MUHAMMAD FAHMI B MOHD ZUBER 11-2010-269 Definisi Seksio sesarea ialah pembedahan untuk melahirkan janin dengan

membuka dinding perut dan dinding uterus. Indikasi Seksio Sesaria Indikasi seksio sesar dibagikan kepada indikasi menurut ibu dan indikasi menurut janin: a) Indikasi ibu iPlacenta previa totalis dan marginalis (Posterior). Dalam kepustakaan, kejadian perdarahan antepartum yang dilaporkan oleh peneliti dari negara berkembang berkisar antara 0,3%-4,3%. Sebab utama perdarahan antepartum umumnya adalah plasenta previa. iiPanggul sempit Holmen mengambil batas terendah untuk melahirkan janin ialah Conjugata Vera (CV) = 8 cm, dimana jika kurang dari ukuran ini ibu tidak dapat melahirkan janin normal, tapi harus diselesaikan denga SC. CV antara 8-10 cm boleh dicoba partus percobaan, baru setelah gagal dilakukan SC sekunder. iiiivRiwayat SC pada kehamilan sebelumnya. Cefalopelvic disproportion (CPD) yang merupakan ketidak seimbangan antara ukuran kepala dengan panggul. vviviiviiiixxTumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi. Stenosis servix/vagina. Ruptur uteri imminens. Partus lama. Partus tak maju Pre-eklampsi dan Hipertensi.

1

Bahaya peritonitis tidak sering terjadi. Parut pada uterus umumnya kuat. presentasi. Anemia berat. ada 2 macam yaitu melintang (secara Kerr) dan memanjang (secara Kernig). Presentasi bokong pada kehamilan cukup bulan hanya 3%-4% saja. Berikut ini merupakan jenis-jenis SC dengan indikasi dan keunggulanya masing-masing: a) Sectio sesarea klasik atau korporal (pembedahan cara sanger) : yaitu insisi memanjang pada segman atas uterus. iiiivSyok. sikap dan posisi janin. Jenis-jenis Seksio Sesaria.b) Indikasi Janin iKelainan letak. Gawat janin dinyatakan sebagai kontributor kenaikan angka operasi sesar sebesar 10%-15% atau sama dengan 10% dari seluruh indikasi operasi sesar. b) Sectio Sesarea Transperitonealis profunda : yaitu nsisi pada segmen bawah rahim merupakan teknik paling sering dilakukan. sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa 2 . Keunggulan pembedahan ini adalah : iiiiiiPerdarahan luka incisi tidak seberapa banyak. tetapi di Amerika serikat pada tahun 1985 dilaporkan. 79% dari seluruh presentasi bokong dilahirkan dengan operasi sesar. iiGawat janin. Kelainan kongenital.

banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri. Ruptur uterus umumnya bermanifestasi sebagai deselerasi denyut jantung janin. Ruptura uteri Diagnosis Ruptur Uterus Ruptur uterus mengacu kepada pemisahan insisi uterus lama disertai ruptur membran janin sehingga rongga uterus dan rongga peritoneum berhubungan. c) Sectio sesarea ekstra peritonealis : rongga peritoneum tidak dibuka dulu dilakukan pada pasien dengan infeksi intra uterin yang berat. placenta acreta. mioma uteri dan infeksi intra uterin yang berat. d) Caesarean section Hysterectomy : setelah seksio sesarea dikerjakan histerektomi dengan indikasi yaitu atonia uteri. sekarang jarang dilakukan. dan perbaikan defek uterus atau histerektomi jika perbaikan dianggap tidak mungkin. terapi pendarahan ibu. 3 . tidak keluar ke dalam rongga peritoneum ibu. Kurang dari 10 persen wanita yang mengalami ruptur uterus mengalami nyeri dan perdarahan sebagai temuan utama. Penatalaksanaan ruptur uterus antara lain adalah sesar darurat atas indikasi gawat janian. Pemisahan jaringan parut semacam ini sering disebut sebagai ³jendela´. Beberapa wanita mengalami penghentian kontraksi setelah ruptur. Temuan klinis lain yang berkaitan dengan ruptur uterus adalah iritasi diafragma akibat hemoperitoneum dan tidak diketahuinya tinggi janin yang terdeteksi sewaktu pemeriksaan dalam. Pada dehisens uterus. Seluruh atau sebagian dan janin atau plasenta menonjol ke dalam rongga peritoneum. atau keduanya. sehingga luka dapat sembuh. membran janin utuh dan janin atau plasenta.

American College of Obstetricians and Gynecologists (1999) menyimpulkan bahwa bukti ilmah masih inkonsisten atau terbatas. didelfis. wanita dengan insisi vertikal di segmen bawah uterus yang tidak meluas ke fundus dapat menjadi kandidat untuk Vaginal birth after ceasarean (VBAC). Sebaliknya. bikornuata. Pada tabel di bawah ini diperlihatkan angka ruptur uterus pada sesar. Angka ruptur uterus juga dilaporkan tinggi (sekitar 8 persen) pada wanita dengan riwayat sesar dan malformasi uterus unikornuata. Secara umum. Tabel 1. hanya sedikit insisi yang tidak meluas hingga ke segmen aktif.Ruptura uteri dan kontraindikasi persalinan normal Selama bertahun-tahun uterus dengan jaringan parut dianggap kontraindikasi persalinan karena khawatir akan ruptur uterus. berdasarkan indikasi insisi vertikal saat ini. Dalam 4 . Angka Ruptur Uterus Berdasarkan Jenis dan Lokasi Insisi Uterus Sebelumnya Tipe insisi uterus Perkiraan ruptur (%) Klasik Bentuk T Vertikal rendah 4-9 4-9 1-7 Tranversal rendah 0. Angka ruptur uterus pada wanita dengan riwayat insisi vertikal yang tidak meluas hingga ke fundus masih diperdebatkan.2-0. dan septata. riwayat insisi uterus klasik atau berbentuk T dianggap kontraindikasi untuk VBAC.5 American College of Obstetricians and Gynecologists : Vaginal birth after previous caesarean delivery. Jenis insisi uterus sebelumnya. pada pasien dengan jaringan parut transversal teratas di segmen bawah uterus beresiko kecil mengalami pemisahan jaringan parut simptomatik pada kehamilan berikutnya. Namun. angka terendah kejadian ruptur dilaporkan untuk insisi tranversal rendah dan tertinggi untuk insisi yang meluas hingga ke fundus-insisi klasik.

menemukan resiko ruptur uterus tiga kali lebih tinggi pada jumalah parut yang lebih dari satu.5%. Ruptura uteri merupakan komplikasi langsung yang dapat terjadi pada persalinan pervaginam pada bekas SC (PPBS). Faktor risiko itu adalah : Riwayat persalinan a) Jumlah SC sebelumnya iBerapa jumlah SC yang masih dianggap aman untuk PBBS sampai saat ini masih belum jelas. T-shaped 4-8%. meskipun kejadiannya kecil. kita harus dapat mengenali faktor risiko yang terdapat pada pasien sebelum dilakukannya persalinan pervaginam pada bekas SC (PPBS). Wanita yang pernah mangalami ruptur uterus lebih besar kemungkinannya mengalami kekambuhan.2-1. karena terdapatnya hasil yang berbeda dari berbagai penelitian. low vertikal 1-7% dan transversal 0.mempersiapkan laporan operasi setelah insisi uterus vertikal jenis apapun. b) Jenis parut iInsisi transversal rendah risikonya. iiSedangkan Miller dkk. menemukan bahwa riwayat persalinan pervaginam pada bekas SC menurunkan resiko terjadinya ruptur 5 . Mereka yag rupturnya terbatas di segmen bawah memiliki resiko kekambuhan sekitar 6 persen pada persalinan selanjutnya. sedangkan mereka yang rupturnya mencakup uterus atas memiliki resiko kekambuhan sekitar 1 dalam 3. Untuk menghindari terjadinya komplikasi ini. perlu didokumentasikan secara pasti luas jaringan parut dengan suatu cara yang tidak dapat disalahartikan oleh dokter berikutnya. iiPenelitian kohort yang besar oleh Zelop dkk. tapi dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas bagi ibu dan janin. kira-kira 1 % sedangkan insisi klasik 12%. c) Riwayat persalinan pervaginam iSuatu penelitian yang sangat besar menunjukkan efek protektif yang signifikan dari riwayat persalinan pervaginam pada bekas SC satu kali. tidak menemukan satu kasus ruptur uteri pun pada 501 pasien dengan riwayat SC 2 kali dan menjalani PBBS pada persalinan ketiganya. Phelan dkk. dan mungkin merupakan faktor protektif juga pada bekas SC dua kali. Kepustakaan lain menyatakan bahwa risiko terjadinya ruptur uterus pada bekas SC dengan insisi klasik adalah 4-9 %.

tidak terjadi ruptura uteri. Faktor Ibu a) Umur Suatu studi oleh Shipp dkk menyatakan bahwa usia diatas 30 tahun mungkin berhubungan dengan kejadian ruptur yang lebih tinggi.1% terjadi pada wanita tanpa riwayat persalinan pervaginam dan hanya 0.5 mm d) Malpresentasi 6 . b) Kehamilan ganda Hanya satu penelitian mengenai hal ini dan ternyata dari 92 wanita.8% bila tebalnya < 2. b) Anomali uterus Terdapat kejadian ruptur yang lebih tinggi pada wanita dengan anomali uterus.6-3. d) Interval persalinan iShipp dkk.2% pada wanita yang pernah mengalami persalinan pervaginam setelah SC. Karakteristik kehamilan saat ini a) Makrosomia Risiko ruptura uteri akan meningkat dengan meningkatnya berat badan janin karena terjadinya distensi uterus. e) Demam post partum setelah SC iDeman post partum SC merupakan suatu predisposisi penyembuhan luka yang jelek dan pada beberapa tempat hal ini merupakan kontraindikasi untuk dilakukannya PBBS.6% bila 2. mempunyai resiko 2. 0.5 mm dan 9.uterus. menyatakan bahwa waktu yang pendek antara SC dan percobaan persalinan pervaginam berikutnya dapat meningkatkan resiko terjadinya ruptur uterus karena tidak tersedia waktu yang adekuat untuk penyembuhan luka. iiWanita dengan interval persalinan kurang dari 18 bulan.3% dibandingkan dengan yang intervalnya lebih dari 18 bulan yaitu 1%.5 mm. Ruptur 1. c) Ketebalan segmen bawah rahim (SBU) Risiko terjadinya ruptur 0% bila ketebalan SBU > 4.

Skor Weinstein Weinstein Indikasi SC yang lalu Grade A Malpresentasi PI H Gemelli Grade B Plasenta previa atau Solusio Prematur Ketuban pecah Grade C Gawat janin CPD atau Distosia Prolaps tali pusat Grade D Makrosomia PJT 0 3 0 4 0 5 Tidak Ya 0 0 4 6 7 . melaporkan tidak terjadi ruptur pada 56 pasien yang dilakukan versi luar pada presentasi bokong saat hamil aterm. yaitu Skor dari Weinstein dan Alamia. iii- Terdapat dua metoda yang bisa digunakan untuk memprediksi hal ini. prosedur ini mungkin bisa berhubungan dengan terjadinya ruptur uterus.i- Flamm dkk. namun karena tidak ada data yang definitif. Tabel 2. ii- Keberhasilan PPBS dapat diprediksi sebelumnya berdasarkan data-data yang diperoleh baik dari anamnesis maupun pemeriksaan fisik terhadap pasien.

5 cm 4 5 6 Station dibawah ±2 Panjang serviks < 1 cm Persalinan timbul spontan 2 1 0 1 1 1 1 0 Nilai 2 Interpretasi :  Skor 7 ± 10. Skor Alamia 1 2 Riwayat persalinan pervaginam sebelumnya Indikasi SC sebelumnya Sungsang. keberhasilan 60.0% 8 . plasenta previa. gawat janin. Skor Alamia No.5 < 4 cm < 2.Interpretasi :  Jika Skor > 4 keberhasilan > 58%  Skor > 6 keberhasilan > 67%  Skor > 8 keberhasilan > 78%  Skor > 10 keberhasilan > 85%  Skor > 12 keberhasilan > 88% Tabel 3. keberhasilan 94. elektif 2 Distosia pada pembukaan < 5 cm Distosia pada pembukaan > 5 cm 3 Dilatasi serviks > 4 cm > 2.8%  0 ± 3 . keberhasilan 78.5%  4 ± 6 .

Namun. Jumlah Sesar Sebelumnya Risiko ruptur uterus meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya.Manajemen Persalinan pada Bekas SC Obat yang dapat digunakan untuk pematangan serviks pada bekas SC adalah Prostaglandin E2 gel. Saat ini. waktu saat dosis maksimum. interval titrasi dosis. Secara spesifik.5 ±0 1 % pada kedua kelompok. Kedua metoda ini tampaknya cukup aman dan efektif pada pasien yang akan menjalani PPBS. kira-kira 0. yang pemberiannya bisa langsung pada forniks posterior vagina atau dioleskan pada kanal serviks. Goetzl dkk. terapat kesepakatan umum bahwa harus dilakukan perbaikan bedah terhadap jaringan parut yang terbuka hanya jika dijumpai perdarahan yang signifikan. Pemisahan asimptomatik umumnya tidak memerlukan laparatomi eksplorasi dan perbaikan. tidak diketahui apa efek dokumentasi suatu jaringan parut asimptomatik pada reproduksi atau rute persalinan selanjutnya. Mengenai apakah terdapat perbedaan dosis Oksitosin pada wanita tanpa dan dengan riwayat SC dihubungkan dengan terjadinya ruptur uterus masih merupakan pertanyaan. melakukan suatu panelitian case control tentang hal ini. namun menurut sebagian dokter lain eksplorasi uterus semacam ini dirasakan tidak diperlukan. Memeriksa Jaringan Parut Meskipun sebagian dokter kebidanan secara rutin mencatat integritas jaringan parut lama dengan palpasi setelah persalinan pervaginam. dan dari hasil metaanalisis ternyata kejadian ruptur uterus pada bekas SC dibandingkan tanpa riwayat SC yang mendapat infus Oksitosin adalah seimbang. Misoprostol yang saat ini sangat banyak digunakan untuk pematangan serviks pada wanita tanpa riwayat SC ternyata tidak boleh digunakan untuk tujuan yang sama pada bekas SC karena tingginya kejadian robeknya parut. dan menemukan tidak ada perbadan yang signifikan dalam hal penggunaan oksitosin antara yang belum pernah SC dengan yang pernah. Infus Oksitosin merupakan metoda yang dominan untuk menginduksi ataupun augmentasi persalinan. dosis maksimum. baik dalam hal dosis awal. terjadi peningkatan sekitar tiga kali lipat resiko ruptur uterus pada wanita yang mencoba melahirkan per vaginam dengan riwayat duakali sesar dibandingkan dengan riwayat satu kali 9 .

Sterilisasi Elektif Keinginan untuk sterilisasi permanen pada seorang wanita dengan riwayat sesar bukan merupakan indikasi untuk mengulang sesar karena morbiditas akibat persalinan pervaginam dan ligasi tuba pascapartum jauh lebih kecil daripada morbiditas akibat sesar berulang. Oksitosin dan Analgesia Epidural Pemakaian oksitosin untuk menginduksi atau memperkuat persalinan diduga berperan dalam ruptur uterus pada wanita dengan riwayat sesat. percobaan VBAC harus dilakukan di institusi yang memiliki. Hal ini terbukti tidak benar dan sebagian besar otoritas tidak ragu melakukan analgesia epidural untuk wanita yang berupaya melakukan VBAC. Buletin tersebut antara lain membuat ³Karena ruptur uterus dapat sangat berbahaya. Selain itu. sekitar 60 sampai 80 persen percobaan persalinan setelah sesar menghasilkan pelahiran pervaginam. Indikasi Sesar Sebelumnya Angka keberhasilan untuk percobaan persalinan sedikit banyak bergantung pada indikasi sesar sebelumnya. Angka keberhasilan agak meningkat jika sesar sebelumnya dilakukan atas indikasi presentasi bokong atau distress janin dibandingkan jika indikasinya adalah distosia. pemakaian analgesia epidural diperdebatkan karena adanya kekhawatiran bahwa teknik ini dapat menyamarkan nyeri yang ditimbulkan oleh ruptur uterus. American College of Obstetricians and Gynecologists mengambil posisi bahwa wanita dengan riwayat dua kali sesar transversal-rendah dapat dijadikan kandidat untuk VBAC. 10 . Rekomendasi VBAC Rekomendasi terakhir mengenai VBAC oleh American College of Obstetricians and Gynecologists diperlihatkan di Tabel 4. American College of Obstetricians and Gynecologists (2002) baru-baru ini menyarankan untuk tidak menggunakan prostaglandin untuk mematangkan serviks atau menginduksi persalinan pada wanita yang mencoba melahirkan per vaginam karena meningkatnya risiko ruptur uterus. American College of Obstetricians and Gynecologists menerbitkan sebuah Practice Bulletin pada tahun 1999 yang menganjurkan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam mencoba persalinan per vaginam.sesar. Dahulu. Faktor prognostik yang paling mendukung adalah riwayat pelahiran pervaginam. Secara umum.

Rekomendasi American College of Obstetricians and Gynecologists (1999) untuk Pemilihan Kandidat Persalinan per Vaginam Setelah Sesar (VBAC) Kriteria Seleksi Riwayat satu atau dua sesar transversal rendah Panggul secara klinis lapang Tidak ada jaringan parut uterus lain atau riwayat ruptur Tersedia dokter selama persalinan aktif yang mampu memantau persalinan dan melakukan sesar darurat Ketersediaan anestesi dan petugasnya untuk sesar darurat Kesimpulan Persalinan spontan lebih diharapkan pada wanita dengan riwayat SC.Tabel 4. penelitian yang telah dilakukan selama ini menyatakan bahwa induksi persalinan aman selama terdapat indikasi pada ibu dan janin serta pasien merupakan kandidat yang memenuhi syarat untuk persalinan pervaginam bekas seksio sesarea (PPBS). 11 .

cesarean Delivery and Postpartum Hysterectomi. 537-60 2. Wiknjosastro H. 2001.Daftar pustaka 1. Type and indication of C-section.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiahkedokteran/kandungan-dan-kebidanan-obstetri-ginekologi/2010/12/06/persalinanpervaginam-pada-bekas-sc-ppbs/ 12 .net/surgicalprocedures/caesarean-section-types-and-indications. Saifuddin AB. 3. Rachimhadhi T editor: Ilmu kebidanan Edisi ketiga. Diunduh dari: http://www.htm 4. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. MacDonald. Jakarta. Diunduh dari: http://www. William Obstetric 21th ed.2006: 86374. Grant: Operative Obstetric. Persalinan pervaginam pada bekas SC. cetakan kesembilan .medindia.exomedindonesia. Cunningham.