You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PRE DAN POST OPERASI PERIANAL ABSES

1.

Konsep Dasar Penyakit

1.1 Pengertian Perianal abses adalah merupakan akumulasi nanah disekitar anus dan rectum. 1.2 Etiologi Perianal abses merupakan gangguan disekitar anus dan rectum, dimana sebagian besar timbul dari obstruksi kripta anal. Infeksi dan stasis dari kelenjar dan sekresi kelenjar mengasilkan supurasi dan pembentukan abses dalam kelenjar anal. Biasanya, abses terbentuk awal-awal dalam ruang intersphingter dan kemudian ke ruang potensial yang berdekatan. Organisme tersering yang dihubungkan dengan pembentukan abses antara lain: Escherichia Coli, Enterococcus spesies dan Bacteroides spesies, tetapi belum ada bacterium spesifik yang diidentifikasi sebagai penyebab tunggal terjadinya abses. Penyebab abses anorektal yang harus juga diperhatikan sebagai diagnosa banding ialah Tuberkulosis, Karsinoma sel skuamosa, Adenokarsinoma, Limfogranuloma, penyakit Crohns dan limfoma.

1.3 Patofisiologi Kebanyakan abses anorektal bersifat sekunder terhadap proses supuratif yang dimulai pada kelenjar anal. Teori ini menunjukkan bahwa obstruksi dari saluran kelenjar tersebut oleh tinja, corpus alienum atau trauma akan menghasilkan stasis dan infeksi sekunder yang terletak di ruang intersphingterik. Dari sini, proses infeksi dapat menyebar secara distal sepanjang otot longitudinal dan kemudian muncul di subcutis sebagai abses perianal, atau dapat menyebar secara lateral melewati otot longitudinal dan sphingter eksterna sehingga menjadi abses ischiorektal. Meskipun kebanyakan abses yang berasal dari kelenjar anal adalah perianal dan ischiorektal, ruang lain juga bisa terinfeksi. Pergerakan infeksi ke atas dapat menyebabkan abses intersphingter tinggi. Ini kemungkinan dapat menerobos otot longitudinal ke runag supralevator sehingga menyebabkan sebuah abses supralevator. Setelah abses terdrainase, secara spontan maupun secara bedah, komunikasi abnormal antara lubang anus dan kulit perianal disebut fistula ani.

1.4 Manifestasi Klinis Awalnya pasien merasakan nyeri yang tumpul, berdenyut yang memburuk sesaat sebelum defekasi dan membaik setelah defekasi, tetapi pasien tetap tidak merasa nyaman. Rasa nyeri diperburuk oleh pergerakan dan pada saat duduk, mengejan, batuk atau bersin. Dengan perjalanan abses, nyeri dapat mengganggu aktifitas seperti berjalan atau duduk.

1.5 Pemeriksaan Penunjang 1.5.1 Pemeriksaan Laboratorium Belum ada pemeriksaan khusus yag dapat dilakukan untuk mengevaluasi pasien dengan abses perianal atau anorektal, kecuali pada pasien tertentu, seperti dengan DM dan pasien dengan imunitas tubuh yang rendah karena memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya sepsis bakterimia yang dapat disebabkan dari abses anorektal. Evaluasi laboratorium lengkap sangatlah penting. 1.5.2 Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi jarang dilakukan pada evaluasi pasien dengan abses anorektal.

1.6 Penatalaksanaan Kebanyakan abses perianal dapat didrainase di bawah anestesi lokal di klinik atau unit gawat darurat. Pada kasus abses yang besar maupun pada lokasinya yang sulit mungkin memerlukan drainase di dalam ruang operasi. Insisi dilakukan sampai ke bagian subkutan pada bagian yang menonjol dari abses. Luka dibiarkan terbuka dan Sitz bath dapat dimulai pada hari berikutnya. Pada kebanyakan pasien dengan abses anorektal, terapi medikamentosa dengan antibiotik biasanya tidak diperlukan. Namun, pada pasien dengan peradangan sistemik, diabetes atau imunitas rendah, antibiotik wajib diberikan.

1.7 Komplikasi Fistula anorektal terjadi pada 30-60% pasien dengan abses anorektal. Kelenjar intersphingter terletak antara sphingter internal dan eksternal anus, dan seringkali dikaitkan dengan pembentukan abses. Fistula anorektal timbul oleh karena obstruksi dari kelenjar dan atau kripta anal, dimana ia dapat diidentifikasi dengan adanya sekresi purulen dari kanalis anal atau dari kulit perianal sekitarnya.

1.8 Hasil dan Prognosis Sekitar dua pertiga pasien dengan abses anorektal yang diobati dengan insisi dan drainase atau dengan drainase spontan akan mendapat komplikasi sebuah fistula anorektal kronis. Tingkat kekambuhan fistula anorektal setelah fistulotomi, fistulektomi atau penggunaan seton adalah sekitar 1,5%. Tingkat keberhasilan pengobatan bedah primer dengan fistulotomy tampaknya cukup baik. (3)

2.

Konsep Asuhan Keperawatan

2.1 Pengkajian 2.1.1 Anamnesa 1) Keluhan Utama: Pada umumnya keluhan utama pada abses perianal preoperasi adalah nyeri hebat pada daerah anus dan adanya benjolan. Sedangkan keluhan utama pasca operasi meliputi: nyeri, kesulitan buang air kecil dan kelemahan ekstremitas bawah (Syamsuhidayat, 2004:640-641). 2) Riwayat Penyakit Sekarang Keluhan nyeri dan benjolan mulai dirasakan dan kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi/mencari pertolongan kesehatan. 3) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat penyakit yang berhubungan dengan perianal abses yaitu DM, Hemorrhoid, Hypertensi dan Penyakit Jantung 4) Riwayat Penyakit Keluarga Kaji adanya riwayat keluarga yang menderita DM, HT dan penyakit Jantung. 5) Data Psikososialspiritual Data psikososial biasanya didapatkan kecemasan akan nyeri hebat atau akibat pembedahan pada beberapa pasien juga didapatkan mengalami

ketidakefektifan koping berhubungan dengan perubahan peran dalam keluarga (Muttaqin, 2011:503). 6) (1) Pola Kebutuhan Dasar Pola nutrisi: klien harus mengkonsumsi nutrisi lebih dari kebutuhan sehari-hari, seperti sat besi, vitamin C, dan lainya untuk membantu proses penyembuhan. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapat membantu menentukan penyebab masalah dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat. (2) Pola elimenasi: untuk kasus abses perianal, klien tidak mengalami gangguan pola elemenasi. Meskipun demikian perawat perlu mengkaji frekwensi, konsistensi, serta warna dan bau pada pola eliminasi alvi. Selain itu perawat perlu mengkaji jumlah, warna, bau, dan kepekatan pada pola eliminasi urin

(3)

Pola aktivitas: Karena timbul rasa nyeri menyebabkan seluruh aktifitas klien terbatas

(4)

Pola tidur dan istirahat: klien merasakan nyeri sehingga dapat mengganggu pola dan kebtuhan tidur klien, selain itu dapat dikaji lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, kesulitan tidur, dan penggunaan obat tidur

2.1.2 Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum : Preoperasi: keadaan baik dan buruknya klien. Tanda-tanda yang perlu dicatat adalah kesadaran klien (apatis , komposmetis, yang bergantung pada keadaan klien). kesakitan atau keadaan penyakit (akut, kronis, ringan,sedang, berat) Pascaoperasi: Nyeri pada luka operasi, dan tidak merasakan sensasi pada daaerah ekstrimitas bawah 2) Sistem Pernapasan (B1) : Pre operasi: Pada sistem pernafasan didapatkan bahwa klien perianal abses tidak mengalami kelainan pernafasan. Pada palpasi toraks didapatkan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi tidak ditemukan suara napas tambahan). Poscaoperasi: Dampak general anestesi ada pengaruh pada system pernapasan (bisa menekan pusat pernafasan) 3) Sistem Kardiovaskuler (B2) Preoperasi: Tidak ada iskus jantung, Palpasi: Nadi meningkat, iskus tidak teraba. Auskultasi : suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur. Pascaoperasi: adanya peningkatan tekanan darah , nadi meningkat karena adanya nyeri 4) Sistem persarafan (B3): Preoperasi: Pengkajian tingkat kesadaran, biasanya kompos mentis Pengkajian fungsi serebral. Status mental : observasi penampilan dan tingkah laku klien, biasanya tidak mengalami perubahan Pemeriksaan refleks biasanya tidak didapatkan refleks-refleks patologis, Pengkajian sistem sensorik: indra yang lain dan kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu timbul nyeri pada daera luka Pascaoperasi: Raut wajah kesakitan, dampak SAB anestesi kelemahan pada ekstremitas bawah

5)

Sistem perkemihan (B4): Preoperasi: Kaji keadaan urin yang meliputi warna, jumlah, dan karakteristik urine, termaksud berat jenis urine. Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada sisitem ini Pascaoperasi: Distensi kandung kemih merupakan dampak dari anestesi pada melemahnya kontraksi otot detrusor, vesika urinaria teraba keras, nyeri tekan pada saat palpasi.

6)

Sistem pencernaan(B5): Preoperasi: inspeksi abdomen: bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.

Palpasi: turgor baik, tidak ada defans muscular dan hepar tidak teraba. Perkusi: suara timfani. Auskultasi: peristaltic bising usus normal 20x/ menit dan tidak ada kesulitan BAB Pascaoperasi: Penurunan atau tak ada bising usus (dampak anastesi terjadi 6-8 jam pasca operasi) 7) Sistem Muskulaskeletal (B6): Preoperasi: tidak akan mengganggu secara lokal, baik fungsi motorik, sensori, maupun peredaran darah). Pascaoperasi: Ketidakaktifan fisik atau imobilitas dan kelemahan estremitas bawah (SAB anastesi) 8) Sistem Integumen Preoperasi: Pre Operasi: adanya benjolan pada daerah anus, merah dan bengkak, seringkali dijumpai adanya pus yang tidak bisa keluar. Pascaoperasi :adanya Luka operasi pada daerah anus.

2.2 Masalah Keperawatan 2.2.1 Preoperasi : 1) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder 2) Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas bialogi actual atau yang dirasa sekunder akibat prosedur invasive (operasi) 2.2.2 Postoperasi : 1) Nyeri yang berhubungan dengan berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat operasi 2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder akibat pembedahan. 3) Gangguan Rasa nyaman distensi abdomen berhubungan dengan efek anastesi sekunder.

4)

Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nutrient gangguan pencernaan lemak akibat proses penyembuhan post operasi.

5)

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anastesi sekunder akibat pembedahan

6)

Gangguan Perfusi cerebral berhubungan dengan kompresi pembuluh darah sekunder akibat anastesi

7)

Retensi urine berhubungan dengan kerusakan afferent sekunder akibat efek anastesi.

2.3 Intervensi Pre Operasi: 1) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot

sekunder ditandai dengan keluhan nyeri, respon autonom: TD meningkat, nadi meningkat, RR meningkat, raut wajah kesakitan, skala nyeri 3-4 Tujuan perawatan: pasien mengungkapkan nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil: Individu melaporkan nyeri berkurang Pasien tampak rileks VAS 1-2 TTV dalam rentang normal: TD: 110/70 130/80 mmHg, Nadi: 60-100x/mnt, RR: 12-20x/mnt. Intervensi : (1) Jelaskan dan ajarkan klien tindakan pereda nyeri nonfarmakologis R/ pendekatan dengan menggunakan tindakan nonfarmakologis sangat efektif dalam menurunkan nyeri (2) Ajarkan teknik relaksasi dan distrasi R/ Relaksasi: menurunkan sensasi nyeri dengan meningkatkan sekresi endorphin dan enkefalin. Distraksi: mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri ke hal-hal yang menyenangkan sehingga menghambat transmisi nyeri pada kontrol desendens. (3) Berikan kesempatan waktu istirahat pada klien dan berikan posisi nyaman pada klien R/ istirahat dapat merelaksasikan semua jaringan sehingga dapat memberikan rasa nyaman (4) Kolaborasi dalam pemberian analgesic R/ analgesic: Memblok lintasan nyeri ke SSP sehingga nyeri berkurang

(5) Observasi keluhan nyeri, ekspresi wajah, VAS, dan TTV R/ observasi yang akurat bertujuan untuk menilai keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah dilakukan sehingga dapat menentukan tindakan selanjutnya serta mencegah komplikasi. 2) Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas bialogi actual atau yang

dirasa sekunder akibat prosedur invasive (operasi) yang ditandai dengan peningkatan nadi, tekanan darah, dan respirasi, klien mengungkapkan ketakutan, dan memperlihatkan rasa gugup, menangis, dan marah berlebihan. Tujuan perawatan: pasien menunjukan ansietas berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil: klien dapat mengenal perasaannya klien tampak rileks dan menyatakan ansietas berkurang/hilang TTV dalam rentang normal

Intervensi: 1. Orentasikan pada klien tahap-tahap prosedur operasi dan aktivitas yang diharapkan R/ orentasi tahap-tahapan prosedur operasi dapat mengurangi ansietas 2. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya R/ dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak dapat diekspresikan 3. Beri lingkungan yang tenang dan suasana yang penuh istirahat R/ mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu 4. Beri privasi pada klien dan orang terdekat R/memberikan waktu untuk mengekspresikan perasaan yang mengilangkan ansietas, dan perilaku adaptif. Keberadaan orng-orang yang dipilih klien untuk melakukan aktivitas dan pengalihan perhatian akan mengurangi perasaan terisolasi. 5. Observasi TTV, tanda-tanda ansietas, dan keluhan pasien R/ observasi yang akurat bertujuan untuk menilai keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah dilakukan sehingga dapat menentukan tindakan selanjutnya.

Pascaoperasi: 1) Perubahan kenyamanan (nyeri) yang berhubungan dengan trauma jaringan

sekunder akibat operasi yang ditandai dengan ungkapan nyeri dari pasien, ekspresi pasien tampak meringis kesakitan, pasien memegangi daerah yang terasa nyeri, HR >

100 x/menit, Tekanan darah > 120/80 mmHg, pasien menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa nyeri. Tujuan : Pasien menunjukkan pengurangan rasa nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam dengan criteria hasil : ungkapan pasien bahwa rasa nyeri berkurang, pasien tidak memegangi daerah yang nyeri, pasien bernafas biasa, HR 60-100 x/menit, tekanan darah 120/80 mmHg. Intervensi : 1) Jelaskan kepada pasien tentang patofisiologi nyeri R/ Nyeri yang dialami disebabkan karena adanya luka pada daerah operasi. 2) Jelaskan cara-cara mengurangi nyeri (distraksi, relaksasi) R/ Relaksaksi: menurunkan sensasi nyeri dengan meningkatkan sekresi endorphin dan enkefalin Distrasi: mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri ke hal-hal yang menyenangkan sehingga menghambat transmisi nyeri pada kontrol desendens 3) Ajarkan relaksasi dan distraksi R/ Relaksasi dapat dilakukan dengan cara nafas dalam Distraksi dapat dilakukan dengan cara membaca buku, nonton televisi, dll 4) Motivasi pasien dalam melakukan relaksasi dan distraksi R/ Sering melakukan cara pengurangan nyeri relaksasi dan distraksi akan menjadikan pasien mampu beradaptasi. 5) Atur posisi pasien semi fowler R/ Posisi semi fowler akan mengurangi regangan pada otot sehingga nyeri yang dirasakan pasien akan berkurang 6) Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian analgesic R/ Analgesik akan menghambat neurotransmitter berikatan dengan reseptor nyeri. 7) Observasi TD, RR, HR, VAS dan ekspresi nyeri R/ Peningkatan tanda-tanda vital di atas 20% dari normal menandakan pasien tersebut merasakan nyeri yang mengganggu dirinya.

2)

Gg. Rasa nyaman distensi abdomen berhubungan dengan efek anastesi

sekunder akibat pembedahan yang ditandai dengan pasien mengeluh kembung, belum flatus, tidak ada peristaltic usus, VAS 1-2, tekanan darah dan nadi meningkat. Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi setelah dilakukan penyuluhan keperawatan dengan kriteria hasil pasien mengungkapkan sudah kentut dan perutnya terasa lapar

Intervensi (1) Jelaskan kepada pasien fisiologi dari distensi abdomen. R/ Distensi abdomen disebabkan oleh efek anastesi yang bersifat mempengaruhi saraf simpatis dan parasimpatis sehingga menurunkan tonus dan kontraksi otot baik otot polos maupun otot lurik sehingga usus tidak berkontraksi dan terjadi distensi. (2) Anjurkan pasien untuk sering mobilisasi miring kanan, miring kiri dan duduk bila sudah dianjurkan. R/ Aktivitas akan memicu saraf simpatis sehingga akan mempengaruhi aktivitas otot di GIT. (3) Libatkan keluarga pasien untuk memotivasi dan membantu pasien bergerak R/ Dukungan dan motivasi akan menimbulkan dorongan dan kepercayaan diri pasien untuk beraktivitas. (4) Berikan skin stimulation pada perut pasien. R/ Skin stimulation akan menimbulkan sel tubuh untuk mengeluarkan endorphin sehingga akan timbul rasa nyaman (5) Observasi keluhan dan motilitas usus R/ Pemantauan gerakan usus merupakan tanda pemulihan otot tubuh.

3)

Risiko infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder

akibat adanya saluran invasive (luka bekas post op). Tujuan: Tidak terjadi infeksi luka operasi dengan kriteria hasil: tidak ada peningkatan suhu tubuh, tidak kemerahan, tidak nyeri, tidak ada benjolan pada luka operasi Intervensi: (1) Jelaskan pada klien tentang resiko terjadi infeksi R/ dengan informasi yang akurat dapat meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien dapat kooperatif terhadap tindakan yang dilakukan. (2) Berikan perawatan luka op secara tetap dengan teknik aseptic R/ Teknik aseptic sebagai desinfeksi dari kolonisasi kuman pada luka bekas operasi (3) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic R/ Dapat membunuh dan menghambat perkembangan kuman (4) Observasi tanda-tanda infeksi pada luka opeasi, TTV(nadi dan suhu) setiap 3 jam R/ sebagai indikator adanya infeksi

10

4)

Retensi urine berhubungan dengan gangguan saraf afferen akibat efek SAB

yang ditandai dengan pasien belum bisa BAK spontan dalam waktu 3-6 jam setelah operasi, palpasi vesika urinaria penuh, pasien mengeluh susah untuk kencing. Tujuan: Urine dapat keluar dalam waktu 3-6 jam setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil pasien dapat BAK spontan, palpasi vesika urinaria kosong, pasien mengungkapkan bahwa kandung seninya terasa kosong. Intervensi: (1) Jelaskan penyebab retensi urine. R/ Retensi urine disebabkan oleh adanya gangguan pada sensasi dan kontrol saraf yang diblokade oleh obat anastesi. (2) Ajarkan stimulasi kulit pada daerah pubis. R/ Skin stimulasi akan menimbulkan peregangan pada daerah pubis sehingga sensansi vesika urinaria akan lebih terasa (3) Anjurkan pasien untuk miring kanan dan kiri. R/ Mobilitas akan menimbulkan pergerakan cairan dalam vesika urinaria sehingga penekanan pada saraf akan lebih banyak dan rasa ingin berkemih akan lebih kuat. (4) Berikan kompres hangat pada daerah pubis. R/ Kompres hangat akan menimbulkan sel tubuh mengeluarkan mediator kimia sehingga akan mempengaruhi kontraksi otot detrusor untuk mengeluarkan urine (5) Lakukan pemasangan nelaton kateter bila perlu R/ Pemasangan kateter dilakukan untuk mengeluarkan urine yang tertahan dalam vesika urinaria saat itu dan dilaksanakan hanya jika diperlukan. (6) Observasi keluhan dan distensi vesika urinaria R/ Pengosongan vesika urinaria merupakan indikator bahwa retensi urine telah teratasi

2.4 Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal yang mencakup aspek peningkatan, pemeliharaan, dan pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan keluarganya (Nursalam, 2008:256). 2.5 Evaluasi Keperawatan Dilakukan secara periodic, sistematis, dan berencana untuk menilai

perkembangan pasien setelah tindakan keperawatan (Nursalam, 2008:256). Evaluasi terdiri atas 2 macam meliputi:

11

1) Evaluasi Formatif Evaluasi yang dilakukan setelah setiap tindakan keperawatan. Hasil evaluasi menggunakan indicator perubahan fisiologis dan tingkah laku pasien (Nursalam, 2008:256). Hasil evaluasi dicatat dan dikomunikasikan untuk diambil tindakan selanjutnya. Keputusan dalam evaluasi setelah dilakukan tindakan meliputi (Nursalam, 2008:259): - Masalah teratasi - Masalah tidak teratasi, harus dilakukan pengkajian dan perencanaan tindakan ulang - Masalah teratasi sebagian, perlu mordifikasi dari rencana tindakan - Timbul masalah baru 2) Evaluasi Sumatif Merupakan evaluasi yang dilakukan dengan standar (tujuan yang ingin dicapai dan standar praktik keperawatan) (Nursalam, 2008:259).

12

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.(1999). Diagnosa Keperawatan. (2000). alih bahasa: Monica Ester.Jakarta : EGC Doengus, Maryln.(1993). Rencana asuhan keperawatan. (1999). alih bahasa: Monica Ester. Jakarta: EGC. Mansjoer, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta: media Aesculapius Muttaqin,Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika. Price Sylvia A. (2002) Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. (2005). alih bahasa: Huriawati Hartanto. Jakarta:EGC Sjamsuhidayat. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne. (1996). Keperawatan Medikal Bedah.(2001). alih bahasa: Monica Ester. Jakarta : EGC Syaifuddin. (2006). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

13