Al-Qur’an adalah satu-satunya wahyu yang paling indah yang diturunkan Allah s.w.

t kepada
nabi Muhammad s.a.w. di dalamnya ada tanda-danda bukti kebesaran-Nya yang tiada tara.
Patut disyukuri dan dijadikan pegangan hidup untuk manusia-manusia yang mau berfikir.
Di antaranya adalah Surat Ali Imran ayat 19, 67 dan 83 ini. Yang secara garis besar isi
dari ayat-ayat tersebut adalah pengukuhan islam sebagai agama yang benar di sisi Allah
SWT. Selain itu dari ayat-ayat tersebut juga banyak sekali kandungan-kandungan pelajaran
sebagai bekal kita dalam kehidupan beragama.
Oleh sebab itu, kami pemakalah menyusun makalah ini dengan maksud kita bisa
mempelajari dan mengambil pelajaran dari ayat tersebut. Kemudian setelah itu, kita bisa
mengamalkannya dalam keseharian kita, agar kita bisa menjadi manusia yang islami. Bukan
hanya agama kita yang islam, tapi juga mindset dan perilaku kita yang islam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah kandungan dari surat Ali Imron ayat 19,67,83?
2. Bagaimanakah keadaan kaum Yahudi dan Nasrani dalam ayat ini?
3. Agama yang manakah menurut ayat ini benar?
4. Apa sajakah pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini?
C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui kandungan surat Ali Imron ayat 19,67,83.
2. Untuk mengetahui keadaan orang kafir setelah turunya ayat ini.
3. Untuk mengetahui agama yang benar menurut ayat ini.
4. Untuk mengetahui pelajaran-pelajaran yang di dapat dari ayat ini.
D. Batasan Masalah
Kami membatasi bahwasanya pertanyaan- pertanyaan yang diajukan adalah mengenai
makalah yang kami buat yaitu tafsir surat Ali Imron ayat 19,67,dan 83.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Surat Ali Imran ayat 19, 67, dan 83
Ep)³ ¬-¯g].- E³4gN *.- O¦ÞU¯ce"- ¯ 4`4Ò
E-ÞU4u=- ¬-¯g~-.- W-O¬>Òq¡ =U4-´¯^¯- ·º)³
}g` g³u¬4 4` Nª¬-47.~E} O¦·Ug¬^¯- ©O^¯4
¯¦÷_E4uO4 ¯ }4`4Ò¯O¬¼'¯4C ge4C4*) *.- ·])¯··
-.- ÷7C)O=· ´·=Og4^¯- ^¯_÷
4` 4p~E Nª1g-4O¯)³ ºCg1O×g4³ ºº4Ò
=Og^-4O¯^Þe }´¯·¯4Ò ¬]~E L¼OgLEO V©)U¯OG`
4`4Ò 4p~E =}g` 4×-g)O;¯÷©^¯- ^g_÷
4O¯O4¯··Ò¡ ^}Cg1 *.- ¬]O7¯¯l4C ¼N¡·.4Ò =ªÞU¯cÒ¡
}4` O)× gª4OE©OO¯- +÷¯O·-4Ò 4N¯O·C 6-¯Oº±4Ò
gO^O·¯)³4Ò ¬]ON¬E_¯ONC ^g@÷

B. Terjemahan
19). Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-
orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah
Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
67). Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah
seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk
golongan orang-orang musyrik.
83). Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-
lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun
terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.


C. Makna Lughah[1]
Berbeda قرف ؛ فلخ : فلتخإ
Iri hati دسح : ايغب
Lurus ماقتسإ : فنح
Mencari نوغبي – هبلط : ىغب
Tunduk/patuh داقنإ : ملسأ
Tidak menyukai بحأ ّ دض : اهرك

D. Munasabah
Ayat 19
Pada ayat sebelumnya Allah menegaskan bahwa, Dia adalah saksi yang paling jujur
dan adil serta penutur yang paling benar . pada ayat yang diutus unt Alloh menegasan bahwa,
Muhammad itu diutus bagi seuruh mahluk.
Ayat 67
Pada ayat sebelumnya Alloh mecela pada perbuatan orang Nasrani dan Yahudi yang
saling membantah tentang asal-usul Ibrahim (dari golongan Nasrani atau Yahudi). Pada ayat
sesudahnya ditegaskan bahwa orang yang paling berhak menglaim Ibrahim adalah orang-
orang yang mengikuti agamanya pada masanya yaitu nabi Muhammad dan para sahabat-
sahabatnya yang beriman serta pengikut mereka yang lahir pada masa sesudahnya
Ayat 83
Pada ayat sebelumnya Alloh mencela orang-orang yang berpaling (tidak
mempercayai) adanya seorang nabi sesudah mengetahui tentang al-kitab sebagai orang- orang
yang fasik. Pada ayat sesudahnya diterangkan bahwa walau nabi silih berganti datang ,tetapi
mereka dan umat mereka saling percaya dan mendukung tanpa membeda-bedakan.

E. Makna Tafsili
Ayat 19
Ep)³ ¬-¯g].- E³4gN *.- O¦ÞU¯ce"- ¯ 4`4Ò
E-ÞU4u=- ¬-¯g~-.- W-O¬>Òq¡ =U4-´¯^¯- ·º)³
}g` g³u¬4 4` Nª¬-47.~E} O¦·Ug¬^¯- ©O^¯4
¯¦÷_E4uO4 ¯ }4`4Ò¯O¬¼'¯4C ge4C4*) *.- ·])¯··
-.- ÷7C)O=· ´·=Og4^¯- ^¯_÷
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-
orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah
Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Ayat ini menurut Ibn Katsiri mengandung pesan dari Alloh, bahwa tiada agama di
sisiNya dan yang diterimaNya dari seorang pun kecuali Islam yaitu mengikuti rasul-rasul
yang diutusnya hingga berahir dengan Muhammad SAW. Selanjutnya, ulama Mesir
kenamaan itu mengemukakan, bahwa nama ini telah ditetapkan jauh sebelum kehadiran Nabi
Muhammad SAW. Firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim dan diabadikan al-
Qur’an menyatakan: “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari
dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini...” (QS. Al-Hajj [22]:78). Karena itu pula,
agama-agama lain tidak menggunakan nama ini sebagaimana kaum muslimin tidak menamai
ajaran agama mereka dengan Muhammadinisme.[2]
Ayat 67
4` 4p~E Nª1g-4O¯)³ ºCg1O×g4³ ºº4Ò
=Og^-4O¯^Þe }´¯·¯4Ò ¬]~E
L¼OgLEO V©)U¯OG` 4`4Ò 4p~E =}g`
4×-g)O;¯÷©^¯-^g_÷
67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah
seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk
golongan orang-orang musyrik.
Ayat yang lalu baru mengecam kebodohan dan perbantahan mereka, maka ayat ini
membantah kebohongan mereka, Nabi Ibrahim bukan seorang Yahudi sebagaimana diakui
oleh orang-orang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, seperti diakui orang Nasrani,
dengan dalil seperti yang telah dikemukakan, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi
berserah diri kepada Allah dan juga sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang
musyrik, yang dapat diduga oleh orang-orang musyrik Mekkah yang mengaku mengikuti
agama beliau. Ajaran Nabi Ibrahim AS, adalah hanif, tidak bengkok, tidak memihak kepada
pandangan hidup orang-orang Yahudi, tidak juga mengarah kepada agama Nasrani yang
penganut-penganutnya juga mengajak kaum muslimin untuk memeluk agama mereka.[3]
Ayat 83
4O¯O4¯··Ò¡ ^}Cg1 *.- ¬]O7¯¯l4C
¼N¡·.4Ò =ªÞU¯cÒ¡ }4` O)×
gª4OE©OO¯- +÷¯O·-4Ò 4N¯O·C
6-¯Oº±4Ò gO^O·¯)³4Ò¬]ON¬E_¯ONC ^g@÷
83. Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-
lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun
terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.
Apakah mereka berpaling sehingga keluar dari lingkungan ketaatan Allah SWT,
karena mencari agama yang lain dari agama Allah. Bagaimana mereka mencari selain dari
agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri, tunduk patuh segala apa yang dilangit
dan di bumi, baik kepatuhan itu dengan suka karena sesuai dengan fitrah kesucian mereka
atau karena sesuai dengan harapan mereka maupun kepatuhan itu karena terpaksa akibat tidak
mampu mengelak. Baik ini atau itu, yang pasti tidak ada tempat berlindung kecuali Dia dan
hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan untuk dimintai pertanggungjawaban atas segala
sikap dan perbuatan mereka.[4]

F. Makna Ijmali
Agama yang diterima oleh Allah dari hamba-hambaNya adalah Islam. Dengan
pengertian, kepasrahan mutlak kepada pengurusan Allah, menerima semua tatanan urusan
kehidupan dari sumber yang satu (Allah) ini saja, berhukum kepada kitab yang diturunkan
dari sumber ini, dan mengikuti rasul-rasul yang telah diturunkan kitab Allah ini kepadanya.
Maka pada dasarnya kitab suci itu hanya satu (bersumber dari satu sumber). Dan agama itu
hanya satu, yaitu “islam” dengan pengertian sebagaimana yang terdapat dalam hati nurani
manusia dan amal nyata mereka. Pengertian ini diterima oleh setiap orang mukmin dan
pengikut para rasul pada setiap zamannya, apabila islamnya itu bermakna iktikad (yakin)
kepada keesaan Tuhan (pada Allah), kesatuan pengurusan makhluk, taat, dan mengikuti
manhaj kehidupan yang ditetapkan-Nya tanpa kecuali.[5]

G. Asbabun Nuzul
Ayat 19
Abu al-Qasim ath-Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabir dengan sanadnya
dari Ghalib al-Qathan, dia berkata (483),”Saya datang ke Kufah untuk urusan dagang. Saya
menginap dengan A’masy. Pada malam hari, tatkala saya hendak turun, A’masy pun bangkit
kemudian shalat malam. Dia membaca ayat dan sampai pada “Allah mempersaksikan”
hingga ayat “sesungguhnya agama pada sisi Allah ialah islam”. Kemudian dia
mengatakan,”Aku pun bersaksi dengan apa yang dipersaksikan Allah. Aku ingin menitipkan
kesaksian ini pada Allah. Juga aku menitipkan kesaksianku pada sisi Allah bahwa
sesungguhnya agama pada sisi Allah adalah islam sebagai suatu titipan.” A’masy mengatakan
hal itu beberapa kali. Saya berkata,”Sungguh aku mendengar sesuatu dalam ayat itu.” Ketika
pagi tiba, saya menemuinya dan berkata,”Hai Abu Muhammad, saya mendengar Anda
mengulang-ulang ayat itu.” A’masy berkata,”Bukanlah kandungannya telah disampaikan
kepadamu?” Saya menjawab,”Sudah sebulan saya bersama Anda, namun Anda belum pernah
memberitahukannya kepadaku.” A’masy berkata,”Demi Allah, aku tidak akan
menceritakannya kepadamu sebelum satu tahun.” Maka akupun tinggal bersamanya selama
satu tahun. Setelah satu tahun berlalu, maka saya bertanya,”Hai Abu Muhammad, setahun
telah berlalu.” A’masy berkata,”Abu Wa’il telah menceritakan kepadaku dari Abdullah, dia
berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Pada hari kiamat akan ditampilkan pemilik titipan
ayat itu, lalu Allah Azza wa Jalla berkata,”Hamba-Ku telah berjanji kepada-Ku, dan Aku
adalah yang paling berhak memenuhi janji itu. Masuklah ke dalam surga.” Sehingga Allah
SWT berfirman,”Sesungguhnya agama pada sisi Allah ialah Islam.” Penggalan ini
merupakan pemberitahuan dari Allah bahwa tiada agama, menurut-Nya, yang dapat diterima
dari seseorang kecuali agama islam. Islam merupakan panutan para Rasul dan mereka diutus
Allah dengan membawa islam hingga Allah mengakhiri rasul dengan Muhammad SAW yang
menutup seluruh jalan kepada Allah kecuali melalui arah Muhammad SAW.[6]
Ayat 67
Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mengingkari kaum Yahudi dan kaum
Nasrani karena mereka saling bantah mengenali Ibrahim Khalilullah. Masing-masing
golongan mengklaim bahwa Ibrahim itu segolongan dengan mereka. Muhammad bin Ishak
bin Yasar meriwayatkan dari Ibnnu Abbas, dia berkata, “kaum Nasrani Najran dan para
pendeta Yahudi berkumpul dekat Rasulullah saw. Mereka berselisih di dekat beliau. Para
pendeta berkata,” Ibrahim itu tiada lain kecuali seseorang yang beragama Yahudi.” Kaum
Nasrani mengatakan, “Ibrahhim itu tiada lain kecuali seseorang yang beragama Nasrani.”
Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat,” Hai ahli kitab , mengapa kamu bantah membantah
mengenai Ibrahim?” Yakni , wahai kaum Yahudi bagaimana mungkin kamu mengklaim
bahwa Ibrahim itu beragama Yahudi; dan wahai kaum nasrani bagaimana mungkin kamu
mengklaim bahwa Ibrahim itu beragama Nasrani, padahal Ibrahim itu dilahirkan jauh
sebelum keberadaan agama Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu Alloh berfirman, “ apakah
kamu tidak berfikir?”. Kemudian Alloh berfirman, “ Ibrahim bukan seorang Yahudi dan
bukan (pula) seorang Nasrani, namun dia adalah seorang yang lurus dan berserah diri,”
maksudnya condong kepada keimanan dan berpaling dari kemusyrikan,” dan sekali-kali
bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”[7]
Ayat 83, dari keempat referensi yang ada, kelompok kami tidak menemukan asbabun
nuzulnya, mungkin Pak Syaifudin Zuhri bisa menjelaskannya.

H. Al Ibrah
1. Menegaskan bahwa agama yang diterima di sisi Allah adalah agama islam.
2. Allah itu Maha Tahu dan kita sebagai umat yang mempunyai keterbatasan tidak boleh
meragukan hal itu.
3. Wajib mempercayai agama Allah dan percaya atas semua ciptaannya serta meyakini bahwa
kelak kepadaNyalah kita akan kembali.
4. Ibrahim bukanlah orang Nasrani ataupun orang Yahudi, tetapi Ibrahim adalah orang Islam.
5. Segala sesuatu itu kembalinya hanyalah kepada Allah SWT, jadi kita harus selalu berserah
diri kepada Allah SWT.
6. Mendidik kita untuk selalu meyakini keesaan Allah SWT dan Islam adalah agama yang haq.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Bahwasanya mengandung pesan dari Alloh bahwa tiada agama di sisiNya dan diterimanya
dari seorang pun kecuali Islam, yaitu mengikuti setiap rasul-rasulNya setiap saat hingga
berakhir dengan Muhammad saw, perseteruan antara Yahudi dan Nasrani,keharusan manusia
taat pada Alloh.
2. Dijelaskan bahwasanya kaum Yahudi dan Nasrani saling bertengkar mengenai asal Ibrahim
as namun ditegaskan bahditegaskan bahwa Ibwa Ibrahim bukanlah merupakan golongan dari
mereka.
3. Menurut ayat ini dijelaskan bahwa agama yang paling benar dan diterima Alloh adalah Islam
4. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari ayat-ayat ini, seperti yang telah ada atau
diterangkan dalam ibrah.
B. Saran
1. Kita harus meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar.
2. Seharusnya kita menjadi manusia yang taat kepada Alloh dengan menjalankan semua
perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
3. Sebaiknya kita mempelajari sejarah-sejarah nabi terdahulu supaya dapat menambah pelajaran
yang dapat diambil untuk kehidupan ini.
4. Sebaiknya manusia menyadar bahwa kita diberi daya dan kemampuan untuk memilih namun
hal itu terbatas untuk apa yang dianugerahkan Alloh saja.
C. Harapan
1. Semoga makalah ini dapat dijadikan referensi dalam menyelesaikan tugas kuliah.
2. Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan Islam.
3. Semoga makalah ini dapat membantu proses perkuliahan.
4. Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca.