Sejarah Perkembangan Penjatuhan Hukuman

Oleh : I Wayan Puspa

Penjatuhan Hukuman sebelum Negara Terbentuk
• Penjatuhan Pidana terdiri dari 3 (tiga) tahap : a.Dengan cara membalas (lex talionis) atau asas pembalasan. b.Memberikan ganti rugi kepada korban atau keluarga korban. c.Negara yang terlibat. Setelah negara terbentuk, hukum pidana tertulis dan aparat pemerintah, maka penyelesaian suatu perkara pidana sepenuhnhya menjadi tanggung jawab negara.

Sejarah Pertumbuhan Susunan Pidana di Indonesia
• Susunan pidana dalam Pasal 10 KUHP adalah merupakan susunan pidana yang diberlakukan berdasarkan asas Konkordansi dari KUHP Belanda sejak 1 Januari 1918. • Susunan pidana sebelum berlaku KUHP dibagi ke dalam beberapa masa atau zaman ditulis oleh RA Koesnoen, sebagai berikut :

Zaman sebelum Majapahit
a. Pembalasan umum, pembalasan keluarga terhadap keluarga, marga terhadap marga. b. Pembalasan khusus, pembalasan dari pihak yang dirugikan kepada yang merugikan. c. Pembayaran uang damai (pemulih) dibayar oleh orang yang merugikan kepada desanya atau marganya atau keluarga korban

Zaman Majapahit :
a. Pidana Pokok : 1.Pidana mati. 2.Pidana potong anggota badan dari yang bersalah. 3.Pidana denda. 4.Ganti kerugian atau patukucawa atau panglicawa. a. Pidana Tambahan : 1.Uang tebusan. 2.Penyitaan barang-barang yang digunakan untuk melakukan kejahatan. 3.Uang membeli obat (patibajampi).

Zaman Hindu:
a. Pidana yang bersifat keagamaan. 1.Perbuatan melakukan penyesalan, atau dilakukan dengan pengusiran dari kastanya yang berakibat tidak boleh bergaul dengan temas sekastanya, tidak boleh mendapat pertolongan apapun, sesudah meninggal akan tersiksa di neraka. 2.Harus melakukan perdamaian. b. Pidana yang bersifat keduniawian.
Menurut Manu (yang membuat Manawa Dharmasasta) dibagi ke dalam : 1. pidana mati, dapat diganti dengan pidana denda jika terpidana ingin hidup. 2. Pidana badan, dilakukan terhadap anggota badan terpidana sesuai dengan anggota badan korban yang mengalami penderitaan. 3. Pidana denda dikenakan perbandingan 1 : 2 : 4 (250 : 500 : 1000) disesuikan dengan harga barang yang rusak atau hilang. 4. Pidana pemberian marah dengan peringatan, dikenakan terhadap pelanggaran ringan.

Zaman Islam:
Qisas, Pidana Qisas suatu pidana berupa pembalasan yang dilakukan oleh si korban atau saudaranya yang terdekat.Qisas dilakukan terhadap dua hal : pembunuhan dan melukai dengan sengaja. Menurut qisas pelaku dapat dipotong tangannya, kaki, jari, atau merusak giginya. Qisas dapat diganti dengan pemberian kerugian (dijah). Dijah dapat dibedakan : (1) dijah berat : harus memberikan 100 ekor unta betina, dikenakan terhadap pembunuh yang dilakukan dengan sengaja, (2) dijah ringan : memberikan 80 ekor unta betina dan 20 ekor unta jantan. Jika tidak ada unta dapat diganti dengan uang. Tidak boleh dikenakan pidana apapun terhadap : (a) mereka yang membunuh karena melaksanakan tugas pemerintah, (b) mereka yang membunuh karena perang, (c) mereka yang membela diri.

Susunan Pidana Menurut Hukum Adat:
1.Pidana mati, dilaksanakan dengan mencekik, ditenggelamkan, ditikam, atau dibakar. 2.Pidana badan, dilaksanakan dengan memukul dengan rotan, dibikin cacat tubuhnya 3.Pidana pengasingan. 4.Pidana terhadap kekayaan.

Susunan Pidana Pada Masa Penjajahan atau pada masa OIC (Oost Indische Compagnie tahun 1642)
1.Dimasukan ke dalam bangunan tertutup (tapi bukan penjara) karena perjudian, mabuk, budak belian yang tidak menyenangkan tuannya). 2.Dirantai sambil dipekerjakan. 3. Dimasukkan ke dalam rumah perbaikan bagi mereka yang melacur atau berzinah.

Susunan Pidana Pada Masa Daendels (1808-1811)
1.Membakar 2.Mengecap dengan besi panas. 3.Dipukul dengana rotan 4.Dirantai. 5.Kerja paksa

Susunan Pidana Pada Masa Raffles (1811-1816)
Sesuai dengan perjanjian antra Belanda dengan Inggris, bahwa negara-negara jajahan Belanda akan dikuasai Inggris. Dengan demikian Indonesia dikuasai Inggris di bawah kekuasaan Raffles. Adapun susunan pidana pada masa pemerintahan Raffles adalah semua pidana yang bersifat kejam dan membuat tubuh cacat dihapus.

Susunan Pidana pada masa Hindia Belanda, sebelum berlaku KUHP :
1. Pidana yang berlaku bagi golongan Eropah : a. Pidana mati. b. Pidana dalam rumah perbaikan paksa dari 5-20 tahun atau 5-15 tahun atau 5-10 tahun. c. Pidana penjara dari 6 hari-15 tahun. d. Pidana denda 2. Pidana yang berlaku bagi golongan Bumiputra atau orang Indonesia : a. Pidana mati. b. Pidana kerja paksa dengan dirantai paling lama 5 tahun, dipekerjakan pada pekerjaan umum dengan makan, tetapi tidak dengan upah paling lama 3 bulan. c. Pidana dimasukan ke daalam bangunan tertutup paling lama 8 hari. d. Pidana denda.