STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTERMI PADA AN. R
DENGAN OBSERVASI DEACUE HEMORRHACIC
FEJER (DHF) DI RUANG ANGGREK RSUD
dr. SOEHADI PRI1ONEGORO
SRAGEN
DI SUSUN OLEH :
DWI YENI RAHMAN
NIM. P. 10O17
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2013
i
STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTERMI PADA AN. R
DENGAN OBSERVASI DEACUE HEMORRHACIC
FEJER (DHF) DI RUANG ANGGREK RSUD
dr. SOEHADI PRI1ONEGORO
SRAGEN
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DI SUSUN OLEH :
DWI YENI RAHMAN
NIM. P. 10017
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis
Ilmiah dengan judul 'ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTERMI PADA AN.R
DENGAN OBSERVASI DENGUE HEMORRHAGIC FEJER (DHF) DI BANGSAL
ANGGREK RSUD dr. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN.``
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan
dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang
terhormat :
1. Setiyawan, S.Kep.,Ns, selaku Ketua Program Studi DIII Keperawatan yang telah
memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada
Surakarta.
2. Erlina Windyastuti, S.Kep.,Ns, selaku Sekretaris Ketua Program Studi DIII
Keperawatan Di Stikes Kusuma Husada Surakarta.
3. Siti Mardiyah, S.Kep., Ns, selaku dosen pembimbing dan penguji I yang telah
membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi,
perasaan nyaman dalam bimbingan serta memIasilitasi demi sempurnanya studi
kasus ini.
4. Nurma Rahmawati, S. Kep, Ns, selaku dosen penguji II yang telah membimbing
dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman
dalam bimbingan serta memIasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.

5. Tyas Ardhi S, S.Kep., Ns, selaku penguji III yang telah membimbing dengan
cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam
bimbingan serta memIasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
6. Semua dosen Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada
Surakarta, yang telah memberikan bimbingan baik berupa materi, wawasan serta
ilmu yang bermanIaat dengan begitu sabar.
7. Kedua orang tuaku, yang selalu menjadi sumber inspirasi dan memberikan
dukungan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
8. Saudara serta keluarga tercinta yang senantiasa memberikan dukungan dan
semangat dalam setiap proses yang dilalui.
9. Teman-teman mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma
Husada Surakarta, dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu- persatu,
yang telah memberikan dukungan moral dan spiritual.
Semoga laporan studi kasus ini bermanIaat untuk perkembangan ilmu
keperawatan dan kesehatan. Amin.
Surakarta, Juni 2013
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ...................................................................................................... i
Surat Pernyataan Keaslian Tulisan ....................................................................... ii
Lembar Persetujuan .............................................................................................. iii
Lembar Pengesahan ............................................................................................. iv
Kata Pengantar ..................................................................................................... v
DaItar Isi ............................................................................................................... vii
DaItar Lampiran ................................................................................................... ix
DaItar Gambar ...................................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1
B. Tujuan Penulisan .......................................................................... 3
C. ManIaat Penulisan ........................................................................ 4
BAB II LAPORAN KASUS ............................................................................ 6
A. Identitas Pasien ............................................................................. 6
B. Pengkajian .................................................................................... 7
C. Perumusan Masalah ...................................................................... 11
D. Tujuan dan Kriteria Hasil ............................................................. 11
E. Perencanaan Keperawatan ............................................................ 12
F. Implementasi ................................................................................ 12
G. Evaluasi ........................................................................................ 14

BAB III PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN ............................................. 16
A. Pembahasan .................................................................................. 16
B. Simpulan dan Saran ...................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Log Book
Lampiran 2 Format Pendelegasian Pasien
Lampiran 3 Surat Keterangan Selesai Pengambilan Data
Lampiran 4 Asuhan Keperawatan
Lampiran 5 Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah
Lampiran 6 DaItar Riwayat Hidup

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Genogram An. R ................................................................. 8
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam yang
berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak-anak tetapi
lebih banyak menimbulkan korban pada anak-anak berusia 15 tahun.
Demam berdarah dengue merupakan bentuk yang lebih berat di sertai
dengan pendarahan dan dapat menimbulkan renjatan (syok) yang dapat
mengakibatkan kematian penderita (Nasronudin, 2007).
Demam berdarah dengue merupakan demam akut yang disebabkan
oleh virus dengue dan penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes.
Penyakit ini biasanya ditandai oleh demam yang terjadi secara mendadak
dan berlangsung selama 2-7 hari, adanya pendarahan yang terjadi pada
hari kedua dari demam dan umumnya terjadi pada kulit, terjadi
hepatomegali, dan bisa juga terjadi syok (Nasronudin, 2007).
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat secara global, nasional dan lokal. Lebih dari 2,5
milyar penduduk (lebih dari 40 persen populasi dunia) berisiko terinIeksi
DBD. Saat ini, DBD menjadi penyakit endemik lebih dari 100 negara di
AIrika, Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan PasiIik Barat dan
untuk pertama kalinya dilaporkan terjadi kasus DBD di Prancis, Kroasia
dan beberapa negara lain di Eropa (WHO, 2012). Di Indonesia, anak-anak
2
merupakan kelompok usia yang paling banyak menderita DBD, dengan
proporsi sekitar 30 persen (Kemenkes RI, 2012).
Di Kota Palu, penyakit DBD juga masih menjadi perhatian utama
karena tingginya jumlah kasus dalam tiga tahun terakhir. Setiap tahun,
sekitar 30 persen dari seluruh penderita DBD adalah anak-anak usia 5-14
tahun (anak usia sekolah) dan sebagian besar berada di wilayah Kecamatan
Palu Selatan (Dinkes Kota Palu, 2012).
Kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah sebuah teori
yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antara
kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan. Kebutuhan
dasar manusia menurut Maslow dibagi menjadi lima tingkat, yang
pertama kebutuhan Iisiologis, keamanan dan keamanan, kebutuhan cinta
dan rasa memiliki, kebutuhan rasa berharga dan haga diri, dan tingkatan
yang akhir adalah aktualisasi diri. Kebutuhan dasar secara Iisiologis
merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi. Kebutuhan keamanan atau
perlindungan salah satunya, yaitu hipertermi atau demam (Potter & Perry,
2006). Hipertermi adalah suatu keadaan suhu tubuh di atas normal sebagai
akibat peningkatan pusat pengatur hipotalamus, yang dipengaruhi oleh IL-
1 (Sodikin, 2012).
Suhu tubuh normal berkisar 36º-37ºC, suhu tubuh dapat diartikan
sebagai keseimbangan antara panas yang diproduksi dengan panas yang
hilang dari tubuh. Kulit merupakan organ tubuh yang bertanggung jawab
untuk memelihara suhu tubuh agar tetap normal dengan mekanisme
3
tertentu. Produksi panas dapat meningkat atau menurun dapat dipengaruhi
oleh berbagai sebab, misalnya penyakit atau stres. Suhu tubuh yang terlalu
ekstrim baik panas maupun dingin dapat memicu kematian (Hidayat,
2008).
Hasil pengkajian yang dilakukan penulis didapatkan data subyektiI
yaitu Ny.P mengatakan anaknya panas sejak tiga hari yang lalu setelah
dipijat dari dukun,dan data obyektiInya kulit An.R teraba panas,kulit
tempak kemerahan,dan suhu An.R 38,7´C, nadi 132 kali per menit,
pernaIasan 40 kali per menit. Menurut Soedarto (2002) hipertermi
merupakan masalah yang harus segera dipenuhi dan segera diatasi.
Demam pada anak yang tidak segara diatasi atau berkepanjangan dapat
menyebabkan kejang pada anak, dehidrasi, bahkan terjadi syok, dan
gangguan pada tumbuh kembang pada anak.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik menyusun
karya tulis ilmiah dengan judul 'ASUHAN KEPERAWATAN
HIPERTERMI PADA AN. R DENGAN OBSERVASI DENGUE
HEMORRHAGIC FEJER (DHF) DI BANGSAL ANGGREK RSUD dr.
SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN¨.
4
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penulis dapat melaporkan kasus hipertermi pada An. R dengan
observasi Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen.
2. Tujuan Khusus
a. Penulis dapat melakukan pengkajian pada An.R dengan hipertermi
di Ruang Anggrek RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
b. Penulis dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada An.R
dengan hipertermi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen.
c. Penulis dapat menyusun rencana Asuhan Keperawatan pada An.R
dengan hipertermi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen.
d. Penulis dapat melakukan tindakan keperawatan pada An.R
dengan hipertermi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen.
e. Penulis dapat melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada An.R
dengan hipertermi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen.
I. Penulis mampu mengalisa asuhan keperawatan pada An.R dengan
hiperterrmi di Ruang Anggrek RSUD dr. Soehadi Prijonegoro
Sragen.
5
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi institusi pendidikan.
Menjadi wacana dan bahan belajar mengajar terhadap pemberian
asuhan keperawatan pada pasien hipertermi pada observasi Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF).
2. Bagi Instansi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan menambah reIerensi untuk lebih
meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan pada pasien dengan
hipertermi di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
3. Bagi pembaca dan perawat
Meningkatkan pengetahuan kepada pembaca tentang hipertermi
dengan observasi Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan perawatan
pada pasien serta dapat digunakan sebagai alat bantu bagi perawat
untuk mengevaluasi dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan
bagi pasien dengan hipertermi dengan observasi Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF).
4. Bagi penulis
Diharapkan penulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
yang lebih mendalam dan upaya dalam memberikan asuhan
keperawatan khususnya pada pasien dengan hipertermi dengan
observasi Dengue Hemorrhagic Fever (DHF).
6
BAB II
LAPORAN KASUS
Pada bab ini penulis akan menuliskan laporan kasus asuhan keperawatan
yang dilakukan pada An. R selama tiga hari mulai tanggal 24 April 2013 sampai
dengan tanggal 26 April 2013 di bangsal Anggrek RSUD dr. Soehadi Prijonegoro.
Laporan kasus yang akan dikemukakan pada bab ini adalah proses keperawatan
yang meliputi, pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan,
implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan. Pengkajian yang dilakukan
dengan metode Auto anamnesa dan Allo anamnese, pengamatan, observasi
langsung, pemeriksaan Iisik menelaah catatan medis, dan catatan perawat.
A. Identitas Pasien
Dari pengkajian tanggal 24 April 2013 jam 08.00 WIB, didapatkan
hasil identitas pasien, bahwa pasien bernama An. R, umur 1 bulan 12 hari,
agama Islam, alamat Sidomulyo, Sragen, jenis kelamin laki laki, dengan
diagnosa medis Observasi Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Penanggung
jawab kepada pasien adalah Ny.P, umur 31 tahun, pendidikan SMA,
pekerjaan swasta, yang beralamat di Sidomulyo, Sragen dan hubungan
dengan pasien adalah Ibu.
7
B. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Dari pengkajian An. R ditemukan hasil riwayat kesehatan yaitu
Keluhan utama pasien adalah, Ny.P mengatakan An. R panas. Riwayat
kesehatan sekarang Ny. P mengatakan anak panas sejak tiga hari yang
lalu setelah dipijat dari dukun. Ny.P membawanya kebidan terdekat
untuk berobat, malam harinya An. R panasnya semakin tinggi lalu Ny. P
membawanya ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen di IGD
dilakukan pemeriksaan pengukuran suhu, hasilnya 39,7´C dan An. R
mendapatkan terapi inIus KaEn 1B 16 tetes per menit mikro, injeksi
Vicilin 3x125mg, Kalnex 3x1mg, Norages 4x100mg dan An. R di
tempatkan di bangsal Anggrek no. 7.
2. Riwayat Masa Lalu
An. R merupakan anak kedua dari dua bersaudara. An.R lahir pada
tanggal 12 Maret 2013, saat hamil Ny.P mengatakan keadaannya sehat,
selalu memeriksakan kehamilannya setiap bulan. Ny. P mengatakan saat
hamil hanya mengkonsumsi vitamin dari bidan saja.
Ny. P mengatakan jenis persalinan saat melahirkan An. R adalah
spontan lama persalinan 30 menit, di RSUD Sragen. An.R lahir dengan
berat badan 3500 gram, panjang badan 56 cm, kondisi ibu dan bayi baik.
Ny.P mengatakan saat lahir bayi dalam keadaan baik, bayi menangis
kencang, berwarna kemerahan, dan pergerakannya aktiI, An. R tidak
8
mengalami kelainan congenital dan Ny.P mengatakan saat melahirkan
rawat inap selama 3 hari.
Ny. P mengatakan An. R sudah mendapat imunisasi BCG dan polio
1 dan An.R tidak mengalami elergi obat maupun makanan. Pertumbuhan
dan perkembangan An. R adalah berat waktu lahir 3500 gram, ketika 1
bulan 5400 gram. Kebiasaan An. R yaitu jika tidur selalu digendong.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Genogram
Gambar 2.1
Genogram
Keterangan:
: laki- laki
: Perempuan
: Pasien
: Tinggal satu rumah
9
b. Riwayat Penyakit Menurun
Keluarga mengatakan di dalam keluarganya tidak ada yang
mempunyai penyakit menurun seperti hipertensi, diabetes militus,
jantung dan lain- lain.
4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Iisik yang dilakukan oleh penulis pada An. R tanggal
24 April 2013, penulis mendapatkan data yaitu: keadaan umum pasien
baik, composmentis. Pengukuran tanda vital di dapatkan hasil suhu badan
38,7´C, nadi 132 kali permenit, dan pernaIasan 40 kali permenit.
Pemeriksaan head to toe, untuk kepala bentuk mesochepal, sutura
masih tampak. Mata klien simetris kanan-kiri, sklera tidak ikterik,
konfungtiva tidak anemis, tidak ada oedema palpebra, pupil isokor,
Telinga simetris, bersih, tidak ada serumen, Iungsi pendengaran baik.
Hidung simetris, tidak ada secret, tidak ada polip, tidak ada epitaksis.
Mulut tidak siaonis, tidak ada stomatitis, gigi belum tumbuh. Leher tidak
terdapat pembesaran kelenjar tiroid, teraba arteri carotis, tidak terdapat
kaku kuduk.
Pada pemeriksaan dada, Inspeksi hasilnya dada simetris kanan-
kiri,tidak ada lesi, tidak ada penggunaan otot bantu naIas Palpasi
hasilnya vocal fremitus kanan-kiri sama, Perkusi. sonor, Auskultasi
hasilnya bunyi naIas tidak ada suara tambahan. Pemeriksaan jantung,
Inspeksi hasilnya Ictus cordis tidak tampak, Palpasi hasilnya Ictus cordis
10
teraba kuat di SIC J, Perkusi hasilnya tidak ada pelebaran batas jantung,
Auskultasi hasilnya bunyi jantung 1 dan 2 vasikuler. Pemeriksaan
Abdomen, pada pemeriksaan Inspeksi hasilnya perut datar, tidak ada lesi,
Auskultasi hasilnya bising usus 5 kali per menit, Palpasi hasilnya tidak
ada nyeri tekan pada perut, Perkusi hasilnya tvmpani. Pemeriksaan
genetalia hasilnya bersih, tidak ada kelainan pada genetalia, dan pada
anus bersih, tidak ada hemoroid. Pada ekstermitas kesimetrisan
ekstermitas atas dan bawah sama, terpasang inIuse di kaki sebelah kanan.
Ny.P mengatakan An. R hanya diberi ASI saja sejak lahir sampai
saat ini, An. R belum diberi makanan tambahan. Z- Score : WAZ :
1,58(normal), HAZ : 0,59(normal), WHZ : 1,3 (normal)
Pola Eliminasi An. R, Ny.P mengatakan buang air besar sehari 1
kali dengan konsintensi lembek, warna kuning dan berbau khas. Buang
air kecil kurang lebih 7 kali sehari, berwarna jernih dan berbau khas.
Selama sakit An. R buang air besar 1 kali sehari dengan konsistensi
lembek, berwarna kuning dan berbau khas. Buang air kecil kurang lebih
7 kali sehari, warna kuning jernih dan berbau khas.
Pola Istirahat Tidur, Ny.P mengatakan An. R dalam sehari tidur
kurang lebih 12 jam. Selama sakit, An. R tidak bisa tidur dengan nyenyak
karena merasakan suhu tubuhnya yang panas, dan An. R sering
terbangun setiap saat. tidurnya kurang lebih 9 jam per hari.
11
Terapi yang didapatkan oleh An. R pada tanggal 24 - 26 April 2013
yaitu inIuse Ka En 1B 16 tetes per menit mikro, Ampicilin 3x125 mg,
Kalnex 3x1 mg, Norages 3x100 mg, Sanmol 3x 0,2 cc.
Pemeriksaan penunjang pada tanggal 24 April 2013 yaitu :
Hemoglobin 8,0 gram/dl (nilai normal 12,7 - 18,7 gram/dl), Eritrosit 2,56
juta/µL (nilai normal 4,0 4,2 juta/µL ), Hematrokit 23,9 °( nilai
normal 42 62 °), MCV 93,4 Il( nilai normal 84 128 Il), MCH 31,3
pg (nilai normal 26 34 pg), MCHC 33,5 gram/dl (nilai normal 26 34
gram/dl), Leukosit 10,10 gram/dl (nilai normal 6 17,5 gram/dl),
Trombosit 130 ribu/µl (nilai normal 150 - 450 juta/µL ), NeutroIil 18,0 °
(nilai normal 40 74°), Limposit 65,0 °( nilai normal 19 48°).
C. Perumusan Masalah
Dari data yang sudah penulis dapatkan dari hasil pengkajian maka
penulis dapat menegakkan diagnosa keperawatan hipertermi berhubungan
dengan penyakit. Diagnosa tersebut ditunjang oleh data subyektiI ibu pasien
mengatakan anak panas sejak tiga hari yang lalu setelah diurut dari dukun.
Data yang dilihat atau diobservasi oleh penulis yaitu kulit teraba panas, kulit
tampak kemerahan, suhu badan 38,7´C.
Penulis menegakkan diagnosa keperawatan utama hipertermi, dengan
alasan hipertermi merupakan masalah yang segera ditangani terutama pada
anak. Jika hipertermi tidak segera diatasi dapat menyebabkan kejang pada
anak, dehidrasi, syok, dan gangguan tumbuh kembang pada anak.
12
D. Tujuan dan Kriteria Hasil
Tujuan dan kriteria hasil yang dilakukan oleh penulis berpedoman pada
SMART yaitu S (spesifik), M (measurable), A (achieveable), R (reasoneble),
T (time) (Nursalam, 2011). Tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan setelah
dilakukan tindakan keperwatan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
pasien akan menujukkan termugulasi, dengan kriteria hasil suhu tubuh dalam
batas normal: 36,4´ - 37,4´C , tidak ada perubahan warna kulit, nadi dalam
rentang normal 100-220 kali per menit, dan perrnaIasan dalam rentang
normal 30- 60 kali per menit.
E. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan tindakan keperawatan bedasarkan tujuan tersebut, penulis
membuat rencana tindakan yaitu observasi keadaan umum dan vital sign
dengan rasional untuk mengetahui keadaan pasien, ajarkan keluarga
melakukan kompres hangat dengan rasional untuk membantu mengurangi
demam, anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian tipis dan menyerap
keringat dengan rasional membantu mengurangi penguapan tubuh, anjurkan
keluarga untuk memenuhi kebutuhan cairan dengan rasional untuk mencegah
terjadinya dehidrasi, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik
dengan rasional antipiretik untuk menurunkan panas.
13
F. Implementasi
Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 24
April 2013 jam 08.00 WIB adalah mengobservasi keadaan umum dan vital
sign , respon subyektiI Ny. P mengatakan anak masih panas, obyektiInya
kulit teraba panas, kulit tampak kemerahan, dan suhu 38,7´C, nadi 132 kali
permenit, pernaIasan 40 kali permenit. Jam 08.05 WIB menganjurkan
keluarga untuk memakaikan pakaian tipis, respon subyektiI Ny.P mengatakan
bersedia memakaikan pakaian yang tipis, obyektiInya keluarga bersedia
memakaikannya, mengajarkan keluarga kompres hangat di dahi dan di ketiak,
respon subyektinya Ny.P bersedia diajari, obyektiInya keluarga tampak
memperhatikan. Jam 08.12 WIB menganjurkan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan cairan, respon subyektiInya keluarga mengatakan bersedia untuk
memenuhi kebutuhan cairan, obyektiInya keluarga tampak. Jam 11.40 WIB
mengukur vital sign, respon subyektiInya keluarga mengatakan bersedia
diukur, obyektiInya suhu 37,7°C, nadi 130 kali per menit, kulit teraba hangat.
Jam 12.10 WIB memberikan Sanmol sirup 0,2 cc, respon subyektiInya
keluarga bersedia, obyektiInya obat sudah masuk dan tidak ada tanda-tanda
alergi.
Hari kamis, 25 April 2013 jam 08.00 WIB tindakan yang dilakukan
yaitu mengobservasi keadaan umum dan vital sign, respon subyektiInya
14
keluarga mengatakan An. R badan masih teraba panas, obyektiInya 38,8°C,
nadi 132 kali per menit, kulit teraba panas dan kulit tampak kemerahan. Jam
08.10 WIB memberikan kompes hangat pada dahi dan kedua
ketiaknya,respon subyektiInya keluarga bersedia, obyektiInya pasien
dikompres dengan air hangat, pada dahi dan kedua ketiaknya menganjurkan
keluarga untuk memakaikan pakaian tipis, respon subyektiI keluarga
mengatakan bersedia memakaikan pakaian yang tipis, obyektiInya keluarga
bersedia memakaikannya. Jam 08.20 WIB menganjurkan keluarga untuk
memberi asupan cairan, respon subyektiInya keluarga mengatakan An. R
minum ASInya sangat banyak,obyektiInya An. R tampak minum ASI. Jam
11.00 WIB mengukur sign, respon subyektiInya keluarga mengatakan
besedia diukur, obyektiInya suhu 37`5°C, nadi 120 kali per menit, kulit teraba
hangat. Jam 12.00 WIB memberikan Sanmol sirup 0,2 cc, respon
subyektiInya keluarga bersedia, obyektiInya injeksi masuk dan tidak ada
tanda- tanda alergi.
Pada hari jumat 26 April 2013 jam 08.00 WIB tindakan yang di lakukan
adalah mengobservasi keadaan umum dan vital sign, respon subyektiInya
keluarga mengatakan suhu tubuh An. R sudah mulai membaik tetapi pada
pagi hari suhu badan An. R masih panas, obyektiInya suhu 37,7°C, kulit
teraba hangat, kulit sudah tidak tampak kemerahan, Jam 08.10 WIB
menganjurkan keluarga untuk memberi asupan cairan yang cukup, respon
subyektiInya keluarga mengatakan An. R sudah mulai minum banyak,
obyektinya An. R tampak minum ASI. Jam 11.25 WIB mengukur vital sign,
15
respon subyektiInya keluaraga mengatakan bersedia diukur, obyektiInya
suhu 36,8°C, nadi 102 kali per menit. Jam 12.10 WIB memberikan Sanmol
sirup 0,2 cc, respon subyektiInya keluaga besedia, obyektiInya injeksi dan
obat sudah masuk dan tidak ada tanda- tanda alergi.
G. Evaluasi
Setelah dilakukan rencana keperawatan dan tindakan keperawatan,
evaluasi hasil pada hari rabu, 24 April 2013 adalah subyektiI : keluarga
mengatakan An. R demam setelah diurut tiga hari yang lalu. ObyektiI : kulit
teraba panas, kulit tampak kemerahan, suhu 38,7°C, nadi 132 kali per menit.
Analis : masalah hipertermi belum teratasi. Perencanaan : intervensi
dilanjutkan : observasi keadaan umum dan vital sign, menganjurkan kompres
hangat, menganjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian tipis,
menganjurkan keluarga memenuhi kebutuhan cairan, kolaborasi dengan
dokter.
Evaluasi hari kedua, kamis, 25 April 2013 adalah subyektiI : keluarga
mengatakan An. R masih teraba panas. ObyektiI : kulit teraba panas, kulit
tampak kemeahan, suhu 38,8°C, nadi 132 kali per menit. Analis : masalah
hipertermi belum teratasi. Perencanaan : intervensi dilanjutkan : observasi
keadaan umum dan vital sign, menganjurkan kompres hangat, menganjurkan
keluarga untuk memakaikan pakaian tipis, menganjurkan keluarga memenuhi
kebutuhan cairan, kolaborasi dengan dokter.
16
Evaluasi hari ketiga, jumat, 26 April 2013 adalah subyektiI : keluarga
mengatakan suhu tubuh An. R sudah membaik tetapi masih teraba panas di
pagi hari. ObyektiI : kulit teraba panas, suhu 37,7°C, nadi 108 kali per menit.
Analis : masalah hipertermi belum teratasi. Perencanaan : intervensi
dilanjutkan : observasi keadaan umum dan vital sign, menganjurkan kompres
hangat, menganjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian tipis,
menganjurkan keluarga memenuhi kebutuhan cairan, kolaborasi dengan
dokter.
16
BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
A. Pembahasan
Pada bab ini penulis akan membahas studi kasus tentang 'Asuhan
Keperawatan Hipertermi Pada An. R dengan Observasi Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF) di Bangsal Anggrek RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen¨. Disini penulis akan membahas proritas diagnosa
keperawatan yang paling utama yaitu hipertermi berhubungan dengan
penyakit. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa hipertermi merupakan
masalah utama yang harus segera diatasi. Prinsip dari pembahasan ini dengan
memperhatikan aspek tahapan proses keperawatan antara lain pengkajian,
diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan evaluasi.
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam yang berlangsung
akut menyerang baik orang dewasa maupun anak- anak tetapi lebih banyak
menimbulkan korban pada anak- anak berusia di bawah 15 tahun, disertai
dengan pendarahan dan dapay menimbulkan rejatan (syok) yang dapat
mengakibatkan kematian penderita (Nasronudin, 2008).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan proses sistematis dari prngumpulan data,
veriIikasi data, dan komunikasi data tentang klien. Proses pengumpulan
data ini mencakup dua langkah yaitu pengumpulan data primer atau klien,
17
dan data sekunder yaitu meliputi keluarga maupun tenaga kesehatan
(Potter & Perry, 2005).
Dari hasil pengkajian yang sudah dilakukan ditemukan hasil riwayat
kesehatan yaitu keluhan utama adalah, Ny.P mengatakan anaknya panas
sejak tiga hari yang lalu setelah diurut dari dukun. Kulit An. R teraba
hangat, kulit tampak kemerahan, dan suhu 38,7´C, nadi 132 kali per menit,
pernaIasan 40 kali permenit.
Hipertermi adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh melebihi titik
tetap (set point) lebih dari 37´C, yang biasanya diakibatkan oleh kondisi
tubuh atau eksternal yang menciptakan lebih banyak panas daripada yang
dapat dikeluarkan oleh tubuh (Wong, 2008).
Tanda dan gejala awal pada Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) yaitu
demam yang terjadi secara mendadak dan berlangsung selama 2-7 hari,
pendarahan ringan (petekia, pendarahan gusi,epitaksis,menoragi,hematuri),
trombositopeni, dan perembesan plasma yang ditandai dengan hematrokit
meningkat atau menurun.
Pemeriksaan Iisik adalah mengukur tanda-tanda vital dan head to
toe. Pemeriksaan Iisik dapat dilakukan dengan empat cara yaitu inspeksi,
perkusi, palpasi, dan auskultasi (Debora, 2011).
Dari hasil pengkajian yang didapatkan oleh penulis pada An. R
adalah kulit teraba hangat, kulit tampak kemerahan. Pada tanda- tanda
vital didapatkan suhu 38,7´C, nadi 132 kali per menit, pernaIasan 40 kali
per menit. Penulis juga mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium pada
18
tanggal 24 April 2013 yaitu, Hemoglobin 8,0g/dl (nilai normal 12,7-
18,7g/dl), Eritrosit 2,56 juta/µL (nilai normal 4,0 4,2 juta/µL ),
Hematrokit 23,9 °( nilai normal 42 62 °), Trombosit 130 ribu/µl (nilai
normal 150 - 450 juta/µL ).
Tanda gejala dari Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) salah satunya
terjadi trombositopenia dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari
meningginya nilai hematrokit sebanyak 20 persen atau hematrokit
menurun lebih 20 persen sesudah pemberian cairan yang adekuat.
Trombositopeni yang terdapat pada demam dengue akibat perusakan sel-
sel perkusor pada sumsum tulang belakang oleh virus (Soedarto, 2012).
Hipertermi yang terjadi pada anak dengan Dengue Hemorrhagic
Fever (DHF) merupakan masalah yang harus segera ditangani. Hipertermi
apabila tidak segera diatasi dapat menyebabkan kejang pada anak,
dehidrasi, syok, dan gangguan tumbuh kembang pada anak.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah penilaian klinis terhadap individu,
keluarga, atau komunitas tentang respon terhadap masalah kesehatan yang
bersiIat aktual atau potensial. Diagnosis keperawatan berIungsi sebagai
panduan untuk memilih intervensi keperawatan supaya bisa mencapai
kriteria hasil yang ditetapkan dan menjamin akuntabilitas perawat
(Debora, 2011).
19
Berdasarkan dengan data tersebut dapat ditegakkan prioritas
diagnosa keperawatan hipertermi berhubungan dengan penyakit : Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF). Penulis mengangkat diagnosa hipertermi
dengan alasan karena pada saat dilakukan pengkajian didapatkan data
subyektiI ibu pasien mengatakan anaknya panas sejak tiga hari yang lalu
setelah diurut, dan data obyektiInya yaitu, kulit teraba hangat, kulit tampak
kemerahan, suhu 38,7´C.
Hipertemia merupakan peningkatan suhu tubuh diatas kisaran
normal. Batasan karakteristik hipertermi yaitu konvulsi, kulit kemerahan,
peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal, kejang,
takikardia,takipnea, dan kulit teraba hangat (NANDA, 2009-2011).
3. Tujuan dan Kriteria Hasil
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang sudah dirumuskan, penulis
menyusun kriteria hasil yang berpedoman SMART yaitu S (spesific)
dimana tujuan harus spesiIik dan tidak menimbulkan arti ganda, M
(measurabel) dimana tujuan keperawatan harus dapat diukur, khususnya
tentang perilaku klien : dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan
dibau. A (achievable) dimana harus dapat dicapai, R (reasonable) dimana
tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, T (time)
mempunyai batasan waktu yang jelas (Nursalam, 2011).
Tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan
keperwatan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien akan
20
menujukkan termugulasi, dengan kriteria hasil suhu tubuh dalam batas
normal 36,4´C- 37,4´C, tidak ada perubahan warna kulit, nadi dalam
rentang normal 100 - 220 kali per menit, dan perrnaIasan dalam rentang
normal 30- 60 per menit (Wilkinson, 2007).
4. Perencanaan Keperawatan
Intervensi adalah rencana keperawatan yang akan penulis rencanakan
kepada klien sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan sehingga
kebutuhan klien dapat terpenuhi (Wilkinson, 2007). Interversi yang
disusun oleh penulis berpedoman ONEK yaitu O (observation) rencana
tindakan untuk mengkaji atau melakukan observasi terhadap kemajuan
klien untuk memantau secara langsung yang dilakukan kontinue, N
(nursing treatmen) dimana rencana tindakan yang dilakukan untuk
mengurangi, memperbaiki, dan mencegah perluasan masalah, E
(education) dimana rencana tindakan yang berbentuk pendidikan
kesehatan, K(kolaboratif) dimana tindakan medis yang dilimpahkan pada
perawat (Rohmah & Walid, 2002).
Dalam intervensi yang dilakukan penulis sesuai dengan kriteria
intervensi NIC (Nursing Intervention Clasification) antara lain yaitu
observasi keadaan umum dan vital sign dengan rasional untuk
mengetahui keadaan pasien , ajarkan keluarga melakukan kompres hangat
dengan rasional untuk membantu mengurangi demam, anjurkan pasien
memakai pakaian tipis dan menyerap keringat dengan rasional membantu
21
mengurangi penguapan tubuh, anjurkan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan cairan dengan rasional untuk mencegah terjadinya dehidrasi,
kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti piretik dengan rasional
antipiretik untuk menurunkan panas (Wilkinson, 2007).
5. Implementasi
Implementasi yang dilakukan penulis pada An. R selama tiga hari di
ruang Anngrek RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen pada tanggal 24-26
April 2013. Untuk implementasi yang dilakukan yaitu observasi keadaan
umum dan vital sign, menurut Wilkinson (2007) vital sign merupakan
salah satu indikator penting dalam mengkaji kondisi kesehatan pada
pasien demam untuk mengetahui keadaan pasien.
Memberikan kompres hangat pada pasien yang bertujuan untuk
membantu menurunkan panas. Menurut Susanti (2012) kompres hangat
pada dahi, leher, dan ketiak dapat menghambat shivering dan dapat
menginduksi vasodilatasi periIer sehingga dapat meningkatkan
pengeluaran panas didalam tubuh.
Menganjurkan memakai pakaian tipis dan menyerap keringat. Hal
ini didukung oleh jurnal penelitian Susanti (2012) yang menyatakan
bahwa tindakan yang penulis lakukan menganjurkan pasien memakai
pakaian tipis menyerap keringat, karena dengan memakai pakaian tipis
bisa mengurangi penguapan dan melindungi permukaan tubuh terhadap
lingkungan panas.
22
Menganjurkan keluarga untuk memberikan pasien minum yang
cukup, hal ini bertujuan untuk membantu menurunkan panas.
Berdasarkan jurnal penelitian yang dilakukan oleh Purwanti, Ambarwati
(2005) memberikan minum banyak pada pasien demam dengan alasan
karena air minum merupakan unsur pendingin tubuh yang penting dalam
lingkungan panas dan air sendiri diperlukan untuk mencegah terjadinya
dehidrasi akibat berkeringat.
Berkolaborasi dengan dokter pemberian antipiretik (Sanmol sirup
0,2 cc) per 8 jam, golongan obat yaitu analgesik non narkotik, dan
indikasi Sanmol adalah sebagai penghilang rasa sakit kepala, gigi, dan
penurun demam (ISO, 2010).
Dalam penatalaksanaan keperawatan berdasarkan intervensi yang
sudah ditetapkan, intervensi semua dapat di implementasikan. Setelah
penulis melakukan tindakan keperawatan selama dua hari, maka penulis
melakukan evaluasi. Evaluasi ini penulis menggunakan metode sesuai
teori yaitu SOAP (Subvektif, Obvektif, Assessment, Planning).
6. Evaluasi
Evaluasi pada hari rabu, 24 April 2013 adalah keluarga mengatakan
An. R demam setelah diurut tiga hari yang lalu, kulit teraba panas, kulit
tampak kemerahan, suhu 38,7°C, nadi 132 kali per menit. Masalah
hipertermi belum teratasi ,intervensi dilanjutkan dengan mengobservasi
keadaan umum dan vital sign, menganjurkan kompres hangat,
23
menganjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian tipis, menganjurkan
keluarga memenuhi kebutuhan cairan, kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi hari kedua, kamis, 25 April 2013 adalah keluarga
mengatakan An. R masih teraba panas, kulit teraba panas, kulit tampak
kemeahan, suhu 38,8°C, nadi 132 kali per menit. Masalah hipertermi
belum teratasi, intervensi dilanjutkan dengan mengobservasi keadaan
umum dan vital sign, menganjurkan kompres hangat, menganjurkan
keluarga untuk memakaikan pakaian tipis, menganjurkan keluarga
memenuhi kebutuhan cairan, kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi hari ketiga, jumat, 26 April 2013 adalah keluarga
mengatakan suhu tubuh An. R sudah membaik tetapi masih teraba panas
di pagi hari, kulit teraba panas, suhu 37,7°C, nadi 108 kali per menit.
Masalah hipertermi belum teratasi, intervensi dilanjutkan dengan
mengobservasi keadaan umum dan vital sign, menganjurkan kompres
hangat, menganjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian tipis,
menganjurkan keluarga memenuhi kebutuhan cairan, kolaborasi dengan
dokter.
B. Simpulan dan Saran
1. Simpulan
a. Hasil pengkajian yang didapatkan antara lain data subyektiI ibu
pasien mengatakan anaknya panas sejak tiga hari yang lalu setelah
24
dipijat dari dukun. Data yang dilihat atau diobservasi oleh penulis
yaitu kulit teraba hangat, kulit tampak kemerahan, suhu 38,7´C.
b. Diagnosa keperawatan yang muncul saat dilakukan pengkajian pada
An. R adalah hipertermi berhubungan dengan penyakit : Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF).
c. Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan penulis yaitu
observasi keadaan umum dan vital sign: ajarkan keluarga melakukan
kompres hangat; anjurkan pasien memakai pakaian tipis dan
menyerap keringat; anjurkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan
cairan; kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik.
d. Tindakan keperawatan yang dilakukan penulis selama tiga hari yaitu
: mengobservasi keadaan umum dan vital sign ; memberikan
kompres hangat ; menganjurkan keluarga untuk anaknya memakai
pakaian tipis menyerap keringat ; menganjurkan kepada keluarga
untuk memenuhi kebutuhan cairan; berkolaborasi dengan dokter
pemberian antipiretik (Sanmol sirup, 0,2 cc).
e. Evaluasi tindakan yang dilakukan oleh penulis menggunakan metode
SOAP (Subvektif, Obvektif, Assesment, Planning). Evaluasi yang
dicapai selama 3 hari masalah keperawatan belum teratasi, karena
pasien masih panas di pagi hari.
I. Anilisa pada An. R yang mengalami masalah keperawatan
Hipertermi berhubungan dengan penyakit Dengue Hemorrhagic
Fever (DHF) yaitu An. R panas, kulit teraba hangat, kulit tampak
25
kemerahan, suhu 38,7´C, nadi 132 kali per menit, pernaIasan 40 kali
per menit. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wilkinson (2007),
bahwa Hipertermi ditandai dengan suhu tubuh meningkat di atas
rentang normal, kulit memerah, kulit teraba hangat bila disentuh.
2. Saran
Dengan memperhatikan kesimpulan diatas, penulis memberi saran
sebagai berikut:
a. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dapat memberikan pelayanan kepada pasien seoptimal
mungkin dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan kemudahan dalam pemakaian sarana dan prasarana
yang merupakan Iasilitas bagi mahasiswa untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan dalam melalui praktek klinik dan pembuatan
laporan.
26
c. Bagi Penulis Selanjutnya
Diharapkan penulis dapat menggunakan atau memanIaatkan waktu
seeIektiI mungkin, sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan
pada pasien secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Debora Oba. 2011. Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Salemba
Medika.
Herdman Heather. 2009. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan Definisi
Dan Klasifikasi. Alih Bahasa: Sumarwati Made, Widiarti Dwi, Tiar Estu,
Translate: Monica. Jakarta: EGC.
Hidayat A, Aziz Alimul. 2008. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba
Medika.
Kemenkes, RI. 2012. Kasus DBD Indonesia Masih Tertinggi Di Dunia.
http://news.okezone.com/read/2012/06/15/340/647394/kasus-dbd-
indonesia-masih-tertinggi-di-dunia. Diakses pada tanggal 30 April 2013.
Marrelli T, M. 2008. Buku Saku Dokumentasi Keperawatan. Edisi III. Jakarta:
EGC
Nasronudin, dkk. 2007. Penvakit Infeksi Di Indonesia. Surabaya: Airlangga
University Press.
Nursalam. 2011. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi II. Jakarta:
Salemba Medika.
Potter & Perry. 2005. Buku Afar Fundamental Keperawatan. Konsep, Proses dan
Praktik. Edisi 4. Volume 1. Jakarta: EGC.
Purwanti Sri, Ambarwati Nur W. 2005. Pengaruh Kompres Hangat terhadap
Perubahan Suhu Tubuh pada Pasien Anak Hipertermi di Ruang Rawat
Inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta. UMS Surakarta.
http://journalanak.org/pdI. Di akses pada tanggal 10 April 2012.
Poerwo Soedarmo, dkk. (2002). Buku Afar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi dan
Penvakit Tropis. Edisi I. Jakarta: IDAI.
Rohmah Nikmatur, Walid. 2012. Proses Keperawatan Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.
Soedarto. 2012. Demam Berdarah Dengue, Dengue Hemorrhagic Fever. Jakarta:
IKAPI
Sodikin. 2012. Prinsip Perawatan Demam Pada Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Susanti Nurlaili, 2012. Efektifitas Kompres Dingin Dan Hangat Pada
Penatalaksanaan Demam, UIN Maliki, Malang. http://eprints.uin.ac.id.
Diakses pada tanggal 13 Mei 2013.
Wilkinson, Judith M. (2006). Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan
Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.
Wong donna L. 2008. Buku Afar Keperawatan Pedriatrik. Edisi 6. Jakarta: EGC.