LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama : An. Hamda Sakhia Syam Umur : 3 bulan Jenis Kelamin : Perempuan RM : 653842 MRS : 14 Maret 2014 Perawatan : Lontara 2 Atas belakang kamar 5

II. ANAMNESIS Keluhan utama: Celah pada bibir dan langit-langit Anamnesis terpimpin: Dialami sejak lahir. Demam (-), Riwayat demam (-). Riwayat batuk (+) 1 minggu yang lalu, mual (-), muntah (-). BAB kesan normal, BAK kesan lancar. Riwayat trauma (-) Riwayat kehamilan ibu: riwayat ANC sebanyak lima kali di puskesmas , diberi vitamin. Riwayat minum obat-obatan atau jamu-jamuan selama kehamilan (-), riwayat menderita penyakit atau kelainan selama kehamilan (-) Riwayat persalinan: bayi lahir normal, cukup bulan di tolong oleh bidan dengan BBL: 2900 gr. Riwayat keluarga dengan sakit yang sama (+)

III. PEMERIKSAAN FISIS Status general: Sakit sedang/Gizi cukup/Sadar BB : 5000 gr PB : 50 cm Status Vitalis : Heart Rate : 116 x/menit, regular Pernapasan : 26 x/menit

Suhu : 36,8°C (axillar) A) Kepala · Mata : Konjungtiva anemis tidak ada · Sklera : Ikterus tidak ada · Bibir : status lokalis · Leher : Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada B) Thoraks Dinding Paru I : Simetris kanan dan kiri, tipe pernapasan thoraco-abdominal. P : Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak ada, krepitasi tidak ada, vocal fremitus kiri = kanan P : Sonor kanan kiri A : Bunyi pernafasan: vesikuler, bunyi tambahan Rh tidak ada, Wh tidak ada. Dinding Jantung: I : Ictus cordis tidak tampak. P : Ictus cordis tidak teraba. P : Pekak, batas jantung dalam batas normal A : Bunyi jantung I/II, murni regular, murmur tidak ada. C) Abdomen I : Datar, ikut gerak napas A : Peristaltik ada, kesan normal P : Massa tumor tidak teraba, nyeri tekan tidak ada, hepar dan lien tidak teraba. P : Tympani D) Ekstremitas Ekstremitas superior :Tidak ada kelainan. Ekstremitas inferior :Tidak ada kelainan.

4 546 9.0 105 Nonreactive .9 Na K Cl HbsAg 139 6.7 7.00” 80 13/0.30” 2. palatum durum berupa celah IV.20 37/33 7/3/2014 Albumin 3.7 33.30 10. PEMERIKSAAN PENUNJANG 7/3/2014 RBC HGB HCT PLT WBC CT BT GDS UR/CR GOT/GPT 4.Status Lokalis : Regio buccal Inspeksi : Tampak malformasi pada labionasals.

diberi vitamin. Dialami sejak lahir. DIAGNOSIS Labiopalatoschisis Bilateral inkomplit VII. tampak malformasi pada labionasals dan palatum durum berupa celah. Riwayat kehamilan ibu: riwayat ANC di puskesmas. dibantu oleh bidan dengan BBL 2900gr.V. Riw. Dari pemeriksaan fisis didapatkan tanda vital dalam batas normal. TERAPI Rekonstruksi bibir GAMBARAN KLINIS 17 Maret 2014 (Pre Operasi & Post Operasi) Pre Operasi Post Operasi . Riwayat minum obat-obatan atau jamu-jamuan selama kehamilan (-). keluarga dengan sakit yang sama (+). cukup bulan. Riwayat persalinan: bayi lahir normal. riwayat menderita penyakit atau kelainan selama kehamilan (-). umur 3 bulan MRS dengan keluhan utama celah pada bibir dan langit-langit. sebanyak 5x. RESUME Seorang anak perempuan. VI.

Dalam bahasa Indonesia. dan faktor genetik. Pasien CLP sering mengalami gangguan fungsi berupa kesulitan menghisap ASI. infeksi telinga tengah. celah pada palatum atau langit-langit mulut (cleft palate). PENDAHULUAN Labiognatopalatoschisis atau Cleft Lip and Palate (CLP) adalah kelainan bawaan yang timbul pada saat pembentukan janin sehingga ada celah antara kedua sisi bibir hingga langit-langit dan bahkan cuping hidung. Kelainan ini disebabkan oleh kelainan genetik yang berpengaruh pada tahap pembentukan embrio. atau gabungan dari keduanya (cleft lip and palate). gusi dan langit-langit. labioschisis atau bibir sumbing merupakan suatu keadaan dimana terdapat celah pada bibir. Labiognatopalatoschisis adalah suatu kelainan atau kecacatan/cacat bawaan berupa celah pada bibir. Untuk penanganan yang optimal selain diperlukan suatu pengetahuan juga diperlukan keterampilan teknis dalam mendalami suatu anatomi abnormal dengan tidak menghilangkan nilai estetika didalamnya. tidak komplit. Cleft lips and palate (CLP) adalah suatu kecacatan kongenital pada kraniofasial yang paling sering ditemui. Faktor yang diduga dapat menyebabkan terjadinya kelainan ini adalah kekurangan nutrisi.CLEFT LIP AND PALATE A. Cleft lip atau yang dikenal sebagai cheiloschisis. . sehingga terdapat kelainan yang muncul setelah kelahiran. Celah ini dapat bersifat komplit. bahkan masalah psikososial dan lain sebagainya. dan langit-langit. trauma. gusi. stress pada kehamilan. Kelainan ini dapat berupa celah pada bibir (cleft lip). Hal ini juga didukung dalam hal perawatan dalam hal pengawasan dan evaluasi. unilateral maupun bilateral yang terjadi karena adanya gangguan pada kehamilan semester pertama yang menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang janin sehingga terjadi ketidaksempurnaan penyambungan bibir atas. bernafas. kelainan ini sering disebut dengan bibir sumbing.

jumlah tertinggi penderita kelainan ini terbanyak di Nusa Tenggara Timur yaitu 6 sampai 9 orang per 1000 penduduk. risiko labioschisis pada anak selanjutnya adalah sebanyak 9%. muncul beberapa subgrup berbeda.1 dalam 1000 kelahiran pada etnis Asia. Insidens celah langit-langit atau palatoskisis adalah 1:2000. C. Persentase labioskisis adalah 21% dari seluruh kasus sumbing. memiliki risiko melahirkan anak dengan kelainan yang sama sebesar 4%. processus nasalis medialis dan lateralis. maka risiko labioschisis pada anak selanjutnya adalah sebanyak 4%. Karena terdapat hubungan antara rongga mulut dan hidung. penderitanya sering tersedak saat minum. celah palatum (CP) sendiri dan celah palatum submukosa (submucous cleft palate/SMCP).B.4: 1000 pada etnis Afrika-Amerika. hampir 50% kasus palatoskisis disertai dengan sindrom kelainan bawaan lain. Persentase kasus sumbing palatum saja adalah 33% dari seluruh kasus sumbing. EMBRIOLOGI Kepala dan leher dibentuk oleh beberapa tonjolan dan lengkungan. EPIDEMIOLOGI Insiden celah pada bibir atau labioskisis sebanyak 2. Persentasenya adalah 46% dari seluruh kasus sumbing. Selain itu. processus maksilaris dan processus mandibularis. Jumlah ini sangat tinggi bila dibandingkan kasus di Internasional yang hanya 1 sampai 2 orang per 1000 penduduk. yang dinamakan celah bibir dengan/tanpa celah palatum (CL/P). Walaupun celah palatum adalah kelainan kongenital yang sangat beragam dan berubah-ubah. jika anak yang dilahirkan mempunyai labioschisis. Jika 2 anak sebelumnya lahir dengan labioschisis. Pada pasangan dengan labioschisis. antara lain processus frontonasalis. Di Indonesia. Insidens celah antara kedua sisi bibir hingga langit-langit atau labiognatopalatoskisis merupakan gabungan dari dua kelainan tersebut di atas. 1:1000 pada etnis Kaukasia dan 0. .

Langit-langit mulut yang keras dibentuk dari langit-langit primer dan langit-langit sekunder. Kegagalan lengkap fusi proses maxillary lateral dengan elevasi nasal medial menyebabkan belahan bibir atas. Stomodeum Bibir atas berkembang pada minggu 4 – 6 gestasi. Embrio 5 minggu (6mm) B. Prosesus nasalis lateralis 4. bermula dengan pembentukan processus frontonasal. Processus frontonasal akan berkembang sehingga membentuk bagian tengah bibir atas. Wajah waktu lahir 1. Prominensia maxillaris kiri dan kanan akan bertumbuh dari bagian posterolateral ke arah anteromedial dan menyatu dengan processus frontonasal. dan palatum mole primer. Prosesus mandibularis 7. Prosesus maksilaris 6. Kegagalan fusi dapat terjadi di kedua sisi ini dan karena itu cacat bibir sumbing dapat unilateral atau bilateral. alveolus anterior dan palatum primer. Mata 5. Prosesus nasalis medialis 3. Langit-langit mulut sekunder . lantai hidung. ala nasi. Pembentukan langitlangit primer berkembang dari premaxilla.Gambar: Perkembangan embriologi wajah A. Prosesus brankiogenik III 8. Istilah bibir sumbing adalah menyesatkan karena cacat mungkin melibatkan lebih dari sekedar bibir. Prominensia maxillaris juga akan berkembang sehingga membentuk bagian lateral dari bibir. alveolus. Embrio 6 minggu (12mm) C. Prosesus nasofrontalis 2.

proses tulang langit-langit berorientasi secara vertikal di kedua sisi lidah yang berkembang.berkembang menjadi sisa dari langit-langit keras serta langit-langit lunak dan uvula. Langit-langit mulut yang keras menyatu dari anterior ke posterior. Awalnya. Perkembangan langit-langit sekunder terjadi dari minggu 6-12 dari kehamilan. Akhirnya. kedua proses tulang langit-langit lateral bertemu di garis tengah dan menyatu. Fusi selesai dan langit-langit yang utuh diidentifikasi pada kehamilan minggu ke 12. Oleh karena itu bentuk paling ringan dari sumbing langit-langit adalah uvula bifida. dimulai pada alveolar ridge dan berlanjut hingga ke ujung uvula. Proses dimulai dengan pembentukan tulang langit-langit proses palatine lateral yang berkembang dari proses maxillary. Gambar : Tahap pertumbuhan wajah manusia .

B. Ini dapat terjadi dengan berbagai cara : .Celah pada palatum merupakan kelemahan fusi parsial atau total dari palatal shelves. Tanda panah menunjukkan proses pertumbuhan medial dan posterior dari palatina lateral. Garis terputus pada (D) dan (F) menunjukkan bagian yang menyatu pada proses palatina.Kegagalan lempeng palatum untuk mencapai posisi horizontal .Ruptur setelah fusi lempeng Gambar A: sketsa gambaran sagital dari kepala embrio pada akhir minggu ke-6 menunjukkan proses palatine media. atau palatum primer.E dan G: gambar potongan frontal . C.D.E dan H: gambaran langit-langit mulut sejak usia ke-6 hingga 12 minggu yang menunjukkan perkembangan palatum.Kelemahan sambungan antar lempeng .Defek pertumbuhan dari lempeng palatum .

Proyeksi linear tipis yang member batas bibir atas dan bawah secara melingkar pada batas kutaneus dan vermilion disebut white roll. Diasefalik border kedua adalah regio spino-kaudal dan leher. Cupid bow adalah proteksi ke bawah dari unit philtrum yang member bentuk bibir yang khas. kedua lipatan nasolabialis. Menurut The American Joints Comittee on Cancer. vermilion. . mulai dari perbatasan vermilion-kulit dan meliputi seluruh vermilion saja.Rombensefalik Membentuk bagian posterior kepala. dan bibir bawah meliputi vermilion. premaksila dan septum nasal. dan sebagian besar nasal dan cavitas oral Terdapat 3 pusat pertumbuhan fasial : . lateral muka dan sepertiga muka bagian bawah (regio latero-posterior). Ada bagian-bagian yang mengalami tumpang tindih (overlap) akibat impuls-impuls pertumbuhan yang terjadi. ANATOMI Bibir terdiri dari 3 bagian kutaneus.Sentra prosensefalik Bertanggungjawab atas pertumbuhan dan perkembangan lobus frontal otak. Filtrum merupakan petanda satu-satunya dari diasefalik border yang bertahan seumur hidup. . lipatan labiomentalis sampai sulcus ginggivolabialis intraoral. . orbita dan ala nasi. disebut diaencephalic borders.Bibir bagian atas disusun 3 unit kosmetik yaitu 2 lateral dan 1 medial.Diasefalik Diasefalik borders pertama yaitu sela tursika. Tetapi para ahli bedah menyebutkan bahwa bibir atas meliputi seluruh area di bawah hidung. bibir merupakan bagian dari cavum oris. selanjutnya ke arah filtrum. D. kemudian intra oral sampai sulcus ginggivolabialis. dan mukosa.kepala menunjukkan proses penyatuan kedua palatina lateral dan septum nasal. dorsum nasal dan bagian tengah bibir atas. tulang frontal.

Bibir bawah mendapat innervasi sensoris dari N.Cranialis VII (N. Muskulus ini tidak melekat pada tulang. orbicularis oris dan M. Disamping itu mempunyai cupid bow. Vaskularisasi berasal dari a. muskulus ini berfungsi untuk puckering. 7) Vermilion Bibir atas yang normal mempunyai otot orbicularis oris utuh. di bagian permukaan mempunyai vermilion yang simetris (milard). 3) Cupid’s bow 4) White roll upper lip.12 Muskulus utama bibir adalah m. . Dengan gerakan yang kompleks. Pengetahuan innervasi sensoris ini penting untuk melakukan tindakan blok anastesi. 2) Phitral groove. Innervasi sensoris bibir atas berasal dari cabang N. facialis. Arteri labialis terletak antara m. 6) Commissura. Ramus buccalis N.orbicularis oris dan m.Gambar Anatomi topografik bibir. Ramus mandibularis N. cabang dari a. labialis superior dan inferior.Infraorbitalis. 1) Phitral column. orbicularisoris.cranialis V (N. meniup dan menciptakan ekspresi wajah. bersiul. 5) Tuberculum. Facialis menginnervasi m.depressor labii. Elevator Labii. Innervasi motoric bibir berasal dari N. berfungsi sebangai sfingter rima oris.Mentalis. orbicularisoris yang melingkari bibir. Kompetensi oris dikendalikan oleh m. dengan muskulus ekspresi wajah lainnya daerah otot ini dikenal dengan istilah modiolus.Trigeminus) dan N.Facialis). 2 buah philtrum ridge yang sejajar dan sama panjang dengan di tengahnya terbentuk philtrum dimple. menghisap. Facialis menginnervasi m.orbicularis oris dan submukosa sampai zona transisi vermilion-mukosa.

zygomaticum minor.Gambar . dan m. Levator labii superior. m. m. levator labii superior alaque nasi. Musculus depressor meliputi m. dan benar-benar mengisolasi nasofaring dari oropharynx. zygomaticum major. Platum yang intak dapat secara berkala. Palatum durum bertulang ini terdiri dari pasangan . mentalis berfungsi untuk protrusi bibir Langit-langit mulut membentuk batas dinamis antara rongga mulut dan rongga hidung. selektif. depressor labii inferior. m. 2. Muskulus pada wajah. zygomaticum major. Ini terdiri dari anterior palatum durum dan posterior palatum molle. m.zygomaticum minor. Musculus rektraktor bibir atas disusun oleh m. dan m.platysma. Musculus elevator terdiri dari m. Palatum molle mulut adalah struktur dinamis yang berfungsi sebagai katup antara oropharynx dan nasofaring. Musculus retractor bibir bawah terdiri dari m.depressor anguli oris dan m. Palatum durum terdiri dari palatum bertulang dan mukosa yang melekat secara utuh kepada periosteum. levator anguli oris. sedangkan m. Levator anguli oris. depressor anguli oris dan m. tampak anterior 1. Palatum molle yang utuh penting untuk untuk bicara dan makan yang normal. 3.

prosesus palatina maksilla dan porsi horizontal dari tulang palatina. Mukosa dari palatum molle menempel pada anterior palatum durum dan ke lateral dinding faringeal. Persarafan berasal dari nervus palatina inferior dan nervus nasopalatina. muskulus uvula. dengan cara ini berhubungan dengan sisi passavants di posterior. arteri palatina yang lebih besar memperdarahi palatum durum. Dari tepi batas ini palatum molle menempel pada palatum durum. Palatum terdiri dari palatum durum dan palatum molle yang bersamasama membentuk atap mulut dan dasar hidung. Gambar. Suplai darah palatum berasal dari arteri maksilaris interna. arteri palatina yang lebih kecil memperdarahi palatum molle . Bagian ujung alveolar dari maksila menunjukkan bahgian anterior dan batas lateral palatum durum. dan muskulus palatofaringeus. Prosesus palatina dari maksila dan lamina horizontal dari tulang palatine membentuk palatum durum. Bagian ini menutup nasofaring dengan menekan dan mengangkat. Sisi . Palatum molle terdiri dari tensor velli palatini. Palatum molle terjadi dari jaringan fibromuskular yang terdiri dari otot-otot yang saling melekat pada bagian posterior palatum durum. levator velli palatini. Anatomi rongga mulut dan rongga hidung. Aspek posterior dikenal sebagai ujung bebas karena tidak memiliki sebarang tulang. tampak sagital Palatum molle juga dikenali sebagai velum. palatoglosus.

fiber tensor veli palatini berjalan lateral ke medial. Pasangan otot palatopharyngeus berjalan dari lateral dinding faring ke palatum molle. diamana memfasilitasi pernafasan pada nasal. Palatoglossus bersama-sama dengan mukosa atasnya membentuk tiang anterior tonsillar. Ia menjadi tendon yang sempit dimana secara lateral melengkung hamulus sebelum bergabung palatum molle sebagai tendon triangular yang luas. Palatopharyngeus bersama-sama dengan mukosa membentuk tiang posterior tonsilar. Palatoglossus berfungsi sebagai sfingter untuk mencegah regurgitasi oral selama menelan makanan. Dua pasang otot terakhir yang berkontribusi terhadap palatum molle adalah otot palatoglossus dan palatopharyngeus. Ini menyebabkan penyisipan secara anterior dan inferior di permukaan atas palatum molle. Tensor veli palatini yang berasal dari dinding lateral tuba Eustachian. Kontraksi otot ini menghasilkan sebuah kekuatan lateral yang mengeraskan palatum molle. Didalam palatum molle.posterior palatum molle bebas dari sembarang pelengketan. Levator veli palatini berasal dari aspek medial tuba Eustachii dan pada permukaan inferior dari tulang temporal. Otot dari paltum molle secara selektif dapat mengisolasi nasofaring dari oropharynx. . Hal ini memungkinkan komunikasi antar kavitas oral dan kavitas nasal. Pasangan otot uvula berasal dari posterior tulang belakang hidung dan dimasukkan di anak uvula. Palatoglossus memanjang dari inferior lidah ke superior palatum molle. Tensor veli palatini adalah pembuka utama tuba estachius. Palatoglossus mengangkat laring selama menelan untuk membantu mencegah aspirasi. Kontraksi levator veli palatini menaikkan palatum molle dan menutup nasofaring. Palatum molle terdiri dari lima pasangan otot dan pusat aponeurosis. Ketika bernapas. tepi posterior palatum molle berada dalam posisi hampir vertikal. Sebaliknya selama berbicara dan menelan otot dari palatum molle berkontraksi dan menarik palatum molle ke arah yang lebih horizontal yang menghubungkan faringeal posterior.

termasuk jamujamuan dan penggunaan kontrasepsi hormonal. glukokortikoid). Dugaan mengenai hal ini ditunjang kenyataan. termasuk stress pada masa kehamilan dan syok hipovolemik terutama pada trimester pertama kehamilan b. dan gen-gen yang terpengaruh ini akan mengakibatkan timbulnya gangguan fusi. yaitu Xq13-21 pada lokus Sp243 pada pasien sumbing bibir dan langitan. Insuffisiensi zat-zat atau materi yang diperlukan untuk proses tumbuh kembang organ-organ terkait selama masa embrional. yang diduga kuat pada keluarga dengan riwayat kelainan yang sama. c. Transforming Growth Factor (TGF A&B). Kuantitas : gangguan sirkulasi feto-maternal. seperti juga pada anomali kongenital lainnya. anemi dan kondisi hipoksik. Defisiensi zat-zat atau materi yang diperlukan menyebabkan gangguan dan/atau hambatan pada pusat pertumbuhan dan rangkaian proses kompleks. Epidermal Growth Factor (IGF 1&2). sehingga sel yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan bermigrasi. Proses signaling melibatkan molekul matriks dan growth factor yang mempengaruhi ekspresi genetic dari sel-sel neural crest yang mengalami migrasi dan kematian sel terprogram (dan ini dipengaruhi oleh asam retinoat.E. Kenyataan lain yang menunjang. Teori bioseluler : perkembangan palatum melibatkan interaksi mesenkhim epithelial. Infeksi khususnya infeksi viral dan khalimidial (toksoplasmosis) 4. 3. ETIOLOGI Penyebab labiognatopalatochisis sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Insuffisiensi ini disebabkan beberapa hal : a. telah berhasil diisolasi suatu X-linked gen. Pengaruh penggunaan obat-obatan yang bersifat teratologik. vitamin C dan zink. proliferasi dsb. Kualitas : defisiensi gizi (vitamin dan mineral khususnya asam folat. 2. Factor genetik. Pola ekspresi dari gengen ini melibatkan proses replikasi mRNA dan penurunan jadar protein. bahwa demikian banyak . Mediator-mediator yang kemudian diketahui mempengaruhi gen-gen tersebut antara lain Hox B (murine hox2). Beberapa hipotesis yang dikemukanan dalam perkembangan kelainan antara lain: 1.

Deteksi dini memperkenankan kepada keluarga untuk menyiapkan diri terlebih dahulu terhadap suatu kenyataan bahwa bayi mereka akan memiliki suatu kelainan/cacat. ketersediaannya. Sebagai pembanding. DIAGNOSIS CLP memberikan tanda klinis yang spesifik sehingga mudah untuk didiagnosis. dapat menjadi hal yang . maupun defel lahir lainnya. yang memberikan keamanan dalam prosedur. melibatkan anomaly skeletal. Mereka dapat menemui anggota dari kelompok yang memiliki CLP. Tetapi.kelainan/sindrom disertai celah bibir dan langitan (khususnya jenis bilateral). F. ibu yang menerima konseling pada 2 pekan awal kehidupan mungkin akan lebih merasa bingung dan kewalahan. invasifitas dan persetujuan pasien. belajar mengenai pemberian makanan khusus dan memahami apa yang harus diharapkan ketika bayi lahir. Fetoskopi telah digunakan untuk memberikan gambaran wajah fetus. deteksi kelainan enzim pada cairan amnion dan transvaginal ultrasonografi keseluruhannya dapat mendeteksi dengan sukses CLP secara antenatal. Deteksi dini juga memperkenankan kepada ahli bedah untuk bertemu dengan keluarga sebelum kelahiran dalam atmosfer yang rileks dan mendiskusikan pilihan perbaikan. Namun demikian. dan digunakan secara luas pada skrining anatomi antenatal. Akan tetapi teknik ini bersifat invasif dan dapat menimbulkan resiko menginduksi aborsi. pemeriksaan-pemeriksaan yang tersebut di atas dibatasi pada biaya. teknik ini mungkin tepat digunakan untuk konfirmasi pada beberapa cacat/kelainan pada kehamilan yang kemungkinan besar akan diakhiri. Teknik lain seperti ultrasonografi intrauterine. Ultrasound transabdominal merupakan alat yang paling sering digunakan pada deteksi antenatal CLP. Diagnosis Prenatal Deteksi prenatal dapat dilakukan dengan beragam teknik. Dengan waktu konseling dan rencana yang tepat. magnetic resonance imaging. Bahkan beberapa dapat dideteksi pada waktu kehamilan.

tipe celah ini tidak dapat didiagnosa hingga beberapa waktu. Namun tidak jarang.palatoskisis bilateral yang sering menyertai B. infeksi telinga serta gangguan gigi dan mulut dapat menambah tegaknya diagnosis. Celah dapat terlihat seperti sudut kecil pada bibir atau dapat memanjang dari bibir hingga ke gusi atas dan palatum. Masalah-masalah yang ditemukan pada bayi misalnya sulit menyusui.palatoskisis unilateral yang sering menyertai A.labioskisis inkomplit. yang terletak pada bagian belakang mulut dan tertutupi oleh mouth's lining. b. Diagnosa Postnatal Biasanya. celah hanya terdapat pada otot palatum molle (soft palate (submucous cleft). kolumela menjadi kecil. g. f. e. KLASIFIKASI Gambar: Labioskisis dan gnatoskisis a. Karena letaknya yang tersembunyi. G.labioskisis unilateral komplit. celah (cleft) pada bibir dan palatum segera didiagnosa pada saat kelahiran.mungkin untuk dapat melaksanakan perbaikan dari unilateral cleft lip pada minggu pertama kehidupan. gangguan berbicara. c.palatoskisis langit-langit lunak (palatum molle).palatoskisis langit-langit lunak dan keras (palatum molle dan palatum durum) . d.labioskisis bilateral. kadang sama sekali tidak ada.

Klasifikasi dari Cleft Lip dan Palate. CLP Unilateral Komplit . tidak terdapat pita simonart yang menghubungkan dasar alar ke kaki palatum di kartilago lateral bawah hidung sehingga mengakibatkan penyambungan abnormal pada muskulus orbikularis oris. dan alveolus (palatum komplit primer). CLP Unilateral Inkomplit  CLP Unilateral Komplit Celah unilateral komplit ditandai dengan gangguan pada bibir. batas nostril. tetapi masih memiliki nasal yang intak atau pita Simonart. adalah :  CLP Unilateral Inkomplit Celah unilateral inkomplit ditandai dengan berbagai derajat pemisahan bibir vertikal. Pada jenis ini.

Kernahan dan Stark menciptakan skema klasifikasi diagram “Y” dan modifikasinya terus digunakan di . CLP Bilateral Inkomplit CLP bilateral komplit merupakan celah yang terjadi dikedua sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung. system klasifikasi lain sering digunakan untuk penelitian maupun pencatatan data. Dapat terlihat adanya penonjolan pada daerah premaxilla. CLP Bilateral Komplit Meskipun banyak para ahli bedah yang menggunakan klasifikasi deskriptif dari cacat sumbing selama pengkajian awal pasien. CLP Bilateral Inkomplit  CLP Bilateral Komplit Jika celah bibir terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung. yang disebabkan tidak adanya hubungan dengan daerah lateral dari palatum durum.

dengan arah dari kanan ke kiri. Bibir disingkat sebagai L (lips). celah inkomplit (tidak lengkap) dengan huruf kecil dan huruf kecil dalam kurung untuk kelainan microform. H=Hard Palate. gusi disingkat sebagai A (alveolar). alveolus (A).1 LAHSHAL SYSTEM L=Lip. celah komplit (lengkap) dengan huruf besar. Huruf kecil mewakili struktur yang tidak cacat. Pemakaian sistem LAHSHAL ini juga sesuai dengan ICD(International Code Of Diagnosis). langit keras (H). langitIangit dibagi menjadi dua bagian yaitu H (hard palate) dan S (soft palate).1 .banyak cleft center. Saat ini. Akronim LASHAL menunjukkan anatomi bilateral dari bibir (L). S=Soft Palate       S selalu di tengah Yang mendahului S adalah bagian kanan dan sesudah S adalah bagian kiri Huruf besar menunjukkan bentuk celah total Huruf kecil menunjukkan bentuk partial Di dalam kurung adalah bentuk microform Strip berarti normal atau intak. Sedangkan Otto Kriens memperkenalkan suatu pengklasifikasian yang berbeda berdasarkan akronimnya. A=Alveolus. Diagram ini didasarkan pada pembagian embriologi atas langit primer (bibir dan alveolus) dan langit sekunder di foramen incisivus. system ini digunakan untuk pencatatan hasil dari Asosiasi American Cleft Palate dan Craniofacial. yang mana menunjukkan tidak ada celah. dan langit lunak (S).Bila norrnal (tidak ada celah) maka urutannya dicoret.

PENATALAKSANAAN Penanganan dari CLP meliputi kerjasama multidisiplin untuk mendapatkan hasil yang optimal dimulai sejak bayi hingga dewasa. Pemasangan grommets bila perlu 2. Dalam penanganan penderita Cleft lip dipedukan kerjasama para spesialis dalam suatu tim yang akan diatur dalam sebuah protokol Cleft lip.Evaluasi pendengaran dan telinga 4. yaitu:1 1. Pasien umur 3 bulan (the over tens) a. Pasien umur 1 . Operasi palatum b. Pasien umur 4 tahun Kalau bicara tetap jelek dipertimbangkan repalatografy atau pharyngoplasty. spesialis anak maupun pekerja sosial. Operasi bibir dan hidung b. Evaluasi telinga d. spesialis THT. Melakukan nasoendoskopi bagi yang memerlukan.H. b. c. speech therapist. Evaluasi bicara. Pencetakan model gigi c. Ini termasuklah kerjasama dari ahli bedah plastik. 5.4 tahun a. orthodontist. b. dimulai3 bulan pasca operasi. Evaluasi pendengaran .12bulan a. Pasien umur 10 . Pasien umur 6 tahun a. Evaluasi gigi dan rahang. Evaluasi pendengaran dan telinga 3. Penanganan CLP memerlukan rencana terapi yang lama dan panjang mengikut umur pasien dengan tujuan untuk memberikan hasil yang optimal. follow up dilakukan oleh speech pathologist. ahli fisioterapi. ahli psikologis. pembuatan model.

Evaluasi tulang-tulang muka b. Pasien umur 17 tahun a. keadaan tulang tengkorak dimana terjadi celah. .6. Pasien umur 12 -13 tahun a. sehingga terlihat sebagai bibir yang normal. 8. Pada kenyataannya banyak faktor yang berpengaruh di luar dari teknik perbaikan itu sendiri. Pada akhirnya. dan efek pertumbuhan dan perkembangan jaringan dari masing-masing individu. Operasi advancement osteotomy Le Fort I I. bila masih ada kekurangannya. Final touch untuk operasi-operasi yang dulu pemah dilakukan.PROGNOSIS Tindakan operasi dan rekonstruksi yang mendetail pada umumnya menghasilkan perbaikan yang lebih baik. Pasien umur 9-10 tahun Alveolar bone graft 7. hasil yang dicapai tergantung dari komplikasi yang terjadi.

p. Leksana. Gurtner GC. In: Buku ajar ilmu Bedah.R. 4. Alan B. In: Brunicardi F.availableathttp://emedicine. 5. 2011.medscape. Dianne C. (cited on18thFebruary2012. 2005. Sjamsuhidayat. editors. Spear SL. Cutting C. Cleft Lip Repair. De jong. editor. Pennsylvania: Elsevier Saunders. 2. USA: Lippincott Williams & Wilkins. Kang N. Eser Y. Cleft Lip and Palate. Grabb & Smith’s Plastic Surgery 6th Edition. Cleft lip and palate. Kelainan Bawaan pada kepala dan leher. p. 201-205. John W.H. Chirurgica Re-Package Edition. In: Thorne CH. Grayson B.DAFTAR PUSTAKA 1.C. 2189-2191. In: Townsend C. p. Scwartz’s Manual 0f Disease 8th Edition. Beasley RW. 13-5. p.S. Forest S.K. Patel P. 2004. Mirzanie H. 424-426 3.com/article/457 394- . Hopper RA.W. Aston SJ. p. EGC : Jakarta.M. Plastic and Reconstructive Surgery. Jogjakarta: Tosca Enterprise.S. Saleh M. Hongshik H. Bartlett SP. Randall S.D. Sabiston Textbook of Surgery 17th Edition. Craniofacial. 1173-1174 6.. 2007.

Related Interests