12

[ sun hodos - edisi 1 - april 2009 ]

KO N F L I K !

Dibalas Sungguh-Sungguh
Tambah umur tambah tua, itu pasti.Tambah dewasa, arif dan bijaksana, itu belum pasti.Tetapi, siapa sih yang tidak mau GKI Seroja bertambah dewasa, arif dan bijaksana? Kita pasti turut mendoakan, namun siapakah yang mau turut mengusahakan?
belum puas dan selalu menciptakan perangkap baru. Sering tanpa sadar sebuah kedekatan ternyata memiliki potensi perpecahan yang lebih besar. Konflik pun kerap menimpa hubungan yang justru sudah akrab. Seperti yang dialami Heriaty Tirtadjaya atau Ibu Hadiyanto dari Komisi Pelawatan. Membuat tersinggung teman aktivis yang sudah akrab dapat membuat masalah yang merepotkan. Padahal penyebabnya adalah unsur kelalaian yang tidak disengaja. “Karena faktor usia, saya jadi mudah lupa dan tidak saya sangka menimbulkan masalah yang runyam,” kenang Ibu Hadiyanto mengisahkan. Apakah ini masalah sepele? Lalu siapkah kita dengan kemungkinan konflik lainnya? Berkaitan dengan Sun Hodos, apa yang ditekankan pada prinsip ini adalah kebersamaan. Sebuah usaha untuk membuat sebanyak mungkin orang terlibat dalam merumuskan dan menjalankan program. Di sinilah kita harus bersikap luwes dan arif. Jika dipaksakan atau tidak dipahami dengan benar justru dapat mengakibatkan sumber konflik baru. “Sebuah keputusan atau kebijakan memang diambil untuk menyeragamkan. Tetapi kita harus pahami juga bahwa di setiap jemaat pasti punya konteks, situasi dan kondisi yang tidak bisa disamakan,” jelas Pendeta Setiawati Sucipto. “Ketidakluwesan seseorang di dalam berpikir, bertindak dan merespon dapat mengarah kepada egosentrisme dan bisa menjadi batu sandungan bagi pemenuhan panggilan gereja,” demikian dikatakan Penatua Rinto. Pemecah Masalah Sebaliknya, sebuah perbedaan ternyata dapat juga menjadi solusi konflik yang positif. Seperti di Komisi Anak, setiap konflik yang terjadi dapat segera selesai karena kombinasi personalia yang tua dan yang muda. Pendapat orang yang lebih tua semakin lengkap dengan pendapat orang muda yang kreatif dan mungkin tidak terpikir oleh orang yang lebih tua. Hal itu dirasakan oleh Ibu Jane Pakpahan, dan inilah yang membuatnya bersyukur, melihat sikap para pengurus yang saling mengisi secara positif. Bagi beliau, konflik tidak perlu ditutupi, harus diakui bahwa memang ada. Sebagai anak-anak Tuhan yang bertumbuh, konflik harus diselesaikan dengan cepat dan baik. “Justru kita banyak belajar dari setiap konflik yang ada karena di situlah kita semakin mengenal rekan-rekan sekerja kita,” katanya. Sebagai orang Kristen, memang wajib kita menegur tindakan atau perkataan yang salah. Jika hal ini berbuntut pada konflik, resepnya adalah inisiatif dan berdoa. Mutlak dibutuhkan sikap kerendahan hati untuk bisa menerima kekurangan orang lain. “Jangan tunggu orang lain yang minta maaf. Kalau kita menyimpan kesalahan orang lain, kita bisa jadi sakit, rugi! Itu gara-gara kita tidak bisa mengam-

Sungut-Sungut

SOROTAN

k flic

r/e

d.ft

KONFLIK! Siapa yang suka dengan konflik? Mendengar namanya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri. Apakah di komunitas gereja juga terdapat konflik? Sebagian meyakini bahwa tidak perlu ada konflik di gereja. Ada juga yang merasa seram dengan istilahnya dan lebih suka menggunakan istilah lain. GKI Seroja adalah sebuah gereja, yang artinya tidak hanya sesosok gedung. Lebih dari itu, gereja adalah himpunan umat Allah dengan beragam karakter dan latar belakang. Terdiri dari manusia-manusia yang aktif dalam rutinitas harian dan pelayanan. Pekerjaan, keluarga, pendidikan, kesehatan merupakan mayoritas aktivitasnya. Belum lagi keberagaman minat, gaya, bakat dan kepentingan sudah pasti menjadi bagian dari umat di dalam gereja. Kemajemukan ini tidaklah pasif. Umat merupakan figur aktif. Mereka berkata-kata, berpikir, dan bertindak. Semua itu bisa kita jumpai dalam aktivitas kebaktian, rapat, kegiatan sosial, aksi pelawatan dan sebagainya. Apakah mungkin sekumpulan umat aktif yang majemuk ini tidak menemukan gesekan sama sekali, bahkan di dalam rapat gereja atau saat kegiatan pelayanan sekalipun? Potensi Konflik Manusia memiliki karekter berbeda dan sifat dasar ingin menang. Sifat inilah yang kerap menjadi pangkal konflik di gereja. Bahkan sekadar rencana pun sudah bisa menjadi sebuah konflik yang besar, demikian diakui oleh Ibu Irene Marison yang telah puluhan tahun menjadi aktivis di GKI Seroja. Penatua Rinto Tampubolon menjelaskan, ekspektasi manusia juga berbeda-beda, dan ketika hal itu tidak terpenuhi, terjadilah benturan pandangan yang tidak bisa diselesaikan secara dewasa. “Salah pengaturan juga bisa menjadi konflik. Ada aturan main yang sudah disepakati bersama, lalu itu dilanggar. Itu bisa menjadi ketegangan,” demikian katanya. Adanya kesenjangan atau jarak memang mudah menjadi pemicu konflik. Faktor perbedaan usia, karakter, bahasa, skill, dan perbedaan kepentingan sudah lumrah menjadi potensi konflik. Namun ternyata, ada yang lebih berbahaya dari itu. Iblis seakan masih

[ sun hodos - edisi 1 - april 2009 ] 13

puni. Mintalah supaya Tuhan mendamaikan, jangan andalkan kekuatan kita sendiri, biar Roh Kudus yang bekerja,” demikian Ibu Irene Marison mengimani. Senada dengan itu, Ibu Hadiyanto mengatasi konflik yang terjadi lewat doa dan pendekatan personal, selain dibantu oleh peran orang ketiga. Akibat langsung dari sebuah konflik adalah putusnya tali komunikasi antar pihak yang bersengketa, dan inilah yang membuatnya menjadi runyam dan berkepanjangan. Peran pihak ketiga dapat menjembatani putusnya komunikasi itu. Baginya, rekan kerja seperti Ibu Lessy dan penatua penghubung Ibu Sinulingga sangat proaktif dan sudi membantu permasalahan-permasalahan yang dialami. Majelis Jemaat selaku pimpinan dituntut untuk mendengar dan tanggap terhadap keluhan dan aspirasi yang timbul dari anggota jemaat. “Terlepas dari tindakan apa selanjutnya, yang pertama kali harus dilakukan adalah menjalin komunikasi yang baik dengan jemaat. Selain lewat PMJD, Rakor dan Raker, dapat juga ditempuh cara lain, misalnya lewat surat yang ditujukan ke MJ atau lewat media seperti majalah sebagai salah satu sarana komunikasi. Bisa juga lewat penatua penghubung yang ada. Hal ini penting supaya sedini mungkin dapat mengetahui permasalahan yang terjadi,” terang Penatua Purnama J. Sihombing. Konflik,Tata Gereja dan Sidang Majelis Konflik menawarkan pada kita kesempatan untuk bertumbuh, untuk mengubah pemikiran-pemikiran kita, dan untuk menciptakan tanggung jawab baru berdasarkan kebenaran Tuhan yang difirmankan. Lewatnya, rangkaian asumsi dan prinsip kepemimpinan diperbaharui secara rohani. Jadi sekali lagi, apakah gereja harus melalui konflik? Sejauh mana konflik dikelola dalam Tata Gereja? Tata Gereja GKI adalah sarana organisasional yang penting dan mendasar untuk menata kehidupan dan untuk melaksanakan tugas panggilan kita sebagai GKI, baik dalam atau sebagai Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah, maupun Sinode.Yang patut ditekankan adalah Tata Gereja GKI dimaksudkan sebagai ‘buku pegangan’ bagi seluruh anggota GKI dan seluruh pejabat gerejawi (penatua dan pendeta) GKI, tanpa kecuali. Karena itu, Tata Gereja GKI ini dapat disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh siapa saja yang merasa menjadi bagian dari GKI. TAGER menjadi buku pegangan setiap Penatua dan Pendeta untuk pengambilan keputusan bersama selaku pimpinan kolektif. Untuk saling mengingatkan dan menasehati secara arif dan bijak, dan agar sebanyak mungkin pihak paham seluk beluk peraturan gereja. Dalam tugas-tugasnya sebagai penghubung anggota jemaat di wilayah dan penghubung badan pelayanan seperti Komisi dan PHRG, MJ

Ibu Hadiyanto, Pnt. Rinto T. ,dan Ibu Jane Pakpahan

sekaligus dituntut menjadi mediator sosialisasi dan kebijakan TAGER. Buku TAGER hanya merupakan tuntunan umum, tidak sanggup atau tidak perlu membahas secara detail. Masalah detail merupakan tugas dan sekaligus hak dari pemimpin dan pengurus melalui tindakan langsung atau melalui mekanisme rapat yang diadakan. Seperti misalnya, akan sulit untuk menemukan tuntunan tentang lika-liku konflik secara detail dalam buku TAGER. Apa saja yang dapat didefinisikan sebagai konflik, dan apa saja yang dapat menjadi potensi konflik. Namun buku ini tetap membuka ruang bagi kemungkinan konflik dan bagaimana penanganannya. Pasal tentang Penggembalaan Khusus, Peninjauan Ulang dan Banding merupakan contoh tuntunan perihal konflik yang mungkin terjadi. TAGER dan kebijakan MJ dapat menjadi tuntunan bagi anggota jemaat dan pengurus. “Peran penatua mungkin belum optimal, saya akui, kita mesti banyak belajar, khususnya belajar mengerti, mengalah dan rendah hati. Tak jarang kami pun sering silang pendapat dan membiarkannya menggantung tidak tuntas. Saya berusaha belajar dan menerapkan Tata Gereja dan memberdayakan peran penatua. Jika ada hal teknis yang tidak diatur dan di luar Tata Gereja, Majelis masih dapat mengambil kebijakan melalui PMJ (Persidangan Majelis Jemaat) untuk membantu permasalahan yang ada,” demikian jelas Purnama. “Konflik yang ada sifatnya positif untuk membangun kita,” ujar Ibu Paula Lie Mie Lan yang akrab dikenal dengan Ibu Rudy meyakini. Penatua Rinto mengatakan, “Konflik berdampak negatif apabila perbedaan yang ada membuat hancur persekutuan dan hubungan jadi rusak. Namun akan berdampak positif jika perbedaan itu membuat kita diperkaya dan kita jadi punya hal baru yang kita jadikan pegangan bersama,” jelasnya. Kita percaya, sebagai kesatuan tubuh Kristus, tentu tidak ada yang menginginkan terjadinya konflik. Tetapi dapatkah tubuh mengabaikan luka kecil si jari kelingking? Saya yakin kita pasti mencari obat untuknya. Lalu apakah sikap sungut-sungut kita anggap ‘kecil’? Dan yang ‘kecil’ itu pantas diabaikan? Ibarat kesembuhan, tak akan terjadi jika sakit itu belum disadari lalu diobati. Demikianlah konflik, sejauh mana kita mau mengakui lalu mencari solusi.
- Ferdinand Tobing

flickr/ed.ft

KONFLIK dalam Alkitab Imamat 9:7; Ulangan 20:10; Mazmur 34:15; Matius 5:9; Matius 5:2325; Markus 9:50; Lukas 12:57-58; Kisah Rasul 6:1-7; Roma 12:18; Kolose 3:13; 1 Tesalonika 5:13-15; 1 Timotius 3:2-3; Ibrani 12:14.

sh/mar

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful