You are on page 1of 46

SISTEM PENCERNAAN PEMBAHASAN KASUS SISTEM PENCERNAAN MAKALAH DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS ILMU DASAR KEPERAWATAN I Dosen

SGD : Lia Nurlianawati., S.Kep., Ners, M.Kep

Disusun Oleh : Kelas B (kecil)

1. Indiyani Ratnaningsih 2. Jaka Pamungkas 3. Lia Fitriyani 4. Melda Nopian T.R 5. Nispi Rahayu

1. Nur Hamzah 2. Noer Syam 3. Ria Sutriani 4. Rinrin Apriliani

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI KENCANA BANDUNG PROGRAM STUDI NERS 2014
1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Fungsi utama system pencernaan adalah memindahkan nutrient, air, dan elektrolit dari makanan yang kita telan ke dalam lingkungan internal tubuh. Makanan yang di telan merupakan sumber energy atau bahan bakar yang esensial. Bahan bakar tersebut digunakan oleh sel untuk menghasilkan ATP untuk melaksanakan berbagai aktifitas yang memerlukan energi, misalnya transforaktif, kontraksi, sistesis dan sekresi. Makanan juga merupakan sumber bahan baku untuk memperbaharui dan menambah jaringan tubuh. Tindakan makan tidak secara otomatis menyebabkan molekul-molekul jadi yang ada di makanan tersedia bagi sel tubuh sebagai sumber bahan bakar atau bahan baku. Makanan mula-mula harus dicerna, atau di uraikan secara biokimiawi, menjadi molekul-molekul kecil sederhana yang dapat diserap dari saluran cerna kedalam system sirkulasi untuk di distribusikan ke sel-sel. Dalam keadaan normal, 95% dari makanan yang tertelan dapat digunakan oleh tubuh. Karena itu, rangkaian dalam akuisisi nutrient adalah ingesti, pencernaan, penyerapan, distribusi dan pemakaian.

1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Untuk mengetahui definisi dari sistem pencernaan 1.2.2 Untuk mengetahui fungsi dari sistem pencernaan 1.2.3 Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi sistem pencernaan 1.2.4 Untuk mengetahui mnfaat dari organ-organ sistem pencernaan

1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas kami rumuskan item masalah yang akan dibahas pada penulisan makalah ini, yaitu : 1.3.1 Sistem pencernaan pada manusia 1.3.2 Proses penelanan makanan

2

BAB II PEMBAHASAN TEORI

2.1 Pendahuluan System pencernaan terdiri dari saluran pencernaan(alimentar), yaitu

tubamuskular panjang yang merentang dari mulut sampai anus, dan organ-organ aksesoris, seperti gigi, lidah, kelenjar saliva, hati, kandung ampedu, dan prankeas. Saluran pencernaan yang terletak dibawah area diafragma disebut salurangastro intestinel(GI). A. Fungsi sistem pencernaan. Fungsi pertama system ini adalah untuk menyediakan makanan, air dan elektrolit bagi tubuh dari nutrien yang dicerna sehingga siap diabsorepsi. Pencernaan berlangsung secara mekanik dan kimia B. Gambaran garis besar saluran pencernaan (1) Dinding saluran tersusun dari empat lapisan jaringan dasar dari lumen kearah luar. Komponen lapisan pada setiap regia berfariasi sesuai fungsi regia. a. Mukosa (membrane mukosa) tersusun dari tiga lapisan 1. Epithelium yang melapisin yang berfungsi untuk perlingdungan, sekresi, dan absorpsi. Dibagian ujung oral dan anal saluran, lapisannya tersusun dari epithelium skuamosa bertinggat tidak terkranisasi untuk perlindungan. Lapisan ini terdiri dari epithelium kolumnar simpel dengan sel goblet diarea tersebut yang dikhususkan untuk sekresi dan absorpsi. 2. Lamina propia adalah jaringan ikat areolar yang menopang epithelium. Lamina ini mengandung pembuluh darah, limfatik, nodulus limfe, dan beberapa jenis kelenjar. 3. Muskularis mukosa terdiri dari lapisan silkular dalam yang tipis dan lapisan otot polos longitudinal luar b. Submukosa terdiri dari jaringan ikat areolar yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfatik, beberapa kelenjar submukosal dan pleksus serabut saraf, serta sel-sel ganglion yang disebut pleksus meissner(pleksus submukosal). Submukosal mengikat mukosa ke muskularis eksterna.

3

c. Muskularis eksterna terdiri dari dua lapisan otot, suatu lapisan sirkular dalam dan satu lapisan longitudilan luar. Kontraksi lapisan sirkular mengkonstriksi lumen saluran dan konstraksi lapisan longitudinal memperpendek dan memperlebar lumen saluran. Kontraksi ini

mengakibatkan gelombang peristalsis yang menggerakan isi saluran kearah depan. 1. Muskularis eksternaterdiri dari otot-otot rangka dimulut, faring, dan esophagus atas serta otot polos pada saluran selanjutnya. 2. Pleksus auerbach(pleksus mienterik) yang terdiri dari serabut saraf dan sel ganglion para simpatis, terletak diantara lapisan otot sirkular dalam dan longitudinal luar. d. Serosa (adventesia), lapisan keempat dan paling luar juga disebut peritoneum visceral. Lapisan ini terfdiri dari membrane serosa jaringan ikat renggang yang dilapisi epithelium skuamusa simpel. Dibawah area diafragma dan dalam lokasi dan epithelium skuamosa menghilang dan jaringan ikat bersatu degan jaringan ikat lainnya. Area tersebut disebut sebagai adventesia. (2) Peritoneum, mesenterium, dan omentum abdominopelvis adalah membrane selosa terlebar dalam tubuh. a. Peritoneum parietal melapisi rongga abdominopelvis. b. Peritoneum visceral membungkus organ dan terhubungkan ke peritoneum parietal oleh berbagai lipatan. c. Rongga peritoneal adalah ruang potensial antara piseral dan peritoneum parietal. d. Mesenterium dan omentum adalah lipatan jaringan peritoneal berlapis ganda yang merefleks balik dari peritoneum visceral. Lipatan ini berfungsi untuk mengikat organ-organ abdominal satu sama lain dan

melabuhkannya ke dinding abdonima belakang. Pembuluh darah, limfatik, dan saraf terletak dalam lipatan peritoneal. 1. Omentum besar adalah lipatan gandda berukuran besar yang melekat pada duodenum lambung dan usus besar. Lipatan ini tergantung seperti clemek diatas usus.

4

2. Omentum kecil menopang lambung dan duodenum sehingga terpisah dari hati. 3. Mesokolon melekatkan kolon kedinding abdominal belakang. 4. Ligamen falsiformis melekatkan hati kedinding abdominal depan dan diafragma. e. Organ yang tidak terbungkus peritoneum, tetapi hanya tertutup olehnya disebut retroperitoneal(dibelakang peritoneum). Yang termasuk

retroperitoneal antara lain: pancreas, dua denum, ginjal, rectum, kandung kemih, dan beberapa organ reproduksi perempuan. C. Kendali saraf pencernaan. SSO menginerfasi keseluruhan saluran pencernaan, kecuali ujung atas dan ujung bawah yang dikendalikan secara volnter. 1. Impuls parasimpatis yang dihantarkan dalam saraf vagus(CN X) mengeluarkan efek stimulasi konstan pada tonus otot polos dan bertanggung jawab untuk peningkatan keseluruhan aktifitas. Efek ini meliputi motilitas dan sekresi cairan pencernaan. 2. Impuls simpatis yang dibawa medulla spinalis dalam saraf splanknik, menghambat kontraksi otot polos saluran, mengurangi motalitas, dan menghambat sekresi cairan pencernaan. 3. Plenkus meisner dan auerbach merupakan sisi sinaps untuk serabut praganglionik parasimpatis. Pleksus ini juga berfungsi untuk pengaturan kontraktil local dan aktifitas sekretoris saluran.

2.2 Fisiologi Sistem Pencernaan 1. Rongga Mulut Rongga oral adalah jalan masuk menuju system

pencernaan dan berisi organ aksesori dalam pencernaan. yang proses berfungsi awal Rongga

vestibulum terletak diantara gigi dan bibir dan pipi sebagai batas luarnya. Rongga oral
5

utama dibatasi gigi dan gusi dibagian depan, palatum lunak dank eras dibagian atas, lidah diagian bawah, dan orofaring dibagian belakang. 1. Bibir tersusun dari otot rangka(orbikularis mulut) dan jaringan ikat. Organ ini berfungsi untuk menerima makanan dalam produksi bicara. a. Permukaan luar bibir dilapisikulit yang mengandung folikel rambut, kelenjar keringat serta kelenjar sebasea. b. Area transisional memiliki epidermis transparan. Bagian ini tampak merah karna dilewati oleh banyak kapiler yang dapart terlihat. c. Permukaan dalam bibir adalah membrane mukosa. Bagian frenlum labia melekat membrane mukosa pada gusi digaris tengah. 2. Pipi mengandung otot buksinatormastikasi. Lapisan epithelial pipi merupakan subjek abrasi dan sel secara konstan terlepasuntuk kemudian diganti dengan sel-sel baru yang membelah dengan cepat. 3. Lidah diletakan pada dasar mulut pada frenulun untuk saat lingua. Lidah

berfungsi makanan

menggerakkan dikunyah atau dan

ditelan,untuk

pengecapan,

dalam produksi bicara. a. Otot-otot berawal jaringan ekstrinsik pada diluar tulang lidah lidah dan serta

berfungsi dalam pergerakan lidah secara keseluruhan. b. Otot-otot intrinsiklidah memiliki serabut yang menghadap ke berbagai arah untuk membentuk sudut satu sama lain. Ini memberikan mobilitas yag besar pada lidah. c. Papila adalah elefasi jaringan mukosa dan jaringan ikat pada permukaan dorsa lidah. Papilla-papila ini menyebabkan teksture lidah menjadi kasar. (1) Papilla fungiformis dan papilla sirkumvalata memiliki kuncup kuncup pengecap.

6

(2) Sekresi berair dari kelenjar von ebner, terletak diotot lidah, bercampur dengan makanan pada permukaan lidah dan membantu pengecapan rasa. d. Tonsil-tonsil lingua adalah agregasi jaringan limvoid pada sepertiga bagian belakang lidah 4. Kelenjar saliva mensekresi saliva ke dalam rongga oral. Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mucus. a. Ada tiga pasang kelenjar saliva (1) Kelenjar parotid adalah kelenjar saliva terbesar, terletak agak kebawah dan didepan telinga dan membuka melalui duktus parotid(stensen) menuju suatu elevasi kecil(papilla) yang terletak berhadapan dengangigi molar kedua sisi. (2) Kelenjar submaksilar kurang lebih sebesar kacang kenari dan terletak permukaan dalam pada mandibula serta membuka melalui duktuswharton menuju kedasar mulut pada kedua sisi frenulum lingua. (3) Kelenjar sublingual terletak didasar mulut dan membuka melalui diktus sublingual kecil menuju kedasar mulut. b. Komposisi saliva. Saliva terutama terdiri dari sekresiselosa, yaitu 98% air dan mengandung enzim amylase serta berbagai jenis ion(natrium, klorida, bikarbonat, dan kalium), juga sekresi mukus yang lebih kental dan lebih sedikit yang mengandung gllikoprotein(musin) ion, dan air. c. Fungsi saliva (1) Saliva melarutkan makanan secara kimia untuk pengecapan rasa. (2) Saliva melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan. (3) Amylase pada saliva mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan maltosa, suatusakarida. (4) Zat buangan seperti asam urat dan urea, serta berbagai zat lain seperti obat, virus, dan logam diekresi kedalam saliva.

7

(5)

Zan antibakteri dan antibody dalam saliva berfungsi untuk membersihkan rongga oral dan membantu memelihara

kesehatan oral serta mencegah kerusakan gigi. d. Kendali saraf pada sekresi saliva (1) Aliran saliva dapat dipicu melalui stimulus psikis(pikiran akan makanan), mekanis(keberadaan makanan), atau kimiawi(jenis makanan). (2) Stimulus dibawa melalui serabut aferen dalam saraf cranial V, VII; XI dan X menuju nuklai salvatori inferior dan superior dalam medulla. Semua kelenjar saliva dipersarafi saraf simpatis dan parasimpatis. (3) Volume dan komposisi saliva bervariasi sesuai jenis stimulus dan jenis inervasinya. a. Stimulasi saraf simpatis mengakibatkan vasobilatasi pembulu darah dan sekresi berair(serosa) yang banyak sekali. b. Stimulasi simpatis mengakibatkan vasokontriksi pembuluh darah dan sekresi mukus yang lebih kental dan lengket. Obatobatan yang mengandung penghambat kolinergik

mengakibatkan terjadinga sensasi mulut kering. c. Pada manusia normal saliva yang disekresi permenit adalah sebanyak 1ml. saliva yang disekresi dapat mencapai 1L sampai 1,5L dalam 24jam. 5. Gigi tersusun dalam kantong kantong pada mandibula dan maksila a. Anatomi gigi

8

(1)

Setiap lengkung barisan gigi pada rahang membentuk lengkung gigi. Lengkung bagian atas lebih besar daripada bagian bawah sehingga gigi gigi atas secara normal akan menutup gigi bawah.

(2)

Manusia memiliki 2 susunan gigi : gigi primer(desiduous, gigi susu) dan gigi sekunder (permanen).

a.

Gigi primer dalam setengah lengkung gigi terdiri dari dua gigi seri, satu taring, dua graham, untuk total keseluruhan 20 gigi.

b.

Gigi sekunder mulai keluar dalam usia 5 sampai 6 tahun. Setengah dari lengkung gigi terdiri dari 2 gigi seri, 1 taring, 2 premolar, dan 3 graham, untuk total keseluruhan 32 buah. Graham ketiga disebut “gigi bungsu”.

(3)

Komponen gigi a. Mahkota adalah bagian gigi yang terlihat. Satu sampai tiga akar yang tertanam terdiri dari bagian gigi yang tertanam kedalam prosesus(kantong) alveolar tulang rahang. b. Mahkota dan akar bertemu pada leher yang diselubungi gingival(gusi) c. Membrane periodontal merupakanjaringan ikat yang

melapisi jaringan ikat yang melapisi kantong alveolar dan melkat pada sementum diakar. Membrane ini menahan gigi dirahang. d. Rongga pulpa dalam mahkota melebar kedalam saluran akar, berisi pulpa gigi yang mengandung pembuluh darah dan saraf. Saluran akar membuka ketulang melalui foramen apical.

9

e.

Dentin menyelubungi rongga pulpa dan membentuk bagian terbesar gigi. Email terdiri dari 97% zat anorganik(terutama kalsium fosfat) yang merupakan zat terkeras dalam tubuh. Zat ini berfungsi dalam tubuh untuk melindung, tetapi dapat tererosi oleh enzim dan asam yang diproduksi bakteri mulut dan mengakibatkan karies gigi.

b.

Fungsi gigi. Gigi berfungsi dalam proses mastikasi(pengunyahan). Makanan yang masuk dalam mulut dipotong menjadi bagian bagian kecil dan bercampur dengan saliva untuk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan. A. Proses menelan (deglutisi) menggerakan makanan dari faring menuju esophagus, ada tiga fase yaitu : 1. Fase voluter. Lidah menekan palatum keras saat rahang menutup dan mengarahkan borus kearah orovalin. 2. Fase faring. Borus makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim infuse ke pusat menelan dalam medulla dan batang otak bagian bawah. reflex yang terjadi adalah penutupan semua lubang kecuali esophagus sehigga makanan bisa masuk. a. Lidah menekan palatum keras dan menghalangi makanan kembali kemulut b. Otot palatum lunak dan uvula mengangkat palatum lunak untuk menutup saluran nasal sehingga makanan tidak masuk kerongga nasal. c. Laring terelevasi, glottis tertutup, dan epiglottis condong kebelakang menutup mulut laring yang menahan makanan sehingga tidak memasuki saluran pernafasan. d. Sfingter esophagus atas pada mulut esophagus secara normal menyempit untuk mencegan udara memasuki esophagus, dan reflex relaksasi terjadi saan otot faring berkontraksi dan laring berelevasi. e. Gelompang peristaltic kontraksi yang bermula pada otot faring menggerakan bolus kedalam esophagus.
10

3.

Fase esophagus, sfigter esophagus bawah, suatu area sempit otot polos pada ujung bawah esophagus dalam

kontraksitonus yang konstan, berelaksasi setelah melakukan gelombang peristaltic dan memungkinkan makanan

terdorong kedalam lambung, sfingter kemudian berkonstriksi untuk mencegah regurgitasi(refluks) isi lambung kedalam esophagus.

2. Faring Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (esofagus). Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak bersimpangan antara jalan napas dan jalan makanan, letaknya dibelakan rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang. Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung dengan perantaraan lubang bernama koana. Keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium. Tekak berdiri dari bagian superior (bagian yang sama tinggi dengan hidung), bagian media (bagian yang sama tinggi dengan mulut) dan bagian inferior (bagian yang sama tinggi dengan laring).bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga.Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laringofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring. Menelan (deglutisio), jalan udara dan jalan makanan pada faring terjadi penyilangan. Jalan udara masuk kebagian depan terus ke leher bagian depan sedangkan jalan makanan masuk ke belakang dari jalan nafas dan didepan dari ruas tulang belakang. Makanan melewati epiglotis lateral menuju ressus piriformis masuk ke esofagus tanpa membahayakan jalan udara. Gerakan menelan mencegah masuknya makanan ke jalan udara, pada waktu yang sama jalan udara ditutup sementara. Permulaan menelan, otot mulut dan lidah berkontraksi secara bersamaan.

11

3. Kerongkongan (Esophagus) a. Anatomi. Esophagus adalah tubamuskular,

panjangnya sekitar 9 smpai 10 inc. dan berdiameter 1inc. esophagus berawal pada area laringofaring dan melewati heatus

diafragma

esophagus(lubang) pada area sekitar vertebratoraks ke sepuluh, dan

membuka kearah lambung b. Fungsi. Esophagus menggerakan makanan dari faring ke lambung melalui gerak peristalsis. Mukosa esophagus memproduksi sejumlah besar mukus untuk melumasi dan melindungi esophagus. Esophagus tidak memproduksi enzim pencernaan.

4. Lambung a. Anatomi Lambung adalah organ yang berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen dibawah diafragma. Semua bagian kecuali

sebagian kecil, terletak pada bagian kiri garis tengah. Ukuran dan

bentuknya bervariasi dari satu individu ke individu lain. Regia-regia lambung terdiri dari bagian jantung, fundus, badan organ dan bagian pilorus. a. Bagian jantung lambung adalah area disekitar pertemuan esophagus dan lambung. b. c. Fundus adalah bagian yang menonjol kesisi kiri atas esophagus Badan lambung adalah bagian yang terdilatasi dibawah fundus, yang membentuk dua pertiga bagian lambung. Tepi medial badan lambung yang
12

konkaf disebut kurvatur kecil ; tepi lateral badan lambung tang konveks disebut kurvatur besar. d. Bagian pilorus lambungmenyempit diujung bawah lambung dan membuka ke duodenum. Antrum pylorus mengarah kemulut pylorus yang dikelilingi sfingter pylorus muskula b. Histology dinding lambung Ada 3 lapisan jaringan dasar (mukosa, submukosa) beserta modifikasinya. 1. Muskularis eksterna pada bagian fundus dan badan lambung mengandung lapisan otot melintar (oblik) tambahan. Lapisan otot tambahan ini membantun keefektifan pencampuran dan penghancuran isi lambung. 2. Mukosa membentuk liipatan-lipatan (ruga) longitudinal yang menonjol sehingga memungkinkan peregangan diding lambung. Ruga terlihat saat lambung kososng dan akan menghalus saat lambung meregang terisi makanan. 3. Ada kurang lebih tiga juta pita lambung diantara ruga-ruga bermuara pada sekitar 15.000.000 kelenjar lambung. Kelenjar lambung yang dinamakan sesuai letaknya, menghasilkan 2 liter sampai 3 liter cairan lambung mengandung enzim-enzim pencernaan, asam klorida, mukus, garamgaraman dan air c. Fungsi Lambung 1. Penyimpanan makanan. Kapasitas lambung normal memungkinkan adanya interval waktu nyang panjang antara saat makan dan kemampuan menyimpan makanan dalam jumalah besar sampai makanan ini dapat terakomodasi dibagian bawah saluran. Lambung tidak memiliki peran mendasar dalam kehuidupan dan dapat diangkat, asalkan makanan yang dimakan sedikit da sering. 2. Produksi kimus. Aktivitas lambung mengakibatkan terbentuknya

kimus(masa homogeny setengah cair berkadar asam tinggi yang berasal dari bolus) dan mendorongnya ke dalam duodenum. 3. Digesti protein . lambung memulai digesti protein melalui sekresi trisin dan asam clorida.

13

4.

Produksi mokus. Mukus dyang dihasilkan dari kelenjar membentuk barier setebal 1mm untuk melindungi lambung terhadaop asksi pencernaan dan sekresinya sendiri.

5.

Produksi factor instriksik a. b. Factor intrisik adalah bellikoprotein yang disekresui sel parietal Vitamin B12, didapat dari makanan yang di cerna d lambung, terikat pada factor intrinsic. Komplek factor instriksik vit B12 dibawa ke ilium usus halus, tempat vitamin B12 di absorpsi

6.

Abdorpsi . absorpsi nutrient yang berlangsung dalam lambung hanya sedikit. Beberapa obat mengandung lemak(aspirin) dan alcohol diabsorpsi pada dinding lambung. Zat terlalrut dalam air terabsorpsi dalam jumlah yang tidak jelas.

d.

Sekresi lambung 1. Jenis kelenjar lambung a. kelenjar jantung ditemukan di regia mulut jantung. Keelenjar ini hanya mensekresi mukus. b. kelenjar fundus atau lambung terdiri dari tiga jenis sel 1. Sel chief (zimogenik) mensekresi pepsinogen , prekusor enzim pepsin. Kelenjar ini mensekresi lipase dan rennin lambung, yang kurang penting 2. Sel parietal, mensekresi asam klorida dan factor instrinsik (a) dalam pembuatan HCl, Co2 bergerak dalam sel untuk berikatan dalam air dan membentuk asam

karbonar(H2CO3) dalam reaksi anhidrase karbonit.

yang dikatalis oleh

(b) H2CO3 terionisasi untuk membentuk H+ dan HCO3-. Ion bikarbonat keluar dari sel untuk digantikan ion florida(CL-) dan memasuki sirkulasi sistemik. (c) Ion hydrogen, bersama ion klorida, secara aktif terpompa ke dalam lambung. 3. Sel leher mukosa ditemukan pada semua bagian leher kelenjar

14

lambung. Selini mensekresi beriermukus setebal 1mm dan melindungi lapisan lambung terhadaop kerusakan oleh HCl atau autodigesti c. Kelenjar filorus terletak pada regia antrum pylorus. Kelenjar ini mensekresi mukus dan gastrin, suatu hormone peptide yang berpoengaruh besar dalam proses sekresi lambung. 2. Tiga tahap sekresi lambung dinamakan sesuai dengan regia tempat terjadinya stimulus. Faktor saraf dan hormone terlibat. a. Tahap sefalik terjadi sebelum makanan mencapai lambung. Masuknya makanan ke dalam mulut atau tampilan, bau, atau pikiran tentang makanan , dapat merangsang sekresi lambung. b. Tahap Lambung terjadi sat makanan mencapai lambung dan berlangsung selama makanan masih ada. (1) Peregangan dinding lambung merangsang reseptor saraf dalam mukosa lambung dan memicu reflek slambung. Serabut aferen menjalar ke medulla melalui saraf vagus. Serabut aferen parasimpatis menjalar dalam vagus menuju kelenjar lambung untuk menstimulasi produksi hcl, enzim-enzim pencernaan, dan gastrim. (2) Asam amino dan protein dalam makaanan yan g separuh tercerna dan zat kimia (alcohol dan kafein) juga meningkatkan sekrsi lambung melalui reflex local. (3) Fungsi gastrin, antara lain: a. b. c. gastrin merangsang sekresi lambung. gastrin menuingkatkan motilitas usus dan lambung gastrin mengkontriksi sfringter esophagus bawah dan merelaksasi sfringter pirolus d. efek tambahan, seperti stimulasi sekresi pancreas dan peningkatkan molititas usus, juga termasuk fungsi gastrin (4) Pengaturan pelepasan gastrin dalam lambung terjadi melalui penghambatan umpan balik yang didasarkan pada pH isi lambung.

15

a. jika tidak ada makanan dalam lambung di antara jam makan pH lambung rendah dan sekresi lambung terbatas. b. makanan yang masuk ke lambung memiliki efek pendaparan (buffering) yang mengakibatkan peningkatan pH dan

peningkatan sekresi lambung. c. Tahap Usus terjadi setelah kimus meninggalkan lambung dan memasuki usus halus yang kemudian memicu faktor saraf dan hormon

5. Usus Halus A. Gambaran Umum. Keseluruhan usus halus adalah tuba tuba terlilit yang merentang dari sfingter pilorus sampai ke katup ileosekal. Tempatnya menyatu dengan usus besar. Diameter usus halis kurang lebih 2,5 cm dan panjangnya 35 meter saat bekerja. Panjang 7 meter pada mayat dicapai saat lapisan muskularis eksterna berelaksasi. B. Divisi 1. Duodenum adalah bagian yang terpendek (25-30 cm). duktus empedu dan duktus pankreas, keduanya membuka ke dinding posterior duodenum beberapa sentimeter dibawah mulut pilorus. 2. Yeyunum adalah bagian yang selanjutnya. Panjangnya kurang lebih 1-1,5 meter. 3. Ileum (2-2,5 meter) merentang sampai menyatu dengan usus besar. C. Motilitas. Gerakan usus halus mencampur isinya dengan enzim untuk pencernaan, memungkinkan produk akhir pencernaan mengadakan kontrak dengan sel absorptif dan mendorong zat sisan memasuki usus besar. Pergerakan ini dipicu oleh peregangan dan secara refleks dikendalikan oleh SSO. 1. Segmentasi irama adalah gerakan pencampuran utama. Segmentasi mencampur kimus dengan cairan pencernaan dan memaparkannya ke permukaan absorptif. Gerakan ini adalah gerakan kontriksi dan relaksasi yang bergantian dari cincin-cincin otot dinding usus yang membagi isi menjadi segmen-segmen dan mendorong kimus bergerak maju-mundur dari satu segmen yang relaks ke segmen yang lain.
16

2.

Peristaltik adalah kontraksi ritmik otot polos longitudinal dan sirkular. Kontraksi ini adalah daya dorong utama yang menggerakan kimus ke arah bawah disepanjang saluran.

D. Anatomi mikroskopik dinding usus 1. Ada tiga spesialisasi struktural yang memperluas permukaan absorptif usus halus sampai kurang lebih 600 kali. a. Plicae circulares adalah lipatan sirkular membran mukosa yang permanen dan besar. Lipatan ini hampir secara keseluruhan mengitari lumen. b. Vili adalah jutaan tonjolan menyerupai jari (tingginya 0,2 mm sampai 1,0 mm) yang memanjang kelumen dari permukaan mukosa. Vili hanya ditemukan pada usus halus; setiap vilus menganndung jaring-jaring kapilar dan pembuluh limfe yang disebut lakteal. c. Mikrovili adalah lipatan-lipatan menonjol kecil pada membran sel yang muncul pada tepi yang berhadapan dengan sel-sel epitel. 2. Kelenjar a. Kelenjar-kelenjar usus (kriptalieberkhun) tertanam dalam mukosa dan membuka diantara basis-basis vili. Kelenjar ini mensekresi hormon dan enzim. (1) Enzim yang dibentuk oleh sel epitalial usus dibutuhkan untuk melengkapi digesti. (2) Hormon-hormon yang mempengaruhi sekresi dan motilitas saluran pencernaan antara lain : (a) Sekretin, CCK, dan GIP berperan untuk menghalangi sekresi kelenjar lambung (b) Peptida usus vasoaktif memiliki efek vasodilator dan efek relaksasi oto polos. (c) (d) Substansi P mempegaruhi aktivitas motorik otot polos. Somatostatin menghambat sekresi asam klorida dan gastrin seperti hipotalamus yang melepas faktor peleas hormon pertumbuhan.

17

b.

Kelenjar penghasil mukus (1) Sel goblet terletak dalam epitelium disepanjang usus halus. Sel ini memproduksi mukus pelindung . (2) Kelenjar brunner terletak dalam submukosa duodenum. Kelenjar ini memproduksi mukus untuk melindungi mukosa duodenum terhadap kimus asam dan cairan lambung yang masuk ke pilorus melalui lambung

c.

Kelenjar

enteroendokrin

menghasilkan

hormon-hormon

gastrointestinal. 3. Jaringan limfatik. Leukosit dan nodulus limfe ada dikeseluruhan usus halus untuk melindungi dinding usus terhadap invasi benda asing. Agregasi nodulus limfe yang disebut bercak peyer terdapat dalam ileum.

E. fungsi usus halus 1. Usus halus mengakhiri proses pencernaan makanan yang dimulai dimulut dan dilambung. Proses ini diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pankreas serta dibantu empedu dalam hati. 2. Usus halus secara selektif mengabsorpsi produk digesti.

6. Usus besar. Usus besar atau intestinum mayor panjangnya ± 1½ m, lebarnya 5-6 cm. lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar : selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, jaringan ikat. Begitu materi dalam saluran pencernaan masuk ke usus besar, sebagian besar nutrient telah di cerna dan di absorpsi dan hanya menyisakan zat-zat tidak tercerna. Makanan biasa memerlukan waktu 2-5 hari untuk menempuh ujung saluran pencernaan yang satu ke yang lainya: 2-6 jam di lambung, 6-8 jam di usus halus dan sisa waktunya berada di usus besar. a. Gambaran umum 1. Usus besar tidak memiliki vili, tidak memiliki tricaesirculares (lipatanlipatan sirkulat), dan diameternya lebih lebar, panjangnya lebih pendek, dan daya regangnya lebih besar dibandingkan usus halus.

18

2. Serabut otot longitudinal dalam muskularis eksterna membentuk tiga pita, taeniae koli, yang menarik kolon menjadi kantong-kantong besar yang di sebut haustra. 3. Katup ileosekal adalah mulut sfingter antara usus halus dan usus besar. Normalnya, katup ini tertutup dan akan terbuka untuk merespon gelombang peristaltik sehingga memungkinkan kimus mengalir 15 ml sekali masuk, untuk total aliran sebanyak 500 ml sehari. b. Bagian-bagian usus besar 1. Sekum adalah kantong tertutup yang menggantung dibawah area katup ileus sekal. Apendiks vermiform, suatu tabung buntu yang sempit berisis jaringan limpoid, menonjol dari ujung sekum. 2. Kolon adalah bagian dari usus besar dari sekum sampai rectum. Kolon memiliki tiga divisi. a. Kolon asenden merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati di sebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatica. b. Kolon transpersa merentang menyilang abdomen di bawah hati dan di lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah pada fleksura splenik. c. Kolon desenden merentang ke bawah pada sisi kir abdomen menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rectum. c. Fungsi usus besar 1. Usus besar mengabropsi 80% sampai 90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dari cairan menjasi massa semipadat. 2. Usus besar hanya memproduksi mucus. Sekresinya tidak mengandung enzim atau hormone pencernaan. 3. Sejumlah bakteri dalam kolom mampu mencerna sejumlah kecil selulosa dan memproduksi sdikit kalori nutrient bagi tubuh dalam setiap hari. Bakteri juga memproduksi vitamin (K, riboflavin, dan tiamin) dan berbagai gas. 4. Usus besar mengsekresi zat sisa dalam bentuk feses. a. Air mencapai 75% sampai 80% feses. Sepertiga materi padatnya adalah bakteri dan sisanya yang 2% sampai 3% adalah nitrogen, zat sisa organic dan anorganik dari sekresi pencernaan, serta mucus dan lemak.
19

dan

b.

Feses juga mengandung sejumlah materi kasar, atau serat dan selulosa yang tidak tercerna. Warna coklat berasal dari pigmen empedu; bau berasal dari kerja bakteri.

7. Rektum Rectum terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dan anus, terletak dalam rongga pelvis di depas os akrum dan os koksigis.

8. Anus Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar (udara luar). Terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh tiga sfingter : a. Sfingter ani internus (sebelah atas) bekerja tidak menurut kehendak b. Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak c. Sfingter ani ekstremus (sebelah bawah) bekerja menurut kehendak.

9. Pankreas, Hati dan Kandung Empedu A. Pankreas 1. Anatomi Pankreas adalah kelenjar terelongasi berukuran besar dibalik kurvatur besar lambung. Sel-sel endokrin (pilau-pulau langerhans) pankreas mengsekresi hormon insulin dan glukagon. Sel-sel eksokrin (asinar) mensekresi enzim-enzim pencernaan dan larutan berair yang mengandung ion bikarbinat dalam konsentrasi tinggi. Produk gabungan sel-sel asinar mengalir melalui duktus pankreas, yang menyatu dengan duktus empedu komunis dan masuk ke duodenum dititik ampula hepatopankreas, walaupun duktus pankreas dan duktus empedu komunis membuka secara terpisah pada duodenum. Sfingter oddi secara normal mempertahankan keadaan mulut duktus agar tetap tertutup.

20

2. Kendali pada sekresi pankreas. Sekresi eksokrin pankreas dipengaruhi oleh aktivitas refleks saraf selama tahap sefalik dan lambung pada sekresi lambung. Walaupun demikian, kendali utama terletak pada hormon duodenum yang diabsorpsi kedlaam aliran darah untuk mencapai pankreas. (1) sekretin diproduksi oleh sel-sel mukosa duodenum dan diabsorpsi kedalam darah untuk mencapai pankreas. Sekretin akan dilepas jika kimus asam memasuki usus dan mengeluarkan sejumlah besar cairan berair yang mngndung natrium bikarbonat. Bikarbonat menetralisir asam dan membentuk lingkungan basa untuk kerja enzin pankreas dan usus. (2) CCK diproduksi oleh sel-sel mukosa duedenum sebagai respon terhadap lemak dan protein separuhbtercerna yang masuk dari lambung. CCK ini menstimulasi sekresi sejumlah besar enzin prankreas. 3. komposisi cairan prankreas. Cairan prankreas mengandung enzim-enzim untuk mencerna protein, karbohidrat, dan lemak. 1. enzim proteolitik prankreas (protease) a. tripsinogen yang di sekresi pankreas diaktifasi menjadi tripsin oleh enterokinase yang di produksi usus halus. Tripsin mencerna protein dan polipetida besar untuk membentuk polipetida dan peptida yang lebih kecil. b. kimotripsin teraktifasi dari kimotripsinogen oleh tripsin.

Kimotripsin memiliki fungsi yang sama seperti tripsin terhadap protein. c. karboksipeptidase, aminopeptidase, dan dipeptidase adalah enzim yang melanjutkan proses melanjutkan proses pencernaan protein untuk menghasilkan asam-asam amino bebas. 2. lifase prankreas menhidrolisis pankreas menhidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol setelah lemak di emulsi oleh garam-garam empedu.

21

3. amilase prankreas menghidrolisis zat tepung yang tidak tercerna oleh amilase salipa menjadi disakarida (maltosa, sukrosa, laktosa). 4. ribonuklease dan deoksiribonuklease menhidrolisis RNA dan DNA menjadiblok-blok pembentuk nukleo tidaknya.

B. Hati dan Sekresi Empedu a. Anatomi hati. Hati adalah organ piseral terbesar dan terletak di bawah rangkai iga. Beratnya 1500 gram dan pada kondisi hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan darah. Hati terbagi menjadi lobus kanan dan kiri. a) Lobus kanan hati lebih besar dari libus kanannya dan memiliki lobus kirinya dan memiliki 3 bagian utama: lubus kanan atas, lobus koudatus, dan lobus kuadratus. b) Ligamen palsiporm memisahkan lobus kanan dari lobus kiri. Diantara kedua lobus terdapat portahepatis, jalur masuk dan keluar darah, saraf dan duktus. c) Dalam lobus lempengan sel-sel hati bercabang dan beranastomosis untuk membentuk jaringan tiga dimensi. Ruang-ruang darah sinusoid terletak diantara lempeng-lempeng sel. b. Fungsi utama hati a. Sekresi. Hati memprodiksi empedu yang berperan dalam emulsipasi dan abrospsi lemak. b. Metabolisme. Hati memetabolis protein lemak dan karbohirat tercerna. 1) Hati berpearan penting dalam mempertahankan homeostatik gula darah. Hati menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen dan mengubahnya menjadi kembali glukosa jika di perlukan tubuh. 2) Hati menyurai protein dari sel-sel tubuh dan sel darah merah rusak. Organ ini membentuk urea dari asam amino berlebih dan sisa nitrogen. 3) Hati menyintesis lemak dari karbohidrat dan protein, dan terlibat dalam penyimpanan dan pemakaian lemak.

22

4) Hati menyintesis unsur-unsur pokok membran sel (lipoprotein kolestrol, dan fosfolipid). c. Penyimpanan. Hati minyimpan mineral, seperti zat besi dan tembagaserta vitamin larut lemak (A,D,E dan K) dan hati menyimpan toksin tertentu (contohnya peptisida) serta obat yang tidak dapat diuraikandan diekresikan. d. Detoksifikasi. Hati melakukan intaktifasi. Hormon dan dektosifikasi toksin dan obat.hati memfagosit eritrosit dan zat asing yang terdistintrgasi dalam darah. e. Produksi panas. Berbagai aktivitas kimia dalam hati menjadikan hati sebagai sumber utama panas tubuh,terutama saat tidur. f. Penyimpanan darah. Hati merupakan reserpoar untuk sekitar 30% curah jantung dan bersama dengan limfa mengatur volum darah yang perlukan tubuh. c. Empedu 1. Anatomi sekresi empedu a) Empedu yang di produksi oleh sel-sel hati memasuki kanalikuli empedu yang kemudian menjadi duktus hepatica kanan dan kiri. b) Duktus hepatica menyatu untuk membentuk duktus hepatic komunis yang kemudian menyatu dengan duktus sistikus dari kandung empedu dan keluar dari hati sebagai duktus empedu komunis. c) Duktus empedu komunis, bersama dengan duktus pancreas, bermuara di duodenum atau dialihkan untuk penyimpanan di kandung empedu. d. Komposisi empedu. Empedu adalah larutan berwarna kuning kehijauan terdiri dari 97 % air, pigmen empedu, dan garam-garam empedu. a. Pigmen empedu terdiri dari biliverdin (hijau) dan bilirubin (kuning). Pigmen ini merupakan hasil penguraian hemoglobin yang di lepas dari sel darah merah terdisintegrasi. 1) Pigmen utamanya adalah bilirubin yang memberikan warna kuning pada urinr dan feses.

23

2) Jaundice, atau warna kekuningan pada jaringan, mrupakan akibat dari peningkatan kadar bilirubin darah. Ini merupakan indikasi kerusakan fungsi hati, dan dapat di sebabkan oleh kerusakan sel darah merah, atau obstruksi duktus empedu oleh batu empedu. b. Garam- garam empedu terbentuk dari asam empedu yang berkaitan dengan kolestrol dan asam amino. Setelah disekresi ke dalam usus halus, garam tersebut direabsorpsi dari ileum bagian bawah kembali ke hati dan di daur ulang kembali. Peristiwa ini dikenal sebagai sirkulasi enterohepatika garam empedu. e. Fungsi garam empedu a. Emulsifikasi lemak. Garam empedu mengemulsi globules lemak lemak besar dalam usus halus yang kemudian menghasilkan globulus lemak lebih kecil dan area permukaan yang lebih luas untuk kerja enzim. b. Absorpsi lemak. Garam empedu membantu absorpsi zat terlarut lemak dengan cara memfasilitasi jalurnya menembus membrane sel. c. Pengeluaran kolestrol dari tubuh. Garam empedu berikatan dengan kolesterol dan lestin untuk membentuk agregasi kecil di sebut micelle yang akan di buang melalui fese. f. Kendali paada sekresi dan aliran empedu. Sekresi empedu diatur pleh factor saraf (impuls parasimpatis) dan hormone (sekretin dan CCK) yang sama dengan yang mengatur sekresi cairan pankreas. Saat asam lemak dan asam amino mencapai usus halus, CCK dilepas untuk mengkontraksi otot kandung empedu dan merelaksasi sfinger oddi. Cairan empedu kmudian didorong ke dalam duodenum.

C. Kandung Empedu 1. Anatomi. Kandung empedu adalah kantong muscular hijau menyerupai pir dengan panjang 10 cm. organ ini terletak di lekukan di bawah lobus kanan hati. Kapasitas total kandung empedu kurang lebih 30 ml sampai 60 ml.

24

2.

Fungsi a. Kandung empedu menyimpan cairan empedu yang secara terus menerus disekresi oleh sel-sel hati, sampai di perlukan dalam duodenum. Di antara waktu makan, sfinger oddi menutup dan cairan empedu mengalir ke dalam kandung empedu yang relaks. Pelepas cairan ini dirangsang oleh CCK. b. Kandung empedu mengkonsentrasi cairannya dengan cara

mereabsorpsi air dan elektrolit. Dengan demikian, kendung ini mampu menampung hasil 12 jam sekresi empedu hati.

2.3

Kelenjar Pencernaan Enzim pencernaan bekerja untuk mempercepat reaksi pada pencernaan makanan, tetapi enzim pencernaan tidak ikut diproses. 1. Kelenjar ludah (parotis) Kelenjar ludah terdapat di bawah lidah, di rahang bawah sebelah kanan dan kiri serta di bawah telinga sebelah kanan dan kiri faring. Kelenjar ludah

menghasilkan air ludah (saliva). Saliva keluar dipengaruhi oleh kondisi psikhis yang

membayangkan makanan tertentu serta reflekskarena adanya makanan yang masuk ke dalam

mulut. Saliva mengandungenzim ptialin atau amilase ludah. Terdapat 3 pasang: 1. 2. 3. Kelenjar Parotis (dibawah telinga), berbentuk cairan Kelenjar Submandibularis (di rahang bawah), berbentuk cairan dan lendir Kelenjar sublingualis (di bawah lidah), berbentuk cairan dan lendir

Fungsi: 1. 2. Memudahkan penelanan dan pencernaan makanan Mencerna makanan secara kimiawi, karena terdapat enzim ptialin yang berfungsi untuk menghidrolisis amilum menjadi maltosa
25

3. 2.

Melindungi selaput rongga mulut dari panas, dingin, asam, dan basa.

Kelenjar getah lambung Lambung memiliki kelenjar yang menghasilkan enzim pepsin, enzim renin dan asam khlorida (HCl). Enzim pepsin berasal dari pepsinogen yang diaktifkan oleh asam lambung. Sekresi atau pengeluaran asam lambung dipengaruhi oleh refleks jika ada makanan yang masuk ke dalam lambung, serta dipengaruhi oleh hormon gastrin yang dikeluarkan oleh dinding lambung. Produksi asam lambung yang berlebih dapat membuat radang pada dinding lambung. Getah lambung terdiri dari: 1. 2. Air lendir (mucin) Asam lambung (HCl), yang berfungsi untuk:   3. membunuh kuman / bakteri yang masuk bersama makanan Mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin

Enzim pepsinogen, berfungsi untuk:
Pepsinogen + HCl Pepsin

Protein Pepton

4. 5. 3. Hati a.

Renin : enzim yang dapat mengendapkan protein susu ( kasein) Lipase Lambung : merupakan enzim yang bekerja pada zat lemak

Menempel kandung empedu, yang berfungsi menampung cairan empedu yang dihasilkan hati. Cairan empedu mengandung: 1. 2. Zat warna empedu (bilirubin) Garam empedu yang berfungsi mengemulsikan lemak

b.

Sisa cairan empedu masuk ke usus besar kemudian teroksidas menjadii warna kuning kecoklatan pada feces

26

4.

Pankreas. a. Pankreas menghasilkan getah pankreas yang menghasilkan enzim-enzim: 1. Amilase pankreas (amilopsin), berfungsi merubah amilum (zat tepung)  gula sederhana. 2. Lipase pankreas (steapsin), berfungsi merubah Lemak  asam lemak + gliserol 3. b. Tripsin, berfungsi mengubah protein  asam amino

Selain enzim dari pankreas, dinding usus halus menghasilkan getah usus halus yang mengandung enzim : 1. 2. 3. 4. 5. Maltase berfungsi merubah Laktase berfungsi merubah Sukrase berfungsi merubah Tripsin berfungsi merubah : Maltosa  Glukosa : Laktosa  glukosa & galaktosa : Sukrosa  glukosa & fruktosa : Pepton  asam amino

Enterokinase berfungsi merubah : Tripsinogen  tripsin

2.4

Proses Pencernaan makanan Pencernaan makanan merupakan proses mengubah makanan dari ukuran besar menjadi lebih kecil dan halus, serta memecah molekul makanan yang kompleks menjadi molekul yang sederhana. Ukuran molekul yang kecil ini memungkinkan darah dan cairan getah bening mengangkut menuju sel-sel yang memerlukan. Proses pencernaan makanan meliputi pencernaan mekanik dan pencernaan kimiawi. 1. Pencernaan Mekanik Pencernaan mekanik yaitu proses mengubah makanan dari ukuran besar menjadi lebih kecil dengan bantuan alat-alat pencernaan. Alat yang membantu pencernaan mekanik seperti gigi, lambung, dan usus. Gerakan gigi seri memotong makanan, gigi taring merobek makanan, gigi geraham mengunyah makanan serta lambung dan usus melakukan gerakan meremas makanan merupakan pencernaan mekanik. Pada pencernaan mekanik umumnya tidak mengubah susunan molekul bahan makanan yang dicerna. Pencernaan mekanik menjadi lebih mudah karena adanya saliva (air ludah) dan getah lambung. Pencernaan mekanik dibantu oleh gerakan saluran pencernaan seperti gerakan peristaltik, gerak segmentasi dan

27

gerak ayun (pendular). Gerakan-gerakan ini memungkinkan makanan di dorong, kemudian diremas dan dicampur dengan enzim pencernaan (pengadukan)., dan melipitu proses-proses berikut; Makanan mengalami proses pencernaan sejak makanan berada di dalam mulut hingga proses pengeluaran sisa-sisa makanan hasil pencernaan. Adapun proses pencernaan makanan meliputi hal-hal berikut. a. b. c. d. Ingesti : pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut. Mastikasi adalah proses mengunyah makanan oleh gigi. Deglutisi adalah proses menelan makanan di kerongkongan. Peristalsis adalah gelombang kontraksi otot polos involunter yang menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan e. Digesti adalah pengubahan makanan menjadi molekul yang lebih sederhana dengan bantuan enzim, terdapat di lambung. f. g. Absorpsi adalah proses penyerapan, terjadi di usus halus. Defekasi / Egesti adalah pengeluaran sisa makanan yang sudah tidak berguna untuk tubuh melalui anus. 2. Pencernaan Kimiawi Pencernaan makanan secara kimiawi terjadi dengan bantuan zat kimia tertentu. Enzim pencernaan merupakan zat kimia yang berfungsi memecahkan molekul bahan makanan yang kompleks dan besar menjadi molekul yang lebih sederhana dan kecil. Molekul yang sederhana ini memungkinkan darah dan cairan getah bening (limfe) mengangkut ke seluruh sel yang membutuhkan.

2.5

Mekanisme System Pencernaan A. Mulut 1. Motilitas : makanan masuk ke system pencernaan melalui mulut, tempat makanan di kunyah dan di campur dengan liur untuk mempermudah penelanannya. 2. Sekresi : enzim liur, amylase memulai pencernaan karbohidrat. Liur esensial untuk berbicara dan berperan penting dalam kesehataan gigi, lebih penting dari pada fungsi pencernaannya yang minor. Sekresi liur di control oleh pusat liur di medulla, diperantai oleh persyarafan otonom kelenjar liur.

28

3. Pencernaan : amylase liur mulai mencerna poli sakarida jadi disakarida maltosa, di suatu proses yang berlanjut di lambung setelah makanan

tertelan sampai amylase akhirnya diinaktifkan oleh getah lambung yang asam. 4. Penyerapan : tidak terjadi penyerapan nutrient di mulut. B. Faring dan Esofagus 1. Motilitas : setelah proses mengunyah, lidah mendorong bolus makanan ke bagian belakang tenggorokan, yang memicu reflex menelan. Pusat menelan di medulla mengodinasikan sekelompok aktivitas kompleks yang

menyebabkan penutupan saluran nafas dan terdorongnya makanan melalui faring dan esophagus ke dalam lambung. 2. Sekresi : sekresi esophagus, mucus, bersifat protektif. 3. Pencernaan dan penyerapan : tidak terjadi penyerapan di faring dan esophagus. C. Lambung 1. Lambung, suatu struktur berbentuk kantung yang terletak antara esophagus dan usus halus, menyimpan makanan untuk beberapa waktu sampai usus halus siap memprosesnya lebih lanjut untuk penyerapan final. 2. Motilitas : empat aspek motilitas lambung adalah pengisian, penyimpanan, pencampuran, dan pengosongan lambung.   Pengisian lambung dipermudah oleh relaksasi resetif otot lambung yang di perantarai oleh saraf vagus. Penyimpanan lambung berlangsung di korpus lambung, tempat kontraksi peristaltic dinding otot yang tipis terlalu lemah untuk mencampur isi lambung.   Pencampuran lambung di antrun yang berdinding tebal terjadi karena kontraksi peristaltic yang kuat. Pengosongan lambung dipengaruhi oleh factor berikut di lambung dan duodenum. (1) volum dan fluditas kimus di lambung cenderung meningkatkan pengososngan isi lambung. (2)factor duedonum, yaitu factor dominan yang mengontrol pengosongan lambung, cenderung menunda pengosongan lambung sampai duodenum siap menerima dan proses lebih banyak kimus. Factor-faktor spesifik di duodenum yang
29

menunda pengosongan lambung adalah lemak, asam, hipertonisitas, dan peregangan. Factor-faktor ini menunda pengososngan lambung dengan menghambat aktivitas peristaltic lambung oleh reflek eterogastik dan esterogastron (sektetin dan kolesitin) yang di sekresikan oleh mukosa duodenum. 3. Sekresi : sekresi ke dalam lambung mencakup (1) HCL (dari sel parietal), yang mengaktifkan pensinogen, mendenaturasiprotein, dan mematikan bakteri; (2)pepsinogen (dari chief cell), yang setelah diaktifkan memulai pencernaan protein; (3) mucus (dari sel mucus), yang membentuk lapisan protektif yang berperan dalam sawar mukosa lambung, memungkinkan lambung menampung isi lumennya ”keras” tanpa ia sendiri tercerna; dan (4) factor intrinsic dari sel parietal yang berperan penting dalam penyerapan vitamin B12, suatu konstituen yang esensial bagi produksi sel darah merah.  Lambung juga mengeluarkan factor regulatorik parakrin dan endokrin berikut: (1) hormone gastrin ( dari sel G), yang berperan besar dalam merangsang sekresi lambung; (2) histamine parakrin (dari sel ECL), suatu perangsang kuat sekresi asam oleh sel parietal ; dan (3) somatostatin parakrin (dari sel D), yang menghambat sekresi lambung.  Sekresi lambung berada di bawah mekanisme kontol yang kompleks. Sekresi lambung meningkat selama fase sepalik dan fase lambung sekresi lambung, sebelum dan selama makan oleh mekanisme yang melibatkan respons sarafagus eksipatorik dan saraf intrinsic bersama dengan efek stimulat torik gastrin dan histamine. Setelah makanan keluar dari lambung, sekresi lambung berkurang karena hilangnya factor-faktor stimulatorik, pelepasan somatostatin yang bersifat menghambat, dan efek inhibitorik reflek enterogastik dan enterogastron selama fase usus sekresi lambung. 4. Pencernaan : pencernaan karbohidran berlanjut di korpus lambung di bawah pengaruh amylase liur. Pencernaan protein di mulai oleh pepsin di antrium lambung, tempat kontraksi peristaltic yang kuat mencampur makanan sekresi lambung, mengubahnya ,menjadi campuran cairan kental yang di kenal sebagai kimus. 5. Penyerapan : tidak ada nutrient yang di serap di lambung.
30

D. Sekresi Pankreas dan Empedu 1. Sekresi pancreas esokrin dan empedu dari hati mengalir ke lumen duodenum. 2. Sekresi pancreas mencakup (1) enzim pencernaan poten dari sel asinus, yang mencerna tiga kategori makanan; dan (2) larutan NaHCO3 cair dari sel duktus, yang menetralkan kimus asam yang masuk ke duodenum dari lambung. Netralisasi ini penting untuk melindungi duodenum dari cedera asam dan memungkinkan enzin pancreas, yang diinaktifkan oleh asam, melakukan fungsi pencernaan yang penting. 3. Enzim pencernaan pancreas mencakup (1) enzim proteolitik tripsinogen kimotripsinogen dan prokarboksipeptidase, yang disekresikan dalam bentuk inaktif dan diaktifkan di lumen duodenum ketika terpajan ke enterokinase dan tripsin aktif; (2) amylase pancreas, yang melanjutkan pencernaan karbohidrat; dan (3) lipase, yang melaksanakan pencernaan lemak. 4. Sekresi pancreas terutama berada dibawah control hormone, yang memadankan komposisi getah pancreas dengan kebtuhan di lumen duodenum.sekretin merangsang sel duktus pankreatikus, dan kolesistokinin (CCK) merangsang sel asinus. 5. Hati, organ metabolic terbesar dan terpenting di tubuh , melakukan breragam fungsi. Konstribusinya dalam pencernaan adalah sekresi empedu, yang mengandung garam-garam empedu. 6. Garam empedu membantu pencernaan lemak melalui efek detergen dan mempermudah penyerapan lemak dengan membentuk misel larut air yang dapat mengangkut produk tak larut air pada pencernaan lemak ke tempat penyerapannya. 7. Di antara waktu makan, empedu disimpan dan dipekatkan di kandung empedu yang dirangsang oleh kolesistokinin untuk berkontraksi dan mengalirkan empedunya kedalam duodenum sewaktu pencernaan makanan. Setelah ikut serta dalam pencernaan dan penyerapan lemak, garam-garam empedu direabsorpsi dan dikembalikan melalui system porta hati ke hati , tempat mereka tidak saja di resekresikan tetapi juga bekerja sebagai koleretik kuat yang merangsang sekresi lebih banyak empedu.

31

8. Empedu juga mengandung bilirubin, suatu turunan penguraian hemoglobin, yaitu produk ekskretorik utama di tinja

2.6

Saraf dalam Sistem Pencernaan a. Pengerian saraf Saraf adalah salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama yang rapih dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh. Dengan pertolongan saraf kita dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan teratur. Dengan saraf pula kita dapat menerima rangsang serta merespon rangsangan yang kita dapat. Kita berkedip dan bernafas semua diatur oleh sistem saraf tanpa kita sadari. Kita merasakan lapar dan kenyang juga diatur oleh sistem saraf. Absorbsi makanan dan minuman didalam sistem pencernaan bekerja berdasarkan urutan dengan koordinasi dari sistem saraf.

Orang yang mengalami kerusakan dalam sistem persarafannya akan mengalami banyak sekali hambatan dalam melakukan aktivitas. Contohnya orang stroke, mereka tidak dapat berjalan, sukar untuk bergerak, bahkan utuk berbicara saja sulit. Jadi dapat kita bayangkan betapa pentingnya sistem saraf dalam kehidupan kita. b. Sel Saraf Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang didalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf yaitu dendrite dan akson (neurit). Akson biasanya sangat panjang dan sebaliknya dendrite biasanya lebih pendek. Setiap neuron hanya mempunya satu akson dan minimal satu dendrite. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak yang disebut myelin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. sel Schwan memiliki membran plasma yang disebut neurilemma. Ada juga bagian akson yang tidak terbungkus myelin disebut nodus Ranvier.

32

c.

Otak dan Sistem Pencernaan Otak manusia terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: 1. 2. 3. Otak depan Otak tengah Otak belakang

Bagian otak yang mengatur tentang sistem pencernaan adalah otak belakang, tepatnya di medulla oblongata. Medulla oblongata adalah bagian dari otak belakang yang membentuk bagian bawah batang otak yang menghubungkan anatara pons varoli degan medulla spinalis (sumsum tulang belakang)

d. Susunan Saraf Otonom Saraf otonom adalam sarafsaraf yang bekerjanya tidak dapat disadari dan bekerja secara

otomatis dan disebut juga saraf tak sadar. Susunan saraf otonom

mempersarafi aktivitas vital seperti pencernaan serta semua alat dalam seperti lambung, pankreas dan usus. Saraf otonom dibagi menjadi dua bagian menurut fungsinya yaitu saraf simpatis dan saraf parasimpatis. Saraf ini bekerja secara antagonis (berlawanan).

Saraf simpatis terdiri dari 3 bagian, yaitu: 1. 2. 3. Kornu Anterior Trunkus Simpatikus Fleksus Simpatikus

Namun bagian yang menangani masalah pencernaan adalah bagian Trunkus Simpatikus dan Fleksus Simpatikus. Trunkus Simpatikus bagian Servikalis yang mengatur kelenjar ludah dan esofagus. Sedangkan fleksus Simpatikus mampersarafi lambung, pankreas, dan usus.

33

Saraf

parasimpatis

sakral

yang

mempersarafi kolon rectum. Nucleus salivatorius superior mempersyarafi X

kelenjar ludah. Nucleus dorsalis nervus mempersarafi pankreas dan hati. Sakral II, III, dan IV mempersarafi kolon desenden dan rectum. Kornu lateralis medulla spinalis bagian sakral

mempersarafi bagian yang berperan dalam defekasi. Berikut ini adalah organ dan sistem pengendalian ganda oleh saraf simpatik dan juga saraf parasimpatik.

e.

Saraf pada Sistem Pencernaan Sistem Pencernaan dimulai dari mulut dan berakhir di anus. Banyak saraf yang bekerja pada sistem pencernaan mulai dari mengunyah sampai defekasi. Berikut ini adalah penjelasannya. 1. Mulut Didalam mulut makanan dikunyah lalu dibentuk bolus-bolus kecil sehingga dapat ditelan. Dalam mengunya diperlukan gigi untuk membuat makan menjadi lebih kecil dan juga air liur untuk mempermudah penelanan. Gigi-gigi atas disarafi oleh Nervus Trigeminus bagian nervus maksilaris. Sedangkan gigi-gigi bawah disarafi oleh Nervus trigeminus bagian Nervus Mandibularis. Gerakan mengunyah juga melibatkan rahang atas dan bawah yang disarafi sama seperti gigi. Rahang atas oleh nervus maksilaris dan rahang bawah oleh nervus mandibularis. Dimulut juga terjadi gerakan menelan dengan bantuan lidah serta air liur. Air liur yang ada disekresikan oleh saraf otonom yaitu saraf
34

parasimpatis. Sedangkan gerak lidah mendorong lobus sehingga masuk kedalam esofagus dan terjadi proses menelam dihantarkan melalui saraf otak ke V, IX, X, dan XII serta bebeapa nervus servikalis Superior. 2. Esofagus Didalam esophagus makanan yang bebentuk bolus tidak dicerna baik secara kimiawi maupun mekanik. Didalam esophagus hanya terjadi gerakan peristaltic untuk mendorong makanan sampai ke lambung. Gerakan peristaltic ini disarafi oleh nervus Vagus. 3. Lambung Didalam lambung makanan yang berbentuk bolus di cerna secara kimiawi. Dengan sekresi kelenjar-kelenjar di sistem pencernaan untuk membantu kerja lambung dalam mencerna makanan. Sekresi itu diatur oleh saraf otonom yaitu saraf parasimpatik. Didalam usus juga terjadi gerakan peristaltic yang juga diatur oleh saraf otonom, yaitu saraf parasimpatik. Nervus vagus juga ikut mempersarafi kegiatan (kerja) lambung. Selain saraf parasimpatis saraf simpatik juga mempersarafi lambung yaitu bagian fleksus simpatis dengan serabut bernama fleksus seliaka. 4. Usus Usus tidak jauh berbeda dengan lambung. Nervus vagus masih mempersarafi absorbsi yang ada di usus setelah makanan di cerna didalam lambung. Usus juga disarafi oleh saraf simpatis bagian fleksus simpatikus. 5. Pankreas dan hepar Pankreas dan hepar disarafi oleh sistem saraf parasimpatis bagian nucleus dorsalis nervus X juga oleh bagian fleksus simpatikus, saraf simpatis. 6. Kolon Asenden Pusat yang mempersarafi Kolon Asenden adalah bagian sakral II, III, dan IV dari saraf parasimpatik yang masuk didalam saraf otonom. 7. Anus Saraf simpatis sakral adalah bagian yang memepersarafi anus (rectum). Saraf ini termasuk dalam saraf otonom bagian saraf parasimpatis. Begitu juga defekasi. Defekasi juga diatur oleh saraf yang sama yang memepersarafi bagian anus.

35

BAB III PEMAHASAN KASUS

3.1

Kasus 6 Sistem Pencernaan 2 Tn.D adalah seorang aktivis kampus.Namun, walau seorang aktivis, beliau adalah seorang mahasiswa yang religious. Setiap senin dan kamis Tn.D melakukan shaum. Namun, ada yang berbeda hari ini. Tn.D terlihat begitu tidak bersemangat dan wajah yang tidak segar. Setelah bertemu dengan Tn.D dan berdiskusi, akhirnya didapatkan informasi bahwa Tn.D tidak sahur terlebih dahulu. Tn.D juga mengaku tidak tahan lapar. Kalaupun tidak shaum Tn.D makan harus teratur kemudian kalaupun shaum harus sahur. Walaupun begitu, Tn.D mencoba menyelesaikan shaumnya. Semakin sore, Tn.D semakin merasa fatique, keringat dingin keluar dan akhirnya Tn.D hanya bisa berbaring karena lemas yang luar biasa. Keadaan Tn.D masih compos mentis.

3.2

Pembahasan Setelah mengalanisa kasus di atas kami menyimpulkan penyebab Tn.D mengalami fetique yaitu kelelahan, dikarenakan Tn.D tidak sahur saat shaum sehingga tidak mendapatkan energy. Tn.D juga mengalami Compos

Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya dikarenakan daya tahan tubuh Tn.D yang bagus. Keringat adalah sekresi aktif dari kelenjar keringat di bawah pengendalian saraf simpatis. Keringat terutama berisi larutan garam dengan konsentrasi kira-kira 1/3 dari yang ada dalam plasma.Kelenjar keringat juga alat utama untuk

merendahkan suhu tubuh. peningkatan aktivitas saraf simpatis dalam tubuh yang juga mengakibatkan kenaikan sekresi ephinerphin dari kelenjar adrenalin. Substansi ini bekerja pada kelenjar keringat, yakni pada telapak tangan dan ketiak, memproduksi keringat. Hal inilah yang menyebabkan “keringat dingin” tersebut. Proses pengeluaran keringat diatur oleh hipotalamus (otak).hipotalamus dapat menghasilkan enzim bradikinin yang bekerja mempengaruhi kegiatan kelenjar keringat. Jika hipotalamus mendapat rangsangan, misalnya berupa perubahan suhu pada pembuluh darah, maka rangsangan tersebut diteruskan oleh saraf simpatetik ke
36

kelenjar keringat. Selanjutnya kelenjar keringat akan menyerap air garam dan sedikit urea dari kapiler darah dan kemudian mengirimnya ke permukaan kulit dalam bentuk keringat.

37

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Dari pembahasan diatas dapat disimpulakan Setiap makhluk hidup memerlukan makanan untuk dirinya, lebih-lebih pada anak yang masih dalam pertumbuhan, sangat memerlukan banyak makanan yang bergizi. Makanan diperlukan sebagai: 1. Bahan pembentuk tubuh yaitu untuk pembentukan dan pertumbuhan sel-sel baru, menggantikan sel-sel yang rusak, 2. Bahan penambah cairan tubuh, 3. Bahan penghasil energi. Pencernaan makanan adalah aktivitas saluran makanan (tractus digectivus) dan kelenjar-kelenjarnya dalam sauatu proses memersiakan makanan untuk dapat diserap oleh usus.Dan organ-organ tersebut adalah: mulut, kerongkongan, lambung, usus halus. Usus besar

4.2

Saran Setelah mengetahui proses sistem pencernaan serta gangguan di harapkan kita dapat menjaganya agar tetap sehat. Karena tubuh kita membutuhkan nutrisi, makanlah makanan yang mengandung vitamin, baik untuk tubuh. Hindari makanan yang mengandung bahan pengawet, merokok, dan alkohol. Kandungan gizi juga perlu diperhatikan, karena akan berpengaruh dalam tubuh kita, kalau gizi terlalu banyak ataupun kurang bisa terkena berbagai macam penyakit.

38

MATERI TAMBAHAN

a.

Definisi Fatigue Fatigue berasal dari kata “fatigare” yang berarti hilang atau lenyap (waste time). Secara umum dapat diartikan sebagai perubahan dari keadaan yang lebih kuat ke keadaan yang lebih lemah. Kelelahan merupakan kondisi yang ditandai dengan perasaan lelah dan penurunan kesiagaan serta berpengaruh terhadap produktivitas kerja (Grangjean, 1985 dalam Putri, 2008). Kelelahan Adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan yang lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Pada susunan Saraf terdapat sistim aktivasi (bersifat simpatis) dan inhibisi (bersifat parasimpatis). Istilah kelelahan biasanya menunjukan kondisi yang berbeda-beda pada setiap individu tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Tarwaka, 2010). Kelelahan Adalah kondisi akut, yang dimulai dari rasa letih yang kemudian mengarah pada kelelahan mental ataupun fisik dan dapat menghalangi seorang untuk dapat melaksanakan fungsinya dalam batas-batas normal. Perasaan lelah ini lebih dari sekedar perasaan letih dan mengantuk, perasaan lelah ini terjadi ketika seseorang telah sampai kepada batas kondisi fisik atau mental yang dimilikinya (Australian Safety and Compentation Counsil, 2006).

39

b.

Mekanisme Fatigue Kontraksi merupakan hal terpenting dariotot. Hal ini berkaitan dengan penggunaan adenosin triposphate (ATP) sebagaienergi kontraksi. Mekanisme kontraksi otot berlangsung melalui daur reaksi yang kompleks. Hal ini dapat dijelaskan melalui teori pergeseran filamen (sliding filament theory). Keseluruhan proses membutuhkan energi yang diperoleh dari ATP yang disimpan dalam kepala miosin. Tahapan kontraksi otot hingga relaksasi. Pada neuromuscular junction, asetilkolin dilepaskan dari synaptic terminal menuju reseptor dalam sarkoma. Hasil perubahan potensial transmembran dari serabut otot akan menghasilkan pontensial aksi yang menyebar melintasi seluruh permukaan dan sepanjang tubulus T. Retikulum sarkoplasma melepaskan cadangan ion kalsium, sehingga meningkatkan konsentrasi kalsium di sarkoplasma dan sekitar sarkomer. Ion Kalsium berikatan dengan troporin dan menghasilkan perubahan orientasi kompleks troponintropomiosin yang terlihat pada bagian yang aktif dari aktin, meosin cross bridge terbentuk pada saat kepala miosin berikatan dengan bagian yang aktif. Kontraksi otot dimulai sebagai siklus yang berulang dari meosin cross bridge. Siklus ini terjadidengan adanya hidrolisa ATP. Proses ini menimbulkan pergeseran filamen dan pemendekan serabut otot. Pontensial aksi dibangkitkan dengan adanya pemecahan asetikolin oleh asitilkolinesterase. Retikulum sarkoplasma akan menyerap kembali ion kalsium sehingga konsentrasi ion kalsium menuru. Saat mendekati fase istirahat, kompleks troponin-tropomiosin akan kembali ke posisi awal. Sehingga mencegah interaksi cross bridge lebih lanjut. Tanpa interaksi cross bridge lebih lanjut maka pergeseran filamen tidak akan timbul dan kontraksi akan berhenti. Relaksasi otot akan terjadi dan otot akan kembali secara pasif pada resting lenght.
40

Selama ATP tersedia daur tersebut dapat terus berlangsung. Pada keaadan kontraksi, ATP yang tersedia didalam otot akan habis terpakai 1 detik. Oleh karena itu ada jalur metabolisme produktif yang menghasilkan ATP. ATP dengan bantuan kretin kinase akan segera menjadi kretin pospat. Persediaan kretin pospan ini hanya cukup untuk beberapa detik, selanjutnya ATP diperoleh dari posforilasi oksidatif. Apabila oksigen tidak cukup maka asam piruvat akan diubah menjadi asam laktat, yang apabila menumbuk akan terjadi kelelahan otot. Selama latihan berat banyak oksigen dibawah kedalam otot, tetapi oksigen yang mencapai sel otot tidak cuku. Asam laktat akan menumbuk dan berdifusi ke dalam cairan jaringan dan darah. Keberadaan asam laktat di dalam darah akan merangsang pusat pernafasan sehingga frekuensi dan kedalaman napas pun meningkat. Hal ini berlangsung terus-menerus, bahkan setelah kontrasi itu selesai sampai jumlah oksigen cukup untuk memungkinkan sel otot dan hati mengoksidasi asam laktat dengan sempurna menjadi glikogen.

41

c.

Proses Terjadinya Fatigue Keadaan dan perasaan lelah adalah reaksi fungsional pusat kesadaran yaitu otak (cortex cerebri), yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonis yaitu sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi). Sistem penghambat bekerja terhadap talamus (thalamus) yang mampu menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan menyebabkan kecendrungan untuk tidur. Adapun sistem penggerak terdapat dalam formasio retikularis (formatio reticularis) yang dapat merangsang pusat-pusat vegetatif untuk konversi ergotropis dari organ-organ dalam tubuh kearah kegiatan bekerja, berkelahi, melarikan diri dan lain-lain. Berdasarkan konsep tersebut, keadaan seseorang pada suatu saat sangat tergantung pada hasil kerja antara kedua sistem antagonis tersebut. Apabila sistem penghambat berada pada posisi lebih kuat daripada sistem penggerak, seseorang berada pada kondisi lelah. Sebaliknya, manakala sistem penggerak lebih kuat dari sistem penghambat, maka seseorang berada dalam keadaan segar untuk aktif dalam kegiatan termasuk bekerja (suma’mur, 2009).

42

d.

Patofosiologi Fatigue

Tekanan Panas Beban Kerja

Suhu Tubuh Naik Kapasitas Kerja

Dilatasi Pembuluh Darah dan keluar keringat

Cairan Tubuh Menghilang atau Dehidrasi

Jenis Kelamin Umur Status Gizi Massa Kerja Tingkat pendidikan

Kehilangan Elektrolit Cairan Ekstrasel (NaCl)

Kelelahan

Keseimbangan Cairan dan Volume Darah Terganggu

Menggangu suplai ke otak dan sistem saraf

Kerja Otot Terganggu

Ketidakcukupan Energi

Sintesis ATP

Penumpukan Laktat

43

e.

Proses Pengeluaran Keringat Keringat yang dihasilkan ini berasal dari isi pembuluh darah yang berada di sekitar kelenjar keringat tersebut. Keringat ini mengandung air,garam,urea,asam urat,dan sisa metabolisme lainnya. Pengeluaran keringat ini dipengaruhi oleh temperatur dan hipotalamus melalui sistem saraf otonom yang mengaktifkan saraf

simpatis,sehingga kelenjar keringat pun menjadi lebih aktif.

Pengeluaran Keringat

Faktor

1. Hipotalamu (pusat pengatur suhu) 2. Perbedaan suhu lingkungan dengan suhu pembuluh darah

Suhu Tinggi

Glandula Sudorifera aktif

Pembuluh darah melebar

Darah yang mengalir lebih banyak

Suhu tubuh turun

Penyaringan air dan sisa metabolisme oleh kelenjar keringat meningkat

Keringat mengucur keluar

44

f.

Proses Keluarnya Keringat Dingin Keringat dingin salah satunya dapat diakibatkan karena rendahnya kadar gula dalam darah . awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan melepaskan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. Epinefrin kemudian merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi juga menimbulkan gejala-gejala yang menyerupai kecemasan salah satunya keringa dingin.

45

DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Alih Bahasa : dr. Brahm U. Pendit. Jakarta : EGC Pearce, C. evelyn.2009.Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.Jakarta: Gramedia Syaifuddin,H. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC Sloane, Ethel. 2003. Anatomi Fisiologi untuk Pemula. Jakarta : EGC

46