You are on page 1of 226

ISSN 1693 - 3168

PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
X
REKAYASA DAN APLIKASI
TEKNIK MESIN DI INDUSTRI
Kampus ITENAS
Bandung, 17-18 Januari 2012
Penyelenggara :
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL (ITENAS) - BANDUNG
Seminar
Teknik
MESIN
Editor : Dr. Tarsisius Kristyadi, Ir., MT.
Dr.Ing. M. Alexin Putra
Yusril Irwan, ST., MT.
Marsono, ST., MT.
M. Ridwan, ST., MT.
Tito Shantika, ST., M.Eng.
Liman Hartawan, ST., MT.
ii

PENGANTAR


Assalamu’alaikum. warahmatullahi wabarrakatuh,

Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji Syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas
izin dan karunia-Nya kita dapat bertemu dan bersilaturahmi dalam seminar di kampus
Itenas-Bandung. Semoga seminar ini dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan
tujuannya.

Seminar ini merupakan agenda tahunan civitas akademika J urusan Teknik Mesin, FTI –
Itenas, yang sudah dimulai sejak tahun 2002. Seminar ini diharapkan menjadi forum
diskusi dan tukar informasi kegiatan studi dan penelitian yang telah dilakukan oleh para
peneliti dari perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), instansi penelitian maupun
praktisi industri, khususnya yang terkait dengan bidang teknik mesin, sehingga dapat
meningkatkan sinergi diantara keduanya.

Pada seminar kali ini, panitia telah berhasil menghimpun 31 makalah dan sejumlah 20
makalah akan dipresentasikan. Makalah dikelompokkan ke dalam tiga sub topik yaitu
Teknologi Konversi Energi, Teknologi Bahan dan Material Komposit, dan Teknologi
Perancangan dan Pengembangan Produk.

Dalam kesempatan ini, perkenankan kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada seluruh penyaji makalah, peserta, civitas akademika J urusan
Teknik Mesin, FTI – Itenas, dan semua pihak yang telah berpartisipasi aktif sehingga
seminar ini dapat terselenggara. Semoga kerjasama yang telah kita bangun selama ini
dapat terus ditingkatkan dimasa-masa mendatang. Mohon maaf atas segala kekurangan
dan kekhilafan.

Akhir kata kami mengucapkan selamat mengikuti seminar, semoga semua gagasan dan
pikiran yang berkembang selama seminar ini, dapat tercatat sebagai sumbangsih yang
bermanfaat untuk kejayaan bangsa dan Negara kita.

Wabillahi taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Bandung, 16 J anuari 2012
J urusan Teknik Mesin, FTI – Itenas



Encu Saefudin, Ir., MT
Ketua


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

iii 
 
Tek ni k
MESI N
DAFTAR ISI
Hal
SAMBUTAN ii
DAFTAR ISI iii
TOPIK TEKNOLOGI PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK TPPP
01 Analisa Kerusakan Timing Belt Pada Mesin Tenun (Heru Pahrudin , Sumadi) 1
02 Perancangan Mesin Bending Pipa Untuk Ukuran Diameter Pipa ¾ Inchi
Dengan Sistem Dongkrak Hidrolik (Encu Saefudin, Marsono dan Cecep Kiki
Handrian)
6
03 Pengujian Prestasi Kompor Induksi (Syahbardia) 14
04 Pembuatan dan Pengujian Mesin Tekuk Pipa untuk Diameter ¾ Inchi
(Marsono, Encu Saefudin, dan Farid Firmansyah)
21
05 Perancangan Dan Pembuatan Oven Pengering Eceng Gondok Untuk Skala
Industri Kecil (Noviyanti Nugraha, M. Alexin P, Danang Pinandhitio)
29
06 Perancangan mesin briket batu bara dengan tipe screw press (Ali) 35

TOPIK TEKNOLOGI BAHAN DAN MATERIAL KOMPOSIT TBMK

01 Karakteristik Fisik Dan Mekanik Produk Indirect Pressureless Sintering
Serbuk Cu Dan Ni Dengan Penyangga Serbuk Besi Cor (Eko Sutarto, D
Kristianto Hermawan, D.Subekti & Susilo Adi Widyanto)
1
02 Analisis Kerusakan Internal Rocker-Arm Mesin Diesel Kapal Motor Surya
Sentosa (Halim Rusjdi, Rusjdi Hadjerat, Sahlan)
10
03 Pengaruh Temperatur Pemanasan Terhadap Koefisien Perpindahan Massa
Difusi (Diffusivity) Karbon Pada Proses Pack Carburizing Baja AISI 3115
(Putu Hadi Setyarini, Ika Istiana, Slamet Wahyudi)
17
04 Remelting Dan Beda Temperatur Terhadap Sifat Mekanis Pada Limbah
Piston Bekas Dengan Metode High Presure Die Casting (Purnomo dan
Suparjo)
24
05 Pengujian Akustik Papan Serat Sabut Kelapa Dengan Matriks Gypsum
(Yusril Irwan)
30
06 Analisis Visual untuk Perhitungan Initial Damage pada Sambungan Adhesive
(Irfan Hilmy, Yusril Irwan)
38
07 Kaji Eksperimental Kekakuan Lentur Poros Retak Melintang Buatan Dua Sisi
(Encu Saefudin)
42




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

iv 
 
Tek ni k
MESI N
TOPIK TEKNOLOGI KONVERSI ENERGI TKE
01 Analisis Penurunan Temperatur Berdasarkan Variasi Sprayer Pada Fasilitas
Eksperimen Kontemen (Ade Satria
1
, Wahyu
1
, Luqmanul Hakim
1
, Edi
Marzuki
1,
Mulya J uarsa
1,2
, Hendro Tjahjono
2
, Ismu Handoyo
2
, Kiswanta
2
,
Ainur Rosidi
2
)
1
02 Analisis Rugi Kalor Berdasarkan Variasi Sudut Kemiringan Untai Simulasi
Sirkulasi Alamiah (Ussa-Ft02) (Budi Gusnawan J uarsa
1,2
, Rizqi Faizal
Muttaqin
1,2
, Mochammad Farid
1,2
, Sigit Herlambang
1,2
, J anuar Akbar
1,2
, Yogi
Sirodz Gaos
2
, Edi Marzuki
2
, Mulya J uarsa
2
)
6
03 Analisi Perpindahan Kalor Konveksi Berdasarkan Variasi Daya Heater Pada
Bundel Uji Simulasi Eksperimen Temperatur Tinggi (Busetti) (Budi Utomo
1
,
Oskar Riko
1
, Kiswanta
2
, Ainur Rosidi
2
, Ismu Handoyo
2
, Edi Marzuki
1
,Mulya
J uarsa
2
)
14
04 Pengaruh Parameter Stack Serta Variasi Frekuensi Terhadap Performa
Termal Pendingin Termoakustik Nandy Putra, Dinni Agustina, Gilang AIV,
Sabdo W)
24
05 Perpindahan Kalor Dibagian Dingin Berdasarkan Variasi Warna Lapisan Film
Pada Panel Sistem Solar Thermal (Indra Resmana
1,2
, Akhrom Aryadi
1,2
,
Hasanudin Wijaya
1,2
, J anuar Akbar
1,2
,Yogi Sirodz Gaos
2
, Edi Marzuki
2
,
Mulya J uarsa
2
)
31
06 Analisis Distribusi Temperatur 2-D Dan Fluks Kalor Berdasarkan Variasi
Temperatur Selama Proses Pemanasan Pada Pelat SUS316 Di Bagian Uji
Heating-02 (Iwan Kurniawan
1
, Mulya J uarsa
1,2
, Edi Marzuki
1
Susyadi
2
, Ainur
Rosidi
2
, Ismu Handoyo
2
)

38
07 Analisis Perubahan Tekanan Uap Selama Proses Pendinginan Pada Simulator
Sungkup Reaktor (FESPECo) (Luqmanul Hakim
1
, Ade Satria
1
, Wahyu
1
, Yogi
Sirodz Gaos
1
, Edi Marzuki
1
, Mulya J uarsa
1,2
, Hendro Tjahjono
2
, Ismu
Handoyo
2
, Kiswanta
2
, Ainur Rosidi
2
)
45
08 Analisi Perpindahan Kalor Konduksi Berdasarkan Variasi Daya Heater Pada
Bundel Uji Simulasi Eksperimen Temperatur Tinggi (BUSETTI) (Oskar
Riko
1
, Budi Utomo
1
, Kiswanta
2
, Ainur Rosidi
2
, Ismu Handoyo
2
, Edi
Marzuki
1
,Mulya J uarsa
2
)
52
09 Fenomena Pendidihan pada Heat Pipe dengan Variasi Wick Screen Mesh dan
Posisi Peletakan (Ratna Sary, Wayan Nata, Nandy Putra)
59
10 Pengaruh Viskositas Oli Terhadap Karakteristik Perpindahan Kalor Di
Permukaan Aluminium Pada Dinamika Tumbukan Droplet (Slamet Wahyudi,
Putu Hadi Setyarini dan Shancha Ricardo Agusta)
66
11 Analisis Rugi Kalor Selama Proses Pemanasan Dan Pendinginan Pada
Simulator Sungkup Reaktor (Wahyudin
1
, Mulya J uarsa
1
, Surip Widodo
1
,
Ismu Handoyo
2
, Edi Marzuki
2
, J oko Susilo
2
)
74
12 Analisis Perhitungan Koefisien Gesek Dengan Reynoldnumber Pada Material
Plastik PP(Polypropylene), POM (Polyoxymethylene), PE (Polyethylene)
Terhadap Temperatur Dan Waktu Pada Alat Uji Melt Flow Index (Vikram
Pasha
1
, Mulya J uarsa
1
, Edi Marzuki
1
, Dedek Kurniawan
1
, Yuda Nurul
Alfian
1
, Afrinaldi
1
, R. Burhan N
1
, Deni Kusmansyah
1
)
81
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012


 
Tek ni k
MESI N
13 Pengaruh Putaran Silinder Bagian Dalam Terhadap Pola Aliran Taylor-
Couette (Sarip
1,2
, Indarto
1
, Prajitno
1
)
87
14 Variasi Ukuran Dan J arak Nozel Terhadap Perubahan Putaran Turbin Pelton
(Rr. Sri Poernomo Sari dan Rizki Hario Wicaksono)
95
15 Uji Experimental Rotor Savonius Helix Dua Sudu dan Empat Sudu
(Mohammad Alexin Putra, Roni Ramadani, Ganda Roni Simanullang, Asdar
Askar)
106
16 Perancangan dan Realisasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas Skala Rumah
Tangga (Kristyadi T.,Wedha A, Andi T.)
112
17 EXERGETIC based of photovoltaic modules CHARACTERISTICS (Dani
Rusirawan
1
and István Farkas
2
)
119
 






TOPIK MAKALAH:
TEKNOLOGI PERANCANGAN DAN
PENGEMBANGAN PRODUK
(TPPP)




















Tek ni k
MESI N
SEMINAR NASIONAL X
REKAYASA DAN APLIKASI TEKNIK MESIN
DI INDUSTRI
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐1 
     
Tek ni k
MESI N
  
Analisa Kerusakan Timing Belt
Pada Mesin Tenun


Heru Pahrudin , Sumadi

Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor
heruvrd@gmail.com, sumadi1263@gmail.com


Abstrak

Timing belt yang digunakan pada mesin tenun mengalami kerusakan / putus setelah beroperasi
selama 1440 jam kerusakan tersebut dapat diketahui dengan melakukan analisis kerusakan pada
bagian bagian yang mengalami putus.untuk itu diperlukan data-data hasil pengujian, dalam hal
analisa kerusakan ini dilakukan dengan melakukan inspeksi visual, penentuan lokasi putus,
pemotongan bahan,Pengujian sifat kekerasan bahan, Analisa komposisi kimia. Dari hasil analisis
menunjukan adanya kesalahan dalam pemberian tension pada saat pemasnagan timing belt yang
tidak sesuai standard, posisi sprocket yang tidak center antara sprocket driver dengan sprocket
driven sehingga timing belt bergeser kesisi stopper hal menyebabkan terjadinya gesekan antara
timing belt dengan stopper.

Kata kunci: Timing Belt, Sproket, tension
 

1. Pendahuluan
Penelitian ini mempresentasikan analisa timing belt pada mesin tenun yang mengalami kerusakan
berupa putus pada timing belt setelah beroperasi selama 1440 jam dari pemasangan.
Timing belt pada mesin tenun menghubungkan atau memindahkan daya dari motor ke crankshaft
dari crank shaft daya putar motor diubah menjadi gerakan maju mundur melalui crank arm
Pengerak utama mesin tenun adalah motor listrik 3 phase 380V dengan RPM 485 , yang kemudian
lewat pulley dan belt menggerakkan Poros Utama (PU). Dalam gerakan 1 kali putar poros utama = 1 kali
gerakan pokok mesin tenun. 1 kali gerakan pokok adalah gerakan dari pembukaan mulut lusi,
penyisipanpakan sampai dengan pengetekan akhir (360º). Dari 1 kali gerakan poros utama akan
menggerakkan poros lain, seperti poros tambahan untuk penggerak cam atau dobby.
Selain menggerakkan engkol untuk gerakan pengetekan, poros cam untuk pembuat mulut lusi, juga
menggerakkan bagian lain seperti take-up, cutter penggunting pakan, leno, easing, menggerakkan dan
lain-lain[1].
Jenis Mesin tenun yang digunakan air jet loom, Sistem peluncuran benang pakan di mesin ini
menggunakan angin bertekanan (air jet) sebagai media pembawanya. Angin dari kompresor di saring
kebersihannya, kemudian masuk pengatur tekanan angin (regulator), terus disalurkan melalui main
nozzle bersama benang pakan, sehingga benang pakan dapat menyisip kemulut lusi dari ujung kiri ke
ujung kanan kain. Angin yang ada tidak ditembakkan secara terus-menerus, tetapi diatur secara
elektronik valve saat terjadi penyisipan benang pakannya.
Sudut putaran crankshaft harus singkron dengan sudut elektronik valve supaya angin yang
membawa benang pakan dapat sampai keujung.
Timing belt sebagai media utama pemindah daya dari motor ke crankshaft dan menggerakan bagian
mesin yang lainya serta penyingkron antara crankshaft dan elektronik valve
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐2 
     
Tek ni k
MESI N
Timing belt rentan mengalami kerusakan karena timing belt mengalami gesekan dengan pully,
tegangan dan tempratur dari motor yang terus berputarPutus yang timbul pada timing belt dapat
ditimbulkan oleh berbagai faktor seperti: tekanan kerja melebihi dari tekanan kerja timing belt yang
diijinkan, apakah beban itu berbentuk statis ataupun berbentuk dinamis, gesekan yang timbul dari pully,
tempratur dari motor, putaran motor atau crankshaft yang macet attack, hal ini akan menyebabkan
kondisi peralatan kurang baik dan cendrung akan mempersingkat umur timing belt.
Faktor penyebab rendahnya kualitas produk dapat disebabkan oleh terjadinya kesalahan dalam
perencanaan, pemilihan material, fabrikasi, assembling atau pemasangan. Faktor lain yang takkala
pentingnya adalah kesalahan dalam memlih metode pemeliharaan, inspeksi sperti[2] : adanya baut – baut
pengencang yang longgar tanpa diketahui sejak awal, longgarnya baut-baut ini akan menyebabkan
tingginya vibrasi, tegangan dari timing belt pada saat pemasangan.
Analisis kerusakan / kegagalan adalah hal yang sangat diperlukan dalam dunia industri terutama
peralatan – peralatan yang mempunyai resiko tinggi karena kerusakan yang terjadi akan berdampak pada
kerugian ekonomi dan keselamatan manusia.
Disamping itu kerusakan – kerusakan peralatan dimasa lalu dapat menjadi suatu pelajaran yang sangat
berharga bagi kita, sehingga tidak terulang kembali.

2. Metode Penelitian
a. Data teknis material
• Choroprene rubber : 53,97%
• Magnesium okside : 2,16%
• Stearic acid : 1,08%
• Santoflek 13 : 1,35%
• TMQ : 0,81%
• Carbon black N330 : 35,07%
• Minarek B : 2,70%
• ETU : 0,16%
• Zink okside : 2,70%

b. Peralatan
• Tensometer
• Alat pirolisis
• Perahu perselin
• Spektrofotometer
• Plat kbr
• Tabung pirolisis
• Gas nitrogen

c. Lokasi pemeriksaan
Pengambilan lokasi pemeriksaan sample uji propertise dilakukan pada timing belt yang mengalami putus
dan pada bagian-bagian timing belt yang mengalami retak
\
d. Spesifikasi teknis :
• Name : timing belt mitsuboshi 1400
• Size : 1400H14M
• Merk : MITSUBOSHI
• Manufacturer : JAPAN
• Tension : 1,21 lbs
• sprocket : d = 151,52 mm
D = 320,86 mm
• RPM = 485
• Motor 3 phase 380v 5kw
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐3 
     
Tek ni k
MESI N


3. Hasil dan Pembahasan

a. Hasil pengamatan visual


Gambar 1. Timing belt putus dengan kondisi Tensile member yang tidak merata



Gambar 2. Timing belt pustus dengan sudut 5º antara putusan satu dengan lainnya .

b. Hasil uji properties
• Hardness : 77 Shore A
• Tensile strength : 16,9 N/mm
2

• Modulus100 % : 3,6 N/mm
2

• Elongation at break: 340%

Dari hasil pemeriksaan dan pengamatan secara visual terlihat dari putusnya timing belt mengalami
tekanan yang berlebih hal ini bisa disebabkan oleh penyetelan tension timing belt yang tidak sesuai
dengan standar, posisi sproket yang tidak center dengan timing belt sehingga menyebabkan timing belt
slip kearah sisi sprocket. Sprocket yang ada dimotor berputar terus menerus dan timing belt sebagai
penghantar daya ke sprocket yang ada pada crankshaft
Dari hasil uji kekerasan terlihat penurunan kekerasan hal ini bisa disebabkan oleh gesekan antara
timing belt dan sproket yang menyebabkan tempratur pada timing belt menjadi tinggi
Dari pengujian tarik terlihat sesuai dengan standard[5] , namun kenaikan tegangan tarik bisa
disebabkan oleh tension yang diberikan pada saat pemasangan tidak sesuai dengan standar timing belt
yang digunakan hal ini sangat mempengaruhi dari kekuatan rubber timing belt.

C. Faktor-Faktor Penyebab Rusaknya Timming Belt

Faktor –faktor lain yang menyebabkan terlalu tegangnya timing belt yaitu :

• Kesalahan possi timing belt tehadap sproket yang tidak senter
• Posisi sproket driver dan sproket driven tidak senter yang menyebabkan timing belt slip
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐4 
     
Tek ni k
MESI N
• Tegangan / tension yang diberikan pada timing belt tidak sesuai dengan standart timing belt yang
digunakan
• Vibrasi pada sproket motor yang terus berputar

Selain itu ada beberapa faktor juga yang mempengaruhi putusnya timing belt
• Kesalahan pengoprasian mesin oleh operator mesin
• Cara pemasangan yang tidak memperhatikan posisi sproket yang tidak senter
• Pemilihan matrial timing belt
Selain itu ada beberapa faktor juga yang mempengaruhi putusnya timing belt
• Kesalahan pengoprasian mesin oleh operator mesin
• Cara pemasangan yang tidak memperhatikan posisi sproket yang tidak senter
• Pemilihan matrial timing belt
• Kesalahan perawatan

Dari hasil uji propertise terlihat penurunan kinerja timing belt yang angat signifikan yang
disebabkan oleh faktor- faktor terlalu tegangnya timing belt yang menyebabkan timing belt gampang
putus.

D. Prosedur yang perlu diperhatikan dalam dalam pemilihan Timing belt

Hal –hal yang perlu diperhatikan dalam memilih timing belt al:
1. Mencari daya rencana
Dalam pemilihan daya rencana perlu memperhatikan, service faktor dari mesin yang digerakan dan
rata –rata jam opersasi setiap hari yang terus menerus juga harus ditentukan, dengan atau beban yang
bervariasi. [4]
2. Memilih pitch belt
Dengan menggunakan perhitungan daya rencana point 1 dan Rpm dari sproket kecil maka akan
didapat daya rencana, pitch belt
3. Memilih sprocket dan panjang belt
Dalam memilih sproket dan panjang belt pertama-tama harus menentukan Rasio speed dengan jalan
a. Rpm poros yang paling cepat dibagi dengan Rpm poros yang lambat
b. Membagi Pitch diameter sprocket yang besar dengan Pitch diameter sprocket yang kecil
c. Membagi jumlah gigi sproket besar dengan gigi sproket kecil
Kedua memilih kombinasi sproket antara sprocket penggerak dengan sprocket yang digerakan maka
akan didapat jarak nominal center [4]
4. Memilih lebar Belt
Dalam memilih lebar belt setelah didapat putaran tercepat dan jumlah jumlah groove sprocket kecil
maka akan didapat faktor koreksi daya, dimana faktor koreksi daya tidak boleh melebihi dara
rencana[4]
5. Melakukan pengecekan terhadap spesifikasi dan stock komponen penggerak
a. Memeriksa pemilihan sprocket
b. Mencari tipe bushing dan ukuran lubang
c. Mengecek ketersediaan komponen penggerak ( sprocket)[4]

E. Memilih metode pemeliharaan
Untuk menjaga agar umur dan performance Timing belt sesuai dengan yang diinginkan maka perlu
dilakukan pemeliharaan yang sesuai dengan kondisi operasional yang ada.


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐5 
     
Tek ni k
MESI N

4. Kesimpulan
Dari hasil pemeriksaan secara visual dan uji properties dapat diambil kesimpulan bahwa timing
belt mengalami putus disebabkan timing belt mengalami tekanan yang berlebih hal ini bisa disebabkan
oleh penyetelan tension timing belt yang tidak sesuai dengan standar, posisi sproket yang tidak center
antara sprocket driver dengan dengan sprocket driven sehingga timing belt selalu bergeser hal ini
menyebabkan timing belt bergesekan dengan stopper hal ini yang menyebabkan timing belt bergesekan
dengan stopper.

Ucapan Terimakasih
Dengan kerendahan hati Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada Bapak
Jaenal, sebagai staf PUSAT PENELITIAN KARET (INDONESIA RUBBER RESEARCH INSTITUTE)
yang telah membantu dalam melaksanakan pengujian dan Penelitian dan Bapak Sumadi.ST,.MT selaku
dosen teknik mesin Universitas Ibnu khaldun Bogor yang telah memberikan banyak arahan dalam
penulisan makalah ini.


Daftar Fustaka

[1].Manual book Draper Air Jet Machine 1986

[2] John Moubray, RCM II Reliability Center Maintenance,Second Edition

[3] ASTM Handbook, “ Failure Analysis and Prevention”

[4] PowerGrip HTD Systems,Catalog 190 / 1982 UNIROYAL

[5] PT.Standard Inti Polymer 1987,Brosure












ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐6 
     
Tek ni k
MESI N
Perancangan Mesin Bending Pipa
Untuk Ukuran Diameter Pipa ¾ Inchi
Dengan Sistem Dongkrak Hidrolik

Encu Saefudin , Marsono dan Cecep Kiki Handrian
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Nasional
Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124
encu@itenas.ac.id, marsono@itenas.ac.id

Abstrak

Kebutuhan masyarakat akan produk dengan bahan dasar pipa semakin tinggi, hal ini menjadi
peluang bisnis yang cukup menjanjikan bagi industri sebagai pihak produsen. Banyak industri kecil
maupun menegah yang turut bersaing untuk menghasilkan kualitas produk yang tinggi yang dapat
menyaingi industri besar. Industri kecil dan menengah bersaing untuk mengembangkan mesin penekuk
pipa sehingga mampu menghasilkan produk yang sama dengan yang dihasilkan industri besar. Dalam
pengembangan tersebut dibutuhkan peran serta dunia pendidikan sehingga dapat dilakukan penelitian
yang dapat membantu pihak-pihak industri dalam menghasilkan suatu produk yang berkualitas.
Perancangan mesin bending pipa ini memanfaatkan sistem dari dongkrak hidrolik dimana
metode yang digunakan adalah rotary draw bending. Kemudian melalui pengetahuan ilmu mekanika
dasar coba dianalisis kekuatannya serta ditentukan dimensi dari tiap-tiap komponen mesin sehingga
pada akhirnya akan menghasilkan rancangan optimal yang dapat direalisasikan.

Key words : mesin bending, perancangan, dongkrak hidrolik, rotary draw bending, pipa



1. PENDAHULUAN
Proses penekukan pipa (bending), biasanya banyak sekali dilakukan untuk membuat komponen-
komponen industri maupun rumah tangga serta perlengkapan lainnya yang memanfaatkan pipa sebagai
bahan dasarnya.
Mengingat besarnya kebutuhan produk-produk tersebut dipasaran, banyak industri kecil (rumah
tangga) maupun menengah yang mulai berkembang serta bersaing untuk mendapatkan peluang bisnis.
Seiring dengan berkembangnya industri-industri tersebut, maka diperlukan peralatan yang handal dan
mampu menghasilkan produk yang berkualitas baik.
Untuk itu peran serta dunia pendidikan didalam perkembangannya sangatlah dibutuhkan,
sehingga dapat dilakukan penelitian yang dapat membantu pihak-pihak industri dalam menghasilkan
suatu produk yang berkualitas. Untuk itu dilakukan penelitian menyangkut peralatan bending pipa,
sehingga diharapkan suatu saat penelitian ini akan bermanfaat dan membantu pihak-pihak industri dalam
menghasilkan produk yang berkualitas.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
• Menghasilkan rancangan mesin tekuk pipa sederhana dengan memanfaatkan sistem dari
dongkrak hidrolik.
• Optimalisasi rancangan berdasarkan analisis ilmu mekanika dasar.
• Menentukan spesifikasi teknis dari hasil rancangan.
Berdasarkan rumusan masalah yang timbul, penulis membatasi masalah yaitu :
• Radius tekuk hanya 90
0
.
• Mesin hanya untuk pipa dengan diameter pipa ¾ inchi.
• Menentukan Gaya-gaya yang terjadi pada mesin bending.

2. TINJAUAN PUSTAKA
1. Metode Penekukan Pipa
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐7 
     
Tek ni k
MESI N
Ada beberapa metode yang biasanya digunakan dalam melakukan penekukan pipa yang akan
menghasilkan bentuk dan hasil akhir yang berbeda. Metode – metode yang digunakan antara lain :
a) Metode Ram (Ram Style Bending)
b) Metode Rotary (rotary draw bending)
c) Metode rol (roll bending )
d) Metode Compression Bending


 














Gambar 2.1 Metode Bending Pipa
[12]

2. Tegangan Geser
Tegangan geser yang diizinkan τ
a
(kg.mm) untuk pemakaian umum pada poros dapat dihitung
dengan persamaan :
(2.1)
Dimana Sf
1
adalah faktor keamanan atas dasar kelelahan sebesar 6 untuk bahan S-C dan Sf
2
adalah
faktor keamanan pengaruh konsentrasi tegangan sebesar 1,3 sampai dengan 3,0.
3. Poros Dengan Beban Lentur Murni
Kekuatan bahan yang dipilih pada poros yang menerima beban lentur murni dapat menentukan
tegangan lentur yang dizinkan (kg/mm
2
). Momen tahanan lentur dari poros dengan diameter d
s
(mm)
adalah Z = (π /32)d
s
3
(mm
3
), sehingga diameter d
s
yang diperlukan dapat diperoleh dari
 
    (2.2) 
      
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐8 
     
Tek ni k
MESI N
          (2.3) 
4. Poros Dengan Beban Puntir Dan Lentur
Poros pada umumnya meneruskan daya melalui sabuk, roda gigi dan rantai. Dengan demikian
poros tersebut mendapat beban puntir dan lentur sehingga permukaan poros akan terjadi tegangan geser
karena momen puntir T dan tegangan lentur

karena momen lentur
M.
Untuk bahan yang liat seperti pada poros, dapat dipakai teori tegangan geser maksimum :
(2.4)
Sehingga diameter poros (minimum) dapat ditentukan dengan persamaan ASME, yaitu :
(2.5)
Dimana K
m
adalah faktor koreksi keadaan momen lentur dan K
t
adalah faktor koreksi keadaan momen
puntir.


3. PRINSIP KERJA DAN PERHITUNGAN
1. Prinsip Kerja
Penggerak utama pada mesin ini adalah dongkrak hidrolik. Dongkrak akan menekan rollerblock
berikut rollernya akan bergerak ke atas ( arah y) .

 
 
 
 
 
 
 
 

Roller menggelinding dan menekan follow bar sehingga follow bar akan bergerak ke atas (arah y) dan ke
arah kanan/kiri ( arah z) yang dipengaruhi oleh putaran dari dies karena dies tidak segaris dengan
rollernya. Dies yang bergerak secara rotasi tetapi bukan pada titik pusatnya, melainkan pada salah satu
sisi dari dies tersebut sehingga dies tersebut akan bergerak membentuk lintasan-lintasan tertentu. Follow
bar tersebut bersamaan dengan dies akan menekan dan menekuk pipa tersebut .

Z
 
X
Y
Roller 
Roller block 
Dongkrak 
Gambar 3.1 Komponen Mesin 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐9 
     
Tek ni k
MESI N
q
4
  Q
4
q
4
 
 
 
 
 
 
 
 
 

2. Menghitung Gaya pada Tiap Komponen

Perhitungan dilakukan dengan menentukan dimensi pada beberapa komponen utama.
a. DBB gabungan beberapa komponen:
 
 
 
 
 
Dari
A
ΣM
=0, diperoleh Q
2
=89,63N, dan
y
ΣF =0 diperoleh Q
3
=0,002N.
b. Gaya pada Roller
DBB roller :






Dari
y
ΣF =0 diperoleh N Q Q 63 , 989
2 4
= =


Gambar 3.2  Posisi 
Lintasan‐lintasan yang 
Tidak pada pusat 
173
Q
2
 
F
p
F
d
 
F
p
 
F
p
Q
3
 
F
d
 
Q
2
  Q
3
A
q
2
 
Q
2
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐10 
     
Tek ni k
MESI N
Q
4
c. Gaya pada Roller Pin

DBB roller pin :
 
 
 
 
Dari
A
ΣM
=0 diperoleh R
D
=499,99N, dan
y
ΣF =0 diperoleh R
B
=499,99N.
Dimana Poros mengalami beban lentur murni. Dengan melakukan 4 kali pemotongan, diperoleh
diagram momen lentur sebagai berikut :


Dipilih bahan poros (roller pin) S30C, maka σ=48 kg/mm
2
=480 N/mm
2
, Sf
1
= 6 dan Sf
2
=1,5,
maka diameter poros minimum d (mm):





d. Gaya pada Follow Bar
DBB pada follow bar :
R
B R
D
F
p
 
F
p
 
73 
73
44,5
44,5
B D
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐11 
     
Tek ni k
MESI N





Dari
y
ΣF =0 diperoleh Q
5
=984,63N.
e. Gaya pada Pipa
DBB pipa :




Dari
B
ΣM
=0 diperoleh F
D1
=6713,3N dan
y
ΣF =0 diperoleh F
pe
=5728,75N.

f. Gaya pada Dies
DBB dies





Dari
B
ΣM
=0 diperoleh M
z
=93006,7N.mm dan dari
y
ΣF =0 diperoleh F
po
=984,63N.



q
5
 
q
3
 

Q
2
Q
5
 
Q3 
Q2 
w
w
F
DI
Q
5
F
pe
 
16
27,
B
F
po
 
M
z
F
DI
Fpe 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐12 
     
Tek ni k
MESI N
g. Gaya pada Die Wrist Pin Sleeve
DBB die wrist pin sleeve




Dari
y
ΣF =0 diperoleh Q
6
=F
po
=984,63N.


h. Gaya pada Pin Sleeve












Dari
B
ΣM
=0 diperoleh F
Sb2
=492,3N, dan dari
y
ΣF =0 diperoleh F
Sb1
=492,3N.

Dimana pin mengalami beban lentur murni. Dengan melakukan 2 kali pemotongan, diperoleh
M
max
=-47264,6N.mm. Dipilih bahan pin S30C, maka σ=48 kg/mm
2
=480 N/mm
2
dan Sf
1
=6, Sf
2
=1,5 maka
diameter minimum pin d (mm) :









4. Analisis
1. Pada perancangan ditentukan bahwa mekanisme yang digunakan adalah metode rotary draw
bending, karena gaya yang bekerja pada pipa adalah gaya radial dari dongkrak. Metode ini
mempunyai keunggulan di banding dengan metode lain untuk memperoleh hasil yang cukup
baik dimana dies dan klemnya bergerak sehingga memungkinkan diameter pipa akan seragam.
2. Penggerak pada mesin ini menggunakan dongkrak hidrolik, diharapkan mendapatkan gaya yang
besar dengan input gaya tangan yang kecil, selain itu agar mesin lebih portable.
3. Perancangan dimulai dengan asumsi dari gaya maksimum dongkrak, karena pada saat awal
merencanakan kesulitan mendapatkan harga-harga atau data yang diperlukan seperti σ bahan,
gaya yang dibutuhkan untuk menekuk dll.
4. Dimensi dan bentuk dies dan follow bar harus disesuaikan untuk ukuran pipa ¾ inchi, agar pipa
mampu menahan gaya reaksi pipa akibat gaya radial dari dongkrak sehingga diharapkan
diameter pipa seragam.

F
po
Q
6
F
Sb1
F
Sb2
 
Q
6
192
B A
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐13 
     
Tek ni k
MESI N












5. Proses penekukan diasumsikan sebagai sebuah simple beam dengan tiga gaya karena untuk
menekuk pipa itu dibutuhkan minimal tiga gaya kemudian akan mempermudah perhitungan
dengan menggunakan ilmu mekanika dasar.
6. Dimensi pin dapat dipengaruhi dari penentuan safety factor, oleh karena itu diharapkan
penentuan safety factor harus benar. Safety factor yang terlalu besar akan mengakibatkan
dimensinya semakin besar. Dalam perhitungan ini pemilihan safety factor berdasakan buku
“dasar perencanaan dan pemilihan elemen mesin”.
7. Pada komponen die wrist pin sleeve, digunakan bantalan luncur yang diberi pelumas karena
selain pembuatan dan pemasangannya praktis, bantalan luncurpun mampu menahan gaya radial
yang lebih besar dibanding dengan bantalan peluru (gaya per satuan luas penampang lebih kecil),
selain itu harganya lebih murah dibanding dengan bantalan peluru.
8. Bentuk, ukuran serta kehalusan dies dan follow bar harus baik, perlu dibuat dengan proses
pemesinan karena mampu menghasilkan kualitas mencapai angka kekasaran maksimum sekitar
1,6 µm sehingga akan menghasilkan produk yang baik.
9. Sebaiknya pada saat pembuatan dies dan follow bar menggunakan mesin CNC sehingga
mendapatkan kehalusan dan kebulatan yang baik.


5. Kesimpulan
Dari hasil perhitungan dan analisis, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil perancangan maka diperoleh spesifikasi mesin :
Tipe mesin rotary draw bending, dongkrak min 1 ton, radius dies120
o
, radius tekuk max
90
o
, panjang follow bar min 25 cm, diameter poros roller pin 16 mm, diameter poros pin
sleeve 20 mm, bahan poros ST 42, diameter pipa ¾ inchi, bahan pipa ST 37.
2. Untuk penggerak dipilih dongkrak hirdolik tipe bottle.
3. Pada perancangan die wrist pin sleve menggunakan bantalan luncur.


6. Daftar Psutaka
[1] Sularso, Ir, MSME Kiyokatsu Suga., 1991. Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen
Mesin., PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
[2] G. Takeshi Sato dan N. Sugiarto, “Menggambar Mesin sesuai standar ISO”, PT. Pradnya
Paramita, Jakarta.
[3] Groover, Michael P., 1996. Fundamental of modern manufacturing., Prentice hall, Upper
Saddle River, New Jersey. [5]
[4] J. E. Shigley and C. R. Mischke, 1983. Mechanical Engineering Design, McGraw Hill
Book Company, New York.
[5] Popov, E.P. 1996. Mekanika Teknik, Erlangga. Jakarta.
[6] Hadisaputro, Vincent S.T. 2006. Perancangan Mesin Roll Bending Pipa Dengan Kapasitas
Ukuran Diameter Pipa Maksimum 2 Inchi. ITENAS ,Bandung.
[7] Rahadian, Dicky S.T. 2002. Perancangan Mesin Roll Bending Pipa . ITENAS. Bandung.
[8] Cecep Kiki Handrian. 2010. Perancangan Mesin Bending Pipa untuk Diameter Pipa ¾
Inchi dengan Memanfaatkan Sistem Dongkrak Hidrolik. ITENAS. Bandung.
Gambar 4.1 Diameter pipa tidak 
Gambar 4.2 Diameter pipa 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐14 
     
Tek ni k
MESI N

Pengujian Prestasi Kompor Induksi

Syahbardia
Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik
Universitas Pasundan
Jalan Setiabudhi No, 193 Bandung 40153
syahsbardia@gmail.com

Abstrak

Pemanasan induksi pertama dikenal sebagai rugi-rugi panas pada mesin listrik dan
transformator. Kemudian fenomena rugi-rugi disipasi panas ini dimanfaatkan untuk
pengembangan design tungku pencairan logam, oven heat treatment dan pengelasan logam,
dan ditemukanlah tungku induksi, oven induksi dan penyambungan logam dengan pemanas
induksi. Berdasarkan kelebiham-kelebihan yang dimiliki sistem pemanas induksi, maka
dewasa ini banyak kompor-kompor rumah tangga yang ada dipasaran merupakan jenis
kompor induksi.
Kompor induksi adalah salah satu produk modern dan sangat bermanfaat bagi
orang banyak terutama ibu-ibu rumah tangga. Kompor induksi ini faktor keselamatannya lebih
tinggi dan lebih lebih efisien dari kompor listrik, minyak, dan gas. Penggunaan cukup dengan
menggunakan energi listrik, produk ini memiliki kelebihan salah satunya adalah pada saat
memasak dipegang dari setiap posisi tidak menimbulkan panas sama sekali.
Dalam penelitian ini dilakukan pengujian efisiensi kompor induksi untuk pemanasan
air pada beberapa kondisi pada variasi volume air dari 1 liter air sampai 5 liter air. Dari hasil
pengujian dan perhitungan, efisiensi maksimum terjadi pada volume air 4 liter air yaitu
sebesar 88,2% dengan waktu pemanasan air 14 menit. Sedangkan efisiensi maksimum rata-
rata terjadi pada volume air 4 liter yaitu sebesar 83,6%. Hasil penelitian ini juga dapat
disimpulkan bahwa kompor induksi merupakan kompor rumah tangga yang memiliki efisiensi
konversi energi yang tertinggi dibandingkan dengan kompor-kompor rumah tangga yang
lainnya.

Keywords : kompor induksi
 
1. Latar Belakang
Pemanasan induksi idenya berkembang menggunakan prinsip induksi elektromagnetik
yang pertama kali ditemukan oleh Michael Faraday pada tahun 1831. Pemanasan induksi
pertama dikenal sebagai rugi-rugi panas pada mesin listrik dan transformator. Kemudian
fenomena rugi-rugi disipasi panas ini dimanfaatkan untuk pengembangan design tungku
pencairan logam, oven heat treatment dan pengelasan logam, dan berkembanglah tungku
induksi, oven induksi dan penyambungan logam dengan pemanas induksi. Berdasarkan
kelebiham-kelebihan yang dimiliki sistem pemanas induksi, maka dewasa ini banyak kompor-
kompor rumah tangga yang ada dipasaran merupakan jenis kompor induksi.
Dari brosur, beberapa artikel majalah menjabarkan keunggulan-keunggulannya
dibandingkan dengan kompor konvensional. Salah satunya adalah besarnya kemampuan dalam
mengkonversikan energi listrik menjadi termal, atau lebih dikenal dengan istilah efisiensi
konversi energi.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐15 
     
Tek ni k
MESI N
Berdasarkan latar belakang tersebut dilakukan penelitian untuk mengetahui prestasi
kompor induksi. Prestasi kompor induksi diketahui dengan studi referensi serta pengujian
prestasi, memilih satu sample kompor induksi yang ada dipasaran.
Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti yaitu: Mengetahui prinsip kerja kompor induksi,
mengetahui prosedur pengujian prestasi dan besarnya efisiensi dari studi referensi dan
pengujian prestasi kompor induksi.
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah menambah wawasan peneliti dan para
pembaca tentang kompor induksi, dan mempunyai pertimbangan yang lebih banyak dalam
pemilihan alternatif kompor induksi dengan kompor konvensional yang telah terlebih dahulu
dikenal.
 
2. Metodologi
Studi referensi
Berdasarkan hukum Ampere pembangkitan medan magnet dapat timbul jika kumparan dialirkan
arus listrik, sesuai dengan persamaan (2-1):

……………(2-1)
Besarnya garis-garis medan magnet berbanding lurus dengan permeabilitas dari material core

…………………..(2-2)
Kerapatan medan magnet objek berkurang semakin dekat ke pusat core dari permukaan. Menurut
Hukum Faraday, arus yang dihasilkan pada permukaan core konduktif memiliki hubungan yang
berlawanan dengan arus pada sirkuit induksi. Arus pada permukaan core dinamakan arus eddy
    Efficiency of Cooking Methos
  Cooking Method Efficiency
  Induction 90%
  Halogen 58%
  Electric 47%
  Gas 40%
Gambar 2-1: Skematis pembangkitan arus
eddy

Tabel 2-1: Tabel efisiensi beberapa jenis
kompor rumah tangga dari studi
referensi
     
 

= = F i N Hdl
A H μ φ =
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐16 
     
Tek ni k
MESI N
 
…………………..(2‐3) 

Akibatnya, energi listrik yang disebabkan oleh arus eddy yang diinduksi dan langsung dikonversi menjadi
energi panas (persamaan 2-4).
……………………..(2-4)

Besarnya resistansi ditentukan dari resistivitas (ρ) dan permeabilitas (μ) dari core. Konversi energi listrik
ke termal selain akibat arus eddy juga disebabkan hysteresis, besarnya < 10% dari energi induksi.

Secara umum kompor induksi memiliki bagian utama: Power source AC, Rectifier, Filter, Inverter,
Heating coil dan core atau heat load.
Gambar 2‐2: diagram blok bagian utama kompor induksi 

Power source atau sumber listrik AC berasal dari
generator/jaringan AC. Tegangan standard bisa 120 V, 220 V
atau 380 V, frekuensi 50 Hz atau 60 Hz. Untuk power
biasanya tegangan diturunkan supaya arusnya naik dengan
transformator.
Rectifier atau penyearah, merupakan konvertor elektronik
mengubah listrik AC menjadi DC menggunakan Dioda.
Jumlah diode yang digunakan bisa dua jika transformatornya
memiliki CT, empat buat disusun menjadi jembatan diode,
atau enam buah jika sumber listrik AC tiga phasa.
Filter atau penyaring listrik DC agar ripplenya sekecil
mungkin. Dapat jenis pasif dengan koninasi beberapa
kapasitor dan induktor. Atau jenis aktif menggunakan
komponen utama transistor
Inverter merupakan konverter elektronik mengubah listrik
DC menjadi AC. Menggunakan komponen utama transistor
atau tryristor. Jenis inverter yang digunakan ada tiga macam:
current source inverters = CSI, Variable voltage inverters =
VMI dan pulse-width-modulated = PWM. Jenis yang terakhir
memiliki efisensi yang tinggi, oleh karena itu yang paling banyak digunakan.
Coil merupakan pembangkitan medan magnet, jenisnya ada dua yaitu: bentuk spiral untuk tegangan
tinggi arus rendah sedang bentuk spring untuk arus yang tinggi.
power
source rectifier filter inverter coil heat load
dt
d
N
dt
d
E
φ λ
= =
R i
R
E
P
2
2
= =
Gambar 2-3: Penampang dinding
panic kompor induksi 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐17 
     
Tek ni k
MESI N
Heat load merupakan komponen yang menimbulkan arus eddy, akibat dipotong oleh garis-garis medan
magnet yang arah dan besarnya berubah-ubah. Untuk kompor induksi merupakan panci yang terbuat dari
logam ferromagnetic. Fungsi dan jenis lapisan-lapisan panci:
1) 18/10 stainless steel adalah non-reaktif terhadap makanan dan mudah dibersihkan.
2,3,4) 1145 aluminium alloy seri 1145 dengan lapisan
3004 aluminium antara untuk pemerataan panas.
5) 18/10 stainless steel untuk superior bond.
6) stainless steel untuk proses induksi magnetik yang efisien
7) 18/10 stainless steel tahan pitting & berkarat
 
 
Gambar 2‐4: Jenis coil pemanas induksi 
Prosedur Pengujian
Metoda pengujian yang dilakukan adalah dengan pemanasan air yang dikenal dengan istilah boiling
water test.Parameter pengukuran yang menunjukan hasil pengukuran dari alat ukur, parameter-parameter
itu antara lain :
1. waktu pendidihan air dan waktu operasi
2. energi listrik yang digunakan
3. arus
4. tegangan
5. daya
6. temperatur air

Parameter pengujian adalah parameter yang di bakukan dalam melakukan pengujian. Dimana terdapat
dua parameter pengujian yaitu :
1. Parameter tetap adalah kondisi awal yang dibuat tetap untuk setiap pengujian.
2. parameter yang berubah, adalah parameter yang diubah-ubah untuk mendapatkan data yang
diinginkan. Parameter tersebut adalah mengubah volume air

Peralatan pengujian yang digunakan adalah :
1. 1 unit kompor induksi 1800 W
2. 1 buah panci kompor induksi terbuat dari material ferro magnetik
3. Termocople
4. Gelas ukur 250 ml
5. Power analyzer
6. Stop watch

Prosedur pengujian kompor induksi
a. Menghidupkan kompor induksi dengan cara menekan tombol power pada posisi on.
b. Menset temperatur yang diinginkan dan kemudian meletakkan panci yang berisi air pada
kompor induksi dan waktu mulai di catat
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐18 
     
Tek ni k
MESI N
c. Mengukur temperatur pada beberapa titik yang telah ditentukan setiap 60 detik sampai air
mendidih
d. Mengulangi langkah diatas dengan massa air yang berbeda.

Instalasi pengujian untuk pengujian kompor induksi diperlihatkan seperti gambar berikut ini :

Gambar 2-5: Instalasi pengujian
Data hasil pengujian dan perhitungan
 

Tabel 2-2: Data pengujian kapasitas 1-liter

Tabel 2-3: Data pengujian kapasitas 2-liter







Tabel 2-4: Data pengujian kapasitas 3-liter


 
 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐19 
     
Tek ni k
MESI N
                              
     
Tabel 2-5: Data pengujian kapasitas 4-liter

Tabel 2-6: Data pengujian kapasitas 5-liter




Gambar 2-6: Kurva efisiensi vs waktu untuk berbagai volume air









Gambar 2-7: a)Kurva efisiensi rata-rata vs volume air, b) Kurva efisiensi maksimum vs volume air
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐20 
     
Tek ni k
MESI N
3. Analisis dan Diskusi
Dengan melihat kurva gambar 2-6, bahwa kelakuan kompor induksi efisiensi cenderung konstan
setelah beberapa menit kompor dihidupkan sampai mendidih. Efisiensi maksimum mendekati dari studi
referensi. Efisiensi yang tinggi tersebut terjadi , karena rugi-rugi panas jauh lebih kecil dibandingkan
dengan kompor konvensional. Rugi-rugi panas kecil karena perbedaan temperatur dinding dengan
lingkungan tidak terlalu besar dibandingkan dengan kompor konvensional.
Perpindahan panas dari sumber panas yaitu bagian bawah panci keair dengan modus perpindahan panas
konduksi. Sehingga laju perpindahan panasnya lebih besar dibandingkan modus-modus yang lain.
Gambar 2-7 memperlihatkan juga bahwa efisiensi maksimum terjadi tidak pada kapasitas maksimum
kompor, tetapi pada kapasitas ± 80% kapasitasnya. Hal ini merupakan sesuatu yang umum terjadi.
Biasanya designer merancang produk kondisi operasi optimal bukan pada kapasitas maksimumnya.


4. Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Prinsip kerja kompor induksi berdasarkan hukum Ampere dan hukum Faraday
2. Konversi energi listrik ketermal akibat efek Arus Eddy dan hysteresis
3. Besar efisiensi maksimum dari hasil pengujian 88,2 %
4. Efisiensi maksimum terjadi pada kapasitas terpasang 80 %


Daftar Pustaka
[1]. AN9012, “Induction Heating System Topology Review”,FAIRCHILD SEMI
CODUCTOR,July,2000
[2]. Renesas Technology Europe “Induction Cooking Basics”,2008
[3]. Frianto, Decky.2010. “Pengujian prestasi kompor Induksi”. Bandung : Laporan Tugas Akhir
Jurusan Teknik Mesin UNPAS.
[4]. ”High Frequency Induction Heating”, http://www.richieburnett.co.uk/indheat.html
[5]. Rhoades, Nathan “A Fundamental Overview of Heating by Induction” , April 22, 2006
[6]. ”The Induction Heating Guide” , www.inductionatmospheres.com

























ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐21 
     
Tek ni k
MESI N
Pembuatan dan Pengujian Mesin Tekuk Pipa untuk
Diameter ¾ Inchi


Marsono, Encu Saefudin dan Farid Firmansyah
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Nasional
Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124
marsono@itenas.ac.id, encu@itenas.ac.id


Abstrak
Proses penekukan (bending) sederhana yang umum dipakai adalah alat penekuk pipa, yang
digunakan dalam industri kecil dan industri rumah tangga. Seiring dengan perubahan pola hidup
masyarakat yang sangat cepat dan persaingan yang semakin tajam pada bidang industri telah
menyebabkan para produsen berlomba untuk menghasilkan kualitas produk yang tinggi yang dapat
menyaingi industri besar. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu mesin tekuk pipa yang memilki konstruksi
sederhana, pengoperasian mudah, dan dengan hasil penekukan yang baik. Mesin tekuk pipa ini
dirancang dengan menggunakan hidrolik sebagai tenaga penekananya, sedangkan metoda penekukannya
pipa yang dipakai adalah jenis rotary draw bwnding. Dari hasil pengujian yang dilakukan, diketahui
bahwa kesempurnaan bentuk dan dimensi dari dies dan followbar akan ikut menentukan kesempuraan
hasil tekukan. Distorsi pada bentuk diameter yang terjadi pada pipa yang tipis adalah sebesar 9.5%
sedangkan pada pipa tebal distorsi penampang pipa terjadi lebih kecil, yaitu 2,3%. Distorsi sudut
tekukan akibat springback yang terjadi pada kedua jenis pipa adalah sama, yaitu sebesar 16,7%. Waktu
yang dibutuhkan untuk penekukan pipa dengan sudut 90
o
adalah 56 detik.

Key words : mesin tekuk pipa, rotary draw bending, springback,

1. Pendahuluan


Proses tekuk pipa (pipe bending) digunakan untuk membuat bentuk komponen industri ataupun keperluan
industri rumah tangga, dari sistem pemipaan, perlengkapan dan komponen kendaraan dan elemen mesin
sampai kepada rangka furnitur. Keuntungan dari pemanfaatn pipa untuk struktur (rangka) adalah mampu
mereduksi berat dan tentunya biaya.

Permintaan yang tinggi akan produk-produk seperti ini mendorong banyak pihak untuk ikut serta
mengembangkan usaha tekuk pipa, baik dalam skal kecil, menengah maupun industri besar. Hal ini juga
mendorong meningkatnya kebutuhan mesin yang mampu mernghasilkan produk yang berkualitas baik
agar dapat bersaing di pasaran.
Mesin tekuk pipa yang ada saat ini masih memiliki kekurangan, yaitu masih sering menghasilkan pipa
yang cacat, misalnya pipa mengalami pecah, pengerutan atau mengalami perubahan bentuk dan ukuran
diameter yang tidak sesuai dengan harapan.
Untuk meningkatkan keberdayaan industri kecil menengah, dalam penelitian ini akan dkembangkan
mesin penekuk pipa diameter ¾ inchi yang diharapkan bisa membantu proses penekukan pipa di industri
skala kecil, yang dapat dioperasikan dengan mudah dan mampu menghasilkan produk yang baik
kualitasnya dan mampu mengurangi cacat produk. Mesin tekuk pipa ini dikembangkan untuk
menghasilkan tekukan yang sempurna dan tidak terjadi cacat. Dan untuk mengetahui kinerja mesin ini,
dilakukan pengujian dan analisis hasil tekukan.





ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐22 
     
Tek ni k
MESI N
2. Metodologi

Proses penekukan pipa dapat dilakukan dengan beberapa metode. Setiap metoda akan menghasilkan
bentuk dan hasil akhir yang berbeda. Metode – metode yang digunakan anatara lain :
Metode Ram (Ram Style Bending)
Metode ini bekerja dengan memanfaatkan sebuah batang penekan sementara pipa yang akan ditekuk
dipasang pada dua buah penahan, kemudian penekan akan menekan pipa tepat diantara dua buah
penahan, sehingga pipa akan tertekuk. Akan tetapi kelemahan metode ini adalah terjadinya
perubahan bentuk penampang pipa yang semula harusnya bulat menjadi oval.
Metode Rotary (rotary draw bending)
Metode ini bekerja dengan cara menjepit salah satu ujung pipa, kemudian merotasi pipa ke
sekeliling cetakan ( dies ), dengan radius tekuk sesuai dengan radius rol. Berbeda dengan metode
ram, metode ini di anggap dapat mempertahankan penampang pipa agar tetap sama dengan semula.
Metode rol (roll bending )
Metode ini digunakan untuk menekuk pipa secara kontinu serta membentuk suatu radius yang besar.
Metode ini menggunakan tiga buah rol yang terhubung dengan tiga buah poros yang berbeda. Rol-
rol tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu rol atas (upper roll) dan rol bawah (lower roll).
Metode Compression Bending
Cara kerjanya untuk metoda ini sama dengan metoda rotary namun cetakan (dies) pada metoda ini
diam. Proses pelengkungan seperti kereta geser slide piece bergeser mengelilingi dies














Gambar 1. Metode Bending
Pipa
[2]
 
 


Secara umum mesin bending adalah mesin yang digunakan untuk proses pembentukan logam dengan
bebagai bentuk seperti pelat datar, lembaran dan bentuk pipa dapat dibentuk menurut lekukan yang
diinginkan. Mesin ini menggunakan sistem dongkrak hidrolik yang berfungsi sebagai penggerak.

Mesin bending pipa yang dibuat ini menggunakan metoda rotary draw bending di mana cara ini
digunakan untuk menekuk pipa dengan sudut maksimum penekukan biasa mencapai 90
o
. Penggerak
utama pada mesin ini adalah dongkrak hidrolik. Dongkrak akan menekan rollerblock berikut rollernya
akan bergerak ke atas ( arah y).

 
 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐23 
     
Tek ni k
MESI N
 




Roller menggelinding dan menekan follow bar sehingga follow bar akan bergerak ke atas (arah y) dan ke
arah kanan/kiri ( arah z) yang dipengaruhi oleh putaran dari dies karena dies tidak segaris dengan
rollernya. Dies yang bergerak secara rotasi tetapi bukan pada titik pusatnya, melainkan pada salah satu
sisi dari dies tersebut sehingga dies tersebut akan bergerak membentuk lintasan-lintasan tertentu. Follow
bar tersebut bersamaan dengan dies akan menekan dan menekuk pipa tersebut .
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 3 Posisi dan lintasan gerak dies
Melalui proses perancangan, didapatkan mekanisme yang dipilih, bentuk dan ukuran komponen serta
material yang dipilih untuk setiap komponen Dasar pertimbangan dalam pemilihan material untuk
pembuatan komponen adalah kekuatan, kemudahan proses produksi dan ketersediaan di pasar. Bahan
yang dipakai adalah baja profil, baja konstruks dan plat. Pembuatan komponen mesin tekuk pipa
dilakukan dengan menggunakan beberapa macam mesin perkakas, antara lain mesin bubut, mesin freis,
mesin gurdi, serta peralatan kerja bangku dan mesin las lisrik
Lintasan‐lintasan 
yang terbentuk 
Tidak pada pusat 
lengkungan dies 
Gambar 2.  Komponen Mesin
Z
X
Y
Roller 
Roller block 
Dongkrak 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐24 
     
Tek ni k
MESI N
3. Pengujian
Pengujian mesin tekuk pipa ini adalah untuk mengetahui kinerja dari mesin bending pipa, yang meliputi
pengujian kemampuan mesin untuk melakukan pek[nekukan pipa dengan sudut penekukan 90
o
, serta
meneliti qualitas hasil penekukan yang ditandai dengan tingkat distorsi atau cacat yang terjadi pada
daerah tekukan

Adapun batasan yang dipakai untuk melakukan pengujian mesin tekuk pipa ini adalah :
1. Bahan pipa yang digunakan dalam pengujian menggunakan bahan St 37 dengan dimensi pipa
berdiameter ¾ inch dan ketebalan 1,2 mm dan 2mm. Untuk pipa ¾ inch dengan ketebalan 1,2mm,
diameter luar pipa adalah 21mm sedangkan untuk pipa ¾ inch dengan ketebalan 2mm, dimater
pipa adalam 22mm.
2. Sudut lengkung pipa maksimum yang dicapai 90
o
.
3. Dongkrak hidrolik yang digunakan dengan kapasitas 10 ton.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan proses pengujian, diantaranya :
1. Benda uji (pipa) dimasukan dari depan dies.
2. Letakkan benda kerja diantara dies dan followbar kemudian atur followbar agar lurus dan sejajar
dies.
3. Setelah benda kerja, dies dan followbar lurus dongkrak hidrolik di naikkan secara perlahan hingga
pipa bengkok membentuk radius 90
o
.


4. Setelah mendapatkan radius yang diinginkan turunkan dongkrak agar benda kerja dapat di lepas dari
mesin.

 
 
 
 
 
 
 
Gambar 4. Penenetuan jarak pengukuran pada 
pipa 
Gambar 5.  Penentuan arah sumbu pada pipa
 
 
 


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐25 
     
Tek ni k
MESI N
Data Hasil Pengujian Serta Grafik Hasil Pengujian

Tabel serta grafik yang didapat dari hasil pengujian pipa berdiameter 21 mm dan tebal 1,2 mm dapat
dilihat dibawah ini :


Tabel 1. Hasil Pengujian Pipa 1 Diameter 21 mm Tebal 1,2 mm

No
Jarak
Sebelum
Pengujian
Sesudah Pengujian
Pengukuran Pipa Ø21 - 1 Pipa Ø21 - 2 Pipa Ø21 - 3 Pipa Ø21 - 4 Pipa Ø21 - 5
(mm) X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y
1 15 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21
2 30 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21
3 45 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21
4 60 21 21 21 20 21 20 21 20.3 21 21 21 21
5 75 21 21 21.2 20 21.2 20 21.2 20 21 20.2 21 20.5
6 90 21 21 21.2 19.5 21 20 22 19 21.2 20 21.2 20.2
7 105 21 21 21.2 19.5 21 20 22 19 21.2 20 21.2 20.2
8 120 21 21 21 20.5 21 20.5 21.3 20 21.2 20 21.2 20.2
9 135 21 21 21 21 21 20.5 21 21 21 20.5 21 20.5
10 150 21 21 21 21 21 21 21 21 21 20.5 21 21
11 165 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21
12 180 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21
13 195 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21
 
 
 
Gambar 6. Grafik hasil pengujian penekukan pipa dengan diameter 21 mm dan tebal 1,2 mm 
 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐26 
     
Tek ni k
MESI N
Tabel 2.  Hasil Pengujian Pipa 1 Diameter 22 mm Tebal 2 mm 
No
Jarak
Sebelum
Pengujian
Sesudah Pengujian
Pengukuran Pipa Ø22 - 1 Pipa Ø22 - 2 Pipa Ø22 - 3 Pipa Ø22 - 4 Pipa Ø22 - 5
(mm) X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y X-X Y-Y
1 15 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
2 30 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
3 45 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
4 60 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
5 75 22 22 22 22 22 22 22 21.5 22 22 22 22
6 90 22 22 22 21.7 22 21.7 22 21.7 22 22 22 22
7 105 22 22 22 21.5 22 21.5 22 21.7 22 21.7 22 21.7
8 120 22 22 22 21.7 22 21.7 22 21.7 22 22 22 22
9 135 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
10 150 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
11 165 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
12 180 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
13 195 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22
 
 
 
 
Gambar 7. Grafik hasil pengujian penekukan pipa dengan diameter 22 mm dan tebal 2 mm 
 
 
 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐27 
     
Tek ni k
MESI N
4. Analisis

Proses pembuatan menghasilkan mesin tekuk yang sedikit berbeda dengan rancangan, dimana terdapat
beberapa komponen yang mengalami perubahanadapun elemen yang diubah adalah base plat, dimana
base plate ini diberi tambahan berupa tempat dudukan dongkrak agar pada saat digunakan dongkrak tidak
bergeser. Disamping itu, komponen roller yang pada rancangan tidak ditumpu bearing, pada
pembuatannya ditambahkan bearing, agar roller dapat bergerak secara rotasi dengan lancar pada saat
penggunaannya.

Kesulitan ditemui pada saat pembuatan dies dan followbar. Pembuatan dies dilakukan dengan hanya
menggunakan mesin bubut konvensional, sehingga radius lengkungan dies tidak terbentuk dengan
sempurna. Hal ini juga terjadi pada pembuatan followbar yang juga dikerjakan dengan menggunakan
mesin freis vertical konvensional, dimana radius lengkungan followbar tidak terbentuk dengan sempurna.
Untuk menyempurnakan dan manghaluskan permukaan dies dan followbar dilakukan penggerindaan dan
gerinda amplas. Setting poros pin sleeve dan poros roller pin harus sejajar agar pipa hasil penekukan
benar-benar satu sumbu (tidak miring).

Dari hasil pengujian diketahaui bahwa pipa yang tipis lebih sulit di tekuk, dalam arti lebih mudah terjadi
cacat. Hal ini disebabkan karena pipa yang tipis lebih mudah terdeformasi ( tidak mampu menahan
tegangan yang besar).

Pengujian juga menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan ukuran (dimensi) pipa pada arah sumbu-X
dan sumbu-Y, dimana pada arah sumbu-X terjadi pembesaran dimensi sementara pada arah sumbu-Y
terjadi pengecilan dimensi






Gambar 8. Hasil Pengujian Pipa Diameter 21 mm pada daerah tekukan, sebelum dan sesudah proses
penekukan

Penyebab terjadinya perubahan dimensi ini adalah karena adanya kelonggaran yang berlebihan pada
penampang lintang dies dan follow bar, dimana kelonggaran yang berlebihan ini menyebabkan deformasi
pipa tidak dapat ditahan. Besar distorsi (perubahan) dimensi maksimum untuk pipa tipis (t=1,2mm)
adalah sebesar (19-21)/21 = 9,5% sedangkan untuk pipa tebal (t=2mm) adalah sebesar (22-21,5)/22 =
2,3%. Hal ini dapat diatasi dengan cara membuat dies dan followbar dengan penampang lintang yang
benar-benar membentuk kebulatan yang sempurna sehingga diameter pipa yang ditekuk benar-benar
duduk di dalam dies dan follow bar dengan baik.

20 mm 
21,2 mm
21 mm
21 mm 
Y

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐28 
     
Tek ni k
MESI N


Gambar 8. Bentuk Ketidakbulatan Profil Dies dan Followbar

Setelah proses penekukan pipa selesai, terjadi fenomena spring back, tepatnya pada saat dongkrak
diturunkan, dimana tekukan pipa kembali terbuka kearah yang berlawanan terhadap arah penekukan.
Fenomena spring back yang terjadi menyebabkan sudut tekukan kedua pipa (t=1,2mm dan t=2mm) lebih
besar dari 90
o
yaitu 105
o
. Besar springback ini adalah (105
O
-90
O
)/90
O
= 16,7%. Untuk membuat sudut
tekukan 90
o
, maka proses penekukan harus dilakukan dengan sudut yang lebih kecil dari dari 90
o
.


5. Kesimpulan

Pengujian yang dilakukan pada 5 buah pipa ¾ inch dengan ketebalan 1,2mm dan 5 buah pipa ¾ inch
dengan ketebalan 2mm menunjukkan bahwa untuk mendapatkan tekukan yang sempurna dibutuhkan
kesempurnaan bentuk dan dimensi dari dies dan followbar. Kelonggaran yang berlebihan akan
menyebabkan cacat pada hasil penekukan, terutama pada daerah tekukan. Perubahan dimensi (distorsi)
pada bentuk diameter lebih mudah terjadi pada pipa yang tipis, yaitu sebesar 9.5% sedangkan pada pipa
tebal distorsi penampang pipa terjadi lebih kecil, yaitu 2,3%. Distorsi sudut tekukan akibat springback
yang terjadi pada kedua jenis pipa adalah sama, yaitu sebesar 16,7%. Waktu yang dibutuhkan untuk
penekukan pipa dengan sudut 90
o
adalah 56 detik.



Daftar Pustaka

[1]. Amstead B.H, 1991, “ Teknologi mekanik jilid 1dan 2 ”, Jakarta, Erlangga.
[2]. Groover, Michael P., 1996. Fundamental of modern manufacturing., Prentice hall, Upper Saddle
River, New Jersey. [5]
[3]. Hadisaputro, Vincent S.T. 2006. Perancangan Mesin Roll Bending Pipa Dengan Kapasitas
Ukuran Diameter Pipa Maksimum 2 Inchi. ITENAS ,Bandung.
[4]. Permana Indra, 2006, “Proses Pembuatan dan Pengujian Mesin Roll Bending Pipa Dengan
Kapasitas Ukuran Diameter Pipa Maksimum 2 inchi” Jurusan Teknik Mesin, Institit Teknologi
Nasional.







ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐29 
     
Tek ni k
MESI N
Perancangan Dan Pembuatan Oven Pengering Eceng Gondok
Untuk Skala Industri Kecil


Noviyanti Nugraha, MT, Dr. M. Alexin P, Danang Pinandhitio, ST
Jurusan Teknik Mesin
Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung

ABSTRAK
Pengeringan eceng gondok sebagai bahan baku dalam proses pembuatan anyaman tas ataupun sandal
masih dilakukan secara tradisional dimana masih menggunakan panas matahari sebagai sumber energi
untuk pengeringan. Hal ini dapat menyebabkan tersendatnya proses produksi karena dengan
menggunakan energi panas dari matahari akan membutuhkan waktu yang lama dalam proses
pengeringannya. Salah satu upaya untuk menanggulangi masalah tersebut adalah dengan merancang
dan membuat oven pengering eceng gondok untuk skala industri kecil dengan menggunakan bahan bakar
gas LPG. Pada pengujian awal diketahui dalam 100gr eceng gondok terdapat 92,6% kadar air yang
terkandug didalamnya. Dengan menggunakan oven pengering eceng gondok yang berbahan gas LPG,
jumlah kalor yang didapat dari hasil pembakaran adalah sebesar 3,74kW, sedangkan untuk melakukan
proses pengeringan hanya membutuhkan laju kalor sebesar 0,373kW, sehingga waktu yang dibutuhkan
adalah sebesar 98 menit untuk mengeringkan eceng gondok dengan kapasitas 1,3kg. Untuk melakukan
pemanasan air hingga temperatur 95
O
C membutuhkan waktu hingga 90 menit, sehingga dengan total
waktu 3jam 8 menit, maka eceng gondok sebanyak 1,3kg dapat dikeringkan dan dapat mempercepat
proses produksi pembuatan anyaman berbahan dasar eceng gondok.

Kata kunci : Eceng gondok, Oven pengering, Laju kalor pengeringan, Industri kecil

1. Pendahuluan

Eceng chhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Eceng gondok
memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat
merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air
lainnya. Perkembangan tumbuhan air enceng gondok di perairan sungai, danau, hingga ke perairan payau
sangat pesat. Sekilas tanaman enceng gondok tidak berguna. Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai,
enceng gondok adalah tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai
menjadi tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak. Begitu pula bagi para masyakat
disekitar pinggiran danau yang menganggap enceng gondok yang banyak didanau adalah penggau yang
menghalangi aktivitas mereka di danau tersebut.
Namun akhir-akhir ini eceng gondok mulai banyak diminati oleh para produsen kerajinan tangan sebagai
bahan dasar untuk membuat berbagai jenis anyaman kerajinan, baik berupa tas,sandal, maupun bentuk-
bentuk kerajinan tangan yang lainnya. Namun dalam pelaksaannya banyak dari pengusaha kerajinan
tangan yang mengalami kendala ketika mengolah bahan tersebut,yaitu ketika proses pengeringan eceng
gondok yang memakan waktu yang lama serta selalu tergantung dari panas matahari dalam upaya
pengeringannya. Saat ini untuk mengeringkan Enceng gondok masih dilakukan dengan cara tradisional
yaitu dengan jalan dijemur pada sinar matahari, dimana cara ini banyak memiliki kelemahan, antara lain:
1. Aktifitas pembuatan sangat tergantung pada cuaca.
2. Target produktifitas tidak bisa dipastikan.
3. Memerlukan jumlah tenaga yang cukup banyak.
4. Memerlukan waktu yang lama.
5. Memerlukan tempat yang besar.

Dengan adanya masalah tersebut di atas, maka dalam Tugas Akhir ini dirancang, dibuat dan diuji sebuah
Oven Pengering Eceng Gondok Untuk Skala Industri Kecil untuk mengurangi kendala-kendala yang
terjadi dalam proses pengeringan eceng gondok.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐30 
     
Tek ni k
MESI N
Gas LPG (Liquified Petroleum Gases) dipilih sebagai bahan bakar untuk alat pengering yang akan
dirancang karena mudah didapat dan dengan harga yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan
bahan bakar jenis lain yang ada di sekitar.
Dengan adanya alat ini diharapkan pengeringan Enceng gondok akan lebih cepat dan aktivitas pembuatan
kerajinan tangan dari bahan eceng gondok seperti anyaman tas dan sandal dapat berjalan terus tanpa
tergantung lagi pada sinar matahari, disamping itu harga bahan yang digunakan bakar relatif murah dan
mudah untuk didapatkan.

2. Perancangan Pengering Eceng Gondok

Eceng Gondok

Komposisi kimia enceng gondok tergantung pada kandungan unsur hara tempatnya tumbuh, dan sifat
daya serap tanaman tersebut. Enceng gondok mempunyai sifat-sifat yang baik antara lain dapat menyerap
logam-logam berat, senyawa sulfida, selain itu mengandung protein lebih dari 11,5 %, dan mengandung
selulosa yang lebih tinggi besar dari non selulosanya seperti lignin, abu, lemak, dan zat-zat lain.
Pada tabel 2.1, Anonymous (1966) dalam penelitiannya terhadap enceng gondok dari Banjarmasin
mengemukakan kandungan kimia tangkai enceng gondok tua yang segar.
Tabel 2.1. Kandungan Kimia Enceng Gondok Segar
Air 92,6%
Abu 0,44
Serat kasar 2,09
Karbohidrat 0,17
Lemak 0,35
Protein 0,16
Fosfor sebagai P
2
O
5
0,52
Kalium sebagai K
2
O 0,42
Klorida 0,26
Alkanoid 2,22
Sedangkan, R. Roechyati (1983) mengemukakan kandungan dari tangkai enceng gondok kering tanur
pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. Kandungan Kimia Enceng Gondok Kering
Senyawa
Kimia
Persentase (%)
Selulosa 64,51
Pentosa 15,61
Lignin 7,69
Silika 5,56
Abu 12
(Sumber: R. Roechyati (1983)

Proses Pengeringan

Pengeringan pada dasarnya merupakan suatu proses pengeluaran kandungan air dari bahan hingga
mencapai kandungan air tertentu agar tidak terjadi kerusakan pada bahan tersebut. Beberapa hal yang
berpengaruh diantaranya adalah: Suhu, Kelembaban, Udara, Lingkungan, dan kecepatan aliran udara
pengeringan.
Proses pengeringan merupakan proses perpindahan panas yang terjadi didalam suatu medium pengering
yang berupa udara panas atau aliran udara panas. Kandungan uap air udara yang dialirkan relatif rendah
dengan temperatur lebih tinggi, sehingga terjadi penguapan zat cair dari bahan yang dikeringkan.
Sedang yang menjadi dasar pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara dengan bahan karena
perbedaan - perbedaan kandungan uap antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Dalam hal ini
kandungan uap air lebih sedikit atau dengan kata lain udara mempunyai kelembaban nisbi rendah.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐31 
     
Tek ni k
MESI N
Salah satu faktor yang mempercepat proses pengeringan adalah kecepatan angin atau udara yang
mengalir. Bila udara tidak mengalir maka kandungan uap air disekitar bahan yang dikeringkan semakin
jenuh sehingga pengeringan makin lambat.
Selama pengeringan tersebut berlangsung terjadi dua proses yaitu:
a. Proses perpindahan panas
Dimana proses tersebut merupakan proses penguapan air dalam bahan atau proses perubahan bentuk cair
menjadi gas.
b. Proses perpindahan massa
yaitu proses massa uap air dari permukaan bahan yang dikeringkan ke udara.
Proses perpindahan panas terjadi karena temperature udara yang lebih tinggi dari temperature bahan yang
dikeringkan akan memberikan sebagian panasnya pada bahan tersebut sehingga bahan yang tadinya
memiliki tekanan uap yang seimbang dengan udara sekitarnya akan lebih tinggi yang mana akan
berakibat terjadinya perpindahan massa uap air dari bahan ke udara sekitarnya. Pada saat perpindahan
massa ini berlangsung maka terjadilah pengeringan pada permukaan bahan dan akan menurun setelah
kenaikan temperature pada seluruh permukaan bahan naik. Sejalan dengan itu terjadilah pergerakan air
secara difusi dari bahan ke permukaan bahan, demikian seterusnya proses penguapan pada permukaan
bahan diulang lagi. Akhirnya setelah kandungan air pada bahan berkurang , maka tekanan uap air pada
bahan akan menurun sampai terjadi keseimbangan dengan udara sekitarnya.

Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses pengeringan dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok,
yaitu :
a) Faktor yang berhubungan dengan media pengering meliputi :
- Suhu pengeringan
- Lama pengeringan
- Kelembaban udara
- Udara panas
b) Faktor yang berhubungan sifat bahan yang dikeringkan :
- ukuran bahan
- kadar air

Perancangan Pengering Eceng Gondok

Perancangan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kalor dan laju kalor yang dibutuhkan dalam
proses pengeringan. Proses perhitungan merujuk kepada perhitungan secara termodinamika, serta tidak
membahas rancangan konstruksi didalam perancangan dam pembuatan oven pengering.
Dalam proses perancangan dengan kapasitas 1kg eceng gondok di dapat hasil perhitungan sebagai
berikut :
no
1 Temperatur yang diinginkan dalam oven 95
o
C
2 Energi kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air 14981,12 kJ
3 Laju kalor yang dibutuhkan untuk proses pengeringan 0,273 kW
4 Laju kalor yang dapat dilepaskan bahan bakar (gas LPG) 3,74 kW
5 Massa bahan bakar yang digunakan 0,32 Kg
6 Waktu yang dibutuhkan untuk memanaskan air 66,7 menit
7 Waktu yang dibutuhkan untuk proses pengeringan dengan temperatur konstan 58,9 menit
8 Total Waktu yang dibutuhkan dalam proses pengeringan 125,6 menit
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐32 
     
Tek ni k
MESI N
Pembuatan Pengering Eceng Gondok

Rangka oven pengering dibuat dengan besi siku dengan ketebalan 1mm. Besi dipilih sebagai struktur
rangka agar rangka yang dihasilkan dapat memiliki kekuatan yang besar,sehingga dapat menahan beban
dari bodi oven ataupun menahan beban eceng gondok didalamnya. Besi baja siku yang akan dibuat
sebagai rangka memiliki panjang 0,8 meter, lebar 0,8 meter, dan tinggi 1 Meter
















Gambar 1. Rangka Mesn Pengering Eceng Gondok

pembuatan tempat penampungan air ini, bahan yang digunakan adalah pelat baja dengan ketebalan
1,2mm dengan dimensi Panjang x lebar x tinggi adalah 0,8 x 0,8 m x 0,1m. Pada bagian penampungan air
ini bahan yang digunakan adalah pelat baja, karena dimaksudkan agar memiliki kemampuan tahan panas
yang lebih tinggi (titik lebur yang lebih tinggi) jika dibandingkan dengan bahan yang digunakan pada
bagian dinding oven yaitu bahan alumunium. selain itu pelat baja juga dipilih sebagai wadah
penampungan air karena pelat baja dinilai cukup untuk menahan beban air yang akan digunakan pada saat
proses pengeringan berlangsung, sehingga akan meminimalisir kejadian melenting akibat kelebihan beban
air pada saat penggunaannya



Gambar 2. Tempat Penampungan air

pembuatan rak dalam oven atau Tray yang berfungsi sebagai tempat menyimpan eceng gondok selama
proses pengeringan berlangsung. Rak ini terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian yang pertama adalah siku
tempat Rak tersebut menempel, kemudian bagian yang kedua adalah rak yang akan menjadi tempat
penyimpanan eceng gondok.
Pada pembuatan tempat rak tersebut menempel,bahan yang digunakan adalah besi baja siku dengan
dimensi yang sama pada rangka oven, yaitu memiliki ketebalan 1 Mm dan memilik panjang 0,8 mm.
Proses penyambungan yang dilakukan yaitu dengan mengelas bagian ujung dari Besi Baja tersebut ke
bagian rangka dari oven

Sedangkan pada pembuatan rak sebagai tempat penyimpanan eceng gondok dalam oven, bahan yang
digunakan adalah Ram kawat dengan diameter 0,1mm dengan dimensi panjang 0,8m dan lebar 0,8m, dan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐33 
     
Tek ni k
MESI N
pada bagian ujung dari ram kawat tersebut disatukan pada setiap ujungnya dengan menggunakan kayu
range dengan ukuran 2x3 mm yang dimaksudkan agar posisi kawat tidak berubah-ubah maupun
melenting


Gambar 4. Rak bagian dalam

Pada bagian body oven pengering, bahan yang digunakan adalah pelat alumunium dengan ketebalan
0,5mm dan hanya menggunakan 1 lembar pelat pada setiap bagian sisi oven. Hal ini bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi biaya produksi pada pembuatannya, sehingga oven ini bisa digunakan oleh para
pengusaha kecil dan menengah. Untuk proses pengeringan yang lebih baik maka disarankan untuk
menggunakan pelat ganda (Double plate) atau menggunakan glass wol pada bagian celah antar dinding
untuk menaikan tingkat isolasi thermal yang terjadi di dalam oven. Proses penyambungan pelat
alumunium ke bagian rangka oven menggunakan paku keling dengan diameter 3mm



Gambar 5 Pengering Eceng Gondok


3. Analisa

1. Tempat penampungan air yang berada di dalam oven menggunakan bahan pelat baja dengan
ketebalan 1,2 mm dengan dimensi panjang 0,8 m, lebar 0,8 m, dan tinggi 0,1m, yang bertujuan
agar dapat menahan panas yang dihasilkan pada hasil dari nyala api pembakaran.

2. Pada oven pengering yang berhasil dirancang, telah diuji pemakaiannya untuk mengeringkan
eceng gondok dengan kapasitas sekitar 66 batang. Jumlah ini dinilai masih kurang dalam
penggunaannya,karena posisi rak yang terlalu berjauhan,sehingga menyebabkan kapasitas eceng
gondok didalam oven menjadi sedikit. Dengan kapasitas yang hanya berjumlah sekitar 66 batang,
maka produksi yang akan dilakukan dalam proses pengeringan akan menjadi berkurang
efisiensinya.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐34 
     
Tek ni k
MESI N
3. Pada bagian sisi-sisi bawah oven pengering harus ditutup dengan benda lain seperti batu bata atau
genting agar nyala api dari hasil pembakaran gas LPG dapat menyala dengan konstan dan tidak
berubah arah apinya


4. Kesimpulan

1. Ruang pengering dirancang dan dibuat dengan bentuk persegi panjang dengan ukuran tinggi, lebar
dan panjang yaitu : 1 m, 0,8 m, dan 0,8 m.
2. Laju kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air hingga 95
O
C adalah sebesar 0,273 kJ/s dan
membutuhkan waktu pengeringan kurang lebih 58,9 menit dengan temperatur yang konstan sebesar
95
O
C pada proses pengeringannya, yang didapat dari perhitungan secara teoritik
3. Kalor yang dibutuhkan untuk proses pengeringan adalah 20331,52 kJ yang didapat berdasarkan
perhitungan secara teoritik
4. Waktu untuk memanaskan air hingga 95
o
C adalah selama 66,7 menit dan untuk menghilangkan
kadar air yang terdapat di dalam eceng gondokadalah selama 58,9 menit,sehingga total waktu yang
dibutuhkan adalah mengeringkan 1 kg Eceng gondok adalah 125,6 menit yang didapat berdasarkan
perhitungan secara teoritik

5. Saran

1. Oven pengering yang telah berhasil dibuat selain dapat digunakan sebagai oven pengering eceng
gondok juga dapat dibuat sebagai oven pengering untuk bahan lain,seperti apel,kerupuk dan lain-
lain dengan melakukan sedikit modifikasi pada bak penampungan air di dalam oven pengering
2. dalam proses produksi yang akan dilakukan sebaiknya melakukan sedikit modifikasi seperti yang
perancang lakukan yaitu dengan cara memotong bagian daun dan ujung bawah dari eceng gondok,
sehingga kapasitas dari oven pengering pun dapat lebih besar dari kapasitas sebelumnya
3. Dinding oven harus dibuat dinding penyekat atau isolasi yang dapat terbuat dari glasswol atapun
bahan lain yang dapat menghambat panas yang keluar dari oven pengering
4. Dibuatnya alat pengatur temperatur otomatis yang dapat menghentikan laju bahan bakar ketika
temperatur yang diinginkan tercapai
5. Pada pelaksaan proses pengeringnya sebaiknya kegiatan membuka pintu oven pengering harus
seminimal mungkin agar temperatur di dalam oven dapat terjaga konstan
6. Perlu dibuatnya kaca dari akrilik atau polymer pada bagian pintu agar mempermudah proses kontrol
pada saat pengeringan berlangsung

6. Daftar Pustaka

[1] Holman J.P. , Thermodynamics , Int. Student Edition , Mc. H. Hill, New York, 1987
[2] Reynolds W.C., Perkins H.C. , Engineering Thermodynamics , Mc. G. Hill
[3] Michale J. Moran, Howard N. Shapiro . , Termodinamika Teknik , , Penerbit: Erlangga
[4] Frank Kreith, Alih Bahasa : Arko Prijono., Prinsip-prinsip Perpindahan Panas Edition 3,
Jakarta,Penerbit Erlangga., 1994
[5] http://en.citizendium.org/wiki/Lower_heating_value disunting pada tanggal 24 november 2010.
[6]  http://yefrichan.wordpress.com/2010/11/12/termometer-bola-kering-dan-termometer-bola-basah/ ,
disunting pada tanggal 2 september 2010.
[7]  http://bisnisukm.com/kerajinan-eceng-gondok-yang-mempesona.html , disunting tanggal 12 agustus
2010
[8]  http://www.scribd.com/doc/36375752/KALOR , disunting pada tanggal 24 November 2010.
[9]  http://rovicky.wordpress.com/2010/08/13/e-l-p-i-j-i-l-p-g-liquefied-petroleum-gas-kenapa-
meledak/ , disunting pada tanggal 24 november 2010




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐35 
     
Tek ni k
MESI N
PERANCANGAN MESIN BRIKET BATU BARA
DENGAN TIPE SCREW PRESS

Ali
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Nasional
Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124
ali@itenas.ac.id
ABSTRAK
Kebutuhan bahan bakar masyarakat indonesia pada saat ini sangat tinggi dimana harga bahan bakar
yang sering digunakan seperti minyak tanah dan gas semakin tinggi juga, maka dari itu diperlukan bahan
bakar alternatif untuk mengatasi masalah diatas. Batubara merupakan mineral organik yang dapat
terbakar karena memiliki banyak unsur karbon didalamnya, maka dapat digunakan sebagai sumber
energi. Dalam hal ini batubara yang sudah berupa serbuk akan dipadatkan melalui proses pembriketan
dengan mesin briket sistem screw press sehingga akan menghasilkan bahan bakar alternatif.
Pembuatan briket yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa proses antara lain:
persiapan peralatan dan bahan baku, pencampuran bahan baku, dan proses pengepresan menggunakan
mesin briket sistem screw press, daya tekan putaran screw berasal dari motor listrik 2 Hp. Percobaan ini
memvariasikan bahan yang digunakan seperti batubara murni (hanya dengan tambahan perekat) dan
batubara campuran serbuk kayu dengan perekat yang sama. Dengan demikian diharapkan mengetahui
kualitas masing – masing briket setelah dilakukan pengujian briket dengan proses pembakaran.
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh briket yang mudah pada pembakaran awal yaitu briket
batubara dengan campuran serbuk kayu dan biaya pembuatan briket. Proses pembuatan briket yang
dilakukan adalah dengan sistem screw press, dimana proses pembuatan briketnya ini menggunakan
motor 2 Hp. Mesin ini dapat memproduksi briket batubara profil silinder memanjang dengan diameter 71
mm serta mempunyai kapasitas produksi 13,94 Kg/jam.
Keyword : bahan bakar alternatif, batubara, pembuatan briket, screw press
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan ekonomi di era globalisasi menyebabkan pertambahan konsumsi energi di berbagai sektor
kehidupan. Bukan hanya negara-negara maju, tapi hampir semua negara mengalaminya termasuk
Indonesia. Harga minyak dunia yang tidak menentu bahkan sempat naik berdampak pada meningkatnya
harga jual bahan bakar minyak tanah di Indonesia. Walaupun Pemerintah Indonesia sudah mencanangkan
konversi energi dari minyak tanah ke bahan bakar gas namun demikian masih banyak masyarakat
Indonesia yang tetap menggunakan minyak tanah.
Minyak tanah di Indonesia yang selama ini disubsidi menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah
Indonesia karena nilai subsidinya meningkat pesat menjadi lebih dari 49 triliun pertahun dengan
penggunaan kurang lebih 10 juta kilo liter per tahun. Untuk mengurangi beban subsidi tersebut maka
pemerintah berusaha mengurangi subsidi yang ada dialihkan menjadi subsidi langsung kepada masyarakat
kurang mampu. Namun untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM dalam hal ini minyak tanah
diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah didapat.
Briket batubara merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari batubara. Bahan bakar padat ini
merupakan bahan bakar alternatif atau merupakan pengganti minyak tanah yang murah dan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐36 
     
Tek ni k
MESI N
dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal dalam waktu yang relatif singkat mengingat teknologi
dan peralatan yang digunakan relatif sederhana.
Potensi penggunaan batubara sebagai bahan bakar sangat memungkinkan untuk digunakan masyarakat
terutama indrustri kecil dan rumah tangga sebagai pengganti energi kayu atau minyak tanah. Dalam
penelitian ini akan dilakukan perancangan pembuatan briket batubara dengan tipre screw press.

1.2 TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan mesin briket batubara dengan mesin briket tipe
screw press. Serta mengetahui besar densitas batubara setelah dibriket.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Batubara
Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu
sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa
pembentukan batubara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batubara (black coal) yang
ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk
endapan-endapan batubara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan
berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain.
Di Indonesia, batubara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang telah umum
digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batubara jauh lebih hemat dibandingkan solar,
dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batubara hanya Rp
0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar Rp. 4800/liter).
Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi Indonesia. Jumlahnya sangat
berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi
listrik hingga ratusan tahun ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan
mengubahnya menjadi energi listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO
2
,
SO
2
, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah tinggi.









Gambar 2.1 Batubara
[3]


2.1 Teori Pembriketan
Pembriketan adalah salah satu teknologi pemadatan, dimana, suatu bahan dikenai tekanan yang tinggi
untuk membentuk produk yang mempunyai bulk density lebih tinggi, kandungan air yang lebih rendah,
dan keragaman dalam ukuran, dan sifat-sifat bahannya. Hingga didapatkan suatu briket yang keras dan
kompak, tetapi sebaiknya briket jangan terlalu keras. Hal ini dikarenakan apabila briket terlalu keras maka
akan mendapatkan kendala pada proses pembakaran, briket akan susah untuk dibakar.







ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐37 
     
Tek ni k
MESI N
2.2 Diagram Proses Pembuatan Briket Batubara






















Bentuk dan ukuran briket batubara hasil cetakan (kemasan) dibuat sesuai untuk keperluan sektor
pengguna. Saat ini telah dikembangkan dua bentuk briket batu bara, yaitu tipe bantal (telor) yang padat
dan kompak dengan ukuran 30 s/d 60 mm, dan tipe sarang tawon (berongga) dengan ukuran lebih besar
(mencapai 15 cm). Kedua bentuk dibuat untuk memudahkan pemakaian dan memperoleh efisiensi
pembakaran. Tipe bantal berukuran kecil cocok digunakan untuk rumahtangga (memasak), dan yang
berukuran lebih besar baik untuk industri. Tipe sarang tawon juga dirancang untuk industri dan
memerlukan “kompor” atau tungku yang khusus.

Jenis dan Ukuran Briket Batubara
• Bentuk telur : sebesar telu ayam
• Bentuk kubus : 12,5 x 12,5 x 5 cm
• Bentuk selinder : 7 cm (tinggi) x 12 cm garis tengah
Gambar 2.2 Bentuk Briket Batubara
[4]


2.3 Perhitungan Densitas
Perhitungan densitas pada percobaan ini adalah untuk membandingkan densitas briket batubara murni
dengan briket batubara campuran serbuk gergaji. Densitas atau massa jenis adalah pengukuran massa
setiap satuan volume benda, dengan rumus




Satuan massa jenis dalam CGS adalah gram per sentimeter kubik (g/cm
3
). Briket batubara berbentuk
silinder sehingga volume yang digunakan merupakan volume silinder dengan rumus :
Volume silinder = π.r
2
.t (cm
3
)
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐38 
     
Tek ni k
MESI N
dimana :
r = jari-jari(cm)
t = tinggi (cm)

3.1 Pembuatan Briket Batubara
Pembuatan briket batubara dilakukan dengan menggunakan mesin briket sistem screw modifikasi dan
digerakkan oleh motor listrik.
3.1.1 Sistem Kerja Mesin Modifikasi Briket Batubara

























Gambar 3.1 Mesin Pencetak Briket Batubara Modifikasi

Keterangan :
1. Rangka
2. Motor Listrik
3. Puli
4. sabuk V
5. Reducer
6. sproket
7. rantai
8. Pillow Block
9. Poros Utama
10. Barell (Rumah screw)
11. Hopper
12. Die (cetakan)
13. Rel Penyangga Briket

Prinsip kerja dari mesin briket batubara sistem screw yang digunakan adalah menghantarkan material
yang dimasukkan lewat hopper menuju barell kemudian material tersebut dihantarkan kembali oleh screw
yang berputar karena digerakkan oleh motor listrik ke ujung barell dimana barell tersebut berpasangan
dengan die yang memiliki profil silinder tirus sehingga proses pemadatan terjadi karena adanya perbedaan
diameter dipangkal dengan diujung die.








10 
11 
12 
13 

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐39 
     
Tek ni k
MESI N
3.1.3 Bahan Baku Briket Batubara
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan briket batubara adalah :

1. Serbuk Batubara
Batubara merupakan bahan dasar utama. Batubara yang digunakan dalam proses pembriketan ini
batubara jenis bituminus yang sudah berupa serbuk.











Gambar 3.2 Serbuk Batubara
2. Perekat
Perekat berfungsi sebagai pengikat agar batubara bisa kompak atau menjadi satu kesatuan.
Perekat yang digunakan pada pembuatan briket batubara ini adalah tepung kanji yang dilarutkan
dengan air dan dipanaskan.











Gambar 3.3 Tepung Kanji
3. Serbuk Kayu
Serbuk kayu didapat dari tempat penggergajian kayu yang sebelum proses pencampuran dengan
batubara di ayak terlebih dahulu karena dipilih serbuk kayu yang halus.










Gambar 3.4 Serbuk Kayu
4. Air
Air digunakan untuk membuat lem kanji, yaitu dengan melarutkan tepung tapioka dengan
air yang dipanaskan.




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐40 
     
Tek ni k
MESI N
Mulai
Matikan Mesin Briket
  Selesai
Mempersiapakan alat dan bahan baku
Penimbangan  Batubara dan binder sesuai dengan komposisi yang ditentukan 
Menyalakan Mesin Briket
Pencampuran batubara dan bahan baku lainnya 
Memasukkan batubara ke hopper mesin briket 
Memotong hasil briket 
3.1.4 Urutan Proses Pembuatan Briket Batubara
Urutan Proses pembuatan briket dapat dilihat pada diagram dibawah ini :






























Gambar 3.5 Diagram alir pembuatan briket batubara

Mutu briket sebagai bahan bakar dipengaruhi oleh jenis bahan baku dan kadar air briket serta tekanan
pengempaan. Pengempaan dengan tekanan tinggi tidak selalu menghasilkan mutu briket yang lebih baik,
karena briket yang sangat padat justru menurunkan efisiensi pembakaran dan menyulitkan penggunaan.

4. Analisis Pembuatan Dan Pengujian Briket Batubara

Analisis ini berdasarkan percobaan pembuatan briket batubara dan pengujian pembakarannya, antara
lain :
1. Hasil kedua briket batubara kurang padat dan rapuh karena proses pengadukkan yang
kurang merata.
2. Briket batubara campuran serbuk kayu lebih cepat menjadi abu karena serbuk kayu
mengeluarkan gas biomassa yang dapat mengakibatkan pembakaran yang lebih sempurna.
3. Briket batubara murni lebih berasap dan berbau karena kandungan gas pada batubara
tidak terbakar dengan sempurna.
4. Nyala api pada kedua briket berwarna merah, itu menandakan pembakaran yang kurang
baik dan sebabnya adalah penggunaan batubara jenis sub bituminus pada bercobaan pembuatan
briket yang merupakan batubara muda dengan sedikit kandungan carbon dan banyak kandungan
air.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TPPP‐41 
     
Tek ni k
MESI N
5. Kesimpulan
Pembuatan briket batubara dengan mesin briket telah berhasil dilakukan. Dari hasil perhitungan
didapatkan densitas sebagai berikut :
- Densitas briket batubara = ρ = 1,346 gram/cm
3

- Densitas batubara = ρ = 0,833 gram/cm
3

Dari perbandingan densitas diatas, maka batubara berhasil dimampatkan.
Dari hasil percobaan pembakaran briket didapatkan :









Dengan melihat data diatas maka dapat diketahui bahwa briket batubara campuran serbuk gergaji lebih
mudah dalam pembakaran awal tetapi briket ini lebih cepat habis menjadi abu.

Saran
1. Sebaiknya pembuatan briket batubara tidak hanya menggunakan campuran serbuk gergaji
tetapi juga menggunakan bahan campuran lain seperti tanah liat dimana tanah liat dapat
membantu merekatkan serbuk batubara.
2. Briket batubara sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu sebelum dibakar agar kadar airnya
berkurang.
3. Pengeringan briket batubara sebaiknya dilakukan dengan mesin pengering agar kadar airnya
lebih cepat berkurang.
4. Pemotongan briket batubara sebaiknya dilakukan pada saat briket baru keluar dari die
(cetakan) dengan ukuran yang sudah ditentukan terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Sularso, K . Suga. ‘Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin’. PT Pradnya Paramita,
Jakarta, 1997.
[2]. Mitchell, Shigley. ‘Mechanical Engineering Design’. McGraw Hill, Michigan, 1983.
[3]. http://images.google.co.id/images?hl=id&queen=batubara&um=1&ie=utf-8&sa=n&tab=wi
[4]. http://www.agitc.cn/charcoal-powder-of-briquetting-plant2.htm
[5]. http://www.retsasia.ait.ac.th./booklets/dissemination%20booklets-
phase%20III/tech%20pack/bb/low%20resl.pdf












Jenis Briket Lama briket mulai
terbakar
Lama briket
mendidihkan air 250 ml
Lama briket terbakar
hingga jadi abu
Batubara murni 10 menit 6 menit 30 menit
Batubara dengan
serbuk kayu
6 menit 3 menit 17 menit





TOPIK MAKALAH:
TEKNOLOGI BAHAN DAN
MATERIAL KOMPOSIT
(TBMK)







Tek ni k
MESI N
SEMINAR NASIONAL X
REKAYASA DAN APLIKASI TEKNIK MESIN
DI INDUSTRI
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐1 
     
Tek ni k
MESI N
Karakteristik Fisik Dan Mekanik Produk Indirect
Pressureless Sintering Serbuk Cu Dan Ni Dengan
Penyangga Serbuk Besi Cor


1
Eko Sutarto,
2
D Kristianto Hermawan,
3
D.Subekti &
4
Susilo Adi Widyanto
1
Jurusan Teknik Mesin, STT Ronggolawe, Mentul, Cepu 58315
2,3
Fakultas Teknik Mesin, Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang 50275
3
Magister Teknik Mesin, Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang 50275


Abstrak.
Pembuatan produk kompleksitas geometri yang tinggi dapat dilakukan dengan proses Indirect
Pressureless Sintering. Penelitian ini dilakukan menggunakan bahan spesimen serbuk tembaga
ukuran partikel <63 μm kemurnian ≥99,7% dan serbuk nikel ukuran partikel ±10μm dengan
kemurnian ≥99,5%, serta serbuk besi cor sebagai bahan penyangga spesimen dengan proses
Pressureless Indirect Sintering. Suhu pemanasan divariasikan pada 870, 900, dan 930
o
C dengan
waktu tahan 240 menit, dan ukuran partikel serbuk penyangga adalah 150 μm dan 100 μm.
Karakterisasi hasil meliputi; uji tarik, penyusutan, densitas, komposisi, dan konduktivitas panas.
Kekuatan tarik spesimen dipengaruhi oleh peningkatan suhu sintering, sedang penyusutan
mencapai 49% untuk Cu dan 35,33% untuk Ni, nilai densitas dipengaruhi oleh suhu sintering
dimana semakin tinggi suhu maka semakin besar nilai densitasnya karena ada penurunan
komposisi serbuk pada semua suhu pemanasan dan nilai konduktivitas panas hasil tidak sesuai
dengan literatur.

Kata kunci; Serbuk tembaga, serbuk nikel, serbuk penyangga, pressureless Indirect Sintering.
 
1. Pendahuluan
 
Proses indirect pressureless sintering (IPS) adalah proses sinter pemanasan tak-langsung tanpa
tekanan, produk dipanaskan ke dalam tungku dengan masih didukung serbuk penyangganya. Kelebihan
proses ini adalah mampu dibuat produk yang memiliki kompleksitas bentuk yang tinggi (Widyanto,
2009), tidak memerlukan cetakan khusus, tidak menggunakan tekanan untuk proses pembentukannya dan
pada beberapa kasus tidak memerlukan proses finishing.
IPS merupakan pengembangan sinter konvensional, karena pada sinter konvensional produk
dengan bentuk yang rumit tidak dapat dibuat. Hal ini dikarenakan selama proses penekanan serbuk logam
tidak mampu mengisi rongga cetakan, sehingga sulit mendapatkan kepadatan produk yang merata.
Secara teknis, geometri produk manufaktur semakin kompleks dengan variasi bahan semakin
beragam. Dengan proses konvensional seperti: pemesinan, pengecoran, pembentukan dan pengelasan,
tuntutan tersebut sulit diwujudkan (Widyanto, 2009). Hasil pengamatan sejak 25 tahun terakhir, produk
pasar cenderung meningkat dalam kompleksitas geometri, Metelnick (1991). Walaupun secara umum,
produk sintering memiliki karakteristik mekanik relatif rendah.
Penelitian ini akan difokuskan pada karakterisasi produk hasil proses IPS terhadap sifat fisik dan
mekaniknya.


2. Dasar Teori
 
Menurut Upadhyaya (2002); sintering dapat dianggap sebagai proses dimana suatu perakitan
partikel, dipadatkan dengan tekanan atau hanya dalam sebuah wadah, ikatan kimia diri menjadi sebuah
bentuk koheren di bawah pengaruh suhu tinggi di bawah titik leleh dari konstituen utama. Pemanasan
dapat dilakukan langsung atau dipanaskan kemudian (indirect) pada sekitar 70 s.d 90% dari suhu leleh
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐2 
     
Tek ni k
MESI N
bahan utamanya (ASM Vol.7, 1998). Proses pemanasan (holding time) biasanya dilakukan selama 1
hingga 1000 menit (Shimosaka dkk, 2003).
Tahapan proses sinter (gambar 1), mengacu pada perubahan fisik proses pembentukan ikatan
antar partikel berlangsung, German (1996); -tahap awal (Initial Stage), ditandai dengan penyusunan
kembali formasi leher, -tahap kedua (Intermediate Stage), pertumbuhan leher berlanjut, diikuti dengan
pertumbuhan butir dan pertumbuhan pori. Penyusutan secara maksimal terjadi pada tahap ini, -tahap
ketiga (Final Stage) ditandai dengan hilangnya struktur pori dan munculnya batas butir.

Gambar 1 Pertumbuhan ikatan mikrostruktur antarpartikel
selama proses sinter (German, 1996).

2.1. Densitas dan porositas
Densitas dapat diukur dengan rasio masa per volume spesimen menggunakan prinsip:
ρ =
V
w
………………………………………………………………..(1)
dengan; ρ: densitas spesimen, w: berat spesimen, V: volume spesimen.
Untuk pengukuran densitas aktual spesimennya, diukur dengan persamaan hukum Archimedes yaitu:
( )
fluida
fluida udara
udara
actual
W W
W
ρ ρ .

= … . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .…..(2)
dengan; ρ
aktual
: densitas aktual (gr/cm
3
), W
udara
: berat di udara (gr), W
fluida
: berat di dalam fluida (gr),
ρ
fluida
: densitas fluida (gr/cm
3
).
Sedangkan untuk mengukur porositas mengunakan persamaan:
Porositas = 1 −
theoritis
actual
ρ
ρ
… . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .………..….(3)
dengan; ρ
aktual
: densitas aktual (gr/cm
3
), ρ
theoritis
: densitas komposit/teoritis (gr/cm
3
).

2.2. Kekuatan Tarik
Untuk mengukur kekuatan mekanik diinterpretasikan dengan kuat tarik, spesimen dibuat
berdasarkan Standard Test Method for Tensile Properties of Plastics (ASTM D638). Kekuatan tarik
dihitung berdasarkan pembagian beban maksimum dengan luasan penampang lintang uji spesimen, dalam
satuan Pascal.
σ =
A
P
. . … . . . . . .… … … … … … … . . . . . . . . . . . … … … … .(4)
dengan; σ: kekuatan tarik (Pa), P: beban maksimum (N), A: luas penampang (m
2
).
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐3 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 3 Spesimen uji tarik (ASTM D638).


3. Metoda Penelitian
 
Penelitian ini dilakukan mengikuti diagram alir yang disajikan pada gambar 2.

Mulai
Pemesanan Serbuk Cu-Ni
Sieving Mesh 150
Serbuk Siap
Analisa dan Evaluasi
Simpulan dan Saran
Sieving Mesh 100
Foto Micro Bahan Serbuk
Persiapan Serbuk Besi Cor
Sintering
Suhu 870
o
C Suhu 900
o
C Suhu 930
o
C
Pengujian
Penyusutan Densitas Komposisi Tarik Konduktivitas
Selesai
Pembuatan Spesimen Cu-Ni
Foto Micro Spesimen

Gambar 3 Diagram alir penelitian.

3.1. Bahan dan Prosedur Penelitian
Bahan yang digunakan untuk menentukan parameter proses IPS adalah:
a. Serbuk nikel (Ni) dengan kemurnian ≥99,5%, ukuran partikel ± 10μm, tersedia dipasaran
dalam kemasan, spesifikasi tabel 1.
b. Serbuk tembaga (Cu) dengan kemurnian ≥99,7%, ukuran partikel <63μm/mesh>230 ASTM,
yang tersedia dipasaran dalam kemasan, spesifikasi tabel 2.
c. Serbuk besi cor (CI) ukuran partikel ±100μm (mesh > 150) dan ±150μm (mesh>100).
Penggunaan CI adalah sebagai serbuk penyangga yang berfungsi untuk; menstabilkan posisi serbuk
spesimen dan sebagai media penghantar panas pada proses sinter (Widyanto, 2009). Diperoleh dengan
menumbuk dan kemudian diayak sesuai standar ISO 13765-5 (2004) dari limbah pemesinan produk
coran.
Hasil observasi dengan mikroskop optik menunjukkan bentuk partikel CI, Cu, dan Ni adalah irregular,
seperti ditunjukkan Gambar 3.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐4 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 4 Serbuk logam yang digunakan pada proses IPS a)CI ±150μm, b)CI ±100μm, c)Cu< 63 μm,
d)Ni ± 10 μm (pembesaran 200x).

Tabel 1 Spesifikasi serbuk Ni 99
+
, merck (2011).
Data Nilai
Assay (complexometric) ≥ 99,5%
Ukuran partikel ±10μm
Titik leleh 1453
o
C
Densitas (pd 25
o
C) 8,9 gr/cm
3




Tabel 2 Spesifikasi serbuk Cu, merck (2011).
Kandungan Komposisi (%)
Assay (complexometric) ≥ 99,7 %
Ukuran partikel <63μm
Substances insoluble in nitric Acid ≤ 0,02 %
P (phosphorus) ≤ 0,001 %
Ag (Silver) ≤ 0,002 %
As (Arsenic) ≤ 0,0005 %
Fe (Iron) ≤ 0,005 %
Mn (Manganese) ≤ 0,001 %
Pb (Lead) ≤ 0,01 %
Sb (Antimony) ≤ 0,001 %
Sn (Tin) ≤ 0,01 %
Titik leleh 1083
o
C
Densitas (pd 20
o
C) 8,96 gr/cm
3




3.2. Prosedur penelitian

Serbuk besi cor dimasukkan kedalam wadah dari potongan pipa baja, setinggi ±20 mm. Untuk
membentuk spesimen, serbuk Cu/Ni ditaburkan ke dalam cetakan dari plat tipis berukuran 40x16x5 mm
yang diletakkan diatas serbuk penyangga di tengah wadah dengan posisi mendatar, diratakan tanpa
penekanan. Selanjutnya, wadah diisi serbuk besi cor hingga penuh, kemudian cetakan ditarik keluar,
sehingga posisi spesimen seperti gambar 5.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐5 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 5 Ilustrasi posisi spesimen.

Suhu pemanasan divariasikan pada; T
1
=870, T
2
=900, dan T
3
=930
o
C, waktu penahanan/Holding Time (t)
selama 240 menit. Pendinginan secara alami, dibiarkan dalam tungku hingga mencapai suhu kamar.
Spesimen kemudian dilakukan karakterisasi secara mekanis dan fisis.


4. Hasil dan Pembahasan

Karakterisasi spesimen meliputi; uji tarik, porositas/penyusutan, komposisi, densitas, dan
konduktivitas panas.

4.1. Uji Tarik
Patahan spesimen hasil uji tarik bahan Cu dan Ni ditunjukkan pada gambar 5, memperlihatkan
bidang patah spesimen membentuk garis lurus/datar. Hal ini menunjukkan, bahwa spesimen bersifat
getas/rapuh.

Gambar 6 Spesimen uji tarik Cu, suhu a)870
o
C, b)900
o
C, c)930
o
C, dan spesimen Ni,
suhu sinter d)870
o
C, e)900
o
C, f)930
o
C pada t=240 menit, ukuran serbuk
penyangga mesh 100.

Pada gambar 7 diperlihatkan, hasil uji tarik untuk spesimen Cu dengan CI ukuran mesh 100, pada T
1
=
6,27MPa, T
2
= 10,49MPa dan T
3
= 15,696Mpa. Kekuatan tarik spesimen mempunyai kecenderungan
meningkat dengan naiknya suhu sinter. Hal ini disebabkan terjadi ikatan antar-butir makin kuat, ikatan
antarbutir yang kuat menyebabkan serbuk tidak mudah terlepas sehingga massa yang hilang menjadi lebih
kecil. Sedang dengan CI ukuran mesh 150, T
1
= 12,31MPa, T
2
= 8,94MPa dan T
3
= 12,17Mpa,
kecenderungannya sulit diprediksi. Dalam kebanyakan kasus, ketika serbuk menjadi lebih halus maka
serbuk akan menjadi lebih kohesif dan sulit untuk dikendalikan (ASM Vol.7, 1998). Pada kondisi solid
Cu mempunyai kekuatan tarik sebesar 200 MPa.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐6 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 7 Grafik hubungan suhu sinter (
o
C) dengan kekuatan tarik (MPa)
spesimen Cu, pada t= 240 menit, dan suhu 870
o
C, 900
o
C, dan 930
o
C
ukuran serbuk penyangga mesh 100 dan 150.

Gambar 8 menunjukkan, untuk CI ukuran mesh 100 dan 150, semakin tinggi suhu sintering spesimen
mempunyai kecenderungan kekuatan tariknya meningkat, tetapi masih jauh lebih rendah dibanding
dengan nilai kekuatan tarik maksimal nikel padat, yaitu sebesar 480 MPa.


Gambar 8 Grafik hubungan suhu sinter (
o
C) dengan kekuatan tarik (MPa)
spesimen Ni, t= 240 menit, dan suhu 870
o
C, 900
o
C, dan 930
o
C,
ukuran serbuk penyangga mesh 100 dan 150.

4.2. Penyusutan
Hasil perhitungan menunjukkan, untuk ukuran serbuk penyangga 150μm, penyusutan yang terjadi
untuk spesimen Cu adalah sebesar 49% dan untuk spesimen Ni adalah sebesar 35,33%.

Gambar 9 Struktur mikro spesimen Cu suhu a) 870
o
C, b) 900
o
C, c) 930
o
C dan spesimen Ni, d)
870
o
C, e) 900
o
C, f) 930
o
C (pembesaran500x).
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐7 
     
Tek ni k
MESI N
Penyusutan volume spesimen yang terjadi sangat besar, fenomena penyusutan yang terjadi pada
proses sinter sangat dipengaruhi oleh tekanan kerja serbuk dan suhu sinter. Hal ini karena pengisian
serbuk kedalam cetakan tidak menggunakan kompaksi atau penekanan, sehingga densitas awal serbuk
rendah, disamping itu sifat mampu alir partikel tidak merata, sehingga serbuk tidak mampu mengisi celah
atau rongga pada separator. Untuk serbuk dengan densitas awal rendah (tekanan kerja rendah)
menghasilkan produk dengan penyusutan yang lebih besar daripada serbuk dengan densitas awal tinggi,
Hambir dan Jog (2000).

Gambar 9 memperlihatkan, pori-pori (warna hitam) tersebar pada permukaan spesimen, ukuran dan
jumlahnya semakin mengecil dengan adanya peningkatan suhu sinter, hal ini membuktikan bahwa, semakin
tinggi suhu sinter, porositas semakin berkurang. German (1994) mengatakan, serbuk tidak dapat mengisi ruang
secara efisien. Sebuah monosized bola akan mengisi wadah dengan kepadatan sekitar 60%, dan dengan getaran
mencapai kerapatan maksimum 64%. Bentuk partikel lain dan penerapan tekanan dapat memberikan kerapatan
yang lebih tinggi, tapi selalu ada porositas diantara partikel, semua struktur serbuk berpori.

4.3. Uji Komposisi
Uji komposisi yang dilakukan di lab. Kimia Analitik UGM Yogyakarta, hasilnya seperti pada tabel 2.

Tabel 3 Hasil uji komposisi.
Pengujian ke Komposisi Cu Komposisi Ni
1 72% 75%
2 73% 77%
3 72% 79%

Uji komposisi menunjukkan, komposisi spesimen berbeda dengan komposisi serbuk awal
sebelum di sinter;
• -Serbuk Cu, penurunan komposisi yang terjadi lebih besar, dari 99,7% menjadi sekitar 72%. Hal
ini disebabkan hilangnya sebagian kemurnian Cu akibat reaksi kimia Cu dengan oksigen
membentuk Cupri Oksida (CuO) selama proses.
• -serbuk Ni, terjadi penurunan komposisi dari 99,5% menjadi berkisar 77%. Hal ini disebabkan
reaksi kimia nikel dengan oksigen membentuk nikel oksida (NiO) selama proses sintering.

Reaksi kimiawi berlangsung cepat membentuk oksida, sehingga ketika proses sintering
berlangsung timbul reaksi kimia akibat pemanasan dalam tungku dan menyebabkan terjadinya
dekomposisi gas ke udara dalam bentuk evaporasi.

4.4 Uji Densitas
Spesimen uji densitas/kerapatan diambil dari patahan uji tarik dengan ukuran bervariasi. Hasilnya
ditunjukkan gambar 10.

Gambar 10 Grafik hubungan suhu sinter dengan kerapatan pada suhu 870, 900,
dan 930
o
C dengan t= 240 menit, CI ukuran mesh 100.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐8 
     
Tek ni k
MESI N
Gambar10 menunjukkan pengaruh suhu terhadap nilai densitas pada spesimen Cu, pada
T
1
=3,489 gr/cm
3
, T
2
=3,8075 gr/cm
3
, dan T
3
=4,78 gr/cm
3
. Terjadi peningkatan nilai kerapatan dengan
peningkatan suhu sinter, namun masih lebih rendah dibanding nilai kerapatan solid nya, yaitu 8,96
gr/cm
3
. Untuk spesimen Ni; T
1
=5,441 gr/cm
3
, T
2
=5,718 gr/cm
3
, dan T
3
=7,5 gr/cm
3
. kecenderungan
menunjukkan peningkatan dengan naiknya suhu sinter, tetapi masih lebih rendah dibandingkan harga
densitas nikel solid, yaitu 8,9 gr/cm
3
.
Secara umum, semakin besar suhu sinter, maka densitasnya semakin besar untuk ukuran serbuk
penyangga 150μm (mesh 100). Hal ini disebabkan ikatan antar atom yang terjadi semakin kuat dan rapat
dengan ukuran serbuk yang kecil maka celah antarpartikel juga mengecil.

4.5 Uji Konduktivitas Cu
Pengukuran konduktivitas panas spesimen sintering dibandingkan dengan spesimen
pembanding, hasilnya dirangkum pada Tabel 4 dan Tabel 5 berikut;

a. Spesimen Cu
Tabel 4 Hasil perhitungan rata-rata spesimen Cu sintering dan pembanding.
T
1
T
2
T
3
T
4
T
5
T
6

Spesimen 69 68 40 38 34 32
Pembanding 64 63 40 38 36 34


Gambar 11 Hasil uji konduktifitas spesimen Cu sintering dan pembanding

b. Spesimen Ni
Tabel 5 Hasil perhitungan rata-rata spesimen Ni sintering dan pembanding.
T1 T2 T3 T4 T5 T6
Spesimen 74 73 42 40 36 33
Pembanding 68 67 42 40 37 35


Gambar 12 Hasil uji konduktifitas spesimen Ni sintering dan pembanding

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐9 
     
Tek ni k
MESI N
Dari gambar 11 dan gambar 12, diperoleh kesamaan, yaitu; hasil perubahan suhu yang sangat
besar antara T
2
dan T
3
dibanding T
1
dan T
2
, T
3
dan T
4
, serta T
5
dan T
6
. Hal ini disebabkan ada sesuatu
yang mempengaruhi pengukuran suhu antara T
2
dan T
3
. Penyebabnya antara lain pengaruh suhu
lingkungan, isolator yang menahan kebocoran panas kurang baik, kurang sempurnanya benda uji dan
spesimen uji menempel pada heater.

5. Kesimpulan
a. Kekuatan tarik spesimen Cu dan Ni dipengaruhi oleh perubahan suhu sintering, kekuatan patah
maksimum meningkat dengan kenaikan suhu sintering. Walaupun masih jauh dibawah nilai
kekuatan tarik kondisi solid, proses infiltrasi diperlukan guna meningkatkan nilai kekuatan tarik
produk sintering.
b. Adanya porositas di permukaan spesimen mengakibatkan struktur tidak terlihat.
c. Penyusutan yang terjadi sangat besar sebagai akibat pendeposisian serbuk tanpa tekanan
(pressureless).
d. Nilai densitas dipengaruhi oleh suhu sintering, perbedaan nilai densitas spesimen dibanding dengan
teori disebabkan terjadinya penurunan komposisi.
e. Perubahan komposisi akibat interaksi kimia serbuk spesimen dengan serbuk penyangga.
f. Hasil uji distribusi suhu dan perhitungan nilai konduktivitas panas ada perubahan yang disebabkan
pengaruh suhu lingkungan dan ketidaktelitian cara dan alat uji.


Daftar Pustaka
[1]. ASM Handbook vol.7 (1998): Powder Metal Technologies and Applications, ASM
Internasional.
[2]. German, R.M., (1994), Powder Metallurgy Science, 2
nd
Edition, The Pennsylvania State
University.
[3]. German, R.M., (1996), Sintering Theory and Practice, 2
nd
Edition, John Wiley and Sons, Inc.
NY.
[4]. Hambir, S. and Jog, J.P. (2000), “Sintering of Ultra High Molecular Weight Polyethylene”,
Bull. Mater. Sci., vol. 23, No.3, pp. 221-226
[5]. ISO 13765-5 (2004): Refractory mortars - Part-5 Determination of grain size distribution
(sieve analysis), Ed. 1, ISO Org.
[6]. Metelnick, J. (1991), “How today’s model/prototype shop helps designers use RP to full
advantage”, Society of Manufacturing Engineers Technical Paper, MS91-475Palm, William,
(1998), Rapid Prototyping Techniques, Penn State Learning Factory.
[7]. Shimoska, A., Ueda, Y., Shirakawa, Y. and Hidaka, Y., (2003), Sintering Mechanism of Two
Sphere Forming a Homogeneous Solids Solubility Neck, KONA, No. 21, 210-233.
[8]. Upadhyaya, G.S. (2002): Powder Metallurgy Technology, Cambridge International Science
Publishing, England.
[9]. Widyanto, S.A. (2009): Proses Sinter-Deposisi Multi Material (MMD-Is), Badan Penerbit
Universitas Diponegoro, Semarang.
[10]. Merck, Spesifikasi Serbuk Cu http://www.merck-chemicals.com/is-
bin/INTERSHOP.enfinity/WFS/Merck-ID-Site/id_ID/-/IDR/ViewPDF-
Print.pdf?RenderPageType=ProductDetail&CatalogCategoryID=xZOb.s1L72AAAAEWDeEf
VhTl&ProductUUID=Mmab.s1OomAAAAEZt.480YvV&PortalCatalogUUID=t02b.s1LX0M
AAAEWc9UfVhTl diakses 15 November 2011.
[11]. Merck, Spesifikasi Serbuk Ni http://www.merck-chemicals.com/is-
bin/INTERSHOP.enfinity/WFS/Merck-ID-Site/id_ID/-/IDR/ViewPDF-
Print.pdf?RenderPageType=ProductDetail&CatalogCategoryID=&ProductUUID=Klqb.s1OOf
oAAAEZxZE80YwF&PortalCatalogUUID=sTqb.s1OiwAAAAEX_DYdBYP2 diakses 15
November 2011.




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐10 
     
Tek ni k
MESI N
Analisis Kerusakan Internal Rocker-Arm Mesin Diesel Kapal
Motor Surya Sentosa


Halim Rusjdi
*
, Rusjdi Hadjerat
*
, Sahlan
**

*
Jurus Teknik Mesin-Prog.DIII, STT-PLN
**
Jurusan Teknik Mesin, S-1, STT-PLN
Email: sahlan_1956@yahoo.com.id

Abstrak

Analisis Kerusakan Internal Rocker-Arm Mesin Diesel Kapal Motor Surya Sentosa pada dasarnya
merupakan hasil penelitian dari studi kasus perusahaan pelayaran Pt Gesury Loyd, dimana salah satu
kapalnya, yaitu Kapal Motor Surya Sentosa, pada sisi dalam (internal) rocker-arm bagian tengah,
Nomor 3, pada mesin Dieselnya mengalami kendala sering patah pada kurun waktu antara dua sampai
dengan tiga tahun, bahkan terkadang baru delapan bulan sudah patah. Dari hasil kajian akademis dan
studi pustaka serta fakta hasil penelitian dilaboratorium pada rocker-arm, suspektansi (dugaan
sementara) kegagalan/kerusakan adalah jenis retak dalam (internal crack) . Ini dimungkinkan karena
mesin bekerja pada daerah kecepatan (putaran) kritis (critical speed atau whirling speed). Dimana
pada suatu mesin bila umur mesin (life time) sudah tercapai atau mesin sudah terlau lama beroperasi
(long-long time of operation) maka mesin akan mengalami penurunan (kemampuan) kecepatan kritis.
Pada kecepatan kritis tertentu sebuah poros atau rotor diketahui memberikan getaran lateral yang
berlebihan, akibatnya bantalan-bantalan poros atau rocker-armnya akan mengalami kerusakan atau
patah. Dan dari hasil analisis metalugrafi pada foto mikroskopis, yang mempergunakan SEM (Scanning
Electron Microscope) bahwa kerusakan internal rocker-arm termati dengan jelas adanya pertumbuhan
retak pergelinciran pita (slip band crack growth). Kerusakan ini bisa terjadi pada sisi internal rocker-
arm karena struktur-struktur mikro atau struktur dasarnya mengalami tegangan mekanis berulang-ulang
akibat getaran yang muncul pada kecepatan kritis.

Kata Kunci: Kerusakan internal (internal crack), Rocker-Arm, retak pergelinciran pita (slip
band crack),

1. Pendahuluan
Seiring dengan berkembangnya dunia industri, khususnya industri logam, dituntut adanya
kualitas atau mutu produk logam yang baik. Era globalisasi saat ini, kebutuhan akan permintaan produk
yang terbuat dari logam, seperti produk industri rumah tangga, industri otomotif, industri mesin kapal
laut, industri mesin pesawat terbang dan industri pemasok tenaga listrik terus meningkat dalam kuantitas
dan kualitasnya.
Demikian halnya dengan Kapal Surya Sentosa milik Baruna Shipping Line untuk perawatan dan
pemeliharaan mesin-mesinya tetap berpedoman pada standar kualitas sesuai dengan Standar Operasi kerja
atau SOP (Standard of Operation) yang sudah ditetapkan. Namun begitu sering ditemui banyak kendala,
seperti pengadaan suku cadang (spare parts) dari produsen atau pabrikan yang sering tidak diperoleh.
Sebagai contoh rocker arm pada mesin penggerak untuk mesin (utama) kapalnya. Karena sudah pesan
beberapa waktu namun barang tidak ada, akibatnya rocker arm yang sudah pada kondisi rusak tetap
dipergunakan. Akibatnya terjadi kerusakan lanjutan pada bagian-bagian mesin lainnya. Hal lain yang
sering ditemui suku cadang yang sudah langka maka dibuat sendiri dengan memesan pada bengkel mesin
bubut, yang tentunya tidak memenuhi kebutuhan standar mutu.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐11 
     
Tek ni k
MESI N
Dari pertimbangan adanya masalah perawatan yang timbul diatas, Baruna Shiping Line berinisiatif
untuk melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk melakukan penelitian dasar bagaimana masalah
perawatan mesin pada kapal-kapalnya dapat dibantu solusinya. Rocker arm poros mesin penggerak pada mesin
penggerak utama kapal yang mempunyai kapasitas daya 100 hp dapat dibantu untuk diteliti. Maka dilakukan
penelitian dasar yang pertama yaitu menganalisis kerusakan dan proses pembuatannya. Dan rocker arm yang
diteliti terindikasi bahwa rocker arm proses produksinya dengan cetak-tempa (cast of forging). Ini teramati dan
terindikasi dari hasil analisis metalurgrafi dan analisis kimianya.
Harapan besar tentunya tertumpu pada hasil penelitian dasar ini, apakah mungkin kalau proses
pembuatan rocker arm ini dibuat sendiri sesuai dengan spesifikasi aslinya, yaitu jenis bahan (dari analisis
kimia), dan proses pembuatannya (dari hasil analisis metalurgrafi), serta spesifikasi standar yaitu nilai
kekerasan bahan dan mesin beroperasi dibawah batas kecepatan kritisnya.

2. Studi Pustaka
2.1. Kecepatan Kritis
Pada kecepatan tertentu sebuah poros rotor atau rotor diketahui memberikan dampak menimbulkan
getaran lateral yang berlebihan. Kecepatan sudut dari suatu poros dimana hal ini terjadi disebut dengan
kecepatan kritis atau kecepatan pusaran kritis (critical speed or whirling speed). Pada suatu kecepatan kritis,
lenturan atau lendutan (deflection) dari poros menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan perubahan bentuk
(deformasi) yang permanen atau strukturnya rusak atau pecah. Sebagai contoh poros nok pada mesin otomotif
yang fungsinya mengatur sistem buka-tutup pada katup isap dan buang, dimana diantara dua nok ditumpu pada
sisi-sisi ujungnya oleh dua buah bantalan, yang disebut rocker arm. Apabila putaran mesin terlalu tinggi dan
tercapai kecepatan kritisnya, maka akibatnya poros nok akan lentur.
Lenturan poros nok yang (terlalu) besar yang terjadi pada kecepatan kritis dapat menyebabkan
reaksi rocker arm (bantalan) yang besar dan dapat menyebabkan kerusakan pada rocker arm, atau
kerusakan pada struktur dari pendukung rocker arm. Gejala ini dapat terjadi bahkan pada rotor-rotor yang
telah dibuat seimbang secara teliti sekalipun. Sebuah mesin tidak akan pernah dapat beroperasi dalam
suatu waktu yang lama tertentu pada suatu kecepatan yang dekat dengan kecepatan kritis. Selanjutnya
kita akan mempelajari mengapa gejala ini terjadi dan bagaimana sebuah poros atau rotor dapat dirancang
sehingga kecepatan kritisnya tidak akan sama dengan kecepatan operasinya.

(a). Massa M piringan terletak (b). dan (c). Akibat gaya sentrifugal Fc menyebabkan
diantar bantalan poros melentur
Gambar 1: Lendutan poros yang beroperasi pada kecepatan kritis

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐12 
     
Tek ni k
MESI N
Pada Gambar 1a. suatu lempeng atau piringan dengan massa M yang terletak diantara dua
bantalan pada kedua sisinya. Dalam pembahasan berikut ini, kita akan menganggap bahwa massa dari
poros diabaikan dibandingkan dengan massa dari lempeng itu sendiri. Titik O terletak pada sumbu poros,
dan G adalah titik pusat massa dari piringan. Selanjutnya jarak e adalah ekssentrisnya. Dalam Gambar 1b,
porosnya berputar dan gaya sentrifugal
c
F bekerja secara radial keluar melalui G menyebabkan poros
membengkok seperti ilustrasi gambar. Gaya sentrifugal adalah sama dengan massa dari piringan dikalikan
dengan percepatan normal dari titik G, karena percepatan normal sama dengan jari-jari putaran kali ω
2
,
atau:


2
) ( ω e y M MA F
c
+ = = (1)

Dimana ω adalah kecepatan putar poros dalam radian per detik dan y adalah lenturan atau
defleksi dari poros dimana lempeng berada. Poros tersebut berperilaku seperti sebuah pegas dan untuk
lenturan y dia akan melakukan gaya perlawanan sebesar , dimana k adalah konstatnta pegas dari poros
yang dapat membengkok. Untuk suatu keadaan seimbang gaya lawan tersebut akan sama dengan gaya
sentrifugal, dan oleh karena itu:


2
) ( ω e y M ky + =
Dimana:

2
2
) / ( ω
ω

=
M k
e
y (2)




Gambar 2: Lenturan (y) merupakan fungsi kecepatan putar (ω)

Dalam Gambar 2, suatu kurva dari garis utuh adalah merupakan gambaran dari persamaan (10).
Dari persamaan tersebut kita lihat bahwa pada waktu ω = 0, y = 0, dan pada waktu M k /
2
= ω ,
penyebutnya menjadi nol dan y menjadi tak terhingga. Harga ω ini dikenal sebagai kecepatan kritis,
n
ω
(critical speed
n
ω ) dan karena itu:


M
k
n
= ω (3)
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐13 
     
Tek ni k
MESI N
Dimana M adalah massa lempengan. Juga kita melihat bahwa untuk harga-harga
n
ω ω >
penyebut dari persamaan (10) menjadi negatif, dan selanjutnya y menjadi negatif seperti ditunjukkan
oleh cabang sebelah kanan dari kurva garis utuh. Selanjutnya kita melihat dari persamaan (10) bahwa
pada waktu ω menjadi sangat besar, y akan menuju e − .


2.2. Kegagalan Lelah
Kegagalan lelah (fatigue failures) benda (logam) benda kerja pada mesin adalah kegagal atau
kerusakan permanen akibat beban dinamik yang berulang-ulang kurun waktu tertentu. Lelah (fatigue) yang
dipengaruhi oleh regangan siklus (yang berulang-ulang), berbeda dengan lelah yang dikendalikan oleh
tegangan siklus. Pembebanan siklus yang dikendalikan oleh regangan dijumpai pada siklus termal, disini
komponen akan mengalami pengembangan dan kontraksi sebagai akibat berubahnya suhu atau
pelengkungan bolak-balik diantara perpindahan tetap. Regangan plastik setempat pada takikan yang
dibebani tegangan atau regangan siklus menghasilkan kondisi yang dikendalikan oleh regangan dekat akar
takik akibat efek perbatasan oleh massa disekitarnya yang terdiri dari bahan yang dideformasi secara elastik.
Karena deformasi plastik tidak sepenuhnya mampu balik atau perubahan bentuk permanen,
perubahan struktur terjadi selama regangan siklus dan hal ini selanjutnya akan menghasilkan perubahan
dalam respon tegangan-regangan. Bergantung pada keadaan awal, bahan dapat mengalami pengerasan
siklus, pelunakan siklus atau tetap stabil selama siklus tersebut. Kemungkinan juga ketiga faktor tersebut
terjadi dalam bahan tadi bergantung pada keadaan awal bahan dan kondisi pengujian.
Penelitian mengenai perubahan-perubahan struktur dasar yang terjadi apabila logam mengalami tegangan
berulang, secara tepat talah mebagi proses kelelahan menjadi tahan berikut:
1. Permukaan pembentukan retak-termasuk pembentukan awal kerusakan lelah, yang dapat
dihilangkan dengan pelunakan/anil termal yang sesuai
2. Pertumbuhan retak pergelinciran pita (slip band crack growth), melibatkan pertumbuhan lebih
lanjutretakan awal pada bidang dimana dengan tegangan geser yang tinggi. Tahap ini sering
disebut sebagai pertumbuhan retak tahap I
3. Perubahan retak pada bidang-bidang yang tegangan tarik tinggi, meliputi pertumbuhan retak
pada arah tegak lurus tegangan tarik maksimum. Biasanya dinamakan pertumbuhan retak tahap
II
4. Kegagalan ulet puncak (ultimate), terjadi apabila retak mencapai panjang yang cukup besar,
sedemikian hingga penampang yang tersisa, tidak mampu menahan beban yang ada.

Perbandingan relatif siklis hingga terjadi kegagalan pada setiap tahapan, bergantung pada
kondisi pengujian dan keadaan bahan. Akan tetapi, pada umumnya retak lelah mulai terbentuk sebelum
10% ketahanan total benda uji yang dilampaui. Tentu saja akan timbul kesulitan untuk menentukan
kapan suatu pergelinciran pita bertambah dalam, yang selanjutnya dianggap keretakan atau kerusakan.
Pada umumnya perbandingan siklus hingga terjadi kegagalan yang termasuk, pertumbuhan retak Tahap II
pada kelelahan siklus rendah adalah lebih besar. Sedangkan pertumbuhan retak tahap I mencakup bagian
besar jumlah siklus pada fatik tegangan-regangan rendah siklus tinggi. Jika tegangan tariknya tinggi
seperti kelelahan yang terjadi pada benda uji bertakik tajam, perambatan retak Tahap I mungkin tidak
teramati sama sekali.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐14 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 3. Teori slip menurut konsep Wood, deformasi pergelinciran halus menjadi retakan lelah

Gambar 3 memperlihatkan konsep Wood mengenai perkembangan deformasi pergelinciran halus
menjadi retakan lelah. Gambar tersebut secara skematis memperlihatkan struktur halus pita gelincir pada
pembesaran yang mampu dicapai oleh mikroskop elektron. Gambar 4, pada awal siklus pembebanan,
ujung retakannya tajam (Gambar 4a). dengan diberikan beban tarik, takik ganda pada ujung retak
mengalami pemusatan (concentrate) pergelinciran kebidang yang membuat sudut 45
o
dengan bidang
retakan (Gambar 4b). Sejalan dengan pelebaran retakan hingga hingga harga maksimum (Gambar 4c),
retakan tersebut bertambah panjang akibat pergeseran plastik dan pada saat yang sama retak menjadi
tumpul. Apabila bebannya berubah menjadi beban tekan, arah pergelinciran pada daerahujung berbalik
(Gambar 4d). Kedua permukaan retakan saling berinteraksi dan permukaan retakan baru yang terbentuk
oleh beban tarik ditekan kebidang retakan (Gambar 4e), dimana sebagian retakan tertekuk, hingga
membentuk ujung retakan yang tajam. Retak yang tajam ini kembali, kemudian akan merambat,
mengalami penumpulan lagi pada siklus tegangan berikutnya

Gambar 4. Penumpukan slip plastis pada perambatan retakan lelah tahap II

3. Metodologi Penelitian

Pada kegiatan penelitin untuk menganalisis kerusakan internal rocker-arm bertumpu pada dua
aspek kegiatan. Pertama kajian pada hasil studi pustaka, yaitu mempelajari suspektasi kerusakan internal
rocker-arm bisa terjadi karena akibat mesin Diesel beroperasi pada kecepatan kritis, dimana pada kajian
studi pustaka diketahui bahwa kecepatan kritis pada poros atau rotor, lenturan atau lendutan (deflection)
dari poros menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan perubahan bentuk (deformasi) yang permanen
atau strukturnya rusak atau pecah. Dan hasil kajian dari studi pustaka diketahui bahwa kerusakan atau
kegagalan lelah (fatigue failures) benda (logam) benda kerja pada mesin adalah kegagalan atau kerusakan
permanen akibat beban dinamik yang berulang-ulang kurun waktu tertentu. Kedua, kegiatan peneltian
dilaboratorium untuk membuktikan kebenaran dari fakta teori (kajian studi pustaka), benar adanya bahwa
analisis metalugrafi dari foto mikroskopis menunjukkan kerusakan internal rocker-arm akibat dari beban
(dinamis) siklis yang terjadi pada kecepatan kritis, dan terjadi retak pergelinciran pita.


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐15 
     
Tek ni k
MESI N
4. Hasil dan Pembahasan

Gambar 5 bentuk rocker-arm yang sudah dipotong (dibelah) untuk mengamati dengan seksama
bentuk geometrisnya. Secara visual dari ujung dan pangkal rocker memperlihatkan bentuk gejala
perubahan geometris atau kerusakan internal yang tidak simetris atau disebut kegagalan lelah (fatigue
failures) karena beban dinamis atau siklis yang berulang-ulang. Atau jenis kegagal atau kerusakan
permanen akibat beban dinamik yang berulang-ulang pada kurun waktu tertentu. Dan jenis lelah (fatigue)
ini sangat yang dipengaruhi oleh regangan siklus (yang berulang-ulang). Ini tentunya berbeda dengan
lelah yang dikendalikan oleh tegangan siklus.
Perubahan bentuk geometris ini secara metalugrafi dapat diamati dari hasil pengamatan SEM,
dimana dari hasil foto ini menunjukkan kerusakan internal rocker arm seperti pada Gambar 6. Ini
tentunya sesuai dengan konsep Wood (Gambar 3) mengenai perkembangan deformasi pergelinciran
halus menjadi retakan lelah. Kesesuai Gambar 6 dan Gambar 3 secara skematis memperlihatkan struktur
halus pita gelincir pada pembesaran yang mampu dicapai oleh mikroskop elektron (SEM).
Rusak lelah internal rocker arm ini lebih dimungkinkan disebabkan oleh adanya lenturan poros
nok yang (terlalu) besar yang terjadi pada kecepatan kritis. Akibatnya, ini dapat menyebabkan reaksi
rocker arm (bantalan) yang besar dan dapat menyebabkan kerusakan pada rocker arm hingga patah, atau
kerusakan pada struktur dari pendukung rocker arm. Gejala ini dapat terjadi bahkan pada rotor-rotor yang
telah dibuat seimbang secara teliti sekalipun. Sebuah mesin tidak akan pernah dapat beroperasi dalam
suatu waktu yang lama tertentu pada suatu kecepatan yang dekat dengan kecepatan kritis. Selanjutnya,
tentu kita akan mempelajari gejala ini terjadi dan bagaimana untuk selanjutnya membuat suatu pedoman
atau rancangan operasi kerja bagaimana poros dan roker arm dapat dirancang untuk bekerja atau
beroperasi supaya kecepatan kritisnya tidak akan sama dengan kecepatan operasinya. Mesin bekerja
diabwah putaran kritsnya sehingga rocker-arm tidak mengalami kerusakan internal.


Gambar 5 :Sampel rocker-arm yang sudah dipotong (dibelah)

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐16 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 6.: Konfigurasi kerusakan lelah internal rocker-arm (SEM)

5. Kesimpulan
Kerusakan internal pada rocker-arm, mesin Diesel kapal motor surya sentosa milik maskapai
pelayaran Pt. Gesuri Loyd secara teori dari studi pustaka dan fakta laboratorium disebabkan oleh:
- Getaran yang disebabkan karena mesin bekerja pada operasi kecepatan kritis (critical speed or
whirling speed). Pada kecepatan kritis diketahui memberikan dampak menimbulkan getaran lateral
yang berlebihan. Pada suatu kecepatan kritis, lenturan atau lendutan (deflection) dari rocker-arm
menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan perubahan bentuk (deformasi) internal yang permanen
atau strukturnya rusak atau pecah.
- Fakta laboratorium dari hasil foto metalugrafi yang menggunakan SEM, ujung dan pangkal rocker
memperlihatkan bentuk gejala perubahan geometris atau kerusakan internal yang tidak simetris atau
disebut kegagalan lelah (fatigue failures) karena beban dinamis atau siklis yang berulang-ulang.
Atau jenis kegagal atau kerusakan permanen akibat beban dinamik yang berulang-ulang pada kurun
waktu tertentu. Dan jenis lelah (fatigue) ini sangat yang dipengaruhi oleh regangan siklus (yang
berulang-ulang). Ini tentunya berbeda dengan lelah yang dikendalikan oleh tegangan siklus.

Daftar Pustaka
[1] Djaprie, Sriati, Metalurgi Mekanik (terjemahan: Mechanical Metallurgy, Dieter George E.), ed.6,
Penerbit Erlangga, Jakarta, 2006.
[2] Setiyobakti, Kinematika dan Dinamika Teknik (terjemahan:Kinematics and Dynamics of Machines,
Martin, George H.), Penerbit Erlangga, Jakarta, 2008
[3] Saito, Shinroku, dan Surdia,Tata, Pengetahuan Bahan Teknik, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 2008
[4] Laird, C., Fatigue Crack Propagation, ASTM Spec.Tech Publ., 415, halaman 131-168, 2005.











ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐17 
     
Tek ni k
MESI N
Pengaruh Temperatur Pemanasan Terhadap Koefisien
Perpindahan Massa Difusi (Diffusivity) Karbon Pada
Proses Pack Carburizing Baja AISI 3115
 
Putu Hadi Setyarini, Ika Istiana, Slamet Wahyudi
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. MT Haryono No.167, Malang, 65145,Indonesia
E-mail: putu.hadi@yahoo.com

Abstrak
Perpindahan massa pada benda padat dinyatakan dalam bentuk koefisien difusi (diffusivity).
Koefisien difusi ini dapat diamati dari parameter perubahan konsentrasi zat pada benda padat
maupun perubahan massanya. Pada penelitian ini dilakukan perhitungan nilai koefisien difusi
pada proses pack carburizing baja AISI 3115. Koefisien difusi didapatkan dengan menerapkan
metode perhitungan direct flux pada hukum I Fick. Benda kerja yang dipakai adalah baja AISI
3115 dengan diameter 22 mm dan tebal 20 mm. Temperatur divariasikan dari 800-950
o
C.
Holding time dikontrol sebesar 5 jam dan mesh ukuran butir carburizer dibedakan antara 60-
100µm dan 500-560µm. Data yang diamati pada penelitian ini adalah perubahan massa (∆m),
perubahan konsentrasi (∆C) dan kedalaman difusi (r) karbon sebelum dan sesudah perlakuan
pack carburizing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur pemanasan,
maka koefisien difusi (diffusivity) karbon akan semakin meningkat. Koefisien difusi tertinggi
pada carburizer berukuran 60-100µm adalah 1.12322E-09, sedangkan pada carburizer
berukuran 500-560µm adalah 3.81387E-11. Hal ini menunjukkan carburizer dengan mesh lebih
kecil mempunyai koefisien difusi yang lebih besar daripada mesh yang lebih besar.
Kata Kunci: Koefisien difusi, pack carburizing, hukum Fick, baja AISI 3115
1. Pendahuluan
Perpindahan massa didefinisikan sebagai suatu proses perpindahan partikel atau kuantitas fisik
yang disebabkan oleh adanya perbedaan konsentrasi dalam suatu campuran (Incropera,1992). Sama
halnya dengan perpindahan panas yang terjadi akibat adanya perbedaan suhu sebagai gaya pendorong,
maka pada peristiwa perpindahan massa gaya pendorongnya berupa perbedaan konsentrasi.
Pada industri material pemanfaatan prinsip perpindahan massa terjadi pada perlakuan carburizing untuk
mengeraskan permukaan material. Carburizing merupakan proses penambahan unsur karbon pada baja
karbon rendah secara difusi sehingga karbon dari media carburizing akan masuk ke permukaan baja dan
meningkatkan kadar karbon pada permukaan baja karbon rendah tersebut (Budinski,1999).

Difusi karbon pada Pack carburizing sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor seperti temperatur
pemanasan, waktu penahanan (holding), ukuran serbuk carburizer, katalis dan media pendingin.
Temperatur pemanasan akan mempengaruhi energi aktifasi atom karbon sehingga memungkinkan atom
karbon berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Karena kadar karbon di lingkungan lebih tinggi
daripada kadar karbon di permukaan baja, maka atom karbon akan berdifusi masuk ke dalam baja.
Sedangkan gerak perpindahan atom karbon ke dalam baja akan mempengaruhi flux massa karbon.
Berdasarkan hukum Fick (Fick’s law) tentang keseimbangan flux massa dan gradient konsentrasi, Hal ini
akan berpengaruh juga pada koefisien difusi (diffusivity) atom karbon.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur pemanasan terhadap koefisien
perpindahan massa difusi (diffusivity) karbon pada proses pack carburizing baja AISI 3115. Penelitian tentang
koefisien perpindahan massa difusi pada proses carburizing telah dilakukan oleh beberapa peneliti.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐18 
     
Tek ni k
MESI N
Dr. Smith (1951) melakukan eksperimen pada sebuah pipa besi yang ditempatkan dalam suatu
lingkungan isotermal dengan suhu 1000
o
C. Gas carburizing ditiupkan ke dalam pipa ketika gas
decarburizing mengalir ke luar dari pipa. Berdasarkan teknik analisa mikro, dia mendapatkan konstanta
difusi. Hasil tersebut sesuai dengan analisa yang dilakukan oleh Adolph Fick.

Sedangkan penelitian yang lain dilakukan oleh Karabelctchikova (2007) pada disertasinya yang
berjudul Carbon Diffusion in Steel- A Numerical Analysis Based On Direct Flux Integration. Pada
penelitiannya ini dia menggunakan pendekatan analisis numerik pada persamaan fluks difusi dengan
metode finite difference yang dihitung dan disimulasikan ke dalam program Matlab. Metode ini
mendapatkan hasil yang cukup akurat dan dapat diterapkan dalam penghitungan koefisien difusi karbon
berdasarkan gradien konsentrasi karbon.


2. Tinjauan Pustaka
Perpindahan massa/difusi adalah gerakan molekul-molekul atau fluida yang disebabkan adanya
perbedaan atau gradien konsentrasi, molekul tersebut berpindah dari daerah berkonsentrasi tinggi menuju
konsentrasi rendah (Treybal,1980).

Ditinjau berdasarkan perspektif atom, difusi merupakan perpindahan atom dari satu kisi ke kisi
yang lain. Kenyataannya, atom dalam material padat bergerak secara konstan, berganti posisi secara
cepat. Gerakan tersebut dapat terjadi apabila terpenuhi dua kondisi berikut: 1) Adanya kisi kosong yang
berdekatan, dan 2) Atom tersebut harus mempunyai energi (aktivasi) yang cukup untuk memutuskan
ikatan dengan atom tetangganya yang kemudian menyebabkan terjadinya distorsi antara beberapa kisi
selama proses perpindahan tersebut. Adapun gerakan yang paling sering terjadi pada difusi logam adalah
difusi vacancy dan difusi intersisi.


Gambar 1: Difusi vacancy Gambar 2: Difusi intersisi

Pada kondisi steady-state diffusion, fluks difusi sebanding dengan gradien konsentrasi dan
gradien konsentrasi tidak berubah mengikuti perubahan waktu. Keadaan ini disebut juga dengan Hukum
1 Fick (Fick’s first law).
dx
dC
D J − = (1)
Dimana J adalah fluks difusi, D adalah koefisien difusi, C adalah konsentrasi dan x adalah jarak
difusi. Sedangkan tanda (-) menandakan bahwa fluks difusi bergerak berlawanan arah dengan arah
gradien konsentrasi.

Karabelctchikova (2007) mengembangkan rumus hukum Fick ke dalam persamaan finite
different dengan mengaplikasikan perhitungan direct flux sehingga diperoleh persamaan berikut:
(2)

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐19 
     
Tek ni k
MESI N
r
C
D
t A
m


− =
Δ
.
Dimana ∆m adalah perbedaan massa dan A adalah luasan difusi. Dari persamaan (2) dapat
diketahui bahwa besarnya fluks difusi sebanding dengan perubahan massa per luasan difusi. Fluks difusi
sendiri merupakan suatu besaran dengan fungsi waktu. Apabila persamaan ini dipadukan dengan hukum
Fick, maka akan didapatkan persamaan berikut:


(3)


Karena pada penelitian ini menggunakan spesimen berbentuk silinder, maka nilai x diganti
dengan r. Sehingga untuk menentukan besarnya koefisien difusi (D) dapat digunakan persamaan yang
lebih sederhana seperti di bawah ini:

(4)


Pada proses difusi, temperatur mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap koefisien
maupun laju difusi. Misalnya, pada self difusi Fe ke dalam α-Fe, koefisien difusi meningkat sekitar 6 digit
(dari 3,0 x 10
-21
menjadi 1,8 x 10
-15
m
2
/s) pada peningkatan temperatur mulai 500
o
C menjadi 900
o
C.

Pengaruh temperatur terhadap koefisien difusi dijelaskan melalui rumus matematis berikut:






− =
RT
Qd
Do D exp (5)
Dimana D
o
adalah koefisien difusi pre-eksponensial,Q
d
adalah energi aktivasi pada difusi, R adalah
Konstanta gas, 8,31 J/mol-K dan T adalah temperatur mutlak (K).

Pada penelitian ini, pengamatan
terhadap koefisien difusi dilakukan pada
proses difusi karbon ke dalam baja melalui
proses pack carburizing.
Pack carburizing merupakan salah satu
perlakuan dari surface hardening yang
dilakukan dengan cara menambahkan
karbon dalam bentuk padat ke dalam baja
yang berkadar karbon rendah dengan
mekanisme difusi. Proses difusi karbon ini
terjadi karena adanya gradien konsentrasi
antara lingkungan yang kaya karbon
dengan karbon yang terkandung pada baja.
Konsentrasi karbon pada lingkungan lebih
besar dripada konsentrasi karbon pada baja
sehingga terjadi proses pemindahan atom
karbon aktif dari lingkungan ke dalam baja.

Pada proses ini benda kerja
dimasukkan ke dalam kotak yang terbuat
dari baja dan berisi carburizer. Kotak tersebut dilas dengan bagian atasnya terbuka dan diberi sebuah
flens atau penyekat dengan tujuan untuk meminimalkan aliran gas yang keluar dari kotak selama proses
carburizing berlangsung. Kotak diisi bahan carburizer bubuk atau butiran-butiran arang yang diaktifkan
dengan bahan-bahan kimia seperti: kalsium karbonat, barium karbonat atau sodium karbonat untuk
membantu pembentukan karbon monoksida (CO).

Proses pack carburizing memiliki tiga tahapan sama seperti perlakuan panas fisik lainnya. Proses
tersebut meliputi heating (pemanasan), holding (penahanan) dan cooling (pendinginan).
= ‐D
x
C


 
Gambar 3: Proses pack carburizing
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐20 
     
Tek ni k
MESI N
Proses pack carburizing dilakukan pada baja AISI 3115. Baja ini merupakan jenis baja paduan
rendah, menurut standarisasi AISI (American Iron and Steel Institute) baja AISI 3115 merupakan baja
paduan yang mengandung unsur-unsur paduan 0,13-0,18% C; 0,15-0,25% Si; 0,4-0,6% Mn, 0,55-0,75%
Cr; 1-1,2% Ni. Baja paduan ini sebagian besar digunakan sebagai bahan pembuat komponen-komponen
otomotif dan konstruksi.

3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode experimental research dengan variabel-variabel sebagai berikut:
1. Variabel bebas
Temperatur: 800
o
C, 850
o
C, 900
o
C dan 950
o
C.
2. Variabel terikat
Koefisien perpindahan massa difusi (diffusivity)
3. Variabel terkontrol
-Komposisi carburizer adalah 90% arang tempurung kelapa dan 10% barium karbonat (BaCO
3
)
-Holding time selama 5 jam
-Media quenching yang digunakan oli SAE 30
- Ukuran serbuk carburizer: mesh 60-100µm dan mesh 500-560µm

Prosedur pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memotong spesimen dengan dimensi d=22 mm dan tebal 20 mm sebanyak 27 buah.
2. Membersihkan dan menimbang massa awal spesimen
3. Memberi perlakuan pack carburizing terhadap spesimen yang telah disiapkan dengan variasi suhu
800
o
C, 850
o
C,
900
o
C dan 950
o
C pada mesh
carburizer 60-100µm dan 500-
560µm.
4. Menimbang massa spesimen yang telah di-carburizing.
5. Membersihkan dan mengetsa spesimen kemudian melakukan uji foto mikro.
6. Melakukan uji komposisi untuk mendapatkan beda konsentrasi karbon.
7. Menganalisa data yang diperoleh dan memformulasikannya ke dalam persamaan (4) untuk
mendapatkan nilai koefisien difusi karbon hasil pack carburizing.

Peletakan spesimen pada proses pack carburizing dapat dilihat pada gambar 4 berikut:
 
 
 
 
 

4. Hasil Dan Pembahasan
Berdasarkan pengujian pada spesimen dan pengolahan data menggunakan Direct Flux method
pada persamaan (4) maka didapatkan nilai D pada perlakuan pack carburizing dengan mesh 60-100µm
dan mesh 500-560µm.

Gambar 3: Peletakan spesimen pada
pack carburizing
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐21 
     
Tek ni k
MESI N
Gambar 4: Pengaruh temperatur pemanasan terhadap koefisien difusi (D)
karbon pada pack carburizing dengan mesh60-100µm
Gambar 5: Pengaruh temperatur pemanasan terhadap koefisien difusi (D)
karbon pada pack carburizing dengan mesh 500-560µm












Dari grafik terlihat bahwa nilai koefisien difusi (D) karbon pada mesh 60-100µm semakin naik
dengan makin tingginya temperatur pack carburizing, baik pada perulangan 1 sampai 3. Koefisien difusi
tertinggi terdapat pada temperatur 950
o
C, yaitu 1.6554E-5 (perulangan 3). Semakin tinggi temperature
pada proses pack carburizing, maka akan semakin banyak atom-atom karbon yang teraktivasi sehingga
pergerakan atom karbon dari luar menuju ke dalam material akan semakin banyak. Hal ini
memungkinkan semakin banyaknya atom-atom karbon yang berdifusi intersisi.























ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐22 
     
Tek ni k
MESI N
Gambar 6: Perbandingan Koefisien difusi rata-rata pada pack carburizing
mesh 60-100µm-500-560µm
Begitupun dengan besarnya koefisien dfusi (D) karbon pada perlakuan pack carburizing dengan
mesh 500-560µm juga mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya temperatur pemanasan.
Koefisien difusi (D) tertinggi terjadi pada temperatur 950
o
C, yaitu: 8.04996E-06 (perulangan1). Hal ini
sebagaiman terlihat pada gambar 5 di atas.

Pada sisi lain nilai D pada mesh 60-100µm lebih tinggi dari pada nilai D pada mesh 500-560µm.
Sebagaimana terlihat pada gambar 6 yang didapat berdasarkan perbandingan koefisien difusi rata-rata
pada pack carburizing dengan mesh 60-100µm dan 500-560µm.

Hal ini dijelaskan oleh Lakhtin (1965) bahwa proses pengkarbonan mencakup 3 proses,meliputi:
proses yang terjadi pada medium eksternal berupa pembebasan elemen difusi

Hal ini dijelaskan oleh Lakhtin (1965) bahwa proses pengkarbonan mencakup 3 proses,meliputi:
proses yang terjadi pada medium eksternal berupa pembebasan elemen difusi menjadi atom (ion), kontak
elemen difusi dengan permukaan matrik membentuk ikatan kimia dan penetrasi elemen difusi menuju
inti setelah menjadi keadaan jenuh dipermukaan matrik. Dari pengertian tersebut jelas bahwa serbuk
carburizer dengan ukuran mesh yang lebih kecil akan mempermudah proses pembebasan elemen difusi
menjadi atom, sehingga akan meningkatkan jumlah elemen difusi yang mengalami kontak dengan
permukaan logam untuk membentuk ikatan kimia. Adanya kontak elemen difusi yang lebih tinggi pada
proses pack carburizing dengan ukuran serbuk yang kecil akan meningkatkan kedalaman difusi.
Meningkatnya kedalaman difusi berarti konsentrasi karbon yang masuk dari luar ke dalam material logam
akan semakin banyak sehingga diperoleh gradien konsentrasi yang lebih tinggi. Dengan meningkatnya
gradien konsentrasi, maka koefisien difusi (D) atom karbon akan semakin besar.











5. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
Nilai koefisien difusi (D) pada proses pack carburizing akan meningkat sebanding dengan peningkatan
temperatur pemanasan baik pada pack carburizing dengan mesh 60-100µm maupun pada mesh 500-
560µm. Nilai koefisien difusi (D) pada carburizer dengan mesh 60-100µm lebih besar daripada koefisien
difusi mesh 500-560µm. Hal ini membuktikan bahwa semakin kecil ukuran carburizer maka difusi yang
terjadi akan semakin banyak, sehingga meningkatkan konsentrasi karbon dan kedalaman difusi. Sehingga
koefisien difusi pun meningkat.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐23 
     
Tek ni k
MESI N
Daftar Pustaka
[1]. Budinski, K.1983. Engineering Material Properties and Selection. Reston Ohio: Mc.Millan
Publishing Company.
[2]. Incropera, Dewitt. 1992. Fundamental of Heat and Mass Transfer. Bangalore: Mc Graw Hill Inc.
[3]. Johnson, D. D. 2006. Introduction to Engineering Material. Illinois: MSE International.
[4]. Karabelctchikova, Olga. 2007. Carbon Diffusion in Steel- A Numerical Analysis Based on Direct
Flux Integration. Dressel: Journal of Phase Equillibrium and Diffusion.
[5]. Lakhtin, Y.1980. Engineering Physical Metallurgy and Heat Treatment. Moscow: MIR.




























ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐24 
     
Tek ni k
MESI N
Remelting Dan Beda Temperatur Terhadap Sifat Mekanis Pada
Limbah Piston Bekas Dengan Metode High Presure Die Casting

Purnomo dan Suparjo
Fakultas Teknologi, Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Email : purnomoitats@yahoo.com


ABSTRAK
Pengecoran logam dengan metode High Pressure Die Casting (HPDC) adalah metode
pengecoran dengan cara menginjeksikan cairan logam ke dalam cetakan dengan kecepatan dan
tekanan tertentu dengan menggunakan mesin HPDC. Cetakan yang digunakan adalah baja
karbon. Metode pengecoran tersebut dilakukan dengan pengecoran ulang (Remelting) pada
pembuatan komponen motor pada pembuatan piston, dengan bahan dasar aluminium dan
silicon. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan variasi temperatur penuangan 700,750, 800C,
komposisi paduan piston yaitu: 75% piston bekas + 25% ADC 12, 50% piston bekas + 50%
ADC 12, 25% piston bekas + 75% ADC 12 dan sebagai kontrol piston bekas murni dan ADC 12
murni. Karakterisasi material hasil prototipe piston yang dilakukan meliputi uji komposisi kimia,
struktur mikro, kekerasan, porositas dan kekasaran.Hasil prototipe material piston dan
pengembangan prototipe piston berbasis limbah piston bekas yang terbaik dengan kekerasan
64,5 HRB, porositas terendah4,613 dan kekasaran setelah machining paling baik 1,58 dicapai
pada komposisi 25% piston bekas + 75% ADC 12 dengan temperatur penuangan. 800
0
C

Kata kunci : HPDC, kekasaran,kekerasan,porositas, temperatur.



1. Pendahuluan
Perkembangan industry otomotif di Indonesia khususnya industry sepeda motor menunjukkan
angkan yang cukup tinggi. Keadaan ini merupakan sebuah peluang bagi industry pendukung yaitu
industry pengecoran sebagai penyuplai komponen bagi industry sepeda motor. Peluang pasar yang
besar akan mendorong perusahaan manufaktur yang memproduksi komponen dari paduan aluminium
berkompetisi menghasilkan produk yang mempunyai kualitas standar dan harga lebih murah. Tuntutan
menghasilkan produk masal dengan bentuk yang lebih kompleks dengan toleransi tinggi, permukaan
yang halus, bebas cacat dan waktu produksi yang singkat menjadi suatu keharusan bagi fabrikan agar
dapat bersaing dengan fabrikan lain. Teknik pengecoran dengan cetakan permanen dengan siklus yang
kontinyu adalah suatu solusi pemenuhan tuntutan. Teknik High Pressure Die Casting (HPDC)
merupakan salah satu metode yang cocok untuk memenuhi tuntutan tersebut. HPDC adalah suatu
proses pengecoran dengan menginjeksikan logam cair kedalam cetakan kemudian mempertahankan
pemberian tekanan selama pembekuan proses ini berlangsung pada ruang tertutup. HPDC dibagi
menjadi dua kategori yaitu HPDC Cold Chamber dan HPDC Hot Chamber. HPDC Hot Chamber
biasanya digunakan untuk logam dengan temperature cair yang rendah dan logam yang tidak bereaksi
membentuk paduan dengan logam die (baja) seperti tima hitam, tima putih dan zinc. HPDC Cold
Chamber digunakan untuk logam dengan temperature cair tinggi seperti aluminium dan tembaga (dan
paduannya). Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik HPDC Cold Chamber. Bahan
baku yang digunakan adalah paduan standar yang umum digunakan pada pembuatan komponen
otomotif seperti blok silinder, piston, tuas rem, pulley dan velg. Walaupun sudah luas penggunaannya
namun paduan ini masih jarang diteliti.Paduan tersebut adalah paduan Al-Si Penelitian ini akan
mengkarakteristik nilai kekasaran Al-Si terhadap temperature tuang dan tebal cetakan pada HPDC
dalam proses pembuatan komponen otomotif yaitu pulley

2. Tinjauan Pustaka.
Penelitian tentang teknik pengecoran bertekanan dan perpindahan panas telah banyak dilakukan
antara lain. G.Daor, dkk (2005) Meneliti mengukur koefisien perpindahan panas dan aplikasinya dengan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐25 
     
Tek ni k
MESI N
tekanan tinggi pada cetakan tekan. Perpindahan panas terhadap ketebalan cetakan / chill pada material
aluminium juga diiteliti oleh M.A Gafur dkk, (2003) . Pengecoran dengan system perpindahan panas
pada permukaan cetakan logam juga diteliti oleh Haci Mehmet, dkk (2005) dengan tujuan penelitian
menentukan koefisien perpindahan panas pada cetakan logam dan menghasilkan paduan Al-Si
microstruktur lebih halus. Simulasi dan model cetakan logam dengan perpindahan panas A.S Usmani
(2005). Mahmoudi dkk (2006) Meneliti tentang Perpindahan panas pada proses pembekuan dengan cairan
fluida. Carakteristik perpindahan panas pada cetakan los foam Ziliu dkk, (2006). Rahmazan dkk (2007)
meneliti Tekanan tinggi dan perpindahan panas pada pengecoran die casting. Dalam penelitiannya
menghasilkan sifat mekanik meningkat. Sifat perpindahan panas pada tekanan tinggi dengan cetakan
tekan juga diteliti oleh Zhi-Peng dkk (2008) . Koefisien perpindahan panas dengan menurunkan struktur
kristal A. Hamasalid dkk, (2008) . Simulasi perpindahan panas pada cetakan tekan juga diteliti oleh (Dos
Santos dkk 2008) dengan hasil penelitian proses pendinginanlambat membuat hasil coran lebih homogen.
Zhi Peng dkk (2008) meneliti Perpindahan panas dalam proses cetakan tekanan tinggi. Han dan Xu
(2005) meneliti HPDC dengan bahan aluminium murni, paduan Al - 1,8 Si, A 356, A 380. A 319, A 390,2
Aghion dkk (2006). ADC 12 diteliti oleh Tian dkk, (2002), Chen (2003), dan Lozano dan Peng (2006).
Dargusch dkk, (2006) meneliti bahan DA 401 dan CA 313, bahan CA 313 juga diteliti ol;eh Gunasegaram
dkk, (2007). Niu dkk (2000) meneliti Al =- 5 % Si, Al – 8 % Si, dan Al – 18 % Si. Paduan dengan Al –
Si eutektik memiliki koefisien panas yang baik sehingga di gunakan pada pengecoran dengan die. Paduan
ini juga digunakan bahan piston untuk mesin bensin dan mesin diesel. Ada beberapa metode yang
digunakan pada proses HPDC. Lui dkk, (1996) melakukan perubahan proses pengisian cetakan dari tga
tahapan: slow shot, fast shot, filling shot menjadi lima tahapan yaitu slow shot, fast shot, filling shot,
pressure impact, finalpressure setting. Penelitian dengan tiga tahapan pengisian dilakukan oleh Chen,
(2003), Tsoukolas dkk, (2004), Han dan Xu (2005), Dargusch dkk, (2006), Gunasegaram dkk, (2007),
Zamora dkk,

3. Percobaan Bahan

Paduan aluminium – silikon merupakan jenis paduan aluminium yang paling banyak digunakan
dalam proses pengecoran dibandingkan dengan jenis paduan aluminium yang lain. Hal ini disebabkan
antara lain sifat fluiditas yang baik. (Soejono Tjitro, 2003). Silikon ditambahkan dengan tujuan untuk
meningkatkan mampu cor (castability) serta memperbaiki sifat mekanis dari aluminium murni. Paduan
aluminium silikon termasuk paduan cor (casting alloys) dan diberi kode seri 4xx.x. (Hartanto, 2001)
Mampu tuang paduan cor dapat diperbaiki dengan menambah unsur silikon sampai denga 23%
Disamping itu, penambahan unsur silikon juga dapat memperbaiki sifat fluiditas dan feeding
characteristic dari pada paduan. Dibawah ini beberapa sifat mekanis yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 1. Sifat mekanis Paduan Aluminium Silikon
Paduan Fe Cu Mg Si Zn Densitas Konduktivitas panas
7 % 0,2 0,05 0,45 6,5-7,5 0,05 2,68 gr/cm
3
152 W/mK
12,5 % 2.0 1,0 0,1 11,0-13,0 0,5 2.657 gr/cm
3
121 W/mK

(2007). Penggunaan tahapan pengisian yang berbeda terlihat tidak memiliki pengaruh signifikan
terhadap kualitas coran namun pertimbangan dipusatkan pada kecepatan piston dan pola aliran saat
mengisi cetakan. Penelitian park dkk (2001) menghasilkan piston dengan kekerasan sebesar 77,5 HRB
dan kekuatan tarik sebesar 630 MPa. Penelitian Duskiardi dkk (2002) menghasilkan piston dengan
kekerasan sebesar 115 BHN. Peneliti Choi dkk (2005) menghasilkan piston dengan harga kekerasan
sebesar 52 HRB. Peneliti Budi Harjanto dkk (2008) menghasilkan piston dengan harga kekerasan
sebesar 97,86 HVN.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐26 
     
Tek ni k
MESI N
Mesin PDC, Dies (Cetakan), Dapur peleburan,Termokopel, Pressure gage, Alat uji kekasaran

Gambar 1. Proses pengecoran High pressure Die Casting

4. Mesin Injeksi
Mesin injeksi dengan kapasitas tekanan maksimum 40 bar (gambar 1 ), sedangkan besar tekanan
yang digunakan adalah 20 bar dan 40 bar
Prosedur penelitian.
Al-Si 12% dilebur pada dapur lebur, temperature logam cair dikontrol dengan thermokopel
hingga sesuai untuk penuangan. Proses penuangan dimulai dari temperature 700
0
C, 750
0
C, dan 800
0
C.
Pengaturan suhu cetakan dilakukan diantara proses injeksi untuk memastikan kondisi temperature cetakan
tepat untuk melakukan injeksi selanjutnya. Tahapan pengecoran sebagai berikut. Cetakan tertutup logam
cair dituang ke dalam cold chamber.Plunyer didorong dengan tekanan tertentu, sehingga logam cair akan
mengisi ruang cetakan dan akan memadat.Cetakan dibuka dengan memanfaatkan dorongan dari
plunyer.Ejector pins mendorong benda coran dan akan terlepas dari cetakan. Plunyer akan kembali ke
tempat semula.komponen piston perlu dilakukan penggantian dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan
penggunaan.
Kerusakan piston
 
 
 
   
 
                                       Gambar 2. Kerusakan pada piston (www.Metalurgi.com) 
5. Hasil dan Pembahasan

Pengaruh remelting terhadap sifat mekanis kekasaran permukaan benda kerja.Kekasaran terlihat
menurun seiring meningkatnya temperature penuangan, kekasaran terendah terjadi pada temperature 700
0
C
dan kekasaran tertinggi terjadi pada temperature penuangan 800
0
C.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐27 
     
Tek ni k
MESI N
Hasil pengamatan sebagai berikut
 
Tabel 1. Hasil kekasaran Pengecoran Ulang I

Tabel 2. Hasil kekasaran Pengecoran Ulang II

No Tekanan
(Bar)
Temperatur
tuang (
0
C)
Harga
Kekasaran
( µ m)
No Tekanan
(Bar)
Temperatur
tuang (
0
C)
Harga
Kekasaran
( µ m)
1 20 700 1,15 1 40 700 1,22
750 1,20 750 1,27
800 2,12 800 2,58
850 2,34 850 2,62
 

Gambar 3. Grafik kekasaran pengecoran ulang I
dengan tekanan 20 bar
Gambar 4. Grafik kekasaran pengecoran ulang II
dengan tekanan 40 bar















Gambar 5 Pengujian kekerasan material piston bekas




65 
60 
55 
50 
45 
40 
100% Pb
Kontrol
75% Pb
+ 25%
ADC 12
50% Pb
+ 50%
ADC 12
25% Pb
+ 75%
ADC 12
100%
ADC
Kontrol
K
E
K
E
R
A
S
A
N

(
H
R
B
)

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐28 
     
Tek ni k
MESI N

6. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan maka, bisa diambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Hasil studi karakterisasi material piston mot or bensi n diketahui bahwa piston
mempunyai sifat dan karakterisasi sebagai berikut:

1. Kekasaran benda uji pada tekanan 20 bar terlihat rata - rata naik dengan semakin
tingginya temperatur.
2. Kekasaran benda uji pada tekanan 40 bar terlihat rata – rata menurun dengan semakin
tingginya tempertur.
3. Kekasaran benda uji pada ketebalan cetakan bertambah terlihat semakin halus permukaan
dengan semakin tingginya temperature.
4. Harga kekerasan 76 HRB dan Komposisi kimia ( Al-Si) 84,19 % Al dan 10,7% Si
5. Kekasaran permukaan (1,25 – 187) µ m

b. Hasil studi pengecoran ulang piston bekas dapat disimpulkan beberapa hal seperti:
Kekasaran hasil pengecoran ulang limbah piston bekas dengan HPDC masih
dibawah kekasaran piston.
Komposisi kimia hasil pengecoran ulang limbah piston bekas khususnya untuk
kandungan % Si juga masih dibawah komposisi piston Daihatsu Hi-Jet dan standar paduan
aluminium AA. 333.0 yaitu pengecoran I 86,27% Al;7,78 % Si dan pengecoran II 87,82
% Al; 7,76 %


Daftar Pustaka.
[1]. A.M. Samuel, F.H. Samuel, Effect of Magnesium Content on the Ageing Behaviour of Water
chilled Al-Si-Mg Alloy Casting. Journal of mat.Sci, Vol 30. 1996.
[2]. Anson J.P, Gruzleski, Effect of Hydrogen Content on Relative Shrinkage and Gas Microporosity
in Al 7% Si Casting, McGill University, Canada, 2000.
[3]. Abis S., Numerical Simulation of Silidification in an Aluminium Casting, Metallurgical
Transaction B, Vol. 17B, pp.209 – 216 March 1986.
[4]. Anantharaman, T.R., 1987, Rapidly Sidified Metal, Trans. Tech. Publications, Switzerland.
[5]. Anderson, T.L Fracture Mechanics Fundamentals and Application, CRC Press, Inc., Boca Raton
Ann Arbor Boston , 1991.
[6]. A. Hamasaiid dkk Effect of Mold Coating Material and Thickness on Heat Transfer in
Permanent Mold Casting of Aluminium Alloy, Journal Metallurgical and Materials Transaction ,
Vol 38 Nomor 6 Springer Boston 2007.
[7]. Aoki,S., K. Kishimoto. T. Yoshida, M. Sakata, and H.A Richard, Elastic-Plastic Fracture
Behavior of an Aluminium Alloy under Mixed Mode Loading., Journal. Mechanical Physics
Solids, Vol 38, N0 2, 1990.
[8]. Bambang Suharno, Neni Octapiani Nurhayati, Bustanul Arifin, dan sri Harjanto, Pengaruh Waktu
Kontak Terhadap reaksi Antar Muka Paduan Aluminium 7%Si dan Aluminium 11%Si Dengan
Baja Cetakan SKD 61., Jurnal Makara, Teknologi, Vol 11, No 2 , Universitas Indonesia Jakarta,
2007.
[9]. Beeley P.R. Foundry Technologi London : Butterworth Scientific, 1972
[10]. Calister, W.D. Jr, Material Science and Engineering an Introduction, 6
th
John Wiley and Sons
Inc, 2003.
[11]. Cheng Liu, dkk Effect of Process Parameters, Casting Thickness, and Alloys on the Interfacial
Heat-Transfer Coefficient in the High Pressure Die- casting Process. Metals & Materials Society
and ASM International 2008
[12]. Dody P, Keterkaitan Kemiringan Cetakan, Kecepatan Pertumbuhan Dendrit dan Ukuran Butir
pada Logam Aliminium- Silikon, Jurnal Teknik mesin ITS, 2007
[13]. David P. A, Phase Transformation in Metal and Alloy, Chapman and Hall, London, 1990.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐29 
     
Tek ni k
MESI N
[14]. Duskiardi, Pengaruh Tekanan dan Temperatur Die Proses Squeeze Casting Terhadap
Kekerasan dan Struktur Mikro Pada material piston Komersial Lokal, Jurnal Teknik Mesin,
Univ Bung Hatta Padang, 2002.
[15]. Dargusch dkk, Heat Transfer at the casting/die interface in high pressure Die Casting –
Experimental result and contribution to modelling. TheMinerals, Metals & Materials Society
Excellence in Research Australia (ERA) 2006.

















































ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐30 
     
Tek ni k
MESI N
Pengujian Akustik Papan Serat Sabut
Kelapa Dengan Matriks Gypsum
 
Yusril Irwan,. M.T.
Staf Pengajar jurusan Teknik Mesin
Institut Teknologi Nasional-Bandung

ABSTRAK

Serat sabut kelapa adalah salah satu limbah yang belum begitu dimanfaatkan secara
maksimal di Indonesia. Padahal jumlah kapasitas serat sabut kelapa yang dihasilkan dari panen kelapa
setiap tahunnya di Indonesia cukup besar. Oleh sebab itu, perlu dilakukan suatu penelitian untuk
mengolah serat sabuk kelapa ini agar tidak menjadi limbah yang dibuang begitu saja.
Dalam penelitian ini membuat sabut kelapa menjadi papan komposit, yaitu serat sabut kelapa
dengan matrik gibsum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karateristik akustik dari
material berbahan dasar serabut kelapa dengan matriks gypsum. Dengan mengetahui karateristik akustik
pada material komposit berbahan dasar sabut kelapa ini maka dapat diketahui tempat penggunaanya jika
dijadikan sebagai dinding. Karateristik akustik diperoleh dengan cara pengujian akustik. Pada pengujian
akustik dapat diperoleh nilai koefisien absorbsi dan nilai transmission loss serta nilai sound transmission
class. Nilai koefisien absorbsi didapat dengan pengujian absorption dimana ini berhubungan dengan
pengaturan akustik dalam ruangan sedangkan nilai transmission loss dan sound transmission class
diperoleh dengan pengujian transmission loss yang berfungsi untuk mengetahui seberapa besar
pengurangan suara yang dapat dilakukan oleh komposit berbahan dasar serat sabut kelapa dengan
matriks gypsum.

Kata kunci : serat sabuk kelapa, sound transmission class, absorption, akustik, transmission loss, gypsum

ABSTRACT

Coconut coir fiber is one of the waste that has not been so fully utilizeed in Indonesia. Though the
amount of coconut coir fibercapacity resulting from harvesting coconuts each year in Indonesia is quite large.
Therefore, there should be a study for the processing of coconut fiber coir so as not to waste thrown away.
The purpose of this study was to determine the acoustic characteristic of materials made from
coconut fibers to the gypsum matrix. By knowing the acoustic characteristic of composite materials based on
coconut coir is then able to know where its use if used as a wall. Acoustic characteristics obtained by testing
the acoustics. In testing the acoustic absorption coefficient can be obtained value and the value of transmission
loss and sound transmission class is obtained by testing transmission loss of functioning to determine how
much noise reduction that can be performed by a composite made from coconut coir with a matrix of gypsum.

Key word : fiber coconut coir, sound transmission class, absorption, acoustics, transmission loss,
gypsum.


1. Pendahuluan
Dengan semakin majunya teknologi, perkembangan peralatan yang digunakan manusia juga
semakin meningkat. Peralatan tersebut bisa berupa sarana informasi, komunikasi, produksi, transportasi,
maupun hiburan. Sebagian besar peralatan tersebut menghasilkan suara-suara yang tidak diinginkan
sehingga menimbulkan kebisingan. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan berbagai jenis bahan
peredam suara. Disamping itu peredam suara juga dibutuhkan untuk menciptakan bangunan atau ruangan
dengan karateristik akustik tertentu sehingga tercipta kenyamanan untuk penggunanya.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐31 
     
Tek ni k
MESI N
Jenis bahan peredam suara yang sudah ada yaitu bahan berpori, resonator dan panel. Dari ketiga
jenis bahan tersebut, bahan berporilah yang sering digunakan. Khususnya untuk mengurangi kebisingan
pada ruang-ruang yang sempit seperti perumahan, perkantoran atau studio. Hal ini karena bahan berpori
relatif lebih murah dan ringan dibanding jenis peredam suara lain. Material yang telah lama digunakan
pada peredam jenis ini adalah glasswool dan rockwool. Namun karena harganya yang mahal, berbagai
bahan pengganti material tersebut mulai dibuat. Diantaranya adalah berbagai macam gabus maupun
bahan berkomposisi serat. Kelapa adalah buah yang mempunyai banyak serat yaitu 35 % dari berat
totalnya. Kelapa dihasilkan di Indonesia dalam jumlah yang besar yang bisa mencapai jutaan ton
pertahun. Dengan banyaknya kelapa yang dihasilkan maka serat kelapa juga akan semakin meningkat.
Namun serat kelapa tersebut tidak semuanya bisa dimanfaatkan dengan optimal sehingga banyak yang
dibuang dan menjadi limbah.
Gypsum adalah batu putih yang terbentuk karena pengendapan air laut, kemudian dipanaskan
175 ºC disebut STUCCO. Gypsum adalah salah satu mineral terbanyak dalam lingkungan sedimen yaitu
batu yang terdiri dari mineral yang diproduksi secara besar-besaran biasanya dengan persipitasi dari air
asin. Gypsum sering digunakan sebagai pengikat/matriks karena mempunyai beberapa keunggulan yaitu
ringan, tahan apai, fleksibilitas untuk disain dan dapat meredam suara.
Pada umumnya bahan komposit terdiri dari dua unsur yaitu serat dan matrik, dimana matriks sebagai
bahan pengikat serat pada material komposit. Unsur utama bahan komposit adalah serat, serat inilah yang dapat
menentukan karakteristik bahan komposit seperti kekakuan, kekuatan, dan sifat mekanik lainnya. Serat juga
dapat menahan sebagian besar gaya-gaya yang bekerja pada bahan komposit, sedangkan matriks bertugas
melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan baik. Karena itu bahan serat yang digunakan adalah
bahan yang kuat dan ulet. Sedangkan bahan matriks dipilih bahan-bahan yang lunak seperti tanah lempung.
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa bahan komposit relatif kaku, sehingga lendutannya relatif kecil.

Hasil pengujian mekanik yang telah dilakukan sebelumnya dari komposit berbahan dasar serat sabut kelapa.

Tabel 1 Perbandingan sifat mekanik keempat jenis specimen

No
Perbandingan serat
kelapa, sekam kayu dan
gypsum
Massa
jenis
(g/cm
3
)
Uji
lengkung
(N/mm
2
)
Uji
kandungan
air (%)
Rasio
perubahan
ketebalan
(%)
1 1:01:40 1,242 20,16 32,07 1,176
2 1:02:40 1,222 16,28 32,94 0,66
3 1:03:40 1,222 12,94 31,42 0,8
4 Gypsum standar 0,591 12,07 35,85 1,59

Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Memanfaatkan serat sabut kelapa untuk dijadikan bahan dasar material komposit baru.
2. Untuk mengetahui karateristik akustik dari material berbahan dasar serat sabut kelapa dengan matriks
gypsum.



2. Metodologi
Tahap – tahap dari proses penelitian ini adalah

2.1 Penyiapan Alat Cetakan
Alat cetakan ini terbuat dari plat baja. Cetakan ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu tiang
penyangga, penutup cetakan, dan bagian bawah cetakan. Untuk menekan bagian penutup dan bagian
bawah cetakan digunakan bantuan dongkrak hidrolik seperti pada gambar 1.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐32 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 1. alat pengepresan
2.2 Penyiapan serat sabut kelapa
Pertama-tama yang dilakukan adalah dilakukan pencabutan serat kelapa dari cangkang seperti
pada gambar 2. Sabut kelapa kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama satu hari. Sabut
kelapa yang telah kering, dibersihkan dengan cara memisahkan serat sabut kelapa dengan gabus yang
melekat pada serat sabut tersebut. Serat sabut kelapa yang telah bersih, kemudian dipotong dengan ukuran
3 – 6 cm seperti pada gambar 4. Ukuran pemotongan ditentukan karena panjang serat mempengaruhi
ikatan antar serat dan matrik.


Gambar 2. Pencabutan Gambar 3.Pembersihan Gambar 4 Pemotongan

2.3 Proses Pembuatan
Dilakukan pencampuran gypsum, serat sabut kelapa dengan air sesuai dengan perbandingan
yang telah ditentukan dalam sebuah wadah. Setelah di aduk sampai merata, adonan campuran gypsum,
serat sabut kelapa dengan air dimasukkan ke dalam cetakan dan dipress selama 2 x 24 jam seperti pada
gambar 7 . Kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari selama 4 hari.


Gambar 5 Pencampuran Gambar 6 Penuangan Gambar 7 Pengepresan

Terdapat 3 jenis spesimen yang dibuat dengan perbandingan gypsum dan serat sabut kelapa yang
berbeda-beda. Ketiga jenis spesimen tersebut yaitu :
1. Spesimen A = gypsum total
2. Spesimen B = 1 : 40 (perbandingan serat kelapa dengan gypsum)
3. Spesimen C = 1 : 20 (perbandingan serat kelapa dengan gypsum)

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐33 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 8 Spesimen A Gambar 9 Spesimen B Gambar 10 Spesimen C

2.4 Proses Persiapan spesimen
Proses persiapan spesimen yang dilakukan adalah proses pemotongan spesimen untuk. Dimana untuk
pengujian transmission loss, bentuk spesimen yang diperlukan adalah segiempat sedangkan untuk
pengujian absorption, bentuk spesimen yang diperlukan adalah lingkaran. Untuk mengubah bentuk
spesimen menjadi lingkaran digunakan coredrill.


Gambar 11 Spesimen yang telah di coredrill

3. Pengujian Parameter
Pengujian akustik adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui karateristik akustik pada suatu
bahan. Pengujian akustik terdiri dari dua jenis yaitu pengujian transmission loss dan pengujian absorption.

3.1 Pengujian Transmission Loss (TL)
Pengujian transmission loss adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan
suatu bahan untuk mereduksi suara yang ditransmisikan ke luar ruangan atau untuk mengukur
kemampuan penyekatan suara.
Secara sederhana prinsip pengujian dari pengujian transmission loss adalah spesimen diletakkan
pada celah antara dua buah ruang dengung yaitu ruang sumber dan ruang penerima. Kemudian diberikan
suara pada ruang sumber dengan menggunakan loudspeaker dengan frekuensi 125 – 4000 Hz,
microphone pada ruang sumber akan menangkap besarnya tekanan suara, begitupun juga microphone
pada ruang penerima akan menerima besarnya tekana suara yang tembus melalui spesimen yang menutup
celah antara kedua ruang tersebut. Tekanan suara yang ditangkap oleh microphone akan ditransfer ke
amplifier kemudian akan diteruskan ke soundcard kemudian nilainya akan bisa terbaca pada layar laptop.
Data berupa luas spesimen (s = 0,69m x 0,69m), volume ruang sumber (V=19m
3
), waktu
dengung (T) dan tekanan suara ruang sumber (L
1
) serta ruang penerima (L
2
) akan diolah dan dimasukkan
ke dalam persamaan:
Noise reduction (NR) = (L
1
– L
2
)


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐34 
     
Tek ni k
MESI N

Gambar 12 Instalasi pengujian transmission loss

3.2 Pengujian Absorption
Pengujian Absorption adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan suatu
bahan untuk menyerap suara. Prinsip pengujian absorption adalah spesimen yang berbentuk lingkaran
dimasukkan ke dalam bagian kepala tabung impedansi kemudian diatur frekuensi suara pada amplifier
dengan frekuensi 100 – 4000 Hz, maka speaker akan memberikan suara ke dalam tabung impedansi dan
sound level meter akan membaca tekanan suara (L) hasil dari penyerapan spesimen yang ada dalam
tabung impedansi. Data yang diperoleh akan diolah dan dimasukkan ke dalam persamaan :
L = L
maks
- L
min


(Koefisien penyerapa suara)



Gambar 13 instalasi pengujian absorption

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐35 
     
Tek ni k
MESI N

4. Hasil Dan Pembahasan

4.1 Transmission Loss
Tabel 2. Perbandingan nilai transmission loss dan STC pada ketiga jenis specimen

Frekuensi
TL
A B C
125 22 19 16
160 14 16 12
200 22 20 16
250 22 24 23
315 22 17 16
400 25 26 21
500 25 26 21
630 24 25 20
800 28 26 22
1000 28 28 24
1250 27 26 24
1600 27 26 22
2000 26 25 23
2500 25 25 22
3150 26 25 23
4000 28 24 23
STC 26 25 22

Ket: STC = angka yang menggambarkan kemampuan menyekat/mereduksi suara





















Grafik 1 Perbandingan nilai TL untuk ketiga jenis spesimen




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐36 
     
Tek ni k
MESI N
4.2 Absorption
Tabel 3 Perbandingan nilai koefisien absorbsi () dan NRC
pada ketiga jenis spesimen
Frekuensi

A B C
100 0,23 0,22 0,23
125 0,57 0,51 0,50
160 0,22 0,18 0,18
200 0,39 0,35 0,34
250 0,11 0,09 0,11
315 0,12 0,10 0,13
400 0,12 0,10 0,14
500 0,16 0,15 0,20
630 0,15 0,25 0,31
800 0,23 0,27 0,26
1000 0,27 0,31 0,37
1250 0,56 0,50 0,50
1600 0,69 0,69 0,51
2000 0,44 0,50 0,53
2500 0,41 0,50 0,52
3150 0,36 0,40 0,52
4000 0,35 0,39 0,41
NRC 0,24 0,26 0,30

Keterangan : NRC = angka yang menggambarkan kemampuan menyerap suara





















Grafik 2 Perbadingan nilai absorbsi untuk ketiga jenis spesimen



ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐37 
     
Tek ni k
MESI N

5. Kesimpulan

1. Adanya ketidakhomogenan serta perbedaan kerapatan menyebabkan nilai koefisien absorbsi,
Noise reduction coefficient (NRC), nilai transmission loss (TL) dan STC pada ketiga jenis
spesimen yaitu spesimen gypsum, spesimen 1 : 40, spesimen 1 : 20 berbeda-beda. Adanya
ketidakhomogenan dan perbedaan kerapatan disebabkan karena kandungan serat sabut kelapa
dalam spesimen.
2. Nilai STC pada spesimen gypsum total (STC = 26) lebih besar dari pada nilai STC pada
spesimen 1 : 40 ( STC = 25) , dan spesimen 1 : 20 (STC=20) sehingga bahan gypsum total lebih
bagus digunakan untuk keperluan menyekat suara atau untuk mereduksi suara.
3. Adanya kandungan serat sabut kelapa menyebabkan nilai transmission loss dan nilai STC suatu
bahan menjadi berkurang tetapi nilai koefisien absorbsi dan Noise reduction coefficient (NRC)
menjadi naik.
4. Nilai NRC pada spesimen 1 : 20 (NRC = 0,30) lebih besar dari pada nilai NRC pada spesimen 1 :
40 ( NRC = 0,26) , dan spesimen gypsum total (NRC=0,24) sehingga bahan spesimen 1 : 20 lebih
bagus digunakan untuk keperluan bahan yang dapat menyerap suara yang banyak.


Daftar Pustaka

[1]. Kinsler, Lawrence E. & Austin R. Frey. "Fundamentals of Acoustics 3rd Ed.". John Wiley & Sons,
New York, 1982.
[2]. Beranek, Louis L. “Noise and Vibration Control”. Institute of Noise Control Engineeering,
Washington D.C., 1988
[3]. International Organization for Standardization. “ISO 3382-2:2008 – Acoustics -- Measurement of
room acoustic parameters -- Part 2: Reverberation time in ordinary rooms”. 2008
[4]. Doelle, Leslie. “Environmental Acoustics”. Erlangga, Jakarta, 1993



























ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐38 
     
Tek ni k
MESI N

Analisis Visual untuk Perhitungan Initial Damage pada
Sambungan Adhesive

Irfan Hilmy, Yusril Irwan
Teknik Mesin Itenas
irfan.hilmy@gmail.com
yusril@itenas.ac.id


Abstrak

Saat ini, Adhesive joint merupakan suatu jenis sambungan yang penggunaannya di bidang
kedirgantaraan, perkapalan dan industri otomotif mulai popular menggantikan pengencangan mekanis
konvensional lain seperti baut, paku keling dan las. Pada pemakaian adhesive untuk struktur-struktur
tersebut di atas, identifikasi kerusakan (damage identification) terhadap sambungan adhesive merupakan
hal yang kritis. Walaupun penggunaan adhesive mulai popular, latar belakang ilmu dan pengetahuan
(science dan knowledge) yang mendukung masih baru (immature) dibanding jenis-jenis sambungan lain
yang sudah baku dan standar. Oleh karena itu, peluang penemuan metoda-metoda baru untuk mendeteksi
kerusakan masih terbuka lebar. Salah satu metode identifikasi kerusakan pada daerah sambungan
adhesive adalah secara visual dengan menggunalan Image processing technique. Dengan metode ini
evolusi proses kerusakan diidentifikasi secara visual dimana urutan-urutan Photo hasil video mikroskopi
dikuantifikasi menjadi besaran Damage. Penelitian awal adalah mengevaluasi kualitas penempelan
dengan menggunakan analisis visual. Nilai damage yang merupakan kuantifikasi dari porositas yang
terjadi pada daerah adhesive. Dari hasil yang didapat dapat diketahui layak tidaknya sambungan
adhesive untuk diuji tarik.
 

1. Pendahuluan
Adhesive atau lebih dikenal dengan lem merupakan media perekat yang sudah dikenal di Mesir
sejak 4000 tahun yang lalu. Sekarang adhesive sudah menjadi bagian dari hidup kita yang sudah kita
terima apa adanya (take for granted). Di bidang rekayasa seperti aerospace, automotive ataupun struktur-
struktur komplek lainnya, sambungan adhesive adalah jenis sambungan yang relatif baru digunakan
dibanding jenis sambungan mekanis lain seperti: baut, riveting maupun pengelasan. Untuk bidang-bidang
tersebut yang menuntut tingkat keyakinan dan keselamatan yang tinggi, pengetahuan tentang kekuatan
dan perilaku adhesive di bawah suatu kondisi pembebanan tertentu adalah suatu hal yang kritis.

Kaji analitik yang sudah dilakukan terhadap analisis sambungan adhesive masih sangat terbatas.
Hal ini terjadi karena adanya masalah singularity karena keunikan geometri dari adhesive joint dimana
dimensi geometri adhesivenya sendiri sangat kecil dibanding substrat yang akan direkatkan. Oleh karena
itu kajian mengenai kekuatan adhesive joint harus dilengkapi kaji numerik dan eksperimental. Kaji
numerik dan eksperimental mengenai prediksi kegagalan adhesive masih sangat terbuka lebar mengingat
di Eropa sendiri pengkajian tersebut mulai populer menjelang tahun 90-an. Apalagi setelah harga
komputer cenderung turun dan kecepatan pemrosesan data meningkat.


2. Teori Damage
Salah satu kaji numerik yang tersedia adalah teknik Video Imaging. Teknik ini sudah
dipergunakan secara luas pada berbagai bidang. Teknik Video Imaging ini akan diaplikasikan
penggunaanya untuk observasi evolusi Damage (kerusakan) yang terjadi pada adhesive joint.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐39 
     
Tek ni k
MESI N
Definisi “Damage” telah diperkenalkan pertama kalinya oleh Kachanov[1]. Untuk mendapatkan
nilai Damage secara kuantitatif, Kachanov mengajukan Volume Elements Representatif (RVE) yang
memiliki rongga-rongga (voids) seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Damage didefinisikan sebagai luas
penampang irisan yang rusak (A
D
) dibagi dengan luas penampang irisan tanpa damage (A
ND
). Secara
matematis dinyatakan dengan
ND
D
ND
D
A
A
A
A
D = =

δ
(1)

Terdapat suatu kondisi dimana material dikatakan sempurna atau tanpa damage. Pada kondisi ini
tidak terdapat baik mikrocrack maupun rongga. Damage pada kondisi ini bernilai nol. Suatu kondisi yang
hanya eksis secara teoritik. Bahkan pada kondisi manufakturing yang akurat dan sempurna pun
mikrocrack atau rongga pasti eksis.

Ketika beban diterapkan, rongga dan mikro-crack terinisiasi dan mulai tumbuh. Kenaikan nilai
damage mengindikasikan fenomena ini. Sampai pada suatu nilai yang dinamakan Damage kritis,
fenomena ini masih bisa ditoleransi. Di atas titik ini, rongga dan mikro-crack tumbuh secara cepat begitu
pula dengan nilai damage. Akhirnya nilai damage akan mencapai maksimum (=1). Pada titik ini fase
inisiasi retak telah selesai dan dilanjutkan dengan perambatan retak.


3. Teknik Video Imaging
Dengan teknik video imaging, evolusi degradasi warna pada daerah adhesive seperti
diperlihatkan pada Gambar 2 akan dikuantifikasi menjadi besaran damage. Saat ini, masih menjadi
perdebatan di antara para peneliti tentang mekanisme yang mana di antara inisiasi retak dan perambatan
retak yang menyumbang waktu terbanyak dari suatu umur adhesive joint. Masalahnya adalah sangat sulit
untuk mendeteksi adanya bukti signifikan yang dapat membuktikan mekanisme mana yang menyumbang
kontribusi terbesar. Perbedaan temuan dapat terjadi tergantung bagaimana suatu inisiasi retak
didefinisikan, diukur dan teknik apa yang digunakan dalam rangka mendeteksi perambatan retak. Para
peneliti juga telah menemukan bahwa modifikasi geometri akan membuat perbedaan signifikan dari hasil-
hasil sebelumnya.

Terdapat dua teknik yang umum digunakan dalam rangka observasi perilaku retak dari adhesive
joint: video mikroskopi dan regangan back-face. Courta et al.[2] menggunakan polymethyl methacrylate
adherends (PMA) transparan sehingga perambatan retak di dalam sambungan dapat diobservasi
menggunakan video kamera. Harris and Fay[3] menggunakan video mikroskopik untuk mengobservasi
sisi single lap joint yang diaplikasikan di bidang automotive dengan tujuan mengamati inisiasi retak.
Teknik regangan back-face telah digunakan dan dikembangkan oleh para peneliti diantaranya Zhang et
al.[4], Imanaka et al.[5] dan Crocombe et al.[6].


4. Desain dan Metode Penelitian
Metode penelitian yang diusulkan ini mengikuti metode penelitian seperti tertera pada Gambar 3.
Secara garis besar, penelitian terbagi atas 5 tahap. Tahap pertama, penelitian dimulai dengan studi
literatur tentang algoritma image acquisition dan image detection yang dilanjutkan dengan
pemrogramannya. Tahap kedua meliputi persiapan dan pengujian bulk adhesive. Suatu spesimen
yang hanya terdiri dari bahan lem diuji kekuatannya serta evolusi kerusakannya diamati dengan video
recorder. Tahap ketiga merupakan tahap verifikasi kode yang telah dibuat dengan data visual yang
didapat dari hasil pengujian. Pada tahap ini didapatkan kode final yang akan diujicobakan selanjutnya.
Tahap keempat merupakan tahap proses persiapan dan pengujian sambungan lem single lap joint.
Tahap kelima adalah verifikasi kode dengan sambungan single lap yang bertujuan untuk penghitungan
damage yang terjadi secara real time


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐40 
     
Tek ni k
MESI N
5 Analisis
Analisis visual dilakukan dengan menggunakan mikroskop USB merk Dino-lite seperti
diperlihatkan pada Gambar 4. Dengan mikroskop ini, data bisa berupa image ataupun berupa video
langsung ditangkap oleh PC/Laptop.

Contoh tampilan visual dari permukaan adhesive diperlihatkan pada Gambar 5. Porositas pada
bulk adhesive terlihat muncul di berbagai lokasi. Porositas ini nantinya akan dikuantifikasi dengan
aplikasi yang dibuat dan dijalankan dalam Matlab seperti diperlihatkan pada Gambar 6 dan dicek apakah
kondisinya masih dalam batas toleransi atau di atasnya. Jika hasil kuantifikasi menunjukkan angkanya di
atas batas toleransi, maka produk tersebut dapat dikatakan gagal (reject).



6. Kesimpulan
Dari hasil-hasil yang telah didapatkan dari penelitian ini, dapat disimpulkan hal-hal berikut:
1. Telah didapat suatu algoritma versi awal yang akan digunakan untuk mengkuantifikasi damage
pada bulk adhesive
2. Telah dirancang dan dibuat alat bantu pemegang bulk adhesive untuk pengujian tarik
3. Telah dirancang dan dibuat beberapa tipe alat bantu pencetakan bulk adhesive
4. Telah dirancang dan dibuat suatu prosedur pencetakan bulk adhesive dengan sebelumnya
dilakukan percobaan alternatif-alternatif pencetakannya.
5. Telah dilakukan analisis secara visual kualitas hasil pencetakan bulk adhesive
6. Tahap awal pemakaian Matlab untuk mengkonversi gambar hasil pemotretan ke dalam format
monokrome.

Daftar Pustaka
[1]. LM Kachanov, On the Creep Fracture Time, Izv Akad, Nauk USSR Otd. Tech, 1958
[2]. RS Courta, MPF Sutcliffe, SM Tavakoli, Ageing of adhesively bonded joints, fracture and
failure analysis using video imaging techniques, International Journal of Adhesion & Adhesives,
21: 455–463, 2001
[3]. JA Harris and PA Fay, Fatigue Life Evaluation of Structural Adhesives for Automative
Applications, International Journal of Adhesion and Adhesive, 12:9, 1992
[4]. Z Zhang, JK Shang, FV Lawrence, A Backface Strain Technique for Detecting Fatigue Crack
Initiation in Adhesive Joints, Journal of Adhesion, 49:23, 1995
[5]. M Imanaka, K Haraga, T Nishikawa, Fatigue Strength of Adhesive/Rivet Combined Lap Joints,
Journal of Adhesion, 49:197, 1995
[6]. AD Crocombe, CY Ong, CM Chan, MM Abdel-Wahab, IA Ashcroft, Investigating Fatigue
Damage Evolution in Adhesively bonded Structures Using Back-face strain measurement,
Journal of Adhesion, 78:745, 2002
[7]. I. Hilmy, Damage modelling of adhesive bonding, PhD Thesis, 2008
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐41 
     
Tek ni k
MESI N
 
 
 
 
 
 
 
   


 

 
 
 
 
 
 
 
Gambar 1: Definisi Damage, diadap-
tasi dari Kachanov[1]
 
 
Gambar 2: Kondisi awal daerah adhesive (kiri)
dan saat akan gagal (kanan) dimana
terlihat adanya degradasi warna
Diadaptasi dari Hilmy[7]

Gambar 3: Diagram metodologi penelitian
Gambar 4: Mikroskop Portabel
Dino-lite
Gambar 5: Kondisi void pada beberapa
daerah spesimen
 
Gambar 6: Kuantifikasi dari kondisi
porositas pada berbagai
lokasi
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐42 
     
Tek ni k
MESI N
Kaji Eksperimental Kekakuan Lentur
Poros Retak Melintang Buatan Dua Sisi



Encu Saefudin
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Nasional
Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124
encu@itenas.ac.id


Abstract

Poros memiliki fungsi untuk memindahkan daya atau torsi. Kedudukan dari poros sangat vital
sehingga apabila terjadi kerusakan pada poros maka kerja dari sistem tersebut akan berhenti total.
Kerusakan pada poros dapat diakibatkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah keretakan.
Keretakan pada poros dapat menyebabkan putaran poros menjadi tidak stabil yang diikuti dengan
getaran yang melewati batas normal, dan juga menyebabkan harga kekakuan poros tersebut akan
berubah.
Untuk mengetahui fenomena tersebut, akan dilakukan suatu pengujian kekakuan dengan
menggunakan alat uji sederhana. Pengujian dilakukan dengan menggunakan poros Silver Steel
berdiameter 12 mm dengan kedalaman retak yang bervariasi antara 30%, 50%, dan 70% yang diberi
pembebanan diujung (batang kantilever).
Dalam penelitian dilakukan dengan dua cara pengujian, yaitu dalam keadaan di ujung bebas
poros tanpa beban dan dengan beban. Pengujian tanpa beban, defleksi di ujung bebas poros hanya
akibat misaligment poros. Sedangkan pengujian dengan beban, defleksi akibat misaligment dan defleksi
lentur akibat gaya berat beban. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa semakin dalam retak
maka harga defleksi akan semakin besar dan harga kekakuannya akan semakin kecil.

Key words : poros, retak melintang, defleksi, kekakuan


1. Pendahuluan
Poros merupakan komponen mesin yang sangat vital dalam mesin-mesin rotasi seperti
kompresor, turbin, pompa dan lain-lain. Karena performansi mesin-mesin tersebut ditentukan oleh
kefungsian porosnya. Dewasa ini terjadi kecenderungan pabrik untuk meningkatkan putaran operasi
mesin. Putaran yang semakin tinggi mengakibatkan putaran tersebut berada diatas putaran kritisnya,
sehingga poros berperilaku sebagai batang fleksibel. Berbagai gejala ketidaknormalan tersebut dapat
terjadi pada waktu mesin dioperasikan. Gejala ketidaknormalan pada poros berputar diatas putaran
kritisnya mempengaruhi putaran pada setiap komponennya. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis
karakteristik poros agar poros tersebut dapat diketahui sifat dan umur pemakaiannya.
Salah satu dari berbagai ketidaknormalan pada poros berputar yang menjadi bahan kajian adalah
retak. Pada dasarnya retak adalah kerusakan yang sangat mungkin terjadi pada komponen mesin yang
mengalami pembebanan. Retak pada poros terjadi karena poros mengalami pembebanan mekanik dan
termal, sehingga poros mengalami beban fatigue. Retak bermula dari adanya cacat pada permukaan poros
atau apabila poros dioperasikan melebihi batas umurnya. Timbulnya retak selanjutnya diikuti oleh
penjalaran retak yang berakhir dengan patahnya poros dengan cepat. Sehingga diperlukan suatu tindakan
pencegahan agar poros dapat diprediksi umur pemakaiannya.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐43 
     
Tek ni k
MESI N
Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan suatu analisis untuk mengetahui sifat suatu poros
berdasarkan keretakannya melalui pendekatan eksperimental dengan cara menentukan kekakuan lentur
pada poros. Secara mendasar, perilaku dinamika rotor dapat dinyatakan oleh persamaan gerak kebebasan
banyak.

) (t F KX X C X M = + +
& & &
(1.1)

Perilaku sistem rotor yang dinyatakan dengan oleh matriks perpindahan X ditentukan oleh
matrik massa M, matriks redaman C dan matriks kekakuan K yang pada umumnya konstan, serta gaya
gangguan F(t) yang merupakan besaran yang bervariasi terhadap waktu.
Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan harga defleksi dan harga kekakuan suatu poros
berdasarkan kedalaman retaknya dengan pembebanan statik melalui eksperimen pada suatu alat uji
sederhana.
Dalam pelaksanaan penelitian ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membuat suatu perangkat alat uji sederhana.
2. Pengujian defleksi poros dengan beban dan tanpa beban, untuk retak melintang buatan dua
sisi 30%, 50%, dan 70%.
3. Menentukan harga variasi kekakuan lentur poros berdasarkan posisi sudut putar.
4. Analisis hasil pengujian.
Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan yang dianalisis, yaitu mengenai defleksi
poros berdasarkan kedalaman retakan pada poros silver steel berdiameter 12 mm yang diberi retak
melintang buatan dua sisi dengan pembebanan statik pada suatu alat uji sederhana.

2. Dasar Teori
1. Momen Inersia Penampang.
Momen inersia penampang I dapat ditentukan dengan persamaan

dA y
2
. Untuk poros pejal
berdiameter d, momen inersia penampang adalah :

I=(π d
4
/64) (2.1)

2. Poros dengan Retak Melintang
Sistem poros dengan retak melintang memiliki kekakuan berbeda untuk arah beban yang
berbeda.
 
 
    Gambar 2.1 Poros dengan retak melintang Gambar 2.2 Arah gaya poros retak

Kekauan poros seperti pada gambar 2.1 yang diakibatkan pemberian gaya
1
P berbeda terhadap kekakuan
akibat gaya
2
P .
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐44 
     
Tek ni k
MESI N
Model suatu sistem dibuat dengan cara melakukan pendekatan dari sistem sebenarnya. Karena
terdapat proses pendekatan ini, suatu pemodelan melibatkan tindakan coba-coba (try and error) sehingga
harus dilakukan pengujian-pengujian terhadap model yang dibuat.

3. Fleksibilitas Lokal Poros dengan Retak Melintang
Dimaragonas telah melakukan percobaan untuk mendapatkan fleksibilitas lokal poros yang
memiliki retak melintang dan mengembangkan analisis secara analitik untuk mendapatkan hubungan
antara kedalaman retakan terhadap fleksibilitas lokal poros retak. Dari perhitungan yang telah dilakukan,
diperoleh harga fleksibilitas pada posisi sepanjang penampang retakan. Sebuah poros dengan jari-jari R
yang mempunyai retak melintang seperti pada gambar 2.2 memiliki fleksibilitas lokal yang bervariasi
terhadap arah gaya yang diberikan, menghitung perpindahan (U) pada struktur retak yang disebabkan
gaya P, sebagai berikut :
                       ( )



=
a
da a J
P
U
0
(2.2)
Dimana a adalah kedalaman retak dan J(a) adalah fungsi densitas energi regangan. Untuk retakan
yang bervariasi terhadap kedalaman fungsi J mempunyai bentuk :




=
b
b
d
E
K V
J ξ
ξ) ( ) 1 (
2
1
2
(2.3)
1
K adalah faktor intensitas tegangan, untuk lebar dξ dan kedalaman retak lokal α diperoleh persamaan :
( )
2 2
ε α − + − = R R a (2.4)
( ) a R
h
F
NR
M
K π ε
α
2 2
2
4
1
4
− ⎟





= (2.5)
dimana :
• M = Momen lentur pada poros
• a = Kedalaman retak
harga h dan angka faktor intensitas tegangan
2
F didapat dari persamaan :
( )
2 2
2 ε − = R h (2.6)

h
h
h
h
h
F
2
tan
2
2
cos
2
sin 1 199 293 , 0
4
2
πα
πα πα
πα
α


























− +
=






(2.7)
Selanjutnya untuk P=M persamaan harga fleksibilitas untuk gaya yang searah dengan sumbu η
menjadi :
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐45 
     
Tek ni k
MESI N
( )
∫ ∫



=
b
b
a
F R
R E
v
c
0
2
2
2 2
8 2
2
32 1
πα ε
π
ε
(2.8)
Untuk gaya yang searah dengan sumbu ξ poros retak mempunyai fleksibilitas yang berbeda,
sebagai berikut :
ξ α
π
α
α ε
ξ
d d
R
h
F
E
v
c
b a
∫ ∫



















=
0 0
8 2
2
1
2
2
32
1
(2.9)
Dimana :



































− + ⎟





+
=






h
h h
h
F
2
cos
2
sin 1 37 , 0 37 , 0 752 , 0
3
2
1
πα
πα α
α
(2.10)
Harga kekakuan yang diperoleh dari perhitungan diatas dapat digunakan sebagai pembanding untuk
menguji validitas dari model yang telah dibuat.
 
3.  Data Dan Hasil Pengujian Eksperimental

1. Posisi Pembebanan Saat Pengujian
Saat pengujian terdapat dua variasi pembebanan dan dua variasi tumpuan. Pada pembahasan ini
hanya ditampilkan data dan hasil pengujian dari satu jenis tumpuan dan satu jenis pembebanan (batang
kantilever).

Gambar 3.1 Posisi pembebanan pada kantilever


2. Arah Putar Poros
Pada saat pengujian poros diputar berlawanan arah jarum jam, dari titik 0
0
diputar hingga ke titik
360
0
. Arah putaran divisualisasikan seperti pada gambar di bawah ini.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐46 
     
Tek ni k
MESI N




Gambar 3.2 Arah putar poros

Variasi kekakuan lentur poros hasil pengujian untuk setiap posisi sudut poros, dapat ditentukan
dengan persamaan :

i i
Defr mg K = (i = 1,2,...,25) (3.1)

dimana m adalah massa beban (1,2 kg) dan g adalah percepatan gravitasi (9,8m/s
2
).

Variasi defleksi lentur
relatif
i
Defr ditentukan dengan persamaan :

i i i
Def Defr Δ − =
(3.2)

Di mana Def adalah defleksi lentur (absolut) dan Δ adalah misaligment di ujung bebas poros.
Kedua besaran ini dihasilkan dari pengukuran. Dalam pengujian, misaligment dan defleksi lentur poros
diukur sebanyak dua kali dan diambil harga rata-ratanya. Pengujian di lakukan pada setiap selang posisi
sudut poros 15°. Pengukuran misaligment di dekat tumpuan menyatakan ketidakbulatan poros sedangkan
pengukuran misaligment di ujung poros bebas poros menyatakan ketidakbulatan dan ketidaklurusan
poros.

3. Hasil Pengujian Defleksi Poros
Dari hasil pengujian yang dilakukan secara kontinyu didapatkan harga defleksi poros retak dua
sisi terhadap posisi sudutnya (θ). Adapun harga-harga tersebut adalah seperti pada gambar berikut di
bawah ini.

Poros Retak 30%



Gambar 3.3 Kurva defleksi lentur sebenarnya (Uji) poros retak 30% dua sisi





Sudut 0

Sudut 90

Sudut Sudut Sudut
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐47 
     
Tek ni k
MESI N
Poros Retak 50%



Gambar 3.4 Kurva defleksi lentur sebenarnya (Uji) poros retak 50% dua sisi


Poros Retak 70%



Gambar 3.5 Kurva defleksi lentur sebenarnya (Uji) poros retak 70% dua sisi

4. Penentuan Harga Kekakuan Poros
Dari hasil pengujian untuk mendapatkan harga kekakuan poros retak dua sisi terhadap posisi
sudutnya (θ) yang diperlihatkan pada gambar, didapat harga sebagai berikut :

Poros Retak 30%


Gambar 3.6 Kurva kekakuan lentur poros retak 30% dua sisi

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐48 
     
Tek ni k
MESI N

Poros Retak 50%



Gambar 3.7 Kurva kekakuan lentur poros retak 50% dua sisi

Poros Retak 70%



Gambar 3.8 Kurva kekakuan lentur poros retak 70% dua sisi

4. Analisis
Dalam penelitian, pada poros dilakukan pengujian statik yaitu berupa pengukuran defleksi lentur
poros. Spesimen uji berupa poros dari material jenis silver steel dengan diameter 12 mm dan panjang 240
mm, yang diberi retak melintang buatan di kedua sisinya. Retak tersebut dibuat oleh EDM yang berjarak
125 mm dari ujung bebas poros dengan kedalaman 30%, 50% dan 70% dari diameternya.
Dalam penelitian dilakukan dua cara pengujian, yaitu dalam keadaan di ujung bebas poros tanpa
beban dan dengan beban. Pengujian tanpa beban, defleksi di ujung bebas poros hanya akibat
misalignment poros. Sedangkan pengujian dengan beban, defleksi tersebut akibat misalignment dan gaya
berat beban.
1. Defleksi
Terdapat hal-hal yang mengakibatkan pengujian suatu poros tidak sesuai dengan keadaan
teoritik, hal ini disebabkan oleh :
a) Keterbatasan dari alat-alat pendukung pengujian.
b) Poros dalam keadaan asal (as manufactured) mempunyai ketidakbulatan dan ketidaklurusan yang
perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi ciri getaran karena retak.
c) Kondisi bantalan bola (ball bearing) yang diasumsikan mengalami keausan sehingga poros berputar
tidak sempurna.



ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - X
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TBMK‐49 
     
Tek ni k
MESI N
2. Kekakuan
Dari hasil pengujian defleksi poros yang dilakukan secara statik, didapat harga kekakuan lentur
poros retak dengan cara menghitungnya oleh persamaan (3.1). Dari hasil pengujian diperoleh harga
kekakuan yang bervariasi, sebagai berikut:
a) Poros retak 30%
Harga kekakuan (K) hasil pengujian pada posisi sudut 0
0
,180
0
,dan 360
0
mempunyai harga yang lebih
kecil dibandingkan pada posisi sudut 90
0
dan 270
0
. Hal ini diakibatkan karena harga momen inersia
penampang pada posisi 0
0
, 180
0
, dan 360
0
adalah minimum. Harga momen inersia penampang pada
posisi 90
0
dan 270
0
adalah maksimum. Hal ini disebabkan pada poros retak dipengaruhi oleh
kedalaman retak yang bervariasi, posisi dari penampang retaknya dan posisi pembebanan, serta unsur
lain yang mempengaruhi terjadinya ketidaklurusan pada posisi ini, yang disebabkan oleh proses
pembuatan retak EDM dengan cara wire cutting.
b) Poros retak 50%
Harga K hasil pengujian pada posisi sudut poros 0
0
, 180
0
, dan 360
0
mempunyai harga yang lebih
kecil bila dibanding harga K untuk posisi sudut 90
0
dan 270
0
. Untuk setiap posisi yang sama, harga
kekakuan poros retak 50% lebih kecil dari pada kekakuan poros retak 30%. Hal ini disebabkan
karena terjadinya penurunan momen inersia penampang dari poros retak. Momen inersia penampang
ini berkurang akibat adanya pengurangan luas penampang lintang pada bagian poros yang mengalami
retak. Pengurangan luas penampang lintang mengakibatkan defleksi yang terjadi semakin besar.
c) Poros retak 70%
Harga K hasil pengujian untuk posisi 0
0
, 180
0
, dan 360
0
mempunyai harga yang lebih kecil dari
pada harga pada posisi 90
0
dan 270
0
. Untuk setiap posisi sudut pada posisi retak, harga K hasil
pengujian poros retak 70% lebih kecil dari harga K pada poros retak 50%. Hal ini disebabkan oleh
penurunan momen inersia penampangnya. Momen inersia penampang berkurang akibat adanya
pengurangan luas dari penampang lintang di bagian poros yang mengalami retak, dimana penampang
lintang untuk poros 70% memiliki harga kedalaman retak paling besar.

5. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data dan analisis data, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Retak melintang buatan akibat proses EDM dengan menggunakan wire cutting yang terjadi pada
poros dapat menyebabkan ketidaklurusan.
2. Semakin berkurang penampang suatu poros, maka defleksi yang terjadi akan semakin besar.
3. Harga kekakuan (K) lentur poros dengan retak melintang dua sisi, didapat harga yang minimum
pada posisi sudut 0
0
, 180
0
, dan 360
0
terhadap sudut porosnya. Sedangkan harga maksimum
kekakuan terdapat pada posisi sudut 90
0
dan 270
0
.
4. Untuk setiap kondisi sudut poros yang sama, kekakuan lentur poros adalah menurun dengan
bertambahnya kedalaman retak.

Daftar Pustaka
[1] Popov, E . P. 1978. Mechanics of Material. New Jersey : Prentice Hall.
[2] Mitchell, Shigley. 1983. Mechanical Engineering Design. Michigan : McGraw-Hill.
[3] Den Hartog J.P., 1952. Advanced Strength of Materials. New York : McGraw Hill Book
Company Inc,.
[4] Dimaragonas, D. Andrew. Stephen, A.P., Analytichal Method in Rotor Dynamics. London and
New York : Applied Science Publisher.
[5] Thomson, W.T., 1981. Theory of Vibration Application, 2
nd
Ed. India : Prentice Hall Inc.
[6] Saefudin, E., 1999. Kaji Eksperimental Pengaruh Retak Melintang Buatan pada Poros Terhadap
Perilaku Dinamika Rotor. Tesis, Program Studi Teknik Mesin ITB Bandung.









TOPIK MAKALAH:
TEKNOLOGI KONVERSI ENERGI
(TKE)








Tek ni k
MESI N
SEMINAR NASIONAL X
REKAYASA DAN APLIKASI TEKNIK MESIN
DI INDUSTRI
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐1 
 
Tek ni k
MESI N
Analisis Penurunan Temperatur Berdasarkan Variasi Sprayer
Pada Fasilitas Eksperimen Kontemen

Aue Satiia
1
, Wahyu
1
, Luqmanul Bakim
1
, Eui Naizuki
1
Nulya }uaisa
1,2
, Benuio
Tjahjono
2
, Ismu Banuoyo
2
, Kiswanta
2
, Ainui Rosiui
2


1
Engineering and Devices for Energy Conversion (EDfEC) Research Group
Fakultas Teknik Univeristas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor
myjuar@yahoo.com
2
Laboratorium Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN
Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang

Abstrak
Efisiensi proses pendinginan Fasilitas eksperimen simulasi pendinginan uap pada contemen FESPECo
merupakan salah satu bentuk mempersingkat proses pendinginan yang di perlukan untuk mengetahui
berapa besar pengaruh arah sprayer terhadap kinerja sistem pendingin. PESPEKo adalah fasilitas
eksperimen bersekala kecil sebagai simulasi kecelakaan PLTN akibat gagalnya sistem pendingin.
Karakterisasi untuk mengetahui tingkat kemaksimalan arah sprayer FESPECo di lakukan pengoprasian
pompa dengan menggunakan frekuensi 5 Hz dengan variasi arah semprotan ke arah atas dan ke arah
bawah. Pengaruh perubahan arah sprayer tehadap temperatur dan tekanan dicatat, kemudian hasil
karakterisasi dijadikan sebagai acuan untuk pengoprasian FESPECo guna memenuhi kebutuhan
penelitian. Hasil karakterisasi menunjukan bahwa hubungan variasi arah sprayer mengakibatkan
terjadinya perbedaan temperatur yang signifikan terjadi saat waktu 4000 detik pada Tc 5 sprayer kearah
atas 342.5 K dan kearah bawah 345.7 perbedaan terjadi karna sudut sprayer dan pengaruh pressur.

Kata-kata kunci: Karakterisasi, pengoprasian, fariasi sprayer, temperatur Ideal Gas, Polytropic Proses

1. PENDAHULUAN
Peristiwa kecelakaan reaktor nuklir adalah peristiwa yang menjadi perhatian dalam setiap desain
Pembangkit Listrik Tanaga Nuklir (PLTN). Sistem keselamatan PLTN sendiri telah menerapkan sistem
depend in depth (pertahanan berlapis), terdiri dari 5 lapis pertahanan. Pertahahan pertama adalah matriks
dari bahan bakar, kedua adalah pembungkus bahan bakar (cladding), yang ketiga adalah reaktor bejana
tekan (reactor pressure vessel, RPV), kemudian bagian keempat adalah sungkup reaktor (containment)
dan terakhir adalah gedung reaktor[1]. Sungkup reaktor berfungsi untuk menahan pelepasan radiasi akibat
kegagalan pada sistem pendinginan di RPV. Terlepasnya radiasi dari sistem primer atau RPV biasanya
menyertai pelepasan uap yang memiliki tekanan dan temperatur tinggi. Jenis PLTN tipe PWR memiliki
sistem pendingan uap berupa air pendingin yang dilepaskan dari sprayer. Air pendingin dari sprayer
berfungsi mendinginkan uap sehingga terjadi proses pengembunan, kondisi ini secara alamiah akan
menurunkan kelebihan tekanan dan temperatur di dalam sungkup reaktor.
Penelitian terkait proses pendingin uap di dalam sungkup reaktor di Indonesia masih jarang
dilakukan, sehingga tema penelitian terkait pendinginan di dalam sungkup selama simulasi pelepasan uap
melalui pendinginan oleh air dari sprayer menjadi topik penelitian di Pusat Teknologi Reaktor dan
Keselamatan Nuklir (PTRKN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Semenjak tahun 2009 hingga
2010, desain dan konstruksi fasilitas penelitian yang diberinama Fasilitas Eksperimen Simulasi
Pendinginan Uap pada Containment (FESFECo) telah dilakukan. Eksperimen terkait pengaruh variasi
pendinginan baik secara geometri (posisi) dan sifat termal dilakukan untuk memahami karakteristik
penurunan temperatur dan tekanan di dalam sungkup untuk memahami marjin keselamatan PLTN,
khususnya bila terjadi kecelakaan lepasnya uap yang berisi material radioaktif dari RPV ke dalam
sungkup Gas ideal, kita ketahui bahwa dalam gas sejati, hanya dalam limit tekanan mendekati nol sajalah
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐2 
 
Tek ni k
MESI N
persamaan keadaanya mengambil bentuk yang sederhana PV = nRT. Energy internal gas sejati merupakan
fungsi tekanan maupun temperatur (T2/T1)=(P2/P1) dalam proses polytropic beberapa parameter seperti
Temperatur, Tekanan, Volum dan jumlah mol dianggap tidak konstan, dikarenakan pada prosesnya
polytropic ada parameter diata yang masuk menambah dan ada parameter yang hilang atau berkurang
(pada prosesnya ada energy yang masuk dan ada energy yang keluar). 
 
2. Metode Eksperimen

2.1. Fasilitas Eksperimen
Komponen utama dari PESPEKO (lihat pada Gambar 1), adalah bagian uji yang berbentuk silinder
horizontal yang terdiri dari pengungkung (Contaiment) dan Untai Uji BETA (UUB), pompa sirkulasi,
pemanas (heater). Pemanas ini merupakan pemanas tunggal, digunakan untuk memanaskan air yang
berada pada Lower plenum (Bagian benampung air) pemanasan di Lower plenum dilakukan dengan
pemanas listrik berdaya 7,5 Kw (terdiri dari 4 buah heater 1 diantara nya berdaya 4,5kW dan 3 lain nya
berdaya masing-masing 1 kW).

Gambar 1 Fasilitas eksperimen simulasi pendinginan pada kontaimen (FESPECo).

Komponen UUB terdiri dari:
o Pressure gauge (tekanan maksimal 10 bar)
o Flowmeter elektronmagnetic (pengukuran maksimal 5 liter/detik)
o Pompa sirkulasi (maksimal 260 rpm frekuensi maksimum 50 Hz)
o Kondenser
o Tangki reservoir/ekspansi
o Katup-katup
o Tube ½ inch

Komponen FESPECo terdiri dari:
o Heater
o Thermocouples
o Safety valve (maksimal 5 bar)
o Nozzel (dengangan sudut semprotan 70
0
)
o Pressure transducer
o Cimon (sebagai alat pembaca temperatur dan tekanan yang langsung dapat di baca komputer
maksimal 1 data perdetik)

Berdasarkan Gambar 1, proses pendinginan dimulai dari pompa pada UUB yang disirkulasikan sebelum
terjadi nya proses pendinginan pada PESPEKO. Sirkulasi akan melalui pre-heater dan kondensor lalu
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐3 
 
Tek ni k
MESI N
kembali lagi ke pompa. Kondisi ini dilakukan dengan menutup katup kearah PESPEKo. Proses
pendinginan dilakuakn dengan tahapan sebagai berikut:
o Mengisi air kedalam FESPECo sebanyak 30 liter hal ini di lakukan dengan cara manual menggunakan
gelas beker.
o Menghidupkan CIMON (alat ukur pressure dan temperatur).
o Menghidupkan heater sampai dengan pressure mencatai 3 bar.
o Menghidupkan pompa sirkulasi dengan frekuensi putaran pompa sebesar 5 Hz.
o Kemudian setelah mencapai tekanan pada FESPECO mencapai 3 bar katup sirkulasi ditutup lalu aliran
diarahkan ke bepas sebelum katup sprayer di buka.

Foto llengkap UUB dapat dilihat pada Gambar 2, sedangkan untuk FESPECo dapat dilihat pada Gambar
3, lalu gambar 4 dan 5 gambar bagian dalam FESPECo .
 
   
Gambar 2. Foto untai uji BETA (UUB) Gambar 3.Foto Fasilitas simulasi pendinginan uap
pada contaimen
 

Gambar 4 Foto sprayer yang terletak pada bagian
dalam atas FESPECo
Gambar 5 Foto tangki yang terletak pada bagian
dalam bawah FESPECo

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐4 
 
Tek ni k
MESI N
2.2. Pengolahan data
Data penurunan temperatur dan pressure dicatat otomatis 1 data perdetik berdasarkan variasi arah spayer.
Data tersebut dibuat kurva hubungan antara arah semprotan terhadap penurunan temperatur, serta kurva
perbandingan temperatur pada setiap termokopel.


3 Hasil Dan Pembahasan

3.1. Hasil
Hasil pengukuran debit aliran ditampilkan pada tabel 1, dimana terliahat perbedaan temperatur
terhadap perbedaan arah sprayer.

Waktu Sprayer ke
arah atas
Sprayer ke
arah bawah
1
2
3
4
5
3996
3997
3998
3999
4000
392.8
392.5
391.2
391.5
391.3
342.7
342.7
342.5
342.5
342.5
392.2
391.4
391.3
391.4
391.1
345.7
346.4
345.8
346
345.7

Pengukuran penurunan temperatur pada cimon hanya memunculkan 1 data per-detik, dengan satuan
o
C
lalu di ubah ke k. Selama eksperimen perubahan temperaratur pada Tc 1 dan 5 terjadi perbedaan
temperatur berdasarkan variasi arah sprayer.


3.2 Penurunan temperatur
Berdasarkan Tabel 1 diperoleh karakteristik penaruh perubahan arah sprayer terhadap temperatur
di dalam FESPECo. Karakteristik tersebut di tampilkan pada Gambar 5.
 
0 1000 2000 3000 4000
340
350
360
370
380
390
400


sprayer ke arah atas
sprayer ke arah bawah
T
E
M
P
E
R
A
T
U
R
,
T

(
K
)
WAKTU,t (s)
TC1
Sprayer dimatikan

Gambar 5 Kurva karakteristik pengaruh pariasi arah sprayer pada TC1

Gambar 5 menunjukan pengaruh arah sprayer terhadap perubahan temperatur pada FESPECo, dimana
karakteristik yang terlihat perbedan akhir temperatur pada detik 4000. Sehingga dapat dikatakan sprayer
ke arah atas lebih maksimal dibanding ke arah bawah pada TC1. Perbandingan pada Gambar 3 pada TC
5 terjadi perubahan temperatur terhadap variasi sprayer di dalam FESPECo.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐5 
 
Tek ni k
MESI N
 
0 1000 2000 3000 4000
330
340
350
360
370
380
390


Sprayer ke arah atas
sprayer ke arah bawah
T
E
M
P
E
R
A
T
U
R
,
T

(
K
)
WAKTU,t (s)
TC5
Sprayer dimatikan

Gambar 5 Kurva karakteristik pengaruh pariasi arah sprayer pada Tc 5

Gambar 5 menunjukan pengaruh arah sprayer terhadap perubahan temperatur pada FESPECo, terjadi
perbedaan temperatur yang signifikan pada sprayer ke arah atas dan bawah akibat letak TC 5 berada
bagian paling ataas dinding dan pengaruh sudut semprotan.


4. Kesimpulan
Karakterisasi pengoprasian FESPECo berdasarkan perubahan arah sprayer telah dilakukan,
kesimpulan yang dapat di peroleh adalah: Hubungan antara perubahan arah sprayer terhadap perubahan
temperatur mangakibatkan terjadi nya perbedaan penurunan temperatur. Sprayer kearah atas lebih
maksimal dibandingkan sprayer kearah bawah yang di akibatkan sudut sprayer dan pressur.

Notasi

P : Tekanan [Bar]
T : Temperatur [
O
K]
V

: Volum [m
3
/liter]
n : Perbandingan C
p
/C
v
[-]
R : Tetapan gas universal [kJ/kmol K]
t : Waktu [s]



Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Laboratorium Termohidrolika PTRKN
BATAN yang telah mengijinkan untuk melakukan penelitian. Dosen peneliti dan mahasiswa
Laboratorium EDfEC (Research Group), para Dosen pembimbing, senior-senior yang telah meluangkan
waktu untuk membimbing dan rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan dorongan dan motivasi
sehingga makalah ini terselesaikan.


Daftar Pustaka
[1]. http:/www.batan.go.id/organisasi/profile.pho, 2 April 2007.
[2]. http:/www.batan.go.id/ptrkn/index.pnp?option=comcontent&task=view&id=15&ltemid=46#thermo
, 2 April 2007.
[3]. JanuarAkbar, studi identifikasi rejim aliran berdasarkan perbadaan diameter pipa dan temperatur air
pada untai uji BETA (UUB). PTRKN BATAN, Serpong 2009.
[4]. Edi Marzuki, analisis laju aliran pada untai uji BETA (UUB) berdasarkan perubahan analisis pompa
sirkulasi. PTRKN BATAN, Serpong 2009.
[5]. Zemansky, M. W dan Dittman, R. H, Kalor dan termodinamika, ITB diterjemahkan oleh The
Houw Liong, 1986.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐6 
 
Tek ni k
MESI N
Analisis Rugi Kalor Berdasarkan Variasi Sudut
KemiringanUntai Simulasi Sirkulasi Alamiah (Ussa-Ft02)
Budi Gusnawan Juarsa
1,2
, Rizqi Faizal Muttaqin
1,2
, Mochammad Farid
1,2
, Sigit
Herlambang
1,2
, Januar Akbar
1,2
, Yogi Sirodz Gaos
2
, Edi Marzuki
2
, Mulya Juarsa
2


1
Mahasiswa Konversi Energi Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor
budi.gjuarsa@yahoo.com

2
Engineering and Devices for Energy Conversion (EDfEC) Research Group
Fakultas Teknik Univeristas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor


Abstrak:
Salah satu metoda untuk mengoptimalisasikan penggunaan energy adalah dengan menerapkan hukum
alamiah, dalam hal ini fenomena natural sirkulasi. Efisiensi fenomena sirkulasi alamiah dilakukan
dengan mengidentifikasi nilai rugi kalor menggunakan Untai Simulasi Sirkulasi Alamiah (USSA-FT02).
Analisis dilakukan untuk mengetahui pengaruh nilai pemindahan kalor oleh air terhadap nilai rugi kalor
yang terjadi pada sistem aliran tertutup dengan adanya distribusi kalor pada fluida kerja (air) pada
USSA-FT02, dengan komponen terdiri atas tube berdiameter 1 inchi, pre-heater, heater, dan cooler.
Variasi eksperimen adalah beda ketinggian antara sisi panas dan sisi dingin dengan mengubah sudut
kemiringan loop, yaitu pada sudut 90
o
, 45
o
dan 0
o
. Temperatur dari outlet heater dan temperatur inlet
cooler digunakan sebagai parameter yang diukur dan direkam dengan rentang waktu eksperimen selama
45 menit. Hasil eksperimen dan perhitungan menggunakan beberapa korelasi menunjukkan, pemindahan
kalor akan mencapai nilai yang secara berturut-turut 0,32 watt, 0,37 watt dan 0 watt berdasarkan
perbedaan sudut kemiringan 90
o
, 45
o
dan 0
o
, mempengaruhi kenaikan nilai rugi kalor dari 10,6 hingga
28,4 watt.

Kata-kata kunci: sudut kemiringan, pemindahan kalor, rugi kalor

1. Pendahuluan

Peralatan pemindah kalor berupa loop tertutup thermosyphon memiliki kemampuan untuk
memindahkan kalor dari suatu sumber kalor ke area yang lebih dingin lain dengan jarak tertentu. Kondisi
ini dapat digambarkan dengan loop tertutup yang diisi fluida kerja (air). Salah satu bagian dipanaskan dan
bagian lainnya didinginkan, maka kerapatan air di bagian yang panas akan lebih rendah dibandingkan
dengan bagian yang dingin. Perbedaan hidrostatik karena perbedaan kerapatan akan menyebabkan
gradient kerapatan yang menggerakkan air untuk mengalir di dalam loop. Kemampuan pergerakan
molekul air karena beda kerapatan dan ditambah adanya beda ketinggian akan menimbulkan aliran di
dalam loop. Stabilitas aliran diharapkan akan timbul apabila terjadi perbedaan temperatur yang stabil
antara bagian panas dan bagian dingin. Aliran tanpa adanya intervensi mekanik seperti pompa atau
kendali aliran, disebut fenomena sirklasi alamiah (Natural Circulation)[1].
Sirkulasi alamiah tertutup dapat mentransfer panas yang lebih besar dengan jarak yang relatif tanpa ada
bagian yang bergerak seperti pompa dan aktif kontrol[2]. Beberapa peneliti seperti Vijayan dan nayak
telah mempelajari keuntungan dan tantangan dari sirklasi alamiah menggunakan untai atau loop
terbuka[3]. Misale dan kawan-kawan juga telah mempelajari sirkulasi alamiah satu fasa menggunakan
untai kecil. Fasilitas Untai Simulasi Sirkulasi Alamiah (USSA-FT02) dibuat untuk mempelajari fenomena
laju aliran sirkulasi yang terjadi tanpa kerja pompa, dimana aliran terjadi karena adanya pemanasan oleh
heater ke air, dan pendinginan oleh cooler[4]. Pada sistem perpipaan terrtutup kalor dari heater akan
berpindah ke pipa dan terdistribusi ke seluruh permukaan pipa, proses distribusi tersebut akan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐7 
 
Tek ni k
MESI N
mengakibatkan sejumlah kalor yang terlepas ke sekitar pipa. Fenomena tersebut disebut dengan rugi kalor
(heat loss) dimana pada proses distribusi, kalor pada pipa akan berpindah ke lingkungan sekitar yang
bertemperatur lebih rendah dari temperatur pipa.maka, pada penelitian ini USSA-FT02 yang merupakan
penalitian lanjutan dengan memakai diameter loop 1”, dan sudut kemiringan 0
0
, 45
0
, 90
0
, serta panjang
loop 4800 mm akan mempelajari fenomena rugi kalor dan besar rugi kalor pada untai sebagai
pengembangan dari penelitian sebelumnya. Penelititan ini bertujuan untuk memperoleh nilai rugi kalor
berdasarkan beda ketinggian heater dan cooler dengan memvariasikan sudut kemiringan untai.

2. Metode Eksperimen
2.1. Fasilitas Eksperimen
Fasilitas eksperimen Untai Simulasi Sirkulasi Alamiah (USSA-FT02) yang ada di laboratorium
teknik dan devais untuk konversi energy (EDfEC, Engineering and Device for Energy Conversion) di FT
UIKA merupakan pengembangan dari Untai Simulasi Sirkulasi Alamiah (USSA-FT01) yang terdiri atas
rangkaian tube SS-304 1 inch (2,54 cm), slide regulator vultage, Pressure Gauge, heater, Pre-heater,
Cooler, dan tangki ekspansi. Gambar 1 menunjukkan geometri USSA-FT02[5].

Gambar 1. Fasilitas eksperimen USSA-FT02[5]
Perubahan sudut kemiringan dengan merubah posisi kedududkan yang ditopang oleh engsel. Busur
derajat dipasang pada salah satu engsel untuk mengetahui sudut kemiringan untai. Bagian lengkap dari
fasilitas eksperimen ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 1 menunjukkan posisi untai berdasarkan sudut
kemiringannya. Perbedaan ketinggian (H) diperoleh dengan rumus:
( ) sin H L α α = ………………………………. (1)
dengan L (meter) adalah jarak pada pipa antara titik tengan heater dan cooler, α adalah sudut kemiringan
untai.
Tegangan masuk untuk heater divariasikan dengan menggunakan slide regulator voltage dan
kemudian mengukur arus masuk menggunakan tang ampere. Pengukuran data temperatur menggunakan
termokopel tipe K, kemudian data pengukuran direkam melalui system akuisisi data (DAS) WinDAQ
T1000 dengan sampling rate 1 data per detik pada 8 kanal (dalam makalah ini hanya ditampilkan untuk
TC6 (outlet heater) dan TC8 (inlet cooler). Gambar fasilitas eksperimen USSA-FT02, seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐8 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 2. Fasilitas eksperimen USSA-FT02
2.2. Prosedur Eksperimen
Eksperimen sebelumnya dilakukan pengisisan untai dengan air melaui katup inlet sampai tekanan
idrostatik 1 bar lebih (untuk mengecek kebocoran). Setelah tidak terjadi kebocoran, eksperimen sudah
bisa dilakukan. Setelah air terisi pada untai, setting terhadap system instrumentasi dilakukan. Kemudian
posisi untai dirubah berdasarkan sudut kemiringan yang ditentukan, dalam hal ini 90
o
, 60
o
, 45
o
, 30
o
dan
0
o
. langkah pertama menghidupkan sampai temperatur konstan -10
o
C. Kemudian heater dinaikan sekala
berkala sebesar 20 volt setiap 5 menit sampai 180 volt atau sampai 1000 watt selama 45 menit. Saat
heater dihidupkan, DAS sudah mulai merekam data. Eksperimen dilakukan untuk setiap perubahan sudut
kemiringan untai.


2.3. Perhitungan
Hasil pengamatan temperatur pada outlet heater dan inlet cooler dikonversikan menjadi densitas
air untuk memperoleh perbedaan densitas air, sehingga dapat digunakan untuk memperoleh laju aliran
massa air pada outlet heater sampai inlet cooler USSA-FT02, menggunakan korelasi (1)[6-7].

( ) 2
a c h
gH
m
R
ρ ρ ρ −
= &
……………… (2)

Dengan   (kg/s) adalah laju aliran massa air, H (meter) adalah beda ketinggian antara heater dan cooler,
ρ (kg/m
3
) adalah massa jenis air, g percepatan gravitasi (m/s
2
) dan R adalah resistensi hidrodinamika (m
4
).
Hasil perkalian antara Q (m
3
/s) debit air dengan densitas air adalah laju aliran massa air, seperti korelasi
(2).
a a
m Q Av ρ ρ = = & ……………………… (3)

Kemudian, setelah laju aliran massa air pada untai diketahui kemudian dilanjutkan dengan penentuan
nilai pemindahan kalor oleh air berdasarkan persamaan (3).

( )
p p h out c in
q mc T mc T T
− −
= Δ = − & & ………… (4)
Hasil pengukuran temperatur pada outlet heater dan inlet cooler digunakan untuk memperoleh nilai
perpindahan kalor menyeluruh menggunakan persamaan (4);

( )
m air ling
q UA T UA T T = Δ = −
…………….. (5)
dengan U merupakan perpindahan kalor pada pipa dan ΔT
m
adalah perbedaan temperatur antara air dan
udara ruangan.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐9 
 
Tek ni k
MESI N
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Hasil pengukuran temperatur
Hasil pengukuran pada dasarnya dilakukan pada 8 titik pengukuran, untuk penelitian ini hanya
pada 2 titik pengukuran temperatur saja yang ditampilkan. Gambar 3, Gambar 4 dan Gambar 5
menampilkan hasil pengukuran Toh dan Tic serta selisihnya berdasarkan variasi sudut kemiringan untai
secara berturut-turut dari 90
o
, 45
o
dan 0
o
. fenomena perubahan temperatur selama 45 menit dijelaskan
sebagai berikut, pada Gambar 3 untuk sudut kemiringan 90
o
kenaikan temperatur air pada outlet heater
naik secara perlahan mulai dari 0 detik hingga sektar 1350 detik temperatur air yang semula 23
o
C naik
sampai 26
o
C. kenaikan temperatur air secara perlahan karena pengaruh cooler yang mampu menyerap
kalor yang diberikan heater. Kemudian temperatur mulai naik cukup tajam dari 1350 detik hingga 2700
detik, kecendrungan kenaikan temperatur air yang tajam pada outlet heater karena kemampuan dari
cooler yang tidak mampu menyerap kalor yang diberikan heater. Sedangkan pada posisi 45
o
(Gambar 4)
profil temperatur sama seperti pada kasus 90
o
, bahkan lebih tajam dari sebelumnya.


0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
22
24
26
28
30
32
34
36
38
40


T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T

[
o
C
]
Waktu, t [detik]
T
oh
T
ic
0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
20
25
30
35
40
45
50
55


T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T

[
o
C
]
Waktu, t [detik]
T
oh
T
ic
Gambar 3. Temperatur air pada outlet heater dan
inlet cooler untuk sudut kemiringan 90
o

Gambar 4. Temperatur air pada outlet heater dan
inlet cooler untuk sudut kemiringan 45
o



0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
20
30
40
50
60
70
80


T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T

[
o
C
]
Waktu, t [detik]
T
oh
T
ic
 
Gambar 5. Temperatur air pada outlet heater dan inlet cooler untuk sudut kemiringan 0
o

Kenaikan secara perlahan dari 0 detik sampai 1350 detik dati temperatur 24
o
C sampai 27
o
C, berikutnya
sampai 2700 detik meningkat hingga 44
o
C. Pada kasus kemiringan untai 0
o
, kestabilan temperatur terjadi
hanya sampai sekitar 600 detik. Peningkatan drastis pada detik 600 sampai 2700 detik hingga mencapai
temperatur akhir 71
o
C. Perbedaan gradien kenaikan temperatur dapat disimpulkan mengalami perubahan
berdasarkan perubahan sudut kemiringan untai. Gradient kenaikan temperatur menurun untuk kenaikan
besar sudut kemiringan.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐10 
 
Tek ni k
MESI N

3.2 Pembahasan
a. Laju aliran massa air
Berdasarkan data pengukuran temperatur pada outlet heater dan inlet cooler seperti pada Gambar 3,
Gambar 4 dan Gambar 5. Kemudian nilai massa jenis air berdasarkan perbedaan temperatur
menggunakan tabel sifat spesifik air,data tesebur dimasukkan kedalam persamaan (1). Dengan terlebih
dahulu menghitung resistensi hidrodinamika (R). Hasil perhitungan disajikan pada Gambar 6, Gambar 7
dan Gambar 8 untuk setiap sudut kemiringan.
0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
0.003
0.004
0.005
0.006
0.007
0.008
0.009
0.010
0.011
0.012


L
a
j
u

a
l
i
r
a
n

m
a
s
s
a

a
i
r

,

m

[
k
g
/
s
]
Waktu, t [detik]
Laju aliran massa air
α=90
ο

0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
-0.001
0.000
0.001
0.002
0.003
0.004
0.005
0.006
0.007
0.008


L
a
j
u

a
l
i
r
a
n

m
a
s
s
a

a
i
r

,

m

[
k
g
/
s
]
Waktu, t [detik]
Laju aliran massa air
α=45
ο

Gambar 6. Laju aliran massa air terhadap waktu
untk sudut kemiringan 90
o


Gambar 7. Laju aliran massa air terhadap waku
untuk sudut kemiringan 45
o



0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
-1.0
-0.8
-0.6
-0.4
-0.2
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0


Laju aliran massa air
L
a
j
u

a
l
i
r
a
n

m
a
s
s
a

a
i
r

,

m

[
k
g
/
s
]
Waktu, t [detik]
α=0
ο

Gambar 8. Laju aliran massa air terhadap waktu untuk sudut kemiringan 0
o

Gambar 6 dan Gambar 7 memiliki profil perubahan laju aliran massa air yang sesuai dengan perubahan
temperatur pada heater. Stabilitas aliran pada kedua kasus tidak tercapai, hal ini sangat sesuai dengan
perubahan temperatur seperti pada Gambar 3 dan Gambar 4. Dalam kondisi ini, pengaruh perubahan
tenperatur pada untai akan berpengarh pula pada perubahan laju aliran massa. Keadaan ini telah
diungkapkan oleh Misale[6] dan D’Auria[7], bahwa perubahan perbedaan temperatur akan berpengaruh
pada perubahan aliran.
Gambar 8 memperlihatkan tidak adanya laju aliran massa pada untai. Mekanisme yang dapat
dijelaskan dalam kasus ini adalah, pada sudut kemiringan 0
o
, efek dari gaya apung pada beda ketinggian
H=0 meter menyebabkan gerakan molekul air mengisi kembali bagian yang kurang rapat tidak terjadi.
Kemudian jika dibandingkan dengan sudut kemiringan 45
o
dan 90
o
, efek gaya apung akan semakin
membesar sesuai dengan perubahan perbedaan ketinggian, yaitu 0,389 meter dan 0,550 meter.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐11 
 
Tek ni k
MESI N

b. Perpindahan kalor menyeluruh
perhitungan perpindahan kalor menyeluruh dilakukan dengan menggnakan persamaan (5) dan
memasukkan nilai perpundahan kalor menyeluruh pada untai.
1
1 1
air ss u
U
x
h k h
=
Δ
+ +
…………………….. (6) 
Hasil perhitungan disajikan pada Gambar 9, Gambar 10 dan Gambar 11 berturt-turut untuk sudut 90
o
, 45
o

dan 0
o
.
0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
-3.0
-2.5
-2.0
-1.5
-1.0
-0.5
0.0
0.5
1.0
1.5
2.0
2.5
3.0
3.5
4.0


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
q total
Penyerapan kalor
(Heat absorbsion)
Pelepasan kalor
(Heat loss)
T
air
=T
pipa
=T
udara
α=90
ο
 
 
Gambar 9. Perpindahan kalor menyeluruh terhadap waktu pada sudut 90
o


Gambar 9 menunjukkan profil perpindahan kalor menyeluruh terhadap waktu, terlihat pada 0 detik hingga
sekitar 2110 detik nilai perpindahan kalor menunjukkan angka minus (-). Kondisi tersebut diakibatkan
temperatur pada air lebih rendah dari temperatur udara rangan sekitar untai, karena pengaruh cooler pada
untai yang dihidupkan terlebih dahulu sampai suh konstan (-10
o
C). Sehingga air pada untai menyerap
kalor (heat absorbsion) dari udara yang bertemperatur lebih tinggi dari air. Kemudian dari sekitar detik
2111 perpindahan kalor berbalik, karena air yang terus menerus diberikan kalor oleh heater
mengakibatkan temperatur air menjadi lebih besar dari temperatur sekitar, sehingga kalor pada air dilepas
ke udara sekitar (heat loss).
0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
5
6


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
Penyerapan kalor
(Heat absorbsion)
Pelepasan kalor
(Heat loss)
T
air
=T
pipa
=T
udara
α=45
ο

Gambar 10. Perpindahan kalor menyeluruh terhadap waktu pada sudut 45
o


Gambar 10 menunjukkan pelepasan kalor yang terjadi lebih cepat terjadi mlai dari detik 1900. Terlihat
pada sudut kemiringan 45
o
penyerapan kalor pada detik awal lebih kecil dibandingkan sudut 90
o
. Hal ini
disebabkan karena laju aliran massa air yang lebih kecil untuk penyebaran kalor yang dibawa oleh aliran
air berkurang dan terjadi penumpukan kalor pada daerah antara outlet heater sampai inlet cooler, dan nilai
kalor yang dilepas (heat loss) yang terjadi menjadi lebih besar.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐12 
 
Tek ni k
MESI N
0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
-1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
Pelepasan kalor
(Heat loss)
α=0
ο
 
Gambar 11. Perpindahan kalor menyeluruh terhadap waktu pada sudut 0
o

Gambar 11 untuk sudut 0
o
pelepasan kalor langsung terjadi dari awal pengambilan data. Hal ini
disebabkan oleh cooler tidak berpengaruh pada sistem karena tidak adanya laju aliran massa air, dan
kalor yang diterima air tidak terdistribusi oleh pemindahan kalor air. Sehingga kalor yang diterima oleh
air menumpuk dan temperatur pada air meningkat secara signifikan dan menyebabkan pelepasan kalor
(heat loss) yang lebih besar dari sudut lainnya.
Berdasarkan Gambar 9, Gambar 10 dan Gambar 11 terlihat bahwa semakin besar sudut kemiringan
atau semakin besar nilai pemindahan kalor dari outlet heater sampai inlet cooler akan berbanding terbalik
dengan besarnya nilai rugi kalor yang terjadi, secara berturut-trut adalah 3,7 watt, 5,2 watt dan 22,7 watt.
Gambar 12 menunjukkan perbandingan ketiga perubahan nilai rugi kalor berdasarkan sudut
kemiringannya.
0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700
-4
-2
0
2
4
6
8
10
12
14


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
q pada α=0
ο

q pada α=45
ο
q pada α=90
ο

Gambar 12. Perbandingan perpindahan kalor


4. Kesimpulan
Hasil analisis nilai rugi kalor berdasarkan perubahan sudut kemiringan untai, menyimpulkan bahwa nilai
rugi kalor dipengaruhi oleh laju aliran massa air, serta beda ketinggian antara heater dan cooler. Nilai rugi
kalor terendah adalah 3,7 watt untuk sudut 90
o
dikarenakan nilai laju aliran massa air 0.011 kg/ dan nilai
rugi kalor terbesar adalah 22, 7 watt pada sudut kemiringan 0
o
, dikarenakan laju aliran air 0 kg/s.

Daftar Notasi
H :
Beda ketinggian heater dan
cooler
[m]
α : Sudut kemiringan [°]
L
: Jarak antara heaterdan cooler
[m]
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐13 
 
Tek ni k
MESI N
 

: Laju aliran massa air
[kg/s]
K
ss
: Konduktivitas termal ss 304 [W/m.K]
g : Gaya gravitasi [m/s
2
]
Ρ
a
: Massa jenis air [kg/m
3
]
Q

: Debit aliran air [m
3
/s]
R : Tahanan aliran [m
4
]
A : Luas penampang pipa [m
2
]
v
: Kecepatan aliran air
[m/s]
q
: Perpindahan kalor
[watt]
c
p
: Kalor spesifik air [Kj/kg.K]
T

: temperatur [
o
C]
U : Koefisien perpindahan kalor [w/m.K]
Δx : Tebal pipa [m]
h
air
: Koefisien konveksi air [w/m
2
K]
h
udara
: Koefisien konveksi udara [w/m
2
K]

Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepala lab. EDfEC untuk menyediakan fasilitas untuk riset,
serta ketua jurusan Teknik Mesin dan para dosen untuk dukungan moril. Kepada asosiate riset lab EDfEC
dan para rekan mahasiswa riset atas kerjasamanya kami capkan terima kasih. Terimaksih kepada Hibah
Bersaing nasional DIKTI TA.2011 atas dukungan dananya.


Daftar Pustaka
[1] Juarsa, Mulya, dkk, Studi Eksperimental Laju Aliran Massa Air Berdasarkan Perubahan Sudut
Kemiringan Untai Pada Kasus Sirklasi Alamiah Menggnakan Untai Sirklasi Alamiah (USSA-FT01),
Jurnal Material dan Energi Indonesia, Jursan Fisika FMIPA, Universitas Padjajaran Vol. 01, No. 01
(20011) 22-30.
[2] Vijayan P.K., Nayak A.K., Natural Circulation Systems: Advantages And Challenges, Reactor
Engineering Division Bhabha Atomic Research Centre, Mumbai, India, IAEA, Course on Natural
Circulation in Water-Cooled Nuclear Power Plants ICTP, Trieste, Italy, 25-29 June, 2007
[3] Vijayan P.K., Experimental Validation And Database of Simple Loop Facilities, Reactor
Engineering Division, Bhabha Atomic Research Centre, Mumbai, India, IAEA Course on Natural
Circulation in Water-Cooled Nuclear Power Plants, ICTP, Trieste, Italy, 25-29 June, 2007.
[4] Setianto, Agus Putra, Analisis Perpindahan Kalor Melalui Pipa SS304 Berdasarkan Pengukuran
Temperatur Pada Untai SimulasiSirkulasi Alamiah, Fakultas Teknik, Universitas Ibn Khaldun
Bogor, Bogor, 2010.
[5] Juarsa, Mulya, dkk, Analisis Aliran Sirkulasi alamiah Dengan Bilangan Reynolds Berdasarka
Variasi Sudut Kemiringan Untai Simulasi Sirkulasi Alamiah, Engineering and Devices for Energy
Conversion (EDfEC) Laboratory, Fakultas Teknik, Universitas Ibn Khaldun Bogor, Bogor, 2011.
[6] M. Misale et al., Experiments in a single-phase natural circulation mini-loop, University of Genoa,
Genoa, Italy (2006).
[7] F. D’Auria, et al., Insights Into Natural Circulation Stability, Dipartimento Di Ingegneria
Meccanica, Nucleare e Della Produzione Universita' di Pisa 56100 Pisa, Italy, IAEA Course on
Natural Circulation in Water-Cooled Nuclear Power Plants, ICTP, Trieste, Italy, 25-29 June (2007).




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐14 
 
Tek ni k
MESI N
Analisi Perpindahan Kalor Konveksi Berdasarkan Variasi
Daya Heater Pada Bundel Uji Simulasi Eksperimen
Temperatur Tinggi (BUSETTI)


Buui 0tomo
1
, 0skai Riko
1
, Kiswanta
2
, Ainui Rosiui
2
,
Ismu Banuoyo
2
, Eui Naizuki
1
,Nulya }uaisa
2

1
Engineering and Devices for Energy Conversion (EDfEC) Research Group
Fakultas Teknik Univeristas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor
bud_utomo88@yahoo.co.id

2
Laboratorium Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN
Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang
kiswanta@batan.go.id



Abstrak

Penelitian diperlukan untuk mengetahui laju perpindahan kalor konveksi pada Bundel Uji
Simulasi Eksperimen Temperatur Tinggi ( BUSETTI). Studi identifikasi telah dilakukan untuk
mengetahui laju perpindahan kalor akibat adanya perambatan kalor dari bagian
bertemperatur tinggi ke bagian bertemperatur rendah sirkulasi udara sebagai medianya
dimana perubahan fasa udara menjadi gas dimungkinkan, proses perpindahan kalor terjadi
pada bagian uji BUSETTI melibatkan tiga cara perpindahan kalor, yaitu konduksi, konveksi
dan radiasi. Kondisi terpenting dalam pemanasan udara adalah terbentuknya aliran udara
diakibatkan perbedaan temperatur ke bagian pelat dan ke bagian dalam yang dilaluinya
dengan nilai koefisien udara (h) konstan. Rangkaian BUSETTI terdiri dari pelat berbentuk
kubus berukuran: Panjang 0,2x0,2 m, tinggi; 1,2 m, tebal pelat 4mm, bahan pelat SS304.
Variasi eksperimen dilakukan dengan pengukuran temperatur dengan daya heater yang
dinaikan setiap 10 menit hingga pencapaian daya 220volt dengan memvariasikan temperatur
500
o
C, 600
o
C, 650
o
C perubahan variasi daya heater terhadap waktu dicatat, kemudian
dijadikan acuan untuk melakukan perhitungan perpindahan kalor konveksi yang akan
dibandingkan dengan hasil pengukuran., Hasil perbandingan daya terhadap temperatur
antara perhitungan perpindahan kalor konveksi dengan data pengukuran daya menunjukkan
penyimpangan terkecil 0,51% pada temperatur 650
o
C, penyimpangan terbesar 64,47% pada
temperatur 600 C. yang bemberikan gambaran fenomena perpindahan kalor konveksi.
Berdasarkan hasil ekperimen dan perhitungan menunjukan bahwa laju perpindahan kalor
konveksi pada pelat BUSETTi ditentukan oleh, konduktivitas termal, luas penampang dan
koefisen udara.

Kata-kata kunci: temperatur tinggi, daya heater, karakterisasi, perpindahan kalor
konveksi.


1.Pendahuluan
Bundel Uji Simulasi Eksperimen Temperatur Tinggi (BUSETTI), yang dimiliki oleh
Laboratorium Termohidrolika PTRKN BATAN digunakan untuk meneliti fenomena sirkulasi udara
sebagai media temperatur tinggi. Bagian uji BUSETTI digunakan untuk eksperimen media pemanasan
pada pelat berbentuk kubus berukuran: Panjang 0,2x0,2 m, tinggi 1,2 m, tebal pelat 4mm, bahan pelat
SS304. Proses perpindahan kalor pada suatu benda yang memiliki gradien menyebabkan terjadi
perpindahan kalor atau perambatan kalor dari bagian yang bertemperatur tinggi ke bagian yang
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐15 
 
Tek ni k
MESI N
bertemperatur rendah[1]. BUSETTI dapat mensimulasikan proses perpindahan kalor berdasarkan
distribusi temperaturnya. Prosesperpindahan kalor yang terjadi pada bagian uji BUSETTI melibatkan tiga
cara perpindahan kalor, yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Kondisi terpenting dalam pemanasan udara
adalah terbentuknya aliran udara yang diakibatkan perbedaan temperatur perubahan fasa udara menjadi
gas dimungkinkan[2]. Bagian udara yang dipanaskan akan lebih renggang dan udara dari bagian dingin
akan bergerak kearah bagian panas distribusi temperatur pada pelat SS304 dan pada udara yang melalui
akibat perpindahan kalor dari kumparan pemanas ke bagian pelat dan ke bagian dalam yang dilalui
udara[2].
Makalah ini mengandung tujuan penelitian yaitu memperoleh identifikasi perpindahan kalor
konveksi berdasarkan variasi daya heater secara kontinyu. Metodologi
Fasilitas Eksperimen Bagian uji BUSETTI (Budel Uji Simulasi Eksperiment Temperatur Tinggi),
terdiri dari pelat berbentuk kubus, pelat bagian utama bagian uji merupakan pelat SS304 dengan tebal
0,004m dan ukuran panjang 1,2 m dan lebar 0,2 m. Pelat SS304 ini dijadikan sebagai objek penelitian dan
disebut sebagai bagian utama dari bagian uji yang akan dipanaskan hingga mencapai temperatur yang
diinginkan.Geometri tampak depan fasilitas uji BUSETTI, seperti ditunjukan pada Gambar 1.

Gambar 1. Geometri tampak depan fasilitas uji BUSETTI

Uji pemanasan pada bundel uji BUSETTI dilakukan untuk memperoleh data kenaikan
temperatur. Uji pemanasan dilakukan dengan beberapa variasi temperatur maksimum yang dicapai pada
bundel uji. Variasi temperatur maksimum pada uji pemanasan dimulai dari 500°C, 600°C dan 650°C,
dengan alat kontrol slidregulator diperoleh pembacaan voltmeter dan amper yang dicatat secara manual
setiap dinaikan daya sebagai acuan untuk mengidentifikasi kenaikan daya heater. Susunan termokopel
merupakan hasil pengukuran jarak antara panjang kali lebar termokopel yang dipasang pada area aliran
udara. 14 termokopel tersebut digunakan untuk mengukur perubahan temperatur selama proses
ekperimen. Gambar 2. Diagram pemosisian titik termokopel.


Gambar 2. Diagram pemosisian titik termokopel.

Data kenaikan temperatur setiap termokopel selama pemanasan direkam, data per-detik pada 14 kanal
oleh sistem akuisisi data (DAS) WinDAQ T1000.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐16 
 
Tek ni k
MESI N
1.1 Prosedur Eksperimen
Proses pengambilan data pada saat eksperimen BUSETTI dilakukan dengan merubah-ubah besarnya
tegangan (V) pada regulator. Seiring kenaikan tegangan, arus (I) akan mengalami kenaikan sehingga
diperoleh besarnya daya (P) pada heater. Semakin besar daya yang dihasilkan pada heater maka semakin
besar pula temperatur (T) yang terjadi pada bundel uji BUSETTI. Pengaturan besarnya kenaikan
tegangan pada regulator 20 volt setiap 10 menit hingga pencapaian tegangan maksimum 220 volt. Uji
pemanasan dilakukan dengan memanaskan bundel uji secara radiasi hingga temperatur tertinggi mencapai
650°C hasil recor temperatur terbaca oleh DAS (data aquisisi Sistem).

2.2 Perhitungan
Pengamatan kenaikan laju perpindahan kalor konveksi berdasarkan variasi daya heater, dapat beberapa
langkah perhitungan yang harus dilakukan, yaitu mulai dari perhitungan daya yang dapat diketahui dalam
teori kelistrikan dinyatakan sebagai perkalian antara tegangan (V), arus (I) dan cos phi (ϕ). Besar
tegangan dan arus didapatkan dari hasil pengukuran Voltmeter dan amperemeter pada voltage regulator.
Daya heater ditunjukan pada persamaan (1).
P= V.I coss φ (1)
Perubahan temperatur dari mekanisme perpindahan kalor
konveksi dimana pada fluida panas T
w
dan fluida dingin T∞
akan terja perubahan kalorditunjukan pada persamaan (2)

Hukum Newton menyatakan bahwa untuk konveksi:
q = b A (I
w
-I

) (2)
pada kasus heater kearah dinding plat:
q
1
=h A
heater
(T
heater
-T

) (3)
q
2
=h A
dinding
(T
heater
-T
dinding
) (4)

=
h.A
heater
(T
heeater
-T
∞)
–k A
dinding
(T
udara
-T
dinding
) (5)
=h[A
heater
(T
heater
-T∞)-A
dinding
(T
udara
-T
dinding
)] (6)

Dimana h adalah koefisien perpindahan panas konveksi (convection heat transfer coefficient). Dengan
meghitung besarnya harga h, maka dapatlah ditentukan besarnya laju perpindahan panas konveksi,
besarnya harga h bergantung pada sifat-sifat termal fluida (konduktivitas termal, panas spesifik, densitas
dll.) dan viskositas fluida.

Koefisien perpindahan kalor menyeluruh untuk menghitung laju
perpindahan kalor konveksi digunakan persamaan (10).

Dinyatakan dengan persamaan:
q
convection
= h
1
A
dinding
(T
w2
- T

) (7)
q
convection
=
L
A k
dinding
.
(T
w1
– T
w2
) (8)
q
convection
= h
2.
A
heater
(T
udara
- T
w1
) (9)
A k
L
A h
T T A
q
heater
. .
2
) (
+
∞ −
=
(10)





ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐17 
 
Tek ni k
MESI N
3. Hasil diskusi

3.1 Hasil Pengukuran Daya Heater dan Temperatur
Data hasil pengukuran temperatur pada bundel uji BUSETTI dilakukan untuk memperoleh data
kenaikan Daya dan temperatur akhir yang dicapai bundel uji, dimulai dari temperatur 500°C, 600°C,
650
o
C dilakukan dengan memvariasikan tegangan pada regulator. Besarnya kenaikan tegangan pada
regulator sebesar 20 volt setiap 10 menit. Sehingga didapatkan data hubungan antara tegangan dan arus
pada heater seperti yang dipresentasikan pada gambar 3, gambar 4 , gambar 5. Menunjukkan bahwa
meningkatnya tegangan yang terjadi pada heater mengakibatkan naiknya arus listrik


Gambar 3. Kurva hubungan antara tegangan dan arus pada heater.

Gambar 3. menunjukkan kenaikan arus listrik dipengaruhi oleh naiknya tegangan, semakin besar naiknya
tegangan yang dihasilkan oleh regulator, maka semakin besar pula arus listrik yang dihasilkan.
Berdasarkan kurva hubungan antara tegangan dan arus listrik pada Gambar 3 diperoleh korelasi linier:
I(V)=-1,42308+2,82885*V
R ^2= 0.99965
Berdasarkan Tabel 3. besarnya daya yang terjadi pada heater dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan (1)
P = V x I Cosφ
hasil perhitungan daya yang terjadi pada heater dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Daya yang terjadi pada heater
No Tegangan
masuk
V
masuk
[volt]
Arus
masuk
I
masuk
[A]
Cos
ϕ
Daya
heater
P[watt]
1 0,0 0,0 0,8 0
2 20 0,53 0,8 8
3 40 1,10 0,8 35
4 60 1,67 0,8 80
6 80 2,28 0,8 145
7 100 2,84 0,8 227
8 120 3,42 0,8 328
9 140 3,90 0,8 437
10 160 4,52 0,8 579
11 180 5,10 0,8 734
12 200 5,51 0,8 882
13 220 6,30 0,8 1108,8

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐18 
 
Tek ni k
MESI N
Kurva hasil perhitungan daya terhadap kenaikan tegangan dan arus listrik adalah sebagai berikut :


Gambar 4. Kurva daya terhadap kenaikan tegangan

P (V) = -3.26573 + 0.13901*(V) + 0.02168*(V)^2 R^
2
= 0,9972

Gambar 5 Kurva daya heater terhadap waktu

P (x)= -0.25 + 0.00005*x + 0.00003*x^2 R
^2
=0.99965

Hasil perhitungan daya yang terjadi pada heater dapat dilihat pada Tabel 3 hasil perhitungan daya lalu
dibuat kurva hubungan daya terhadap waktu. Gambar 5 menunjukkan kenaikan daya heater dipengaruhi
oleh naiknya tegangan, terhadap waktu semakin besar naiknya tegangan yang dihasilkan oleh regulator,
maka semakin besar pula daya yang dihasilkan. Berdasarkan kurva daya heater terhadap waktu pada
Gambar 5 diperoleh korelasi polynomial sebagai berikut :


Kenaikan temperatur Eksperimen
Uji pemanasan pada bundel uji BUSETTI dilakukan untuk memperoleh data kenaikan temperatur.
(a) Temperatur akhir 500°C pada pelat bundel uji BUSETTI
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐19 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 6.Kurva kenaikan temperatur pada bundel uji terhadap waktu untuk capaian temperatur
maksimum 500°C.

(b) Temperatur akhir 600°C pada pelat bundel uji BUSETTI

Gambar 7 Kurva kenaikan temperatur pada bundel uji terhadap waktu untuk capaian temperatur
maksimum 600°C.

(c) Temperatur akhir 650°C pada pelat bundel uji BUSETTI

Gambar 8 Kurva kenaikan temperatur pada bundel uji terhadap waktu untuk capaian temperatur
maksimum 650°C.

Gambar 6, Gambar 7, Gambar 8 menunjukan kurva hasil kenaikan temperatur pada bundel uji
terhadap waktu pada temperatur akhir 650°C dapat dilihat pada detik- 0, temperatur pada titik-titik
termokopel heater TC-4, TC-5, TC-6 lebih tinggi karna berada dipusat pemanasan. koefesien udara
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐20 
 
Tek ni k
MESI N
sekitar, kenaikan temperatur mulai terlihat naik pada detik ke-420, saat daya mulai dinaikan 20 volt.
Secara efisiensi masukan daya mendapatkan tegangan yang maksimum maka daerah kerja dari suatu
penguat bekerja di saturasi. Tapi pada daerah ini terjadi degradasi sinyal yang sangat besar yang
menyebabkan intermodulasi sinyal dan pergeseran fasa yang besar Gambar 6. Data Karakterisasi heater
dibutuhkan untuk mendapatkan range rata-rata kesetabilan temperatur. Dari data rekaman dengan dataq
dapat kita lihat bahwa heater selalu mengalami fluktuasi dalam mencapai kesetabilan temperatur. Tetapi
fluktuasi yang terjadi membentuk grafik yang tetap dan stabil pada temperatur rata-rata setelah beberapa
menit dan temperatur yang diinginkan berada pada range tersebut.

Dapat kita lihat pada detik ke-0 temperatur pada titik-titik termokopel dapat kita lihat pada detik
ke-0 temperatur pada titik-titik termokopel dinding luar (TC-11, TC-12, TC-13) lebih rendah karna belum
terjadi adanya perpindahan kalor konveksi ke dalam dinding luar, dibandingkan dengan titik termokopel
yang berada mendekati titik pusat pelat karena dipengaruhi oleh temperatur udara sekitar. Kenaikan
temperatur pada dinding dalam setiap titik termokopel mulai terlihat naik pada detik ke-600, sampai
dicapainya temperatur akhir 650°C pada detik ke- 26316 pada titik termokopel TC-5.

Pemahaman terhadap karakterisasi kenaikan temperatur pada bundel uji sangat diperlukan untuk
mengetahui besarnya temperatur yang terjadi pada setiap titik termokopel dan berapa lama waktu yang
diperlukan untuk mencapai temperatur maksimum yang diinginkan. Korelasi yang bisa mendekati kurva
kenaikan temperatur diperoleh dengan memfitting kurva kenaikan temperatur pada setiap variasi
temperatur.

3.2 Pembahasan
Data-data kenaikan temperatur hasil eksperimen selama proses pemanasan radiasi yang terekam
oleh dataq pada setiap titik termokopel untuk temperatur akhir 650°C diolah menjadi grafik menggunakan
program Origin v7.0, kemudian, diplot kedalam fungsi T(t) secara eksponensial Boltzmann diperoleh
korelasi-korelasi sebagai berikut:
IC: I(t) = A2+(A1-A2)/(1+exp((x-xo)/dx))

Gambar 3 Kurva karakteristik kenaikan temperatur eksperimen vs waktu
Untuk temperatur akhir 650ºC

Untuk perhitungan perpindahan panas konveksi (q
convection
) dilakukan untuk mendapatkan nilai perubahan
kalor dari T
udara
melewati dinding pelat sebagai mediasinya dan dipengaruhi oleh A dan konduftifitas
bahan termal (K
bahan
), perhitungan yang sama dilakukan kembali pada setiap termokople. Dapat dilihat
pada gambar 9, gambar 10 gambar 11, kurva hasil perhitungan analitik terhadap waktu berdasarkan posisi
termokople.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐21 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 9 Kurva hasil perhitungan analitik terhadap waktu temperatur 500
o
C

Gambar 9 kurva hasil perhitungan analitik terhadap waktu temperatur 600
o
C

Gambar 9 kurva hasil perhitungan analitik terhadap waktu temperatur 650
o
C

Perbandingan kenaikan daya hasil eksperimen dengan hasil perhitungan analitik perpindahan kalor
konveksi dibandingkan untuk mengetahui seberapa jauh penyimpangan yang terjadi. Data-data kenaikan
laju perpindahan kalor konveksi pada titik termokopel heater (TC6), diplot kedalam fungsi secara linier.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐22 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 12. Kurva perbandingan hasil kenaikan daya dan Perhitungan perpindahan kalor konveksi di
TC-6 temperatur akhir 600°C

Gambar 13. Kurva perbandingan hasil kenaikan daya dan Perhitungan perpindahan kalor konveksi di
TC-6 temperatur akhir 650°C
Nilai laju perpindahan kalor konveksi terhadap variasi daya heater tergantung pada selisih daya pada
heater yang dicapai, semakin besar selisih daya, maka semakin besar laju perpindahan kalor konveksi
yang terjadi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan nilai laju perpindahan kalor konveksi pada termokopel
TC-6 sebesar 0, watt untuk temperatur akhir 650°C, dimana besarnya selisih temperatur TC-6 terhadap
daya heater hanya 2.37%.

KESIMPULAN
Hasil studi identifikasi perpindahan kalor konveksi berdasarkan variasi daya heater pada pelat,
menyimpulkan bahwa:
1. Kenaikan daya heater dipengaruhi oleh naiknya tegangan dan arus, semakin besar naiknya tegangan
yang dihasilkan oleh regulator, maka semakin besar pula temperatur yang dihasilkan. Dapat
dibuktikan daya 1108,8 watt tegangan 220volt, arus 6,30 amper pada temperatur tetertinggi terjadi di
dalam pelat uji pada temperatur 650
o
C pada TC-6,
2. Luas penampang yang merupakan fungsi dari diameter bundel uji, juga menentukan penyebaran
koefisien laju perpindahan kalor konveksi yang terjadi, Perbedaan temperatur juga mempengaruhi
laju perpindahan kalor konveksi, dimana semakin tinggi temperatur heater maka sebakin besar nilai
laju perpindahan kalor konveksi. Nilai perpindahan kalor konveksi terbesar terjadi diheater 643.96
watt pada temperatur 650
o
C, perpindahan kalor konveksi terhadap daya heater memiliki fungsi linier.



ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐23 
 
Tek ni k
MESI N
NOTASI
A = Luas penampang [m
2
]
A
s
= Luas permukaan perpindahan panas [m
2
]
L = Tebal bahan [m]
Cos
ϕ
= Sudut kemiringan
[°]
b

= Koefisien perpindahan kalor konveksi [W/m
2
.K]
I

= Arus [A]
K = Konduktivitas termal [W/m.K]
P = Daya [W]
q

= Perpindahan kalor konveksi [W]
T
s
= Temperatur permukaan [°C, K]
T

= Temperatur lingkungan [°C, K]
V = Tegangan [V]
oI = Beda temperatur [°C, K]
ox = Panjang penampang [m]
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Laboratorium Termohidrolika
PTRKN BATAN yang telah mengijinkan untuk melakukan penelitian. Dosen peneliti dan mahasiswa
Laboratorium EDfEC (Research Group), para Dosen pembimbing, senior-senior yang telah meluangkan
waktu untuk membimbing dan rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan dorongan dan motivasi
sehingga makalah ini terselesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Michael J. Moran, Howard N. Shapiro, Bruce r. Munson, David P. Dewitt, “Introduction to
Thermal Systems Engineering: Thermodynamics, Fluid Mechanics and Heat Transfer”, John
Wiley & Sons, Inc, New York, 2003.
[2]. Holman JP, Perpindahan Kalor, diterjemahkan oleh: E.Jasjfi, Erlangga, 1995.
[3]. J. Zhang, F. Tanaka, M. Juarsa, K. Mishima, Calculation of Boiling Curves During Rewetting of a
Hot Vertical Narrow Channel, Proceeding of NURETH-10, Seoul-Korea, October 5-9, 2003.
[4]. U.Grigull and H. Sandner, International Series in Heat and Mass Transfer: Heat Conduction,
Hemisphere Publishing Co., London, 1984.






















ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐24 
 
Tek ni k
MESI N
Pengaruh Parameter Stack Serta Variasi Frekuensi Terhadap
Performa Termal Pendingin Termoakustik


Nandy Putra, Dinni Agustina, Gilang AIV, Sabdo W,
Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
Kampus Baru UI Depok

Abstrak
Sistem pendingin termoakustik merupakan suatu teknologi alternative yang ramah lingkungan
karena menggunakan media kerja udara atau gas mulia sebagai pengganti refrijeran pada sistem
pendinginan konvensional yang berpotensi merusak lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah
merancang dan membuat perangkat termoakustik sehingga dapat mengetahui prinsip kerjanya.
Membuktikan fenomena bahwa adanya suatu getaran yang merambat pada suatu medium berupa
udara menyebabkan perbedaan tekanan udara sehingga menghasilkan perbedaan suhu. Metode
pengujian dilakukan dengan merancang prototype resonator termoakustik dari material PVC
((Polyvinyl chloride) berukuran 1 ¼ inci atau 35.8 mm dengan ketebalan sebesar 2.8 mm
sepanjang 80cm. Suara dari loudspeaker dengan frekuensi gelombang yang ditetapkan akan
melintasi tabung resonator yang kemudian melewati stack. Posisi dan panjang stack berpengaruh
terhadap performa dari sistem ini karena dalam proses siklus termoakustik terdapat kompresi dan
ekspansi sehingga bila kontak permukaan gas dan kanal-kanal dari stack terlalu panjang dapat
mengakibatkan penurunan perbedaan suhu dimana pada stack dengan δ
k
= 1mm pada 106 Hz dan
Ls=10cm, mempunyai Xs maksimum 14 cm dengan hasil ∆T1 (T
panas
-T
dingin
)
maksimum
sebesar 9.09
0
C
dan ∆T2 = T
ambient
– T
dingin minimum
sebesar 6.16
0
C. Penggunaan stack roll lebih efektif
dibandingkan dengan stack plate karena kanal-kanalnya lebih luas.

Keywords : pendingin termoakustik, resonator, stack, frekuensi


1.Pendahuluan

Dengan kondisi geografis di negara kita alat pendingin sangatlah bermanfaat baik untuk
pemenuhan tingkat kenyamanan, maupun sebagai penyimpanan makanan. Namun, keprihatinan akan
dampak buruk teknologi pendingin konvensional terhadap lingkungan telah memunculkan tantangan
untuk pengembangan teknologi pendinginan alternatif yang efisien, ramah lingkungan dengan biaya
operasional dan perawatan yang relatif rendah. Salah satu jawaban dari tantangan ini adalah perangkat
pendingin termoakustik[1,2,4,5]. Termoakustik adalah sistem pendinginan yang ramah lingkungan karena
menggunakan media kerja udara atau gas mulia sebagai alternatif sistem pendinginan konvensional yang
membahayakan lingkungan[3,4]. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan gelombang suara yang
dihasilkan oleh loudspeaker sebagai salah satu komponen system tersebut.
Dalam sistem ini, gelombang suara dihasilkan oleh sumber bunyi lalu bergerak rmelintasi suatu
tabung resonator yang didalamnya terpasang stack yang berfungsi seperti kompresor pada sistem pendingin
siklus kompresi vapor. Udara sebagai fluida kerja memasuki kanal-kanal kecil yang berada pada stack dan
mengalami kompresi sehingga suhunya meningkat dan melepaskan kalor ke material stack. Selanjutnya
mengalami ekspansi dan megalami penurunan suhu sehingga kalor berpindah Siklus ini mengakibatkan terjadi
perbedaan suhu pada dua ujung stack. Perpindahan kalor dari udara ke stack dan sebaliknya merupakan akibat
dari gelombang akustik yang beresonansi dalam tabung yang bekerja sebagai kerja eksternal.
Gelombang longitudinal dari gelombang akustik mengakibatkan partikel udara berosilasi
sepanjang dinding–dinding stack. Apabila suhu udara menjadi lebih tinggi daripada dinding stack
terdekat, maka kalor berpindah dari udara menuju dinding stack, dan sebaliknya. Sehingga menciptakan
perbedaan suhu pada kedua ujung stack.
Pengembangan termoakustik telah dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah seperti yang ditulis
oleh Swift [7-10] dan oleh Garret dan Backhaus[8] telah menjadikan konsep-konsep yang mendasari
fenomena termoakustik dapat dipahami oleh khalayak luas. Sebelumnya, Wheatley et al[9] menyajikan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐25 
 
Tek ni k
MESI N
pemahaman fenomena termoakustik dan aplikasinya pada mesin kalor. Sebuah pustaka acuan yang
banyak dirujuk tentang termoakustik adalah konsep-konsep yang terlibat dalam termoakustik yang ditulis
oleh Swift[7-9]. Beberapa penelitian juga telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dan mendapatkan
hasil yang cukup memuaskan seperti research yang dilakukan oleh M.E.H Tijani dkk [11,12], telah
mampu mencapai suhu pada sisi dingin hingga -65 0C.



Gambar 1. Perangkat uji pendingin termoakustik

Tujuan dari penelitian adalah merancang dan menguji perangkat pendingin termoakustik untuk
memahami prinsip kerja dan mengkarakterisasi performa berdasarkan variasi parameter stack serta
frekuensi. Membuktikan fenomena bahwa adanya suatu getaran yang merambat pada suatu medium
berupa udara menyebabkan perbedaan tekanan udara sehingga menghasilkan perbedaan suhu.


2. Metodelogi

2.1 Desain Prototipe Pendingin Termoakustik
Frekuensi gelombang dan dimensi stack merupakan hal awal yang dipertimbangkan. Frekuensi
diketahui dengan menghubungkan sebuah microphone ke multimeter atau osiloskop untuk membaca
voltase yang dikeluarkan oleh microphone. Multimeter akan menunjukan besar voltase yang akan diolah
dengan Adobe Audition untuk mengetahui frekuensi gelombang suara yang dihasilkan, seperti yang
ditunjukkan pada gambar 2 dan 3.
Frekuensi pada tabung resonator ditentukan dengan persamaan:
¡
n
=

4L
(1)
¡
n
=

4[L+
1
2
4D
3n
¸
(2)
Setelah parameter frekuensi ditentukan maka penentuan dimensi stack dapat dilakukan dengan persamaan:

o
K
=
_
K
np]c
p
(3)


Gambar 2. Skematik Penentuan Frekuensi
Gambar 3 Grafik frekuensi gelombang suara


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐26 
 
Tek ni k
MESI N

Tabung resonator dibuat setelah penentuan dimensi stack dimana tabung resonator dirancang
dengan satu ujung tertutup berukuran 1 ¼ inci atau 35.8 mm dengan ketebalan sebesar 2.8 mm. bahan
dasar tabung resonator ini adalah PVC ( Polyvinyl chloride) seperti yang terlihat pada gambar 4.
 

Gambar 4 Rancangan prototype resonator


2.2 Eksperimental set-up

Pengujian dilakukan mengatur frekuensi suara dari loudspeker melalui amplifier yang masuk
ke tabung resonator melewati rangkaian stack. Dimana dua buah termokopel tipe k diletakkan pada
daerah sebelum stack (cold side) dan daerah setelah stack (hot side) dan satu buah termokopel diletakkan
pada di luar resonator. Data suhu dari termokopel dihubungkan dengan cassis NI c-DAQ 9172 dan
module NI 9213 yang diolah dengan menggunakan software Labview 8.5. Pengambilan data suhu
dilakukan pada variasi posisi dan panjang stack serta variasi frekuensi gelombang suara yang melewati
resonator.



Gambar 5 Skematik pengujian pendingin termoakustik


3. Hasil Dan Pembahasan
Gambar 6 menunjukkan distribusi suhu pada kedua ujung stack dengan konfigurasi Ls = 11cm
f=275 Hz, 6
K
= 0,5 mm, X
s
= 5,5 cm. Pengujian dilakukan pada suhu lingkungan 26,5
0
C yang menjadi
titik awal suhu kedua ujung stack. Input suara dinyalakan dengan volume amplifier maksimal. Pengaturan
suara monotone pada frekuensi sample rate sebesar 275 Hz pada program Adobe audition 3.0 . Pada
menit ke 10, suhu pada ujung stack sebelah kanan naik hingga mendekati 28
0
C dan pada ujung kiri hanya
turun 0,3
0
C dari suhu awal mulai. Memasuki menit ke 20, suhu ujung kanan naik melebihi 28
0
C dengan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐27 
 
Tek ni k
MESI N
suhu ujung kiri ikut naik 0.1
0
C pada menit ke 10. Setelah 30 menit, suhu ujung stack kanan terus naik
hingga 28.26
0
C dan suhu ujung kiri hampir sama dengan suhu awal 26.11
0
C, sehingga perbedaan suhu
kedua ujung stack 1,79
0
C. Dari grafik dapat dianalisa bahwa bahwa pada perangkat termoakustik ini
terjadi kompresi udara yang berada di dalam kanal-kanal stack dan panas dibuang ke ujung kanan
sehingga suhu di lokasi tersebut terus naik namun pada pengujian ini tidak terjadi ekspansi walaupun
tekanan dan suhu stack lebih rendah di bandingkan ujung kanan stack, sehingga udara tidak menyerap
kalor untuk dibuang.
Pada panjang stack 8,5 cm terlihat suhu ujung kanan stack naik hingga mendekati 30.71
0
C dan
pada ujung kiri suhu turun mencapai 26.97
0
C. Pada menit ke 20, suhu ujung kanan naik melebihi
31.32
0
C dengan suhu ujung kiri turun lagi pada suhu 26.56
0
C. Setelah 30 menit, sisi panas terus naik
hingga pada suhu 31.37
0
C dan suhu sisi dingin turun terus hingga 26.27
0
C, sehingga perbedaan suhu
kedua ujung stack sebesar 5.11
0
C seperti terlihat pada gambar 7.


Gambar 6 Distribusi suhu resonator dengan stack
Ls 11cm, f 275 hz, 6
K
0,5 mm x
s
5,5 cm.

Gambar 7. Distribusi suhu resonator dengan stack
Ls 11cm, f 275 hz, 6
K
0,5 mm x
s
8,5 cm

Gambar 8 menunjukkan distribusi suhu resonator dengan stack Ls 11cm, f 275 hz, 6
K
0,5 mm, X
s

dan panjang stack 10 cm terlihat bahwa sisi panas naik hingga pada suhu 32.04
0
C dan suhu sisi dingin
turun terus hingga 26.43
0
C, sehingga perbedaan suhu sisi panas dan sisi dingin sebesar 5.88
0
C. Dari hasil
grafik ini dapat kita analisa bahwa suhu yang lebih besar berada di sisi panas dan suhu di sisi dingin suhu
menjadi lebih rendah dari titik permulaan walaupun suhu pada sisi panas berfluktuasi naik turun begitu
juga dengan suhu pada sisi dingin, dan pada menit ke 30 terlihat suhu di sisi panas naik tetapi pada sisi
dingin sudah mencapai kestabilan.



Gambar 8 Distribusi suhu resonator dengan
stack Ls 11cm, f 275 hz, 6
K
0,5 mm
x
s
10,5 cm.
Gambar 9 Distribusi suhu resonator dengan
stack Ls 10cm, f 106 hz, 6
K
1 mm x
s

10cm.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐28 
 
Tek ni k
MESI N
Gambar 9, 10, 11 menunjukkan distribusi suhu pada resonator dengan frekuensi 106Hz dengan
panjang stack 10, 12, dan 14 cm. Pada panjang stack 10 cm, terlihat pada menit ke 10 suhu sisi panas
mendekati 33.97
0
C dan pada suhu dingin turun mencapai 28.47
0
C. Memasuki menit ke 20, suhu sisi
panas naik menjadi 34.81
0
C dengan suhu sisi dingin naik pada suhu 29.06
0
C. Setelah 30 menit, sisi
panas terus naik hingga pada suhu 35.16
0
C dan suhu sisi dingin turun terus hingga 29.28
0
C, sehingga
perbedaan suhu sisi panas dan sisi dingin sebesar 5.93
0
C. Pada panjang stack 12 cm, suhu sisi panas
menurun hingga 33.73
0
C dan suhu sisi dingin turun hingga 27.43
0
C, sehingga perbedaan suhu kedua
ujung sebesar 6.32
0
C. Sedangkan untuk panjang stack 14 cm perbedaan suhu sisi panas dan sisi dingin
mencapai 9.09
o
C


Gambar 10 Distribusi suhu resonator dengan
stack Ls 10cm, f 106 hz, 6
K
1 mm x
s

12 cm
Gambar 11 Distribusi suhu resonator dengan
stack Ls 10cm, f 106 hz, 6
K
1 mm x
s

14 cm.


Gambar 12 dan 13 memperlihatkan jarak stack optimum berada pada X
s
= 10,5 dengan
mendapatkan hasil ∆T1(T
hot
-T
cold
) yang paling besar yaitu pada frekuensi 275 hz adalah 4.36
0
C dan pada
frekuensi 106 hz sebesar 5.88
0
C, dan juga pada ∆T2= T
ambient
– T
cold
minimum mendapatkan hasil 1.07
0
C
pada frekuensi 275 hz serta pada frekuensi 106 hz sebesar 2.9
0
C. Hal ini diakibatkan pengaruh lokasi
stack, pada gelombang tegak dan untuk resonator berupa tabung berdiameter homogen harus berada di
titik perut atau titik tekanan yang biasanya adalah λ/20 [7]. Karena posisi dan panjang stack berhubungan
dengan tekanan amplitudo dari udara dan kecepatan partikel udara yang dekat dengan kedua ujung stack.
Gradien suhu sepanjang stack akan menjadi proporsional dengan perbedaan dari tekanan amplitudo udara.
Perbedaan tekanan ini akan menjadi besar ketika stack lebih panjang selama stack diletakan diantara node
dan antinode dari tekanan. Namun, stack yang terlalu panjang akan menyebabkan kehilangan viscous.
Oleh karena itu maka kita harus mendapatkan panjang yang optimum dari stack. Di lain sisi, stack harus
diletakan dekat dengan pressure antinode mengecilkan nilai viscous dissipation dari energi suara. Tetapi
gelombang tegak menghasilkan energi suara yang belum sempurna di dalam velocity amplitude. Artinya
bahwa stack harus diletakan dekat titik tekan dari gelombang tegak. Oleh karena itu posisi stack yang
optimum di dalam system termoakustik dapat diketahui. Hal ini juga diakibatkan perbedaan frekuensi
yang menyebabkan perbedaan δ
K
, karena dengan frekuensi 275Hz mendapatkan δ
K
= u,S mm dan
frekuensi 106Hz mendapatkan δ
K
= 1 mm walaupun kedua frekuensi itu didapatkan dari mencari
frekuensi resonansi tetapi dari pengaruh panjang tabung yaitu 80 cm maka dai perhitungan frekuensi
resonansi maksimum adalah 106 hz.
Selain lokasi stack, panjang stak juga berpengaruh terhadap kinerja dari termoakustik dimana
gambar 14 dan 15 menunjukkan perbandingan antara panjang stack 10 cm dan 11 cm. Panjang stack
optimum berada pada L
s
=10cm dengan hasil ∆T1(T
hot
-T
cold
) yang terbesar yaitu pada X
s
= 11cm sebesar
6.16
0
C dan pada pada ∆T2= T
ambient
– T
cold
minimum mendapatkan hasil yaitu sebesar 2.37
0
C. Panjang
stack dapat mengakibatkan penurunan performa. Stack yang lebih panjang memberikan perbedaan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐29 
 
Tek ni k
MESI N
pressure amplitudes yang lebih besar dekat dengan kedua ujung stack dimana memberikan gradien suhu
yang lebih besar dan oleh karena itu menghasilkan perbedaan suhu kedua ujung yang lebih besar. Pada
stack yang lebih panjang dapat menyebabkan viscous loss yang besar karena kontak yang lebih besar dari
permukaan partikel gas dan kanal stack. Efek ini membuat perpindahan panas dari udara ke stack dan
sebaliknya tidak efektif dan perubahan suhu menjadi kecil.

Dari gambar 16 dan 17 terlihat perbandingan performa dengan variasi tipe stack. Perbedaan
suhu yang dihasilkan lebih besar dengan stack roll, karena kanal-kanal yang berada di stack roll lebih
luas dibanding dengan stack plat, sehingga membuat banyak gas yang dapat berkontak dengan permukaan
kanal-kanal yang dapat menyebabkan kenaikan perbedaan suhu.


Gambar 12 perbandingan T
hot
-T
cold

(maksimum)variasi jarak stack

Gambar 13 perbandingan T
ambient
– T
cold
minimum
variasi jarak stack



Gambar 14 perbandingan T
hot
-T
cold

(maksimum) variasi panjang stack

 
Gambar 15 perbandingan T
ambient
-T
cold

(maksimum) variasi panjang
stack






 
 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐30 
 
Tek ni k
MESI N



Gambar 16 perbandingan T
hot
-T
cold

(maksimum) variasi tipe stack


Gambar 17 perbandingan T
ambient
-T
cold

(maksimum) variasi tipe stack



4. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa panjang stack dapat mengakibatkan
penurunan performa perangkat pendingin termoakustik, dimana pada stack dengan δ
k
= 1mm pada106 Hz
dan Ls=10cm, mempunyai Xs maksimum 14 cm dengan hasil ∆T1 (T
panas
-T
dingin
)
Maksimum
sebesar 9.09
0
C
dan ∆T2 = T
ambient
– T
dingin minimum
sebesar 6.16
0
C. Penggunaan stack roll lebih efektif dibandingkan
dengan stack plate karena kanal-kanal yang berada di stack roll cukup banyak dibanding dengan stack
plate. Penggunaan frekuensi sangat berpengaruh terhadap panjang stack, posisi stack dan panjang tabung
sehingga untuk kondisi tabung resonator 80cm frekuensi resonansi maksimum adalah 106 hz.

Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Applied Heat Transfer Research Group atas dukungan
fasilitas riset dan laboratorium.

Daftar Pustaka
[1] Ikhsan Setiawan, The influence of the length and position of the stack on the performances of a
thermoaccoustic refrigerator, Universitas Gadjah Mada, 2009
[2] Mostafa A. Nouh, Nadim M. Arafa and Ehab Abdel Rahman,2009 Stack Parameters Effect On The
Performance Of An Anharmonic Resonator Thermoacoustic Heat Engine
[3] Daniel George Chinn,2010 Piezoelectrically-Driven Thermoacoustic Refrigerator
[4] Andreiadkk., Exprimental and Numerical Simulation Study on a Thermoacoustik
[5] William C.Moss. San Mateo. Califf 1997, Thermoacoustik Refrigrator
[6] Scout Backhaus , Thermoacoustik Refrigrator and Engines Comprising Cascading
StrilingThermodinamic Units, 2009
[7] Swift, G.W., 1995, Termoakustik engines and refrigerators, Phys. Today 48.
[8] Backhauss, S., 2002, 7ew Varietes of Termoakustik Engines, Thermal Physics group
[9] Wheatley, J., Hofler, T., Swift, G.W., and Migliori, A. (1985), Understanding some simple
phenomena in termoakustiks with applications to acoustical heat engines, Am. J. Phys 53, 147_162
[10] Swift, G., 2002, Termoakustiks: A Unifying Perspective for Some Engines and Refrigerators, Los
Alamos National Laboratory, Acoustical Society of America Publications.
[11] Tijani, M.E.H., Zeegers, J.C.H., and de Waele, A.T.A.M., 2002b, Construction and Performance
of a Termoakustik Refrigerator, Cryogenics 42, (Dept. of applied physics, Eindhoven
University of Technology)
[12] Tijani, M.E.H., 2001, Loudspeaker. driven termoakustik refrigeration, PhD Thesis, Unpublished,
Eindhoven University of Technology.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐31 
 
Tek ni k
MESI N
Perpindahan Kalor Dibagian Dingin
Berdasarkan Variasi Warna Lapisan Film
Pada Panel Sistem Solar Thermal

Inuia Resmana
1,2
, Akhiom Aiyaui
1,2
, Basanuuin Wijaya
1,2
, }anuai Akbai
1,2
,Yogi Siiouz
uaos
2
, Eui Naizuki
2
, Nulya }uaisa
2

 
1
Mahasiswa Konversi Energi Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor
thejamps@yahoo.com
2
Engineering and Devices for Energy Conversion (EDfEC) Research Group
Fakultas Teknik Univeristas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor

Abstrak: Indonesia yang kaya sumber energi terbarukan seharusnya bisa terhindar dari krisis energi
jika pemerintah secara serius menata kebijakan energi melalui energi baru dan terbarukan yang dikelola
secara adil, efisien dan mandiri.. Eksperimental mengenai pemanfaatan energi matahari dilakukan
dengan menggunakan Solar Thermal Eksperimental Aparatus (STEA FT-02), untuk memahami fenomena
sirkulasi alamiah dengan menghitung perpindahan kalor berdasarkan perbedaan temperatur pada
daerah air dan es. Konstruksi STEA FT-02 terdiri dari panel solar thermal dan tangki reservoir. Variasi
eksperimen adalah perbedaan warna lapisan film yang dipasang pada kaca bagian dalam panel solar
thermal yaitu bening (non warna), kuning dan merah. Temperatur rata-rata air (T
rata2air
) dan Temperatur
es (T
es
) diguakan sebagai parameter yang diukur dan direkam dengan rentang waktu eksperimen selama
90 menit. Hasil eksperimen dan perhitungan menggunakan beberapa korelasi menunjukan, perpindahan
kalor memiliki kesetabilan yang secara berturut-turut adalah 5,18 watt pada kaca film warna bening
(non warna), 7,41 watt pada kaca warna kuning, dan 8,63 watt pada kaca warna merah. Perpindahan
kalor memiliki karakteristik berbeda untuk setiap perbedaan warna lapisan film. Semakin gelap warna
lapisan film maka semakin besar kalor yang diterima.

Kata kunci: sirkulasi alamiah, film, perpindahan kalor, warna, solar



1. Pendahuluan

Mekanisme sistem pembangkitan dengan menerapakan hukum-hukum fisika dan aplikasi teknik
menjadi salah satu fokus pengembangan konversi energi dalam sistem energi terbarukan. Salah satu
konsep fisika yang telah ada digunakan untuk kasus konversi energi adalah sirkulasi alamiah. Saat ini
prinsip kerja sistem sirkulasi alamiah telah banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang, baik yang
berhubungan dengan pembangkit listrik, pengelolaan sumber energi, industri dan kebutuhan energi secara
umum. Sistem pemanas air matahari atau air panas solar adalah air dipanaskan dengan menggunakan
energi matahari. Sistem pemanas solar pada umumnya terdiri dari kolektor panas matahari, sebuah tangki
penyimpanan air atau lain titik penggunaan, interkoneksi pipa dan sistem fluida untuk memindahkan
panas dari kolektor ketangki[1]. Panel kolektor pada solar thermal dilengkapi dengan penutup kaca
berfungsi sebagai penangkap panas sinar matahari dan menahan panas supaya tidak keluar. Sedangkan
tangki pada solar thermal berfungsi sebagai thermos (tempat penyimpanan air berinsulasi) yang mampu
menahan penurunan panas secara minimal pada saat matahari bersinar, panel kolektor menangkap sinar
matahari dan secara mekanis mengalirkan panas kepipa-pipa tembaga yang berisi air, sehingga suhu air di
dalamnya perlahan meningkat[2].
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐32 
 
Tek ni k
MESI N
Sistem pasif bekerja berdasarkan hukum fisika sehingga sirkulasi yang terjadi didalam loop tidak
memerlukan alat untuk menggerakan fluida karena aliran sirkulasi alamiah ditentukan oleh ketinggian
loop dan perbedaan kerapatan fluida sebagai konsekuensi perbedaan temperatur (panas dan dingin) pada
dua titik di dalam loop[3]. Berdasarkan uraian di atas, maka pemahaman terhadap kasus sirkulasi alamiah
dengan memanfaatkan pemanas dari solar thermal dan bagian pendinginanya menjadi hal yang perlu
dilakukan. Sehingga perpindahan kalor yang akan terjadi baik secara konduksi, konveksi dan radiasi yang
terjadi pada sistem solar thermal akan mempengruhi gerakan air pada penampungannya, selain itu
pengaruh lapisan warna film pada panel solar thermal akan mempengaruhi perpindahan kalor di bagian
dingin (tanki pendingin). Sehingga perlu dilakukan penelitian terkait kinerja tangki reservoir, sebagai
sistem pendingin pada rangkaian solar thermal.

2. Metode Eksperimental

2.1 Fasilitas Eksperimen
Fasilitas eksperimen yang ada di labolatorium teknik dan devais untuk konversi energi (EDfEC,
Engineering and Device for Energy Conversion) di FT UIKA Bogor, telah dikonstruksi pada tahun 2009.
STEA FT-02 dibuat dengan bentuk dua kubus, kubus yang di dalam sebagai penampung air dengan
panjang plat (L) 300 mm, lebar plat (w) 200 mm, tebal plat (t) 1.8 mm dan tinggi plat (h) 150 mm, dengan
bahan SS 304. Sedangkan kotak yang diluar berfungsi sebagai alat penampung es dengan panjang (L) 420
mm, lebar (w) 320 mm, tebal (t) 5 mm, tinggi (h) 220 mm, dengan bahan fiber glass.pipa inlet dan out let
tanki menggunakan pipa SS 304 dengan panjang (L) 200 mm dan diameter (D) 1 inchi (25,4 mm), seperti
di tunjukan pada Gambar 1.

Gambar 1. Tanki reservoir [4]
Data pengukuran pengukuran temperatur menggunakan termokopel type K dan direkam
menggunakan sistem akuisi data (DAS) WinDaQ T1000 dengan sampling rate 1 data per-detik pada 8
kanal (dalam makalah ini data hanya ditampilkan T
air in
, T
air out
dan T
es
). Gambar lengkap dari fasilitas
eksperimen ditunjukan pada Gambar 2.


Gambar. 2 Instalasi solar thermal dan kelistrikan

2.2 Prosedur Eksperimen
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐33 
 
Tek ni k
MESI N
Eksperimen sebelumnya didahului dengan memasang selang (hose) pada pipa inlet dan outlet,
mengisi tanki reservoir dengan air, menseting perangkat alat control DAS (Data Acquisition System),
memasukan batu es pada tanki reservoir sebagai sumber pendiginan alami, nyalakan DAS untuk
merekam data, memasukan tinta pewarna untuk mengetahui arah aliran, setelah data di dapat selanjutnya
mengganti warna lapisan film pada panel solar thermal.

2.3 Perhitungan
Hasil pengamatan perbedaan temperatur air dan es di konversikan menjadi perpindahan kalor
menyeluruh seperti persamaan (1).
1 1
1 2 2 2
( )
( ) ( )
A
B
q h A T T
kA
T T h A T T
x
= −
= − = −
Δ
 …………….. (1)


Dimana q (watt) adalah perpindahan kalor, h (W/m
2
,K) adalah koevisien perpindahan kalor konveksi, A
(m
2
) adalah luas penampang, k (W/m,K) adalah konduktivitas thermal bahan. Sehingga perpindahan kalor
dihitung dengan jalan membagi beda temperature menyeluruh dengan jumlah tahanan thermal, seperti
yang diuraikan melalui korelasi (2)[5].

A h kA x A h
T T
q
B A
2 1
/ 1 / / 1 + Δ +

=

……(2),
Bahwa nilai 1/hA digunakan disini untuk menunjukkan tahanan konveksi. Aliran kalor menyeluruh
sebagai hasil gabungan proses konduksi dan konveksi bisa dinyatakan dengan koefisien perpindahan
kalor menyeluruh U, sehingga diperoleh korelasi (3)[6].

menyeluruh
T UA q Δ = ……...……….
(3),
Dimana U ialah total perpindahan kalor koefisien dan A (m
2
) ialah luas penampang. Kemudian korelasi
(2) dan korelasi (3) diperoleh korelasi (4), sebagai berikut;


( )
ss air
es
air
K
L
h
T T A
q
+

=
2

...…….............……

(4).

Dimana q (watt) perpindahan kalor, L (m) adalah panjang, h
air
[W/m
2
,K] adalah koefisien konveksi air,
dan K
ss
[W/m,K] adalah konduktifitas thermal bahan.



3. Hasil Dan Bahasan

3.1 Hasil pengukuran temperatur
Hasil pengukuran pada dasarnya dilakukan pada 8 titik pengukuran, untuk penelitian ini hanya 3
titik pengukuran temperatur saja yang ditampilkan. Gambar 3, Gambar 4 dan Gambar 5 menunjukkan
hasil pengukuran T
air in

,
T
air out
, dan T
es
serta rata-rata dari T
air in
dan T
air out
berdasarkan variasi warna film
secara berturut-turut dari bening (non warna), kuning dan merah.




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐34 
 
Tek ni k
MESI N

0 1000 2000 3000 4000 5000
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50


T
e
m
p
e
r
a
t
u
r

d
i
d
a
l
a
m

t
a
n
k
i
,

T

[
0
C
]
Waktu, t [s]
TC out
TC in
T air rata2
T es
0 1000 2000 3000 4000 5000
0
10
20
30
40
50


T
e
m
p
e
r
a
t
u
r

d
i
d
a
l
a
m

t
a
n
k
i
,

T

[
0
C
]
Waktu, t [s]
TC
in
TC
out
T
air rata2
T
es
Gambar 3. Temperatur pada tanki reservoir untuk
kaca bening (non warna)

Gambar 4. Temperatur pada tanki reservoir untuk
kaca kuning


0 1000 2000 3000 4000 5000
0
10
20
30
40
50


T
e
m
p
e
r
a
t
u
r

d
i
d
a
l
a
m

t
a
n
k
i
,

T

[
0
C
]
Waktu (s)
TC
out
TC
in
T
es
T
rata2 air

Gambar 5. Temperatur pada tanki reservoir untuk kaca merah


Fenomena perubahan temperatur selama 90 menit dapat dijelaskan sebagai berikut, pada Gambar
3 untuk kaca bening (tanpa warna) penurunan TC
in
dan TC
out
dengan cepat dan cukup tajam dimulai dari
0 detik hingga sekitar 900 detik temperatur TC
in
dan TC
out
yang semula 40
0
C dan 28
0
C turun menjadi
36
0
C dan 25
0
C. kemudian temperatur mulai stabil, dari 900 detik hingga 5400 detik, meski pada detik ke
4700, temperatur turun sekitar 5
0
C. Sedangkan pada T
es
terjadi kenaikan temperatur dengan cepat dan
cukup tajam dimulai dari 1900 detik hingga sekitar 3000 detik yang semula 6
0
C naik menjadi 16
0
C,
kemudian temperatur naik kembali dan cukup tajam dari 3400 detik hingga 5400 detik yang semula 16
0
C
naik menjadi 21
0
C. Sedangkan pada kaca kuning (Gambar 4) menunjukan penurunan pada TC
in
dengan
cepat sehingga dimulai dari 0 detik hingga sekitar 900 detik yang semula 39
0
C turun menjadi 36
0
C,
kemudian temperatur TC
in
perlahan terus naik dari 900 detik hingga 5400 detik, T
air out
pada detik 3200
detik hingga 5400 detik menunjukan penurunan yang semula 39
0
C turun menjadi 35
0
C, pada T
es

menunjukan kenaikan yang cukup cepat dari 4400 detik hingga 5400 detik yang semula 6
0
C naik menjadi
9
0
C.

Sedangkan pada kaca merah (Gambar 5) T
es
mengalami kenaikan yang relatif cepat dari 0 detik
sampai detik terakhir.



3.2 Pembahasan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐35 
 
Tek ni k
MESI N
a. Perpindahan Kalor
Berdasarkan data pengukuran temperatur yang di tampilkan pada Gambar 3, Gambar 4 dan
Gambar 5. Kemudian perpindahan kalor berdasarkan perbedaan temperatur tersebut dimasukan ke dalam
korelasi (4), dengan terlebih dahulu menghitung luas bidang (A) dan panjang bidang (L). Hasil
perhitungan disajikan pada Gambar 6, Gambar 7 dan Gambar 8 untuk setiap variasi warna lapisan film.
0 1000 2000 3000 4000 5000
0
2
4
6
8
10


Perhitungan perpindahan kalor pada kaca bening
Karakteristik linear q (t )= 4.40497+-6.62325E-4*t
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [s]
R
2
=0.89847
0 1000 2000 3000 4000 5000
0
2
4
6
8
10


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [s]
Perhitungan perpindahan kalor pada kaca kuning
Karakteristik linear q (t )=7.11657+-5.76627E-4*t
R
2
= 0.96768
Gambar 6. kurva perpindahan kalor
terhadap waktu pada kaca bening
Gambar 7. kurva perpindahan kalor terhadap
waktu pada kaca kuning


0 1000 2000 3000 4000 5000
0
2
4
6
8
10


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

K
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [s]
Perhitungan perpindahan kalor pada kaca merah
Karakteristik linier q (t) = 9.3315-0.0003975*t
R
2
= 0.82689

Gambar 8. kurva perpindahan kalor terhadap waktu pada kaca merah

Perpindahan kalor kaca bening (Gambar 6) menunjukan penurunan dari 0 detik sampai 5400 detik yang
semula 5,18

watt turun menjadi 1,12

watt. Perpindahan kalor kaca kuning (Gambar 7) menunjukan
penurunan dimulai dari 0 detik sampai 5400 detik yang semula 7,4

watt turun menjadi 3,8

watt.
Perpindahan kalor kaca merah (Gambar 8) menunjukan penurunan dimulai dari 0 detik sampai 5400 detik
yang semula 8,6

watt turun menjadi 6,7 watt. Gambar 6, Ganbar 7, Gambar 8 menunjukan perpindahan
kalor menurun diakibatkan daerah es sudah terlalu banyak menerima kalor dari daerah air dan tidak
terjadi keseimbangan antara masukan panas dari TH terhadap masukan dingin dari T
es
. Korelasi linier
perpindahan kalor terhadap waktu masing-masing warna yang diperoleh adalah:
− Korelasi linier untuk kaca bening (tanpa warna):
q (t)= 4.40497+-6.62325E-4*t
tingkat kepercayaan R
2
= 0,89847
− Korelasi linier untuk kaca kuning:
q (t) =7.11657+-5.76627E-4*t
tingkat kepercayaan R
2
= 0,96768
− Korelasi linier untuk kaca merah:
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐36 
 
Tek ni k
MESI N
q (t) = 9.3315-0.0003975*t
tingkat kepercayaan R
2
= 0,82689

b. Perbandingan perpindahan kalor terhadap warna lapisan film
Hasil perhitungan berdasarkan perbedaan warna lapisan film menunjukan nilai perpindahan
kalor yang berbeda antara warna bening (non warna), warna kuning dan warna merah seperti yang
ditunjukan pada Gambar 9.
0 1000 2000 3000 4000 5000
0
2
4
6
8
10
12
14
16
qp=4.4573-0.0006914*t
qk = 7.11656-0.0005766*t


qp, laju perpindahan kalor (non warna)
qk, laju perpindahan kalor kaca kuning
qm, laju perpindahan kalor kaca merah
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q


[
w
a
t
t
]
Waktu, t [s]
qm = 9.3315-0.0003975*t

Gambar 9 kurva perbandingan perpindahan kalor terhadap warna lapisan film

Gambar 9 menunjukan kurva perbandingan nilai perpindahan kalor berdasarkan perbedaan warna lapisan
film, dimana terlihat bahwa perpindahan kalor kaca merah berada di atas dengan temperatur 0 detik 8,6
watt, kaca kuning di tengah dengan temperatur 0 detik 7,4 watt dan kaca bening paling bawah dengan
temperatur 0 detik 5,18

watt. Hal ini disebabkan oleh perbedaan intensitas cahaya terhadap warna,
semakin gelap warna lapisan film maka semakin besar panas yang diterima.

4. Kesimpulan
Hasil studi eksperimental perpindahan kalor dibagian dingin berdasarkan variasi warna lapisan
film pada panel sistem solar thermal, menyimpulkan bahwa karakteristik perpindahan kalor dipengaruhi
oleh perbedaan temperatur pada daerah tanki yaitu daerah air dan es, kemudian perpindahan kalor
tertinggi 9

watt dan beda temperatur rata-rata 29,29
0
C untuk lapisan warna merah,. Perpindahan kalor
minimal terjadi pada lapisan kaca bening (non warna) 1,12 watt dan beda temperatur rata-rata 9,29
0
C.
Intensitas cahaya terhadap warna lapisan film sangat mempengaruhi perpindahan kalor.

Daftar Notasi

q
: Perpindahan kalor
[watt]
L : Panjang permukaan [m]
K
ss
: Konduktivitas termal ss 304 [W/m.K]
A : Luas [m
2
]
c
p
: Kalor spesifik air [Kj/kg.K]
T

: Temperatur [
o
C]
U : Koefisien perpindahan kalor [w/m.K]
Δx : Tebal dinding [m]
h
air
: Koefisien konveksi air [w/m
2
K]




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐37 
 
Tek ni k
MESI N
Ucapan Terimaksih
Penulis mengucapkan terimaksih kepada Dosen peneliti, Dosen pembimbing dan teman-teman
mahasiswa EDfEC Research Group seperjuangan yang telah memberikan dorongan dan motivasi
sehingga makalah ini bisa terselaesaikan.

Daftar Pustaka
[1] The National Renewable Energy Laboratory, Heat Your Water with The Sun, A Consumer’s Guide,
Energy Effieciency and Renewable Energy, DOE/GO-102003-1824, U.S. Department of Energy,
USA, December 2003.
[2] http://kamissore.blogspot.com/2010/01/cara-kerja-wika-solar-heater.html, 24 September 2011.
[3] Kays, William; Crawford, Michael; Weigand, Bernhard, Convective Heat and Mass Transfer, 4E.
McGraw-Hill Professional, New York, 2004.
[4] Mauludin, Achmad Saleh, Analisis perpindahan panas konveksi pada air di dalam tangki reservoir
berbasis sistem solar heater, fakultas teknik UIKA Bogor, Bogor, 2010.
[5] James R. Welty, Charles E. Wiks, Robert E. Wilson, Gregory Rorrer, Fundamental of Momentum,
Heat, and Mass Transfer, 4th edition, John & Sons, Inc., New York, 2002.
[6] Holman, J.P, Heat Transfer (fifth edition), McGrow-Hill book company, New York, 1981.






































ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐38 
 
Tek ni k
MESI N

Analisis Distribusi Temperatur 2-D Dan Fluks Kalor
Berdasarkan Variasi Temperatur Selama Proses Pemanasan
Pada Pelat SUS316 Di Bagian Uji Heating-02
 
 
Iwan Kurniawan
1
, Mulya Juarsa
1,2
, Edi Marzuki
1
Susyadi
2
, Ainur Rosidi
2
, Ismu Handoyo
2
.


1
Engineering and Device for Energy Conversion (EDfEC) Laboratory
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor – Jawa Barat INDONESIA
Iwan_kurniawan_0306@yahoo.com

2
Laboratorium Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN
Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang



Abstrak
Distribusi temperatur 2 dimensi merupakan konsep dasar perpindahan kalor, untuk
mengetahui perbedaan temperatur suatu benda terhadap kordinat x, y. HeaTiNG-02 (Heat
Transfer in Narrow Gap), merupakan bagian uji eksperimen kecelakaan parah pada reaktor
nuklir, berupa celah sempit hasil lelehan teras. Studi eksperimental dilakukan untuk
menganalisis korelasi kenaikan temperatur, profil distribusi temperatur 2 dimensi dan 1
dimensi pada pelat SUS316 selama pemanasan radiasi, perhitungan kenaikan temperatur
dan fluks kalor 2dimensi dengan metode analitik, lalu membandingkan dengan kenaikan
temperatur eksperimen. Eksperimen dilakukan dengan variasi temperatur akhir eksperimen
100ºC, 200ºC, 300ºC, 400ºC, 500ºC. Hasil eksperimen dan perhitungan menggunakan
perpindahan kalor 2 dimensi pada pelat vertikal, korelasi kenaikan temperatur dalam bentuk
eksponensial grow 2, distribusi temperatur 2 dimensi mengarah dari titik tengah pelat ke titik
terluar pelat, distribusi temperatur 1 dimensi menyerupai grafik sinusoida, kenaikan
temperatur analitik untuk setiap variasi temperatur akhir eksperimen mulai terlihat pada
detik ke-2500, penyimpangan terbesar antara temperatur analitik terhadap temperatur
eksperimen terjadi pada eksperimen temperatur akhir 500ºC, pada titik-titik termokopel TC-
2A 172%, TC-2B 181%, TC-2C 176%, fluks kalor terkecil pada posisi termokopel TC-9A
sebesar 0,06 kW untuk temperatur akhir 400°C, sedangkan fluks kalor terbesar pada posisi
termokopel TC-6B sebesar 1305,96 kW untuk temperatur akhir 500°C.

Kata kunci: distribusi, 2 dimensi, fluks kalor, pelat, profil.


1. Pendahuluan
Energi merupakan kebutuhan pokok dalam kelangsungan hidup manusia modern, diperkirakan
beberapa tahun yang akan datang terjadi krisis energi. Pemanfaatan energi baru, pemerintah berencana
membangun PLTN, tetapi masih kita ingat potensi bahaya nuklir seperti, kecelakaan di Three Mile Island
Unit 2 (TMI-2), Amerika Serikat, tahun 1979 dan kejadian di Chernobyl, Ukraina, tahun 1986 [1, 2].
Kecelakaan terjadi karena adanya celah sempit hasil lelehan teras dengan dinding bejana reaktor. HeaTiNG-
02 (Heat Transfer in Narrow Gap), merupakan bagian uji yang digunakan untuk simulasi eksperimen
kecelakaan parah yang membentuk celah sempit antara lelehan teras di bagian bawah bejana dengan
dinding bejana reaktor nuklir. Beberapa penelitian terkait keselamatan nuklir seperti yang telah dilakukan
oleh F. Tanaka, J. Zhang, M. Juarsa, K. Mishima [3] kurva pendidihan pada waktu pembasahan ulang
dinding, menjelaskan evaluasi CHF pada perpindahan kalor pada celah sempit berdasarkan data eksperimen
M. Juarsa sebelumnya. Perpindahan kalor pada celah sempit oleh M. Murase et al [4], menjelaskan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐39 
 
Tek ni k
MESI N
penurunan korelasi perpindahan kalor pada celah sempit. Studi eksperimental quenching pada celah sempit
oleh M. Juarsa dan Antariksawan [5], menjelaskan pengaruh batasan aliran berlawanan arah (CCF) pada
perpindahan panas pendidihan dalam celah sempit. Paper HeaTiNG-02 ini mempunyai tujuan memperoleh
karakteristik kenaikan temperatur hasil eksperimen, profil distribusi temperatur 2 dimensi dan 1 dimensi
berdasarkan hasil eksperimen, karakteristik kenaikan temperatur hasil perhitungan analitik, dan nilai
penyimpangan, karakteristik fluks kalor hasil perhitungan.

2 Metodologi
Fasilitas eksperimen yang ada di laboratorium Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN di
kawasan Puspitek Serpong Tangerang, salah satunya adalah HeaTiNG-02 telah dikonstruksi pada tahun
2008. Bagian uji HeaTiNG-02 berbentuk pelat rektangular SUS316 yang dipasang vertical, dipasang 30
susunan termokopel matrik 3×10. bagian uji HeaTiNG-02 berdimensi panjang 1100 mm, lebar 50 mm.
Deskripsi lay-out eksperimen HeaTiNG-02 ditunjukkan Gambar 1.

 




Gambar 1 Layout-Eksperimen H2

Gambar 2 Foto bagian uji HeaTiNG-02 Gambar 3 Susunan termokopel
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐40 
 
Tek ni k
MESI N


Kenaikan daya heater dilakukan secara manual dengan menaikan tegangan masukan heater
menggunakan voltage regulator. Daya heater dihitung menggunakan persamaan daya, seperti ditunjukkan
persamaan (1).

cos P VI ϕ = …………………………… (1)

2.1. Prosedur Eksperimen
Eksperimen dimulai dengan memanaskan heater, daya heater dinaikan secara bertahap, dengan
variasi kenaikan tegangan masuk heater 20V/20 menit sampai tercapai temperatur akhir eksperimen. Data
kenaikan temperatur setiap termokopel selama pemanasan direkam sampling 1 data per-detik pada 24
kanal oleh sistem akuisisi data (DAS) WinDAQ T1000. Eksperimen dilakukan berulang-ulang dengan
variasi temperatur akhir eksperimen 100ºC, 200ºC, 300ºC, 400ºC, 500ºC, dalam makalah ini hanya
menampilkan 500ºC.

2.2. Perhitungan
Hasil pengamatan kenaikan temperatur eksperimen disubtitusikan ke persamaan distribusi
temperatur 2 dimensi pada pelat vertikal [6, 7], seperti ditunjukkan persamaan (2),

( )
( )
( )
( )
( ) ( )
0
0
4 1
,
2 1
2 1 sinh
2 1 2 1
sin sinh (2)
n
T T
T x y T
n H
n
b
n x n y
b b
π π
π π



=

= +
⎡ ⎤ +
+
⎢ ⎥
⎣ ⎦
⎡ ⎤ ⎡ ⎤ + +
×
⎢ ⎥ ⎢ ⎥
⎣ ⎦ ⎣ ⎦



Laju perpindahan kalor pada pelat selama pemanasan diperoleh dengan mensubtitusikan data
kenaikan temperatur eksperimen kedalam persamaan Laju perpindahan kalor 2 dimensi, seperti
ditunjukkan persamaan (3).

( )
( ) ( )
( )
0
0 "
4 2 1
coth
2 1
sin (3)
n
k T T n H
q x
b b
n x
b
π
π


=
⎡ ⎤ − +
= −
⎢ ⎥
⎣ ⎦
⎡ ⎤ +
×
⎢ ⎥
⎣ ⎦



Konduktifitas termal merupakan fungsi temperatur yang berubah sesuai dengan temperature,
setelah difitting menggunakan program Origin V.8.0 didapat korelasi, seperti yang ditunjukkan sebagai
berikut [8]:

k (T) = 8,93571+0,01546×T (4)


kemudian korelasi konduktivitas termal disubtitusikan ke dalam persamaan 2, sehingga diperoleh korelasi
(4), ditunjukkan seperti persamaan (5).

( )
( )
( ) ( )
0 "
0
0
4(8, 93571 (0, 01546 ))
2 1 2 1
coth sin (5)
n
T T T
q x
b
n H n x
b b
π π


=
+ × −
= −
⎡ ⎤ ⎡ ⎤ + +
×
⎢ ⎥ ⎢ ⎥
⎣ ⎦ ⎣ ⎦




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐41 
 
Tek ni k
MESI N
3. Hasil Diskusi

3.1 Kenaikan temperatur Eksperimen
Kenaikan temperatur yang direkam pada 24 kanal DAS, diplot dalam bentuk grafik kenaikan
temperatur eksperimen menggunakan program Origin V.8.0. Fenomena kenaikan temperatur untuk setiap
temperatur akhir eksperimen terdapat beberapa kesamaan, dijelaskan sebagai berikut: (a) kenaikan
temperatur mulai terlihat signifikan mulai detik ke-2500 dengan daya heater berkisar 800 W pada
tegangan masuk 60V, (b) kenaikan temperatur terbesar berada pada posisi termokopel yang mendekati
titik tenga pelat. Grafik kenaikan temperatur eksperimen untuk setiap temperatur akhir eksperimen
ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4 Kenaikan temperatur hasil eksperimen Gambar 4 Kenaikan temperatur hasil eksperimen

Pembahasan

Korelasi kenaikan temperstur eksperimen
Gambar kenaikan temperatur eksperimen yang ditunjukkan pada Gambar 2 dipisahkan setiap
termokopel, lalu dianalisis menggunakan program Origin V.8.0, Gambar kurva karakteristik kenaikan
temperatur eksperimen vs waktu ditunjukkan pada Gambar 5, sehingga diperoleh korelasi kenaikan
temperatur berupa eksponensial grow 2, seperti berikut:

IC: I(t) = 21,u9ucxp
|((t-70,219) 2562,985 ⁄ )]
+ 16,91ucxp
|((t-70,219) 2562,900 ⁄ )]
+ (-S2,S48)



Gambar 5 Kurva karakteristik kenaikan temperatur eksperimen vs waktu
Untuk temperatur akhir 500ºC

Berdasarkan data pengukuran kenaikan temperatur setiap posisi termokopel pada pelat SUS316
seperti yang ditunjukkan Gambar 2, data tersebut dimasukan ke dalam origin lalu dirubah ke bentuk
TC‐6B
200ºC  500ºC
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐42 
 
Tek ni k
MESI N
matrik 3×10 sesuai dengan posisi termokopel, selanjutnya diplot dalam bentuk kontur warna yang
merepresentasikan profil distribusi temperatur 2 dimensi pelat SUS316. Profil distribusi temperatur 2
dimensi ditunjukkan pada Gambar 6.


(a) (b)
Gambar 6 Profil distribusi temperatur 2 dimensi

Profil distribusi temperatur 1 dimensi
Sebagai perbandingan kebenaran Gambar profil 2 dimensi, dibuat profil 1 dimensi berdasarkan kolom
matrik pada posisi termokopel dari data hasil pengukuran kenaikan temperatur. Profil distribusi
temperatur 1 dimensi ditunjukkan pada Gambar 7 (a), 7(b) dan 7(c).

(a) (b)
Gambar 7 Profil distribusi 1 dimensi
untuk temperatur akhir 500ºC

(c)

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐43 
 
Tek ni k
MESI N
Fenomena kenaikan temperatur untuk setiap temperatur akhir eksperimen terdapat beberapa
kesamaan, dijelaskan sebagai berikut: (a) kenaikan temperatur mulai terlihat signifikan mulai detik ke-
2500 dengan daya heater berkisar 3000 W pada tegangan masuk 60V, (b) kenaikan temperatur terbesar
berada pada posisi termokopel yang mendekati titik tenga pelat, (c)

Karakteristik kenaikan temperatur hasil perhitungan analitik
Data pengukuran kenaikan temperatur setiap posisi termokopel pelat SUS316 disubtitusikan
pada persamaan untuk setiap posisi termokopel dari detik-1 sampai detik temperatur akhir eksperimen
tercapai. Hasil perhitungan analitik diplot dalam bentuk grafik kenaikan temperatur analitik dan Grafik
perbandingan kenaikan temperatur analitik terhadap kenaikan temperatur eksperimen. Grafik
perbandingan kenaikan temperatur analitik terhadap kenaikan temperatur eksperimen ditunjukkan pada
Gambar 8.


(a) (b)
Gambar 8 Penyimpangan temperatur hasil analitik terhadap temperatur eksperimen Fluks kalor

Hasil dari pengamatan eksperimen yaitu kenaikan temperatur pada pelat SUS316 dijadikan
acuan untuk menghitung besar fluks kalor yang terjadi pada pelat SUS316 selama proses pemanasan
radiasi. Data kenaikan temperatur disubtitusikan ke dalam persamaan (5). Kurva laju perpindahan kalor
berdasarkan data eksperimen terhadap waktu untuk temperatur akhir 500°C, ditunjukkan pada Gambar 9.



Gambar 9 Kurva laju perpindahan kalor berdasarkan data eksperimen
terhadap waktu untuk temperatur akhir 500°C


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐44 
 
Tek ni k
MESI N
4. Kesimpulan
Hasil analisis distribusi temperatur 2 dimensi dan fluks kalor di bagian uji HeaTiNG-02,
disimpulkan bahwa:
1. Korelasi kenaikan temperatur eksperimen pemanasan awal pelat SUS316 adalah eksponensial grow 2.
Profil distribusi temperatur 2 dimensi pada bagian uji tidak homogen, dengan arah fluks kalor dari
posisi termokopel yang mendekati titik tengah pelat SUS316 ke posisi termokopel titik terluar pelat
SUS316, profil distribusi temperatur 1 dimensi terhadap sumbu kordinat y menyerupai grafik
sinusoida, kurva profil distribusi temperatur 1 dimensi terbesar dicapai pada bagian tengah bagian uji.
2. Kenaikan temperatur hasil perhitungan analitik terhadap distribusi hasil eksperimen terjadi
penyimpangan, penyimpangan terbesar terjadi pada eksperimen untuk temperatur akhir 500ºC pada
titik-titik termokopel TC-2A 172%, TC-2B 181%, TC-2C 176%, akibat terdapat udara yang melaui
ceramic blanket, plenum atas yang mempunyai penambahan luas, sedangkan pada titik-titik
termokopel (TC-5A, TC-6B, TC-5C) yang dipakai sebagai acuan dalam perhitungan analitik tidak
terjadi penyimpangan. Besarnya laju perpindahan kalor terkecil pada posisi termokopel TC-9A
sebesar 0,06 kW untuk temperatur akhir 400°C, dimana besarnya selisih temperatur TC-6B terhadap
TLingkungan
hanya 0,3°C. Laju perpindahan kalor terbesar pada posisi termokopel TC-6B sebesar
1305,96 kW untuk temperatur akhir 500°C, dimana besarnya selisih temperatur TC-6B terhadap
TLingkungan
mencapai 468,65°C.


Daftar Notasi
B : Lebar pelat rektangular [m]
Cos ϕ : Sudut kemiringan [°]
H : Panjang pelat rektangular [m]
I

: Arus [A]
K : Konduktivitas termal [W/m.K]
P : Daya [W]
q

: Fluks kalor [W/m
2
]
T
o
: Temperatur permukaan konstan [°C, K]
T

: Temperatur lingkungan [°C, K]
V : Tegangan [V]
X : Jarak termokopel terhadap sumbu x [m]
Y : Jarak termokopel terhadap sumbu y [m]
Σ : Konstanta boltzman [W/m
2
.K
4
]


Daftar Pustaka
[1] Guy Gugliotta, Putting a Lid on Chernobyl, Washington Post, Sunday, December 29, 2002; Page
A01 The Accident At Three Mile Island, http://www.nrc.gov/reading-rm/doc-collections/fact-
sheets/3mile-isle.pdf.
[2] J. Zhang, F. Tanaka, M. Juarsa, K. Mishima, Calculation of Boiling Curves During Rewetting of a
Hot Vertical Narrow Channel, Proceeding of NURETH-10, Seoul-Korea, October 5-9, 2003.
[3] M. Murase et al., Heat Transfer Models in Narrow Gap, Proceedings of ICONE 9, Nice (France), 8-
12 April, 2001.
[4] M. Juarsa dan A.R. Antariksawan, Studi Eksperimental Quenching pada Celah Sempit, Jurnal Sains
dan Teknologi Nuklir Indonesia, Vol.4, Edisi Khusus 4, Agustus, 2003.
[5] Poulikakos, D., Conduction Heat Transfer, Prentice-Hall, New Jersey, 1994.
[6] F. B. Cheung, Sang B. Kim, Critical Heta Flux in Inclined Rectangular Narrow Long Channel,
International Conference on Advance Power plants, Seoul, 2005.
[7] Incropera, Frank P., DeWitt, David P., Fundamentals of Heat Transfer, John Wiley and Sons, Inc,
Canada, 1981.




ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐45 
 
Tek ni k
MESI N
Analisis Perubahan Tekanan Uap
Selama Proses Pendinginan Pada Simulator
Sungkup Reaktor (FESPECo)

Luqmanul Bakim
1
, Aue Satiia
1
, Wahyu
1
, Yogi Siiouz uaos
1
, Eui Naizuki
1

Nulya }uaisa
1,2
, Benuio Tjahjono
2
, Ismu Banuoyo
2
, Kiswanta
2
, Ainui Rosiui
2


1
Engineering and Devices for Energy Conversion (EDfEC) Research Group
Fakultas Teknik Univeristas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor
luqmansiregar@yahoo.com
2
Laboratorium Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN
Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang
@batan.go.id


Abstrak

Masalah keselamatan dan keamanan PLTN saat ini menjadi perhatian yang serius, terkait
kecelakaan nuklir yang pernah terjadi. Kecelakaan reaktor antara lain, kecelakaan kehilangan aliran
pendingin (loss of flow accident, LOFA) dan kecelakaan kehilangan pendingin (loss of coolant
accident, LOCA), dari jenis kecelakan diatas dapat disimpulkan bahwa temperatur sangat tinggi
didalam reaktor, kita ketahui temperatur akan memacu tekanan sehingga dapat menyebabkan
kecelakan yang lebih berbahaya lagi. Kecelakaan pada TMI-2 (jenis PLTN air bertekanan, PWR)
tidak menyebabkan lepasnya radiasi ke lingkungan karena sistem keselamatan pada sungkup
reaktor bekerja dengan baik. Sedangkan pada peristiwa kecelakaan di PLTN Dai-ichi Fukushima,
radiasi terlepas ke lingkungan karena jebolnya sungkup reaktor akibat peristiwa ledakan hidrogen.
PLTN Dai-ichi adalah tipe PLTN jenis air didih (BWR) dan sistem keselamatannya sungkupnya
berbeda dengan jenis PWR. Sungkup reaktor PWR hingga saat ini tingkat keselamatannya masih
terus dievaluasi dan ditingkatkan. FESPECo adalah sebuah fasilitas eksperimen simulasi
pendinginan pada sungkup reaktor. Sebuah sarana yang dapat mensimulasikan akibat adanya
pembebanan internal berupa perubahan tekanan akibat uap air dan terkondensasi selama proses
pendinginan pada sistem primer, maupun pipa uap. Lower plenum (Bagian benampung air)
berdiameter 70 cm, tinggi 40 cm, Flanges (Sambungan), Jendela (Kaca Pantau) dengan lebar 27
cm, tinggi 70 cm, Shell (Badan) berdiameter 100 cm, tinggi 100 cm, dan Sungkup (Bagian atas )
berdiameter 100 cm dengan bentuk sentengah bola. Menggunakan alat ukur Preassure transmitter 2
(dua) unit, Thermocouple 7 (tujuh) unit, Bahan Carbon Steel ASTM 1020 dengan desain Tekanan 5
bar (5 x 10
5
N/m
2
) dan Temperatur 150
o
C (423
o
K). Pada proses eksperimen daya pompa
divariasikan mulai dari, 5Hz, 15Hz, 25Hz dan 35Hz, variasi daya pompa tersebut dilakuakn untuk
memperoleh hasil perbandingan disetiap beda aliran (debit) dan Volum air, sehingga diperoleh
analisi dari setiap eksperimen diatas bahwa proses ideal gas yang bekerja didalam sistem FESPECo
adalan Polytropic proses dikarenakan parameter Temperatur, Tekanan, Volum dan Perbandingan
Cp/Cv tidak konstan.

Kata-kata kunci: Temperatur, Tekanan, Volum, Cp/Cv, Debit Air, Ideal Gas, Polytropic
Proses


1. Pendahuluan
Kajian mengenai kecelakaan kehilangan aliran pendingin (loss of flow accident, LOFA), dan lain-lain
hingga terjadinya kecelakaan parah (severe accident), yaitu terjadinya pelelehan teras reactor. Salah satu
kecelakaan PLTN di dunia yang menjadi dasar pemikiran dan perubahan akan paradigma keselamatan PLTN
adalah kecelakaan reaktor nuklir Three Mile Island unit 2 (TMI-2), Pensylvania USA, pada bulan Maret
1979[1] dan peristiwa kecelakaan nuklir yang baru-baru ini terjadi di PLTN Dai-ichi di Fukushima Jepang[2].
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐46 
 
Tek ni k
MESI N
Kecelakaan pada TMI-2 (jenis PLTN air bertekanan, PWR) tidak menyebabkan lepasnya radiasi ke lingkungan
karena sistem keselamatan pada sungkup reaktor bekerja dengan baik. Sedangkan pada peristiwa kecelakaan di
PLTN Dai-ichi Fukushima, radiasi terlepas ke lingkungan karena jebolnya sungkup reaktor akibat peristiwa
ledakan hidrogen. PLTN Dai-ichi adalah tipe PLTN jenis air didih (BWR) dan sistem keselamatannya
sungkupnya berbeda dengan jenis PWR. Sungkup reaktor PWR hingga saat ini tingkat keselamatannya masih
terus dievaluasi dan ditingkatkan[3]. Gas ideal, kita ketahui bahwa dalam gas sejati, hanya dalam limit tekanan
mendekati nol sajalah persamaan keadaanya mengambil bentuk yang sederhana PV = nRT. Energy internal gas
sejati merupakan fungsi tekanan maupun temperatur (T2/T1)=(P2/P1), dalam proses polytropic beberapa
parameter seperti Temperatur, Tekanan, Volum dan jumlah mol dianggap tidak konstan, dikarenakan pada
prosesnya polytropic ada parameter diata yang masuk menambah dan ada parameter yang hilang atau
berkurang (pada prosesnya ada energy yang masuk dan ada energy yang keluar). Setiap sampel kecil gas terdiri
atas sangat banyak molekul, banyaknya molekul per mol gas disebut bilangan Avogadro N
A
. molekul gas ideal
dianggap menyerupai bola keras yang kecil, diameter molekul adalah dalam orde 2 atau 3 x 10
-10
m, dalam
keadaan baku, jarak rata-rata antar molekul sekitar 50 kali diameternya. Molekul gas ideal dianggap tidak
menimbulkan gaya tari atau tolak, bagian dinding yang ditumbuk molekul dianggap rata, bila tidak ada medan
eksternal molekul akan terdistribusi merata kesuluruh wadahnya dan kerapatannya dianggap sama,
Perbandingan Cp/Cv sama yang bergerak kesitiap arah yang berbeda karena tidak ada arah istimewa dalam
gerakan molekul, tapi tidak semua molekul berkelajuan sama, sehingga kelajuannya dapat dianggap meliputi
kisaran nol hingga kelajuan cahaya[4].
Makalah ini mengandung tujuan penelitian, yaitu memperoleh identifikasi perubahan tekanan
selama proses pendinginan dengan memvariasikan debit air yang diperoleh dari perubahan frekuensi
putaran pompa.


2. Metode Eksperimen

2.1. Fasilitas Eksperimen
FESPECo terdiri atas Lower
plenum berdiameter 70 cm, tinggi 40 cm,
Flanges, Kaca Pantau, lebar 27 cm, tinggi
70 cm, Shell berdiameter 100 cm, tinggi
100 cm, dan Sungkup berdiameter 100 cm
(bentuk sentengah bola). Menggunakan alat
ukur Preassure transmitter 2 (dua) unit,
Thermocouple 7 (tujuh) unit, Bahan
Carbon Steel ASTM 1020 dengan desain
Tekanan 5 bar (5 x 10
5
N/m
2
) dan
Temperatur 150
o
C (423
o
K) [5]. Eksperimen
akan dilakukan pada frekuensi pompa 5Hz,
15Hz, 25Hz dan 35Hz. untuk setiap
eksperimen, air dengan volum 30 liter
dipanaskan sampai tekanan mencapai 3
Bar. Data debit air diperoleh dari
pembacaan flow meter yang dicatat secara
manual dan digunakan sebagai acuan untuk
mengidentifikasi volum air yang masuk
selama proses pendinginan untuk
perbandingan proses disetiap variasi daya
pompa dan data tekanan diperoleh dari
preassure transmitter yang terhubung
dengan PLC sebelum data terbaca oleh computer. Preassure transmitter membaca perubahan tekanan
yang terjadi selama proses eksperimen dan Thermocouple membaca perubahan temperatur yang terjadi,
kedua alat ukur tersebut bertipe absolute, setiap nilai yang terbaca merupakan nilai perubahan yang terjadi
didalam kontaimen. Geometri tampak depan fasilitas uji FESPECo, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Geometri tampak depan FESPECo
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐47 
 
Tek ni k
MESI N

2.2. Prosedur Eksperimen
Eksperimen dimulai dengan mendistribusikan panas kedalam FESPECo dari 4 unit heater
dengan jumlah total daya 7500 W yang terpasang pada lower plenum (bagian penampung air) untuk
memanaskan air hingga menguap, penguapan air tersebut akan terbaca oleh komputer dengan jumlah
tekanan didalam terus bertambah dari proses pemanasan tersebut, sampai tekanan mencapai 3 Bar, heater
dimatikan bersamaan dengan pompa dinyalakan untuk mengalirkan air kedalam kontaimen melalui
sprayer. Proses tersebut terus berulang di setiap eksperimen dengan variasi daya pompa yang berbeda,
untuk frekuensi 15Hz, 25Hz dan 35Hz.

2.3. Perhitungan
Untuk dapat melakukan identifikasi Volum air yang masuk kedalam kontaimen selama proses
pendinginan, langkah perhitungan yang harus dilakukan, yaitu seperti persamaan (1).
V
Q
t
= ……………………………………… (1)
dengan Q [m
3
/s] adalah debit air, V [dm
3
] adalah Volum air, dan t [s] adalah Waktu. Debit dan waktu
sudah diketahui dari pencatatan secara manual, selanjutnya menghitung volum air yang masuk kedalam
kontaimen selama pendinginan, dapat dihitung dengan persamaan diatas, sehingga volum air yang masuk
selama eksperimen dapat diketahui. Untuk dapat melakuakan identifikasi nilai perbandingan disetiap
eksperimen dengan memvariasikan daya pompa pada setiap proses pendinginan, langkah perhitungan
yang harus dilakukan, yaitu seperti persamaan (2).

1
2 2
1 1
1
1
n
n
T P
T P
n
A

⎛ ⎞ ⎛ ⎞
=
⎜ ⎟ ⎜ ⎟
⎝ ⎠ ⎝ ⎠
=

…………………………… (2)

Dengan T
2
adalah temperatur kedua dari data temperatur sebelumnya yaitu T
1,
sebagai variable
pembaginya P
2
adalah tekanan kedua dari data tekanan sebelumnya yaitu P
1,
dan n adalah perbandingan
c
p
dan c
v
. Data temperatur dan tekanan adalah data yang diperoleh selama eksperimen yang terbaca di
computer, dengan persamaan diatas dapat kita ketahui perubahan parameter temperatur, tekanan, dan nilai
n adalah nilai perbandingan disetiap variasi daya pompa.


4. Hasil dan Pembahasan
4.1. Frekuensi pompa dan volum
Data volum air, diperoleh dari air yang tertampung pada lower plenum dari hasil eksperimen
berdasarkan perubahan frekuensi putaran pompa secara kontinyu yang dikontrol melalui inverter pada panel
kontrol utama. Hubungan antara frekuensi putaran pompa dan volum, seperti ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Hubungan antara frekuensi putaran pompa dan Volum air
Daya Pompa. f. [Hz] V air [liter]
5 Hz 32.6
15 Hz 37.6
25 Hz 44.2
35 Hz 48.7
 
Ditunjukkan pada Tabel 1, bahwa peningkatan volum air diakibatkan oleh kenaikan frekuensi
putaran pompa, dimana semakin tinggi putaran pompa, maka volum air yang dihasilkan semakin
banyak. Hubungan antara volum air yang merupakan fungsi frekuensi putaran pompa sebagai variabel
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐48 
 
Tek ni k
MESI N
ditampilkan dalam bentuk kurva. Kurva hubungan antara frekuensi putaran pompa terhadap volum air,
seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
5 Hz 15 Hz 25 Hz 35 Hz
30
35
40
45
50

V
o
l
u
m
e
,

V
.

[
d
m
3
]
Frekuensi Pompa, f. [Hz]
V = 27.05 + 5.49 * f
Karakterisasi
R
^
2

=

0
.
9
9
7
5
3
 
 
Gambar 2 Kurva hubungan antara Frekuensi putaran pompa terhadap Volum air

Ditunjukkan pada Gambar 2, bahwa kenaikan volum air dipengaruhi oleh kenaikan frekuensi pompa
secara kontinyu. Keadaan tersebut timbul karena frekuensi putaran pompa dinaikkan. Berdasarkan kurva
hubungan antara frekuensi putaran pompa terhadap debit air pada Gambar 2, diperoleh korelasi linier V [dm
3
]
= 27.05 + 5.49 * f [Hz]. Kurva karakterisasi tersebut kemudian digunakan untuk perbandingan disetiap
eksperimen dengan perubahan variasi daya pompa, dapat diketahui bahwa volum didalam kontaimen selama
proses pendinginan tidak konstan dikarenakan adanya penambahan volum air, sehingga tekanan, temperatur,
volum dan Perbandingan Cp/Cv akan mengalami perubahan pada saat proses pendinginan.

3.2. Hasil Perbandingan Tekanan dan Temperatur
Perbandingan T2/T1 dan P2/P1 dilakukan 5 Hz, 15 Hz, 25 Hz, dan 35 Hz, untuk memperoleh
nilai n pada setiap proses. Variasi daya pompa telah ditentukan sebelumnya, dengan acuan perbedaan
volum air dalam kontaimen di setiap daya pompa. Perhitungan perbandingan ini ditujukan agar dapat
tergambarkan kejadian dan terkarakterisasi proses yang terjadi selama eksperimen, terutama selama
proses pendinginan. Sehingga didapat nilai perbandingan antara n
teori
dengan n
eksperimen
pada setiap variasi.

0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Polytropic Proses pada Q = 0.0892 [dm³/s]
n
exp
= 1.0521
n
teori
= 1.3


P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1
Posisi PT1 dengan TC1
0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Posisi PT2 dengan TC1
Polytropic Proses pada Q = 0.0892 [dm³/s]
n
exp
= 1.0521
n
teori
= 1.3

P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1

Gambar 3 Kurva Perbandingan T
2
/T
1
dan P
2
/P
1

pada proses pendinginan dengan daya
pompa 5 Hz selama 600 detik
Gambar 4 Kurva Perbandingan T
2
/T
1
dan P
2
/P
1

pada proses pendinginan dengan daya
pompa 5 Hz selama 600 detik

Ditunjukkan pada Gambar 3, bahwa nilai n berbeda antara nilai n
teori
dengan nilai n
eksperimen
, dari
kurva dilihat bahwa Perbandingan Cp/Cv tidak konstan didalam kontaimen, karena pada saat pendinginan
ada penambahan volum air kedalam kontaimen dengan Q=0.0892 [dm
3
/s], sehingga Perbandingan Cp/Cv
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐49 
 
Tek ni k
MESI N
berubah. Diperoleh juga kurva perbandingan T2/T1 dan P2/P1 pada posisi PT2 dengan TC1, kurva
ditampilkan pada Gambar 4.
Ditunjukkan pada Gambar 4, bahwa pada posisi PT1 dan PT2 tidak terjadi perubahan
Perbandingan Cp/Cv, disimpulkan bahwa didalam kontaimen kerapatan molekul adalah sama, molekul
gas ideal dianggap menyerupai bola keras yang kecil, di temperatur dan tekanan gas ideal. Diameter
molekul adalah dalam orde 2 atau 3 x 10
-10
m. Dalam keadaan baku, jarak rata-rata antara molekul sekitar
50 kali diameternya. Setiap saat terdapat molekul yang bergerak ke satu arah dalam jumlah yang sama
dengan yang bergerak ke arah lainnya[4].
0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Posisi PT1 dengan TC1
Polytropic Proses pada Q = 0.2612 [dm³/s]
n
exp
= 1.1099
n
teori
= 1.3


P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1
0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Posisi PT2 dengan TC1
Polytropic Proses pada Q = 0.2612 [dm³/s]
n
exp
= 1.1099
n
teori
= 1.3

P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1
Gambar 5 Kurva Perbandingan T
2
/T
1
dan P2/P1
pada proses pendinginan dengan daya
pompa 15 Hz selama 600 detik

Gambar 6 Kurva Perbandingan T2/T1 dan P2/P1
pada proses pendinginan dengan daya
pompa 15 Hz selama 600 detik

Ditunjukkan pada Gambar 5, kurva perbandingan T2/T1 dan P2/T1 didapat nilai n
eksperimen
bertambah dari variasi daya pompa sebelumnya, diposisi 15 Hz volum air yang masuk bertambah besar
dengan debit aliran Q=0.2612 [dm
3
/s] diketahui aliran dan volum kontinu bertambah naik, nilai n
mengalami perubahan dari proses sebelumnya. Diperoleh juga kurva perbandingan T2/T1 dan P2/P1 pada
posisi PT2 dengan TC1, kurva ditampilkan pada Gambar 5.
Ditunjukkan pada Gambar 6, kurva perbandingan T2/T1 dan P2/T1 pada posisi PT2 dengan TC1
nilai n
eksperimen
posisi PT1 dan TC1 tidak mengalami perubahan nilai n=1.1099. Molekul yang bergerak ke
satu arah dalam jumlah yang sama dengan yang bergerak ke arah lainnya[4].

0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Posisi PT1 dengan TC1
Polytropic Proses pada Q = 0.4887 [dm³/s]
n
exp
= 1.0590
n
teori
= 1.3

P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1
0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Polytropic Proses pada Q = 0.4887 [dm³/s]
n
exp
= 1.0590
n
teori
= 1.3
Posisi PT2 dengan TC1

P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1
Gambar 7 Kurva Perbandingan T2/T1 dan P2/P1
pada proses pendinginan dengan daya
pompa 25 Hz selama 600 detik
Gambar 8 Kurva Perbandingan T2/T1 dan P2/P1
pada proses pendinginan dengan daya
pompa 25 Hz selama 600 detik

Ditunjukkan pada Gambar 7, kurva perbandingan T2/T1 dan P2/P1 dilihat nilai n mengalami
perubahan dari proses sebelumnya di posisi 15 Hz, pada posisi sekarang 25 Hz nilai n mengalami
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐50 
 
Tek ni k
MESI N
penurunan, sedangkan debit dan volum air bertambah naik, sebelumnya diposisi 15 Hz nilai n=1.1099
sedangkan di posisi 25 Hz nilai n=1.0590 debit pada posisi ini Q = 0.4887 [dm
3/
s], jumlah volum dan
debit aliran air sangat berpengaruh. Diperoleh juga kurva perbandingan T2/T1 dan P2/P1 pada posisi PT2
dengan TC1, kurva ditampilkan pada Gambar 8.

0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Posisi PT1 dengan TC1
Polytropic Proses pada Q = 0.6439 [dm³/s]
n
exp
= 1.0771
n
teori
= 1.3


P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1
0.6 0.8 1.0 1.2
0.6
0.8
1.0
1.2
Posisi PT2 dengan TC1
Polytropic Proses pada Q = 0.6439 [dm³/s]
n
exp
= 1.0771
n
teori
= 1.3

P
e
r
b
a
n
d
i
n
g
a
n

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T
2
/
T
1
Perbandingan Tekanan, P2/P1

Gambar 9 Kurva Perbandingan T2/T1 dan
P2/P1 pada proses pendinginan
dengan daya pompa 35 Hz
selama 600 detik

Gambar 10 Kurva Perbandingan T2/T1 dan
P2/P1 pada proses pendinginan
dengan daya pompa 35 Hz selama
600 detik


Ditunjukkan pada Gambar 9, kurva perbandingan T2/T1 dan P2/P1 dilihat pada variasi 35 Hz,
nilai n mengalami perubahan dari proses sebelumnya, pada kurva diatas nilai n
eksperimen
=1.0771 pada
variasi 25 Hz n
eksperimen
=1.0590, variasi 35 Hz mengalami kenaikan Perbandingan Cp/Cv, dengan debit Q
= 0.6439. Diperoleh juga kurva perbandingan T2/T1 dan P2/P1 pada posisi PT2 dengan TC1, kurva
ditampilkan pada Gambar 10.
Ditunjukkan pada Gambar 10, kurva perbandingan T2/T1 dan P2/P1 pada posisi PT2 dengan
TC1, dilihat dari kurva perbandingan PT1 pada Gambar 9 tidak terjadi perubahan pada nilai n, begitu pula
pada setiap proses eksperimen sebelumnya di variasi 25 Hz, 15 Hz dan 5 Hz disetiap posisi PT1 dan PT2.
Perbandingan T2/T1 dan P2/P1 lebih rapat dari kurva pada posisi PT1, dikarenakan pada posisi PT2
penurunan temperatur dan tekanan lebih lambat dibandingkan pada posisi PT1 yang berada dibawah arah
dari semprotan sprayer.


4. Kesimpulan
Hasil studi identifikasi perubahan tekanan selama proses pendinginan dengan memvariasikan
debit air yang diperoleh dari perubahan frekuensi putaran pompa, menyimpulkan bahwa:
• Perbandingan Cp/Cv pada proses pendinginan dapat dikontrol dengan variasi daya pompa yang
mempengaruhi debit aliran air yang masuk dan volum air, semakin tinggi debit dan volum air dapat
merubah Perbandingan Cp/Cv gas dalam kontaimen (uap air), dan juga bukan hanya parameter
molekul yang mengalami perubahan, perubahan kecepatan penurunan juga terjadi pada temperatur
dan tekanan, karena dilihat dari data Perbandingan Cp/Cv yang mengalami perubahan dapat
disimpulkan pula bahwa parameter temperatur dan tekanan tentu mengalami perubahan kecepatan
pendinginan di setiap variasi daya pompa.
• Perubahan temperatur, tekanan, volum dan Perbandingan Cp/Cv, di ketahui bahwa karakter proses
selama proses pendinginan yaitu gas ideal polytropic proses. Perbandingan Cp/Cv terbesar ialah pada
variasi f = 15 Hz nilai n
eksperimen
= 1.1099 masih dibawah nilai tetapan n (uap air) berdasarkan teori
nilai n
teori
= 1.3 dan Perbandingan Cp/Cv terkecil pada variasi f = 5 Hz nilai n
eksperimen
= 1.0521.
kenaikan nilai n
eksperimen
pada variasi f = 25 Hz ke f = 35 Hz nilai masing-masing n
eksperimen
= 1.0590
dan f = 25 Hz n
eksperimen
= 1.0771. Variasi f = 35 Hz terlihat pemilihan daya pompa pada proses
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐51 
 
Tek ni k
MESI N
pendinginan sangat mempengaruhi efisiensi proses pendinginan, pada pipa ¼ inch dan perubahan
luas penampang pipa sebelum masuk kedalam kontaimen dengan luas penampang 1 inch, dan pipa
sprayer ¼ inch dengan ukuran nozzle ¼ inch dan tekanan didalam kontaimen sebesar 3 Bar tentu
sangat mempengaruhi laju aliran air didalam pipa, dengan f = 25 Hz dan f =35 Hz terjadi back flow,
sehingga air lebih banyak terbuang ke pipa bypass, flow meter membaca debit aliran sebelum pipa
bypass, sehingga debit aliran menunjukkan aliran normal, kejadiannya aliran back flow selama proses
pendinginan sehingga jumlah nilai n
eksperimen
lebih kecil dibandingkan pada variasi f = 15 Hz.

Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Laboratorium Termohidrolika
PTRKN BATAN yang telah mengijinkan untuk melakukan penelitian. Dosen peneliti dan mahasiswa
Laboratorium EDfEC (Research Group), para Dosen pembimbing, senior-senior yang telah meluangkan
waktu untuk membimbing dan rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan dorongan dan motivasi
sehingga makalah ini terselesaikan.

Daftar Notasi
P : Tekanan [Bar]
T : Temperatur [
O
K]
V

: Volum [m
3
/liter]
n : Perbandingan C
p
/C
v
[-]
R : Tetapan gas universal [kJ/kmol K]
N/V

: Kerapatan molekul [-]
N
A
: Bilangan Avogadro [molekul/mm
3
]
Q : Debit aliran [dm
3
/s]
f : Frekuensi putaran pompa [Hz]


Daftar Pustaka

[1]. Broughthon, J.M et al, A Scenario on the Three Mile Island Unit 2 accident, Nucl
Tech,_____,1989; 87(1).
[2]. ____,fukushima simple explanation,_____,_____, 13 Maret 2011, http://bravenewclimate.com
[3]. _____,How the safety of NPP is secured in policy term: hopes to make safe more secured. NPP
safety demonstration analysis, ANRE & MITI,_____, 2001.
[4]. Zemansky, M. W dan Dittman, R. H, Kalor dan termodinamika, ITB diterjemahkan oleh The
Houw Liong, 1986.
[5]. Giarno, Analisis Tegangan Pada Dinding Sungkup PWR, PTRKN 23 September 2010










ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐52 
 
Tek ni k
MESI N
Analisi Perpindahan Kalor Konduksi Berdasarkan Variasi Daya
Heater Pada Bundel Uji Simulasi Eksperimen Temperatur Tinggi
(BUSETTI)

Oskar Riko
1
, Budi Utomo
1
, Kiswanta
2
, Ainur Rosidi
2
,
Ismu Handoyo
2
, Edi Marzuki
1
,Mulya Juarsa
2

1
Engineering and Devices for Energy Conversion (EDfEC) Research Group
Fakultas Teknik Univeristas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor
ozcarrico@yahoo.co.id

2
Laboratorium Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN
Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang
kiswanta-igos@batan.go.id

Abstrak
Penelitian diperlukan untuk mengetahui laju perpindahan kalor konduksi pada Bundel Uji
Simulasi Eksperimen Temperatur Tinggi ( BUSETTI). Studi identifikasi telah dilakukan untuk
mengetahui laju perpindahan kalor akibat adanya perambatan kalor dari bagian bertemperatur
tinggi ke bagian bertemperatur rendah sirkulasi udara sebagai medianya yang terjadi secara
transien dimana perubahan fasa udara menjadi gas dimungkinkan, proses perpindahan kalor
terjadi pada bagian uji BUSETTI melibatkan tiga cara perpindahan kalor, yaitu konduksi,
konveksi dan radiasi. Kondisi terpenting dalam pemanasan udara adalah terbentuknya aliran
udara diakibatkan perbedaan temperatur ke bagian pelat dan ke bagian dalam yang dilaluinya.
Rangkaian BUSETTI terdiri dari pelat berbentuk persegi empat berukuran: Panjang 0,2x0,2 m,
tinggi; 1,2 m, tebal pelat 4mm, bahan pelat SS304. Variasi eksperimen dilakukan dengan
pengukuran temperatur dengan daya heater yang dinaikan setiap 10 menit hingga pencapaian
daya 220volt dengan memvariasikan temperatur 500
o
C, 600
o
C, 650
o
C perubahan variasi daya
heater terhadap waktu dicatat, kemudian dijadikan acuan untuk melakukan perhitungan
perpindahan kalor konveksi yang akan dibandingkan dengan hasil pengukuran., Hasil
perbandingan daya terhadap temperatur antara perhitungan perpindahan kalor konduksi
dengan data pengukuran daya menunjukkan perpindahan kalor konduksi terkecil -0.16 pada
temperatur 650
o
C, perpindahan kalor konduksi terbesar 42.67 pada temperatur 650 C. yang
bemberikan gambaran fenomena perpindahan kalor konduksi. Berdasarkan hasil ekperimen
dan perhitungan menunjukan bahwa laju perpindahan kalor konduksi pada pelat BUSETTi
ditentukan oleh, konduktivitas termal, luas penampang dan jarak termokopel

Kata-kata kunci: temperatur tinggi, daya heater, karakterisasi, kalor konduksi.

1. Pendahuluan

Laboratorium Termohidrolika PTRKN BATAN memiliki fasilitas Bundel Uji Simulasi
Eksperimen Temperatur Tinggi (BUSETTI ) yang digunakan untuk meneliti fenomena sirkulasi udara
sebagai media temperatur tinggi. Bagian uji BUSETTI digunakan untuk eksperimen media pemanasan
pada aliran umpan Reaktor Temperatur Tinggi (High Temperature Gas cooled reactor, HTGR). Proses
perpindahan kalor pada suatu benda yang memiliki gradien menyebabkan terjadi perpindahan kalor atau
perambatan kalor dari bagian yang bertemperatur tinggi ke bagian yang bertemperatur rendah[1].
BUSETTI dapat mensimulasikan proses perpindahan kalor berdasarkan distribusi temperatur. Proses
perpindahan kalor yang terjadi pada bagian uji BUSETTI melibatkan tiga cara perpindahan kalor, yaitu
konduksi,konveksi dan radiasi. Kondisi terpenting dalam pemanasan udara adalah terbentuknya aliran
udara yang diakibatkan perbedaan temperatur. Bagian udara yang dipanaskan akan lebih renggang dan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐53 
 
Tek ni k
MESI N
udara dari bagian dingin akan bergerak kearah bagian panas[2]. Analisis untuk memahami bagaimana
proses perpindahan kalor secara konduksi pada bagian uji BUSETTI perlu dilakukan.

Penelitian untuk mengetahui distribusi temperatur pada pelat SS304 dan pada udara yang melalui
bundel uji. Akibat perpindahan kalor dari kumparan pemanas ke bagian pelat dan ke bagian dalam yang
dilalui udara merupakan data parameter di dalam eksperimen. Perpindahan kalor yang terjadi didalam
bundel uji pada temperatur tinggi perlu dipahami secara baik. Hasil yang memberikan gambaran
fenomena perpindahan kalor konduksi selain untuk memberikan kegunaan untuk melengkapi data
perpindahan kalor pada bundel uji temperatur tinggi dan juga untuk kemampuan analisis proses
perpindahan kalor pada alat konversi energi[2].


2. Metode Eksperimen

2.1. Fasilitas Eksperimen

Bagian uji BUSETTI (Budel Uji Simulasi Eksperiment Temperatur Tinggi), terdiri dari pelat
berbentuk persegi panjang, pelat bagian utama bagian uji merupakan pelat SS304 dengan tebal 0,01m dan
ukuran panjang 1,2 m dan lebar 0,2 m. Pelat SS304 ini dijadikan sebagai objek penelitian dan disebut
sebagai bagian utama dari bagian uji yang akan dipanaskan hingga mencapai temperatur yang diinginkan.
Gambar 3.1 Foto penjelasan bagian uji BUSETTI



Gambar 2.1. Foto Bundel uji Simulasi Eksperimen Temperatur Tinggi (BUSETTI)


2.2 Prosedur Eksperimen
Eksperimen dimulai dengan mengecek tegangan listrik terlebih dahulu apakah ada konsleting
listrik yang terjadi pada heater. apabila tidak terjadi konsleting listrik, maka eksperimen pun dapat
dilakukan, seiring dengan dioperasikannya pemanasan pada BUSETTI diatur dari slide regulator yang
divariasikan setiap 10 menit dinaikan tegangan 20volt sampai 220volt, hingga temperatur udara yang
diinginkan yaitu 500
0
C,600
0
C,650
0
C. Untuk mencapai temperatur tersebut kapasitas heater perlu
diperhatikan.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐54 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 2.2 Geometri tampak depan fasilitas uji BUSETTI



2.3 Perhitungan

Untuk dapat melakukan identifikasi pemanasan, terdapat beberapa langkah perhitungan yang
harus dilakukan, yaitu mulai dari perhitungan daya yang terjadi pada heater, seperti pada persamaan (1).

P = V .I . Cos ϕ (1),

Dengan P [watt] adalah daya, V [volt] adalah tegangan, I [ampere] adalah arus. Setelah daya
yang terjadi pada heater diketahui kemudian dilanjutkan dengan menghitung distribusi temperatur.
Untuk menghitung distribusi temperatur seperti pada persamaan (2).

T
(z)
= T
1

11-12
L
z (2),

Dengan T
1
adalah temperatur tertinggi, T
2
adalah temperatur termokopel yang dihitung, L adalah panjang
pelat, z adalah jarak termokopel. Setelah disitribusi temperatur diketahui kemudian dilanjutkan dengan
menghitung perpindahan kalor konduksi,

Untuk menghitung perpindahan kalor konduksi yang terjadi pada dinding BUSETTI seperti pada
persamaan 3.

q = -k A
11-12
L
(3),

dengan q adalah kalor konduksi, -k adalah konduktivitas termal, A adalah luas penampang, T
1

T
2
adalah temperatur tertinggi – temperatur terendah, L adalah jarak termokopel.


3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Hasil perhitungan daya terhadap heater.

Data hasil pengukuran temperatur pada bundel uji BUSETTI dilakukan untuk memperoleh data
kenaikan Daya dan temperatur akhir yang dicapai bundel uji, dimulai dari temperatur 500°C, 600°C,
650
o
C dilakukan dengan memvariasikan tegangan pada regulator. Besarnya kenaikan tegangan pada
regulator sebesar 20 volt setiap 10 menit. Sehingga didapatkan data hubungan antara tegangan dan arus
pada heater seperti yang dipresentasikan pada gambar

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐55 
 
Tek ni k
MESI N
no 
Tegangann 
V [volt] 
Arus 
I [A] 
Cos 
ϕ 
Daya 
heater 
P [watt] 
 
1 0 0 0.8 0
2 20 0.53 0.8 8
3 40 1.10 0.8 35
4 60 1.67 0.8 80
5 80 2.28 0.8 145
6 100 2.84 0.8 227
7 120 3.42 0.8 328
8 140 3.90 0.8 437
9 160 4.52 0.8 579
10 180 5.10 0.8 734
11 200 5.51 0.8 882 Gambar 3.1 Kurva hubungan antara tegangan
dan arus pada heater.
12 220 6.30 0.8 1100.8
 

P(V)=‐3.26573+0.13901*(V)+ 0.02168*(V)^2 
R^
2
= 0,9972 
 
Hasil perhitungan daya yang terjadi pada
heater dapat dilihat pada Tabel 3 hasil perhitungan
daya lalu dibuat kurva hubungan daya terhadap
waktu.

Uji pemanasan pada bundel uji BUSETTI
dilakukan untuk memperoleh data kenaikan
temperatur. Data variasi tegangan masuk hasil
pengamatan ekperimen serta kenaikan arus masuk
terjadi akibat meningkatnya tegangan masuk
heater. Hubungan tegangan masuk terhadap arus
masuk heater berdasarkan temperatur akhir 650°C

Gambar 4.5 menunjukan kurva kenaikan
temperatur Bundel uji terhadap waktu pada
temperatur 650
0
C mulai terlihat pada detik ke-
1000, temperatur pada titik-titik termokopel (TC-
4, TC-5) lebih tinggi dibandingkan dengan titik
termokopel yang berada pada pelat BUSETTI karena pada (TC-4, TC-5) terpasang pada heater dan
dipengaruhi oleh temperatur udara sekitar. Kenaikan temperatur pada setiap titik termokopel mulai
terlihat naik pada detik ke-1000 sampai tercapai temperatur akhir 650°C pada detik ke-26529 pada titik
termokopel (TC-4, TC-5), sedangkan pada TC-1, TC-7, TC-8, TC-11, TC-12, TC-13 tidak terlihat
adanya kenaikan temperatur yang signifikan, karena dipengaruhi oleh koefisien konveksi udara sekitar.



3.1.2 Karakterisasi kenaikan temperatur 650
0
C

Data-data kenaikan temperatur hasil eksperimen selama proses pemanasan radiasi yang terekam
oleh dataq pada setiap titik termokopel untuk temperatur akhir 650°C diolah menjadi grafik menggunakan
program Origin v7.0, kemudian, diplot kedalam fungsi T(t) secara eksponensial Boltzmann diperoleh
korelasi-korelasi sebagai berikut:
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000
0
100
200
300
400
500
600
700
T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T

[
o
C
]
Waktu, t [s]


TC1
TC4
TC5
TC7
TC8
TC11
TC12
TC13
Gambar 3.2. Kurva kenaikan temperatur
pada batang uji terhadap
waktu untuk capaian
temperatur 650°C.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐56 
 
Tek ni k
MESI N

IC: I(t) = A2+(A1-A2)/(1+exp((x-xo)/dx))


NOTASI
TC A1 A2 x xo dx
TC-
5
-
3.25
33
587.
872
265
29
3864.81
847
1353.
224









3.1.3 Profil distribusi temperatur 650
0
C

Data hasil eksperimen dapat dibuat menjadi kontur temperatur setiap detiknya dengan
menggunakan piranti lunak origin 7.0. Pembuatan kontur temperatur dalam bentuk warna dimaksudkan
untuk memperjelas pemetaan distribusi pelat BUSETTI. Hasil pembuatan sampel kontur distribusi
temperatur dalam kordinat kartesian pelat pada temperatur 650°C untuk pelat sisi kiri dan pelat sisi kanan
dapat dilihat pada Gambar


Berdasarkan Gambar 4.9 Pada t = 0
terlihat garisnya lurus, hal ini berarti tidak
adanya kenaikan temperatur TC-1, TC-7, TC-
8, TC-11,TC_12,TC-13 karena belum adanya
kalor yang diterima oleh pelat. Kurva profil
distribusi temperatur pada pelat yang
ditunjukkan pada Gambar 4.9 cenderung
homogen pada detik ke 1000, tetapi Setelah
memplot grafik temperatur dengan skala yang
lebih kecil setiap 1000 detik tidak didapat lagi
kecenderungan pola perubahan temperatur yang
homogen setiap detiknya karena posisi
termokopel di pasang tidak sejajar yang
mengakibatkan perubahan temperatur tidak
homogen.




3.2 pembahasan

Perhitungan perpindahan kalor konduksi dilakukan untuk mendapatkan nilai perpindahan kalor yang
terjadi di dinding pelat sebagai mediasi yang dipengaruhi oleh tebal pelat dan konduktivitas termal bahan.
Kurva hasil perhitungan analitik terhadap daya heater berdasarkan posisi termokopel.


Gambar 3.3 Kurva karakteristik kenaikan
temperature 650
0
C
TC_1
TC_13
TC_12
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550
26259s
16000s
12000s 8000s 6000s 4000s
2000s
0s
P
o
s
i
s
i

T
e
r
m
o
k
o
p
e
l
,

[
T
C
]
Temperatur, T [
0
C]


Gambar 3.4 Kurva profil distribusi temperatur
650
0
C
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐57 
 
Tek ni k
MESI N
0 200 400 600 800 1000 1200
-10
0
10
20
30
40
50
60
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

K
a
l
o
r

K
o
n
d
u
k
s
i
,

q
c
o
n
d

[
w
a
t
t
]
Daya Heater, P [watt]


Data Perhitungan TC7>TC8
q(P) =0.39249+0.02235*P
R2 = 0.9833
0 200 400 600 800 1000 1200
-10
0
10
20
30
40
50
60
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

K
a
l
o
r

K
o
n
d
u
k
s
i
,

q
c
o
n
d

[
w
a
t
t
]
Daya Heater, P [watt]


Data Perhitungan TC8>TC11
q(P) =-5.09456+0.04221*P
R2 = 0.99473
Gambar 3.5 Kurva perpindahan kalor konduksi di
TC-7>TC-8 temperatur akhir 650°C

Gambar 3.6 Kurva perpindahan kalor konduksi di
TC-7>TC-11 temperatur akhir 650°C

0 200 400 600 800 1000 1200
-10
0
10
20
30
40
50
60
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

K
a
l
o
r

K
o
n
d
u
k
s
i
,

q
c
o
n
d

[
w
a
t
t
]
Daya Heater, P [watt]


Data Perhitungan TC8>TC11
q(P) =-5.09456+0.04221*P
R2 = 0.99473

Gambar 3.7 Kurva perpindahan kalor konduksi di TC-8>TC-11 temperatur akhir 650°C

Besar perpindahan kalor pada ketiga gambar kurva perpindahan kalor tergantung pada selisih
temperatur yang dicapai pada pelat terhadap udara sekitar, maka semakin besar selisih temperatur
semakin besar perpindahan kalor. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan selisih temperatur TC-8 terhadap
TC-11

mencapai 134.60°C, nilai perpindahan kalor pada TC-8 terhadap TC-11 sebesar 42.67 watt.
Temperatur tertinggi pada posisi termokopel TC-8 karena berada dekat titik pusat pelat rektangular yang
tidak dipengaruhi oleh koefisien konveksi dari udara sekitar seperti pada titik-titik termokopel terluar
yang dipengaruhi oleh koefisien konveksi dari udara sekitar.



4. Kesimpulan

• Distribusi temperatur satu dimensi (1D) yang terjadi pada pelat bundel uji disebabkan adanya
perbedaan temperatur. Temperatur mengarah dari inti pelat rektangular ke titik terluar, dipengaruhi
oleh koefisien konveksi dari temperatur udara sekitar. Temperatur tertinggi terjadi pada TC-5 karena
posisi termokopel berada pada heater sedangkan posisi termokopel lainnya tidak terpasang pada
heater. Kenaikan temperatur udara terjadi setelah detik ke-710 untuk setiap temperature yang
dinginkan. pada Korelasi kenaikan temperatur yang dihasilkan pada eksperimen pemanasan radiasi
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐58 
 
Tek ni k
MESI N
pelat rektangular adalah eksponensial bolzmann, dimana korelasi temperatur pada selisih didapat
dengan memfitting kenaikan temperatur pada setiap variasi temperatur.

• Hasil studi identifikasi perpindahan kalor konduksiberdasarkan variasi daya heater pada pelat,
menyimpulkan bahwa:
Kenaikan daya heater dipengaruhi oleh naiknya tegangan dan arus, semakin besar naiknya tegangan
yang dihasilkan oleh regulator, maka semakin besar pula temperatur yang dihasilkan. Dapat
dibuktikan daya 1108,8 watt, tegangan 220volt arus 6,30 amper pada temperatur tetertinggi terjadi di
dalam pelat uji pada temperatur 650
o
C pada TC-8>TC-11 dengan nilai perpindahan kalor konduksi
sebesar 42.67 watt.


Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepala Lab. Termohidrolika eksperimental PTRKN BATAN
untuk menyediakan fasilitas untuk riset, serta ketua jurusan Teknik Mesin dan para dosen untuk dukungan
moril. Kepada asosiate riset Lab. Termohidrolika eksperimental PTRKN BATAN dan para rekan
mahasiswa riset atas kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

Notasi

A = LuasPenampang [m
2
]
K = Konduktivitas Termal [W/m.K]
L = Tebal Pelat [m
2
]
I = Arus [Ampere]
V = Tegangan [volt]
P = Daya [Watt]
Cos ϕ = Sudut Kemiringin
JI¡Jx = Gradien Temperatur [K/m]


DAFTAR PUSTAKA
[1] ___,___,___.http:/www.batan.go.id/ptrkn/index.pnp=comcontent&task= view&id
=15&ltemid=46#thermo, 2 April 2007
[2] Pitts, Donald R., Leighton E. Sissom, Perpindahan Kalor (diterjemahkan oleh: E. Jasjfi),
Erlangga, Jakarta, 1987
[3] Mark W. Zemansky, Richard H. dittman, Kalor dan Termodinamika. ITB Bandung, 1986
[4] Frank Kreith, Prinsip-prinsip Perpindahan panas, diterjemahkan oleh:
Arko Prijono,Erlangga, Jakarta, 1991.
[5] Incropera, F.P. dan D.P. Dewitt, Fundamental of Heat and Mass Transfer Fourth edition, John
Wiley, New York, 1996.
[6] Welty, James R., Charles E.Wicks, Robert E. Wilson, Gregory L. Rorrer, Dasar-dasar Fenomena
Transport, Edisi Keempat (diterjemahkan oleh Ir. Gunawan Prasetio), Erlangga, Jakarta, 2002.
[7] Reynolds. N.C. H.C. Perkin, Termodinamika Teknik, diterjemahkan oleh Filino Harahap, Diktat
Departemen Mesin, ITB, 1976.
[8] Priyotomo, Gadang., Baja Stainlees,___,___,___.http://gadang-e-
bookformaterialscience.blogspot.com/2007/12/info-mengenal-singkat-apa-itu-stainless.html,
Desember, May 12:29:2011 AM.








ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐59 
 
Tek ni k
MESI N

Fenomena Pendidihan pada Heat Pipe dengan Variasi Wick
Screen Mesh dan Posisi Peletakan

Ratna Sary, Wayan Nata, Nandy Putra
Laboratorium Applied Heat Transfer Research Gorup
Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
Kampus Baru UI- Depok


Abstrak

Fenomena Pendidihan yang ditimbulkan oleh wick heat pipe sangat berpengaruh terhadap
kinerja heat pipe. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari jumlah
mesh dan jumlah layer dari wick heat pipe terhadap fenomena pendidihan yang dihasilkan.
Pengujian dilakukan pada heat pipe kaca berbahan pirex dengan diameter tube 15 mm dan
panjang 300 mm. Tabung kaca diisi dengan wick stainless steel screen 100, dan 200 mesh
dengan dimeter kawat ± 56,5 µm dengan jumlah anyaman 67,416 per mm dengan fluida kerja air
destilasi (aquades). Wick screen mesh pada heat pipe dibuat 3 layer. Pada bagian kondensor
dibentuk berupa alat penukar kalor kaca dengan panjang 80 mm dan diameter 35 mm. Bagian
evaporator dari heat pipe kaca diberikan sumber panas dengan menggunakan heater dimana
pembebanan diberikan dari DC-power supply, sedangkan bagian kondensor dialirkan air
dengan temperatur 25
o
C dari thermostatic circulating batch. Thermocouple jenis K di letakkan
pada bagian dinding dan bagian cairan dari heat pipe untuk mengetahui temperatur dinding dan
temperatur saturasi dari fluida kerja heat pipe. Pengamatan fenomena pendidihan yang terjadi
pada heat pipe direkam menggunakan High Speed Video Camera. Hasil pengujian menunjukkan
bahwa terjadi perbedaan fenomena pendidihan yang ditimbulkan oleh pemakaian wick screen
mesh dengan jumlah mesh dan sudut inklinasi. Ukuran, bentuk gelembung, dan temperatur
terbentuknya nukleat pada heat pipe, serta koefisien perpindahn kalor cenderung lebih besar
pada pemakaian wick 200 mesh. Sedangkan sudut inklinasi yang memberikan unjuk kerja paling
baik adalah sudut 90
o
.

Key words: Heat pipe, wick, screen mesh, boiling.


1. Pendahuluan
Perkembangan heat pipe saat ini telah banyak dirasakan manfaatnya, salah satunya digunakan
sebagai sistem pendingin pada komponen elektronik sebagai disipasi panas (pelepasan panas) terutama
pada microprocessor yang kian hari menghasilkan fluks kalor yang semakin besar akibat peningkatan
kinerja dan semakin kecilnya dimensi. Kapasitas microprocessor yang besar mengakibatkan
meningkatnya panas yang ditimbulkan dan ini tidak mampu diserap oleh heat sink konvensional [1]. Heat
pipe terbuat dari pipa berukuran tertentu yang berisi wick dan fluida kerja yang berfungsi untuk
memindahkan kalor dari ujung yang evaporator ke ujung kondensor. Teknologi heat pipe ini dilengkapi
dengan media berpori yang disebut dengan wick sebagai lintasan atau saluran kapiler untuk fluida cair
kembali menuju ke bagian evaporator [2-5]. Heat pipe memanfaatkan fluida kerja dalam ruang terbatas
dan tekanan kapiler yang ditimbulkan lapisan atau sumbu berpori dimana perpindahan kalor terjadi dari
bagian evaporator ke kondensor melalui metode dua fase [6]. Fenomena pendidihan yang ditimbulkan
oleh wick heat pipe sangat berpengaruh terhadap kinerja heat pipe, terutama pada heat transfer koefisien.
Pendidihan merupakan salah satu proses perubahan fase. Evaporasi terjadi pada permukaan
antara cairan (liquid) dan uap (vapor) ketika tekanan uap lebih kecil dari tekanan cairan pada temperatur
tertentu [7].
Beberapa penelitian telah dilakukan oleh Faghri [8] yang menggambarkan mengenai suatu proses
resesi pada lapisan cair serta kemungkinan terjadinya evaporasi atau pendidihan transisi dengan adanya
peningkatan fluks kalor. Pada fluks kalor yang rendah, perpindahan kalor pada media biasanya hanya terjadi
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐60 
 
Tek ni k
MESI N
secara konduksi dan konveksi bebas, tanpa adanya peristiwa pendidihan atau perubahan fase. Terdapatnya
wick yang berupa sumbu kapilaritas di dalam heat pipe menyebabkan terjadinya evaporasi atau pendidihan
trasisi secara intensif yang mengakibatkan fluks kalor meningkat secara tajam. Pada heat pipe, nukleat ataupun
gelembung yang tumbuh pada wick didisain untuk dapat secara cepat lepas ke permukaan cairan dan pecah
sehingga tidak adanya gelembung yang diam di dalam wick yang dapat menghalangi proses sirkulasi cairan
atau mengurangi gaya kapilaritas cairan. Brautsch et al.[9]. ] juga telah melakukan penelitian mengenai
fenomena pendidihan dimana mereka mensimulasikan proses perpindahan kalor dari pipa aluminium yang
permukaan diberi mesh stainless steel dengan fluida kerja air. Pipa ini diletakkan secara vertical. Dari penelitian
ini dapat diamati bahwa pada fluks kalor rendah gelembung-gelembung kecil mulai terbentuk pada permukaan
mesh. Ketika terjadi peningkatan fluks kalor maka gelembung-gelembung membesar dan secara cepat dapat
meninggalkan permukaan mesh tanpa terjebak dalam mesh. Proses pemanasan pipa tembaga dengan
permukaan sintering juga dilakukan oleh Li et al [10] dimana dalam penelitian ini didapatkan peningkatan yang
sangat tajam pada nilai fluks kalor kritis (CHF).

1. Metodelogi
1.1 Desain Heat Pipe Kaca
Heat pipe dibuat dengan pipa kaca pirex dengan diameter 15 mm dengan panjang 300 mm dan pada
ujung tempat kondensor dipasang alat penukar kalor dengan ukuran diameter 35 mm dam panjang 80 mm.
Salah satu ujungnya dipasangkan katup sebagai tempat penginjeksian fluida kerja. Wick heat pipe berupa
screen mesh berdiameter kawat 56,5µm beranyaman tunggal dengan jumlah anyaman 67.416 per mm. Screen
terbuat dari kawat stainless steel dengan
konduktivitas termal 40W/(m·K). Wick screen
mesh dibuat dalam bentuk gulungan sehingga
akan terbentuk lapisan-lapisan (layer). Pada
penelitian ini digunakan screen mesh
berukuran 100 dan 200. Disain dari heat pipe
kaca dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 2 merupakan skema
pengujian dari pengamatan fenomena
pendidihan pada heat pipe yang terbuat dari
kaca


1.2 Skematik Pengujian

Gambar 2. Skematik pengujian Fenomena boiling heat pipe




Keterangan:

1 Thermostatic
circulating batch
5 High speed video camera
2 Isolator phoulyuretane 6 DC-power supply
3 heat pipekaca 7 c-DAQ+NI module 9213
4 Heater 8 Unit computer
Gambar 1 heat pipe kaca
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐61 
 
Tek ni k
MESI N

Pengambilan data dilakukan pada tiga sudut peletakan (inklinasi) yaitu 0
o
, 45
o
dan 90
o
. Fluks
panas pada bagian evaporator (q
e
) dihitung melalui [11]:

(1)

(2)

Dengan Q adalah input power, r
0
dan r
i
merupakan jari-jari luar dan dalam heat pipe, L
e
adalah
panjang bagian evaporator, T
i
dan T
0
adalah temperatur bagian dalam dan luar dinding heat pipe dan
adalah konduktivitas termal dari tembaga. Koefisien perpindahan kalor dari bagian dapat dihitung melalui
perbandingan antara fluks kalor pada bagian evaporator berbanding dengan penurunan temperatur ΔT:

(3)

Untuk kalor maksimal yang mampu diserap oleh heat pipe dari bagian evaporator dapat dihitung
melalui persamaan:

(4)


3. Hasil dan Diskusi

3.1 Pengaruh Sudut Inklinasi pada Variasi Wick Screen Mesh 100

Gambar 3 dan 4 memperlihatkan pertumbuhan dan bentuk gelembung dengan peningkatan fluks
kalor pada heat pipe dengan wick screen 100 mesh 3 layer pada posisi inklinasi 0o. Fenomena yang
terjadi pada permukaan screen yakni pada fluks kalor 76,3 kW/m2 mulai terbentuk nukleat berupa
gelembung-gelembung pada permukaan screen. Pendidihan dengan ukuran gelembung yang lebih besar
terjadi antara fluks kalor 101,7kW/m2 dimana fluks kalor maksimal pada pendidihan inti adalah 127,1
kW/m2. Evaporasi atau pendidihan transisi mulai terjadi antara fluks kalor 152,5 kW/m2 dan 148,3
kW/m2 dan selanjutnya terjadi film dengan permukaan screen terlapisi oleh lapisan panjang berupa
pendidihan film. Pada posisi 45o mulai terbentuk pada fluks kalor 101,7 kW/m2 sampai dengan 128,2
kWatt/m2. Pendidihan terjadi dengan fluks kalor maksimal 154,3kWatt/m2.


Gambar 3. Bentuk gelembung pada HP screen
100 mesh pada inklinasi 0
o


Gambar 4. Bentuk gelembung pada HP screen
100 mesh pada inklinasi 45
o


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐62 
 
Tek ni k
MESI N
Gambar 5 merupakan fenomena pendidihan pada heat pipe dengan wick screen 100 mesh
dengan posisi peletakan (inklinasi) 90
o
. Bentuk gelembung pada kondisi ini sedikit berbeda baik dengan
model peletakan 45
o
maupun 0
o
dimana ukuran gelembung lebih besar dari peletakan 0
o
dan 45
o
.
Gelembung cenderung lebih cepat menuju bagian kondensor karena dalam kondisi ini kondensor terletak
di bagian atas. Jika diamati pada gambar gelembung yang terbentuk terlihat lebih jarang hal ini
dikarenakan gelembung yang terbentuk segera terlepas dari permukaan dan menuju ke sisi atas dari fluida
kerja dan terlepas dalam bentuk uap untuk selanjutnya berevaporasi.


Gambar 5. Bentuk gelembung pada HP screen 100 mesh pada inklinasi 90
o


Perbandingan kondisi fluks kalor pada beberapa kondisi peletakan inklinasi heat pipe
ditunjukkan pada Gambar 6. Pada gambar dapat diamati bahwa pada kondisi 45
o
dapat mencapai heat
fluks yang lebih besar dengan beda temperatur yang lebih kecil dibandingkan dengan kondisi pada
peletakan 0
o
. Hal ini juga terjadi pada kondisi 90
o
dimana dengan kondisi beda temperatur yang lebih
kecil, heat fluks yang terbentuk lebih besar.


3.2 Pengaruh Sudut Inklinasi pada Variasi Wick Screen Mesh 200

Untuk fenomena pendidihan pada heat pipe dengan pemakaian wick screen mesh 200 mesh pada
kondisi peletakan 0o diperlihatkan oleh Gambar 8. Dimana pada pemakaian screen mesh 200 terlihat
bahwa gelembung yang terjadi pada penbentukan nukleat memiliki bentuk dan kondisi yang berbeda
dibandingkan dengan pemakaian wick screen 100 mesh pada posisi peletakan yang sama.
Pada wick screen 200 mesh gelembung yang terbentuk lebih cepat bervariasi ukuran yakni
pembentukan nukleat dari gelembung yang berukuran kecil lebih cepat membesar dan kemudian lebih
cepat terlepas menuju kebagian kondensor. Hal ini menyebabkan terjadinya transfer kalor dari permukaan
wick kebagian kondensor berlangsung lebih cepat.



Gambar 6. Grafik fenomena pendidihan HP screen 100 mesh

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐63 
 
Tek ni k
MESI N
Posisi peletakan 45
o
mengakibatkan bentuk gelembung yang terjadi pada fenomena pendidihan
memiliki bentuk yang lebih besar dan cenderung terlepas lebih cepat dari permukaan screen menuju
kearah kondensor. Hal yang sama juga terjadi untuk kondisi peletakan 90
o
dimana bentuk gelembung
lebih besar lagi dibandingkan dengan 0
o
dan 45
o
.

Pada penggunaan screen 200 mesh terjadi perbedaan bentuk antara posisi peletakan 0
o
, 45
o
dan 90
o
.
Ini dapat diamati pada Gambar 7 s/d 9.



Gambar 7. Bentuk gelembung pada HP screen
200 mesh pada inklinasi 0
o


Gambar 8. Bentuk gelembung pada HP screen
200 mesh pada inklinasi 45
o


Bentuk gelembung yang lebih besar diakibatkan oleh lebih besarnya kalor berupa gas yang
terbungkus oleh liquid atau cairan yang kemudian segera terlepas kepermukaan. Sudut 90
o
mengakibatkan
lebih cepatnya gelembung terlepas dikarenakan kecenderungan udara untuk mengalir keatas.

Perbandingan fluks kalor untuk pemakaian screen 100 dan 200 mesh dengan beberapa posisi
peletakan diperlihatkan pada Gambar 10 dan 11.


Gambar 9. Bentuk gelembung pada HP screen 200 mesh pada inklinasi 90
o


Dari gambar dapat kita amati bahwa pada perbedaan temperatur yang masih kecil baik pada
posisi 0
o
, 45
o
maupun 90
o
perpindahan kalor dari permukaan sumber panas terjadi secara konveksi alami.
Dapat dikatakan bahwa perbedaan posisi peletakan atau inklinasi berpengaruh terhadap fenomena
pendidihan dan perpindahan kalor pada heat pipe dengan wick screen mesh 200 mesh, dimana dengan
perbedaan temperature yang lebih kecil antara temperatur dinding (T
w
) dengan temperatur fluida (T
f
)
dapat mencapai fluks kalor yang lebih besar.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐64 
 
Tek ni k
MESI N
Ukuran mesh dan posisi peletakan daripada heat pipe (inklinasi) juga berpengaruh terhadap
koefisien perpindahan kalor dari heat pipe tersebut. Pada pemakaian fluida kerja konvensional air antara
posisi peletakan 0
o
, 45
o
dan 90
o
, kondisi posisi peletakan 90
o
memberikan nilai koefisien perpindahan
kalor paling tinggi. Pada posisi 90
o
bagian kondensor berada di posisi atas dan bagian evaporator berada
di bagian bawah seperti pada gambar 3. Setelah bagian evaporator mendapat pemanasan dari heater maka
fluida kerja pada bagian evaporator akan mengalami proses pendidihan yang kemudian gelembung uap
yang terbentuk terlepas menuju bagian kondensor. Gas memiliki sifat yang cenderung lari keatas. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jacob et al [12,13] bahwa koefisien heat transfer pada
permukaan pemanas dengan posisi vertikal (90
0
) akan lebih besar dibandingkan posisi horizontal (0
0
).
Penggunaan wick dengan screen 200 mesh menghasilkan gelembung yang cenderung lebih cepat lepas
dari permukaan screen dibandingkan dengan screen 100 mesh. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa
gelembung yang terbentuk oleh screen dengan jumlah mesh yang lebih besar akan menbentuk pori yang
lebih kecil. Pada pori-pori yang lebih kecil atau lebih halus nukleat atau gelembung-gelembung akan
lebih cepat terbentuk. Terbentuknya nukleat lebih cepat dan lebih cepatnya nukleat terlepas dari
permukaan screen dapat meningkatkan nilai koefisien perpindahan kalor. Seperti penelitina Stephan
Kotthoff et al [14], bahwa pengaruh kekasaran dapat mempengaruhi perpindahan panas akibat proses
timbulnya gelembung. Peningkatan koefisien perpindahan kalor terhadap fluks kalor ditunjukkan pada
Gambar 11.


-25 0 25 50 75 100 125 150 175 200 225
0
5
10
15

K
o
e
f
i
s
i
e
n

p
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

h

[
k
W
/
m
2
.
o
C
]
Fluks kalor, q [kW/m
2
]
Mesh 100, posisi inklinasi 0
o
Mesh 200, posisi inklinasi 0
o
Mesh 100, posisi inklinasi 45
o
Mesh 200, posisi inklinasi 45
o
Mesh 100, posisi inklinasi 90
o
Mesh 200, posisi inklinasi 90
o
Gambar 10. Grafik Fenomena pendidihan HP
screen 200 mesh

Gambar 11. Grafik peningkatan koefisien
perpindahan kalor terhadap fluks
kalor



4. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemakaian wick screen mesh
dengan jumlah mesh dan jumlah layer yang berbeda baik dari segi ukuran gelembung, bentuk gelembung,
dan temperatur terbentuknya nukleat pada heat pipe, serta koefisien perpindahan kalor yang cenderung
lebih besar pada pemakaian wick 200 mesh dibandingkan dengan wick screen mesh 100. Inklinasi atau
posisi peletakan heat pipe memberikan kinerja yang paling baik pada posisi peletakan 90
o
[15,16].


Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan Terima Kasih kepada DRPM UI atas dukungan dana penelitian melalui
Hibah RUUI.





ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐65 
 
Tek ni k
MESI N
Daftar Pustaka
[1]. Kaya, Tarik., and John Goldak. Numerical Analysis of Heat and Mass Transfer in The Capillary
Structure of a Loop Heat Pipe. International Journal of Heat and Mass Transfer Vol 49, pp. 3211-
3220, 2006.
[2]. Reay, David & Peter Kew., Heat Pipe, Theory, Design and Applications, 5
th
Edition, USA, 2006.
[3]. Leonard L, Vasiliev., Review Heat Pipes in Modern Heat Exchangers. Applied Thermal
Engineering 25, pp.1-19, 2005.
[4]. Harris, James R., Modeling, Designing, Fabricating and Testing of Channel Panel Flat Plate Heat
Pipe. Utah State University, pp.1-6, 2008.
[5]. Ochterbeck, Jay M., Heat Pipe. Departement of Mechanical Engineering Clemson University,
pp.1182-1229.
[6]. Weibel, Justin A., Suresh V Garimella., and Mark T North. Characterization of Evaporation and
Boiling From Sintered Powder Wicks Fes by Capillary Action. International Journal of Heat and
Mass Transfer vol 53, pp. 4202-4215, 2010.
[7]. Cengel, Yunus A. Heat Transfer- A Practical Approach 2
nd
, McGraw-Hill Companies, Inc., 2003.
[8]. A. Faghri. Heat Pipe Science and Technology, Taylor & Francis, London, 1995.
[9]. A. Brautsch, P.A. Kew. Examination and visualization of heat transfer processes during
evaporation in capillary porous structures, Appl. Therm. Eng. 22 (2002) 815–824.
[10]. C.Li, G.P.Peterson, Y.Wang, Evaporation/ boiling in thin capillary wicks (I) – wick thickness
effects, J. Heat Transfer 128 (2006) 1312–1319.
[11]. Harris, James R., Modeling, Designing, Fabricating and Testing of Channel Panel Flat Plate Heat
Pipe. Utah State University, pp.1-6, 2008.
[12]. Jacob M, Hawkins GA(1995) Elements of heat transfer, 3
rd
edn. Wiley, New York, pp 206-210.
[13]. Nishikawa K, Fujitha Y, Ohta H (1984) Effect of surface configuration on nucleate boiling heat
transfer. Int J Heat Transf 27:1559-1571.
[14]. Stephan Kotthoff , Dieter Gorenflo, Elisabeth Danger, Andrea Luke, Heat transfer and bubble
formation in pool boiling: Effect of basic surface modifications for heat transfer enhancement,
International Journal of Thermal Sciences 45 (2006) 217–236.
[15]. R.Kempers, D.Ewing, C.Y.Ching. Effect of number of mesh layers and fluid loading on the
performance of screen mesh wicked heat pipes. Applied Thermal Engineering 26 (2006) 589-595.
[16]. Patrik Nemec, Alexander Caja, Milan Malcho. Thermal Performance measurement of heat pipe,
Global journal of technology & Optimization, volume 2, 2011























ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐66 
 
Tek ni k
MESI N
Pengaruh Viskositas Oli Terhadap Karakteristik
Perpindahan Kalor Di Permukaan Aluminium Pada
Dinamika Tumbukan Droplet


Slamet Wahyudi, Putu Hadi Setyarini dan Shancha Ricardo Agusta
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjend Haryono no. 167 Malang, 65145, Indonesia
E – mail : slamet_w72 @yahoo.co.id, slamet_w72@ub.ac.id

Abstrak
Fenomena tumbukan droplet sering kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Untuk
mengetahui pengaruh viskositas oli dan temperatur permukaan aluminium terhadap laju
perpindahan kalor pada dinamika tumbukan droplet oli perlu dilakukan penelitian.
Kekentalan oli yang dinyatakan dalam SAE dan temperatur permukaan padat aluminium
merupakan parameter penting yang menentukan perilaku tumbukan dan laju perpindahan
kalor saat interaksi droplet dengan permukaan. Materi droplet adalah oli dengan diameter
awal droplet tetap 3 mm. Dinamika tumbukan droplet tunggal dengan permukaan padat
aluminium yang dipanaskan divisualisasikan menggunakan kamera. Viskositas oli
dinyatakan dalam SAE yaitu SAE 20; SAE 30; SAE 40; dan SAE 50. Temperatur permukaan
padat aluminium divariasikan dari 280; 320; 360; 400°C dengan mengacu pada pola
pendidihan, yaitu pendidihan fase tunggal, pendidihan nukleat, pendidihan transisi, dan
pendidihan film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur, maka
perpindahan kalor total dan laju perpindahan kalor pada droplet semakin besar pula,
sedangkan waktu evaporasi semakin kecil. Hal tersebut dikarenakan gelembung muncul dan
pergerakannya menyebabkan terjadinya pencampuran fluida di sekitar permukaan padat,
namun pada temperatur 320°C sampai 400°C fenomena yang terjadi sebaliknya. Hal
tersebut disebabkan oleh droplet yang tidak lagi berkontak langsung dengan permukaan
aluminium yang dipanaskan melainkan memantul karena ada lapisan film. Pada temperatur
yang tetap, viskositas oli yang tinggi akan membuat luas sebaran droplet semakin kecil
sehingga perpindahan kalor total dan laju perpindahan kalor akan menurun dan waktu
evaporasi semakin kecil pula.

Kata Kunci : viskositas oli, karakteristik perpindahan kalor, dinamika tumbukan droplet.



1. Pendahuluan
Dinamika tumbukan butiran oli (droplet) dengan permukaan padat yang dipanaskan merupakan
suatu fenomena yang banyak menarik perhatian berbagai kalangan peneliti karena aplikasinya yang
sangat vital di dunia industri pada masa sekarang. Ketika droplet menyentuh permukaan padat yang
dipanaskan, fenomena yang terjadi secara umum dapat berupa menyebar (spread), pecah berhamburan
(splash), atau melambung kembali (rebound)[2]. Selanjutnya tetesan tersebut akan mendidih dan mulai
hilang. Viskositas dari droplet itu sendiri juga akan mempengaruhi lama penguapan dan diameter
penyebaran pada saat droplet menumbuk permukaan aluminium yg suhunya divariasikan. Pengaruh
viskositas dan temperatur dapat kita lihat dari gambar 1.






ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐67 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 1 : Kurva Pengaruh Suhu terhadap Viskositas

Akan tetapi bila temperatur permukaan padat cukup tinggi maka tetesan tidak lagi kontak
langsung dengan permukaan padat seperti melayang akibat adanya lapisan uap tipis semacam lapisan film
yang menghalanginya. Maka proses penguapan pada kondisi temperatur ini menjadi lambat akibat
perpindahan kalor dari permukaan padat ke tetesan turun. Fenomena tersebut digambarkan dalam Kurva
Pendidihan Nukiyama seperti pada gambar 2.

 
Gambar 2 : Kurva Pendidihan Nukiyama

Dari diagram Nukiyama tersebut diperoleh empat daerah pendidihan yaitu daerah pendidihan
konveksi bebas (free convection boiling) terletak pada ∆Te < 5ºC, pendidihan inti (nucleate boiling)
terletak antara 5ºC < ∆Te < 30ºC, pendidihan transisi (transition boiling) terletak antara 30ºC < ∆Te <
120ºC, dan pendidihan film (film boiling) terletak pada ∆Te > 120ºC.
Salah satu sifat dari sebuah tetesan adalah sifat mampu basah (wettability) yang merupakan
kemampuan dari sebuah tetesan untuk membasahi permukaan atau seberapa luasan tetesan yang
menyentuh permukaan padat [4]. Kemampuan dari wettability berkaitan erat dengan laju perpindahan
kalor yang terjadi antara sebuah tetesan dengan permukaan padat, dimana semakin luas daerah yang
dibasahi oleh tetesan maka semakin besar laju perpindahan kalornya. Metode untuk menilai kemampuan
droplet membasahi permukaan padat (wettability) adalah dengan cara menghitung sudut kontak droplet.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐68 
 
Tek ni k
MESI N
Caranya ada dua yaitu dengan persamaan Young atau dihitung langsung berdasarkan data tinggi tetesan
dan panjang garis kontak antara tetesan dengan permukaan padat [5].
Bernardin (1997) melakukan pendekatan yang lebih sederhana dengan meneliti tumbukan sebuah
droplet pada permukaan padat yang dipanaskan, dimana dari hasil penelitian tersebut diperoleh
karakteristik perpindahan kalor pada droplet tunggal yang kemudian digunakan untuk memprediksi
karakteristik perpindahan kalor secara menyeluruh pada proses spraying. Karakteristik perpindahan kalor
dari penguapan tetesan terdapat sebuah titik minimum yang disebut titik penguapan minimum, minimum
evaporation time point dan sebuah titik maksimum yang disebut titik Leidenfrost. Wetting limit
temperature sedikit lebih tinggi dari titik minimum evaporation time dan diperoleh dengan cara
mengamati perilaku tetesan yang sedang menguap. Sedangkan temperatur Leidenfrost adalah temperatur
dimana titik perpindahan kalor mengalami perubahan arah, dari turun menjadi naik atau sebaliknya. Pada
temperatur ini film boiling dimulai.
Laju perpindahan kalor tidak hanya dipengaruhi oleh sifat fluida, tetapi juga dipengaruhi oleh
bagaimana cara fluida disuplai ke permukaan. Proses spray pada permukaan dengan droplet
menghasilkan fluks kalor yang lebih besar dibandingkan dengan pendinginan secara konveksi paksa[2].
Bolle dan Moureau [6] mengembangkan ekspresi semi-empiris berikut untuk perpindahan kalor
total selama kontak antara droplet dan permukaan yang dipanaskan,

dimana k adalah konduktivitas termal bahan, ρ adalah densitas bahan, C
p
adalah kalor spesifik bahan, T
s

adalah temperatur permukaan bahan, T
f
adalah temperatur droplet, d
0
adalah diameter droplet, dan v
0

adalah kecepatan droplet. Sementara itu Takeuchi et al. [7] menyatakan laju perpindahan kalor
berkorelasi terhadap frekuensi tetesan, kecepatan, dan diameter,
 
 

Dimana f adalah frekuensi, v
0
adalah kecepatan droplet, dan d
0
adalah diameter droplet.
Dinamika tumbukan droplet juga dipengaruhi oleh viskositas fluida droplet itu sendiri.
Parameter yang digunakan untuk mengukur viskositas adalah,

ρ
μ
υ =

dimana ρ adalah massa jenis, υ adalah viskositas kinematik, dan µ adalah viskositas dinamik.
Pada penelitian ini akan diamati dan dikaji perpindahan kalor yang terjadi saat droplet
menumbuk permukaan panas dengan memvariasikan viskositas oli yang digunakan dan temperatur pada
permukaan aluminium.

2. Metode Penelitian
Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Variabel yang
digunakan dalam penelitian adalah viskositas oli : SAE 20; SAE 30; SAE 40; SAE 50 sebagai variabel
bebas, karakteristik perpindahan kalor sebagai variabel terikat, dan temperatur temperatur aluminium :
280; 320; 360; 400°C sebagai variabel terkontrol.
Dinamika tumbukan droplet direkam dengan menggunakan kamera dengan kecepatan
pengambilan gambar 30 frame per detik. Sudut kamera pada saat pengambilan data adalah 0
o
. Data yang
diperoleh akan digunakan untuk pengolahan data kuantitatif. Analisa dilakukan berdasarkan data luas
kontak droplet yang diukur melalui gambar untuk mengetahui karakteristik perpindahan kalor pada
droplet.



(3) 
(1) 
(2) 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐69 
 
Tek ni k
MESI N


Instalasi pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3 berikut:



Gambar 3 : Instalasi Penelitian




3. Hasil Dan Pembahasan
Besarnya nilai karakteristik perpindahan kalor pada droplet ditunjukkan pada tabel 1

Tabel 1 Karakteristik Perpindahan Kalor pada Droplet



Gambar 4 menunjukkan grafik hubungan antara temperatur terhadap perpindahan kalor
total dengan viskositas oli divariasikan sebesar SAE 20; SAE 30; SAE 40; SAE 50.


Keterangan:
1. Silinder Aluminium
2. Heater
3. Selang infus
4. Kamera
5. Temperature
controller
6. Termokopel
7. Botol plastik
8. Bata tahan api
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐70 
 
Tek ni k
MESI N





Gambar 4: Hubungan antara Viskositas terhadap Perpindahan Kalor Total


Pada grafik terlihat bahwa semakin besar temperatur permukaan aliminium maka semakin besar
pula perpindahan kalor total (Qsd) yang terjadi pada semua variasi viskositas. Pada temperatur 280°C
hingga 320°C perpindahan kalor total semakin besar. Hal ini disebabkan karena pada saat temperatur
280°C transfer panas dari permukaan panas ke cairan adalah dengan konveksi alami. Setelah menaikkan
temperatur sampai 320°C gelembung muncul dan pergerakannya menyebabkan terjadinya pencampuran
fluida di sekitar permukaan padat sehingga koefisien perpindahan kalor konveksi dan perpindahan kalor
total juga meningkat. Perpindahan kalor total menjadi maksimum pada temperatur 320°C, pada titik ini
disebut titik kritis atau Critical Heat Flux (CHF). Ketika temperatur permukaan dinaikkan kembali
melebihi 320°C sampai 400°C maka perpindahan kalor total semakin menurun. Hal ini dikarenakan mulai
terbentuk lapisan film uap air menyelimuti permukaan padat yang memisahkan sisi permukaan padat
dengan cair. Droplet tidak lagi berkontak langsung dengan permukaan baja yang dipanaskan melainkan
memantul karena ada lapisan film. Naiknya temperatur permukaan mengakibatkan makin banyak pula
permukaan padat yang ditutupi oleh lapisan film.

Pada temperatur yang tetap, dimana semakin tinggi viskositas oli maka akan mengakibatkan
sebaran droplet mengecil sehingga perpindahan kalor total akan menurun. Perpindahan kalor total ketika
kontak terjadi antara droplet dan permukaan yang dipanaskan dapat terlihat pada persamaan (1).

Semakin besar perbedaan temperatur antara temperatur permukaan dengan temperatur droplet
maka semakin besar perpindahan kalor total hanya sampai temperatur 320°C kemudian akan menurun
saat temperatur ditingkatkan. Begitu pula dengan semakin meningkatnya viskositas oli maka luas sebaran
droplet yang diperlihatkan dengan diameter droplet saat menumbuk semakin kecil sehingga perpindahan
kalor total akan menurun.
Pada gambar 5 menunjukkan grafik hubungan antara temperatur terhadap laju perpindahan kalor
dengan bilangan viskositas oli divariasikan sebesar SAE 20; SAE 30; SAE 40; dan SAE 50.



(1) 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐71 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 5 : Hubungan antara Viskositas terhadap Laju Perpindahan Kalor


Pada grafik terlihat bahwa semakin besar temperatur permukaan baja maka semakin besar pula
laju perpindahan kalor (q
ss
) yang terjadi pada semua variasi viskositas. Pada temperatur 280°C hingga
320°C laju perpindahan kalor semakin besar. Hal ini disebabkan karena pada saat temperatur 280°C
transfer panas dari permukaan panas ke cairan adalah dengan konveksi alami. Setelah menaikkan
temperatur sampai 320°C gelembung muncul dan pergerakannya menyebabkan terjadinya pencampuran
fluida di sekitar permukaan padat sehingga koefisien perpindahan kalor konveksi dan laju perpindahan
kalor juga meningkat. Laju perpindahan kalor menjadi maksimum pada temperatur 320°C, pada titik ini
disebut titik kritis atau Critical Heat Flux (CHF). Ketika temperatur permukaan dinaikkan kembali
melebihi 320°C sampai 400°C maka laju perpindahan kalor semakin menurun. Hal ini dikarenakan mulai
terbentuk lapisan film uap air menyelimuti permukaan padat yang memisahkan sisi permukaan padat
dengan cair. Droplet tidak lagi berkontak langsung dengan permukaan baja yang dipanaskan melainkan
memantul karena ada lapisan film. Naiknya temperatur permukaan mengakibatkan makin banyak pula
permukaan padat yang ditutupi oleh lapisan film.

Pada temperatur yang tetap, dimana semakin tinggi viskositas oli maka akan mengakibatkan
sebaran droplet mengecil sehingga laju perpindahan kalor akan menurun. Laju perpindahan kalor ketika
kontak terjadi antara droplet dan permukaan yang dipanaskan dapat terlihat pada persamaan (2).



Semakin besar viskositas droplet maka luas sebaran droplet yang diperlihatkan dengan diameter
droplet saat menumbuk akan semakin kecil. Oleh sebab itu laju perpindahan kalor akan menurun.
Sedangkan pada gambar 6 menunjukkan grafik hubungan antara viskositas oli terhadap waktu
evaporasi dengan bilangan viskositas divariasikan sebesar SAE 20; SAE 30; SAE 40; dan SAE 50.










ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐72 
 
Tek ni k
MESI N




Gambar 6 : Hubungan antara Viskositas terhadap Waktu Evaporasi


Pada grafik terlihat bahwa semakin besar temperatur permukaan aluminium maka semakin kecil
waktu evaporasi (s) yang terjadi pada semua variasi viskositas oli.
Begitu pula halnya dengan semakin tinggi viskositas oli pada temperatur tetap maka semakin
besar waktu evaporasinya, hal ini disebabkan karena dengan viskositas yang semakin tinggi maka
diameter penyebaran droplet semakin kecil sehingga waktu evaporasinya semakin meningkat.
Pada temperatur yang tetap, dimana semakin tinggi viskositas oli maka akan mengakibatkan
diameter penyebaran droplet menurun. Diameter penyebaran droplet yang semakin kecil akan
mempengaruhi waktu evaporasi, sehingga waktu evaporasi akan meningkat.


4. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada viskositas yang semakin
tinggi, maka perpindahan kalor total dan laju perpindahan kalor pada droplet semakin kecil, sedangkan
waktu evaporasi juga semakin kecil. Pada viskositas yang tetap, temperatur permukaan aluminium yang
semakin tinggi akan mempengaruhi penyebaran droplet saat menumbuk, diikuti dengan bertambahnya
luas sebaran droplet sehingga perpindahan kalor total dan laju perpindahan kalor akan meningkat tetapi
waktu evaporasi tetap semakin kecil. Namun pada temperatur 320°C sampai 400°C fenomena yang
terjadi sebaliknya yaitu perpindahan kalor total dan laju perpindahan kalor pada droplet semakin kecil,
sedangkan waktu evaporasi juga semakin kecil.


DAFTAR PUSTAKA
[1]. Bolle, L. ; Moureau, J.C. ; 1982 : Spray cooling of hot surfaces : In Multiphase Science and
Technologi. International Journal of Heat and Mass Transfer.
[2]. Bernardin, J.D., Stebbins, C.J., Mudawar, I. 1997: Mapping of Impact and Heat Transfer Regimes of
Water Drops Impinging on a Polished Surface; International Journal of Heat and Mass Transfer.
[3]. Chandra, S. ; Avedisian, C.T. ; 1991 : On the Collision of a Droplet with a Solid Surface ;
Proceedings, Mathematical and Physical Sciences.
[4]. Jayaningrat, I.G.A.G. 2010: Studi Eksperimental Dinamika Tetesan Tunggal yang Menimpa
Permukaan Panas Aluminium dan Tembaga pada Bilangan Weber Rendah; Tesis dipublikasikan;
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐73 
 
Tek ni k
MESI N
[5]. Njobuenwu, D.O., Oboho, E.O., Gumus, R.H. 2007: Determination of Contact Angle from Contact
Area of Liquid Droplet Spreading on Solid Substrate; Leonardo Electronic Journal of Practices and
Technologies.
[6]. Bolle, L., Moureau, J.C. 1982:Spray cooling of hot surfaces. In Multiphase Science and Technology.
[7]. Takeuchi, K., Senda, J., Yamada, K.1983:Heat transfer characteristics and the breakup behavior of
small droplets impinging upon a hot surface, Proceedings ASMEIJSME Thermal Engineering Joint
Conference.
















































ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐74 
 
Tek ni k
MESI N

Analisis Rugi Kalor Selama Proses Pemanasan Dan
Pendinginan Pada Simulator Sungkup Reaktor

Wahyudin
1
, Mulya Juarsa
1
, Surip Widodo
1
, Ismu Handoyo
2
, Edi Marzuki
2
, Joko Susilo
2

1
Mahasiswa Konversi Energi Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor
Jl. KH. Soleh Iskandar Bogor
Wahyudintato@yahoo.co.id
2
Laboratorium Termohidrolika Eksperimental PTRKN BATAN
Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang


Abstrak

Telah dilakukan simulasi proses pemanasan dan pendinginan di dalam contaiment
merupakan salah satu fenomena fisis heat transfer, karena fenomena tersebut mengandung
perubahan temperatur terhadap waktu di dalam contaiment. Seiringnya perubahan
temperatur terhadap waktu, mengalami perubahan uap setalah di sumber kalor(heater) di
nyalakan . Efisiensi fenomena FESPECo dilakukan dengan mengidentifikasi nilai rugi kalor
menggunakan Fasilitas Eksperimen Simulasi Pendinginan Uap Pada Contaiment
(FESPECo). Analisis dilakukan untuk mengetahui pengaruh nilai perpindahan rugi kalor
terhadap nilai rugi kalor yang terjadi pada sistem tertutup dengan adanya distribusi kalor
pada fluida kerja (air) pada FESPECo, dengan komponen terdiri atas tube berdiameter 6
mm, heater, pressure gauge dan flanges. Hasil eksperimen dan perhitungan menggunakan
beberapa korelasi menunjukkan, perpindahan kalor akan mencapai nilai yang secara linear
1,12 watt, 12,48 watt, dan 36,86 watt berdasarkan perbedaan waktu eksperimen,
mempengaruhi kenaikan nilai rugi kalor dari 7498,88 watt hingga 6947,17 watt.

Kata-kata kunci: FESPECo, perpindahan kalor, rugi kalor


1. Pendahuluan
Potensi bahaya dalam sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah sumber
radioaktivitas yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu prinsip utama desain keselamatan PLTN adalah
"Bungkus rapat dan jaga keutuhan bungkusnya". Untuk membungkus rapat radioaktivitas PLTN agar tetap
berada ditempatnya yang aman, desain PLTN mempunyai sistem penghalang ganda (multiple barrier).
Prinsip keselamatan pertahanan berlapis (defense in depth) juga diterapkan untuk menjaga keutuhan
"pembungkus"[1]. Secara garis besar, model sungkup reaktor air bertekan (Pressurized Water Reactor,
PWR) terdiri dari beberapa bagian yaitu, bagian utama adalah sebuah silinder penutupnya yang berbentuk
setengah bola yang menahan terlepasnya bahan atau material radioaktif terlepas ke lingkungan. Mengingat
bagian utama dinding sungkup PWR berperan sangat penting, maka dalam desain dinding akan dilakukan
beberapa langkah yaitu, menentukan batas minimum ketebalan dinding, berdasarkan perubahan parameter
tekanan, temperatur dan jumlah kalor yang berpindah[2].
Fasilitas Eksperimen Simulasi Pendinginan Uap pada Containment (FESPECo) jenis PWR adalah
sebuah fasilitas eksperimen untuk mensimulasikan kecelakaan kegagalan manajemen termal. Kebocoran uap
dari reaktor bejana tekan (Reactor Pressure Vessel, RPV) akan langsung dilepaskan ke bagian dalam
sungkup (containment), kondisi tersebut akan mengganggu integritas dari sungkup jika terjadi pada kondisi
yang tidak normal. Bagian dalam sungkup dilengkapi dengan sistem injeksi air pendingin yang
disemprotkan melalui sprayer di bagian atas sungkup. Interaksi antara pendinginan uap dan air pendingin
yang mengakibatkan perubahan parameter tekanan dan temperatur yang melibatkan perpindahan kalor
menjadi kajian dan penelitian yang dilakukan[3].
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐75 
 
Tek ni k
MESI N
Proses perpindahan kalor yang terjadi di dalam sungkup berlangsung dalam konteks perubahan
fasa uap menjadi air (pengembunan) dan pencampuran uap dengan air pendingin. Selain kalor dari uap yang
dipindahkan ke air pendingin melalui kontak langsung, juga terjadi pengurangan kalor uap melalui dinding
sungkup. Analisis rugi kalor selama proses pemanasan dan pendinginan pada simulator sungkup reaktor
dilakukan untuk memahami rugi kalor yang terjadi dalam sungkup reaktor, yang dapat mensimulasikan
akibat adanya pembebanan internal berupa naiknya tekanan akibat uap air dan gas tidak dapat terkondensasi
setelah terjadi kecelakaan karena hilangnya air pendingin (Loss of Coolant Accident, LOCA) pada sistem
primer maupun pipa uap[4].


2. Metode Eksperimen
2.1. Fasilitas Eksperimen
Fasilitas eksperimen simulasi pendinginan pada contaiment (FESPECo) yang ada di
laboratorium termohidrolika eksperimental PTRKN BATAN terdiri atas rangkaian tube CS-1020 6 mm
(0,6 cm), Heater, Pressure Gauge, heater, Flanges dan savety valve. Gambar 1 Fasilitas eksperimen
pendinginan pada contaiment[3].

Gambar 1. Fasilitas eksperimen pendinginan
pada contaiment [3]
Uji pemanasan dan pendinginan di dalam contaiment dilakukan untuk memperoleh data pemanasan dan
pendinginan. Uji pemanasan dilakukan dengan menghidupkan heater secara konstan, setelah temperatur
yang ditentukan tercapai, selanjutnya proses pendinginan dilakukan dengan cara pendinginan natural,
yaitu menghentikan input kalor ke dalam contaiment hingga temperatur akhir dan tekanan akhir.

3. Prosedur Eksperimen

Prosedur eksperimen di bagi menjadi 3 sub fase:
1. Sub fase persiapan pemanasan
Sub fase persiapan pemanasan dimulai sejak ditutupnya jendela pada kontaimen hingga sumber kalor
(heater) dinyalakan. Sub fase ini berlangsung hingga t = 0 (t menyatakan waktu). Pada sub fase ini,
temperatur dinding kontaimen masih sama dengan temperatur awalnya.
2. Sub fase pemanasan
Sub fase pemanasan berlangsung saat t = 0, yaitu saat pemanas mulai dinyalakan hingga psumber kalor
(heater).
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐76 
 
Tek ni k
MESI N
3. Sub fase pendinginan
Sub fase pendinginan berlangsung saat t = t
h ,
yaitu saat sumber kalor (heater) mulai dimatikan.


4. Perhitungan
Hasil pengamatan temperatur pada setiap titik termokopel yang terpasang pada dinding udara di
dalam contaiment dilakukan untuk mengetahui laju perpindahan kalor yang terjadi di dalam contaiment
selama proses pemanasan dan pendinginan temperatur. Data tersebut disubtitusikan kedalam persamaan
1[5-7].
L r h L k
r r
L r h
T T
q
udara besi uap
udara uap
2
1 2
1
2
1
2 2
1
π π π
+ +

=
) / ln(

.................. (1)
Kemudian setelah laju perpindahan kalor pada contaiment diketahui dilanjutkan dengan
penentuan nilai perpindahan kalor air yang terjadi di dalam contaiment berdasarkan persamaan 2.
) / ) , )(( ( t TC t CP q
air air
6 23 30
1
− × =

..................... (2)
Kemudian setelah laju perpindahan kalortotal pada contaiment diketahui dilanjutkan dengan penentuan
nilai rugi kalor yang terjadi di dalam contaiment berdasarkan persamaan 4.
total s loss
T T q − =
..................................... (3)

5. Hasil dan Pembahasan
5.1. Pemanasan dan Pendinginan Temperatur Eksperimen
Pemanasan temperatur yang direkam pada 5 termokopel pada program Cimon, diplot dalam
bentuk kurva pemanasan temperatur eksperimen menggunakan program origin V.8.0. Fenomena
pemanasan dan pendinginan temperatur untuk setiap temperatur akhir menunjukan temperatur stabil,
dijelaskan sebagai berikut: (a) pemanasan temperatur akhir mulai terlihat naik secara signifikan mulai
detik 2500 dengan daya heater konstan 7500 watt terlihat temperatur TC-1 lebih tinggi dibandingkan TC
yang lainnya, (b) pendinginan temperatur eksperimen untuk setiap temperatur akhir mulai terlihat turun
pada detik 2000 terlihat TC-5 lebih rendah dibandingkan TC yang lainnya, pemanasan dan pendinginan
temperatur hasil eksperimen ditunjukan pada Gambar 2 dan Gambar 3.

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
130
T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T

[
0
C
]


Waktu, t [detik]
TC_1
TC_2
TC_3
TC_4
TC_5
t =8799 detik, Heater off
Temp. akhir 120
0
C
8000 9000 10000 11000 12000 13000 14000 15000
50
60
70
80
90
100
110
120
130
t =14823detik
Temp. akhir 53
0
C

T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T

[
0
C
]
Waktu, t [detik]
TC_1
TC_2
TC_3
TC_4
TC_5
Gambar 2. Kurva pemanasan temperatur hasil
eksperimen

Gambar 3. Kurva pendinginan temperatur hasil
eksperimen


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐77 
 
Tek ni k
MESI N
5.2. Korelasi Pemanasan dan Pendinginan Temperatur Hasil Eksperimen
Gambar pemanasan dan pendinginan temperatur hasil eksperimen yang ditunjukan pada Gambar
2 dan Gambar 3 dipisahkan setiap termokopel lalu di analisis menggunakan program origin V.8.0,
Gambar pemanasan dan pendinginan temperatur eksperimen vs waktu ditunjukan pada Gambar 4 dan
Gambar 5, sehingga diperoleh korelasi pemanasan dan pendinginan temperatur berupa linear sebagai
berikut:
TC: T(t) = 30,53958+0,01123*t TC: T(t) = 113,44477+(-0,00939)*t

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000
60
70
80
90
100
110
120
130

TC_1
Karakterisasi linear = 113,44477+(-0,00939)*t
T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
,

T

[
0
C
]
Waktu, t [detik]

Gambar 4. Kurva karakterisasi pemanasan
temperatur eksperimen vs waktu untuk
temperatur akhir 120
0
C
Gambar 5. Kurva karakterisasi pendinginan
temperatur eksperimen vs waktu untuk
temperatur akhir 53
0
C


5.3. Profil distribusi pemanasan dan pendinginan temperatur di dalam contaiment

Profil distribusi temperatur 1 dimensi berdasarkan posisi termokopel terhadap sumbu x dan y
Gambar (a) lebih memperjelas distribusi temperatur terhadap posisi termokopel 120
0
C kurva distribusi
pemanasan temperatur 1 dimensi, (b) ) lebih memperjelas distribusi pendinginan temperatur terhadap
posisi termokopel 53
0
C kurva distribusi temperatur 1 dimensi. Ditunjukan pada Gambar 6 dan Gambar 7.

TC2
TC3
TC4
TC5
20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
8
7
9
9

s
8
0
0
0

s
7
0
0
0

s
6
0
0
0

s
5
0
0
0

s
4
0
0
0

s
3
0
0
0

s
2
0
0
0

s
1
0
0
0

s
0

s


Temperatur, T [
0
C]
P
o
s
i
s
i

t
e
r
m
o
k
o
p
e
l

TC2
TC3
TC4
TC5
120 110 100 90 80 70 60
6
0
2
3

s
5
0
0
0

s
4
0
0
0

s
3
0
0
0

s
2
0
0
0

s
1
0
0
0

s
0

s

Temperatur, T[
0
C]
P
o
s
i
s
i

t
e
r
m
o
k
o
p
e
l
(a)
Gambar 6. Profil distribusi pemanasan temperatur
terhadap posisi termokopel

(b)
Gambar 6. Profil distribusi pendinginan
temperatur terhadap posisi termokopel


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐78 
 
Tek ni k
MESI N
5.4. Perpindahan kalor menyeluruh selama proses pemanasan dan pendinginan temperatur
didalam contaimen terhadap waktu

Perpindahan kalor selama proses pemanasan dan pendinginan temperatur didalam contaiment
terhadap waktu untuk mendapatkan nilai laju perpindahan kalor yang terjadi di dalam contaiment, seperti
ditunjukan pada Gambar 9 dan Gambar 10.
0 2000 4000 6000 8000 10000
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
130
140
150
160
170
180


Perpindahan kalor
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000
60
80
100
120
140
160
180


Perpindahan kalor
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r
,

q

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
(a)
Gambar 9. Perpindahan kalor menyeluruh
terhadap waktu
(b)
Gambar 10. Perpindahan kalor menyeluruh terhadap
waktu

Berdasarkan Gambar 10 menunjukan pelepasan kalor menyeluruh terhadap waktu terlihat pada
detik 0 lebih kecil karena contaiment belum menerima kalor sedangkan pada detik 5000 perpindahan
kalor mulai terlihat signifikan sampai temperatur akhir.
Berdasarkan Gambar 11 menunjukan pelepasan kalor menyeluruh terhadap waktu terlihat pada
detik 0 garis lurus karena temperatur terpengaruh udara sekitar sedangkan pada detik 3000 perpindahan
kalor mulai terlihat turun sampai temperatur akhir.

5.5. Perpindahan kalor air selama proses pemanasan dan pendinginan di dalam contaiment
Perpindahan kalor air selama proses pemanasan dan pendinginan temperatur didalam contaiment
terhadap waktu untuk mendapatkan nilai laju perpindahan kalor air yang terjadi di dalam contaiment,
seperti ditunjukan pada Gambar 12 dan Gambar 13.
0 2000 4000 6000 8000 10000
0
100
200
300
400
500
600
700
800


Perpindahan kalor air
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r

a
i
r
,

q
a
ir

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

k
a
l
o
r

a
i
r
,

q
a
ir

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
Perpindahan kalor air

(a)
Gambar 12. Perpindahan kalor air selama proses
pemanasan temperatur terhadap waktu
(b)
Gambar 13. Perpindahan kalor air selama proses
pendinginan temperatur terhadap waktu

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐79 
 
Tek ni k
MESI N
Berdasarkan Gambar 12 menunjukan perpindahan kalor air terhadap waktu terlihat pada detik 0
tidak terjadi perpindahan kalor air di karenakan belum terjadinya perpindahan kalor air di dalam contaiment,
sedangkan pada detik 2000 mulai terlihat perpindahan kalor air signifikan sampai temperatur akhir.
Berdasarkan Gambar 13 menunjukan perpindahan kalor air terhadap waktu terlihat pada detik
2500 terjadi penurunan yang signifikan di karenakan kalor air di dalam contaiment berubah bentuk
menjadi uap, sedangkan pada detik 9000 penurunan kalor air stabil sampai temperatur akhir.

5.6. Perpindahan rugi kalor selama proses pemanasan dan pendinginan di dalam contaiment
Perpindahan rugi kalor selama proses pemanasan dan pendinginan temperatur didalam
contaiment terhadap waktu untuk mendapatkan nilai laju perpindahan rugi kalor yang terjadi di dalam
contaiment, seperti ditunjukan pada Gambar 14 dan Gambar 15.
0 2000 4000 6000 8000 10000
6600
6800
7000
7200
7400
7600


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

r
u
g
i

k
a
l
o
r
,

q
l
o
s
s

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
Perpindahan rugi kalor
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000


P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n

r
u
g
i

k
a
l
o
r
,

q
l
o
s
s

[
w
a
t
t
]
Waktu, t [detik]
Perpindahan rugi kalor
(a)
Gambar 14. Perpindahan kalor total selama proses
pemanasan temperatur terhadap waktu

(b)
Gambar 14. Perpindahan rugi kalor selama proses
pendinginan temperatur terhadap waktu

Berdasarkan Gambar 14 menunjukan perpindahan rugi kalor terhadap waktu terlihat pada detik
2000 terjadi pelepasan kalor signifikan di karenakan udara sekitar contaiment, sedangkan pada detik 2500
pelepasan kalor fluktuasi sampai temperatur akhir.
Berdasarkan Gambar 14 menunjukan perpindahan rugi kalor terhadap waktu terlihat pada detik
ke-0 sampai detik ke-1000 pelepasan kalor yang signifikan di karenakan di dalam contaiment
dipengaruhi udara sekitar di contaiment , sedangkan pada detik 9000 penurunan rugi kalor stabil sampai
temperatur akhir.



6. Kesimpulan
Hasil analisis nilai rugi kalor berdasarkan perubahan temperatur di dalam contaiment, menyimpulkan
bahwa nilai rugi kalor dipengaruhi oleh udara sekitar. Nilai rugi kalor terendah adalah 1936,98 watt untuk
proses pendinginan temperatur dikarenakan sumber kalor (heater) dimatikan dan contaiment tidak di
bungkus oleh aluminium foil.


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐80 
 
Tek ni k
MESI N
Daftar Notasi
T

: Temperatur
[
o
C]
k :
Konduktivitas termal
[W/m
2
.K]
q : Perpindahan kalor [watt]
L
: Panjang bahan
[mm]
r
1
: Diameter dalam pipa
[mm]
r
2
: Diameter luar pipa
[mm]
h
: Koefisien perpindahan
kalor konveksi
[W/m
2
.K]
CP

: Specific heat [kj/kg.K]
q
loss
: Perpindahan rugi kalor [watt]
t : Waktu [detik]


Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepala Lab. Termohidrolika eksperimental PTRKN BATAN
untuk menyediakan fasilitas untuk riset, serta ketua jurusan Teknik Mesin dan para dosen untuk dukungan
moril. Kepada asosiate riset Lab. Termohidrolika eksperimental PTRKN BATAN dan para rekan
mahasiswa riset atas kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

Daftar Pustaka
[1] Prinsip keselamatan nuklir, http://www.infonuklir, may 11:25:2011 AM
[2] www.batan.go.id
[3] Giarno, Analisis Tegangan pada dinding sungkup PWR, PTRKN 23 September 2010
[4] Holman, J.P, Heat Transfer. – 7Rev.ed S. I. ed 1. Title 536.2.
[5] Cengel, Yunus A. Heat Transfer : a practical approach / Yunus A. Cengel.-2nd ed.
[6] Powell R.L, AIP Handbook, Mc Graw-Hill, 1972.
[7] Holman J.P, Perpindahan Kalor, (diterjemahkan oleh: E.Jasjfi), Erlangga, Jakarta, 1995.























ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐81 
 
Tek ni k
MESI N
Analisis Perhitungan Koefisien Gesek Dengan Reynoldnumber Pada
Material Plastik PP(Polypropylene), POM (Polyoxymethylene), PE
(Polyethylene) Terhadap Temperatur Dan Waktu
Pada Alat Uji Melt Flow Index


Vikram Pasha
1
, Mulya Juarsa
1
, Edi Marzuki
1
, Dedek Kurniawan
1
,
Yuda Nurul Alfian
1
, Afrinaldi
1
, R. Burhan N
1
, Deni Kusmansyah
1

Engineering and Devices for Energy Conversion (EDfEC) Laboratory
Fakultas Teknik Univeristas Ibn Khaldun Bogor
Jalan K.H. Sholeh Iskandar, Bogor
vikramshing@yahoo.com


Abstra
Proses kerja alat Melt Flow Index yang berdasarkan faktor gesekan dan beban antara
permukaan benda kerja dengan permukaan pipa memiliki peranan yang sangat penting,
karena akan menentukan besar beban dan gaya yang dibutuhkan batang pendorong [1].
Beban gaya terjadi selama proses penekanan sehingga berpengaruh terhadap formability
benda kerja, dan kualitas produk. Selain itu, faktor gesekan juga sangat penting dalam
perhitungan analitik dan numerik terhadap tegangan, regangan, dan dalam memprediksi
gaya penekan secara empiris. Meskipun mekanika gesekan antar permukaan sangat rumit,
tetapi sangatlah penting untuk mendefinisikan seberapa besar nilainya, dalam hal ini berupa
faktor gesekan atau koefisien gesekan.


1 Pendahuluan
Alat uji Melt Flow Index (MFI) adalah alat yang digunakan untuk mengetahui informasi tentang
tingkat kekentalan suatu material, dimana informasi ini berguna untuk menentukan parameter mesin
injeksi dalam memproduksi produk-produk dengan material plastik, sehingga dapat meminimalisir cacat
produk akibat settingan parameter mesin injeksi yang tidak tepat.
Beberapa pengujian telah dilakukan untuk mengetahui seberapa besar koefisien gesek,
diantaranya adalah ring compression test yang dilakukan oleh Wagnerer dan Wolf pada tahun 1994,
mereka menggunakan data hasil simulasi dan eksperimen untuk memperoleh koefisien gesekan pada
proses tempa (forging) [2]. Sebuah metode baru juga pernah diusulkan oleh Nakamura dan Bay pada
tahun 1996 dalam tulisannya, dimana koefisien gesekan dapat diperkirakan tanpa membutuhkan
pengukuran terhadap beban penekanan dan flow stress dari benda kerja[3]. Hsu dan Lee
mengkombinasikan elemen hingga benda rigid-plastic untuk menyelidiki distribusi gesekan pada proses
manufaktur. Keduanya kemudian menggunakan metode yang sama dalam mengembangkan model
gesekan yang realistis yang mencakup variabel viskositas, dan kekasaran permukaan pada simulasi proses
ekstrusi[4]. G. Shen dkk, 1992 melakukan evaluasi friksi menggunakan metode Backward Extrusion tipe
fogging[5].


2. Metode Penelitian

2.1 Type Alat Melt Flow Index
Tipe Alat Uji MFI yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Desain bentuk yang sederhana dan tidak rumit, sehingga tidak banyak pemakaian ruang.
2) Mudah dalam pemeliharaan dan perawatan
3) Sangat effisien dalam proses pembuatannya dan fungsi kerjanya dapat menghasilkan material
plastik yang sangat berkualitas seperti yang ditunjukkan pada gambar (1),(2).

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐82 
 
Tek ni k
MESI N
1  2 
 
Band
pembe
Gambar 1 Bagian-bagian utama alat uji melt flow
index

Gambar 2 Gambar potongan barel dan pendorong


ket: berat beban (1) + batang pen dorong(2) = 2.16 kg


Berikut density / Massa jenis plastik dalam satuan (gr/cm
3
).
Material Massa Jenis
Polybutylene 0.6
Polymethylpenten 0.83
Ethylene-propylene 0.86
Polypropylene 0.75
PE 0.9
Polybutene 0.91
ABS 1.2
Polystyrene 1.05
Polyacrylonitrile 1.17
Polyvinyl 1.19
Polycarbonate 1.2
Polychloroprene 1.23
Polysulphone 1.24
Polyethylene 1.34-1.39
PVC 1.37-1.39
POM 1.2
Epoxy 0.75-1.00



Secara garis besar metode penelitian berhubungan dengan penelitian ini akan dilakukan dengan cara :

1. Nilai Koefisien Gesek antara Permukaan Benda dan Material Plastik
Untuk memperoleh koefisien gesek pada permukaan benda kerja yang bersinggungan dengan
material plastik diperlukan perhitungan antara lain:
1) Panjang batang pendorong (h), diameter luar dan dalam Cylinder Heat (Ø), luas penampang Cylinder
Heat (A,) kemudian temperature pada saat pengujian ( .
2) Menghitung debit aliran fluida(Q), viskositas fluida dalam Cylinder Heat berdasarkan kecepatan
aliran fluida (V) dan volume aliran fluida ( dengan diameter Cylinder Heat (D) dan luas
penampang diameter (A), kemudian menentukan bilangan reynold number (Re) untuk menghitung
nilai koefisien geseknya permukaan benda kerja dan material plastik.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐83 
 
Tek ni k
MESI N


2.2 Faktor Gesekan untuk Aliran Fluida di di dalam Cylinder Heat
Sistem aliran yang sesungguhnya kondisi ini tak pernah terealisasi. Sebuah lapisan batas terbentuk
pada permukaan cylinder heat dan ketebalannya bertambah dengan cara yang sama dengan pertumbuhan
lapisan batas pada pelat datar. Pertumbuhan lapisan batas di dalam aliran cylinder head seperti
ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 3 Pertumbuhan lapisan batas di dalam cylinder heat

Panjang jalan masuk yang dibutuhkan untuk sebuah profil kecepatan berkembang penuh agar
terbentuk dalam aliran laminer telah dinyatakan oleh Langhaar seperti persamaan (1).

0575 , 0 =
D
L
e
Re.…………....…….. (1),



Gambar 4 Profil kecepatan dan variasi faktor gesekan untuk aliran
laminer di dalam daerah dekat jalan masuk cylinder heat

Faktor gesekan untuk aliran laminer di dalam jalan masuk ke cylinder heat telah dinyatakan oleh
Langhaar, hasilnya menunjukan bahwa faktor gesekan adalah paling tinggi disekitar jalan masuk,
kemudian turun secara halus ke nilai aliran berkembang penuh.

2.3 Tekanan Fluida
Tekanan adalah suatu ukuran dari gaya yang diberikan terhadap suatu area dari suatu sistem.
Tekanan disebabkan oleh adanya benturan molekul-molekul terhadap batasan/dinding area sistem,
dimana molekul-molekul tersebut mencoba untuk mendorong keluar dinding dengan kekuatan. Gaya yang
dihasilkan dari benturan tersebut menyebabkan tekanan yang digunakan pada suatu sistem yang
mengelilinginya. Dalam analisis ini tekanan dinyatakan dalam satuan bar [8].

2.4 Bilangan Reynolds
Reynolds menyatakan, bahwa kecepatan fluida merupakan salah satu variabel yang menentukan
sifat aliran dalam pipa. Variabel lainya, adalah diameter pipa, densitas fluida dan viskositas fluida[9].
Keempat variabel tersebut dikombinasikan menjadai parameter tak berdimensi tunggal yang merupakan
bilangan Reynolds dan diberi simbol Re seperti persamaan (2).

Re=
μ
ρv D
…………..….…………… (2),
Untuk aliran di dalam pipa lingkaran jika nilai bilangan Reynolds nya 2300 aliran adalah
laminer. Di atas nilai ini aliran juga bisa laminer dan sesungguhnya aliran laminer telah diamati untuk
bilangan Reynolds sebesar 40000 di dalam eksperimen-eksperimen dimana gangguan-gangguan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐84 
 
Tek ni k
MESI N
eksternalnya dibuat minimum. Diatas bilangan Reynolds 23000 gangguan kecil akan menyebabkan
transisi ke aliran turbulen sementara di bawah ini gangguan diredam habis dan aliran yang ada laminer.

2.5 Debit Aliran
Debit aliran digunakan untuk menghitung kecepatan aliran pada masing-masing pipa seperti
persamaan (3).
Q=
t

...................................................(3)

2.6 Laju Aliran Massa
Debit aliran adalah volume fluida yang dikeluarkan tiap detiknya. Hubungan persamaan
kontinuitasnya didapat seperti persamaan (4).
v=
A
Q
.............................................(4),

2.7 Koefisien Gesek
Koefisien gesek dipengaruhi oleh kecepatan, karena distribusi kecepatan pada aliran laminer dan
aliran turbulen berbeda, maka penurunan koefisien gesek ini akan diturunkan secara berbeda pula untuk
masing-masing jenis aliran. Untuk rumus koefisien geseknya adalah dapat dihitung seperti persamaan (5).


2
2
v
gD
= λ ………………………….(5),

3 Hasil Dan Pembahasan
Pada eksperimen ini termokopel dipasang pada bagian atas silinder heat, bagian tengah, dan bagian
bawah dan perhitungan dimulai pada waktu temperatur mencapai suhu 230 C
0
yaitu pada temperatur T1.
Berikut grafik hasil dari karakteristik koefisien gesek pada masing-masing material plastik PP, POM, PE
terhadap temperatur T1, T2, dan T3 dan waktu yang di dapat dari tabel perhitungan Debit aliran (Q),
kecepatan aliran fluida (v) dari hasil pengujian terhadap waktu (t) dan temperatur T1,T2, dan T3.


0 5000 10000 15000 20000 25000
-2.00E+012
0.00E+000
2.00E+012
4.00E+012
6.00E+012
8.00E+012
1.00E+013
1.20E+013
1.40E+013
1.60E+013
1.80E+013
K
o
e
f
i
s
i
e
n

G
e
s
e
k

(
P
O
M
)
Re (POM)
Koefisien Gesek
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o

Gambar 5 Pengaruh kenaikan Koefisien Gesek pada
material PP,POM, PE terhadap waktu.
Gambar 6 Perubahan Koefisien Gesek Material
POM terhadap Re POM



0 50 100 150 200 250
0,00E+000
1,00E+009
2,00E+009
3,00E+009
4,00E+009
5,00E+009
K
o
e
f
i
s
i
e
n

G
e
s
e
k

(
P
O
M
)

(
P
P
)
(
P
E
)
waktu (t) (s)
Koefisien Gesek (POM)
Koefisien Gesek (LDPE)
Koefisien Gesk
Temperatur (T1)
Temperatur (T2)
Temperatur (T3)
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐85 
 
Tek ni k
MESI N
0 5000 10000 15000 20000 25000
-2.00E+012
0.00E+000
2.00E+012
4.00E+012
6.00E+012
8.00E+012
1.00E+013
1.20E+013
1.40E+013
1.60E+013
1.80E+013
K
o
e
f
i
s
i
e
n

G
e
s
e
k

(
P
O
M
)
Re (POM)
Koefisien Gesek
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
0 5000 10000 15000 20000 25000
-2.00E+012
0.00E+000
2.00E+012
4.00E+012
6.00E+012
8.00E+012
1.00E+013
1.20E+013
1.40E+013
1.60E+013
1.80E+013
K
o
e
f
i
s
i
e
n

G
e
s
e
k

(
P
E
)
Re (PE)
Koefisien Gesek
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
Gambar 7 Perubahan Koefisien Gesek Material
POM terhadap Re POM

Gambar 8 Perubahan Koefisien Gesek Material PE
terhadap Re PE

-2000 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310
T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
Re (PE)
T1
T2
T3
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
0 5000 10000 15000 20000 25000
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310
T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
Re (POM)
T1
T2
T3
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
Gambar 9 Pengaruh Penurunan Re PE terhadap
temperatur T1,T2,T3

Gambar 10 Pengaruh Penurunan Re POM terhadap
temperatur T1,T2,T3

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310
T
e
m
p
e
r
a
t
u
r
Re (PP)
T1
T2
T3
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o
d e m o d e m o d e m o d e m o d e m o

Gambar 11 Pengaruh Penurunan Re PP terhadap
temperatur T1,T2,T3










ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐86 
 
Tek ni k
MESI N
Daftar Notasi

L = panjang cylinder heat, [m];
D = diameter cylinder heat, [m];
Re = bilangan Reynolds;
D = diameter pipa, [m];
Ρ = densitas fluida, [kg/m
3
];
µ = viskositas, [Kg/m.s];
Q = debit aliran, [m
3
/s];
V = kecepatan aliran, [m/s];
= volume fluida, [m
3
];
t = waktu laju aliran, [s].



Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pembimbing dan rekan-
rekan Tim Melt Flow Index, Mahasiswa Labolatorium EDfEC (Research Group) yang telah memberikan
dorongan dan motivasi sehingga makalah ini terselesaikan


Daftar Pustaka
[1] Glanvill, A.B. and E.N.Denton.. Injection Mould Design Fundamentals, Industrial Press Inc, New
York, 1995.
[2] Wagnerer, H.B. and J. Wolf, Coefficient of Friction in Cold Extrusion, J. Master. Process Technol,
1994.
[3] Nakamura, T. and N. Bay, FEM Simulation of a Friction Testing Method Based on Combined
Fforward Rod Backward can Extrusion, Trans ASME, 1996.
[4] Hsu, T.C. and C.-H. Lee, A Realistic Friction Modeling in Simple Upsetting, Master Degree
Thesis, Yuan Ze University, Chungli, Taoyuan County, Taiwan, 1995.
[5] Shen, G., dkk, A Method for Evaluating Friction Using a Backward Extrusion – Type Forging, J.
Master. Process & Technol, 1992.
[6] Khurmi, R.S. , Machine Design, Eurasia Publishing House, New Delhi, 2005.
[7] Charles A.H, Modern Plastik Handbook, New York, 2000.
[8] Douglas J.F., Gasiorek J.M, and Swaffield J.A, Fluid Mechanics Second Edition”, Longman
Singapore Publishers Pte Ltd, Singapore, 1985.
[9] Moran Michael J., Howard N. Shapiro, Bruce r. Munson, David P. Dewitt, “Introduction to
Thermal Systems Engineering: Thermodynamics, Fluid Mechanics and Heat Transfer”, John
Wiley & Sons, Inc., USA 2003.
















ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐87 
 
Tek ni k
MESI N
Pengaruh Putaran Silinder Bagian Dalam
Terhadap Pola Aliran Taylor-Couette

Sarip
1,2)
, Indarto
1)
, Prajitno
1)
1) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Jurusan Teknik Mesin
Program Pascasarjana Jurusan Teknik Mesin dan Industri
JL. Grafika No.2 Yogyakarta 555281, Telp. (0274)521673. e-mail: ptsm@ugm.ac.id
2) Sekolah Tinggi Teknologi Ronggolawe Cepu, Jurusan Teknik Mesin
JL. Kampus Ronggolawe Blok B/I Mentul Cepu 58315 Telp.(0296)422322. e-mail:
sttrcepu@telkom.net
hidayatullohsarip566@gmail.com

Abstract
This research was conducted to know the effect of the inner cylinder rotation on Taylor-
Couette flow patterns with the outer cylinder fixed. Test section in the form of two concentric
cylinders with a length of 500 mm, radius ratio = 0.72 and aspect ratio = 40 and a gap
(distance between cylinder) 12.5 mm. Observation of flow pattern carried out shooting
several times using a digital camera on the inner cylinder rotation different. The results
indicate that shooting at low speed Couette flow patterns that form-laminar, round up the
flow pattern that is formed in pairs and opposite vortex, wavy vortex flow and high rotation
formed vortek turbulent. Torque measurements can also be performed to determine the
characterization of Taylor-Couette flow patterns by providing resistance to the electric
motor is integrated with a Torque-meter. The measurement results show the relationship of
torque and laminar flow Reynolds number is linear, where as in the transition region of the
torque changes are large and non-linear. The experiments results showed that the same
phenomenon occurs with the theory, although there is a quantitative difference.

Keywords: Rotation inner cylinder, flow pattern, Taylor-Couette flow, Concentric Cylinders.


1. Pendahuluan

Pola aliran Couette laminar dalam sebuah sistem aliran Taylor-Couette, akan mengalami transisi
ke pola aliran Taylor vortex jika putaran silinder bagian dalam dinaikkan sampai melampaui nilai tertentu.
Pola aliran Taylor vortex ditandai dengan munculnya vortex yang saling berpasangan berlawanan arah
secara teratur di sepanjang sistem aliran. Perubahan pola aliran pada sistem Taylor-Couette atas pengaruh
putaran silinder digambarkan dengan cukup lengkap oleh Andereck dkk. (1986) melalui eksperimen yang
memvisualisasikan aliran fluida di antara dua silinder konsentrik yang berputar secara bebas antara satu
dengan yang lainnya. Eksperimen tersebut dilakukan pada perbandingan radius silinder 0,883 dan variasi
perbandingan aspek antara 20 sampai dengan 48. Hasilnya adalah berupa satu peta pola aliran Taylor-
Couette yang cukup detail bedasarkan variasi putaran silinder bagian dalam maupun luar seperti pada
Gambar 1.
Untuk silinder bagian luar yang diam pola aliran yang terjadi adalah Couette-laminar pada bilangan
Reynolds (0≤ R
e
≤ 80), Taylor-vortex (80 ≤ R
e
≤ 200), Vortex bergelombang (200 ≤Re ≤ 1000),
Modulated waves (1000 ≤ R
e
≤ 1500) dan vortex turbulent (R
e
≥ 1500 ).

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐88 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 1. Peta pola aliran fluida diantara dua buah silinder
konsentrik yang salah satu maupun keduanya berputar.
(Andereck dkk, 1986).


Ketidakstabilan yang terjadi pada aliran Couette diantara dua buah silinder konsentrik yang
berputar berhasil dipecahkan oleh G.I. Taylor pada tahun 1923. Taylor menemukan bahwa fenomena
ketidakstabilan terjadi akibat dari gaya sentrifugal yang terjadi pada aliran Couette melingkar dapat
mengatasi gaya viscous. Perbandingan antara efek gaya sentrifugal dan gaya viscous tersebut dinyatakan
dengan bilangan nondimensi, Taylor number, Ta sebagai berikut:
............(1)
Ketidakstabilan pertama terjadi jika putaran silinder dalam dinaikkan hingga mencapai nilai Ta
kritis

maka aliran laminar Couette melingkar akan berubah menjadi aliran Taylor vortex seperti terlihat pada
gambar 2. Aliran dengan Taylor- vortex ini dapat disebut sebagai aliran transisi sebelum terbentuk aliran
turbulen penuh. Batas untuk ketiga daerah aliran tersebut diberikan dalam parameter bilangan Taylor
sebagai berikut:

Ta < 41.3 : aliran laminar
Couette
41.3 < Ta < 400 : aliran laminer dengan
Taylor vortex
Ta > 400 : aliran turbulen
R
e
= : Reynolds number


Gambar. 2. Taylor vortex yang terjadi pada aliran Couette melingkar (Schlichting, 1979).

Pengukuran torsi juga dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik pola aliran Taylor-
Couette menurut Yutaka Yamada (1960) bahwa pada sistem aliran Taylor-Couette besarnya torsi yang
dibutuhkan untuk memutar silinder diketahui merupakan fungsi dari bilangan Reynolds.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐89 
 
Tek ni k
MESI N
Pada daerah aliran laminer hubungan antara torsi dan bilangan Reynolds adalah linear. Namun
pada daerah transisi terjadi perubahan torsi yang besar dan non linear. Para peneliti terdahulu yang
melakukan pengukuran torsi pada aliran Taylor-Couette merumuskan persamaan empiris untuk
menghitung torsi dan hanya terbatas pada daerah bilangan Reynolds tertentu atau tidak berlaku global
untuk semua daerah aliran. Beberapa persamaan korelasi empiris untuk menghitung besarnya koefisien
hambatan torsi pada aliran Taylor-Couette dirangkum dalam Tabel. 1

Keterangan:
adalah torsi dalam bentuk
bilangan tak berdimensi.
T adalah torsi (kg-cm).
ρ adalah massa jenis fluida (Kg/m
3
).
ν adalah viskositas kinematik fluida (m
2
/s).
L adalah panjang silinder (mm).
, adalah koefisien torsi.
u adalah kecepatan tangensial fluida.
R
1
adalah radius silinder bagian dalam.
Rω = Ω
i
R
1
d/ν adalah Reynolds number
melingkar.

i
= 2πn/60 adalah kecepatan putar
silinder bagian dalam (rad/s).
n adalah putaran silinder bagian dalam. (rpm)
d adalah celah silinder (mm).

Tabel.1 Persamaan torsi untuk aliran Taylor-Couette

No  Peneliti  Th  Parameter  Persamaan   Keterangan 

Wendt 
(Lathrop, 1992) 
1933 
 
 
400 < Re < 10
4
 
 
10
4
 < Re < 10
5
 

Bilgen dan 
Boulos 
 (Batten, 2002) 
1973 
500 < Re < 10
4
 
Re > 10
4
 

















ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐90 
 
Tek ni k
MESI N
2. Metodologi

Metodologi penelitian ini menggunakan skema alat penelitian sebagai berikut :

































Gambar 3. Skema alat Penelitian.


Skema alat penelitian ini terdiri dari sebuah silinder konsentris dihubungkan dengan motor listrik yang
diintegrasikan dengan sebuah Inverter berfungsi untuk mengatur putaran silinder dalam. Silinder luar dari
akrilik dengan diameter luar dan dalam 100 mm dan 90 mm dan silinder dalam dari filter RO dengan
diameter luar 65 mm. Silinder tersebut mempunyai tutup bawah dan atas yang berfungsi sebagai sisi
masuk dan keluar fluida yang di pompakan melalui sistem perpipaan dengan dipasang sepuluh gate valve
dan satu globe valve untuk mengatur saat pengujian. Flow meter dipasang pada sisi masuk silinder dan
sisi keluar filter berfungsi untuk mengetahui debit aliran fluida, dua pressure transducer dan satu
pressure gauge dipasang pada sisi masuk , sisi keluar filter dan sisi keluar silinder berfungsi untuk
mengetahui tekanan. Menggunakan fluida air 50 liter dicampur 50 gram serbuk aluminium dipompakan
masuk ke dalam celah silinder konsentris sampai terisi penuh, lalu pompa di matikan. Putaran silinder
dalam diatur dengan Inverter yang diintegrasikan dengan motor listrik dimulai dari frekuensi 0,9 HZ
sampai dengan 50 HZ. Setiap putaran silinder dalam dilakukan pemotretan untuk pengambilan visualisasi
gambar pola aliran Taylor-Couette.



28
KET:
• Inverter: 1
• Motor listrik: 2
• Pully Transmisi: 3
• Seksi uji: 4
• Efluent: 5
• Pressure Transducer: 6, 14
• Gate valve:
7,8,12,15,16,17,20,
22,24,25,26.
• Flusing: 9,21
• Influent: 10
• Pressure gauge: 11
• Filtrat: 13
• Flow meter masuk: 19
• Flow meter keluar: 18
• Globe valve: 23
• Pompa: 27
• Water Tank: 28

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐91 
 
Tek ni k
MESI N
Seksi Uji






3. Hasil Dan Pembahasan

Hasil visualisasi aliran Taylor-Couette pada putaran silinder bagian dalam rendah dengan bilangan
Reynolds Re=79 pola aliran berbentuk couette laminar yaitu aliran halus di sepanjang sistem aliran



a. b.
Gambar 5. aliran Couette laminar pada
(a)Re= 79 dan (b)Sket.

Kemudian putaran silinder dalam di naikkan hingga mencapai bilangan Reynolds kritisnya Re
c

66,6; pola aliran berbentuk Taylor vortex pada bilangan Reynolds Re= 148 yang ditandai dengan
munculnya vortex yang saling berpasangan dan berlawanan arah di sepanjang sistem aliran dengan
jumlah pasang vortex 16 pasang. Jarak satu pasang vortex idealnya = dua kali celah silinder. Pada
eksperimen ini jarak satu pasang vortex adalah 3 cm.
Seksi uji dari sebuah silinder konsentris, dengan
ukuran :
• Jari-jari silinder dalam R
i
= 32,5 mm.
• Jari-jari silinder luar R
o
= 45 mm.
• Panjang silinder L = 500 mm.
• Celah silinder d = 12,5 mm.
• radius ratio η = 0,72.
• aspect ratio Г = 40
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐92 
 
Tek ni k
MESI N


a b
Gambar 6. Aliran Taylor-vortex pada
(a)Re= 148 dan (b)Sket.

Putaran silinder dalam dinaikkan lagi hingga mencapai bilangan Reynolds Re= 543, pola aliran
berbentuk wavy vortex yang terjadi pada arah tangensial saling berpasangan berlawanan arah secara
teratur di sepanjang sistem aliran


a b
Gambar 7. Aliran Vortex bergelombang
pada (a)Re= 543 dan (b)Sket.

Putaran silinder dalam dinaikkan lagi hingga mencapai bilangan Reynolds Re= 987, pola aliran
berbentuk vortex turbulen dan Pada daerah aliran ini garis vortex antara satu dengan garis vortex
berikutnya berbentuk turbulen (tidak teratur).


a b
Gambar 8. Aliran Vortex turbulen pada
(a)Re= 987 dan (b)Sket.

Bila hasil visualisasi pola aliran ini dituangkan ke dalam sebuah gambar peta pola aliran maka
posisinya seperti terlihat pada gambar berikut ini,

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐93 
 
Tek ni k
MESI N




Gambar 9. Peta pola aliran Taylor-Couette di dalam silinder konsentris
dengan silinder dalam berputar dan silinder luar diam.

Hasil pengukuran torsi pada eksperimen ini juga dapat menggambarkan karakteristik pola aliran
Taylor-Couette yang dinyatakan dalam Gambar 10. Dalam penelitian ini, pemunculan sebuah pola aliran
selalu mengalami keterlambatan dalam jumlah putaran dibanding dengan prediksi dari teori. Sebagai
contoh pada putaran filter 1,56 rpm seharusnya sudah terbentuk Taylor vortex tetapi baru terbentuk pada
putaran 2 rpm dan munculnya vortex turbulent juga mengalami keterlambatan seharusnya terbentuk pada
putaran filter 14 rpm tetapi baru terbentuk pada putaran 16 rpm. Hal tersebut disebabkan karena bentuk
permukaan silinder dalam tidak simetris (beralur) dan kurangnya kepresisian silinder konsentris sebagai
seksi uji.


Gambar 10. Hubungan Torsi non dimensional (G) dan bilangan
Reynolds melingkar.

Hubungan Torsi dan bilangan Reynolds melingkar dapat dijelaskan bahwa pada daerah aliran
laminer hubungan Torsi dan bilangan Reynolds melingkar adalah linear dan bilangan Reynolds kritisnya
Re
c
=80 lebih besar dari pada bilangan Reynolds kritis secara teori, ini disebabkan karena permukaan
  Re
c
 
Wavy  
Couette 
l
Taylor‐
vortex 
Vortex 
T b l
R

500
1000
150
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐94 
 
Tek ni k
MESI N
silinder bagian dalam tidak rata dan sistem aliran Taylor-Couette yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sistem terbuka. Pada daerah aliran transisi torsi mengalami perubahan yang besar dan non linear.

4. Kesimpulan

Kenaikan putaran silinder bagian dalam menghasilkan pola aliran berjenjang mulai dari couette
laminar, Taylor-vortex, Wavy vortex (vortex bergelombang) dan vortex turbulent. Kecenderungan derajat
kesalahan terjadi antara eksperimen dengan teoritis pada visualisasi aliran air di dalam silinder konsentris
bila putaran silinder dalam meningkat.


Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Laboratorium Mekanika Fluida dan
Perpindahan Panas dan Massa Jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM atas
diijinkannya melaksanakan penelitian ini. Demikian juga kami ucapkan kepada saudara Shaleh Ahmad,
Aditya Mianto Cahyono dan semua pihak yang telah membantu hingga penelitian ini selesai dengan baik.


Daftar Pustaka

[1]. Andereck, C.D., Liu, S.S., Swinney, H.L. 1986. Flow regime in circular Couette system with
independently rotating cylinder. J. Fluid Mechanics. Vol. 164 pp. 155-183.
[2]. Batten, W.M.J., Bressloff, N.W. and Turnock, S.R. 2002. Transition from Vortex to wall driven
turbulence production in the Taylor-Couette system with a rotating inner cylinder. Int. J. Numer.
Meth. Fluids 2002. Vol. 38 pp. 207- 226.
[3]. Lathrop, D.P., Fineberg, J. and Swinney, H.L 1992. Transition to shear-driven turbulence in
Couette- Taylor flow. Phys. Rev Vol-46 No:10. pp 6390-6405.
[4]. Schlichting, H. 1979. Boundary Layer Theory. McGraw-Hill.
[5]. Yamada, Y. 1960. Resistance of a Flowthrough an Annulus with an Inner Rotating Cylinder.
Bulletin of JSME. Vol-5. pp 302-310.


Nomenclature

Huruf Roman
G = torsi non dimensional.
T = torsi.
R
i
= radius silinder dalam (mm)
R
o
= radius silinder luar (mm)
d = celah antar silinder konsentris (mm)
L = Panjang silinder (mm)
n = Putaran silinder dalam (rpm)

Huruf Yunani

1
= frekuensi dari putaran silinder
dalam (rad/s).
Π = Konstanta (3,14 )
Г = L/d
η = radius ratio
ρ = massa jenis (kg/m
3
)
μ = viskositas dynamik (kg/m.s)
ν = viskositas kinematik (m
2
/s)

Bilangan tak berdimensi
R
ω
= bilangan Reynolds melingkar
Re = Bilangan Reynolds
Ta = Bilangan Taylor






ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐95 
 
Tek ni k
MESI N
Variasi Ukuran Dan Jarak Nozel
Terhadap Perubahan Putaran Turbin Pelton

Rr. Sri Poernomo Sari dan Rizki Hario Wicaksono

Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri
Universitas Gunadarma, Jakarta
Email: sri_ps@staff.gunadarma.ac.id


Abstrak
Efek jarak nozel terhadap sudu turbin dapat menghasilkan energi terbaik. Bentuk sudu turbin
pelton, debit air, dan tekanan air yang keluar dari nozel akan memberi impuls yang baik untuk
menghasilkan putaran turbin. Tujuan studi ini mengetahui efek perubahan jarak nozel terhadap sudu
turbin guna menghasilkan putaran tercepat dan pengaruh diameter nozel terhadap putaran sudu turbin.
Karakteristik model sudu turbin pada variasi jarak nozel dapat menghasilkan efisiensi yang tinggi. Model
turbin pelton berdiameter 12,8 cm, lebar sudu 5 cm sejumlah 16 buah dengan dua macam bentuk ukuran
nozel berdiameter ujung dalam 6 mm dan 8 mm digunakan dalam penelitian ini. Dengan variasi jarak
nozel, ukuran nozel, dan debit air, mulai dari debit rendah menuju tinggi dilakukan pengambilan data.
Hasil yang menunjukan hubungan antara putaran turbin dengan debit air dan jarak nozel ditampilkan
dalam grafik. Bentuk dan diameter nozel yang sesuai terhadap bentuk sudu turbin dapat menghasilkan
performa turbin yang maksimal.


Kata kunci : Turbin Pelton, sudu turbin, jarak nozel, diameter nozel, debit air
 

1. Pendahuluan

Pengembangan sumber energi yang dapat diperbarahukan semakin meningkat sebagai antisipasi
makin berkurangnya sumber energi yang berasal dari fosil seperti minyak bumi dan batubara. Sumber
energi yang dapat diperbaraukan di Indonesia menurut sumber asean energy salah satunya adalah
mikrohidro yang memanfaatkan air sebagai sumber energi dari suatu turbin. Turbin dimanfaatkan secara
luas dan merupakan sumber energi yang dapat diperbaharukan. Turbin air berperan untuk mengubah
energi air menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran poros. Energi potensial air diubah menjadi
energi kinetik pada nozel. Air keluar nozel yang mempunyai kecepatan tinggi membentur sudu turbin.
Setelah membentur sudu arah kecepatan aliran berubah sehingga terjadi perubahan momentum (impulse)
sehingga roda turbin akan berputar. Turbin dapat memanfaatkan air dengan putaran lebih cepat dan dapat
memanfaatkan head yang lebih tinggi. Putaran poros turbin ini akan diubah oleh generator menjadi tenaga
listrik. Turbin impuls adalah turbin tekanan sama karena aliran air yang keluar dari nosel tekanannya
adalah sama dengan tekanan atmosfir sekitarnya. Semua energi tinggi tempat dan tekanan ketika masuk
ke sudu jalan turbin dirubah menjadi energi kecepatan. Turbin pelton merupakan turbin impuls yang
terdiri dari satu set sudu jalan yang diputar oleh pancaran air yang disemprotkan dari satu atau lebih alat
yang disebut nozel. Turbin Pelton adalah salah satu dari jenis turbin air yang paling efisien dan sesuai
digunakan untuk head tinggi. Bentuk sudu turbin terdiri dari dua bagian yang simetris. Sudu dibentuk
sedemikian sehingga pancaran air akan mengenai tengah-tengah sudu dan pancaran air tersebut akan
berbelok ke kedua arah sehinga bisa membalikkan pancaran air dengan baik dan membebaskan sudu dari
gaya-gaya samping. Untuk turbin dengan daya yang besar, sistem penyemprotan airnya dibagi lewat
beberapa nozel. Dengan demikian diameter pancaran air bisa diperkecil dan mangkok sudu lebih kecil.
Penyelesaian perhitungan dalam proses perancangan turbin pelton maka diperlukan kapasitas air
max sebesar 0,0028 m³, perancangan di titik beratkan pada perencanaan jarak nozel, ukuran nozel, debit
air, dan putaran sudu dengan putaran turbin max 1764 rpm. Tujuan penelitian adalah mengetahui efek
perubahan jarak nozel terhadap sudu turbin guna menghasilkan putaran tercepat dan pengaruh diameter
nozel terhadap putaran sudu turbin.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐96 
 
Tek ni k
MESI N


2. Experimental Setup
Tahap awal adalah pembuatan sketsa rangka dimana rangka adalah bagian utama dalam
pembuatan komponen turbin dimana rangka harus memiliki kekuatan serta ketahanan terhadap beban
yang ditopangnya. Selain harus memiliki kekuatan serta ketahanan rangka juga didesign seringan
mungkin agar nantinya mudah dipindah-pindahkan. Tahap selanjutnya adalah membuat skema proses
kerja turbin dan laju aliran fluida dimana fluida yang digunakan adalah air. Energi dari air inilah yang
nantinya akan digunakan untuk memutar sudu pada turbin sehingga menjadi energi mekanik.

Air ditampung didalam bak penampung, kemudian air yang berada pada bak penampung dihisap
oleh pompa dimana pompa berfungsi untuk menghisap dan memompa air untuk dialirkan ke sudu turbin.
Namun aliran air tidak langsung mengarah ke sudu turbin melainkan harus melewati pipa-pipa saluran
yang telah diberi katup buka tutup sehingga laju aliran air dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.
Kemudian katup-katup tersebut terhubung dengan saluran nozzle dimana nozel berfungsi sebagai
pemancar air yang dipancarkan langsung ke arah sudu turbin sehingga sudu turbin berputar. Pada sudu-
sudu turbin, energi aliran diubah menjadi energi mekanik yaitu putaran roda turbin. Apabila roda turbin
dihubungan dengan poros generator listik, maka energi mekanik putaran roda turbin diubah menjadi
energi listrik pada generator. Kemudian air yang telah digunakan untuk memutar sudu turbin jatuh
kedalam bak penampung untuk kembali ke tahap awal maka terjadilah sirkulasi.

Turbin air akan mengubah energi kinetik air menjadi energi mekanik, yaitu putaran roda turbin.
Turbin pelton merupakan salah satu jenis turbin air yang prinsip kerjanya memanfaatkan energi potensial
air menjadi energi listrik tenaga air (hydropower). Prinsip kerja turbin pelton adalah mengkonversi daya
fluida dari air menjadi daya poros untuk digunakan memutar generator listrik, dimana energi potensial air
disemprotkan ke bucket untuk dirubah menjadi energi mekanik yang digunakan untuk memutar poros
generator. Turbin Pelton mempunyai beberapa keuntungan antara lain efisisensi turbin yang relatif stabil
pada berbagai perubahan debit aliran. Turbin pelton cocok dipakai untuk tinggi jatuh air (Head) yang
tinggi dan debit aliran yang kecil.

Air yang mengalir mempunyai energi yang dapat digunakan untuk memutar sudu turbin. Prinsip kerja
turbin pelton adalah mengkonversi daya fluida dari air menjadi daya poros untuk digunakan memutar generator
listrik, dimana energi potensial air disemprotkan oleh nozel ke sudu untuk dirubah menjadi energi mekanik
yang digunakan untuk memutar poros generator. nozel merupakan mekanisme pancaran yang berbentuk
melengkung yang mengarahkan air sesuai dengan arah aliran yang direncanakan dan mengatur aliran air.
Fungsi utama nozel adalah untuk mengubah tekanan air menjadi suatu kecepatan aliran atau untuk mengubah
tekanan air menjadi suatu kecepatan aliran, yang digunakan untuk memutar runer. Bentuk nozel sangat
mempengaruhi performa turbin, didalam perancangan sebuah nozel turbin pelton ini memerlukan beberapa
tahap mulai dari menentukan ukuran runer dan sudu dengan menggunakan data yang telah ada setelah itu perlu
dilakukan perhitungan-perhitungan yang berkaitan dengan nozel itu sendiri, yaitu meliputi perhitungan
diameter ujung nozel, kecepatan aliran air pada ujung nozel, panjang ujung nozel. Bahan yang digunakan untuk
nozel turbin pelton ini adalah menggunakan paduan Aluminium. Dari tahap-tahap yang telah direncanakan
tersebut, maka didapatkan ukuran nozel untuk turbin air pelton yang sesuai dengan yang diharapkan.












ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐97 
 
Tek ni k
MESI N
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 1. Desain Nozel
 
 
 
 
Gambar 2. Nozel Turbin
 
Setelah design nozel selesai dibuat maka proses selanjutnya pembentukan diameter luar nozel,
panjang nozel, dan juga pembuatan lubang bagian dalam nozel menjadi bentuk sesuai dengan ukuran
yang telah ditentukan. Nozel yang telah dibuat memiliki berbagai macam ukuran dimana dari perbedaan
ukuran inilah akan dicari ukuran nozel yang dapat memutar sudu lebih baik sehingga dapat meningkatkan
efesiensi turbin. Dengan meningkatkan efesiensi turbin maka dapat meningkatkan energi yang dihasilkan
sehingga turbin air mampu menghasilkan kerja yang optimal dengan penggunaan energi yang minimal.
Oleh karena itu dengan menggunakan ukuran nozel yang berbeda maka didapatkan bagaimana dapat
merancang nozel turbin pelton yang baik.


Tabel 1. Ukuran Nozel


Nozel
Ukuran Nozel (mm)
P.Ujung P.Total D.Ujung
Luar
D.Ujung
Dalam
D.Dalam
Inti
D.Luar
Inti
Nozel I 26 mm 81 mm 16 mm 6 mm 12 mm 24 mm
Nozel II 26 mm 81 mm 16 mm 8 mm 14 mm 24 mm


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐98 
 
Tek ni k
MESI N
Nozel mempunyai beberapa fungsi yaitu mengarahkan pancaran air ke sudu turbin, mengubah tekanan
menjadi energi kinetic dan mengatur kapasitas air yang masuk turbin. Sudu turbin merupakan sarana
untuk merubah energi air menjadi energi mekanik berupa torsi pada poros sudu dimana aliran air yang
ditembakkan oleh nozel kearah sudu mengakibatkan daun-daun sudu terdorong dan berputar. Aliran air
yang diarahkan langsung menuju sudu-sudu melalui pengarah atau nozel ini juga menghasilkan daya pada
sirip. Selama sudu berputar, gaya bekerja melalui suatu jarak, sehingga menghasilkan kerja. Dalam proses
ini energi ditransfer dari aliran air ke turbin.

 
Gambar 3. Desain Runner Turbin Pelton
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 




Gambar 4. Runner Turbin Pelton
 
 
Sudu dibentuk sedemikian sehingga pancaran air akan mengenai tengah-tengah sudu dan pancaran air
tersebut akan berbelok ke kedua arah sehinga bisa membalikkan pancaran air dengan baik dan
membebaskan sudu dari gaya-gaya samping. Untuk turbin dengan daya yang besar, sistem penyemprotan
airnya dibagi lewat beberapa nozel. Dengan demikian diameter pancaran air bisa diperkecil dan ember
sudu lebih kecil seperti pada gambar 3.8 di atas.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐99 
 
Tek ni k
MESI N

Desain ini dibuat untuk mempermudah dalam proses perakitan sehingga dapat diketahui
langkah-langkah yang harus dilakukan.
 
 
Gambar 5. Desain Turbin Pelton
 
3. Teori

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi aliran fluida, yaitu :

a. Laju Aliran Volume

Laju aliran volume disebut juga debit aliran (Q) yaitu jumlah volume aliran per satuan waktu. Debit aliran
dapat dituliskan pada persamaan sebagai berikut :

Q = A v (1)
Dimana :
v = Kecepatan aliran (m/s)
A = Luas penampang pipa (m)
Q = Debit aliran (m
³
/s)
Selain persamaan di atas dapat juga menggunakan persamaaan sebagai berikut:
v
Q
t
= (2)
Dimana :
V = Volume aliran (m
3
)
Q = Debit aliran (m
³
/s)
t = waktu aliran (s)

b. Kecepatan fluida (V)
Didefinisikan besarnya debit aliran yang mengalir persatuan luas.
(3)
Dimana :
v = Kecepatan atau laju aliran (m/s)
Q = Debit aliran (m
3
/s)
A = Luas penampang ( m
2
)

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐100 
 
Tek ni k
MESI N
c. Bilangan Reynolds
Bilangan Reynolds didapat dengan menggunakan persamaan (2.4) dimana nilai dari Bilangan
Reynolds (Re) dapat dihitung bila mempunyai nilai-nilai dari : kecepatan aliran (v), massa jenis (ρ),
diameter dalam pipa (d), viskositas dinamik (μ) atau viskositas kinematik (υ).

Re
Vd Vd ρ
μ υ
= = ……...………………………….. (4)
• aliran laminar, 0 < Re < 2300, fluida bergerak dengan kecepatan rendah dan memiliki
viskositas yang tinggi. Gaya viskos yang memberikan tahanan terhadap gerakan relatif
lapisan fluida yang berdekatan cenderung meredam terjadinya turbulensi. Dalam aliran
laminer losses pada aliran sebanding dengan kecepatan fluida.
• aliran transisi, (antara laminar dan turbulen), 2300 < Re < 4000, biasa disebut dengan
bilangan Reynolds kritis.
• aliran turbulen, Re > 4000, Partikel-partikel fluida yang bergerak secara acak dengan saling
tukar momentum dan partikel antar lapisan fluida yang berdekatan dalam skala besar
menyebabkan fluida bergerak ke segala arah, dan terjadi pembauran aliran fluida. aliran
turbulen losses yang lebih besar, sebanding dengan kecepatan fluida pangkat 1.7-2.0.
 
4. Pengujian dan analisis

Pengujian ini dilakukan dengan berbagai tahap mulai dari proses persiapan pengujian, sampai
dengan proses akhir yaitu pengujian kemampuan turbin tersebut berputar untuk mencapai putaran sesuai
dengan yang diinginkan.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan proses pengujian adalah :

Mengukur Volume Air (V)
Mengukur Volume Air terhadap pengaruh diameter nozel dan derajat bukaan katup. Pada
tahapan pengujian ini didapatkan perbedaan volume air dimana diameter nozel yang lebih besar
menghasilkan volume air yang lebih banyak dibandingkan nozel dengan diameter yang lebih kecil.
Sehingga dapat disimpulkan nozel yang berdiameter lebih besar dapat menghasilkan debit air yang besar.

Mengukur Putaran Sudu (RPM)
Dengan mengukur putaran sudu dengan menggunakan tachometer dapat mengetahui pengaruh
besar diameter nozel dan derajat bukaan katup. Pada tahapan pengujian ini didapatkan perbedaan putaran
sudu dimana nozel yang memiliki diameter lebih besar dapat memutarkan sudu lebih cepat mencapai
kurang lebih 1742 RPM pada bukaan katup 90˚ dibandingkan dengan nozel yang memiliki ukuran
diameter lebih kecil yang dapat memutarkan sudu hanya sebesar kurang lebih 1585 RPM pada bukaan
katup yang sama. Berikut perbandingan putaran yang dihasilkan setelah dilakukan pengujian dapat dilihat
pada tabel 3 dibawah ini.

Mengukur Diameter Dalam Selang (d)
Pengukuran diameter selang ini dilakukan dengan menggunakan jangka sorong dimana
pengukuran dilakukan pada diameter bagian dalam, sehingga akan didapatkan luas penampang (A) yang
nantinya untuk menentukan diameter pipa yang akan digunakan. Setelah dilakukan pengukuran
didapatkan diameter dalam selang sebesar 20mm, sedangkan untuk diameter luar selang sebesar 22mm.

Penghitungan Data
Air merupakan sumber energi yang murah dan relatif mudah didapat, karena pada air tersimpan
energi potensial (pada air jatuh) dan energi kinetik (pada air mengalir). Tenaga air (Hydropower) adalah
energi yang diperoleh dari air yang mengalir. Energi yang dimiliki air dapat dimanfaatkan dan digunakan
dalam wujud energi mekanis maupun energi listrik. Pemanfaatan energi air banyak dilakukan dengan
menggunakan kincir air atau turbin air yang memanfaatkan adanya suatu air terjun atau aliran air di
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐101 
 
Tek ni k
MESI N
sungai. Sejak awal abad 18 kincir air banyak dimanfaatkan sebagai penggerak penggilingan gandum,
penggergajian kayu dan mesin tekstil. Memasuki abad 19 turbin air mulai dikembangkan.
Besarnya tenaga air yang tersedia dari suatu sumber air bergantung pada besarnya head dan debit
air. Dalam hubungan dengan reservoir air maka head adalah beda ketinggian antara muka air pada
reservoir dengan muka air keluar dari kincir air/turbin air. Laju aliran volume disebut juga debit aliran (Q)
yaitu jumlah volume aliran per satuan waktu. Debit aliran dapat dituliskan dari persamaan (2) dimana
dapat didefinisikan besarnya volume (V) persatuan waktu (t) sedangkan untuk laju aliran dapat
didefinisikan besarnya debit (Q) aliran yang mengalir persatuan luas penampang (A) seperti pada
persamaan (3).

Penghitungan Debit dan Kecepatan Aliran Fluida
Debit aliran fluida didapatkan dari volume fluida yang diambil selama waktu tertentu. Waktu
diukur dengan menggunakan stopwatch dalam satuan sekon (s) dan volume didapat menggunakan gelas
ukur dari percobaan dalam satuan ml.








































Gambar 6. Diagram Alir Pengujian dan Analisis
MULAI 
Menentukan:
− Volume Air (V) 
− Putaran (RPM) 
− Diameter Selang (d) 
Hitung:
− Debit Aliran (Q) 
− Luas Penampang (A) 
− Kecepatan aliran (v) 
− Bil. Reynolds (Re) 
Menentukan:
− Bukaan Katup 
− Jumlah Nozel
Kecepatan Putar Turbin
SELESAI 
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐102 
 
Tek ni k
MESI N


0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
0,00016 0,00023 0,00029 0,00031 0,00036
R
P
M
Debit ( Q )
Nozel ø 6mm
Nozel D.dalam 6mm

Gambar 7. Grafik perbandingan debit air terhadap putaran sudu turbin

0
500
1000
1500
2000
0,00027 0,00037 0,00045 0,00054 0,00056
R
P
M
Debit (Q)
Nozel ø 8mm
Nozel D.dalam 8mm


Gambar 8. Grafik perbandingan debit air terhadap putaran sudu turbin

Untuk mendapatkan kecepatan aliran fluida (v) dalam m/s dapat digunakan persamaan (3) dapat
didefinisikan besarnya debit (Q) aliran yang mengalir persatuan luas penampang (A).
Dari data pengujian yang telah diolah untuk mencari debit aliran dan kecepatan aliran dapat
dilihat bahwa semakin besar bukaan katup maka debit yang dihasilkan lebih besar, atau dengan kata lain
semakin besar bukaan katup maka volume fluida akan semakin tinggi per satuan waktu. Dalam pengujian
ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengambilan data untuk menentukan debit aliran
seperti, ketepatan pengambilan volume dengan gelas ukur agar dalam proses penampungan tidak ada air
yang tumpah dan ketepatan pengambilan waktu penampungan.
Sementara untuk kecepatan aliran yang telah didapatkan dari pengolahan data dapat disimpulkan
bahwa semakin besar bukaan katup, maka kecepatan aliran fluida akan cenderung meningkat. Kecepatan
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐103 
 
Tek ni k
MESI N
yang telah didapatkan akan mempengaruhi Bilangan Reynolds kerena kecepatan aliran merupakan fungsi
pembilang dalam Bilangan Reynolds, sehingga semakin cepat aliran fluida yang mengalir di dalam pipa
pengujian (pipa bulat) maka nilai bilangan Reynolds akan cenderung meningkat atau menunjukan
kecenderungan turbulen.

Penghitungan Bilangan Reynolds
Bilangan Reynolds (Re) dapat dihitung bila mempunyai nilai-nilai dari : kecepatan aliran (v), massa jenis
(ρ), diameter dalam pipa (d), viskositas dinamik (μ) atau viskositas kinematik (υ).

Tabel 1. Data Bilangan Reynolds
Bukaan
katup
T (°C) d-in (m) v (m/s) υ (m2/s) Re
50˚
30
0.02
0,052 8,009E-07 1298
90˚
30
0.02
0,116 8,009E-07 2897
50˚
30
0.02
0,087 8,009E-07 2172
90˚
30
0.02
0,181 8,009E-07 4519
50˚
30
0.02
0,138 8,009E-07 3445
90˚
30
0.02
0,3 8,009E-07 7492

Dimana :
T = Temperatur fluida (°C)
d-in = Diameter dalam pipa (m)
v = Kecepatan aliran fluida (m/s
2
)
υ = Viskositas kinematis (m
2
/s)
μ = Viskositas dinamis (Pa.s)
Re = Bilangan Reynolds

Nilai viskositas kinematis (υ) dan dinamis (μ) untuk air murni didapat dari fungsi
temperatur fluida pada tabel sifat fisika air murni.
Dari tabel 1 diatas untuk diameter pipa yang sama dapat dilihat Bilangan Reynolds
cenderung meningkat karena dipengaruhi peningkatan kecepatan aliran fluida. Hal ini
menunjukan semakin terjadi peningkatan kecepatan aliran fluida, maka aliran dalam pipa akan
cenderung turbulen. Sedangkan semakin terjadi penurunan kecepatan aliran fluida, aliran
tersebut akan cenderung laminer. Dalam pengujian ini kecepatan aliran (v) yang berfungsi
sebagai pembilang di dalam Bilangan Reynolds sangat mempengaruhi karakteristik dari aliran
fluida yang mengalir di dalam pipa pengujian. Selain itu transisi dari aliran laminer ke aliran
turbulen tentunya juga merupakan fungsi dari bilangan Reynolds .

Pengaruh jarak nozel terhadap sudu turbin (l)













Gambar 9 Skema Jarak Antara Nozel Terhadap Runner
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐104 
 
Tek ni k
MESI N
Jarak tembak antara nozel terhadap daun sudu juga dapat mempengaruhi kecepatan putar sudu
turbin. Dengan mendapatkan titik jarak yang tepat antara nozel dengan daun sudu maka dapat
meningkatkan efisiensi turbin sehingga didapatkan putaran yang maksimal. Dengan mengetahui titik
optimum dari jarak nozel terhadap daun sudu dapat meningkatkan putaran runner menjadi lebih cepat
karena titik jatuhnya pancaran nozel tepat mengenai daun sudu dan tidak terpecah karena salah satu
fungsi utama nozel adalah dapat mengarahkan pancaran aliran air tepat mengenai daun sudu. Berikut hasil
data yang didapatkan dari hasil uji coba yang telah dilakukan :

0
500
1000
1500
2000
18 36 54 72 90
R
P
M
Bukaan Katup (°)
Nozel ø 6mm
90mm
80mm
70mm
60mm

Gambar 10. Grafik Pengaruh Jarak pada Nozel D.Ujung Dalam 6mm

0
500
1000
1500
2000
18 36 54 72 90
R
P
M
Bukaan Katup (°)
Nozel ø 8mm
90mm
80mm
70mm
60mm

Gambar 11. Grafik Pengaruh Jarak pada Nozel D.Ujung Dalam 8mm

Dari hasil pengamatan pada gambar 10 dan 11 diatas dapat disimpulkan bahwa
perbedaan jarak antara nozel dengan daun sudu dapat mempengaruhi kecepatan putar sudu
turbin. Pada gambar diatas terlihat bahwa titik optimum nozel diameter 6mm berada pada jarak
80mm, sedangkan untuk nozel berdiameter 8mm jarak optimum terletak pada jarak 70mm. Jarak
antara runner dengan nozel yang terlalu dekat dapat memecah aliran sehingga pancaran air tidak
tepat atau tidak focus. Selain itu jarak antara nozel terhadap runner menentukan titik jatuhnya
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐105 
 
Tek ni k
MESI N
aliran air, karena itu nozel harus memiliki jarak yang tepat agar sudu turbin dapat menerima
impuls dengan baik.

5. Kesimpulan
Dari hasil pengujian dan pengamatan yang telah dilakukan pada perancangan turbin pelton yang
telah dibuat maka di dapat kesimpulan sebagai berikut :
Diameter nozel yang lebih besar menghasilkan volume air yang lebih banyak dibandingkan nozel
dengan diameter yang lebih kecil. Sehingga sementara dapat disimpulkan nozel yang berdiameter
lebih besar dapat menghasilkan volume air yang besar yaitu 0,00056 m³/s.
Perbedaan putaran sudu dimana nozel yang memiliki diameter lebih besar dapat memutarkan sudu
lebih cepat mencapai kurang lebih 1742 RPM pada bukaan katup 90˚ dibandingkan dengan nozel
yang memiliki ukuran diameter lebih kecil yang dapat memutarkan sudu hanya sebesar kurang lebih
1585 RPM pada bukaan katup yang sama.
Dari data pengujian yang telah diolah untuk mencari debit aliran dan kecepatan aliran dapat dilihat
bahwa semakin besar bukaan katup maka debit yang dihasilkan lebih besar, atau dengan kata lain
semakin besar bukaan katup maka volume fluida akan semakin tinggi per satuan waktu. Dalam
pengujian ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengambilan data untuk menentukan
debit aliran seperti, ketepatan pengambilan volume dengan gelas ukur agar dalam proses
penampungan tidak ada air yang tumpah dan ketepatan pengambilan waktu penampungan.
Sementara untuk kecepatan aliran yang telah didapatkan dari pengolahan data dapat disimpulkan
bahwa semakin besar bukaan katup, maka kecepatan aliran fluida akan cenderung meningkat.
Kecepatan yang telah didapatkan akan mempengaruhi Bilangan Reynolds kerena kecepatan aliran
merupakan fungsi pembilang dalam Bilangan Reynolds, sehingga semakin cepat aliran fluida yang
mengalir di dalam pipa pengujian (pipa bulat) maka nilai bilangan Reynolds akan cenderung
meningkat atau menunjukan kecenderungan turbulen pada saat Bilangan Re mencapai 4519 keatas.
Bilangan Reynolds cenderung meningkat karena dipengaruhi peningkatan kecepatan aliran fluida.
Hal ini menunjukan semakin terjadi peningkatan kecepatan aliran fluida, maka aliran dalam pipa
akan cenderung turbulen. Dalam pengujian ini kecepatan aliran (v) di dalam Bilangan Reynolds
sangat mempengaruhi karakteristik dari aliran fluida yang mengalir di dalam pipa pengujian.


Daftar Pustaka

[1]. Reuben M. Olso, Steven j. Wraight. Essentials of Engineering Fluid Mechanics. Harper & Row
Publisher , inc, 1990
[2]. Victor I, Streeter, Fluid Mechanics. McGraw-Hill, Inc. 1985.
[3]. Fritz Dietzel, Dakso Sriyono, Turbin Pompa dan Kompresor, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2006
[4]. EBARA Hatakeyama Memorial Fund, Ebara Corporation,Tokyo, Japan
[5]. David G. Ullman, The Mechanical design Process, Mc Graw hill international Editions, 1992
[6]. Robert D. Blevins, Applied Fluid Dynamics Handbook, 1984












ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐106 
 
Tek ni k
MESI N
Uji Experimental Rotor Savonius Helix Dua Sudu dan Empat Sudu

Mohammad Alexin Putra, Roni Ramadani, Ganda Roni Simanullang, Asdar Askar
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Nasional
Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124
Email: putra@itenas.ac.id

Abstract

Turbin angin sumbu vertikal seperti rotor savonius mempunyai efisiensi yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan turbin angin sumbu horisontal. Namun turbin angin savonius cocok diterapkan
untuk kecepatan angin yang relatif rendah seperti keadaan di Indonesia. Untuk meningkatkan efisensi
dari rotor savonius telah dilakukan penelitian dengan memodifikasi bentuk savonius, yaitu memuntir
sudu savonius hingga membentuk helix. Dari uji experimental terdahulu terbukti bahwa sudu savonius
helix lebih efisien dibandingkan dengan sudu savonius biasa. Dalam makalah ini akan ditampilkan hasil
uji experimental antara rotor savonius helix dua sudu dengan empat sudu. Untuk keperluan penelitian ini
dibuat prototip dengan rotor savoinius helix dengan dimensi tinggi rotor 1,2 m, lebar rotor 0,54 m.
Material sudu dibuat dari plat alumunium dengan tebal 0,4 mm. Pengujian dilakukan di laboratorium
konversi energi ITENAS Bandung dengan menggunakan blower dan diatas gedung Student Center
ITENAS Bandung. Kecepatan angin di laboratorium bervariasi dari 3,5 m/s sampai dengan 7,5 m/s,
sedangkan diatas gedung student center kecepatan angin bisa mencapai 10 m/s. Namun untuk keperluan
perbandingan hanya ditampilkan sampai dengan kecepatan 7,5 m/s. Putaran rotor digunakan untuk
memutar generator yang menghasilkan listrik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kinerja rotor
savonius helix empat sudu lebih baik dibandingkan dengan dua sudu. Semakin tinggi kecepatan angin
semakin besar pula perbedaan kinerja antara empat sudu dan dua sudu.

Keywords : rotor savonius helix

1. Pendahuluan
Dengan naiknya permintaan energi di dunia internasional dan pasokan energi konvensional yang menipis
membuat harga energi semakin meningkat, sehingga penelitian dan penerapan energi alternatif menjadi
sangat diperlukan. Salah satu sumber daya energi alternatif yang dapat diperbarui adalah angin. Di
Indonesia penggunaan energi angin sebagai pembangkit energi listrik masih jarang diterapkan, karena
kecepatan angin di Indonesia tidak sebesar seperti di negara negara eropa yang telah sangat maju dalam
penerapan energi angin. Perbedaan karakteristik angin ini menyebabkan teknologi yang berkembang di
negara Eropa dan negara maju lainnya tidak dapat diaplikasikan dengan optimal untuk keadaan Indonesia.
Namun, secara geografis, potensi energi angin masih cukup menjanjikan terutama untuk daerah pantai
dan daerah daerah yang memiliki kecepatan angin diatas kecepatan angin rata rata.

Untuk kecepatan angin di Indonesia penerapan teknologi energi angin yang menjanjikan adalah dengan
mengaplikasikan rotor savonius sebagai pembangkit listrik skala kecil. Bentuk dasar rotor savonius
adalah dua silinder semisirkular yang dipotong setengahnya, kemudian dipasang bersilangan sehingga
membentuk huruf "S". Selama ini rotor savonius kurang populer untuk digunakan sebagai pembangkit
listrik, karena efisiensinya yang rendah dibandingkan dengan turbin angin tipe yang lain. Keuntungan dari
rotor savonius adalah desainnya yang simpel, biaya konstruksi yang murah dan torsi yang besar pada
kecepatan rotasi yang rendah, sehingga banyak diaplikasikan untuk memompa air dan pembangkit listrik
skala kecil. Dengan berkembangnya generator dengan magnet yang kuat, yang cocok untuk pembangkit
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐107 
 
Tek ni k
MESI N
listrik tenaga angin skala kecil, maka dimasa yang akan datang penggunaan rotor savonius untuk
pembangkit listrik diharapkan akan semakin meluas.
Usaha usaha untuk perbaikan performansi rotor savonius dengan cara memuntir sudu menjadi bentuk
savonius helix telah dilakukan di laboratorium konversi energi, Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi
Nasional Bandung [1],[2],[3]. Dari uji experimental yang telah dilakukan [4], terbukti bahwa kinerja rotor
savonius helix lebih baik dari pada rotor savonius biasa (sudu lurus). Untuk simulasi rotor savonius helix
menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD) telah dilakukan oleh Putra [5] dan Hussain [6].
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk melihat efisiensi dari rotor savonius helix dua sudu
dibandingkan dengan empat sudu.


2. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini hanya ada dua jenis rotor yang diuji yaitu rotor savonius helix dua sudu dan empat
sudu. Konfigurasi rotor savonius helix dua sudu berbentuk “S” yang terdiri dari 2 sudu berbentuk
setengah lingkaran dan tipis dipuntir sebesar 90
o
dari ujung atas ke ujung bawah. Putaran dihasilkan dari
perbedaan gaya drag (gaya dorong) antara sudu yang bergerak maju (dengan koefisien drag sebesar 2,3
[7]) dengan sudu disisi lain yang sedang bergerak balik (dengan koefisien drag yang lebih rendah 1,2).
Gambar 1 memperlihatkan prinsip dari rotor savonius.


Gambar 1. Prinsip aliran angin yang mendorong rotor savonius

Gambar 2 dan 3 menunjukkan rotor helix dua sudu dan empat sudu setelah dirakit. Perbedaan antara
keduanya adalah pada jumlah sudu saja. Tabel 1 menunjukkan dimensi rotor savonius helix.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐108 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 2. Rotor savonius helix dua sudu Gambar 3. Rotor savonius helix empat sudu

Tabel 1 Dimensi rotor
Tinggi (mm) Diameter
sudu (mm)
Diameter
rotor (mm)
Tebal plat
(mm)
Puntiran dari
ujung atas
sampai bawah
(
o
)
1200 260 540 0,4 90

Pengujian dilakukan didua lokasi, yaitu di dalam Laboratorium Konversi Energi ITENAS dan di atas
gedung Student Center ITENAS. Sumber angin di dalam laboratorium dihasilkan dari kompresor blower
yang dipasangi konsentrator. Gambar 4 menunjukkan distribusi kecepatan angin di depan kompresor.

Gambar 4. Distribusi kecepatan angin di depan kompresor

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐109 
 
Tek ni k
MESI N
Pengujian di dalam laboratorium dilakukan dengan memvariasikan kecepatan angin dengan cara
meletakkan rakitan rotor ditempat yang sesuai. Sebagai acuan adalah kecepatan angin di tengah
ketinggian rotor. Setelah rotor berputar dengan stabil diambil data yaitu putaran rotor, tegangan dan kuat
arus dari generator listrik. Generator disambungkan ke poros rotor melalui sabuk dan puli.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Gambar 5 memperlihatkan hasil pengujian dari rotor savonius helix dua sudu dan empat sudu di
laboratorium, dimana rotor keduanya tidak disambungkan pada generator sehingga kebutuhan torsi
awalannya kecil. Gambar 6 memperlihatkan hasil pengujian di atas gedung student center. Secara umum
putaran dari rotor empat sudu lebih tinggi dari pada dua sudu. Semakin tinggi kecepatan angin maka akan
semakin besar pula perbedaan kecepatan putaran rotor. Hal ini menunjukkan rotor empat sudu lebih baik
dalam memanfaatkan aliran udara dari pada dua sudu. Di lokasi di atas atap gedung ternyata kecepatan
putaran rotor lebih tinggi dibandingkan dengan pengujian di dalam laboratorium. Hal ini disebabkan
karena distribusi kecepatan angin dari blower di laboratorium tidak merata, artinya kecepatan angin
tertinggi berada di titik tengah sedangkan semakin keatas, kebawah, kesamping kiri dan kanan kecepatan
angin semakin melemah (lihat Gambar 4). Seadangkan diatas gedung angin bertiup merata keseluruh
penampang rotor, sehingga putaran rotor jauh lebih tinggi.

60
80
100
120
140
160
180
3.5 4.5 5.5 6.5 7.5
P
u
t
a
r
a
n
R
o
t
o
r
(
r
p
m
)
Kecepatan Angin (m/s)
2 Sudu
4 Sudu

80
130
180
230
280
330
3.5 4.5 5.5 6.5 7.5
P
u
t
a
r
a
n
R
o
t
o
r
(
r
p
m
)
Kecepatan Angin (m/s)
2 Sudu
4 Sudu

Gambar 5. Putaran rotor savonius helix 2 sudu
dan 4 sudu tanpa disambungkan ke generator
listrik pada beberapa kecepatan angin di
laboratorium
Gambar 6. Putaran rotor savonius helix 2 sudu
dan 4 sudu tanpa disambungkan ke generator
listrik pada beberapa kecepatan angin di atap
gedung student center

Gambar 7 dan 8 menunjukkan hasil pengujian dari rotor di dalam laboratorium dan diatas gedung, dimana
rotornya disambungkan pada generator sehingga kecepatan putaran rotor lebih rendah dibandingkan
dengan yang tanpa generator. Pada kecepatan angin 4,5 m/s rotor mulai berputar, karena dengan
generator membutuhkan torsi awalan yang besar. Disini juga terlihat bahwa putaran dari rotor dengan 4
sudu lebih besar dari pada rotor dengan 2 sudu, baik untuk pengujian di laboratorium maupun di atas
gedung.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐110 
 
Tek ni k
MESI N
30
50
70
90
110
130
4.5 5.5 6.5 7.5
P
u
t
a
r
a
n
R
o
t
o
r
(
r
p
m
)
Kecepatan Angin (m/s)
2 Sudu
4 Sudu

60
70
80
90
100
110
120
130
140
150
4.5 5.5 6.5 7.5
P
u
t
a
r
a
n
R
o
t
o
r
(
r
p
m
)
Kecepatan Angin (m/s)
2 Sudu
4 Sudu

Gambar 7. Putaran rotor savonius helix 2 sudu
dan 4 sudu dengan disambungkan ke generator
listrik pada beberapa kecepatan angin di
laboratorium
Gambar 8. Putaran rotor savonius helix 2 sudu
dan 4 sudu dengan disambungkan ke generator
listrik pada beberapa kecepatan angin di atap
gedung student center

Gambar 9 dan 10 menunjukkan daya listrik yang dihasilkan dari generator yang dipasang pada rotor
savonius helix dua sudu dan empat sudu masing masing di laboratorium dan di atas gedung. Nilai daya
listrik dihitung dari:

I V P ⋅ =
(1)
dimana P adalah daya dalam watt, V adalah tegangan dalam volt dan I adalah arus listrik dalam ampere
yang dihasilkan oleh generator dan diukur dengan AVO meter. Nilai daya listrik yang dihasilkan oleh
rotor empat sudu lebih tinggi dari pada rotor dengan dua sudu. Semakin besar kecepatan angin maka
semakin besar selisihnya. Dengan menambah sudu pada rotor savonius helix dari dua menjadi empat
membuat perbaikan kinerja sampai mencapai lebih dari 40% untuk kecepatan 7.5 m/s di laboratorium dan
lebih dari 60% di atas gedung.

2
3
4
5
6
7
8
9
10
4.5 5.5 6.5 7.5
D
a
y
a
G
e
n
e
r
a
t
o
r
(
W
)
Kecepatan Angin (m/s)
2 Sudu
4 Sudu

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
4.5 5.5 6.5 7.5
D
a
y
a
G
e
n
e
r
a
t
o
r
(
W
)
Kecepatan Angin (m/s)
2 Sudu
4 Sudu

Gambar 9. Putaran rotor savonius helix 2 sudu
dan 4 sudu dengan disambungkan ke generator
listrik pada beberapa kecepatan angin di
laboratorium
Gambar 10. Putaran rotor savonius helix 2 sudu
dan 4 sudu dengan disambungkan ke generator
listrik pada beberapa kecepatan angin di atap
gedung student center

Daya yang dihasilkan oleh rotor savonius helix yang diuji masih relatif kecil untuk diterapkan sebagai
pembangkit listrik di rumah rumah, hal ini disebabkan karena ukuran rotor masih dalam bentuk prototip.
Disamping itu juga terjadi rugi rugi pada bantalan, puli, sabuk dan generatornya sendiri.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐111 
 
Tek ni k
MESI N
4. Kesimpulan
Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa putaran rotor savonius berbentu helix dengan empat sudu
lebih tinggi dari pada rotor dengan dua sudu. Daya yang dihasilkan oleh rotor empat sudu juga lebih baik
dari rotor dengan dua sudu. Semakin besar kecepatan angin akan semakin besar selisih kinerja daya antara
rotor empat sudu dengan dua sudu.


Notasi
C
d
koefisien drag [-]
I arus [A]
P daya [W]
V tegangan [V]

Daftar Pustaka
[1] Ramadani, Roni, 2012, Perancangan, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin, Itenas Bandung.
[2] Askar, Asdar, 2012, Pembuatan Prototip Turbin Angin Sumbu Vertikal Savonius Tipe Helix Dua
Sudu dan Empat Sudu, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin, Itenas Bandung.
[3] Simanullang, Ganda Roni, 2012, Pengujian Prototip Turbin Angin Sumbu Vertikal Savonius Tipe
Helix Dua Sudu dan Empat Sudu, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Mesin, Itenas Bandung.
[4] Putra M.A., Mulyadi, Pribadi G., Mawardinata T., Shantika T., 2011, Uji Experimental Rotor Hellical
Savonius Dibandingkan Dengan Rotor Savonius, Seminar Nasional Teknik Mesin 6, Universitas
Kristen Petra Surabaya.
[5] Putra, Mohammad Alexin, 2010, Kaji Performansi Rotor Savonius Dengan Sudu Puntir, Seminar
Nasional Sains dan Teknologi dalam Penanganan Energi ke-VI, UNJANI Bandung.
[6] Hussain, M.M., Mehdi S.M., Reddy P.M., 2008, CFD Analysis of Low Speed Vertical Axis Wind
Turbine with Twisted Blades, International Journal of Applied Engineering Research, Volume 3,
Number 1, pp. 149-159, Research India Publication.
[7] Cengel Y.A, Cimbala J.M., 2006, Fluid Mechanics, Fundamentals and Aplications, pp. 573, McGraw-
Hill International Edition.




















ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐112 
 
Tek ni k
MESI N
Perancangan dan Realisasi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas
Skala Rumah Tangga


Kristyadi T.,Wedha A, Andi T.
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri (10 pt)
Institut Teknologi Nasional (10 pt)
Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124 (10 pt)
kristyadi@gmail.com

Abstrak
Makalah ini mengulas mengenai perancangan dan realisasi serta pengujian mesin pembangkit listrik
tenaga biogas. Biogas merupakan salah satu sumber energy yang dapat diperbaharui dan mengandung
CO2 yang relative rendah sehingga cocok untuk bahan bakar rendah emisi. Mesin pembangkit berupa
motor bensin dan dirangkai dengan generator AC (Genset) yang dilengkapi alat mixer dan pengatur
putaran. Dari hasilpengujian didapatkan bahwa genset dengan bahan bakar biogas lebih rendah emisi
terutama CO dan HC dibandingkan dengan genset berbahan bakar premium.

Kata kunci : Biogas, genset, emisi

1. Pendahuluan
Permasalahan listrik yang paling signifikan adalah pembuatan pembangkit dan jaringan listrik yang
sangat mahal, Untuk mengurangi masalah ini ada beberapa usaha yang dapat dilakukan yaitu pemanfaatan
listrik skala rumah tangga sehingga tidak diperlukan jaringan khusus dan pemanfaatan sumber energy
listrik terbarukan. Salah satu yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah pembangkit listrik skala
rumah tangga dengan menggunakan bahan bakar biogas yang berasal dari kotoran sapi. Biogas adalah
gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi
langka oksigen. Biogas sebagian besar mengandung gas metana (CH
4
) dan karbondioksida (CO
2
), dan
beberapa kandungan yang jumlahnya kecil, diantaranya hydrogen sulfide (H
2
S), amonia (NH
3
) dan
hydrogen (H
2
), serta Nitrogen (N
2
) yang kandungannya sangat kecil. Energi yang terkandung dalam
biogas tergantung pada konsentrasi metana, semakin tinggi kandungan metana maka semakin tinggi
kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil nilai metana maka semakin
kecil nilai kalor.

2. Perancangan dan realisasi Pembangkit listrik
Pembangkit yang dibuat memanfaatkan produk yang ada dipasaran dengan dilakukan modifikasi sehingga
bias menggunakan bahan bakar biogas dan direncanakan berdaya kurang lebih 1 kW.
Secara garis besar mesin pembangkit terdiri dari penggerak mula dan generator listrik (Genset) Penggerak
mula menggunakan motor bensin sedangkan generator menggunakan generator AC./ Pengerak mula
motor bensin harus dilengkapi dengan peralatan tambahan yang memungkinkan penggunaan bahan bakar
biogas yaitu mixer dan alat konstrol putaran. Secara garis besar peralatan tersebut dapat digambarkan
sperti skema berikut:


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐113 
 
Tek ni k
MESI N





Gambar 1 Rangkaian system pengaturan putaran mesin genset

Tahapan awal adalah menghitung kebutuhan biogas dan membuat instalasi produksi biogas. Dari
penelitian awal didapatkan bahwa biogas yang diproduksi mempunyai kandungan unsure sebagai berikut:

Tabel 1 Komposisi biogas hasil produksi
Komposisi Persentase (%) ml
Methana (CH
4
) 27.0
Karbon dioksida (CO
2
) 40.6
Nitrogen (N
2
) 32.4

Dari komposisi kimia diatas dilakukan perhitungan untuk menentukan perbandingan antara udara dan
biogas sehingga didapatkan komposisi yang tepat untuk proses pembakaran berdasarkan persamaan
reaksi untuk proses pembakaran,
CH
4
+ 2 O
2
CO
2
+2 H
2
O
Dari reaksi kimia tersebut dan mempertimbangkan komposisi biogas yang ada maka untuk 1 gr bahan
bakar biogas

membutuhkan

1.07 ml oksigen, menghasilkan 0.74 ml CO
2
dan 0.60 ml H
2
0. Maka
Kebutuhan udara untuk proses pembakaran 4.59 gr
Atau AFR (Air Fuel Ratio) stoikiometri 4.59 : 1
Angka perbandingan tersebut digunakan untuk perencanaan mixer. Mixer merupakan peralatan untuk
pencampuran antara bahan bakar dengan udara. Maka design mixer dibuat berdasarkan perbandingan
bahan bakar dengan udara dengan tersebut. Dengan batasan bahwa saluran udara intake pada motor
bensin adalah 27.5 mm, makan diameter saluran bahan bakar adalah 6 mm.

BATANG PENGHUBUNG
GOVERNOR 
KARBURATOR
POROS ENGKOL  PISTON
TUAS 
CONECTING ROD
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐114 
 
Tek ni k
MESI N





Gambar 2 Mixer
3. Perhitungan Konsumsi Bahan Bakar
Dalam menghitung kebutuhan biogas, dilihat dari kebutuhan mesin genset beroperasi selama 8 jam. Dari
percobaan yang dilakukan selama 30 menit, mesin genset memerlukan bahan bakar sebanyak 1154.32
liter dengan beban maksimum 600 watt sama dengan 1 menit menghabiskan 38.47 liter bahan bakar
biogas. Jadi konsumsi bahan bakar yg dibutuhkan untuk pembangkit listrik sekala rumah tangga dengan
menggunakan bahan bakar biogas Untuk menyalakan mesin generator selama 8 jam = 480 menit di
butuhkan biogas sebanyak 18500 liter biogas.

4. Instalasi Biogas
Data yang didapatkan dari hasil pengujian, biogas dalam 1 kg kotoran sapi di tambahkan dengan air
sebanyak 2.75 kg ( 1 liter kotoran sapi : 1 liter air ) menghasilkan biogas sebanyak 21.7 liter. Percobaan
dilakukan dengan menggunakan reaktor type batch. Untuk menyalakan mesin generator selama 8 jam
dibutuhkan kotoran sebanyak 850 kg (dalam kondisi basah) dan volume reaktor yang dibutuhkan sebesar
20.42 m
3

Dimensi penampung dapat di ketahui dari banyaknya bahan bakar biogas yang dihabiskan selama 8 jam.
Bayaknya konsumsi bahan bakar biogas yang dipakai selama 8 jam untuk menggerakan mesin generator
sebesar 18645.6 liter. Jadi volume penampung yang dibutuhkan sebesar 18645,6 liter ≈ 18700 liter = 18.7
m
3
.
Sistem kontrol
Jumlah masukan bahan bakar diatur oleh peralatan yang digerakkan governor, yang menerima sinyal
dari perubahan putaran (rpm) mesin penggerak generator listrik. Bila beban listrik naik maka governor
akan menutup, yang mengakibatkan batang penghubung akan bergerak membuka katup masukan bahan
bakar dan udara menjadi lebih besar ( pasokan bahan bakar meningkat). Sebaliknya bila beban turun,
governor akan terbuka, yang mengakibatkan batang penghubung akan bergerak menutup katup masukan
bahan bakar dan udara menjadi lebih kecil (pasokan bahan bakar rendah). Gambaran system kontrol
dapat dilihat pada Gambar 1.



INPUT
UDARA 
INPUT 
BIOGASS 
OUTPUT
UDARA 
DAN 
BIOGAS 
INPUT
Ke 
engine
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐115 
 
Tek ni k
MESI N
5. Pengujian
Pengujian bertujuan untuk mengetahui unjuk kerja dari mesin pembangkit berbahan bakar biogas dan
juga mengetahui keunggulan dari pembangkit berbahan bakar biogas. Untuk itu maka pembangkit diuji
dengan bahan bakar biogas dan premium serta dibandingkan. Unjuk kerja mesin pembangkit diketahui
dari daya, konsumsi bahan bakar spesifik, efisiensi dan emisi.
Pengujian genset ini dilakukan secara bertahap pada beban 100 watt,200 watt, 300 watt, 400 watt, 500
watt, dan 600 watt dimana beban tersebut berupa lampu. Peningkatan pada pemberian beban dilakukan
setelah lampu yang menjadi beban dari genset menyala. alat ukur yang digunakan dalam pengujian ini
adalah Floating drum untuk mengetahui konsumsi bahan bakar biogas, tachometer untuk mengukur
putaran, stopwatch dan gelas ukur untuk mengetahui konsumsi bahan bakar bensin, avometer untuk
mengathui kuat arus.
Pengujian gas emisi gas buang menggunakan sebuah alat uji emisi AutoGAS Emissions Analyzer, sebuah
alat uji emisi portable yang mudah dibawa kemana saja, untuk menggunakan AutoGAS Emissions
Analyzer harus terhubung dengan personal computer/laptop yang terinstal software AutoGAS Emissions
Analyzer didalamnya,sehingga alat uji emisi ini dapat digunakan dan dapat diketahui hasil dari
pembacaan dari sensor gas buang.

Hasil pengujian dapat dilihat pada Gambar 3 – Gambar 8.

Gambar 3 Grafik Daya efektif terhadap beban

Dari gambar 3 terlihat grafik daya efektif terhadap beban pada genset berbahan bakar premium dan
biogas. Terlihat bahwa daya efektif genset berbahan bakar premium dengan berbahan biogas hamper
berimpit atau tidak ada perbedaan. Hal ini membuktikan bahwa dengan bahan biogas dimana
pengaturan pemasukan yang diatur, maka daya genset dengan bahan bakar biogas dapat setara
dengan genset berbahan bakar premium. Laju aliran massa bahan bakar genset dengan biogas dapat
lebih tinggi dibandingkan dengan premium. Karena nilai kalor biogas lebih kecil dibandingkan
dengan premium maka untuk menghasilkan daya yang simbang diperlukan biogas lebih tinggi. Hal
ini terlihat pada Gambar 4.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐116 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 4 Grafik laju massa bahan bakar

Gambar 4 dan Gambar 5 saling berhubungan, dimana pada Gambar 5 kebutuhan bahan bakar spesifik
genset berbahan bakar biogas lebih tinggi. Kebutuhan bakar spesifik didefinisikan sebagai kebutuhan
bahan bakar untuk setiap daya dikali waktu.

Gambar 5 Kebutuhan bahan bakar spesifik

Efisiensi genset digambarkan pada Gambar 6, dimana pada gambar 6 terlihat bahwa untuk daya yang
rendah efisiensi genset berbahan bakar biogas lebih tinggi dibandingkan dengan berbahan bakar
premium, tetapi untuk beban tinggi sebaliknya. Hal ini berhubungan dengan kebutuhan bahan
spesifik pada putaran tinggi, genset berbahan bakar biogas lebih tinggi pada beban tinggi.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐117 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 6 Grafik efisiensi genset


Gambar 7 Grafik emisi CO terhadap beban
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐118 
 
Tek ni k
MESI N

Gambar 8 Grafik emisi HC terhadap beban

Gambar 7 dan 8 menunjukkan emisi gas buang genset. Terlihat bahwa emsisi CO dan HC genset
berbahan bakar biogas lebih rendah dibandingkan genset berbahan bakar premium. Hal ini
disebabkan karena kandungan CO dan H pada biogas relative lebih rendah. Demikian juga
pembakaran bahan bakar gas lebih baik dibandingkan bahan bakar cair.

6. Kesimpulan
Biogas merupakan bahan bakar yang dapat digunakan untuk penggerak motor bensin. Untuk
menghasilkan konerja yang optimal, maka pengaturan perbandingan bahan bakar perlu dilakukan
sehingga tercapai pembakaran yang stoikiometrik. Dengan berbagai modifikasi dan pengaturan
kinerja didapatkan kinerja yang cukup baik bahkan dari sisi emisi pembangkit listrik berbahan bakar
biogas relative lebih baik dibandingkan bahan bakar premium. Untuk itu perlu penelitian lanjutan
guna mewujudkan pembangkit skala rumah tangga secara komersial.

7. Daftar Pustaka
[1] Peace Corps, 1985, The Biogas : Biofertilizer Business Handbook
[2] http://www.wfu.edu/chem/courses/organic/GC/index.html
[3] Meynell, P. J., 1976, Methane : Planning a Digester, Prism Press, Great Britain.
[4] Batstone. D. J. dkk, Anaerobic Digestion Model No. 1, IWA Task Group for Mathematical
Modelling of Anaerobic Digestion Processes, 2002
[5] Lapp, H.M., and E.E. Robertson, Biogas Production from Animal Manure di dalam Wise,
Donald L.,1981, Fuel Gas Production From Biomass, Volume 1, CRC Press, Boca Raton,
Florida.
[6] Fry, L.J., 1974, Practical Building of Methane Power Plant For Rural Energy Independence, 2nd
edition, Chapel River Press, Hampshire-Great Britain.
[7] Weinberg, f. j. (1986), combustion in heat – recirculating burners, in advanced combustion
methods, ed. Weinberg, f.j., academic press, London, p.218.
[8] Arismunandar, wiranto. 1988. Penggerak mula motor bakar torak, edisi kelima. Bandung :
penerbit ITB.
[9] Kalpakjian, Manufacturing Processes for Engineering Materials 4th ed, Prentice Hall. 2003.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐119 
 
Tek ni k
MESI N
EXERGETIC based of photovoltaic modules CHARACTERISTICS

Dani Rusirawan
(1)
and István Farkas
(2)

(1)
Department of Mechanical Engineering, Institut Teknologi Nasional (ITENAS)
Jl. PKHH Mustapa No. 23, Bandung 40124 – INDONESIA
E-mail : danir@itenas.ac.id
(2)
Department of Physics and Process Control, Szent István University
2103 Gödöllő, Pater K. u. 1 – HUNGARY
E-mail : Seres.Istvan@gek.szie.hu, Farkas.Istvan@gek.szie.hu

Abstract

This paper concerns on the characterizes of two different of Photovoltaic (PV) modules technologies
(flat plate type), i.e. polycrystalline technology (ASE-100) and amorphous silicon technology (DS-
40), under Gödöllő - Hungary climatic conditions, in exergy perspective. Two methods of PV exergy
assessment i.e. “solar energy parameters method” and “photonic energy method” are applied to
identify the exergy efficiencies both of above technologies, as a basic prerequisite in order to find
other possibility to optimize or increase the electrical efficiency of PV modules.

Key words: polycrystalline technology, amorphous silicon technology, solar energy parameter,
photonic energy method, electrical efficiency.

1. Introduction
Photovoltaics (PV) comprises the technology to converst sunlight directly into electricity. One single
of PV cell produces up to 2 watts of power, so to increase a power output, many of PV cells are
connected together to form modules, which are further assembled into larger units called panel or
array. Fig. 1 illustrates the terminology used to describe a typical connection of PV installation (from
smallest to biggest) and the standard terminology used to describe such connections (King et al.,
2004).



(a) (b)
Fig. 1. (a) Identification of PV system components and (b) terminology used in module circuit design
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐120 
 
Tek ni k
MESI N
A complete of PV system consists not only of PV modules, but also the "balance of system" or BOS,
included the support structure, wiring, storage, conversion devices, etc. i.e. everything else in a PV
system except the PV modules.
In thermodynamic point of view, PV system (cell/module/panel/array) performance can be evaluated
in terms both energy and exergy. Energy analysis (energetic) is based on the first law of
thermodynamics meanwhile exergy analysis (exergetic) is based on both the First and the Second
Laws of Thermodynamics. Exergy is consumed or destroyed, due to irreversibility in any real
processes. The exergy consumption during a process is proportional to the entropy created due to
irreversibility associated with the process. Exergy analysis method is employed to detect and to
evaluate quantitatively the causes of the thermodynamic imperfection of the process under
consideration. Therefore, it can indicate the possibilities of thermodynamic improvement of the
process under consideration. In terminology of “sankey diagrams”, which commonly used to
visualize the energy and exergy flow, the process in PV sytem (or generally in solar energy
conversion device) can be seen in Fig. 2 (Kabelac, 2008).

Fig. 2. Energy and exergy flow diagrams in solar energy conversion device (Kabelac, 2008).

Testing (conducted to an experimental data) and modelling efforts are typically to quantify and then
to replicate the measured phenomenon of interest. Testing and modelling of PV system performance
in the outdoor environment is very complicated and influenced by a variety of interactive factors
related to the environment and solar cell physics. In order to effectively design, implement, and
monitor the performance of photovoltaic systems, a performance model must be able to separate and
quantify the influence of all significant factors. In view of this, it is now becoming essential to look
for various aspects in order to increase the PV energy conversion into electricity on its application in
the field.
In this paper, an exergetic characterizes model of PV modules, as a basic component of PV array
system, will be presented, refers to a 10 kWp grid-connected PV array system at Szent István
University, Gödöllő - Hungary, which uses two different of PV technology i.e. polycrystalline PV
technology (ASE-100) and amorphous silicon PV technology (DS-40). Two methods of PV exergy
assessment i.e. “solar energy parameters method” and “photonic energy method” are applied to
identify the exergy efficiencies both above technologies. As a long term target of this research, the
other possibility to optimize and increase the overall performance of grid-connected PV array system
at Szent István University, can be studied, observed and proposed.

ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐121 
 
Tek ni k
MESI N
2. Crystalline silicon (c-Si) and amorphous silicon (a-Si) PV modules technologies

Two major of types of PV systems are available today. i.e. flat plate and concentrator. The major
types of materials of PV are crystalinne and thin film, which vary from each other in terms of light
absorption efficiency, energy conversion efficiency, manufacturing technology and cost production,
as can be seen in Table 1. Crystalline silicon (c-Si) cells are most popular, though they are expensive.
The amorphous silicon (a-Si) thin-film solar cells are less expensive.

Tabel 1. General types of PV technologies and its sub-types
Technology
Thin Film
Crystalline
silicon
a-
Si
CdTe CI(G)S a-
Si/μc-
Si
DSSC Mono Poly
Required of
area per kW
(m
2
) for
modules
~
15
~ 9 ~ 10 ~ 12 n/a ~ 7 ~ 8
Module
efficiency
Low High
Description Semiconductor is deposited directly on glass
Crystalline
silicon wafers
Performance
under heat
The heat coefficient lower (up to 60%) than crystalline
silicon modules, making it a good choice in hot
climates.
Performance
degrades with
higher
temperatures.
Direct or
diffuse light
Both direct and diffuse light
Direct light
preferred, but
diffuse light can
be used too
Source: European Photovoltaic Industry Association/EPIA (www.epia.org) and Green Rhino Energy
(www.greenrhinoenergy.com)
where:
a-Si - Amorphous silicon
CdTe - Cadmium telluride
CI(G)S - Copper indium (gallium) selenide
a-Si/μ-Si -
Micromorph: tandem of two cells of silicon – one amorphous (a-
Si) and one microcrystalline (µc-Si)
DSSC/DSC/DYSC -
Dye – sensitized solar cell, a solar cell based on a semiconductor
formed between a photo-sensitized anode and an electrolyte, a
photoelectrochemical system.
Mono - Monocrystalline or singlecrystalline silicon
Poly - Polycrystalline or multycrystalline silicon

The thermodynamic efficiency of PV system is a wide interest because the relevance of this
parameter for energy conversion (efficiencies). Improving PV cell efficiencies while holding down
the cost per cell is one of the most important tasks of the PV industry.
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐122 
 
Tek ni k
MESI N
Several methods have been offered to increase the power conversion efficiency of PV cells, including
tandem cells, impurity-band and intermediate-band devices, hot-electron extraction, and carrier
multiplication (Razykov et al., 2011).

3. Methods of evaluation

Exergetic PV assessment using solar energy parameters method
A PV array is non linear device and can be presented by its I-V-P (current-voltage-power)
characteristic curve. The general equivalent circuit of a solar cell in a single diode model is presented
in Fig. 3, and consists of a photocurrent source, a diode, a parallel resistor expressing a leakage
current and a series resistor describing internal resistance to the current flow.

Fig. 3. General model of solar cell circuit in a single diode model
The current-voltage characteristic equation for a PV system is given as:
sh
s s
o l
R
IR V
q
nkTc
IR V
exp I I I
+






































+
− = 1
(1)
where I is the current produced by the solar cell [A], I
l
is a light-generated current or photocurrent
[A], I
o
is the dark saturation current (the diode leakage current density in the absence of light) [A], V
is the output voltage/applied voltage [V], q is an electron charge [1.602 x 10-19 C], k is the
Boltzmann’s constant [1.381 x 10-23 J/K], T
c
is the cell working temperature [K], n is an ideality
factor (a number between 1 and 2 that typically increases as the current decreases), R
sh
is shunt
resistance of the cell [Ω] and R
s
is a series resistance of the cell [Ω]. Based on exergy efficiency
definition, the exergy efficiency of a PV system in this method can be expressed as:

solar
. dest thermal elect
ex
x E
x E x E x E
&
& & &
+ +
= η
(2)
solar
. dest elect
solar
r elect
ex
x E
x E x E
x E
I x E
&
& &
&
&

+
=
+
= η
(3)
elect . dest thermal . dest . dest
x E x E x E
& & &
+ =

(4)
r
I
contains both internal and external losses. Internal losses are electrical destruction,
elect . dest
x E
&
,
and external losses are heat losses,
therm . dest
x E
&
, which is numerically equal to
thermal
x E
&
(Joshi et al.,
2009).
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐123 
 
Tek ni k
MESI N
mp mp elect
I V x E × =
&
(5)
where
mp
V
is voltage at maximum power point and
mp
I
is current at maximum power point.
Q
T
T
x E
c
a
thermal
& &
×
















− = 1
(6)
( )
ref , a
ref
a c
T NOCT
G
G
T T − + =
(7)
Based on equations (2), (5) and (6),
out
x E
&
from the PV can be expressed as:
Q
T
T
I V x E
c
a
mp mp out
& &
×








− − × = 1
(8)
meanwhile,
A G
T
T
x E x E
s
a
solar in
× ×








− = = 1
& &
(9)
where
ref , a
T
is the reference of ambient temperature [K]; NOCT is Nominal Operating Cell
Temperature [K]; G and
ref
G
are the actual and reference solar radiation [W/m
2
], respectively.

Exergetic PV assessment using photonic energy method
Solar energy can be termed as photonic energy from the sun and this energy travels in the form of
photons. The energy of a photon,
( ) λ
ph
En
[J], can be calculated as:
( )
λ
λ
hc
En
ph
=
(10)
where h and c are physical constants; h is Planck’s constant [≈ 6.626 x 10
-34
J.s]; c is speed of light in
vacuum [2.998 x 10
8
m/s]; and
λ
is wavelength of spectrum the light [nm].
In order to evaluation of photonic energy parameters, the sets equations as follow can be
implemented (Joshi et al., 2009):
1367
10 4 4
21
×
=
.
G N
ph
(11)
( ) ( ) A N En n E
ph ph ph
× × = λ λ
&
(12)
( )








− × =
s
c
ph chemical
T
T
n E n E 1 λ
& &
(13)
where N
ph
is the numbers of photon falling per second per unit area on the Earth [1/m
2
.s];
( ) λ
ph
n E
&
is the photonic energy falling on the PV system [W];
chemical
n E
&
is available photonic
energy or Chemical potential [W] and
s
T
is the sun temperature [ 5777 K] (Joshi et al., 2009). In this
ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐124 
 
Tek ni k
MESI N
method,
in chemical
x E n E
& &
=
and
out
x E
&
equal with power generated by the PV modules, and can be
calculated as the product of their output current (I) and the voltage across their terminals (V) or as
shown in equation (5).
For analysis, the yearly (monthly variation) of climate data for Gödöllő - Hungary (specific site
location: 47.4
o
N for lattitude and 19.3
o
E for longitude) are taken from PV*SOL 3.0 software
packages, which acquires data from MeteoSyn, Meteonorm, PVGIS, NASA SSE, SWERA (Klise et
al., 2009). The following data such as solar radiation (both in horizontal, G
hor
and tilt array position,
G
arr
), ambient temperature and wind velocity (v) are shown in Table 2. Meanwhile the electrical
parameters under reference conditions (STC), such as
sc
I
(short circuit current);
oc
V
(open circuit
voltage);
mp
I
(current at maximum power point);
mp
V
(voltage at maximum power point), are
provided by manufacturer sheets, as shown in Table 3.

Table 2. Monthly variation of climate data for Gödöllő, Hungary.
Month
G
hor
G
arr
v T
a
Sun-hours* G
arr
= G
[kWh/m2.m] [kWh/m2.m] [m/s] [°C] (h) [W/m2]
January 29.79 44.57 2.65 -0.94 9 159.75
February 46.35 62.82 2.70 1.70 10 224.34
March 86.25 104.16 2.82 6.20 12 279.99
April 127.23 140.31 2.91 11.54 14 334.07
May 162.17 163.76 2.67 16.48 15 352.16
June 172.06 167.49 2.76 19.30 16 348.93
July 182.90 182.05 2.75 21.42 15 391.51
August 153.71 164.99 2.38 20.82 14 380.16
September 109.33 130.47 2.29 16.54 12 362.42
October 70.55 98.39 2.12 11.37 10 317.39
November 35.31 52.03 2.49 5.30 9 192.71
December 23.06 33.38 2.64 1.14 8 134.60
* Based on sun - path diagram.










ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐125 
 
Tek ni k
MESI N
Table 3. Electrical parameters of ASE-100 and DS-40 module at Standard test condition (STC)*
Parameters ASE -100 DS - 40
Typical peak power (W) 105.00 40.00
Voltage at peak power (V) 35.00 44.80
Current at peak power (A) 3.00 0.80
Short circuit current (A) 3.30 1.15
Open circuit voltage (A) 42.60 62.20
Active surface area (m
2
) 0.83 0.79
Temp. coeff. of open circuit voltage (%/
o
C) -0.38 -0.28
Temp. coeff. of short circuit current (%/
o
C) 0.10 0.09
Approximate effect of temp. On power (%/
o
C) -0.47 -0.19
Nominal operating cell temperature/NOCT (
o
C) 45.00 50.00
* Under Standard Test Conditions (G = 1000 W/m
2
, AM = 1.5 and T
c
= 25
o
C).

4. Results and discussion

The calculated results of the modules performance in exergy efficiency is shown in Fig. 4. Fig. 4 (a)-
(b) shows the exergy efficiency for both methods, refers to preceding sets equation. The values of I
and V is taken from I-V-P characteristics which obtained from previous research (Rusirawan et al.,
2011).
For the photonic method purpose, calculated are performed by varying wavelength of the visible
spectrum, for a given range of 400 to 800 nm. Comparison between exergy efficiency based on
photonic, exergy efficiency based on solar energy parameter and energy efficiency is shown in Fig. 4
(c)-(d).
Based in Fig. 4(a)-(b), it can be seen that for the same case, exergy efficiency based on “solar energy
parameter” is spread between exergy efficiency values based on “photonic energy” in the varying
wavelength of the visible spectrum. Both of methods results an average of exergy efficiencies 11-12
% for ASE-100 and 4-5 % for DS-40. On the other hand, the actual PV efficiencies (electrical
efficiency) average based on operational results are 13 % and 4 % respectively for ASE-100 module
and DS-40 module (see Fig. 5).
Figure 4(c)-(d), shown that energy efficiency of PV higher than exergy efficiency, because in the
energy efficiency terminology, the thermal energy and electrical energy are taken into account as an
output of energy of the PV system. Meanwhile, in the exergy efficiency terminology, the thermal
energy is viewed as losses and is not taken into account as an output.


ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐126 
 
Tek ni k
MESI N
0
5
10
15
20
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Month
E
f
f

(
%
)
Eff_ex
λ = 40
λ = 45
λ = 50
λ = 55
λ = 60
λ = 65
λ = 70
λ = 75
λ = 80
(a)
0
5
10
15
20
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Month
E
f
f

(
%
)
Eff_ex
λ = 400
λ = 450
λ = 500
λ = 550
λ = 600
λ = 650
λ = 700
λ = 750
λ = 800
(b)
0
10
20
30
40
50
60
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Month
E
f
f

(
%
)
Eff_en
Eff_ex
λ = 40
λ = 45
λ = 50
λ = 55
λ = 60
λ = 65
λ = 70
λ = 75
λ = 80
(c)
0
10
20
30
40
50
60
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Month
E
f
f

(
%
)
Eff_en
Eff_ex
λ = 400
λ = 450
λ = 500
λ = 550
λ = 600
λ = 650
λ = 700
λ = 750
λ = 800
(d)
Polycrystalline (ASE-100) Amorphous silicon (DS-40)
Fig. 4. PV exergy efficiency at different wavelength (λ, nm) and its comparisons with exergy
efficiency based on solar energy parameter (Eff_ex) and energy efficiency (Eff_en).

0
200
400
600
800
1000
1200
0:00 4:48 9:36 14:24 19:12 0:00
Time
(
W
/
m
2
)
0
3
6
9
12
15
18
(
%
)
G (W/m2) Ex_solar (W/m2) P (W/m2)
Ex_loss (W/m2) Eff_act (%) Eff_ex (%)
0
200
400
600
800
1000
1200
0:00 4:48 9:36 14:24 19:12 0:00
Time
(
W
/
m
2
)
0
3
6
9
12
15
18
(
%
)
G (W/m2) Ex_solar (W/m2) P (W/m2)
Ex_loss (W/m2) Eff_act (%) Eff_ex (%)
Polycrystalline (ASE-100) Amorphous silicon (DS-40)

Fig. 5. Actual electrical efficiency and exergy efficiency based on experimental, in one day.






ISSN 1693-3168
Seminar Nasional - IX
Rekayasa dan Aplikasi Teknik Mesin di Industri
Kampus ITENAS - Bandung, 17-18 Januari 2012

TKE‐127 
 
Tek ni k
MESI N
5. Conclusion

In this study, exergy efficiency characteristics of two type of PV modules, i.e. polycrystalline silicon
(ASE-100) and amorphous silicon (DS-40), as a main part of 10 kWp grid-connected PV array
systems at the Szent István University, have been performed theoretically, based on “solar energy
parameter” method and “photonic energy” method. It is observed that both methods of PV exergy
assessment gives the realistic values than the PV energy assessment (if compares to an actual
electrical efficiency). It also has been found that in the photonic energy method, the wavelength of
visible spectrum plays an important role on the exergy efficiency characteristics. As expected, the
efficiency characteristics of ASE-100 module (which included crystalline materials type) are higher
than DS-40 module (which included thin film materials type). Further parametric studies are still
needed, in order to obtain a deep correlation between climatic and operating parameter, and finally
other possibility to optimize and increase the PV module performance can be found.

Acknowledgments
This research is carried out with the support of OTKA K 84150 project, and the Ministry of National
Education of the Republic Indonesia

References
[1] Dincer, I and Rosen, M. A. (2005), Thermodynamic aspects of renewables and sustainable
development, Renewable and Sustainable Energy Reviews 9, pp. 169-189.
[2] Farkas, I. and Seres, I. (2008), Operational experiences with small-scale grid-connected PV system,
Szent István University Faculty of Mechanical Engineering, R&D in Mechanical Engineering
Letters, Gödöllő, Hungary, Vol. 1, pp. 64-72.
[3] Joshi, A. S., Dincer, I and Reddy, B. V. (2009), Thermodynamic assessment of photovoltaic systems,
Solar Energy 83, pp. 1139-1149.
[4] Kabelac, S., 2008. Thermodynamic basic of solar radiation. 5th European Thermal-Sciences
Conference 2008, The Netherlands.Available from: < http://www.eurotherm2008.tue.nl/>, accessed
on November 17, 2011.
[5] King, D. L., Boyson, W. E. and Kratochvil, J. A.(2004), Photovoltaic array performance model,
Sandia National Laboratories, Albuquerque, New Mexico, 2004
[6] Klise, G.T., and Stein, J. S. (2009), Models used to assess the performance of photovoltaic systems,
Sandia report: SAND2009-8258. Available from:
<http://photovoltaics.sandia.gov/Pubs_2010/PV%20Website%20Publications%20Folder_09/Klise%
20and%20Stein_SAND09-8258.pdf>, accessed on March 19, 2011.
[7] PV technologies: cells and modules. Available from: http://www.epia.org/solar-pv/pv-technologies-
cells-and-modules.html, accessed on January 11, 2012.
[8] Razykov, T.M., Ferekides, C.S., Morel, D., Stefanakos, E., Ullal, H.S. and Upadhyaya, H.M., 2011.
Solar photovoltaic electricity: current status and future prospects. Solar Energy [85] 1580–1608.
[9] Rosen, M. A. and Bulucea, C. A. (2009), Using exergy to understand and improve the efficiency of
electrical power technologies, Entropy 2009, 11, pp820-835; doi: 10.3390/e11040820.
[10] Rusirawan, D. and Farkas, I. (2011), Simulation of electrical characteristics of polycrystalline and
amorphous PV modules, Electrotehnica, Electronica, Automatica, Vol. 59, No. 2, pp. 9-15.
[11] Shukuya, M. and Hammache, A. (2002), Introduction to the concept of exergy, VTT Research notes
2158, Julkaisija–Utgivare-Publisher. Available from:
<http://www.vtt.fi/inf/pdf/tiedotteet/2002/T2158.pdf>, accessed on March 19, 2011.
[12] Solar power. Available from:
http://www.greenrhinoenergy.com/solar/technologies/pv_modules.php, accessed on January 11,
2012.


PROSIDING
Seminar
Teknik
MESIN
JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL (ITENAS) - BANDUNG
SEMINAR NASIONAL X
REKAYASA DAN APLIKASI TEKNIK MESIN DI INDUSTRI
Kampus ITENAS, Bandung 17-18 Januari 2012