BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sebagaimana ilmu keagamaan lain dalam Islam, ilmu ushul fiqih tumbuh dan berkembang dengan tetap berpijak pada Al-Quran dan Sunnah, ushul fiqih tidak timbul dengan sendirinya, tetapi benih-benihnya sudah ada sejak zaman Rosulullah dan sahabat. Masalah utama yang menjadi bagian ushul fiqih, seperti ijtihad, qiyas, nasakh, dan takhsis sudah ada pada zaman Rosulullah sahabat. Dan di masa Rasulullah saw, umat Islam tidak memerlukan kaidah-kaidah tertentu dalam memahami hukum-hukum syar‟i, semua permasalahan dapat langsung merujuk kepada Rasulullah saw lewat penjelasan beliau mengenai Al-Qur‟an, atau melalui sunnah beliau saw. Pada masa tabi‟in cara mengistinbath hukum semakin berkembang. Di antara mereka ada yang menempuh metode maslalah atau metode qiyas di samping berpegang pula pada fatwa sahabat sebelumnya. Pada nmasa tabi‟in inilah mulai tampak perbedaan-perbedaan mengenai hukum sebagai konskuensi logis dari perbedaan metode yang digunakan oleh para ulama ketika itu. ( Abu Zahro : 12 ). Corak perbedaan pemahaman lebih jelas lagi pada masa sesudah tabi‟in atau pada masa Al- Aimmat Al- Mujtahidin. Sejalan dengan itu, kaidah-kaidah istinbath yang digunakan juga semakin jelas bentuknya bentuknya. Abu Hanifah misalnya menempuh metode qiyas dan istihsan. Sementara Imam Malik berpegang pada amalan mereka lebih dapat dipercaya dari pada hadis ahad (Abu Zahro: 12). Apa yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa sejak zaman Rasulullah saw., sahabat, tabi‟in dan sesudahnya, pemikiran hukum Islam mengalami perkembangan. Namun demikian, corak atau metode pemikiran belum terbukukan dalam tulisan yang sistematis. Dengan kata lain, belum terbentuk sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri. B. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Bagaimana peranan dan Kedudukan Fiqh? Bagaimana Penjelasan peranan dan kedudukan Ushul Fiqh Peranan Ushul Fiqh dalam Pengembangan Fiqh islam? Bagaimana kedudukan Fiqh sebagai sumber Hukum setelah Al-qur‟an dan Hadist?

1

bahwa fiqh itu berperan sekali terhadap tingkah laku manusia yang telah baligh dan berakal dalam menempuh kehidupannya sehari-hari sebagai pribadi maupun anggota masyarakat. Fiqh menurut logat: Faham. Dr. Wahab Khallaf. (Jakarta: Rajawali Pers. AbdulWahab Khallaf.‫ ﺍﻠﻔﻬﻢ‬: ‫ﺍﻠﻔﻗﻪﻟﻐﺔ‬ 2. Setelah mengetahui ta‟rif Fiqh secara ringkas kemudian dikemukakan pula peranan dan kedudukan Fiqh dan kaitannya dengan manusia. Dari definisi di atas dapat ditarik suatu pemahaman. seluruhnya diambil dari nash-nash yang telah ada. di samping istinbath dalil-dalil Syari‟ah Islam tidak terdapat nashnya. Fiqh menurut istilah ahli ushul fiqh dari Ulama-ulama hanafiyah: “ilmu fiqh itu menerangkan segala hak dan kewajiban yang berhubungan dengan perbuatan orang-orang yang telah baligh dan berakal (mukallaf)”. Untuk membimbing manusia dalam bertindak. 83-84. menjelaskan tentang ilmu Fiqh:2 “Seluruh hukum syari‟ah. terlebih dahulu dikemukakan kembali ta‟rif fiqh menurut bahasa dan istilah. ucapan ataupun perbuatan.” Manusia sebagai makhluk sosial dalam bertindak. dalam kitabnya Ilmu Ushul Fiqh. yang kemudian digolongkan di dalam ushul fiqh. Peranan dan Kedudukan Fiqih Dalam mencari dan mengemukakan peranan dan kedudukan fiqh. 1972). yang berkaitan dengan berbagai tindak manusia. berpikir selalu dipengaruhi oleh jiwa dan lingkungannya. 11. sehingga manusia itu selamat dalam kedudukan sekarang dan akan datang. berucap dan berpikir dibutuhkan sekali peranan fiqh. 1993). 1 Drs. Nazar Bakhry.BAB II PEMBAHASAN A. 2 . hal. (Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah. hal. Fiqih menurut istilah ialah: “Fiqh menurut istilah yaitu mengetahui hukum-hukum syara‟ yang jalan memperolehnya dengan cara berijtihad”. Ilmu Ushul Fiqh. 2 Abd.1 1. Fiqh dan Ushul Fiqh.

Sebagai kaidah (qanun) yang menjaga seorang faqih dari kesalahan dalammelakukan ijtihad (istinbat hukum). 4 Ibid. Atau sebagai penjelasan jalan 3 Drs. Jadi Ushul lebih dulu lahirnya dari Fiqh. Ushul Fiqh. 5 Muhammad Abu Zahrah. hal. Ushul al-Fiqh sebagai Metode Ijtihad Sebagai metode berijtihad. Nazar Bakhry. karena dasarnya (ushul fiqh) harus dipahami terlebih dahulu. Dengan kata lain tanpa pembahasan mengenai Ushul Fiqh. maka peran ushul itu adalah apa-apa yang diciptakan di atasnya ushul adalah lainnya ushul yaitu Fiqh (hukum islam). antara satu mujtahid dan mujtahid lain memiliki konten Ushul al-Fiqh yang berbeda-beda. Boleh jadi. sebab Fiqh diciptakan dari Ushul Fiqh. Ushul al-Fiqh berperanan sebagai jalan yang menuntunseorang mujtahid dalam melakukan istinbat. namun memiliki tujuan yang sama. berdasarkan Al-Qur‟an dan Sunnah Rasul-Nya. setidaknya ada dua peranan yang dimainkan oleh Ushul al-Fiqh. Loc. Ringkasnya bahwa peranan Ushul Fiqh itu adalah kaidah-kaidah yang diperguanakan mengistimbathkan hukum dan dalil-dalil yang terinci dan kuat. a. Ushul al-Fiqh bisa diibaratkan sebagai sebuah peta jalan atau rute yang menuntun seorang pengembara mencapai tujuannya. yaitu melaksanakan perintahAllah dan menjauhi larangan-Nya dalam kerangka maslahah manusia sebagaimakhluk individu maupun sosial. Peranan Ushul al-Fiqh dalam Menalar Hukum Islam Muhammad Abu Zahrah. peranan dan kedudukan Fiqh adalah menerapkan Hukum Islam.3 B.Jadi. Hal. Maka kedudukan Ushul Fiqh itu adalah sebagai dasar dari Fiqh Islam: artinya Ushul Fiqh itu merupakan sumber-sumber/dalil-dalil dan bagaimana cara menunjukkan dalil-dalil tersebut kepada hukum syara‟ secara ijmal/garis besar. Peranan dan Kedudukan Ushul Fiqh Peranan ushul fiqh menyiapkan kaidah-kaidah dengan mempergunakan dalil-dalil yang terinci yang diperlukan dalam menetapkan hukum syara‟. terhadap seluruh tindakan maupun perbuatan. tindakk-tanduk dan sebagainya. cit..4 Jadi peranan dan kedudukan Fiqh dan Ushul. Dalam hal menalar hukum ini.. dalam sasarannya menerapkan hukum Islam terhadap orang-orang yang mukallaf. 85. (Pustaka Firdaus) 3 .5 seorang ulama kenamaan dari Mesir. maka Fiqh tidak dapat diciptakkan. sebab keduanya buth membutuhkan. adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. 85. perkataan. yaitu: Sebagai metode yang menjadi pegangan bagi seorang faqih yang hendak berijtihad.

Ilmu Ushul Fiqih. Tentu saja fungsi atau peranan Ushul al-Fiqh ini amat membantu mujtahid dalammelaksanakan tugasnya. Ushul fiqih itu terus berkembang menuju kesempurnaannya hingga puncaknya pada abad kelima dan awal abad keenam hijriyah. Ushul al-Fiqh sebagai Kaidah Sebagai kaidah. Atau korektor atas kesalahan yang telah dilakukannya. Nah.yangtelah ditempuh oleh seorang mujtahid. Peranan Ushul Fiqih dalam Pengembangan Fiqih Islam Dapat dikatakan bahwa kegiatan ulama dalam penulisan ilmu ushul fiqih merupakan salah satu upaya dalam menjaga keasrian hukum syara’ kegiatan tersebut dimulai pada abad ketiga hijriyah. hal. 43. target ushul fiqih itu ialah agar ia dapat mengetahui metode ijtihad imam mazhab dalam meng-istinbath hukum sehingga ia dapat men-tarjih dan men-takhrij pendapat madzhab tersebut. bagi nonmujtahid yang mempelajari Fiqih Islam. orang yang mengistinbath hukum dapat terhindar dari kekeliruan. b. Ushul al-Fiqh memiliki peranan sebagai pengingat mujtahid darikesalahan yang mungkin akan dilakukannya. ia adalahseorang manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan kapan saja. (Bandung: Pustaka Setia. sehingga orang-orang yang datangsesudahnya bisa memahami alasan mujtahid tersebut menempuh jalan tersebut. di sinilah peranan Ushul al-Fiqh amat dirasakan oleh mujtahid itu. Bagaimana pun cerdasnya seorang mujtahid. Pada abad inilah muncul kitab-kitab ushul fiqih yang menjadio standar dan rujukan untuk perkembangan ushul fiqih selanjutnya. yaitu menghindari atau setidaknya meminimalisir kesalahan-kesalahan tersebut. 2007). seorang mujtahid dalam ber-ijtihad-nya berpegang pada kaidah-kaidah yang benar. Abad tersebut merupakan abad keemasan penulisan ushul fiqih karena banyak ulama memusatkan perhatiannya pada ilmu tersebut. C. 6 Rahmat Syafi‟i. (As-Sa‟di: 24-28) Target yang hendak dicapai oleh ushul fiqih ialah tercapainya kemampuan seorang untuk mengetahui hukum syara’ yang bersifat furu’ dan kemampuannya untuk mengetahui metode istinbath hukum dari dalil-dalilnya dengan jalan yang benar. Sebaliknya. Dengan demikian. Dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqih berarti.6 Target studi fiqih bagi mujtahid ialah agar ia mampu meng-istinbath hukum yang ia hadapi dan terhindar dari kekeliruan. 4 .

Sesungguhnya pendapat mayoritas ulama menyatakan bahwa pintu ijtihad itu adalah berdasar dalil syara‟. Karena tidak seorang pun berpendapat bahwa ijtihad itu mempunyai masa atau kurun tertentu dan terbatas sehingga bisa dikatakan waktunya sudah berakhir. hal ini berarti dari ilmu ushul fiqih tidak tercapai. Demikian pula dapat dipahami secara baik dan tepat apa-apa yang dirumuskan ulama mujtahid dan bagaimana mereka sampai kepada rumusan itu. sehingga hasil ijtihadnya sesat dan menyesatkan. Dengan demikian.7 7 Rahmat Syafi‟i. apabila target dari ilmu ushul fiqih sebagaimana telah dijelaskan diatas. Mereka mengatakan bahwa pintu ijtihad tertutup supaya jalan menuju kerusakan tertutup pula dan hawa nafsu pula untuk main-main dalam hukum syara‟ dapat dihindari.(Al-Amidi. Dengan kaidah ushul serta bahasannya itu dapat dipahami nash-nash syara' dan hukum yang terkandung di dalamnya. 44-45. Dengan demikian. ijtihad kapan saja dapat dilakukan dan bisa kembali lagi sebagaimana di masa Aminat Al-Mujtahidin selama ada orang yang ahli dalam ber-ijtihad atau selama ada orang yang memenuhi syarat ber-ijtihad. terutama setelah masa sahabat dan tabi‟in. sedangkan pintu ijtihad telah tertutup sejak sekitar sepuluh abad yang lalu. kecuali dengan diaplikasikannya kaidahkaidah ushuliyah dengan metode istinbath. 1:1) Sebagaiman telah kita ketahui bahwa motif dirintisnya. dan manusian sejak saat itu sampai sekarang masih terikat dan berpegang teguh pada hukum-hukum fiqih yang tertulis dalam kitab-kitab madzhab fiqih. Demikian juga tidak ada seorang ulama yang berpendapat bahwa ijtihad itu dilarang sama sekali. yang ditunjuk oleh dalil-dalil itu. Hanya saja. Oleh sebab itu. ulama berpendapat demikian karena pertimbanganpertimbangan yang telah dikemukakan diatas. Tujuan yang hendak dicapai dari ilmu Ushul al-Fiqh adalah untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dail syara' yang terinci agar sampai kepada hukum-hukum syara' yang bersifat amali.. Ketika para ulama melihat orang-orang yang bukan ahli ijtihad tetap ber-ijtihad. dan ditetapkan kaidah-kaidah disebabkan adanya kebutuhan mujtahid terhadap kaidah itu untuk keperluan istinbath hukum. cit. 5 . bagi seseorang yang memenuhi syarat ijtihad. yakni menutup pintu ijtihad. maka para ulama mengambil sikap memilih sesuatu yang lebih ringan mudaratnya. (Umar Abdullah : 23).Hal ini tidak dapat dilakukan dengan tepat dan benar. Loc. dikodifikasikannya. Hal. tidak ada halangan baginya untuk melaksanakan ijtihad.

lihat juga. Imam Abu Hanifah mengemukakan urutan dalil dalam mengistimbathkan hokum sebagai berikut: Al-Qur‟an. Sedangkan Imam Malik. 1996. ia pun memerlukan ilmu ushul fiqih sebab tanpa engetahui ilmu tersebut.Segi lain orang yang hendak mendalami fiqih islam adalah kebutuhan pada ilmu ushul fiqih selalu ada. setelah melakukan analisis dari pandangan kedua aliran. Imam Syafi‟I berupaya mempelajari secara seksama perdebatan yang terjadi antara ahlul hadist yang bermarkas di Madinah dengan ahlul Ro’yi di Irak. Ushul Fiqh I.8 Para Imam Mazhab dari keempat mazhab tersebut sepakat dengan dalil yang masingmasing Mazhab menambahkan metode istimbat hokum lainnya. Dalam kitabnya “AlRisalah”. yang diharapkan dapat dijadikan patokan umum dalam mengistimbathkan hokum. hal. fatwa para tabi‟in yang sejalan dengan pemikiran mereka. Kitab ushul fiqh tersebut adalah Al-Risalah. Demikian pula ulama hendak men-tarjih pendapat imam madzhab-nya. Hal ini karena mujtahid madzhab yang tidak sampai ke tingkat mujtahid mutlak perlu mengetahui kaidah-kaidah dan undang-undang ushul fiqih. Misalnya. Imam Syafi‟I berusaha memperlihatkan pendapat yang shahih dan pendapat yang tidak shahih. Ulama‟ ushul fiqh Malikiyah juga melakukan hal yang sama yaitu dengan menambahkan Ijma’ ahlul Madinah karena statusijma’ ahlul Madinah merupakan sunnah yang secara turun temurun 8 Fakhrudin al-Razi. Irak dan Madinah. berpegang kepada Al-Qur‟an. Jakarta:Logos Publising House. Hadist. sehingga terlihat jelas perbedaan antara satu imam dengan imam yang lainnya dalam mengistimbathkan hokum dari alQur‟an dan Sunnah. Selanjutnya Imam Syafi‟I dengan metode-metode ijtihad dan sekaligus buat pertama kali membukukan ilmu ushul fiqh yang dibarengi dengan dalil-dalilnya. Manaqib al-Syafi‟I. mulai dari generasinya sampai generasi selanjutnya. hal. Mesir: al-Matba‟ah al-„Alamiyah. Dan bagi mujtahid madzhab yang hendak mempertahankan imam madzhab-nya tidak mungkin dapat melaksanakannya dengan baik tanpa mengetahui ilmu ushul fiqih dan kaidah-kaidahnya. 6 . yaitu istihsan dan „Uruf dalam mengistimbathkan hukum. ulama‟ ushul fiqh dari kalangan Hanafiah mengakui teori-teori ushul fiqh imam syafi‟I. qiyas dan istihsan. fatwa yang didasarkan atas kesepakatan para sahabat. Berdasarkan analisisnya inilah dia membuat teori ushul fiqh.Nasrun Haroen. tetapi mereka menambah metode atau teori lainnya. Masing-masing imam merumuskan metode ushul fiqh sendiri. ia tidak mungkin dapat men-tarjih dengan baik dan benar.9-11.1-9. Sunnah. juga banyak mengistimbathkan hokum berdasarkan amalan penduduk Madinah (‘amal ahlul Madinah). ttt.

ushul fiqh menemukan bentuknya yang sempurna.. sehingga generasi sesudahnya cenderung hanya memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan kasus yang mereka hadapi pada zamannya masing-masing Dengan demikian. para analisis ushul fiqh menyatakan bahwa pada masa keempat mazhab tersebut. para ulama memandang ilmu ushul fiqih sebagai ilmu dharuri yang penting dan harus dimiliki oleh setiap faqih dan dipandang sebagai ilmu syari‟ah yang terpenting dan tertinggi nilainya. yang terjadi antara lain akibat adanya perbedaan dalam membangun teori ushul fiqih untuk menggali hukum islam. misalnya Al-amidi yang mengajukan kehujjahan ijma‟ sukuti. Dan bisa juga dikatakan sebagai kerangka acuan yang dapat digunakan sebagai pengembangan pemikiran fiqih islam dan sebagai penyaring pemikiran-pemikiran seorang mujtahid. hal. tanpa di pengaruhi masalah furu‟ dan mazhab. setiap permasalahan yang didukung naqli dapat dijadikan kaidah. “sesungguhnya ilmu ushul itu merupakan ilmu syari‟ah yang termulia. peranan ushul fiqih dalam pengembangan fiqih Islam dapat dikatakan sebagai penolong faqih dalam mengeluarkan hukum-hukmu syara‟ dari dalil-dalilnya. baik dari dalil naqli maupun aqli. Begitu pula dalam menetapkan kaidah. Selain itu. pada kenyataannya dikalangan syafi‟iyah sendiri terjadi pertentangan.” (Ibnu Khaldun : 0452) Berdasarkan hal tersebut di atas. Ibnu khaldun dan kitabnya Muqaddamah berkata. Aliran pertama disebut aliran Syafi‟iyah dan jumhur mutakallim (ahli kalam). Namun. Terlepas dari perbedaan pendapat antara para Imam Mazhab empat tersebut. Sehubungan dengan ini. sehingga ada kalanya kaidah tersebut sesuai dengan masalah furu‟ dan ada kalanya tidak sesuai. Disamping itu ulama‟ Malikiyah menambahkan metode Maslahatul Mursalah dan Sadd al-Zari’ah.dilaksanakan sejak zaman Rasullullah SAW sampai pada zaman mereka. Aliran ini membangun ushul fiqih secara teoritis murni tanpa dipengaruhi oleh masalah-masalah cabang keagamaan. Padahal imam syafi‟i sendiri tidak 9 Ibid. dikenal dua aliran. aliran ini menggunakan alasan yang kuat. Perlu diingat pula bahwa ushul fiqih merupakan suatu usaha ulama terdahulu dalam rangka menjaga keutuhan dadalah lafazh yang terdapat dalam nash syara’.9 D. 45. 7 . dan terbanyak kaidahnya. tertinggi nilainya. terutama dalam AlQur‟an. tentang berbagai metode ijtihad yang ada. Aliran-Aliran Ushul Fiqih Dalam sejarah perkembangan ushul fiqih.

Permasalahan tersebut biasanya berkaitan dengan pembahasan tentang hakim (pembuat hukum syara‟) yang berkaitan pula masalah aqidah.mengakuinya. Al-Burhan fi ushul fiqh (imam Al-haramain Aljuwaini). 771 H). 3. 8 . Al-Mankhul min Ta‟liqat Al-ushul. Padahal ijma‟ yang diakui secara mutlak oleh imam syafi‟I adalah ijma‟ dikalangan sahabat saja secara jelas. Sebagai akibat dari perhatian yang terlalu difokuskan pada masalahan teoritis. 861 H) 2. Jam‟u Al-jawawi. Aspek bahasa dalam aliran ini sangat dominan. AlMahshul (faqih Ad-Din Ar-razi Asy-syafi‟i). dan taqbih (menganggap sesuatu itu buruk dan dapat dicapai akal atau tidak). seperti penentuan tentang tahsin (menganggap sesuatu itu baik dan dapat dicapai akal atau tidak). dan al-kasyaf al-asrar (imam al-bazdawi). Dan aliran ini berusaha untuk menerapkan kaidah-kaidah yang mereka susun terhadap furu‟. kitab ini merupakan rangkuman dari tiga kitab ushul fiqih yaitu : Kasf Al-asrar (imam Al-Bazdawi). mereka mengubah atau membuat kaidah baru supaya bisa diterapkan pada masalah furu‟ tersebut. Ta‟sis An-Nazhar (imam abu zaid al-dabusi). oleh Shadr Asy-Syari‟ah (w. Sedangkan kitab-kitab ushul yang mengabungkan kedua teori diatas antara lain : 1. Pendapat Alamidi tersebut sebenarnya merupakan salah satu konsekuensi dari usahanya bersama Al-Qarafi untuk menyatukan dua aliran ushul fiqih. Tahqih Al-Ushul. Apabila sulit untuk diterapkan. 747 H). aliran ini sering tidak bisa menyentuh permasalahan praktis. At-tahrij. Di antara kitab-kitab standar dalam aliran fuqaha ini antara lain : kitab Al-Ushul (imam abu hasan al-kharkhi. dan mukhtashar ibnu al-hajib (ibnu AlHajib Al-maliki). Al-Ushul (abu Bakar Al-jashsaha). Selain itu. aliran ini seringkali terjebak terhadap masalah yang tidak mungkin terjadi dan terhadap kema‟shuman Rasulullah SAW. karena dalam menyusun teorinya aliran ini. disusun oleh Kamal Ad-Din Ibnu Al-Hanafi (w. Al-Mu‟tamad (Abu Alhusain Muhammad ibnu „Ali Al-Bashri). Kitab standar aliran ini antara lain : Ar-risalah (imam syafi‟i). dikenal dengan istilah aliran fuqaha yang dianut oleh para ulama mazhab Hanafi. Aliran kedua. Dinamakan mazhab fuqaha. ushul Al-sarakhsi (imam Al-sarakhi). Shifa Al-gazali fi Bayan asy-syahab wa Al-mukhil wa Masalik At-Ta‟lil. banyak dipengaruhi oleh furu‟ yang ada dalam mazhab mereka. Al-mushfa fi ilmi Al-ushul (ketiganya karangan imam abu hamid Algazali). oleh Taj Ad-Din Adb Al-Wahab As-subki Asy-syafi‟I (w.

9 .4. oleh Muhibullah Ibnu Abd Al-Syakur (w. Musallam Ats_Tsubut. Pembahasan ushul fiqih yang dikemukakan dalam kitab tersebut berhasil memberikan corak baru. sehingga para ulama ushul menganggap sebagai kitab ushul fiqih kontenporer yang komprehensif dan akomodatif untuk zaman sekarang .1119 H). Pada abad 8 muncul imam Asy-Syatibhi yang menyusun kitab Al-Muwafaqat fi Al-ushul Asy-Syari‟ah.

Sebagai penutup. Peranan ushul fiqh menyiapkan kaidah-kaidah dengan mempergunakan dalil-dalil yang terinci yang diperlukan dalam menetapkan hukum syara‟. tindak-tanduk dan sebagainya. Dengan kaidah ushul serta bahasannya itu dapat dipahami nash-nash syara' dan hukum yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian. Kesimpulan Peranan dan kedudukan Fiqh adalah menerapkan Hukum Islam. kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut adil wawasannya dalam penulisan ini. B. perkataan.BAB III PENUTUP A. berdasarkan Al-Qur‟an dan Sunnah Rasul-Nya. Dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqih berarti. Tujuan yang hendak dicapai dari ilmu Ushul al-Fiqh adalah untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dail syara' yang terinci agar sampai kepada hukum-hukum syara' yang bersifat amali. Target yang hendak dicapai oleh ushul fiqih ialah tercapainya kemampuan seorang untuk mengetahui hukum syara’ yang bersifat furu’ dan kemampuannya untuk mengetahui metode istinbath hukum dari dalil-dalilnya dengan jalan yang benar. terhadap seluruh tindakan maupun perbuatan. Amin. orang yang mengistinbath hukum dapat terhindar dari kekeliruan. Ringkasnya bahwa peranan Ushul Fiqh itu adalah kaidah-kaidah yang diperguanakan mengistimbathkan hukum dan dalil-dalil yang terinci dan kuat. Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. semoga Allah SWT membalas semua jerih payah semua pihak lebih-lebih bapak dosen pengampuh yang telah memberi semangat pada kami dalam menyelesaikan makalah ini dan bermanfaat bagi kita semua. seorang mujtahid dalam ber-ijtihad-nya berpegang pada kaidah-kaidah yang benar. Saran Dengan selesainya makalah ini. 10 . yang ditunjuk oleh dalil-dalil itu. untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami tunggu dan kami perhatikan.

Ilmu Ushul Fiqih. Muhammad Abu Zahrah.DAFTAR PUSTAKA Nazar Bakhry. 11 . Fiqh dan Ushul Fiqh. Abd. Bandung: 2007. Ilmu Ushul Fiqh. 1996. Ushul Fiqh. Wahab Khallaf. Jakarta:Logos Publising House. Rajawali Pers. Rahmat Syafi‟i. Pustaka Setia. Pustaka Firdaus. Nasrun Haroen. Jakarta: 1972. Jakarta: 1993. Dewan Dakwah Islamiyah. Ushul Fiqh I. Jakarta: 1998.