You are on page 1of 15

MAKALAH SEMINAR RANTAI RESPIRASI dan FOSFOLIRASI AKSIDATIF

Di susun oleh : Kelompok 1 Adhe Sylvia Afriyanti Adi Rizkika Ayu inanti

AKADEMI KEPERAWATAN PEMPROV KALTIM TAHUN AKADEMIK 2012-2013 IA i

ii . Dalam makalah ini kami membahas tentang Rantai Respirasi dan Fosforilasi Oksidatif. saya menyadari adanya berbagai kekurangan. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. baik dalam isi materi maupun penyusunan kalimat. perbaikan merupakan hal yang berlanjut sehingga kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan. Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada Dosen dan teman-teman sekalian yang telah membaca dan mempelajari makalah ini. Namun demikian. Dalam pembuatan makalah ini. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Biokima yang di berikan oleh Dosen pengajar. dengan harapan dapat membantu untuk lebih memahami materi pada mata kuliah Biokimia.KATA PENGANTAR Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT.

Enzim spesifik berfungsi sebagai penanda kompartemen .………. 2 2 3 3 5 dan Kerja Pemisah Kopel B. Rantai respiratorik mengoksidasi ekuivalen pereduksi dan bertindak pompa proton C. B... ……………………………………………………. Rantai respiratorik menghasilkan sebagian besar energy yang ditangkap selama katabolisme Respirasi 6 6 9 G. iii Bab I PENDAHULUAN A. Tujuan Penulisan……………………………………………… 1 Bab II PEMBAHASAN A. E.DAFTAR ISI Halaman judul …………………………………………………………… i Kata Pengantar …………………………………………………………. F. Banyak racun yang menghambat rantai respiratorik …………... iv iii . Transpor Elektron Melalui Rantai Respiratorik Menghasilkan Gradien Proton yang memicu pembentukkan D. Latar Belakang …. ii Daftar Isi ………………………………………………………………. Teori Kemiosmotik dapat menjelaskan Kontrol ………………………………………………………………… ………………………………………………………………… H. Impermeabilitas Relatif Membran dalam Mitokondria memerlukan Transporter Penukar Gambar – gambar yang berhubungan dengan proses Rantai Respiratorik dan Fosfolirasi OksidatiF Bab III PENUTUP A.…..…………….…. ………………………………………………………………. …………………………………………………………………. Kesimpulan …………………………………………………….…………………… 1 B.kompartemen yang dipisahkan membrane mitokondria …………………………………. Saran …………………………………………………………… 11 11 Daftar Pustaka ………………………………………………….. …………………….. ATP ……………………………………………………………. …………..

terjadi penurunan hebat atau ketiadaan sebagian besar oksidoreduktase dalam rantai respiratorik. Sindrom ini disebabkan oleh mutasi DNA mitokondria dan mungkin terlibat dalam pathogenesis penyakit Alzheimer dan diabetes mellitus.BAB I PENDAHULUAN A. Sejumlah obat misalnya amobarbital dan racun (misalnya. sianida. 1 . Latar Belakang Organisme aerob mampu menangkap lebih banyak energy bebas dalam substrat respiratorik daripada organisme anaerob. Respirasi digabungkan dengan pembenyukkan zat antara beerenergi-tinggi yaitu ATP: oleh fosfolirasi oksidatif. karbon monoksida) menghambat fosfolirasi oksidatif dan biasanya berakibat fatal. Sebagian besar proses ini berlangsung dalam mitokondria yang disebut sebagai “Powerhouse” sel. Pasien datang dengan miopati dan ensefalopati dan sering mengalami asidosi laktat. B. asidosis laktat. Sejumlah obat dan racun bekerja dengan menghambat fosfolirasi oksidatif. Pada keadaan yang dikenal sebagai disfungsi ginjal dan miopati mitokondria infantile fatal. Beberapa kelainan herediter pada mitokondria yang melibatkan komponen komponen rantai respiratorik dan fosfolirasi oksidatif pernah dilaporkan. MELAS ( ensefaopati mitokondria. Tujuan Penulisan Diharapkan pembaca mampu mmengerti dan memahami proses kimia didalam beserta zat-zat yang berperan dalam proses kimiawi di dalm tubuh. dan stroke) adalah suatu sindrom heredeter akibat defisiensi NADH:Q oksireduktase (Kompleks I) atau sitokrom oksidase (kompleks IV).

Enzim spesifik berfungsi sebagai penanda kompartemen-kompartemen yang dipisahkan membrane mitokondria Mitokondria memiliki membran luar yang permeable terhadap sebagian besar metabolit dan membran dalam yang permeable selektif dan membungkus matriks didalamnya. Adenilil kinase dan gliserolfosfat asitransferase. (Kompleks I) NADH-Q oksidoreduktase¸(Kompleks II) suksinat Q reduktase. Adenilil kinase dan keratin kinase ditemukan di ruang antarmembran. Enzim-enzim siklus asam sitrat dan oksidasi beta terdapat di dalm mitokondria. bersamaan dengan rantai respiratorik yang mengumpulkan dan mengangkut ekuivalen pereduksi. Komponen rantai respiratorik terkandung dalam Empat Kompleks Protein Besar pada Membran Elektron mengalir mealalui rantai respiratorik pada potensial redoks. termasuk asil-KoA sintetase dan gliserolfosfat asiltransferase. (Kompleks III 2 . Rantai respiratorik mengoksidasi ekuivalen pereduksi dan bertindak pompa proton Sebagian besar energi yang dibebaskan selama oksidasi karbohidrat. asam lemak dan asam amino terdapat di dalam mitokondrian sebagai ekuivalen pereduksi.BAB II PEMBAHASAN A. Membrane luar ditandai oleh adanya berbagai enzim. serta mengarahkan enzim-enzim tersebut menuju reaksi akhir dengan oksigen untuk menghasilkan air dan komponen fosfolirasi oksidatif. Fosfolipid kardiolipin terkonsetrasi di membran dalam bersama dengan enzim rantai respiratorik. ATP sintase dan berbagai transporter membrane. B. yaitu proses penyerapan energi bebas yang dihasilkan sebagai fosfat berenergi-tinggi.

Keempat kompleks ini terbenam di membrane mitokondria. Q cepat berdifusi didalam membran. Dalam reaksi glikolitik terjadi penyerapan langsung netro dua gugus fosfat berenergi tinggi. Q Menyerap electron melalui kompleks I dan kompleks II. siklus Q menggabungkan transfer electron dengan transport proton di kompleks III. Teori kemiosmotik. tetapi Q dan sitkrom c bersifat mobil. dan IV bekerja sebagai pompa proton.Q-sitokrom c oksidoreduktase. Dalam siklus asam sitrat selama 3 . Seperti telah diketahui. Transpor Elektron Melalui Rantai Respiratorik Menghasilkan Gradien Proton yang memicu pembentukkan ATP Aliran electron melalui rantai respiratorik menghasilkan ATP melalui proses fosfolirasi oksidatif. mendalilkan bahwa kedua proses ini berkopel dengan gradient proton yang melewati membran dalam mitokondria sehingga daya gerak proton yang ditimbulkan oleh perbedaan potensial elektrokimia (negative di sisi matriks) memicu proses pembentukan ATP. khususnya proton terakumulasi di ruang antar membrane yang menghasilkan daya gerak proton seperti diperkirakan dalam teori kemiosmotik. ATP yang terbentuk dinamai juga “alat tukar” energy sel karena senyawa ini menyalurkan energy bebas untuk menjalankan proses-proses yang memerlukan energi. (Kompleks IV) sitrokom c oksidase. sementara stokrom c merupkan suatu protein terlarut. Serta ATP Sintase di membrane berfungsi sebagai penggerak pemutar untuk membentuk ATP. Rantai respiratorik menghasilkan sebagian besar energi yang ditangkap selama katabolisme ADP menangkap dalam bentuk fosfat berenergi tinggi.III. yang dikemukakan oleh Peter Mitchell pada tahun 1961. D. Karena membrane dalam mitokondria bersifat impermeabel terhadap ion secara umum dan terhadap proton. cukup banyak energy bebas yang dilepaskan melalui proses-proses katabolik. C. Kompleks I. lalu Oksigen molecular tereduksi menjadi air melalui kompleks IV.

oksidasi tidak dapat berlangsung melalui rantai respiratorik tanpa dibarengi oleh fosfolirasi ADP. Reaksi-reaksi ini dikenal sebagai fosfolirasi di tingkat rantai respiratorik. ATP diubah menjadi ADP sehingga respirasi dapat meningkat dan selanjutnya memulihkan simpanan ATP. Kontrol respiratorik menjamin pasokan ATP yang konstan Laju respiratorik mitokondria dapat dikendalikan oleh ketersediaan ADP. Dipihak lain. rasio P:O = 1. Jika substrat dioksidasi melalui kopleks I. suksinat atau 3-fosfogliserat) teroksidasi melalui kompleks II. V dalam rantai respirasi (yi. Berikut ini table yang memperlihatkan laju respirasi dalm mitokondria. dapt diperkirakan bahwa hamper 90% fosfat berenergi-tinggi yang dihasilkan darinoksidasi sempurna 1 mol glukosa diperoleh melalui fosfolirasi oksidatif yang digabungkan dengan rantai respiratorik.5. Semua fosfolirasi ini berlangsung di tingkat substrat. Hal ini terjadi karena oksidasi dan fosfolirasi berkopel erat. Dengan mempertimbangkan angka-angka ini.5.perubahann suksinil KoA menjadi suksinat dua fosfat tambahan. Dalam kondisi 4 . II. yi. rasio P:O = 2. hanya 1. berenergi tinggi per mol glukosa diserap. maka dibentuk 2. Kondisi yang mempengaruhi laju respirasi dalam mitokondria Ketersediaan ADP dan substrat Keadaan 1 Hanya ketersediaan substrat Keadaan 2 Kapasitas rantai respiratorik itu sendiri.III. yi. melalui NADH).5 mol ATP per separuh mol oksigen yang dikonsumsi yi. Jika sel melakukan kerja. dan respirasi dikontrol oleh ketersediaaan ADP.5 mol ATP yang terbentuk. jika suatu substrat (mis. jika semua substrat dan Keadaan 3 komponen berada dalam keadaan jenuh Hanya ketersediaan ADP Keadaan 4 Hanya ketersediaan oksigen Keadaan 5 Sebagian besar dalam keadaan istirahat berada di keaadaan 4.IV..

Uncouplers (pemisah kopel) memisahkan oksidasi dalam rantai respiratorik dari fosfolirasi. Juga terdapat kemungkinan bahwa ADP/ATP. Sewaktu respiratorik meningkat (seperti saat olah raga). Barbiturat. Energy bebas sisanya yang tidak diserap sebagai fosfat berenergi tinggi dibebaskan sebagai panas. misalnya amobarbital. dan terkendali-bukan eksplosif. Banyak racun yang menghambat rantai respiratorik Banyak informasi mengenai rantai respiratorik diperoleh melalui pemakaian inhibitor.tertentu. menghambat peindahan electron electron melalui kompleks I dengan menghambat pemindahan electron dari Fe-S ke Q. hal ini juga memberikan pengetahuan tentang mekanisme kerja beberapa racun. Atraktilosid menghambat fosfolirasi oksidatif dengan menghambat pemindaha ADP ke dalam ATP dan ATP keluar mitokondria. Racun klasik karbon monoksida dan sianida menghambat komplkes IV dan karenanya dapat menghentikan respirasi secara total. Oleh karena itu. dan tidak terkendali. inefisien. dan sebaliknya. mekanisme proses oksidatif biologic yang memungkinkan energy bebas hasil dari oksidasi bahan makanan tersedia dan dapat diserap langsung secara bertahap. inihibitor fosfolirasi oksidatif dan pemisah kopel fosfolirasi oksidatif. yang memfasilitasi dari mitokondria . menjadi factor penentu ketepatan. Malonat adalah inhibitor kompetitif Kompleks II. seperti pada kebanyakan proses nonbiologis. Inihibitor dapat diklasifikasikan sebagai inhibitor rantai respiratorik. E. Hal ini juga ikut berperan mempertahankan suhu tubuh. konsentrasi fosfat anorganik juga dapat mempengaruhi laju fungsi rantai respiratorik. Pada dosis yang memadai. sel mendekati keadaan 3 atau 5 sewaktu kapasitas respiratorik menjadi tersaturasi. efisien. senyawa ini bersifat fatal in vivo. Antimisin A dan dimerkaprol menghambat rantai respiratorik di kompleks III. Senyawa ini bersift toksik in vivo. menyebabkan respirasi menjadi tidak 5 . Hal ini jangan dianggap sebagai “pemborosan” karena hal ini menjamin keseluruhan sistem respirasi cukup eksergonik untuk digeser dari ketidakseimbangan sehingga ATP dapat terus mengalir ke satu arah dan selalu tersedia.

terkendali karena lajunya tidak lagi dipengaruhi oleh konsentrasi ADP atau Pi. misalnya oksigen. Asam lemak rantai panjang diangkut ke dalam mitokondria melalui sitem karnitin. Namun. Hal ini selanjutnya bergantung pada ketersediaan ADP dan P. karbondioksida. dan asam monokarbosilat. air. tetapi senyawa lain jua bekerja dengan cara serupa. Pemisah kopel yang paling sering digunakan adalah 2. Teori Kemiosmotik dapat menjelaskan Kontrol Respirasi dan Kerja Pemisah Kopel Perbedaan potensial elektrokimia di kedua sisi membrane. Termogenin atau protein pemisah kopel adalah pemisa kopel fisiologis yang ditemukan di jaringan adipose cokelat yang berfungsi menghasilkan panas tubuh.4-dinitrofenol . misalnya-3-hidroksibutirat. Membran dalam mitokoondria bersifat permeabel terhadap molekul kecil tidak bermuatan. asetoasetat. dan juga terdapat carrier khusus untuk piruvat yang melibatkan suatu simpor (symport) yang memanfaatkan gradient H+ dari luar ke dalam mitokondria. dan asetat. F. anion dikarbosilat dan trikarbosilat serta asam amino memerlukan sistem transporter atau 6 . Antibiotik oligomisin menghambat oksidasi dan fosfolirasi sepenuhnya dengan menghambat aliran proton dengan ATP sintase. terdapat sistem difusi pertukaran yang melibatkan protein-protein transporter ( yang menembus membrane) untuk pertukaran anion pada ion OH dan kation terhadap ion H. G. Sistem semacam ini diperlukan untuk menyerap dn mengeluarkan metabolit terionisasi sementara kesimbangan listrik dan osmotiik tetap dipertahankan. begitu terbentuk sebagai hasil teranslokasi proton akan menghambat trnspor lebih lanjut ekuivalen pereduksi melalui rantai repisratorik kecuali jika terjadi translokasi-balik melewati membrane. Impermeabilitas Relatif Membran dalam Mitokondria memerlukan Transporter Penukar Dimembran. terutama pada neonates dan hewan yang berhibernasi. melalui ATP sintase.

suatu protein di membrane dalam mitokondria. 7 . Na+ dapat dipertukarkan dengan H+ akibat gradient proton. Pemisah kapel klasik. pada kenyataanya adalah suatu ionofor proton. empat muatan negative dikeluarkan dari matriks untuk setiap tiga muatan yang masuk. mengkopel aliran proton menurut gradient elektrokimia dari luar ke dalam mitokondria dengan pemindahan H+ dari NADH intramitokondria ke NADPH untuk enzim-enzim intramitokondria. atau cis-akonitat oleh transport trikarbosilat memerlukan malat dalam pertukarannya. yang mudah menembus dalam bentuk ion untuk H2PO4 untuk dipertukarkan dengan OH. Transport α-ketoglutalat juga memerlukan pertukaran dengan malat. gradient elektrokimia yang melintasi membran (daya gerak proton) memicu ekspor ATP. Karena dalam pemindahan ini. Ambilan netro sitrat. Transhidrogenase Intramitokondria Pemindah-Proton Adalah Sumber NADPH Transhidrogenase terkait-energi. misalnya glutamate dehydrogenase dan berbagai hidroksilase yang berperan dalam sintesis steroid. Ionofor Memungkinan Kation Spesifik Menembus Membran Ionofor (ionphores) adalah molekul lipofilik yang mengikat kation spesifik dan memfasilitasi transport kation tersebut menembus membrane biologis. Transporter ini sangat penting agar ATP dapat keluar dari mitokondria ke tempat-tempat pemakaiaanya diluar mitokondria dan ADP kembali ke dalam mitokondria untuk menghasilkan ATP. Ambilan netro malat oleh transporter dikarbosilat memerlukan fosfat anorganik untuk dipertukarkan dalam arah berlawanan. Transporter adenine dinukleotida memungkinan pertukaran ATP dan ADP. mis valinomisin (K+). Transport anion di.dan trikarbosilat berkaitan erat dengan transport fosfat anorganik. tetapi tidak AMP. isositrat. misalnya dinitrofenol.carrier spesifik untuk memfasilitasi zat-zat ini menembus membrane dalam bentuk tidak terdisosiasi dan lebih larut lipid.

5 mol) ATP yang dibentuk per atom oksigen yang dikonsumsi. keratin fosfat diangkut ke dalam sitosol melalui pori protein di membrn luar mitokondria sehingga tersedia untuk membentuk ATP di luar mitokondria. Sistem Pengangkut Kreatin Fosfat Memfasilitasi Transfor Fosfat BernergiTinggi dari Mitokondria Sistem pengangkut ini mendukung fungsi keratin fosfat sebagai penyangga energi dengan bekerja sebagai suatu sistem dinamik untuk memindahkan fosfat berenergitinggi dari mitokondria di jaringan aktif. mengatalisis pemindahan fosfat berenergi tinggi ke keratin dari ATP yang berasal dari transporter adenine nukleotida. Meskipun pengangkut ini terdapat di bebrapa jaringan (misalnya. Suatu isoenzim keratin kinase ditemukan di ruang antarmembran mitokondria. Namun. dalam kondisi aerob.5 mol (bukan 2. Karena enzim mitokondria dihubungkan dengan rantai respiratorik melalui flavoprotein dan bukan NAD. Selanjutnya. tetapi dihasilkan secara terus-menerus di sitosol oleh 3-fosfogliseraldehid dehidrohenase suatu enzim dalam proses glikolisis. diyakini bahwa sistem pengangkut malat kegunaanya sangat luas. Oleh karena itu. yang harus bereaksi dengan astamat untuk membentuk aspartate dan α-ketoglutarat melalui transaminase sebelum diangkut melewati membran mitokondria dan dibentuk kembali menjadi oksaloasetat di sitosol. NADH ekstramitokondria tidak terakumulasi dan diperkirakan teroksidasi oleh ranta respiratorik di mitokondria.Oksidasi NADH Ekstramitokondria Diperantarai oleh Pengangkut substrat NADH tidak dapat menembus membrane mitokondria. namun sangat jarang terdapat jaringan ain (misalnya otot jantung). serabut otot putih). kompleksitas sistem ini disebabkan oleh impermeabilitas membrane mitokondria terhadap oksaloasetat. Pemindahan ekuivalen pereduksi melalui membran mitokondria memerlukan pasangan substrat yang dihubungkn oleh dihidrogenase yang sesuai di kedua sisi membran mitokondria. seperti jantung dan otot rangka. Mekanisme pemindahan yang menggunakan pengangkut gliserofosfat diperlihatkan di gambar. maka hanya 1. 8 .

H. Gambar – gambar yang berhubungan dengan proses Rantai Respiratorik dan Fosfolirasi Oksidatif 9 .

(1) transporter α-ketoglutarat (2) transporter glutamate/aspartat 10 . Gambar 3. yang mengandung banyak lipatan atau krista. Struktur Membran Mitokondria.Keterangan : Gambar 1. Sistem transport di membran dalam mitokondria (1) Transporter fosfat (2) simpor piruvat (3) transporter dikarbosilat (4) transporter trikarbosilat (5) transporter α -ketoglutarat (6) transporter adenin nukleotida Gambar 5. Pengangkut malat untuk memindahkan ekuivalen pereduksi dari sitoso ke dalam mitokondria. Mekanisme pembentukan ATP oleh ATP Sintase Gambar 4. Peran rantai respiratorik mitokondria dalam konversi energi makanan menjadi ATP. Gambar 2.

tempat zat ini melewati suatu gradient redoks pada molekul pembawa menuju reaksi terakhirnya dengn oksigen untuk membentuk air. ATP sintase menembus membran. Pereduksi ini disalurkan ke rantai respiratorik. dan protein tersedia di mitokondria sebagai ekuivalen pereduksi. Tiga dari empat kompleks tersebut mampu menggunakan enegi yang dibebaskan dalam gradient redoks untuk memompa proton ke luar membran. Molekul pembawa redoks dikelompokkn menjadi empat kompleks rantai respiratorik di membrane dalam mitokondria.BAB III PENUTUP A. B. dapat lewat tanpa menghilangkan gradient elektrokimia di kedua sisi membran. dan bertindak sebagai suatu motor pemutar yang menggunakan energi potensial dari gradient proton atau proton motive force untuk membentuk ATP dari ADP dan P. Dengan cara ini. Karena membrane dalam mitokondria bersifat impermeable terhadap proton dan ion lain. Saran Penting bagi kita mempelajari tentang Rantai respiratorik dan Fosfolirasi oksidatif karena itu adalah proses kimiawi yang pasti terjadi di tubuh manusi. Racun yang sudah dikenal. dan menciptakan suatu potensial elektrokimia antara matriks dan ruang membrane dalam. ATP. berbagai transporter khusus menembus membran agar ion-ion seperti OH. 11 . Kesimpulan Hampir semua energi yang dibebaskan dari oksidasi karbohidrat. lemak. ADP dan metaboli. misalnya sianida mampu menghentikan respirasi dengan menghambat rantai respiratorik. Dan penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat. oksidasi dikopel secara erat dengan fosfolirasi untuk memenuhi kebutuhan energi sel.

DAFTAR PUSTAKA 1. dkk.1987. Biokimia Harper. http://id.wikipedia. 13. Jakarta:EGC 3. Biokima Harper edisi 27. Jakarta:EGC 2. Murray. Colby.org/wiki/Fosforilasi_oksidatif Dikutip pada tanggal 6 Maret 2013 pkl.30 WITA iv . 2009.