You are on page 1of 7

Effect Of Fermentation Feed with Bacteria Azotobacter to Carcass Weight and Carcass Percentage in Rabbits Delsi Dwi Nurlitasari1),

Nur Cholis2) dan Bambang Soejosopoetro 2)


1) 2)

Student of Animal Husbandry Faculty, University of Brawijaya. Lecturer of Animal Husbandry Faculty, University of Brawijaya.

ABSTRACT This study was aimed to examine effect of fermentation feed with bacteria azotobacter bacteria to body weight gain, feed conversion, feed intake, carcass weight and carcass percentage in rabbits. This research was carried out at Mr Slamet Sutarto in Jl . Panjaitan no 114 City Bondowoso regency. The experimental with 2 treatment as feeds without fermentation (P0) and feed by fermentation (P1). The data was analyzed by unpaired t test analysis. The research result show that different fermentation feed has highly significantly has significantly (P<0,05) against carcass weight carcass percentage in rabbits. The average carcass weight and carcass percentage in rabbit on feed fermentation respectively 533,0670,55 gram and 44,890,99%. Recommended research to determine the ideal composition azotobachter bacteria in fermented feed. Key words : rabbit, fermentation, carcass weight, and carcass percentage

Pengaruh Pemberian Pakan Yang Difermentasi Dengan Bakteri Azotobachter Terhadap Bobot Karkas, dan Persentase Karkas Pada Kelinci. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan dan menganalisa bobot karkas, dan presentase karkas kelinci yang diberi perlakuan pakan tanpa fermentasi dan pakan yang di fermentasi bakteri azotobachter. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 ekor kelinci yang berumur 2 bulan dan dipelihara selama 71 hari. Untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan fermentasi terhadap bobot karkas dan persentase karkas pada kelinci dengan menggunakan analisis uji t tidak berpasangan dengan 2 perlakuan yaitu pakan tanpa fermentasi (P0) dan pakan dengan fermentasi (P1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan fermentasi memberikan pengaruh yang berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap berat karkas, dan persentase karkas pada kelinci. Berat karkas dan presentase karkas kelinci yang diberi perlakuan pakan fermentasi bakteri azotobachter lebih tinggi dibandingkan dengan kelinci yang diberi perlakuan pakan tanpa fermentasi. Kata kunci : kelinci, pakan fermentasi, berat karkas, dan persentase karkas

PENDAHULUAN Kelinci merupakan hewan herbivora pseudoruminansia yang sebagian besar keperluan pakannya dipenuhi dari hijauan. Menurut Ensminger (1991), imbangan pakan berupa hijauan dan konsentrat pada peternakan kelinci intensif adalah 5060% hijauan, 5040% konsentrat. Hal ini menunjukkan kebutuhan ternak kelinci akan hijauan cukup besar. Kondisi ketersediaan hijauan di Indonesia saat ini berfluktuatif. Ketika musim hujan, hijauan melimpah, sedangkan pada musim kemarau ketersediaan hijauan berkurang. Sehubungan dengan kondisi tersebut, maka diperlukan teknologi yang dapat menyediakan pakan ternak secara berkelanjutan dan berkualitas. Beberapa cara pengawetan hijauan untuk menyediakan hijauan sepanjang tahun antara lain dengan cara fermentasi. Teknologi fermentasi anaerob lebih sesuai untuk diterapkan dalam penyediaan pakan. Kondisi ini dikarenakan, selain produk yang dihasilkan lebih tahan lama, teknologi fermentasi mensyaratkan kadar air tinggi yang secara alami dimiliki oleh bahan pakan setelah dipanen. Keadaan ini berdampak pada lebih ekonomisnya teknologi fermentasi karena biaya, waktu dan tenaga yang dialokasikan lebih sedikit. Fermentasi merupakan salah satu upaya dalam peningkatan kualitas bahan pakan ternak. Secara biokimia, fermentasi merupakan pembentukan energi melalui senyawa organik, sedangkan aplikasi ke dalam bidang industri diartikan sebagai proses mengubah bahan dasar menjadi produk oleh massa sel mikrobia. Dan proses fermentasi dapat terjadi jika ada kontak antara mikroorganisme penyebab fermentasi dengan subtrat organik yang sesuai. Upaya dalam meningkatkan kualitas nutrisi rumput lapang sebagai pakan ternak pseudoruminansia dengan menggunakan metode fermentasi yang diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi dari rumput lapang. Fermentasi merupakan proses perombakan dari struktur keras
2

secara fisik, kimia dan biologi sehingga dari struktur yang komplek menjadi sederhana, salah satu fermentasi yang digunakan yaitu fermentasi anaerob dengan menggunakan cairan super decomposer bakteri azotobachter untuk meningkatkan nilai gizi rumput lapang tersebut Teknologi fermentasi dengan menggunakan mikroba bakteri azotobachter diharapkan dapat digunakan dalam pengawetan hijaun pada kelinci. Oleh karena itu, penggunaan teknologi fermentasi pada hijauan sangat diperlukan. Produk yang dihasilkan dari penelitian ini di uji cobakan pada kelinci untuk dilihat pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan, konsumsi, konversi, bobot karkas, dan presentase karkas kelinci kelinci. Kajian ini diharapkan dapat menjadi solusi pemenuhan pakan kelinci secara berkesinambungan dan dapat meningkatkan produksi daging kelinci secara berkelanjutan. Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan penelitian untuk membandingkan dan menganalisa bobot karkas, dan persentase karkas kelinci yang diberi perlakuan pakan tanpa fermentasi dengan kelinci yang diberi pakan fermentasi bakteri azotobachter. MATERI DAN METODE Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 36 ekor kelinci keturunan New Zealand yang berumur 2 bulan dan dipelihara selama 71 hari. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang dengan ukuran panjang 75 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 50 cm. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. Peralatan lain yang digunakan adalah timbangan electronic kitchen scale dengan kapasitas 5 kg dan grade 1 gram, ember plastik, drum plastik, gelas ukur serta pisau. Metode yang digunakan adalah percobaan lapang atau eksperimental dengan 2 perlakuan dan 18 ulangan,

Perlakuan dalam penelitian ini adalah kelinci yang diberi pakan tanpa fermentasi (P0) dan kelinci diberi pakan fermentasi bakteri azotobachter (P1). Variabel penelitian yang diamati adalah berat karkas dan persentase karka. Data yang diperoleh dari penelitian ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrisi Pakan Berdasarkan hasil analisis laboratorium tanpa fermetasi dan terhadap pakan yang difermentasi dengan bakteri azotobachter diperoleh hasil analisis kandungan nutrisi yang disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan NutrisI Pakan yang digunakan dalam penelitian
Kandungan Tanpa Fermentasi Fermentasi Hijauan Konsentrat Hijauan Konsentrat BK (%) PK (%) SK (%) Abu (%) Lemak (%) BETN TDN Energi (Kkal/kg) 24,10 16,64 31,72 14,00 2,46 35,19 56,00 4122,64 93,01 19,10 4,98 8,96 5,41 61,55 87,54 4325,47 49,82 14,61 12,28 10,05 11,68 51,39 75,21 4604,30 77,88 20,32 4,73 9,06 4,52 61,36 65,42 4291,68

Sumber: Laboratorium Loka Penelitian Sapi Potong Grati-Pasuruan, Jawa Timur (2013) Tabel 1 memperlihatkan bahwa secara umum terjadi peningkatan terhadap bahan kering, Hal ini disebabkan karena pada proses fermentasi bakteri azotobachter yang digunakan mengalami pertumbuhan populasi yang pada gilirannya dengan meningkatnya populasi bakteri tersebut sehingga akan mengakibatkan kehilangan sejumlah air yang terikat dalam pakan sehingga akan berakibat terhadap peningkatan bahan kering substrat. Berkurangnya air yang terikat dalam pakan ini disebabkan air tersebut digunakan bakteri azotobachter
3

untuk kebutuhan hidupnya selama fase pertumbuhan dan perkembangan sehingga pada fase tersebut akan terjadi proses epavorasi yang menyebabkan air pada substrat hilang. Penguapan air pada waktu proses pengolahan dan pengeringan dapat juga dijadikan indikator terhadap peningkatan bahan kering. Selain itu peningkatan bahan kering juga dipengaruhi pada proses penggilingan produk menjadi tepung dimana pada saat proses tersebut berlaku, maka akan berakibat terhadap luas permuakan bahan atau produk akan meregang sehingga akan memungkinkan pengeluaran sejumlah air yang terikat dalam bahan pakan (Winarno, et al.,1980). Hasil analisis menunjukkan perlakuan fermentasi menyebabkan terjadinya penurunan serat kasar serta peningkatan berat kering dan protein kasar. Penurunan kadar serat kasar pada perlakuan ini disebabkan karena enzim yang dihasilkan oleh bakteri azotobachter mampu memecah selulosa selama proses fermentasi menjadi glukosa. Enzim selulosa merupakan enzim komplek yang bekerja secara bertahap atau bersamaan untuk memecah selulosa menjadi glukosa. Selanjutnya glukosa yang dihasilkan dari subtrat akan dipergunakan sebagai sumber karbon dan energi. Selain itu semakin lama waktu pemeraman meyebabkan terjadinya perombakan aktifitas bakteri yang dapat merenggangkan ikatan ligno-selulosa dan ikatan lignohemiselulosa semakin lama sehingga sebagian komponen serat dapat larut. Hal ini sesuai pernyataan Widayati dan Widalestari (1996) yang menyatakan bahwa dalam proses fermentasi, mikroba dapat memecah komponen yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh ternak, serta dapat memecah selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana dan turunannya yang mudah dicerna. Hendritomo (1995) mengatakan bahwa proses biodegradasi lignin meliputi reaksi pelepasan ikatan C C, -0-4 dimetilasi, ikatan -0-3,-0-5,yang diikuti dengan fragmen-fragmen lignin dengan

bobot molekul rendah. Pemecahan cincin aromatki secara oksidatif, reduksi serta hidroksilasi pemecahan senyawa kompleks pada bungkil inti sawit (lignin) yang dilakukan oleh bakteri tersebut yang tidak lain dikarenakan oleh aktivitas enzim lignoselulotik dimana enzim ini dapat memecah ikatan lignin dengan selulosa, ikatan lignin dengan hemiselulosa serta ikatan lignin dengan protein, Dengan pecahnya ikatan lignin tersebut maka secara langsung akan berakibat terhadap penurunan kadar serat kasar pada pakan fermentasi selain itu dengan pecahnya ikatan tersebut maka komponen zat makanan lainnya akan lebih mudah untuk dihidrolisis oleh pencernaan ternak. Kandungan protein kasar yang meningkat disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah biomasa mikroba. Hal ini sesuai dengan (Hau dkk., 2005) peningkatan nilai protein berdampak positif terhadap produksi protein mikroba, Mikroba proteolitik yang terdapat dalam alfaafa adalah bakteri azotobachter. Menurut Anggorodadi (1994) mikroba ini mampu menghasilkan enzim protease yang akan merombak protein. Perombakan protein diubah menjadi polipeptida, selanjutnya menjadi peptida sederhana, kemudian peptida ini akan dirombak menjadi asam-asam amino. Asam-asam amino ini yang akan dimanfaatkan oleh mikroba untuk memperbanyak diri. Jumlah koloni mikroba yang merupakan sumber protein tunggal menjadi meningkat selama proses fermentasi. Proses tersebut secara tidak langsung dapat meningkatkan kandungan protein kasar (Wuryantoro, 2000). Pada proses fermentasi peristiwa yang terjadi adalah suatu rangkaian kerja enzim yang dibantu oleh energi-energi metabolit yang khas berada dalam sistem biologis hidup. Perubahan kimia oleh aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme tersebut meliputi perubahan molekul-molekul kompleks atau senyawa-senyawa organik seperti protein, karbohidrat dan lemak menjadi
4

molekul sederhana dan mudah dicerna (Setiyatwan, 2001). Berat dan Persentase Karkas Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan berat karkas kelinci New Zealand dengan pemberian pakan tanpa fermetasi adalah 478,5971,35 gram sedang berat karkas dengan ,pakan fermentasi bakteri azotobachter sebesar 533,0670,55 gram (Tabel 2). Hasil analisis uji t menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) antara bobot karkas bobot kelinci yang diberi pakan tanpa fermentasi dengan diberi pakan fermentasi bakteri azotobachter. Bobot karkas menjadi salah satu hal yang menarik dalam karakteristik karkas. Hal ini karena terkait nilai ekonomis yaitu jumlah karkas yang dihasilkan menentukan harga dari karkas tersebut. Bobot karkas merupakan salah satu peubah yang penting dalam evaluasi karkas (Priyanto et al., 1993). Tabel 2. Rataan Berat dan Persentase Karkas Kelinci selama Penelitian
Parameter P0 Berat karkas (gram) Persentase karkas (%) 478,5971,35 44,190,93 Perlakuan P1 533,0670,55 44,890,99

Tingginya berat karkas pada kelinci yang diberi pakan fermentasi bakteri azotobachter karena pakanhasil fermentasi memeliki daya cerna yang tinggi sehingga meningkatkan bobot badan akhir sehingga mempengaruhi berat karkas. Peningkatan bobot badan ini disebabkan karena kandungan mikroba yang ditambahkan pada pakan dapat meningkatkan kandungan nutrisi pakan. Aktifitas mikroba dalam proses fermentasi mengarah pada karbohidrat kemudian protein dan lemak. Peningkatan kandungan protein pada perlakuan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan aktifitas

bakteri proteolitik dalam mengikat N. Matthewman (1994) menyatakan bahwa nitrogen adalah bahan dasar untuk sintesis protein bakteri. Bakteri yang tumbuh dapat digunakan untuk membantu mengoptimalkan pakan yang digunakan untuk ternak sehingga dapat meningkatkan berat badan pada ternak sehingga mempenagruhi berat karkas. Rata-rata berat karkas (tidak termasuk ginjal. lemak. dan jerohan) sangat tergantung dari jenis bangsa kelinci dan pemberian pakan. Rata-rata karkas depan pada umur muda lebih rendah daripada karkas umur dewasa. ini dikarenakan pada umur muda tidak banyak mengandung lemak. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh faktor pakan dimana pemberian pakan berkualitas dan berenergi tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan berat karkas lebih cepat dan berlemak dibanding ternak dengan kualitas rendah (Soeparno, 2005). Pada umur dewasa berat badan lebih besar daripada umur muda. Ternak dengan berat badan lebih tinggi. proposi lemak pada tubuh terjadi peningkatan. Peningkatan sedikit ukuran tubuh dapat menyebabkan peningkatan secara proposional dari bobot tubuh suatu ternak. Hasil penghitungan persentase karkas depan sejalan dengan hasil pengukuran terhadap pengukuran bobot potong (bobot hidup) dan bobot karkas karena persentase karkas merupakan perbandingan antara bobot karkas dengan bobot hidup saat dipotong (dikurangi isi saluran pencernaan dan urine) dikali dengan 100%. Rataan persentase karkas pada kelinci New Zealand yang disajikan pada Tabel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan meberiakn pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap persentase karkas. Hasil rataan persentase karkas kelinci New Zealand dengan yang diberi pakan tanpa fermentasi (P0) adalah 44,190,93%. sedangkan pada kelinci yang diberi pakan feremntasi Bakteri azotobachter (P1) sebesar 44,890,99%.

Perbedaan persentase karkas ini disebabkan karena perbedaan bobot badan kelinci yang dipotong. Pada kelinci yang diberi pakan fermentasi memiliki bobot badan lebih tinggi daripada kelinci yang diberi pakan tanpa fermentasi. Bobot badan mempengaruhi persentase karkas yang dihasilkan. Rataan persentase karkas menunjukkan bahwa semakin tinggi berat badan maka pesentase karkasnya semakin tinggi pula. Persentase karkas erat hubungannya dengan bobot potong kelinci. Semakin tinggi bobot potong. maka persentase karkas daging kelincinya juga semakin tinggi. Suroso (2003) menyatakan bahwa meningkatnya bobot potong diikuti dengan meningkatnya bobot karkas dengan tingkat keeratan 98.5%. Menurut Gillespie (2004) persentase karkas kelinci yang baik sebesar 50-59%. Hal ini menunjukkan persentase karkas yang dihasilkan pada penelitian ini menghasilkan persentase yang cukup baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase karkas kelinci yang dihasilkan dibawah rataan karena umur kelinci yang digunakan masih muda dan pakan yang digunakan. Hasil ini sesuai penelitian Hernandez et al. (2001) yang menggunakan 4 jenis bangsa kelinci (California, Chinchilla, New Zealand umur 80 hari dan Rex umur 90 hari) pada rataan bobot potong yang sama (1900-2000 gram) dan menghasilkan bobot karkas yang sama pula (1100-1180 gram) Herman (1989) meyatakan bahwa kelinci yang dipelihara di daerah tropis mampu menghasilkan karkas sebesar 47,96 % dari bobot hidup 1 2,1 kg. Bobot tulang karkas kelinci sekitar 15% dan 82 85 % dari karkasnya dapat dikonsumsi. Mutu produksi daging dipengaruhi oleh umur (Soeparno. 1992). Daging kelinci muda. berwarna putih. seratnya halus dan rasanya lebih enak dari daging kelinci. Kelinci dewasa. dagingnya padat. kasar. berwarna merah tua dan kurang empuk (Herman, 1989). Soeparno (1992) menyatakan kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum
5

dan sesudah pemotongan. Faktor yang menentukan adalah bobot karkas. jumlah daging yang dihasilkan dan kualitas daging dari karkas yang bersangkutan. Muryanto dan Prawirodigdo (1993) menambahkan bahwa semakin tinggi bobot potong. maka semakin tinggi persentase bobot karkasnya. Hal ini disebabkan proporsi bagian-bagian tubuh yang menghasilkan daging akan bertambah selaras dengan ukuran bobot tubuh. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa bert dan persentase karkas kelinci dengan perlakuan pakan fermentasi bakteri azotobachter lebih tinggi dibandingkan dengan kelinci yang diberi perlakuan pakan tanpa fermentasi. Hasil rataan berat karkas dan persentase karkas kelinci yang diberi pakan fermentasi masing-masing sebesar 533,0670.55 gr dan 44,890,99 %. Disarankan dilakukan dilakukan penelitian untuk mengetahui komposisi bakteri azotobachter yang ideal dalam pembuatan pakan fermentasi. DAFTAR PUSTAKA Anggorodi. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum.Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Ensminger, M.E. 1991. Animal Science. 9th Edition. The Interstate Printers. and Publisher. Inc. Denville, Illionis. Hau, D. K., M. Nenobais., J. Nulik., N. Athan dan G.F. Katipana. 2005. Pengaruh Probiotik Terhadap Kemampuan Cerna Mikroba Rumen Sapi Bali. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Nusa Tenggara Timur. Universitas Nusa Cendana. Kupang

Herman, R. 1989. Produksi kelinci (Tidak dipublikasikan). Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hernandez, J. A., M. S. Rubio Lozano R. D. and Carregai. 2001. Effect of Breed and Sex On Rabbit carcass Yield and Meat Quality. Meat Science Labolatory. Facultad de Medicina Veterinaria y ZootecniaUniversidad Nacional Autonoma de Mexico. Mexico Mathewman, R. 1994. A manual of Tropical Ruminant Nutrition And Feeding. CTUM. Scotland. UK. Muryanto dan S. Prawirodigdo. 1993. Pengaruh jenis kelamin dan bobot potong terhadap persentase karkas dan non-karkas kelinci Rex. J. Ilmiah Penelitian Ternak Klepu 1: 33-38. Priyanto, R., E. R. Johnson dan D. G. Taylor. 1993. Prediction of carcass composition in heavy-weight grassfed and grain-fed beef cattle. J. Anim. Prod. 56: 65-72 Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Edisi I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta. Suroso, A. 2003. Komposisi karkas dan kimia daging persilangan pada berbagai tingkat bobot hidup. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Widayati. E. Dan Y. Widalestari. 1996. Limbah untuk Pakan Ternak. Penerbit Trubus Agrisarana. Surabaya

Winarno, F.G., S. Fardiaz dan D. Fardiaz, 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Wuryantoro. S. 2000. Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Hay Padi Teramonisasi yang difermentasi dengan cairan Rumen. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.