You are on page 1of 12

JTM Vol. XVIII No.

1/2011


39
STUDI KEEFEKTIFAN METODE MOTOR OUTPUT DAN
KECENDERUNGAN BHA PADA PEMBORAN BERARAH
Bonar Tua Halomoan Marbun, Adrianus Andi Prijatno
Sari
Pemboran berarah adalah seni dan pengetahuan untuk membelokkan sumur menuju kearah tertentu untuk mencapai target
dibawah permukaan bumi yang telah ditentukan selanjutnya. Seiring dengan semakin meningkatnya biaya pengembangan
cadangan maka kebutuhan akan pemboran berarah juga semakin meningkat. Salah satu metode yang paling umum
digunakan oleh seorang directional driller untuk memperkirakan inklinasi dan arah yang dihasilkan saat sliding adalah
dengan metode motor output (MO). Dalam penelitian ini dibahas mengenai keefektifan dari penggunaan metode motor
output dan kecenderungan perilaku BHA pada lima sumur berarah jenis-J di suatu lapangan minyak X. Penelitian dilakukan
dengan mengamati dan mengolah data yang disajikan dari slide sheet. Keefektifan dari metode motor output mulai dari
build section, tangent section sampai target dari masing-masing sumur akan diamati dan dibahas satu persatu. Kemudian
akan dibahas secara menyeluruh sehingga hasil yang didapat dari kelima sumur tersebut akan menghasilkan satu
kesimpulan yang dapat menggambarkan keefektifan dari metode motor output serta kecenderungan BHA yang digunakan
pada lapangan minyak tersebut. Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menghasilkan suatu rekomendasi terhadap
penggunaan metode motor output yang dapat dimanfaatkan pada pengeboran di lapangan yang diteliti. Dari hasil
penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan metode motor output cukup efektif pada lapangan ini,
dihasilkan suatu faktor koreksi untuk berbagai TVD yang akan meningkatkan keefektifan dari metode motor output dalam
menentukan panjang pipa yang akan di slide untuk menghasilkan DLS yang diinginkan, dan kecenderungan dari BHA yang
digunakan adalah menurunnya inklinasi dan arah yang bergeser ke kiri.
Kata kunci: motor output, pemboran berarah, dog leg severity
Abstract
Directional drilling is art and knowledge to deflect a well to certain point to hit the sub surface target. The need of
directional drilling is increasing in line with the increasing cost of exploitation resource. One of the common method that is
used by directional driller for predicting inclination and azimuth that will be occurred while sliding is motor output method.
The research reported herein will evaluate the effectiveness of motor output method and BHA tendency on five directional J-
type wells in field X. This research is evaluating and processing data from slide sheet. The effectiveness of motor output
method will be evaluated from build section, tangent section until target for each wells. Then each evaluation will be
compared to give one final conclusion which can describe the effectiveness of motor output method and BHA tendency in the
researched field. The result from this research will give recommendation in using motor output method for this particular
field. The conclusions from this research are the motor output method is effective to be used on this field, the correction
factor in various TVD was proposed which can increase the effectiveness of motor output in determining length of drill pipe
which needs to be slide to create required DLS, and the BHA tendency is decreasing in inclination and azimuth that going to
left.
Keywords: motor output, directional drilling, dog leg severity
1)
Program Studi Teknik Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa No. 10 Bandung 40132, Tel.: +62 22-25-
4955, Fax.: 62 22-25-4955, Email : Bonar.marbun@tm.itb.ac.id
I. PENDAHULUAN
Pemboran berarah adalah seni dan pengetahuan
untuk membelokkan lubang sumur menuju kearah
tertentu untuk mencapai target dibawah permukaan
bumi yang telah ditentukan sebelumnya. Pada
awalnya pemboran berarah dimanfaatkan untuk
mengkoreksi pembelokan yang terjadi pada sumur
vertikal. Namun seiring dengan perkembangannya,
pemboran berarah semakin banyak diaplikasikan
seperti pada pemboran sidetrack, relief well,
horizontal well, pemboran lepas pantai dari satu
platform drilling, dan pemboran di mana pemboran
vertikal tidak bisa dilakukan karena pengaruh
kondisi alam. Seiring dengan semakin
meningkatnya biaya pengembangan cadangan
maka kebutuhan akan pemboran berarah pun akan
semakin meningkat.

Proses pemboran berarah dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa peralatan dan teknologi
seperti whipstock, jetting bits, dan mud motor
dengan bent sub. Mud motor ini dikenal juga
sebagai positif displacement motor (PDM). Selain
untuk pemboran berarah, PDM juga digunakan
pada performance drilling maupun operasi coring.

PDM bekerja berdasarkan prinsip Moineau. Di
mana secara garis besar, PDM dapat dibagi
menjadi 3 bagian utama yaitu:
1. Dump Sub
2. Power Section
3. Bearing Section

Sirkulasi fluida pemboran dipompakan kedalam
PDM akan memutar rotor terhadap stator yang
merupakan bagian dari power section. Putaran dari
stator ditransmisikan ke rotating sub yang
Bonar Tua Halomoan Marbun, Adrianus Andi Prijatno

40
terhubung dengan bit sehingga menyebabkan bit
berputar. Bend sub pada motor dapat dibengkokkan
sampai suatu sudut tertentu dengan tujuan agar
motor dapat membangun sudut. Arah dari bend sub
ini dapat diketahui melalui toolface hasil survey
MWD. Dengan mengetahui arah toolface, bit yang
berputar serta PDM yang tidak lurus, maka seorang
directional driller dapat mengarahkan kemana bit
akan bergerak sehingga dapat mencapai target yang
telah ditentukan sebelumnya.
Dalam memperkirakan inklinasi dan azimuth yang
akan dihasilkan saat sliding, maka directional
driller pada umumnya menggunakan metode motor
output. Dengan metode ini, seorang directional
driller memiliki patokan berapa panjang pipa (drill
pipe) perlu di-sliding dan ke arah mana toolface
perlu diarahkan agar menghasilkan dog leg severity
(DLS) seperti yang diharapkan. Metode ini cukup
efektif walaupun banyak faktor yang
mempengaruhinya seperti jenis formasi dan drilling
parameter. Pada kenyataannya pada formasi yang
sama dan drilling parameter yang sama kadang
menghasilkan motor output yang berbeda.
Disinilah letak sisi art dari pemboran berarah. Oleh
sebab itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
menganalisa kecenderungan hasil perhitungan
motor output pada suatu lapangan (field) tertentu.
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan pada 5 sumur (X1-X5)
yang berada pada lapangan yang sama dimana
formasinya relatif sama.
2. Penelitian dilakukan pada 8-1/2” hole section
mulai dari build section sampai dengan tangent
section dan target.
3. BHA yang digunakan sama di mana ada 2
stabilizer yang digunakan (1 stabilizer pada
motor dan 1 integral blade stabilizer dibagian
atas).
4. Bit yang digunakan adalah sama, yaitu type 8-
1/2” PDC.
5. Mud motor yang digunakan sama, yaitu 6-3/4”
mud motor dengan 6/7 lobe.
6. Bent sub motor diset pada 1.15 degree.
7. Rotating saat build se ction diasumsikan tidak
terbentuk sudut.
8. Perhitungan hasil survey dilakukan dengan
metode minimum curvature.

II. PEMBORAN BERARAH
Proses pemboran merupakan proses tiga dimensi.
Mata Bor (Bit) tidak hanya menembus secara
vertikal tetapi juga bidang X-Y. Bidang X adalah
bidang arah (directional plane) dan bidang Y
adalah bidang inklinasi (inclination plane). Derajat
yang terbentuk pada bidang X disebut derajat arah
(directional degree) sedangkan yang terbentuk
pada bidang Y disebut derajat inklinasi (inclination
degree). Ilustrasi bidang X dan Y dapat dilihat pada
Gambar 1.

Gambar 1. Bidang arah dan bidang inklinasi
(Bourgoyne, et al., 1991)
2.1 Perhitungan Lintasan Lubang Sumur (Well
Trajectory)
Metode untuk menentukan posisi lubang yang
dibor (well path) adalah dengan melakukan survey
menggunakan peralatan survei (survey instrument)
untuk mengetahui inklinasi dan arah pada berbagai
kedalaman tertentu (station). Gambar 2
menggambarkan posisi lintasan dimana survey
diambil pada station A
2
, A
3
, dan A
4
. Pada setiap
station ini diukur sudut inklinasi, sudut arah dan
juga panjang lintasan (course length) antar station.

Gambar 2. Ilustrasi 3-D dari lubang sumur dengan
menampilkan komponen X,Y,Z dari lintasan sumur
(Bourgoyne, et al., 1991)
Studi Keefektifan Metode Motor Output dan Kecenderungan BHA pada Pemboran Berarah


41
Teredapat beberapa metode perhitungan untuk
menghitung lintasan dari lubang sumur. Perbedaan
utama dari semua metode perhitungan tersebut
adalah sebagian menggunakan pendekatan dengan
garis lurus (straight line) dan sebagian lainnya
menggunakan pendekatan dengan kurva (curve
segment). Berikut adalah metode-metode
perhitungan:
1. Metode Tangensial (Tangential Method)
Metode ini menggunakan inklinasi dan arah pada
survey station A
2
(Gambar 2). Dimana diasumsikan
sudut konstan sepanjang lintasan yang
mendahuluinya D
M2
sampai ke A
2
. Sudut A
1
tidak
dipertimbangkan. Latitude koordinat utara/selatan,
L, dapat dihitung dengan persamaan 1 untuk setiap
panjang lintasan D
M
. Sedangkan untuk timur/barat,
M, dapat dihitung dengan persamaan 2:
I
ì
= Ð

sin(o
ì
) ∙ cos(e
ì
) (1)
H
ì
= Ð

sin(o
ì
) ∙ sin(e
ì
) (2)
TVD (true vertical depth) dapat dihitung dengan
persamaan berikut:
Ð
ì
= Ð

cos(o
ì
) (3)
Untuk menghitung total koordinat utara/selatan dan
timur/barat dan TVD,
I
n
= ∑ I
ì
n
ì=1
(4)
H
n
= ∑ H
ì
n
ì=1
(5)
Ð
n
= ∑ Ð
ì
n
ì=1
(6)
2. Metode Sudut Rata-Rata (Average Angle
Method)

Metode sudut rata-rata mempertimbangkan sudut
rata-rata α
1
, ε
1
, dan α
2
, ε
2
yang melalui panjang
lintasan D
2
untuk menghitung L
2
, M
2
, dan D
2
.
Persamaan-persamaan metode sudut rata-rata
adalah sebagai berikut:
I
ì
= Ð

sin[
u
i
+u
i
-1
2
¸ cos [
s
i
+s
i
-1
2
¸ (7)
H
ì
= Ð

sin[
u
i
+u
i
-1
2
¸ sin [
s
i
+s
i
-1
2
¸ (8)
Ð
ì
= Ð

cos [
u
i
+u
i
-1
2
¸ (9)
I
n
= ∑ I
ì
n
ì=1
, H
n
= ∑ H
ì
n
ì=1
, Ð
n
= ∑ Ð
ì
n
ì=1
(10)
3. Metode Kurva Minimum (Minimum Curvature
Method)
Metode kurva minimum merupakan salah satu
metode yang paling umum. Metode ini
menggunakan sudut pada A
1
dan A
2
serta
mengasumsikan lubang sumur berbentuk kurva
melalui panjang lintasan D
2
dan bukan berupa garis
lurus seperti yang digambarkan pada Gambar 3.
Ilustrasi panjang lintasan kurva dan dua survey
station A
1
dan A
2
dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 3. Faktor rasio kurva minimum, F
(Bourgoyne, et al., 1991)

Gambar 4. Representasi kurva antar survey station
A
1
dan A
2
(Bourgoyne, et al., 1991)
Metode kurva minimum memperhitungkan
perubahan sudut keseluruhan dari pipa bor
(drillpipe) β antara A
1
dan A
2
. Sudut keseluruhan
dapat dirumuskan sebgai berikut:
cos [ = cos((o
2
− o
1
) −{sin(o
1
)sin(o
2
)[1 −
2−1 (11)
Dapat dilihat pada Gambar 3, bahwa garis lurus
A
1
B+BA
2
bertemu dengan kurva A
1
Q+QA
2
pada
posisi A
1
dan A
2
. Sehingga,
A
1
Q = OA
1
·β/2,
QA
2
= OA
2
·β/2,
Bonar Tua Halomoan Marbun, Adrianus Andi Prijatno

42
A
1
B = OA
1
·tan (β/2),
BA
2
= OA
2
·tan (β/2),
Oleh sebab itu,
A
1
B/A
1
Q=tan (β/2)/ (β/2)=2/ β tan (β/2),
BA
2
/QA
1
=tan (β/2)/ (β/2)=2/ β tan (β/2).
Faktor dari garis lurus vs kurva ratio didefinisikan
sebagai F, dimana,
F = 2/ [
ì
ton([
ì
/2) (12)
Jika β ≤ 0.25 radian, maka dapat diset F=1.0.
Ketika F sudah diketahui maka koordinat
utara/selatan dan koordinat timur/barat beserta
TVD dapat dihitung dengan persamaan berikut:
H
ì
= Ð
ì
/2[sin(o
ì-1
) ∙ sin(e
ì-1
) +sin(o
ì
) −
∙ (13)
I
ì
= Ð
ì
/2[sin(o
ì-1
) ∙ sin(e
ì-1
) +sin(o
ì
) −
∙ (14)
Ð
ì
= Ð
ì
/2[cos(o
ì-1
) +cos(o
ì
)] ∙ F
ì
(15)
Departure total dan TVD dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut:
I
n
= ∑ I
ì
n
ì=1
, H
n
= ∑ H
ì
n
ì=1
, Ð
n
= ∑ Ð
ì
n
ì=1
(16)
Pada Tabel 1 dapat dilihat perbandingan dari enam
metode perhitungan yang berbeda yang
menggunakan data hasil dari uji coba lubang sumur
(test hole). Metode tangensial tidak lagi digunakan
karena besarnya kesalahan untuk M, L, dan D.
Perbedaan antara metode sudut rata-rata, metode
kurva minimum, dan metode kesetimbangan
tangensial (tangential balance) sangat kecil
sehingga salah satu metode ini dapat digunakan
untuk menghitung lintasan sumur (trajectory).
Tabel 1. Perbandingan keakuratan beberapa
metode perhitungan


2.2 Dogleg Severity (DLS) Dari Lubang Bor
DLS adalah curvature dari lubang bor. Satuan yang
umum digunakan adalah per 100 ft dari panjang
lubang sumur (
0
/100 ft). Lubang sumur
digambarakan sebagai kurva tiga dimensi yang
bertepatan dengan garis tengah dari lubang sumur.
Station adalah inklinasi survey station seperti yang
diukur oleh single- atau multi-shot, ataupun alat
MWD. Kedalaman alat biasanya diukur dengan
drillstring, Jika jarak antara dua survey station
terlalu ekstrim, maka semakin besar dogleg
severity-nya.
DLS pada lubang sumur merupakan gabungan
curvature lubang sumur dengan arah dan inklinasi
antara semua station yang jaraknya berdekatan.
Untuk mengukur secara akurat abrupt dogleg
adalah dengan melakukan survey dimana jarak
antara survey dekat. Persamaan Wilson menghitung
DLS dengan persamaan berikut:
ÐIS = 100 × __
I
2
−I
1

2
−HÐ
1
]
2
+_
A
2
− A
1

2
− HÐ
1
sinI
u
]
2
_
1/2

(17)
I
u
=
I
2
+I
1
2
(18)
dimana:
DLS = dogleg severity (
0
/100 ft)
MD
1
= kedalaman station pertama (ft)
MD
2
= kedalaman station kedua (ft)
I
1
= inklinasi pada kedalaman station pertama (
0
)
I
2
= inklinasi pada kedalaman station kedua (
0
)
I
a
= inklinasi rata-rata (
0
)
A
1
= arah pada kedalaman station pertama (
0
)
A
2
= arah pada kedalaman station kedua (
0
)

Bentuk ringkas dari persamaan diatas adalah
sebagai berikut:
ÐIS =
100
∆MÐ
× [∆I
2
+ (∆A × sinI
u
)
2
]
1/2
(19)
dimana:
∆MD = selisih kedalaman antara dua station (ft)
∆I

= perubahan inklinasi (
0
)
∆A
1
= perubahan arah (
0
)

2.3 Metode dan Alat Untuk Membelokkan
Sumur
Pada proses membelokkan sumur (kicking off),
suatu metode digunakan untuk memaksa mata bor
bergerak ke arah yang ingin dituju. Tehnik untuk
membelokkan mata bor dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa alat berikut:
 Whipstock (Gambar 5a).
 Mud motor dengan bent subs atau bent housing
(Gambar 5b).
 Jetting Bits (Gambar 5c).
Studi Keefektifan Metode Motor Output dan Kecenderungan BHA pada Pemboran Berarah


43

Gambar 5. Tehnik untuk membelokkan sumur
(Bourgoyne, et al., 1991)
Semua metode membelokkan sumur tergantung
pada bagaimana memanipulasi pipa bor dengan
memutar (rotation) dan mengarahkan turun
(downward motion) untuk menghasilkan perubahan
posisi mata bor baik pada bidang arah atau bidang
inklinasi, maupun keduanya. Gambar 6
mengilustrasikan rangkaian pipa bor (drillstring)
dengan sub membelok (deflection sub), tanda
panah mengindikasikan arah dari sub yang akan
menyebabkan drillstring mengarah kearah tertentu
(toolface). Besarnya pembelokan dikendalikan oleh
besarnya departure dari garis tengah (center line)
dari alat pembelok, seperti besarnya sudut dari
whipstock toe, bent sub, dan letak lubang nozzle
pada jetting bit.

Gambar 6. Metode untuk membelokkan lintasan
sumur (Bourgoyne, et al., 1991)
2.4 Survey Directional
Baik pada pengeboran lurus maupun berarah, posisi
lubang sumur dibawah permukaan harus selalu
ditentukan seiring dengan berjalannya pemboran.
Oleh sebab itu diperlukan alat survey yang mampu
mengukur inklinasi dan arah lubang pada berbagai
kedalaman sepanjang lintasan sumur. Posisi lubang
sumur relatif terhadap lokasi di permukaan dapat
dihitung dari hasil survey kumulatif.
Tujuan dari survey directional adalah: (a)
memonitor lintasan sumur sesungguhnya agar
target dapat tercapai, (b) mengorientasikan alat
untuk membelokkan lubang kearah yang
diinginkan ketika mengkoreksi lintasan sumur, (c)
memastikan bahwa sumur yang sedang dibor tidak
berbahaya akan menabrak sumur lain yang ada
didekatnya, (d) menentukan true vertikal depth
(TVD) dari berbagai formasi yang ditemui untuk
membuat peta geologi yang akurat, (e) menentukan
lokasi pasti bottom hole dari sumur,dan (f)
mengevaluasi DLS sepanjang lintasan sumur.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan
survey directional, maka terdapat beberapa alat
survey directional. Beberapa diantaranya adalah
magnetic single atau multishot, gyroscopic single
atau multishot, dan steeing tools.
2.5 MWD (Measurement While Drilling)
MWD didefinisikan sebagai proses dimana
informasi tertentu diukur dekat dengan mata bor
dan dikirimkan ke permukaan dimana dalam
prosesnya tidak mengganggu operasi normal
pemboran. Informasi ini dapat berupa:
(a) Data directional (inklinasi, azimuth, toolface);
(b) Karakteristik formasi (gamma-ray, log
resistivity);
(c) Drilling parameter (downhole WOB, torque,
rpm).

Sensor dipasang pada alat khusus yang terintegrasi
dengan BHA. Pada downhole tool ini terdapat
transmiter untuk mengirim signal ke permukaan
melalui suatu media telemetri. Media telemetri
yang umumnya digunakan adalah kolom lumpur
didalam rangkaian pipa. Signal dideteksi pada
permukaan, diterjemahkan dan diproses untuk
menghasilkan informasi yang dibutuhkan dalam
format yang mudah dipahami. Kelebihan dari
MWD adalah sistem ini dapatt menampilkan apa
yang sebenarnya terjadi di downhole secara
realtime, baik untuk driller maupun geologis.
Beberapa sistem telemetri yang paling umum
adalah mud pressure pulse dan elektromagnetik.
2.6 Bottom Hole Assembly (BHA)
BHA didefinisikan sebagai bagian dari drillstring
yang mempengaruhi lintasan dari bit dan lubang
sumur. Karakteristik fisik dari berbagai macam
komponen yang menyusun BHA memiliki efek
yang sangat signifikan terhadap bagaimana bit akan
membor. Jarak 100-300 ft terbawah dari BHA yang
memiliki pengaruh terbesar terhadap bagaimana
Bonar Tua Halomoan Marbun, Adrianus Andi Prijatno

44
kecenderungan BHA. Jarak ini yang seringkali
disebut sebagai “active length” dari drill string dan
terdiri dari drill collar, sub, dan stabilizer.
2.7 Gaya yang Bekerja pada Bit
Pada mulanya slick assembly yang terdiri dari bit
dan drill collar paling umum digunakan. Namun
dalam perkembangan selanjutnya multistabilizer
BHA menjadi popular dan banyak digunakan untuk
pemboran berarah. Pada pemboran berarah drill
collar akan kontak dengan bagian bawah (low side)
dari lubang. Jika stabilizer tidak digunakan pada
BHA maka drill collar akan kontak dengan lubang
sumur pada jarak L dari bit. Jarak L adalah tangent
length. Collar yang tidak di support dibawah
tangent point menghasilkan pendulum efek yang
memaksa gaya kesamping pada bit (Gambar 7).
Pendulum efek memberikan efek makin kecilnya
inklinasi karena berat drill collar. Gaya kesamping
maksimum (maximum side force) dapat ditentukan
dengan persamaan berikut:
=

(20)
dimana:
F = gaya kesamping maksimum (lb)
L = tangent length (ft)
W
c
= berat per panjang collar (lb/ft)
Α = sudut inklinasi (
0
)


Gambar 7. Pendulum efek (Inglis, 1987)
Gaya kesamping cenderung untuk menurunkan
sudut inklinasi dari lubang (negative side force).
Ketika diberikan WOB, tangent point akan
merendah dan mengurangi gaya kesamping.
Bending drill collar pada bit dapat menyebabkan
gaya beban axial diaplikasikan untuk menaikkan
sudut inklinasi (positive side force). Dengan
meningkatnya WOB maka negative side force akan
berkurang seiring membesarnya positive side force.
Penjumlahan vector dari resultan gaya kesamping
dan gaya axial akan menentukan deviasi lubang,
namun dalam kenyataannya karakteristik formasi
perlu dipertimbangkan. Hal ini diilustrasikan pada
Gambar 8.

Gambar 8. Beban axial dan resultan gaya
kesamping (Inglis, 1987)
Penembatan stabilizer dalam rangkaian BHA akan
besarnya gaya kesamping dan akan mempengaruhi
apakah BHA akan menaikkan atau menurunkan
sudut. Stabilizer yang diletakkan tepat diatas bit
akan bertindak sebagai titik tolak. Sedangkan berat
drill collar yang berada diatas stabilizer akan
bertindak sebagai dongkrak agar bit menaikan
sudut. Seiring dengan semakin jauhnya jarak antara
bit dan stabilizer maka gaya ke atas pada bit
semakin berkurang.
2.8 Rotary Assembly
Rotary assembly adalah BHA yang digerakkan
hanya oleh rotary table pada permukaan, tanpa
menggunakan downhole motor. Dengan
memperhitungkan letak stabilizer maka rotary
assembly dapat didesign untuk membangun (build),
menurunkan (drop), dan menjaga (hold) sudut
inklinasi.
Rangkaian untuk membangun sudut (building
assembly) umumnya digunakan pada pemboran
berarah sesaat setelah awal kick-off telah dilakukan.
Satu stabilizer yang diletakkan tepat diatas bit akan
menyebabkan terbangunnya sudut karena efek titik
tolak. Tambahan stabilizer akan mempengaruhi
laju pembentukan sudut untuk menyesuaikan
dengan lintasan sumur yang diperlukan. Jika near-
bit stabilizer telah undergauge maka gaya
kesamping akan berkurang. Rangkaian untuk
membangun sudut dapat dilihat pada Gambar 9.
Rangkaian A dan B sangat baik digunakan pada
formasi yang lembut sampai medium. Undergauge
stabilizer pada rangkaian C akan membangun sudut
yang lebih kecil. Bila stabilizer kedua semakin
didekatkan pada near-bit stabilizer maka
kecenderungan untuk membangun sudut akan
meningkat. Besarnya WOB juga akan
mempengaruhi karakteristik pembentukan sudut.
Sesaat setelah inklinasi telah terbentuk sesuai
dengan susut yang diperlukan, bagian tangential
dari sumur akan dibor dengan menggunakan
rangkaian penahan sudut (holding assembly).
Studi Keefektifan Metode Motor Output dan Kecenderungan BHA pada Pemboran Berarah


45
Tujuannya adalah untuk mengurangi
kecenderungan dari BHA untuk membangun atau
menurunkan sudut. Untuk mengeliminasi
kecenderungan ini maka stabilizer perlu diletakkan
berdekatan seperti pada rangkaian D di Gambar 9.
Undergauge stabilizer pada rangkaian E akan
membangun sudut sedikit untuk melawan efek
gravitasi. Besarnya WOB tidak mempengaruhi
karakteristik rangkain type ini sehingga WOB
dapat diset optimum untuk menghasilkan rates of
penetration (ROP) maksimum.
Pada pemboran berarah, hanya sumur type S yang
membutuhkan rangkaian untuk menurunkan sudut
(droping assembly). Aplikasi lainnya adalah pada
saat inklinasi yang terbentuk melebihi dari lintasan
yang seharusnya. Untuk menurunkan sudut, paling
baik dilakukan pada formasi yang lunak karena
pada formasi yang keras respond terhadap
rangkaian pendulum sangat lambat. Rangkaian F
dan G pada Gambar 9 mengilustrasikan rangkaian
untuk menurunkan sudut. Rangkaian ini akan lebih
efektif pada lubang dengan sudut yang tinggi. Jika
sudut tidak menurun maka WOB dapat dikurangi
walaupun ini berarti juga menurunnya ROP.

Gambar 9. Rangkaian rotary assembly (Petroleum
Engineering and Development Studies Volume 2
Directional Drilling, 1987)
III. ANALISIS DATA
3.1 BHA, Bit dan PDM
Berdasarkan data lapangan yang diperoleh, urutan
rangkaian BHA (Gambar 10) yang digunakan
untuk pemboran lubang section 8-1/2” adalah
sebagai berikut:
1. 8-1/2” Polycrystalline Diamond Bit (PDC)
2. 6-3/4” Mud motor dengan 6/7 lobe- 5.0 stage
dengan 8 ¼” stabilizer
3. 6-3/4” Float sub +Float valve
4. 7-7/8” Integral blade stabilizer
5. 6-3/4” NMDC
6. 6-3/4” PWD Sub
7. 6-3/4” Hang-Off Collar
8. 14 × 5” Heavy Weight Drill pipe
9. 6-1/2” Drilling Jar
10. 16 × 5” Heavy Weight Drill pipe


Gambar 10. Rangkaian BHA
8-1/2” PDC bit yang digunakan (Gambar 11)
adalah type thermostable PDC cutter yang
memiliki lapisan unik thermostable PDC yang
lebih tahan 200% terhadap panas dan 400% lebih
tahan terhadap abrasi dibandingkan dengan PDC
biasa. Lapisan thermostable secara dramatis
meningkatkan daya tahan terhadap abrasi, hal ini
dilakukan dengan tetap menjaga ketajaman dan
kekuatan dari ujung-ujung cutter.
Spesifikasi dari bit ini adalah sebagai berikut:

 Panjang bit = 0,73 ft
 Connection = 4-1/2 API Regular Pin
Bonar Tua Halomoan Marbun, Adrianus Andi Prijatno

46
 Make-up torque = 20.000 ft-lbs
 Diameter = 8,5 in.
 TFA = 0,752 in
2

 Jumlah blade = 5
 Panjang gauge = 2,5 in.
 Gauge geometry = straight
 Min WOB = 4 klbs
 Max WOB = 34 klbs
 Pressure drop = 700 – 2.000 psi
 Jumlah Nozzle = 5


Gambar 11. PDC bit
Gambar 12 mengilustrasikan mud motor yang
digunakan. Mud motor yang digunakan memiliki
ukuran 6-3/4” dengan Lobe 6:7 dan 5,0 stage.

Gambar 12. PDM
Data dimensi motor:
 Panjang bit box ke stabilizer (A) = 2,14 ft/0,652
m
 Panjang bit box ke bend (B) = 6,11 ft/1,862 m
 Panjang keseluruhan motor (C) = 25,31 ft/7,716
m
 Berat = 2.218 lb/990 kg
 Bend range = 0-3 degree
 Ukuran bit = 8-1/2 – 9-7/8 in.
 Koneksi Bit = 4-1/2 in. REG Box
 Koneksi Top = 4-1/2 in. IF Box

Data performance motor:
 Flow rate = 300 – 600 gpm/1.136 – 2.272 lpm
 Kecepatan bit (free running) = 87 – 174 RPM
 Revolutions = 0,29 rev./gallon / 0,08 rev./liter
 Operating torque maksimum = 5.956 ft.lb/
8.075 Nm
 Operating HP maksimum = 197,3 hp/147,1 kW
 WOB maksimum = 50.000 lb/22.680 kg
 Differential Pressure maksimu = 715 psi/4930
kPa
 Bit pressure range = 200 – 1.200 psi / 1.379 –
8.274 kPa


Gambar 13. Performance Chart untuk 6-3/4” motor
Performance chart (Gambar 13) menggambarkan
hubungan antara operating differential pressure
dengan output RPM dan output torque. Motor
sedapat mungkin harus dijaga beroperasi pada
normal operating differential pressure (Zona warna
hijau), hal ini akan menghasilkan torque, RPM dan
horsepower yang akan mengoptimalkan
performance motor. Bila operating differential
pressure motor berada pada zona merah maka
motor akan mengalami stall (berhenti berputar).


Gambar 14. Expected DLS Chart untuk 6-3/4”
motor
Gambar 14 digunakan untuk memperkirakan DLS
yang akan terjadi dengan suatu settingan motor
bend tertentu untuk 6-3/4” motor dan diameter
lubang sumur yang dibor 8-1/2”. Pada zona yang
dibatasi dengan garis titik-titik hijau merupakan
zona aman dimana rotating dengan 80-100 RPM
Studi Keefektifan Metode Motor Output dan Kecenderungan BHA pada Pemboran Berarah


47
masih diperbolehkan tanpa ada potensi failure
motor (twist off).
Data slide sheet merupakan data yang berisi
berbagai drilling parameter selama kegiatan
pemboran berarah. Data ini antara lain meliputi:
Start - end Depth, Start-end time, Sliding atau
rotating, WOB, ROP, flow rate, SPP On-Off, data
survey (depth, inklinasi,azimuth), jenis formasi dan
DLS.
3.2 Persamaan Untuk Analisa Sumur
Perhitungan yang digunakan dalam menganalisa
sumur X1-X5 adalah sebagai berikut:
1. Build Up Rate (BUR)
BUR dihitung dengan menggunakan persamaan
berikut:
BuR =
Bcnd housìng×200
L
(21)
dimana:
BUR = Build up rate (deg/100 ft)
L = Jarak dari bit hingga bagian tengah top
stabilizer

Data yang diperoleh dari motor handbook adalah
sebagai berikut:
 BUR saat drilling orienting adalah 7 deg / 100
ft
 BUR saat drilling rotating adalah 0 deg / 100 ft

2. True Vertical Depth (TVD)
TVD dihitung dengan menggunakan metode
minimum curvature sebagai berikut:
Rasio faktor (F) dicari dengan rumus
F =
2

[
180
n
¸ton[

2
¸ (22)

Kemudian dengan nilai F dapat dihitung ∆ TVD
untuk menghitung TVD:
∆IIÐ = F
L
2(cos ìnc
1
+cos ìnc
2
)
(23)
dimana:
F = Rasio Faktor
Ø = DLS (degree/100ft)
ΔTVD = Perubahan panjang Vertikal

3. Dog Leg Severity (DLS)
DLS dihitung dengan menggunakan persamaan
berikut ini:
ÐIS (
dcg
100]t
) =
100
∆MÐ
× [∆I
2
+(∆A × sinI
u
)
2
]
1/2

(24)
dimana:
∆MD = selisih kedalaman antara dua station (ft)
∆I

= perubahan inklinasi (
0
)
∆A

= perubahan arah (
0
)

4. DLS build
DLS build dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut ini:
ÐIS builJ (
dcg
100]t
) =
100
∆MÐ
× ∆I (25)
dimana:
∆MD = selisih kedalaman antara dua station (ft)
∆I

= perubahan inklinasi (
0
)

5. DLS turn
DLS turn dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut ini:
ÐIS turn (
dcg
100]t
) =
100
∆MÐ
× ∆A (26)
dimana,
∆MD = selisih kedalaman antara dua station (ft)
∆A

= perubahan arah (
0
)

6. Motor Output (MO)
Motor output didefinisikan sebagai kemampuan
motor untuk membuat DLS jika di sliding
sepanjang 1 stand ( 1stand = 60 ft)
H0 =
ÐLS
S
I (27)
dimana:
MO = Motor output
DLS = Dog Leg Severity (degree/100 ft)
S = Panjang pipa yang di sliding (ft)
L = Panjang 1 stand drill pipe

3.3 Hasil Perhitungan Sumur X1-X5
Hasil perhitungan dan pengolahan data disajikan
dalam grafik-grafik pada Gambanr 16 sampai 20.


Gambar 16. Grafik DLS vs TVD dan DLS
f
vs TVD
pada sumur X1
Bonar Tua Halomoan Marbun, Adrianus Andi Prijatno

48

Gambar 17. Grafik DLS vs TVD dan DLS
f
vs TVD
pada sumur X2

Gambar 18. Grafik DLS vs TVD dan DLS
f
vs TVD
pada sumur X3

Gambar 19. Grafik DLS vs TVD dan DLS
f
vs TVD
pada sumur X4

Studi Keefektifan Metode Motor Output dan Kecenderungan BHA pada Pemboran Berarah


49

Gambar 20. Grafik DLS vs TVD dan DLS
f
vs TVD
pada sumur X5
Berdasarkan hasil studi, dilakukan analisa terhadap
kelima sumur sebagai berikut:
1. Pada kelima sumur yang diteliti (Sumur X1-
X5) dilakukan drilling orienting dengan
menggunakan metode motor output. Drilling
orienting ini dilakukan baik pada saat build
section maupun saat koreksi di tangent section.
2. Perhitungan motor output digunakan untuk
memprediksikan panjang drill pipe yang harus
di sliding pada stand berikutnya. Pada
penelitian ini dapat dilihat bahwa perhitungan
motor output cukup efektif dalam penentuan
panjang drill pipe yang akan di slide pada
stand berikutnya untuk mendapatkan DLS
tertentu dengan deviasi maksimum adalah 2.84
degree.
3. DLS maximum rata-rata yang diperoleh adalah
4,78 degree/100 ft dimana hasil ini lebih
rendah dibandingkan data dari build up rate
hasil perhitungan yaitu sebesar 6,96
degree/100 ft maupun dari spesifikasi motor
handbook sebesar 6,00 degree/100 ft.
4. Faktor koreksi MO untuk setiap range TVD
tertentu (range TVD per 500 ft) didapat dari
selisih MO prediksi dan MO aktual pada
berbagai TVD (Tabel 2). Faktor koreksi MO
yang diperoleh dapat diterapkan pada semua
sumur penelitian.

Tabel 2. Faktor koreksi MO untuk setiap range
TVD

5. Dari perbandingan grafik DLS dan DLSf vs
TVD dengan menggunakan data awal dan
setelah menggunakan faktor koreksi maka
dapat terlihat metode perhitungan motor output
dalam penentuan panjang drill pipe yang di
slide menjadi lebih efisien setelah
menggunakan faktor koreksi, dengan demikian
persamaan yang digunakan untuk adalah
sebagai berikut:
=

+
100

dimana,
S = Panjang pipa yang akan di slide
X = Faktor koreksi untuk berbagai range TVD
DLSf = DLS forecast (yang diperkirakan)
MO = Motor Output
6. Pemboran pada formasi yang sama dengan
menggunakan drilling parameter yang sama
memberikan hasil DLS yang berbeda-beda.
Diperlukan data formasi yang lebih mendalam
untuk mengamati pengaruh formasi terhadap
metode motor output pada pemboran berarah.
7. Kecenderungan perilaku BHA saat rotating
adalah inklinasi yang menurun dengan
penurunan rata-rata sebesar 0,91 degree/100 ft
serta azimuth yang bergeser kekiri sebesar 0,35
degree/100 ft pada WOB 8-10 klbs, RPM 65-
80, dan flow 520-525 GPM.
8. Dari penelitian ini diketahui bahwa semakin
kecil WOB dan RPM maka semakin besar
penurunan inklinasi dan azimuth semakin
bergeser ke kiri. Sedangkan flow tidak tampak
terlalu berpengaruh terhadap inklinasi dan
azimuth.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Perhitungan motor output cukup efektif dalam
penentuan panjang drill pipe yang akan di
slide pada stand berikutnya untuk
mendapatkan DLS tertentu dengan deviasi
maksimum adalah 2.84 derajat. Persamaan
dengan faktor koreksi yang digunakan adalah
sebagai berikut:
=

+
100

dimana,
S = Panjang pipa yang akan di slide
X = Faktor koreksi untuk berbagai range
TVD
DLSf = DLS forecast (yang diperkirakan)
MO = Motor Output
2. DLS maximum rata-rata yang diperoleh adalah
4,78 derajat/100 ft dimana hasil ini lebih
rendah dibandingkan data dari build up rate
hasil perhitungan BHA dan data dari
spesifikasi motor handbook.
3. Faktor koreksi MO yang diperoleh dari
penelitian dan pengolahan data dari lapangan
yang diteliti adalah sebagai berikut:
Bonar Tua Halomoan Marbun, Adrianus Andi Prijatno

50
TVD (ft) Faktor Koreksi (X)
1000-1500 0.85
1500-2000 -0.15
2000-2500 0.10
2500-3000 -0.90
3000-3500 0.64
3500-4000 -0.96
4000-4500 0.88

4. Penelitian ini dilakukan pada satu lapangan
minyak, lapangan X, sehingga faktor koreksi
yang dihasilkan dari penelitian ini hanya
berlaku untuk lapangan yang diteliti saja.
5. Kecenderungan perilaku BHA yang digunakan
pada Lapangan X saat rotating adalah inklinasi
yang menurun dan azimuth yang bergerak ke
arah kiri.
6. Drilling parameter mempengaruhi perilaku
BHA, dimana semakin kecil WOB dan RPM
maka semakin besar penurunan inklinasi dan
azimuth semakin bergeser ke kiri. Sedangkan
flow tidak tampak terlalu berpengaruh terhadap
inklinasi dan azimuth.
7. Faktor formasi merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi penelitian ini maupun
pada pemboran berarah pada umumnya.

4.2 Saran
1. Untuk memperkuat hasil penelitian dan
membuktikan keefektifan faktor koreksi MO
maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
terhadap metode motor output pada sumur-
sumur lain dalam lapangan yang sama maupun
sumur-sumur dari lapangan yang berbeda.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam
tentang pengaruh formasi terhadap pemboran
berarah dan pengaruhnya terhadap keefektifan
metode motor output.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bourgoyne, A.T., Millheim, K.K., Chenevert,
M.E., Young, F.S., 1991. Applied Drilling
Engineering, Society of Petroleum Engineer,
United States of America.
2. Inglis, T.A., 1987. Petroleum Engineering and
Development Studies Volume 2 Directional
Drilling, Graham & Trotman, Inc., United
States of America.
3. Mitchell, B., 1995. Advance Oilwell Drilling
Engineer, Mitchell Engineering, United States
of America.
4. Mills, P.G., 1926. Deviated Drilling, Peter G.
Mills Consultant Services, United States of
America.
5. Short, J.A., 1993. Introduction to Directional
and Horizontal Drilling, PennWell Publishing
Company, Tulsa.
6. Sperry-Sun, 1993. Sperry Drill: Technical
Information Handbook, Sperry Sun Drilling
Services, Inc., United States of America.