LAPORAN PRAKTIKUM

FOTOGRAMETRI II
Triangulasi Udara



NAMA : MOCHAMMAD ALI RAMDHAN
NRP: 23-2011-012

JURUSAN TEKNIK GEODESI
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Secara umum fotogrametri dapat diartikan sebagai suatu keahlian untuk mendapatkan
informasi dari obyek-obyek fisik dan keadaan disekitarnya melalui foto udara. Informasi dari
obyek-obyek fisik dan keadaan disekitarnya diperoleh melalui serangkaian proses pengolahan,
pengukuran, dan penafsiran pada foto udara. Foto udara adalah citra fotografik yang diperoleh
dari hasil peliputan menggunakan kamera yang dipasang pada suatu wahana (pesawat, balon, dan
lain-lain) di udara.
Fotogrametri II adalah salah satu mata kuliah yang wajib dikontrak sebanyak 3 sks oleh
mahasiswa pada program Strata I Teknik Geodesi, Institut Teknologi Nasional Bandung. Dalam
rangka memenuhi standar 3 sks sesuai yang telah kami kontrak, maka kami di tuntut untuk
memenuhi salah satu tugasnya yang berupa laporan.

1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud disusunnya laporan ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Fotogrametri II.
Adapun tujuan dari penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui bagaimana proses perhitungan transformasi konform 3D sehingga
mendapatkan koordinat foto, koordinat model, dan koordinat tanah.
2. Mengetahui bagaimana melaksanakan proses pengolahan data foto udara menjadi peta
topografi yang terdiri dari peta indeks, peta kontur, peta deliniasi, peta foto, dan peta
digital.
3. Memahami dan menambah wawasan bagi kami mahasiswa yang belum mengetahui tentang
proses pemetaan yang dilakukan dalam mata kuliah Fotogrametri II .
1.3 Alat dan Bahan yang digunakan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum Fotogrametri II ini adalah
sebagai berikut:
a. Alat:
- Stereoskopis
- Alat Tulis

b. Bahan
- Foto Udara daerah Padalarang
- Kertas Kalkir ukuran A3
- Kertas Milimeter Block ukuran A3

1.4 Pelaksanaan Praktikum
Pelaksanaan praktikum dilaksanakan selama 2 minggu berturut-turut pada setiap hari Sabtu
yang dimulai pada tanggal 1 Maret 2014 sampai dengan 15 Mei 2012 bertempat di Studio Gambar
Fotogrametri, Gedung Teknik Geodesi, Institut Teknologi Nasional, Bandung.









BAB II
DASAR TEORI

2.1 Fotogrametri
Secara umum fotogrametri dapat diartikan sebagai suatu keahlian untuk mendapatkan
informasi dari obyek-obyek fisik dan keadaan disekitarnya melalui fotoudara. Informasi dari obyek-
obyek fisik dan keadaan disekitarnya diperoleh melalui serangkaian proses pengolahan, pengukuran,
dan penafsiran pada foto udara. Foto udara adalah citra fotografik yang diperoleh dari hasil peliputan
menggunakan kamera yang dipasang pada suatu wahana (pesawat, balon, dll) di udara.


Pemotretan dilakukan mengikuti garis jalur terbang yang telah ditentukan pada
peta kerja. Jalur-jalur terbang biasanya didesain dengan orientasi lapangan pada arah
Utara-Selatan atau Timur Barat yang sejajar satu sama lain.

Ditinjau dari jenis foto udara yeng dihasilkan dari hasil pemotretan menggunakan
suatu kamera, jenis foto udara dibedakan menjadi: foto udara metrik dan foto udara
format kecil. Foto udara metrik diperoleh dari hasil pemotretan menggunakan kamera
metrik, sedangkan foto udara format kecil diperoleh dari hasil pemotretan
menggunakan kamera biasa.
Dari segi geometrik, karakteristik foto udara hasil dari suatu pemotretanb
dibedakan menjadi : foto udara tegak (near vertical), foto udara miring (low oblique),
dan foto udara sangat miring (hight oblique).
Foto udara yang diperoleh dari hasil pemotretan udara memiliki proyeksi yang
sentral artinya semua obyek yang terliput pada foto udara sinar proyeksinya menuju ke
pusat proyeksi yaitu pusat lensa kamera. Peta mempunyai sifat proyeksi yang
orthogonal.


2.2 PrinsipDasarTriangulasiUdara
Triangulasi Udara (Aerial Triangulation / AT) is a method of point determination by
photogammetric means. Triangulasi Udara (TU) adalah suatu metode penentuan posisi titik berdasarkan
pengukuran melalui foto udara. Tujuan dari TU adalah untuk memperbanyak titik-titik kontrol minor.
Perhatikan model stereo berikut :











Dalam orientasi absolut, setiap model minimal membutuhkan minimal titik control planimetrik (x,y)
titik control tinggi (h).



Titikkontrolplanimetrik (X,Y)
Titikkontroltinggi (h)
+
+ +
+
Model stereo
h
h
X,Y
X,Y,h
2.3 Tahapan Triangulasi Udara
Tahap-1 :
Pembentukan unit satuan dasar :
Berkas (bundle)
Model
Jalur (strip)














Tahap-2 :
berkas
model
jalur
Titik-titik sekawan pada masing-masing daerah overlap (pada satuan dasar: berkas, model, jalur)
digabungkan/ disambung sehingga membentuk suatu ‘superstruktur’ yang melingkupi daerah
yang lebih luas.



Tahap-3 :
Super structure di-fit-kanke dalam system control tanah (groundcontrol) yang dijadikan sebagai
system referensi.









Secara matematis, proses TU merupakan transformasi dari system koordinat satuan dasar fotogrametrik
(berkas model jalur) ke system koordinat tanah (referensi).
Dimana :
 Satuan dasar fotogrametri umumnya :
- Skala<dari skala system referensi
- Orientasinya (rotasi) tidak sama dengan system referensi
1
2
3
4
5 6 7
8
9
11
10
A B
D C
X
Y

- Posisitidaksamadengansistemreferensi
 Transformasi yang digunakanmencakup :
- Penyekalaan
- Rotasi (perputaran)
- Translasi (pergeseran)
 Model fungsional matematis yang umumnya digunakan adalah transformasi konform :

dimana :
X,Y,Z = system koordinat tanah/referensi
X,y,z = system koordinat satuan dasar
Tx,Ty,Tz = komponen translasi
S = factor skala
R = matriks rotasi


2.4 Klasifikasi Triangulasi Udara
2.4.1 Berdasarkan unit satuan koordinat yang diukur
Triangulasi udara dengan unit satuan jalur, triangulasi udara dengan unit satuan model,
dan triangulasi udara dengan unit satua berkas.




(
(
(
¸
(

¸

+
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

Tz
Ty
Tx

z
y
x
R . S
Z
Y
X
2.4.2 Berdasarkan cara pelaksanaannya
Klasifikasi triangulasi udara berdasarkan cara pelaksanaanya, yaitu: triangulasi udara
dimana proses pelaksanaannya dilakukan secara analog, dengan semi-analitik, dan analitik.


2.5 Klasifikasi Titik
Titik-titik yang akan diukur dalam triangulasi udara dapat diklasifikasikan menurut : jenis target
dan fungsinya. Satu hal yang harus diingat adalah bahwa semua titik-titik yang diukur dalam triangulasi
harus diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kesalahan identifikasi maupun dalam
penandaanya di foto udara.

2.6 Dasar-dasar Transformasi Koordinat
Transformasi diartikan sebagai prosedur perubahan (konversi), transformasi koordinat
mempunyai artiya itu serangkaian prosedur yang dilakukan untuk mengubah posisi suatu titik yang
berada dalam system koordinat tertentu ke system koordinat yang lain (yang dinginkan). Suatu hal yang
harus di ingat bahwa pada proses transformasi koordinat menuntut adanya ketersediaan sejumlah titik
sekutu yang diperlukan untuk membentuk sejumlah persamaan sebagai dasar dalam pemecahan
parameter transformasi. Titik sekutu adalah suatu titik yang mempunyai posisi dalam dua system
koordinat. Jumlah minimal titik sekutu yang harus tersedia untuk membentuk persamaan tergantung
dari jumlah parameter transformasi yang akan dipecahkan menurut model transformasi yang dianut.
Ditinjau dari luaran yang dihasilkan, jenis transformasi koordinat dibedakan menjadi 2 (dua),
yaitu :transformasi koordinat dua dimensi (2-D), dan transformasi koordinat tiga dimensi (3-D). Dalam
pekerjaan fotogrametri transformasi koordinat diperlukan pada proses orientasi fotogrametrik.

2.6.1 Transformasi Koordinat 2-D
Dalampe kerjaan fotogrametri, transformasi koordinat 2-D digunakan pada proses
orientasi dalam. Beberapa metode transformasi koordinat 2-D yang banyak digunakan dalam
penyelesaian pekerjaan fotogrametri, antara yaitu :transformasi konform, transformasi affine,
dan transformasi proyektif.







2.6.2 TransformasiKoordinat 3-D











Gambar-1.3.2.a, mengilustrasikan suatu titik yang berada pada system koordinat xyz
akan ditransformasi kan kedalam system koordinat XYZ. Proses pengimpitan system salib sumbu
xyz  XYZ meliputi rotasi pada sumbu x(e), rotasi pada sumbu y(|), rotasi pada sumbu z(k), dan
translasi pada arah sumbu x (T
X
), translasi pada arah sumbu y (T
y
), translasi pada arah sumbu z
(T
z
).


Y
Z
X
x
y
z
e
|
k
T
T
Y
T
Z
Gambar – 1.3.2.aSistemkoordinat 3-D : XYZ , xyz; rotasi :










Gambar-1.3.2.b, mengilustrasikan suatu titik yang berada pada system koordinat xyz
akan ditransformasikan ke dalam system koordinat XYZ. Proses transformasi dari system
koordinat xyz ke system koordinat XYZ melibatkan 7 (tujuh) elemen orientasi, yaitu : 3 (tiga)
sudut rotasi (e,|,k), 1 (satu) factor skala (s), dan 3 (tiga) factor translasi (T
X
, T
y
, T
z
).
Penurunan persamaan transformasi dilakukan dengan dua langkah yang sangat
mendasar, yaitu :
1. Rotasi
2. Penskalaan dan translasi







Gambar – 1.3.2.bSistemkoordinat 3-D XYZ dan xyz

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Perencanaan
Pelaksana wajib menjabarkan secara detail rencana pelaksanaan pekerjaan.

2. Persiapan
a. Koordinasi dengan instansi terkait dan perijinan agar pelaksanaan kegiatan pekerjaan
berjalan dengan lancr.
b. Melakukan persiapan administrasi, teknis dan personil.

3. Pemotretan Udara
a. Jalur Terbang (Flight Lines)
1. Arah jalur penerbangan pemotretan udara sebagai berikut:
Arah jalur terbang yang akan dilakukan yaitu Timur-Barat atau Utara-Selatan. Arah
jalur terbang diagonal boleh digunakan dengan pertimbangan efisiensi dan harus
dengan persetujuan dari Pemberi Pekerjaan. Recana jalur terbang dengan arah jalur
penerbangan tersebut di atas harus dimasukkan dan digambar dalam usulan teknis
pada peta skala 1 : 10.000 atau lebih besar. Sebelum pelaksanaan pemotretan udara,
rencana jalur terbang ini harus diserahkan kepada pemberi pekerjaan dan mendapat
persetujuan.

2. Pemotretan Pada Satu Jalur
Masing-masing jalur terbang harus dipotret secara berurutan dan setiap jalur terbang
harus tercakup dalam 1 kali penerbangan / pemotretan. Terputusnya pemotretan
dalam satu jalur diperbolehkan apabila kondisi cuaca memang tidak memungkinkan
untuk melanjutkan pemotretan atau dikarenakan mengubah tinggi terbang untuk
penyesuaian skala. Syarat untuk menyambung jalur yang terputus adalah harus ada
minimal satu model yang saling bertampalan.


3. Awal dan Akhir Pemotretan
Setiap awal dan akhir pemotretan untuk masing - masing jalur terbang harus
mencakup minimum 2 eksposur diluar batas area yang dipetakan.
b. Pertampalan (Overlap)
Pertampalan minimal ke muka antar foto yang berurutan adalah 60% dengan toleransi 5%.
Pertampalan minimal ke samping (sidelap) pada jalur terbang yang berdampingan adalah
30% dengan toleransi 5%. Pada daerah bergunung, overlap ditingkatkan menjadi minimal
70% dan sidelap minimal 40%, masing – masing dengan toleransi 5%. Persyaratan
pertampalan diatas bertujuan untuk menghindari terjadinya area gap stereo yang
menyebabkan foto udara tidak bisa digunakan dalam pekerjaan stereoplotting. Apabila
ditemukan gap foto atau gap stereo maka pihak Pelaksana Pekerjaan diharuskan untuk
melakukan terbang ulang (re-flight) akuisisi data foto udara.
c. Resolusi Tanah
Resolusi tanah (GSD) yang akan di gunakan harus memenuhi kriteria untuk menghasilkan
peta dasar rupabumi skala 1:10.000, yaitu minimal memiliki resolusi tanah sebesar 20 cm.
d. Tinggi Terbang
Tinggi terbang adalah diatas tinggi rata - rata permukaan tanah dan dihitung berdasarkan
rumus :
H = f * s
dimana, H = Tinggi Terbang f = Panjang Fokus Kamera s = Faktor Skala Foto Pada kamera
digital, faktor skala foto dihitung dari perbandingan ukuran piksel (pixel size) dan resolusi
tanah (GSD).
e. Klasifikasi Tutupan Awan
Hasil pemotretan udara yang dapat diterima adalah apabila tutupan awan kurang dari 10%
dan obyek yang tertutup awan bukan merupakan bangunan atau transportasi serta foto
udara dirasa bisa digunakan untuk pemetaan. Hal ini harus mendapat persetujuan dari
Pemberi Pekerjaan.
f. Heading, Crab, Tilt
Heading, Crab dan Tilt mengacu pada orientasi pesawat pada saat terbang yang disebabkan
oleh pengaruh angin. Pada foto udara, pengaruh ini akan muncul pada parameter orientasi
yaitu Omega, Phi, Kappa yang direkam langsung oleh IMU. Nilai masing – masing parameter
orientasi Omega, Phi, Kappa tidak boleh melebihi 5° yang mengacu pada nilai EO hasil
pengukuran IMU.
g. Laporan Harian Hasil Pemotretan
Pihak Pelaksana Pekerjaan harus menyerahkan laporan secara harian yang berisi hasil
pemotretan. Apabila terdapat hari dimana tidak dilakukan pemotretan, Pihak Pelaksana
harus menyerahkan keterangan yang menjadi penyebab tidak dilaksanakannya pemotretan
dan disertai oleh bukti yang mendukung. Laporan Hasil Pemotretan harus memuat
informasi sebagai berikut:
1. Tanggal pemotretan
2. Nama Pelaksana Pekerjaan
3. Waktu pelaksanaan pemotretan
4. Nama dan nomer registrasi pesawat udara
5. Nama pilot pesawat udara dan operator alat
6. Nama dan jenis kamera udara serta perangkat lain yang digunakan
7. Jalur dan foto udara serta arah terbang
8. Tinggi terbang
9. Nilai pertampalan
10. Hasil uji visual foto udara
11. Kondisi cuaca

4. Triangulasi Udara
Triangulasi Udara adalah suatu suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan setiap model dapat
diorientasikan secara akurat agar dapat dilakukan pekerjaan kompilasi stereoplotting dalam
pembuatan peta garis. Triangulasi udara menghasilkan data parameter Exterior Orientation (x,y, z,
omega, phi, kappa) pada setiap foto dan koordinat perataan setiap titik pengamatan.

5. Plotting Stereo dari Data Foto Udara (Stereo Compilation)
Plotting (stereo Kompilasi) adalah pengumpulan data digital baik detail data planimetris maupun
tinggi dari foto udara dengan menggunakan alat stereo plotter digital.
Adapun tahapan pelaksanaan tersebut meliputi :
1. Pengumpulan data
2. Pembuatan indeks model
3. Restitusi / orientasi foto udara
4. Stereoplotting (Pembuatan peta garis)
5. Identifikasi kelengkapan data lapangan
6. Pengeditan
7. Entry data
8. Kartografi dan symbol
9. Sistem pengkodean unsur
10. Kode unsur
11. Proses kartografi

Penjelasan untuk masing-masing tahap pelaksanaan diatas adalah sebagai berikut :
3.1 Pengumpulan Data
Untuk keperluan stereo plotting diperlukan data-data sebagai berikut yaitu :
 Foto udara digital berwarna
 Peta jalur terbang
 Peta indeks model
 Data hasil triangulasi udara
 Titik kontrol minor dan titik kontrol tanah (GCP) hasil dari Triangulasi Udara.
 Standard dan spesifikasi pemetaan
 Digital Photogrammetric Workstation
3.2 Pembuatan Indeks model
Indeks model dapat dibuat dari data hasil Triangulasi Udara. Indeks model ini akan dipakai
untuk memantau kemajuan pekerjaan dan membantu dalam kontrol kualitas.
3.3 Restitusi / Orientasi Foto Udara
Peralatan yang akan dipakai untuk pekerjaan Restitusi Foto Udara tersebut adalah Digital
Photogrammetric Workstation/Stereo Plotter Digital. Instrument tersebut dilengkapi
dengan perangkat lunak yang dapat menyimpan dan menampilkan hasil Orientasi foto serta
sistem pandangan 3 dimensi.
3.4 Stereo Plotting (Pembuatan Peta Garis)
Setelah dilakukan Restitusi pada tiap-tiap model maka dilakukan pekerjaan stereo
plotting/kompilasi fotogrametris yaitu melakukan pengumpulan data dari model stereo.
1. Umum
a. Stereo Plotting adalah pengumpulan data kartografik (detail planimetrik) dari
foto udara menggunakan alat stereo plotting digital dengan cara mendigitasi
titik-titik dan penarikan garis/batas yang mewakili objek/detail, sesuai
spesifikasi Peta Dasar Skala 1:10000.
b. Sistem layer dan muka peta yang digunakan mengacu kepada standarisasi
dalam pembuatan peta dasar skala besar
c. Foto udara yang digunakan adalah foto udara vertikal yang memiliki area
overlap dan sidelap

2. Ketentuan
a. Kelaikan alat-alat yang digunakan harus dipastikan terlbih dahulu
b. Penyimpangan maksimum posisi planimetris titik yang digambar pada peta
dasar tidak boleh lebih dari 0,2 mm.
c. Penyimpangan tinggi antara plotter dan titik kontrol tidak boleh melebihi
0,03% dari tinggi terbang rata-rata
d. Kelengkapan detail harus diperiksa dengan menggunakan foto udara yang
bersangkutan
e. Unsur geografi digambar dalam bentuk yang sebenarnya dengan simbol-simbol
yang sudah ditetapkan
f. Objek penggambaran adalah seluruh objek/detail yang dijelaskan pada bagian
kartografi dan simbol
g. Konsultan pelaksana wajib memplot secara teliti titik-titik detail yang ada
h. Konsultan pelaksana wajib menguraikan prosedur plotting yang dilakukan
3. Unsur Geografis yang Diplot
Unsur-unsur geografis yang harus diplot pada Peta Dasar Garis meliputi dan tidak
terbatas pada:
a. Batas Administratif Kota, Wilayah, Kecamatan, Kelurahan
b. Bangunan perkantoran, baik pemerintah maupun swasta
c. Bangunan tempat pendidikan seperti SD, SMP, SMA, dan yang sederajat, serta
Perguruan Tinggi (Akademi, Universitas, dll) dan Pesantren
d. Fasilitas Umum seperti Kantor Pos dan Giro, Kantor Kelurahan/Desa, Kantor
Kecamatan, Pasar, Hotel, Pertokoan, SPBU, Terminal, Shelter Telepon, Shelter
Bus, Musium, Taman, Monumen dll.
e. Fasilitas Sosial seperti Rumah Sakit, Puskesmas dan Tempat Ibadah (Mesjid,
Gereja, Vihara, Pura) dll
f. Bangunan perumahan dan bangunan lainnya
g. Jalan Negara, Jalan Provinsi, Jalan Kota, Jalan Lingkungan/ Lokal, Gang dan Rel
Kereta Api
h. Unsur-unsur yang berada di Daerah Milik Jalan antara batas pagar sebelah kiri
dan batas pagar sebelah kanan jalan, yaitu: As Jalan, Median Jalan, Batas
Perkerasan Jalan, Batas Trotoar, Jalur Hijau dan Drainase, berikut pohon yang
terletak di Daerah Milik Jalan
i. Jembatan, jalan layang, underpass, jembatan penyeberangan
j. Sungai, drainase permukaan
k. Unsur-unsur yang terdapat di dalam Daerah Milik Sungai, yang meliputi As
Sungai dan Tanggul
l. Menara, tower (listrik, telekomunikasi, dll), tiang listrik dan tiang telepon yang
dapat diidentifikasi pada blow up foto udara
m. Sawah, ladang, kebun, hutan, empang, situ,
n. Batas penggunaan tanah tiap kawasan yang meliputi: kawasan perumahan,
perdagangan, perkantoran, industri, pertokoan, jasa, pendidikan.
o. Tutupan Lahan
p. Tugu-tugu Titik Dasar Teknik
3.5 Identifikasi Kelengkapan Data Lapangan
Identifikasi adalah pengumpulan data yang ada di lapangan untuk kelengkapan peta yang
dilakukan pada blow up foto udara.
1. Pembuatan blow up foto udara
2. Pelaksanaan Identifikasi (Garis batas administrasi pemerintah, Detail Bangunan)
3.6 Pengeditan
Pengeditan adalah pekerjaan perbaikan gambar hasil digital stereo plotting yang meliputi
pekerjaan sebagai berikut :
a. Pemotongan dan atau penggabungan sesuai dengan koordinat lembar peta;
b. Perbaikan atas kesalahan under atau over shoots;
c. Perbaikan simbol, type garis, layer, warna dari data digital;
d. Edge matching antar lembar/model digital.
e. Pembuatan format lembar Peta dan informasi tepinya.

3.7 Entry Data
a. Entry data adalah pekerjaan pemasukan data tambahan hasil identifikasi/komplesi
lapangan ke lembar digital peta dasar sebelum dilakukan pencetakan.
b. Data / informasi yang dimasukkan harus sesuai dengan hasil identifikasi lapangan.
c. Simbol harus dibuat dengan mengikuti kaidah-kaidah kartografi dan simbol yang
sudah ditetapkan (lihat bagian Kartografi dan Simbol).
3.8 Kartografi Dan Simbol
a. Penulisan nama-nama geografik, jalan, bangunan, dll harus sesuai dengan data
lapangan.
b. Semua objek/detail planimetris digambar sesuai dengan simbol yang telah
ditentukan
c. Semua keterangan dalam bentuk teks dicantumkan sesuai dengan ketentuan ukuran
dan ketebalan teks yang telah ditentukan
d. Pemberian simbol pada daerah yang cukup luas diwakili oleh beberapa simbol dan
didistribusikan merata
e. Garis obyek dalam satu lembar harus bersambung dengan garis obyek pada lembar
yang bersebelahan (edge matching)
3.9 Sistem Pengkodean Unsur
Kode unsur yang digunakan harus sesuai dengan sistem pengkodean yang digunakan oleh
Pusat Pemetaan Dasar Rupabumi dan Tata Ruang (PDRTR), Bakosurtanal.
3.10 Kode Unsur
Nama layer harus berupa kode numerik sebanyak 5 (lima) digit, yang disusun mengacu pada
hirarkhi Tema Unsur Rupabumi sesuai spesifikasi Bakosurtanal. Contoh dapat dilihat pada
tabel dibawah ini. Daftar kode unsur yang lengkap akan dilampirkan dalam dokumen
kontrak.
3.11 Proses Kartografi
1. Pembuatan Legenda
2. Editing
Pelaksanaan editing diperlukan untuk pengecekan konsistensi hasil proses
fotogrametri, kesalahan yang timbul akan dikoresi seperlunya.
3. Pencetakan Peta Garis Digital
Tahap pekerjaan akhir dari proses pembuatan peta garis dan foto adalah pekerjaan
pencetakan peta digital skala 1 : 10000 diatas kertas serta pada drafting film yang
mempunyai karakteristik permukannya halus, emulsi baik, konsisten terhadap tinta
plotter yang digunakan dan bahan dasar sangat stabil. Sebelum melakukan pekerjaan
pencetakan peta foto yang sebenarnya maka alat plotter tersebut akan dikalibrasi
baik ukuran garis ketepatan (presisi) serta warna yang dihasilkan.
3.12 Pembentukan DTM dan Kontur
1. Pembentukan DTM
DTM raster dengan ukuran cell 5 meter dibentuk dari beberapa tema unsur sebagai
berikut:
- Hidrografi
- Breaklines
- Spotheights
- Masspoint
Sebelum pembentukan DTM dan Kontur, editing 3D terhadap data hidrografi perlu
dilakukan apabila ketentuan sebagai berikut di bawah ini tidak dipenuhi:
1. Arah garis harus sama dengan arah aliran (vertex pertama adalah hulu dan
vertex terakhir adalah muara).
2. Elevasi pada vertex (n+1) lebih rendah atau sama dengan elevasi vertex (n).
3. Tidak ada overshoot atau undershoot pada vertex akhir (muara).
4. Tidak ada pseudonode.
5. Pertemuan node dengan node, atau node dengan vertex harus snap secara 3
dimensi (xyz).
6. Elevasi pada setiap vertex untuk garis tepi perairan seperti garis pantai, garis
tepi danau, empang, dan garis tepi air rawa harus sama.
7. Garis tepi perairan tersebut di atas tidak terpenggal oleh garis lainnya.

2. Garis Kontur
Garis kontur yang dihasilkan harus memenuhi ketentuan ketentuan sebagai berikut:
1. Interval kontur indeks untuk skala 1:10.000 adalah 20 meter.
2. Interval kontur selang untuk skala 1:10.000 adalah 5 meter.
3. Untuk daerah relatif datar diberi garis kontur bantu dengan interval setengah
dari interval kontur selang.
4. Garis kontur tidak saling berpotongan.
5. Garis kontur tidak terputus, kecuali untuk kontur bantu.
6. Garis kontur dengan elevasi yang sama tidak memotong sungai yang sama
lebih dari satu kali.
7. Garis kontur tidak memotong garis tepi perairan (danau, empang, air rawa, dan
pantai).
8. Pada lokasi perpotongan garis kontur dengan sungai maupun anak sungai
maka pola kontur cenderung menjorok ke arah hulu.

6. Pelaporan
Selama melaksanakan pekerjaan, konsultan pelaksana secara berkala wajib memberikan laporan
sebagai bahan untuk pemantauan kemajuan pekerjaan.


3.1 Koordinat Foto
Pencarian koordinat foto merupakan tahap awal dalam melakukan pengolahan data foto
udara, berikut langkah-langkahnya :
3.1.1 Layout Foto
Layout foto merupakan proses penyusunan data foto udara berdasarkan jumlah
foto yang ada dengan tujuan mendapatkan jumlah jalur terbang, overlap, beserta
sidelap yang terlihat. Ada 2 foto yang akan di-layout-kan, yaitu :



Gambar 3.1 Layout Foto


Foto tersebut merupakan foto udara daerah sumatera utara dan selanjutnya dilakukan
layout untuk masing-masing jalur dengan proses sebagai berikut :

Foto diatas merupakan sketsa jalur terbang antar foto run 17 no 11 ke no 12
Dan garis biri menunjukan arah pemotrettan jalur dimulai dari timur ke barat.

Pertampalan Foto 10 ke 11

Selanjutnya dilakukan penomoran pada 6 titik kontrol dapat dilihat pada
gambar berikut ini:

Pemindahan Titik
Setelah dilakukan pemilihan dan penomoran titik, selanjutnya adalah tahapan
pemindahan titik dimana titik yang telah ditandai pada foto dipindahkan ke dalam
kertas milimeter blok berukuran A3 yang dapat dilihat pada Lampiran.
Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa ada dua jalur terbang dari beberapa foto
tersebut dan 3 overlap.
3.1.1 Pengamatan Foto
- Penentuan arah utara
Penentuan arah utara berdasarkan waktu pengambilan foto udara dan arah
bayangan pada foto. Waktu yang lebih baik untuk pengambilan foto harus pagi
ataupun sore dan bergantung pada kondisi cuaca juga.

- Penghitungan Skala
Untuk melakukan penghitungan skala, data yang dibutuhkan dari foto adalah
sebagai berikut :
171102
171100
171101
171202
171200
171101
Fokus kamera (f) = 0,15242 m
Tinggi terbang (H) = 3827.75 feet = 1531.1 m
Maka skalanya adalah
S = f/H = 0,15242 m / 1023,5184 m = 10045.26, 1:10000

- Penghitungan Luas Foto
Dilihat berdasarkan hasil layout foto ditemukan adanya 5 overlap, 2 sidelap, dan
beberapa foto lainnya yang tidak bertampalan, sehingga terbentuk 3 jalur terbang
dimana pada jalur terbang 1 memiliki 2 overlap, jalur terbang 2 memiliki 1 overlap,
dan jalur terbang 3 memiliki 2 overlap. Untuk peta jalur terbang dapat dilihat pada
Lampiran I.
Berikut adalah perhitungan dari luas foto:
Mencari overlap foto = panjang overlap / lebar peta * 100%
= 14.15/23*100% =61.5% (61%)
Luas 1 potret ( )

()

Luas overlap




3.1.2 Pemilihan dan Penomoran Titik
Pemilihan titik dilakukan berdasarkan penentuan titik control minor pada suatu
model. Jumlah titik kontrol minor pada suatu model minimal 6 titik, selebihnya adalah
titik bantu yang mendukung kontrol ketelitian suatu foto.



Gambar 3.4 Titik Kontrol Minor
3.1.3 Pemindahan Titik
Setelah dilakukan pemilihan dan penomoran titik, selanjutnya adalah tahapan
pemindahan titik dimana titik yang telah ditandai pada foto dipindahkan ke dalam
kertas milimeter blok berukuran A3 yang dapat dilihat pada Lampiran II.


3.1.4 Pengamatan Titik
Pengamatan titik dilakukan menggunakan tongkat paralaks dengan hasil
pengukuran sebagai berikut , yaitu:


PETA INDEKS
















BAB IV
Analisis dan Kesimpulan

Analisis
Dalam praktikum ini terdapat beberapa kendala, diantaranya terjadi perbedaan cara penomeran foto
dengan kelompok yang lain pada minggu- minggu pertama sehingga proses praktikum diulang dari awal
pada minggu ke 3.


KESIMPULAN
Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum fotogrametri II ini adalah kita dapat memahami proses triangulasi udara,
dari proses awal sehingga menjadi peta. Dari mulai penomoran titik, pembuatan peta indeks lalu
medapatkan peta jalur terbang, peta kontur, transformasi sehingga didapat produk peta foto dan peta
garis.