You are on page 1of 49

PERTEMUAN Ke 3

SOLAR CELL ATAU SEL SURYA

Photovoltaic Cell

Modul Solar Cell

Modul Solar Cell adalah peralatan elektronik yang berfungsi mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Dari modul tersebut energi listrik yang berupa arus 12VDC bisa langsung digunakan atau lebih baiknya digunakan system penyimpanan dengan battery sehingga diwaktu malam bisa digunakan. Modul solar cell terdiri dari 2 type yaitu, type monocrystal dan type polycrystal serta memiliki kapasitas Watt Peak (WP) yang bermacam-macam

Solar cell merupakan pembangkit listrik yang mampu mengkonversi sinar matahari menjadi arus listrik. Energi matahari sesungguhnya merupakan sumber energi yang paling menjanjikan mengingat sifatnya yang berkelanjutan (sustainable) serta jumlahnya yang sangat besar. Matahari merupakan sumber energi yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan kebutuhan energi masa depan setelah berbagai sumber energi konvensional berkurang jumlahnya serta tidak ramah terhadap lingkungan. Total kebutuhan energi yang berjumlah 10 TW tersebut setara dengan 3 x 1020 J setiap tahunnya. Sementara total energi matahari yang sampai di permukaan bumi adalah 2,6 x 1024 Joule setiap tahunnya. Sebagai perbandingan, energi yang bisa dikonversi melalui proses fotosintesis di seluruh permukaan bumi mencapai 2,8 x 1021 J setiap tahunnya. Jika kita lihat jumlah energi yang dibutuhkan dan dibandingkan dengan energi matahari yang tiba di permukaan bumi, maka sebenarnya dengan menutup 0,05% luas permukaan bumi (total luas permukaan bumi adalah 5,1 x 108 km2) dengan solar cell yang memiliki efisiensi 20%, seluruh kebutuhan energi yang ada di bumi sudah dapat terpenuhi.

Cara kerja sel surya adalah dengan memanfaatkan teori cahaya sebagai partikel. Sebagaimana diketahui bahwa cahaya baik yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua buah sifat yaitu dapat sebagai gelombang dan dapat sebagai partikel yang disebut dengan photon. Penemuan ini pertama kali diungkapkan oleh Einstein pada tahun 1905. Energi yang dipancarkan oleh sebuah cahaya dengan kecepatan c dan panjang gelombang ? dirumuskan dengan persamaan: E = h.c Dengan h adalah konstanta Plancks (6.62 x 10-34 J.s) dan c adalah kecepatan cahaya dalam vakum (3.00 x 108 m/s). Persamaan di atas juga menunjukkan bahwa photon dapat dilihat sebagai sebuah partikel energi atau sebagai gelombang dengan panjang gelombang dan frekuensi tertentu. Dengan menggunakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, cahaya yang datang akan mampu dirubah menjadi energi listrik

Proses konversi

Proses pengubahan atau konversi cahaya matahari menjadi listrik ini dimungkinkan karena bahan material yang menyusun sel surya berupa semikonduktor. Lebih tepatnya tersusun atas dua jenis semikonduktor; yakni jenis n dan jenis p. Semikonduktor jenis n merupakan semikonduktor yang memiliki kelebihan elektron, sehingga kelebihan muatan negatif, (n = negatif). Sedangkan semikonduktor jenis p memiliki kelebihan hole, sehingga disebut dengan p ( p = positif) karena kelebihan muatan positif. Caranya, dengan menambahkan unsur lain ke dalam semkonduktor, maka kita dapat mengontrol jenis semikonduktor tersebut, sebagaimana diilustrasikan pada gambar di atas

Pada awalnya, pembuatan dua jenis semikonduktor ini dimaksudkan untuk meningkatkan tingkat konduktifitas atau tingkat kemampuan daya hantar listrik dan panas semikonduktor alami. Di dalam semikonduktor alami (disebut dengan semikonduktor intrinsik) ini, elektron maupun hole memiliki jumlah yang sama. Kelebihan elektron atau hole dapat meningkatkan daya hantar listrik maupun panas dari sebuah semikoduktor. Misal semikonduktor intrinsik yang dimaksud ialah silikon (Si). Semikonduktor jenis p, biasanya dibuat dengan menambahkan unsur boron (B), aluminum (Al), gallium (Ga) atau Indium (In) ke dalam Si. Unsur-unsur tambahan ini akan menambah jumlah hole. Sedangkan semikonduktor jenis n dibuat dengan menambahkan nitrogen (N), fosfor (P) atau arsen (As) ke dalam Si. Dari sini, tambahan elektron dapat diperoleh. Sedangkan, Si intrinsik sendiri tidak mengandung unsur tambahan. Usaha menambahkan unsur tambahan ini disebut dengan doping yang jumlahnya tidak lebih dari 1 % dibandingkan dengan berat Si yang hendak di-doping. Dua jenis semikonduktor n dan p ini jika disatukan akan membentuk sambungan p-n atau dioda p-n (istilah lain menyebutnya dengan sambungan metalurgi / metallurgical junction) yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Sesaat setelah dua jenis semikonduktor ini disambung, terjadi perpindahan elektron-elektron dari semikonduktor n menuju semikonduktor p, dan perpindahan hole dari semikonduktor p menuju semikonduktor n. Perpindahan elektron maupun hole ini hanya sampai pada jarak tertentu dari batas sambungan awal

Elektron dari semikonduktor n bersatu dengan hole pada semikonduktor p yang mengakibatkan jumlah hole pada semikonduktor p akan berkurang. Daerah ini akhirnya berubah menjadi lebih bermuatan positif.. Pada saat yang sama. hole dari semikonduktor p bersatu dengan elektron yang ada pada semikonduktor n yang mengakibatkan jumlah elektron di daerah ini berkurang. Daerah ini akhirnya lebih bermuatan positif

Daerah negatif dan positif ini disebut dengan daerah deplesi (depletion region) ditandai dengan huruf W. Baik elektron maupun hole yang ada pada daerah deplesi disebut dengan pembawa muatan minoritas (minority charge carriers) karena keberadaannya di jenis semikonduktor yang berbeda.

Dikarenakan adanya perbedaan muatan positif dan negatif di daerah deplesi, maka timbul dengan sendirinya medan listrik internal E dari sisi positif ke sisi negatif, yang mencoba menarik kembali hole ke semikonduktor p dan elektron ke semikonduktor n. Medan listrik ini cenderung berlawanan dengan perpindahan hole maupun elektron pada awal terjadinya daerah deplesi

Adanya medan listrik mengakibatkan sambungan pn berada pada titik setimbang, yakni saat di mana jumlah hole yang berpindah dari semikonduktor p ke n dikompensasi dengan jumlah hole yang tertarik kembali kearah semikonduktor p akibat medan listrik E.

Begitu pula dengan jumlah elektron yang berpindah dari smikonduktor n ke p, dikompensasi dengan mengalirnya kembali elektron ke semikonduktor n akibat tarikan medan listrik E. Dengan kata lain, medan listrik E mencegah seluruh elektron dan hole berpindah dari semikonduktor yang satu ke semiikonduktor yang lain.
Pada sambungan p-n inilah proses konversi cahaya matahari menjadi listrik terjadi.

Ketika sambungan semikonduktor ini terkena cahaya matahari, maka elektron mendapat energi dari cahaya matahari untuk melepaskan dirinya dari semikonduktor n, daerah deplesi maupun semikonduktor. Terlepasnya elektron ini meninggalkan hole pada daerah yang ditinggalkan oleh elektron yang disebut dengan fotogenerasi elektronhole (electron-hole photogeneration) yakni, terbentuknya pasangan elektron dan hole akibat cahaya matahari

Cahaya matahari dengan panjang gelombang (dilambangkan dengan simbol lambda sbgn di gambar atas ) yang berbeda, membuat fotogenerasi pada sambungan pn berada pada bagian sambungan pn yang berbeda pula.

Spektrum merah dari cahaya matahari yang memiliki panjang gelombang lebih panjang, mampu menembus daerah deplesi hingga terserap di semikonduktor p yang akhirnya menghasilkan proses fotogenerasi di sana. Spektrum biru dengan panjang gelombang yang jauh lebih pendek hanya terserap di daerah semikonduktor n.
Selanjutnya, dikarenakan pada sambungan pn terdapat medan listrik E, elektron hasil fotogenerasi tertarik ke arah semikonduktor n, begitu pula dengan hole yang tertarik ke arah semikonduktor p. Apabila rangkaian kabel dihubungkan ke dua bagian semikonduktor, maka elektron akan mengalir melalui kabel. Jika sebuah lampu kecil dihubungkan ke kabel, lampu tersebut menyala dikarenakan mendapat arus listrik, dimana arus listrik ini timbul akibat pergerakan elektron

Photovoltaic SM 55
Panel surya berfungsi mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik, besar listrik yang dihasilkan tergantung pada besarnya intensitas cahaya matahari dan banyaknya jumlah cell dalam satu Panel. Panel SM 55 terdiri dari 36 cell Monocristalline Solar Cell. Shell SM 55 bisa menghasilkan peak power 55 Watt pada tegangan 17,4 Volt. Semakin banyak jumlah cell yang terdapat dalam sebuah rangkaian PV Panel akan memperluas daerah PV Panel yang semakin besar juga. Sebuah PV Panel SM 55 yang terdiri dari 36 cell yang memiliki luas 1,293 m x 0,329 m = 0,425397 m2. Sesuai dengan rumus dan dengan besar intensitas sinar matahari adalah tetap sebesar 1000 w/m2, maka sesuai dengan rumus

= P/ S F P = Daya dalam Watt. S = Luas PV Panel (m2) = 0,425397 m2. F = Intensitas radiasi yang diterima ( watt/m2 ) = 1000 w/m2. = Efisiensi cell surya = 12%. Maka daya output berdasarkan luas permukaan PV Panel SM 55 adalah : P = xSxF = 0,12 x 0,4253397 m2 x 1000 w/m2 = 51,04764 watt.

Dengan perhitungan diatas sebuah PV Panel SM 55 menghasilkan output sebesar 51,04764 watt, maka untuk jumlah PV Panel yang lebih banyak dapat dihitung dengan rumus yang sama tergantung luas permukaan PV Panel.

Rangkaian PV Panel biasanya dirangkai membentuk PV Array yang disesuaikan dengan lokasi pemasangannya.
PV Panel dirangkai pararel yang bertujuan agar tegangan yang keluar tetap sama tetapi arus yang berubah sesuai dengan pertambahan jumlah PV Panel yang dipasang. Dari rangkaian PV Array tersebut, panjang PV Panel akan tetap, tetapi lebar PV Array tergantung jumlah Panel yang akan digunakan. Misal menggunakan 2 PV Panel, maka PV Array akan memiliki ukuran 1,293 m x 2 ( 0,329 ) m = 1,293 m x 0,658 m. Gambar berikut menunjukkan PV Panel yang dirangkai pararel memanjang dari rangkaian 1 PV Panel, 2 PV Panel dan seterusnya.

Luas PV Panel dengan daya Output yang dihasilkan

Nilai output harian per PV Panel dapat dirumuskan sebagai berikut :

Inominal x Ph/hari x Vdasar = Pout/hari


dengan :

Inominal

= Arus nominal pada PV Panel.

Ph/hari = Peak hour per day. Vdasar = Tegangan dasar yang dipakai ( 12 V ).

Pout/hari = Out put harian sebuah Panel ( Wh per hari pada tegangan dasar Terpakai yaitu 12 V ).

Diketahui bahwa 1 unit PV Panel Shell tipe SM 55 terdiri dari 1 buah Panel menghasilkan arus 3,45 Ampere ( berdasarkan spesifikasi Shell SM 55 ), tegangan 12 V DC dan daya sebesar 51 Watt. Seperti data yang didapat, tentang faktor Peak Hour per Day adalah peredaran matahari dalam satu tahun untuk wilayah Bali yang di rataratakan dalam tiap-tiap 3 bulan pada periode edar matahari ( kuartal I,II,III,IV), karena dalam 1 tahun terjadi 4 ( empat ) kali perubahan peredaran bumi mengelilingi matahari. Sehingga energi matahari (MJ/m2) tiap kuartalnya dirata-ratakan karena disetiap daerah yang dilakukan sempling memiliki jumlah intensitas matahari yang berbeda-beda sehingga didapatkan peak hour per day adalah 4,85 yang dihitung dari rata-rata penyebaran global peredaran matahari dari kuartal 1 sampai kuartal 4.
( BAPPEDA Bali, 2004 )

Dan arus spesifikasi 1 unit PV Panel SM 55 adalah 3,45 Ampere, serta tegangan dasar yang dipakai adalah 12 Volt DC maka dilakukan perhitungan sebagai berikut : 3,45 A x 4,85 Ph/day x 12 V = 200,79 Wh/hari Jadi besarnya output harian yang dihasilkan oleh sebuah PV Panel SM 55 adalah sebesar 200,79 Wh/hari.

Dengan perhitungan yang sama, maka untuk peak hour per day yang berbeda dengan tegangan dasar dan arus spesifikasi yang sama didapat output harian yang berbeda.

Selanjutnya dihitung jumlah PV Panel yang diperlukan dengan Charger Efisiensi dari baterai jenis lead-acid adalah 80%. Dimana persamaan tersebut adalah : Wh/hari x 100% : Pout/hari : batt = Nmodul , dengan : Wh/hari = Energi yang diperlukan per hari ( Wh/hari ). Pout/hari = Out put harian sebuah modul ( Wh per hari pada tegangan dasar terpakai 12 V ). batt = Charging efisiensi dari baterai ( % ). Nmodul = Jumlah minimum PV panel yang diperlukan. Perhitungan dilakukan sebagai berikut : [ 2840 ] x 100% : [ 200,79 Wh/hari ] : [ 80% ] = N N = [ 2840 Wh/hari ] x 1 : [ 200,79 Wh/hari ] : [ 80% ] = 17,6 unit PV Panel 18 unit PV Panel