MAKALAH JURNAL PENELITIAN

SEBUAH METODE KCKT-UV DITINGKATKAN UNTUK MENGUKUR GLIKOSIDA TRITERPENIC DAN AGLIKON SECARA BERSAMAAN DALAM DAUN PEGAGAN (Centella asiatica L.) URB (APIACEAE)

Ilham Eka Saputra Taufik Nur Rahman

J3L111040 J3L110067

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang tak henti-hentinya memberikan nikmat kepada kita sehingga selalu terbuka jalan untuk kita meraih apa yang kita cita-citakan. Shalawat serta salam tercurah kepada Rasululah Muhammad SAW sebagai teladan dan guru besar kita dalm menapaki kehidupan dunia. Alhamdulillah sekali lagi penulis ucapkan atas selesainya Makalah Jurnal Kromatografi yang berjudul “ Sebuah Metode HPLCUV Ditingkatkan Untuk Mengukur Glikosida Triterpenic Dan Aglikon Secara Bersamaan Dalam Daun Pegagan (Centella asiatica L.) URB (APIACEAE)” ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya. Makalah ini merupakan rangkuman dari jurnal mengenai mikrobiologi. Maka dari itu, para pembaca hendaknya menjadikan makalah ini sebagai referensi dalam penelitian atau laporan. Tentu saja masih banyak kekurangan dalam makalah ini, untuk itu penulis menerima kritik dan saran demi penyempurnaan makalah ini.

Bogor, Mei 2013

Penyusun

.......................................... 4 1.....................................................1................................................................. Bahan kimia dan sampel tanaman ........................................................................................................................................................1...................................................................................................................................................................................................... 7 TINJAUAN PUSTAKA ..... 10 BAHAN DAN METODE .............................................................................................................................................................3 Manfaat Penelitian ............... 10 3...................................................................................................................................2 Tujuan Penulisan ..... Validasi metode ..... 5 1.........................................................5..........................................................................3.................. 11 3......................................... 4 1................................................................... 15 3.....................................................................................................................................................4........ 9 BAB III .......... 8 2................... 13 3....................................................... 7 2............ Aplikasi untuk sampel daun pegagan ........................................................................................................ 13 3.................................................... 11 BAB IV ............... 10 3.................1..............2.................... Optimisasi pada ekstraksi ..................................................................................................... Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ( KCKT ) .................................................................................3............. 18 BAB V ................................... 2 DAFTAR ISI......1 Latar Belakang Masalah .....................................................................................................................................................................................................2 Kandungan Kimia Daun Pegagan (Centella asiatica) ............................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................... Evaluasi ekstraksi ............... 4 PENDAHULUAN .......................... 21 Daftar Pustaka.................2.........................................1 Klasifikasi Tanaman Pegagan ...................................................................... 6 BAB II ............................ 13 HASIL DAN PEMBAHASAN ......................... Alat ........................................................................................... 21 Simpulan .................................................................... 22 ......................... 10 3.. Larutan standar .............................................................................................................2 Diskripsi Dan Morfologi Tanaman Pegagan .................................................... 11 3................................................................................................... Validasi metode ......................................................................... 3 BAB I ...................... 7 2.......................... 7 2..3....... 21 SIMPULAN DAN DAFTAR PUSTAKA ...........................................

beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman memiliki aktivitas antioksidan. Dengan mengetahui hal ini juga akan dapat membantu penduduk setempat untuk menentukan budidaya dan kondisi panen yang terbaik. dilaporkan menyebabkan perubahan dalam ekspresi gen dan menginduksi sintesis kolagen tipe I pada fibroblast manusia. arthritis.BAB I PENDAHULUAN 1. memiliki efek antiproliferatif pada sel tumor. Australia. Daun pegagan diduga memiliki sejumlah sifat obat dan digunakan dalam pengobatan Ayurvedic untuk pengobatan kusta. Malaysia. salah satu molekul aktif. Xingyi dan kawan . Kebanyakan penelitian yang mengarah pada daun pegagan yang menyuguhkan kuantifikasi heterosida. Madekassosida dilaporkan memiliki efek anti-arthritis dan sifat penyembuhan luka.1 Latar Belakang Masalah Daun pegagan (Centella asiatica) adalah spesies ethnomedicinal herba. Baru-baru ini. Di Madagaskar. Pada sampel yang dikumpulkan selama sepanjang tahun. berasal dari India yang tumbuh secara spontan di daerah subtropis: Cina. TBC kulit. asam dan heterosida tetapi dengan metode yang kurang divalidasi. terdapat perbedaan yang cukup besar dari isi triterpenoid diamati menurut wilayah geografis. varises. sehingga diperlukan penilaian metode analisis yang telah divalidasi. fenotip dan genotipe. Asiatikosida. Beberapa metode yang dilaporkan berbasis HPLC hanya berbeda dalam komposisi fase gerak atau dalam sistem deteksi. sakit perut. Triterpenoid dari daun pegagan (Gambar 1) adalah komponen dari obat medis dan banyak digunakan dalam persiapan kosmetik untuk perawatan kulit. Afrika Selatan dan Madagaskar. meningkatkan perubahan dinding vena pada hipertensi vena kronis dan melindungi pembuluh vena endotelium.kawan mengusulkan metode yang hanya didedikasikan untuk kuantifikasi . penyembuhan luka. tanaman ini sebagian besar digunakan oleh penduduk setempat sebagai obat dan merupakan spesies tanaman obat kedua yang diekspor. tekanan darah tinggi dan sebagai penguat memori dalam otak. Amerika.

Metode yang ada untuk kuantifikasi simultan madekassosida. 1. Penambahan βsiklodekstrin dalam fase gerak digunakan untuk kuantifikasi asam madecassic tunggal.madekassosida dan asiatikosida menggunakan asetonitril / air (29/17 v / v) dalam mode isokratik. Gambar 1 Struktur triterpena daun pegagan (Glu: glukosa. asiatikosida.05% dari H3PO4 sebagai fasa gerak. acetonitril/air dengan TFA 0. asiatikosida dan isomer yang telah dilaporkan oleh Zhang dkk menggunakan detektor ELSD. Monografi dari Farmakope Eropa yang mengkuantifikasi jumlah triterpenoid (Gambar 2a) tapi upaya untuk mereproduksi pemisahan tidak memungkinkan untuk mengukur secara tepat senyawa ini. Hal ini juga diamati oleh European Pharmacopeia kelompok ahli yang berada di bawah revisi monografi. Sebagian besar metode tidak memberikan resolusi yang baik atau tidak cocok untuk LC-MS dan semua kurang divalidasi. Rha: rhamnose).1% atau asetonitril / air masing-masing berisi 0.2 Tujuan Penulisan Tujuan utama dari penulisan ini ialah untuk meningkatkan metode yang ada berdasarkan HPLC-UV dan memvalidasi pengukuran secara bersamaan . bersamaan dengan panjang gelombang deteksi pada 205 nm. asiatikosida dan dua aglikon dielusi selama bagian pencucian gradien dan tidak dibedakan dengan (Gambar 2b). Hanya puncak yang sesuai dengan madekassosida jelas telah teridentifikasi. asam madekassik dan asam asiatik dapat digunakan campuran asetonitril / air. Kuantifikasi hanya madekassosida.

asiatikosida dan aglikon.madekassosida.3 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberi informasi kepada pembaca tentang kandungan yang terdapat dalam daun pegagan (Centella asiatica) agar pembaca mengetahui manfaat yang terdapat pada daun pegagan ini. . asam madecassik dan asam asiatik yang terdapat dalam daun pegagan. 1.

Tanaman yang terdapat diseluruh Indonesia berasal dari Asia tropic dan dapat ditemukan sampai ketinggian 2. Jika keadaan tanahnya bagus. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah.2 Diskripsi Dan Morfologi Tanaman Pegagan Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan. Perbungaan berupa payung tunggal atau 3 sampai 5 bersama-sama keluar dari ketiak daun kelopak.1 Klasifikasi Tanaman Pegagan Pegagan (Centella asiatika L. tepi jalan. lebar lebih kurang 7 mm dan tinggi lebih kurang 3 mm. . tersusun dalam roset yang terdiri dari 2 sampai 10 daun.500m dpl. berlekuk 2 berwarna kuning kecoklatan dan berdinding agak tebal (Syifaiyah 2008). pematang sawah ataupun di ladang yang agak basah. Pada tiap ruas akan tumbuh akar dan daun dengan tangkai daun panjang dan akar berwarna putih. kadang-kadang agak berambut. Daun tunggal. Buah pipih. Urban) termasuk salah saltu tumbuhan yang paling banyak dipakai sebagai bahan ramuan obat tradisional (Reniza 2003). Sesuai dengan klasifikasi dalam tata nama (sistematika) dari tanaman pegagan adalah sebagai berikut: Divisi Kelas Orda Familia Genus Spesies : Spermatophyta : Dicotylodone : Umbillales : Umbilliferae : Centella : Centella asiatica 2. tiap ruas yang menyentuh tanah akan tumbuh menjadi tanaman baru.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Kori-kori (Halmahera) (Syifaiyah 2008).2 Kandungan Kimia Daun Pegagan (Centella asiatica) Pegagan mengandung berbagai zat kimia yang dinamakan triterpenoid glikosida diantaranya asiatikosida. Pagago (Minang). Kerok batok (Jawa). Daun kaki kuda. Antanan gede. Dau tungke (Bugis). Gambar 3 Struktur kimia kandungan pegagan (Reniza 2003). Antanan rambat (Sunda). asam asiatik. mempunyai banyak nama di Indonesia. magnesium. Pegagan. madekassosida. besi) zat pahit vellarine (Syifaiyah 2008). Pegagan atau Gotu Kola dengan nama latin Centella Asiatica atau Hydrocotyle asiatica.1. Pegaga (Deli). Apapaga (Batak). natrium. Pegagan juga mengandung vitamin E dan C yang berperan sebagai antioksidan alami dan juga sebagai perusak radikal bebas serta berperan membangun daya tahan tubuh terhadap infeksi berbagai jenis virus maupun bakteri. Pegaga (makasar). kalsium. . Rendeng. Gagan-gagan.Gambar 2 Tanaman Pegagan (Syifaiyah 2008). Kos tekosan (Madura). 2. asam medakakossida serta garam mineral (seperi garam kalium.

3. system bertekanan tinggi dan detector yang sangat sensitif. mencoba memisahkan pigmen-pigmen dari daun dengan menggunakan suatu kolom yang berisi kapur ( CaSO4 ). Sampel dimasukan ke dalam fase gerak dengan cara penyuntikan sehingga terjadi pemisahan komponen-komponen campuran karena perbedaan kekuatan interaksi antara solute terhadap fase diam (Harvey 2000). Penemu Kromatografi adalah Tswett yang pada tahun 1903. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ( KCKT ) Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacammacam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu rasa gerak yang bisa berupa gas ataupun cair dan rasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) merupakan system pemisahan dengan ketepatan dan efisiensi yang tinggi karena KCKT didukung oleh kemajuan dalam teknologi kolom. Gambar 4 Komponen-komponen penting dalam KCKT (Subani 2008). lstilah kromatografi diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna yang bergerak kebawah kolom (Subani 2008). kecepatan analisis dan kepekaan tinggi serta dapat meminimumkan dekomposisi bahan yang dianalisis (Braithwaite and Smith 1999) Prinsip kerja KCKT. KCKT mampu menganalisis sampel secara kualitatif maupun kuantitatif.2. baik pada campuran maupun komponen tunggal. dengan bantuan pompa fase gerak cair yang dialirkan melalui kolom menuju detector. . Kelebihan menggunakan KCKT ialah mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran. memiliki resolusi yang baik.

Asetonitril (%) 20 35 65 80 . MA. madekassosida (97. Alat HPLC Waters 2690 modul pemisahan (Waters. USA) digunakan terdiri dari pompa. Prancis). HPLC). Asetonitril dan metanol HPLC berasal dari Prolabo. Bel-Gium). Bahan kimia dan sampel tanaman Asiatikosida (99. auto-injektor. detektor spektrofotometri Kromaton UV (Angers. Rostock. Daun pegagan yang dikumpulkan pada bulan Desember 2007 dan Januari 2008 di dataran tinggi daerah Timur Madagaskar. Untuk penentuan spektrum massa. digunakan perangkat lunak X . MA. HPLC) dan asam madekassik (95%. Ekstrak diuapkan sampai kering pada tekanan yang tereduksi. USA). Prancis). Ekstrak kering mentah dilarutkan dalam 10 ml metanol. Bubuk daun disimpan pada suhu kamar dalam ruang gelap dan kering. Daun dipisahkan dari batang.94%. Milford.2%.45 (Whatman. VWR (Leuven. dikeringkan pada 40 ◦ C.1. Jerman). New Jersey.Calibur dengan LCQ Thermo Finnigan (Waltham. semuanya dikontrol dengan perangkat lunak Borwin (Borwin. 3. Table 1 Kondisi terprogram pada KCKT Waktu (menit) 0 15 30 35 Pompa a. Air (%) 80 65 35 20 Pompa b. HPLC). HPLC) yang dibeli dari Extrasynthese (Genay. USA).BAB III BAHAN DAN METODE 3. Sebanyak 1 gram daun kering bubuk diekstraksi dengan Soxhlet selama 8 jam dengan 100 ml metanol. asam asiatik (99%.2. disaring melalui filter 0. digiling dan diayak dengan ayakan 355 µm mesh.

25. laju alir 1 ml / menit dan deteksi pada panjang gelombang 206 nm. batas penerimaan yang diresepkan relatif besar.3.5 dan 5.0 mg / ml) dan asam Asiatik (0. akurasi. karena untuk mengamati faktor respon yang identik dua aglikon di KCKT-UV (Tabel 2). 1. ukuran partikel: 5 µm). Setiap konsentrasi dianalisis dua kali (n = 2) selama 3 hari (k = 3). Pengenceran dilakukan untuk setiap percobaan. Waktu ekstraksi Soxhlet paling tepat ditentukan dengan menggunakan data ini. Tiga konsentrasi digunakan (m = 3) asiaticoside (0. Fase gerak gradien asetonitril / air (Tabel 1). 3.40 45 55 20 80 80 80 20 20 Pemisahan kromatografi dilakukan dengan fase terbalik menggunakan kolom RP18 LiChroCART (250 mm x 4 mm ID. 2.0 dan 2. Sebagaimana matriks biologi yang terdapat pada daun pegagan. tetapi asam asiaticoside dan asiatic dipilih untuk mencapai validasi metode dan untuk mengukur madekassosida dan asam madekassik. Larutan ekstrak diencerkan dengan metanol (1:5.5 mg / ml. Evaluasi ekstraksi Pada kinetik ekstraksi dibentuk dengan mengevaluasi daerah puncak (analisis HPLC) dari masing-masing senyawa setelah 4.5. 8 dan 10 jam (n = 3). Validasi metode Semua referensi senyawa yang tersedia secara komersial. linearitas. Larutan standar Larutan stok asiatikosida dan asam asiatik disiapkan dalam metanol sebesar 5.5 mg / ml). 6. masing-masing disimpan pada 0 ◦ C. batas deteksi (LOD) dan .5.4. v / v) untuk penyusunan standar validasi dan dibubuhi tiga konsentrasi yang diketahui dari campuran stok asiatikosida dan asam asiatik. 3. Akibatnya. Validasi metode dilakukan selama 3 hari dengan menguji kriteria sebagai berikut: fungsi respon. 3.0 dan 2. presisi (pengulangan dan presisi menengah). hanya memilih dua referensi dapat mengurangi biaya analisis. Setiap standar validasi dianalisis tiga kali (n = 3) selama 3 hari (k = 3). trueness.

. Analisis statistik data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak e-noval V2.0 (Arlenda-Liège). dan jangkauan kuantifikasi.kuantifikasi (LOQ).

sonikasi atau sokhletasi. Hasil yang menguatkan dari penemuan Farmakope Eropa menandakan pengamatan masalah dengan metode Farmakope Eropa digunakan untuk mengkondisikan kromatografi dan tidak ada gangguan pada ekstraksi. Optimisasi pada ekstraksi Beberapa model ekstraksi telah disarankan seperti maserasi. Ekstraksi soklet dipilih sebagai yang paling mudah untuk dikendalikan. Pada metode sokletasi. waktu ekstraksi selama 8 jam yang digunakan pada semua percobaan. dkk 2007). tidak ada perbedaan yang signifikan yang diamati setelah 8 dan 10 jam ekstraksi. Seperti pada gambar 3.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Pemilihan metode sokletasi didasarkan pada prosesnya yang lebih singkat dari metode maserasi. . ekstraksi dan distilasi dilakukan pada saat yang bersamaan (Bernad . Akibatnya.

3: asiatikosida (TR = 8.8).6). sedangkan Medadekassodisa merupakan senyawa triterpenoid yang menstimulasi pembentukan protein dan lipid yang dibutuhkan oleh tubuh (Syifaiyah 2008).1). (c) kromatogram standar referensi dengan metode yang dikembangkan (1: madekasosida and isomernya (asiatikosida B). (a) kromatogram dari ekstrak mentah Centella asiatica (1: pelarut.7)). 3: asam madekasik. 4: asam asiatik). pemisahan senyawa yang terdapat pada daun pegagan memiliki kromatogram dengan yang tidak saling bertumpung yang sesuai dengan kromarogram yang ditunjukan oleh standar (gambar 2c). 5: asam asiatik (TR = 21. 4: asam madekasik (TR = 17. Asiatikosida merupakan senyawa yang dapat menstimulasi sintesis collagen (pebaikan jaringan). Pengembangan metode yang dilakukan untuk mendapatkan hasil pemisahan yang baik. 2: asiatikosida. Gambar 4 Struktur kimia Asiatikosida dan Madecassosida (Syifaiyah 2008) . (d) kromatogram ekstrak mentah Centella asiatica dengan metode yang dikembangkan. Berdasarkan kromatogram yang ditunjukan pada gambar 2. (b) kromatogram dari ekstrak mentah Centella asiatica yang diperoleh menggunakan metode European Pharmacopoeia (1: madekasosida). 2: madekasosida (TR = 5.Gambar 2.

senyawa ini pada umumnya digunakan untuk menyembuhkan luka. Asam Asiatik Senyawa ini berperan sebagai anti septic meliputi anti bakteri dan berpotensi sebagai anti-fungi.3 2. Validasi metode Selektivitas dan kemurnian puncak dianalisis dengan perbandingan waktu retensi dan spektrum massa dengan senyawa referensi.2% 95% 99% a b b b Rasio area puncak 1±0.1±1.2 2. Perbandingan kromatogram ekstrak C.0±0.3b a rasio area untuk beberapa kandungan yang telah dikalkulasikan menggunakan respon asiatikosida sebagai acuan.94% 99.1±0. Kami juga mengamati bahwa madekasosida dan isomernya (asiaticoside B juga disebut terminolosida) yang sedikit terpisah.5 1. Spektrum massa dianalisis pada tiga tingkatan (awal. asiatica dari metode Farmakope Eropa (Gambar 2a) dan kromatogram yang diperoleh dengan metode kami (Gambar 2d) menunjukkan resolusi yang baik dan kepentingan metode ini dikembangkan untuk kuantifikasi aglikon.2. 3. Gambar 5 Struktur kimia asam asiatik (Syifaiyah 2008). senyawa ini juga dapat melindungi tubuhdari pengaruh radikal bebas.2. tapi karena keduanya dianggap aktif dan . b RSD (%). tengah dan akhir) dari masing-masing puncak diselidiki dan ditemukan sebanding (Gambar 2c-d dan 4a-d). Table 2 rasio area puncak pada penentuan kandungan yang berbeda dengan asiatikosida Kandungan madekasosida asiatikosida Asam madekasik Asam asiatik Standar sebenarnya 97.

Gambar 3. Semakin kecil nilai bias maka ketepatan akan semakin baik (Bayona and Olsen 2004). Hal ini dipilih karena memiliki selang kepercayaan 95% yang termasuk ke dalam batas toleransi ± 20% untuk setiap tingkat konsentrasi standar untuk kedua analit. Bias relative merupakan tingkat kesalahan relative yang ditunjukkan pada suatu kelas atau tingkat signifikan yang disebabkan adanya pengambilan sampel secara acak dan perawatan yang berbeda-beda.biasanya tidak dipisahkan. Seperti yang terlihat pada Tabel 3. Teoritis dinyatakan dalam bias relatif (%) pada setiap tingkat konsentrasi dari standar. kami menambahkan kedua daerah dan dianggap sebagai salah satu puncak kedua puncak madekasosida untuk memungkinkan perbandingan dengan hasil yang lain. Bias relatif kurang dari 3% (Tabel 3) untuk asiatikosida dan 10% untuk asam asiatik menunjukkan ketepatan sangat baik dari metode ini. semakin kecil nilai standar deviasi dan standar deviasi relatif maka tingkat ketelitian akan semakin baik (Harvey 2000). asam madekasik dan asam asiatik setelah ekstraksi sokletasi dengan waktu yang berbeda pada daun pegagan. 5a dan b) menunjukkan profil akurasi diperoleh dengan regresi kuadrat sebagai fungsi respon untuk kedua standar. Standar deviasi dan standar deviasi relatif dapat menunjukkan tingkat ketelitian suatu pengerjaan. . Presisi dievaluasi dalam hal standar deviasi (SD. Profil Akurasi diplotkan untuk menentukan model regresi yang paling sesuai (Gambar. asiatikosida. Respon madekasosida. RSD (%) untuk pengulangan dan presisi menengah tidak melebihi 4%. mg / ml) dan standar deviasi relatif (RSD%) untuk nilai keterulangan dan presisi menengah.

bias relatif rata-rata serta interval batas . tetapi tidak dapat diukur) adalah 0. LOD (jumlah terkecil dari analit yang dapat terdeteksi dalam sampel. nilai dugaan β 95% (garis putus-putus warna biru) dan garis putus-putus mewakili batas penerimaan (± 20%). jumlah kesalahan sistematis dan acak dari tes hasil. Untuk asiaticoside dan asam Asiatik. Konsentrasi standar validasi dihitung untuk menentukan tingkat konsentrasi.0023 mg / ml.5 dan 2. Seperti yang ditunjukkan pada gambar 5a dan b. Gambar 5 Profil Akurasi asiatikosida (a) dan asam asiatik (b) diperoleh dengan regresi kuadrat. Metode tersebut dapat dianggap akurat antara 1. profil akurasi yang ditunjukkan pada gambar 5a dan b.0 mg / ml untuk asiatikosida dan antara 0. Titik-titik mewakili konsentrasi yang dihitung berdasarkan standar validasi relative sesuai dengan konsentrasi yang ditargetkan.Akurasi memungkinkan untuk mengevaluasi kesalahan total.0113 dan 0. Hasil ini diperkirakan menggunakan intercept rata-rata model kalibrasi dan varians residual dari regresi. Batas toleransi bias relative (garis polos warna merah).0 dan 0. sehingga tingkat konsentrasi terkecil memiliki total kesalahan maksimum 20%.5 mg / ml.0 mg / ml untuk asam asiatik.0 dan 3. Linearitas menunjukkan hubungan konsentrasi yang dihitung menggunakan pendekatan interval dugaan β. Untuk asiaticoside dan asiatic acid. LOQ (jumlah terkecil diukur dalam sampel) ditentukan dengan profil akurasi. LOQ adalah tingkat konsentrasi terkecil dari validasi standar-standar untuk asiatikosida dan asam asiatik yang masing-masing sebesar 1. menunjukkan batas atas dan bawah pada selang kepercayaan β 95% termasuk dalam batas toleransi yang ditetapkan sebesar ± 20%.

Hasil ini menekankan pentingnya metode kuantifikasi baik untuk menentukan budaya terbaik dan kondisi panen. Batas penerimaan ditetapkan sebesar ± 20%. Table 3 hasil validasi pada ekstrak kasar daun pegagan Kriteria Asiatikosida Asam asiatik validasi Rentang Rentang kalibrasi kalibrasi Fungsi regresi regresi tanggapan kuadrat (3 kuadrat (3 poin) 0.8 3 Presisi menengah (%RSD) 1. asam asiatik dan asam madekasik dalam sampel obat daun pegagan. Sebagian besar metode lain yang divalidasi hanya mengukur atau menghitung beberapa molekul aktif. Metode yang dilakukan menunjukkan nilai ketepatan yang dapat diandalkan karena memilliki nilai persen standar deviasi relative (%RSD) yang rendah.8 . asam madekasik dan asam asiatik. Aplikasi untuk sampel daun pegagan Sampel daun pegagan sebanyak 3 buah dikumpulkan di Bagian Timur dan Dataran Tinggi Madagaskar.0987 2.5 1.5 mg/ml mg/ml Konsentrasi Bias relatif Konsentrasi Teoritis (mg/ml) (%) (mg/ml) 1 2. Selain itu.6 0. Nilai-nilai slope yang diperoleh untuk dua standar masing-masing sebesar 1.2421 0. Sebuah metode divalidasi untuk mengembangkan pengukuran asiatikosida.1427 Bias relatif (%) 9.5-5 poin) 0.5 0. asiatikosida.9 0.2313 2. Senyawa heterosida terkandung lebih banyak daripada aglikon dan asiatikosida yang sering menjadi kandungan utama.25-2.2 2 Presisi Keterulangan Keterulangan Presisi menengah (SD mg/ml) (SD mg/ml) (%RSD) 0.7 1 3 2. 3.02 dan 1.7 -5.3. Metode ini dapat mengukur secara bersamaan madekasosida. metode yang dijelaskan di Farmakope Eropa tidak memberikan sinyal yang baik pada rasio gangguan (noise) untuk kuantifikasi akurat aglikon.51 2 0.atas dan bawah pada dugaan nilai β.023. madekasosida.

89±0.23±0.998 1.5.52±0.03294 0.48 3.28±0.23 2.000 0.09 0. asiatikosida Konsentrasi (mg/ml) Konsentrasi mean (mg/ml) 1.17 0.01726 0.02 5.26 4.342 4.02 4.5000 1.5 0.72±0. 3.4 Asam asiatik Konsentrasi (mg/ml) Konsentrasi mean (mg/ml) Ketidakpastian bias (mg/ml) Ketidakpastian (mg/ml) Luas ketidakpastian (mg/ml) Luas ketidakpastian relatif (mg/ml) 3.23±0.07625 0.89±0.3 3.02860 0.23±0.88±0.124 5.9912 Tabel 4 Perkiraan ketidakpastian pengukuran yang berkaitan dengan asiatikosida dan asam asiatik pada setiap tingkat konsentrasi menggunakan regresi kuadrat.03809 0.1997 Batas atas dan bawah nilai harapan β pada galat relatif (%) 2.06 4.02554 0.252 Batas atas dan bawah nilai harapan β pada galat relatif (%) -11.0 2.58±0.44±0.1525 Tabel 5 Perbandingan isi triterpen dalam sampel daun pegagan yang dianalisis dengan metote sebelumnya Sampel Madekasosida Asiatikosida Asam Madekasik Asam Asiatik Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 CA-1 CA-2 CA-3 CA-4 CA-5 1.64±0. 13. 9.007 1. 19.4.25±0.023 -0.07 0.04 1.76±1.0 0.0±0.004286 0.3 Linearitas Slope Intercept r2 1.0 3.013 1.102 0.10 .01017 0.5 1.07 0.08 1.74±0.98±0.000 2.000 3.23±0.08 0.039 <LOD 0.05723 0.08 1.63 0.02065 0.008628 0.01031 0.4 4.72±0.Akurasi 0.5.63±0.6 5.75±0.000 0.138 6.01644 0.30 1.1 -13.06588 0.0.1 7.37±0. 16.005007 0.16±0.1145 0.1029 Luas ketidakpastian relatif (mg/ml) 6.0 1.15 3.6 0.04 1.0 -5.025 4.02 -0.02 1.7±0.7 3.6 -11.05146 Ketidakpastian bias (mg/ml) Ketidakpastian (mg/ml) Luas ketidakpastian (mg/ml) 0.42±0.00 0.02 1.0 2.6.1 -14.000 2.79±0.95±0. 3.6.37±0.04131 0.03 <LOD 0.97±0.27±0.

01 0.29 0.18 2.04 3.64±0.28 0.CA-6 CA-7 Daun tipe 1 Daun tipe 2 2.11±0.14 0.07 0.12±0.12 0.15 2.24 3.05 0.14 .09±0.09±0.27 3.68±0.36±0.67±0.62±0.29 3.02 0.42±0.59±0.38±0.76±0.29 2.13±0.05±0.76±0.

Metode ini dapat mengukur secara bersamaan madekasosida. Sebagian besar metode lain yang divalidasi hanya mengukur atau menghitung beberapa molekul aktif. asiatikosida. Selain itu. asam asiatik dan asam madekasik dalam sampel obat daun pegagan.BAB V SIMPULAN Simpulan Metode ini telah tervalidasi untuk mengembangkan pengukuran asiatikosida. madekasosida. asam madekasik dan asam asiatik. . metode ini di Farmakope Eropa telah memberikan sinyal yang baik pada rasio gangguan (noise) untuk kuantifikasi akurat aglikon.

Syifaiyah B.w. 2000. Observational Studies and Bias in Epidemiology. Chromatography Methods : Fifth Edition. 2004. Malang : Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang.2003. Ekstraksi Zat Pewarna Dari Kulit Manggis. Kluwer Academic Publisher.Daftar Pustaka Bayona M. Riau : Jurusan Teknik Kimia Universitas Riau. Reniza A. Subani. Elvie Yenie & Desi Heltina. Harvey D. Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Asiatikotida Dari Pegagan (Centella Asiatica L. 2007. Bernard C. 1999. Medan : Fakultas MIPA – USU. . USA : MC Graw Hill. . 2008. Penentuan Kadar Natrium Benzoat. Braithwaite and Smith. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pegagan (Centela Asiatica) Terhadap Kadar Sgpt Dan Sgot Hati Mencit (Mus Musculus) Yang Diinduksi Dengan Parasetamol (Skripsi). Modern Analytical Chemistry. Urban) Sebagai Senyawa Anti Bakteri (Srkripsi). 2008. Netherlands. Texas : University of North Texas Fort Worth. Bogogr : Fakultas MIPA – IPB. Kalium Sorbat Dan Natrium Sakarin Dalam Sirup Dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).