
4. Hubungan dengan waktu, misalnya pagi lebih sakit daripada
siang dan sore, atau terus-menerus tidak mengenal waktu

75

5. Hubungannya dengan aktifitas, misalnya bertambah berat
jika melakukan aktifitas, atau bertambah ringan jika
beristirahat.
6. Keluhan-keluhan lain yang menyertai serangan, misalnya
keluhan yang mendahului serangan, atau keluahan lain yang
bersamaan dengan serangan
7. Apakah keluhan pertama kali atau sudah berulang
8. Faktor risiko dan pencetus serangan , termasuk faktor-faktor
yang memperberat atau meringankan serangan.
9. Apakah ada saudara sedarah , atau teman-teman dekat yang
menderita keluhan yang sama
10. Perkembangan penyakit, kemungkinan telah terjadi
komplikasi atau gejala sisa
11. Upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi keluhan dan
bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang telah diminum
oleh pasien, juga tidakan medis yang dilakukan (riwayat
pengobatan kuratif maupun preventif)
12. Apabila ada gejala LUTS tanyakan gejala iritatif dan gejala
obstruksi. Gejala obstruksi : Hesitansi (kesulitan untuk
memulai berkemih), pancaran miksi lemah, intermitensi
(miksi yang terputus-putus), miksi tidak puas, menetes
setelah miksi (terminal dribbling), ketidakmampuan
menahan miksi (enuresis). Gejala iritatif : frekuensi
(meningkatnya frekuensi miksi), nokturi (meningkatnya
pengeluaran urin saat malam hari), urgensi (sebuah
keinginan yang kuat tiba-tiba untuk buang air kecil), disuria
(nyeri saat miksi).

Setelah semua data terkumpul, usahakan untuk membuat
diagnosis sementara dan diagnosis diferensial.

76


4. Riwayat penyakit dahulu
Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya
hubungan penyakit yang pernah diderita dengan penyakit
sekarang. Tanyakan pula apakah pasien pernah mengalami
kecelakaan, operasi, riwayat alergi obat dan makanan. Bila
pasien pernah melakukan berbagai pemeriksaan medis, maka
harus dicatat dengan seksama, termasuk hasilnya.

5. Riwayat penyakit dalam keluarga
Penting untuk mencari kemungkinan penyakit herediter, familial
, atau penyakit infeksi. Pada penyakit kongenital perlu ditanya
juga riwayat kehamilan dan kelahiran.

6. Riwayat pribadi
Riwayat pribadi meliputi data-data sosial, ekonomi, pendidikan,
dan kebiasaan. Kebiasaan pasien yang juga harus ditanyakan
adalah riwayat merokok, minuman alkohol, dan penyalahgunaan
obat-obat terlarang ( Narkoba). Merokok juga bisa menjadi
faktor risiko BPH. Nokturia dapat terjadi tanpa adanya penyakit
pada orang yang minum dalam jumlah cairan yang berlebihan di
malam hari, minum kopi dan minuman beralkohol.
Bila ada indikasi, riwayat perkawinan dan kebiasaan seksualnya
harus ditanyakan. Kebiasaan berganti-ganti pasangan bila
mencurigai terjadi infeksi saluran kencing. Diet sehari-hari
bagaimana, bila mencurigai batu ginjal kita dapat
memperkirakan jenis batu tersebut. Aktifitas dan olahraga juga
ditanyakan untuk faktor risiko penyakit batu.



77

G. DAFTAR PUSTAKA
• Anonim.2001. Buku Panduan skill Lab FK UGM. Yogyakarta
• Anonim.2007.Buku Panduan Skill Lab FK Unpad.Bandung
• Datta, Mirpuri.2003.Crassh Course Renal and Urinary
Systems.London
• Purnomo, Basuki B. 2007. Dasar- Dasar Urologi Edisi Kedua.
CV.Sagung seto : Jakarta
• Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I dan Jilid II. Ilmu Penyakit Dalam FKUI: Jakarta






















78

H. CEK LIST LATIHAN : ANAMNESIS GENITOURINARIA

No Prosedur/ Aspek Latihan
Nilai
0 1 2
ITEM INTERAKSI DOKTER-PASIEN
1 Mengucapkan salam pada awal wawancara
2 Mempersilakan duduk berhadapan
3 Memperkenalkan diri
4
Informed
• menjelaskan kepentingan penggalian
informasi yang benar tentang sakit pasien

5
Consent
• Meminta waktu & ijin untuk melakukan
alloanamnesis jika diperlukan

ITEM PROSEDURAL
6
Menanyakan identitas pasien :
Nama , Umur , jenis kelamin (dicatat saja tidak
perlu ditanyakan), alamat lengkap, pekerjaan,
agama dan suku bangsa
Pastikan menggali identitas tidak terkesan
interogasi tidak harus berurutan dicari lengkap,
boleh diselang-seling saat anamnesis
berlangsung

Menanyakan Riwayat Penyakit Sekarang
7
a. Menanyakan keluhan utama
Cross cek, dan Pastikan Keluhan Utama

8 b. Menanyakan keluhan lain/ tambahan
9
c. Menggali informasi tentang riwayat penyakit
sekarang
• waktu dan lama
• sifat


79

• lokalisasi dan penyebaran
• hubungan dengan waktu dan aktifitas
• keluhan yang mendahului dan menyertai
serangan
• keluhan muncul pertama kali/ sudah
berulang
• faktor resiko dan pencetus serangan
• riwayat keluarga dengan keluhan yang
sama
• perkembangan penyakit
• upaya pengobatan & hasilnya

Apabila ada keluhan mikturisi, tanyakan gejala :
• Gejala obstruksi :
Hesitansi (kesulitan untuk memulai
berkemih), pancaran miksi lemah,
intermitensi (miksi yang terputus-putus),
miksi tidak puas, menetes setelah miksi
(terminal dribbling), ketidakmampuan
menahan miksi (enuresis).
• Gejala iritatif :
Frekuensi (meningkatnya frekuensi miksi),
nokturi (meningkatnya pengeluaran urin
saat malam hari), urgensi (sebuah
keinginan yang kuat tiba-tiba untuk buang
air kecil), disuria (nyeri saat miksi).
• Perubahan warna urine : berdarah,
berawan, atau bening
• Pernah keluar batu atau tidak


80

10
Menanyakan riwayat penyakit dahulu
(menanyakan riwayat penyakit yang pernah di
derita sebelumnya, adakah riwayat operasi,
riwayat trauma, riwayat alergi obat dan
makanan, riwayat obat-obatan yang pernah
dikonsumsi)


11
Menanyakan riwayat penyakit dalam keluarga
(riwayat penyakit herediter, familial, atau
penyakit infeksi dalam keluarga)


12
Menggali informasi tentang riwayat Pribadi
(riwayat merokok, minuman alkohol, dan
penyalahgunaan obat-obat terlarang, pola diet/
kebiasaan makan dan minum, aktifitas dan
olahraga. Bila ada indikasi, riwayat perkawinan
dan kebiasaan seksualnya harus ditanyakan.
Kebiasaan berganti-ganti pasangan bila
mencurigai terjadi infeksi saluran kencing.


ITEM PENALARAN KLINIS
13
Melakukan cross check (paraphrase atau
pengulangan terhadap apa yang dikatakan
pasien)

14
Melakukan umpan balik (menanyakan hal-hal
yang kurang jelas, atau pertanyaan yang kurang
jelas).

15 Mencatat semua hasil anamnesis
16
Menyimpulkan dan menginterpretasikan hasil
anamnesis

ITEM PROFESIONALISME
17 Percaya diri, bersikap empati, tidak

81

menginterogasi, serta menghormati pasien.
18 Mengakhiri anamnesis dengan sikap yang baik
TOTAL

Keterangan :
0 : Tidak dilakukan
1 : Dilakukan tetapi tidak benar/lengkap/sempurna
2 : Dilakukan dengan benar /lengkap/sempurna


























PEMERIKSAAN FISIK SISTEM UROGENITAL PRIA
dr. Exsa Hadibrata, dr. Anggi Setiorini
A. Tema Pembelajaran
Keterampilan anamnesis dan pemeriksaan fisik sistem urogenital
pria
B. Tujuan
Setelah mempelajari CSL ini, diharapkan mahasiswa mampu
melakukan:
• persiapan sebelum melakukan pemeriksaan fisik urogenital pria
• pemeriksaan fisik ginjal
• pemeriksaan fisik suprapubik
• pemeriksaan fisik penis
• fisik skrotum dan isinya

C. Level Kompetensi

No Jenis Kompetensi
1 Inspection of penis
2 Inspection and palpation of scrotum
3
Palpation of penis, testes, epididymis
spermatic duct
4 Transillumination of scrotum
5
Palpation (abdominal wall, kidney, colon,
liver, spleen, aorta, rigidity)

D. Alat dan Bahan
1. Handscoen
2. Manekin genitalia pria
3. Senter


82
PEMERIKSAAN FISIK SISTEM UROGENITAL PRIA
Keterampilan anamnesis dan pemeriksaan fisik sistem urogenital
Setelah mempelajari CSL ini, diharapkan mahasiswa mampu
lakukan pemeriksaan fisik urogenital pria
Level
Kompetensi
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4

83

E. Skenario
Datang seorang pasien, laki-laki berusia 50 tahun, mengeluh buah
zakarnya membesar sejak 1 minggu yang lalu. Sebagai dokter
anda melakukan pemeriksaan fisik sistem urogenita pria untuk
menegakkan diagnosa pada pasien ini.
F. Dasar Teori
Pemeriksaan fisik pasien meliputi pemeriksaan tentang
keadaan umum pasien dan pemeriksaan urologi. Seringkali
kelainan-kelainan di bidang urologi memberikan manifestasi
penyakit umum (sistemik) atau tidak jarang pasien-pasien urologi
kebetulan menderita penyakit lain. Adanya hipertensi mungkin
merupakan tanda dari kelainan ginjal, edema tungkai satu sisi
mungkin akibat obstruksi pembuluh vena karena penekanan tumor
buli-buli atau karsinoma prostat, dan ginekomasti mungkin ada
hubungannya dengan karsinoma testis. Semua keadaan di atas
mengharuskan dokter untuk memeriksa keadaan umum pasien
secara menyeluruh. Pada pemeriksaan urologi harus diperhatikan
setiap organ mulai dari pemeriksaan ginjal, buli-buli, genitalia
eksterna dan pemeriksaan neurologi.
1. Pemeriksaan ginjal
Adanya pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen
sebelah atas harus diperhatikan pada saat melakukan inspeksi pada

84

daerah ini. Pembesaran itu mungkin disebabkan oleh karena
hidronefrosis atau tumor pada daerah retroperitonium.
Palpasi pada ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan
memakai dua tangan. Tangan kiri diletakkan di sudut kostovertebra
untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan meraba
ginjal dari depan.







Gambar 1. Palpasi bimanual ginjal
Perkusi atau pemeriksaan ketok ginjal dilakukan dengan
memberikan ketokan pada sudut kostovertebra (yaitu sudut yang
dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang vertebra).
Pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal,
mungkin teraba pada palpasi dan terasa nyeri pada perkusi.

2. Pemeriksaan buli-buli
Pada pemeriksaan buli-buli diperhatikan adanya
benjolan/massa atau jaringan parut bekas irisan operasi di
suprasimfisis. Massa di daerah suprasimfisis mungkin

85

merupakan tumor ganas buli-buli yang terisi penuh dari suatu
retensi urune. Dengan palpasi dan perkusi dapat ditentukan
batas atas buli-buli.

3. Pemeriksaan genitalia eksterna
Pada inspeksi genitalia eksterna diperhatikan
kemungkinan adanya kelainan pada penis/uretra antara lain :
mikropenis, makropenis, hipospadia, kordae, epispadia, stenosis
pada meatus uretra eksterna, fimosis/parafimosis, fistel uretro
kutan, dan ulkus/tumor penis. Striktura uretra anterior yang
berat menyebabkan fibrosis korpus spongiosum yang teraba
pada palpasi di sebelah vebtral penis, berupa jaringan keras yang
dikenal dengan spongiofibrosis. Jaringan keras yang teraba pada
korpus kavernosum penis mungkin suatu penyakit pyrone.

4. Pemeriksaan skrotum dan isinya
Perhatikan apakah ada pembesaran pada skrotum,
perasaan nyeri pada saat diraba, atau ada hipoplasi kulit skrotum
yang sering dijumpai pada kriptokosmus. Untuk membedakan
antara massa padat dan massa kistus yang terdapat pada isi
skrotum, dilakukan pada tempat yang gelap dan menyinari
skrotum dengan cahaya terang. Jika isi skrotum tampak
menerawang berarti cairan kistus dikatakan sebagai
transluminasi positif atau diafanoskopi positif.

86


5. Pemeriksaan neurologi
Pemeriksaan neurologi ditujukan untu mencari
kemungkinan adanya kelainan neurologik yang mengakibatkan
kelainan pada sistem urogenitalia. Seperti pada lesi motor
neuron atau lesi saraf perifer yang merupakan penyebab buli-
buli nerogen.

G. PROSEDUR
1. Sapalah pasien atau keluarganya dengan ramah dan persilahkan
duduk.Perkenalkan diri anda, serta tanyakan keadaannya.
2. Berikan informasi umum pada pasien atau keluarganya tentang
pemeriksaan fisik yang akan dilakukan, tujuan dan manfaatnya
untuk pasien. Berikan jaminan pada pasien atau keluarganya
tentang kerahasian hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan.
Jelaskan pada pasien tentang hak pasien atau keluarganya
misalnya tentang hak untuk menolak pemeriksaan fisik.
3. Mintalah persetujuan pasien untuk pemeriksaan fisik (inform
consent)
4. Cuci tangan, persiapan alat, persiapan pasien dan pemeriksa.
Pemeriksaan dilakukan di tempat ruangan yang tenang dan
cahaya yang cukup terang. Perawat sebaiknya mendamping
dokter selama pemeriksaan. Pemeriksa berdiri di samping kanan
pasien.

87


5. Pemeriksaan Perut
A. Pemeriksaan regio costo-vertebralis
Pemeriksaan dapat dengan duduk, tapi yang paling baik dan
biasa dilakukan adalah dalam posisi baring terlentang
(Supine position), dilihat dari depan dan belakang


Inspeksi :
Perhatikan tanda radang hebat, trauma (luka lecet/gores),
benjolan di RCV/lateral abdomen yg ikut gerak
nafas(tumor).

Palpasi :
a. Pemeriksaan posisi baring, 1 tangan di costo-vertebralis
dan satu tangan didepan dinding perut. Pemeriksaan dalam
keadaan inspirasi dan ekspirasi. Ginjal kanan lebih rendah,
kadang teraba "ballotement" pada inspirasi maksimal.
b.Periksa adanya nyeri saat palpasi dan konsistensi ginjal

Perkusi
a. Dilakukan di daerah costo-vertebralis (lat dinding perut).
Lihat perluasan dan progresifisitas daerah pekak (dullness)
dinding lateral abdomen.(perdarahan pd kasus trauma ginjal)

88

b. Perdarahan retroperitoneal pekak pada perkusi tidak
berubah dgn perubahan posisi, jika intraperitoneal pekak
berpindah sesuai dengan perubahan posisi

Auskultasi
Pemeriksaan dengan steteskop : terdengar suara bising
(systolic bruit) bila ada stenosis atau aneurysma arteri renalis

Transilluminasi
Terutama anak< 1thn dgn massa besar di supra pubis atau
RCV Gunakan senter pada sisi massa di kamar gelap.
Tes transluminasi (+) → kista ginjal atau hydronefrosis dgn
cairan transparant. Transluminasi tes (+) seperti pada
hydrocele

B. Pemeriksaan Supra Pubik
Inspeksi :
Normal : kosong atau volume < 150 cc → tidak
teraba/terlihat
a. Lihat penonjolan yg bulat antara sympisis os pubis dan
umbilikus →
buli-buli penuh
b. Benjolan tidak teratur di supra pubis --> tumor buli-buli
besar

89


Palpasi
a. Nyeri tekan supra pubis → sistitis
b.Tumor buli-buli, uterus, ovarium yg besar dan seminoma
teraba di supra pubis
c. Urin sisa yg banyak → teraba dengan colok dubur
bimanual

Perkusi
a. Buli-buli kosong → tidak dapat diidentifikasi dgn
perkusi.
b. Pekak (dullness) di supra pubis → isi buli-buli > 150 cc
atau atau kista ovarium pada wanita

6. Pemeriksaan Genitalia Eksterna Pria
A. Penis
Inspeksi :
a. Perhatikan dari ujung penis sampai pangkal
b. Apakah sudah disirkumsisi atau belum. Bila belum
perhatikalah preputium
• Preputium terlalu panjang, biasa pd hipospadia →
dorsal hood.

90

• Orificium kecil dan konstriksi ketat hingga preputium
tdk dapat dapat ditarik ke belakang melewati glans
penis→ phymosis.

• Preputium yg phymosis kalau dipaksa ditarik ke
belakang corona glandis dan tidak segera direposisi
kembali → paraphymosis


https://online.epocrates.com
c. Bila sudah disirkumsisi, perhatikan ;

91

• Glans penis
Periksa apakah ada Herpes progenitalis (Virus Herpes
tipe 2), Radang glans penis : balanitis
• Meatus uretra
o irritasi kronis pada meatus → Erythro-plasma of
Queyrat
o Condyloma acuminata = verruca acuminata
o Urethral discharge. Cairan yang keluar dari
meatus urethra : Nanah (urethritis), darah
(ruptura urethra, corpus alienum, batu, tumor
urethra)
o Sulcus coronarius
Chancroid ( infeksi basil Ducrey ), scar ( sifilis
primer), tumor (ca. penis), Condylomata
acuminata
• Letak meatus uretra
Hipospadia ada 3 tipe : Anterior, middle, dan posterior







92










Epispadia: meatus urethra terletak di dorsum penis.
Fistel urethra akibat peri urethritis atau trauma.
• Hypoplasia of the penis (micro penis) adalah penis yang
tidak berkembang (tetap kecil)
• Curvatura penis : hypospadia penis akan bengkok kearah
ventral (chordae)

Palpasi :
Diraba seluruh penis mulai dari preputium,glans dan batang
penis serta urethra.
o Phymosis teraba massa lunak atau keras dibawah
preputium pada glans penis atau sulcus caronarius.
o Uretra spt tali dan pancaran kencing kurang → striktur
uretra.

93

o Teraba batu pada fossa navicularis glandis dan peno-
scrotalis

B. Skrotum & Isinya
Inspeksi
a. Normal : kanan lebih tinggi dari kiri
b. Lihat abses, fistel, udema, ganggren (skrotum tegang,
kemerahan, nyeri, panas, mengkilap, hilang rasa, basah →
ganggren, ca srotum
c. Lihat pembesaran scrotum :
• Orchitis/epididimitis: nyeri dgn tanda radang, skrotum
udem, merah.
• Ca testis: skrotum besar berbenjol, tak ada tanda radang
& tdk nyeri.
• Hydrocele testicularis: kantong hydrocele seolah-olah
mengelilingi testis sehingga testis tidak dapat diraba.
• Hydrocele funicularis : kantong hydrocele berada di
funikulus, yaitu terletak di sebelah kranial testis.
• Hernia Inguinalis : usus dapat masuk atau didorong
masuk ke dalam rongga abdomen ketika berbaring.
• Varicocele: gambaran kebiruan menonjol dan berkelok-
kelok sepanjang skrotum, menghilang bila berbaring.

94

• Hematocele : perdarahan akibat trauma, skrotum
bengkak kebiruan ada bekas trauma
• Torsi testis : testis membengkak, letaknya lebih tinggi
dan lebih horizontal daripada testis kontralateral.

Palpasi
a. Raba jumlah testis, monorchidism / anorchidism,
kriptokismus uni/bilateral.
• Testis teraba keras sekali tidak nyeri tekan → seminoma
• Hydrocele → testis tdk teraba, fluktuasi, tes
transluminasi (+)
• Hernia skrotalis → teraba usus/massa dr skrotum sampai
kanalis inguinalis.
• Varicocele → seperti meraba cacing dlm kantung yang
berada di sebelah cranial testis (big of worm).
• Torsio testis → teraba horisontal dan nyeri. Jika
dilakukan elevasi (pengangkatan) testis, pada
epididimitis akut nyeri akan berkurang, sedangkan pada
torsio testis nyeri tetap ada. (Prehn's sign).
b. Vas deferens teraba seperti benang besar dan keras dalam
skrotum. Tidak teraba → agenesis vas deferens




95

Transluminasi
Jika isi skrotum tampak menerawang berarti cairan kistus
dikatakan sebagai transluminasi positif atau diafanoskopi
positif.


H. Daftar Pustaka
a. Purnomo B, Basuki. 2007. Dasar-Dasar Urologi. FK Unibraw :
CV Sagung Seto.
b. Emil A, Tanagho et all. Smith’s General Urology 16
th
Edition.
Mc Graw-Hill, 2004
c. Degown RL and Brown DD : DeGowin’s Diagnostic
Examination, 7th edition.McGraw-Hill, 2000
d. Swartz MH : Textbook of Physical Diagnosis, Hystory and
Examination, 5th
edition, Elsevier, 2006
e. https://online.epocrates.com/data_dx/reg/765/img/765-2-iline.gif









96

Cek List Pemeriksaan Fisik Sistem Urogenitalia Pria
No Aspek Penilaian
Skor
0 1 2
I INTERPERSONAL
1 Senyum, salam dan sapa
2 Informed consent
II PROSEDURAL
3 Persiapan alat, cuci tangan WHO, pasang handscoen
A PEMERIKSAAN PERUT
A.1 Pemeriksaan regio costovertebralis
4 Inspeksi
5 Palpasi
6 Perkusi
7 Auskultasi
8 Transluminasi
A.2 Pemeriksaan Suprapubis
9 Inspeksi
10 Palpasi
11 Perkusi
12 Auskultasi
B PEMERIKSAAN GENITALIA EKSTERNA
B.1 Pemeriksaan Penis
13 Inspeksi
14 Palpasi
B.2 Pemeriksaan Skrotum dan Isinya
15 Inspeksi
16 Palpasi
17 Transluminasi

97

III PROFESIONALISME
18 Tunjukkan sikap percaya diri
19 Tunjukkan sikap menghormati pasien
20 Tutup, memberikan salam serta mencatat pada
medical record

TOTAL

Keterangan :
0 : Tidak dilakukan
1 : Dilakukan tetapi tidak benar/lengkap/sempurna
2 : Dilakukan dengan benar /lengkap/sempurna
















TEKNIK PEMERIKSAAN PROSTAT DENGAN COLOK DUBUR
dr. Exsa Hadibrata, dr. Hanna Mutiara
A. Tema Pembelajaran
Keterampilan Pemeriksaan Prostat Dengan Colok Dubur
B. Tujuan
Setelah mempelajari CSL ini, diharapkan mahasiswa mampu
untuk:
1. mempersiapkan pasien dengan benar
2. mempersiapkan alat/bahan dengan benar
3. memberi penjelasan pada pasien atau keluarga pasien
tentang apa yang akan dilakukan, alat yang dipakai,
bagaimana melakukan, apa manfaatnya, dan apa risiko yang
mungkin terjadi.
4. menempatkan pasien pada posisi yang tepat
5. melakukan pemeriksaan colok dubur dengan tepat
6. melakukan pemeriksaan kelenjar prostat dengan tepat

C. Level Kompetensi

No Jenis Kompetensi Level
1
Rectal Examination
1
2
Palpation Of Prostate
1

D. Alat Dan Bahan
1. Handscoen
2. Jelly
3. Manekin Prostat
4. Sabun cair
5. Air mengalir
6. larutaaan antiseptik

98
TEKNIK PEMERIKSAAN PROSTAT DENGAN COLOK DUBUR
Keterampilan Pemeriksaan Prostat Dengan Colok Dubur
Setelah mempelajari CSL ini, diharapkan mahasiswa mampu
memberi penjelasan pada pasien atau keluarga pasien
tentang apa yang akan dilakukan, alat yang dipakai,
melakukan, apa manfaatnya, dan apa risiko yang

melakukan pemeriksaan colok dubur dengan tepat
melakukan pemeriksaan kelenjar prostat dengan tepat
Level Kompetensi
2 3 4
2 3 4

99

7. Lap atau tissue
8. Tempat sampah medis

E. Skenario
Pada saat sedang jaga di UGD RS anda kedatangan
pasien, laki-laki, 55 tahun mengeluh sulit sekali berkemih,
berkemih harus mengedan, dan juga terasa perih saat berkemih.
Pasien merasakan hal ini sejak 6 bulan yang lalu, dan dirasakan
makin lama keluhan makin berat. Ia sudah pernah berobat ke
dokter, menurut dokter ia terkena penyakit BPH. Anda lalu
melakukan pemeriksaan prostat dengan colok dubur untuk
menegakkan diagnosa pada pasien ini.
F. Dasar Teori
A. Colok dubur (rectal toucher)
Pemeriksaan colok dubur adalah memasukkan jari telunjuk
yang sudah diberi pelicin ke dalam lubang dubur. Pemeriksaan
ini menimbulkan rasa sakit dan menyebabkan kontraksi sfingter
ani sehingga dapat menyulitkan pemeriksaan. Oleh karena itu
perlu dijelaskan teelebih dahulu kepada pasien tentang
pemeriksaan yang akan dilakukan, agar pasien dapat bekerja
sama dalam pemeriksaan ini. Pada pemiriksaan colok dubur
dinilai :

a. Tonus sfingter ani dan refleks bulbokavernosus
b. Mencari kemungkinan adanya massa di dalam lumen rektum
c. Menilai prostat.

100


Penilaian refleks bulbokavernosus dilakukan dengan cara
merasakan jepitan pada sfingter ani pada jari akibat rangsangan
sakit yang kita berikan pada glans penis atau klitoris.









Gambar 1. Pemeriksaan colok dubur













Gambar 2. Posisi pemeriksaan colok dubur : a. Posisi litotomi, b. Posisi
left lateral decubitus, c & d. Posisi knee chest, e & f posisi
membeungkuk

101


Pada wanita yang sudah berkeluarga selain pemeriksaan colok
dubur, perlu juga diperiksa colok vagina guna melihat
kemungkinan adanya kelainan di dalam alat kelamin wanita,
antara lain : massa di serviks, darah di vagina, atau massa di
buli-buli.

Indikasi dilakukannya colok dubur antara lain
a. Retentio urine
b. Aliran urine berkurang, nocturia, urine menetes (dribbling)
c. Pemeriksaan untuk menilai traktus gastrointestinalis (Rectal
Toucher)

Pada Hipertophy prostat benigna (BPH) biasanya
pembesarannya bilateral, teraba elastis seperti karet dan
permukaan mukosa rectum licin. Pada carcinoma teraba
benjolan seperti batu dan bernodul-nodul, dan pembesaran
unilateral. Pada prostatitis akut kelenjar membesar dan terba
lunak, tegang dan sangat sensitif terhadap tekanan (nyeri tekan).

G. Prosedur
1. Persiapan
Mintalah pasien untuk buang air kecil, bila tidak dapat,
lakukan
kateterisasi. Atur posisi penderita dengan posisi lithotomi,
kemudian pasang sarung tangan dan oleskan jari telunjuk
yang bersarung tangan dengan lubricant.

102

2. Lakukan inspeksi pada perineum dengan memisahkan kedua
bokong (otot gluteus) dengan tangan kiri. Nilailah kulit
sekitar perineum seperti tanda inflamasi, sinus pilonidal,
fistula ani, prolaps rectum dan hemorrhoid. Masukkan jari
telunjuk secara perlahan ke orificium anal (perineum) dan
tekan secara perlahan untuk merelaksasikan spinkter ani
eksterna.
3. Selanjutnya masukkan telunjuk sampai mencapai ampulla
rectum, sambil menilai semua bagian rectum untuk menilai
adanya massa atau tekanan pada daerah rectum kemudian
pertahankan bagian ventral telunjuk menghadap ke dinding
anterior rectum.
4. Doronglah telunjuk menuju jam 12, dan rasakan alur median
yang memisahkan 2 kelenjar prostat, teruskan sampai
mencapai bagian teratas prostat (pole atas) saat alur median
menghilang. Bila telunjuk diteruskan ke atas, maka di tiap
sisi midline dapat dicapai vesica seminalis yang dalam
keadaan normal tidak teraba.
5. Nilailah permukaan prostat (halus atau bernodul),
konsistensinya (elastik, keras, halus), bentuknya, ukurannya
(normal, membesar, atrofi), sensitifitas terhadap tekanan
(normal atau tidak), mobilitas atau terfiksasi.

103

6. Setelah selesai, keluarkan jari dan berilah pasien tissue
untuk membersihkan dirinya.


H. Daftar Pustaka
1. Purnomo B, Basuki. 2007. Dasar-Dasar Urologi. FK
Unibraw : CV Sagung Seto.
2. Emil A, Tanagho et all. Smith’s General Urology 16
th

Edition. Mc Graw-Hill, 2004
3. Degown RL and Brown DD : DeGowin’s Diagnostic
Examination, 7th edition.McGraw-Hill, 2000
4. Swartz MH : Textbook of Physical Diagnosis, Hystory and
Examination, 5
th
edition, Elsevier, 2006









104

Cek List Pemeriksaan Prostat Dengan Colok Dubur
No Aspek Penilaian
Skor
0 1 2
I INTERPERSONAL
1 Senyum, salam dan sapa
2 Informed consent
II PROSEDURAL
3 Mintalah pasien mengosongkan kandung kencing
4 Persiapan alat, cuci tangan, pasang handscoen
5 Posisikan pasien dalam posisi litotomi
6 Lakukan inspeksi daerah perineum dan anus,
perhatikan
apakah ada tanda-tanda hemorrhoid atau
penonjolan/nodul,
fistel (fisura ani) atau ada bekas operasi

7 Oleskan jari telunjuk yang bersarung tangan dengan
lubricant

8 Masukkan jari telunjuk ke anus, perlahan-lahan
sentuhlah spinkter ani dan mintalah pasien untuk
bernapas seperti biasa, sambil menilai tonus spinkter
ani tersebut. Tangan yang satu berada di atas
suprapubis dan tekanlah ke arah vesica urinaria.
(Bila vesica urinaria kosong, maka kedua
ujung jari dapat bertemu (terasa)

9 Doronglah jari telunjuk ke arah dalam anus sambil
menilai ampulla dan dinding rectum apakah dalam
keadaan kosong/ada massa feses, terdapat
tumor/hemorrhoid, atau adanya batu urethra (pars
prostatica).

10 Tempatkanlah jari telunjuk pada jam 12, untuk
meraba kelenjar prostat pada posisi lithothomi.
(Kelenjar prostat teraba pada posisi jam 12.)

11 Raba massa tersebut, dan nilai hal-hal berikut:

105

1) Permukaannya atau keadaan mucosa rektum pada
prostate,
2) Pembesarannya : pole atas bisa/tidak teraba dan
penonjolannya kedalam rectum,
3) Konsistensi : kenyal, keras, atau lembut,
4) Simetris atau tidak,
5) Berbenjol-benjol atau tidak,
6) Terfiksir atau tidak,
7) Nyeri tekan atau tidak,
8) Adanya krepitasi (batu prostat) atau tidak
12 Keluarkan jari tangan dengan sedikit
melengkungkan ujung jari, dan periksalah apakah
ada darah, lendir dan feses pada sarung tangan

13 Melepas sarung tangan, cuci tangan
III PROFESIONALISME
14 Tunjukkan sikap percaya diri
15 Berikan penjelasan secara singkat kepada pasien
tentang hasil pemeriksaan

16 Tutup, memberikan salam serta mencatat pada
medical record

TOTAL

Keterangan :
0 : Tidak dilakukan
1 : Dilakukan tetapi tidak benar/lengkap/sempurna
2 : Dilakukan dengan benar /lengkap/sempurna






106

PROSEDUR MILKING URETRA
dr. Anggi Setiorini, dr. Dina Tri Amalia

A. TEMA
Keterampilan Prosedural Milking Uretra

B. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mampu melakukan prosedur milking uretra pada model
2. Mampu menjelaskan tujuan milking uretra

C. ALAT DAN BAHAN

• Kaca objek
• Swab steril
• Manekin penis
• Antiseptik : Kapas alkohol, betadin
• Kasa steril
• Handskoon
• Pena
• Label
• Spidol
• Tempat sampah medis dan nonmedis

D. SKENARIO

Pasien seorang laki-laki berusia 20 tahun datang ke klinik dengan
keluhan terdapat sekret yang kental yang keluar dari penisnya dan
menempel pada celana dalamnya terutama pada pagi hari. Pasien
mengaku merasakan ini sejak 5 hari yang lalu. Selain itu, pasien juga

107

merasakan sakit dan sensasi panas selama berkemih dan rasa nyeri
pada skrotumnya. Pasien mengatakan 10 hari yang lalu pasien habis
melakukan hubungan dengan pasangan sesama jenis.


E. DASAR TEORI

Pasien laki-laki yang datang dengan keluhan duh tubuh uretra dan
atau nyeri pada saat buang air kecil agar diperiksa dahulu ada
tidaknya duh tubuh. Bilamana tidak tampak duh tubuh agar
dilakukan teknik milking. Teknik milking merupakan suatu cara
pengambilan spesimen/ sekret uretra dengan cara melakukan
pengurutan uretra mulai dari pangkal penis ke arah muara uretra.
Setelah itu baru dilakukan pengolesan duh tubuh pada objek glass
untuk dilakukan pemeriksaan. Bila duh tubuh masih belum terlihat
setelah dilakukan teknik milking, maka pasien dianjurkan untuk tidak
kencing sekurang-kurangnya 3 jam sebelum diperiksa. Dalam
pelaksanaan prosedur milking sebaiknya pemeriksa didampingi oleh
seorang tenaga kesehatan lain. Sebelum melakukan pengambilan
spesimen duh tubuh uretra, lakukan dahulu pemeriksaan fisik
terhadap pasien. Kemudian beri penjelasan lebih dulu kepada pasien
mengenai tindakan yang akan dilakukan.



• Pada saat melakukan pemeriksaan fisik genitalia dan sekitarnya,
pemeriksa harus selalu menggunakan sarung tangan. Jangan
lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah memeriksa.

108

• Pasien harus membuka pakaian dalamnya agar dapat dilakukan
pemeriksaan genitalia (pada keadaan tertentu, kadang–kadang
pasien harus membuka seluruh pakaiannya secara bertahap).
• Pemeriksaan pasien laki-laki dapat dilakukan sambil duduk/
berdiri.
• Hal – hal yang harus dilakukan pada pemeriksaan fisik yaitu:
Perhatikan daerah penis, dari pangkal sampai ujung, serta
daerah skrotum
Perhatikan adakah duh tubuh, pembengkakan, luka/lecet
atau lesi lain
Lakukan inspeksi dan palpasi pada daerah genitalia,
perineum, anus dan sekitarnya.
Jangan lupa memeriksa daerah inguinal untuk mengetahui
pembesaran kelenjar getah bening setempat (regional)
• Bilamana tersedia fasilitas laboratorium, sekaligus dilakukan
pengambilan bahan pemeriksaan.
• Pada pasien pria dengan gejala duh tubuh genitalia disarankan
untuk tidak berkemih selama 1 jam (3 jam lebih baik) sebelum
pemeriksaan.



F. PROSEDUR

1. Senyum, salam dan sapa
2. Memberi tahu dan menjelaskan kepada pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan. Lakukan informed consent.
3. Menyiapkan alat dan bahan
4. Buat lingkaran pada objek glass dengan spidol lalu beri label
5. Cuci tangan WHO

109

6. Menggunakan handschoon sebelum melakukan tindakan
7. Pasien diminta untuk melepaskan celana yang menutupi bagian
organ genitalnya dan diminta untuk tidur terlentang.
8. Bila pasien tidak disirkumsisi, tariklah preputium ke arah
pangkal.
9. Dengan pinset bersihkan glans penis dengan kain kasa steril yang
dibasahi air garam fisiologis steril. Buang kain kasa bekas pakai
ke dalam tempat sampah medis.
10. Periksa terlebih dahulu ada tidaknya duh tubuh pada pasien.
11. Bila terdapat duh tubuh uretra, maka pelan-pelan masukkanlah
swab steril ke dalam orifisium uretra eksterna sampai kedalaman
1-2 cm, putar swab 180
0
searah jarum jam. Kemudian sambil
memutar, tarik keluar swab secara perlahan-lahan.
12. Oleskan duh tubuh pada swab secara melingkar ke atas kaca
obyek yang sudah disiapkan. Biarkan di atas meja hingga
mengering.
13. Bila tidak tampak duh tubuh, dapat dilakukan teknik milking
terlebih dahulu dengan cara melakukan pengurutan uretra mulai
dari pangkal penis ke arah muara uretra sampai keluar cairan
sekretnya. Bila masih belum terlihat, dianjurkan untuk tidak
kencing sekurang-kurangnya 3 jam sebelum diperiksa.
14. Minta pasien untuk memakai celananya kembali.
15. Sampel siap diperiksa.
16. Lepas handscoon, buang pada tempat sampah medis, cuci tangan
WHO kembali.

G. DAFTAR PUSTAKA
• Kemenkes RI. 2011. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi
Menular Seksual. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia:
Jakarta

110


H. CEKLIST PENILAIAN : PROSEDUR MILKING URETRA

No Prosedur/ Aspek Latihan
Nilai
0 1 2
ITEM INTERAKSI DOKTER-PASIEN
1 Senyum, salam, dan sapa
2
Memberi tahu dan menjelaskan kepada
pasien tentang tindakan yang akan
dilakukan. Lakukan informed consent.

ITEM PROSEDURAL
3 Persiapan alat dan bahan
4
Buat lingkaran pada objek glass dengan
spidol lalu beri label

5 Cuci tangan WHO
6
Menggunakan handschoon sebelum
melakukan tindakan.

7
Pasien diminta untuk melepaskan celana
yang menutupi bagian organ genitalnya dan
diminta untuk tidur terlentang.

8
Bila pasien tidak disirkumsisi, tariklah
preputium ke arah pangkal.

9
Dengan pinset bersihkan glans penis dengan
kain kasa steril yang dibasahi air garam
fisiologis steril. Buang kain kasa bekas
pakai ke dalam tempat sampah medis.

10
Periksa terlebih dahulu ada tidaknya duh
tubuh pada pasien.

11 Bila terdapat duh tubuh uretra, masukkan

111

swab steril ke dalam orifisium uretra
eksterna sampai kedalaman 1-2 cm, putar
swab 180
0
searah jarum jam. Kemudian
sambil memutar, tarik keluar swab secara
perlahan.
12
Oleskan duh tubuh pada swab secara
melingkar ke atas kaca obyek yang sudah
disiapkan. Biarkan di atas meja hingga
mengering.

13
Bila tidak tampak duh tubuh, dilakukan
teknik milking dengan cara mengurut uretra
mulai dari pangkal penis ke arah muara
uretra sampai keluar cairan sekretnya. Bila
masih belum terlihat, pasien dianjurkan
untuk tidak kencing sekurang-kurangnya 3
jam sebelum diperiksa.

14
Minta pasien untuk memakai celananya
kembali

15 Sampel siap diperiksa.
16
Lepas handscoon, buang pada tempat
sampah medis, cuci tangan WHO kembali.


ITEM PROFESIONALISME
17 Tunjukkan sikap percaya diri
18 Tunjukkan sikap menghormati pasien
19
Tutup, memberikan salam, serta mencatat
pada medical record

TOTAL



PEMASANGAN dan PELEPASAN KATETER
dr. Oktadoni Saputra

1. Tema Pembelajaran
Keterampilan pemasangan dan pelepasan kateter uretra menetap
dengan menggunakan kateter Foley

2. Level Kompetensi

No Jenis Kompetensi Level Kompetensi
1 Urethral catheterization in male 1
2 Urethral catheterization in female 1
3
Clean intermitten chatheterization
(Neuropathic blader)
1

3. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
• Mahasiswa mampu memasang kateter uretra melalui
prosedur yang baik dan benar
• Mahasiswa mampu melepas kateter uretra melalui prosedur
yang baik dan benar
b. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
o Pemasangan :
Agar mahasiswa mampu :

112
PEMASANGAN dan PELEPASAN KATETER
Keterampilan pemasangan dan pelepasan kateter uretra menetap
Level Kompetensi
2 3 4
2 3 4
2 3 4
mampu memasang kateter uretra melalui
Mahasiswa mampu melepas kateter uretra melalui prosedur

113

1. Melakukan evaluasi indikasi dan kontraindikasi
pemasangan dan pelepasan kateter uretra
2. Melakukan persiapan pasien informed consent dan
memposisikan pasien
3. Mempersiapkan alat-alat, bahan dan operator dengan
memperhatikan kaidah sterilitas
4. Melakukan desinfeksi daerah sekitar orificium urethra
eksternum dengan baik dan benar
5. Melakukan prosedur lubrikasi sebelum pemasangan kateter
6. Melakukan prosedur pemasangan kateter secara smooth dan
gentle
7. Mengembangkan balon dan memastikan kateter pada posisi
penampung urin dan salurannya pada posisi yang benar
pada kandung kencing
8. Melakukan fiksasi, dokumentasi dan profesionalisme
dengan baik dan benar


o Pelepasan
Agar mhahasiswa mampu :
9. Melakukan evaluasi, persiapan pasien alat, bahan dan
operator pelepasan kateter uretra

10. Melepaskan fiksasi kateter dari daerah inguinal
11. Melakukan desinfeksi pada muara orificium urethra
eksternum
12. Mengempiskan balon pengunci kateter
13. Melakukan prosedur pelepasan kateter dengan baik dengan
memberikan aba-aba menarik nafas terlebih dahulu
14. Mengoleskan antiseptic pada orificium urethra eksternum

4. Alat dan Bahan
a. Kateter Foley sesuai
ukuran
b. Urine bag steril
c. Pinset anatomis steril
d. Bengkok/ nierbecken
e. Mangkok kecil (com)
f. Sarung tangan steril
g. Xylocaine gel (jelly/zat pelicin)
h. Duk (kain berlubang) steril
i. Spuit steril 5 cc/ 10 cc @ 1 buah
j. Aquadest 1 flash
k. Desinfektan (povidon iodine)
l. Kassa steril
m. Plester

114
daerah inguinal
orificium urethra
Melakukan prosedur pelepasan kateter dengan baik dengan
aba menarik nafas terlebih dahulu
urethra eksternum

115


5. Skenario

“ Retensio Urine”
Seorang kakek usia 65 tahun, datang ke UGD dengan
keluhan “Retensio Urine”. Dari anamnesis didapatkan gejala
Obstruktif {hesitancy, intermittency, pancaran urine kecil dan
melemah, perasaan tidak puas (tersisa) setelah kencing, double
voiding (terasa ingin kencing lagi dalam waktu < 2 jam setelah
kencing sebelumnya), straining dan post-void dribbling} dan gejala
Irritative (urgency, frequency, dan nocturia). Pada pemeriksaan
didapatkan bulging dan nyeri tekan pada region suprapubik. Anda
memikirkan kemungkinan retensio urine e.c Benign Prostatic
Hyperplasia (BPH)/Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS)
kemudian melakukan prosedur pemasangan kateter uretra dan
Skoring IPSS untuk tatalaksana lebih lanjut.
6. Dasar Teori
Kateter uretra merupakan suatu alat kesehatan berbentuk pipa
terbuat dari bahan lunak (lateks, silicon) maupun bahan keras (logam)
yang digunakan untuk mengeluarkan air kencing dari kandung kencing
untuk berbagai tujuan.
Tujuan pemasangan kateter uretra dapat berupa tujuan
diagnostic maupun terapetik. Lama pemasanganpun dapat bersifat
sesaat/ sementara artinya setelah air kencing dikeluarkan, kateter

116

langsung dicabut, sebagai contoh kateter jenis logam. Namun dapat
pula kateter dipasang relative menetap untuk beberapa hari (Dauer
Catheter), sehingga perlu alat untuk memfiksasi agar kateter tidak
lepas. Antara lain dengan balon pada ujung kateter yang dapat
dikembangkan seperti pada kateter Foley. Pada kateter ini ada dua
lubang/ saluran, saluran pertama yang lebih besar untuk mengeluarkan
air kencing, saluran kedua lebih kecil untuk memasukkan udara/ air
untuk mengisi balon di ujung kateter tersebut. Dalam CSL ini yang
akan dibicarakan hanyalah kateter menetap (Dauer Catheter) dengan
menggunakan kateter Foley
Disamping itu dikenal pula kateter tiga jalur (“Three Way
Catheter”) yang digunakan untuk irigasi kandung kencing. Saluran
pertama untuk memasukkan cairan irigasi, saluran kedua untuk
mengeluarkan air kencing dan saluran ketiga untuk memasukkan
cairan/udara untuk mengembangkan balon kateter.

Gambar 1. Macam-macam kateter uretra


117

Prinsip Pemasangan Kateter Uretra
• Gentle • Lubrikasi yang adekuat
• Sterilitas •Gunakan kateter ukuran sesuai/kecil



Ukuran Kateter
Skala yang dipakai adalah Franch (F) dimana 1 Fr = 0,33 mm
atau 1 mm = 3 Fr. Pada dewasa yang sering dipakai adalah 16 F atau 18
F. Kateter 18 Fr artinya diameter luarnya 6 mm

Indikasi dan Kontraindikasi
Kateter uretra digunakan untuk mengeluarkan air kencing dari
kandung kencing dengan tujuan baik diagnostik maupun terpetik.
Beberapa contoh yang memerlukan pemasangan kateter uretra menetap
seperti adanya retensi urin baik akut maupun kronis, monitoring “urine
output” pada operasi-operasi besar dan pasien kritis, serta resusitasi
cairan pada pasien shock hipovolemik dan dehidrasi. Sedangkan
pemasangan kateter uretra sesaat misalnya pada pengosongan kandung
kencing pada wanita yang mau melahirkan, tindakan diagnostic untuk
mengetahui residu urine setelah kencing sepuas-puasnya pada pasien
yang dicurigai adanya retensi urin serta untuk mengambil sampel urin
guna pemeriksaan laboratorium tertentu.

118

Kateter uretra tidak boleh dipasang pada penderita trauma yang
dicurigai adanya cedera uretra yang ditandai antara lain keluarnya darah
dari orifisium uretra eksternum, hematom yang luas daerah perineal
serta adanya perubahan letak prostat pada colok dubur. Pemasangan
kateter pada keadaan ini ditakutkan akan memperparah cidera.

Hal-hal yang perlu diperhatikan
Hal-hal yan g perlu diperhatikan sebelum dan selama pemasangan dan
pelepasan kateter antara lain :
1. Prosedur asepsis dan antiseptik
Prosedur asepsis harus dilakukan mulai dari kesterilan alat,
mencuci tangan, memasang sarung tangan serta proses pemasangan
kateternya sendiri. Hal ini dimaksudkan selain untuk melindungi tenaga
medis yang melakukan juga untuk mencegah terjadinya infeksi
nosokomial terhadap pasien. Penanganan limbahpun harus diperhatikan
seperti halnya membuang sampah medis, sampah tajam ataupun
sampah biasa baik itu sisa plastic kateter, kasa, sarung tanagn, urin, dll
harus pada tempatnya yang sesuai untuk mencegah terjadinya infeksi
nosokomial.
2. Lubrikasi
Lubrikasi yang adekuat merupakan salah satu prinsip dalam
pemasangan kateter uretra. Lubrikasi sangat diperlukan, selain untuk
mempermudah tindakan, mencegah terjadinya cedera mukosa yang
kemudian dapat menyebabkan stricture uretra juga dapat

119

mengembangkan uretra itu sendiri khususnya pada laki-laki. Untuk
laki-laki, digunakan jeli 5-10 cc yang dimasukkan kedalam uretra
dengan spuit tanpa jarum. Sedangkan untuk wanita karena uretranya
pendek, lubrikasi cukup dioleskan pada kateter saja. Untuk saat ini
dipasaran sudah tersedia jeli yang juga mengandung bahan anestetika
local yang dapat mengurangi rasa nyeri saat pemasangan kateter.
3. Keamanan
Keamanan harus diperhatikan baik pada pemasangan maupun
pelepasan kateter. Kateter uretra dianjurkan dipasang oleh dokter atau
tenaga medis terlatih dibawah pengawasan dokter. Memasukkan kateter
juga harus perlahan-lahan untuk mencegah cedera pada mukosa uretra.
Mengembangkan balon keteter harus tepat setelah kateter masuk
kandung kencing. Tidak dibenarkan mengembangkan balon sebelum
ujung kateter masuk ke kandung kencing karena hal ini dapat
menyebabkan rupture uretra. Begitu juga sebaliknya, melepas
kateterpun harus dipastikan balon kateter sudah benar-benar kemps/
dikosongkan dari air atau udara. Pemasangan kateter logam masih
seringa dilakukan pada wanita di bagian kebidanan, namun pada laki-
laki sudah jarang sekali digunakan dan akan sangat berbeda cara
pemasangannya dengan kateter lunak seperti Foley kateter.




120

4. Anatomi Urethra
a. Uretra laki-laki
Sebelum memasang kateter harus dipastikan tenaga medis yang
memasang mengetahui seluk beluk dan anatomi uretra khususnya.
Berikut adalah gambar anatomi organ genital luar laki-laki dalam
potongan melintang.
Gambar 2. Organa Genitalia Maskulina
(Sumber : Bate's guide to physical examination)

Uretra laki-laki berbentuk pipa dengan panjang 17-22,5 cm yang
dilapisi oleh mukosa serta sebagai saluran pengeluaran urin yang telah
ditampung dari vesika urinaria dan saluran semen. Saluran tersebut

121

dimulai dari orifisium uretra internum yang barada pada cervix vesicae,
masuk melewati prostat menembus diafragma urogenitale (trigonum
urogenital) berlanjut berjalan didalam korpus cavernosum urethrae dan
berakhir di muara luar ujung penis (orifisium urethrae eksternum).
Berdasarkan tempat yang dilewati, uretra laki-laki dibagi
menjadi 3 bagian; pars prostatica, pars membranosa dan pars spongiosa
urethrae dengan panjang masing-masing berurutan kira-kira 3-4 cm, 1
cm dan 12-18 cm.

b. Uretra wanita
Pipa saluran ini mempunyai panjang 3-4 cm yang hanya
berfungsi untuk pengeluaran urin. Dimulai dari orificium urethrae
internum dengan m. spinchter vesicae dan berakhir pada ostium
urethrae eksternum yang bermuara di sebelah ventrocaudal dari
vestibulum vaginae di linea mediana.
















Gambar 3. Organa Genitalia Feminina
(Sumber : Bate's guide to physical examination)

Saluran uretra perempuan pada posisi tidur (supinasi)
mempunyai kedudukan mendekati sudut lurus dari vestibulum vagina
eke vesica urinaria. Berikut gambar penampang melintang organ genital
wanita.







Gambar 4. Organa Genitalia Feminina (tampak samping)
(Sumber : Bate's guide to physical examination)


122

(Sumber : Bate's guide to physical examination)
Saluran uretra perempuan pada posisi tidur (supinasi)
mempunyai kedudukan mendekati sudut lurus dari vestibulum vagina
urinaria. Berikut gambar penampang melintang organ genital
Gambar 4. Organa Genitalia Feminina (tampak samping)
(Sumber : Bate's guide to physical examination)

123

Komplikasi Pemasangan Kateter
• Striktur uretra
• Bakterial Shock
• Ruptur uretra
• Pendarahan
• Perforasi buli-buli
• Balon pecah atau tidak bisa dikempeskan

7. Prosedur
1. Pemasangan Kateter Uretra Menetap
a. Evaluasi awal
Cek indikasi dan kontraindikasi tindakan pemasangan kateter
terhadap pasien
Tentukan apakah kateter akan digunakan secara intermiten atau
kontinu

b. Persiapan Pasien
• Lakukan informed consent
o Senyum, Salam, Sapa
o Perkenalkan diri dan bina sambung rasa dengan pasien
o Jelaskan tindakan yang akan dilakukan, tujuan/akibat jika
tidak dilakukan, prosedur singkat pemasangan, efek
samping/resiko yang akan dirasakan, serta instruksi yang
diperlukan untuk pasien

124

o Minta persetujuan tindakan
• Posisikan pasien tidur terlentang dan rileks (posisi litotomi
untuk pasien wanita)

c. Persiapan Alat, Bahan dan Operator
o Meja tindakan yang dilapisi kain steril
o Sarung tangan steril; pastikan ukuran yang sesuai
o Duk lubang steril
o Mangkok (com) yang diisi dengan disinfektan (povidon
iodine)
o Aquadest/ larutan NaCl fisiologis
o Kassa steril
o Jelly/zat pelican yang mengandung bahan anestesi local
o Spuit steril 5/10 cc @ 1 buah :
Spuit 5 cc diisi jelly steril (Xylocaine)
Spuit 10 cc diisi aquadest untuk mengembangkan balon
fiksasi (jumlah sesuai dengan keterangan pada kateter)
o Tang desinfeksi atau klem anatomis steril
o Kateter yang telah dipilih jenis dan ukuran sesuai dengan
diameter urethra, dikeluarkan dari bungkusnya secara steril
dan diletakkan ditempat alat steril
o Bukalah plastic Urinal bag steril dan jatuhkan pada meja
perlatan

125

o Latakkan bengkok/container di bawah perineum pasien
o Salep antiseptic dan plester
• Cuci tangan dengan prosedur asepsis
• Memakai sarung tangan dengan benar (skin to skin, glove to
glove)
• Isilah spuit 5 cc dengan jelly yang mengandung anestetika local
(Xylocaine gel)3-5 cc
• Isilah spuit 10 cc dengan aquadest
• Cek apakah balon kateter masih berfungsi dengan baik dan tidak
bocor dengan menggunakan spuit yang diisi aquadest kemudian
dihisap kembali
• Urinal bag pastikan dalam kondisi tertutup digantungkan di
bagian bawah (lebih rendah) pada bed pasien
d. Prosedur Desinfeksi & Lubrikasi
• Desinfeksi sekitar orifisium urethra eksternum. Glans penis dan
sekitarnya pada laki-laki dengan prinsip central ke perifer serta
vulva dan sekitarnya secara anterior ke posterior dan langsung
di buang tiap satu kali olesan pada wanita
• Tutup dengan duk lubang steril
• Tangan kiri memegang penis (sesuai posisi anatomis) atau
membuka vulva pada wanita
• Tangan kanan menyuntikkan jeli ke dalam uretra (pada laki-laki)
atau mengoles jeli pada kateter (untuk wanita)

126


e. Pemasangan
• Masukkan kateter ke dalam uretra secara pelan-pelan/gentle
(bisa dipegang langsung atau dengan pinset anatomis) sampai
ujungnya diperkirakan masuk kedalam vesika urinaria yang
ditandai dengan keluarnya urin melalui kateter kemudian
ditampung melalui bengkok/container. (Bila belum tampak urin
keluar, coba dibilas dengan beberapa cc aquadest kedalam
vesika melalui lubang kateter lurus. Bila urin tampak keluar baru
dilakukan pengembangan balon fiksasi kateter. Jangan
mengembangkan balon bila belum tampak urin keluar.
• Kembangkan balon kateter dengan mengisi aquadest dengan
volume sesuai dengan yang tertera pada kateter melalui lubang
kateter cabang.
• Pastikan kateter sudah terfiksasi dengan baik dengan cara
setelah balon dikembangkan, tarik pelan-pelan kateter sampai
terasa tahanan agar balon fiksasi tepat berada dileher kandung
kencing
• Pada tempat masuknya kateter, diberi salep antiseptic/antibiotic
lalu ditutup kasa steril dan diplester

f. Fiksasi dan Dokumentasi dan Profesionalisme
• Penis dan kateter diarahkan ke lateral dan difiksasi dengan
plester didaerah inguinal agar posisi kateter lebih cocok dengan

127

bentuk anatomi uretra, untuk menghindari nekrosis akibat
tekanan lengkung kateter pada sisi uretra
• Ujung kateter (lubang yang lurus) dihubungkan dengan urinal
bag steril lalu ditempatkan sedemikian rupa sehingga posisi
selalu lebih rendah dari penderita serta salurannya tidak
tertekuk.
• Bersihkan semua alat dan bahan habis pakai serta
• Cuci tangan kembali dengan antiseptic melalui prosedur WHO
• Lengkapi lembar Rekam Medik pasien. Tuliskan hal-hal sebagai
berikut :
o Tanggal dan waktu pemasangan kateter
o Jenis dan ukuran kateter
o Spesimen yang diambil (apabila dilakukan)
o Jumlah urin
o Warna dan kekeruhan urine
o Respon pasien terhadap tindakan yang dilakukan
o Nama dokter yang bertugas dan tanda tangan
• Jelaskan bahwa prosedur pemasangan telah selesai, hal-hal yang
harus diperhatikan ataupun dilakukan oleh pasien selanjutnya
serta tutup tindakan prosedural secara baik





128

2. Teknik pelepasan kateter uretra terpasang
• •• • Persiapan pasien (informed consent, memposisikan pasien dan
meminta pasien rileks dan menarik nafas saat pelepasan kateter)
• •• • Persiapan alat dan bahan (sama seperti pemasangan kateter)
• •• • Cuci tangan sesuai prosedur aseptik
• •• • Memakai sarung tangan dengan benar
• •• • Melakukan desinfeksi pada orifisium uretra eksternum dan
melepas fiksasinya dari paha
• •• • Melepaskan sambungan kateter dengan pipa urinal bag dan
menampung sisa urin yang keluar dari kateter pada bengkok
• •• • Menyedot cairan dalam balon kateter dengan spuit dan
dipastikan benar-benar telah habis
• •• • Menarik kateter secara pelan-pelan sambil memberi perintah
pasien menarik nafas dalam-dalam dan memperhatikan adanya
kesakitan
• •• • Menaruh kateter tercabut pada bengkok
• •• • Mengoles lagi muara orifisium uretra eksternum dengan
antiseptik dan memberitahukan pasien pelepasan kateter sudah
selesai.
• •• • Cuci tangan kembali, melengkapi rekam medis dan menutup
prosedural pencabutan kepada pasien



129

8. Daftar Pustaka
Emil A. Tanagho, MD & Jack W. McAninch, MD, FACS. 2008.
Smith’s General Urology. 17
th
Edition. A Lange Medical Book.
Mc-Graw Hill. New York. USA
Anonim, 2011. Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu
Kedokteran (KPPIK) FK UI. 11-13 Maret 2011. Unit CME-
CPD FK UI. Jakarta. Indonesia

















130


Check List Pemasangan Kateter Uretra (Foley Catheter)
Menetap
No Aspek Penilaian
Nilai
0 1 2
INTERPERSONAL
1
Senyum, salam, sapa dan membina sambung rasa dengan
pasien

2
Tanyakan dan pastikan indikasi/kontraindikasi
pemasangan kateter

3
Lakukan Informed consent dengan lengkap, baik dan
benar

PROSEDURAL
4 Posisikan pasien tidur terlentang dan rileks
5 Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan
6 Cuci tangan dengan prosedur asepsis
7
Pakailah sarung tangan dengan benar (prinsip skin to skin,
gloves to gloves)

8
Isilah spuit 5 cc dengan jelly yang mengandung anestetika
local (Xylocaine gel) 3-5 cc

9 Isilah spuit 10 cc dengan aquadest
10
Cek apakah balon kateter masih berfungsi dengan baik
dan tidak bocor dengan menggunakan spuit yang diisi
aquadest kemudian dihisap kembali

11
Urinal bag pastikan dalam kondisi tertutup kemudian
diletakkan/ digantungkan di bagian bawah (lebih rendah)
pada bed pasien

12
Desinfeksi sekitar orifisium urethra eksternum dengan
cara yang benar

13 Tutup dengan duk lubang steril
14
Tangan kiri memegang penis (sesuai posisi anatomis) atau
membuka vulva pada wanita


131

15
Tangan kanan menyuntikkan jeli ke dalam uretra (pada
laki-laki) atau mengoles jeli pada kateter (untuk wanita)

16
Memasukkan kateter ke dalam uretra secara smooth and
gentle

17
Memastikan ujung kateter masuk kedalam vesika urinaria
yang ditandai dengan keluarnya urin melalui kateter
(ditampung melalui bengkok)

18
Kembangkan balon kateter dengan mengisi aquadest yang
volumenya sesuai dengan bacaan pada kateter

19
Setelah balon dikembangkan, tarik pelan-pelan kateter
agar balon fiksasi tepat berada dileher kandung kencing

20
Pada tempat masuknya kateter, diberi salep
antiseptik/antibiotic

21
Penis dan kateter diarahkan ke lateral dan difiksasi dengan
plester didaerah inguinal

22
Ujung kateter (lubang yang lurus) dihubungkan dengan
urinal bag steril lalu ditempatkan sedemikian rupa
sehingga posisi selalu lebih rendah dari pasien serta
salurannya tidak tertekuk.

23 Bersihkan semua alat dan bahan habis pakai serta
24
Cuci tangan kembali dengan antiseptic melalui prosedur
WHO

25 Lengkapi lembar Rekam Medik pasien
26
Jelaskan bahwa prosedur pemasangan telah selesai, hal-
hal yang harus diperhatikan ataupun dilakukan oleh
pasien selanjutnya serta tutup tindakan prosedural secara
baik

PROFESIONALISME
27 Percaya diri
28
Minimal error dan bekerja dengan memperhatikan kaidah
sterilitas

JUMLAH


132

Check List Pelepasan Kateter Uretra (Foley Catheter)

No Aspek Penilaian
Nilai
0 1 2
INTERPERSONAL
1 Senyum, salam, sapa dan membina sambung rasa dengan pasien
2 Lakukan Informed consent dengan lengkap, baik dan benar
PROSEDURAL
4 Posisikan pasien tidur terlentang dan rileks
5 Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan
6 Cuci tangan WHO
7
Pakailah sarung tangan dengan benar (prinsip skin to skin, gloves to
gloves)

8
Desinfeksi sekitar orifisium urethra eksternum dengan cara yang
benar

9
Gunakan spuit 10 cc untuk menghisap aquabidest yang berada di
balon kateter sampai kosong

10
Tangan kiri memegang penis (sesuai posisi anatomis) atau membuka
vulva pada wanita

11 Tarik kateter secara perlahan-lahan
12 Bersihkan semua alat dan bahan habis pakai
13 Cuci tangan kembali dengan antiseptic melalui prosedur WHO
14 Lengkapi lembar Rekam Medik pasien
15
Jelaskan bahwa prosedur pelepasan kateter telah selesai, hal-hal yang
harus diperhatikan ataupun dilakukan oleh pasien selanjutnya serta
tutup tindakan prosedural secara baik

PROFESIONALISME
16 Percaya diri
17 Minimal error dan bekerja dengan memperhatikan kaidah sterilitas
JUMLAH
Keterangan :
0 : Tidak dilakukan
1 : Dilakukan tetapi tidak benar/lengkap/sempurna
2 : Dilakukan dengan benar /lengkap/sempurna



133

PUNKSI SUPRA PUBIS
dr. Johan Salim, dr. Anggi Setiorini

A. TEMA

Keterampilan prosedural punksi suprapubik

B. TUJUAN

Tujuan instruksional Umum

Untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada
mahasiswa indikasi dan cara melakukan punksi supra pubis yang
benar.

Tujuan instruksional khusus

• Mampu menjelaskan tujuan dilakukannya prosedur punksi
suprapubis
• Mampu merencanakan dan mempersiapkan alat atau bahan
untuk pemasangan punksi supra pubis.
• Mampu menerangkan ke pasien ( inform consent ) tentang
tindakan yang akan dilakukan dan persetujuan atas tindakan
tersebut.
• Mampu melakukan tindakan punksi supra pubis secara
aseptik dan sistematis .
• Mampu mengajarkan kepada orang lain (misalnya petugas
kesehatan lain lain ) bagaimana cara melakukan punksi
supra pubis yang benar.






134

C. ALAT DAN BAHAN

1. Sabun cuci tangan biasa.
2. Sarung tangan (Hand schoen) steril
3. .Betadine
4. Doek steril.
5. Spuit 10 cc atau spinal needle 16 F. 10cm untuk dewasa, 4
cm untuk anak
6. anastesi local ( 10 ml 1% lidocain)
7. tempat penampung urin steril

D. SKENARIO

Seorang anak datang umur 9 thn, datang dengan keluhan nyeri
saat buang air kecil, buang air kecil tidak lampis , nyeri
menjalar sampai ke daerah perut di bawah pusar, dalam 3 hari
ini si anak juga merasakan demam yang tidak terlalu tinggi,
karena merasa nyeri saat buang air kecil si anak sering menahan
buang air kecil sehingga daerah vesika tampa cembung (retensi),
untuk mengurangi retensi dan mengambil smpel urine steril ,
direncanakan dilakukan punksi supra pubis pada anak ini,
bagaimana prosedur pungsi supra pubis...?


E. DASAR TEORI

Punksi supra pubis biasanya dilakukan untuk pengambilan
contoh urine agar tidak terkontaminasi, disamping itu dapat juga
digunakan sebagai diversi urine sementara waktu
bila pasien retensi dan pemasangan kateter uretra gagal sedang
kan sarana maupun prasarana untuk melakukan sistostomi
terbuka atau dengan trokar tidak ada apalagi
tersedianya set perkutan sistostomi..Walaupun tidak begitu
menyakitkan tetapi tidak menyenangkan bagi pasien. Sebelum
melakukan punksi pasien harus banyak minum dulu agar buli-

135

bulinya penuh.Biasanya pada laki-laki teraba puncak buli-
bulinya yang penuh karena tonus ototnya relatif lebih kuat,
sedangkan pada wanita kadang walaupun sudah penuh buli-
bulinya masih tidak teraba.

Punksi supra pubis biasanya dilakukan pada garis tengah
diantara umbilikus dan simpisis pubis, punksinya kira-kira 2 inci
diatas simpisis. Punksi buli tidak dilakukan pada tumor buli,
kontracted bladder dan hematuri yang belum jelas sebabnya.


















Gambar 1. Daerah punksi supra pubis

F. PROSEDUR

1. Operator mencuci tangan dengan sabun terlebih dahulu pada
air kran mengalir .
2. Operator memakai hand schoen secara aseptik.

136

3. Lakukan desinfeksi secukupnya dengan memakai bahan anti
septik yang tidakmenimbulkan iritasi pada kulit antara
simpisis dengan umbilikus.
4. Lalu daerah yang akan dipunksi ditutupi dengan doek steril.
5. Pada garis tengah , anatesi kulit sekitar 5cm, pada anak tidak
lebih dari setengahnya di atas simpisis pubis. Langkah ini
merupakan pilihan pada pasien anak, mengingat langkah
berikutnya akan menimbulkan rasa nyeri
6. Dilakukan punksi dg spuit atau spinal needle( garis tengah
antara simpisis pubis dan umbilikus,biasanya 2 inci diatas
simpisis pubis) tegak lurus dengan daerah punksi terus
didorong masuk kebuli-buli ditandai dengan keluarnya urine
dari lubang jarum. Biasanya jarum akan menyentuh veika
setelah terdorong sepanjang 5 cm pada orang dewasa
7. Kemudian dilakukan aspirasi melalui jarum. Jika belum
didapatka urin , dorong lagi jarum, sambil mengaspirasi .

G. DAFTAR PUSTAKA

• Anonim, 2012. Penuntun Skills Lab Blok 3.4. gangguan
Urogenital. FK Universitas Andalas. Padang
• Ponka. 2013. Suprapubic Blader aspiration. Canadia family
physician . Canada.












137

H. EVALUASI

No LANGKAH KLINIK YANG DINILAI
Skor
0 1 2
I ITEM INTERAKSI DOKTER-PASIEN
1 Senyum, salam dan sapa
2 Jelaskan pentingnya pemeriksaan ini lalu lakukan
informed consent

II ITEM PROSEDURAL
3 Persiapan Alat
4 Cuci Tangan WHO
5 Memakai sarung tangan dengan benar
6 Tindakan aseptik dan antiseptik
7 Melakukan tindakan anastesi
8 Melakuakan punksi suprapubis secara benar dan
sistematis

9 Merapikan bahan yang digunakan dan cuci tangan
III ITEM PROFESIONALISME
10 Tunjukkan sikap percaya diri
11 Tunjukkan sikap menghormati pasien
12 Tutup, memberikan salam serta mencatat pada medical
record

TOTAL








SIRKUMSISI
dr. Oktadoni Saputra
1. Tema Pembelajaran
Keterampilan prosedural Sirkumsisi

2. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu melakukan prosedur sirkumsisi dengan baik
dan benar meliputi :
1. Evaluasi indikasi dan kontraindikasi
2. Informed consent tepat, baik dan benar
3. Prinsip asepsis dan antisepsis
4. Anesthesia yang tepat dan adekuat
5. Preputium release dan pembersihan smegma
6. Dorsumsisi
7. Sirkumsisi
8. Frenuloplasty
9. Wound closure dan dressing
3. Level Kompetensi
No Jenis Kompetensi Level Kompetensi
1 Circumcision 1 2 3 4
2 Dorsumcircumcision 1 2 3 4

4. Alat dan Bahan
Alat-alat bedah minor meliputi :

138
mampu melakukan prosedur sirkumsisi dengan baik
Preputium release dan pembersihan smegma
Level Kompetensi
4
4

139

o Gunting jaringan 1 buah
o Klem arteri lurus minimal 3 buah
o Klem arteri bengkok 1 buah
o Mosquito (klem arteri bengkok/kecil) 1 buah
o Pinset anatomis 1 buah
Alat dan bahan anestesi
o Spuit 3 cc
o Jarum ukuran 23 G/ 27 G
o Lidokaine (pehacaine/tanpa campuran adrenaline)
Duk steril (berlubang di tangahnya)
Sarung tangan steril sesuai ukuran
Com betadine
Larutan antiseptic (povidone iodine 10% dan alcohol 70%)
dan lar. sublimat
Alat & bahan habis pakai untuk penjahitan dan dressing
luka
o Jarum jahit kulit (cutting) kecil 3/8 lingkaran
(traumatic/non-traumatic)
o Benang jahit (plain catgut/vicryl) ukuran 3.0
o Needle Holder (pemegang jarum)
o Kassa steril
o Supratule/ salep antibiotic

5. Skenario
Seorang anak laki-laki kelas 5 SD diantar oleh kedua
orang tuanya ke puskesmas tempat saudara bekerja karena ingin
disunat. Sang anak malu sering diejek teman-temannya karena
belum sunat. Sang ibu juga menceritakan bahwa sang anak
sering mengalami bengkak dan sakit di ujung kemaluannya.
Dari pemeriksaan anda mendapatkan phimosis tanpa disertai

140

adanya tanda-tanda balanitis. Anda menanyakan hal-hal
menyangkut kontraindikasi sirkumsisi dan merencanakan
prosedur sirkumsisi pada sang anak.

6. Dasar Teori
a. Pengertian
Sirkumsisi adalah tindakan bedah untuk membuang
sebagian atau seluruh preputium penis yaitu bagian kulit yang
menutupi glans penis untuk tujuan tertentu.

b. Indikasi
Kepercayaan/agama
Budaya/ sosiokultural/ keinginan pasien/orang tua pasien
Medis :
• Fimosis
• Parafimosis
• Infeksi berulang pada preputium/balanitis
c. Kontra indikasi
Absolute :
Kelainan/anomaly pada penis:
o Hypospadias, epispadias
o Chordae, curved penis
o Concealed or buried penis
o Micropenis
o Webbed penis
Prematuritas pada neonatus
Ambiguous genitalia

Relatif :

141

Hemofilia (pada penderita hemophilia, sirkumsisi tetap bisa
dilakukan dengan pemberian kofaktor VIII dan IX secara
intra vena, 1 jam sebelum sampai dengan 1-21 jam sesudah
tindakan)

d. Manfaat dan Resiko
Keuntungan sirkumsisi adalah terjaganya hygiene penis serta
mencegah/mengurangi resiko timbulnya Infeksi genito-
urinary systems (UTI), Kanker Penis, Balanoposthitis,
transmisi HIV< HPV, Herves Simplek II serta akibat jamur
(Dermatosis)
Resiko tindakan = komplikasi bedah namun jarang terjadi
(0,2-0,6% dan biasanya sifatnya ringan).

e. Sejarah, prinsip dan jenis-jenis teknik sirkumsisi
Sirkumsisi sudah sejak lama dikenal sejak zaman mesir kuno.
Terus berkembang, namun prinsip-prinsipnya tetap bertahan. Sebuah
sirkumsisi yang baik memenuhi syart sebagai berikut :
Teknik Aseptic
Pembuangan preputium secara adequat
Hemostasis
Kosmetik





142










Gambar 1. Gomco Clamp

Beberapa alat yang dikembangkan dan dipakai untuk keperluan
sirkumsisi diantaranya adalah Gomco Clamp, kelebihan alat ini bisa
dipakai untuk sirkumsisi pada bayi yang baru lahir sekalipun tetapi
kekurangannya diperlukan alat khusus yang belum tentu tersedia secara
bebas di pasaran .

Alat terbaru yang sedang banyak diapakai di pasaran adalah
Smart klamp. Alat ini diapakai untuk sirkumsisi dengan tetap
memperhatikan prosedur-prosedur sirkumsisi yang lain seperti : A dan
antisepsis, anestesi, memaparkan glans, memasang tube diatas glans,
mengembalikan prputium, mengklamp preputium, memotong
preputium dan meninggalkan klamp selama beberapa hari sampai
terjadi penyembuhan. Kelebihan alat ini adalah meminimalisasi
perdarahan serta estetika yang baik namun memerlukan alat khusus dan
harganya masih cukup mahal.





143

Gambar 2. Cara pemasangan smart klamp

Ada beberapa teknik yang juga banyak digunakan dalam
sirkumsisi. Diantaranya adalah teknik Dorsal Slit (Cutting). Kelebihan
teknik ini adalah pelaksanaan tindakan yang cepat dilakukan namun
teknik ini sangat berisiko mengenai glans yang tak terlindungi. Teknik
ini dapat dilakukan dengan bantuan Klamp Mogen atau atau divariasi
dengan menggunakan panduan forsep klem arteri lurus atau bengkok.
Pada teknik ini walaupun cepat, tetap saja pembuangan preputium tetap
tidak adekuat diikuti dengan jejas yang terbentuk bekas pengkleman di
bawah glans. Variasi dari teknik ini dikenal dengan teknik “Guillotine”


144


Gambar Mogen Clamp & Teknik Guillotine (Forceps guided)

Variasi yang lain lagi adalah dengan melakukan dorsumsisi
kemudian sirkumsisi melingkari preputium sekaligus atau dikenal
dengan “The free-hand circumcision”. Pada teknik ini, risiko
terpotongnya glans minimal tetapi teknik cukup sulit dilakukan serta
kesulitan untuk melakukan kontrol perdarahan.


f. Teknik Sirkumsisi dengan Dorsumsisi dan Frenuloplasty
Dari berbagai macam teknik tersebut, teknik dasar yang dan
diajarkan dalam CSL ini adalah teknik sirkumsisi dengan dorsumsisi
(pemotongan bagian dorsal dari preputium) dan frenuloplasty
(menyisakan bagian frenulum yng cukup adekuat bagian frenulum
ini daerah yang persarafannya yang banyak dan diyakini mempunyai

145

peranan dalam proses orgasme saat kopulasi). Kelebihan teknik ini
sebagai berikut :
Visualisasi baik
Presisi tepat
Kontrol perdarahan cukup mudah
Hampir tidak ada tresiko terpotongnya glans
Kosmetik baik
Walaupun demikian, kekurangan teknik ini adalah
membutuhkan waktu tindakan yang lebih lama. Adapun prosedur
tindakan sirkumsisi ini dapat dilihat pada bagian prosedur.


7. Prosedur
a) Evaluasi indikasi dan kontraindikasi
Pastikan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi
Tanyakan kemungkinan kontra indikasi; hipospadia, balanitis,
gangguan perdarahan, riw. alergi obat/bahan anestetika

b) Informed consent tepat, baik dan benar
Jelaskan prosedur sirkumsisi yang akan dilakukan, pilihan
teknik dan yang akan dilakukan, tujuan, manfaat, resiko dan
efek samping tindakan/prosedur sirkumsisi
Minta persetujuan tindakan secara tertulis kepada orang tua anak
Binalah sambung rasa dengan anak yang akan disunat. Dalam
hal ini, penting dilakukan hubungan dr-pasien yang baik dengan
anak serta menciptakan kondisi yang menguatkan mental sang
anak dan tidak membuat anak takut. Ajarkan hal-hal yang perlu
dilakukan atau dihindari oleh sang anak dan berikan support
yang baik.




146

c) Persiapan
Mulailah dengan mencuci tangan dengan sabun dan antiseptic
secara WHO kemudian keringkan dengan handuk/lap pribadi
Tanyakan/ mintalah jika anak ingin kencing dan membersihkan
daerah genitalnya.
Cek dan persiapkan kelengkapan alat dan bahan yang
diperlukan. Patahkan obat anestetika local, bukalah plastic spuit,
jarum dan benang jahit yang akan dipakai dan jatuhkan
ketempat alat bedah minor yang steril. Persiapkan plester dan
kassa yang diperlukan, serta tuangkan betadine/ bahan antiseptic
pada kom yang akan dipakai.
Pasanglah sarung tangan steril secara aseptic pada tangan
dominan, masukkan bahan obat kedalam spuit dengan metode
steril (sarung tangan sebelah) dan lanjutkan memasang
handschoen steril yang sebelahnya. Gantilah jarum spuit dengan
jarum dengan ukuran yang lebih kecil missal 27 Gaus.

d) Prinsip asepsis dan antisepsis
Lakukan asepsis dan antisepsis daerah pembedahan dengan
povidone iodine. Mulailah dari daerah glans atau preputium jika
fimosis. Teruskan ke korpus penis, scrotum dan daerah
perineum secara sentral perifer. Tindakan dapat diulangi
beberapa kali sampai dirasa cukup. Daerah atas bisa mencapai
simphisis pubis bagian bawah sampai ke perineum. Terakhir,
ulangi prosedur dengan menggunakan alcohol 70% atau saline

147

fisiologis untuk menghilangkan sisa lemak atau membersihkan
warna povidone iodine dan mencegah perlengketan.
Pasanglah kain doek steril

e) Anesthesia yang tepat dan adekuat
Lakukan anestesi blok (ring block) pada nervus dorsalis penis
tepat pada pangkal penis atas dengan menginjeksikan jarum
pada garis medial dibawah smphysis pubis secara tegak lurus
sampai menembus fascia buck (seperti menembus kertas),
yakinkan dan beri support anak untuk lebih kooperatif.






Aspirasi sebelum melakukan suntikan, jika tidak teraspirasi
darah, injeksikan lidokain sekitar 1-2 cc tergantung besar
kecilnya penis.
Tarik jarum tanpa mengeluarkannya kemudian arahkan ke kanan
dan kekiri secara bergantian, aspirasi dan injeksikan masing-
masing ± 0,5 cc untuk setiap sisi

148

Tambahkan anestesi infiltrasi di lapisan subkutis ventral penis
masing-masing 0,5 cc untuk setiap sisi

f) Preputium release dan pembersihan smegma
Cek apakah anestesi sudah optimal dengan melakukan jepitan di
daerah frenulum
Buka glans penis sampai sulcus corona penis terpapar.
Jika terdapat fimosis/ perlengketan buka secara tumpul
preputium dengan mosquito serta bersihkan secara tumpul
dengan klem atau kassa steril kering sampai glans dan corona
penis terpapar. Jika banayak terdapat smegma, bersihkan dengan
larutan sublimat
Gambar pembersihan glans penis

g) Dorsumsisi
Dengan klem arteri lurus tentukan dosal preputium (jam 12)
dengan menarik arah yang berlawanan dari frenulum. Pasangkan
klem arteri sampai ± 2 mm didepan corona penis.
Jepit/klem sesaat ±30 detik untuk mengurangi perdarahan dan
sebagai penanda dorsumsisi
Guntinglah dengan gunting jaringan tepat pada alur yang
terbentuk tersebut









Gambar Dorsumsisi

h) Sirkumsisi
Lanjutkan pemotongan preputium secara melingkar masing
masing sisi dengan cara sebagai berikut :
o Klem dengan klem arteri lurus pada tempat dorsumsisi
(jam 12) sebagai jepitan kendali
o Identifikasi daerah frenulum dan klem dengan klem arteri
lurus (sekitar 30 detik) pada daerah frenulum salah satu
sisi membentuk huruf V kemudian gunting dengan gunting
jaringan
o Lanjutkan mengklem secara melingkar ke arah jam 12 tadi
dengan klem arteri bengkok beberapa saat dan lakukan
pengguntingan.
o Lakukan 2 urutan prosedur di atas pada sisi sebelahnya.
Di daerah frenulum, guntingan mengarah ke depan seperti huruf
V untuk menyisakan bagian frenulum yang cukup untuk
dilakukan frenuloplasty.
Pastikan dilakukan pengkleman terlebih dahulu sebelum
melakukan pengguntingan

149
Lanjutkan pemotongan preputium secara melingkar masing-
Klem dengan klem arteri lurus pada tempat dorsumsisi
Identifikasi daerah frenulum dan klem dengan klem arteri
(sekitar 30 detik) pada daerah frenulum salah satu
sisi membentuk huruf V kemudian gunting dengan gunting
Lanjutkan mengklem secara melingkar ke arah jam 12 tadi
dengan klem arteri bengkok beberapa saat dan lakukan
prosedur di atas pada sisi sebelahnya.
Di daerah frenulum, guntingan mengarah ke depan seperti huruf
V untuk menyisakan bagian frenulum yang cukup untuk
Pastikan dilakukan pengkleman terlebih dahulu sebelum

150


i) Frenuloplasty
Jepit bagian frenulum (jam 6) yang tersisa tadi sesuai dengan
ukuran yang cukup untuk frenuloplasty
Lakukan penjahitan daerah frenulum dengan jahitan angka 8
atau angka 0
Potong sisa frenulum yang berlebih, pastikan sisa mukosa di
daerah frenulum ±0,5 cm dan seimbang

j) Wound closure
Lakukan control perdarahan dengan melakukan ligasi pada vena.
Jika sudah tidak didapatkan perdarahan, lakukan penjahitan
mukosa dengan kulit satu persatu untuk setiap sisi sampai
seluruh bagian tertutup.
Jika dirasakan jahitan sudah cukup, bersihkan daerah operasi
dengan povidone iodine

k) Dressing dan penutupan Luka
Berikan salep antibiotic/kloramfenikol atau dibalut dengan
supratule pada tempat jahitan
Balut dengan kassa mengarah ke atas seperti pita sebagaimana
terlihat pada gambar

151



8. Daftar Pustaka
Saleh, Firdaus. 2011. Circumcision. Materi Dry Workshop
Circumcision. Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu
Kedokteran (KPPIK) FK UI. 11-13 Maret 2011. Unit
CME-CPD FK UI. Jakarta. Indonesia
Emil A. Tanagho, MD & Jack W. McAninch, MD, FACS.
2008. Smith’s General Urology. 17
th
Edition. A Lange
Medical Book. Mc-Graw Hill. New York. USA
Mansjoer, Arif. Et al. 2005.Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi ketiga. Jilid 2. Media Aesculapius. FKUI. Jakarta.










152

Cek List Sirkumsisi
No Aspek Penilaian
Skor
0 1 2
INTERPERSONAL
1 Senyum, Salam, Sapa
2 Membina Sambung Rasa, Hub. Dr-Pasien dan
mensupport anak

3 Mengevaluasi indikasi dan kontraindikasi
4 Informed (prosedur sirkumsisi, pilihan teknik dan
yang akan dilakukan, tujuan, manfaat, resiko dan efek
samping tindakan/ prosedur sirkumsisi)

5 Consent
PROSEDURAL
Persiapan
6 Mencuci tangan dengan sabun dan antiseptic secara
WHO

7 Cek kelengkapan alat
8 Patahkan obat anestetika local, bukalah plastic spuit,
jarum dan benang jahit yang akan dipakai dan
jatuhkan ketempat alat bedah minor yang steril.
Persiapkan plester dan kassa yang diperlukan, serta
tuangkan betadine/ bahan antiseptic pada kom yang
akan dipakai.

9 Pasanglah sarung tangan steril secara aseptic
10 Masukkan bahan obat kedalam spuit secara aseptic
dan mengganti jarum spuit

Asepsis dan Antisepsis
11 Lakukan sterilisasi medan operasi secara sentral
perifer

12 Pasang Duk Steril
Anesthesia
13 Injeksikan jarum pada garis medial dibawah smphysis
pubis secara tegak lurus sampai menembus fascia buck


153

14 Aspirasi sebelum melakukan suntikan, jika tidak
teraspirasi darah, injeksikan lidokain sekitar 1-2 cc

15 Tarik jarum tanpa mengeluarkannya kemudian
arahkan ke kanan dan kekiri secara bergantian, aspirasi
dan injeksikan masing-masing ± 0,5 cc untuk setiap
sisi

16 Tambahkan anestesi infiltrasi di lapisan subkutis
ventral penis masing-masing 0,5 cc untuk setiap sisi

Preputium release dan pembersihan smegma
17 Cek apakah anestesi sudah optimal dengan melakukan
jepitan di daerah frenulum

18 Buka secara tumpul glans penis sampai sulcus corona
penis terpapar.

19 Jika banayak terdapat smegma, bersihkan dengan
larutan sublimat

Dorsumsisi
20 Jepit dorsal preputium (jam 12) dengan klem arteri
lurus sampai ± 2 mm didepan corona penis.

21 Jepit/klem sesaat ±30 detik untuk mengurangi
perdarahan dan sebagai penanda dorsumsisi

22 Guntinglah dengan gunting jaringan tepat pada alur
yang terbentuk tersebut

Sirkumsisi
23 Jepit (30 detik) daerah frenulum satu sisi membentuk
huruf V lanjutkan dengan pemotongan

24 Teruskan penjepitan melingkar ke arah jam 12 dengan
klem arteri bengkok lanjutkan dengan pemotongan

25 Lakukan kedua tindakan di atas untuk sisi sebelahnya
Frenuloplasty
26 Jepit bagian frenulum (arah jam 6)
27 Lakukan penjahitan daerah frenulum dengan jahitan
angka 8 atau angka 0

28 Potong sisa frenulum yang berlebih, pastikan sisa
mukosa di daerah frenulum ±0,5 cm dan seimbang


154

Hecting dan Penjahitan Luka
29 Lakukan control perdarahan dengan melakukan ligasi
pada vena.

30 Lakukan penjahitan mukosa dengan kulit satu persatu
untuk setiap sisi sampai seluruh bagian tertutup

31 Bersihkan daerah operasi dengan povidone iodine
Dressing dan Pembalutan Luka
32 Berikan salep antibiotic/kloramfenikol atau dibalut
dengan supratule pada tempat jahitan

33 Tutup luka dengan kassa steril seperti pita dan
diplester/fiksasi

PROFESIONALISME
34 Percaya diri, Minimal error
35 Bekerja dengan memperhatikan kaidah sterilitas
TOTAL

Keterangan :
0 : Tidak dilakukan
1 : Dilakukan tetapi tidak benar/lengkap/sempurna
2 : Dilakukan dengan benar /lengkap/sempurna

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful