//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!

JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
Soal
1. Diberikan himpunan suku banyak sampai berderajat n dengan peubah formal a, P
n
(C, a) ≡
_
n

j=0
α
j
a
j
¸
¸
¸
¸
α
j
∈ C
_
. Selanjutnya diberikan pula himpunan
T ≡
__
f
n
z
0 g
n
_ ¸
¸
¸
¸
f
n
, g
n
∈ P
n
(C, a), z ∈ C
_
.
Kemudian didefinisikan penjumlahan antar unsur di P
n
(C, a) dan perkalian dengan skalar sebagai
berikut
n

j=0
α
j
a
j
+
n

j=0
β
j
a
j
=
n

j=0

j

j
) a
j
,
dan
α
n

j=0
α
j
a
j
=
n

j=0
αα
j
a
j
,
untuk setiap
n

j=0
α
j
a
j
,
n

j=0
β
j
a
j
∈ P
n
(C, a), dan α ∈ C. Dalam himpunan T pun disepakati
adanya penjumlahan berupa penjumlahan matriks dan perkalian dengan skalar seperti biasanya
untuk matriks.
(a) Adakah unsur nol untuk penjumlahan dalam himpunan P
n
(C, a) dan T ? Buktikan jika
memang ada atau tidaknya.
(b) Dengan penjumlahan dan perkalian dengan skalar di P
n
(C, a) dan T itu, kedua himpunan
tersebut membentuk ruang vektor. Susunlah masing-masing sebuah basis untuk ruang
vektor P
n
(C, a) dan T . Berapa dimensi masing-masing ruang vektor itu?
(c) Tuliskan wakilan matriks kolom untuk unsur-unsur di P
n
(C, a) dan T relatif terhadap basis
yang telah anda pilih dalam soal sebelumnya.
(d) Tunjukkan bahwa himpunan
| ≡
__
f
n
0
0 z
_ ¸
¸
¸
¸
f
n
∈ P
n
(C, a), z ∈ C
_
merupakan sub-ruang vektor di T . Berapakah dimensi |?.
(e) Didefinisikan pemetaan
ϕ : T → P
n
(C, a)
_
f
n
z
0 g
n
_
→ f
n
+g
n
i. Tunjukkan bahwa pemetaan ϕ itu pemetaan linier.
ii. Hitunglah kernel pemetaan tersebut. Injektifkah pemetaan tersebut?
iii. Apakah jawaban untuk sistem persamaan linier ϕ(A) = h
n
tunggal?
iv. Tuliskan wakilan matriks sistem persamaan linier ϕ(A) = h
n
dalam basis-basis yang
telah anda pilih di soal sebelumnya.
13 Januari 2014 Hal. 1
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
Penyelesaian
1. Pertama diuraikan terlebih dahulu beberapa definisi yang digunakan untuk menjawab persoalan
diatas

Definisi 1. Misalkan F adalah sebuah medan. Suatu ruang vektor atas F (atau ruang vektor-F)
terdiri atas sebuah grup abelian V dalam operasi penjumlahan bersama dengan sebuah operasi
perkalian skalar tiap unsur dari V oleh masing-masing unsur dari F pada sebelah kiri, sehingga
untuk semua a, b ∈ F dan α, β ∈ V syarat-syarat berikut terpenuhi:
V
1
: aα ∈ V .
V
2
: a(bα) = (ab)α.
V
3
: (a +b)α = (aα) + (bβ).
V
4
: a(α +β) = (aα) + (aβ)
V
5
: 1α = α.
Unsur dari V adalah vektor-vektor dan unsur dari F adalah skalar-skalar. Ketika hanya ada satu
medan F dalam suatu pembicaraan, acuan F kita hilangkan dan menyebutnya sebagai ruang
vektor.
Definisi 2. Jika V adalah sebuah ruang vektor atas suatu medan F, vektor-vektor tersebut
dalam sebuah sub-himpunan B = ¦β
i
[ i ∈ I¦ dari V membentuk suatu basis untuk V atas F
jika mereka merupakan rentang V dan tak-gayut linier.
Definisi 3. Misalkan V adalah sebuah ruang vektor atas F. Vektor-vektor dalam suatu sub-
himpunan S = ¦α
i
[ i ∈ I¦ dari V adalah rentang (pembangkit) V jika setiap β ∈ V , kita
mempunyai
β = a
1
α
i
1
+a
2
α
i
2
+ +a
n
α
i
n
untuk beberapa a
j
∈ F dan α
i
j
∈ S, j = 1, , n. Sebuah vektor
n

j=1
a
j
α
i
j
adalah suatu
kombinasi linier dari α
i
j
.
Definisi 4. Sebuah ruang vektor V atas suatu medan F adalah berdimensi berhingga jika disana
ada sebuah sub-himpunan berhingga dari V yang vektor-vektornya membentuk rentang V .
Definisi 5. Vektor-vektor dalam sebuah sub-himpunan S = ¦α
i
[ i ∈ I¦ dari suatu ruang vektor
V atas sebuah medan F adalah tak-gayut linier atas F jika, untuk setiap vektor-vektor saling
berbeda α
i
j
∈ S, koefisien-koefisien a
j
∈ F dan n ∈ Z
+
, kita mempunyai
n

j=1
a
j
α
i
j
= 0 dalam
V jika hanya a
j
= 0 untuk j = 1, , n. Jika vektor-vektor tidaklah tak-gayut linier atas F,
mereka dikatakan gayut linier atas F.
Definisi 6. Jika V adalah suatu vektor berdimensi berhingga atas sebuah medan F, banyaknya
unsur-unsur dalam sebuah basis (tak bergantung dari pemilihan basis) adalah dimensi dari V
atas F.
Definisi 7. Sebuah sub-ruang vektor W adalah sub-himpunan dari ruang vektor V yang berupa
ruang vektor dengan operasi induksi berasal dari dalam ruang vektor V .
13 Januari 2014 Hal. 2
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
Definisi 8. Sebuah himpunan B adalah suatu sub-himpunan dari sebuah himpunan A, dino-
tasikan oleh B ⊆ A atau A ⊇ B, jika setiap unsur dari B berada di dalam A. Notasi-notasi
B ⊂ A atau A ⊃ B digunakan saat B ⊆ A tetapi B ,= A.
Definisi 9. Misalkan V dan V

adalah ruang-ruang vektor dengan medan yang sama F. Sebuah
fungsi φ : V → V

adalah suatu pemetaan linier dari V menuju V

jika syarat-syarat berikut
terpenuhi untuk semua α, β ∈ V dan a ∈ F:
φ(α +β) = φ(α) +φ(β)
φ(aα) = a(φ(α)).
Definisi 10. Sebuah pemetaan φ : X → Y adalah korespondensi satu-satu (injektif) jika
φ(x
1
) = φ(x
2
) hanya ketika x
1
= x
2
.
Definisi 11. Misalkan sebuah pemetaan φ : R → R

merupakan suatu homomorfisme dari
gelanggang-gelanggang. Sub-gelanggang
φ
−1
[0

] =
_
r ∈ R[ φ(r) = 0

_
adalah kernel dari φ, dinotasikan sebagai Ker(φ).
Definisi 12. Sebuah gelanggang ¸R, +, ¸ adalah sebuah himpunan R bersaman dengan dua
operasi biner + dan , yang kita sebut penjumlahan dan perkalian, didefinisikan pada R sehingga
aksioma-aksioma berikut terpenuhi:
R
1
: ¸R, +¸ adalah sebuah grup abelian
R
2
: Perkalian bersifat asosiatif
R
3
: Untuk semua a, b, c ∈ R, hukum distributif kiri, a (b + c) = (a b) + (a c) dan hukum
distributif kanan (a +b) c = (a c) + (b c) berlaku.
Definisi 13. Untuk gelanggang-gelanggang R dan R

, sebuah pemetaan φ : R → R

adalah
suatu homomorfisme jika dua syarat berikut terpenuhi untuk semua a, b ∈ R:
φ(a +b) = φ(a) +φ(b),
φ(ab) = φ(a)φ(b).

Melalui definisi-definisi yang telah diuraikan diatas selanjutnya akan didapatkan penyelesaian
sebagai berikut
(a) Ada unsur nol pada kedua himpunan P
n
(C, a) dan T yaitu
1
:
0
P
n
(C,a)
=
_
_
_
n

j=0
α
j
a
j
¸
¸
¸
¸
α
j
= 0, a
j
= C
_
_
_
, dan 0
T
=
_
0 0
0 0
_
.
Buktinya adalah sebagai berikut. Untuk unsur nol pada himpunan P
n
(C, a) dengan p
n

P
n
(C, a)
0
P
n
(C,a)
+p
n
=
n

j=0
(0 +α
j
)a
j
=
n

j=0
α
j
a
j
= p
n
1
menggunakan definisi unsur indentitas pada sebuah grup abelian.
13 Januari 2014 Hal. 3
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
0
P
n
(C,a)
+p
n
=
n

j=0

j
+ 0)a
j
= p
n
+ 0
P
n
(C,a)
Selanjutnya untuk unsur nol pada himpunan T dengan t ∈ T
0
T
+t =
_
0 0
0 0
_
+
_
f
n
z
0 g
n
_
=
_
(0 +f
n
) (0 +z)
(0 + 0) (0 +g
n
)
_
=
_
f
n
z
0 g
n
_
= t
=
_
(f
n
+ 0) (z + 0)
(0 + 0) (g
n
+ 0)
_
= t + 0
T
(b) Susunan basis-basis untuk ruang vektor P
n
(C, a) dan T adalah
2
e
P
n
(C,a),j
=
_
a
j
[ j ∈ Z[0, n]
_
dan
e
T
= ¦e
1
, e
2
, e
3
¦
=
__
1 0
0 0
_
,
_
0 0
0 1
_
,
_
0 1
0 0
__
.
Dari susunan basis-basis diatas didapatkan bahwa dimensi (jumlah basis)
3
untuk P
n
(C, a)
= n dan dimensi untuk T = 3.
(c) Untuk memperoleh wakilan matriks kolom untuk unsur-unsur di P
n
(C, a) relatif terhadap
basis yang dipilih di bagian 1-b terlebih dahulu diuraikan terhadap masing-masing basisnya
melalui operasi perkalian antar matriks
p
n
=
n

j=0
α
j
a
j
=
_
α
0
α
1
α
2
α
n
¸
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
a
0
a
1
a
2
.
.
.
a
n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
=
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
α
0
α
1
α
2
.
.
.
α
n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
T
e
P
n
(C,n),j1
2
menggunakan Definisi 2, 3, dan 5.
3
menggunakan Definisi 4 dan 6.
13 Januari 2014 Hal. 4
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
Hal yang serupa dapat dilakukan untuk memperoleh wakilan matriks kolom unsur-unsur di
T relatif terhadap basis yang telah dipilih di bagian 1-b dengan tambahan melalui operasi
perkalian matriks dengan skalar yaitu
t =
_
f
n
z
0 g
n
_
= f
n
_
1 0
0 0
_
+g
n
_
0 0
0 1
_
+z
n
_
0 1
0 0
_
=
_
f
n
g
n
z
¸
_
¸
¸
¸
¸
¸
¸
¸
¸
_
_
1 0
0 0
_
_
0 0
0 1
_
_
0 1
0 0
_
_
¸
¸
¸
¸
¸
¸
¸
¸
_
=
_
_
f
n
g
n
z
_
_
T
e
T ,j1
(d) Untuk menunjukkan bahwa himpunan | adalah sub-ruang vektor di T adalah dengan mem-
buktikan
4
bahwa | merupakan sub-himpunan di T dan memenuhi syarat-syarat ruang vek-
tor yang terdapat di ruang vektor T . Bukti bahwa himpunan | adalah sub-himpunan dari
himpunan T yaitu himpunan | dapat diperoleh dari himpunan T dengan cara memasang
z = 0 dan g
n
= z untuk setiap unsur himpunan T . Karena jelas bahwa C adalah medan
maka selanjutnya yang perlu dibuktikan bahwa | adalah grup abelian dengan operasi pen-
jumlahan induksi dari operasi penjumlahan di T . Disebabkan operasi penjumlahan adalah
operasi penjumlahan biasa pada matriks, adalah sangat jelas akan ditemukan sifat asosiatif,
unsur identitas, unsur invers, dan sifat komutatif penjumlahan matriks. Sehingga secara
pasti himpunan | adalah grup abelian dengan operasi penjumlahan matriks biasa. Ter-
akhir akan dibuktikan lima syarat berlakunya bahwa sub-himpunan | merupakan ruang
vektor berdasarkan definisi ruang vektor. Anggap pula u adalah unsur dari |.
Tertutup terhadap perkalian dengan skalar (V
1
):
αu = α
_
f
n
0
0 z
_
=
_
(αf
n
) (α0)
(α0) (αz)
_
=
_
¸
_
α
n

j=0
α
j
a
j
0
0 αz
_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
αα
j
a
j
0
0 αz
_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
γ
j
a
j
0
0 w
_
¸
_
4
menggunakan Definisi 1, 7, dan 8
13 Januari 2014 Hal. 5
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
αu =
_
h
n
0
0 w
_
dimana telah dimisalkan bahwa αα
j
= γ
j
dan αz = w. Karena perkalian antar bilangan-
bilangan kompleks menghasilkan bilangan kompleks pula mengakibatkan γ
j
, w ∈ C dan
tentunya h
n
∈ P
n
(C, n).
Asosiatif perkalian skalar (V
2
):
α(βu) = α
_
β
_
f
n
0
0 z
__
= α
_
(βf
n
) (β 0)
(β 0) (βz)
_
=
_
¸
¸
_
α
_
_
β
n

j=0
α
j
a
j
_
_
α(β 0)
α(β 0) α(βz)
_
¸
¸
_
=
_
¸
¸
_
α
_
_
n

j=0
(βα
j
) a
j
_
_
(αβ) 0
(αβ) 0 (αβ) z
_
¸
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
α(βα
j
) a
j
(αβ) 0
(αβ) 0 (αβ) z
_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
(αβ) α
j
a
j
(αβ) 0
(αβ) 0 (αβ) z
_
¸
_
= (αβ)
_
¸
_
n

j=0
α
j
a
j
0
0 z
_
¸
_
= (αβ)
_
f
n
0
0 z
_
= (αβ) u
Pada penurunan diatas telah dimengerti bahwa pada perkalian antar bilangan kompleks
berlaku sifat asosiatif yaitu α(βα
j
) = (αβ)α
j
.
Distributif perkalian skalar dalam penjumlahan skalar (V
3
):
(α +β)u = (α +β)
_
f
n
0
0 z
_
=
_
(α +β)f
n
(α +β) 0
(α +β) 0 (α +β)z
_
=
_
¸
_
(α +β)
n

j=0
α
j
a
j
α0 +β 0
α0 +β 0 αz +βz
_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
(α +β)α
j
a
j
α0 +β 0
α0 +β 0 αz +βz
_
¸
_
13 Januari 2014 Hal. 6
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
(α +β)u =
_
¸
_
n

j=0
(αα
j
+βα
j
) a
j
α0 +β 0
α0 +β 0 αz +βz
_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
αα
j
a
j
+
n

j=0
βα
j
a
j
α0 +β 0
α0 +β 0 αz +βz
_
¸
_
=
_
¸
_
α
n

j=0
α
j
a
j

n

j=0
α
j
a
j
α0 +β 0
α0 +β 0 αz +βz
_
¸
_
=
_
αf
n
+βf
n
α0 +β 0
α0 +β 0 αz +βz
_
=
_
αf
n
α0
α0 αz
_
+
_
βf
n
β 0
β 0 βz
_
= α
_
f
n
0
0 z
_

_
f
n
0
0 z
_
= αu +βu
Pada penurunan diatas digunakan sifat distributif perkalian antar bilangan-bilangan kom-
pleks, yaitu (α +β)α
j
= αα
j
+βα
j
.
Distributif perkalian skalar dalam penjumlahan vektor (V
4
):
Misalkan u, u

∈ |, maka
α
_
u +u

_
= α
__
f
n
0
0 z
_
+
_
f

n
0
0 z

__
= α
_
f
n
+f

n
0 + 0
0 + 0 z +z

_
= α
_
¸
_
n

j=0
α
j
a
j
+
n

j=0
α

j
a
j
0 + 0
0 + 0 z +z

_
¸
_
= α
_
¸
_
n

j=0
_
α
j

j
_
a
j
0 + 0
0 + 0 z +z

_
¸
_
=
_
¸
_
α
n

j=0
_
α
j

j
_
a
j
α(0 + 0)
α(0 + 0) α(z +z

)
_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
α
_
α
j

j
_
a
j
α0 +α0
α0 +α0 αz +αz

_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
_
αα
j
+αα

j
_
a
j
α0 +α0
α0 +α0 αz +αz

_
¸
_
13 Januari 2014 Hal. 7
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
α
_
u +u

_
=
_
¸
_
n

j=0
αα
j
a
j
+
n

j=0
αα

j
a
j
α0 +α0
α0 +α0 αz +αz

_
¸
_
=
_
¸
_
n

j=0
αα
j
a
j
α0
α0 αz
_
¸
_
+
_
¸
_
n

j=0
αα

j
a
j
α0
α0 αz

_
¸
_
=
_
¸
_
α
n

j=0
α
j
a
j
α0
α0 αz
_
¸
_
+
_
¸
_
α
n

j=0
α

j
a
j
α0
α0 αz

_
¸
_
= α
_
¸
_
n

j=0
α
j
a
j
0
0 z
_
¸
_

_
¸
_
n

j=0
α

j
a
j
0
0 z

_
¸
_
= α
_
f
n
0
0 z
_

_
f

n
0
0 z

_
= αu +αu

Pada penurunan diatas digunakan sifat distributif perkalian antar bilangan-bilangan kom-
pleks, yaitu α
_
α
j

j
_
= αα
j
+αα

j
.
Unsur identitas perkalian skalar (V
5
):
Unsur identitas perkalian skalarnya adalah α = 1, dengan bukti sebagai berikut
1 u = 1
_
f
n
0
0 z
_
=
_
1 f
n
(1)(0)
(1)(0) 1 z
_
=
_
f
n
0
0 z
_
= u
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa | membentuk sub-ruang vektor di T .
Dimensi
5
dari | dapat ditentukan dengan memilih basis seperti berikut.
e
U
=
__
1 0
0 0
_
,
_
0 0
0 1
__
Alasan dipilih basis tersebut karena hanya dapat dimungkinkan kombinasi dari f
n
dan
z untuk membentuk sub-ruang vektor |. Sehingga dari basis-basis tersebut didapatkan
jumlah basis yang tidak lain adalah dimensi sub-ruang vektor |, yaitu dim(|) = 2.
(e) i. Untuk menunjukkan bahwa pemetaan ϕ adalah pemetaan linier dapat digunakan De-
finisi 9. Pembuktian syarat pertama
ϕ(t +t

) = ϕ
__
f
n
z
0 g
n
_
+
_
f

n
z

0 g

n
__
= ϕ
__
f
n
+f

n
z +z

0 + 0 g
n
+g

n
__
=
_
f
n
+f

n
_
+
_
g
n
+g

n
_
5
menggunakan Definisi 4 dan 6.
13 Januari 2014 Hal. 8
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
ϕ(t +t

) =
_
_
n

j=0
α
j
a
j
+
n

j=0
α

j
a
j
_
_
+
_
_
n

j=0
β
j
a
j
+
n

j=0
β

j
a
j
_
_
=
n

j=0
_
α
j

j
_
a
j
+
n

j=0
_
β
j

j
_
a
j
=
n

j=0
__
α
j

j
_
+
_
β
j

j

a
j
=
n

j=0
_

j

j
) +
_
α

j

j

a
j
=
n

j=0

j

j
) a
j
+
n

j=0
_
α

j

j
_
a
j
=
_
_
n

j=0
α
j
a
j
+
n

j=0
β
j
a
j
_
_
+
_
_
n

j=0
α

j
a
j
+
n

j=0
β

j
a
j
_
_
= (f
n
+g
n
) +
_
f

n
+g

n
_
= ϕ
__
f
n
z
0 g
n
__

__
f

n
z

0 g

n
__
= φ(t) +φ(t

)
Selanjutnya pembuktian syarat kedua
ϕ(αt) = ϕ
_
α
_
f
n
z
0 g
n
__
= ϕ
__
αf
n
αz
α0 αg
n
__
= (αf
n
) + (αg
n
)
=
_
_
α
n

j=0
α
j
a
j
_
_
+
_
_
α
n

j=0
β
j
a
j
_
_
=
n

j=0
αα
j
a
j
+
n

j=0
αβ
j
a
j
=
n

j=0
(αα
j
+αβ
j
) a
j
=
n

j=0
α(α
j

j
) a
j
= α
n

j=0

j

j
) a
j
= α
_
_
n

j=0
α
j
a
j
+
n

j=0
β
j
a
j
_
_
= α(f
n
+g
n
)
= αϕ
__
f
n
z
0 g
n
__
13 Januari 2014 Hal. 9
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
ϕ(αt) = αϕ(t)
Sehingga terbutki bahwa pemetaan ϕ adalah pemetaan linier.
ii. Menggunakan Definisi 12 perhitungan Ker(ϕ) adalah sebagai berikut
6
Ker(ϕ) = ϕ
−1
[0
P
n
(C,a)
]
=
_
t ∈ T [ ϕ(t) = 0
P
n
(C,a)
_
=
_
t ∈ T
¸
¸
¸
¸
ϕ
__
f
n
z
0 g
n
__
= 0
P
n
(C,a)
_
=
_
t ∈ T
¸
¸
¸
¸
f
n
+g
n
= 0
P
n
(C,a)
_
=
_
t ∈ T
¸
¸
¸
¸
f
−1
n
+f
n
+g
n
= f
−1
n
+ 0
P
n
(C,a)
_
=
_
t ∈ T
¸
¸
¸
¸
0
P
n
(C,a)
+g
n
= f
−1
n
+ 0
P
n
(C,a)
_
=
_
t ∈ T
¸
¸
¸
¸
g
n
= f
−1
n
_
=
_
t =
_
f
n
z
0 f
−1
n
_ ¸
¸
¸
¸
f
n
, f
−1
n
∈ P
n
(C, a), z ∈ C
_
dengan f
−1
n
adalah unsur invers penjumlahan dalam ruang vektor P
n
(C, a). Untuk
menguji apakah pemetaan ϕ bersifat injektif digunakan Definisi 11 sehingga
ϕ(t) = ϕ(t

)
ϕ
__
f
n
z
0 g
n
__
= ϕ
__
f

n
z
0 g

n
__
f
n
+g
n
= f

n
+g

n
Dari persamaan terakhir ini terlihat bahwa kita bebas memilih pasangan matriks t dan
t

asalkan jumlahan diagonal sama supaya ϕ(t) = ϕ(t

) terpenuhi. Oleh karena itu
dapat disimpulkan t ,= t

dan pemetaan ϕ bukanlah pemetaan injektif.
iii. Untuk mencari tahu apakah sistem persamaan linier ϕ(A) = h
n
tunggal terlebih dahulu
diuraikan sebagai berikut
ϕ(A) = h
n
ϕ
__
f
n
z
0 g
n
__
= h
n
f
n
+g
n
= h
n
Terlihat bahwa matriks A tidaklah tunggal sebab dapat kita pilih matriks-matriks
dengan f
n
dan g
n
berbeda akan tetapi jumlahan diagonalnya sama dengan h
n
. Alasan
lain karena ada dua peubah f
n
dan g
n
(lebih tepatnya koefisien-koefisien suku banyak f
n
dan g
n
) dan hanya satu persamaan (dalam satu persamaan terdapat n buah persamaan
koefisien-koefisien). Hal ini juga didukung dari jawaban sebelumnya bahwa pemetaan
ϕ tidaklah injektif. Setiap unsur-unsur T tidak tepat berpasangan satu-satu dengan
unsur-unsur P
n
(C, a).
6
dengan tambahan Definisi 12 dan 13.
13 Januari 2014 Hal. 10
//¸/B/! /BoT !// T//// TJoJ// T cO!JT J/
Henokh Lugo H.
11/316991/PA/14109
iv. Wakilan matriks untuk sistem persamaan linier ϕ(A) = h
n
berdasarkan basis-basis
yang telah dipilih pada bagian 1-b dapat ditentukan dengan melanjutkan perhitungan
di bagian 1-e.iii
f
n
+g
n
= h
n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
α
0
α
1
α
2
.
.
.
α
n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
+
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
β
0
β
1
β
2
.
.
.
β
n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
=
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
γ
0
γ
1
γ
2
.
.
.
γ
n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
α
0

0
α
1

1
α
2

2
.
.
.
α
n

n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
=
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
γ
0
γ
1
γ
2
.
.
.
γ
n
_
¸
¸
¸
¸
¸
_
13 Januari 2014 Hal. 11