Identifikasi dan Penetapan Kadar Formalin

Amanda Arum Kusuma Astuti 2512117F Siti Istiqomah 25121121F

Formalin
• Formalin merupakan senyawa aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuk gas, atau cairan yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. • Berat Molekul Formalin adalah 30,03 • Rumus Bangun Formalin :

Penggunaan formalin
Formalin digunakan dalam berbagai industri, antara lain : • Pengawet mayat • Pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya • Bahan pembuatan sutra sintetis, zat pewarna, cermin, kaca • Pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam dunia Fotografi • Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea • Bahan untuk pembuatan produk parfum • Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku • Pencegah korosi untuk sumur minyak • Dalam konsentrasi yang sangat kecil (kurang dari 1%), Formalin digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih barang rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut kulit, perawatan sepatu, shampoo mobil, lilin, dan pembersih karpet (Astawan 2006).

Bahaya formalin bagi kesehatan
Dampak formalin bagi tubuh manusia : 1. Kulit : kulit kemerahan, kulit seperti terbakar, alergi kulit. 2. Mata : iritasi, mata merah, berair, kebutaan. 3. Hidung : mimisan. 4. Saluran pernafasan : sesak nafas, suara serak, batuk kronis, sakit tenggorokan. 5. Saluran pencernaan : iritatif lambung, mual muntah, mulas. 6. Hati : kerusakan hati. 7. Paru-paru : radang paru. 8. Saraf : sakit kepala, lemas, susah tidur, sukar konsentrasi. 9. Ginjal : kerusakan ginjal.

Metode analisis formalin
A. Uji Kualitatif
1. 2. 3. 4. 5. Dengan Fenilhidrazina Dengan Asam Kromatofat Dengan Larutan Schiff Uji Hehner – Fulton Uji dengan FeCl3 (untuk contoh susu dan olahannya)

B.

Uji Kuantitatif
1. 2. Dengan Metode Asidi – Alkalimetri Dengan Metode Spektrofotometri

UJI KUALITATIF

1. Dengan fenilhidrazina
a. Sampel ditimbang seksama kemudian dipotong kecil-kecil, dan dimasukkan ke dalam labu destilat, b. Tambahkan aquadest 100 ml ke dalam labu destilat, c. Sampel didestilasi dan ditampung filtratnya, d. Ambil 2-3 tetes hasil destilat sampel, Tambahkan 2 tetes Fenilhidrazina hidroklorida, 1 tetes kalium heksasianoferat (III), dan 5 tetes HCl, e. Jika terjadi perubahan warna merah berarti positif formalin.

2. Dengan asam kromatofat
a. Campur sampel yang telah ditimbang dengan 50 ml air dengan cara menggerusnya dalam lumpang. b. Campuran dipindahkan ke dalam labu destilat dan diasamkan dengan larutan H3PO4. Labu destilat dihubungkan dengan pendingin dan didestilasi. Hasil destilasi ditampung. c. Larutan pereaksi Asam kromatofat 0,5% dalam H2SO4 60% sebanyak 5 ml dimasukkan dalam tabung reaksi, ditambahkan 1 ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. d. Tabung reaksi dimasukkan dalam penangas air yang mendidih selama 15 menit dan amati perubahan warna yang terjadi. e. Adanya formalin ditunjukkan dengan adanya warna ungu terang sampai ungu tua.

3. Dengan larutan schiff
a. b. Sampel ditimbang dan dipotong potong, Dimasukkan kedalam labu destilat, ditambahkan 50 ml air, kemudian diasamkan dengan 1 ml larutan H3PO4,lalu sampel didestilasi dan hasil destilasi ditampung, Diambil 1 ml hasil destilat dalam tabung reaksi, ditambahkan 1 ml H2SO4 1:1 lewat dinding, kemudian ditambahkan 1 ml larutan schiff, jika terbentuk warna ungu maka positif formalin.

c.

4. Uji Hehner – Fulton
a. Masukkan 5 ml larutan hasil sulingan sampel ke dalam 6 ml H2SO4 dingin (yang telah dicampur dengan air brom jenuh). b. Masukkan 5 ml campuran tersebut ke dalam tabung reaksi. c. Tambahkan I ml susu yang bebas aldehida secara perlahanlahan dan sambil didinginkan, lalu tambahkan 0,5 ml larutan pengoksidasi dan aduk. d. Adanya HCHO ditunjukkan dengan adanya warna merah muda ungu.

5. Uji dengan FeCl3 (untuk contoh susu dan olahannya)
a. Timbang lebih kurang 5 g cuplikan, tambahkan 50 ml air suling dan masukkan ke dalam corong pemisah. b. Tambahkan 1 – 2 ml asam asetat 4 N lalu kocok dengan 20 ml eter sebanyak 2 kali. c. Pisahkan dan uapkan eter dalam cawan penguap hingga kering. d. Tambahkan 10 – 20 ml air suling ke dalam residu, aduk. e. Tuangkan larutan tersebut ke dalam 3 ml asam sulfat yang ditetesi dengan 2 tetes FeCl3 10% secara perlahan-lahan. f. Terbentuknya warna merah lembayung menunjukkan adanya formaldehide.

UJI KUANTITATIF

1. Dengan metode asidi - alkalimetri
a. Dipipet 10,00 ml hasil destilat dipindahkan ke erlenmeyer, kemudian ditambah dengan campuran 25 ml hidrogen peroksida encer dan 50 ml Natrium hidroksida 0,1 N. Kemudian dipanaskan di atas penangas air hingga pembuihan berhenti, dan dititrasi dengan Asam klorida 0,1 N menggunakan indikator larutan Fenolftalein. Dilakukan penetapan blanko, dipipet 50,0 ml NaOH 0,1 N, ditambah 2-3 tetes indikator Fenolftalein, dititrasi dengan HCl 0,1 N. Dimana 1 ml Natrium hidroksida 0,1 N ~ 3,003 mg HCHO.

b.

c.

2. Dengan Metode Spektrofotometri
Pembuatan Larutan Standar : a. Formalin 37% diambil sebanyak 0,027 ml, b. Tambahkan aquades sebanyak 500 ml atau 20 ppm, buat konsentrasi yang berbeda yaitu 0; 0,05; 0,1; 0,5; 0,75; 1,0; 1,5; dan 2, c. Kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah diberi label (8 tabung reaksi), d. Tambahkan asam kromatofat sebanyak 5 ml pada tiap konsentrasi yang berbeda, panaskan tabung reaksi selama 30 menit dengan kompor pada suhu 100°C, e. Terbentuklah larutan standar.

Pembuatan Larutan Uji : a. Homogenkan sampel sebanyak 20 ml dengan aquades, panaskan sampel yang telah diuji dengan kompor sampai mendidih, disaring lalu didinginkan. b. Ambil filtrat sebanyak 2 ml ke dalam tabung reaksi dengan 3 kali ulangan. c. Tambahkan asam kromatofat sebanyak 5 ml pada masingmasing tabung reaksi. d. Panaskan selama 20 menit lalu dinginkan. e. Ukur absorbansinya dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 520 nm.

Perhitungan : a. Nilai absorbansi dari uji menggunakan spektrofotometer akan dibandingkan dengan larutan standar pada tiap konsentrasi yang berbeda pada masing-masing tabung reaksi dengan metode regresi linear.

Kesimpulan
• Formalin merupakan senyawa aldehid dengan rumus kimia CHOH, berbentuk gas atau larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri. Formalin dilarang penggunaannya sebagai bahan pengawet pada makanan karena berbahaya untuk kesehatan. • Identifikasi kualitatif formalin dilakukan dengan menggunakan Pereaksi Fenilhidrazina, Asam Kromatofat, dan dengan Larutan Schiff. • Identifikasi kuantitatif formalin dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri.