You are on page 1of 25

1

BIOPSI
I. PENDAHULUAN Dugaan adanya kanker mendominasi setiap melakukan pemeriksaan dan dipertimbangkan setiap melakukan perawatan. Kondisi prakeganasan dan ganas harus dideteksi lebih awal yang merupakan salah satu tanggungjawab dokter gigi Banyak kondisi keganasan terjadi hanya dengan sedikit keluhan subjektif, yang ditemukan pertama kali pada pemeriksaan klinis atau radiografis (Pedersen, 199 !. "esi pada rongga mulut dan daerah perioral harus dapat diidentifikasi dan diklasifikasikan sehingga terapi spesifik dapat dilakukan. "angkah#langkah yang diambil adalah riwayat penyakit, riwayat lesi yang spesifik, pemeriksaan klinis, pemeriksaan radiologis, pemeriksaan laboratorium dan bila merupakan indikasi dapat dilakukan tindakan bedah untuk mendapatkan suatu spesimen untuk pemeriksaan patologis atau disebut sebagai tindakan biopsi ($llis, 199%!. Biopsi dapat didefinisikan sebagai suatu prosedur diagnostik dengan &ara mengambil materi jaringan atau seluler dari organisme hidup untuk tujuan pemeriksaan mikroskopis dan untuk persiapan mendapatkan suatu gambaran histologis ('ei&hart ( Philipsen, )***!. Biopsi untuk tujuan diagnostik biasanya dilakukan untuk mengkonfirmasikan suatu diagnosa klinis dan untuk membuat suatu diagnosa definitif sedini mungkin atau untuk mengesampingkan kemungkinan suatu dugaan adanya keganasan sehingga dapat dilakukan suatu terapi kuratif sedini mungkin dan menghindari pasien dari suatu terapi bedah mutilasi atau terapi radiasi yang sebetulnya tidak diperlukan ('ei&hart ( Philisen, )***!. II. INDIKASI DAN KONTRADIKSI ('ei&hart ( Philipsen, )*** + Purbawanto dan Basoeseno, 199 + King ( ,&guff, 199-!. .indakan biopsi bukanlah suatu keharusan untuk setiap proses patologis yang ditemukan di dalam rongga mulut. .indakan biopsi merupakan indikasi pada keadaan / 1

)

"esi putih yang persisten pada mukosa mulut. "esi#lesi ini kadang#kadang merupakan suatu lesi prekanker. .indakan biopsi dilakukan untuk menegakkan diagnosa apakah lesi tersebut merupakan lesi jinak, prakanker atau suatu lesi keganasan.

♦ ♦ ♦ ♦ ♦

"esi hiperkeratotik atau eritroplakia mukosa. 0lserasi yang persisten lebih dari tiga minggu tidak menunjukkan adanya perbaikan. 1danya ke&urigaan suatu keganasan ditunjuk pada spesialis atau subspesialis. Pembengkakan yang persisten tanpa adanya diagnosa yang jelas. "esi oral yang tidak menunjukkan adanya respon yang adekuat terhadap terapi .indakan biopsi merupakan suatu tindakan bedah minor. Kadang#kadang sehingga penatalaksanaan dapat

memilih untuk tindakan melakukan biopsi lebih sulit daripada memilih biopsi. Bila pasien mempunyai riwayat penyakit kelainan darah atau pada pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan, tindakan biopsi merupakan kontraindikasi. "esi yang berlangsung lama &enderung merupakan lesi yang jinak, sedangkan perubahan lesi yang &epat kemungkinan merupakan lesi yang ganas. 1pabila suatu lesi mengarah malignan sebaiknya dirujukkan. 2al#hal dimana sebaiknya tidak dilakukan biopsi pada / ♦ 3ariasi anatomi normal, misalnya linea alba, pigmentasi rasial fisiologis. ♦ "esi yang disebabkan trauma yang belum lama terjadi. ♦ "esi inflamatorik akut4subakut misalnya infeksi bakteri45irus ♦ "esi 5askuler, misalnya hemangioma. ♦ "esi radiolusen tanpa aspirasi initial. ♦ "esi yang karena lokasi atau ukuran sangat sulit untuk pembedahan.

)

19%)! 1. Biopsi jarum (biopsi aspirasi! ♦ :arum besar . jaringan di&akot atau digigit sampai lepas dari tempatnya.umor ditusuk dengan jarum besar nomor 1% dan disedot dengan spuit 1* && sampai jaringan tumor lepas masuk ke dalam spuit. 0ntuk tumor jinak tindakan ini sekaligus sudah merupakan terapi. 8. Punch biopsy Pun&h berarti tekan. Biopsi &akot Dengan menggunakan tang aligator. ♦ :arum halus 8 . -. Biopsi trun&ut (drill biopsy) :aringan tumor ditusuk dengan alat biopsi khusus berbentuk jarum besar yang dapat memotong dan mengambil jaringan. sampling akan menimbulkan hasil yang tidak sesuai dengan gambaran klinik. :aringan tumor yang dapat berbentuk silinder ke&il. Biopsi eksisi 7eluruh tumor di eksisi untuk pemeriksaan. . Kesalahan ). mm. MACAM-MACAM TEKNIK BIOPSI 6ara#&ara biopsi antara lain adalah / (7ukardja. 4. Disini penting memilih sampel tumor yang representatif. )*** + "ukito. Biopsi kerokan (curettage) Dengan kuret permukaan jaringan dikerok sampai lepas. Pun&h biopsy biasanya menggunakan suatu alat berbentuk silinder yang ditekan pada mukosa sehingga memperoleh jaringan sebesar kurang lebih 9. Biopsi insisi 2anya sebagian ke&il dari tumor diambil dengan menggunakan pisau untuk pemeriksaan.8 III. :aringan yang didapat berbentuk potongan#potongan tumor.

. . Trephine biopsy Dipakai untuk tulang rawan atau sumsum tulang. Biopsi tak disangka . 199%+ 'ei&hart ( Philipsen. ♦ :arum khusus . Biopsi endoskopi $ndoskop mempunyai alat khusus untuk melakukan biopsi atau mengambil bahan sitologi. )*** + 2owe. jaringan diangkat dan diperiksakan pada patologis. 6airan hasil perasan disentrifuse dan diperiksa. Biopsi dengan &ara tekanan atau pijitan Biopsi dengan &ara tekanan atau pijitan supaya &airan keluar dari lokasi tumor. The sponge method tumor digosok dengan kasa. 1*. lalu kasa tersebut di&elupkan ke dalam air garam atau lainnya.umor ditusuk dengan jarum halus nomor )8 dan disedot dengan spuit 1* && sampai jaringan tumor lepas. dibilas lalu diambil.. MACAM BIOPSI UNTUK RONGGA MULUT ($llis. 1. IV. . 11. digergaji. mungkin tidak dioperasi. maka dimasukan air. 19-1! .isalnya pada apendektomi. Pemiriksaan langsung Pemeriksaan langsung dari bahan sputum atau sekret dan dibuat preparat hapus. masuk ke dalam jarum. tetapi untuk melihat se&ara sitologik jenis tumor. %. 9. 18. terdapat suatu jaringan yang di&urigai. lalu disedot dan dikeluarkan. 1). Biopsi irigasi (bilas! Bila dilihat tumor sudah berhamburan.umor ditusuk dengan jarum 3in 7il5erman yang dapat sekaligus mengambil jaringan tumor.

eknik pemeriksaan adalah menghapus lesi dengan semen spatula atau alat penekan lidah yang telah dibasahi beberapa kali. Bila pus teraspirasi. . terutama yang penting adalah adanya 9 . biopsi &akot (punch biopsy) . 1danya darah dapat mengarahkan pada beberapa lesi.& Bi"'si As'irasi .9 Pada rongga mulut biopsi yang sering dilakukan adalah sitologi. 199-!. 199% + King ( . biopsi insisi dan biopsi eksisi. dapat dipertimbangkan suatu proses inflamasi atau infeksi. herpes. Bila udara yang teraspirasi merupakan indikasi terdapat keterlibatan ka5itas tulang yang traumatik. 7etelah itu karateristik sel diperiksa dibawah mikroskop ($llis. 4. kemudian dihapus pada potongan ka&a.eknik biopsi aspirasi diindikasikan untuk semua lesi yang diperkirakan berisi &airan (ke&uali mokokel! atau semua lesi intraosseous sebelum dilakukan eksplorasi bedah. biopsi aspirasi.1 Pemeriksaa Si!"#"$i R" $$a M%#%! Pemeriksaan sitologi untuk sel tumor pertama kali dilakukan sebagai prosedur diagnostik untuk mendeteksi keganasan pada ser5iks uterus. Potongan ka&a segera dimasukkan ke dalam larutan fiksasi atau disemprotkan dengan spray khusus untuk fiksasi. 4. Biopsi aspirasi dapat memberikan informasi yang berharga terhadap lesi di dalam atau disekitar rongga mulut dengan hanya menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman pada pasien. Penelitian telah menunjukkan sitologi rongga mulut tidak dapat diper&aya dan seringkali menunjukkan gambaran yang keliru.&=uff. "esi radiolusen pada rahang dengan warna kekuningan pada aspirasi adalah merupakan suatu kista. Pemeriksaan sitologi diindikasikan bila terdapat perubahan mukosa dengan area yang luas yang akan dimonitor adanya perubahan displastik seperti perubahan pada post#radiasi. <alaupun demikian penggunaan pemeriksaan sitologi ini untuk rongga mulut dapat dianjurkan namun digunakan sebagai suatu prosedur tambahan tetapi bukan merupakan suatu bagian dari tindakan biopsi. terlebih lagi bila dilakukan pemeriksaan oleh seorang patologis yang kurang ahli dalam bidang sitologi rongga mulut. &andidiasis dan pemphigus. drill biopsy.

central giant cell granuloma dan lesi lainnya dapat menghasilkan aspirasi berupa darah. insisi. 2asil dari biopsi aspirasi kemudian dilakukan pemeriksaan patologis. 7etiap bentuk radiolusensi pada tulang rahang harus dilakukan aspirasi sebelum dilakukan inter5ensi bedah untuk menghindari kemungkinan lesi 5askuler yang akan dapat menyebabkan perdarahan bila dilakukan mikrobiologi. "esi#lesi seperti aneurysmal bone cysts.eknik aspirasi adalah dengan menggunakan jarum nomor 1% dengan syringe nomor 9 sampai 1* m". Piston ditarik ke arah proksimal &. Beberapa jenis alat pemegang tabung suntik antara lain model Franze. analisa kimia atau kultur =ambar 1.malformasi 5askular pada rahang. Comeco Syringe Piston. 7elain itu adanya lesi 5askular juga menghasilkan darah pada aspirasi.eknik Biopsi 1spirasi (. . alat pemegang jarum suntik terbuat dari metal sehingga tabung suntik duduk tepat pada pemegang tersebut. Piston dikembalikan ke arah distal se&ara bebes . :arum digerakkan mundur maju di dalam masa tumor beberapa kali d. Posisi jarum di dalam masa tumor b. . 199*! a.ambunan. dst.

0ntuk mengeluarkan aspirat. :aringan yang terambil - . apabila jarum sudah berada di dalam masa tumor. Daerah lesi diberi anestetikum dan jarum diinsersikan pada masa dengan suatu kedalaman tertentu untuk memperoleh lokasi pusat &airan (gambar 1a!. . pegangan piston dilepaskan (gambar 1d!. :arum ditarik dari masa tumor 1spirat diteteskan di atas ka&a. Bila hal ini gagal dapat dilakukan flap mukoperiosteal dan menggunakan bor untuk penetrasi tulang kortikal. 7ebelum jarum di&abut. f. 7eperti pada pasien dengan SjÖgren syndrome. sehingga tekanan di dalam tabung kembali seperti semula (gambar 1e!. 1pabila aspirat sudah kelihatan pada muara jarum. "alu ujung jarum diletakkan di atas ka&a obyek piston didorong pelan#pelan dan aspirat diteteskan di atas ka&a obyek dan dibuat sedian apus (gambar 1f!. 199*!. >nstrumen biopsi khusus untuk pun&h biopsi sebesar mm dapat digunakan. dibutuhkan ekspansi terhadap kortikal tulang dengan &ara memasukkan jarum dengan kuat se&ara langsung pada mukoperiosteum kemudian diputar sampai tulang kortikal perforasi. peralatan khusus untuk biopsi dapat digunakan untuk melakukan biopsi dalam rongga mulut. jarum dibebaskan dari tabung suntik. 199% + .ambunan.ujuannya untuk men&egah aspirat masuk ke dalam tabung suntik sehingga sulit untuk dikeluarkan.( Bi"'si Teka )Punch Biopsy) Pada beberapa kasus. 4. piston dalam tabung suntik dikembalikan pada tempat semula dengan melepaskan pegangan piston. biopsi pada mukosa bibir dapat dilakukan untuk memperoleh e5akuasi diagnostik adanya kelainan pada kelenjar ludah minor. 7etelah itu baru digunakan jarum melalui lubang pada tulang kortikal ($llis.- e. Pada lesi intraosseous. piston ditarik ke arah proksimal dan tekanan di dalam tabung menjadi negatif (gambar 1b!. :arum digerakkan maju mundur sehingga aspirat yang mengandung sejumlah sel tumor masuk ke dalam lumen jarum atau tabung suntik (gambar 1&!. piston ditarik ke arah proksimal kemudian jarum disatukan kembalikan dengan tabung.

1lat ini biasanya digunakan untuk mengambil spesimen lesi central &ibro(osseous pada rahang. 19-1!(gambar 8!. $llis Biopsy Drill B. 2asil spesimen jaringan dari teknik punch biopsy B. Dengan alat tersebut spesimen dapat diambil sepanjang 1#) &m dan diameter 1#.* Bi"'si I sisi >ndikasi biopsi insisi adalah bila lesi yang di&urigai terlihat sulit karena besar (diameter lebih dari 1 &m! atau pada lokasi yang dapat menimbulkan % .% berbentuk selinder yang melibatkan mukosa labial dan kelenjar ludah submukosa ('ei&hart ( Philipsen. 1lat Drill biopsy 1. Dengan teknik ini spesimen dapat diambil dengan kedalaman yang ideal untuk pemeriksaan tulang (2owe. 4. )***! (gambar )! =ambar ). #$$$) 1. =ambar 8. mm. Drill dengan 2andpie&e 4. Biopsi tekan4 Punch Biopsy !eichart " Philipsen. 1lat punch biopsy yang digunakan pada mukosa bibir bawah dengan tekanan ringan dan gerakan rotasi.4 Drill Biopsy 7pesimen biopsi pada rongga mulut dapat dilakukan dengan menggunakan suatu alat khusus seperti bor (%odi&ied 'llis biopsy drill) dengan straight dental handpiece.

empat pemilihan area biopsi harus meliputi jaringan yang mengalami perubahan dengan perluasan ke jaringan normal pada dasarnya atau pada bagian tepinya. 4. karena perubahan sel pada superfisial akan berbeda dengan bagian jaringan yang lebih dalam ($llis. Biopsi insisi ($llis. 7elain itu pengambilan jaringan lebih baik dalam dan sempit daripada lebar tetapi dangkal. :aringan normal dikelilingi lesi juga harus dieksisi 9 . Pengambilan spesimen dengan biopsi insisi lebih baik sempit dan dalam daripada lebar dan dangkal. kemungkinan besar =ambar . B.!.epi spesimen biopsi insisi melibatkan jaringan yang normal di bawahnya. :aringan nekrotik harus dihindari karena akan tidak berguna dalam mendiagnosa.+ Bi"'si Eksisi Biopsi eksisi adalah pengambilan seluruh lesi pada saat prosedur diagnosa bedah dilakukan. 199%! (gambar . .. Prinsip biopsi insisi adalah pengambilan jaringan pada area lesi harus representatif. 199%! 1.9 kerusakan struktur 5ital atau bila lokasi sangat sulit untuk dikerjakan seperti pada palatum lunak atau dasar lidah atau bila di&urigai merupakan lesi keganasan. .

insisi berbentuk elips di sekitar lesi sekurang#kurangnya 8 mm menjauhi lesi. 199% + King ( . insisi dibuat dengan kedalaman yang &ukup untuk mengangkat lesi se&ara keseluruhan. B. 1* . 7emua lesi yang dapat diangkat se&ara lengkap tanpa menimbulkan keadaan mutilasi pada pasien merupakan perawatan terbaik dengan biopsi eksisi. Biopsi $ksisi pada jaringan lunak ($llis. insisi di buat kon5ergen ke arah kedalaman lesi untuk mendapatkan penutupan luka yang baik. . Dilihat dari permukaan. Dilihat dari samping.&=uff. namun eksisi yang lengkap merupakan bagian dari terapi definitif. lesi terlihat lesi 5askular atau berpigmentasi. Dilihat dari arah belakang.1* untuk pengambilan se&ara total. =ambar 9. >ndikasi biopsi eksisi adalah bila diameter lesi kurang dari 1 &m dan pada pemeriksaan klinis terlihat lesi tersebut adalah jinak.idak hanya jaringan lesi yang berharga untuk dilakukan pemeriksaan patologis. 6. 199%! 1. Prinsip biopsi eksisi adalah keseluruhan lesi dengan ) mm sampai 8 mm jaringan normal disekelilingnya dieksisi ($llis. 199-! (gambar 9!.

:angan membuat teraan yang disebabkan oleh jaringan atau instrumen lainnya pada spesimen biopsi. 19%9 + 'ei&hart ( Philipsen. 7ebaliknya tidak menggunakan alat atau instrumen yang kemungkinan kontak dengan tumor ketika mengambil jaringan dari daerah yang tidak terkontaminasi. . >nstrumen yang digunakan dalam biopsi merupakan sumber kontaminasi yang potensial terhadap bidang jaringan yang baru.eknik biopsi apapun yang akan dilakukan harus mengikuti prinsip#prinsip utama biopsi yaitu antara lain / • • 7ebelum melakukan tindakan pembedahan. )**1!. 11 . )*** + @thotheeers. daerah biopsi di&u&i dengan antiseptik yang tidak berwarna. 2ematoma yang besar setelah biopsi dapat menyebabkan penyebaran tumor dan harus dilakukan pen&egahan se&ermat mungkin dengan penatalaksanaan hemostasis yang sempurna selama biopsi. :angan menggunakan electrosurgery atau laser. >nsisi se&ara umum diletakkan longitudinal sehingga pengangkatan jaringan dan penutupan luka akan lebih mudah. Bidang jaringan yang baru jangan sampai terkontaminasi selama prosedur biopsi. misalnya alkohol -* A Bekas tempat penusukan jarum atau bekas goresan harus ditempatkan se&ara &ermat sehingga nantinya dapat diangkat sebagai bagian prosedur bedah definitif yang akan dilakukan. jangan pada tempat biopsi. Bukan suatu hal yang umum untuk mengambil lebih dari satu sampel biopsi di beberapa tempat lesi yang di&urigai pada waktu yang bersamaan. PRINSIP-PRINSIP BIOPSI )?wa5eling dkk.enentukan tempat insisi biopsi juga merupakan hal yang penting.11 V. tetapi hanya dengan scalpel atau instrumen pemotong seperti punch instrument. 19%8 + 'osenberg. • • • • >njeksi &airan anestetikum sebaiknya jauh dari tempat biopsi. .

*. 7aat melakukan pembedahan jaringan tumor. 1hli bedah harus menandai daerah tertentu pada tumor dengan hati#hati untuk memfasilitasi orientasi spesimen oleh patologis. • Pananganan biopsi oleh patologis juga penting. Pada pembilasan di dalam rongga mulut harus dilakukan dengan hati#hati karena dapat menimbulkan gejala kera&unan apabila &airan masuk ke dalam rongga peritonium.1) • .1. • • Pada biopsi insisi pengambilan sebaiknya dalam dan sempit.89 A dengan p2 %. TEKNIK BIOPSI +. 6etrimide 1 A 6eta5lon. 7emua spesimen biopsi harus segera diletakan di kedalam formalin. • Daerah operasi biopsi jika kemungkinan dibilas dengan &airan pembunuhan sel tumor seperti sublimat 1 / 9**. 7a5lon. karena sel#sel tumor mudah lepas dan jaringan tumor mudah sobek sehingga dapat menyebar melalui aliran darah atau limfe. :aringan yang &ukup yang &ukup harus dapat diambil untuk tujuan tersebut bila kesulitan diagnosa telah diantisipasi. Ba 2ipoklorit *. 199%! 1) . 7ebaiknya operator yang melakukan tindakan biopsi dan pembedahan berikutnya adalah orang yang sama agar mengetahui dengan pasti daerah yang sudah ditusuk.a -ari $a L% ak ($llis.eknik biopsi harus sudah dipilih dengan hati#hati untuk mendapatkan sampel jaringan yang adekuat untuk pemeriksaan patologis.9#9. C IV. harus dihindari teknik manipulasi yang kasar seperti menariknarik dan menekan jaringan tumor. Tek ik Bi"'si Pa. 0ntuk jenis atau ukuran tumor yang berbeda diperlukan fiksasi yang berbeda pula. • Daerah biopsi atau pembedahan yang dilakukan sebelumnya harus diangkat pada waktu pembedahan berikutnya. :aringan nekrotik tidak diikut sertakan. mengikut sertakan jaringan yang normal. @rientasi spesimen biopsi penting untuk penentuan terapi selanjutnya.

1rma mentarium for biopsy ($llis. 18 . anatomi lokal. A es!esi Bila kemungkinan teknik anestesi blok lokal disarankan.eknik ini adalah prosedur yang dilakukan tanpa rasa sakit dan dapat dilakukan dengan segera di klinik gigi dengan alat#alat sederhana (. .i#i!as -ari $a Biopsi jaringan lunak rongga mulut seringkali terdapat pada struktur jaringan yang mudah bergerak seperti pada bibir. 199%! 1dapun prinsip#prinsip teknik biopsi jaringan lunak disingkat seperti dibawah ini / A. Bibir dapat dimobilisasi dengan jepit oleh jari asisten pada kedua sisi area biopsi. palatum lunak dan lidah. >nsisi bedah yang akurat akan lebih mudah dilakukan pada jaringan yang distabilisasi dengan baik. karena dapat menyebabkan distorsi pada spesimen. B.abel 1!. Beberapa metoda dapat digunakan untuk mendapatkan stabilisasi jaringan. Bila teknik blok anestesi tidak memungkinkan dapat digunakan lokal anestesi dengan infiltrasi tetapi larutan diinjeksikan sekurang#kurangnya 1 &m menjauhi lesi. S!a. Pemeriksaan biopsi di seluruh mukosa mulut sesuai dengan teknik. .18 7etiap dokter gigi berkompeten melakukan biopsi pada jaringan lunak mulut.abel 1. ukuran dan tipe dari lesi. "arutan anestesi sebaiknya tidak diinjeksikan pada jaringan yang tidak diangkat.

biopsi eksisional dari mukokel. . >nstrumen juga dapat digunakan untuk mendapatkan stabilisasi. dengan jari asisten B.eknik sutura retraksi atau dengan klip penjepit dapat digunakan untuk stabilisasi lidah dan palatum lunak. . . 6ara ini dapat digunakan untuk stabilisasi yang aman tanpa menarik jaringan (gambar ! =ambar 1.eknik tersebut juga menghasilkan keadaan hemostasis dengan mengkompresi arteri labialis.1. Bila digunakan sutura sebaiknya ditempatkan pada subtansi jaringan yang dalam dan jauh dari lokasi biopsi. 6ara stabilisasi jaringan ($llis. 7tabilisasi mukosa bibir sebelum biopsi.ukosa dideseksi dan ditutup (D dan $! 1. . >nsisi berbentuk elips dibuat disekitar lesi 6. 199%! 1.

Suction 5olume rendah dengan membungkus ujungnya dengan kasa dapat digunakan dengan &ara menekan dengan tampon &ukup adekuat. >nsisi berbentuk elips pada permukaan dan membentuk 3 pada dasar lesi untuk memudahkan dalam penutupan luka. Hem"s!asis Penggunaan suction. terutama penggunaan e5akuator dengan 5olume tinggi untuk aspirasi pada perdarahan selama biopsi sebaiknya dihindari. 19 . ke&uali pada perdarahan yang hebat.odifikasi bentuk elips dan bentuk 3 dapat dilakukan tergantung pada kedalaman lesi yang di&urigai. 7tabilisasi lidah dengan traksi sutura =. 199% / D. 7ebelum mukosa ditutup (:! C. 7utura resorbable ditempatkan ke otot aproksimal (>!. Penggunaan elektrokauter sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan kehan&uran jaringan pada jaringan yang berdekatan dengan garis insisi dan dapat meyebabkan distorsi pada struktur histologis spesimen. I sisi 0ntuk insisi pada biopsi sebaiknya digunakan scalpel yang tajam.19 =ambar B. 7pesimen yang ke&il dapat dengan mudah teraspirasi oleh alat tersebut dan hilang. 7tabilisasi mukosa bibir dengan alat mekanik 2. . D. 6ara stabilisasi jaringan ($llis.

1 . jaringan sekitarnya yang diambil sebesar 9 mm. >nsisi harus paralel dengan jaringan saraf. berpigmentasi atau dengan batas yang difus. 7pesimen yang &ompang &amping dapat menyebabkan spesimen tidak dapat didiagnosa dan menyebabkan penundaan diagnosa definitif dan terapi karena biopsi harus diulang. Penggunaan sutura traksi pada spesimen merupakan metoda yang baik untuk menghindari trauma pada spesimen (gambar -!.1 Pada biopsi eksisi. Dapat dilakukan lebih dari satu biopsi insisi bila dibutuhkan bila karateristik lesi berbeda dari daerah yang satu dengan yang lainnya. Bila digunakan penjepit jaringan untuk mendapatkan jaringan. arteri dan 5ena yang normal. Penggunaan penjepit jaringan4tissu &orceps dapat menyebabkan kerusakan arsitektur sel terutama pada biopsi ke&il. insisi awal haruslah merupakan panduan untuk men&apai kedalaman lesi. Bila lesi terlihat jinak. Pe a $a a -ari $a 7etiap spesimen jaringan yang diambil haruslah berada dalam kondisi siap untuk pemeriksaan histopatologis. Bila lesi di&urigai &ukup ganas. 7pesimen yang tipis dan dalam lebih menguntungkan dibandingkan dengan spesimen yang lebar dan dangkal. :aringan normal sekitarnya harus diikut sertakan dalam spesimen biopsi iksisi. E. jaringan normal disekitarnya &ukup diambil sebesar )#8 mm. pengulangan dalam melepaskan dan meletakan instrumen pada jaringan tersebut harus dihindari. Kedalaman lesi akan dapat memberikan materi yang &ukup untuk pemeriksaan histopatologi yang adekuat.

@rientasi lesi dan metoda yang digunakan spesimen (gambar %!. Pe a $a a S'esime :aringan yang telah diambil harus segera diletakkan ke dalam larutan formalin 1*A dengan 5olume sebanyak )* kali dari spesimen .e !i0ikasi Te'i -ari $a Bila di&urigai lesi selain proses yang jinak. 7pesimen setelah diambil diberi tanda dengan benang ($llis. >nter5ensi bedah selanjutnya dapat dilakukan berdasarkan tepi dari tumor residual. 7eluruh spesimen 1- . Bila lesi yang didiagnosa memerlukan terapi tambahan patologis dapat menetukan tepi spesimen bila terdapat tumor residual. 7utura dapat ditinggalkan melekat pada spesimen untuk diidentifikasi tepi spesimen ($llis. 7utura traksi digunakan untuk pengambilan lesi dengan biopsi eksisi. 199%! G. 199%! /.1- =ambar -. I . tepi spesimen biopsi harus ditandai dengan benang sutera (sil)) sebagai orientasi patologis dalam pemeriksaan. pada spesimen yang telah ditandai harus diilustrasikan pada kertas data yang akan diikut sertakan dalam pengiriman =ambar %.

7ubmukosa merupakan jaringan ikat longgar sehingga mukosa mudah dipisahkan. Pe %!%'a L%ka 7etelah spesimen diambil. 1% . Bagian insisi kemudian ditutup dengan sutura yang &ukup untuk menghasilkan penutupan primer. penutupan primer dari luka berbentuk elips biasanya dapat dilakukan dengan mudah. 7eringkali. >nsisi elips pada mukosa lekat seperti gusi dan palatum tidak dapat ditutup dengan rapat namun dapat diarahkan pada penyembuhan sekunder.1% harus terendam di dalam larutan dan harus dipastikan bahwa jaringan tidak menempel pada dinding wadah atas larutan formalin. Periodontal dressing dapat diaplikasikan pada luka yang lebar pada gusi atau palatum untuk kenyamanan pasien dan untuk mema&u penyembuhan.ukosa dilepaskan terlebih dahulu dengan menempatkan ujung gunting yang tumpul pada area submukosa dan mengitari jaringan dengan membuka ujung gunting. 7etelah itu baru dilakukan penutupan pada luka. dan palatum lunak selebar elips pada setiap arah mudah dilakukan dan menghasilkan pendekatan jaringan dengan tegangan yang sedikit pada garis sutura. "uka biopsi pada dorsum atau lateral lidah membutuhkan sutura yang ditempatkan dalam dan pada jarak yang dekat pada bagian dari lidah untuk mempertahankan penutupan (gambar 9!. tindakan biopsi di palatum berapapun ukurannya lebih baik digunakan splint akrilik pada post operatif sehingga menjamin perlekatan dressing pad gigi yang berdekatan. 7eberapa jauh tepi yang harus dipisahkan bergantung pada lokasi anatomis dan ukuran luka. Pemisahan tepi luka pada bibir. . H. pipi.

Bila teraba lunak seperti busa ketika ditekan menunjukkan adanya erosi atau penipisan tulang kartikal. sebagai &ontoh pengambilan biopsi jaringan keras adalah enukleasi pada kista periapikal. 199%! 7ebelum dilakukan biopsi pada jaringan. .a -ari $a Keras a!a% I !ra"sse"%s ($llis.ulang yang diraba li&in dan keras biasanya menunjukkan bahwa lesi tidak meluas atau mengerosi tulang kortikal.19 =ambar 9. Tek ik Bi"'si Pa. namun karena lokasi yang berbeda maka dibutuhkan berbagai pertimbangan#pertimbangan khusus. Bi"'si As'irasi Lesi Ra.ukosa didiseksi dengan gunting tumpul pada sekeliling luka insisi pada biopsi eksisi ke samua arah sehingga menghasilkan penutupan luka tanpa tegangan ($llis. 1dapun langkah#langkah teknik biopsi pada jaringan keras adalah / A. . =ambar 1*. palpasi pada daerah rahang dimana terdapat lesi yang di&urigai harus dilakukan dengan seksama.eknik biopsi pada jaringan kertas tidak berbeda dengan biopsi pada jaringan lunak. . >nformasi tersebut dapat merubah ren&ana perawatan selanjutnya.i"#%se 19 . VI. 199%!.

/#a' M%k"'eri"s!ea# 2ampir semua pengambilan lesi pada jaringan keras dilakukan dengan membuat suatu flap mukoperiosteal. 2al#hal penting yang harus dihindari adalah struktur neuro5askular mayor dan tetap mengusahakan tempat insisi berada diatas tulang yang sehat pada waktu penutupan. Desain flap dilakukan kurang lebih . Bila terdapat &airan bening dapat diasumsikan sebagai suatu kista. 7emua flap mukoperiosteal untuk biopsi pada rahang harus dilakukan se&ara &ull thic)ness yaitu insisi meliputi mukosa. "angkah ini dapat menghasilkan suatu informasi diagnostik yang berharga mengenai sifat dari lesi. Berbagai ma&am flap mukoperiosteal dapat dilakukan dan dipilih berdasarkan ukuran dan lokasi lesi. 7ebagai &ontoh. bila pada aspirasi terlihat adanya darah dengan pulsasi menunjukkan adanya suatu lesi 5askuler yang tidak boleh dilakukan eksplorasi bedah. submukosa dan periosteum. Diseksi pada tulang yang terekspos harus dilakukan pada subperiosteal. Bila terdapat udara dapat menunjukkan jarum masuk ke dalam sinus maksilaris atau adanya ka5itas tulang traumatik. Bila tulang kortikal masih intak. 0kuran lesi akan mengarahkan kita seberapa banyak jalan masuk yang dibutuhkan bila diindikasikan suatu biopsi eksisi. sampai 9 mm sekeliling tulang sehat untuk mengantisipasi tepi bedah. 1i . C."2 Osse"%s "esi yang terdapat didalam tulang rahang tulang kortikal pada suatu membutuhkan pembuatan jendela osseous (window osseous!. 7etelah lesi diambil penyatuan periosteum terhadap perluasan lesi dapat dilakukan. . Bila perluasan lesi sentral telah mengerosi tempat dimana terdapat lubang osseous setelah dilakukan flap. jendela dapat diperluas dengan menggunakan rongeur bone cutting &orcep) atau bor. bor yang berputar )* .)* 7etiap lesi radiolusen yang membutuhkan biopsi harus dilakukan biopsi aspirasi terlebih dahulu sebelum dilakukan eksplorasi bedah. B. Pengangkatan flap pada lesi sentral yang mengerosi tulang kortikal harus dilakukan jauh dari lesi dan diatas tulang yang sehat.eknik ini akan menghasilkan suatu bidang jaringan yang baik untuk diseksi.

7etelah dinding ka5itas bersih. Bagaian yang konkaf (&ekung! dari instrumen harus selalu kontak dengan permukaan osseous dari ka5itas tulang. sisa lesi ditinggalkan. prosedur yang sama dapat dilakukan tetapi diikuti dengan kuretase ka5itas tulang. Bila dilakukan biopsi insisi pada sebagian jaringan yang diangkat. 7etiap potongan sisa dari jaringan lunak yang ada di dalam ka5itas harus diangkat dengan kuret. 7ubuah alat kuretase juga dapat digunakan untuk mengelupas dinding jaringan ikat spesimen dari tulang sekitarnya.eknik ini digunakan sampai seluruh spesimen bebas dan dapat diangkat. flap dikembalikan dan dijahit pada lokasi yang tepat. :endela osseous harus selalu diikutsertakan dalam pemeriksaan histopatologis dengan spesimen primernya. Kuretase dilakukan dengan perlakuan yang sama pada permukaan akar gigi akan mengikut sertakan sedikit jaringan osseous pada semua arah setelah sejumlah lesi diangkat. Bila dilakukan biopsi eksisi dan ditemukan spesimen jaringan lunak yang terlihat solid dan sulit dipisahkan dari jaringan sekitarnya. 0kuran jendela bergantung pada ukuran lesi dan perkiraan jendela terhadap struktur anatomis normal seperti akar dan bundel neuro5askular. D. .)1 dapat digunakan untuk mengangkat jendela osseous.eknik pengambilan spesimen bergantung pada jenis biopsi (eksisi atau insisi! serta konsistensi jaringan yang dijumpai.i#a S'esime . 2ampir semua lesi ke&il mempunyai kapsul jaringan ikat (seperti pada kista! dan dapat diambil se&ara utuh. Bur trephine dapat digunakan untuk menghasilkan pembukaan jalan masuk awal. )1 . 7etelah jendela dibuat kemudian dapat diperluas dengan rongeur. Bagian yang &embung yang akan memisahkan spesimen dari tulang disekitarnya. Pe $am. Ka5itas tulang kemudian diperiksa setelah diirigasi dengan &airan irigasi yang steril.

Pe a $a a S'esime Penanganan spesimen pada jaringan keras sama dengan spesimen jaringan lunak. 1hli patologi harus diinformasikan bahwa jaringan keras dan jaringan lunak diikutsertakan. 199%! 1. Pembengkakan pada daerah kista periapikal B. 0ntuk setiap proses jinak setelah dilakukan biopsi. Pada lesi yang hanya dulakukan biopsi insisi atau suatu lesi yang membutuhkan inter5ensi yang lebih lanjut. Dlap mukoperiosteal diangkat dan digunakan bor untuk mengambil tulang kortikal 6 ( D. terapi definitif terhadap lesi harus dilaksanakan. )) . $nukleasi pada kista ($llis.)) =ambar 1*. pasien harus dimonitor penyembuhan tulang dengan foto rontgen. =ambaran radiologis harus disertai dengan spesimen. Kista dipisahkan dari tulang dengan kuret berbentuk sendok $. Penutupan luka E.

prosedur biopsi sebaiknya diulangi. KOMPLIKASI ("ukito. Komplikasi anestesi infiltratif seperti reaksi alergi. Bila lesi dilaporkan sebagai lesi jinak sedangkan se&ara klinis menunjukkan dugaan kearah keganasan atau sebaliknya. 7etiap spesimen harus dikirim dalam masing#masing botol yang telah diberikan label. =ambaran radiografis sebaiknya diberikan karena sangat berguna untuk melihat lesi pada jaringan keras. 19%)! Komplikasi pada tindakan biopsi adalah antara lain / 1. 199% + 'ei&hart ( Philipsen. Biopsi yang komplek yang telah diidentifikasi bagian tepi atau bila dilakukan multipel biopsi harus ditulis dan digambar se&ara rin&i. Daerah biopsi yang diambil mungkin tidak dapat didiagnosa atau tidak representatif untuk menunjukkan sifat lesi#lesi rongga mulut. >nformasi yang tidak adekuat akan memakan waktu dan menyebabkan diagnosa menjadi tidak akurat. )***! VIII. 7etelah biopsi dilakukan.)8 VII. Diagnosa akhir harus sudah dapat diperkirakan bagi klinis sebelum dan sesudah biopsi. 'usaknya jaringan atau organ#organ disekitarnya . >nfeksi 8. 'iwayat penyakit dan gambaran klinis lesi harus diikutsertakan untuk dikirim kepada ahli patologi. pasien diinstruksikan untuk kembali dalam 1* hari sampai ) mingu seetelah pembedahan dan dilakukan pemeriksaan se&ara &ermat. PENGIRIMAN DAN PENGISIAN DATA BIOPSI 7emua spesimen harus diberikan label dan diidentifikasi dengan data demografi dari pasien dan dokter yang mengirim pada lembar kertas pengiriman biopsi. "uka yang tidak membaik . 2asil pemeriksaan biopsi dapat didiskusikan dengan pasien. Perdarahan ). 7pesimen kedua sebaiknya dikirim pada seorang ahli patologi yang mempunyai keahlian dalam bidang patologi rongga mulut ($llis.. dsb )8 . Penyebaran sel#sel tumor ganas 9.

KESIMPULAN .eknik dan ma&am biopsi yang biasa dilakukan di dalam rongga mulut adalah sitologi. gambaran klinis. biopsi dapat diulang dan dikirim pada seorang ahli patologis yang menguasai bidang patologi rongga mulut. ).). biopsi aspirasi. Bila hasil tidak sesuai dengan gamaran klinis. Pemilihan teknik biopsi dilakukan berdasarkan ukuran lesi. riwayat penyakit. . perkiraan sifat dan jenis lesi. biopsi insisi dan biopsi eksisi.indakan biopsi dilakukan untuk mendapatkan diagnosa definitif suatu lesi serta mengkonfirmasikan diagnosa klinis sehingga dapat dilakukan terapi kuratif sedini mungkin. Pengiriman spesimen biopsi harus dilakukan dengan &ara yang baik disertai dengan data#data pasien lengkap. gambaran radiologis serta deskripsi lokasi spesimen yang diambil selengkapnya dan serin&i mengkin. letak lesi. drill biopsy. biopsi tekan (punch biopsy). I3. 2asil akhir biopsi harus sudah dapat diperkirakan terlebih dahlu oleh klinis. .

.. 199 .". 0ni5ersitas 1irlangga Press hal / )*. 19%8.)9 3. '. 2ipokrates.. $d.. King.. hal 91)#98).doep..40PD >lmu Bedah DK0P4'727. Bew Fork. @rthotheers.. Penuntun Biopsi 1spirasi :arum 2alus. Petersen. )**1. .. 199%. ( Philipsen. 71. )***. >n 6an&er Prin&iples ( Pra&ti&e of @n&ology..... dkk.. 7t "ouis. Buku 1jar Praktis Bedah . 19%9. dkk. :. 'ei&hart.. @ral Pathology.. )nd ed. @nkologi. ..osby..6 and .ulut. http/44www. P. "ippin&ort 6o..aEillofa&ial surgery. Biopsy / 1 "ife 7a5ing . hal ) 8#)"ukito. dkk.umour Pri&iples.orthoteers.. P1.. =. Prin&iples of 7urgi&al @n&ology..uk4BrujpGij88lm4@rthum 1.. 6ontemporary @ral 1nd . >D=.&o.htm.inor @ral 7urgery. . =uff. 8 rd ed... 7ub.edi&ine. Prin&iples of defferential Diagnosis and Biopsy. :akarta ?wa5eling. $=6 $llis >>>.*.. De5ita. Philadelpia 7ukardja. DA/TAR PUSTAKA Basieseno ( Purwanto..B... @nkologi Klinis.org4@D08. )***.heme 7tuttgart.pdf.. Bag40PD @nkologi. =. >n... $dward. 199*. "ab. PB Balai Pustaka http/44www.ambunan... 6olor 1tlas of Dental . . :ohn <rinht ( 7on. 19-1.. Kepala dan "eher. 19%). . Beberapa Petunjuk @nkologi dalam >lmu Bedah. 2owe. ). 1spek Klinik dan 7itologi Beoplasma.easure )9 . hal / 9#19 'osenberg.&.. Bristol.