You are on page 1of 6

ALQURAN

A. Ikhtisar Al-Quran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS, yang membacanya dinilai sebagai ibadah. Kemuliaan dan kemukjizatan al-Quran bisa ditinjau dari 3 aspek, yaitu sejarah, bahasa dan kandungannya. Aspek sejarah meliputi: 1. Sejarah pribadi Rasulullah SAW yang meliputi integritas pribadi beliau, akses terhadap ajaran agama sebelumnya, kondisi masyarakat Arab pada waktu itu; 2. Sejarah pengumpulan, penulisan dan pembukuan Al-Quran hingga saat ini. Aspek bahasa untuk membuktikan bahwa redaksi al-Quran tidak sama dengan redaksi manusia, bahkan yang keluar dari mulut yang sama yakni hadis Rasulullah SAW, juga keindahan bahasa dan sastranya yang tak tertandingi oleh siapapun. Aspek isi atau kandungan (dan ini hal paling penting) meliputi informasi-informasi masa lalu, ramalanramalan masa depan, kandungan-kandungan ilmiahnya yang sesuai dengan fakta-fakta di alam ini, yang sekali lagi membuktikan bahwa tidak mungkin al-Quran dibuat oleh manusia. Al-Quran adalah petunjuk, sehingga tanpa petunjuk manusia akan tersesat. Tersesat di jalan raya masih belum terlalu fatal, tetapi sesat di jalan kehidupan hancurlah selamanya. Untuk mendapat petunjuk dari al-Quran harus hidup bersama dengan dengannya dan bahagia di bawah naungannya, dan itu tidak lain adalah dengan mengamalkan isinya. Untuk mengamalkannya tidak bisa kecuali dengan mencintainya, dan bagaimana bisa tertarik untuk mencintainya jika tidak mengenalnya dan memahami keutamaan dan keistimewaannya. B. Pendahuluan Al-Quran, kitab suci paling istimewa dan luarbiasa di muka bumi ini. Ia bukan kitab dari manusia tetapi jelas untuk manusia, ia bukan ucapan manusia tetapi bisa difahami oleh manusia. Al-Quran adalah Kalamullah (firman Allah) yang diturunkan untuk umat manusia dengan cara diwahyukan kepada kepada Rasul mulia, Nabiyullah Muhammad SAW, seorang manusia seperti kita, disampaikan melalui perantaraan malaikat Jibril AS. Al-Quran sampai kepada kita saat ini tetap utuh dan tidak ada perubahan sedikitpun walau satu huruf, karena turun temurun disampaikan kepada kita secara mutawatir (yakni diriwayatkan oleh orang banyak kepada orang banyak dalam jumlah yang tidak ada kemungkinan mereka bersepakat untuk berbohong. Dari uraian pengertian al-Quran di atas, ada beberapa hal yang menjadi tanda tanya besar bagi orang-orang yang kritis dan mereka yang ingin meningkatkan keimanannya terhadap al-Quran. Pertama bagaimana kita bisa yakin bahwa al-Quran bukan ucapan (ciptaan) Nabi Muhammad SAW, padahal tidak ada seorangpun yang menyaksikan Jibril AS datang kepada beliau? Apakah tidak mungkin beliau mendapatkan ajaran-ajaran tersebut tokoh-tokoh agama terdahulu seperti para pendeta Kristen dan rahib-rahib Yahudi? Selanjutnya bagaimana kita bisa yakin bahwa ajarannya adalah kebenaran dan kita terima saat ini tanpa ada perubahan sedikitpun? Beberapa pertanyaan tersebut harus bisa kita jawab dengan meyakinkan tanpa adanya sikap apologis dan debat kusir. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana selanjutnya jika pertanyaanpertanyaan tersebut sudah mendapatkan jawabannya. Adakah kita mau berkomitmen untuk menjadikannya sebagai teman hidup kita, mencintainya dengan sepenuh hati karena Allah dan hidup bahagia di bawah naungannya. Kita mengatakannya sebagai Kitab Suci. Apa artinya kitab suci? Tentu saja kita kan tidak memperlakukan sebagai

benda antik yang langka, yang dipuja-puja dan diburu berapapun harganya. Setelah dimiliki dimasukkan dalam kotak kaca nan indah berhiaskan emas bertatahkan mutiara, dan hanya disimpan di tempat paling aman sehingga tidak ada seprangpun bisa menjamahnya. Lalu bagaimana dengan menjadikan al-Quran sebagai pedoman atau petunjuk dalam kehidupan kita, karena terang sekali Allah menyatakan bahwa al-Quran diturunkan sebagai hudan lin nas (petunjuk bagi manusia)? Apakah kita akan bersikap seperti orang yang ingin melakukan pengembaraan dan berbekal sebuah kompas. Lalu cukup dengan hanya mengantongi kompas itu tanpa tahu cara penggunaannya, ia berkeyakinan otomatis dengan sendiri akan mendapat petunjuk arah mata angin? Atau seperti orang yang berjalan di tengah malam gelap gulita, lalu merasa pasti akan mendapatkan penerangan karena sudah membekal lampu senter padahal ia tidak pernah mau tahu tentang cara pemakaiannya dan bahkan tidak keinginan untuk memakainya? Dengan demikian betapa pentingnya kita mengenal al-Quran dan terutama bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuk darinya.

Keutamaan-Keutamaan Al Quran
[1] al-Quran adalah Cahaya Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Quran dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah taala di dalam firman-Nya (yang artinya), Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki. (QS. asy-Syura: 52) Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Quran dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya. (lihat al-Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38) Allah taala berfirman (yang artinya), Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang. (QS. an-Nisaa: 174) Allah taala berfirman (yang artinya), Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. (QS. al-Baqarah: 257) Allah taala berfirman (yang artinya), Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Anaam: 122)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata mengenai tafsiran ayat ini, Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak. (lihat al-Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 35) [2] al-Quran adalah Petunjuk Allah taala berfirman (yang artinya), Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Baqarah: 1-2). Allah taala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya al-Quran ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar. (QS. al-Israa: 9). Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat al-Quran merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah taala berfirman (yang artinya), Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shaad: 29). Allah taala berfirman (yang artinya), Apakah mereka tidak merenungi al-Quran, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya? (QS. Muhammad: 24). Allah taala berfirman (yang artinya), Apakah mereka tidak merenungi al-Quran, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan. (QS. an-Nisaa: 82) Allah taala berfirman (yang artinya), Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka. (QS. Thaha: 123). Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma berkata, Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Quran dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat. Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49). Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi rahimahullah menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah: 1. 2. 3. 4. Membenarkan berita yang datang dari-Nya, Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman, Mematuhi perintah, Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 515 cet. Muassasah ar-Risalah)

[3] al-Quran Rahmat dan Obat Allah taala berfirman (yang artinya), Wahai umat manusia! Sungguh telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian (yaitu al-Quran), obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, hidayah, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57). Allah taala berfirman (yang artinya), Dan Kami turunkan dari al-Quran itu obat dan rahmat bagi

orang-orang yang beriman. Akan tetapi ia tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. al-Israa: 82) Syaikh as-Sadi rahimahullah berkata, Sesungguhnya al-Quran itu mengandung ilmu yang sangat meyakinkan yang dengannya akan lenyap segala kerancuan dan kebodohan. Ia juga mengandung nasehat dan peringatan yang dengannya akan lenyap segala keinginan untuk menyelisihi perintah Allah. Ia juga mengandung obat bagi tubuh atas derita dan penyakit yang menimpanya. (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 465 cet. Muassasah ar-Risalah) Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan pasti akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan meliputi mereka, para malaikat pun akan mengelilingi mereka, dan Allah pun akan menyebut nama-nama mereka diantara para malaikat yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Dua wa atTaubah wa al-Istighfar [2699]) [4] al-Quran dan Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi Allah taala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah dan mendirikan sholat serta menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka berharap akan suatu perniagaan yang tidak akan merugi. Supaya Allah sempurnakan balasan untuk mereka dan Allah tambahkan keutamaan-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Berterima kasih. (QS. Fathir: 29-30) Allah taala berfirman (yang artinya), Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang akan menyelamatkan kalian dari siksaan yang sangat pedih. Yaitu kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kalian pun berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Maka niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik di surga-surga and. Itulah kemenangan yang sangat besar. Dan juga balasan lain yang kalian cintai berupa pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. ash-Shaff: 10-13) Allah taala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa dan harta mereka, bahwasanya mereka kelak akan mendapatkan surga. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka berhasil membunuh (musuh) atau justru dibunuh. Itulah janji atas-Nya yang telah ditetapkan di dalam Taurat, Injil, dan al-Quran. Dan siapakah yang lebih memenuhi janji selain daripada Allah, maka bergembiralah dengan perjanjian jual-beli yang kalian terikat dengannya. Itulah kemenangan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 111) [5] al-Quran dan Kemuliaan Sebuah Umat Dari Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan Madinah, pent). Pada waktu itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka Umar pun bertanya kepadanya,

Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?. Nafi menjawab, Ibnu Abza. Umar kembali bertanya, Siapa itu Ibnu Abza?. Dia menjawab, Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami. Umar bertanya, Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?. Maka Nafi menjawab, Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah azza wa jalla dan ahli di bidang faraidh/waris. Umar pun berkata, Adapun Nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam memang telah bersabda, Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.. (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [817]) Dari Utsman bin Affan radhiyallahuanhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya. (HR. Bukhari dalam Kitab Fadhail al-Quran [5027]) [6] al-Quran dan Hasad Yang Diperbolehkan Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki yang diberikan ilmu oleh Allah tentang al-Quran sehingga dia pun membacanya sepanjang malam dan siang maka ada tetangganya yang mendengar hal itu lalu dia berkata, Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan. Dan seorang lelaki yang Allah berikan harta kepadanya maka dia pun menghabiskan harta itu di jalan yang benar kemudian ada orang yang berkata, Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.. (HR. Bukhari dalam Kitab Fadhail alQuran [5026]) [7] al-Quran dan Syafaat Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Bacalah al-Quran! Sesungguhnya kelak ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafaat bagi penganutnya. (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [804]) [8] al-Quran dan Pahala Yang Berlipat-Lipat Dari Abdullah bin Masud radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah maka dia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf. (HR. Tirmidzi dalam Kitab Tsawab al-Quran [2910], disahihkan oleh Syaikh al-Albani) [9] al-Quran Menentramkan Hati Allah taala berfirman (yang artinya), Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram. (QS. ar-Rad: 28). Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna mengingat Allah di sini adalah mengingat/merenungkan al-Quran. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa

merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan alQuran (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324) [10] al-Quran dan as-Sunnah Rujukan Umat Allah taala berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan juga ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. (QS. an-Nisaa: 59) Maimun bin Mihran berkata, Kembali kepada Allah adalah kembali kepada Kitab-Nya. Adapun kembali kepada rasul adalah kembali kepada beliau di saat beliau masih hidup, atau kembali kepada Sunnahnya setelah beliau wafat. (lihat ad-Difa anis Sunnah, hal. 14) [11] al-Quran Dijelaskan oleh as-Sunnah Allah taala berfirman (yang artinya), Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr/al-Quran supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka mau berpikir. (QS. an-Nahl: 44). Allah taala berfirman (yang artinya), Barangsiapa menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. (QS. an-Nisaa: 80). Allah taala berfirman (yang artinya), Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Rasulullah, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir. (QS. al-Ahzab: 21) Mak-hul berkata, al-Quran lebih membutuhkan kepada as-Sunnah dibandingkan kebutuhan as-Sunnah kepada al-Quran. (lihat ad-Difa anis Sunnah, hal. 13). Imam Ahmad berkata, Sesungguhnya as-Sunnah itu menafsirkan al-Quran dan menjelaskannya. (lihat ad-Difa anis Sunnah, hal. 13) Wallahu alam bish showab. Wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil alamin. Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel Muslim.Or.Id