ALAT KONTRASEPSI

1. Jenis-jenis kontrasepsi
• Alat Kontrasepsi Berupa Kondom Kondom adalah suatu alat kontrasepsi berupa sarung dari karet yang diselubungkan ke organ intim lelaki. Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau pembungkus plastik berongga dan ukurannya sebesar batang korek api.  Alat kontrasepsi berupa diafragma Kontrasepsi ini adalah kontrasepsi barier yang tidak mengurangi kenikamatan berhubungan seksual karena terjadi skin to skin kontak antara penis dengan vagina dan dapat meningkatkan frekuensi sentuhan pada G spot dalam. • Alat Kontrasepsi Berupa Susuk KB Susuk: Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada lengan atas, alat kontrasepsi ini disusupkan di bawah kulit lengan atas sebelah dalam. • Alat Kontrasepsi Berupa Suntikan KB (KB Suntik) • Alat Kontrasepsi Berupa Pil KB  Tubektomi  Vasoktomi

2. Mekanisme kerja, indikasi, kontraindikasi, kelebihan, kekurangan, eefek samping dan efek terhadap kepuasan seksual dari tiap-tiap jenis kontrasepsi
2.1 Kondom A. Mekanisme kerja Kondom menghentikan sperma mencapai telur. Ini menciptakan penghalang fisik – hambatan ini memastikan pembuahan (kehamilan) tidak terjadi. Selain dibuat sangat tipis terutama dari karet lateks atau polyurethane, kondom laki-laki mengandung pelumas, serta spermisida yang baik menghancurkan atau merusak sperma. Spermisida tambahan juga tersedia di sebagian besar apotek. Untuk menggunakan kondom secara efektif – untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dengan menggunakan kondom – penis tidak boleh menyentuh vagina

sebelum kondom telah ditempatkan. Seorang pria tidak perlu harus ejakulasi sperma keluar dari penisnya, ini bisa terjadi sebelum ejakulasi. Para ahli mengatakan bahwa penggunaan kondom secara signifikan membantu menghentikan penyebaran penyakit menular seksual (penyakit menular seksual) atau IMS (infeksi menular seksual). Penting untuk diingat bahwa seks oral juga merupakan rute untuk PMS. Kondom harus ditempatkan dengan benar sebelum hubungan seksual dilakukan, dan dihapus segera setelah ejakulasi. B. Indikasi Pria  Penyakit genetalia  Sensitivitas penis terhadap sekret vagina  Ejakulasi prematur Wanita  Vaginitis, termasuk yang dalam pengobatan  Kontraindikasi terhadap kontrasepsi oral dan IUD, sedangkan pemasangan diafragma atau kap serviks secara otomatis atau psikologis tidak mungkin  Untuk membuktikan bahwa tidak ada semen yang dilepaskan ke dalam vagina  Metode temporer: a. Belum mengadakan senggama secara teratur b. Selama haid c. Selama mid-siklus pada pemakaian IUD d. Selama siklus pertama dari kontrasepsi oral secara benar dan tepat e. Selama periode awal post-partum f. Keengganan psikologis untuk bersentuhan dengan semen g. Keengganan psikologis atau religius untuk menggunakan suatu kontrasepsi C. Kontraindikasi  Absolut  Pria dengan ereksi yang tidak baik  Riwayat syok septik  Tidak bertanggung jawab secara seksual  Interupsi seksual foreplay menghalangi minat seksual

 Alergi terhadap karet atau lubrikan pada partner seksual D. Kelebihan  Mencegah kehamilan  Memberi perlindungan terhadap penyakit-penyakit akibat hubungan seks (PHS)  Dapat diandalkan  Relatif murah  Sederhana, ringan  Tidak memerlukan pemeriksaan medis  Pria ikut serta aktif dalam program KB E. Kekurangan  Angka kegagalan cukup tinggi  Perlu menghentikan sementara aktifitas dan spontanitas hubungan seks guna pemasangan kondom  Perlu dipakai secara konsisten, hati-hati dan terus-menerus pada setiap senggama  Bila terjadi kesalahan dalam penggunaan kondom beresiko khususnya bila berhubungan dengan infeksi gonore pada laki-laki.  Merusak urutan kejadian selama foreplay dan seks. Beberapa orang mengatakan bahwa kenikmatan seks terganggu karena semuanya harus dihentikan sehingga kondom ditempatkan dengan benar.  Cara yang ideal untuk menyelesaikan ini adalah dengan mencakup penempatan kondom sebagai bagian dari seluruh tindakan, bagian dari pemanasan.  Beberapa pria dengan masalah disfungsi ereksi menemukan masalah mereka lebih sulit jika mereka harus menghentikan tindakan seksual untuk memasang kondom pada (mempertahankan ereksi yang terjadi kadang-kadang lebih keras).  Sebuah studi menemukan bahwa hilangnya ereksi akibat penggunaan kondom dapat mengakibatkan perilaku seksual berisiko.  Meskipun kondom sangat handal jika digunakan dengan tepat, mereka bisa istirahat, dan bisa mengecewakan Anda jika Anda tidak menggunakannya dengan benar.  Kondom laki-laki berbeda dalam ukuran (baik panjang dan lebar) dan menggunakan ukuran yang salah (terlalu besar atau terlalu kecil) dapat mengakibatkan melorot kondom selama seks.

 Kuku tajam dan beberapa perhiasan dapat mematahkan atau robek kondom.  Terkadang air mata yang mungkin saat membuka bungkusnya.  Beberapa pelumas tidak dapat digunakan dengan kondom, seperti yang berbasis minyak, beberapa krim, baby oil atau petroleum jelly. Hanya pelumas berbahan dasar air dapat digunakan.  Jika seseorang telah thrush dan menggunakan krim, supositoria atau pessaries untuk perawatan, kualitas kontrasepsi kondom dapat terpengaruh.  Femidoms (kondom wanita) tidak tersedia di mana-mana. F. Efek samping  Kondom rusak atau diperkirakan bocor (sebelum berhubungan)  Kondom bocor atau dicurigai ada curahan di vagina saat berhubungan  Dicurigai adanya reaksi alergi (spermisida)  Mengurangi kenikmatan hubungan seksual 2.2 Susuk KB A. Mekanisme kerja Sama dengan pil namun susuk ditanamkan di dalam kulit, biasanya di lengan atas. Implan mengandung progesteron yang akan terlepas secara perlahan dalam tubuh. Setiap kapsul susuk KB mengandung 36 mgr Levonorgestrel yang akan dikeluarkan setiap harinya sebanyak 80 mcg. Konsep mekanisme kerjanya sebagai progesteron yang dapat menghalangi pengeluaran LH sehingga tidak terjadi ovulasi, mengentalkan lendir serviks dang menghalangi migrasi spermatozoa, dan menyebabkan situasi endometrium tidak siap menjadi tempat nidasi. B. Indikasi  Pemakaian KB yang jangka waktu lama  Masih berkeinginan punya anak lagi, tapi jarak antara kelahirannya tidak terlalu dekat  Tidak dapat memakai jenis KB yang lain C. Kontraindikasi  Hamil atau diduga hamil, penderita jantung, strok, lever, darah tinggi dan kencing manis.  Pendarahan vagina tanpa sebab.  Wanita dalam usia reproduksi.

 Telah atau belum memiliki anak.  Menginginkan kontrasepsi jangka panjang.  Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi.  Pasca persalinan dan tidak menyusui.  Pasca keguguran.  Tidak mengingikan anak lagi, tetapi menolak kontrasepsi.  Riwayat kehamilan ektopik.  Tekanan darah 6 minggu, asal yakin tidak sedang hamil, atau berikan perlindungan ganda sampai haid lalu mulai suntikan. D. Kelebihan • Tahan sampai 5 tahun atau sampai diambil. Kesuburan akan kembali segera setelah pengangkatan. Pencegahan kehamilan terjadi dalam waktu 24 jam setelah pemasangan.  Melindungi wanita dari kanker rahim.  Aman digunakan setelah melahirkan dan menyusui.  Tidak menganggu aktivitas seksual.  Daya guna tinggi.  Perlindungan jangka panjang.  Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.  Tidak memerlukan pemeriksaan dalam  Bebas dari pengaruh estrogen  Tidak menganggu kegiatan senggama  Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan  Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.  Mengurangi nyeri haid  Mengurangi jumlah darah haid.  Mengurangi/mempeerbaiki anemia  Melindungi terjadinya kanker endometrium.  Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara.  Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul.  Menurunkan angka kejadian endometriosis.  Dipasang selama lima tahun.

 Kontrole medis ringan.  Dapat dilayani di daerah pedesaan.  Penyulit medis tidak terlalu tinggi.  Biaya ringan. E. Kekurangan Tidak dianjurkan untuk penderita penyakit hati, kanker payudara, perdarahan tanpa sebab, penggumpalan darah, penderita tekanan darah tinggi, penyakit kandung empedu, kolesterol tinggi, siklus menstruasi tidak teratur, sakit kepala, penyakit jantung. Beberapa jenis susuk, yang tampak dari luar atau terasa bila diraba. Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan pola haid berupa perdarahan bercak (spotting), hipermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid, serta amenorea. 1. menimbulkan gangguan menstruasi, yaitu tidak mendapat menstruasi dan terjadi perdarahan yang tidak teratur 2. berat badan bertambah 3. menimbulkan akne, ketegangan payudara 4. liang senggama terasa kering F. Efek samping Gangguan pola haid:  Tidak haid  Pendarahan yang tidak lama  Kemungkinan infeksi pada bekas luka pemasangan  Perdarahan  Siklus menstruasi lebih panjang  Rambut rontok  Gairah seksual turun  Jerawat dan depresi 2.3 Suntikan KB A. Mekanisme kerja Pemberian hormon progestin akan menyebabkan pengentalan mukus serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma. Hormon tersebut juga mencegah pematangan dan pelepasan sel telur. Endometrium menjadi tipis dan atrofi dengan berkurangnya aktifitas kelenjar. Selain itu akan merangsang timbulnya haid setiap bulan.

- Mencegah lepasnya sel telur dari indung telur - Megentalkan lendir mulut rahim, sehingga sperma sulit masuk ke dalam rongga rahim - Menipiskan selaput lendir agar tidak siap hamil Suntikan KB adalah suatu cairan berisi zat untuk mencegah kehamilan selama jangka waktu tertentu (antara 1 – 3 bulan). Cairan tersebut merupakan hormon sistesis progesteron. Pada saat ini terdapat dua macam suntikan KB, yaitu golongan progestin seperti Depo-provera, Depo-geston, Depo Progestin, dan Noristat, dan golongan kedua yaitu campuran progestin dan estrogen propionat, misalnya Cyclo Provera. Hormon ini akan membuat lendir rahim menjadi kental, sehingga sel sperma tidak dapat masuk ke rahim. Zat ini juga mencegah keluarnya sel telur (ovulasi) dan membuat uterus (dinding rahim) tidak siap menerima hasil pembuahan Hanafi Hartanto (1996) menjelaskan mekanisme kerja kontrasepsi suntik dalam dua bagian, yaitu primer dan sekunder. Mekanisme primer adalah mencegah ovulasi. Pada mekanisme ini, kadar FSH dan LH menurun dan tidak terjadi sentakan LH. Respons kelenjar hipofise terhadap gonadotropin-releasing hormon eksogenous tidak berubah, sehingga memberi kesan proses terjadi di hipotalamus dari pada di hipofise. Ini berbeda dengan pil oral kombinasi (POK), yang tampaknya menghambat ovulasi melalui efek langsung pada kelenjar hipofise. Penggunaan kontrasepsi suntikan tidak menyebabkan keadaan hipo-estrogenik. Pada pemakaian KB Suntik Depoprovera, endometrium menjadi dangkal dan atrofis dengan kelenjar-kelenjar yang tidak aktif. Sering stroma menjadi oedematous. Dengan pemakaian jangka lama, endometrium dapat menjadi sedemikian sedikitnya, sehingga tidak didapatkan atau hanya terdapat sedikit sekali jaringan bila dilakukan biopsi. Tetapi, perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi normal dalam waktu 90 hari setelah suntikan berakhir. Pada mekanisme sekunder, lendir serviks menjadi kental dan sedikit sehingga merupakan barier terhadap spermatozoa. Mekanisme sekunder ini juga membuat endometium kurang layak untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi. Mekanisme ini mungkin juga mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba fallopii. Pemberian hormon progestin akan menyebabkan pengentalan mukus serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma. Hormon tersebut juga

mencegah pelepasan sel telur yang dikeluarkan tubuh wanita. Tanpa pelepasan sel telur, seorang wanita tidak akan mungkin hamil. Selain itu pada penggunaan Depo Provera, endometrium menjadi tipis dan atrofi dengan berkurangnya aktifitas kelenjar. Sedangkan hormon progestin dengan sedikit hormon estrogen akan merangsang timbulnya haid setiap bulan. B. Indikasi 1. Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang atau telah mempunyai cukup anak sesuai keinginan tetapi belum ingin, belum siap atau belum bisa ikut tubektomi saat ini. Rasional : Suntikan KB adalah metoda kontrasepsi jangka panjang, efektif, dapat digunakan untuk jangka panjang (tak terbatas), pada pemakaian tidak menyebabkan permasalahan medis yang serius.

2. Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi yang tidak perlu dipakai setiap hari atau setiap bersenggama. Rasional : Suntikan Kb tidak perlu diberikan setiap hari atau ketika akan bersenggama. Para wanita yang menghadapi permasalahan dengan pemakaian cara-cara sederhana atau pelupa dalam minum pil setiap hari dapat dianjurkan untuk memakai kontrasepsi suntik. Setelah mendapatkan suntikan, maka yang dibutuhkan peserta suntik adalah mengingat waktu suntik ulang apakah 1, 2, atau 3 bulan tergantung pada jenis kontrasepsi uang dipakai.

3. Klien tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung esterogen, atau kalau meminumnya maka akan timbul gejala-gejala komplikasi pemakaian esterogen. Rasionalnya : Biasanya komplikasi atau efek samping disebabkan oleh komponen esterogen yang ada. Untuk itu, dapat dipakai suntikan KB yang hanya mengandung hormon progestin, sehingga cara ini dapat dipakai sebagai alternatif pilihan bagi peserta yang tidak tahan hormon esterogen.

4. Klien sedang menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai. Rasionalnya : Menyusui tidak akan terpengaruh dengan pemakaian kontrasepsi suntik progestin, bahkan pada beberapa penelitian didapatkan bahwa pemakaian kontrasepsi suntik akan meningkatkan kuantitas ASI walaupun pemakaian kontrasepsi hormonal bukanlah pilihan utama bagi ibu yang menyusui, pemakaiannya tidak akan menyebabkan perubahan secara klinik baik pada perumbuhan dan perkembangan BBL maupun pemakaian setelah 6 minggu persalinan. C. Kontraindikasi 1. Absolut

Hamil Riwayat kanker payudara Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui penyebabnya 2. Relatif Riwayat gangguan jiwa Riwayat penyakit payudara Riwayat sakit kepala Wanita yang ingin hamil dalam waktu 2 tahun ke depan Wanita yang ingin hamil lebih cepat D. Kelebihan  Sangat efektif (99,6%)  Resiko kesehatan kecil  Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri  Periksa dalam tidak dibutuhkan pada saat pemeriksaan awal  Klien tidak perlu menyimpan obat suntik  Tidak mempengaruhi pemberian ASI, kecuali suntikan Cylofem  Reaksi suntik sangat cepat (<24 jam)  dapat digunakan oleh wanita tua (>35 tahun), kecuali cylofem  Mencegah kehamilan ektopik  Jangka panjang  sangat efektif walaupun klien terlambat suntik 1 minggu dari jadwal yang telah ditentukan  Sangat berguna untuk klien yang tidak ingin hamil lagi, tetapi belum bersedia untuk mengikuti sterilisasi (tubektomi) E. Kekurangan  Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.  Harus kembali ke sarana pelayanan.  Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya.  Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering.  Dapat menyebabkan ketidakteraturan masalah haid.  Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan penyakit menular seksual, hepatitis B, atau infeksi HIV.

 Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga.  Efektivitas berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obat epilepsi dan obat tuberkulosis.  Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati.  Kemungkinan terlambat pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian. F. Efek samping  gangguan haid  mual, sakit kepala, penambahan berat badan  kadang kala ibu mengeluh gairahnya menurun  Amenurea  Perdarahan 2.4 Pil KB A. Mekanisme kerja  Mencegah pematangan dan pelepasan sel telur  Mengentalkan lendir leher rahim, sehingga menghalangi penetrasi sperma  Membuat dinding rongga rahim tidak siap untuk menerima dan menghidupi hasil pembuahan B. Indikasi 1. Kontraindikasi estrogen atau tidak cocok dengan estrogen 2. Umur diatas 35 tahun 3. Perokok 4. Hipertensi 5. Menyusui C. Kontraindikasi  Sebaiknya hanya diberikan pada ibu yang sedang menyusui saja  Tidak dibenarkan dipakai oleh wanita yang sedang mengalami perdarahan abnormal dari uterus  Tidak dibenarkan dipakai oleh wanita yang mengalami kehamilan ektopik  kehamian  kecurigaan atau adanya Carcinoma mammae  Adanya neoplasma yang dipengaruhi oleh estrogen

 Menderita penyakit thromboemboli atau varises yang luas  Faal hepar yang terganggu  Perdarahan pervagina yang tidak diketahui sebabnya D. Kelebihan Pil KB mini hanya mengandung progesteron, sehingga tidak mengganggu laktasi (keluarnya ASI), atau efek samping yang biasa ditimbulkan Pil KB kombinasi, seperti tekanan darah tinggi dan sakit kepala, mengurangi gangguan kardiovaskuler, menurunkan nyeri dan banyaknya darah haid. 1. Sangat efektif sebagai kontrasepsi 2. Resiko terhadap kesehatan sangat baik 3. Tidak mengganggu hubungan seksual 4. Mudah digunakan 5. Mudah dihentikan setiap saat 6. Mengurangi perdarahan saat haid 7. Mengurangi insiden gangguan menstruasi 8. Mengurangi insiden anemia defisiensi besi 9. Mengurangi insiden kista ovarium 10. Mengurangi insiden tumor jinak mammae 11. Mengurangi karsinoma endometrium 12. Mengurangi infeksi radang panggul 13. Mengurangi osteoporosis 14. Mengurangi rheumatoid artritis 15. Mengurangi kehamilan ektopik E. Kekurangan • • Tingkat Lebih kehamilannya sering lebih tinggi haid daripada tidak Pil KB dan kombinasi spotting

menyebabkan

teratur

• Kemungkinan mendapatkan kehamilan diluar kandungan relatif tinggi F. Efek samping  Amenorea (tidak ada perdarahan atau spotting)  Mual, pusing atau muntah (akibat reaksi anafilaktik)  Perdarahan pervaginam/spotting G. Efek terhadap kepuasan seksual 2.5 Tubektomi

A. Mekanisme kerja Perjalanan sel telur terhambat karena saluran sel telur tertutup. B. Indikasi  Usia > 26 tahun  Paritas (jumlah anak) minimal 2 dengan umur anak terkecil > 2 thn  Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya  Pada kehamilannya akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius  Pascapersalinan dan atau pasca keguguran  Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini C. Kontraindikasi  Hamil  Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan  Infeksi sistemik atau pelvik yang akut  Tidak boleh menjalani proses pembedahan  Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan  Belum memberikan persetujuan tertulis  Laparoskopi juga tidak boleh dilakukan pada pasien dengan penyakit jantung dan paru yang berat  Jika ada permintaan sterilisasi saat persalinan dan ternyata timbul komplikasi ada ibu atau janin maka permintaan tersebut bisa di tolak D. Kelebihan  Sangat efektif dan permanen  Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99%  Tidak ada efek samping dalam jangka panjang  Tidak mempengaruhi proses menyusui  Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal  Tidak menganggu hubungan seksual E. Kekurangan  Rasa sakit/ketidak nyaman dalam jangka pendek setelah tindakan

Ada kemungkinan mengalami resiko pembedahan F. Efek samping

2.6 Vasektomi

A. Mekanisme kerja Vasektomi merupakan operasi kecil dan merupakan operasi yang lebih ringan dari pada sunat/khitanan pada pria. Bekas operasi hanya berupa satu luka di tengah atau luka kecil di kanan kiri kantong zakar (kantung buah pelir) atau scrotum. Vasektomi berguna untuk menghalangi transport spermatozoa (sel mani) di pipa-pipa sel mani pria (saluran mani pria). B. Indikasi  Menunda kehamilan  Mengakhiri kesuburan  Membatasi kehamilan  Setiap pria, suami dari suatu pasangan usia subur yang telah memiliki jumlah anak cukup dan tidak ingin menambah anak C. Kontraindikasi  Peradangan kulit atau jamur pada kemaluan  Peradangan pada alat kelamin pria  Penyakit kencing manis  Kelainan mekanisme pembekuan darah  Infeksi di daerah testis dan penis  Testis membesar karena tumor  Hidrokel (penumpukan cairan pada kantong zakar)  Buah zakar tidak turun  Penyakit kelainan pembuluh darah D. Kelebihan  Tidak akan mengganggu ereksi, potensi seksual, produksi hormon  Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi. Dapat digunakan seumur hidup  tidak mengganggu kehidupan seksual suami istri  Tidak mengganggu produksi ASI  lebih aman (keluhan lebih sedikit)  lebih praktis (hanya memerlukan satu kali tindakan)  Lebih efektif (tingkat kegagalannya sangat kecil)  Lebih ekonomis (hanya memerlukan biaya untuk sekali tindakan)  Tidak ada mortalitas/kematian

 Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit  Tidak ada resiko kesehatan  Tidak harus diingat-ingat, tidak harus ada persediaan  Sifatnya permanen E. Kekurangan  Memerlukan operasi bedah  Prosedur ini hanya untuk pasangan yang sudah memutuskan untuk tidak akan punya anak lagi  Harus dengan tindakan pembedahan  harus memakai kontrasepsi lain (kondom) selama beberapa hari atau minggu sampai sel mani menjadi negatif  tidak dapat dilakukan dengan orang yang masih ingin mempunyai anak lagi F. Efek samping  Timbul rasa nyeri  Abses pada bekas luka  Hematoma atau membengkaknya kantung biji zakar karena pendarahan

3. Asuhan keperawatan kontrasepsi
Pengkajian Karena masalah kontrasepsi merupakan suatu hal yang sensitif bagi wanita, maka dalam mengkaji hal ini perawat harus sangat memperhatikan privasi klien. Rendahkan suara ketika mengkaji untuk menigkatkan rasa nyaman klien dan pertahankan rasa percaya diri yang tinggi klien. Selain pengkajian umum( Identitas klien, Riwayat kesehatan, Riwayat obstetri, PF), pengkajian khusus yang perlu kita lakukan untuk memenuhi peran sebagai edukator dalam pemilihan metode kontrasepsi yang tepat adalah: 1. Pengetahuan klien tentang macam-macam metoda kontrasepsi

Pengkajian ini dilakukan dengan menanyakan kapan wanita tersebut berencana untuk memiliki anak. Kemudian tanyakan metoda apa yang sedang direncanakan akan dipakai oleh klien. Bila klien menyatakan satu jenismetoda perawat dapat menanyakan alas an penggunaan metoda tersebut.pertanyaan-pertanyaan ini akan mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi klien terkait dengan kontrasepsi yang digunakan.

2.

Pengetahuan

tentang

teknik

penggunaan

metoda

kontrasepsi

Dalam melaksanakan perannya sebagai educator perawat harus dapaat menetukan tingkat pengetahuan klien tentang teknik penggunaan kontrasepsi. Misalnya tanyakan tentang bagaimana klien tersebut memakai dafragma, kapan dan dimana spermisida dioleskan atau berapa kali dalam sehari klien tersebut harus mengkonsumsi pil KBm dengan menggali tingkat pengetahuan klien ni perawat dapat menentukan bila ada kesalahan persepsi dalam penggunaan yang akan menyebabkan tidak efektifnya alat kontrasepsi yang dipakai dan akan menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan

3. Kenyamanan klien terhadap metoda kontrasepsi klien terhadap metoda kontrasepsi yang sedang dipakai. Dalam mengkaji kenyamanan klien, dengarkan keluhan-keluhan klien terhadap efek samping dari kontrasepsi yang digunakannya. Dengarkan juga pernyataan klien tentang kenyamanannya menggunakan metoda kontrasepsi bulanan seperti suntik hormone dari pada pil keluarga berencana yang harus di konsumsi setiap hari. Keefektifan suatu metoda meningkat seiring dengan peningkatan kenyamanan klien 4. dalam Faktor-faktor menggunakan pendukung penggunaan metoda metode yang tersebut. tepat

Jika klien berencana untuk mengganti metoda kontrasepsi diskusikan tentang pilihanpilihan yang cocok untuk digunakan. Kaji factor-faktor yang dapat membantu pemilihan metode terbaik seperti riwayat kesehatan dahulu klien yang merupakan kontraindikasi dari metoda kontrasepsi, riwayat obstetric, budaya dan kepercayaan serta keinginan untuk mencegah kehamilan.

Adapun kontraindikasi penggunaan metoda kontrasepsi yang berkaitan dengan riwayat kesehatan adalah: a. Kontrasepsi oral 1. Pil keluarga berencana terpadu Riwayat TBC, kejang, kanker payudara, benjolan payu dara, telat haid, hamil, pendarahan abnormal, hepatitis, penyakit jantung, tromboplebitis.

Untuk wanita perokok, usia lebih dari 35th, pengidap DM, epilepsy, dan penderita hipertensi 2. Mini Pil tidak dianjurkan menggunakan pil keluarga berencana.

Mini pil ini sebaiknya tidak digunakan pada wanita yang harus menghindari segala jenis metoda hormonal, atau yang mejalani pengobatan kejang

b. Kontrasepsi Hormonal 1. Hormone Implant Kanker/benjolan keras di payudara, terlambat haid, hamil, perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya, penyakit jantung dan keinginan untuk hamil kurang dari lima tahun. 2. Hormone Injeksi Suntikan terpadu tidak boleh diberikan pada wanita dalam masa menyusui.

c. Kontrasepsi Mekanik 1. Diafragma dan kap servik Diafragma dan kap servik tidak dipakai pada wanita dengan riwayat alergi lateks dan riwayat toksik shock syndrome. 2. IUD Hamil atau kemungkinan hamil, resiko itnggi terkena penyajit yang menular lewat hubungan seks, riwayat infeksi alat reproduksi, infeksi sesudah persalinan/ aborsi, kehamilan ektopik, metroragia dismenorhea, anemia dan belum pernah hamil, mola.

d. Kontrasepsi Mantap Kontrasepsi ini tidak ada kontraindikasinya, karena sifatnya permanen. Digunakan bagi pasangan yang sudah tidak ingin atau sudah tidak memungkinkan untuk mempunyai anak.

Analisa Data Kurang pengetahuan tentang keluarga berencana merupakan penyebab tersering dari gangguan fisik, psikologis dan social dalam kaitannya dengan kehamilan yang tidak direncanakan.

Diagnosa yang mungkin berdasarkan pengkajian dan data adalah Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan b.d Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi.

Sedangkan

diagnosa

keperawatan

lain

yang

dapat

timbul

yaitu:

1. Resiko konflik pengambilan keputusan b.d alternatif kontrasepsi 2. Rasa takut b.d efek samping kontrasepsi 3. Resiko tinggi infeksi b.d kondisi aktif secara seksual dan penggunaan metoda kontrasepsi 4. Resiko tinggi perubahan pola seksualitas b.d takut hamil 5. Nyeri b.d pemulihan pascaoperasi sterilisasi 6. Resiko tinggi infeksi b.d kerusakan membran mukosa akibat operasi, pemasangan spiral, hormone implant 7. Distress spiritual b.d ketidakcocokan keyakinan agama atau budaya dengan metoda kontrasepsi yang dipilih

DAFTAR PUSTAKA

Arjoso, S. 2003. Umpan Balik Laporan Pencapaian Program KB Nasional Propinsi Jawa Timur. Surabaya : BKKBN. Elizabeth, Hurlock. 1997. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga. Joewono, HT. 1995. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: NRC-POGIDepkes-BKKBN-YBPSP-JHPEIGO. Noerdin, M. 2003. Kamus Istilah Kependudukan, KB dan Keluarga Sejahtera. Jakarta : BKKBN. Saifuddin, AB. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : JNPKKR/POGI-BKKBN-DEPKES-JHPIEGO/STARH PROGRAM. Yusuf, A. 2005. Keluarga Berencana. http://www.google.com. BKKBN, diakses : 13 Juli 2006.